PERANAN KO-TEKS DAN KONTEKS DALAM ANALISIS WACANA
Nurhidayati*(2017) Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]
Abstrak:Makna tuturan ditentukan oleh ko-teksdankontekstuturan. Ko-teksmerupakanteks yang terletaksebelum dan sesudahtuturan yang akandianalisis. Ko-teks ini dapat berwujud ujaran, paragraf, atau wacana. Adapunaspekyang berkaitan dengan pengetahuan pemakai bahasa mengenai dunia atau aspek yang tercermin pada tuturan disebut konteks tuturan. Melalui konteks tersebut, analis wacana berusaha membuat pengertian dan melakukan interpretasi yang memadai sebagaimana dimaksudkan oleh penutur. Usaha analis dalam menginterpretasi hingga sampai pada kebenaran maksud merupakan kunci utama dalam analisis wacana dan penafsiran maknatuturan.
Kata-katakunci:peranan,ko-teks, konteks, analisiswacana.
Abstact: co-texs and contexs determines about meaning of speech. Co-texs is constitute of teks exhausted before and after speech is analysed.Co-texs have the shape of speech, , paragrahp, or discourse. Speech contexs was knowledge of user language at world and aspects of world. Discourse analis comprehensif and interpretativespeech of speeker through contexs. Analis exertions in interpretation through meaning is principal keys discourse analysis and exclamation meaning of speechs.
Key words: significant, co-texs, contexs, discourse analysis.
pengetahuan pemakai bahasa mengenai dunia atau aspek yang tercermin pada tuturan disebut konteks tuturan. Pengetahuan pemakai bahasa tersebut meliputi pengetahuan yang berhubungan dengan konteks. Untuk memahami peranan ko-teks dan konko-teks dalam analisis wacana berikut disajikan pengertian koko-teks, pengertian konteks, perbedaan antara fungsi, konteks, dan pragmatika, hubungan antara teks dan konteks, masyarakat dan konteks, dan peranan ko-teks dan konteks dalam analisis wacana.Konteks sebagai pengetahuan dan situasi
memandang ujaran sebagai suatu unit kejadian tertentu yang bersifat tertutup, dan ujaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang selalu baru, dan bergantung pada situasi dan masyarakatnya.
Pengertian Ko-teks.
Kridalaksana (2011:137) menjelaskanmaknakotekssebagaikalimatatauunsur-unsur yang mendahuluidan/ataumengikutisebuahunsurlaindalamwacana.
Koteksmerupakanteks yang
mendampingitekslaindanmempunyaiketerkaitandankesejajaran. Dengan begitu makna ujaran ditentukan oleh teks sebelum dan sesudahnya. Ko-teks ini dapat berwujud ujaran, paragraf, atau wacana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ko-teks adalah konteks yang bersifat fisik, yakni konteks lingkungan. Koteks suatu kata adalah kata-kata lain yang digunakan di dalam frasa atau kalimat yang sama. Koteks mempunyai pengaruh yang kuat dalam penafsiran makna.
Hal ini berarti memungkinkan diperluasnya visi ko-teks menjadi konteks: Yaitu, keseluruhan dari lingkungan (bukan hanya linguistik) yang mengelilingi produksi bahasa.
Pembicaraan mengenai koteks dan konteks terkait dengan pembicaraan mengenai makropragmatik. Adapun cara untuk menjelaskan hal ini adalah sebagaimana dinyatakan oleh Mei (1993:181-182) bahwa cara yang ekstensional untuk memahami tuturan adalah dengan cara memperluas cakupan dari unit-unit yang dilihat, bukan mempelajari kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang terisolasi, dan mempertimbangkan kalimat-kalimat dan tuturan-tuturan yang sama tersebut untuk ditempatkandalam konteks yang seharusnya menjadi tempat kalimat dan tuturan tersebut, dan dari mana kalimat dan tuturan tersebut dipilih pada awalnya untuk mengilustrasikan poin (tujuan) yang dibuat.
Hal ini dapat dipakai dalam dua cara: baik sebagai perluasan dari cakupan tuturan yang menghasilkan wacana (teks): dengan cara ini seseorang
mendefinisikan ko-teks. Atau, sebagai alternatif dan tambahan, dengan
memperhatikan tuturan tersebut dalam ‘habitat’ alaminya, jadi dapat dikatakan: dalam kasus yang kedua, terkait dengan konteks yang lebih luas dalampenggunaan bahasa, khususnya untuk tujuan percakapan.
