• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Realitas Teks Guru Dalam Kelas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Konstruksi Realitas Teks Guru Dalam Kelas"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Wacana dan Teks

Wacana adalah istilah yang sering dipakai masyarakat saat ini khususnya oleh para linguist. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Wacana pada mulanya secara teoritis adalah sebagai istilah yang dipakai untuk menyebut satuan gramatikal yang lebih besar daripada kalimat atau satuan yang berada pada level di atas kalimat.

Penggunaan istilah wacana sebagai istilah satuan gramatika dapat kita ambil dari Stubbs (1983:10); Widdowson (1973:66). Menurut Samsuri seperti dikutip Sumarlan (2003), wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Wacana mungkin bersifat transaksional, jika yang dipentingkan ialah isi komunikasi itu, tetapi mungkin bersifat interaksional, jika merupakan komunikasi timbal-balik. Wacana lisan transaksional mungkin berupa pidato, ceramah, tuturan, dakwah, deklamasi, dan lain-lain. Wacana lisan interaksional dapat berupa percakapan, debat, tanya-jawab (di sidang pengadilan, di kantor polisi, dan sebagainya).

Wahab (1998) menyatakan bahwa wacana adalah organisasi bahasa di atas kalimat atau klausa, juga dimaksudkan sebagai unit linguistik yang lebih luas, misalnya dapat berupa percakapan lisan atau teks tertulis. Djajasudarna (1994) berpendapat bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,

(2)

disampaikan secara lisan atau tulisan. Djajasudarna juga berpendapat bahwa wacana terbagi menjadi empat berdasarkan: realitas/eksistensiya, media komunikasinya, cara pemaparannya dan jenis pemakaiannya. Berdasarkan eksistensinya, wacana terbagi menjadi verbal dan non verbal. Berdasarakan media komunikasi yang digunakan, wacana terbagi menjadi wacana lisan dan tulisan. Berdasarkan cara pemaparannya, wacana terbagi menjadi wacana naratif, deskriftif, prosedural, ekspositori dan hortatori. Berdasarkan jenis pemakainya, wacana terbagi menjadi wacana monolog, wacana dialog dan wacana polilog.

Sobur (2009) berpendapat bahwa wacana adalah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkap suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa. Chaer (2007) berargumentasi bahwa wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana mengandung konsep, gagasan, pikiran atau ide, yang bisa dipahami oleh pembaca dalam wacana tulis atau pendengar dalam wacana lisan tanpa keraguan sedikitpun.

Dari berbagai pendapat para ahli bahasa di atas, bisa disimpulkan bahwa wacana adalah kesatuan bahasa yang terlengkap dan terbesar di atas klausa dan kalimat. Wacana juga adalah suatu satuan gramatika dengan kohesi dan koherensi yang tinggi yang berkesinambungan dalam penggunaan bahasa. Wacana bisa disampaikan secara lisan transaksional atau interaksional maupun tertulis yang mengandung konsep yang utuh yang bisa dipahami pendengar dan pembaca.

Membahas wacana sangat menarik, namun pembahasannya akan lebih lengkap apabila kita membicarakan satu istilah yang sangat dekat dengan wacana,

(3)

yaitu teks. Oleh sebab itu banyak ahli bahasa melihat wacana sebagai teks dan juga teks sebagai wacana. Pengertian wacana dan teks sering dipakai secara bersamaan atau memiliki makna yg sama. Sering sekali para pemakai bahasa mengasosiasikan istilah wacana sebagai teks; maka keduanya selalu dicampur baur, digunakan secara bertukar oleh penutur, penulis dan pengguna bahasa lainnya.

Usulan yang membakukan batasan istilah diantara istilah wacana dan teks, seperti yang ditulis Sinar (2008:7) yang menyatakan istilah wacana cenderung digunakan di dalam mendiskusikan hal-hal yang berorientasi pada faktor sosial, sementara istilah teks cenderung digunakan dalam membicarakan hal-hal yang berdasar/berorientasi kepada bahasa (Sinar, 2008:6).

Fairclough (1995:7) mengemukakan bahwa teks adalah penggunaan bahasa dilihat sebagai bentuk praktik sosial, dan analisis wacana adalah analisis bagaimana teks bekerja dalam praktik sosiokultural. Analisis seperti ini memerlukan perhatian pada bentuk, struktur dan organisasi teks pada semua level organisasi teks: fonologi, gramatikal, leksikal dan pada level yang lebih tinggi yang terkait dengan sistem pertukaran (distribusi giliran bicara), struktur argumentasi, dan struktur generik. Lebih lanjut Fairclough (1995:6) menyatakan bahwa teks adalah ruang sosial tempat terjadinya dua proses fundamental sosial secara simultan: kognisi dan representasi tentang dunia dan interaksi sosial.

Menurut aliran fungsional, antara teks dan wacana merupakan bentuk kembar yang cenderung tidak dapat dipisah, teks dan wacana adalah sama-sama unit atau satuan bahasa yang lengkap baik lisan maupun tulisan. Wacana memerlukan teks sebagai realisasinya dengan kata lain teks adalah bentuk konkrit

(4)

wacana. Wacana sebagai penggunaan bahasa, yaitu bahasa digunakan sesuai keperluannya. Wacana yang dilahirkan bukan sekadar dalam format kalimat, tetapi bisa di bawah kalimat seperti klausa, frase, atau di atasnya seperti paragraf dan teks yang panjang. Wacana ini mengandung makna yang berbeda-beda, bergantung pada konteks dimana wacana atau bahasa itu digunakan (register). Oleh sebab itu, kajian wacana adalah kajian bahasa berdasarkan konteks penggunaannya.

Teks merupakan sebuah peristiwa sosiologis (Halliday, 2002:26). Teks adalah unit arti atau unit semantik yang bisa direalisasikan oleh kata, frase, klausa, paragraf atau pun naskah. Akan tertapi teks bukan unit tata bahasa yang terdiri atas morfem, kata, frase, dan klausa. Seperti yang dikemukakan Webster (2002:3) bahwa ukuran bukan merupakan masalah ketika menentukan sebuah teks. Dalam mendefenisikan teks, ukuran besar kecilnya teks bukanlah masalah, melainkan teks adalah pilihan semantis (makna) dalam konteks sosial; teks dideskripsikan sebagai konsep semantik, peristiwa sosiologis.

Selanjutnya Halliday (2002:45) menyatakan teks adalah konsep semantik. Teks bukan terdiri atas kalimat tetapi direalisasikan dalam bentuk yang mengandung kalimat dan makna. Selanjutnya teks adalah proses yang terus menerus dalam pilihan semantik karena teks adalah makna dan makna adalah pilihan, seperangkat opsi-opsi dalam lingkungan paradigmatik-subsistem inemerasi yang membuat sistem semantik. Teks adalah proses semantik yang terkode dalam sistem leksikogramatika. Disisi lain teks dan kajian sosiologis adalah suatu proses sosial semantik. Sebagai proses yang terus menerus mempunyai hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

(5)

Dalam pandangan Halliday, teks dimaknai secara dinamis. Teks adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi (Halliday & Hasan,1976:13). Teks berkaitan dengan apa yang secara aktual dilakukan, dimaknai, dan dikatakan oleh masyarakat dalam situasi nyata.

Dalam rumusan yang lain, Halliday berpendapat bahwa teks adalah suatu pilihan semantis dalam konteks sosial, suatu cara pengungkapan makna lewat bahasa lisan atau tulis (Halliday 1978:40). Semua bahasa yang hidup yang mengambil bagian tertentu dalam konteks situasi dapat dinamakan teks. Terkait dengan teks, Halliday memberikan beberapa penjelasan berikut:

Pertama, teks adalah unit semantis menurut Halliday (1978:135), kualitas tekstur tidak didefinisikan dari ukuran. Teks adalah sebuah konsep semantis. Meskipun terdapat pengertian sebagai sesuatu di atas kalimat (super-sentence), sesuatu yang lebih besar daripada kalimat, dalam pandangan Halliday hal itu secara esensial, salah kualitas teks. Kita tidak dapat merumuskan bahwa teks itu lebih besar atau lebih panjang daripada kalimat atau klausa. Ditegaskan oleh Halliday (1978:135) dalam kenyataannya kalimat-kalimat itu lebih merupakan realisasi teks daripada merupakan sebuah teks tersebut. Sebuah teks tidak tersusun dari kalimat atau klausa, tetapi direalisasikan dalam bentuk kalimat.

Kedua, teks dapat memproyeksikan makna kepada level yang lebih tinggi. Menurut Halliday (1978:138), sebuah teks selain dapat direalisasikan dalam level-level sistem lingual yang lebih rendah seperti sistem leksikogramatis dan fonologis juga merupakan realisasi dari level yang lebih tinggi dari interpretasi, kesusastraan, sosiologis, psikoanalitis, dan sebagainya yang dimiliki oleh teks itu. Level-level yang lebih rendah itu memiliki kekuatan untuk memproyeksikan

(6)

makna pada level yang lebih tinggi, yang oleh Halliday diberi istilah latar depan (fore grounded).

