• Tidak ada hasil yang ditemukan

PESAN MORAL DALAM SERAT CANDRARINI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PESAN MORAL DALAM SERAT CANDRARINI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

PESAN MORAL DALAM SERAT CANDRARINI

Githa Respati Ramadhanty, Nanny Sri Lestari

ProgramStudi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

E-mail: [email protected]

Abstrak

Artikel berjudul Pesan Moral dalam Serat Candrarini ini disusun oleh Githa Respati Ramadhanty, Prodi Jawa 2009. Artikel berjudul Pesan Moral dalam Serat Candrarini

menjelaskan nilai pesan yang diperuntukan kepada kaum perempuan yang hidup dalam lingkungan poligami. Tujuan dari penelitian adalah menjelaskan pesan moral terhadap perempuan dalam serat candrarini. Metode yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik kepustakaan teks dan penelitian terdahulu. Hasil analisis yakni mendapatkan data-data yang terpercaya sehingga dapat membuat kesimpulan nilai pesan terhadap perempuan dalam serat candrarini. Pesan moral dalam serat candrarini antara lain cara berprilaku antara lain cara bicara yang penuh sopan santun, penuh tata krarma, tidak pernah berbicara dengan nada yang tinggi, lemah lembut jika tengah berbicara, selanjutnya adalah dengan memerhatikan cara berbusana dalam arti sopan santun dalam berbusana, memantskan busana sesuai ukuran badan, waktu dan tempat, kemudian cara bersikap yang dapat dilihat dari cara berjalan, jika berjalan pelan-pelan, dan cara menunjukan raut muka, hendaknya menunjukan raut muka yang sabar, tidak cemberut, ramah serta yang terakhir adalah cara berpikir, tidak pernah berpikir negatif, berburuk sangka terhadap orang lain, selalu berpikir positif terhadap semua yang terjadi. Semua pesan moral dilakukan untuk memelihara agar keadaan rumah tangga senantiasa dalam situasi yang rukun dan harmonis.

MORAL MESSAGES IN SERAT CANDRARINI

Abstract

Article entitled Pesan Moral dalam Serat Candrarini was made by Githa Respati Ramadhanty, majority Javanesse Literature, 2009. Article entitled Pesan Moral dalam Serat Candrarini explains the moral messages that is intended for women who live in a polygamy. The purpose of the research is to explain the moral messages to women in the serat candrarini, so that if the woman building a household then she will know the things that must be held and conducted in order to serve the state husband’s household is always harmony and harmonily. The method used in this research is to analyze qualitative methods with techniques of literary texts and previous research. Results of the analysis obtain reliable data in order to make inferences message against a women in serat candrarini. The moral messages in serat candrarini include polite during talking, courteous in dress, how to be polite and do thinking can be realized with never negative thought all about anything against. All carried a moral message that is always the household be harmonily.

Keywords: polygamy, moral message, household, manners

(5)

Sastra merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Sansekerta (śāstra), yang memiliki pengertian teks yang mengandung instruksi atau pedoman, dari kata dasar śās- yang

bermakna instruksi atau ajaran. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada kesusastraan atau suatu jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Menurut Robert Scholes (dalam Luxemburg dkk, 1992: 1), sastra merupakan sebuah kata, bukan sebuah benda. Sedangkan menurut Sapardi (1979: 1) sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat perantara dalam penyampaiannya: bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dimana kehidupan itu sendiri merupakan suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar-masyarakat, antara masyarakat dengan orang-seorang, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Masyarakat Jawa menyebut karya sastra dengan istilah serat.

Pada kamus Basa Jawa, Bausastra oleh Balai Pustaka Yogyakarta, 2000, serat

memiliki definisi layang, tulis. Layang dalam bahasa Indonesia memiliki arti surat, tulis

memiliki makna tulis dalam bahasa Indonesia. Berarti dapat dikatakan serat merupakan surat atau tulisan. Dalam budaya Jawa serat merupakan karya sastra Jawa yang ditulis dalam bentuk prosa maupun macapat, yang di dalamnya berisikan nilai pesan, nasehat-nasehat sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan

Di dalam sebuah serat terdapat banyak nilai kehidupan, salah satu contohnya adalah

nilai moral. Kata moral seringkali mengacu pada baik dan buruknya seseorang sebagai

manusia1, menurut Nurgiyantoro (2007: 320-321) moral merupakan ajaran baik buruk ynag diterima oleh khalayak umum yang menjadi perbutan sikap kewajiban akhlak budi pekerti dan susila. Nilai berasal dari bahasa Latin value yang memiliki pengertian berdaya guna dan berlaku (Diane Tilman, 2004). Soekanto menjelaskan bahwa nilai memiliki pengertian konsepsi-konsepsi abstrak yang ada pada diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan buruk, sedangkan Horton dan Hunt (1987) nilai merupakan gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti atau tidak. Pengertian lain, nilai adalah anggapan sesuatu hal yang didapat dari sebuah benda, orang, tindakan, pengalaman, dan lain sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan sesuatu yang berharga, berguna dan baik untuk memperkaya batin serta menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya. Nilai berfungsi untuk mendorong dan mengarahkan sikap serta prilaku manusia. Pengertian-pengertian

1

(6)

mengenai nilai tadi sangat berkaitan dengan pengertian moral. Nilai moral merupakan konsepsi-konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai baik buruknya tingkah laku, prilaku, tindakan dari manusia itu sendiri.

