• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Analis Medika Bio Sains (JAMBS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Analis Medika Bio Sains (JAMBS)"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Analis Medika Bio Sains

(JAMBS)

Susunan Redaksi

Pelindung

H. Awan Dramawan, S.Pd, M.Kes (Direktur Poltekkes Kemenkes Mataram) Penanggung Jawab

Drs. Urip, M.Kes (Ketua Jurusan Analis Kesehatan Mataram) Ketua Redaksi

Pancawati Ariami, S.Si, M.Ked Trop. Sekretaris Redaksi

Zaenal Fikri,SKM,M.Sc Dewan Redaksi Iswari Pauzi, SKM, M.Sc Erlin Yustin Tatontos,SKM,M.Kes Maruni Wiwin Diarti, S.Si. M.Kes

Mitra Bestari (Peer Group)

Prof. Dr. Dwi Soelystya Dyah Djekti, M.Kes dr. Ety Retno Setyowati,DSPK

Staff Sekretariat Redaksi I Gusti Putu Wilusantha, S.Si

Agus Supriadi

Alamat Redaksi

Sub Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Jurusan Analis Kesehatan Mataram Jalan. Praburangkasari Dasan Cermen Cakranegara;Mobile: 081915982777 (Zaenal Fikri);

Telp. (0370) 622143; Faks: (0370)641937; E-mail: [email protected]

Diterbitkan oleh:

Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram terbit 2 kali (Maret dan September)

(2)

Jurnal Analis Medika Bio Sains

(JAMBS)

Daftar Isi

RESISTENSI PRIMER FIRST – LINE ORAL AGENTS ISONIAZID (INH) PADA PENDERITA TB PARU BTA (+) DENGAN TUJUAN gen katG

MENGGUNAKAN NESTED PCR

Maruni Wiwin Diarti, Pancawati Ariami, Yunan Jiwintarum

PENINGKATAN AKTIVITAS KOLINESTERASE DALAM DARAH PETANI YANG TERPAPAR PESTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT YANG DI BERI JUS

STRAWBERI (Fragaria chiloensis)

Haerul Anam, Maruni Wiwin Diarti, Irma Haerani

PREVALENSI KANDIDIASIS BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN SEDIMEN DAN KULTUR URINE WANITA PENDERITA DIABETES MELLITUS

DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN LOMBOK BARAT I Gusti Ayu Nyoman Danuyanti, Rohmi, Ersandhi Resnhaleksmana

PREVALENSI ZOONOTIC HOOKWORM YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN CREEPING ERUPTION DI CAKRANEGARA

Ersandhi Resnhaleksmana, Pancawati Ariami, I Gusti Ayu Nyoman Danuyanti PENGARUH PENAMBAHAN KULIT MANGGIS PADA MINYAK JELANTAH

TERHADAP KADAR BILANGAN PEROKSIDA Iswari Pauzi, Haerul Anam, Ni Made Uci Pramesthy Dewi

PENGARUH EKSTRAK METHANOL KULIT BUAH MANGGIS (Garcina mangostana L) TERHADAP PERTUMBUHAN KULTUR Mycobacterium tuberculosis

GALUR LOMBOK TIMUR Pancawati Ariami , Rohmi

AKTIVITAS BIOLOGICAL RESPONSE MODIFIERS ALAMI FILTRAT

BUAH BUNI (Antidesma bunius) TERHADAP JUMLAH LIMFOSIT TERAKTIVASI, SEL MONONUKLEAR DAN POLIMORFONUKLEAR PADA DARAH HEWAN

COBA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) STRAIN WISTAR YANG DIINFEKSI SALMONELLA TYPHIMURIUM

Gunarti, Yunan Jiwintarum, Nurhidayati

PENGARUH PENAMBAHAN RAGI TEMPE (Rhizopus sp) PADA PEMBUATAN MINYAK KELAPA TERHADAP MUTU MINYAK

Ida Bagus Rai Wiadnya, Urip, Eka Minovriyanti

FILTRAT Syzygium polyanthum DAN MONOSIT PADA DARAH TEPI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) STRAIN WISTAR DENGAN HIPERLIPIDEMIA

Lina Sundayani, Farida, Maruni Wiwin Diarti

STUDY PENDERITA HEPATITIS B (HBsAg) POSITIF (+) PADA HUBUNGAN ANTAR INDIVIDU DALAM KELUARGA

Yunan Jiwintarum, I Wayan Getas, Marnia

1 8 13 19 24 31 39 48 54 65

(3)

PEDOMAN BAGI PENULIS

Jurnal Analis Medika Bio Sains (JAMBS) merupakan jurnal publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram menggunakan system peer review untuk seleksi artikel. Terbit dua kali dalam satu tahun (Maret dan September).

Jurnal Analis Medika Bio Sains hanya menerima artikel penelitian asli yang relevan dengan bidang analis dan ilmu kesehatan. Format artikel penelitian terdiri atas halaman judul, abstrak (Indonesia dan Inggris), pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan daftar pustaka. Pedoman bagi penulis sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :

Petunjuk Umum

JAMBS tidak menerima artikel yang sudah dipublikasikan atau sedang diajukan kepada majalah lain, dengan menandatangani surat pernyataan. Bila diketahui artikel telah dimuat pada jurnal lain, maka pada JAMBS edisi selanjutnya artikel akan dianulir. Semua artikel yang masuk akan dibahas oleh dewan redaksi dan mitra bestari yang sesuai dengan bidang keilmuwan. Artikel yang perlu perbaikan dikembalikan kepada penulis. Artikel penelitian yang menggunakan subyek penelitian hewan coba, dan manusia harus memperoleh persetujuan komite etik. Penulis dapat mengirimkan artikel disertai surat pengantar yang ditujukan kepada penanggungjawab redaksi dengan alamat :

Redaksi Jurnal Analis Medika Bio Sains (JAMBS)

Sub Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Jurusan Analis Kesehatan Mataram.

Jalan Praburangkasari Dasan Cermen Cakranegara; Mobile: 081915982777 (ZaenalFikri); Telp. (0370) 622143; Faks:

(0270) 641937; E-mail:

[email protected]

Penulisan artikel

Artikel diketik 1 spasi pada kertas A4, dengan jarak tepi kiri dan atas 3 cm serta tepi kanan dan bawah 2 cm. Jumlah halaman 10 – 14 lembar, jenis huruf Times

New Roman ukuran 12. Setiap halaman

diberi nomor secara berurutan dimulai dari halaman judul sampai halaman terakhir. Artikel dikirim dalam bentuk Softcopy (CD) dengan mencantumkan nama file dan program yang dipergunakan pada label CD serta 3 berkas artikel asli.

Halaman Judul

Halaman judul berisi judul artikel, nama penulis artikel tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain apapun, lembaga afiliasi penulis, nama dan alamat korespondensi, nomor telepon, nomor faksimili, serta alamat e–mail. Judul artikel harus pendek tidak melebihi 20 kata, spesifik, tidak boleh disingkat dan informatif yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menggunakan huruf Title Case.

Abstrak dan Kata Kunci

Abstrak untuk setiap artikel ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak tidak melebihi 250 kata, dan merupakan intisari seluruh tulisan, meliputi : Latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan. Kata kunci 3–5 buah kata kunci yang dapat membantu penyusunan indeks dan urutan pengetikan berdasarkan abjad.

Pendahuluan

Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah serta tujuan penelitian dan harapan untuk waktu yang akan datang.

Metode

Metode berisi penjelasan tentang bahan– bahan dan alat–alat yang digunakan terutama yang spesifik, waktu, tempat,

(4)

teknik, rancangan percobaan, dan analisis statistik (bila ada).

Hasil

Hasil dikemukakan dengan jelas bila perlu dengan ilustrasi (lukisan, grafik, tabel, diagram, dan foto). Hasil yang telah dijelaskan pada tabel atau grafik tidak perlu diuraikan kembali dalam teks. Tabel disusun berurutan yang disampaikan terpisah dalam bentuk lampiran. Setiap tabel harus diberi judul singkat. Tempatkan penjelasan dan singkatan pada keterangan tabel, bukan pada judul tabel. Jumlah tabel maksimal 6 buah. Hasil yang memuat hanya 1 tabel disusun dalam bentuk kalimat atau di deskripsikan.

Pembahasan

Pembahasan menerangkan arti hasil penelitian, bagaimana hasil penelitian yang dilaporkan dapat memecahkan masalah, perkembangan hasil penelitian untuk aplikatif atau kemajuan program, dan perbedaan atau persamaan dengan penelitian terdahulu (bila ada).

Kesimpulan

Kesimpulan berisi ringkasan temuan yang mengarah pada pembuktian hipotesis.

Saran

Saran berupa rekomendasi dari hasil temuan pada stakeholder, pengelola program kesehatan, dan pengambil kebijakan.

Ucapan Terima Kasih

Bila diperlukan ucapan terima kasih dapat diberikan kepada contributor penelitian tanpa menuliskan gelar.

