1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara agraris memproduksi komoditas hortikultura yang diminati oleh konsumen mancanegara. Permintaan akan komoditas hortikultura di mancanegara belum bisa dipenuhi karena masih terkendala tingkat produksi yang belum stabil. Selain tingkat produksi yang belum stabil penanganan pasca panen yang kurang baik menyebabkan kualitas komoditas yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan kualitas ekspor (Suyanti dan Setyadjit 2007). Ekspor komoditas hortikultura memerlukan alat transportasi yang cocok terutama untuk mengirim ke negara tujuan ekspor yang secara letak geografis jauh sehingga komoditi ini membutuhkan alat transportasi yang cepat (Kartawiria 1993). Produk hortikultura dikategorikan sebagai produk bernilai tinggi namun mudah busuk sehingga sangat cocok apabila menggunakan angkutan udara (Groom dan Mcgregor 2007).
Transportasi udara merupakan alat transportasi yang tepat untuk melakukan pengiriman jarak jauh untuk komoditi pertanian dan perikanan (Tozi dan Muller 2006). Keutamaan jasa transportasi ini yaitu memiliki tingkat efisiensi waktu yang relatif singkat terlebih lagi pengiriman barang pada khususnya bisa cepat sampai di tempat tujuan, baik lintas domestik maupun internasional. Angkutan barang melalui udara masih terbilang berumur muda jika dibandingkan dengan angkutan barang melalui darat maupun laut. Hal tersebut menyebabkan adanya resiko dan ketidakpastian dalam kargo udara (Enarsson 2006). Biaya per unit yang dibutuhkan untuk pengangkutan udara dan operasional gudang kargo cukup tinggi menyebabkan jumlah perishable cargo tidak sebesar jumlah kargo lainnya. Biaya yang dibutuhkan berkisar 25-30 persen dari nilai kargo dan tiga kali lipat lebih tinggi dari angkutan laut (Hummels 2001). Dikarenakan biaya yang tinggi maka proporsi pengiriman kargo tersebut bisa dibilang rendah (Thompson, Bishop dan Brecht 2004).
Sekitar 40% perdagangan global menggunakan transportasi udara, sisanya menggunakan transportasi laut dan darat (Suryani, Chou dan Chen 2011). Berdasarkan Gambar 1, pertumbuhan pengiriman barang perishable mengalami pertumbuhan dari tahun 2004 sampai dengan 2009 meningkat sebesar 12% menempati urutan ketiga. Berdasarkan data peningkatan tersebut, transportasi udara sudah menjadi alternatif untuk pengiriman barang perishable untuk kebutuhan ekspor maupun impor. Indonesia sebagai negara produsen komoditas hortikultura telah menggunakan transportasi udara sebagai pilihan untuk mengekspor komoditas hortikultura, yang berkarakteristik perishable. Salah satu fasilitas yang mendukung kegiatan ekspor melalui transportasi udara adalah Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Sumber : Heereman (2006)
Gambar 1 Segmen industri pengiriman barang 2004 – 2009 (juta ton) Bandara Internasional Soekarno Hatta terletak 20 km sebelah barat ibukota Jakarta dan dikelola oleh PT Angkasa Pura II (Persero). Bandara ini tidak hanya memiliki terminal penumpang namun juga dilengkapi terminal kargo. Terminal kargo berfungsi untuk menyiapkan barang yang akan dikirim ke lebih lebih dari 25 destinasi di luar Indonesia termasuk barang perishable. Barang yang akan diekspor diproses melalui terminal kargo sebelum dikirim menggunakan pesawat. Terminal kargo mempunyai fasilitas gudang kargo yang langsung terhubung dengan apron pesawat, gudang yang tidak terhubung dengan apron pesawat, kantor Perwakilan PT Angkasa Pura II, dan kantor perwakilan bea dan cukai. Pada Gambar 2 terdapat volume kargo secara umum Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Sumber : PT Angkasa Pura II (2012)
Gambar 2 Volume kargo Bandara Internasional Soekarno Hatta (ton)
Barang Mudah Busuk Komputer Pakaian Produk Konsumsi Alat Telekomunikasi Alat Transportasi Tekstil Produk Teknologi Barang Setengah Jadi Peralatan Besar
Pengiriman kargo terbagi menjadi dua jenis yaitu kargo internasional dan kargo domestik. Jumlah pengiriman kargo internasional tetap tinggi meskipun mengalami sedikit penurunan di tahun 2009 dan di tahun 2011. Pada tahun 2012 jumlah pengiriman kargo mencapai 312 juta kg. Pengiriman kargo domestik terus meningkat meskipun di tahun 2009 mengalami sedikit penurunan dan mengungguli pengiriman kargo internasional yaitu sekitar 317 juta kg. Kenaikkan total kargo domestik dan internasional adalah sebesar 9.97% menjadikan jumlah total pengiriman kargo sebesar 629 juta kg. Informasi tersebut menggambarkan pergerakkan volume kargo secara umum belum spesifik berdasarkan jenis kargo.