Ketiga, teks adalah proses sosio semantis. Halliday (1978:139) berpendapat bahwa dalam arti yang sangat umum sebuah teks merupakan sebuah peristiwa sosiologis, sebuah perjumpaan semiotis melalui makna-makna yang berupa sistem sosial yang sedang saling dipertukarkan. Anggota masyarakat yakni individu-individu adalah seorang pemakna (meaner). Melalui tindak tanduk pemaknaan antara individu bersama individu lainnya, realitas sosial diciptakan, dijaga dalam urutan yang baik, dan secara terus menerus disusun dan dimodifikasi. Fitur esensial sebuah teks adalah adanya interaksi. Dalam pertukaran makna itu terjadi perjuangan semantis (semantic contest) antara individu-individu yang terlibat. Karena sifatnya yang perjuangan itu, makna akan selalu bersifat ganda, tidak ada makna yang bersifat tunggal begitu saja. Dengan demikian, pilihan bahasa pada hakikatnya adalah perjuangan atau pertarungan untuk memilih kode-kode bahasa tertentu.

Keempat, situasi adalah faktor penentu teks. Menurut Halliday (1978:141), makna diciptakan oleh sistem sosial dan dipertukarkan oleh anggota-anggota masyarakat dalam bentuk teks. Makna tidak diciptakan dalam keadaan terisolasi dari lingkungannya. Secara tegas dirumuskan oleh Halliday bahwa makna adalah sistem sosial. Perubahan dalam sistem sosial akan direfleksikan dalam teks. Situasi akan menentukan bentuk dan makna teks.

Penjelasan di atas memiliki empat catatan mengenai teks yang perlu dikemukakan sebagai berikut:

(7)

1. Teks pada hakikatnya adalah sebuah unit semantis.

2. Teks dapat memproyeksikan makna pada level yang lebih tinggi. 3. Teks pada hakikatnya sebuah proses sosiosemantis.

4. Situasi merupakan faktor penentu teks.

2.2 Linguistik Fungsional Sistemik (LFS)

Dalam LFS, bahasa merupakan kombinasi dari tiga struktur berbeda dengan menggabungkan ketiga komponen yang berfungsi berbeda. Komponen-komponen tersebut disebut dengan metafungsi yang terdiri dari fungsi ideasional, fungsi interpersonal dan fungsi tekstual. Fungsi ideasional mengungkapkan realita fisik yang berkenaan dengan representasi pengalaman. Fungsi interpersonal mengungkapkan realitas sosial serta berkenaan dengan interaksi antara penutur/penulis dan pendengar/pembaca. Fungsi tekstual berkenaan dengan cara penciptaan teks dalam konteks (Halliday and Matthiessen, 2004). Ketiga fungsi tersebut saling berkait, utuh dan menjadi satu kesatuan metafungsi.

Realisasi dari ketiga makna tersebut di dalam sebuah teks, dapat dilihat dari unsur-unsur leksiko grammatika, yaitu bagaimana kata-kata disusun beserta segala akibat maknanya yang muncul. Ketika kita mendengar atau membaca teks tertentu, kita dapat memahaminya dengan adanya konteks situasi yang melingkup teks atau tuturan kebahasaan tersebut. Konteks situasi bisa dikonstruksi karena adanya hubungan yang sistematis antara konteks dengan teks. Susunan kata dalam teks secara utuh mengandung tiga jenis makna yaitu fungsi ideasional, fungsi interpersonal dan fungsi tekstual. Wang (2010) menambahkan bahwa LFS menjadi pondasi utama dalam AWK dan teori lain dalam Pragmatik „Systemic

(8)

Functional Linguistics is the main foundation on Critical Discourse Analysis as

well as other theories in Pragmatics‟. Lebih jauh mengenai metafungsi dalam

LFS dijelaskan dibawah ini:

2.2.1 Fungsi Ideasional

Halliday and Matthiessen (2004) mengatakan Ideational function construc human experience, bahasa berfungsi memaparkan pengalaman atau fungsi ideasional merupakan pengalaman manusia. Sedangkan Gerot and Wignell (1994) mengatakan ideational meanings are meanings about phenomena-about things (living and non-living, abstract and concrete), about goings on (what the things

are or do) and the circumstances surroundings these happenings and doings.

Makna ideasional adalah makna mengenai fenomena tentang benda (baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, abstrak atau konkrit), mengenai hal-hal yang sedang terjadi (apa dan terjadinya) dan sirkumstansi yang melingkupi terjadinya.

Fungsi ideasional mengungkap realitas fisik yang berkenaan dengan representasi pengalaman. Makna ideasional yang terkait dengan makna eksperiensial diwujudkan dengan berbagai jenis proses dalam kerangka sistem kebahasaan yang disebut Transivitas, yaitu representasi pengalaman yang direalisasikan dalam bentuk proses, partisipan dan sirkumstansi (Gerot and Wignell, 1994; Halliday and Matthiessen, 2004).

Sesuatu dapat dianggap sebagai proses apabila proses itu terjadi atau berlangsung, ada yang terlibat dalam proses dan terjadi dalam suatu situasi tertentu. Oleh karena itu proses terdiri atas tiga unsur yaitu proses itu sendiri, yang

(9)

terlibat dalam proses (partisipan) dan keterangan yang mengitari terjadinya proses seperti waktu, tempat dan cara (sirkumtansi). Alat yang digunakan untuk menyatakan proses adalah kata kerja, untuk menyatakan partisipan adalah nomina dan untuk menyatakan sirkumtansi adalah adverba.

Halliday dan Matthiessen (2004) juga menyatakan bahwa srtruktur transivitas menunjukkan makna representasi yang ada dalam sebuah klausa biasanya berupa proses yang berhubungan dengan partisipan dan sirkumstansi. Fairclough (1989) menambahkan „the system of transivity makes options available and to choose which type to signify a real process may be of cultural, political or

ideological significance‟. Sistem transivitas memungkinkan adanya pilihan, dan

untuk memilih suatu jenis proses bisa saja berdasarkan secara budaya, politik dan ideologi.

Proses menunjuk kepada kegiatan atau aktivitas yang terjadi dalam klausa yang dinyatakan dengan verba (menurut tata bahasa tradisional dan formal). Proses merupakan penentu dalam satu unit pengalaman karena proses mengikat partisipan. Ada enam jenis proses dalam sistem transivitas yaitu : proses material, mental, relasional, verbal, perilaku dan eksistensial/wujud (Gerot and Wignell, 1994; Halliday and Matthiessen, 2004). Masing-masing proses tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1) Proses Material

Proses material adalah aktivitas atau kegiatan yang menyangkut fisik dan nyata dilakukan pelakunya (process of doing and happening), karena sifatnya yang demikian proses material dapat diamati dengan indera. Pada proses material terdapat partisipan yang melakukan sesuatu yang disebut aktor dan partisipan

(10)

yang lain gol/sasaran (tidak selalu ada) yang kepadanya proses ditujukan atau dikenai proses.

Contoh proses material: menari, menulis, membaca, membeli, berlari, berkunjung dan lainnya.

2) Proses Mental

Proses mental menunjukkan kegiatan atau aktivitas yang menyangkut indera, kognisi, emosi/afeksi dan persepsi yang terjadi di dalam diri manusia (process of sensing). Pada proses mental terdapat partisipan pengindera (senser) yaitu yang terlibat dalam proses mental dan fenomenon adalah partisipan yang dikenai proses mental.

Contoh proses mental: menyadari, mengetahui, percaya, suka, melihat, mendengar dan lainnya.

3) Proses Relasional

Proses relasional adalah proses yang menunjukkan keadaan, sifat atau kepemilikan (process of being). Proses relasional berfungsi menghubungkan satu entitas dengan lingkungan lain dalam hubungan intensitas, sirkumstan dan kepemilikan. Hubungan intensitas menunjukkan hubungan satu entitas dengan entitas lain. Hubungan sirkumstan menunjukkan hubungan satu entitas dengan lingkungan yang terdiri atas lokasi, sifat, peran, fungsi, sertaan dan sudut pandang dan hubungan kepemilikan menunjukkan kepunyaan.

Hubungan dalam proses relasional ini terdapat dua cara (mode) yaitu atribut dan identifikatif. Proses atribut mengandung pengertian A adalah atribut B dan proses identifikatif mengandung pengertian A adalah identitas B.

(11)

Pada proses relasional yang atributif terdapat partisipan yang disebut penyandang (carrier) digunakan untuk partisipan yang memiliki atribut dan sandangan (attribute) yang digunakan untuk partisipan yang memiliki sifat penyandang. Partisiapan dalam proses relasional yang identifikatif disebut tanda (token) yaitu partisipan yang diidentifikasi dan nilai (value) yaitu partisipan yang mengidentifikasi. Partisipan dalam proses relational kepemilikan disebut pemilik (possessor) dan milik (possessed) yaitu yang dimiliki partisiapan.

