• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

9 A. Perkembangan anak praskolah

1. Batasan anak pra sekolah

Anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia 3 – 6 tahun. Mereka biasa mengikuti program prasekolah dan kinderganten. Sedangkan di Indonesia pada umumnya mereka mengikuti program tempat penitipan anak 3 – 5 tahun dan kelompok bermain atau Play Group (usia 3 tahun), sedangkan pada anak usia 4 – 6 tahun biasanya mereka mengikuti program taman kanak-kanak (Biechler dan Snowman dari Patmonodewo, 2003).

Wong dkk. (2009) menyebutkan bahwa batasan usia anak pra sekolah adalah antara 3 sampai 5 tahun. Anak pada usia ini telah memiliki kontrol fungsi tubuh yang baik, pengalaman periode perpisahan yang pendek dan panjang, kemampuan berinteraksi secara kerja sama dengan anak lain dan penggunaan bahasa untuk simbolisasi mental. Angel (1998) juga memberikan batasan pada anak usia pra sekolah yaitu antara 3-6 tahun.

Prasekolah dapat diartikan sebagai pendidikan sebelum sekolah. Anak prsekolah adalah mereka yang berusia antara tiga tahun sampai enam tahun (Riyanto, 2004). Anak prasekolah adalah pribadi yang mempunyai berbagai macam potensi. Potensi-potensi itu dirangsang dan dikembagkan agar anak tersebut berkembang secara optimal, anak dapat berkembang kepribadiannya lewat sosialisasi disekolah. Taman kanak-kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai 6 tahun atau memasuki pendidikan dasar.

Usia prasekolah diantaranya 4 sampai 6 tahun bertujuan membantu meletakan dasar kea rah perkembangan sikap, pengetahuan ketrampilan

(2)

dan daya cipta yang diperlukan untuk anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkunganya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Langeveld dalam Riyanto (2004), mengemukakan tentang kemampuan-kemampuan yang seharusnya dicapai anak prasekolah antara lain, berbasa lisan dan bercerita, mengenal pola kehidupan sosial (aku, keluarga, dan sekolah), mengerti dan menguasai ketrampilan untuk kepentingan kebutuhan sehari-hari termasuk dalam kelompok umur prasekolah. Pada umur 2-4 tahun, anak ingin bermain melakukan latihan kelompok, melakukan penjelajahan, bertanya, menirukan dan menciptakan sesuatu. Masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam ketrampilan bermain.

2. Pengertian perkembangan anak pra sekolah

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan yang menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa, sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetijiningsih, 2002).

Wong (2009) menyebutkan perkembangan adalah perubahan dan perluasan secara bertahap perkembangan tahap kompleksitas dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, peningkatan dan perluasan kapasitas seseorang melalui pertumbuhan maturasi serta pembelajaran.

Pola tumbuh kembang bersifat jelas dapat diprediksi, kontinyu, teratur, dan progresif, pola atau kecendrungan ini juga bersifat universal dan mendasar

(3)

bagi semua individu, namun unik dalam hal cara dan waktu pencapaiannnya.

3. Jenis-jenis perkembangan

Soetijiningsih (2002), mengemukakan bahwa jenis perkembangan anak usia 4-5 tahun itu disusun berdasarkan urutan perkembangan dan diatur dalam empat kelompok besar yang disebut sektor perkembangan yang meliputi :

a. Perilaku Sosial

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan kemandirian, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan misalnya, membantu di rumah, mengambil makan, berpakaian tanpa bantuan, menyuapi boneka, menggosok gigi tanpa bantuan, dapat makan sendiri.

b. Gerakan Motorik Halus

Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu yang dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat misalnya menggambar garis, lingkaran dan menggambar manusia.

c. Bahasa

Kemampuan yang memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, misalnya bicara semua dimengerti, mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil).

d. Gerakan Motorik Kasar

Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh, misalnya berdiri dengan satu kaki, berjalan naik tangga dan menendang bola ke depan.

