• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN JUDUL DAN TEMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TINJAUAN JUDUL DAN TEMA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TINJAUAN JUDUL DAN TEMA 3.1 Pengertian Gedung Perkantoran sewa

Dalam kamus Indonesia Gedung adalah bangunan besar bertembok dan bagus 6), sedangkan kantor adalah bangunan yang dipakai untuk bekerja yang berkenaan dengan urusan administrasi 7) dan kata sewa adalah peminjaman sesuatu dengan pembayaran uang 8). Sehingga maksud gedung perkantoran sewa adalah gedung yang ruangannya digunakan untuk kegiatan mengurusi suatu pekerjaan yang dipinjamkan kepada pemakai gedung atau ruang tersebut dengan dikenakan biaya sewa.

Sedangkan menurut Hohl (1998) mendefinisikan pengertian gedung perkantoran sebagai suatu tempat dimana para white collar workers atau desk workers melakukan aktifitas mereka, baik aktifitas fisik maupun psikologis.

Jadi Gedung perkantoran adalah :suatu bangunan atau gedung yang mempunyai luas yang sangat sempit, relatif sederhana dan rendah dalam biaya dibandingkan dengan bangunan residensial, bangunan ini mempunyai fungsi spesial yang tinggi.Bisa dikatakan sebagai rumah besar dengan fungsi khusus. Gedung ini mempunyai tipe dan ukuran yang bermacam-macam tergantung kombinasi dari perusahaan yang menempati.

3.1.1 Klasifikasi Kantor Sewa

Pengadaan kantor sewa haruslah mempertimbangkan beberapa aspek seperti wilayah, trend dan kecenderungan ekonomi setempat.

Menurut Hunt, W.D kantor sewa dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 9)

6) LH. Santoso Kamus Bahasa Indonesia, 1992, Hal : 182 7) Ibid, Halaman 264

8) Ibid, halaman 471

(2)

KLASIFIKASI BERDASARKAN RUANG Kapasitas

Luas Small Space Medium Space Large Space Kapasitas 1 - 3 Orang 4 – 12 Orang < 12 Orang

Luas 8 – 40 m2 40 – 150 m2 < 150 m2

Penulis Akan merancang dengan klasifikasi Medium & Large KLASIFIKASI BERDASARKAN PERUNTUKAN

Fungsi Tunggal Fungsi Majemuk

Merupakan kantor sewa yang didalamnya hanya memiliki satu fungsi. Pada kantor sewa ini sifat dan Karakter lingkup kegiatan yang diwadahi relatif sama

Merupakan kantor sewa yang didalamnya memiliki beberapa fungsi, sehingga lebih variatif. Kantor ini mempunyai peluang lebih banyak terkait dengan penggabungan berbagai kegiatan.

Penulis mengambil klasifikasi peruntukkan Fungsi Majemuk KLASIFIKASI BERDASARKAN PADA JUMLAH PENYEWA Penyewa Bangunan Tunggal Penyewa Lantai Tunggal Penyewa Lantai Majemuk Hanya disewakan

kepada satu penyewa dan dalam jangka waktu tertentu. Berarti seluruh bangunan kantor ini akan disewa oleh satu penyewa saja

Kantor sewa yang setiap lantai hanya ditempati oleh satu penyewa saja

Setiap lantai digunakan lebih dari 1 satu penyewa / unit kantor. bangunan

Penulis mengambil Klasifikasi Penyewa Tunggal & Penyewa Majemuk KLASIFIKASI BERDASARKAN PADA PENGELOLA

Tenant Owned

Building Speculative Office Building Investment Type of Office Building Kantor sewa yang

dibangun oleh pemilik sekaligus berperan sebagai penyewa terbesar bangunan tersebut

Mengikuti kebutuhan pasar secara spekulatif, namun tetap mengikuti studi kelayakan dalam melihat potensi penyewa

• Perusahaan khusus biasanya 1 bangunan disewa 1 penyewa saja.

• Seringkali bangunan diadakan pada site yang nilainya tinggi. Penulis mengambil Klasifikasi Investment Type of Office Building dengan

(3)

KLASIFIKASI BERDASARKAN TYPICAL JALUR PENCAPAIAN

• Bentuk bangunan biasanya

memanjang dengan tatanan ruang yang relatif linear.

• Ruang disusun dengan 1 koridor (single zone) atau 2 koridor (Double zone)

• Setiap lantai dicapai melalui koridor yang menghubungkan antar ruang.