Contoh proses relational: adalah, berada, merupakan, termasuk, mempunyai, meliputi dan lainnya.

4) Proses Verbal

Proses verba adalah proses yang menunjukkan kegiatan pemberitahuan atau pewartaan (process of saying) atau aktivitas yang menyangkut informasi.

Pada proses verbal terdapat partisipan penyampai (sayer), partisipan penerima (reciever), patisipan yang diwartakan (verbiage) dan partisipan sasaran (target) Contoh proses verbal: berkata, menceritakan, mengaku, menjelaskan, berseru, bersumpah dan lainnya.

5) Proses Perilaku

Proses perilaku adalah proses yang menunjukkan tingkah laku (process of behaving) atau kegiatan fisiologis yang menyatakan perilaku fisik manusia. Partisipan yang ada dalam proses perilaku hanya satu yaitu partisipan petingkah laku (behaver).

Contoh proses perilaku: bernafas, pingsan, menguap, tersenyum, tertawa, tidur dan lainnya.

(12)

6) Proses Eksistensial/Wujud

Proses eksistensial adalah proses yang menunjukkan keberadaan sesuatu (process of existing). Di dalam bahasa Inggris proses eksistensial ditandai dengan

„there‟, sedangkan dalam bahasa Indonesia proses eksistensial diawali dengan

penggunaan kata „ada‟.

Partisipan dalam proses eksistensial disebut eksisten (existent) yang biasanya terletak di belakang proses eksistensial tersebut.

Contoh proses eksistensial : ada, terdapat, muncul, terjadi, tumbuh, berada dan lainnya.

2.2.2 Fungsi Interpersonal/Antarpersona

Halliday and Matthiessen (2004) mengatakan „ideational function is

languageas reflection, while interpersonal function is language as action‟ bahwa

fungsi ideasional menjadikan bahasa sebagai refleksi, sedangkan fungsi interpersonal menjadikan bahasa sebagai sebuah tindakan. Bahasa memerankan hubungan personal dan sosial kita dengan orang lain serta dengan lingkungan sekitar kita. Klausa/kalimat tidak hanya menjadi bentuk yang menunjukkan proses dengan segala macam partisipan dan sirkumstansinya melalui bahasa kita memberikan informasi, mempertanyakan, memberi perintah atau pesanan, menunjukkan penghargaan dan sikap kita kepada lawan bicara mengenai apa yang kita bicarakan. Fungsi interpersonal membuat tuturan menjadi interaktif atau personal.

Gerot and Wignell (1994) mengatakan bahwa makna interpersonal merupakan makna yang mengungkapkan sikap dan penilaian penutur atau

(13)

produsen teks. Saragih (2008) mengatakan makna interpersonal menunjukkan tindakan yang dilakukan terhadap pengalaman dalam interaksi sosial. Dengan kata lain, makna interpersonal merupakan aksi yang dilakukan pemakai bahasa dalam saling bertukar pengalaman linguistik yang terepresentasikan dalam makna pengalaman (experiential meaning). Dengan kemampuan interaksi sosial, manuasia mempertukarkan pengalaman untuk memenuhi kebutuhannya.

Makna interpersonal pada tataran gramatika direalisasikan dengan mood, yaitu sebuah struktur gramatika yang terdiri dari subjek, finite, predikator, pelengkap dan keterangan. Posisi subjek umumnya diisi kelompok nomina, sedangkan finite adalah bagian dari verba yang menunjukkan polaritas, modalitas dan kala. Dalam bahasa Inggris, untuk mendapat informasi maka finite (is,am,are, can, may dan lain-lain) ditempatkan sebelum subjek. Djatmika (2012) mengatakan, dalam bahasa Indonesia tidak ada unsur kala, sehingga untuk mendapatkan informasi tidak harus membuat susunan subjek, finite seperti dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, analisis struktur mood dalam bahasa Indonesia dapat difokuskan kepada subjek, predikat, pelengkap dan keterangan.

Selain mood, makna interpersonal juga direalisasikan dengan Modalitas (Halliday and Matthiessen, 2004) yaitu suatu ekspresi pendapat dan penilaian oleh penerima tuturan mengenai informasi apa yang baru saja diterima. Pembeda utama dalam menentukan pemilihan modalitas adalah orientasi, yaitu modalitas yang bersifat subjektif atau objektif, serta diungkapkan dalam bentuk yang eksplisit atau implisit. Ada tiga nilai dasar utama modalitas yaitu, tinggi, sedang dan rendah.

(14)

Modalitas tidak hanya sekedar pelengkap kata kerja. Arah ideologi dan ideologi apa yang dianut dapat dibuktikan melalui penggunaan modalitas (Fairclough, 1989). Dengan demikian bahwa modalitas merupakan nilai yang diberikan oleh si penutur, suka atau tidak suka, menolak atau menerima, setuju atau tidak setuju atau mungkin berada ditengahnya. Modalitas mengandung ideologi (gagasan, pendapat, ide, keyakinan) dari si penutur, sekaligus menunjukkan posisi penutur di pihak mana.

Berdasarkan nilai (value), yakni tingkatan kemungkinan terjadi atau tingkat kedekatannya terhadap polar „ya‟ atau „tidak‟, masing-masing probabilitas,

keseringan, keharusan dan kecenderungan dapat digolongkan ke dalam tiga tingkat: tinggi yakni aksi yang paling dekat ke polar „ya‟ dan paling mungkin terjadi, tingkat rendah yang paling dekat ke polar „tidak‟ dan paling mungkin tidak

terjadi, dan tingkat menengah antara tinggi dan rendah, seperti dalam tabel modalitas berikut (Saragih: 2008)

Tabel 2.1. Modalitas

Modalitas

Polar Positif

Probabilitas Keseringan Keharusan Kecenderungan

Tinggi Pasti Selalu wajib ditetapkan

Menengah mungkin Biasa diharapkan mau

Rendah barangkali Kadang-kadang

boleh ingin

Polar Negatif

2.2.3 Fungsi Tekstual

Bahasa memiliki aturan bahwa pesan yang disampaikan disusun dan dirangkai dengan baik (berpola atau bersistem). Fungsi tekstual (textual function) adalah fungsi penggunaan bahasa untuk merangkai pengalaman yang di dalam

(15)

rangkaian itu terbentuk keterkaitan satu pengalaman relevan dengan pengalaman yang telah dan akan disampaikan sebelum dan sesudahnya yang berkaitan dengan lingkungan atau konteks. Gerot and Wignell (1994) mengatakan „textual menanings express the relation of language to its envirorment including both the

verbal environment – what has been said or written before (co-text) and the

non-verbal, situational environment (context). These meanings are realized through

patterns of themes and cohesion. Textual meaning are most centrally influenced

bu mode of discorse.

Halliday and Matthiessen (2004) mengatakan makna tekstual berhubungan dengan konstruksi sebuah teks. Ini berarti bisa menjadi fungsi perantara, terhadap kedua fungsi yang lain (makna ideasional yang menguraikan pengalaman dan makna interpersonal yang memerankan hubungan interpersonal) tergantung kepada kemampuan membangun rangkaian wacana, mengatur alirannya dan menciptakan keutuhan dan kontinuitas wacana yang muncul secara jelas dalam wujud gramatika.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada dimensi makna tekstual, teks dipandang sebagai sumber makna yang digunakan untuk menampilkan pengorganisasian informasi atau pesan. Dalam tataran gramatika, makna tekstual direalisasikan dalam bentuk struktur tema dan rema (Djatmika, 2012). Pada klausa terdapat susunan distribusi informasi. Informasi yang dianggap lebih penting biasanya ditempatkan di bagian awal disebut tema, sedangkan bagian yang disusulkan atau yang melengkapi informasi yang telah disampaikan sebelumnya disebut rema.

(16)

2.3Teks Guru

Dalam interaksi di kelas, guru selalu menggunakan bahasa untuk memperlancar proses interaksi pembelajaran. Dalam interaksi tersebut, guru diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik untuk mencapai pembelajaran yang aktif. Selain itu, guru memiliki tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran yang lebih efektif dan meningkatkan keterampilan murid serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan bahasa.

Penggunaan bahasa merupakan realitas interaksi komunikasi guru dan murid yang berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dalam kegiatan berkomunikasi tersebut diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi murid sehingga murid aktif. Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan kegiatan yang melibatkan dua pihak, yaitu guru dan murid. Guru sebagai pengajar melaksanakan pembelajaran sesuai dengan fungsi dan prinsip-prinsip pembelajaran. Sementara itu, murid menerima dan merespons pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dirancang guru. Sebagai kegiatan yang melibatkan dua pihak, tentu terjadi interaksi antara keduanya, baik interaksi verbal maupun nonverbal. Interaksi verbal merupakan interaksi yang melibatkan penggunaan bahasa atau tuturan, sedangkan interaksi nonverbal merupakan interaksi yang melibatkan hal lain di luar bahasa.