Cara lain untuk membahas ‘makropragmatik’ adalah dengan menggali pada dasar internasional dari pragmatik, dengan memberikan penekanan pada faktor-faktor yang meskipun tidak diekspresikan secara eksplisit dalam setiap teks, masih menentukan bentuk dari teks tersebut dalam cara yang sulit untuk dianalisa atau bahkan dilihat dengan mata telanjang.
diperlakukan dengan seharusnya dalam topik metapragmatik yang dipakai secara luas sebagai ‘refleksi pada penggunaan bahasa oleh para pemakai bahasa’.
Pengertian Konteks
Kridalaksana (2011:134)
menyatakanbahwakonteksmempunyaimaknaaspek-aspeklingkunganfisikatausosial yang kaitmengaitdenganujarantertentu.
Secara harfiah konteks berarti “something accompanying text”, yang berarti : sesuatu yang inheren dan hadir bersama teks. Konteks diungkapkan melalui karakterisasi bahasa yang digunakan penutur (Halliday & Hasan, 1985:12-15). Di dalam teori Halliday, pengertian harfiah itu diterjemahkan dalam batasan Saussure yang menyatakan bahwa bahasa sebagai suatu fakta sosial. Oleh Halliday
“something” di atas diolah menjadi “sesuatu yang telah ada dan hadir dalam partisipan sebelum tindak komunikasi dilakukan, karena itu konteks mengacu pada konteks kultural dan konteks sosial (Halliday, 1978; Wirth, 1984) yang diidentifikasikan atas ranah, tenor, dan modi.
Ranah merupakan rekaman tentang peristiwa apa yang terjadi, yaitu segala peristiwa atau tindak sosial yang sedang berlangsung pada pengalaman atau benak. Aspek itu menggambarkan peristiwa apa yang terjadi yang melibatkan para penutur atau partisipan sebagaimana dinyatakan atau direalisasikan berupa unsur-unsur status, proses, pelaku, tujuan, lokasi, dan waktu. Tenor merupakan unsur-unsur partisipan yang menyatakan interpersonal dan status yang direalisasikan dalam pilihan-pilihan piranti wacana. Dalam tenor itu, hubungan interaksi yang
signifikanlah yang diamati. Sedang modi adalah realisasi yang diungkapkan oleh teks secara keseluruhan sebagai tindak sosial, baik bersifat lisan dan tulisan, monolog atau dialog.
ekspresi, dan kalimat. Teks juga merupakan sistem kebahasaan yang terdiri atas beberapa komponen yang saling berhubungan dan masing-masing komponen tersebut juga mempunyai otonomi. Adapun konteks adalah “pengetahuan”, “situasi”, dan “teks”. Konteks sebagai pengetahuan berkaitan dengan kompetensi komunikasi, konteks sebagai situasi berkaitan dengan kompetensi sosial, budaya, dan strategi, dan konteks sebagai teks berkaitan dengan keberadaan unsur-unsur teks yang bisa dipisahkan, diartikan, dan dimaknai.
Konteks sebagai pengetahuan dan situasi memandang ujaran sebagai suatu unit kejadian tertentu yang bersifat tertutup, dan ujaran sebagai suatu bentuk komunikasi yang selalu baru, dan bergantung pada situasi dan masyarakatnya. Pandangan pertama berkaitan dengan kemampuan penutur dalam menggunakan konvensi yang digunakan dalam bahasanya, sedangkan pandangan kedua berkaitan dengan kemampuan penutur untuk selalu berkreasi dalam menyusun tuturannya sesuai dengan situasi dan budayanya.
Cook (1989:24) membedakan pengertian konteks menjadi dua yaitu, konteks dalam pengertian sempit dan dalam pengertian luas. Dalam pengertian sempit, konteks mengacu pada faktor di luar teks. Sedang dalam pengertian luas, konteks dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yaang relevan dengan ciri dunia dan ko-teks. Pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia berkaitan dengan situasi fisik, situasi sosial dan budaya, penanggap, dan skemata mereka, dan teks lain (inter-teks).