(4)

4. Karakteristik anak prasekolah atau TK

Menurut Riyanto (2004), ciri-ciri anak prasekolah meliputi : a. Ciri-ciri fisik

Anak prasekolah mempergunakan ketrampilan gerak dasar (berlari, berjalan, memanjat, melompat) sebagai bagian dari permainan mereka . mereka aktif tetapi lebih bertujuan dan tidak mementingkan untuk bisa beraktifitas sendiri.

b. Ciri sosial

Pada umumnya anak dalam tahapan ini memiliki satu atu dua sahabat, tetapi dua sahabat ini cepat berganti perasaan empati dan simpati terhadap teman juga berkembang, mampu berbagi dengan inisiatif mereka sendiri, anak menjadi sosialis.

c. Ciri emosional

Anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas sikap marah sering diperlihatkan dan iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka sering kali meributkan perhatian guru.

d. Ciri kognitif

Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa, sebagian besar mereka senang berbicara dan sebagian lagi menjadi pendengar yang baik, kompetisi anak perlu dikembangkan melalui interaksi minat kesempatan mengagumi dan kasih saying.

Berdasarkan urean diatas dapat disimpulkan bahwa anak prasekolah adalah anak-anak yang berusia antara 3-6 tahun serta pada masa prasekolah anak mengalami kemajuan pesat dalam ketrampilan bermain.

5. Tugas Perkembangan Pada Masa Usia Pra Sekolah

Elizabeth Hurlock (1999) menjelaskan tugas-tugas perkembangan anak usia 4 - 5 tahun adalah 1) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum. 2) Membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh. 3) Belajar menyesuaikan

(5)

diri dengan teman seusianya. 4) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat. 5).Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung. 6) Mengembangkan penngertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. 7) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tingkatan nilai. 8) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga dan 9) Mencapai kebebasan pribadi

Suherman (2000) juga menjelaskan secara ringkas tugas-tugas perkembangan anak usia 4 - 5 tahun adalah 1) Berdiri dengan satu kaki (gerakan kasar). 2) Dapat mengancingkan baju (gerakan halus). 3) Dapat bercerita sederhana(bahasa bicara dan kecerdasan) dan 4) Dapat mencuci tangan sendiri (bergaul dan mandiri)

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak prasekolah

Setiap orang tua akan mengharapkan anaknya tumbuh dan berkembang secara sempurna tanpa mengalami hambatan apapun(sujono riyadi sukarmin.2009). Namun ada banyak faktor yang dapat berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut dimana ada sebagian anak yang tidak selamanya tahapan tumbangya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Ada dua faktor yang mempegaruhi prosses perkembangan optimal seorang anak, yaitu:

a. Faktor dalam (internal)

Yaitu faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri baik faktor bawaan (genetic) maupun faktor yang di peroleh, termasuk disini antara lain:

1) Unsur berfikir dan kemampuan intelektual Misal : kecepatan berfikir. 2) Keadaan kelenjar zat-zat dalam tubuh

Misal : kekurangan hormon yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

(6)

3) Emosi dan sifat-sifat (temperamen) tertentu

Misal : pemalu, pemarah, tertutup, dan lain-lain. b. Faktor luar (eksternal)

Termasuk disini antara lain: 1) Keluarga

Sikap dan kebiasaan keluarga dalam mengasuh dan mendidik anak, hubungan antara saudara, dan lain-lain.

2) Gizi

Kekurangan gizi dalam makanan menyebabkan. pertumbuhan anak terganggu yang akan mempengaruhi perkembangan seluruh dirinya.

3) Budaya setempat

Asuhan dan kebiasaan dari suatu masyarakat dan mempengaruhi pertumbuhan dan. perkernbangan anak.

4) Teman bermain dan sekolah

Ada tidaknya teman bermain, tempat dan alat bermain, kesempatan pendidikan di sekolah, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

c. Faktor orang tua

1) Lamanya orang tua bekeja di luar rumah

Apabila orang tua bekerja di luar rumah, maka kesempatan. untuk kehidupan sosial dan rekreasi dengan keluarga biasanya terbatas, dan tiap anak harus mengerjakan lebih banyak tugas rumah tangga dari yang lazim.

2) Pendidikan orang tua

Dengan pendidikan yang semakin matang, orang tua dapat mengarahkan anak sedini mungkin dan akan mempengaruhi daya pikir anak untuk dapat berimajinasi.

(7)

Faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak prasekolah; 1) Kondisi kesehatan anak

Kesehatan anak mempengaruhi kemampuan anak mengenal lingkungan diluar lingkungan keluarga . anak dengan kondisi sehat akan cepat bisa menyesuaikan dengan lingkungan diluar lingkungan keluarga (Effendi 1998).

