GUMI BANTEN: UNIT PEMBIBITAN TANAMAN RITUAL (UPAKARA) LEMBAGA PENGBADIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS UDAYANA I Ketut Sardiana1
Unit IbIKK Gumi Banten LPM UNUD, alamat: Gd. Pasca Sarjana Unud Lt Dasar Jl. PB Sudirman Denpasar-Bali, e-mail : [email protected]
1
Dosen Fakultas Pertanian Unud Ringkasan Eksekutif
Kegiatan ritual atau upacara merupakan salah satu elemen pokok bagi umat Hindu di Bali. Sebagian besar kegiatan upacara tersebut membutuhkan sarana yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang dikenal “tanaman upakara”. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diantaranya: menyusun database tanaman upakara, (2) melakukan pembibitan melalui aplikasi Ipteks bagi tanaman yang langka dan sulit dibiakkan, dan (3) Membantu masyarakat dalam menyediakan bibit tanaman yang diperlukan dalam kegiatan ritual keagaman. Metode yang diterapkan pada kegiatan ini adalah melakukan survey lapangan dan studi pustaka di beberapa desa di Bali yang diklasifikasikan sebagai desa Baliage, Baliapenage, dan Balibaru. Informasi yang dikumpulkan meliputi makna filosofis pemanfaatan tanaman pada aktivitas ritual masyarakat Hindu Bali, jenis tanaman upakara, kegunaan, dan lokasi keberadaan tanaman tersebut. Data yang diperoleh selanjutnya disusun dalam bentuk database yang dapat sebagai sumber informasi bagi masyarakat yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Tanaman telah mulai langka dikoleksi untuk dibibitkan melalui aplikasi teknologi pembibitan tanaman dengan metode perbanyakan pucuk. Pemanfatan tanaman dalam kegiatan ritual umat Hindu Bali pada prinsipnya merupakan aktualisasi dari konsep Tri Hita Karana, terutama dalam menjalin harmonisasi hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Ada sekitar 300 jenis tanaman upakara, dan sebagian diantaranya telah mulai langka. Tanaman tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam empat belas kelompok, diantaranya: ragam kelapa, ragam bambu, kayu, daun, bunga, ragam pisang, buah (pala gantung), umbi (pala bungkah), dll. Aplikasi teknologi pembibitan dengan pucuk berhasil membibitkan tanaman yang sulit dibiakkan dengan kemampuan tumbuh mencapai 70%. Pengembangan tanaman upakara ternyata mampu menginspirasi komunitas lokal Bali untuk melakukan gerakan bersama dalam rangka melestarikan jenis-jenis tanaman tersebut.
Kata Kunci : Pembibitan, tanaman, ritual Hindu Bali
Executive Summary
Ritual is one of basic aspect on Bali‟s Hindu community. Most of the rituals elements are descended from plants which are well known as “ritual plants”. The objective of the community services were to study plants utilization on Bali‟s Hindu rituals activities, cultivation of seedlings, and preparing ritual plants seed to the
community. Field survey and literarure studies was conducted on several villages in Bali in which classified as Baliage village, Baliapanage village and new Bali village in order to get information about kind, filoshopy aspect, and ultilization of ritual plants. The information were organized on data base, rare plants were collected for cultivation of seedlings in order to prepare ritual plant seed to community. Utilization of plants on Bali‟s Hindu rituals is as actulization of Tri Hita Karana concept, especialy in developing harmonization between human and their environment relationships. Approxymately there are three hundred kinds of plants which used on Bali Hindu rituals commandly. The plants can be classified within fourteen groups such as: kind of coconuts, bamboes, trees, leaves, flowers, bananas, fruits (pala
gantung), yam group (pala bungkah), etc. Aplication of clone vegetative cultivation
of seedlings technology able to increasing germination ability of rare ritual plants up to 70%. Cultivation of seedlings of rituals plants able to inspiring Bali local community to work together in order to supporting the program on ritual plant preservation.
Keywords: Cultivation of Seedlings, plants, Bali’s Hindu rituals
A. PENDAHULUAN
Bali dikenal sebagai pulau seribu pura. Sebutan ini memberi kesan bahwa Bali tak pernah berhenti dari kegiatan upacara agama dan hal itu sesungguhnya benar adanya. Bali seolah diselimuti oleh kegiatan ritual sepanjang tahun, sejak upacara harian yang disebut rerahinan hingga upacara ratusan tahun yang disebut eka dasa
rudra dan bahkan ribuan tahun saat pelaksanaan upacara Marerebhu Bhumi.