Dalam menganalisis sebuah karya sastra diperlukan sebuah pendekatan. Pendekatan digunakan dalam sebuah penelitian karya sastra agar dapat memperoleh informasi yang lebih tajam dari karya sastra yang dijadikan sebagai objek penelitian. Menurut Wellek dan Warren (dalam Endraswara, 2003:9), pendekatan dalam karya sastra terdiri dari dua cara, yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik adalah penelitian sastra yang bersumber pada teks sastra itu sendiri, sedangkan pendekatan ekstrinsik sebuah bentuk penelitian karya sastra yang dibangun oleh unsur di luar karya sastra yakni pengkajian konteks karya sastra diluar teks.

Menurut masyarakat Jawa, nilai moral mengandung pengertian dan keinsyafan tentang kebenaran atau kebaikan, sehingga manusia dengan sengaja melakukan yang baik2. Ajaran tentang nilai moral dalam budaya Jawa pada umumnya dituliskan dalam bentuk karya sastra, berupa serat.

Pada penelitian ini menggunakan salah satu contoh karya sastra jawa berupa serat, yakni

serat candrarini sebagai objek kajian. Serat candrarini merupakan karya sastra yang dituliskan dalam jenis tembang macapat yang terdiri dari 5 pupuh. Serat Candrarini adalah salah satu karya sastra Jawa dari abad ke-19 yang dihasilkan oleh R.Ng. Ranggawarsita pada tahun 1863 dalam than masehi, serat candrarini dibuat atas perintah Susuhunan Paku Buwana IX ketika jaman feodalisme, yang berisikan tentang nasehat-nasehat yang diberikan kepada perempuan yang dimadu dalam pernikahannya. Serat Candrarini berceritakan tentang lima perempuan yang dimadu oleh Arjuna, diantaranya Dewi Sumbadra, Dewi Manuhara, Dewi Ulupi, Retna Gendawati, dan Wara Srikandhi. Kehidupan ke-5 istri Arjuna bersama Arjuna tetaplah rukun meskipun mereka dihadapkan oleh poligami dalam pernikahannya hal ini dikarenakan ke-5 istri Arjuna memiliki sifat yang positif, berprilaku sesuai tatakrama, tidak pernah buruk sangka dalam berpikir,setia mengabdi terhadap Arjuna, halus, lemah lembut dan penuh sopan santun jika berbicara. Dalam Serat Candrarini terdapat lima pupuh yang berisikan tentang deskripsi sifat dan prilaku ke-5 istri Arjuna. Sesuai uraian diatas, penelitian ini membahas tentang nilai pesan untuk perempuan yang terkandung dalam serat candrarini

2 Sri Suhandjati sukri dan Ridin sofwan. 2001.

Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa. Yogyakarta: Gama Media

(7)

2. Permasalahan dan Tujuan Pernelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan artikel ini akan mengangkat pesan yang ada dalam Serat Candrarini, karya R.Ng. Ranggawarsita tahun 1863 Masehi, dengantujuannya untuk memahami posisi perempuan pada masa itu.

3. Penelitian Terdahulu

Dalam penulusuran yang dilakukan terhadap beberapa tulisan mengenai nilai moral, terdapat buku Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa, oleh Sri Suhandjati sukri dan Ridin sofwan. 2001. Yogyakarta: Gama Media. Buku Perempuan Dan Seksualitas Dalam Tradisi Jawa diteliti dengan cara studi kepustakaan dari berbagai buku teks yang berkaitan dengan pembahasan serta beberapa naskah yang berisikan tentang nasehat-nasehat yang ditujukan kepada wanita yang mengabdi kepada suami. Buku ini hanya mendeskripsikan bagaimana sikap yang dimiliki oleh seorang perempuan Jawa.

Sastra Wulang dari Abad IX: Serat Candrarini Suatu Kajian Budaya, oleh Parwatri Wahjono, 1962. Tulisan tersebut merupakan suatu kajian budaya. Serat Candrarini

merupakan serat wulang bagi para wanita yang tengah hidup dalam lingkungan poligami. Aib bagi seorang wanita jika ia bercerai. Tehnik yang digunakan peneliti dalam peneltian tersebut ialah tehnik metode kepustakaan dalam mengumpulkan data. Selain itu juga menggunakan penelitian isi cerita, kajian secara instrinsik dan mengupas isi kandungan teks, pendekatan reseprif dari sudut pandang historis, filosofis, religious, psikologis, dan politis untuk memperjelas kekayaan isi kandungan teks.