Daftar Pustaka

Rujukan ditulis sesuai aturan penulisan

Vancouver, diberi nomor urut sesuai

dengan pemunculan dalam artikel, bukan menurut abjad. Cantumkan nama penulis maksimal 6 orang, apabila lebih, tulis nama 6 orang pertama, selanjutnya dkk. Jumlah rujukan 10-20 buah dari terbitan 10

tahun terakhir untuk rujukan dari jurnal. Rujukan diupayakan 60% dari jurnal dan 40% dari buku ajar. Rujukan dari artikel yang sudah diterima dan menunggu penerbitan di majalah tertentu harus ditulis “in press”.

Contoh :

Leishner Al. Molecular mechanism of cocaine addiction.N Engl J Med.In press 2011.

Contoh cara menuliskan rujukan :

Jurnal Artikel standart

Weisenburger DD. Environmental epidemiology of non-Hodgkin’s lymphoma in Eastern Nebraska. Am J Ind Med. 1990;18(3):305‒5.

Langan NP, Pelissier BMM. Gender differences among prisoners in drug

treatment.J Subst Abuse.

2011;13(3):291‒301.

Rujukan lebih dari 6 penulis

Polanco FR, Dominquez DC, Grady C, Stoll P, ramos C, Mican JM, dkk. Conducting HIV research in racial and ethic minority communities: building a successful interdisciplinary research team.

J Assoc Nurse AIDS Care.

2011;22(5):388‒96.

Suatu organisasi sebagai sumber

WHO. Rubella vaccines: WHO position paper-recommendations.

Vaccines.2011;29(48):8767‒8.

Tanpa nama penulis

Role of diagnostic imaging in early diagnosis and stage determination of rheumatoid arthritis.Clin Calcium. 2011;21(7):949‒53.

Artikel tidak dalam bahasa Inggris

Budiman A, Hilmanto D, Garna H. Musim hujan sebagai factor risiko kambuh pada anak penderita sindromnefrotik sensitive steroid. MKB.2011;43(3):112‒6.

(5)

Volume dengan Suplemen

Van Spronsen FJ, Huijbregts SC, Bosch

AM, Leuzzi V. Cognitive,

neurophysiological, neurological and psychosocial outcomes in early-treated PKU-patients: a start toward standardized

outcome measurement across

development. MolMetab. 2011;104 (Suppl i):S45‒ 51.

Buku dan Monograf lain Penulis Perorangan

Gatterman M. Whiplash: a patient centered approach to management. Missouri: Elsevier Mosby;2011

Editor (Penyunting) sebagai penulis

Nriagu J, Penyunting. Encyclopedia of environmental health. Michigan: Elsevier BV;2011.

Disertasi

Suprapto. Penjatuhan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika dan psikotropika di Indonesia dalam perspektif hak asasi manusia berdasarkan UUD 1945 [disertasi]. Bandung: Universitas Padjadjaran;2011

Organisasi sebagai penulis

UNAIDS. Update on the HIV epidemic,2011. Global HIV/AIDS response ‒ progress report 2011. Geneva:WHO Library Cataloguing Data;2011

Prosiding konferensi

Nicolai T. Homeopathy. Proceedings of the Workshop alternative Medicines;2011 November 30; Brussels. Belgium. Belgium: ENVI;2011.

Bab dalam buku

Belott PH, Reynolds DW. Permanent pacemaker and implantabel cardioverter-defibrillator implantation. Dalam: Ellenbogen K, wilkoff B, Kay GN, Lau CP, penyunting. Clinical cardiac pacing, defibrillation and resynchronization

therapy. Edisi ke-4. Birmingham: Elsevier Inc;2011. Hlm. 443‒515.

Materi elektronik

Artikel Jurnal dalam format elektronik

Lipton B, fosha D. Attachment as a transformative process in AEDP: operationalizing the intersection of attachment theory and affective neuroscience. Journal of psychotherapy Integration [Online Journal] 2011 [diunduh 25 November 2011].Tersediadari:

(6)
(7)

1

RESISTENSI PRIMER FIRST – LINE ORAL AGENTS ISONIAZID (INH) PADA PENDERITA TB PARU BTA (+) DENGAN TUJUAN gen katG

MENGGUNAKAN NESTED PCR

Maruni Wiwin Diarti,1 Pancawati Ariami,1 Yunan Jiwintarum1

1

Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram Jurusan Analis Kesehatan

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari dan mengetahui adanya mutasi gen katG

Mycobacterium tuberculosis sebagai sifat resistensi primer first – line oral agents isoniazid

(INH) pada penderita TB paru BTA (+). Penelitian ini merupakan penelitian Observasional deskriptif yaitu mendeteksi adanya mutasi gen katG Mycobacteium tuberculosis sebagai sifat resistensi primer first – line oral agents isoniazid (INH) pada penderita TB paru BTA (+). Jumlah sampel 50 sampel sputum yang diperoleh dari 16 puskesmas, dengan teknik acidental

sampling. Metode pengumpulan data menggunakan Nested PCR dengan target gen katG Mycobacterium tuberculosis. Hasil dari penelitian ini adalah analisis Nested PCR

membuktikan terjadinya mutasi pada daerah komplementer primer yang merupakan target gen

katG Mycobacterium tuberculosis sebanyak 11 sampel (22%) yang dinyatakan resisten atau

terjadi mutasi dan 39 (78%) dinyatakan sensitif atau tidak terjadi mutasi. Sebelas (11) sampel yang terdeteksi terjadinya mutasi karena nucleotide mismatch.

Kata Kunci : Gen katG, Mycobacterium tuberculosis, Resistensi primer.

FIRST-LINE ORALAGENTSISONIAZID(INH) PRIMARYRESISTANCE IN PATIENTSOF AFB(ACID FAST BACILLI)PULMONARY

TUBERCULOSIS(+)BYUSINGkatG GENE NESTED PCR

Abstract

The aim of this research are to learn and find out the katG gene mutation of Mycobacterium

tuberculosis as the primary resistence properties to the first-line oral agents isoniazid ( INH )

in patients with AFB ( Acid Fast Bacilli ) ( + ) pulmonary tuberculosis. This research applies descriptive observasional mode due to the detection of the presence of katG gene mutation of

Mycobacterium tuberculosis as the primary resitance properties to the first-line oral agents isoniazid( INH ) in patients with AFB ( Acid Fast Bacilli ) ( + ) pulmonary tuberculosis. Fifty

samples are obtained from 16 community health center by using accidental sampling technique. Nested PCR is the method to analyze the katG gene of Mycobacterium

tuberculosis as the target in this research to collect data. The result of this research shows that

a mutation presence in the primer complimenter region of katG gene of Mycobacterium

tuberculosis as the target are found in 11 samples ( 22% ) wich are expressed as resistance

and 39 ( 78% ) are expressed as sensitive or have no mutation. All the eleven mutation detected samples are caused by nucleotide mismatch

Keywords: Primary Resistance, katG gene, Mycobacterium tuberculosis.

(8)

2 Pendahuluan

Penyakit TB Paru merupakan penyakit infeksiyang disebabkan oleh bakteri

Mycobacterium tuberculosis. Penyakit TB

Paru merupakan problema masyarakat dunia, khususnya di negara-negaraberkembang termasuk Indonesia. Penyakit tuberculosis sebagai salah satu penyakit infeksi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Sampai sekarang penyakit TB Paru belum ada satu negara yang menyatakan diri bebas dari penyakit ini. Belanda dan Skandinavia memperkirakan bahwa TB paru akan terbasmi pada tahun 2025. Amerika Serikat telah membuat program pada tahun 1988 untuk bebas TB Paru pada tahun 2010. Jepang akan membasmi penyakit TB Paru sampai tahun 2058.2 Menurut laporan WHO penyakit TB Paru di Indonesia tercatat 320 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 1991, 300 per 100.000 pada tahun 1992 dan 247 kasus pada tahun 1993. Perkiraan angka kejadian untuk semua golongan umur pada tahun 2000 dan 2005 adalah 243 dan 247 per 100.000 penduduk. Selanjutnya berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2010 bahwa periode

prevalence TB Paru 2009/2010 adalah

sebesar 725/ 100.000 penduduk. Lima provinsi yang memiliki angka prevalensi TB Paru paling adalah : Papua 1.441 per 100.000 penduduk, Banten 1.282 per 100.000 penduduk, Sulawesi utara 1.221 per 100.000 penduduk, Gorontalo 1.200 per 100.000 penduduk dan DKI Jakarta 1.032 per 100.000 penduduk.2;10

TB saat ini menyebabkan kematian tertinggi diantara penyakit infeksi dan merupakan pembunuh utama kelompok usia produktif. TB kembali merebak di awal tahun 1990 yang sebelumnya telah dapat dikontrol dengan menerapkan strategi DOTS yang diadopsi dari WHO oleh Program Gerakan Nasional TB (Gerdunas TB) dimana 98 % populasi telah dapat dijangkau pada tahun 2001. Di dalam buku Sistem Kesehatan Nasional disebutkan bahwa angka kesakitan TB Paru adalah sebesar 3 per mil. Hasil

penelitian yang dilakukan di 15 provinsi di Indonesia (1979 – 1981) menunjukkan angka rata- rata kesakitan sebesar 2,55 per mil bagi seluruh Indonesia. Laporan Departemen Kesehatan dalam profil kesehatan Indonesia (1994) tercatat kematian karena TB paru di rumah sakit pada penderita rawat inap sebesar 3,6 % pada tahun 1991, 4 % pada tahun 119 dan 4,9 % pada tahun 1993. Meningkatnya angka kematian di rumah sakit yang disebabkan karena TB Paru, kemungkinannya karena bakteri

Mycobacteium tuberculosis telah mengalami resistensi terhadap Obat Anti Tuberculosis (OAT).

