• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Variasi Arus Pengelasan dan Variasi Diameter Elektroda Terhadap Kekuatan Tarik Pada Stainless Steel AISI 304

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Variasi Arus Pengelasan dan Variasi Diameter Elektroda Terhadap Kekuatan Tarik Pada Stainless Steel AISI 304"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Baja

2.1.1 Sejarah Baja

Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa

elemen lainnya, termasuk karbon.Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar

antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada

dalam baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen,

nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk

membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel,

krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium. Dengan

memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis

kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur

pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada kisi kristal (crystal lattice)

atom besi.

Sejarah besi dimulai pada awal penggunaannya yaitu di tahun sekitar antara 1500

SM hingga 1100 SM. Selama 400 tahun, bangsa Hittites merahasiakan adanya

pembuatan besi pada saat masih dikuasai oleh bangsa dari Asia Barat. Ketika

tahun 1000 SM, proses dari peleburan besi mulai diketahui oleh bangsa bangsa

lain seperti misalnya bangsa Yunani, Roma, Mesir, Yahudi, Carhaginians serta

bangsa Asyiria. Pada tahun 800 SM, India mulai membuat dan menggunakan besi

dalam kehidupan mereka setelah adanya penyerangan dari bangsa Arya. Bangsa

China mulai belajar untuk membuat besi sekitar tahun 700 hingga 600 SM.

(2)

hingga 500 SM. Dilanjutkan pada tahun 250 SM, bangsa India menemukan cara

pembuatan dari baja. Unsur lain mulai ditemukan pada tahun 1000 M ketika

masih dalam kekaisaran Fatim yang kemudian dinamakan dengan baja Damaskus.

Rahasia dari pembuatan baja Damaskus hilang dari muka Bumi pada tahun 1300

M. Kemudian di tahun 1700 M, penggunaan dan pembuatan baja mulai diteliti

kembali oleh orang orang di Eropa.

Sebelum diperkenalkannya metode produksi Bessmer dan berbagai teknik

produksi modern lainnya, baja termasuk material yang mahal dan hanya

digunakan ketika tidak ada material alternatif yang lebih murah, khususnya untuk

bagian tajam dari pisau, alat pencukur, dan pedang, dan berbagai alat perkakas

yang membutuhkan bagian yang keras dan tajam. Baja pada saat itu juga

digunakan untuk pegas, termasuk pegas yang digunakan pada jam. Dengan

berkembangnya metode produksi yang lebih cepat dan ekonomis, baja menjadi

lebih mudah didapat dan menjadi jauh lebih murah.

Perkembangan ekonomi di India dan Cina yang pesat mengakibatkan peningkatan

permintaan baja pada tahun belakangan ini.Antara tahun 2000 hingga 2005,

permintaan dunia terhadap baja meningkat sekitar 6%. Sejak tahun 2000,

beberapa perusahaan baja Cina dan India telah menjadi perusahaan besar di

industri ini, seper

Pada ta

produsen baja terbesar di dunia, sekitar sepertiga produksi baja dunia berasal dari

(3)

Tahun 2008, baja menjadi komoditas perdagangan di London Metal

Exchange.Pada akhir 2008, industri baja sempat terjatuh sehingga banyak

menyebabkan pemutusan hubungan kerja.

2.1.2 Sifat-sifat Baja

Baja mempunyai sejumlah sifat yang membuatnya menjadi bahan bangunan yang

sangat berharga. Beberapa sifat baja yang penting adalah:

1. Kekuatan

Baja mempunyai daya tarik,lengkung, dan tekan yang sangat besar. Pada setiap

partai baja, pabrikan baja menandai beberapa besar daya kekuatan baja

itu.Pabrikan baja misalnya, memasukan satu partai baja batangan dan

mencatumkan pada baja itu Fe 360.di sini Fe menunjukan bahwa partai itu

menunjukkan daya kekuatan (minimum) tarikan atau daya tarik baja itu. Yang

dimaksud dengan istilah tersebut adalah gaya tarik N yang dapat dilakukan baja

bergaris tengah 1 mm2 sebelum baja itu menjadi patah. Dalam hal ini daya tarik

itu adalah 360 N/mm2.dahulu kita mencantumkan daya tarik baja itu Fe 37, karena

daya tariknya adalah 37 kgf/mm2, karena mengandung sedikit kadar karbon, maka

semua jenis baja mempunyai daya tarik yang kuat. Oleh karena daya tarik baja

yang kuat maka baja dapat menahan berbagai tegangan, seperti tegangan lentur.

2. Kekerasan

Baja itu sangat keras sehingga dapat dipakai sebagai bahan konstruksi, baja

mungkin saja digunakan untuk berbagai tujuan. Apabila untuk produk-produk

baja tertentu ada suatu keharusan, maka bisa saja baja itu dengan cara dipanaskan

(4)

3. Ketahanan terhadap korosi

Tanpa perlindungan, baja sangat cepat berkarat. Untung saja baja diberikan

perlindungan yang sangat efektif dengan berbagai cara, yaitu :

a. Perawatan dengan panas

Kekerasan yang lebih besar adalah sangat penting untuk benda-benda tertentu

yang dibuat dari baja. Yang dimaksud dari kekerasan suatu bahan adalah

ketahanannya terhadap bisa atau tidak dimasuki oleh bahan lain. Untuk dapat

mencapai kekerasan yang tinggi, maka diperlukan sistim perawatan dengan panas

khusus yang disebut “pengerasan”.

Ada beberapa cara untuk mengeraskanbaja :

- mengeraskan secara mendalam:Benda dari baja baik bagian luar maupun bagian

dalam dibuat menjadi sangat keras.

- mengeraskan permukaan:Hanya bagian luar saja yang keras sedangkan bagian

intinya tidak.

b. Pengerasan yang mendalam

Pada pengerasan mendalam, benda yang sudah terbentuk, dipanaskan dengan

temperatur yang cukup tinggi. Kemudian dengan cepat didinginkan, tindakan ini

disebut mengejutkanbaja. Pendinginan ini bisa dilakukan di dalam air minyak atau

udara.Benda itu menjadi keras bukan hanya bagian luar saja, tetapi juga intinya

menjadi keras. Dengan cara ini baja menjadi cepat rapuh, berarti baja itu dapat

cepat patah.

c. Pengerasan permukaan

Untuk peralatan-peralatan tertentu hanya bagian luarnya saja yang harus

(5)

lentur. Hal ini dapat dicapai dengan hanya mengeraskan bagian permukaan dari

benda tersebut. Pengerasan permukaan dipakai pada poros engkol (crankshaft),

kopling akar,cacing,roda cacing, dan gigi cacing.

d. Tempering

Tempering adalah memanaskan baja yang sudah diperkeras dengan temperatur

yang cukup rendah (180oC), diikuti dengan pendinginan secara

perlahan-lahan.Tempering dilakukan dengan tujuan memberikan struktur yang lebih merata

pada bahan itu. Lewat proses ini maka baja yang telah diperkeraskan tadi hanya

sedikit saja yang diperlunak, tetapi baja itu menjadi tidak begitu rapuh. Karena

tempering, produk tersebut menjadi terhindar dari perubahan bentuk (pertambahan

isi) sebagai kibat proses pengerasan. Hal ini, terutama ukuran akhir dan

semacamnya sangat penting untuk alat pengukur yang tepat seperti caliber.

2.1.3 Klasifikasi Baja

1) Menurut kekuatannya terdapat beberapa jenis baja, diantaranya: ST 37, ST42,

ST 50, dst. Standart DIN (Jerman) St X X kekuatan dalam kg/mm2steel (baja).

Contoh : ST37: baja dengan kekuatan 37 kg/mm2.