4. Pendekatan Ilmiah

Menurut Endang Soemantri (1993: 3), moral merupakan hal yang menunjukan sikap akhlak manusia (perbuatan yang dinilai) yang menjadi karakteristik jati diri manusia, sedangkakan menurut Kosasih Djahiri (1985: 20) moral memiliki pengertian sebuah tuntutan yang berasal dari masyarakat atau kehidupan karena kiprah umum atau praktik nyata.

Landasan teori yang digunakan adalah teori tentang budaya. Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat3. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya

3

(8)

fisik sekelompok manusia. Koentjaraningrat(1979: 203-204) membagi kebudayaan menjadi 7 unsur, diantaranya bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, system peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian. Dari definisi budaya

pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dan unsur-unsur kebudayaan yang dikemukakan oleh Koenjtaraningrat karya sastra termasuk bagian dari budaya, karena karya sastra menggunakan bahasa sebagai alat perantara untuk menyampaikan isi dari karya sastra tersebut.

5. Serat Candrarini

Serat Candrarini merupakan bagian dari karya sastra Jawa dari abad ke-19 yang ditulis oleh R.Ng. Ranggawarsita atas perintah Susuhunan Paku Buwana IX tepatnya pada tahun 1860 Masehi atau tahun 1972 dalam penanggalan kalender Jawa. Serat Candrarini ditulis atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwana IX sebagai ajaran terhadap perempuan dan merupakan sastra etik didaktik untuk wanita sebagai istri yang hidup dalam lingkungan poligami agar perkawinannya langgeng.

Isi serat candrarini mencontohkan 5 orang istri Arjuna. Arjuna memiliki 5 orang istri, 3 orang istrinya berasal dari kasta ksatria, dan 2 istri lainnya berasal dari kasta brahmana (kaum pendeta). Kelima istri Arjuna antara lain Dewi Sumbadra, Dewi Manuhara, Dewi Ulupi, Dewi Retna Gandawi dan Wara Srikandhi. Kelimanya tidak hanya memiliki wajah yang cantik tetapi juga memiliki kecantikan yang berasal dari hati seperti rendah hati, memiliki rasa welas asih, serta memiliki rasa persahabatan terhadap para madu Arjuna serta dari prilaku mereka yang penuh dengan tatakrama, setia dalam mengabdi kepada suami, mertua dan para madu Arjuna lainnya, lemah lembut jika berbicara, dengan hal tersebut mereka dapat hidup dengan damai, rukun, dan bersama-sama mengabdi kepada Arjuna. Sifat-sifat terpuji seperti rendah hati, penuh kasih sayang, pengabdian, dan berprilaku halus merupakan sifat-sifat yang harus dimiliki perempuan untuk menjaga dan menyelamatkan kehidupan perkawinan.

6. Analisis Isi Serat Candrarini

Serat candrarini karya R.Ng. Ranggawarsita merupakan serat yang berisikan ajaran-ajaran yang diperuntukan kepada perempuan dalam menjalani rumah tangga. Perempuan-perempuan yang dijadikan contoh dalam serat candrarini ialah para istri Arjuna, antara lain Dewi Sumbadra, Dewi Manuhara, Dewi Ulupi, Retna Gandawati dan Wara Srikandhi. Kelima istri Arjuna dalam serat candrarini dideskripsikan dengan ciri-ciri lahir, tingkah laku, dan sikap yang dijelaskan dengan cara berbicara yang lemah lembut, jika berbicara penuh

(9)

dengan tatakrama, tidak menggunakan nada suara yang tinggi, selanjutnya adalah sopan santun dalam berpakaian dalam arti berpakaian sesuai tempat dan waktu, cara bersikap yang dapat dilihat dari raut wajah yang selalu tersenyum, cara berjalan yang tidak terburu-buru, serta cara mereka berpikir yang dapat dilihat dari tidak adanya prasangka buruk dari satu istri Arjuna terhadap para madu Arjuna yang lain. 6. Analisis isi serat candrarini Kelima istri Arjuna dalam serat candrarini dideskripsikan dengan ciri-ciri lahir, tingkah laku, dan sikap.

6.1 Dewi Sumbadra

Dideskripsikan istri Arjuna yang pertama adalah Dewi Sumbaddra, Dewi Sumbadra merupakan anak Sri Basudewa yang berasal dari Mandura. Ia juga adik dari Dewa Wisnu maka dari itu ia selalu dijaga oleh para bidadari, karena kakanya Sri Baladewa dan Prabu Harimurti sangat menyayangi Dewi Sumbadra, dan juga karena Dewi Sumbadra merupakan adik perempuan satu-satunya yang terpisah tempat tinggalnya sehingga Sri Baladewa dan Prabu Harimurti selalu mengirim utusan untuk mencari kabar tentang Dewi Sumbadra. Pada serat candrarini Dewi Sumbadra dideskripsikan sebagai sosok perempuan yang memiliki rupa begitu menarik hati, matanya kecil, sipit terlihat berbinar-binar, lugu, polos hatinya, karena keluguan dan kepolosannya ia terlihat seperti kurang dalam berpikir. Badannya terlihat pantas, serba cukup.