Tiap proses dalam pengobatan yang tidak tuntas, gagal obat dan kelalaian dalam jadual minum obat menyebabkan perubahan pada mutasi kromosom baik berupa mutasi titik, dilesi ataupun insersi. Mutasi kromosom mengakibatkan perubahan struktur ribosim yang berfungsi sebagai target site, perubahan struktur dinding sel atau membran plasma bakteri menyebabkan bakteri tidak tertembus obat, perubahan reseptor permukaan dan hilangnya dinding bakteri menyebabkan perubahan bentuk L atau spheroplast dari basil Mycobacteium tuberculosis yang bersifat resisten. Resistensi obat primer dan acquired dapatdisebabkan karena pengobatan yang tidak adekuat, obatnya sub – standart, tidak sesuai atau ― mono

terapy‖ (terapi satu obat). Proses biologik

alamiah menyebabkan daya tahan mikroba melakukan upaya resistensi yang dapat ditransmisikan secara genetik ketika diobati dengan suatu antimikroba atau penolakan (ekspulsi) fisik obat tersebut.7

Program Pemberantasan TB Paru di Indonesia dilakukan oleh Direktorat tuberculosis, yang berada dibawah Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular langsung (P2ML). Pengobatan diberikan secara gatis pada penderita TB Paru dengan BTA positif pada usia produktif 15 tahun ke atas. Angka kesembuhan selama pelita V antara 50 % s.d 80 %. Sebagian dari hasil penelitian

(9)

3

dengan tes kepekaan terhadap OAT menyatakan basil Mycobacteium tuberculosis telah mengalami resisten

terhadap obat anti tuberculosis, antara lain oleh Kosasih yaitu INH 37,5 %, Rifamfisin 5,6%, Kamamisin 48,28 %, Streptomysin 62,5%, PAS 62,5 %, Etambuthol 0.86 % dan Pirazinamid 0,54%. Telenti

melaporkan adanya spesies

Mycobacterium yang mengalami resisten terhadap Rimfapicin yang diamati secara perubahan mutasi gen yaitu sebanyak 22,7%. Zhang menemukan bahwa gen

katG yang menyandi enzim katalase dan

peroksidase berkaitan langsung dengan sifat resistensi M.tuberculosis terhadap isoniazid (INH).

Hasil Penelitian Salim dkk, 2010 yang melakukan penelitian pola kepekaan kuman M.tuberculosis terhadap OAT menggunakan teknik PCR dari sampel sputum dan pleura penderita TB yang berobat di RSU Provinsi NTB dari 17 isolat M.TBC yang diperiksa diperkirakan telah mengalami resistensi terhadap rimfapicin sebanyak 23,53 % (4 isolat),etambuthol 29,4 % (5 isolat) dan isoniazid 35,3% (6 isolat). Sebanyak 5 isolat (29,4 %) dapat dikatagorikan sebagai isolat M. Tuberculosis MDR .6;13;11 Isoniazid (INH) termasuk obat lini pertama pengobatan TB selama lebih dari 40 tahun dengan cara memblok sintesis asam mikolat dinding sel yang merupakan komponen amplop Mycobacteium tuberculosis. INH saat ini juga direkomendasikan untuk mencegah TB pada kelompok pasien HIV dan anak–anak yang tinggal bersama penderit TB paru. Bukti-bukti genetik menunjukkan bahwa mutasi gen-gen katG, merupakan penyebab kekebalan INH, dengan persentase mutasi gen katG sebesar 60% - 70%. Modifikasi

katG, baik sebagian atau delesi total, dan

mutasi titik atau insersi menyebabkan penurunan aktivitas katalase dan tingginya resistensi terhadap INH. Katalase ini esensial untuk mengaktifkan INH menjadi derivat hidrazin yang aktif. Data dari RS persahabatan tahun 1993 menunjukkan

resistensi Mycobacterium tuberculosis

terhadap INH adalah 7,7 %, sedangkan penelitian di provinsi DKI, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan brkisar antara 11,9 % dan 15,6%.

Hasil penelitian Syaifudin dkk, tahun 2005 menemukan dari 70 sampel yang diuji sifat resistensi INH berdasarkan mutasi gen katG dengan menggunakan metode SSCP radioaktif didapatkan 12 sampel (7,1%) telah mengalami mutasi pada gen katGnya atau bersifat resisten. Perbedaan angka rersistensi ini disebabkan karena sifat fenotipe dan genotipe dari

Mycobacterium tuberculosis secara geografis yang berbeda. Frekuensi dan jenis mutasi pada gen katG juga spesifik karena perbedaan geografis sehingga sangat perlu dilakukan pemeriksaan sifat resistensi gen katG pada setiap daerah, terutama kasus suspek dan BTA (+) nya besar.7 Syaifudin dkk,2005, menyatakan bahwa resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap obat anti INH

disebabkan karena mutasi beberapa gen seperti katG, inhA,kasA,ahpC, dan oxyR.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa frekuensi strain bakteri yang resisten INH mengalami mutasi pada gen

katG sebesar 60-70%,selebihnya (30-40%)

resistensi disebabkan mutasi pada gen lain seperti inhA dan kasA.Stella L,2008 juga menulis bahwa insiden resistensi terhadap INH kebanyakan disebabkan pada mutasi asam amino 135 dari gen katG,inilah yangmenjadi dasar pemiihan gen katG untuk dijadikangen target dalam deteksi

keberadaan resistensi

primerMycobacterium tuberculosis

dalampenelitian ini.12

Walaupun di Indonesia beberapa laporan penelitian resistensi

Mycobacterium tuberculosis telah dilakukan dengan persentase (%) kasus yang berbeda setiap daerah. Perbedaan angka rersistensi ini disebabkan karena sifat fenotipe dan genotipe dari

Mycobacterium tuberculosis secara geografis yang berbeda. Frekuensi dan jenis mutasi pada gen katG juga spesifik

(10)

4

karena perbedaan geografis sehingga sangat perlu dilakukan pemeriksaan sifat resistensi gen katG pada setiap daerah, terutama kasus suspek dan BTA (+) nya besar. Menurut data Riskesdas 2010

periode prevalence TB di NTB 0,927 %

dan periode suspek TB adalah 2,877 %. Pada pemeriksaan setelah pengobatan sering didapatkan bentuk

fragmented yang sering disebut sebagai

bangkai bakteri, namun walaupun dalam bentuk fragmented basil Mycobacterium belum bisa dikatakan mati karena DNA nya masih aktif atau masih terdapat mRNA pada intisel, kalau pengobatan dihentikan, bentuk ini bisa menjadi bentuk vegetatif basil yang utuh dan menyebabkan kekambuhan. Hal ini yang memicu terjadinya resistensi terhadap obat anti tuberculosis. Bila bentuk resistensi ini terdapat pada droplet sputum penderita dan terhirup oleh orang sehat dapat menyebabkan penularan infeksi

Mycobacterium tuberculosis yang resisten,

kondisi ini disebut penderita resistensi primer, karena mendapatkan infeksi pertama kali oleh bakteri Mycobacterium

tuberkulosis yang resisten. Fenomena

tersebut bisa dibuktikan dengan pemeriksaan biologi molekuler dengan menganalisis mutasi gen yang mengalami mutasi. Mengetahui pola resistensi INH karena mutasinya gen katG sangatlah penting, karena dapat menyebabkan kekambuhan dan sifat kebal bakteri

Mycobacterium tuberculosis terhadap INH

dan bila basil ini menular pada orang lain dapat menyebabkan resistensi primer.

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian Observasional deskriptif yaitu mendeteksia danya mutasi gen katGMycobacteium

tuberculosis sebagai sifat resistensi

primerfirst – line oral agents isoniazid (INH) pada penderita TB paru BTA (+) dengan menggunakan metode Nested PCR. Jumlah sampel yang didapatkan adalah 50 sampel sputum. Pengambilan sampel menggunakan teknik non random accidental sampling yaitu sampel sputum

pagi hari dari penderita TB paru baru yang kebetulan datang memeriksakan diri ke puskesmas dengan hasil pemeriksaan mikroskopis BTA (+). Sampel sputum yang diambil adalah sampel sputum pagi hari dari penderita, ditampung dalam copok plastik steril. Dari sampel tersebut dibuat 2 buah hapusan dan dicat BTA metode Ziehln – Nelssen dan dilakukan pembacaan BTA. Sampel yang masih dalam copok plastik selanjutnya dilakukan analisa molekuler metode Nested PCR.