Susastra agama Hindu menyuratkan bahwa berbagai bentuk ritus itu pada hakekatnya adalah wujud pelestrarian hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan komunitas sosialnya yang lazim dikenal sebagai filosofi Tri Hita Karana. Rangkaian lahir, hidup dan mati (uthpeti, sthiti,
pralina) secara spiritual mesti diputar lewat ritus agama sehingga kehidupan akan
berlangsung lestari. Bila salah satu rangkaian itu terganggu, atau bahkan berhenti, saat itu pula akan terjadi ketidakseimbangan alam.
Tidak saja dalam soal ritual, masyarakat Bali dituntun berprilaku santun kepada alam namun dalam keseharian pun prilaku santun dan taat tri hita karana mesti dikedepankan. Berbagai aturan atau tatanan disuratkan oleh para leluhur Bali dalam memperlakukan alam dan lingkungan hidup manusia. Penetapan hirarki tanaman berikut perlakuannya adalah suatu bukti kepedulian Hindu terhadap Alam. Semakin langka jenis tanaman maka semakin sakral kedudukannya dalam keseharian Bali.
Sebagai contoh, jenis tanaman cempaka, majegau dan cendana adalah tiga dari sedikit jenis tanaman langka yang tumbuh di Bali. Jenis tanaman ini kemudian ditetapkan dalam susastra sebagai jenis kayu yang amat pantang digunakan secara sembarangan. Oleh para tetua Bali di masa lalu, fungsi dan kegunaan tanamanpun lalu dikelompokkan menjadi replika suatu kerajaan. Karenanya, di Bali dikenal penggolongan tanaman pada kelompok Prabu, Patih, Demung dan seterusnya sesuai runtutannya.
Sebelum dasawarsa 80-an, untuk mendapatkan jenis buah, bunga, daun dan kayu sarana upakara tidak sulit karena di satu wilayah desa adat dapat dipastikan sudah terpenuhi kebutuhan tersebut. Ketika lahan pertanian mulai terdesak fungsi hunian dan kegiatan agraris mulai bergeser ke pola industri wisata, ketersediaan tanaman upakara seolah terbengkalai. Berbagai jenis tanaman lalu menjadi langka dan sulit didapat.
Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diantaranya : menyusun data base tanaman upakara, (2) melakukan pembibitan melalui aplikasi Ipteks bagi tanaman yang langka dan sulit dibiakkan, dan (3) Membantu masyarakat dalam menyediakan bibit tanaman yang diperlukan dalam kegiatan ritual keagaman. B. SUMBER INSPIRASI
Secara harfiah Gumi Banten berarti “tanah sesajen” (gumi = tanah, banten = sesajen). Taman Gumi Banten dalam hal ini berarti taman yang terdiri dari berbagai tanaman serana (kelengkapan) banten atau upakara (sesajen). Umat Hindu terutama yang bermukim di Bali tidak dapat melepaskan diri dari pelaksanaan upakara dalam hal ini (Panca Yadnya), karena upakara merupakan salah satu kerangka agama Hindu, di samping tatwa dan susila. Sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan umat dan kesadaran akan melakukan yadnya maka pelaksanaan upacara keagamaan semakin semarak pula, baik Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra
Yadnya, maupun Bhuta Yadnya.
Pelaksanaan semua upacara ini membutuhkan sarana upakara yang memadai, salah satu diantaranya berasal dari tanaman. Tidak sulit bagi penanggung jawab upacara (Sang Yajamana), untuk mendapatkan kelengkapan upacara dalam bentuk
rerampen (jejaitan ron busung), karena dapat dibeli dengan mudah di pasar. Tidak
demikian halnya dengan sarana/kelengkapan upakara berupa tanaman.
Keberadaan tanaman kelengkapan upakara tersebut semakin lama menjadi semakin langka dan sulit didapat serta dikenali oleh masyarakat banyak. Kalaupun masih ada sulit diketahui keberadaannya kecuali bagi kalangan tertentu seperti
tukang banten dan ancangan (warga desa yang mendapat tugas khusus mencari
berbagai kelengkapan upakara/sesajen)
Kenyataan di atas menjadi inspirasi akan perlunya unit pengembangan tanaman upakara. Unit ini ditujukan untuk mengapklikasikan teknologi dalam teknologi pembibitan tanaman khususnya bagi tanaman langka dan sulit dikembangbiakan.