ing warna ngeresepakên ati sumeh kang nerta lindri pasaja ing driya tangguh sêmu kurang budaya awijangdêdêg rêspati

Artinya:

“Wujudnya menyenangkan hati Matanya kecil, sipit berbinar-binar lugu, polos hatinya

seolah-olah kurang berpikir

bahu, perawakannya pantas, menyenangkan hati”

Selain itu Dewi Sumbadra juga pandai memadukan busana, tidak angkuh, memiliki raut muka yang manis, jika berbicara pelan-pelan dan dipikir-pikir dahulu, ditata pembicaraannya sesuai dengan tatakrmama dalam berbicara, tidak pernah berbicara dengan nada yang tinggi, seorang istri yang setia, tidak pernah menolak apa yang diperintahkan oleh suami

Tan pati ngadi busana Mangu kadung yen lumaris

(10)

jatmika arang ngandika tan rêgu sêmu manis ririh tandkuing angling lumuh ing wicara sendhu tuhune pribadi pinrih

sêtyeng priya datan lênggana sakarsa Artinya:

“Pandai memadukan busana tidak angkuh, raut wajahnya manis dipikir-pikir dan pelan-pelan jika bicara ditata sesuai tatakrama jika berbicara pelan caranya berbicara

pribadi yang setia jika diperintah

setia terhadap suami, tidak pernah menolak keinginan suami”

Dewi Sumbadra menganggap para madunya adalah saudaranya sendiri, berbaik hati tanpa ada rasa prasangka yang buruk, hatinya tulus lahir batin

Mring maru kadi sudara rumesep tan walang ati lêgawa anrus ing bathin Artinya:

“Kepada para madunya seperti saudara berbaik hati, tidak berprasangka buruk menerima, tulus sampai ke hati”

6.2. Dewi Manuhara

Dewi Manuhara yang merupakan istri kedua dari sang Arjuna, Dewi Manuhara berasal dari gunung yang biasa dijadikan sebagai tempat bertapa, ia adalah anak dari sang Wiku yang tinggal di Titrakawana. Dewi Manuhara merupakan perempuan yang kuat menjalankan puasa dan senang berolah puja. Dalam serat candrarini Dewi Manuhara digambarkan sebagai perempuan yang tidak memiliki rasa kesombongan hati karena ia menyadari bahwa dirinya keturunan petapa. Dewi Manuhara merupakan perempuan yang sangat cantik, kecantikannya bak rembulan, memiliki mata yang kecil, sosok istri yang tidak banyak tingkah, raut muka sopan, merunduk menunjukan kesabaran, memiliki bahu yang lebar. Warna kulitnya kuning kehijauan yang terlihat seperti bunga pandan tersurat, rupanya terlihat seperti matahari di awan yang tengah mendung

Ing warna pinunjul nerta jait antêng pamuluna

(11)

wanda luruh bau awijang maya-maya sawangane kuning wênês asêmu wilis lir myang ima nipis ruma myang amradipta Artinya:

“Rupanya serba lebih (sangat cantik) matanya kecil, tidak banyak tingkah

raut mukanya luruh sopan merunduk, bahunya lebar kelihatan samar-samar bercahaya

kulitnya kuning bersih kehijau tuaan seperti matahari diawan yang tipis menerawang cahaya rembulan

ada kekurangan pada dirinya pada sanggulnya tidak memakai hiasan akan tetapi masih terlihat pantas, memiliki badan yang ramping

Ayunari ingkang sitarêsmi kuciwanè pan among samatra dene lugas gêgêlungane ananging maksih mungguh sarwa ramping srandunung dhiri” Artinya:

“Cantik bagaikan rembulan Kekurangan pada dirinya

sanggulnya polos, tidak memakai hiasan tapi masih terlihat pantas

serta badannya yang ramping”

Selain itu Dewi Manuhara mempunyai bibir yang kecil dan bewarna merah terlihat seperti buah manggis yang sudah matang, giginya rapat beraturan seperti seperti biji mentimun, halus tingkah lakunya.

Lathi dhamisanggula sathemlik rêkta kadya kang manggis karêngat Artinya:

“Bibirnya rapat, kecil begitu manis merah seperti manggis yang sudah masak

waja amiji timun rêntêt rampak sarwa lus solahira Artinya:

giginya seperti biji mentimun rapat berauran

(12)

kata-kata yang dituturkan oleh Dewi Manuhara sangat manis menunjukan persaudaraan, tingkah lakunya begitu menarik hati, ia selalu melaksanakan kehendak suaminya, selain itu ia juga perempuan yangsopan, memiliki sifat rendah hati, tidak sombong.