Ekstraksi DNA dari sampel sputum dengan metode DNA-zol dengan cara dimasukkan 50 µl sampel ke tabung

eppendroff yang telah berisi 200 µl larutan

DNA-zol. Kemudian tabung dibolak-balik 10 kali dan di vorteks 2 menit. Diputar 10.000 g selma 10 menit. Supernatan dipindahkan ke tabung baru dan ditambahkan etanol absolut 200 ul dan diinkubai 1-3 menit suhu kamar. Dicampur bagian inversi sampel dan diputar 4000 g selama 5 menit. Supernatan dibuang dan pellet dicuci 2 kali dengan etanol 80% kemudian diputar 4000 g selama 5 menit. Diresuspensikan pellet dengan 50 ul ddH2O. Dipisahkan supernatan (produk

ekstraksi). Dilakukan amplifikasi hasil ekstraksi DNA dalam 50 µl volume reaksi yang terdiri dari :

(11)

5

Komponen Volume Komponen Konsentrasi final

ddH20

Buffer ( - ) Mg 10 X MgCl2 25 mM

dNTP @ 10 mM

Forward Primer 50 pmol Reverse Primer 50 pmol

TaqPolymerase 5 U / µl Templete 30,75 µl 5 µl 3 µl 1 µl 2,5 µl 2,5 µl 0,25 µl 5 µl 1 X 1,5 mM @ 200 µM 1,0 µM 1,0 µM 1,25 U / 50 µl < 0,5 µg / 50 µl Total 50 µl

Tabel 1. Komposisi reaksi untuk amplifikasi hasilekstraksi DNA Kontrol positif (+), DNA template sampel

diganti dengan DNA isolat M. tuberculosis dan kontrol negatif (-) menggunakan

aquabidest steril.Pencampuran bahan –

bahan tersebut dilakukan pada eppendrof 200 ml dalam box pendingin supaya DNA dan ensim yang digunakan tidak rusak. Campuran tersebut diatas, kemudian di

spin down dan selanjutnya di masukkan

dalam

mesin PCR. Total volume reaksi menjadi 50 µl dan dimasukkan dalam thermal

cycler. Kondisi PCR dalam amplifikasi ini

dituliskan pada tabel 2. Produk PCR (hasil amplifikasi) di analisis menggunakan elektroforesis gel agarose 2% menggunakan penyelator ethidium bromida dan dibaca dibawah sinar ultra

violet.

1. 2.

3.

Hot start

Denaturasi ( pemisahan DNA ) Annealing ( penempelan primer )

Elongasi / Ekstensi ( pemanjangan DNA ) Elongasi post PCR 94 oC selama 5 menit 94 oC selama 40 detik 64 oC selama 40 detik 72 oC selama 1 menit 72 oC selama 10 menit Tabel 2. Kondisi PCR pada proses amplifikasi

Keterangan : Hot Start s/d Elongasi dilakukansebanyak 35 siklus

Susunan primer yang digunakan untuk mengetahui pola resistensi first – line oral

agents isoniazid (INH) terhadap gen katG

Mycobacterium tuberculosis pada TB paru baru dengan BTA (+) menggunakan teknik

PCR dapat dilihat pada tabel 3. Nested PCR dilakukan pada sampel yang positif pada PCR tahap I / pemeriksan TB diagnostik. Pada Nested PCR ini dilakukan dua tahap dengan menggunakan 2 pasang primer gen katG. Adapunpasangan basa dari 2 pasang primer tersebutadalah : Pasangan primer 1 : KatG1R 5’-TGGGCTGGAAGAGCTCGTAT-3’ KatG1F 5’- GGAAACTGTTGTCCCATTTCG- 3’ Denganhasilproduk PCR 105 p Pasangan primer 2 : KatG2R 5’-GAGCCCGATGAGGTCTATTG - 3’ KatG2F 5’- CTCTTCGTCAGCTCCCACTC- 3’ Denganhasilproduk PCR 464 bp

Kondisi Amplifikasi dan elektroforesis Nested PCR sama dengan PCR tahap pertama / pemeriksan TB diagnostik. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif dengan kriteria : Jika sampel PCR positif (+) baik dengan primer diagnostik TB1-2 dan primer katG1-2 maka isolat M.

Tuberculosis pada sampel sputum penderita TB tersebut tidak mengalami mutasi pada daerah komplementer primer atau urutan basa cocok dari target gen

(12)

6

terhadap masing–masing primer yang bersangkutan. Jika sampel PCR positif (+) dengan primer diagnostik TB1-2 tetapi negatif (-) dengan primer katG1-2 atau positif (+) dengan primer gen katG1 tetapi negatif (-) dengan primer gen katG2, maka isolat M. Tuberculosis pada sampel sputum

penderita TB tersebut mengalami mutasi pada daerah komplomenter primer atau urutan basa tidak cocok/nucleutida

mismatch dari target gen katGnya,

sehingga bersifat resisten terhadap

masing–masingprimer yang

bersangkutan.11.

Tabel 3.Susunan primer yang digunakan untuk mengetahui pola resistensi first – line oral

agents isoniazid (INH) terhadap gen katG Mycobacterium tuberculosis

Hasil

1. Hasil PCR diagnostik dari sampel sputum penderita TB Paru baru.

Sampel sputum sebanyak 50 dieksraksi dengan menggunakan metode DNAzol, dilakukan PCR diagnostik dengan menggunakan pasangan primer Tb 1 dan Tb 2. PCR ini digunakan untuk mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis. Hasil analisis PCR TB

pada 50 sampel sputum dari penderita TB Paru BTA (+) dinyatakan 50 (100%) positif (+), ini membuktikan bahwa pada sampel sputum tersebut terdapat DNA Mycobacterium tuberculosis. Gambar hasil analisis PCR

terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Hasil analisa PCR diagnostik menggunakan pasangan primer Tb1 dan

Tb 2.

2. Hasil PCR gen katGMycobacterium

tuberculosis dengan metode Nested

PCR.

Nested PCR dilakukan pada 50 sampel yang positif pada PCR tahap I / pemeriksan TB diagnostik untuk mempelajari dan mengetahui adanya mutasi gen katGMycobacterium tuberculosis sebagai sifat resistensi

primer first – line oral agents isoniazid (INH) pada penderita TB paru BTA (+). Nested PCR dilakukan dua tahap dengan menggunakan 2 pasang primer gen katG. Adapunpasangan basa dari 2 pasang primer tersebutadalah :

Pasangan primer 1 : KatG1R 5’-TGGGCTGGAAGAGCTCGTAT-3’ KatG1F 5’-GGAAACTGTTGTCCCATTTCG-3’ dengan produk PCR 105 bp Pasangan primer 2 :

No. Nama primer dan susunan basa oligonukleutida Panjang Produk (bp) 1. Tb1 5’ – TACTACGACCACATCAACCG – 3’ Tb2 5’ – GGGCTGTGGCCGGATCAGCG – 3’ 390 2. KatG1R 5’- TGGGCTGGAAGAGCTCGTAT- 3’ KatG1F 5’- GGAAACTGTTGTCCCATTTCG- 3’ 105 3. KatG2R 5’-GAGCCCGATGAGGTCTATTG - 3’ KatG2F 5’- CTCTTCGTCAGCTCCCACTC- 3’ 464 390 BP

(13)

7 KatG2R 5’-GAGCCCGATGAGGTCTATTG-3’ KatG2F 5’-CTCTTCGTCAGCTCCCACTC-3’ dengan produk PCR 464 bp

Kondisi Amplifikasi dan elektroforesis Nested PCR sama dengan PCR tahap pertama / pemeriksan TB diagnostik. Analisis nested PCR untuk mengetahui terjadinya mutasi pada daerah komplemener primer yang

merupakan target gen

katGMycobacterium tuberculosis

terdapat 11 sampel (22%) yang dinyatakan resisten atau terjadi mutasi dan 39 (78%) dinyatakan sensitif atau tidak terjadi mutasi. Sebelas (11) sampel yang terdeteksi terjadinya mutasi pada daerah komplementer primer karena ketidak cocokan urutan basa atau terjadinya nucleotide mismatch. Gambar hasil analisis nested

PCR terlihat pada gambar 2 dan3.

Gambar 2. Hasil analisa PCR menggunakan pasangan primer gen

katG1

Gambar 3. Hasil analisa PCR menggunakan pasangan primer gen

katG2

Pembahasan

Pengobatan dan kontrol terhadap penyakit TBC telah dilakukan, tetapi sudah lama dilaporkan adanya resistensi primer pada

Mycobacterium tuberculosis.