C. METODE
Kegiatan pengembangan tanaman upakara dimulai dengan pengkajian yang dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya survei lapangan untuk mendapatkan informasi mengenai tanaman upakara meliputi jenis dan pemanfaatannya pada upakara dan studi kepustakaan, selain untuk mendapatkan data tentang tanaman upakara berdasarkan pustaka suci Hindu, juga dimaksudkan untuk menemukan landasan filosofi (tatwa) pemanfaatan tanaman dalam pelaksanaan upacara agama menurut keyakinan Hindu.
Survei diadakan di desa-desa yang mencerminkan ciri-ciri Desa Bali Age (desa yang diyakini sebagai desa Bali kuna), Desa Apanage (desa yang telah
mendapat pengaruh dari Kerajaan Majapahit), dan Desa Bali Baru (desa yang terbentuk akibat adanya transmigrasi lokal di Bali, sekitar tahun 1960-an). Untuk Desa Bali Age dipilih Desa adat Kerta (Kabupaten Gianyar), Desa Adat Penglipuran (Kabupaten Bangli), dan Desa Adat Bungaya (Kabupaten Karangasem). Desa Apanage dipilih beberapa desa adat yang ada di Kabupaten Gianyar, Kabupaten Badung dan Kota Denpasar serta untuk desa adat yang termasuk Desa Bali Baru, dipilih beberapa desa adat yang ada di Kabupaten Jembrana. Sebagai responden adalah tukang banten (sang tapini) dan tokoh masyarakat yang dipercaya memahami masalah upakara, dan orang-orang tertentu yang pernah berpartisipasi secara langsung menyiapkan tanaman upakara dalam upacara di pura-pura besar di Bali. Informasi jenis tanaman upakara, kegunaan, dan lokasi keberadaannya disusun dalam bentuk data base. Data ini dijadikan acuan untuk memperoleh informasi dan sumber bahan bibit untuk dikembang biakkan.
Perbanyakan tanaman menggunakan teknologi tepat guna hasil pengembangn perguruan tinggi di Universitas Udayana (Pusat Pengkajian dan Pembibitan Tanaman Budaya LPM UNUD) yang relevan untuk tujuan ini yaitu : pembiakan vegetatif dengan pucuk tanaman.
D. KARYA UTAMA
Karya utama dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah data base tanaman upakara. Date base ini memuat informasi tentang jenis tanaman upakara, makna filosofis penggunaannya pada upakara, penggunaan tanaman tersebut pada banten/upakara, dan lokasi atau pemilik tanaman dimaksud. Informasi ini sangat penting bagi petugas desa adat yang bertugas khusus dalam menyediakan tanaman tersebut dalam rangka mempersiapkan kegiatan ritual (karya) di pura-pura besar di Bali atau di desa adat mereka masing-masing.
Selain itu, pada kegiatan pengabdian masyarakat ini juga dihasilkan bibit tanaman upakara/banten khususnya jenis tanaman yang sudah langka. Faktor penyebab kelangkaan tanaman tersebut adalah karena tanaman bersangkutan secara alamiah memang sulit berkembang biak. Oleh sebab itu, maka diperlukan terapan Ipteks dalam pembibitan tanaman yang cocok untuk keperluan tersebut. Aplikasi ipteks yang diterapkan adalah pembibitan vegetatif dengan pucuk tanaman. Inovasi teknologi ini terletak pada kemampuan mengontrol kondisi media tumbuh (kelembaban, temperatur, struktur tanah) dan formulasi perangsang tumbuh akar tetap berada pada kondisi optimum untuk menstimulir pembentukan perakaran. Kelembaban media dipertahankan dengan pemberian air dan nutrisi lainnya melalui sistem drif irigation. Distribusi air diatur secara merata melalui jaringan pipa-pipa kecil berlubang yang ditanam tersebar pada media tanam. Volume dan waktu pemberian air dikontrol oleh peralatan “timer” yang bekerja secara otomatis. Suhu ruangan pembibitan distabilkan dengan sungkup setengah lingkaran. Keunggulan metode ini dibandingkan dengan pembibitan secara vegetatif konvensional (stek, okulasi dan mencangkok) adalah cepat, dapat menghasilkan bibit banyak dalam waktu singkat, dan tidak merusak tanaman induk. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa lebih dari 70% tanaman yang dicobakan (diutamakan untuk tanaman langka) berhasil.
