JENIS-JENIS PENALARAN DI DUNIA BARAT
(DEDUKTIF, INDUKTIF, ABDUKTIF)
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
FILSAFAT ILMU
Dosen Pengampu: Dr. Usman SS, M.Ag
Disusun oleh : Moh. Edi Komara
NIM. 1620411038
KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PRODI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
1 BAB I
PENDAHULUAN
Kemampuan manusia untuk berfikir merupakan anugerah yang istimewa dari Sang
Khaliq. Manusia menggunakan fikirannya untuk memahami segala realitas yang terjadi. Dari
hasil pemikiran, manusia mampu membuahkan berbagai macam pengetahuan. Agar
pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran mempunyai dasar kebenaran, maka proses
berfikir itu harus dilakukan dengan cara penarikan kesimpulan yang shahih atau biasa disebut
dengan logika. Logika adalah pengkajian untuk berfikir secara sahih.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali persoalan yang dihadapkan dengan logika.
Bahkan adapula persoalan-persoalan yang kadang bertentangan dengan logika. Sesuatu yang
logis biasanya akan mudah difahami oleh nalar kita, tetapi sesuatu yang tidak logis kadang
bertentangan dengan pikiran dan hati kita. Contohnya dalam dunia pendidikan adalah
fenomena pengangguran. Orang yang sudah menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan
tinggi, tidak ada satupun institusi atau dinas pemerintahan dan swasta yang menerima dirinya
untuk mengamalkan ilmu yang didapatnya. Selain itu ada juga fenomena penggandaan uang
yang sedang ramai belakang ini. Apabila kita mampu mencermati fenomena tersebut dengan
fikiran yang jernih tentu saja hal tersbut merupakan tindakan penipuan yang nyata dengan
berkedokan ilmu kebatinan dan lain sebagainya.
Dari sederet persoalan yang ada, diperlukan suatu logika dalam kehidupan manusia,
agar kita mengetahui kapan saatnya berfikir logis dan kapan saatnya berfikir tidak logis.
Sehingga apabila kita mampu berfikir logis dengan tepat, maka kita akan mampu
menempatkan diri dalam segala keadaan secara proporsional ditengah era globalisasi. Untuk
dapat berfikir dengan logis, kita perlu memahami bagian-bagian atau unsur-unsur mendasar
dari logika itu sendiri. Berikut dijelaskan jenis-jenis penalaran dalam penarikan kesimpulan,
2 BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berfikir yang menggunakan argumen-argumen,
pertanyaan, premis atau aksioma untuk menentukan benar salahnya suatu kesimpulan.
Penalaran dapat bersifat logis, jika kesimpulan yang dihasilkan oleh argumen, pertanyaan,
atau premis yang benar. Begitu pula sebaliknya kesimpulan yang dihasilkan dari argumen
atau premis yang salah akan menghasilkan penalaran yang tidak logis.1
Contohnya Andi adalah pemilik kebun sawit di kalimantan. Hanya berdasarkan hal ini,
kita bisa menarik beberapa kesimpulan, yaitu pak andi adalah orang kaya, memilki rumah
mewah, memiliki mobil banyak. Kesimpulan yang ditarik bisa bersifat logis, karena penalaran
kita mengolah informasi yang diperoleh dan mengkombinasikan dengan pengetahuan awal.
Setiap penalaran memiliki struktur yang sangat sederhana, yaitu adanya pertanyaan
(premis atau argumen) lalu pertanyaan itu diolah nalar sebelum menghasilkan kesimpulan.
Penalaran berangkat dari sesuatu yang sudah ada atau apa yang sudah diketahui dari sana baru
ditarik kesimpulan.
Proposisi yang dianggap benar dikombinasikan dengan proposisi yang lainnya yang
juga dianggap benar, sehingga menghasilkan proposisi baru yang disebut penalaran.
Contohnya : ahmad mati, badrun mati jadi semua orang akan mati. Pada contoh tersebut
konklusinya lebih luas dari pada premisnya, maka disebut generalisasi.2
Dalam penarikan kesimpulan atau konlusi ada banyak sekali macamnya, namun yang
dijelaskan dalam makalah ini yaitu logika deduktif, induktif dan abduktif.
