Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Bangun-Bangun (Plectranthus amboinicus L.) Terhadap Kadar Superoxide Dismutase (SOD) Pada Tikus

19 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus L.) adalah tumbuhan tropis yang daunnya memiliki aroma tertentu dan termasuk dalam suku Lamiaceae. Tanaman ini banyak ditemukan di India, Ceylon, dan Afrika Selatan. Daunnya yang berasa pahit dan pedas telah banyak digunakan secara tradisional untuk berbagai pengobatan (Patel, dkk., 2010).

2.1.1 Sistematika Tumbuhan

Menurut Herbarium Medanense, (2016) taksonomi dari daun bangun-bangun adalah :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Bangsa : Lamiales Suku : Lamiaceae Marga : Coleus

Jenis : Coleus amboinicus L Nama lokal : Bangun-bangun 2.1.2 Sinonim

(2)

2.1.3 Nama Daerah

Beberapa daerah di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Masyarakat Sumatera Utara menyebutkannya bangun-bangun atau torbangun, daun jinten, daun hati-hati, daun sukan. Jawa: daun ajeran (Sunda). Nusatenggara: iwak, kumu etu, bumbu jo (Depkes RI, 1989).

2.1.4 Nama Asing

Daun ini juga dikenal di negara lain misalnya Inggris dengan sebutan country borage, indian mint, mexican mint, di Vietnam disebut tan day la, sedangkan di Cina disebut zuo shou xiang, yin du bo he, dao shou xiang dan di Jepang disebut kuuban oregano (Patel, dkk., 2010).

2.1.5 Morfologi Daun Bangun-Bangun

(3)

2.1.6 Kandungan Kimia Daun Bangun-Bangun

Kandungan kimia daun bangun-bangun adalah glikosida, karbohidrat, asam amino, protein, flavonoid, tanin, senyawa fenol, dan terpenoid, minyak atsiri (karvakrol, eugenol, limonen, mirsen, pinen, selenen, terpinen, timol, dan verbenon), vitamin C, vitamin B12, beta karoten, niasin, kalsium, asam-asam lemak, asam oksalat, dan serat. Terdapat juga apigenin, cirsimaritin, eriodictyol, genkawanin, luteolin, kuersetin, salvigenin, taxifolin, asam oksaloasetat, crategolic, asam ursulat, sitosterol (Santosa dan Hertiani, 2005; Rout, dkk., 2010). 2.1.7 Khasiat Daun Bangun-Bangun

Daun bangun-bangun berkhasiat sebagai antioksidan, anti tumor, anti mutagenik, mengobati bronkitis, asma, diare, epilepsi, demam, batuk, sakit kepala, gangguan pencernaan, dispepsia, konvulsi, batu ginjal, disentri, kolera, antimikroba, antimutagenik, antijamur (Rout, dkk., 2010), sakit gigi, gangguan pendengaran, gangguan saluran cerna (Chandrappa, dkk., 2010), malaria, obat cacing, hepatoprotektif (Kaliappan, et al., 2008), obat luka, sariawan, mencegah kanker, antivertigo, diuretik, antiinfertilitas, immunostimulan, hipokolesterolemik, antiradang, meningkatkan total volume ASI (Santosa dan Hertiani, 2005).

2.2 Uraian Kandungan Kimia Daun Bangun-Bangun 2.2.1 Flavonoid

(4)

serangga penyerbuk bunga. Beberapa fungsi flavonoida pada tumbuhan ialah pengatur tumbuh, pengatur fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus serta antiserangga (Robinson, 1995).

2.2.2 Saponin

Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin tersebar luas diantara tanaman tinggi. Saponin merupakan senyawa berasa pahit, menusuk, menyebabkan bersin dan mengiritasi selaput lendir. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun (Robinson, 1995; Gunawan, et al., 2002).

2.2.3 Glikosida

Glikosida adalah suatu senyawa bila dihidrolisis akan terurai menjadi gula (glikon) dan senyawa lain (aglikon atau genin). Umumnya glikosida mudah terhidrolisis oleh asam mineral atau enzim. Hidrolisis oleh asam memerlukan panas, sedangkan hidrolisis oleh enzim tidak memerlukan panas (Sirait, 2007). 2.2.4 Steroid/triterpenoid

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik,

yaitu skualen. Triterpenoid adalah senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik. Uji yang banyak digunakan ialah reaksi Liebermann-Burchard (asam asetat anhidrida – H2SO4 pekat) yang kebanyakan

(5)

kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantren (Harborne, 1987).