Pembahasan mengenai wacana kelas sudah banyak dilakukan peneliti sebelumnya, pada penelitian ini yang dimaksud dengan istilah wacana kelas dikaitkan dengan teks linguistik yang dipakai guru ketika mengajar di dalam

(17)

kelas. Istilah wacana kelas sering dikaitkan dengan bahasa dalam kelas. Hal ini dikarenakan istilah juga menunjukkan jenis register, tidak pada jenis wacana, sehingga bahasa di kelas identik dengan „classroom register‟ (Halliday 1978:610).

Bahasa dalam konteks kelas merupakan bahasa yang memiliki karakteristik tersendiri dari bahasa-bahasa yang digunakan pada konteks lain. Tujuan utama paling mendasar dari penggunaan bahasa di kelas adalah bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan. Pada pengkajian hubungan antara pengetahuan dan bahasa, Martin (1992:8) menyatakan bahwa bahasa tidak hanya sebagai alat untuk mengekspresikan ide-ide dari proses fisik dan biologis saja, tetapi lebih dari itu, melalui bahasa seseorang dapat menginterpretasikan atau menafsirkan pengalaman dengan pemindahan pengalaman kita ke dalam makna. Pengekspresian bahasa ilmu pengetahuan, banyaknya konsep dan pengetahuan yang dibentuk dan karakteristik bahasa ilmu pengetahuan dihasilkan oleh cara berpikir yang spesifik.

Dengan demikian, belajar di sekolah dapat dilihat sebagai proses magang, pembelajar tidak hanya berlatih linguistik ilmiah, tetapi lebih dari itu, berlatih dalam berpikir dan disiplin ilmu pengetahuan. Sejalan dengan pendapat Christie (2005:237) bahwa pendidikan sebagai proses inisiasi dengan cara membincangkan dan perintah, merupakan pengalaman yang dihargai.

Mackey (1967) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa dalam situasi proses kegiatan pembelajaran di kelas terjadi interaksi antara guru dan murid. Kesimpulan ini didukung oleh Arthur (1983) yang mengemukakan bahwa dalam kelas terjadi pertukaran tindak atau interaksi selama proses belajar mengajar. Sementara itu, Flander (1970) dalam pengamatannya tentang bahasa guru dan

(18)

pengaruhnya terhadap keberhasilan murid menyimpulkan bahwa corak bahasa guru berpengaruh terhadap keberhasilan murid. Hal ini sama dengan pengamatan yang dilakukan oleh Barnes (1969). Beliau mengemukakan bahwa jenis pertanyaan tertentu yang ditanyakan guru, dalam hal ini adalah pertanyaan pancingan, penting artinya dalam rangka memusatkan perhatian murid.

Kegiatan pembelajaran di kelas adalah membelajarkan murid. Membelajarkan berarti meningkatkan kemampuan murid untuk memproses, menemukan, dan menggunakan informasi bagi pengembangan diri murid dalam konteks lingkungannya. Berdasarkan pemahaman tersebut pelibat atau partisipan (guru dan murid) dalam kegiatan belajar di kelas memerlukan kemampuan saling bertukar pengalaman linguistik yang terpresentasikan dalam fungsi pengalaman.

Bahasa di kelas sebagai salah satu bentuk komunikasi, mempunyai ciri tersendiri. Pertama, bahasa guru dan murid sebagai ragam konsultatif sangat fungsional dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, pemahaman terhadap fungsi bahasa ini sangat diperlukan bagi kalangan pendidikan (guru dan murid) demi tercapainya proses belajar mengajar yang ideal.

Kedua, bahasa guru dan murid dalam wacana kelas adalah khas. Bahasa guru dan murid dalam wacana kelas diasumsikan merupakan performansi penutur bahasa dewasa yang ideal karena para guru dan murid menguasai bahasa yang sama, tidak hanya melalui pemerolehan, tetapi juga pembelajaran. Kekhasan berikutnya dapat dilihat pada kesejajaran murid guru pada satu sisi karena berada dalam konteks ilmiah, tetapi pada satu sisi lain tetap dipengaruhi oleh status berbeda.

Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan murid menerima

(19)

dan memahami materi pembelajaran, dalam penelitian ini selanjutnya disebut dengan struktur TG. Strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Strategi pembelajaran terdiri dari : a) Prapembelajaran/Pembukaan yang dianggap penting karena dapat memotivasi dan memberi petunjuk kepada murid. b) Penyajian informasi/Isi dilakukan karena dengan adanya penyajian informasi, anak didik akan tahu seberapa jauh materi pembelajaran yang harus mereka pelajari. c) Kegiatan Tindak Lanjut/Penutup dilakukan untuk dapat mengetahui apakah murid menguasai seluruh materi yang dapat diukur. (Hamzah, 2009)

2.4Analisis Wacana

Analisis wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi terhadap bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wacana dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi bisa terserap di dalamnya, aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.

Untuk bisa dipahami, sebuah teks haruslah memenuhi tujuh standar tekstual yakni: 1) Kohesi, 2) Koherensi, 3) Intensionalitas, 4) Keberterimaan, 5)

(20)

Informativitas, 6) Situasional, 7) Intertekstual, menurut de Beaugrande dan Dressler (1986). Jika ketujuh standar tidak dipenuhi, sebuah teks tidak akan menjadi komunikatif. Teks yang tidak komunikatif diperlakukan dengan non-texts. Secara tegas de Beaugrande dan Dressler (1986) mengemukakan bahwa tujuh standar tekstual itu sebagai constitutive principles, yakni prinsip-prinsip yang bersifat integratif yang bersifat wajib dalam komunikasi tekstual.

Ada tiga pandangan mengenai analisis wacana dalam bahasa. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik, titik perhatian didasarkan pada benartidaknya bahasa secara gramatikal. Analisis ini disebut analisis isi (kuantitatif).

Pandangan kedua disebut sebagai konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara. Analisis ini disebut analisis framing (bingkai).

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun

(21)

strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana kritis dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana kritis melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan „kekuasaan‟. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini

disebut juga dengan analisis wacana kritis/AWK.

2.5Linguistik Kritis

Crystal (1991:90) berpendapat bahwa linguistik kritis merupakan kajian ilmu bahasa yang bertujuan mengungkap relasi-relasi antara kuasa tersembunyi (hidden power) dan proses-proses ideologis yang muncul dalam teks lisan atau tulisan. Linguistik kritis dikembangkan di Inggris Raya dan menjadi sebuah metode yang menggabungkan analisis teks linguistik dengan sebuah teori sosial, yang menjelaskan bagaimana sebuah bahasa berfungsi dalam proses politik dan ideologi.

Konsep kritis dalam analisis bahasa mulai muncul pada tahun 1979 oleh Fowler, Hodge, Kress, and Trew (lihat Blomaert, 2005). Fowler sang pelopor secara terang-terangan mengatakan bahwa pikiran-pikiran Halliday lah yang mendasari pengembangan linguistik kritis ini. Teori yang mendasari metodelogi linguistik kritis ini diambil dari Linguistik Sitemis Fungsionalnya Michael Halliday yang berfokus pada tata bahasa, perbendaharaan kata, dan khususnya kata kerja transitif dan transformasi, untuk kepentingan ideologis dalam teks, yang berarti untuk menganalisis wacana diperlukan suatu konsep analisis linguistik yang tidak semata-mata deskriptif. Dalam beberapa karyanya, Fairclough (1989;

(22)

1995), misalnya menyebut bahwa teorinya adalah gabungan dari linguistik fungsional-sistemik Halliday, linguistik Fowler, dan teori sosial baru Foucault.

Linguistik kritis amat relevan digunakan untuk menganalisis fenomena komunikasi yang penuh dengan kesenjangan, yakni adanya ketidak setaraan relasi antar partisipan, sebagai contoh dalam komunikasi politik, relasi antara atasan-bawahan, komunikasi dalam wacana media massa, dan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam politik gender. Dalam paradigma kritis bahasa dipandang sebagai sesuatu yang tidak netral, tidak bebas dari kepentingan, menjadi ajang dan media manipulasi dan kompetisi, selalu diwarnai oleh relasi dominasi-subordinasi. Bahasa dikaji sebagai media praksis untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, memperkokoh citra diri, dan menyingkirkan posisi kelompok lain sebagai lawan. Kajian bahasa senantiasa menjadi kajian atas konteks sosial-historis (Fowler, 1996; Wodak, 2008).

Menurut Fowler (1996:5), model linguistik ini sangat memperhatikan penggunaan analisis linguistik kritis untuk membongkar misrepresentasi dan

diskriminasi dalam pelbagai modus wacana publik. Fowler merumuskan sebuah analisis wacana publik, yakni sebuah analisis yang dirancang untuk (i) memperoleh atau menemukan ideologi yang dikodekan secara implisit di belakang proposisi yang jelas (overt propositions), dan (ii) mengamati ideologi secara khusus dalam konteks pembentukan sosial (Fowler, 1996:3).