Fasilitas di terminal kargo di Bandara Internasional Soekarno Hatta dikelola oleh PT Angkasa Pura II (Persero), namun pengoperasian gudang di terminal kargo diserahkan kepada operator kargo sebagai mitra. Salah satu mitra operator kargo adalah PT Jasa Angkasa Semesta, Tbk. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1984 dan bergerak di bidang ground handling pesawat. Saat ini perusahaan telah menangani lebih dari 34 maskapai penerbangan domestik maupun internasional. Sejak tahun 1989 perusahaan telah memperluas jaringan operasinya di beberapa bandara kota-kota besar Indonesia selain Jakarta yaitu Denpasar, Surabaya, Manado, Makassar, dan Medan. Pada tahun 2000 PT JAS menyediakan layanan cargo handling dan warehousing. PT Jasa Angkasa Semesta,Tbk sebagai salah satu operator kargo di terminal kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta terus melakukan perbaikan dan peningkatan pelayanan kepada para pelanggannya. PT Jasa Angkasa Semesta, Tbk memiliki pangsa pasar penanganan kargo sebesar 59% di Indonesia (JAS, 2013). Penanganan produk hortikultura sebesar 38% dari jumlah kargo produk yang mudah busuk (JAS 2013). Jenis komoditas hortikultura yang memiliki volume pengiriman tertinggi adalah buah manggis sebesar dengan rata-rata tiga ton per hari.
Bandara Internasional Soekarno Hatta merupakan pintu gerbang jalur transportasi udara Indonesia. Akan tetapi seiring dengan kondisi di lapangan dibandingkan dengan terminal kargo bandara di negara lain Bandara Internasional Soekarno Hatta masih terkendala dalam fasilitas untuk mendukung penanganan kargo produk yang mudah busuk (perishable) dalam bentuk perangkat keras maupun perangkat lunak (IATA 2013). Pada tahun 2013 terjadi 10 jenis kasus dengan total 34 frekuensi kejadian yang mengakibatkan risiko penurunan kualitas, penolakan di negara tujuan dan kehilangan kepercayaan oleh pembeli (JAS 2013). Kasus yang sering terjadi pada tahun 2013 adalah kargo tertinggal di ruang penyimpanan gudang kargo ekspor dan kerusakan kargo pada saat tiba di negara tujuan.
Komoditas hortikultura memerlukan tempat penanganan yang secara khusus memiliki karakteristik tertentu. Produk hortikultura yang tidak ditangani dengan keadaan yang baik maka kualitasnya akan menurun sebesar 10-50 % (Kader dan Rolle 2004). Tabel 1 merupakan salah satu ketentuan untuk atmosfir ruangan produk hortikultura. Produk hortikultura memerlukan penanganan dan kondisi penanganan yang khusus. Kondisi suhu tempat penyimpanan yang ideal untuk produk hortikultura berkisar antara 00C -130C. Kelembapan yang ideal untuk produk hortikultura adalah berkisar antara 90%-95% (Dantzer 1995). Kondisi ruang penanganan yang ideal adalah dengan suhu berkisar empat hingga enam derajat celsius dengan kelembaban sekitar 85%. Namun suhu ruangan
gudang terminal kargo berkisar antara 200C saat malam hari dan 31 0C pada saat siang hari (IATA 2013).