Konteks situasi paling baik dipakai sebagai bentuk skematis yaang sesuai untuk diterapkan pada peristiwa-peristiwa bahasa. Konteks situasi bagi kajian linguistik menurut Brown & Yule (1986:35-40) menghubungkan kategori-kategori berikut. (1) ciri-ciri yang relevan dari para peserta orang-orang, kepribadian pada perbuatan verbal dan nonverbal para peserta; (2) tujuan-tujuan yang relevan; dan (3) akibat perbuatan verbal.
yang meliputi ciri-ciri berskala besar. Misalnya: (1) channel (saluran), berupa wicara, tulisan, atau tanda-tanda, (2) kode meliputi bahasa, dialek, dan gaya bahasa, (3) bentuk pesan berupa berupa obrolan, perdebatan, khutbah, dongeng, soneta, surat cinta, dan sebagainya, (4) peristiwa (event) yaang mempunyai ciri-ciri khusus, seperti upacara kebaktian di gereja, khotbah di masjid, dan (5) tujuan peristiwa komunikasi.
Lewis (dalam Brown dan Yule, 1986:39) menyajikan kordinat-kordinat tertentu yang merupakan paket faktor yang relevan dan yang menandai konteks yang dipakai untuk menilai kebenaran maksud sebuah wacana yaitu: (1) possible –world (kemungkinan), contoh: migh be, could be, supposed to be, atau are, (2)
time (waktu), contoh: today, next week, (3) place (tempat), contoh: here it is, (4) penutur, contoh: I, me, we, our, (5) audience (hadirin), contoh: you, yours, yourself, (6) objek yang ditunjuk, contoh berupa frase-frase demonstratif this, those, dan seterusnya, (7) wacana terdahulu, contohthe latter, the aforementioned, dan (8) pembagian, contoh: kelompok benda, urutan benda.
Fungsi, Konteks, dan Pragmatika
Ujaranatautindaktuturdapatterdiridarisatutindaktururataulebihdalamsuatup eristiwatuturdansituasitutur.Dengandemikian,
ujaranatautindaktutursangattergantungdengankonteksketikapenuturbertutur.Tutura n-tuturanbarudapatdimengertihanyadalamkaitannyadengankegiatan yang
menjadikonteksdantempattuturanitutejadi (AchmadSyuja’i, 2016:6).
Konteksmerupakansalahsatuaspekdalammelakukananalisiswacanakritis, sebagaimanadinyatakanolehYuris Andre (2008:2) yang menyatakanbahwaaspek-aspekpentingdarianalisiswacanakritismeliputi: (1) tindakan, (2) konteks, (3) historis, dan (4) kekuasaan.
Kontekswacanameliputilatar, situasi,
peristiwadankondisi.Wacanadipandangdiproduksidan di mengertidan di
mengkomunikasikandengansiapadanmengapa; kahalayaknya, situasiapa, melalui medium apa, bagaimana,
perbedaantipedanperkembangankomunikasidanhubunganmasing -masingpihak. Tigahalsentaralnyaadalahteks
(semuabentukbahasa, bukanhanya kata-kata yang tercetakdilembarkertas,
tetapisemuajenisekspresikomunikasi).Konteks (memasukansemuajenissituasidanhal yang
beradadilarteksdanmempengaruhipemakaianbahasa, situsaidimanateksitudiproduksisertafungsi yang
dimaksudkan).Wacanadimaknaisebagaikonteksdantekssecaraber sama.Titikperhatianyaadalahanalisiswacanamenggambarkanteks dankontekssecarabersama-samadalam proses komunikasi.
Di dalam teori sosiosemantik (Halliday, 1978) konteks dan fungsi merupakan dua konsep abstrak yang berperan mengungkapkan hakikat realita sosial melalui wahana bahasa. Perbedaan teori ini dengan teori konteks yang lain ialah bila misalnya teori Malinowski, Firth dan Hymes (dalam Halliday & Hasan, 1989:12-25) merupakan cara memandang bahasa dilihat dari struktur kognitif atau dari luar bahasa dan bertujuan memberikan eksplanasi yang non-linguistik, teori Halliday itu justru melihat realita sosial secara linguistik.Maksudnya, Halliday melihat fenomena penggunaan bahasa dalam segala aspek interaksi sosiosemantik bahasa dan konsekuensinya.