Aditama,dkk,1995 melaporkan bahwa resistensi primer terhadap INH sebesar 2,16%, Streptomycin 1,23%, rifampisin 0,50%,etionamid 0,16%,kanamisin 0,08% dan pirazinamid 0,04%.1

Resistensi primer adalah keadaan resistensi terhadap OAT pada penderita yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT sebelumnya. Faktor resiko terjadinya resistensi primer OAT adalah kasus infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis yang resistensi OAT. Keadaan

resistensi primer ini dijumpai secara geografis pada tempat yang mempunyai resiko tinggi untuk resistensi OAT. Resistensi obat anti tuberculosis (OAT) disebabkan oleh mutasi khromosomal terhadap masing – masing OAT. Pengaruh terhadap derajat mutasi dalam kasus klinik terletak pada proporsi kuman yang resisten dan perkembangbiakan kuman yang resisten. Proses resistensi ini dimulai dengan mutasi genetik, diikuti perkembangbiakan populasi yang resisten, kemudian menimbulkan bakteri yang menjadi resisten terhadap OAT. 8 Resistensi obat primer dan acquired dapat disebabkan karena pengobatan yang tidak adekuat, obatnya sub – standart, tidak sesuai atau ― mono terapy‖ (terapi satu obat). Proses biologik alamiah menyebabkan daya tahan mikroba melakukan upaya resistensi yang dapat ditransmisikan secara genetik ketika diobati dengan suatu antimikroba atau penolakan (ekspulsi) fisik obat tersebut.7

Hasil penelitian ini dengan menggunakan metode Nested PCR pada target mutasi gen katGMycobacterium

tuberculosis membuktikan bahwa telah

terdapat resistensi primer Mycobacterium

tuberculosis terhadap obat Isoniazid (INH). Dari 50 sampel sputum terdapat11 sampel (22%) yang dinyatakan resisten atau terjadi mutasi pada gen katG dan 39 (78%) dinyatakan sensitif atau tidak terjadi mutasi. Sebelas (11) sampel yang terdeteksi terjadinya mutasi pada daerah komplementer primer karena ketidak cocokan urutan basa atau terjadinya

(14)

8

nucleotide mismatch. Timbulnya resistensi

terhadap obat anti tuberculosis di Mataram, NTB telah di laporkan oleh Salim,dkk,2010 yang membuktikan telah terjadi resistensi terhadap OAT pada sampel cairan pleura dari pasien dengan diagnosis TB paru berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, dari 17 cairan pleura yang diperiksa dengan teknik PCR didapatkan 35,5% telah resisten terhadap isoniazid, 23,5% mengalami resisten terhadap rifampicin dan 29,4% mengalami resisten terhadap etambutol dan sebanyak 5 sampel pleura dapat dikatagorikan sebagai MDR.

Pada simposium resistensi antimikroba di Indonsia, Ida Parwati,dkk dalam penelitiannya di Jawa Barat menyatakan bahwa pada kasus tuberculosis baru (n=644) sebanyak 50 pasien resisten terhadap isoniazid, 43 pasien (67%) resisten rifampisin, 28 pasien (4,3%) resisten terhadap etambutol,44 pasien (6,8%) resisten terhadap streptomisin dan 24 orang (3,7%) mengalami Multi Drug

Resistant Tuberculosis (MDR TB).12

Isoniazid adalah derivat nikotinamid yang juga dikenal dengan isonikotinic acidhydrazide (INH) dengan rumus kimia 4-pyridinecarboxylic acid hidrazide.

Target kerja isoniazid sebagai anti tuberculosis adalah dengan menghambat

enoyl-acyl carrier protein reduktase, yang

diperlukan dalam biosintesa asam mikolat dinding sel Mycobacterium tuberculosis. Isoniazid menghambat pembentukan dinding sel bakteri dalam bentuk isoniazid aktif yaitu setelah mengalami oksidas. Aktivasi isoniazid memerlukan enzim

catalase – peroksidase (gen katG) dan

hidrogen peroksidase yang dihasilkan

Mycobacterium tuberculosis. Gen katG

adalah satu – satunya enzim yang dapat mengaktifkan isoniazid, dengan demikian mutasi gen katG strain Mycobacterium

tuberculosis menyebabkan Mycobacterium tuberculosis menjadi resisten terhadap

isoniazid. Selain itu masih terdapat gen lain yang dapat menyebabkan resistensi terhadap isoniazid seperti gen inhA yang

diperlukan Mycobacterium tuberculosis dalam pembentukan asam mikolat pada

Mycobacterium tuberculosis.5Isoniazid bersifat bakterisidal yang menghinhibisi sintesa mikolat pada dinding sel

Mycobacterium tuberculosis. Absorbsi sempurna pada keadaan perut kosong dan berkurang setelah makan.

Obat didistribusikan dengan luas dan melewati blood brain barrier. Enzim

utama yang mengkatalisasi

metabolismenya adalah asetil transferase, yang mempunyai ekspresi yang variabel, menyebabkan variasi yang luas pada masa paruhnya. Obat ini diindikasikan untuk semua bentuk tuberculosis dengan kuman yang sensitif baik untuk pencegahan maupun pengobatan. Insiden resistensi terhadap INH kebanyakan disebabkan pada mutasi asam amino 135 dari gen katG.12 Resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (OAT) ada 3 macam yaitu (1) mutan yang resisten, (2) resistensi sekunder/resistensi yang diperoleh, dan (3) resistensi primer. Resistensi terhadap OAT dapat timbul karena beberapa faktor antara lain pemberian terapi TB yang tidak adekuat akan menyebabkan mutants resisten. Hal ini amat ditakuti kaena dapat terjadi resisten terhadap OAT lini pertama, masa infeksius yang terlalu panjang akibat keterlambatan diagnosis akan menyebabkan penyebaran galur resisten obat. Penyebaran ini tidak hanya pada pasien di rumah sakit tetapi juga pada petugas rumah sakit, asrama, penjara dan keluarga pasien, pasien dengan TB –MDR diterapi dengan OAT jangka pendek akan tidak sembuh dan akan menyebarkan kuman yang resisten, pasien dengan OAT yang resisten terhadap kuman tuberkulosis yang mendapat pengobatan jangka pendek dengan monoterapi akan menyebabkan bertambah banyaknya OAT yang resisten hal ini menyebabkan seleksi mutasi resisten karena penambahan obat yang tidak multiple dan tidak efektif .9;13;3

Pada pemeriksaan setelah pengobatan sering didapatkan bentuk

(15)

9

bangkai bakteri, namun walaupun dalam bentuk fragmented basil Mycobacterium belum bisa dikatakan mati karena DNA nya masih aktif atau masih terdapat mRNA pada intisel, kalau pengobatan dihentikan, bentuk ini bisa menjadi bentuk vegetatif basil yang utuh dan menyebabkan kekambuhan. Hal ini yang memicu terjadinya resistensi terhadap obat anti tuberculosis. Bila bentuk resistensi ini terdapat pada droplet dahak penderita dan terhirup oleh orang sehat dapat menyebabkan penularan infeksi

Mycobacterium tuberculosis yang resisten,

kondisi ini disebut penderita resistensi primer, karena mendapatkan infeksi pertama kali oleh bakteri Mycobacterium

tuberkulosis yang resisten. Fenomena

tersebut bisa dibuktikan dengan pemeriksaan biologi molekuler dengan menganalisis mutasi gen yang mengalami mutasi.

Kesimpulan

1. Sampel sputum dari penderita TB paru BTA (+) sebanyak 50 (100%) sampel dinyatakan positif dengan menggunakan PCR diagnostik Tb1 dan Tb2.

2. Analisa Nested PCR membuktikan terjadinya mutasi pada daerah komplemener primer yang merupakan target gen katGMycobacterium tuberculosis sebanyak 11 sampel (22%)

yang dinyatakan resisten atau terjadi mutasi dan 39 (78%) dinyatakan sensitif atau tidak terjadi mutasi.

Saran

Perlu dilakukan penelitian pemetaan mutasi gen resisten primer dari

Mycobacterium tuberculosis dari berbagai

daerah Nusa Tenggara Barat untuk mendapatkan informasi mutasi gen

Mycobacterium tuberculosis yang berguna

bagi program pemberantasan TBC.

Daftar Pustaka.

1. Aditama,T,Y.,Chairil A.S.,dan Herry B.W,. Resistensi primer dan sekunder

Mycobacterium tuberculosis. Cermin

dunia kedokteran.Jakarta.1995.

2. Asa M,. Harapan dan tantangan aplikasi reaksi rantai polimerase

(PCR) Multipleks dalam

pemberantasan TB Paru di Indonesia (suatu pendekatan biologi molekuler). Suplement vol 26.2005.

3. Crofton SJ; Horne N; Miller F. Tuberkulosis Klinis, Widya Medika, Jakarta.2002.

4. Dikes Lotim. Profil Bidang P2PL Tahun 2010.

5. Hilaluddin,. Multi-Drug Resistensi (MDR) Pada Penderita tuberculosis

Paru Dengan Diabetes

Melitus,Laporan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Paru.2008.

6. Kosasih,O, Soemantri E.S, dan Soewarno W,. Resistensi Kuman Tuberculosis terhadap beberapa jenis obat anti tuberculosis.Medika. 1989. 7. Syaifudin, Marlina Rosilawati, Harris

Irawa, Budiman Bela. Identifikasi

Mycobacterium tuberclosis dan analisa mutasi gen rpoB dan katG penyebab resistensi ganda dengan teknik molekuler. 2005.

8. Paul Boekitwetan. Resistensi Multiple Obat Antituberkulosis.Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.Jakarta.1999. 9. Priyanti ZS. Diagnosis Dan Faktor

Yang Mempengaruhi Terjadinya TB-MDR. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan.Jakarta.2008.

10. Riskesdas. Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan

Kementerian Kesehatan R.I. Jakarta 2010.

11. Salim ST, Haris W, Zainul M. Penelitian Pola Kepekan Kuman

Mycobacterium Tuberculosis

Terhadap Obat Anti – TB Menggunakan Teknik PCR. Jurnal Kedokteran Mataram, Nomor 6 Juni 2010.