Têmbung arum rumakêt amanis tandukira angêgayuh driya bias nuju ing karsanè priya susila anoraga

sêpi ing piyangkuh Artinya:

“perkataanya manis menunjukan rasa persaudaraan tingkah lakunya menarik hati

dapat melakukan keinginannya suami sopan, rendah hati

tidak sombong”

6.3. Dewi Ulupi

Diceritakan istri Arjun ayang ketiga ialah Dewi Ulupi, ia merupakan anak pendeta yang bernama Begawan Kanwa yang tinggal di gunung Yasarata. Semua orang di Madurakara sangat sayang dan hormat kepadanya. Pada serat candrarini dideskripsikan bahwa Dewi Ulupi memiliki rupa yang cantik, lirikannya bak teratai biru bersinar seperti bintang

éndah rêspati warna liringe anujung biru sumorot kadi kartika Artinya:

indah, menyenangkan hati rupanya lirikannya bagaikan teratai biru bersinar seperti bintang

memiliki pratingkah yang luwes sehingga membuat rasa ketertarikan orang yang melihat dirinya, lirikannya bagaikan bulan

dhèmês luwês mêrak ati kadya pratima rinêngga Artinya:

Pratingkahnya luwes menarik hati Seperti intan yang indah dipajang

mawèh brangta kang tumingal liringè pindha wulan

Artinya:

beri rasa ketertarikan hati kepada yang melihat lirikannya seperti bulan

(13)

jika ia tengah mengigit bibir terlihat sedikit giginya, perawakannya seperti butir-butir air yang menetes yang terkena pancaran sinar matahari

pantês yen amathêt lambe ngiras mintonakên waja wangun tètèsing toya kataman baskara nawung lir tranggana mrih sasana Artinya:

pantas jika menggigit bibir sedikit memperlihatkan gigi perawakanya bagai tetesan air yang terkena sinar pancaran surya seperti binntang yang pindah tempat

kepada suami dan para madu tingkah lakunya bersaudara, sehingga selalu dekat, akrab tanpa ada jarak

tandang tandukè rumêngkuh mring priya myang marunira Artinya:

tingkah lakunya bersaudara kepada suami serta para madunya

Selain itu Dewi Manuhara sosok istri yang dapat melaksanakan kehendak suami, saudara dan para abdinya

Bias cawis angladèni kang dadi karêming priya myang putra cêthi sêdène Artinya:

Dapat melaksanakan

yang menjadi keinginan suami serta saudara dan para abdi

6.4. Rêtna Gandawati

Istri Arjuna yang keempat ialah Rêtna Gandawati, seorang putri dari Harjunayana raja Sriwedari. Diceritkan bahwa Rêtna Gandawati memiliki rupa yang cantik

(14)

Artinya:

Rupanya berlebih (cantik)

perawakannya lemah gemulai sehingga terlihat seperti orang yang sedang lemas. Memiliki warna kulit kuning bersih, tidak banyak tingkah laku, jika berbicara menunjukan raut muka yang sabar, dapat membedakan hal yang baik dan hal buruk, jika berjalan pelan-pelan

dêdêg ngrompyoh sarira anglêntrih amardawa tinon

kuning wênês

antêng jatmika ruruh yen angling ing wiweka titi

Artinya:

Perawakan badannya lemah gemulai Seperti orang yang lemas jika dilihat kuning bersih

tidak banyak tingkah, raut mukanya memperlihatkan kesabaran jika berbicara dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk

yen lumampah alon Artinya:

Jika berjalan pelan

Rêtna gandawati merupakan sosok istri yang setia mengabdi kepada suami, sopan santun dari lubuk hatinya dengan sifatnya yang penuh pengabdian kepada suami, segala perintah suami dilaksanakan olehnya

Susilèngtyas sunawitêng laki dumulur sapakon

Artinya:

Sopan santun dari lubuk hatinya mengabdi terhadap suami Semua perintahnya dituruti

jika merasa sakit hati, ia sampaikan rasa sakit hatinya dengan bicara secara pelan dan manis yen rengat pinlimping

ing wicara arum Artinya:

Jika sakit hati diberitahu Bicara pelan dan manis

(15)

6.5. Wara Srikandhi

yang terakhir dijelaskan istri Arjuna yang kelima yaitu Wara Srikandhi, Wara Srikandhi adalah pemanah perempuan yang datang dari Negara Cêmpala, anak dari Raja Prabu Drupada. Wara Srikandhi memiliki kegemaran membaca kitab-kita yang berisikan keteladanan. Srikandhi memiliki wajah yang sangat cantik, parasnya ibarat bulan, lirikannya galak-galak manis, tingkah lakunya tidak kaku sehingga terlihat pantas dan menarik

ing warna linuwih

wadana nuksmeng sasongka liringè galak amanis dhèmês dêdêgè respati

Artinya:

“rupanya sangat berlebih (cantik) wajanya indah seperti bulan lirikannya galak-galak manis

tingkah lakunya tidak kaku, menyenangkan hati

jika berbicara suaranya jelas, tingkah lakunya luwes, hatinya tulus, apabila hendak mengajak berbicara selalu dilakukan dengan menatap lawan yang diajak bicara olehnya sambil menunjukan raut muka yang ramah agar lawan bicaranya merasa senang berbicara kepada dirinya.