2) Menurut komposisinya, yaitu :

a. Baja karbon rendah (low carbon steel): C~0,25 %

b. Baja karbon menengah (medium carbon steel): C=0,25%-0,55%

c. Baja karbon tinggi (high carbon steel): C>0,55%

d. Baja paduan rendah (low alloysteell):unsur paduan < 10 %

(6)

3) Menurut mikrostrukturnya, yaitu :

a. Baja hipoeutektoik: ferit dan ferlit

b. Baja eutektoit: perlit

c. Baja bainit

d. Baja martensit

4) Menurut cara pembuatannya

a. Baja Bessemer

b. Baja Siemen- Martin

c. Baja Listrik dan lain-lain

5) Menurut penggunaannya :

a. Baja konstruksi

b. Baja mesin

c. Baja pegas

d. Baja ketel

e. Baja perkakas

6) Menurut bentuknya

a. Baja pelat

b. Baja strip

c. Baja sheet

d. Baja pipa

(7)

2.1.4 Jenis-jenis Baja

Baja secara umum dapat dikelompokkan atas 4 jenis yaitu :

- Baja karbon (Carbon steel) - Baja Paduan Khusus (special alloy steel)

- Baja paduan (Alloy steel) - High Speed Steel (HSS)

1) Baja Karbon (carbon steel)

Baja karbon dapat terdiri atas :

a. Baja karbon rendah (low carbon steel)

Machine, machinery dan mild steel (0,05 % – 0,30% C ) Sifatnya mudahditempa

dan mudah di mesin. Penggunaannya:

• 0,05 % – 0,20 % C : automobile bodies, buildings, pipes, chains, rivets,screws,

nails.

• 0,20 % – 0,30 % C : gears, shafts, bolts, forgings, bridges, buildings

b. Baja karbon menengah (medium carbon steel )

− Kekuatan lebih tinggi daripada baja karbon rendah.

− Sifatnya sulit untuk dibengkokkan, dilas, dipotong.

Penggunaan:

− 0,30 % – 0,40 % C : connecting rods, crank pins, axles.

− 0,40 % – 0,50 % C : car axles, crankshafts, rails, boilers, auger bits,

screwdrivers.

− 0,50 % – 0,60 % C : hammers dan sledges

c. Baja karbon tinggi (high carbon steel)

(8)

2) Baja Paduan (Alloy steel)

Tujuan dilakukan penambahan unsur yaitu:

− Untuk menaikkan sifat mekanik baja (kekerasan, keliatan, kekuatan tarik dan

sebagainya).

− Untuk menaikkan sifat mekanik pada temperatur rendah.

− Untuk meningkatkan daya tahan terhadap reaksi kimia (oksidasi dan reduksi).

− Untuk membuat sifat-sifat spesial.

Baja paduan yang diklasifikasikan menurut kadar karbonnya dibagimenjadi:

Low alloy steel, jika elemen paduannya ≤ 2,5 % .

Medium alloy steel, jika elemen paduannya 2,5 – 10 %.

High alloy steel, jika elemen paduannya > 10 %.

Baja paduan juga dibagi menjadi dua golongan yaitu baja campuran

khusus(special alloy steel) &high speed steel.

3) Baja Paduan Khusus (special alloy steel)

Baja jenis ini mengandung satu atau lebih logam-logam seperti nikel, chromium,

mangan, molybdenum, tungsten dan vanadium. Denganmenambahkan logam

tersebut ke dalam baja maka baja paduan tersebut akanmerubah sifat-sifat

mekanik dan kimianya seperti menjadi lebih keras, kuat danulet bila dibandingkan

terhadap baja karbon (carbon steel).

4) High Speed Steel (HSS) Self Hardening Steel

Kandungan karbon : 0,70 % – 1,50 %. Penggunaan membuat alat-alat

potongseperti drills, reamers, countersinks, lathe tool bits dan milling cutters.

(9)

dapatdioperasikan dua kali lebih cepat dibanding dengan carbon steel.Sedangkan

hargadari HSS besarnya dua sampai empat kali dari pada carbon steel.

Jenis Lainnya:

− Baja dengan sifat fisik dan kimia khusus:

− Baja tahan garam (acid-resisting steel)

− Baja tahan panas (heat resistant steel)

− Baja tanpa sisik (non scaling steel)

Electric steel

Magnetic steel

Non magnetic steel

− Baja tahan pakai (wear resisting steel)

− Baja tahan karat/korosi

Dengan mengkombinasikan dua klasifikasi baja menurut kegunaan dankomposisi

kimia maka diperoleh lima kelompok baja yaitu:

− Baja karbon konstruksi (carbon structural steel)

− Baja karbon perkakas (carbon tool steel)

− Baja paduan konstruksi (Alloyed structural steel)

− Baja paduan perkakas (Alloyed tool steel)

− Baja konstruksi paduan tinggi (Highly alloy structural steel)

2.1.5 Stainless Steel (SS)

Baja stainless merupakan baja paduan yang mengandung minimal 10,5% Cr.

Sedikit baja stainless mengandung lebih dari 30% Cr atau kurang dari 50% Fe.

Karakteristik khusus baja stainless adalah pembentukan lapisan film kromium

(10)

secara kasat mata. Lapisan kromium oksida dapat membentuk kembali jika

lapisan rusak dengan kehadiran oksigen. Pemilihan baja stainless didasarkan

dengan sifat-sifat materialnya antara lain ketahanan korosi, fabrikasi, mekanik,

dan biaya produk.

Penambahan unsur-unsur tertentu kedalam baja stainless dilakukan dengan tujuan

sebagai berikut :

1. Penambahan Molibdenum (Mo) bertujuan untuk memperbaiki ketahanan korosi

pitting dan korosi celah

2. Unsur karbon rendah dan penambahan unsur penstabil karbida (titanium atau

niobium) bertujuan menekan korosi batas butir pada material yang mengalami

proses sensitasi.

3. Penambahan kromium (Cr) bertujuan meningkatkan ketahanan korosi dengan

membentuk lapisan oksida (Cr2O3) dan ketahanan terhadap oksidasi temperatur

tinggi.

4. Penambahan nikel (Ni) bertujuan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam

media pengkorosi netral atau lemah. Nikel juga meningkatkan keuletan dan

mampu bentuk logam.Penambahan nikel meningkatkan ketahanan korosi

tegangan.

5. Penambahan unsur molybdenum (Mo) untuk meningkatkan ketahanan korosi

pitting di lingkungan klorida.

6. Unsur aluminium (Al) meningkatkan pembentukan lapisan oksida pada

temperature tinggi.

Umumnya berdasarkan paduan unsur kimia dan presentasi, baja stainless dibagi

(11)

Baja stainless martensitik.

Baja ini merupakan paduan kromium dan karbon yang memiliki struktur martensit

Body Centered Tetragonal(BCT) terdistorsi saat kondisi bahan dikeraskan.Baja ini

merupakan ferromagnetic, bersifat dapat dikeraskan dan umumnya tahan korosi di

lingkungan kurang korosif. Kandungan kromium umumnya berkisar antara 10,5 –

18%, dan karbon melebihi 1,2%. Kandungan kromium dan karbon dijaga agar

mendaptkan struktur martensit saat proses pengerasan. Karbida berlebih

meningkatkan ketahanan aus. Unsur niobium, silicon,tungsten dan vanadium

ditambah untuk memperbaiki proses temper setelah proses pengerasan. Sedikit

kandungan nikel meningkatkan ketahan korosi dan ketangguhan.

Baja stainless Ferritik

Baja jenis ini mempunyai struktur Body Centered Cubic (BCC).Unsur kromium

ditambahkan ke paduan sebagai penstabil ferrit. Kandungan kromium umumnya

kisaran 10,5 – 30%. Beberapa tipe baja mengandung unsur molybdenum, silicon,

aluminium, titanium dan niobium. Unsur sulfur ditambahkan untuk memperbaiki

sifat mesin. Paduan ini merupakan ferromagnetic dan mempunyai sifat ulet dan

mampu bentuk baik namun kekuatan di lingkungan suhu tinggi lebih rendah

dibandingkan baja stainless austenitic.Kandungan karbon rendah pada baja ferritik

tidak dapat dikeraskan dengan perlakuan panas.

Tingkat kekerasan beberapa tipe baja stainless ferritik dapat ditingkatkan dengan

cara celup cepat. Metode celup cepat merupakan proses pencelupan banda kerja

secara cepat dari keadaan temperature tinggi ke temperature ruang. Sifat mampu

las, keuletan, ketahanan korosi dapat ditingkatkan dengan mengatur kandungan

(12)

Baja Stainless austenitik

Baja Stainless austenititk merupakan paduan logam besi-krom-nikel yang

mengandung 16-20% kromium, 7-22%wt nikel, dan nitrogen. Logam paduan ini

merupakan paduan berbasis ferrous dan struktur kristalFace Centered Cubic

(FCC). Struktur kristal akan tetap berfasa austenit bila unsur nikel dalampaduan

diganti mangan (Mn) karena kedua unsur merupakan penstabil fasa austenit. Fasa

austenitic tidak akan berubah saat perlakuan panas anil kemudian didinginkan

pada temperatur ruang. Baja stainless austenitik tidak dapat dikeraskan melalui

perlakuan celup cepat (quenching).Umumnya jenis baja ini dapat tetap menjaga

sifat asutenitik pada temperature ruang, lebih bersifat ulet dan memiliki ketahanan

korosi lebih baik dibandingkan baja stainless ferritik dan martensit.