Konteks adalah totalitas realita yang mengikuti tuturan. Fungsi merupakan pengejawantahan konteks lewat wahana bahasa, sedang pragmatik merupakan prinsip yang mengatur pemakaian ujaran dalam mencapai tujuan komunikasi yang sesuai dengan situasi partisipan, proses, dan lingkungan komunikasi.
status dan hubungan sosial pemakai bahasa dalam pemilihan unsur-unsur leksis yang tepat ragamnya. Fungsi tekstual menata seluruh struktur informasi sehingga mudah dicerna, jelas, hemat, dan efektif.
Hubungan antara Teks dan Konteks
Analisiswacanakritis (Critical Discourse Analysis)
tidakhanyadipahamisebagaistudibahasa.Bahasadianalisistidakdipahamidariaspekb ahasasaja, tetapijugamenghubungkannyadengankonteks.Konteksmaksudnya, wacanadisampaikanuntukkepentingantertentudalamberbagaiaspek:
konsepmaupunpraksis (fridiyanto, 2016:4). Ciri keutuhan teks itu terletak pada pertimbangan berbagai unsur yang terlibat dalam tindak komunikasi pada proses pemaknaan rekaman kebahasaan berlangsung, unsur-unsur yang terlibat, fakta-fakta yang relevan dalam ujaran dan itulah yang disebut konteks.
Halliday & Hasan (1985:12-25) membedakan konteks yang melatari suatu teks atas konteks situasi, dan konteks kultural. Konteks situasi merupakan
keseluruhan/totalitas lingkungan terdekat teks baik verbal maupun nonverbal. Sedang konteks kultural merupakan keseluruhan latar belakang sistem kultural (budaya, sosial, dan artefak) sebagai pengetahuan bersama, pra-anggapan bersama, atau pengetahuan ensiklopedi partisipan suatu teks/wacana.
Dari sudut pandang teks sebagai suatu produk latar belakang yang lebih luas ini berpengaruh pada analisis wacana untuk mengapresiasi latar, tempat, temporal, sosial, spasial, aksional, dan relasional sebagaimana nampak dalam konteks situasi. Sedang dari sudut pandang teks sebagai suatu proses, konteks berpengaruh pada bagaimana pemakai bahasa memilih, menentukan, dan menampilkan medan, pelibat, serta organisasi suatu teks/wacana.
Masyarakat dan Konteks
membangun rumah, membuat kesepakatan, memecahkan permasalahan dan sebagainya.
Melaluipendekatanwacana, pesan-pesankomunikasi, seperti kata-kata ,tulisan, gambar-gambar, dan lain-lain tidakbersifatnetraldansteril. Eksistensinyatergantungpada orang-orang yang menggunakannya, konteksperistiwa yang berkenaandengannya, situasimasyarakatluas yang melatarbelakangikeberadaannya, dan lain-lain.Kesemuanyaitudapatberupaideologi, nilai, emosi, kepentingan-kepentingan (Fridiyanto, 2016:2).
Kenyataan atau fakta dasar ini mengimplikasikan dua fakta dasar lainnya yang setara:pertama, adalah fakta bahwa harus ada upaya untuk melihat apa yang benar-benar orang katakan ketika mereka bersama, ketika mereka bersosialisasi (atau: mengekspresikan diri mereka sebagai makluk sosial); dan kedua, fakta bahwa setiap pemahaman para ahli linguistik dapat berharap untuk mendapatkan apa yang terjadi di antara orang-orang yang menggunakan bahasa, secara unik dan diperlukan, sebuah pemahaman yang benar dari konteks yang menyeluruh pada interaksi linguistik yang terjadi.
Masyarakat danWacana
Mey (1993:186-188) menekankan pentingnya konteks sosial pada penggunaan bahasa. Konteks semacam ini biasanya memiliki presuposisi akan keberadaan suatu masyarakat tertentu, dengan berbagai nilai, norma, peraturan, dan undang-undang yang eksplisit, dan dengan semua kondisi kehidupannya yang tertentu: ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan. Semua faktor ini secara
bersama-sama sering dirujuk dengan ekspresi metafora: ‘susunan/struktur masyarakat’.
konsultasi kesehatan, dan sebagainya, namun juga kondisi-kondisi yang tersembunyi yang mengatur situasi yang sedemikian rupa dari penggunaan bahasa. Bagaimana orang-orang menggunakan bahasa mereka berkaitan dengan konteks-konteks sosial mereka? Seberapakah tingkat kebebasan yang mereka nikmati dalam penggunaan bahasa mereka, dan apa batasan yang membatasi penggunaan tersebut?