(16)

10

12. Stella I, Tinjauan Kepustakaan tuberculosis Paru.FK UI. Jakarta; 2008.

Zhang, Y, Heym B, Allen B, Young D and Cole S. The catalase – peroxidase gene and isoniazide resistance of Mycobacterium tuberculosis. Nature; 19

(17)

11

PENINGKATAN AKTIVITAS KOLINESTERASE DALAM DARAH PETANI YANG TERPAPAR PESTISIDA GOLONGAN ORGANOFOSFAT YANG DI BERI JUS

STRAWBERI (Fragaria chiloensis)

Haerul Anam1, Maruni Wiwin Diarti 1, Irma Haerani1

1

Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram Jurusan Analis Kesehatan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas enzim kolinesterase dalam darah petani yang terpapar pestisida golongan organofosfat sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi (Fragaria chiloensis). Jenis penelitian ini penelitian eksperimental dengan rancangan pre-post

design. Subjek penelitian petani penyemprot pestisida golongan organophosphat dengan

jumlah 32 orang. Pemeriksaan aktivitas enzim kolinesterase dilakukan menggunakan tintometer kit komparator pembanding warna kolinesterase. Hasil penelitian menunjukkan rerata aktivitas enzim kolinesterase pada petani sebelum pemberian jus strawberi sebesar 71,48% dan sesudah pemberian jus sebesar 82,42%, terjadi peningkatan aktivitas enzim kolinesterase adalah 10,48%. Kesimpulan: terjadi peningkatan aktivitas enzim kolinesterase setelah pemberian jus strawberi.

Kata kunci: Jus Strawberi, Kolinesterase, Pestisida

THE INCREASE IN BLOOD CHOLINESTERASE ACTIVITY FARMERS GROUP EXPOSED ORGANOPHOSPHATE PESTICIDES WERE GIVEN JUICE

STRAWBERRIES (FRAGARIA CHILOENSIS)

Abstract

The aim of this research is to investigate the activity of the enzyme cholinesterase in the farmer’s blood who had exposed to organophosphate pesticide groups before and after threated with strawberry juice (Fragaria chiloensis). The design of this research is experimental research with pre-post design. Subjects in this research are the farmers who apply pesticides of organophosphate group wich numbered of 32 people. Examination of cholinesterase enzyme activity was performed with Tintometer Color Comparator Cholinesterase kit. The results of this research show a mean activity of the enzyme cholinesterase in the farmer before juice strawberry intake is 71.48% and 82.42% after intake the strawberry juice, this shows an increase of enzyme cholinesterase activity of 10.48%. Conclusion: There is an increase in the enzyme cholinesterase activity after administration of strawberry juice.

(18)

12 Pendahuluan

Penggunaan pestisida di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagian besar pestisida ini digunakan dalam sektor pertanian dan perkebunan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang dapat menurunkan hasil panen.1 Penggunaan pestisida tersebut pada umumnya memberikan manfaat serta dukungan keberhasilan pembangunan di bidang pertanian, kehutanan, perkebunan, dan kesehatan masyarakat. Di sisi lain penggunaan pestisida dapat berakibat buruk terhadap manusia dan lingkungan. Pestisida umumnya beracun karena mengandung zat kimia berbahaya seperti pestisida golongan organfosfat dan karbamat. Bahaya pestisida sebagian besar menyerang golongan petani karena sering kontak dengan pestisida. Pestisida masuk ke dalam tubuh petani dapat melalui penyerapan kulit, inhalasi, pemakaian kaleng bekas pestisida untuk tempat air, memakai baju tidak tertutup, dan tidak menggunakan alat pelindung diri.2

Hasil penelitian Anam3

membuktikan bahwa persentase terbesar petani yang keracunan pestisida karena tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) di Dusun Batu Mediri, Kota Mataram. Sejumlah 9 orang petani penyemprot yang menggunakan APD 4 orang mengalami keracunan ringan, 5 orang tidak mengalami keracunan dan 11 orang tidak mengunakan APD. Dari 11 orang yang tidak menggunakan APD 10 orang mengalami keracunan ringan dan 1 orang mengalami keracunan sedang. Petani yang terpapar pestisida akan mengalami penurunan aktivitas kolinesterase di dalam tubuh. Kolinesterase merupakan katalis biologis yang berperan menjaga agar otot, kelenjar, dan sel saraf bekerja harmonis. Jika aktivitas kolinesterase jaringan tubuh menurun, maka tidak dapat memengaruhi aktivitas asetilkolinesterase saraf, sehingga asetilkolin akan menumpuk di bagian ujung saraf menganggu aliran impuls saraf dan akhirnya terjadi paralisis otot.2

Enzim kolinesterase memiliki makna patologis yang terletak pada penurunan aktivitas. Enzim kolinesterase dihambat oleh senyawa organofosfat. Penurunan aktivitas enzim kolinesterase dalam darah merupakan petunjuk sensitif terhadap kontaknya seseorang oleh pestisida. Penurunan aktivitas enzim kolinesterase ini dibuktikan juga dengan hasil penelitian4 di Dusun Kembang Kuning desa Gerimax kecamatan Narmada kabupaten Lombok Barat, yang menyatakan bahwa hasil pemeriksaan aktivitas enzim kolinesterase pada darah petani yang terpapar pestisida setelah kontak 24 jam secara rata – rata adalah 56,25%, aktivitas enzim kolinesterase pada darah petani yang kontak setalah 48 jam secara rerata adalah 61,25% dan aktivitas enzim kolinesterase pada darah petani yang kontak setelah 72 jam secara rerata adalah 75,0%. Petani yang mengalami keracunan ringan sebanyak 19 orang, petani yang mengalami keracunan sedang sebanyak 6 orang, petani yang mengalami keracunan berat sebanyak 1 orang, serta petani yang dengan aktivitas normal sebanyak 4 orang, artinya bahwa di dalam darah petani ada kandungan pestisida khususnya dari golongan organofosfat yang menghambat aktivitas enzim kolinesterase sehingga mengalami penurunan aktivitas didalam tubuh 4.

Penurunan aktivitas enzim kolinesterase dapat diatasi dengan mengkonsumsi zat yang mengandung antioksidan terutama asam askorbat (vitamin C) dan senyawa fitokimia lain misalnya buah strawberi. Strawberi merupakan tanaman buah yang berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili, Amerika latin. Pemanfaatan buah ini sangat luas baik langsung dimakan sebagai buah segar maupun diolah menjadi berbagai bahan makanan seperti kue, es krim, roti, selai, jus.5Strawberi mengandung senyawa asam elagik, kuersetin, kaempferol, asam fenolat, dan antosianin sebagai antioksidan yang dapat mencegah penggumpalan darah dan memperbaiki fungsi sel. Penelitian ini

(19)

13

bertujuan mengetahui perbedaan aktivitas enzim kolinesterase darah petani yang terpapar pestisida golongan organofosfat sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi (Fragaria chiloensis).

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre-post design. Analisis statistik menggunakan uji T-berpasangan. Subjek penelitian ini adalah petani penyemprot pestisida golongan organofosfat di kecamatan Aikmel, kabupaten Lombok Timur sejumlah 32 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.

Kriteria inklusi meliputi petani yang pernah kontak dengan bahan penyemprot pestisida golongan organofosfat, petani penyemprot pestisida golongan organofosfat yang tidak memakai APD (Masker, sarung tangan, sepatu boot). Kriteria eksklusi yaitu penderita hipertensi, diabetes melitus, dan tuberkulosis. Instrumentasi penelitian : Komparator, Disk pembanding, Botol polietilen, Mikropipet, Pipet tetes atau pipet Pasteur, Yellow dan blue tip, Blood lancet, Autoklik, Kapas, Tabung reaksi dan Rak tabung reaksi. Bahan Penelitian : Aquadest bebas CO2,

Indikator Brom Thymol Blue (BTB), Larutan substrat Asetil Kolin Perklorat, Alkohol 70%.

Data berupa lamanya kontak petani dengan pestisida dilakukan dengan metode wawancara langsung dan data berupa aktivitas enzim kolinesterase dalam darah petani yang terpapar pestisida sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi dikumpulkan dengan menggnakan tintometer kit. Pembuatan jus strawberi, di mana formulanya sebagai berikut: 100 gr strawberi segar di cuci sampai bersih, ditambahkan air matang 100 ml, kemudian diblender sampai halus dan disajikan. Adapun gambar jus strawberi yang di berikan pada petani penyemprot pestisida terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Jus Strawberi

Berdasarkan dari hasil pemeriksaan darah akan dapat diketahui tingkat keracunan oleh pestisida tersebut yaitu : 1. Kategori Normal yaitu bila > 75% -

100% aktifitas enzim kolinesterase dalam darah normal.

2. Kategori keracunan ringan yaitu bila > 50% -75% aktifitas enzim kolinesterase dalam darah normal. Orang yang diperiksa mungkin over exposure oleh karenanya perlu dikaji ulang. Jika responden lemah agar disarankan untuk istirahat (tidak kontak) dengan pestisida jenis organofosfat selama 2 minggu, kemudian uji ulang sampai mencapai kesembuhan.