Baja stainless austenitic hanya bisa dikeraskan melalui pengerjaan dingin.Material

ini mempunyai kekuatan tinggi di lingkungan suhu tinggi dan bersifat cryogenic.

Tipe 2xx mengandung nitrogen, mangan 4-15,5%wt, dan kandungan 7%wt nikel.

Tipe 3xx mengandung unsur nikel tinggi dan maksimal kandungan mangan 2%wt.

Unsur molybdenum, tembaga, silicon, aluminium,titanium dan niobium ditambah

dengan karakter material tertentu seperti ketahanan korosi sumuran atau oksidasi.

Sulfur ditambah pada tipe tertentu untuk memperbaiki sifat mampu mesin.

(13)

Salah satu jenis baja stainless austenitic adalah AISI 304.Baja austenitic ini

mempunyai struktur kubus satuan bidang (face center cubic) dan merupakan baja

dengan ketahanan korosi tinggi. Komposisi unsur – unsur pemadu yang

terkandung dalam AISI 304 akan menentukan sifat mekanik dan ketahanan korosi.

Baja AISI 304 mempunyai kadar karbon sangat rendah 0,08%wt. Kadar kromium

berkisar 18-20%wt dan nikel 8-10,5%wt yang terlihat pada Tabel 1. Kadar

kromium cukup tinggi membentuk lapisan Cr2O3 yang protektif untuk

meningkatkan ketahanan korosi. Komposisi karbon rendah untuk meminimalisai

sensitasi akibat proses pengelasan.

Tabel 2.1 Komposisi Kimia Baja AISI 304

Unsur %wt

Komposisi kandungan unsure dalam baja AISI 304 tersebut diperoleh sifat

mekanik material yang ditunjukan pada Tabel 2.2

Tabel 2.2 Sifat Mekanik AISI 304

Poison Tensile Yield Elong Hard Mod Density

0,27-0,30 515 205 70 82 197 8

Keterangan :

Poison : Rasio Poison Density : berat jenis (g/m3)

Tensile : Tensile strength (MPa) Mod : Modulus elastisitas (GPa)

Yield : Yield Strength (MPa) Hard : Kekerasan (HRB)

(14)

Tabel 2.3 Sifat Fisik Dan Listrik AISI 304 pada Kondisi Annealed

Density (kg/m3) Thermal konduktivitas (W/mK)

Spesific heat

(J/kgK)

Modulus of Elasticity

7,9 16,2 500 193

Baja Stainless Dupleks

Jenis baja ini merupakan paduan campuran struktur ferrite (bcc) dan austenit.

Umumnya paduan-paduan didesain mengandung kadar seimbang tiap fasa saat

kondisi anil. Paduan utama material adalah kromium dan nikel, tapi nitrogen,

molybdenum,tembaga,silicon dan tungsten ditambah untuk menstabilkan struktur

dan memperbaiki sifat tahan korosi. Ketahanan korosi baja stainless dupleks

hampir sama dengan baja stainless austenitik. Kelebihan baja stainless dupleks

yaitu nilai tegangan tarik dan luluh tinggi dan ketahanan korosi retak tegang lebih

baik dari pada baja stainless austenitik.Ketangguhan baja stainless dupleks antara

baja austenitic dan ferritik.

Baja Stainless Pengerasan Endapan

Jenis baja ini merupakan paduan unsure utama kromium-nikel yang mengandung

unsur precipitation-hardening antara lain tembaga, aluminium, atau titanium. Baja

ini berstruktur austenitic atau martensitik dalam kondisi anil.Kondisi baja berfasa

austenitic dalam keadaan anil dapat diubah menjadi fasa martensit melalui

perlakuan panas.Kekuatan material melalui pengerasan endapan pada struktur

(15)

2.2 Pengelasan

2.2.1 Sejarah Pengelasan

Berdasarkan penemuan benda-benda sejarah dapat diketahui bahwa teknik

penyambungan logam telah diketahui sejak zaman prasejarah, misalnya pematrian

timbal-timah menurut keterangan yang didapat telah diketahui dan dipraktekkan

dalam rentang waktu antara 4000 sampai 3000SM. Sumber energi panas yang

dipergunakan pada waktu itu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu atau arang.

Berhubung suhu yang diperoleh dengan pembakaran kayu dan arang sangat

rendah maka teknik penyambungan ini pada waktu itu tidak dikembangkan lebih

lanjut.

Setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, teknologi pengelasan

maju dengan pesat sehingga menjadi suatu teknik penyambungan yang

mutakhir.Cara-cara dan teknik pengelasan yang banyak digunakan pada waktu ini

seperti las busur las resistansi listrik, las termit dan las gas, pada umumnya

diciptakan pada akhir abad ke-19.Alat-alat busur dipakai secara luas setelah alat

tersebut digunakan dalam praktek oleh Benardes dalam tahun 1885.Dalam

penggunaan yang pertama ini Benardes memakai elektroda yang dibuat dari

batang karbon atau grafit.

Dengan mendekatkan elektroda kelogam induk atau logam yang akan dilas

sejarak kira-kira 2 mm, maka terjadi busur listrik yang merupakan sumber panas

dalam proses pengelasan. Karena panas yang timbul, maka logam pengisi yang

terbuat dari logam yang sama dengan logam induk mencair dan mengisi tempat

sambungan. Dalam tahun 1889, Zerner mengembangkan cara pengelasan busur

(16)

karbon. Dengan cara ini busur yang dihasilkan ditarik ke logam dasar oleh gaya

elektromagnet sehingga terjadi semburan busur yang kuat.

Slavianoff dalam tahun 1892 adalah orang pertama yang menggunakan kawat

logam elektroda yang turut mencair karena panas yang ditimbulkan oleh busur

listrik yang terjadi.Dengan penemuan ini maka elektroda di samping berfungsi

sebagai penghantar dan pembangkit busur listrik juga berfungsi sebagai logam

pengisi.Kemudian Kjellberg menemukan bahwa kualitas sambungan las menjadi

lebih baik bila kawat elektroda logam yang digunakan dibungkus dengan

terak.Penemuan ini adalah permulaan dari penggunaan las busur dengan elektroda

terbungkus yang sangat luas penggunaanya pada waktu ini.

Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai sampai

dengan tahun 1950, telah mulai mempercepat lagi kemajuan dalam bidang

las.Karena itu, tahun 1950 dapat dianggap sebagai permulaan masa keemasan

yang ketiga yang masih terus berlangsung terus sampai sekarang. Selama masa

keemasan yang ketiga ini telah ditemukan cara-cara las baru antara lain las tekan

dingin, las listrik terak, las busur dengan perlindungan gas CO2, las gesek, las

ultrasonik, las sinar elektron, las busur plasma, las laser dan masih banyak lagi

lainnya. Jumlah penemuan pada tahun-tahun tertentu dan jenis pengelasan yang

ditemukan dipergunakan dalam praktek pada waktu ini, sebagian masih

memerlukan perbaikanyang mungkin dalam waktu yang dekat akan menjadi lebih

bermanfaat dan dapat merupakan sumbangan yang berharga kepada kemajuan

(17)

Gambar. 2.2 Perkembangan Cara Pengelasan (Wiryosumarto,2004) 2.2.2 Pengertian Pengelasan

Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Norman)adalah ikatan

metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yangdilaksanakan dalam

keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las merupakansambungan setempat

dari beberapa batang logam dengan menggunakan energy panas.

Mengelas menurut Alip (1989) adalah suatu aktifitas menyambungdua bagian

benda atau lebih dengan cara memanaskan atau menekan ataugabungan dari

keduanya sedemikian rupa sehingga menyatu seperti bendautuh. Penyambungan

bisa dengan atau tanpa bahan tambah (filler metal) yangsama atau berbeda titik

cair maupun strukturnya.

Pengelasan dapat diartikan dengan proses penyambungan dua buahlogam sampai

titik rekristalisasi logam, dengan atau tanpa menggunakanbahan tambah dan

menggunakan energi panas sebagai pencair bahan yangdilas. Pengelasan juga

(18)

dipanaskan.Mengelas bukan hanya memanaskan dua bagian benda sampaimencair

dan membiarkan membeku kembali, tetapi membuat lasan yang utuhdengan cara

memberikan bahan tambah atau elektroda pada waktu dipanaskansehingga

mempunyai kekuatan seperti yang dikehendaki. Kekuatansambungan las

dipengaruhi beberapa faktor antara lain: prosedur pengelasan,bahan, elektroda dan

jenis kampuh yang digunakan.