E. ULASAN KARYA
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan lahir dan batin, di dunia dan surga (moksa). Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan itu dikenal dengan tri hita karana. Dalam hal ini berarti adanya keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungan alam. Oleh karena itu, menjadi kewajiban manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan alam karena alam itu tempat serta sumber hidup dan kehidupan manusia beserta makhluk lainnya.
Upaya melestarikan atau penyejahterakan alam dalam Sarasmuscaya 135 dinyatakan dengan istilah bhuta hita. Kata bhuta artinya alam yang dibangun oleh lima unsur yang disebut panca maha bhuta. Sementara kata hita artinya „sejahtera‟ atau „bahagia‟. Dalam kitab Sarasmuscaya dinyatakan bahwa bhuta hita dilakukan untuk menegakkan tercapainya tujuan hidup yaitu mencapai dharam, artha, kama, dan moksha. Tujuan hidup tidak akan tercapai jika alam ini dalam keadaan rusak. Antara alam dan manusia haruslah saling memelihara berdasarkan yadnya (pengorbanan).
Demikian juga antara manusia dengan manusia, mereka juga harus hidup untuk saling memelihara berdasarkan yadnya. Hidup untuk saling beryadnya inilah yang disebut dengan istilah cakra. Yadnya dalam kitab Bhagawad Gita III 16, yakni memelihara kesejahteraan alam dengan cara sekala dan niskala.
Secara sekala, flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di lingkungan kita dijaga keseimbangan hidupnya dengan upaya-upaya nyata. Jangan ada lahan yang dibiarkan menjadi lahan tidur di sekitar kita tanpa ditumbuhi tumbuh-tumbuhan.
Secara niskala, upaya manjaga bhuta hita, dilakukan dengan cara melaksanakan upacara yadnya. Ada beberapa jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang digunakan untuk sarana upacara yadnya. Upacara yadnya sesungguhnya perwujudan doa yang divisualkan dalam berbagai simbol yang disebut upakara atau
banten. Dalam visual itu manusia mengembangkan berbagai gagasannya untuk
memohon agar terjadi kehidupan di bumi ini yang saling memelihara berdasarkan
yadnya.
Upacara yadnya tidak hanya bermakna sebagai sarana permohonan yang vertikal kepada Tuhan, tetapi juga bermakna untuk menanamkan nilai-nilai yadnya itu kepada diri manusia sendiri. Hal itu berarti bahwa penggunaan tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagai sarana upacara yadnya sesungguhnya bertujuan untuk menanamkan nilai pelestarian alam pada jiwa setiap umat.
Dari bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyanan seperti canang, kewangen, bhasma dan bija. Semua itu adalah sarana persembah- yangan yang berasal dari unsur: bunga, daun, buah dan air. Sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan merupakan perwujudan tattwa Hindu.
Ada sekitar 300 jenis (species) tanaman yang lazim digunakan dalam upakara. Tidak setiap tanaman yang digunakan sebagai sarana upakara di suatu tempat juga menjadi sarana upakara di tempat yang lainnya. Pemanfaatan tanaman tersebut sepertinya berkaitan dengan kondisi setempat (desa kala patra). Bagian tanaman yang digunakan ada berupa buah, bunga, daun dan umbi tanaman. Sehingga penggolongan tanaman upakara mengikuti bagian tanaman tersebut yang digunakan dalam upakara. Adapun jenis tanaman dan penggunannya dalam upakara diantaranya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis Tanaman dan Kegunaannya dalam Panca Yadnya Nama Tanaman
Upacara
Tempat Tanaman Dalam Banten Panca Yadnya Dewa Yadnya Pitra Yadnya Rsi Yadnya Manusia Yadnya Butha Yadnya Kelapa (Nyuh) : Surya, sudamala, Cenik, Bulan, Gading, Rangda, gadang, udang, bojog, mulung. Bebangkit Durmenggala Pendeman Pule kerti Panjang Ilang Penglukatan Tetukon Durmenggala Penglukatan Durmenggala Penglukatan Banten Caru Kelompok Tiying Tiying Tali Gelepung Santong Tamblang Tutul, Ampel Adegan tutuan Bale Gading di peselang, Sunari Sanan Pulekerti Isin Panjang Ilang, Penunjang damar kurung, Wadah Bale Gading di peselang Keplugan