1
Mukhtar Latif, Buku Filsafat Ilmu, (Jakarta: Kencana, 2014), hal. 259
3 1. Penalaran Deduktif
Deduksi ialah proses dalam nalar kita dari pengetahuan yang “lebih umum”
menyimpulkan pengetahuan yang “lebih khusus”. Pengetahuan yang lebih khusus itu
telah terkandung di dalam pengetahuan umum itu, tetapi belum dengan tegas dan jelas
dilihat dan dirumuskan; jadi masih bersifat potensial.3 Adapun menurut Jujun S. Suriasumantri, Deduktif adalah cara berfikir di mana dari pernyataan yang bersifat
umum ditarik kesimpulannya yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara
deduktif biasanya menggunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus
disusun dari dua buah pernyataan (Premis mayor dan premis minor) dan sebuah
kesimpulan. Contohnya :
# Semua makhluk mempunyai mulut
# Aiman adalah seorang makhluk
# Jadi Aiman mempunyai mulut
Ketepatan penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal, yakni kebenaran premis
mayor, kebenaran premis minor dan keabsahan pengambilan keputusan. Sekiranya
salah satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannya tidak dipenuhi maka kesimpulan
yang ditariknya akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara
deduktif. Karena pada hakikatnya, kesimpulan yang berupa pengetahuan baru bukan
dalam arti sebenarnya melainkan sekedar konsekuensi dari pengetahuan yang sudah
kita ketahui sebelumnya.4
Proses deduktif dalam penelitian ilmiah harus berhenti dengan prediksi dalam
bentuk jika-maka. Ini berarti hasil dari pengujian tidak diketahui atau belum diketahui.
Seorang ilmuwan harus bertanya apakah peristiwa A disebabkan X,Z,Y,B. Jika
3
A. Soedomo Hadi, Logika Filsafat Berfikir, (Surakarta: LPP UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS PRESS, 2006), hal. 76
4
4
hipotesis benar, maka prediksi dapat diajukan. Tetapi sebelum ada pemeriksaan yang
serius mengenai hasil-hasil eksperimen, ia harus tetap mempertanyakan kebenaran dari
hipotesisnya. Hasil-hasil eksperimen itu disebut prediksi, bukan karena hasil
eksperimennya terjadi di masa depan, tetapi karena pengetahuan tentang prediksi itu
mendahului pembuktian kebenarannya. Jadi fase deduktif berakhir dengan perumusan
prediksi yang ditarik secara logis dari hipotesis eksplanatoris.5
a) Bentuk-bentuk silogisme
Pada dasarnya silogisme dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1) Silogisme Kategoris
Silogisme kategoris ialah silogisme yang premis-premisnya dan
kesimpulannya berupa keputusan kategoris. Contoh dari silogisme kategoris
banyak sekali kita temui dalam percakapan sehari-hari. Orang biasanya
menyatakan hasil-hasil pemikiran dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi
biasanya hasil-hasil pemikiran itu tidak dirumuskan dalam bentuk silogisme.
Contoh bila kita ditanya “Mengapa korupsi itu tidak baik?” maka jawabannya
adalah “Karena korupsi itu jahat.” Apabila kita uraikan contoh tersebut kedalam
bentuk silogisme adalah sebagai berikut:
# Segala tindak kejahatan adalah tidak baik
# Korupsi adalah salah satu tindak kejahatan
# Jadi korupsi itu tidak baik
Bentuk deduksi seperti inilah yang disebut silogisme dan silogisme ini
dalam logika tradisional digunakan sebagai bentuk standar dari penalaran deduktif.
Silogisme terdiri dari atas tiga proposisi kategorik.6 Dua proposisi yang pertama
5
A. Sonny Keraf, Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hal. 98
6
5
berfungsi sebagai premis sedang yang ketiga berfungsi sebagai konklusi. Contoh
di atas memiliki tiga term yaitu “kejahatan”, “sikap tidak baik” dan korupsi”.
Ketiga term tersebut digunakan dua kali. Kata “Korupsi” digunakan dua kali
sebagai subyek, sekali di premis dan sekali di konklusi. Kata “Sikap tidak baik”
berfungsi dua kali sebagai predikat, sekali di premis sekali di konklusi.
2) Silogisme Hipotesis
Silogime hipotesis adalah silogisme yang mengandung satu premis atau lebih
yang berupa keputusan hipotesis.
Adapun contoh dari silogime hipotesis adalah sebagai berikut :
# Jika kamu makan nasi (antecedens), maka kamu kenyang (konsekuens)
# Kamu makan nasi
# Jadi kamu kenyang
Dalam silogisme hipotesis berlaku hukum, jika antecedens, keputusan
kondisional yang mengandung syarat, benar dan hubungannya syah, maka
kesimpulan akan benar pula. Namun, jika kesimpulan salah (dan hubungannya
syah) maka antecedens salah pula.7
3) Silogisme dalam komunikasi sehari-hari
Dalam komunikasi sehari-hari banyak terjadi penyimpangan karena unsur
proposisinya hiper lengkap, lebih dari tiga. Di samping itu banyak silogisme yang
menyimpang karena unsur proposisinya tidak lengkap dan ada juga silogisme yang
premisnya lebih dari dua proposisi bahkan lebih. Dalam makalah ini hanya
dijelaskan bentuk silogisme yang sering terjadi dikalangan kita yaitu Entimema
(enthymeme).