2.2.3 Las SMAW ( Shielded Metal Arc Welding )

Las listrik ini menggunakan elektroda berselaput sebagai bahan tambah. Busur

listrik yang terjadi diantara ujung elektroda dan bahan dasar akan mencairkan

ujung elektroda dan sebagian bahan dasar. Selaput elektroda yang turut terbakar

akan mencair dan menghasilkan gas yang melindungi ujung elektroda, kawah Ias,

busur Iistrik dan daerah las di sekitar busur listrik terhadap pengaruh udara luar.

Cairan selaput elektroda yang membeku akan menutupi permukaan Ias yang juga

berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar.

Logam induk dalam pengelasan ini mengalami pencairan akibat pemanasan dari

busur listrik yang timbul antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja.Busur

listrik dibangkitkan dari suatu mesin las.Elektroda yang digunakan berupa kawat

yang dibungkus pelindung berupa fluks. Elektroda ini selama pengelasan akan

mengalami pencairan bersama dengan logam induk dan membeku bersama

menjadi bagian kampuh las.

Proses pemindahan logam elektroda terjadi pada saat ujung elektroda mencair dan

(19)

digunakan arus listrik besar maka butiran logam cair yang terbawa menjadi halus

dan sebaliknya bila arus kecil maka butirannya menjadi besar.

Pola pemindahan logam cair sangat mempengaruhi sifat mampu las dari

logam.Logam mempunyai sifat mampu las yang tinggi bila pemindahan terjadi

dengan butiran yang halus.Pola pemindahan cairan dipengaruhi oleh besar

kecilnya arus dan komposisi dari bahan fluks yang digunakan.Bahan fluks yang

digunakan untuk membungkus elektroda selama pengelasan mencair dan

membentuk terak yang menutupi logam cair yang terkumpul di tempat sambungan

dan bekerja sebagai penghalang oksidasi.

Gambar 2.3 Las SMAW (Wiryosumarto, 2004) 2.2.4 Struktur Mikro Daerah Lasan

Daerah las-lasan terdiri dari tiga bagian yaitu: daerah logam las, daerahpengaruh

panas atau heat affected zone disingkat menjadi HAZ dan logam induk yang tak

(20)

a. Daerah Logam Las

Daerah logam las adalah bagian dari logam yang pada waktu

pengelasan mencair dan kemudian membeku.Komposisi logam las terdiri

dari komponen logam induk dan bahan tambah dari elektroda. Karena

logam las dalam proses pengelasan ini mencair kemudian membeku, maka

kemungkinan besar terjadi pemisahan komponen yang menyebabkan

terjadinya struktur yang tidak homogen, ketidakhomogenannya struktur akan

menimbulkan struktur ferit kasar dan bainit atas yang menurunkan

ketangguhan logam las. Pada daerah ini struktur mikro yang terjadi adalah

struktur cor. Struktur mikro di logam las dicirikan dengan adanya struktur

berbutir panjang (columnar grains).Struktur ini berawal dari logam induk

dan tumbuh ke arah tengah daerah logam las (Sonawan, 2004).

Gambar 2.4 Daerah Logam Lasan Dan Logam Induk

b. Daerah Pengaruh Panas Atau Heat Affected Zone (Haz)

Daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ) adalah

logam dasar yang bersebelahan dengan logam las yang selama proses

pengelasan mengalami siklus termal pemanasan dan pendinginan cepat sehingga

daerah ini yang paling kritis dari sambungan las. Secara visual daerah yang dekat

(21)

daerah HAZ terdapat 3 titik yang berbeda, titik 1 dan 2 menunjukkan temperature

pemanasan mencapai daerah berfasa austenite dan ini disebut dengan transformasi

menyeluruh yang artinya struktur mikro baja mula-mula ferrit+perlit kemudian

bertransformasi menjadi austenite 100%. Titik 3 menunjukkan temperature

pemanasan, daerah itu mencapai daerah berfasa ferrit dan austenite dan ini yang

disebut transformasi sebagian yang artinya struktur mikro baja mula-mula

ferrit+perlit berubah menjadi ferrit dan austenite.

Gambar 2.5 Heat Affected Zone (HAZ)

c. Logam Induk

Logam induk adalah bagian dari logam dasar dimana panas dan suhu pengelasan

tidak menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan struktur dan sifat.Disamping

ketiga pembagian utama tersebut masih ada satu daerah pengaruh panas yang

disebut batas las (Wiryosumarto, 2000).

2.2.5 Prinsip Kerja Las Listrik

Pada dasarnya las listrik yang menggunakan elektroda karbon maupun

(22)

terjadiantara ujung elektroda dan benda kerja dapat mancapai temperatur tinggi

yangdapat melelehkan sebagian bahan merupakan perkalian antara tegangan

listrik (E)dangan kuat arus (I) dan waktu (t) yang dinyatakan dalam satuan panas

joule ataukalori seperti rumus dibawah ini :

H = E x I x t ………..(2.1)(anonymous 2015) dimana :

H = Panas (Joule)

E = Tegangan Listrik (Volt)

I = Kuat Arus (Ampere)

t = Waktu (detik)

a. Las Listrik Dengan Elektroda Karbon (Carbon Arc Welding)

Carbon Arc Welding mungkin adalah proses las listrik yang dikembangkan

pertama kali menurut catatan, eksperimen las listrik pertama kali dilakukan pada

tahun 1881, ketika Auguste de Meritens (Perancis) menggunakan busur karbon

sebagai sumber pengelasan dengan aki sebagai sumber listriknya. Dalam

eksperimennya, dia menghubungkan benda kerja dengan kutub positif.Walaupun

kurang efisien, proses ini berhasil menyatukan timah dengan timah.Carbon

ArcWelding adalah proses untuk menyatukan logam dengan menggunakan panas

dari busur listrik, tidak memerlukan tekanan dan batang pengisi (filler metal)

dipakai jika perlu.

Carbon Arc Welding banyak digunakan dalam pembuatan aluminium dan

besi.Mula-mula elektroda kontak/bersinggungan dengan logam yang dilas,

sehingga terjadi aliran arus listrik, kemudian elektroda diangkat sedikit

(23)

arusnya bisa DC maupun AC. Dengan menggunakan DC/AC, proses Carbon Arc

Welding bisa dipakai secara manual ataupun otomatis. Pendinginannya tergantung

besarnyaarus, bila penggunaan arus di atas 200 Ampere digunakan air pendingin

(WaterCooled). Dan sebaliknya bila di bawah 200 Ampere digunakan pendingin

denganudara bebas (Air cooled). Jenis bahan elektroda yang banyak digunakan

adalahelektroda jenis logam walaupun ada juga jenis elektroda dari bahan karbon

namunsudah jarang digunakan.

Elektroda berfungsi sebagai logam pengisi pada logam yang dilas sehinggajenis

bahan elektroda harus disesuaikan dengan jenis logam yang dilas.Untuk lasbiasa

mutu lasan antara arus searah dengan arus bolak-balik tidak jauh berbeda,namun

polaritas sangat berpengaruh terhadap mutu lasan. Elektroda yangdigunakan pada

pengelasan jenis ini ada 3 macam yaitu: elektroda polos,elektroda fluks dan

elektroda berlapis tebal.

Elektroda polos adalah elektroda tanpa diberi lapisan dan penggunaanelektroda

jenis ini terbatas antara lain untuk besi tempa dan baja lunak. Elektrodafluks

adalah elektroda yang mempunyai lapisan tipis fluks, dimana fluks iniberguna

melarutkan dan mencegah terbentuknya oksida-oksida pada saatpengelasan.