Fitosterol merupakan senyawa steroida yang berasal dari tumbuhan. Senyawa fitosterol yang biasa terdapat pada tumbuhan tinggi yaitu sitosterol, stigmasterol, dan kaempsterol (Harborne, 1987).

2.3 Metode Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Depkes, 2000). Ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

Cara dingin a. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya (Depkes RI, 2000).

b. Perkolasi

(6)

initerdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahapan maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan perkolat) (Depkes RI, 2000). Cara panas

a. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna (Depkes RI, 2000).

b. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang umumnya dilakukan dengan alat khusus yaitu soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).

c. Digestasi

Digestasi adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC (Depkes RI, 2000).

d. Infus

Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 960-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Depkes RI, 2000).

e. Dekoktasi

(7)

2.4 Radikal Bebas

Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan elektron, sehingga molekul tersebut menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil elektron dari molekul atau sel lain. Radikal bebas dapat dihasilkan dari hasil metabolisme tubuh seperti pada waktu kita bernapas (hasil samping proses oksidasi atau pembakaran), dan pada saat terjadi infeksi. Pada saat terjadi infeksi, radikal bebas diperlukan untuk membunuh mikroorganisme penyebab infeksi. Tetapi paparan radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan sel, dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel (Ramadhan, 2015).

Radikal bebas bersifat reaktif, dapat menyebabkan kerusakan sel, mengurangi kemampuan adaptasi sel, bahkan kematian sel sehingga menyebabkan timbulnya penyakit. Sumber radikal bebas yang ada di tubuh manusia berasal dari 2 sumber yaitu sumber endogen dan sumber eksogen. Sumber endogen yang berasal dari proses metabolik yang normal dalam tubuh manusia seperti reaksi autooksidasi, oksidasi enzimatik, maupun proses respiratory burst. Sumber eksogen yang berasal dari luar tubuh manusia seperti radiasi, asap rokok, penipisan lapisan ozon, bahan kimia, toksin, sinar uv akan meningkatkan kadar radikal bebas secara mendadak (Ramadhan, 2015).

(8)

Oleh karena itu, radikal bebas adalah oksidan tetapi tidak setiap oksidan adalah radikal bebas (Ramadhan, 2015).

Radikal bebas lebih berbahaya dibanding oksidan karena elektron yang tak berpasangan cenderung untuk membentuk pasangan yang terjadi dengan menarik elektron dengan reaktivitas tinggi dari senyawa lain sehingga terbentuk radikal baru, yang pada gilirannya apabila menjumpai molekul lain akan membentuk radikal baru lagi, sehingga terjadilah rantai reaksi (chain reaction) dan akan berhenti apabila radikal bebas tersebut dapat diredam (quenched) (Ramadhan, 2015).

Penyebab utama dari proses penuaan dan berbagai penyakit degeneratif adalah pembentukan radikal bebas dan reaksi oksidasi yang berlangsung sepanjang hidup. Radikal bebas yang sangat berbahaya dalam makhluk hidup adalah ROS (Reactive Oxygen Spesies), yaitu hidroksil (OH-), superoksida (O2-),

nitrogen monooksida (NO-), dan peroksil (RO2-), sementara hidrogen peroksida

(H2O2), oksigen singlet (O2), dan ozon (O3) bukanlah radikal, tetapi dengan

mudah dapat menjurus ke reaksi-reaksi radikal bebas (Silalahi, 2006). 2.4.1 Radikal Ion Superoksida (O2-)

(9)

merupakan bentuk senyawa oksigen yang sangat reaktif (Winarsi, 2007). Menurut Winarsi (2007), pembentukan radikal ion superoksida ini melalui beberapa mekanisme sebagai berikut:

a. Reaksi samping dalam reaksi yang melibatkan Fe2+, misalnya dalam proses: i.Fosforilasi oksidatif

ii. Oksigenasi hemoglobin

iii.Hidroksilasi oleh enzim monooksigenase (dalam sitokrom P450 dan sitokrom

b4).

iv.Fe2+ + O2 Fe3+ + O2·-

b. Reaksi dalam mitokondria dan granulosit yang dikatalisis oleh NADH/NADPH oksidase. Reaksinya sebagai berikut:

NADH + O2 NAD+ + H+ + O2·-

NADPH + O2 NADP+ + H+ + O2·-

2.5 Stres Oksidatif

Stres didefinisikan sebagai mekanisme homeostasis untuk mendukung penyesuaian terhadap tantangan dari lingkungan, yang berpengaruh terhadap perkembangan dan stimulasi ekspresi yang diinduksi perubahan plastis pada fungsi otak dan tingkah laku (Bohus, dkk., 1995).