2) Umur anak

Umur merupakan indicator kedewasaan seseorang semakin bertambah umur akan semakin bertambah pengetahuan yang dimiliki, serta bertambah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar lingkungan keluarga (Notoatmodjo, 2007). 3) Memiliki motifasi untuk bersosialisasi

Anak menyesusikan diri dengan lingkungan mereka karena mendapat pengalaman baru ketiaka bergabung denagn kelompok dibandingkan jika mereka bermain sendiri (Sujiono, 2005).

4) Adanya kesempatan untuk bersosialisasi

Setiap orang tua yang demokratis memberikan kesempatan anakn untuk bergabung dengan teman seusianya (Sujiono, 2005).

7. Alat ukur perkembangan

Denver II adalah salah satu metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak, yang dibuat oleh Fran Kenburg & J. B Dodds untuk mengetahui perkembangan motorik anak pada saat pemeriksaan saja dan dapat memperkirakan perkembangan anak dimasa yang akan datang, bukan merupakan tes diagnostik atau tes Intelegensi, tetapi memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini dinilai lebih mudah dibanding tes perkembangan yang lain dan dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang tinggi. Tes ini dapat dilakukan kapan saja dengan menggunakan alat sederhana (Soetjiningsih, 2002).

(8)

Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata Denver II secara efektif dapat mengidentifikasikan antara 85-100% bayi dan anak pra sekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan dan pada follow up selanjutnya ternyata dari 89 % kelompok Denver II mengalami kegagalan sekolah 5-6 tahun kemudian.

a. Tujuan

1) Menafsirkan perkembangan personal sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar pada anak mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun. 2) Mengetahui penyimpangan perkembangan secara dini, sehingga

upaya stimulasi dan upaya pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas sedini mungkin pada masa-masa kritis tumbuh kembang.

b. Kegunaan Denver II

1) Untuk menilai perkembangan anak sesuai usia.

2) Memantau anak yang tampak tidak sehat umur dari lahir sampai dengan 6 tahun.

3) Menjaring anak tanpa gejala terhadap kemungkinan adanya kelainan perkembangan.

4) Memastikan apakah anak dengan persangkaan ada kelainan. Apakah benar-benar ada kelainan.

5) Memonitor anak dengan resiko perkembangan.

c. Prinsip dalam melakukan pemeriksaan Denver II 1) Bertahap dan berkelanjutan.

2) Dimulai dari tahap perkembangan yang telah dicapai anak. 3) Buat suasana menjadi menyenangkan bagi anak.

4) Dilakukan dengan wajar (tanpa paksaan atau hukuman jika anak tidak mau melakukan) beri anak pujian jika berhasil.

5) Menggunakan alat bantu yang sederhana, tidak berbahaya dan mudah didapat dalam memberi stimulasi pada anak.

(9)

6) Sebelum dilakukan tes, alat diletakkan diatas meja dengan tujuan anak senang dan pada saat tes hanya alat yang diperlukan.

7) Pemeriksa menanyakan pada ibu atau pengasuh pada item yang bertanda L.

8) Perhatikan apa yang telah dilakukan anak secara spontan dan beri penilaian.

d. Hal-hal yang perlu diperhatikan

Anak yang ada dalam kondisi dipertanyakan, abnormal atau menolak kemampuan tes yang diberikan.perlu tes kemampuan ulang satu sampai dua minggu kemudian dan berikan kesempatan kepada anak selama tiga kali untuk melakukan tes kemampuan yang diberikan.

Lakukan dari sektor yang kurang aktif terlebih dahulu: personal sosial, motorik, halus, bahasa dan motorik kasar. Dimulai dari yang mudah dilakukan, jika anak kurang tepat melakukan beri stimulus dan lakukan tes ulang. Tes menggunakan alat yang sama dilakukan secara berurutan. Tes dilakukan untuk setiap sektor dan mulailah dari sebelah kiri garis umur terus ke kanan.

e. Persiapan alat

1) Alat peraga, benang wol, manik-manik, kubus berwarna: merah, hijau, biru, kuning, bola tennis, bel kecil, kertas dan pensil.

2) Lembar formulir Denver II.

3) Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan dan cara-cara penilaianya.

f. Petunjuk pelaksanaan

1) Tarik garis sesuai umur kronologis untuk memotong garis horizontal tugas perkembangan pada formulir Denver II.

(10)

3) Dilakukan secara kontinyu.

4) Satu formulir dapat dipakai beberapa kali pada satu anak. 5) Didampingi ibu atau pengasuh.

6) Dalam keadaan santai.

7) Memberikan posisi yang aman dan nyaman untuk anak. 8) Menjelaskan tentang Denver II pada ibu atau pengasuh.

9) Menggunakan test form dalam menentukan tingkat perkembangan sesuai batas usia.

a) Menunjukkan standar anak normal bisa melakukan tugas/test item ini sesuai dengan usia.

b) Ada beberapa item bertanda L, menunjukkan bahwa kita bisa memperoleh skor dari orang tua.

c) Nomor kecil disebelah kiri, bisa melihat petunjuk pelaksanaan pada halaman dibaliknya.

10) Berikan huruf seperti dibawah ini tiap kotak tes perkembangan yang diberikan.

a) P (Passed) = Lulus

Apabila anak dapat melakukan semua kemampuan tes yang diberikan dengan baik. Atau Ibu/pengasuh memberi laporan L, tepat atau dapat dipercaya bahwa anak dapat melakukan.

b) F (Fail) = Gagal

Apabila anak gagal atau tidak dapat melakukan tes kemampuan yang diberikan. Atau Ibu/pengasuh memberi laporan bahwa anak tidak dapat melakukan dengan baik.

c) No (No opportunity) = Tidak ada kesempatan

Anak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan tes karena ada hambatan.

d) R (Refusal) = Menolak

(11)

e) B (By report) = Dengan bantuan orang tua

Anak melakukan tes dengan bantuan dari orang tua. Apabila anak dapat melakukannya, berarti lulus (P) sedangkan apabila anak tidak dapat melakukannya, berarti gagal (F).

Kode penilaian : O = F (Fail/gagal) M = R (Refusal/menolak) V = P (Pass/lewat)

Setelah itu dihitung masing-masing sektor, berapa jumlah P, berapa jumlah F dan sebagainya. Berdasarkan pedoman hail tes diklasifikasikan dalam normal, abnormal, meragukan dan dapat dites (Soetjiningsih, 2002).

f) Interpretasi hasil tes 1) Normal

a) Lulus semua tes kemampuan yang diberikan atau tidak terdapat keterlambatan/delay.

b) Paling banyak satu caution/peringatan.

c) Dapat dilakukan ulangan pemeriksaan pada kontrol kesehatan berikutnya.

2) Suspect

a) Apabila pada satu sektor didapatkan 2 atau lebih caution atau 1 delay atau lebih.

b) Dapat dilakukan uji ulangan dalam 1-2 minggu untuk menghilangkan faktor sesaat (rasa takut, keadaan sakit, kelelahan).

3) Unstable/Tidak dapat diuji.

a) Apabila ada sektor menolak 1 atau lebih item sebelah kiri garis umur.

b) Menolak lebih dari 1 item pada area 75%-90% (warna kelabu) ( Soetjiningsih, 2002).

(12)

B. Pendidikan anak prasekolah 1. Pengertian

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2. Jenis pendidikan anak prasekolah

Berdasarkan UU-RI nomor : 20 Tahun 2003 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang dikdas melalui jalur Pendidikan Formal Jalur Pendidikan Non Formal dan/atau Jalur Pendidikan Informal. Bentuk pendidikan ini meliputi Taman Kanak-Kanak (TK) Raudhatul Athfal, atau (RA). Bentuk lain yang sederajat Kelompok Bermain (KB) Taman Penitipan Anak (TPA) Bentuk lain yang sederajat Pendidikan Keluarga atau Pendidikan yang diselenggarakan oleh Lingkungan.

3. Peran dan fungsi pendidikan untuk anak pra sekolah

Para ahli psikologi perkembangan sepakat usia dini (0-4 tahun) adalah sebagai “the golden age” atau masa emas dalam tahap perkembangan hidup manusia. Dikatakan sebagai masa emas, karena pada masa ini tidak kurang dari 100 miliar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal di kemudian hari. Dalam banyak penelitian menunjukkan, kecerdasan anak usia 0-4 tahun akan terbangun 50 persen dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibandingkan masa-masa sesudahnya. Artinya, nilai pada usia tersebut anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal, maka

(13)

potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal (Abbas, 2010).