Kawat las berlapis tebal paling banyak digunakan terutama padaproses pengelasan

komersil. Lapisan pada elektroda berlapis tebal mempunyaifungsi :

1. Membentuk lingkungan pelindung.

2. Membentuk terak dengan sifat-sifat tertentu untuk melindungi logam cair.

(24)

Kecepatan pengelasan dan keserbagunaan mesin las arus bolak-balik dan

arussearah hampir sama, namun untuk pengelasan logam/pelat tebal, las arus

bolak-baliklebih cepat.

b. Las Elektroda Terbungkus (Coated Electrode Welding)

Cara Pengelasan dimana elektrodanya dibungkus dengan fluks

merupakanpengembangan lebih lanjut dari pengelasan dengan eletroda logam

tanpapelindung (Bare Metal Electrode).Dengan elektroda logam tanpa

pelindung,busur sulit dikontrol dan mengalami pendinginan terlalu cepat sehingga

O2 dan N2dari atmosfir diubah menjadi oksida dan nitrida, akibatnya sambungan

menjadirapuh dan lemah.Prinsip Las Elektroda Terbungkus adalah akibat dari

busurlistrik yang terjadi antara elektroda dan logam induk yang mengakibatkan

logaminduk dan ujung elektroda mencair dan kemudian membeku

bersama-sama.lapisan (pembungkus) elektroda terbakar bersama dengan meleburnya

elektroda.

Fungsi Fluks ini antara lain:

- Melindungi logam cair dari lingkungan udara.

- Menghasilkan gas pelindung

- Menstabilkan busur

- Sumber unsur paduan (V, Zr, Cs, Mn)

c. Las Busur Rendam (Submerged Arc Welding)

Dalam pengelasam busur rendam otomatis, busur dan material yangdiumpankan

untuk pengelasan tidak diperlukan seorang operator yang ahli.Pengelasan otomatis

(25)

dipraktekkan pertama kali oleh D. Dulchevsky.Las busurrendam adalah

pengelasan dimana logam cair tertutup dengan fluks yang diaturmelalui suatu

penampung fluks dan logam pengisi yang berupa kawat pejaldiumpankan secara

terus menerus.

Dalam pengelasan ini busur listriknyaterendam dalam fluks.Karena dalam

pengelasan ini, busur listriknya tidakkelihatan, maka sangat sukar untuk mengatur

jatuhnya ujung busur.Di sampingitu karena mempergunakan kawat elektroda yang

besar maka sangat sukar untukmemegang alat pembakar dengan tangan tepat pada

tempatnya.Karena kedua haltersebut maka pengelasan selalu dilaksanakan secara

otomatis penuh.Mesin lasini dapat menggunakan sumber listrik AC yang lamban

dan DC dengan tegangantetap.

Bila menggunakan listrik AC perlu adanya pengaturan kecepatanpengumpanan

kawat las yang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan panjangbusur yang

diperlukan.Bila menggunakan sumber listrik DC dengan tegangantetap, kecepatan

pengumpanan dapat dibuat tetap dan biasanya menggunakanpolaritas balik

(DCRP).Mesin las dengan listrik DC kadang-kadang digunakanuntuk mengelas

pelat tipis dengan kecepatan tinggi atau untuk pengelasan denganeletroda lebih

dari satu.

2.2.6 Klasifikasi Kawat Elektroda dan Fluksi 2.2.6.1 Kawat Elektroda

Elektroda baja lunak dan baja paduan rendah untuk las busur listrik menurut

klasifikasi AWS (American Welding Society) dinyatakan dengan tanda E XXXX

yang artinya sebagai berikut :

(26)

• XX (dua angka) sesudah E menyatakan kekuatan tarik deposit las dalam

ribuan Ib/in2 ( lihat table ).

• X (angka ketiga) menyatakan posisi pangelasan angka 1 untuk pengelasan

segala posisi. angka 2 untuk pengelasan posisi datar di bawah tangan.

• X (angka keempat) menyatakan jenis selaput dan jenis arus yang cocok

dipakai untuk pengelasan.

Contoh : E 6013

Artinya sebagai berikut:

• Kekuatan tarik minimum dan deposit las adalah 60.000 Ib/in2 atau 42 kg/mm2

• Dapat dipakai untuk pengelasan segala posisi

• Jenis selaput elektroda Rutil-Kalium dan pengelasan dengan arus AC atau DC

+ atau DC –.

Elektroda berselaput yang dipakai pada las busur listrik mempunyaiperbedaan

komposisi selaput maupun kawat inti. Pelapisan fluksi pada kawat intidapat

dengah cara destrusi, semprot atau celup. Ukuran standar diameter kawatinti dari

1,5 mm sampai 7 mm dengan panjang antara 350 sampai 450 mm.

Jenis-jenisselaput fluksi pada elektroda misalnya selulosa, kalsium karbonat

(CaCO3),titanium dioksida (rutil), kaolin, kalium oksida mangan, oksida besi,

serbuk besi,besi silikon, besi mangan dan sebagainya dengan persentase yang

berbeda-beda,untuk tiap jenis elektroda. Tebal selaput elektroda berkisar antara

70% sampai50% dari diameter elektroda tergantung dari jenis selaput.

Pada waktu pengelasan,selaput elektroda ini akan turut mencair dan menghasilkan

(27)

terhadap udara luar.Udara luar yang mengandung O2 dan N akan dapat

mempengaruhi sifat mekanikdari logam Ias. Cairan selaput yang disebut terak

akan terapung dan membekumelapisi permukaan las yang masih panas.

2.2.6.2 Fluksi

Fluksi merupakan pembungkus elektroda yang sangat diperlukan

untukmeningkatkan mutu sambungan karena fluksi bersifat melindungi metal cair

dariudara bebas serta menstabilkan busur.Terdapat 2 macam Fluksi sesuai dengan

pembuatannya :

- Fused Fluksi.

- Bonded Fluksi.

a)Fused Fluksi

Fused Fluksi terbuat dari campuran butir-butir material seperti mangan,kapur,

boxit, kwarsa dan fluorpar didalam suatu tungku pemanas. Cairan terakyang

terbentuk akan diubah ke dalam bentuk fluksi dengan jalan :

- Dituang di suatu cetakan dalam bentuk beberapa lapis / susun yang

tebalkemudian dipecah serta disaring sesuai dengan ukuran butiran yang

diinginkan.

- Dari kondisi panas dituang ke dalam air, sehingga timbul percikan –

percikanyang kemudian disaring sesuai ukurannya. Metode ini lebih effisien,

tetapikualitas fluksi yang dihasilkan mengandung hidrogen yang cukup tinggi

yangmemerlukan prose lebih lanjut untuk mengurangi kadar hidrogen tersebut.

(28)

Bonded Fluksi ini dibuat di pabrik dengan jalan mencampur

butiran-butiranmaterial yang ukurannya jauh lebih halus seperti mineral, ferroalloy, water

glasssebagai pengikat dalam suatu pengaduk (mixer) yang khusus. Campuran

tersebutkemudian akan dikeringkan dalam suatu pengering yang berputar pada

temperature 6000 – 8000oC.

2.2.7 Teknik Mengelas dan Desain Sambungan Las 2.2.7.1 Teknik Mengelas

Macam macam cara teknik mengelas dalam teknik pengelasan dikenal beberapa

cara yaitu:

1. Pengelasan di bawah tangan

Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan yang dilakukandi bawah

tangan dan benda kerja terletak di atas bidang datar. Sudut ujungpembakar

(brander) terletak diantara 60° dan kawat pengisi (filler rod)dimiringkan dengan

sudut antara 30°-40° dengan benda kerja. Kedudukanujung pembakar ke sudut

sambungan dengan jarak 2–3 mm agar terjadipanas maksimal pada

sambungan.Pada sambungan sudut luar, nyaladiarahkan ke tengah sambungan dan

gerakannya adalah lurus.

2. Pengelasan mendatar (horizontal)

Pada posisi ini benda kerja berdiri tegak sedangkan pengelasandilakukan dengan

arah mendatar sehingga cairan las cenderung mengalir kebawah, untuk itu ayunan

brander sebaiknya sekecil mungkin. Kedudukanbrander terhadap benda kerja

menyudut 70° dan miring kira-kira 10° di bawahgaris mendatar, sedangkan kawat

(29)

3. Pengelasan tegak (vertikal)

Pada pengelasan dengan posisi tegak, arah pengelasan berlangsung keatas atau ke

bawah. Kawat pengisi ditempatkan antara nyala api dan tempatsambungan yang

bersudut 45°-60° dan sudut brander sebesar 80°.

4. Pengelasan di atas kepala (over head)

Pengelasan dengan posisi ini adalah yang paling sulit dibandingkandengan posisi

lainnya dimana benda kerja berada di atas kepala danpengelasan dilakukan dari

bawahnya. Pada pengelasan posisi ini sudutbrander dimiringkan 10° dari garis

vertikal sedangkan kawat pengisi berada dibelakangnya bersudut 45°-60°.