• Bentuk bangunan tinggi dengan luasan lantainya relatif kecil.

• Perbandingan antara lebar & tinggi bangunan kecil.

• Pada tipe ini ruang-ruang dicapai melalui satu jalur sirkulasi vertikal yang biaa disebut dengan core. Dengan sistem lay-out, maka penyewa dimudahkan untuk menata ulang rancangan ruang sewanya.

Penulis mengambil klasifikasi Tipe Menara dan Tipe Open Lay-out 3.1.2 Perhitungan Sewa Ruang Kantor

Ada beberapa istilah yang penulis dapatkan untuk perhitungan ruang kantor, yaitu :

Service floor area Meliputi area-area yang tidak termasuk disewakan, tetapi merupakan layanan untuk penyewa seperti,elevator, tangga dll.

Rentable floor area Adalah area yang disewakan dengan harga tertentu

Gross area system Sewa dengan sistem semua bagian bangunan berikut fasilitas penunjang.

Gbr. III.1 Tipe Koridor Terbuka (Sumber : Architecture Handbook)

Gbr. III.2 Tipe Menara (Sumber : JSEB Handbook)

Gbr. III.3

Tipe Open Lay-out

(4)

Net area system Sewa dengan hanya memperhitungkan luas ruang yang benar-benar hanya digunakan oleh penyewa Semi gross system Sewa dengan memperhitungkan semua ruang

yang digunakan oleh penyewa di tambah dengan beberapa ruang fasilitas

3.1.3 Aktifitas dan Pengelompokan Area Dalam Gedung Perkantoran Aktifitas Pengguna /

Customer

Kegiatan utama adalah berhubungan dengan akomodasi (seperti bekerja) disamping kegiatan lainnya seperti makan, minum, rapat/meeting.

Aktifitas Pengelola

Memenuhi segala kebutuhan pengguna / customer mulai dari bekerja, makan, minum dan sebagainya yang bersifat memfasilitasi.

Jenis Aktifitas

Aktifitas Suplai Barang

Kegiatan ini untuk mendukung seluruh kenyamanan bagi para penyewa, untuk itu dibutuhkan akses tersendiri.

Private Area

merupakan daerah khusus untuk kegiatan pribadi para pengguna / costumer seperti bekerja ( ruang kantor ).

Public Area

merupakan daerah pertemuan pengelola dengan pengguna, maupun dengan tamu seperti ruang lobby, ruang sirkulasi dsb

Service Area

merupakan daerah khusus untuk pengelola, disini bermacam pelayanan disiapkan untuk kebutuhan para pengguna seperti area ME, toilet, gudang Ketiga area ini biasanya di dalam gedung dibagi dua, yaitu :

Front Office

Yang terdiri dari private area dan public area, disini segala macam bentuk kegiatan pelayanan dari fasilitas ditampilkan dengan sesuatu gedung untuk dinikmati oleh para pengguna

Pengelom

pokan Area Dalam Gedung

Back Office

Semua area service yang sedapat mungkin pengguna tidak mengetahuinya. Bagian ini sangat vital untuk menunjang kegiatan ’front office’.

(5)

3.2 Latar Belakang Tema.

Kawasan SCBD adalah kawasan yang telah ditata sedemikian rupa dengan konsep yang mapan dan dibukukan dalam UDGL, maka ketika penulis menggali salah satu site (Lot-1) untuk dijadikan bahan tulisan dan rancangan ada aturan yang mendasar yaitu antara gedung JSEB Lot-2 dan Lot-1 harus serupa / berkarakter sama. 10)

Konsekuensi dari bangunan baru terkadang harus membuat pola yang menyediakan kesatuan visual dari bangungan sebelumnya. 11) Ungkapan ini diperkuat oleh Brent C. Brolin, bahwa bangunan baru yang bermunculan tidak menjadi masalah bila dibangun dilahan baru, namun akan timbul masalah bila dibangun pada lingkungan yang telah terbentuk dan memiliki karakter tanpa memperhatikan lingkungannya. 12)

Dari aturan dan pernyataan diatas, penulis dapat menyimpulkan, bahwa pendekatan arsitektur kontekstual bisa menjadi awal perencanaan dan perancangan untuk kawasan SCBD Lot-1.