(10)

oksidatif yang berakibat kerusakan oksidatif adalah keadaan dimana rendahnya antioksidan dalam tubuh sehingga tidak dapat mengimbangi reaktivitas senyawa oksidan (Winarsi, 2007).

2.6 Antioksidan

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron atau reduktan. Antioksidan juga merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Akibatnya, kerusakan sel akan dihambat. Antioksidan dapat memberikan elektronnya secara cuma-cuma kepada molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas (Ramadhan, 2015). Antioksidan melindungi molekul target antara lain dengan cara (Priyanto, 2009): a. Menangkap radikal bebas dengan menggunakan protein atau enzim (sebagai

katalis) atau bereaksi langsung.

b. Mengurangi pembentukan radikal bebas dengan merubahnya menjadi radikal bebas yang kurang aktif atau merubahnya menjadi senyawa non radikal (SOD, GSH-Px /glutation peroksidase, katalase).

c. Mengikat ion logam yang dapat menyebabkan timbulnya reaksi Fenton yang menghasilkan radikal bebas (seruloplasmin, transferin).

d. Melindungi komponen sel utama yang menjadi sasaran radikal bebas (vitamin E dan C, sebagai donor elektron).

e. Memperbaiki target organ dari radikal bebas yang telah rusak.

(11)

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu antioksidan primer, antioksidan sekunder dan antioksidan tersier (Winarsi, 2007).

a. Antioksidan Primer

Antioksidan primer disebut juga antioksidan endogenus atau antioksidan enzimatis. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan primer apabila dapat memberikan atom hidrogen secara cepat kepada senyawa radikal, kemudian radikal antioksidan yang terbentuk segera berubah menjadi senyawa yang lebih stabil. Antioksidan primer meliputi enzim superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GSH-Px). Superoksida dismutase bekerja dengan cara mengkatalisis reaksi dismutasi dari radikal anion superoksida menjadi H2O2,

sedangkan katalase dan glutation bekerja dengan cara mengubah H2O2 menjadi

H2O dan O2 (Winarsi, 2007).

Tubuh dapat menghasilkan enzim antioksidan yang aktif bila didukung oleh nutrisi pendukung atau mineral yang disebut kofaktor, diantaranya tembaga, seng, selenium, mangan dan besi. Enzim ini memiliki berat molekul 30.000 atau lebih (Winarsi, 2007).

b. Antioksidan Sekunder

(12)

(metaldeactivator), menon-aktifkan singlet oxygen, menyerap radiasi ultraviolet, atau berperan sebagai oxygen scavanger (Ayucitra, dkk., 2011).

Antioksidan non-enzimatis dapat berupa antioksidan alami maupun sintesis. Senyawa antioksidan alami pada umumnya berupa vitamin C, vitamin E, karotenoid, senyawa fenolik, dan polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol, dan asam-asam organik polifungsional. Golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon, katekin, flavanol, dan kalkon. Sedangkan antioksidan sintetik yang umum digunakan misalnya butil hidroksianisol (BHA), butil hidroksitoluen (BHT), propil galat (PG), and tert-butilhidrokuinon (TBHQ) yang digunakan pada konsentrasi rendah dalam makanan (Ramadhan, 2015).

c. Antioksidan Tersier

Kelompok antioksidan tersier meliputi sistem enzim DNA-repair dan metionin sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini berfungsi dalam perbaikan biomolekuler yang rusak akibat reaktivitas radikal bebas (Winarsi, 2007).

2.7 Flavonoid sebagai Antioksidan Non-Enzimatis

(13)

Flavonoid terdiri atas struktur dasar 2-fenil-benzo-δ-piran atau inti flavan dimana dua cincin benzen dihubungkan oleh cincin piran yang mengandung oksigen, sehingga dari turunannya dapat dibagi atas flavonol, flavon, dan isoflavon. Beberapa contoh yang terdapat dalam pangan adalah mirisetin, quersetin, luteolin, apigenin, genistein dan krisin (Ramadhan, 2015).

Flavonoid memiliki sifat antioksidan dengan perannya sebagai penangkap radikal bebas karena mengandung gugus hidroksil yang bersifat reduktor sehingga dapat bertindak sebagai donor hidrogen terhadap radikal bebas. Flavonoid juga dapat membentuk kompleks (kelat) dengan ion logam transisi, misalnya besi sehingga tidak lagi bertindak sebagai peroksidan. Dengan demikian, oksidasi vitamin C dapat dicegah (Ramadhan, 2015). Menurut Robak dan Gryglewski (1988), di samping berpotensi sebagai antioksidan dan penangkap radikal bebas, flavonoid juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif, antitrombotik, antiinflamasi, dan antivirus (Winarsi, 2007).