5. Pengelasan dengan arah ke kiri (maju)

Cara pengelasan ini paling banyak digunakan dimana nyala apidiarahkan ke kiri

dengan membentuk sudut 60° dan kawat las 30° terhadapbenda kerja sedangkan

sudut melintangnya tegak lurus terhadap arahpengelasan. Cara ini banyak

digunakan karena cara pengelasannya mudah dantidak membutuhkan posisi yang

sulit saat mengelas.

6. Pengelasan dengan arah ke kanan (mundur)

Cara pengelasan ini adalah arahnya kebalikan daripada arahpengelasan ke kiri.

Pengelasan dengan cara ini diperlukan untuk pengelasanbaja yang tebalnya 4,5

mm ke atas.

2.2.7.2 Desain Sambungan Las

Untuk menghasilkan kualitas sambungan las yang baik, salah satu faktor yang

(30)

bahan pengisi agar lebih banyak yang merekat pada benda kerja, dengan demikian

kekuatan las akan terjamin. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam

pemilihan jenis kampuh adalah:

1. Ketebalan benda kerja.

2. Jenis benda kerja.

3. Kekuatan yang diinginkan.

4. Posisi pengelasan.

Sebelum memulai proses pengelasan terlebih dahulu ditentukan jenis sambungan

las yang akan dipilih. Hal-hal yang harus diperhatikan bahwa sambungan yang

dibuat akan mampu menerima beban (beban statis, beban dinamis, atau

keduanya). Dengan adanya beberapa kemungkinan pemberian beban sambungan

las, maka terdapat beberapa jenis sambungan las, yaitu sebagai berikut :

a) Kampuh V Tunggal

Sambungan V tunggal juga dapat dibuat tertutup dan terbuka. Sambungan ini juga

lebih kuat dari pada sambungan persegi, dan dapat dipakai untuk menerima gaya

tekan yang besar, serta lebih tahan terhadap kondisi beban statis dan dinamis.

Pada pelat dengan tebal 5 mm–20 mm penetrasi dapat dicapai 100%.

b) Kampuh Persegi

Sambungan ini dapat dibuat menjadi 2 kemungkinan, yaitu sambungan tertutup

dan sambungan terbuka.Sambungan ini kuat untuk beban statis tapi tidak kuat

(31)

c) Kampuh V Ganda

Sambungan ini lebih kuat dari pada V tunggal, sangat baik untuk kondisi beban

statis dan dinamis serta dapat menjaga perubahan bentuk kelengkungan sekecil

mungkin.dipakai pada ketebalan 18 mm-30 mm.

d) Kampuh Tirus Tunggal

Sambungan ini digunakan untuk beban tekan yang besar.Sambungan ini lebih baik

dari sambungan persegi, tetapi tidak lebih baik dari pada sambungan V. Letaknya

disarankan terbuka dan dipakai pada ketebalan pelat 6 mm-20 mm.

e) Kampuh U Tunggal

Kampuh U tunggal dapat dibuat tertutup dan terbuka.Sambungan ini lebih kuat

menerima beban statis dan diperlukan untuk sambungan berkualitas

tinggi.Dipakai pada ketebalan 12 mm-25 mm.

f) Kampuh U Ganda

Sambungan U ganda dapat jg dibuat secara tertutup dan terbuka, sambungan ini

lebih kuat menerima beban statis maupun dinamis dengan ketebalan pelat 12

mm-25 mm dapat dicapai penetrasi 100%.

g) Kampuh J Ganda

Sambungan J ganda digunakan untuk keperluan yang sama dengan sambungan V

ganda, tetapi tidak lebih baik untuk menerima beban tekan. Sambungan ini dapat

(32)

Gambar 2.6 Jenis-Jenis Sambungan Las (Wiryosumarto, Harsono 2004) 2.2.8 Parameter Pengelasan

Kestabilan dari busur api yang terjadi pada saat pengelasan merupakan masalah

yang paling banyak terjadi dalam proses pengelasan dengan las SMAW, oleh

karena itu kombinasi dari Arus listrik (I) yang dipergunakan dan Tegangan (V)

harus benar-benar sesuai dengan spesifikasi kawat elektroda dan fluksi yang

dipakai.

1. Pengaruh dari Arus Listrik (I)

Setiap kenaikan arus listrik yang dipergunakan pada saat pengelasan akan

meningkatkan penetrasi serta memperbesar kuantiti lasnya. Penetrasi akan

(33)

Gambar 2.7 Pengaruh Arus Listrik 2. Pengaruh dari Tegangan Listrik (V)

Setiap peningkatan tegangan listrik (V) yang dipergunakan pada proses

pengelasan akan semakin memperbesar jarak antara tip elektroda dengan material

yang akan dilas, sehingga busur api yang terbentuk akan menyebar dan

mengurangi penetrasi pada material las. Konsumsi fluksi yang dipergunakan akan

meningkat sekitar 10% pada setiap kenaikan 1 volt tegangan.

3. Pengaruh Kecepatan Pengelasan

Jika kecepatan awal pengelasan dimulai pada kecepatan 40 cm/menit, setiap

pertambahan kecepatan akan membuat bentuk jalur las yang kecil (Welding

Bead), penetrasi, lebar serta kedalaman las pada benda kerja akan berkurang.

Tetapi jika kecepatan pengelasannya berkurang dibawah 40 cm/menit cairan las

yang terjadi dibawah busur api las akan menyebar serta penetrasi yang dangkal,

hal ini dikarenakan over heat.

4. Pengaruh Polaritas arus listrik (Alternating Curret atau Direct Current)

Pengelasan dengan kawat elektroda tunggal pada umumnya menggunakan tipe

arus Direct Current (DC), elektroda positif (EP), jika menggunakan elektroda

(34)

Pengaruh dari arus Alternating Curret (AC) pada bentuk butiran las dan kuantiti

pengelasan antara elektroda positif dan negatif adalah sama yaitu cenderung

porosity, oleh karena itu dalam proses pengelasan yang menggunakan arus AC

harus memakai fluks yang khusus.

Arus adalah aliran pembawa muatan listrik,simbol yang digunakan adalah huruf

besar I dalam satuan ampere. Pengelasan adalah penyambungan dua logam dan

atau logam paduan dengan cara memberikan panas baik diatas atau dibawah titik

cair logam tersebut,baik dengan atau tanpa tekanan serta ditambah atau tanpa

logam pengisi yang dimaksud dengan arus paengelasan disini adalah aliran

pembawa muatan listrik dari mesin las yang digunakan untuk menyambung dua

logam dengan mengalirkan panas ke logam pengisi atau elektroda. Hubungan

diameter elektroda dengan arus pengelasan menurut Howard BC,1998dapat dilihat

pada tabel 2.4.

Tabel 2.4. Hubungan Diameter Elektroda Dengan Arus Pengelasan(Howard BC,1998)

Diameter Elektroda (mm) Arus (Ampere)

2,5 60-90

Cacat las dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni :

• Kelompok cacat visual

Yakni cacat yang tampak di permukaan las, seperti : spatters (percikan

las), pin hole (lubang jarum), porosity (gelembung gas/keropos),

(35)

(lapis dingin), undercut (longsor pinggir) baik yang bertegangan rendah

maupun tinggi (notch), excessive reinforcement (terlalu menonjol), wide

bead (terlalu lebar), high low (tinggi rendah/salah penyetelan), stop start

(salah sewaktu mengganti elektrode).

• Kelompok cacat non visual

Yakni cacat yang terdapat di permukaan namun tidak tampak karena

berada pada akar las, seperti :porosity, convacity (sutc up), undercut,

crack, excessive penetration (tembusan berlebihan), incomplete

penetration (tidak ada tembusan), blow hole (terbakar tembus).

• Kelompok cacat internal

Yakni cacat yang terdapat di dalam bahan las yang baru dapat dideteksi

dengan menggunakan teknik uji tanpa merusak seperti : radiografi,

ultrasonik maupun magnetik particle, seperti : slag inclusion (inklusi

terak), porosity, slag lines (jajaran terak) atau wagon track (jejak

gerobak), crack, worm metal (inklusi tungsten/ logam berat), incomplete

fussion (fusi tidak sempurna), cold lap.

Jenis Cacat Permukaan Las adalah sebagai berikut :

• Lubang Jarum (Pin Hole)

Sebab : Terbentuk gas di dalam bahan las sewaktu pengelasan akibat

kandungan belerang dalam bahan

Akibat : Kemungkinan bocor di lokasi cacat

(36)

• Percikan Las (Spatter)

Sebab : Elektroda lembab, kampuh kotor, angin kencang, lapisan galvanisir,

ampere capping terlalu tinggi

Akibat : Tampak jelek, mengalami karat permukaan.