Gandhang kang wicara tanduk gandhês kewês ngalayoni tulus raharja ing driya kalamun slanggapan angling datan manawi tiningalan sinambi ngliling dariji Artinya:

“Suaranya jelas jika berbicara, tingkah lakunya tidak kaku

tulus sampai ke batin jika mengajak berbicara tidak diperlihatkan

sambil menatap lawan bicara dengan raut muka yang ramah”

memiliki suara yang merdu dan enak jika didengar sehingga dapat membuat hati yang mendengarnya merasa senang, sopan dan santun dalam berbusana, berbusana sesuai tempat dan waktunya.

Swara arum tan brêbêgi kenyut sang gya kang miyarsa

(16)

Artinya:

“Suaranya merdu tidak cempreng jika didengar Sehingga menyenangkan hati yang mendengarnya”

Bangkit pantes lan memangun jumbuh ingkang busanadi tumprape marang sarira ing warna tibaning wanci Artinya:

“bisa memamantaskan dan mencocokan sesuai badan sesuai dengan busananya

dipantaskan dengan dirinya (sesuai) rupa dan waktu

Kepada para madunya dianggap saudara, memiliki kerendahan hati, tidak mudah terpengaruh apabila mendengar suara yang sumbang, dengan sikap Srikandhi yang ramah menjadikan ia tidak dapat marah karena marahnya hilang dengan rasa kasih sayang

Miwah para maru rinasuk dipunslodhohi nora kêguh rinêngonan gopyak gapyuk den srowali dadya nora bisa duka lêjar lumuntur ingkang sih Artinya:

“Terhadap para madunya akrab bersahabat

tidak mudah marah bila mendengar suara yang sumbang dengan sikap yang ramah

jadilah ia tidak dapat marah hilang, luntur oleh rasa sayang”

Selain sayang kepada suami dan para madunya, Srikandhi juga sangat sayang, berbakti dan menghormati Dewi Kunthi, mertuanya. Semua keinginan Dewi Kunthi selalu dilaksanakannya.

Bêkti marang maratuwa gumati mring Dewi Kunthi pamujungê sabên dina sakarsane den turuti Artinya:

“Berbakti kepada mertua Menyayangi Dewi Kunthi

Setiap hari mengahaturkan sesuatu

(17)

7. Pesan yang Terkandung dalam Serat Candrarini

Serat Candrarini memberikan penjelasan bagaimana seharusnya seorang perempuan dalam budaya Jawa, khususnya wilayah Kasunan Surakarta Hadiningrat ketika jaman feodal, dalam arti bagaimana posisi kedudukan dan kewajiban perempuan sebagai istri pada saat itu, dimana istri hanya berada dalam ranah rumah tangga saja.Maka dari itu poligami pada jaman

feodal telah menjadi hal yang biasa, sedangkan perempuan hanya sebagai seorang yang harus melaksanakan kewajibannya dan mematuhi kodrat yang sudah menjadi kelaziman ketika jaman itu, yakni harus patuh dan taat dalam mengabdi kepada suami. Tujuan dari penulisan serat candrarini pada saat itu memberikan ajaran-ajaran, nasehat yang diharapkan menjadi pedoman bagi para perempuan yang dipoligami dalam rumah tangganya. Pesan yang terkandung dalam serat candrarini ialah pesan berupa nilai moral yang dapat dilihat dari cara berprilaku para istri Arjuna yang diwujudkan cara berbicara, cara berpakaian, cara bersikap dan cara berpikir.

7.1. Cara bicara

Cara berbicara merupakan salah satu bentuk prilaku yang menunjukan bahwa seseorang memiliki nilai moral yang baik atau tidak, pada serat candrarini istri Arjuna yang pertama yaitu Dewi Sumbadra selalu dipikir-pikir dahulu dan pelan-pelan jika berbicara, bicaranya selalu ditata sesuai tatakrama. Selanjutnya adalah Dewi Manuhara jika berbicara selalu menggunakan kata-kata yang manis dalam arti kata-kata yang tidak kasar, kemudian Rêtna Gandawati jika merasa kecewa hatinya selalu menyampaikan kekecewaanya dengan kata-kata yang manis dan bicaranya pelan, jika berbicara senantiasa menunjukan raut muka yang penuh rasa sabar, yang terakhir adalah Wara Srikandhi suaranya jelas jika tengah berbicara, jika mengajak berbicara dilakukan dengan menatap lawan bicara sambil menunjukan raut muka yang ramah. Dengan cara berbicara yang selalu menggunakan kata-kata yang manis, walaupun sedang merasa kecewa bicaranya tetap pelan dan kata-kata yang digunakan tidak menyakitkan hati, mengajak berbicara dengan menunjukan keramahan dapat dikatakan seorang perempuan memiliki nilai moral yang baik karena dengan berbicara demikian tidak akan menimbulkan rasa sakit hati yang mengakibatkan sebuah konflik.