6 a) Entimema
Entimema adalah penalaran yang tidak semua unsur proposisinya
dinyatakan secara eksplisit. Karena silogisme terdiri dari tiga proposisi; mayor,
minor dan konklusi, maka bentuk entimema ada empat, yaitu entimema tanpa
maior, entimema tanpa minor, entimema tanpa konklusi dan entimema tanpa
konklusi dan mayor atau minor.8 Contoh entimema tanpa mayor adalah:
“Tentu saja saya dapat khilaf, saya kan manusia biasa!”
2. Penalaran Induktif
Induksi adalah proses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada
sesuatu yang bersifat universal (a passage from individual to universal), dimana
premisnya berupa proposisi-proposisi singular, sedang konklusinya berupa sebuah
proposisi universal, yang berlaku secara umum.9 Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri induktif merupakan cara berfikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang
bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual.10 Jadi bisa disimpulkan bahwa penalaran induktif yaitu proses berfikir yang berangkat dari premis-premis
khusus menuju ke arah universal atau umum.
Berfikir dengan logika induktif bertujuan untuk menarik kesimpulan umum
berupa deskripsi general dari suatu fenomena. Contohnya adalah sebagai berikut:
# Besi itu mengalirkan listrik
# Tembaga itu mengalirkan listrik
# Perak itu mengalirkan listrik
# Besi, tembaga, emas, perak adalah logam
Jadi logam itu mengalirkan listrik
8
R. G. Soekadijo, Logika Dasar..., hal. 55-56
9
Ibid, hal. 6
7
Penalaran induktif sangat erat kaitannya dengan metode ilmiah, bahkan
merupakan dasar dari pada metode ilmiah. Pengamatan ilmiah terhadap hal-hal yang
konkrit individual menjurus kepada penemuan fakta, teori dan hipotesis yang
merupakan asumsi-asumsi. Semuanya merupakan generalisasi-generalisasi induktif.11 Hukum yang disimpulkan dari sebuah fenomena yang sudah diselidiki, akan
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Melalui pengamatan di lapangan,
akan dapat ditarik sebuah generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori
bukanlah persyaratan mutlak dalam sebuah penalaran induktif. Akan tetapi
kecermatan dalam menangkap gejala cenderung memegang peranan utama untuk
dapat mendeskripsikan suatu gejala dan melakukan generalisasi.12 a) Ciri-ciri induksi
Menurut R. G. Soekadijo terdapat tiga ciri induksi, yaitu:13
1) Premis-premis dari induksi adalah proposisi empirik yang langsung
kembali kepada suatu observasi indera atau proposisi dasar (basic
statement)
2) Konklusi penalaran induktif lebih luas dari pada apa yang dinyatakan
dalam premis-premisnya
3) Konklusi induksi memilki kredibilitas rasional (probabilitas)
Probabilitas didukung oleh pengalaman, artinya konklusi induksi
terkadang cocok dengan pengalaman, namun apabila didasarkan pada
observasi indra belum tentu cocok.
b) Bentuk generalisasi induktif
Dalam logika induktif, tidak ada konklusi yang mempunyai nilai kebenaran
yang pasti. Yang ada hanya konklusi dengan probabilitas rendah atau
11 Burhanuddin Salam, Logika Formal (Filsafat Berfikir),(Jakarta: Bina Aksara, 1988), hal. 74
12 Nina W. Syam, Filsafat sebagai Akar ilmu Komunikasi, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media,
2010), hal. 196
13
8
tinggi. Maka hasil usaha analisa dan rekontruksi dalam penalaran induktif
berupa ketentuan-ketentuan mengenai bentuk induksi yang menjamin
konklusi dengan probabilitas setinggi-tingginya. Tinggi rendahnya
probabilitas dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu;14
1) Makin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif,
makin tinggi probabilitas konklusinya, dan sebaliknya
2) Makin besar faktor analogi di dalam premis, makin rendah probabilitas
konklusinya, dan sebaliknya
3) Makin besar jumlah faktor disanaloginya dalam premis, makin tinggi
probabilitas konklusinya, dan sebaliknya
4) Semakin luas konklusinya semakin rendah pula probabilitasnya, dan
sebaliknya.