Wacana berbeda dari teks, karenawacana mencakup lebih dari sekadar teks, yang dipahami sebagai sebuah kumpulan kalimat; wacana adalah hal yang membuat ikatanteks-konteks, dalam pemahaman istilah yang terluas. Tapi, dalam pemahaman istilah ini, wacana juga berbeda dari percakapan. Percakapan adalah satu tipe tertentu dari teks, yang diatur oleh peraturan-peraturan penggunaan khusus. Peraturan-peraturan ini mengatur sebuah penggunaan bahasa sosial yang menyatakan bahwa diantara fungsi-fungsinya yang terpenting adalah hal yang dilakukan orang secara paling alami, dilakukan secara sosial, dan dilakukan sepanjang waktu.Percakapan adalah bentuk penggunaan bahasa yang paling tersebar luas dan dalam suatu pengertian, merupakan simpanan dari semua aktifitas linguistik seseorang, baik dalam sejarah dan perkembangan personal, maupun dalam kehidupan sehari-hari.Konteks sangat penting pada penggunaan bahasa secara tepat. Setiap tindak tutur (berjanji, meminta, bertaruh) tergantung pada konvensi sosial sebagai premisnya (Levinson,1983:285).
Peranan Ko-teks dan Konteks dalam Analisis Wacana
IstilahkontekspertamakalidikemukakanolehseorangAntropolog,
Malinowski1, yang sedangmelakukanpenelitianBahasaKiriwinia, di Kepulauan Trobriand, di gugusanpulauPasifik Selatan. Di sinilahMalinowski mengemukakanistilahkontekssituasi, yaitulingkungan di sekitarteks. Pemikiran Malinowski inikemudiandilanjutkanoleh Firth2 yang menghubungkan ide-ide
1Lihatdalam M.A.K. Halliday-RuqaiyaHasan. Language,Context and Text: Aspects of Language in a Social-semiotic Perspective. Australia: Deakin University. 1985. Hal.7
iniuntuktujuankebahasaan. Ada empatpokokpandangan Firth mengenaikonteks (Revita, 2010):
a. Pesertatutur (participants) dalamsituasi: orang-orang yang terlibatdalamperistiwakomunikasi.
b. Tindakanpesertatutur: aktivitas yang dilakukan, baikberupatindakantutur (verbal action) maupuntindakan yang bukantutur (non-verbal action). c. Ciri-cirisituasilainnya yang relevan:
benda-bendadankejadian-kejadiansekitar, sepanjanghalitumemilikisangkutpauttertentudenganhal yang sedangberlangsung.
d. Dampak-dampaktindakantutur: bentuk-bentukperubahan yang
ditimbulkanolehhal-hal yang
dituturkanolehpesertatuturdalamperistiwakomunikasi.
Dengan mengacu pada pendapat Cooks (1989:9-10) dan Mey (1993:184-185), ko-teks dalam makalah ini dipahami sebagai lingkungan kebahasaan yang melingkupi suatu wacana, yang dapat berwujud ujaran, kata, kalimat, paragraf, atau wacana.Dengandemikian,
dalammenafsirkansebuahwacanapenganalisdibatasipenafsirannyapadatekssebelum dansesudahnya yang disebutko-teks.Setiapteksmenciptakanko-teksnyasendiri.Ko-teksmempunyaikekuataanuntukmenafsirkanwacana, bahkanjugauntukteks yang tidakmempunyaiinformasimengenaitempatdanwaktu, penutur,
danpenerimatuturan.Ko-teksdapatberfungsiuntukmerekonstruksikansekurang-kurangnyabagiantertentudarikonteksfisiknyadankemudiansampaipadasuatutafsiran mengenaiteksnya.
Konteks diungkapkan melalui karakterisasi bahasa yang digunakan penutur. Aspek konteks mengacu pada segala latar belakang pengetahuan, situasi, dan teks. Konteks sebagai pengetahuan berkaitan dengan kompetensi komunikasi yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadai sebuah tuturan. Konteks sebagai situasi berkaitan dengan kompetensi sosial, budaya, dan strategi; dan konteks sebagai teks berkaitan dengan
keberadaan unsur-unsur teks yang bisa dipisahkan, diartikan, dan dimaknai sebagaimana pendapat Schiffrin (1994:66) dan Leech (1983:13-14).
