Hal 1 dari 9
MANAJEMEN LIMBAH DALAM PROYEK KONSTRUKSI
(Perencanaan-Pelaksanaan-Dekonstruksi)
Wulfram I. Ervianto1)
Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta1) E-mail : [email protected]
ABSTRACT
The growth of the amount of completed construction projects in Indonesia has been increased. Further, this construction development causes the use of natural resources enhancement that affects worse environmental burden by producing construction waste. Recently, it is really important to initiate an action by managing of its waste wisely in order to preserve environmental quality for the future. Environmental approach in construction processes should be attained by involving sustainability concept, while its concept focuses on natural resources availability and preserves the earth for the future.
Sustainability issues must be applied as a basis of building management design to achieve the main objectives of sustainable view, for example, providing appropriate breathing space for human being. The new management scheme is desired to be applied as response concerning sustainability by integrating deconstruction stages in the process of project life cycle. In addition, building designers should consider the ease of building demolition procedures. Therefore, the former building materials/ components can be re-employed as a ‘3R’ method implementation.
Finally, general conclusion points out that new paradigm change of project management is required to aggregate the competencies of stakeholders which are involved in the process of project, from planning phase to deconstruction. That is necessary to create cooperation with the industrial sectors to arise the transfer of knowledge in various aspects, such as building fabrics technologies and construction systems.
Keywords: waste, construction project, sustainability, deconstruction
1. PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, telah memiliki cetak biru bagi sektor konstruksi sebagai grand design dan grand strategy yang disebut dengan Konstruksi Indonesia 2030. Salah satu agenda yang diusulkan adalah
melakukan promosi sustainable construction untuk penghematan bahan dan pengurangan
limbah (bahan sisa) serta kemudahan pemeliharaan bangunan pasca konstruksi (LPJKN,
2007). Hal ini sejalan dengan Conseil International du Batiment, (1994) menyatakan bahwa
tujuan sustainable construction adalah menciptakan bangunan berdasarkan disain yang
memperhatikan ekologi, menggunakan sumberdaya alam secara efisien dan ramah lingkungan selama operasional bangunan. Sektor ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pembangunan ekonomi Indonesia, namun menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk itu diperlukan intervensi oleh berbagai pihak guna meningkatkan dampak positif dan mereduksi dampak negatif.
Hal 2 dari 9 (http://dds.bps.go.id/diunduh 14 Mei 2012)
Gambar 1. Nilai Konstruksi Yang Diselesaikan
2. LIMBAH PROYEK KONSTRUKSI
Limbah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah proses konstruksi, sebagaimana dinyatakan dalam berbagai hasil penelitian di banyak negara. Craven dkk. (1994) menyatakan bahwa kegiatan konstruksi menghasilkan limbah sebesar kurang lebih 20% s/d 30% dari keseluruhan limbah di Australia. Rogoff dan Williams (1994) menyatakan bahwa 29% limbah padat di Amerika Serikat berasal dari limbah konstruksi. Ferguson dkk. (1995) menyatakan lebih dari 50% dari seluruh limbah di United Kingdom berasal dari limbah konstruksi. Anink (1996) menyebutkan bahwa sektor konstruksi yang terdiri dari tahap pengambilan material, pengangkutan material ke lokasi proyek konstruksi, proses konstruksi, operasional gedung, pemeliharaan gedung sampai tahap pembongkaran gedung mengkonsumsi 50% dari seluruh pengambilan material alam dan mengeluarkan limbah sebesar 50% dari seluruh limbah. Oladiran (2008) menuliskan bahwa salah satu penyebab timbulnya limbah konstruksi adalah penggunaan sumberdaya alam melebihi dari apa yang diperlukan untuk proses konstruksi. Limbah yang dihasilkan oleh aktivitas konstruksi seperti tersebut diatas berpotensi menurunkan kualitas lingkungan, sebagaimana dinyatakan oleh Hendrickson dan Horvath pada tahun 2000, bahwa konstruksi berpengaruh secara signifikan terhadap lingkungan.