Linguistik kritis berfokus pada „interpretasi kritis‟ atas sebuah teks, dengan menemukan interpretasi sosial yang diekspresikan dalam teks tersebut. Linguistik kritis menganalisis struktur sebuah teks dengan saksama dan juga menganalis konteks sosial sebuah teks dengan luas (Fairclough 1992 : 27). Prioritas lain

(23)

linguistik kritis adalah menjelaskan hubungan sosial dan identitas sosial ditandai dalam klausa-klausa yang ada dalam sebuah teks (Fairclough, 1992: 28).

Dalam pandangan kritis, fitur-fitur wacana lebih dipandang hanya sebagai „gejala‟ dalam persoalan-persoalan yang lebih besar, seperti ketidakadaan,

ketidakadilan, perbedaan kelas, seksisme, rasisme kekuasaan, dan dominasi subjek daripada sekadar teks dan tuturan. Kemudian ditegaskan oleh Dijk (1985:7) bahwa wacana memainkan peran yang penting sekali dalam perumusan ideologi, reproduksi komunikatif, dan prosedur penentuan sosial dan politis, serta memanajemen institusi dan representasi isu-isu sosial lain.

2.6 Analisis Wacana Kritis

Analisis wacana kritis (AWK) dalam beberapa dekade terakhir telah berkembang sangat pesat sebagai satu metode ilmu sosial yang membahas rasa dan guna bahasa. Fairclogh merupakan ilmuwan pertama yang menggunakan istilah Critical Discourse Analysis (CDA) untuk membedakannya dari Discourse Analysis (DA). Tulisan Fairclough dalam bukunya yang berjudul Language and Power (1989) dianggap sebagai buku yang sangat penting dalam pengembangan era AWK. Setelah itu banyak para ilmuan tertarik terhadap AWK, bagai sebuah magnet banyak pertemuan dan publikasi ilmiah dilakukan untuk mengkaji AWK lebih lanjut. Ada beberapa publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal yang sangat terkenal antara lain Discourse and Society dikelola oleh Teun van Dijk, Critical Discourse Studies dikelola oleh Norman Fairclough dan Journal of Language and Politics dikelola oleh Ruth wodak dan Paul Chilton.

(24)

Pemahaman dasar AWK adalah wacana tidak dipahami hanya semata-mata sebagai objek studi bahasa. AWK merupakan pengembangan dari analisis wacana biasa dengan melihat lebih dalam makna yang tersembunyi dari suatu teks. Pemakaian bahasa tutur dan juga tulisan adalah wujud praktik sosial dalam AWK. Dalam AWK wacana tidak dipahami semata sebagai studi bahasa tetapi wacana adalah sebuah bentuk dari praktik sosial sehingga perlu diperhatikan kriteria yang holistik dan kontekstual (Jorgensen dan Philip, 2007:65). AWK adalah sebuah pendekatan yang tidak hanya menganalisis teks secara lisan tetapi juga secara lisan seperti dalam Teun Van Dijk (1993):

„Critical Discourse Analyis (CDA) has become the general label for

special approach to the study of text and talk, emerging from critical linguistics, critical semiotics and in general from a socio politically conscious optional way of investigating language,discorse and communication‟

Kualitas suatu wacana kritis akan selalu dinilai dari segi kemampuan menempatkan teks pada konteks yang utuh. Wacana tidak lagi dipahami sekadar serangkaian kata atau proposisi dalam teks, tetapi sebagai sebuah gagasan, konsep atau efek yang dibentuk dalam satu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak .

Menurut Fairclough (1985; 1995) setiap institusi sosial berisi cara-cara berbicara dan cara-cara melihat yang dalam terminologi Fairclough disebut „bentukan ideologi-diskursif‟. Biasanya hanya satu bentukan ideologi-diskursif

yang dominan, sementara itu bentukan ideologi-diskursif yang lain berada pada posisi tersubordinasi dan terhegemoni. Setiap institusi sosial memiliki norma-norma wacana yang dilekatkan dalam norma-norma-norma-norma ideologis dan disimbolkan oleh norma ideologisnya. Subjek institusi dikonstruksikan menurut norma-norma

(25)

sebuah bentukan ideologi-diskursif, yang memungkinkan posisi subjek pendukung ideologi itu tidak sadar.

Bentukan ideologi-diskursif yang dominan selalu menaturalisasikan ideologinya pada kelompok lainnya agar tampak sebagai suatu „akal sehat‟ yang non-ideologis. Proses-proses naturalisasi ini berjalan sedemikian rupa sehingga anggota komunitas sudah tidak merasakan dan menganggap yang dinaturalisasikan itu sebagai suatu kebenaran yang secara akal sehat tidak perlu lagi dikritisi.

Jadi AWK dimaknai adalah sebuah upaya atau proses (penguraian) untuk memberi penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh apa yang diinginkan. Artinya, dalam sebuah konteks harus disadari akan adanya kepentingan. Oleh karena itu, analisis yang terbentuk nantinya disadari telah dipengaruhi oleh si pembuat teks dari berbagai faktor. Selain itu harus disadari pula bahwa dibalik teks itu terdapat makna dan

citra yang diinginkan serta kepentingan yang sedang diperjuangkan. Jadi dalam wacana seseorang di dalamnya terkandung motif ideologis dan relasi kekuasaannya.

AWK yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subjek (pembuat teks) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembuat teks dengan mengikuti struktur makna dari sang pembuat teks, sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam wacana dapat diketahui. Jadi, dalam teks dapat dilihat dari bentuk

(26)

hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subjek dan berbagai tindakan representasi. Domain utama dalam pembahasan AWK adalah Ideologi (Renkema, 2004: Blomaert, 2005; Woofftt, 2005; Wodak, 2007), namun demikian AWK juga merupakan konsep kritis seperti kekuasaan dan historis.

2.6.1 AWK versi Norman Fairclough

Pada pandangan Fairclough, bahasa tutur dan bahasa tulis merupakan bentuk praktik sosial yang dilakukan oleh penulis dan penutur kepada pembaca dan pendengar. Norman Fairclough (1989) melihat adanya dialektika antara kenyataan sosial dan wacana. Wacana mempengaruhi tatanan sosial, demikian juga sebaliknya, tatanan sosial mempengaruhi wacana.

Model analisis wacana yang dikembangkan oleh Fairclough adalah Pendekatan Relasi Dialektika (Dialectical-Relational Approach) atau lebih dikenal dengan pendekatan perubahan sosial. Dialektika antara kenyataan sosial dan wacana bisa ditelusuri melalui beberapa parameter. Pertama, wacana membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Kedua, wacana membantu proses terbentuknya pengetahuan dan perubahan pengetahuan orang terhadap objek, hubungan sosial dan identitas sosial. Ketiga, wacana dibentuk oleh relasi kekuasaan dan terkait dengan ideologi. Keempat, pembentukan wacana menandai adanya tarik ulur kekuasaan antar partisipan dalam sebuah interaksi sosial.

AWK versi Fairclough (1989 & 1995) menitik beratkan pada tiga hal penting: pertama, setiap teks secara simulatan memiliki tiga fungsi yaitu fungsi representasi, fungsi relasi dan fungsi identitas. Kedua, praktik wacana meliputi cara-cara para penulis/penutur sebagai produser teks dalam memproduksi teks

(27)

mereka. Ketiga, praktik sosial budaya menganalisis hal ekonomi, politik (utamanya yang berkaitan dengan isu kekuasaan dan ideologi) dan budaya (tata nilai, norma dan identitas). Secara kontekstual, praktik sosial budaya meliputi tingkat situasional, tingkat institusional dan tingkat sosial. Tingkat situasional, berkaitan dengan produksi dan konteks situasi pada waktu teks dibuat. Tingkat institusional berkaitan dengan pengaruh institusi secara internal maupun eksternal. Sedangkan tingkat sosial berhubungan dengan situasi yang lebih luas, seperti sistem ekonomi dan sistem budaya masyarakat.

Ideologi dan relasi sosial yang tidak setara seringkali muncul secara tersamar dalam bahasa/teks, sebagaimana diungkapkan „...the ideological loading

of particular ways of using language and relations of power which underlie them

are often unclear to people‟ (Fairclough, Mulderrig and Wodak 2011:358). Dalam perspektif AWK Norman Fairclough, ideologi merupakan domain utama. Identifikasi ideologi dalam teks bisa dilakukan melalui penggunaan jenis proses dan partisipan yang dominan pada teks yang tengah dikaji, kosakata baik formal maupun informal termasuk metafora, nominalisasi, penggunaan kalimat deklaratif, imperatif dan kalimat tanya, penggunaan kalimat aktif atau pasif, penggunaan kalimat positif atau negatif, penggunaan modalitas (Fairclough 1989:120-130). Menurut Fairclough dalam kehidupan sosial selalu ada pihak yang berusaha menjaga agar tetap mempunyai kekuatan dan kekuasaan (langgeng). Wacana tidak berdiri sendiri namun menjadi bagian dari kehidupan sosial. Wacana saling berhubungan dengan unsur-unsur lain dalam kehidupan sosial tersebut, sehingga analisis wacana dan sosial selalu berkaitan satu sama lain dan tidak terpisahkan.