Tabel 1 Ketentuan atmosfir produk hortikultura Komoditas
Gudang Biasa Gudang Atmosfir Terkontrol Temp 0 C Lama Penyimpanan (hari) Temp. (0C) CO2 (%) O2 (%) Kelmb. (%) Lama Penyimpanan (hari) Buah Apel 1 120 3 3 1 90-95 240 Pisang 12 4 12 2-5 2-5 85-95 60 Alpukat 10 21 5-13 3-10 2-5 90-95 42 Kiwi 0-5 180 1 3-5 1-2 90-95 240 Mangga 10 10 13 5-10 3-5 85-90 14-25 Sayuran Tomat 8 10 12 2-3 3-5 90-95 25 Brokoli 0 14 0 5-10 1-2 90-95 28 Mentimun 7-10 14 12 0 1-4 90-95 21 Asparagus 2 14 2 10-14 Udara 90-95 42 Sumber : Heereman (2013)
Penurunan kualitas tersebut berakibat kepada menurunnya kepercayaan dari pembeli dan menyebabkan berkurangnya eksportir di tanah air. Dengan begitu kondisi perekonomian disektor pertanian untuk komoditas hortikultura akan menurun akibat tidak adanya eksportir yang akan membeli dan mengirim produk mereka ke luar negeri.
Seiring dengan meningkatnya pengiriman kargo perishable khususnya komoditas hortikultura, maka diperlukan perbaikan yang dapat menghindari risiko dan menurunkan frekuensi kasus yang terjadi di tahun sebelumnya. Saat ini para
stakeholders mengandalkan Standard Operational Procedure (SOP) untuk
menangani kasus yang terjadi. Namun hal tersebut dinilai masih belum cukup untuk menghindari risiko dan menurunkan frekuensi kasus karena belum memberikan solusi perbaikan yang dapat menangani peningkatan volume kargo
perishable. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan dalam penanganan kargo yang
bersifat mudah busuk (perishable) khususnya komoditas hortikultura.
Langkah awal yang dilakukan untuk perbaikan adalah identifikasi pernanganan kargo ekspor komoditas hortikultura. Penanganan kargo ekspor komoditas hortikultura merupakan proses bisnis yang cukup kompleks sehingga dibutuhkan visualisasi model proses bisnis. Visualisasi model proses bisnis dapat menggambarkan kendala yang dihadapi dalam proses bisnis secara komprehensif sehingga akan meminimalisir kesalahpahaman yang dihadapi oleh stakeholders baik pihak internal maupun eksternal (Jacobs 2008). Alat analisis Notasi dan Model Proses Bisnis (BPMN) merupakan metode standar terkemuka digunakan untuk merepresentasikan keseluruhan proses bisnis dalam bentuk grafis dan notasi yang menyediakan fitur analisis proses bisnis tingkat tinggi (Khabbazi, Hasan, Sulaiman dan Shapi’i 2013). BPMN juga mencakup pemodelan proses komunikasi antar stakeholders dan persyaratan dengan tujuan yang spesifik. Namun pengguna BPMN membutuhkan upaya lebih dan pengetahuan eksternal saat membuat dan menginpretasikan diagram BPMN (Recker, Rosemann, Indulska dan Green 2009). Maka dibutuhkan pendekatan secara eksploratif terkait
dengan karakteristik kargo ekspor komoditas hortikultura, aliran penanganan kargo dan tataruang gudang kargo untuk mendukung penyusunan diagram BPMN.
Visualisasi model proses bisnis perlu didukung oleh identifikasi faktor-faktor kritis yang dapat menyebabkan masalah dalam penanganan kargo ekspor komoditas hortikultura. Diagram tulang ikan (fishbone) merupakan alat analisis yang paling sederhana dan mudah digunakan serta dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan terstruktur (Edgar 2009). Analisis diagram ini dapat menghasilkan formulasi untuk mengetahui faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan suatu permasalahan (Nugroho 2004). Tidak seluruh faktor yang ada dalam diagram digunakan namun diagram ini hanya menggunakan faktor utama yang memiliki peran besar menimbulkan kendala dan masalah (Rahmat 2009).