Pemahaman konteks diarahkan pada pengertian sempit dan luas. Dalam pengertian sempit, konteks mengacu pada faktor di luar teks. Sedang dalam pengertian luas, konteks dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia dan ko-teks. Pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia berkaitan dengan situasi fisik, situasi sosial dan budaya, penanggap, skemata mereka, dan teks lain (interteks)(Cook,1989:24).
Hymes (1973:3-4) menyatakan bahwa jika seseorang memerlukan teori bahasa, maka ia perlu meneliti secara langsung penggunaan bahasa dalam konteks situasi dan melihat dengan jelas pola-pola yang cocok untuk aktifitas ujar,
kepribadian, struktur sosial, religi, dan sebagainya yang masing-masing merupakan abstraksi dari pemolaan aktifitas ujar ke dalam beberapa kerangka acuan lain. Selanjutnya Hymes menyatakan bahwa sebuah bentuk linguistik yang merupakan sebuah kode kebahasaan atau kejadian tutur itu sendiri tidak dapat diletakkan sebagai sebuah kerangka acuan yang terbatas. Ia harus menempatkan kejadian tutur itu dalam konteks komunikasi, jaringan kerja seseorang melihat aktivitas komunikasi sebagai suatu keutuhan, serta melihat saluran’ channel’ dengan kode yang digunakan dalam tempat yang sesuai dengan anggota masyarakat yang digambarkan.
Kartomihardjo (1988/1989:17) menyatakan bahwa wacana sebagai ujaran dapat dipergunakan untuk menandai suatu unit yang lebih besar dari kalimat, dan peran fungsional bahasa dalam interaksi sosial. Dengan demikian wacana sebagai ujaran dipahami sebagai kumpulan unit struktur bahasa yang tidak dapat lepas dari konteks penggunaan bahasa. Sebagaimana dinyatakan oleh Brown & Yule (1986:1) bahwa analisis wacana tidak dapat dibatasi pada deskripsi bentuk linguistik yang bebas dari tujuan dan fungsi yang dirancang untuk menggunakan bentuk tersebut dalam urusan-urusan manusia. Hal tersebut dipertegas oleh Wahab (1988) bahwa data analisis wacana itu bukan berupa kalimat tunggal yang terlepas dari konteksnya. Konteks memegang peranan yang sangat penting dalam analisis wacana.
Dalam pengertian wacana sebagai ujaran, kalimat tidak sekedar dipandang sebagai sistem (langue) akan tetapi kalimat dipandang sebagai parole.
Sebagaimana dikatakan Hurford & Heasley (dalam Schiffrin, 1994:40) bahwa kalimat bukan merupakan kejadian fisik maupun objek fisik. Kalimat disusun secara abstrak yakni sebuah rangkaian kalimat yang diletakkan bersama-sama dalam kaidah gramatikal sebuah bahasa. Sebuah kalimat dapat dipikir sebagai tataan kata yang ideal di balik variasi realisasi dalam bentuk ujaran dan tulisan. Wacana bukan sekedar merupakan deret linier dari fonem ke leksem, ke kalimat, dan ke bentuk yang lebih besar dari kalimat, akan tetapi setiap unsur tersebut merupakan struktur yang baru dan memerlukan deskripsi yang baru (Recoueur, 1996:8).
Diabaikannya konteks tuturan menyebabkan aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. Halliday & Hasan (1985)
mengemukakan 3 ciri guna menafsirkan konteks sosial wacana yaitu lingkungan terjadinya tuturan makna yang disebut dengan istilah (1) medan wacana (field of discourse), (2) pelibat wacana (tenor of discourse), dan (3) sarana /organisasi wacana (mode of discourse).
mengacu pada orang-orang, sifat, kedudukan, serta jenis hubungan peranan. Sarana/organisasi wacana merupakan bagian yang diperankan oleh bahasa seperti penyusunan simbol-simbol tekstual dan fungsinya dalam suatu konteks,
salurannya, mode retorikanya misalnya (membujuk, menjelaskan, mendidik, dan sebagainya).
Selanjutnya Brown & Yule (1986) menyatakan bahwa dalam menganalisis wacana harus menggunakan pendekatan pragmatika, yang salah satunya adalah dengan mempertimbangkan konteks tempat terjadinya sebuah wacana. Beberapa unsur bahasa yang paling jelas memerlukan informasi kontekstual adalah bentuk-bentuk deiktis seperti di sini, sekarang, saya, kamu, ini, dan itu.