7.2. Cara Berpakaian

Memperhatikan kesopansantunan dalam berpakaian agar tidak melanggar tatatertib dan norma yang berlaku dalam arti dapat menggunakan pakaian sesuai dengan ukuran badan,

(18)

sesuai dengan tempat dan waktu, seperti yang dicontohkan oleh Dewi Sumbadra yang pandai memadukan pakaian dalam arti ia dapat memantaskan pakaian yang ia pakai sesuai dengan ukuran badan dan tempat serta waktu begitu pula yang dilakukan oleh Wara Srikandhi yang pandai memantaskan dan mencocokan busana sesuai dengan badan serta waktu yang tepat untuk menggunakan busana yang akan dipakainya.

7.3. Cara Bersikap

Cara bersikap yang baik pada serat candrarini dapat dilihat dari bagaimana cara bertingkah laku, cara berjalan dan raut muka yang ditunjukan, seperti yang dideskripsikan pada Dewi Sumbadra yang selalu menunjukan raut muka yang manis, Dewi Manuhara yang selalu menunjukan raut muka yang sopan luruh merunduk, Rêtna Gandawati yang senantiasa beraut muka yang menunjukan kesabaran dalam arti raut muka kalem, raut muka tersenyum, tidak cemberut, dan Wara Srikandhi yang selalu menunjukan raut muka yang ramah. Sedangkan cara bertingkah laku dapat dilihat dari pendeksripsian Dewi Manuhara yang tidak banyak tingkah dalam arti tidak neko-neko, , Dewi Ulupi memiliki tingkah laku yang lemah gemulai, halus, dan bertingkah laku seperti saudara sendiri dalam arti akrab, yang terakhir cara berjalan yang digambarkan pada sosok Dewi Sumabdra, jika selalu pelan-pelan ketika sedang berjalan.

7.4. Cara berpikir

Pada serat candarini dideskripsikan cara berpikir istri Arjuna yang senantiasa berpikir yang positif yang dapa dilihat dari penggambaran dari Dewi Srikandhi yang memiliki hati yang polos hal ini berarti ia tidak pernah berpikir negatif terhadap orang lain, tidak pernah memiliki prasangka yang buruk, ia juga senantiasa ikhlas menerima terhadap apapun yang terjadi hal ini menandakan bahwa ia tidak pernah berpikir buruk terhadap apa yang terjadi kepada dirinya.

8. Keberterimaan Pesan Sesuai Jamannya

Serat Candrarini merupakan sastra etik untuk perempuan yang kedudukan derajatnya dibawah pria dalam perkawinan pada masa feodalisme di Surakarta, dimana penguasa sampai rakyat biasa melakukan poligami. Penelitian ini menggunakan serat candrarini Naskah E. SCR karya R.Ng. Ranggawarsita, yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri. Cetakan

(19)

pertama 1922, terdiri dari 36 pada. Serat Candrarini ditulis pada Jaman aboslut monarki, dimana kekuasaan mutlak berada di tangan raja. Pada saat itu, masyrakat Jawa khususnya warga Kasunanan Surakarta Hardiningrat sangat memegang teguh prinsip adat istiadat lama, yakni tata cara Jawa yang mendapat pengaruh ajaran-ajaran Hindu dan Islam. Mengenai perkawinan, poligami merupakan suatu hal yang sudah lazim dilakukan pada saat itu. Ketika itu perempuan hanya bagian dari kehidupan laki-laki tanpa memiliki hak sama sekali, hal ini dapat dilihat dari isi serat candrarini

Awit jenenging wanodya pêgat dennya palakrami nistha nir kadarmanira wigar denira dumadi sami lan mangun teki kang badhar subratanipun punggêl kasêlan cipta marma sagunging pawestri marsudiya wadadaning palakram Artinya:

Yang disebut wanita jika ia bercerai

merupakan hal yang sangat nista hilanglah segala keutamaaanya

tidak memenuhi kodratnya sebagai seorang wanita

seumpamanya orang yang tengah bertapa, maka gagalah semedinya

pupuh di atas menjelaskan bahwa seorang perempuan akan menjadi perempuan yang paling hina jika sampai bercerai maka dari itu perempuan sebagai istri wajib untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun sang suami memutuskan untuk memiliki istri lagi,dalam hal ini guna mempertahan keadaan rumah tangga, perempuan harus melakukan kewajibannya dalam posisinya sebagai istri, yang dapat dilakukan dengan setia dalam mengabdi terhadap suami, akan tetapi karena pada saat itu masyrakat Jawa memegang prinsip adat istiadat lama mengenai perkawinan, poligami merupakan suatu hal yang sudah lazim dilakukan pada saat itu. Hal ini membuat para perempuan sebagai istri tidak bisa menggunakan haknya secara penuh, perempuan tidak memiliki hak untuk menyampaikan penolakannya jika suami melakukan poligami karena jika perempuan menolak kehendak suami maka kodrat perempuan sebagai istri yang baik akan hilang. Hal ini dapat dilihat pada saat itu sebelum menikah dengan perempuan yang nantinya perempuan yang dinikahinya tersebut akan menjadi istri secara resmi, kaum bangsawan Jawa pada umumnya telah memiliki selir.Untuk wanita ketika saat itu, tentu hal ini secara psikologis merupakan suatu kelegaan emosional, agar tidak merasa susah jika dimadu oleh suami, karena pada jaman