Kelompok Kayu
Bingin, Pule, Teja, Ancak, Dapdap, Sukasti, Cemara, Intaran, Nagasari, Sisih, Gegirang, Tingkih, Pala, Kelor, Tulak Delima, Kapas, Cendana, Sandat Majegau, Tandingan Catur Tebasan, Pule kerti,Tutuan, Pancalayuan Pendeman Panglukatan Guru Piduka Neg-tegan Penuntun Nyegara Gunung Sekah, Tetukon Durmenggala agung, Anyakan Pemelaspan Bade Jenak wilet Peangkat-angkat Pebangkit Banten Proras Lis selepaan Pengurip-urip Pawintenan Penglukatan Pancalayuan Pemangkit Suci, Pawinten an, Pasucian Pererai, Panca Tebasan Sekah Penegtegan Pancalayuan Alat potong gigi Mandikan sawa, Suci, Pebangkit Panglukatan Eteh-eteh gelar sanga Bambang Rsi GanaTebasan Pancalayuan Pebangkit Lis selepaan Panglukatan Pesucian Pasepan Panca Biu :
Biu Kayu, gancan, payasan, sasih, mas, Bali, lalung)
Penuntun Rakan banten Pule kerti Suci, Dangsil Rakan banten Tetukon Sanggar tutuan Pawintenan Rakan banten Sanggar tutuan, Banten Colongan Rakan banten Banten Soroan Bebangkit Rakan banten Sanggah tutuan Pala Bungkah :
Keladi, biah, ubi, kesela Canangg Yasa Lampadan Tetukon Panjang Ilang Suci Canang Yasa Canang Yasa Canang Yasa Kelompok Daun:
Putih Kalah, Delem Base, Keduduk Kayu Sugih, Padi-padi,Tegteg, Inta-ran, Kemedangan katugtugan,Parijata Pradnyan, mendep Sudamala, Durmenggala agung, Tandingan Suci Pule kerti Neg-tegan Penuntun Bebangkit Dewa-dewi Porosan Panjang Ilang Tetukon Peangkat2 Neg-tegan Lampadan Penglukatan Wadah Base Tampel Negtegan Bebangkit Lampadan Penglukatan Tubungan Mandi Sawa Neg-tegan Bebangkit Lampadan Penglukatan Bebayuan Base Tampel Neg-tegan Bebangkit Lampadan Penglukatan Kelompok Bunga: Ratna, Menori , Tunjung, Blangsah Merak, Menuh, pudak, Selasih Miyik, Kamajaya-kama Ratih, Landep-landep, kwanta, Jepun Pule kerti Pendeman Catur Isin dewa-dewi Pekawasan (bale paselang) Durmenggala Lampadan catur, Isin Orti Panjang Ilang Tetukon Tandingan Suci, Bebangkit Pebersihan Penuntun Mapandes Panca dewi Siwa wista Penglukatan Suci Panjang Ilang Neg-tegan Lampadan suci Siwa wista Penglukatan Suci Neg-tegan Lampadan suci Bebangkit Penglukatan Suci Neg-tegan Lampadan suci Temu-Temuan: Temu Gongseng, tis, ireng, agung, poh, lawak, kunci
Pule kerti Rujak segara gunung
Tetukon Ketopot
Ketopot Ketopot Ketopot
Bumbu-Bumbuan: Bawang, kesuna, tabia) Segehan, pulakerti
Bebungkilan :
kunyit, cekuh, Isen, bangle, gamongan, jahe,jahe bang
Salaran, Pragembal, kedompot
Salaran, Pulekerti Salaran, Pulekerti
Ketopot Ketopot
Wangenan/Jatu :
Mica, tabia bun, lenge, geti-geti, ketumbah, cengkeh Neg-tegan, Pebangkit Bebangkit, tetukon Bebangkit, Isin keben Bebangkit, Pedamel Bebangkit, Craken Kacang : Kacang
Ranti, juleh, kare gede, undis, kedele
Lampadan, Soda, suci Ulam Banten Dandanan Ulam Banten Tetandingan Perangkatan Ulam Banten Tetandingan Ayaban Ulam Banten Tetandingan Pecaruan Ulam Banten Tetandingan Ketimun : Timun Gantung, putih, paya, lisah, bligo, waluh Raka-raka, Durmenggala agung Raka-raka, tetukon Raka-raka, banten pawintenan Raka-raka, biakala agung Raka-raka Tebu : Tebu
Malem, biasa, ratu, sale, ireng, rejuna
Penuntun, rakan banten,
Tetukon, pedamel Banten Pawintenan Rakan banten Padang : Padang Kawat, lepas, jerman, kasna
Pule kerti Peangkat-angkat Tanda bilang bucu Lepas puser F. KESIMPULAN
Pemanfatan tanaman dalam kegiatan ritual umat Hindu Bali pada prinsipnya merupakan aktualisasi dari konsep tri hitha karana, terutama dalam menjalin harmonisasi hubungan antara manusia dengan lingkungannya.