Stubbs (1983) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan analisis wacana adalah kajian bahasa yang memberikan tekanan pada aspek sosiokultural. Analisis wacana menekankan kajiannya terhadap penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar-penutur.
Kajian wacana didasarkan pada kenyataan bahwa pemakai bahasa tidak berpegang pada kebenaran bentuk dan struktur semata, melainkan juga pada kaidah-kaidah lain yang berlaku, yang berkaitan dengan pengetahuan pemakai bahasa mengenai dunia. Pengetahuan pemakai bahasa tersebut meliputi
pengetahuan yang berhubungan dengan konteks. Melalui konteks tersebut, analis wacana berusaha membuat pengertian dan melakukan interpretasi yang memadai sebagaimana dimaksudkan oleh penutur. Usaha analis dalam menginterpretasi hingga sampai pada kebenaran maksud merupakan kunci utama dalam analisis wacana (Brwon & Yule, 1986).
menggunakan dunia luas dari pengalaman masa lampau yang telah dimilikinya untuk menginterpretasikan gaya bahasa yang dijumpainya.
Adapun prinsip analogi didasarkan pada pengalaman masa lampau yang relevan. Dalam prinsip analogi segala sesuatu diasumsikan seperti dalam keadaan sebelumnya, kecuali jika analis mendapatkan informasi bahwa beberapa aspek telah berubah. Dengan demikian pemahaman terhadap wacana didasarkan pada pengetahuan pribadi analis wacana berkaitan dengan maksud yang dituturkan, terhadap pribadi dan prilaku penutur, serta terhadap konteks-konteks yang melatarbelakangi munculnya tuturan tersebut.
Menurut Filmore (1981),
dalamsetiappercakapanselaludigunakantingkatan-tingkatankomunikasi yang implisitataupraanggapandaneksplisitdanilokusi. Sebagaicontoh, ujarandapatdinilaitidakrelevanatausalahbukanhanyadilihatdarisegicarapengungkap anperistiwa yang salahpendeskripsiannya, tetapijugapadacaramembuatperanggapan yang salah.
MenurutLeec (1981:288) praangaapansebagaisuatudasarkelancaranwacana yang komunikatif.
Pernyataandarisuatupraanggapanakanmenjadipraanggapanbagiujaranselanjutnya. SebagaimanadicontohkanolehRachmawati (2013)
berikut.Untukmenariksebuahpraanggapandarisebuahpernyataan(ujaran) yang perlukitaperhatikanadalahsesuatu yang
dijadikanolehsipenutursebagaidasarpenuturnya.contoh: a. Kami tidakjadiberangkat.
b. Mobil kami rusak.
- Praanggapan (a) kata tidakjadiberangkatadalahseharusnya kami berangkat.
- Praanggapan (b) bahwamempunyaimobil.
- Jadi, peranggapankeduakalimat (a) dan (b) adalah: a. Kami seharusnyaberangkat.
b. Kami mempunyaimobil.
peranankontekssangatpentingdalamanalisiswacana.
"pintar" mengandungmakna yang berbedabahkanbertolakbelakangpadakeduacontoh di bawahini.
Contoh1 :
a. Penuturseorangbapak, pendengarnyaistrinya. Tempat di rumahmereka.
Merekamendengarkananakmereka yang
masihberumurduasetengahtahunmenyanyikanlagu Bintangkecil denganlancar. Bapaktersebutberkata : "Pintaryadia".
b. Penuturseorangibu. Pendengarnyasuaminya. Ibumenyuruhanakperempuannyamemasakteloruntukmakanmalam. Si anakmemasaktelordenganmelamunsehinggatelornyajadihangus.
Ibutadilaluberkata: "Pintaryadia".
Unsur-unsurdarikalimattersebutsecaragramatikasamabenar. Akan tetapiterdapatperbedaanmakna, yaitupada kata Pintaryadia (a)
bermaknasebenarnya, yaituanak yang memangpintar, sedangkan kata Pintaryadia
(b) bermaknasebaliknyayaitutidakpintar.
Peranankontekssangatpentingdalamanalisiswacana.Keduacontohberikutini memperjelasperanankonteksdalampenggunaanbahasa.Kata "pintar" mengandungmakna yang berbedabahkanbertolakbelakangpadakeduacontoh di bawahini (Kristiono, 2014).