(20)

feodal poligami merupakan hal sudah yang biasa. Pada Jaman feodalisme seperti itulah serat

candrarini ditulis dengan maksud digunakan sebagai pedoman untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Dengan memahami dan melaksanakan pesan yang disampaikan dalam serat candrarini diharapkan perempuan dapat menjaga keadaan rumah tangganya agar senantiasa dalam keadaan yang rukun, harmonis dan tentram.

9. Kesimpulan

Serat Candrarini merupakan karya sastra didaktk dari abad XIX, yang ditulis oleh oleh R.Ng. Ranggawarsita atas perintah Susuhunan Paku Buwana IX ketika jaman feodalisme, dimana poligami sudah menjadi sebuah hal yang biasa. Oleh maka itu serat candrarini ditulis dengan maksud sebagai pedoman kepada perempuan yang disampaikan melalui nasehat-nasehat untuk perempuan yang hidup dalam lingkungan poligami. Perempuan yang dijadikan suri tauladan dalam serat candrarini adalah kelima istri Arjuna, yaitu Dewi Sumbadra, Dewi Manuhara, Dewi Ulupi, Dewi Retna Gandawati dan Wara Srikandhi. Pesan yang terkandung dalam serat candrarini merupakan pesan moral yang diperuntukan kepada perempuan dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang diwujudkan dengan bertindak dan bersikap sopan santun, berbicara dengan menggunakan tatakrama, menunjukan sikap yang baik yang dapat dilihat dari senantiasa menunjukan raut muka yang selalu tersenyum, memiliki sifat rendah hati, tidak sombong, selalu berpikir positif, tidak pernah memiliki buruk sangka terhadap orang lain, menganggap orang lain adalah saudarasetia dalam mengabdi kepada suami, semua dilakukan untuk memelihara rumah tangga agar selalu dalam keadaan harmonis.

(21)

10. Daftar Acuan

Buku

Sri Suhandjati sukri dan Ridin sofwan. 2001. Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa. Yogyakarta: Gama Media

Jan Van Luxemburg dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. UI Press

---. 2005. Pengantar Antropologi II, Pokok-Pokok Etnografi. Jakarta: Rineka Cipta

K, Bertens. 1993. Etika. Jakarta: Penerbit Gramedia

Sumber Internet

AKK Culture Library (2012) Serat Candrarini

(online).(http://alangalangkumitir.files.wordpress.com/2011/05/serat-candrarini.pdf, diakses 6 Mei 2012)

Artikel Jurnal

Parwatri Wahjono (1962) “Sastra Wulang dari Abad IX: Serat Candrarini

SuatuKajianBudaya(http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/9a78f9ca676fc4817844 9b60a4781da7f7cda36f.pdf, diakses 6 Mei 2012)

Kamus

Balai Pustaka Yogyakarta. 2001.) Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius

Poerwadarminta, W.J.S. 1939. Baoesastra Djawa, Batavia, Groningen: J.B. Wolters. Tim Redaksi KBBI PB. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama

Tim Redaksi KBBI PB. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat. PT Gramedia Pustaka Utama

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari analisis narasi pesan moral pada tokoh dalam novel Bumi Cinta. ini terdapat beberapa bentuk kategori pesan moral yang

Hasil penelitian menunjukan, pesan moral yang terdapat dalam film Trash yaitu Moral Hubungan manusia dengan Tuhannya berupa berdoa dan percaya pada Tuhan, moral

Penelitian ini sangat penting karena melalui penelitian ini dapat diketahui pesan moral yang terkandung dalam cerita anak yang terdapat dalam kolom Canda pada Harian Pontianak

Dari seluruh scene dan dialog yang termasuk kategori pesan moral dalam film Keluarga Cemara ditemukan pesan paling dominan adalah kategori pesan moral dalam hubungan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia, didalamnya terkandung pesan moral yang

Interpretan atau makna pesan moral pada webtoon Lucunya Hidup Ini yaitu berupa kritikan sosial dan pesan moral yang disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang terdapat

Berdasarkan data yang diteliti, hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk- bentuk pesan moral islami yang terkandung dalam film Surga Yang Tak dirindukan yaitu akhlak tercela akhlaqul

Pesan moral yang terkandung dalam Film Penyalin Cahaya Photocopier adalah Taat kepada Allah SWT yaitu menjalankan semua perintah-Nya, Berkata dengan jujur yaitu bicara sebenarnya