(14)

diketahui melebihi aktivitas flavonoid. Menurut Ratty dan Das (1988), antioksidan ini diduga dapat mencegah serangan lipid membran. Menurut Morel, et al., (1993) dan Puppo (1992), Rutin menunjukkan kerjanya sebagai inhibitor peroksidasi lipid yang bergantung pada Fe, karena senyawa ini dapat membentuk kompleks inert bersama Fe. Efek penghambatan flavonoid rutin dan quersetin terhadap proses peroksidasi lipid bergantung pada ion Fe dalam lesitin liposom. Rutin dan quersetin secara signifikan lebih efektif menghambat sistem peroksidasi lipid yang tergantung pada ion Fe. Pengkelatan ion Fe menyebabkan kompleks ion inert dan tidak dapat mengawali terjadinya terjadinya peroksidasi lipid. Pada saat yang sama, aktivitas radikal bebas kompleks ion-flavonoid dapat dihentikan. Menurut Afanas’ev, et al., (1989), rutin dan quersetin menghambat pembentukan radikal bebas ion superoksida, reaksi hidroksil dalam reaksi Fenton, dan radikal peroksi lipid (Winarsi, 2007).

2.8 Doksorubisin

Doksorubisin (DOX) adalah obat antikanker golongan antrasiklin yang sangat efektif dan telah digunakan selama lebih dari empat dekade untuk mengobati berbagai neoplasma pada manusia (Xi, et al., 2011). Salah satu mekanisme doksorubisin sebagai agen kemoterapi melalui pembentukan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan DNA atau peroksida lipid (Gewirtz, 1999).

(15)

penyambungan rantai DNA. Rantai DNA dirusak oleh radikal bebas yang terbentuk. Mekanisme lain adalah kerusakan bagian sel oleh reaksi oksidasi yang diakibatkan oleh senyawa intermediet yang terbentuk. Senyawa ini mampu merusak berbagai makromolekul yang ada, terutama DNA, protein dan membran sel (Siahaan, dkk., 2007). Namun penggunaannya obat kemoterapi ini telah dibatasi terutama disebabkan toksisitas radikal bebas yang beragam, termasuk di dalam jantung, hati, hematologi dan toksisitas testis (Hassanen, dkk., 2015).

Terdapat dua mekanisme doksorubisin dalam menginisiasi terbentuknya oksigen radikal, yaitu (Siahaan, dkk., 2007):

a. Perubahan reaksi superoksida anion (O2

·

-) menjadi hidrogen peroksida (H2O2)

dikatalisis oleh SOD . Hidrogen peroksida merupakan molekul yang relatif stabil dan toksisitasnya sangat rendah. Pada fisiologis normal, hidrogen peroksida dieliminasi dari tubuh oleh sistem pertahanan enzim CAT dan GPx. Namun dengan adanya logam transisi seperti besi, maka hidrogen peroksida

dan superoksida anion dapat diubah menjadi radikal hidroksil (OH·) yang

sangat reaktif dan toksik (Vergely, dkk., 2007; Torres dan Simic, 2012; Sterba, et al., 2013). Semiquinon DOX, superoksida anion, dan hidrogen peroksida dapat menyebabkan pelepasan besi dari ferritin (Chen, dkk., 2007; Minotti,

dkk., 2004). Adanya besi sangat kuat mengkatalisis pembentukan OH· dalam

2 step, yaitu (1) kompleks ferri (Fe3+)-DOX direduksi menjadi kompleks ferro

(Fe2+)-DOX yang dapat bereaksi dengan O2 membentuk O2

·

- yang akan

menjadi H2O2 dan atau menghasilkan OH·. (2) kompleks ferro-DOX dapat

(16)

pembentukan radikal hidroksil OH· (Torres dan Simic, 2012; Sterba, et al.,

2013).