Ada sekitar 300 jenis tanaman upakara, dan sebagian diantaranya telah mulai langka. Penggunaan jenis tanaman tersebut ternyata bervariasi dari satu tempat dengan tempat lainnya, atau tanaman yang digunakan disuatu tempat tidak digunakan ditempat lain atau sebaliknya Tanaman tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam empat belas kelompok, diantaranya: ragam kelapa, ragam bamboo, kayu, daun, bunga, ragam pisang, buah (pala gantung), umbi (pala bungkah), dan lain sebagainya.
Aplikasi teknologi pembibitan dengan pucuk berhasil membibitkan tanaman yang sulit dibiakkan dengan kemampuan tumbuh mencapai 70%.
Pengembangan tanaman upakara ternyata mampu menginspirasi komunitas lokal Bali untuk melakukan gerakan bersama dalam rangka melestarikan jenis-jenis tanaman tersebut.
G. DAMPAK DAN MANFAAT KEGIATAN
Kegiatan pengembangan tanaman upakara mendapatkan respon yang positif dari stakeholder seperti pemerintah, kalangan pariwisata, serta masyarakat adat untuk secara bersama melakukan gerakan pelestarian tanaman upakara. Dukungan tersebut dapat dilihat dengan terbitnya imbauan pemerintah daerah untuk menanam tanaman budaya dilingkungan kantor serta dicetuskannya program trihita karana award, yaitu pemberian penghargaan bagi hotel yang telah mengembangkan taman tradisional Bali.
Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana melalui kerjasama dengan Desa adat Tegenan Besakih, Manukaya Tampaksiring dan desa adat pengempon pura kayangan jagat di Bali berhasil menanam tanaman upakara di kawasan pura Besakih dan pura kayangan jagat di Bali sebanyak 15.000 pohon yang berasal dari 47 jenis tanaman upakara langka. Kerjasama serupa juga dilakukan oleh rektor Universitas Udayana, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Bali Tourism Development Centre (BTDC) untuk menyediakan dan mendistribusikan tanaman upakara langka kepada desa adat di seluruh Bali. Ada beberapa alasan yang mendorong timbulnya dampak yang luas dari pembibitan tanaman upakara ini, diantaranya: (1) Upakara tidak dapat terpisahkan dari masyarakat Hindu Bali sehingga ketersediaan jenis tanaman tersebut sangat penting, (2) Ketersediaan tanaman upakara yang semakin langka menyadarkan masyarakat adat untuk mulai ikut menanam dan merawat tanaman tersebut, dan (3) Adanya nilai yang kuat (cultural value) bahwa tanaman upakara diyakini memancarkan aura tertentu yang berpengaruh terhadap prilaku kehidupan disekitarnya seperti suasana hening, panas, magis, dan sebagainya.
H. DAFTAR PUSTAKA
(1) Hembing Wijaya Kusuma, H.M. Setiawan Dalimartha, dan Agustinus S. Wirian, 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid 4 Pustaka Kartini. (2) Mantra, I.B. 1976. Bhagavadgita. Pemda Bali.
(3) Mas Putra, I G.A. 1982. Upakara Yadnya. Pemda Bali.
(4) Sudiana, I. Gusti Ngurah 2002. “Tumbuh-tumbuhan Sebagai Sarana Upakara”, dalam Taman Gumi Banten. Universitas Udayana.
(5) Smritidhara Sharma. 1985. A Glossary of Indonesian Plant Names. Udayana University.
(6) Titib, Made, 1996, Veda dalam Praktek Hidup SeharI-hari, Paramita, Surabaya.
(7) Tjok Raka Krisnu. 1983. Arti, Fungsi dan Penggunaan Bunga dalam Upacara
Agama Hindu di Bali. Pemda Bali.
I. PERSANTUNAN
Penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada sejawat anggota Tim Taman Gumi Banten Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana atas segala bantuan dan dukungannya hingga tulisan ini dapat diselesaikan.