Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 1 No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015
P
ERKEMBANGAN
N
ILAI
T
UKAR
P
ETANI DAN
H
ARGA
P
RODUSEN
G
ABAH
A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
NILAI TUKAR PETANI (NTP) PROVINSI SUMATERA UTARA DESEMBER 2014 SEBESAR 97,82
1. NILAI TUKAR PETANI (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di Provinsi Sumatera Utara pada Desember 2014, NTP Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan 1,03 persen dibanding November 2014, yaitu dari 98,84 menjadi 97,82. Penurunan NTP pada Desember 2014 disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih rendah jika dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
Penurunan NTP Desember 2014 disebabkan oleh turunnya NTP pada seluruh subsektor yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,50 persen, NTP subsektor Hortikultura sebesar 0,66 persen, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,40 persen, NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,15 persen, dan NTP Subsektor Perikanan sebesar 0,41 persen.
Pada Desember 2014, NTP Provinsi Sumatera Utara (2012=100) tercatat sebesar 97,82 atau mengalami penurunan 1,03 persen dibandingkan dengan NTP November 2014 sebesar 98,84.
Penurunan NTP Desember 2014 disebabkan oleh turunnya NTP pada seluruh subsektor yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,50 persen, NTP subsektor Hortikultura sebesar 0,66 persen, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 1,40 persen, NTP Subsektor Peternakan sebesar 0,15 persen, dan NTP Subsektor Perikanan sebesar 0,41 persen.
Pada Desember 2014, terjadi inflasi di wilayah perdesaan Sumatera Utara sebesar 2,87 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok konsumsi rumah tangga, yaitu indeks kelompok bahan makanan sebesar 3,06 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau sebesar 1,31 persen, kelompok perumahan sebesar 1,84 persen, kelompok sandang sebesar 1,34 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,88 persen, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga sebesar 0,49 persen, dan kelompok transportasi & komunikasi sebesar 8,06 persen.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Sumatera Utara Desember 2014 sebesar 103,10 atau turun 0,40 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Tabel 1
Nilai Tukar Petani Provinsi Sumatera Utara per Subsektor November-Desember 2014 (2012=100) Subsektor November 2014 Desember 2014 Persentase Perubahan
(1) (2) (3) (4)
1. Tanaman Pangan (Padi & Palawija)
a. Nilai Tukar Petani Padi & Palawija (NTPP) 97,97 96,50 -1,50
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 113,96 115,21 1,10
- Padi 114,58 118,85 3,73 - Palawija 112,50 106,68 -5,18 c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 116,32 119,39 2,64
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118,25 121,65 2,88 - Indeks BPPBM 110,29 112,31 1,82
2. Hortikultura
a. Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 101,09 100,43 -0,66
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 117,20 119,40 1,87
- Sayur-sayuran 116,45 119,04 2,22 - Buah-buahan 118,20 120,02 1,54 - Tanaman Obat 112,09 110,45 -1,46 c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 115,93 118,89 2,55
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 117,08 120,18 2,65 - Indeks BPPBM 110,84 113,13 2,07
3. Tanaman Perkebunan Rakyat
a. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 94,19 92,87 -1,40
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 110,44 111,89 1,31
- Tanaman Perkebunan Rakyat 110,44 111,89 1,31 c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 117,25 120,49 2,76
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118,21 121,63 2,89 - Indeks BPPBM 112,11 114,32 1,98
4. Peternakan
a. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 107,12 106,95 -0,15
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 120,71 123,72 2,49
- Ternak Besar 123,95 126,81 2,31 - Ternak Kecil 116,90 121,38 3,83 - Unggas 114,25 114,23 -0,02 - Hasil Ternak 109,19 111,54 2,15 c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 112,69 115,68 2,65