c) Bentuk analogi Induktif
Bentuk penalaran analogi induktif ditentukan oleh tiga aspek yaitu;15
1) Jumlah fakta yang dijadikan dasar dari konklusinya dan dinyatakan
sebagai premis
2) Jumlah faktor-faktor analogi
3) Bentuk proposisi yang menjadi konklusinya
Contohnya:
Pisang 1 keras dan hijau adalah masam
Pisang 2 keras dan hijau adalah masam
Pisang 3 adalah keras dan hijau
Pisang 3 adalah masam
14 Ibid, hal. 136-137
15
9 3. Penalaran Abduktif
Penalaran abduktif digagas oleh Charles Sanders Pierce sebagai kritik terhadap
logika tradisional yang tidak membedakan antara proposisi kategoris dan proposisi
relasional. Pada masanya C. S. Pierce mampu berkontribusi dalam bidang logika yaitu
dengan menciptakan logika relasi sebagai sub disiplin dalam logika modern. Dari
logika relasi, Pierce mampu melahirkan doktrin Pragmatisme dengan berbagai konsep
kuncinya sehingga mampu membangun paradigma baru dalam teori pengetahuan.16 Pada awalnya Pierce memandang abduksi sebagai suatu bentuk penyimpulan yang
terdiri dari tiga proposisi, yaitu proposisi tentang suatu hukum (role), kasus (case) dan
kesimpulan (result). Tiga proposisi tersebut dibentuk dalam silogisme hipotesis yang
terdiri dari premis mayor, minor dan kesimpulan. Namun setelah tahun 1893, Pierce
semakin sadar bahwa abduksi lebih dari sekedar suatu bentuk logis. Abduksi
merupakan suatu bentuk silogisme yang bertolak dari fakta atau kasus. Abduksi
merupakan tahap pertama dari penelitian ilmiah. Minat penelitian ilmuwan berawal
dari keheranannya terhadap peristiwa atau fakta. Dari fakta itu mereka merumuskan
hipotesis yang mengandung makna general atau universal untuk menjelaskan kasus
tersebut.17
Contohnya yaitu dari ilmu kedokteran, penyakit leukimia kanker darah. Apabila
seseorang terjangkit penyakit leukimia kanker darah, pertanyaan tentang penyebab
terjangkit seseorang dengan penyakit tersebut bisa kita rumuskan. Misalnya, kebiasaan
merokok, faktor keturunan, faktor usia, kelainan genetik dan kelainan darah.
Hipotesis-hipotesis tersebut dirumuskan untuk menjelaskan fakta. Jika terdapat salah
satu fakta menentang hipotesis tersebut, maka hipotesis lain boleh diajukan.
16
Zubaedi, Filsafat Barat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hal. 102-103
17
10 a) Ciri-ciri penalaran abduksi
Dari contoh tersebut Pierce merincikan dua ciri abduksi, yaitu:18
1) Abduksi menawarkan suatu hipotesis yang memberikan eksplanasi yang
probable (satu kemungkinan penjelasan)
2) Hipotesis dapat memberikan eksplanasi terhadap fakta-fakta lain yang belum
dijelaskan dan bahkan tidak dapat diobservasi secara langsung.
Para ilmuwan terdahulu menggunakan imajinasi untuk memikirkan kebenaran.
Imajinasi ilmiah membawa ia kepada kebenaran. Hal ini dilakukan oleh Michael
Polanyi, Thomas Kuhn dan lainnya. Pierce melihat imajinasi sebagai faktor
penting bagi temuan ilmiah atau hipotesis dan ia mencoba untuk melukiskan
kemampuan ini sebagai loncatan dari pengalaman dan data kepada suatu
plausibility (kemasukakalan) pengalaman dan data. Dalam abduksi imajinasi tidak
bisa diabaikan begitu saja. Abduksi hanya menghasilkan hipotesis sebagai
penjelasan semantara atau dugaan yang masuk akal sebagai salah satu cara untuk
memahami fakta. Maka, hipotesis yang coba ditawarkan dalam melalui abduksi,
tidak lebih dari suatu vague ideas yang harus dibuktikan melalui induksi dan
deduksi.19
Metode penalaran abduktif melibatkan tiga macam penyimpulan yaitu
hipotesis, deduksi, induksi, yang semuanya merupakan siklus berkelanjutan.