3. Kategori keracunan sedang yaitu bila > 25% - 50% aktifitas enzim kolinesterase dalam darah normal. Responden mengalami over exposure yang serius, disarankan untuk segera menguji ulang tingkat keracunan. Jika hasilnya benar responden disarankan istirahat dari semua pekerjaan yang berhubungan dengan insektisida. Bila yang bersangkutan sakit harus segera dirujuk pada pelayanan kesehatan terdekat. 4. Kategori keracunan berat yaitu bila 0%

- 25% aktifitas enzim kolinesterase dalam darah normal. Over exposure yang sangat serius dan berbahaya. Perlu diuji ulang dan yang bersangkutan harus diistirahatkan dari semua pekerjaan dan perlu segera di rujuk kepada pemeriksa medis (Depkes RI, 1992).

Pengumpulan data petani penyemprot pestisida di Kecamatan

(20)

14

Aikmel, Kabupaten Lombok Timur. Analisis Data menggunakan uji statistik menggunakan uji T- berpasangan (Paired

T Test) dan apabila data yang dihasilkan

tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji non parametrik wilcoxon signed rank

test dengan tingkat kepercayaan 95% (p α

0,05).

Hasil

Sampel yang digunakan adalah darah kapiler sebanyak 32 sampel. Karakteristik responden dalam penelitian ini terlihat pada tabel 1. Tabel 1. menunjukkan bahwa

tingkat keracunan pada petani sebelum pemberian jus strawberi yaitu keracunan ringan sebanyak 30 orang petani (93,8%), dan petani yang tidak mengalami keracunan (normal) sebanyak 2 orang (6,3%), sedangkan tingkat keracunan pada petani setelah pemberian jus strawberi yaitu keracunan ringan sebanyak 12 orang (37,5%) dan petani yang tidak mengalami keracunan (normal) sebanyak 20 orang (62,5 %). Hal tersebut menunjukkan tingkat keracunan ringan sebagian besar pada petani menjadi menurun setelah pemberian jus strawberi.

Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden

No. Karakteristik Responden Jumlah (orang)

1 Jenis Kelamin - Laki-Laki - Perempuan 28 4 2 Umur ( Tahun ) - 25-35 - 36-45 - 46-55 - 56-60 8 7 7 10 3 Lama terpapar pestisida

- ≤ 5 tahun - > 5 tahun

19 13 4 Terakhir kontak dengan pestisida

- ≤ 5 hari - > 5 hari 24 8 5 Frekuensi penyemprotan - 1 minggu sekali - 2 minggu sekali - 1 bulan sekali 14 12 6 Hasil pemeriksaan aktivitas enzim

kolinesterase berdasarkan tingkat keracunan pada petani di kecamatan

Aikmel sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil pemeriksaan aktivitas enzim kolinesterase berdasarkan tingkat keracunan sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi pada petani di kecamatan Aikmel

Perlakuan

Tingkat Keracunan Jumlah

Keracunan Ringan (%)

Normal (%) Sebelum pemberian jus

strawberi

30 (93,8) 2 (6,3) 32 (100)

Sesudah pemberian jus strawberi

(21)

15 Pembahasan

Pemaparan pestisida yang berlebihan dalam tubuh penyemprot akan memengaruhi kerja enzim kolinesterase darah. Penurunan aktivitas enzim ini dapat dikategorikan dalam empat kelompok yaitu normal (>75‒100%), keracunan ringan (>50–75%), sedang (>25–50%), dan berat (0–25%). Kebiasaan petani yang tidak memakai alat pelindung diri secara lengkap pada waktu menggunakan pestisida akan memengaruhi tingkat pemaparan. Tingkat pengetahuan, sikap, dan prilaku petani mengenai bahaya pestisida akan memengaruhi kesediaan petani untuk memakai APD, serta melakukan penanganan dan pengelolaan pestisida dengan baik. Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi risiko pemaparan baru, karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung

lama dapat menimbulkan keracunan kronik. Telah dibuktikan bahwa penggunaan pestisida jangka panjang dapat menyebabkan kanker seperti non Hodgkin’s lymphoma.7

Hasil penelitian nenunjukkan sebagian besar petani telah terpapar pestisida selama ±5-10 tahun. Semakin lama petani terpapar pestisida maka risiko keracunan semakin tinggi, tetapi dari uji kolinesterase didapatkan hasil bahwa petani di kecamatan Aikmel hanya mengalami keracunan ringan. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena petani menggunakan APD yang konvensional seperti handuk atau saputangan sebagai penutup hidung. Faktor lingkungan sangat berperan dalam memengaruhi keracunan pestisida. Faktor lingkungan yang berperan antara lain temperatur dan arah angin, temperatur yang aman dalam menyemprot pestisida pada 24- 30 °C dan waktu penyemprotan pagi hari pukul 06.00-08.00 dan pukul 16.00-18.00. Jika suhu lingkungan tinggi

akan memengaruhi penyerapan pestisida ke dalam tubuh melalui kulit. Arah angin dan kecepatan angin penting diperhatikan pada saat penyemprotan. Apabila penyemprotan dilakukan pada saat kecepatan angin tinggi dan melawan arah angin, justru yang terjadi pestisida akan lebih banyak terpapar saat menyemprot, sehingga pestisida masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan kulit. Pestisida dapat masuk melalui kulit, mulut dan pernafasan. Keracunan pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke dalam tubuh dalam jumlah tertentu. Keracunan akut atau kronis akibat kontak dengan pestisida dapat melalui mulut, penyerapan melalui kulit, dan melalui saluran pernapasan.1

Keracunan ringan pada petani di Kecamatan Aikmel timbul karena rendahnya kesadaran para petani untuk mengenali dengan baik gejala dan tanda keracunan pestisida. Tindakan pencegahan lebih baik dilakukan untuk menghindari keracunan. Sebagai upaya pencegahan keracunan pestisida sampai ke tingkat yang membahayakan kesehatan, orang yang berhubungan dengan pestisida harus memperhatikan membaca semua instruksi dan pengarahan yang ada pada label pestisida, menjaga kemasan pestisida selalu tertutup, menyimpan pestisida dalam wadah aslinya, tidak memindahkan pestisida dalam wadah yang lain, menyimpan pestisida pada tempat yang kering dan mempunyai ventilasi, tidak diperkenankan merokok, makan dan minum selama menangani pestisida, tidak membuka kemasan dengan cara memaksa atau mencongkel, jangan membuka alat semprot bocor.2

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemberian jus strawberi dapat meningkatkan aktivitas enzim kolinesterase, sehingga dapat menurunkan tingkat keracunan. Hasil ini diduga berdasarkan pengaruh langsung dan tidak langsung senyawa yang terkandung dalam buah strawberi. Senyawa yang terdapat dalam buah strawberi meliputi antisionin,

(22)

16

asam ellagik, fenol, vitamin E, vitamin C, kalsium, magnesium, fosphor, natrium, asam linolenik. Komponen ini menjelaskan kandungan zat aktif mempunyai pengaruh aktivitas antioksidan secara in vivo. Selain itu, jus stroberi mempunyai beberapa efek farmakologi dan psikologi sebagai efek antiinflamantori, analgesik, dan kordiotonik.8,9 Flavonoid sebagai salah satu kandungan fitokimia strawberi bekerja baik dengan vitamin C sehingga meningkatkan pertahanan tubuh. Sebagai antioksidan, flavonoid dapat menghalau radikal bebas dan membersihkan tubuh dari racun (detoksifikasi). Kandungan asam lemak berantai panjang, yang terkandung dalam strawberi , asam lemak seperti oleat, linoleat, dan linolenat bekerja memperbaiki fungsi hati. Selain itu, strawberi kaya akan growth factor

sehingga dapat memperbaiki sel-sel rusak. Kandungan asam elagik dan senyawa folifenol lain yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan adalah katekin, kuersetin, dan kaempferol yang tinggi, ampuh melakukan regenerasi sel secara singkat.8,9

Kesimpulan

1. Aktifitas enzim kolinestrase rerata pada petani sebelum pemberian jus strawberi sebesar 71,48%

2. Aktifitas enzim kolinestrase rerata pada petani sesudah pemberian jus strawberi sebesar 82,42%

3. Ada perbedaan aktifitas enzim kolinestrase secara signifikan sebelum dan sesudah pemberian jus strawberi.

Saran

1. Bagi petani yang terpapar pestisida agar mempergunakan alat pelindung diri serta memperhatikan faktor lingkungan berupa cuaca dan arah angin pada waktu penyemprotan, melakukan tindakan pencegahan keracunan dengan mengenali gejala dan tanda keracunan, dan mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung antioksidan dan

vitamin salah satunya buah strawberi untuk membantu percepatan detoksifikasi racun dari dalam tubuh. 2. Bagi instansi terkait untuk memberikan

penyuluhan dan sosialisasi tentang bagaimana proses penyemprotan tanaman dengan baik dan benar.

3. Bagi peneliti lain agar meneliti aktifitas enzim kolinesterase secara kuantitatif.

Daftar Pustaka

1. Sastroutomo S. Pestisida dasar-dasar dan dampak penggunannya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 1992.

2. Depkes RI. Pedoman pengamanan penggunaan pestisida khusus untuk petani dan operator pestisida.Jakarta: Ditjen PPM & PLP; 2007.