Kajian tersebut diatas dapat digunakan sebagai bahan evaluasi oleh berbagai pihak untuk memperbaiki aktivitas pengelolaan proyek konstruksi, lebih spesifik untuk meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan. Christini dkk. (2004), menyatakan bahwa faktor kunci untuk mencapai keberhasilan dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan yang bersumber dari kegiatan konstruksi dengan cara mengimplementasikan manajemen lingkungan yang didasarkan pada komitmen dan tujuan yang jelas.
3. BIAYA PEMBUANGAN LIMBAH
Hal 3 dari 9
4. PENDEKATAN KONSEP GREEN
Sebagai respon terhadap fenomena adanya limbah yang dihasilkan oleh aktivitas proyek konstruksi maka diperlukan tindakan nyata berupa pendekatan manajemen yang lebih responsif dalam mengelola proyek konstruksi. Penelitian yang dilakukan oleh Li, X., dkk. pada tahun 2009, menyatakan bahwa proses konstruksi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan relatif lebih kecil, namun dengan meningkatnya jumlah proyek konstruksi dari tahun ke tahun secara agregasi pengaruh proses konstruksi terhadap lingkungan, kesehatan pekerja konstruksi, dan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi pekerjaan dapat menimbulkan permasalahan yang serius. Secara jelas ditegaskan bahwa proses konstruksi berdampak negatif bagi manusia dan lingkungan dimana keduanya
merupakan bagian dari pilar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang
merepresentasikan aspek sosial dan aspek lingkungan. Salah satu kajian terhadap aspek lingkungan yang dilakukan oleh Khanna pada tahun 1999 mengelompokan daya dukung lingkungan menjadi dua komponen, yaitu: kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity).
Aspek pertama, kapasitas penyediaan diterjemahkan sebagai penghematan bahan yang digunakan dalam pembangunan. Widjanarko (2009), menyatakan bahwa secara global, proyek konstruksi mengkonsumsi 50% sumberdaya alam, 40% energi, dan 16% air. Frick dan Suskiyanto (2007), menyatakan bahwa penggunaan sumberdaya tak terbarukan, proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan siap pakai, eksploitasi dari konsumsi yang berlebihan, dan masalah transportasi adalah kontributor dampak lingkungan. Aspek kedua, kapasitas tampung limbah adalah kapasitas lingkungan guna menyesuaikan sifat asli limbah terhadap sifat asli lingkungan sekitar yang disebut dengan asimilasi limbah.
Implementasi kedua aspek tersebut diatas terkait langsung dengan proyek konstruksi, yaitu
penggunaan sumberdaya alam sebagai komponen input dan limbah sebagai komponen
output sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 2. Dalam sistem ini nampak jelas bahwa proses konstruksi adalah kegiatan yang berpotensi menimbulkan limbah, oleh karenanya pengelolaan dalam tahap ini seharusnya direncanakan dan dipersiapkan secara komprehensif oleh pihak-pihak yang terkait langsung.
Sumber: Ervianto, W.I., 2011
Gambar 2. Komponen Daya Dukung Lingkungan
5. DAUR HIDUP PROYEK KONSTRUKSI
Sebagai salah satu bagian dalam daur hidup proyek, kontraktor sebagai pemeran utama dalam proses konstruksi bertugas sebagai eksekutor gambar rencana yang dihasilkan oleh perencana menjadi sebuah bangunan fisik. Sebagai dampak dalam proses ini adalah adanya sejumlah komponen fisik/material bangunan yang tidak dapat dimanfaatkan kembali (limbah). Banyak sedikitnya limbah yang dihasilkan bukan semata-mata hanya ditentukan
Hal 4 dari 9
oleh kontraktor, namun ada pihak lain yang turut andil, yaitu perencana bangunan (arsitek) dan perencana struktur (konstruktor). Idealnya ketiga pihak ini diberikan kesempatan untuk berinteraksi sejak proyek direncanakan guna mendapatkan manfaat yang maksimal.
Selain proses konstruksi yang merupakan kegiatan utama dalam tahap pelaksanaan, kegiatan yang berpotensi menghasilkan limbah dalam daur hidup proyek adalah tahap dekonstruksi, dimana hal ini belum menjadi prioritas bagi arsitek dan konstruktor. Namun dalam konteks pembangunan berkelanjutan sudah seharusnya tahap ini menjadi bagian penting dalam pengelolaan proyek konstruksi. Tentu saja dengan mengakomodasi dekonstruksi sebagai bagian dalam daur hidup proyek akan berdampak terhadap tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 3.