b. Struktur kimia antrasiklin terdiri atas tetrasiklin yang mengandung quinon dan konjugasi amino gula. Dalam lingkungan seluler, DOX mengalami aktivasi redoks melalui interaksi DOX dengan beberapa flavoprotein oxidoreductase seperti NADPH dependent cytochrome P450 reductase, NADH dehydrogenase, xanthine oxidase. Penambahan satu elektron pada bagian ring C (reduksi elektron ring C) struktur DOX oleh NADPH-dependent reductases menghasilkan pembentukan semiquinon, yang secara cepat mengalami auto-oksidasi kembali menjadi senyawa awal quinon dengan mereduksi oksigen (O2

sebagai penerima elektron) menjadi reactive oxygen species (ROS) yaitu

superoksida anion radikal (O2

·

-) (Vergely, dkk., 2007). Siklus

quinon-semiquinon menghasilkan sejumlah besar superoksida anion radikal. Proses siklus tersebut dipicu oleh NADPH-oxidoreductases [cytochrome p450], mitochondrial NADH dehydrogenases, endothelial nitric oxide synthases, xanthine oxidase yang menyebabkan reaksi oksidasi, sedangkan glutathione peroxidase, catalase, dan superoxide dismutase memiliki kemampuan untuk mendeaktivasi radikal bebas (Vergely, dkk., 2007; Fogli, dkk., 2004).

2.9 Superoksida Dismutase (SOD)

(17)

pertahanan terhadap radikal bebas dengan mengkatalisis dismutase dari superoksida anion menjadi hidrogen peroksida dengan reduksi. Oksidan yang terbentuk diubah menjadi air dan oksigen oleh enzim katalase (CAT) atau glutathion peroksidase (GPx). Selenoprotein (Ikatan enzim dan kofaktor ion Selenium) pada enzim GPx akan menghilangkan hidrogen peroksida dengan menggunakannya untuk mengoksidasi glutathion dehidrogenase (GSH) menjadi glutathion teroksidasi (GSSG). Glutahion reduktase (GR), yang merupakan enzim flavoprotein, meregenerasi GSH dari GSSG dengan NADPH sebagai sumber energi untuk reaksi reduksi. Selain itu, GPx juga mereduksi lipid dan nonlipid yang terpapar hidrogen peroksida selama proses oksidasi GSH (Ragavendran, dkk., 2012). Ada sistem umpan balik antara enzim-enzim endogen tersebut, peningkatan SOD akan menghambat gluthation peroksidase (GPx) dan katalase (CAT). Peningkatan H2O2akan menurunkan aktivitas CuZn- SOD. Sementara

CAT dan GPx dengan mereduksi H2O2 akan menghemat SOD. SOD dengan

mereduksi superoksida anion (O2-) akan menghemat CAT dan GPx. Melalui

sistem umpan balik ini tercapailah keadaan SOD, CAT, GPx, O2-, dan H2O2 dalam

keadaan setimbang (Ramadhan, 2015).

(18)

Gambar 2.1 Mekanisme pertahanan antioksidan endogen Superoksida dismutase (SOD), Katalase (CAT), Glutation peroksidase (GPx) dan Glutation Reduktase (GR) terhadap radikal bebas (Ragavendran, dkk, 2012).

Secara subseluler, isoenzim-isoenzim ini terdistribusi di tempat-tempat yang berbeda.. Mn-SOD ditemukan dalam mitokondria dan peroksisom, sedangkan Cu/Zn-SOD ditemukan dalam sitosol, kloroplas, dan beberapa di luar sel tanaman tingkat tinggi dan Fe-SOD ditemukan berikatan dengan bagian kloroplas (Winarsi, 2007).

2.10Histologi

(19)

menembus jaringan). Karena jaringan dan organ biasanya terlalu tebal untuk ditembus cahaya, jaringan tersebut harus diiris menjadi lembaran-lembaran tipis yang translusens (Junqueira dan Carneiro, 2003).

Sel-sel yang terdapat di hati antara lain: hepatosit, sel endotel, dan sel makrofag yang disebut sebagai sel kuppfer, dan sel ito (sel penimbun lemak). Sel hepatosit berderet secara radier dalam lobulus hati dan membentuk lapisan sebesar 1-2 sel serupa dengan susunan bata. Lempeng sel ini mengarah dari tepian lobulus ke pusatnya dan beranastomosis secara bebas membentuk struktur seperti labirin dan busa. Celah diantara lempeng-lempeng ini mengandung kapiler yang disebut sinusoid hati (Junquiera dan Carneiro, 2003).

Figur

Gambar 2.1 Mekanisme pertahanan antioksidan endogen Superoksida dismutase (SOD), Katalase (CAT), Glutation peroksidase (GPx) dan Glutation Reduktase (GR) terhadap radikal bebas (Ragavendran, dkk, 2012)
Gambar 2 1 Mekanisme pertahanan antioksidan endogen Superoksida dismutase SOD Katalase CAT Glutation peroksidase GPx dan Glutation Reduktase GR terhadap radikal bebas Ragavendran dkk 2012 . View in document p.18

Referensi

Memperbarui...