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118,20 121,74 3,00 - Indeks BPPBM 107,84 110,33 2,31
Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 3 Subsektor November 2014 Desember 2014 Persentase Perubahan
(1) (2) (3) (4)
5. Perikanan
a. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidayaan Ikan (NTNP) 97,13 96,73 -0,41
b. Indeks Harga yang Diterima Nelayan dan Pembudidayaan Ikan (It) 111,38 113,51 1,92
c. Indeks Harga yang Dibayar Nelayan dan Pembudidayaan Ikan (Ib) 114,67 117,35 2,34
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 116,53 119,78 2,79 - Indeks BPPBM 112,70 114,80 1,87
5.1. Perikanan Tangkap
a. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 99,59 100,45 0,87
b. Indeks Harga yang Diterima Nelayan (It) 114,72 118,66 3,44
- Penangkapan Perairan Umum 105,58 105,81 0,22 - Penangkapan Laut 114,81 118,79 3,47 c. Indeks Harga yang Dibayar Nelayan (Ib) 115,19 118,13 2,55
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 116,64 119,93 2,82 - Indeks BPPBM 113,08 115,50 2,14
5.2. Perikanan Budidaya
a. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 94,63 92,94 -1,79
b. Indeks Harga yang Diterima Pembudidaya Ikan (It) 108,02 108,34 0,30
- Budidaya Air Tawar 109,87 110,20 0,30 - Budidaya Laut 100,00 100,00 0,00 - Budidaya Air Payau 96,33 97,94 1,67 c. Indeks Harga yang Dibayar Pembudidaya Ikan (Ib) 114,15 116,57 2,12
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 116,42 119,62 2,75 - Indeks BPPBM 112,31 114,11 1,60
Gabungan/Provinsi Sumatera Utara
a. Nilai Tukar Petani (NTP) 98,84 97,82 -1,03
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 114,48 116,31 1,60
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 115,82 118,90 2,66
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118,00 121,39 2,87 - Indeks BPPBM 110,59 112,81 2,01
Gabungan/Provinsi Sumatera Utara tanpa Perikanan
a. Nilai Tukar Petani (NTP) 98,89 97,85 -1,05
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 114,57 116,40 1,59
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 115,85 118,95 2,67
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118,05 121,44 2,88 - Indeks BPPBM 110,53 112,75 2,02
2. INDEKS HARGA YANG DITERIMA PETANI (IT)
Indeks harga yang diterima petani (It) dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada Desember 2014, It Provinsi Sumatera Utara mengalami kenaikan sebesar 1,60 persen dibandingkan dengan It November 2014, yaitu dari 114,48 menjadi 116,31. Kenaikan It terjadi pada seluruh subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan (padi & palawija) sebesar 1,10 persen, subsektor hortikultura sebesar 1,87 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,31 persen, subsektor peternakan sebesar 2,49 persen, dan subsektor perikanan sebesar 1,92 persen.
3. INDEKS HARGA YANG DIBAYAR PETANI (IB)
Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Pada Desember 2014, Ib Provinsi Sumatera Utara naik sebesar 2,66 persen bila dibandingkan dengan Ib November 2014, yaitu dari 115,82 menjadi 118,90. Kenaikan Ib terjadi pada seluruh subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 2,64 persen, subsektor hortikultura sebesar 2,55 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,76 persen, subsektor peternakan sebesar 2,65 persen, dan subsektor perikanan sebesar 2,34 persen.
4. NTP SUBSEKTOR
4.1.
Subsektor Tanaman Pangan/Padi & Palawija (NTPP)
Pada Desember 2014, NTPP mengalami penurunan sebesar 1,50 persen, dan hal ini karena perubahan It (1,10%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,64%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks kelompok padi mengalami kenaikan sebesar 3,73 persen yaitu dari 114,58 menjadi 118,85. Sedangkan indeks kelompok palawija mengalami penurunan sebesar 5,18 persen yaitu dari 112,50 menjadi 106,68. Di sisi lain, kenaikan pada Ib terjadi karena perubahan pada indeks konsumsi rumah tangga (IKRT) naik sebesar 2,88 persen dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik sebesar 1,82 persen.