Perencanaan Pengadaan Pelaksanaan Operasi dan perawatan Dekonstruksi
Gambar 3. Daur Hidup Proyek Konstruksi
6. ILUSTRASI LIMBAH KONSTRUKSI
Informasi terkait dengan volume limbah/sampah yang bersumber dari proses pembangunan maupun dari bangunan gedung yang telah habis masa pakainya belum terdeteksi dengan baik di Indonesia. Hal ini menandakan bahwa pemikiran jangka panjang terhadap pengelolaan seluruh bangunan gedung di Indonesia belum terkonsep secara jelas. Untuk mengetahui lebih detil terkait dengan sampah konstruksi di Indonesia dipilih Jakarta. Berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 1227 Tahun 1989, luas wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah 7.659,02 km2, terdiri dari daratan seluas 661,52 km2(661.520.000 m2)
termasuk 110 pulau di Kepulauan Seribu, dan lautan seluas 6.997,50 km2. Menurut catatan
Collier International Research, luas bangunan kantor baru di Jakarta adalah 551.670 m2, luas total eksisting bangunan kantor adalah 5.948.590 m2 sehingga luas total bangunan
kantor adalah 6.500.260 m2. Struktur utama bangunan gedung yang umum digunakan
adalah beton bertulang dengan perkiraan masa pakai ± 50 tahun. Jika setiap 1m2 bangunan
menimbulkan limbah ± 0,3542 m3 material komponen struktur bangunan, maka dalam 50
tahun mendatang limbah struktur bangunan yang akan ditimbulkan sebesar ± 3480,46 m3
/km2. Angka ini belum memperhitungkan limbah komponen arsitektural bangunan gedung.
Selain itu, infrastruktur lain seperti jalan layang, bendung, waduk dan lainnya belum diperhitungkan. Tentu saja hal ini akan menjadi beban bagi lingkungan bila tidak ada perencanaan sejak awal dan tindakan preventif dalam pengelolaan bangunan.
7. PENGELOLAAN HULU HILIR DAUR HIDUP PROYEK
Untuk menekan timbulnya limbah/sampah konstruksi dapat dilakukan dengan cara mengelola tahap di bagian hulu daur hidup proyek, yaitu perencanaan. Diubahnya paradigma tahap perencanaan dengan pendekatan berbeda yang didasarkan pada konsep
green, yaitu meminimalkan waste dan memaksimalkan value. Pendekatan ini akan berdampak pada tahap pelaksanaan. Selain itu, perubahan kerangka pikir ini harus mampu menjangkau tahap di bagian hilir daur hidup proyek yaitu dekonstruksi. Kedua tahap ini merupakan kunci penting dalam mereduksi timbulnya limbah/sampah konstruksi.
Pengelolaan (Hulu) Tahap Perencanaan
Hal 5 dari 9
relasi terhadap tahap pelaksanaan dan apabila tidak dilakukan intervensi positif maka akan terjadi kecenderungan meningkatnya jumlah limbah yang dihasilkan. Dengan anggapan yang sama, tahap perencanaan juga berelasi dengan tahap dekonstruksi sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 4. Sedangkan dalam gambar 5 diperlihatkan aliran informasi tahap perencanaan terhadap tahap pelaksanaan.
Tahap Perencanaan
Tahap Pelaksanaan
Tahap Dekonstruksi
tanpa intervensi
tanpa intervensi limbah
tanpa intervensi
limbah
limbah
Gambar 4. Relasi Tahap Perencanaan Terhadap Tahap Pelaksanaan dan Dekonstruksi
Sumber: dimodifikasi dari Couto A., dan Couto J.P.