3. Anam H. Pengaruh pemakaian alat pelindung diri terhadap kandungan racun pestisida pada petani penyemprot padi di Dusun Batu Mediri Kelurahan Karang Pule Kecamatan Sekarbela (Karya Tulis Ilmiah). Mataram; Poltekkes Mataram; 2009.

4. Yulthi ES. Pengaruh Kontak Pestisida Terhadap Kadar Enzim kolinesterase dalam Darah Petani di Dusun Kembang Kuning Desa Gerimax Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat. KTI. Mataram; 2009.

5. Yuliarti N. 1001 Khasiat buah-buahan. Yogyakarta:Andi Offset;2011.

6. Setiani, A. Budi Daya dan Analisis Usaha Strawberi. Sinar Cemerlang Abadi, Jakarta ; 2007.

7. Weisenburger DD. Environmental epidemiology of non-Hodgkin’s lymphoma in Eastern Nebraska. Am J Ind Med. 1990;18(3):305‒5.

8. Kurnia, A. Petunjuk Praktis budidaya strawberi. Agro Media Pustaka, Depok ; 2005.

Nurchasanah. Terapi Jus untuk Kesehatan tanpa Efek Samping. Yogyakarta: Media Pressindo;2012.

(23)

17

PREVALENSI KANDIDIASIS BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN SEDIMEN DAN KULTUR URINE WANITA PENDERITA DIABETES MELLITUS

DI PUSKESMAS WILAYAH KABUPATEN LOMBOK BARAT

I Gusti Ayu Nyoman Danuyanti¹, Rohmi¹, Ersandhi Resnhaleksmana¹

1

Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram Jurusan Analis Kesehatan

Abstrak

Diabetes mellitus merupakan faktor predisposisi timbulnya kandidiasis genitalis. Wanita penderita diabetes mellitus mempunyai gula ekstra dalam dinding vagina, sehingga pada urine wanita penderita diabetes mellitus kemungkinan besar akan ditemukan Candida albicans. Penyebab kandidiasis berkaitan dengan cara kita merawat organ reproduksi yang artinya status kesehatan dipengaruhi oleh faktor perilaku. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola hygiene dan sanitasi wanita penderita diabetes mellitus pada kasus kandidiasis, sehingga dapat diketahui penyebab kandidiasis akibat faktor glukosa berlebih dalam darah atau karena perilaku dari penderita DM tersebut. Metode penelitian yang digunakan observasional

analitik dengan pengukuran variabel-variabelnya secara cross sectional terhadap 76

responden yang diambil dari Puskesmas Narmada dan Kediri, Kabupaten Lombok Barat dengan prevalensi kandidiasis 21,05%. Pemeriksaan infeksi kandidiasis diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan sedimentasi dan kultur urin wanita penderita DM. Secara keseluruhan wanita penderita DM dapat berisiko atau bahkan tidak terinfeksi Candida albicans meskipun penyakit tersebut merupakan faktor predisposisi dari kandidiasis vaginitis.

Kata kunci: Kandidiasis, Sedimen urine, Kultur urine, Diabetes mellitus

Abstract

Diabetes mellitus is a predisposing factor for the incidence of genital candidiasis. Women with diabetes mellitus have extra sugar in the vaginal wall, so that the urine of women with diabetes mellitus are likely to be found Candida albicans. The cause of candidiasis related to the way we take care of the reproductive organs, which means he12alth status is influenced by behavioral factors. The purpose of this study to determine patterns of hygiene and sanitation women with diabetes mellitus in the case of thrush, so it can be a known cause of candidiasis due to excess glucose in the blood factors or because the behavior of the diabetic patient. The method used analytic observational with the variables measuring cross sectional against 76 respondents drawn from the health center and Kediri Narmada, West Lombok district with 21.05% prevalence of candidiasis. Examination of candidiasis infection obtained based on the examination of urine sediment and culture of women with DM. Overall women with diabetes could be at risk or infected with Candida albicans even though the disease are predisposing factors of candidiasis vaginitis.

(24)

18 Pendahuluan

Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi klinis berupa hilangnya toleran karbohidrat. Keadaan ini disebabkan oleh kurangnya hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas atau tidak berfungsinya hormon insulin dalam menyerap gula secara maksimal, sehingga penyakit ini juga biasa disebut atau didefinisikan sebagai penyakit gula darah. Adanya diabetes mellitus pada awalnya sering sekali tidak disadari oleh pasien dan baru diketahui sewaktu menjalani pemeriksaan kesehatan1.

Beberapa keluhan dan gejala klasik yang perlu mendapat perhatian adalah penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya, rasa lemah, sering kencing (poliuria), banyak minum (polidipsia), banyak makan (polifagia). Adanya keluhan lain yang sering menyertai diabetes mellitus yaitu gangguan syaraf tepi, atau kesemutan, gangguan penglihatan, gatal dan keputihan pada wanita (kandidiasis). Kondisi diabetes yang belum terdeteksi kemungkinan merupakan sumber kandidiasis yang berulang dan jika tidak dikendalikan maka kandidiasis akan tetap menjadi masalah. Penyakit ini dapat menyerang semua lapisan umur dan sosial ekonomi1.

Diabetes mellitus merupakan faktor predisposisi timbulnya kandidiasis genitalis. Wanita penderita diabetes mellitus mempunyai gula ekstra dalam dinding vagina. Gula yang ada di urine tertumpuk pada vulva sehingga menyediakan makanan untuk pertumbuhan jamur. Daerah genetalia wanita adalah tempat subur dan ideal untuk pertumbuhan jamur sehingga pada urine wanita penderita deabetes mellitus kemungkinan besar akan ditemukan Candida albicans2.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2010 angka prevalensi nasional penyakit diabetes melitus adalah 1,1%. Jumlah pasien penderita diabetes mellitus khususnya wanita yang ada di Puskesmas

Narmada Kecamatan Narmada Lombok Barat tahun 2012 lebih dari 40 pasien, termasuk pasien rawat jalan dan rawat inap3. Untuk Puskesmas Kediri, pasien yang terdiagnosis diabetes mellitus dari bulan Januari sampai dengan Juni tahun 2014 mencapai 213 orang. Kedua puskesmas ini dipilih berdasarkan jumlah populasi penderita DM yang paling banyak dibandingkan dengan Puskesmas lain di Kab. Lombok Barat pada tahun 2013, tetapi belum ada data di puskesmas tersebut tentang kasus kandidiasis khususnya pada wanita penderita DM 4.

Candida albicans merupakan spesies

terpatogen yang menjadi etiologi terbanyak dalam kasus infeksi akibat jamur, walaupun dalam kondisi normal jamur ini hidup sebagai saprofit yang tidak menyebabkan kelainan atau gangguan bagi organ tubuh5,6,7. Keputihan atau kandidiasis genetalis sering dianggap sebagai hal yang umum dan dianggap tidak berbahaya bagi wanita. Penyebab keputihan berkaitan dengan cara kita merawat organ reproduksi, karena faktor perilaku merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang8. Faktor terbesar kedua setelah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Pengetahuan mengenai keputihan sangat diperlukan untuk menentukan sikap yang akan dilakukan, salah satunya ialah perawatan genitalia eksterna yang tidak baik akan menjadi pemicu terjadinya keputihan yang patologis, karena diantara semua jenis personal hygiene, genitalia merupakan organ reproduksi wanita yang harus dijaga kebersihannya. Jika tidak di jaga dapat menimbulkan keputihan, gatal-gatal, bau tidak sedap, dan dapat terjadi infeksi pada daerah genitalia. Keputihan tidak normal perlu diwaspadai karena merupakan gejala suatu penyakit reproduksi9,10.

Berdasarkan uji penyaring menggunakan pemeriksaan sedimentasi urine yang dilakukan terhadap beberapa sampel urine wanita penderita diabetes

Gambar

Gambar 1. Jus Strawberi
Gambar  Hasil pemeriksaan nematoda usus  pada  tinja  anjing      yang  berpotensi  menyebabkan creeping eruption
Grafik  infeksi  zoonotic  hookworm  yang  diedentifikasi  dari  sampel  tinja  anjing  di  Cakranegara
Tabel 4.1 Hasil Penetapan Kadar Bilangan Asam Pada Minyak Kelapa Fermentasi  No  Penambahan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan tujuannya, bidang studi Aqidah Akhlak berfungsi: a) memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada siswa agar mau menghayati dan meyakini dengan keyakinan yang

Pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling , yaitu pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pembahasan, serta agar analisis terhadap penelitian menjadi terarah dan sesuai dengan masalah yang ada, maka penulis membatasi

Kegiatan Rintisan Aksara Kewirausahaan dilakukan dalam bentuk pembelajaran dan/atau pelatihan kewirausahaan pembentukan/ pengembang inkubator bisnis. Kegiatan ini

Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas maka Peranan Organisasi Rohani Islam (Rohis) Dalam Mengembangkan Sikap Tanggung Jawab Social Siswa di SMA Negeri

Aktivitas di Kompleks Makam Sunan Giri pada saat hari biasa, hari libur dan saat acara tertentu tidak mengalami perubahan yang signifikan, namun hanya terjadi peningkatan

Saran yang diperoleh dari hasil wawancara kepada salah satu pemilik bengkel di Surabaya, untuk pengembangan sistem informasi geografis ini selanjutnya adalah, agar