4.2. Subsektor Hortikultura (NTPH)
Pada Desember 2014, NTPH mengalami penurunan sebesar 0,66 persen, dan hal ini karena perubahan It (1,87%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,55%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks pada kelompok sayur-sayuran mengalami kenaikan sebesar 2,22 persen yaitu dari 116,45 menjadi 119,04 dan indeks kelompok buah-buahan naik sebesar 1,54 persen yaitu dari 118,20 menjadi 120,02, sedangkan indeks kelompok tanaman obat turun sebesar 1,46 persen yaitu dari 112,09 menjadi 110,45. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib terjadi karena perubahan IKRT naik sebesar 2,65 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 2,07 persen.
4.3. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)
Pada Desember 2014, NTPR mengalami penurunan sebesar 1,40 persen, dan hal ini karena perubahan It (1,31%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,76%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 1,31 persen yaitu dari 110,44 menjadi 111,89. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 2,89 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 1,98 persen.
Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 5
4.4. Subsektor Peternakan (NTPT)
Pada Desember 2014, NTPT mengalami penurunan sebesar 0,15 persen, dan hal ini karena perubahan It (2,49%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,65%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks kelompok ternak besar naik sebesar 2,31 persen, indeks kelompok ternak kecil naik sebesar 3,83 persen, dan indeks kelompok hasil ternak naik sebesar 2,15 persen. Sementara indeks kelompok unggas turun sebesar 0,02 persen. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 3,00 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 2,31 persen.
4.5. Subsektor Perikanan (NTNP)
Pada Desember 2014, NTNP mengalami penurunan sebesar 0,41 persen, dan hal ini disebabkan oleh perubahan It (1,92%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,34%). Kenaikan yang terjadi pada It karena perubahan pada indeks kelompok penangkapan ikan secara rata-rata naik sebesar 3,44 persen dan indeks kelompok budidaya ikan rata-rata naik sebesar 0,30 persen. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 2,79 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 1,87 persen.
4.5.1. Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)
Pada Desember 2014, NTN mengalami kenaikan sebesar 0,87 persen, dan hal ini disebabkan oleh perubahan It (3,44%) lebih tinggi dibandingkan perubahan pada Ib (2,55%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks kelompok penangkapan ikan secara rata-rata naik sebesar 3,44 persen. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 2,82 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 2,14 persen.
4.5.2. Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)
Pada Desember 2014, NTPi mengalami penurunan sebesar 1,79 persen, dan hal ini disebabkan oleh perubahan It (0,30%) lebih rendah dibandingkan perubahan pada Ib (2,12%). Kenaikan yang terjadi pada It karena indeks kelompok budidaya ikan secara rata-rata naik sebesar 0,30 persen. Di sisi lain, perubahan kenaikan pada Ib karena perubahan IKRT naik sebesar 2,75 persen dan indeks BPPBM naik sebesar 1,60 persen.
5. PERBANDINGAN ANTARPROVINSI
Dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, perubahan NTP Desember 2014 terhadap NTP November 2014, seluruh provinsi mengalami penurunan. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,00 persen, sebaliknya penurunan terkecil terjadi di Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 0,50 persen.
Dari 33 provinsi yang dilaporkan secara nasional, perubahan NTP Desember 2014 terhadap NTP November 2014, 2 provinsi mengalami kenaikan dan 31 provinsi mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi terjadi di Provinsi Banten sebesar 0,71 persen, sebaliknya penurunan terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebesar 2,45 persen.