Komoditas hortikultura memiliki karakteristik mudah busuk oleh karena itu dibutuhkan analisis terkait dengan risiko yang bisa terjadi dalam penanganan kargo ekspor komoditas hortikultura. Dalam suatu kegiatan di perusahaan atau organisasi pasti memiliki risiko. Risiko dengan kemungkinan kecil dengan dampak besar atau sebaliknya adalah sama pentingnya untuk dikurangi dan dikendalikan (Shahzad dan Safvi 2008). Langkah-langkah untuk meminimalisir risiko dapat diketahui dengan cara menganalisis risiko terlebih dahulu. Dengan begitu perusahaan dapat dengan mudah mencari tahu cara untuk meminimalisir risiko yang ada (Mellisa 2013). Analisis risiko dapat dilakukan dengan pendekatan kualiattif (Rainer, Snyder dan Carr 1991). Analisis risiko penanganan kargo udara dilakukan di gudang terminal kargo bandara dengan melakukan perbandingan analisis silang antara regulasi dan kondisi ideal terhadap kondisi nyata melalui observasi di lapangan (Hailey 2013). Namun pada penelitian tersebut analisis risiko hanya sebatas risiko untuk kargo secara umum, tidak mencakup kargo produk yang mudah busuk (perishable). Analisis risiko membutuhkan data pendukung seperti data volume penjualan atau volume produksi serta data komplain untuk mengetahui tingkat risiko dan melandasi langkah mitigasi atau perbaikan (Musa 2012).
Banyak perbaikan yang bisa dilakukan namun alangkah lebih baik apabila ada prioritas perbaikan. Prioritas perbaikan dihasilkan berdasarkan alternatif perbaikan yang diperoleh dari analisis sebelumnya dengan menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). Metode ini digunakan untuk menentukan prioritas dengan kriteria jamak (Marimin 2010). Alat analisis ini memiliki keunggulan mengurangi bias yang terjadi dalam sebuah analisis (Prihatna 2007). Bias yang dihasilkan kecil karena kriteria dipilih sesuai dengan kehendak atau kepentingan kelompok. Perbaikan atau mitigasi risiko perlu melibatkan para
stakeholders yang memegang peran penting dalam kegiatan operasional (Fendi
2012). Penentuan prioritas perbaikan dilakukan bukan hanya berdasarkan dari pihak internal operator kargo PT Jasa Angkasa Semesta, Tbk,tetapi juga melibatkan pihak eksternal yang berperan sebagai stakeholders dalam penanganan kargo ekspor hortikultura.
Rumusan Masalah
Ekspor menggunakan moda transportasi udara dinilai tepat karena dapat menjangkau negara tujuan dengan cepat. Penanganan kargo hortikultura pada dasarnya harus ditangani secara intensif dan memiliki spesifikasi serta tempat penyimpanan khusus dimana terdapat suhu dan tingkat kelembapan serta kondisi sanitasi yang baik. Permasalahan yang dihadapi terkait kualitas dan keamanan kargo produk hortikultura untuk tujuan ekspor adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penanganan kargo komoditas hortikultura yang dilakukan gudang ekspor PT Jasa Angkasa Semesta Tbk. terminal kargo Bandara Internasional Soekarno Hatta saat ini?
2. Risiko apa saja yang bisa terjadi terjadi dalam penanganan kargo hortikultura di gudang ekspor PT Jasa Angkasa Semesta Tbk. terminal kargo Bandara Internasional Soekarno Hatta?
3. Prioritas solusi apa saja yang dapat dilakukan agar penanganan kargo hortikultura menjadi lebih baik?
Tujuan
1. Mengidentifikasi penanganan kargo ekspor komoditas hortikultura di gudang ekspor PT Jasa Angkasa Semesta Tbk. terminal kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
2. Menganalisis risiko dalam penanganan kargo ekspor komoditas hortikultura di gudang ekspor PT Jasa Angkasa Semesta Tbk. terminal kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
3. Mencari prioritas solusi untuk perbaikan yang dapat dilakukan agar penanganan dan pelayanan kargo hortikultura menjadi lebih baik.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak, yaitu : 1. Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman terkait manajemen operasional serta pengetahuan tentang kargo komoditas hasil pertanian dan perikanan.
2. Bagi akademisi
Penelitian ini diharapkan menjadi acuan pustaka untuk penelitian selanjutnya di bidang manajemen operasional terkait pengembangan pelayanan dan penanganan terkait perishable cargo contents.
3. Bagi PT Jasa Angkasa Semesta, Tbk.
Penelitian ini diharapkan sebagai masukan terhadap rencana jangka panjang ke depan dalam pengembangan perusahaan yang akan menjadi daya saing tersendiri dalam industri kargo udara. Dalam hal ini adalah perishable cargo. 4. Bagi PT Angkasa Pura II, Persero
Penelitian ini dapat berguna untuk menjadi saran terhadap rencana jangka panjang dalam pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hal ini terkait dengan rencana pembangunan area terminal kargo yang baru.