3.3 Arsitektur Kontekstual

3.3.1 Pengertian Arsitektur Kontekstual 13)

Menurut Kieth Ray, Arsitektur Kontekstual adalah suatu metode perancangan yang mengambil unsur pembentuk dari ciri khas suatu lingkungan sekitar, adapun dasar pemikirannya adalah :

• Gaya arsitektur setempat, karakter, pembuatan hingga bahan bangunan.

• Aktifitas lingkungan yang berada disekitar tapak.

• Nilai budaya, sejarah dan makna tersebut bagi masyarakat. • Kondisi fisik lingkungan dan tanggapan terhadap iklim.

10) Panduan Rancang Kota – Kawasan SCBD, Jakarta Dinas Tata Kota, Hal. 14 11) Richard Hedman with Andrew Jaszweski, Fondamentas of Urban Design 12) Keith Ray, Contextual Architecture, responding to existing style, 1980

13) Contoh diambil dari : Ary Rahman Ariff (41205010018), Hotel business ***, Cikini-Jakarta, Skripsi, Jurusan Arsitektur, FTSP Universitas Mercu Buana, Mei 2009

(6)

3.3.2 Teori Pendukung Tema

Penulis sedikitnya mendapatkan tiga teori pendukung tema yang dapat diterapkan pada Lot-1 Kawasan SCBD ini, yaitu :

Contextual Architecture (Keith Ray)

• Alteration, adaptasi tampak bangunan lama dengan fungsi baru tanpa melakukan perubahan.

• Infill, dapat diterapkan pada lahan dengan karakter tertentu dan teratur sehingga penyelesaian rancangan bersifat detail.

Architecture in Contextual (Brent C. Brolin)

Ada upaya simpatik untuk mempertautkan bangunan lama dengan yang baru seperti :

• Mengenali motif-motif desain setempat.

• Mengenakan bentuk-bentuk dasar yang sama dan kemudian diatur kembali sehingga terlihat memiliki bentuk yang berbeda.

• Mengabstraksi bentuk-bentuk aslinya.

• Mencari bentuk-bentuk baru yang memiliki efek visual yang mendekati sama.

Context and Contrast (R. Heydman & Andrew Jaszweski)

Adakah desain yang memiliki kaitan visual dengan lingkungannya sehingga tercipta efek visual yang menyatu dan menyeluruh. Bangunan baru selayaknya memperkuat dan meningkatkan karakter lingkungan pola-pola setempat.

Harmoni, pendekatan dengan pemilihan pola lama sebagai dasar rancangan. Terbagi dalam 5 pendekatan :

1. Optional, merancang dengan bebas tanpa kawatir dan akan merusak konteks lingkungan yang ada. Namun, lingkungan yang dominan hendaknya dikembangkan agar terjaga keseimbangan dan mempererat tautan visual.

2. Moderate Conformance, bila terdapat ragam arsitektur disuatu lingkungan, maka penambahan elemen baru diperbolehkan, selama memiliki kaitan visual yang kuat.

3. Selective Linkage, bila lingkungan memiliki kualitas campuran (bangunan yang bernilai Arsitek) diperlukan pendekatan selektif dalam mengambil pola-pola setempat.

(7)

4. Rigorous Conformance, suatu lingkungan yang memiliki bangunan bermakna tinggi (unsur yang signifikan dan detail), maka perlu pemakaian ulang unsur-unsur tersebut.

5. Replication, diantara deretan bangunan sejarah yang identik dan ada lahan kosong, maka dibuat replika/tiruan, sehingga bangunan tersebut menjadi mirip dan tercipta kesinambungan.

• Kontras, pendekatan cara ini memberikan desain yang kuat dalam memberikan fokus dan memperkaya Dramatisasi Kota beberapa bangunan istimewa memang membutuhkan suatu aksen dan fokus tertentu dengan menjadikan suatu kontras pada salah satu bangunan.

• Penerapan Kriteria (Application of Criteria), ada sedikitnya 10 desain linkages yang perlu diperhatikan :

1. Bayangan bangunan (Building Silhouette). 2. Jarak antar bangunan (spacing between build). 3. Setbacks from street property line).