(28)

2.6.2 AWK versi Teun A. Van Dijk

Van Dijk (1985) melahirkan karya tulisan berjudul Stucture of the news in the press yang menjadi pondasi AWK dengan pendekatan kognisi sosial. Menganalisis teks berita dengan melihat hubungan teks dengan konteks di luar teks. Dalam persepsi Van Dijk, wacana memiliki tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Ketiganya merupakan suatu kesatuan analisis yang padu dan saling terkait. Dalam sebuah teks perlu dicermati: Pertama, bagaimana struktur teks dan strategi wacana digunakan untuk menyajikan sebuah tema dan topik tertentu. Kedua, kognisi sosial mempelajari proses produksi teks yang melibatkan kognisi individu berdasarkan profesinya (guru, ulama, dokter, wartawan, politisi). Ketiga, konteks sosial mengkritisis bangunan/konstruksi wacana yang berkembang di masyarakat mengenai suatu masalah/topik tertentu.

AWK versi Van dijk ini lebih dikenal dengan sebutan „kognisi sosial‟ yang

analisisnya lebih menitikberatkan pada kognisi sosial individu si pemroduksi teks. Teks tidak cukup hanya dicermati dari perspektif analisis teks, tetapi sebagai suatu praktik produksi. Sebuah teks harus diamati sejak dari awal mula teks itu diproduksi, apa asumsi yang terbangun di benak si produsen teks, apa agenda yang disampaikannya, bagaimana lingkungan sosial dan latar belakang akademis yang telah membentuk penulis/pembicara, sehingga menghasilkan sebuah teks dengan karakteristik tertentu.

Struktur wacana menurut model Van Dijk terdiri atas tiga bagian yang membentuk satu kesatuan yaitu: stuktur makro, suprastruktur dan struktur mikro. Struktur makro merupakan wadah bagi makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati melaui tema dan topik teks. Suprastruktur melihat teks sebagai

(29)

sebuah kerangka wacana yang memiliki skema. Dengan demikian kelaziman (konvensi/tradisi) pembuatan teks yang berlaku di masyarakat menjadi pijakan penting. Struktur mikro bisa dilihat melalui makna setempat (local meaning) yang dieksplorasi melalui semantik, sintaksis, stilistika dan retorika teks.

Dengan menganalisis seluruh komponen struktur wacana, Van Dijk meyakini bahwa kognisi sosial produsen wacana bisa dieksplorasi dan dipahami. Secara teoritis pandangan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan (Van Dijk,1985). Unsur-unsur kerangka pengembangan ideologi oleh produsen teks memuat: penekanan pada kebenaran kita (Emphasize our good thing), penekanan pada keburukan orang (Empahasize their bad thing), pengurangan keburukan kita (De-emphasize our bad things) dan pengurangan kebenaran mereka (De-emphasize their good things). Keempat kerangka Ideologi Dijk ini menggambarkan bagaimana suatu teks dimanipulasi sipembuat teks melalui penonjolan sisi baiknya dan meminimalisasikan sisi buruknya.

Menurut Van Dijk (1985), suatu ideologi yang muncul dalam sebuah wacana dapat diungkap melaui kajian penggunaan bentuk modalitas, pilihan kata dan urutan kata, pemakain kalimat pasif dan kalimat aktif, penggunaan bentuk nominalisasi dan pilhan kosakata dan kalimat yang membawa citra positif atau negatif. Van Dijk (1993) menyatakan bahwa ada beberapa tujuan AWK yaitu: 1. AWK fokus kepada persoalan-persoalan sosial dan isu-isu politik, 2. AWK sangat cocok diterapkan secara multi-disiplin, 3. Tidak sekadar memberi gambaran dari struktur wacana, namun AWK juga mencoba menjelaskan properti interaksi sosial dan struktur sosial, dan 4. Lebih spesifik, AWK fokus kepada bagaimana struktur

(30)

wacana memainkan peran, mengkonfirmasi, melegitimasi, memproduksi atau menghadapi relasi kekuasaan dan dominasi dalam masyarakat.

Dalam argumennya Van Dijk mengatakan bahwa ideologi dalam wacana dapat diungkap dengan menyelidiki penggunaan modalitas, penggunaan kata dan urutan kata, kalimat aktif dan kalimat pasif dan nominalisasi, serta penggunaan kosakata dan kalimat yang membawa citra positif atau sebaliknya citra negatif .

2.6.3 AWK versi Theo Van Leewen

Analisis wacana versi Theo van Leewen ini menitikberatkan pada pencarian terhadap pelaku wacana (social actors) dalam sebuah teks baik berupa teks lisan dan teks tulisan seperti berita, komplain, iklan, delik aduan dan lain-lain. Produsen atau sipembuat dalam merekonstruksi teksnya dapat memposisikan suatu kelompok secara dominan dan memberi citra buruk terhadap pihak lawan, dengan merekayasa pemaknaan secara berulang dan terus menerus.

Sebagai contoh bagaimana sebuah media menayangkan buruh yang sedang berdemonstrasi mendapat tindakan kekerasan dari aparat keamanan. Secara berulang-ulang tayangan tersebut dipertontonkan kepada masyarakan umum sehingga terbentuklah opini publik bahwa demonstrasi buruh menimbulkan keonaran, kemacetan, kerusakan (Eryanto, 2002). Intensitas penayangan berita tersebut berperan penting dalam mengkonstruksi ideologi produsen teks dan menggiring pikiran pemirsa.

Model analisis Van Leuween (2008) yang memotret perilaku para aktor sosial pada sebuah peristiwa melalui pemberitaan di media, memfokuskan pada dua hal yaitu pertama, proses pengeluaran (exclusion) dan kedua, proses

(31)

pemasukan (inclusion). Eksklusi merupakan tindakan atau keputusan yang diambil oleh produsen teks untuk menghilangkan atau menyamarkan aktor utama sebuah peristiwa dalam pemberitaan dan sebaliknya menonjolkan korban sebagai pokok perhatian pemberitaan. Inklusi adalah upaya produsen teks untuk memasukkan dan merepresentasikan seseorang atau kelompok sebagai aktor sosial dalam sebuah peristiwa. Strategi eksklusi dan inklusi adalah cara merepresentasikan aktor sosial dalam sebuah wacana. Hal itu bisa terlihat nyata bagaimana pilihan kata, susunan kalimat, teknik penyampaian pelaku wacana. Van Leuween (2008) mengeksplorasi proses eksklusi dan inklusi melalui nominalisasi, bentuk pasif aktif, alokasi, struktur generik dan spesifikasi, asimilasi, asosiasi dan disasosiasi, interdeterminasi dan diferensiasi nominasi dan kategorisasi, fungsionalisasi dan identifikasi, personalisasi dan impersonalisasi serta over determinasi.

2.6.4 AWK versi Ruth Wodak

AWK yang diusulkan oleh Ruth Wodak dan Martin Reisigl (2001) adalah analisis wacana historis dan mendapat banyak pengaruh dari kelompok aliran Frankfurt, khususnya Jurgen Hubermas. Penelitian yang mereka lakukan ditujukan untuk mengkaji seksisme, antisemit dan rasialisme dalam media dan masyarakat. Perspektif historis dalam mengkritisi teks, dipilih karena Wodak dan Reisigl meyakini bahwa konteks sejarah yang melatarbelakangi penciptaan wacana dan penggambaran komunitas pelaku wacana memiliki peran sentral pada pemaknaan wacana sebagaimana yang diungkapkannya „the discourse historical

(32)

approach views discourse as a form of knowledge and memory‟ (Wodak, 2003:13; 2008:6).

AWK model Wodak sebagaimana diungkapkan dalam „The Discourse

Historical Approach‟ (Wodak & Meyer, 2001) meliputi tiga tahapan:

1. Menentukan konten atau topik yang spesifik dari wacana tertentu.

2. Manginvestigasi strategi diskursif dan strategi argumentative yang digunakan. 3. Menganalisis realisasi makna-makna kebahasaan tertulis yang spesifik dalam

konteks tertentu.