Penanggulangan : Cukup dibersihkan dengan pahat. Pembersih dengan

gerinda tidak boleh mengingat akan memakan bahan induk.

• Retak (Crack)

Sebab : Tegangan di dalam material, penggetasan pada bahan dan daerah

terimbas panas, karat tegangan, bahan tidak cocok dengan kawat las,

pengelasan tanpa perlakuan panas yang benar.

Akibat : Fatal

Penanggulangan :Diselidiki dulu sebabnya, setelah diketahui baru ujung-ujung

retak dibor dan bagian retak digouging (dikikis) 100% kemudian diisi dengan

bahan yang cocok sesuai dengan WPS. Jika sebabnya adalah ketidakcocokan

materil atau retak berada di luar kampuh, maka seluruh sambungan las berikut

bahannya diganti.

• Keropos (Porosity)

Sebab : Lingkungan las lembab atau basah, kampuh kotor, angin berhembus

dipermukaan las, lapisan galvanis, salah jenis arus, salah jenis polaritas,

ampere capping terlalu besar.

Akibat : Melemahkan sambungan, tampak buruk, mengawali karat

permukaan.

Penanggulangan : Cacat digerinda hingga hilang kemudian dilas isi sesuai

(37)

• Muka Cekung (Concavity)

Sebab : Tukang las terlalu cepat selesai, amper capping terlalu tinggi,

kecepatan las capping terlalu tinggi, elektrode terlalu kecil, bukaan sudut

kampuh terlalu besar.

Akibat : Melemahkan sambungan, mengawali karat permukaan, dapat terjadi

keretakan akibat tegangan geser.

Penanggulangan : Cukup di sempurnakan bentuk capping dan sedikit penguat

(reinforcement)

• Longsor Pinggir (Undercut)

Sebab : Suhu metal terlalu tinggi, ampere capping terlalu tinggi.

Akibat : Melemahkan sambungan, mengawali karat permukaan.

Penanggulangan : Cukup diisi dengan stringer saja.Undercut yang tajam

seperti takik, dilarang (harus segera diperbaiki) karena dapat menyebabkan

keretakan notch.

• Penguat berlebihan (Excessive Reinforcement)

Sebab : Elektroda terlalu rapat, kecepatan capping terlalu rendah, ampere

capping terlalu rendah, suhu metal terlalu dingin.

Akibat : Diragukan fusi dan kekuatannya, perlu diuji eltrasonik proba sudut

(angle probe), jika ternyata fusi tidak ada, seluruh sambungan diapkir.

Penanggulangan :gounging 100% dan dilas ulang sesuai WPS. Welder

diperingatkan.

• Jalur Terlalu Lebar (Wide Bead)

(38)

Akibat : Jika terbukti, seluruh material diapkir. Welder tidak lulus.

• Tinggi Rendah (High Low)

Sebab : Penyetelan tidak benar.

Akibat : Sambungan diapkir.

Penanggulangan: gouging 100%, distel dan dilas ulang sesuai WPS. Welder

diperingatkan.

• Lapis Dingin (Cold Lap)

Sebab : Suhu metel terlalu dingin, ampere capping terlalu rendah, ayunan

(sway) tidak tetap (consistent).

Akibat : Terjadi fusi tidak sempurna dipermukaan dan mungkin juga di dalam.

Karenanya mutu las dipertanyakan.

Penanggulangan : Bongkar keseluruhan jalur las untuk kemudian dibuat

kampuh lagi dan dilas ulang sesuai WPS.

• Penetrasi Tidak Sempurna (Incomplete Penetration)

Sebab : Celah terlalu sempit, elektrode terlalu tinggi, ampere mesin las tidak

tetap, celah tidak seragam ( sempit dan lebar tidak beraturan), ampere akar las

rendah, kampuh kotor, elektrode terlalu besar.

Akibat : Di bagian cacat berpotensi retak.

Penanggulangan :Gouging 100% pada bagian cacat dan dilas ulang sesuai

WPS.

• Penetrasi Berlebihan (Excessive Penetration)

Sebab : Celah terlalu lebar, elektrode terlalu kecil, ampere akar terlalu tinggi,

(39)

Akibat : Biasa menyebabkan retak akar, karat sebelah dalam, menghancurkan

piq (bola pembersih dalam pipa)

Penanggulangan : Bongkar total, stel kembali dan dilas ulang sesuai WPS.

• Retak Akar (Root Crack)

Sebab : Celah terlalu lebar, elektrode terlalu kecil, ampere akar terlalu tinggi,

kecepatan akan terlalu rendah, elektrode terlalu dalam.

Akibat : Biasa menyebabkan retak akar, karat sebelah dalam, menghancurkan

piq (bola pembersih dalam pipa)

Penanggulangan : Bongkar total, stel kembali dan dilas ulang sesuai WPS.Jika

retak keluar dari jalur las maka seluruh material diganti.

• Terbakar Tembus (Blow Hole)

Sebab : Celah tidak seragam, ampere mesin las tiba-tiba naik, posisi elektrode

naik turun.

Akibat : Pada lokasi cacat sambungan lemahdan terdapat kemungkinan bocor,

mengawali erosi dan karat tegangan pada lokasi cacat.

Penanggulangan :Gouging 100% di lokasi cacat dan diisi ulang sesuai WPS.

• Longsor Pinggir Akar (Root Undercut)

Sebab : Suhu metal terlalu tinggi pada saat pengelasan akar, ampere akan

terlalu besar.

Akibat : Mengawali erosi dan karat sebelah dalam, memungkinkan terjadinya

retak takik (notch).

(40)

• Akar Cekung (Root Concavity/ Such Up)

Sebab : Terhisapnya las akar oleh jalur las di atasnya (khususnya pada

GTAW), kecepatan las akar terlalu tinggi.

Akibat : Melemahkan sambungan,potensi terjadi erosi dan karat tegangan.

Penanggulangan : Lokasi cacat di-gouging 100% dan dilas ulang sesuai WPS.

• Stop Start A

Sebab : Penggantian elektroda terlalu mundur.

Akibat : Tampak buruk.

Penanggulangan : Cukup disesuaikan dengan sekitarnya.

• Stop Start B

Sebab ; Penggantian elektroda terlalu maju.

Akibat ; Terjadi bagian yang tidak terjadi (underfill) yang berpotensi retak.

Penanggulangan : Bersihkan bagian yang underfill.

2.3 Pengujian Hasil Pengelasan 2.3.1 Uji Kekuatan Tarik ( tensile )

Suatu logam mempunyai sifat-sifat tertentu yang dibedakan atas sifat

fisik,mekanik, thermal, dan korosif.Salah satu yang penting dari sifat tersebut

adalahsifat mekanik.Sifat mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan,

danketangguhan. Sifat mekanik merupakan salah satu acuan untuk melakukan

prosesselanjutnya terhadap suatu material, contohnya untuk dibentuk dan

dilakukanproses permesinan. Untuk mengetahui sifat mekanik pada suatu logam

harusdilakukan pengujian terhadap logam tersebut.Salah satu pengujian

(41)

Proses pengujian tarik bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik benda uji.

Pengujian tarik untuk kekuatan tarik daerah las dimaksudkan untuk mengetahui

apakah kekuatan las mempunyai nilai yang sama, lebih rendah atau lebih tinggi

dari kelompok raw materials. Pengujian tarik untuk kualitas kekuatan tarik

dimaksudkan untuk mengetahui berapa nilai kekuatannya dan dimanakah letak

putusnya suatu sambungan las. Pembebanan tarik adalah pembebanan yang

diberikan pada benda dengan memberikan gaya tarik berlawanan arah pada salah

satu ujung benda. Penarikan gaya terhadap beban akan mengakibatkan terjadinya

perubahan bentuk (deformasi) bahan tersebut. Proses terjadinya deformasi pada

bahan uji adalah proses pergeseran butiran Kristal logam yang mengakibatkan

melemahnya gaya elektromagnetik setiap atom logam hingga terlepas ikatan

tersebut oleh penarikan gaya maksimum.