Tabel 2
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi dan Persentase Perubahannya, Desember 2014 (2012=100)
Provinsi It Ib NTP
Indeks % Perub Indeks % Perub Rasio % Perub (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Aceh 110,81 0,79 115,87 2,11 95,64 -1,30 Sumatera Utara 116,31 1,60 118,90 2,66 97,82 -1,03 Sumatera Barat 116,87 1,24 117,87 2,04 99,15 -0,78 Riau 112,58 0,92 118,48 2,59 95,02 -1,63 Kepulauan Riau 112,62 1,46 114,50 2,72 98,36 -1,23 Jambi 113,57 1,93 119,47 2,59 95,06 -0,65 Sumatera Selatan 113,57 0,66 116,48 2,71 97,50 -2,00 Kepulauan Bangka Belitung 118,81 1,88 116,18 2,69 102,26 -0,78 Bengkulu 112,27 1,85 118,84 2,37 94,47 -0,50 Lampung 119,82 0,26 116,16 2,18 103,16 -1,87 DKI Jakarta 114,10 1,47 117,37 3,70 97,22 -2,15 Jawa Barat 123,80 2,15 117,72 2,17 105,16 -0,02 Banten 122,07 2,87 115,76 2,15 105,46 0,71 Jawa Tengah 117,95 1,66 117,30 2,44 100,55 -0,76 DI Yogyakarta 116,96 0,31 117,38 2,52 99,65 -2,16 Jawa Timur 123,35 1,52 118,15 2,95 104,41 -1,39 Bali 121,12 0,46 116,25 2,55 104,19 -2,04 Nusa Tenggara Barat 116,33 2,00 116,42 2,49 99,92 -0,48 Nusa Tenggara Timur 116,59 0,90 115,40 2,30 101,03 -1,37 Kalimantan Barat 111,72 2,02 116,36 1,92 96,01 0,10 Kalimantan Tengah 115,37 1,06 116,90 2,27 98,69 -1,19 Kalimantan Selatan 112,19 1,66 113,93 2,00 98,47 -0,33 Kalimantan Timur 116,19 1,49 116,98 2,43 99,33 -0,92 Sulawesi Utara 114,55 0,47 117,66 2,81 97,35 -2,27 Gorontalo 119,29 1,69 118,55 2,82 100,62 -1,10 Sulawesi Tengah 114,12 0,08 115,87 2,28 98,49 -2,15 Sulawesi Selatan 122,24 1,53 117,34 2,63 104,17 -1,07 Sulawesi Barat 116,07 -0,26 114,47 2,24 101,40 -2,45 Sulawesi Tenggara 116,41 1,30 116,84 2,92 99,63 -1,58 Maluku 119,20 1,72 118,16 1,76 100,88 -0,04 Maluku Utara 116,88 1,22 114,13 2,69 102,41 -1,42 Papua 108,50 1,01 113,26 2,06 95,80 -1,03 Papua Barat 115,98 0,70 117,05 2,48 99,09 -1,73 Nasional 118,74 1,43 117,20 2,48 101,32 -1,03
Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 7
6. INDEKS HARGA KONSUMEN PERDESAAN
Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi perdesaan. Pada Desember 2014, terjadi inflasi perdesaan di Sumatera Utara sebesar 2,87 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok konsumsi rumah tangga, yaitu indeks kelompok bahan makanan sebesar 3,06 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, & tembakau sebesar 1,31 persen, kelompok perumahan sebesar 1,84 persen, kelompok sandang sebesar 1,34 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,88 persen, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga sebesar 0,49 persen, dan kelompok transportasi & komunikasi sebesar 8,06 persen.
Secara nasional pada Desember 2014, terjadi inflasi perdesaan sebesar 2,72 persen. Dari 33 provinsi yang dilaporkan, seluruhnya mengalami inflasi perdesaan. Inflasi perdesaan tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur sebesar 3,23 persen, sedangkan inflasi perdesaan terendah terjadi di Provinsi Maluku sebesar 1,64 persen.