Upaya untuk mempertajam AWK, Wodak dan Meyer (2001) mengajukan 5 (lima) pertanyaan dan strategi diskursif sebagai berikut:

1. Bagaimana nama orang dikonstruksi dan secara linguistik mengacu kepada siapa?

2. Apa sifat, karakter, dan bentuk penggambaran yang dikonstruksikan untuk mereka (pelaku wacana)?

3. Dengan argumen dan argumentasi seperti apa orang atau sekelompok orang digambarkan secara eksklusi dan inklusi?

4. Dari perspektif mana pelabelan, penggambaran, dan argumentasi disampaikan?

5. Apakah penyampaian pesan dilakukan dengan jelas, intensif/berulang-ulang atau disamarkan?

Dari kelima pertanyaan tersebut tergambar bahwa AWK versi Wodak adalah usaha mendeskripsikan seseorang secara positif atau negatif. Dalam istilah Wodak, strategi diskursif ini dilakukan melalui penciptaan strategi positif pada diri sendiri dan citra negatif pada diri orang lain. Dengan kata lain, model ini

(33)

mengkonstruksi diskursus „saya‟ dan „mereka‟. Wodak selanjutnya mengeksplorasi wacana berdasarkan 4 (empat) aspek: perspektif yang digunakan oleh produsen teks, strategi representasi diri, strategi argumentasi, dan strategi mitigasi (indirectness).

2.6.5 AWK versi Sara Mills

AWK model Sara Mills mengeksplorasi bagaimana wanita ditampilkan dalam teks. Mills melihat bahwa wanita secara sosial sering dikonstruksikan sebagai pihak yang dimarjinalkan dalam teks dan selalu dalam posisi salah. AWK model ini sering disebut sebagai analisis wacana perspektif feminis atau lebih dikenal sebagai Feminist Stylistic (Mills 1995:13).

Analisis wacana model ini bertujuan untuk:

1. Mengeksplorasi asumsi atau ideologi penulis dalam stilistika konvensional sebuah teks. Mills tidak hanya menambahkan perspektif gender ke dalam aspek yang dianalisa, namun ia juga menggunakan stilistika sebagai fase baru dalam analisis wacana.

2. Mengenali bagaimana posisi aktor ditampilkan dalam teks, pihak mana yang menjadi subjek penceritaan dan pihak mana yang dijadikan objek penceritaan.

Positioning aktor dalam teks ini mempengaruhi struktur teks dan bagaimana makna dikonstruksi dalam teks secara keseluruhan.

3. Selain itu, Mills juga mengkritisi bagaimana penulis dan pembaca teks diposisikan dalam teks. Ekspektasi pembaca, values yang mereka anut, afiliasi politik, keyakinan dan norma-norma yang dijunjung tinggi pembaca ikut menentukan bagaimana pembaca ditampilkan dalam teks. Menurut Sara Mills,

(34)

konsep pemosisian pembaca dalam berita oleh peneliti dilakukan secara tidak langsung. Pertama, kebenaran dalam teks diungkapkan secara hierarkis dan sistematis dan pembaca mengidentifikasi dirinya dengan karakter atau peristiwa yang ada dalam teks (Eriyanto, 2002). Kedua, pembaca menafsirkan karakter dan peristiwa dalam teks dengan mengacu pada nilai budaya yang berlaku dan hadir dibenaknya.

4. Pada akhirnya, cara/gaya penceritaan dan urutan dalam menampilkan pesan/informasi ikut menentukan apakah satu pihak terlegitimasikan posisinya atau delegitimasi kedudukannya.

Tiga level analisis yang diusulkan oleh Sarah Mills (1995): a. Analisis pada level kata

1) Seksisme dalam bahasa 2) Seksisme dalam makna b. Analisis pada level frasa kalimat

1) Penamaan

2) Pelecehan pada wanita 3) Belas kasihan/pengkerdilan 4) Penghalusan/tabu

c. Analisis pada level wacana 1) Karakter/peran

2) Fragmentasi 3) Fokalisasi 4) Skemata

(35)

Dari semua penjelasan tentang berbagai versi AWK di atas, maka wacana dalam perspektif AWK bukanlah semata-mata sebuah studi bahasa. Bahasa dimaknai sebagai kendaraan untuk melihat hubungan tiga elemen yang saling mengait: teks, interaksi dan konteks sosial (Fairclough, 1989:109). Selanjutnya Van Dijk (2001:354) menegaskan bahwa AWK merupakan jembatan yang menghubungkan aspek mikro (teks dan struktur teks) dan makro (konteks). Sifat kritis AWK ditandai dengan eksplorasi dan eksplanasi terhadap hubungan baik tersurat maupun tersirat antara wacana, kekuasaan, dominasi, dan ketidakadilan sosial (Van Dijk, 1993:249). Mengingat kompleksitas perspektif yang digunakan dalam menganalisis suatu teks, AWK mengharuskan cara pandang multidisipliner (Van Dijk, 1993; Wodak, 2005) pemahaman secara komprehensif empat konsep yang melekat pada pendekatan ini, yaitu kritis, kekuasaan, historis, dan ideologis.

Secara ringkas bisa disimpulkan disini bahwa Van Dijk (19985, 1993, 2001) mengeksplorasi ideologi dalam teks secara sosio-kognitif yang bisa membantu analisis untuk menguak tabir ideologi yang tersembunyi dibalik teks. Fairclogh (1989, 1995) mengusulkan tiga dimensi makna dalam analisis wacana, yaitu dimensi wacana sebagai teks, wacana sebagai praktik diskursif dan wacana sebagai praktik sosial dengan memanfaatkan semiotik sosial yang diperkenalkan oleh Halliday. Wodak (Wodak & Meyer, 2001) mengajukan model analisis wacana secara historis yang mencoba mengintegrasikan analisis teks dengan mempertimbangkan konteks historis dalam penafsiran makna wacana. Sedangkan Van Leeuwen (2008) lebih menekankan pada pendeskrepsian aktor sosial dalam wacana dan menjelaskan bagaimana aktor sosial ditampilkan dalam teks.

(36)

Akhirnya, Sarah Mills (`1995) mencoba mengupas bagaimana sosok wanita yang dimarjinalkan dalam sebuah teks.

Singkatnya, bahwa teori AWK bukanlah suatu disiplin ilmu akademik yang tidak dapat dibagi-bagi lagi degan metode penelitian yang dianggap relatif tetap. AWK sebaiknya dipandang sebagai suatu gerakan penelitian berbasis permasalahan yang multi-disiplin, memasukan berbagai pendekatan, dengan masing-masing model teori, metode penelitian dan agenda yang berbeda. Hal-hal apa yang sama dan berbeda dari berbagai versi AWK timbul dari kesamaan minat dalam menggali makna dimensi kekuasaan, ketidakadilan, penyimpangan dan perubahan politik, ekonomi dan budaya masyarakat.

Dari semua teori AWK yang dijelaskan di atas, penulis memilih teori AWK Norman Fairclough model tiga dimensi. Alasannya adalah teori AWK tersebut menganalisis praktek sosial yang dilakukan oleh penulis kepada pembaca dan penutur kepada pendengar. Sejalan dengan penelitian ini yang meneliti tentang TG yang dihasilkan oleh guru (penutur) kepada murid (pendengar).

2.7 Metode AWK Tiga Dimensi

Salah satu pemikir yang mengembangkan metode ini adalah Norman Fairclough. Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial. Sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan perhatiannya pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Jadi dalam AWK, Fairclough memberi gambaran secara umum posisi bahasa dalam suatu komunitas

(37)

sosial, dan juga hubungan antara bahasa dan kekuasaan, dan hubungan bahasa dan ideologi.

Istilah kritis digunakan untuk menunjukkan dan menjelaskan hubungan yang mungkin tersembunyi antara bahasa, kekekuasaan dan ideologi. Dengan kata lain AWK menganalisis interaksi sosial yang difokuskan pada unsur kebahasaan dan dibuat untuk mengungkapkan aspek-aspek penentu relasi sosial yang umumnya tersamar dan efek yang tersembunyi dalam sistem itu sendiri (Fairclogh, 1989:5).

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu. AWK akan berusaha menjelaskan penggunaan bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain dan AWK merupakan pengembangan dari analisis wacana (biasa) yang melihat lebih dalam makna yang tersembunyi dari suatu teks.

Fairclough (1989) telah mengidentifikasi dua aspek hubungan antara bahasa dan kekuasaan. Pertama ada kekuatan di balik bahasa. Hal ini menunjuk pada cara bagaimana kelompok-kelompok yang kuat dapat menentukan aspek bahasa.

Kedua, Fairclough mengidentifikasi berbagai cara yang menunjukkan kekuasaan dapat bekerja dalam bahasa. Kekuasaan merupakan konsep penting dalam AWK karena kekuasaan merupakan kapasitas untuk mengimplementasikan dan menjaga struktur tertentu yang bersifat dominasi dan subordinasi.