Dalam pembuatan suatu konstruksi diperlukan material dengan spesifikasidan

sifat-sifat yang khusus pada setiap bagiannya.Sebagai contoh dalampembuatan

konstruksi sebuah jembatan.Diperlukan material yang kuat untukmenerima beban

diatasnya.Material juga harus elastis agar pada saat terjadipembebanan standar

atau berlebih tidak patah.Salah satu contoh material yangsekarang banyak

digunakan pada konstruksi bangunan atau umum adalah logam.Meskipun dalam

proses pembuatannya telah diprediksikan sifat mekanik darilogam tersebut, kita

perlu benar-benar mengetahui nilai mutlak dan akurat darisifat mekanik logam

tersebut.

Oleh karena itu, sekarang ini banyak dilakukanpengujian-pengujian terhadap

sampel dari material.Pengujian ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar

(42)

kekurangannya.Material yangmempunyai sifat mekanik lebih baik dapat

memperbaiki sifat mekanik darimaterial dengan sifat yang kurang baik dengan

cara alloying.Hal ini dilakukansesuai kebutuhan konstruksi dan pesanan. Uji tarik

adalah suatu metode yangdigunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan/material

dengan cara memberikanbeban gaya yang sesumbu. Hasil yang didapatkan dari

pengujian tarik sangatpenting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena

menghasilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk

mengukur ketahanan suatumaterial terhadap gaya statis yang diberikan secara

lambat.Salah satu cara untukmengetahui besaran sifat mekanik dari logam adalah

dengan uji tarik. Sifatmekanik yang dapat diketahui adalah kekuatan dan

elastisitas dari logam tersebut.

Uji tarik banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan dasar

kekuatansuatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan.Nilai

kekuatandan elastisitas dari material uji dapat dilihat dari kurva uji tarik.Pengujian

tarik ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis suatumaterial, khususnya

logam diantara sifat-sifat mekanis yang dapat diketahui darihasil pengujian tarik

adalah sebagai berikut:

• Kekuatan tarik

• Kuat luluh dari material

• Keuletan dari material

• Modulus elastic dari material

• Kelentingan dari suatu material

(43)

Karena dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan suatu material

terhadapgaya statis yang diberikan secara perlahan. Pengujian tarik ini merupakan

salahsatu pengujian yang penting untuk dilakukan, karena dengan pengujian ini

dapatmemberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat logam.Dalam bidang

industri diperlukan pengujian tarik ini untukmempertimbangkan faktor metalurgi

dan faktor mekanis yang tercakup dalam proses perlakuan terhadap logam jadi

untuk memenuhi proses selanjutnya.

Oleh karena pentingnya pengujian tarik ini, hendaknya mengetahui mengenai

pengujian ini.Dengan adanya kurva teganganregangan kita dapat mengetahui

kekuatan tarik, kekuatan luluh, keuletan, moduluselastisitas, ketangguhan, dan

lain-lain.Pada pegujian tarik ini juga harusmengetahui dampak pengujian terhadap

sifat mekanis dan fisik suatu logam.Dengan mengetahui parameter-parameter

tersebut maka dapat data dasarmengenai kekuatan suatu bahan atau logam.

Berikut ini adalah gambaran singkat proses uji tarik dan datanya.

Gambar 2.8 Gambaran Singkat Uji Tarik Dan Datanya

Bentuk bahan yang diuji, untuk logam biasanya dibuat spesimen dengan dimensi

(44)

Gambar 2.9 Dimensi Spesimen Uji Tarik (JIS Z2201)

Penarikan gaya terhadap beban akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk

(deformasi) bahan tersebut. Proses terjadinya deformasi pada bahan uji adalah

proses pergeseran butiran kristal logam yang mengakibatkan melemahnya gaya

elektromagnetik setiap atom logam hingga terlepas ikatan tersebut oleh penarikan

gaya maksimum.

Pada pengujian tarik beban diberikan secara kontinu dan pelan–pelan bertambah

besar, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan mengenai perpanjangan yang

dialami benda uji dan dihasilkan kurva tegangan-regangan.

(45)

Tegangan dimana deformasi plastik atau batas luluh mulai teramati tergantung

pada kepekaan pengukuran regangan.Sebagian besar bahan mengalami perubahan

sifat dari elastik menjadi plastik yang berlangsung sedikit demi sedikit, dan titik di

mana deformasi plastik mulai terjadi dan sukar ditentukan secara teliti. Telah

digunakan berbagai kriteria permulaan batas luluh yang tergantung pada ketelitian

pengukuran regangan dan data-data yang akan digunakan.

• Batas Elastis σE (Elastic Limit)

Berdasarkan pada pengukuran regangan mikro pada skala regangan 2 X 10-6

inchi/inchi.Batas elastik nilainya sangat rendah dan dikaitkan dengan gerakan

beberapa ratus dislokasi.

• Batas Proporsional σp (Proportional Limit)

Tegangan tertinggi untuk daerah hubungan proporsional antara

tegangan-regangan. Harga ini diperoleh dengan cara mengamati penyimpangan dari

berbagai garis lurus kurva tegangan-regangan.

• Deformasi Plastis (Plastic Deformation)

Tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh bahan tanpa terjadi regangan

sisa permanen yang terukur pada saat beban telah ditiadakan. Dengan

bertambahnya ketelitian pengukuran regangan, nilai batas elastiknya menurun

hingga suatu batas yang sama dengan batas elastik sejati yang diperoleh dengan

cara pengukuran regangan mikro.

• Tegangan Luluh Atas σuy (Upper Yield Stress)

Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan

(46)

• Tegangan Luluh Bawah σly (Lower Yield Stress)

Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi

plastis.Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang dimaksud

adalah tegangan ini.

• Regangan Luluh εy (Yield Strain)

Regangan permanen saat bahan akan memasuki fase deformasi plastis.

• Regangan Elastis εe (Elastic Strain)

Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan

regangan ini akan kembali ke posisi semula.

• Regangan Plastis εp (Plastic Strain)

Regangan yang diakibatkan perubahan plastis.Pada saat beban dilepaskan

regangan ini tetap tinggal sebagai perubahan permanen bahan.

• Regangan Total (Total Strain)

Merupakan gabungan regangan plastis dan regangan elastis, εT = εe+εp.

• Tegangan Tarik Maksimum TTM (UTS, Ultimate Tensile Strength)

Merupakan besar tegangan maksimum yang didapatkan dalam uji tarik.

• Kekuatan Patah (Breaking Strength)

Merupakan besar tegangan dimana bahan yang diuji putus atau patah. Untuk

hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan antara

beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang

bahan tersebut. Ini disebut daerah linier atau linear zone.Tegangan yang terjadi

(47)

pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan. Atau secara matematis dapat

ditulis:

σ

=

……….( 2.2 )

ε

=

��

x 100%……….( 2.3 )(Dishongh, 2001)

dimana: σ= Tegangan (N/mm2) ε= Regangan

F = Gaya (N) ∆�= Pertambahan Panjang (mm)

Gambar

Gambar 2.1 Struktur Kristal Baja Austenite, Ferit Dan Martensit
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Baja AISI 304
Tabel 2.3 Sifat Fisik Dan Listrik AISI 304 pada Kondisi Annealed
Gambar. 2.2 Perkembangan Cara Pengelasan (Wiryosumarto,2004)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Nilai kekuatan tarik untuk kualitas hasil pengelasan pada arus 150 Amper. mempunyai nilai yang paling tinggi diantara variasi arus pengelasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen yang di pakai percobaan pada pengelasan SMAW dengan menggunakan Stainless Steel Aisi 304 dengan elektroda E308L diameter 2,6 mm

Dalam penelitian ini digunakan arus dan diameter elektroda yang berbeda, arus yang digunakan adalah 85 A,95 A,105 A,115 A dan diameter elektroda yang digunakan adalah 2,6 mm dan

Secara sederhana dapat diartikan bahwa pengelasan merupakan proses penyambungan dua buah logam sampai titik rekristalisasi logam baik menggunakan bahan tambah maupun tidak

Abstrak: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh arus pengelasan terhadap kekuatan tarik dan energi nilai impak dari hasil pengelasan las TIG dengan sambungan dari material AISI 304

Pengaruh Variasi Arus Listrik Pengelasan (Spot Welding) Terhadap Kekuatan Geser, Kekerasan, dan Struktur Mikro Pada Sambungan Dissimilar Baja Stainless Steel Aisi 304 dengan

Dalam penelitian ini digunakan arus dan diameter elektroda yang berbeda, arus yang digunakan adalah 85 A,95 A,105 A,115 A dan diameter elektroda yang digunakan adalah 2,6 mm dan

Tujuan penelitian dalam tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pengaruh posisi pengelasan terhadap ketangguhan impak dan tarik dengan material Stainless Steel 304 dengan pengelasan