Tabel 3
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan, Desember 2014 (2012=100) Provinsi Makanan Bahan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi, dan O. Raga Transpor-tasi dan Komunkiasi UMUM/ KRT (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Aceh 2,09 0,42 1,60 0,64 1,05 0,51 8,28 2,14 Sumatera Utara 3,06 1,31 1,84 1,34 0,88 0,49 8,06 2,87 Sumatera Barat 2,16 0,93 1,51 1,16 1,02 0,00 7,47 2,21 Riau 2,14 1,55 1,80 1,15 0,75 0,23 7,70 2,60 Kepulauan Riau 2,62 1,60 2,10 1,20 0,28 0,23 8,89 2,98 Jambi 2,78 0,74 0,91 1,05 0,61 0,13 9,08 2,76 Sumatera Selatan 2,93 2,04 1,18 1,13 0,69 0,71 7,60 2,76 Kepulauan Bangka Belitung 2,42 1,08 1,23 1,28 0,54 0,16 7,76 2,72 Bengkulu 2,72 1,24 1,28 0,36 0,25 0,25 6,99 2,47 Lampung 2,58 0,59 1,02 0,66 0,32 0,13 7,28 2,22 DKI Jakarta 4,03 0,21 -0,64 3,24 0,04 0,00 8,42 2,44 Jawa Barat 3,39 1,18 1,22 0,68 0,54 0,21 6,94 2,58 Banten 2,65 1,58 0,87 1,17 0,58 0,25 5,94 2,24 Jawa Tengah 3,58 1,00 1,59 1,43 0,89 0,16 6,48 2,77 DI Yogyakarta 3,13 1,00 1,26 0,68 0,43 0,14 6,60 2,69 Jawa Timur 4,35 1,11 1,28 1,12 0,90 0,34 6,99 3,23 Bali 3,23 1,75 1,28 1,22 0,74 0,44 6,36 2,85 Nusa Tenggara Barat 3,24 0,84 1,18 1,51 0,95 0,50 7,83 2,78 Nusa Tenggara Timur 2,88 1,36 1,39 1,42 1,11 0,25 5,95 2,44 Kalimantan Barat 1,10 1,12 0,77 1,08 0,79 0,07 8,12 1,88 Kalimantan Tengah 2,40 0,16 0,84 0,76 0,89 0,14 7,89 2,22 Kalimantan Selatan 2,41 0,32 1,34 0,15 0,30 0,19 7,09 2,12 Kalimantan Timur 2,46 1,23 0,69 0,10 0,87 0,07 8,23 2,49
Provinsi Makanan Bahan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, dan O. Raga Transpor-tasi dan Komunkiasi UMUM/ KRT (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Sulawesi Utara 3,82 1,07 1,75 1,68 0,89 0,96 6,76 3,06 Gorontalo 3,67 1,13 0,90 1,06 0,75 0,46 7,70 2,95 Sulawesi Tengah 2,97 1,07 1,16 1,14 1,01 0,02 5,72 2,46 Sulawesi Selatan 3,36 0,97 1,22 0,87 1,17 0,39 8,68 3,06 Sulawesi Barat 3,38 1,10 0,54 1,52 1,25 0,36 4,91 2,46 Sulawesi Tenggara 3,23 1,69 1,63 1,10 1,18 0,57 8,55 3,06 Maluku 1,76 0,51 0,88 0,93 0,22 0,07 6,79 1,64 Maluku Utara 3,81 1,34 1,53 1,62 1,07 0,24 5,55 2,83 Papua 2,64 1,37 1,05 0,78 0,80 0,00 5,88 2,22 Papua Barat 2,47 1,13 0,33 0,58 0,46 0,95 8,81 2,40 Nasional 3,29 1,10 1,32 1,08 0,80 0,27 7,07 2,72
7. NILAI TUKAR USAHA RUMAH TANGGA PERTANIAN (NTUP) SUBSEKTOR
Pada Desember 2014, NTUP Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan sebesar 0,40 persen. Hal ini karena perubahan It (1,60%) lebih rendah dibandingkan perubahan indeks BPPBM (2,01%). Penurunan NTUP disebabkan oleh penurunan tiga subsektor penyusun NTUP yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,71 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,19 persen, dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,65 persen. Sedangkan dua subsektor penyusun NTUP lainnya mengalami kenaikan, yaitu subsektor peternakan sebesar 0,17 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,05 persen.
Tabel 4
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor dan Persentase Perubahannya Desember 2014 (2012=100)
Subsektor November 2014 Desember 2014 % Perubahan
(1) (2) (3) (4)
1. Tanaman Pangan 103,33 102,59 -0,71 2. Hortikultura 105,74 105,54 -0,19 3. Tanaman Perkebunan Rakyat 98,52 97,87 -0,65 4. Peternakan 111,93 112,13 0,17 5. Perikanan 98,83 98,88 0,05 a. Tangkap 101,45 102,74 1,27 b. Budidaya 96,18 94,95 -1,28
Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 9
B. HARGA PRODUSEN GABAH DESEMBER 2014
Survei harga produsen gabah selama Desember 2014 dilakukan di 13 kabupaten terhadap 92 observasi. Berdasarkan komposisinya, jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 60 observasi (65,22%), diikuti oleh Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 26 observasi (28,26%), dan Gabah Kualitas Rendah sebanyak 6 observasi (6,52%).