Anak yang mendapatkan pembinaan sejak usia dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, yang secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar, atas kerja dan produktivitas. Pada akhirnya anak akan lebih mampu untuk mandiri dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Gambaran di atas menunjukkan betapa pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk anak-anak. Kalau dulu banyak orang beranggapan bahwa pendidikan untuk anak hanya akan efektif bila dimulai dari usia TK atau SD, maka persepsi tersebut harus diluruskan. Pendidikan terhadap anak sebaiknya dilakukan sejak anak usia 0 tahun atau bahkan sejak dalam kandungan (Abbas, 2010).

4. Standar Nasional Pendidikan

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor : 19 Tahun 2005, yaitu :

a. Pasal 19 (1) Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

b. (2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam c. proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.

d. (3) Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

(14)

e. Pasal 20 Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar

f. Pasal 21 (1) Pelaksanaan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) harus memperhatikan jumlah maksimal peserta didik per kelas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal buku teks pelajaran setiap peserta didik, dan rasio maksimal jumlah peserta didik setiap pendidik.

g. (2) Pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis.

h. Pasal 22 (1) Penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

i. (2) Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok.

j. (3) Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik penilaian observasi secara individual sekurang- kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester.

k. Pasal 23 Pengawasan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam

l. Pasal 19 ayat (3) meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, m. pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang n. diperlukan.

o. Pasal 24 Standar perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses p. pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(15)

C. Kerangka Teori

Skema 2.1. Kerangka Teori

Sumber: Modifikasi dari Hurlock (1999) & Moersintowarti (2002).

D. Kerangka konsep

Kerangka konsep penelitian dimaksudkan untuk membatasi ruang lingkup dan mengarahkan penelitian yang akan dilakukan. Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Faktor yang mempengaruhi perkembangan: 1.faktor dalam

a.Unsur berfikir dan kemampuan intelektual b. Keadaan kelenjar zat-zat dalam tubuh c. Emosi dan sifat-sifat (temperamen) tertentu

Tingkat perkembangan anak prasekolah

3. orang tua

a. lamanya orang tua bekerja diluar rumah b. pendidikan orang tua

1. Kondisi kesehatan anak 2. Umur anak

3. Memiliki motivasi untuk bersosialisasi 4. Adanya kesempatan untuk bersosialisasi 2. faktor luar a. keluarga b. gizi c. budaya setempat d. teman bermain e. peran sekolah

(16)

Skema 2.2. Kerangka Konsep

E. Variabel Penelitian

Variabel–variabel yang diteliti antara lain:

1. Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah anak TK dan tidak TK

2. Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah perkembangan anak usia prasekolah.

F. Hipotesa

Hipotesis penelitian ini adalah : ada perbedaan tingkat perkembangan anak usia prasekolah (3-5 tahun) yang sekoah TK dan tidak sekolah TK di Desa Banjarsari, Kec. Bantarbolang, Kab. Pemalang

Anak usia prasekolah yang tidak sekolah TK

Anak usia prasekolah

yang sekolah TK Perkembangan anak usia pra sekolah

(17)

Referensi

Dokumen terkait

spesialisasi dan perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efesien, output dunia bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan

Data mengenai hal ini sengaja diarnbil untuk mengetahui kegiatan yang di· lakukan oleh siswa SPG dalam memanfaatkan waktu yang kosong - tidak ada guru, istirahat, dan

Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 20 Oktober 2015 dengan beberapa siswa kelas XI Jurusan Kimia Industri, siswa merasa kesulitan dalam melakukan praktikum

Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang –undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi

Studi tentang aspek reproduksi ikan nilem, Osteochilus vittatus (Valenciennes, 1842), telah dilakukan pada bulan Ma- ret-Juni 2009 di Danau Sidenreng yang meliputi nisbah

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Isolasi dan

In terms of tools, it can be expected that more open source (and newer) tools have a much higher usage rate in this sample than in the data space in general (R and Python each

Bilamana sebelum kelahiran terdapat hemolisis yang berat, maka bayi dapat lahir dngan edema umum disertai ikterus dan pembesaran hepar dan lien