Gambar 5. Peran Berbagai Pihak Dalam Daur Hidup Proyek
Jika aliran data diyakinkan dapat berjalan dengan baik (flowing), permasalahan berikutnya
adalah menciptakan value dan memindahkannya kepada kontraktor agar volume limbah
yang dihasilkan berkurang bahkan tanpa limbah sama sekali. Dalam hal ini, hasil rancangan arsitek berupa dokumen perencanaan berpotensi sebagai pemicu menimbulkan limbah dalam jumlah yang bervariasi tergantung dari kemampuan dan perhatian arsitek terhadap limbah. Premis yang dgunakan adalah semakin kecil jumlah limbah yang dihasilkan maka semakin efisien proses konstruksi dalam penggunaan sumberdaya alam. Agar mendapatkan manfaat maksimal, sebuah perencanaan sebaiknya dapat diukur kualitasnya. Namun sampai dengan saat ini (sepengetahuan penulis) belum ada sistem yang dipublikasikan untuk mengukur kualitas perencanaan di Indonesia. Hal ini merupakan tantangan/peluang untuk melakukan kajian yang mendalam sehingga ukuran keberhasilan sebuah perencanaan dapat
Hal 6 dari 9 assessment tool yang dikembangkan oleh Gibberd, J., (2003), sebagaimana diperlihatkan gambar 6.
Sumber: Gibberd, J., 2003.
Gambar 6. Sustainable Building Assessment Tool
Relasi Antara Tahap Perencanaan Dengan Tahap Pelaksanaan
Seandainya ukuran keberhasilan sebuah perencanaan telah terdefinisikan dengan jelas maka dapat diketahui dampaknya yang diukur dalam tahap pelaksanaan. Di Indonesia
sistem assessment green construction dalam tahap pelaksanaan sedang dikembangkan
oleh Ervianto, W.I. sejak tahun 2011 dimana saat ini sedang dalam taraf uji coba. Keluaran
dalam sistem ini mencakup tujuh aspek dan 16 faktor green construction sebagaimana
diperlihatkan gambar 7.
Sumber: Ervianto, W.I., 2011
Gambar 7. Green Construction Assessment Tool
Salah satu contoh kegiatan dalam perancangan yang berdampak pada pelaksanaan adalah penerapan sistem modular. Hal ini terkesan sederhana namun berdampak besar bagi kontraktor pada saat melaksanakan pekerjaan di lapangan terutama dalam mereduksi limbah yang terjadi. Contoh lainnya adalah dimungkinkannya kontraktor melaksanakan proses konstruksi secara pracetak. Tentu volume limbah yang dihasilkan relatif kecil jika dibandingkan dengan cara konvensional. Namun untuk menerapkannya diperlukan standar minimum tertentu agar mendapatkan manfaat.
Hal 7 dari 9
Dalam konteks keberlanjutan, dekonstruksi menjadi tahapan penting untuk diakomodasi yang menjadi bagian akhir dalam daur hidup proyek. Dekonstruksi didefinisikan sebagai pembongkaran bangunan secara hati-hati yang bertujuan untuk memaksimalkan
penggunaan kembali (reuse) komponen bangunan dan melakukan proses daur ulang
(recycle) terhadap jenis material tertentu sehingga jumlah material yang dibuang ke lingkungan seminimal mungkin. Salah satu strategi dalam membongkar sebuah bangunan adalah memilih material yang masih mempunyai nilai dan membuang yang benar-benar tidak dapat digunakan lagi (Guy, 2001). Manfaat nyata dekonstruksi tidak lain adalah memperpanjang daur hidup material bangunan, dan apabila memungkinkan terbentuk siklus tertutup sehingga tidak menghasilkan limbah sedikitpun.
Beberapa hal penting agar dekonstruksi dapat berjalan baik adalah: (a) mengutamakan kesederhanaan, (b) meminimalkan kompleksitas bangunan, (c) meminimalkan pemakaian jenis material, (d) meminimalkan jumlah komponen, (e) mengoptimalkan alat sambung antar komponen bangunan, (f) memprioritaskan penggunaan alat sambung mekanik sebagai pengganti perekat/lem, (g) menyederhanakan sambungan antar komponen bangunan, (h) menempatkan sambungan antar komponen agar mudah dijangkau, (i) memisahkan antar sistem bangunan, (j) menggunakan material yang dapat dikembalikan dalam bentuk asalnya, (k) meminimalkan/menghindari penggunaan bahan berbahaya, (l) menghindari penggunaan material komposit, (m) mengutamakan penggunaan sistem modular, (n) menyiapkan akses untuk komponen bangunan/jendela, (o) kemudahan informasi (gambar konstruksi, identifikasi material dan komponen, ukuran komponen struktur bangunan).