1. HARGA TERTINGGI DAN TERENDAH
Di tingkat petani pada Desember 2014, harga tertinggi senilai Rp6.200,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Ciherang di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan harga terendah senilai Rp3.700,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun.
Di tingkat penggilingan pada Desember 2014, harga tertinggi senilai Rp6.245,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Ciherang di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan harga terendah senilai Rp3.750,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun.
2. RATA-RATA HARGA GABAH DAN KOMPONEN MUTU
Selama Desember 2014, rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani senilai Rp5.450 per kg dan di tingkat penggilingan senilai Rp5.494 per kg. Rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani senilai Rp4.399 per kg dan di tingkat penggilingan senilai Rp4.451 per kg. Rata-rata harga gabah kualitas rendah di tingkat petani senilai Rp4.111 per kg dan di tingkat penggilingan senilai Rp4.178 per kg.
Komponen mutu gabah pada Desember 2014, rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/Kotoran (KH) gabah kualitas GKG masing-masing tercatat 12,67 persen dan 2,40 persen, rata-rata KA dan KH gabah kualitas GKP masing-masing tercatat 20,59 persen dan 3,72 persen, rata-rata KA dan KH gabah kualitas rendah masing-masing tercatat 27,58 persen dan 5,88 persen.
Selama Desember 2014 dilakukan 92 observasi penjualan gabah di 13 kabupaten. Jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 60 observasi (65,22%), diikuti oleh Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 26 observasi (28,26%), dan Gabah Kualitas Rendah sebanyak 6 observasi (6,52%).
Di tingkat petani pada Desember 2014, harga tertinggi senilai Rp6.200,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Ciherang di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan harga terendah senilai Rp3.700,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun.
Di tingkat penggilingan pada Desember 2014, harga tertinggi senilai Rp6.245,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas Ciherang di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan harga terendah senilai Rp3.750,00 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Ciherang di Kabupaten Simalungun.
Tabel 5
Jumlah Observasi, Harga Gabah di Petani dan Penggilingan, dan HPP menurut Kelompok Kualitas, Desember 2014
Kelompok Kualitas
Jumlah Observasi
(%)
Harga Gabah di Petani (Rp/Kg) Harga Rata-rata di Penggilingan
(Rp/Kg)
Harga Pembelian Pemerintah (HPP)
(Rp/Kg)
Selisih Harga Kol (5) atau (6) thd
Kol (7) Terendah Tertinggi Rata-rata Rp/Kg % (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
GKG 26 4 818 6 200 5 450 5 494 4 150 (Penggilingan) 1 344 32,39 (28,26) Toba Samosir) (Balige; (Lubuk Pakam; Deli Serdang)
GKP 60 3 700 5 600 4 399 4 451 3 300 (Petani) 1 099 33,30
(65,22) (Pematang Bandar; Simalungun) Serdang Bedagai) (Sei Bamban; 3 350 (Penggilingan) 1 101 32,87 Gabah
Kualitas Rendah
6 4 000 4 167
4 111 4 178 - - - -
(6,52) Tapanuli Selatan) (Batang Angkola; Tapanuli Selatan) (Batang Angkola;
Total 92 - - - - (100,00)
Keterangan: ◙ GKG : KA ≤ 14,00% dan KH ≤ 3,00%
◙ GKP : KA (14,01%-25,00%) dan KH (3,01%-10,00%) ◙ Di Luar Kualitas : KA > 25,00% atau KH > 10,00%
Berita Resmi Statistik Provinsi Sumatera Utara No. 05/01/12/Th. XVIII, 02 Januari 2015 11