4. Bentuk dan massa bangunan (massing of building form).

5. Lokasi dan penempatan jalan masuk (location and treatment of entryway).

6. Penyelesaian finishing material dan texture (surface material, finish dan texture).

7. Pola bayangan dari massa bangunan dan elemen dekorasinya (Shadow patterns from massing and decorative features).

8. Ukuran bangunan (Building Scale). 9. Gaya Arsitektur (Style of Architecture). 10. Tata Taman (Landscaping).

(8)

Studi Banding :

• Louvre Moseum : Louver Museum

• France : France

• Context : Effective Contras • Sumber : www.cmimages.com

Pendekatan desain secara contras agar memberikan fokus dan memperkaya dramatisasi suatu kota beberapa bangunan di lingkungan memang istimewa, namun dengan hadirnya ‘Louvre’ memberi aksen sendiri pada lingkungan.

Dari skema gambar potongan diatas, Desain Louvre tetap beradaptasi dengan lingkungan dan bangunan sekitarnya dengan membuat basement sebagai innercourt memberi kesan keterikatan secara aktifitas dengan lingkungan.

(9)

Nama Gedung : Jakarta Stock Exchange Building Alamat : Jl. Jend. Soedirman –

Jakarta

Fungsi : Perkantoran Luas Lahan : 22.430 m2

Jumlah Lantai : 32 Lantai

Sumber : Indonesia Desain

Arsitek : Brennan Geer Gorman (BBG) Amerika

Ketika Kita mencermati Gedung JSEB dari ujung kaki hingga mahkota, detail linearnya serasa memberikan kesan state of the art dengan fasilitas lengkap. Berikut alasan yang penulis kutip dari eksterior hingga interiornya.

• Karakter bangunan sangat multi perspektif dari jauh terlihat ramping, namun begitu mendekat volumenya kekar.

• Crown/mahkotanya berundak dan hal ini terinspirasi oleh Candi Prambanan.

• Dengan bentuk nampak

Trapesium namun sebenarnya adalah segitiga, sehingga memunculkan paradigma baru gedung berkelas dan optimal dalam memenuhi aspirasi pusat perkantoran high-end.

(10)

• Untuk menjaga efisiensi ujung runcing dipangkas.

• Kolom-kolom sebagian besar diletakkan di luar area sewa sehingga nilai ekonomis begitu tinggi.

Exterior

Secara estetika dinding luarnya nampak seperti permainan renda antara kaca reflektor berwarna gelap dan granit yang secara keseluruhan mempresentasikan kesan wibawa.

Interior

• Kombinasi pencahayaan alami dan artifisial yang kesemua ini untuk efisiensi energi.

• Dengan dominasi interior dengan bahan material granite cream dan hitam untuk mencerminkan elegan dan tenang.

(11)

Lantai basement 2 lapis Area Parkir

Lantai Lower Ground 3555 m2 Area Trading

Lantai Ground 4765 m2 Area Trading

Exchange Zone

Lantai 1 3429 m2

Lantai 2 1919 m2

Lantai 3 dan 4 2255 m2

Lantai 5 2243 m2

Low Rise Zone

Lantai 6 - 17 @ 2302 m2 Area perkantoran

Mid Rise Zone

Lantai 18 2302 m2 Area perkantoran

Lantai 19 2282 m2

Lantai 20 -22 2370 m2

Lantai 23 2341 m2

High Rise Zone

Lantai 24 2330 m2 Area perkantoran

Lantai 25 1523 m2 Lantai 26 1536 m2 Lantai 27 1552 m2 Lantai 28 1521 m2 Lantai 29 1502 m2 Lantai 30 706 m2 Lantai 31 674 m2 Club

Referensi

Dokumen terkait

Atau dalam arti sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi bereferensi geografis,

Adapun salah satu pendekatan yang digunakan dalam konseling keluarga yaitu pendekatan Gestalt, pendekatan ini memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif kausal, yaitu melakukan analisis hubungan kausalitas yang menjelaskan pengaruh opini audit, temuan audit

Mengorganisasikan perencanaan, pelaksanaan, dan pengadministrasian kegiatan pelayanan, pengawasan, pemeriksaan, penilaian, penagihan, serta penjaminan kualitas data yang

Atas kewenangan yang dimiliki sebagai penyidik perkara korupsi, Jaksa memiliki wewenang khusus yang tertuang dalam Pasal 26 Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang

Pemberian kapur dolomit mampu meningkatkan secara signifikan terhadap Indeks luas daun kacang tanah , berat kering tanaman, jumlah polong bernas per tanaman

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan berkat kesehatan dan kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pembuatan Perangkat

Dengan lebih banyaknya waktu yang dihabiskan di luar untuk bekerja, maka hal ini pun konsisten dengan hasil penelitian, yaitu jika suami memiliki tugas rumah yang