Umumnya pekerjaan dekonstruksi dilakukan secara manual oleh tukang atau menggunakan peralatan berat yang dilakukan secara hati-hati. Jika dibandingkan dengan demolisi, dekonstruksi membutuhkan waktu yang lebih lama dikarenakan tujuan proses ini adalah melepas komponen bangunan untuk digunakan kembali dalam pembangunan lainnya. Pertimbangan yang digunakan dalam memilih dekonstruksi atau demolisi didasarkan pada: (a) kualitas dan jumlah material yang masih berpotensi untuk digunakan, (b) pertimbangan pasar terhadap material/komponen yang masih dapat digunakan, (c) adanya material yang berbahaya, (d) waktu yang tersedia untuk membongkar bangunan. (Ervianto, W.I., 2012)
Relasi Antara Tahap Perencanaan Dengan Tahap Dekonstruksi
Konsep perencanaan untuk dekonstruksi diadopsi dari sektor manufaktur yang
mengenalkan tentang reuse, recycle pada tahun 1990. Tujuannya adalah untuk mengurangi
dampak lingkungan serta memperpanjang umur bahan bangunan melalui proses daur ulang (Fleming, D., 2009). Diakomodasinya dekonstruksi dalam daur hidup proyek mengandung konsekuensi bagi perencana, yaitu untuk memperluas lingkup pemikiran dan pertimbangan dalam perencanaannya, terutama pengetahuan baru untuk mengurai komponen bangunan, menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycling), memperbaiki (repairability), mengembalikan produk dalam bentuk semula sehingga mampu memperpanjang umur manfaat bangunan.
Konsep ini diawali dengan menerapkan praktik perencanaan dalam sebuah bangunan dengan anggapan seluruh/sebagian bahan bangunan akan dimanfaatkan kembali di akhir masa pakainya. Oleh karenanya, dalam tahap perencanaan, perencana harus telah mengetahui umur pakai setiap komponen bangunan dan telah mempunyai rencana
pengelolaanya diakhir masa pakainya (reuse, recycle). Informasi ini dapat digunakan
Hal 8 dari 9
pemanfaatan material bangunan; (b) Pengurangan energi yang dibutuhkan selama
pemanfaatannya; (c) Pengurangan emisi CO2; (d) Meminimalkan jejak ekologis dalam
sebuah bangunan. Selain itu, perencana bangunan diarahkan untuk berpikir secara sistematis bagaimana sebuah bangunan akan dibongkar jika masa pakainya telah habis (Grammenous, F. & Russel, P, 1997).
Relasi Antara Tahap Pelaksanaan Dengan Tahap Dekonstruksi
Pada umumnya para perencana bangunan (arsitek, konstruktor) dan pelaksana bangunan (kontraktor) mempertimbangkan bagaimana sebuah bangunan dapat dilaksanakan dan dapat digunakan secara aman dan nyaman sampai umur bangunan yang direncanakan. Namun dengan diakomodasinya dekonstruksi dalam daur hidup maka perencana bangunan dituntut untuk mengakomodasi sistem struktur yang memungkinkan untuk melepas komponen bangunan secara mudah, aman namun tetap mempertimbangkan keutuhan strukturnya.
8. KONKLUSI
Secara umum perlu adanya perubahan paradigma dalam mengelola proyek. Pola terpisahnya antar pihak yang terlibat dalam proyek diusulkan agar berelasi terhadap pihak lain melalui tatanan baru yang lebih komprehensif dalam hal konten, tanggungjawab, dan rentang koordinasi. Perlu adanya peningkatan kapasitas pengetahuan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi melalui seminar, training, dan media komunikasi lain yang efektif agar terjadi kesamaan persepsi.