Tahap pertama merupakan awal pemberangkatan dengan sebuah hipotesis dan
menerimanya baik sebagai interogasi sederhana ataupun kepercayaan pada derajat
tertentu secara inferensial. Tahapan kedua melibatkan pemeriksaan hipotesis
dengan mengumpulkan semua bahan mengenai konsekuensi-konsekuensi
eksperiensial bersyarat, dengan mengikutinya jika dia benar, yakni dengan
18
Ibid, hal. 93
11
membuat hipotesis itu sejelas mungkin. Tahap ketiga merupakan pemberangkatan
dengan prediksi bahwa hipotesis tersebut menjadi sedemikian rupa untuk diuji.20
b)Syarat-syarat perumusan hipotesis dalam penalaran induktif
Syarat-syarat dalam perumusan hipotesis yang paling penting adalah hipotesis
yang dipilih adalah hipotesis yang dapat diverifikasi secara eksperimental. Namun
sebelum diverifikasi secara eksperimental, pemilihan hipotesis perlu mendapat
pertimbangan ekonomi. Artinya perlu difikirkan terlebih dahulu terkait aspek
ekonomi waktu, uang dan tenaga. Kemudian Pierce juga menambahkan dua syarat
lain, yaitu dampak positif dari hipotesis terhadap ilmu dan nilai hipotesis. Suatu
hipotesis yang baik bisa menjelaskan fenomena lain secara bersamaan, yang
tentunya hipotesis tersebut perlu dipertimbangkan untuk diverifikasi lebih lanjut.
Di kemudian hari hipotesis yang baik akan dilihat sebagai teori ilmiah dengan
lingkup penjelasan yang luas. Semakin baik suatu hipotesis, semakin luas dan
mendalam hipotesis tersebut.
Kaitannya dengan nilai hipotesis, Pierce mengatakan bahwa hipotesis yang
baik adalah hipotesis yang memiliki karakter idealistik. Artinya hipotesis itu tidak
hanya bisa duji, melainkan harus bisa dibuktikan benar dengan berbagai macam
instrumen pembuktian, sehingga mampu mendorong perkembangan ilmu secara
dinamis. Pierce menggunakan insting akal budi manusia sebagai dasar untuk
mengekspektasi hipotesis idealistik. Insting hanyalah suatu alat yang digunakan
untuk memilih satu hipotesis dari sekian banyak hipotesis. Menurut Pierce insting
akal budi (mind) merupakan instrumen yang lebih meyakinkan dibandingkan
semua bentuk penalaran.21
20 Zubaedi, Filsafat Barat,.., hal. 114 21
12 BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penalaran di dunia Barat terdapat tiga bagian yaitu induktif, deduktif dan
abduktif. Penalaran induktif dan deduktif muncul dan berkembang pada masa logika
tradisional sedangkan penalaran abduktif muncul dan berkembang pada logika modern
yang dipelopori oleh Charles Samders Pierce. Penalaran induktif merupakan
penyimpulan dari pernyataan khusus atau berbagai kasus yang individual ke bentuk
umum, penalaran deduktif merupakan lawan dari penalaran induktif, penyimpulan dari
pernyataan umum ke khusus. Sedangkan abduktif merupakan penyimpulan dari suatu
kasus tertentu. Ketiga penalaran tersebut bisa kita gunakan dalam kehidupan
sehari-hari terutama ketika dihadapkan dengan realitas kehidupan yang semakin variatif.
Sealin itu, kita juga bisa menggunakannya sebagai alat untuk menggali ilmu
pengetahuan, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang akan
semakin dinamis.
B. Saran
Makalah ini disusun secara ringkas dan padat, sehingga memungkinkan
timbulnya rasa kurang puas atas pengetahuan khususnya terkait penalaran di dunia
barat. Pemakalah merekomendasikan untuk membuka referensi yang lebih lengkap
guna mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap konsep penalaran. Tentunya
makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang
13 DAFTAR PUSTAKA
Hadi, A. Soedomo, Logika Filsafat Berfikir, Surakarta: LPP UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan
UNS PRESS
Latif, Mukhtar, Buku Filsafat Ilmu, Jakarta: Kencana
Mikhael Dua, A. Sonny Keraf, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis, Yogyakarta: Kanisius
Salam, Burhanuddin , Logika Formal (Filsafat Berfikir),Jakarta: Bina Aksara
Soekadijo, R. G., Logika Dasar, Tradisional, Simbolik dan Induktif, Jakarta: Gramedia Pustaka
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Syam, Nina W., Filsafat sebagai Akar ilmu Komunikasi, Bandung : Simbiosa Rekatama Media