Dalam menganalisa wacana dengan pendekatan AWK Fairclough menggunakan model yang dinamakan ‟Model Tiga Dimensi‟ yang menyarankan

(38)

agar dalam setiap analisis memberikan fokus kepada tiga dimensi tersebut. Dimensi pertama adalah Deskripsi sebuah Teks (Description of Text) merupakan tingkatan yang berhubungan dengan sifat formal teks. Kedua adalah Interpretasi hubungan antara Teks dan Interaksi (Interpretation of the relationship between Text and Interaction) yang melihat teks sebagai suatu produk dari proses produksi dan sebagai sumber dalam proses interpretasi, keduanya perlu dilakukan interpretasi. Ketiga adalah Penjelasan hubungan antara Interaksi dan Sosial konteks (Explanation of the relationship between Interaction and Social context) yang berkaitan dengan hubungan antara konteks sosial produksi dan konteks sosial interpretasi.

Dengan kata lain, melalui pendekatan Norman Fairclough atau yang dikenal dengan pendekatan perubahan sosial, teks dapat dianalisis melalui tiga tahapan, yakni tahap analisis level mikro (teks), tahap level meso yakni produksi teks (discourse practise) dan tahap makro (sociocultural practise). Dari masing-masing level, Fairclough juga menawarkan konsep analisis yang disesuaikan dengan jenjangnya.

Untuk analisis teks, Fairclough menguraikan 3 (tiga) unsur yang menjadi metode analisis, yakni pada level mikro interpretasi, relasi dan identitas. Sedangkan untuk level meso atau produksi teks adalah analisis untuk melihat bagaimana teks diproduksi dan teks dikonsumsi. Pada level makro, Fairclough menjelaskan tiga level analisis yakni situasional, institusional dan sosial. Penjelasan ini dijelaskan oleh Fairclough dalam gambar berikut:

(39)

Deskripsi (Analisis Teks) [APA]

Interpretasi (Analisis Proses)

[BAGAIMANA]

Eksplanasi (Analisis Sosial) [MENGAPA]

Dimensi Wacana Dimensi Analisis Wacana

Gambar 2.1 Metode Analisis Tiga Dimensi AWK

Setiap peristiwa penggunaan bahasa merupakan peristiwa komunikatif yang terdiri atas tiga dimensi. Model tiga dimensi Fairclough yang direproduksi pada gambar ini merupakan kerangka yang hendaknya dicakup dalam menganalisis sebuah wacana khusus dalam peristiwa komunikatif. Analisis tersebut hendaknya dipusatkan pada (1) ciri-ciri linguistik teks tersebut (teks), (2) proses yang berhubungan dengan pemproduksian dan pengonsumsian teks itu (praktik kewacanaan) dan (3) praktik sosial yang lebih luas yang mencakup peristiwa komunikatif (praktik sosial) yang akan diuraikan secara berurutan.

Kerangka analisis yang dikembangkan oleh Fairclough terdiri dari analisis teks, analisis praktik-praktik wacana dalam bentuk produksi dan konsumsi teks dan analisis praktik-praktik sosio-kultural. Metode yang dikembangkan adalah

PRAKTEK SOSIALKULTURAL (situasi; institusi; masyarakat) Proses produksi

Proses Interpretasi

PRAKTEK WACANA TEKS

(Fairclough 1995: 98)

(40)

deskripsi linguistik teks dari segi kebahasaannya, interpretasi hubungan antara proses yang meluas dalam produksi, konsumsi teks, teksnya dan eksplanasi hubungan antara proses diskursif serta proses sosial.

2.7.1 Deskripsi analisis teks

Dalam mendeskripsikan dimensi wacana sebuah teks dapat dijelaskan melalui ciri-ciri linguistik sebuah teks yaitu mencakup: kata, grammatika dan struktur tekstual. Elemen yang dinalisis tersebut dipakai untuk melihat tiga hal yaitu eksperiensial, relasional dan ekspresif. Nilai eksperiensial digunakan untuk melacak bagaimana representasi dunia dalam pandangan produsen teks. Nilai eksperiensial ini berkenaan dengan pengalaman dan kepercayaan produsen teks. Nilai relasional melacak relasi sosial apa yang diangkat melalui teks dalam wacana tersebut. Nilai ekspresif digunakan untuk mencari evaluasi produsen teks dalam realiats yang berkaitan. Analisis teks merupakan analisis penggunaan kosakata, gramatika dan struktur teks dalam 10 pertanyaan. Fairclough (1989) menekankan bahwa tidak harus semua item penyelidikan di bawah ini dijadikan alat untuk menganalisa sebuah teks, melainkan hanya merupakan alternatif yang terbuka untuk didiskusikan dan dikembangkan lebih lanjut. Pokok-pokok yang harus dilihat adalah sebagai berikut:

Kosakata

1. Nilai eksperiensial apa yang muncul dalam kosakata yang digunakan? a. Skema klasifikasi apa yang dibangun?

b. Apakah ada kosakata yang menampakkan ideologi?

(41)

b. Apakah kosakata yang digunakan alamiah atau tidak alamiah? c. Apakakah ada penggunaan sinonim, antonim, atau hiponim? 2. Nilai relasional apa yang muncul dalam kosakata yang digunakan?

a. Apakah ada ekspresi euphemisme?

b. Apakah kosakata yang digunakan formal atau informal?

3. Nilai ekspresif apa yang muncul dalam kosakata yang digunakan? 4. Metafora apa yang digunakan?

Gramatika

5. Nilai eksperiensial apa yang muncul dalam pola gramatika yang digunakan? a. Bentuk proses dan partisipan apa yang dominan?

b. Apakah agen atau subjek jelas? c. Apakah nominalisasi digunakan?

d. Apakah kalimat yang digunakan aktif atau pasif? e. Apakah kalimat yang digunakan positif atau negatif?

6. Nilai relasional apa yang muncul dalam pola gramatika yang digunakan? a. Apakah menggunakan kalimat deklaratif, pertanyaan, atau imperative? b. Apakah ada pola tertentu dalam penggunaan modalitas yang bersifat

relasional?

c. Apakah pronoun yang digunakan adalah „we‟atau‟you‟?

7. Nilai ekspresif apa yang muncul dalam pola gramatika yang digunakan? a. Apakah ada pola tertentu dalam penggunaan modalitas yang bersifat

ekspresif?

8. Bagaimana kalimat-kalimatnya dihubungkan?

(42)

a. Logical connectors apa yang dipakai?

b. Kalimat kompleksnya menggunakan coordinating atau subordinating conjuction?

Struktur tekstual

9. Bentuk interaksi apa yang digunakan di dalam teks? a. Adakah bentuk kontrol atas partisipan di dalam teks? 10. Struktur yang lebih besar apa yang dimiliki oleh teks?

a. Nilai eksperiensial, relasional, atau ekspresif yang paling mendominasi teks? ( Fairclough,1989).

2.7.1.1 Kosakata

Pengkajian tentang kosakata mencakup tiga nilai yaitu: nilai eksperiensial, nilai relasional, dan nilai ekspresif.

a. Nilai Eksperiensial apa yang terkandung dalam kosakata yang ada dalam teks tersebut.

Lima hal yang berhubungan dengan nilai eksperiensial yaitu: pola klasifikasi kata, kata ideologis, pola leksikal kata, relasi makna kata dan metafora kata.

Pertama, Pola klasifikasi merupakan sebuah cara untuk membagi berapa aspek realitas yang mengandalkan sebuah reprentasi ideologis. Pengelompokan apakah yang tergambar dalam kosakata digunakan untuk dapat merepresentasikan ideologis.

Gambar

Tabel 2.1. Modalitas
Gambar 2.1 Metode Analisis Tiga Dimensi AWK
Gambar 2.2 Diagram Kerangka Kerja Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Lima subyek (20%) merasa kurang puas terhadap penampilan penis pasca operasi hipospadia, yang terutama disebabkan oleh ukuran penis

1. Keluarga merupakan tempat strategis dalam membangun karakter yang kuat bagi anak, begitu pula guru. Karena guru merupakan ujung tombak dalam menyelenggara-

berarti keterampilan menyimak cerita pendek siswa yang dibelajarkan dengan media pem- belajaran audio visual dan memiliki motivasi belajar tinggi tidak lebih baik daripada siswa

Dengan adanya masalah yang ditimbulkan, penyusun mencoba merencanakan Proposal Tugas Akhir dengan judul METODE PELAKSANAAN, WAKTU, DAN BIAYA PEMBANGUNAN JEMBATAN KALIPEPE JALUR

Susun blok diagram digital pada PSoC project sesuai gambar 9a untuk Master dan gambar 9b untuk Slave.. Atur konfigurasi pada I2C Master seperti pada gambar 9c dan I2C

Bank yang nilai rasio BOPO-nya tinggi menunjukkan bahwa bank tersebut tidak beroperasi dengan efisien karena tingginl,a nilai dari rasio ini memperlihatkan besamya

Jumlah ini cukup banyak dibandingkan kecamatan lain karena Watang Sawitto merupakan daerah perkotaan yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, pendidikan, dan

Ada indikasi bahwa penaburan zeolit sebanyak 5 kg/m 2 hamparan litter lantai kandang cenderung memperbaiki kualitas lingkungan kandang, mempertahankan tingkat konsumsi