Perlu membangun relasi dengan kelompok industri agar terjadi transfer of knowledge dalam
hal material baru, sistem konstruksi. Pertukaran informasi antara konsultan, kontraktor, akademisi dengan sektor industri dipercaya mampu menghasilkan inovasi teknologi yang mempunyai value lebih baik.
Sebuah kebutuhan yang mendesak untuk segera dilakukan penelitian dibidang perancangan
guna menetapkan indikator green yang harus dipenuhi dalam karya arsitektur. Dengan
adanya instrumen ini diharapkan akan segera terwujud value stream dalam sebuah proyek konstruksi dalam daur hidup proyek konstruksi secara lengkap.
9. REFERENSI
1. …….., Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Hijau.
2. Anink, D., et.all. 1996 : The Handbook of Sustainable Building: Ecological Choice of Materials in Construction and Renovation, James and James Science Publisher, London 3. Bossink, B.A.G., and Brouwers, H.J., 1996, Construction Waste:Quantification and
Source Evaluation, Journal of Construction Engineering and Management, March.
4. Christini, G., Fetsko, M., & Hendrickson, C., 2004, “Environmental management system
and ISO 14001 Certification for Construction Firms”Journal of Construction Engineering
and Management., hh 330-336.
5. Conseil International du Batiment, 1994.
6. Couto, A., dan Couto, P., “Guideline To Improve Construction And Demolition Waste
Management In Portugal” University of Minho, Portugal.
7. Craven, E. J., Okraglik, H. M., and Eilenberg, l.M. L994, “Construction waste and a new
Hal 9 dari 9
8. Ervianto, W.I., 2011, “Pengembangan Model Assessment Green Construction Pada
Proses Konstruksi Untuk Proyek Konstruksi di Indonesia” dalam Konferensi Nasional
Pascasarjana Teknik Sipil 2011, Institut Teknologi Bandung, 20 Desember 2011
9. Ervianto, W.I., 2012 “Material Konstruksi Berkelanjutan” Majalah Media Tren Konstruksi, Halaman 62, Edisi September-Oktober 2012.
10. Ervianto, W.I., 2012 ”Green Construction Sebuah Opsi Penyelamatan Lingkungan” Majalah Konstruksi, Halaman 48, No.415, Tahun XXXV Juli 2012.
11.
Ervianto, W.I., 2012, “Pengelolaan Bangunan Habis Pakai Dalam Aspek Sustainability”dalam Konferensi Nasional Teknik Sipil ke-6, Universitas Trisakti Jakarta, 1-2 November 2012.
12. Ervianto, W.I., 2012, “Selamatkan Bumi Melalui Konstruksi Hijau” Penerbit ANDI,
Yogyakarta
13. Ferguson, J., Kermode, N., Nash, C.L., Sketch, W. A.J., and Huxford, R., P. L995,
“Managing and minimizing construction waste-A practical guide, Institution of civil engineers, London.
14. Fleming, D., 2009, “Design For Deconstruction, Architecture and Interior Design”, University of Cincinnati.
15. Frick, H & Suskiyanto B, 2007, Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
16. Gibberd, J., 2003, “Sustainable Building Assessment Tool, Integrating Sustainability Into
Current Design And Building Processes”, Pretoria South Africa.
17. Grammenous F. & Russel P. 1997, “CMHC Building Adaptability: A View from the Future”.
18. Guy, B., 2001, “Building Deconstruction Assessment Tool”, CIB World Building Congress - Deconstruction Meeting, Wellington, New Zealand, p.125-138.
19. Hendrickson, C dan Horvath, A, 2000, “Resource use and environmental emissions of
U.S. construction sectors”, Journal Construction Engineering Management., 126 (1), hh.
38-44.
20. http://dds.bps.go.id/diunduh 14 Mei 2012
21. Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional, 2007, Konstruksi Indonesia 2030 Untuk Kenyamanan Lingkungan Terbangun, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional, Jakarta.
22. Oladiran, O. J., 2008, 'Lean in Nigerian construction: State barriers, strategies and 'Go-to-Gemba' approach, in Proceeding of the IGLC-16, Menchester, UK, L6-1.8 July,287-297.
23. Rogoff, M., and Williams, J. F., 1994., “Approaches to implementing solid waste recycling facilities”, Notes, Park Ridge, N.