Contoh1 :
a. Penuturseorangbapak, pendengarnyaistrinya. Tempat di rumahmereka.
Merekamendengarkananakmereka yang
masihberumurduasetengahtahunmenyanyikanlagu Bintangkecil denganlan car. Bapaktersebutberkata : "Pintaryadia".
b. Penuturseorangibu. Pendengarnyasuaminya. Ibumenyuruhanakperempuannyamemasakteloruntukmakanmalam. Si anakmemasaktelordenganmelamunsehinggatelornyajadihangus.
Ibutadilaluberkata: "Pintaryadia".
bermaknasebenarnya, yaituanak yang memangpintar, sedangkan kata Pintaryadia
(b) bermaknasebaliknyayaitutidakpintar.
Simpulan
Dalammenafsirkansuatukalimatpadawacanaseoranganaliswacanaselaludib atasipenafsirannyapadatekssebelumnya yang
disebutko-
teks.Setiapteksmenciptakanko-teksnyasendiri.Koteksmempunyaikekuataanuntukmenafsirkanwacana,
bahkanjugauntukteks yang tidakmempunyaiinformasimengenaitempatdanwaktu, penutur,
danpenerimatuturan.Ko-
teksdapatberfungsiuntukmerekonstruksikansekurang-kurangnyabagiantertentudarikonteksfisiknyadankemudiansampaipadasuatutafsiran mengenaiteksnya.Selain aspek koteks, dalam menganalisis wacana harus
menggunakan pendekatan pragmatika, yang salah satunya adalah dengan mempertimbangkan konteks tempat terjadinya sebuah wacana. Konteks yang melatari suatu teks dibedakan atas konteks situasi, dan konteks kultural. Konteks situasi merupakan keseluruhan/totalitas lingkungan terdekat teks baik verbal maupun nonverbal. Sedang konteks kultural merupakan keseluruhan latar belakang sistem kultural (budaya, sosial, dan artefak) sebagai pengetahuan bersama, pra-anggapan bersama, atau pengetahuan ensiklopedi partisipan suatu teks/wacana.
DAFTAR RUJUKAN
Brown, G. & Yule, G. 1986. Discourse Analisys. Cambridge: Cambridge University Press.
Cook, Guy. 1989. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Fridiyanto. 2016. Analisis Wacana Kritis.
Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotics. London: University Park Press.
Halliday, M.A.K. Hasan R. 1985. Language, Context, and Text: Aspect of Language in A Social Semaiotic Perspective. London: Oxford University Press.
Hymes, D. 1973. Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Kartomihardjo, S. 1988/1989. Bentuk Bahasa Penolakan Bahasa Indonesia. Malang: Penyelenggaraan Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan/ Pengembangan Perguruan Tinggi IKIP Malang.
Kristiono, Arif Dian, dkk. 2014. AnalisisWacana“
KonteksWacana”.TugasMatakuliahAnalisiswacana. Surabaya: UniversitasMuhammadiyah Surabaya.
Leech, G. 1983. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan oleh: M.D.D. Oka. I. Jakarta: Universitas Indonesia.
Levinson, S.C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Mey, Jacob L. 1993. Pragmatics an Introduction. Oxford: Blackwell Publishers.
Rachmawati, Rina. 2013. Pengertian Dan Jenis-Jenis Konteks
Wacana .http://wacanagrup.blogspot.co.id/2013/03/pembahasan-materi-kelompok-3-konteks.html
Recoueur, P. & P. Recoueur. 1996. Teori Penafsiran Wacana dan Makna Tambah. Terjemahan Hani’ah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Revita, Ike. 2010.
Konsep-KonsepDasarDalamAnalisisWacana.http://repository.unand.ac.id/2385/
Schiffrin, D. 1994. Approaches to Discourse. USA: Blackwell Publisher.
Stubbs, M. 1983. Discourse Analysis. Chicago: The University of Chicago Press. Syuja’i, Achmad.2016. Pengertian Pragmatik.
Wahab, Abdul. 1988. Linguistik: dari Pra-Sokrates ke Pragmatik. Malang: Penyelenggaraan Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan/ Pengembangan Perguruan Tinggi IKIP Malang.
Wahab, Abdul. 1990. Butir-Butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.