SISTEM BUDIDAYA DAN PERFORMANS TUBUH KERBAU
RAWA DI KABUPATEN PASAMAN
PROVINSI SUMATERA BARAT
(Raising System and Morphology Performances of Swamp Buffalo
in Pasaman District of West Sumatra)
A.HARYADI1danA.ANGGRAENI2
1Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor 2Balai Penelitian Ternak, Bogor
ABSTRACT
Increasing productivity of local buffalo is necessary in supporting national meat demand. This study was aimed to obtain some informations on raising system and its influence on morphology of local swamp buffalo in three subdistricts of Lubuk Sikaping (LS), Panti (PTi) and Rao Utara (RU) in Pasaman District, West Sumatra. A number of quantitative trait were observed by purposive sampling on adult buffaloes (3 - ≥ 5 years) for the number of animal in LS 34 hds, PTi 42 hds, and RU 60 hds. Information on raising system was obtained by interviewing farmers for some aspects including raising pattern, ownership, management, and feeding. Quantitative trait of various body sizes (7 variables) of males and females were classified into three age groups. Investigation on the differences of each body measurement among the three locations was conducted using t test. Most farmers kept buffaloes in a semi-intensive condition, in which by keeping buffalo outside during the day and housing them during the night. The main source of forages fed to buffalo was wild grass and rice straw. Many farmers fed buffalo at night, namely in LS 73.3%, PTi 63.2% and RU 53.8% respectively. Buffaloes in LS and PTi had body sizes were almost similar (P > 0.05), but these were higher than that of buffalo in RU (P < 0.01). The exception was for body length and hips wide being unsignificantly different (P > 0.05) among the three locations. Environment, management, and ownership status in general affected morphological performances of buffaloes. Farmers maintaining buffalo under a profit sharing and raising buffalo in small scale resulted in better growth performances than that in a reverse condition.
Key Words: Local Swamp Buffalo, Livestock System, Morphology
ABSTRAK
Peningkatan produktivitas kerbau lokal perlu dilakukan dalam mendukung kebutuhan daging nasional. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi pola budidaya dan pengaruhnya terhadap tampilan morfologi tubuh kerbau rawa di tiga lokasi, meliputi Kecamatan Lubuk Sikaping (LS), Panti (Pti) dan Rao Utara (RU) di Kabupaten Pasaman, Sumbar. Pengamatan performans tubuh dilakukan secara purposive sampling pada kerbau dewasa (3 – ≥ 5 tahun) dengan jumlah ternak berurutan di LS 34 ekor, Pti 42 ekor dan RU 60 ekor. Informasi budidaya diperoleh dengan mewawancarai peternak meliputi aspek pemeliharaan, kepemilikan, manajemen dan pemberian pakan. Pengumpulan data ukuran tubuh (7 ukuran) dari jantan dan betina diklasifikasi pada tiga kelompok umur dan untuk mengetahui perbedaan nilai antara ketiga kecamatan dilakukan uji t. Sebagian besar peternak memelihara kerbau secara semi intensif, dimana kerbau digembalakan siang hari dan pada malam hari dikandangkan. Sumber pakan utama yang diberikan pada kerbau adalah rumput alam dan jeramai padi. Sebagian peternak memberi pakan pada kerbau saat malam hari, yaitu di LS 73,3%, PI 63,2% dan RU 53,8%. Kerbau di LS dan Pti mempunyai ukuran tubuh tidak berbeda nyata (P > 0,05), tetapi lebih besar dibandingkan kerbau yang ada di RU (P < 0,01). Kekecuali pada panjang badan dan lebar pinggul tidak menunjukkan perbedaan nyata (P > 0,05) antara ketiga lokasi. Lingkungan, manajemen pemeliharaan, dan status kepemilikan secara umum mempengaruhi performans tubuh kerbau. Peternak yang memelihara kerbau dengan sistem bagi hasil dan pemeliharaan kerbau dalam jumlah sedikit
PENDAHULUAN
Kerbau memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai ternak kerja maupun sumber pangan hewani bagi manusia. Kerbau membantu petani dalam membajak sawah, sehingga dapat mengatasi keterbatasan tenaga keluarga. Memelihara kerbau untuk membajak sawah sudah menjadi kegiatan yang diwariskan secara turun temurun, sehingga membudaya bagi khususnya masyarakat pertanian di lahan sawah. Petani berpendapat membajak sawah menggunakan kerbau memberikan hasil lebih baik daripada menggunakan traktor. Membajak menggunakan kerbau menurut petani tidak menyebabkan tanah menjadi padat, lebih mudah diolah dan biaya lebih murah. Hasil penelitian di daerah Banten memperlihatkan salah satu tujuan petani memelihara kerbau adalah untuk mengolah lahan sawah. Peternak tidak hanya menggunakan kerbau untuk membajak sawahnya sendiri, tetapi kerbau juga disewakan, sehingga memberi tambahan penghasilan dari jasa penyewaan (SANTOSA,
2007).
Sektor pertanian merupakan sektor paling dominan sebagai lapangan usaha penduduk di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Subsektor peternakan adalah salah satu dari sektor pertanian yang memberi arti penting bagi penduduk. Kabupaten Pasaman juga memiliki kesesuaian klimatologi, topografi dan ketersediaan pakan yang berasal dari rumput alam dan sisa hasil pertanian. Kabupaten ini memiliki ketinggian antara 50 – 2.240 m dpl. Luas lahan yang sesuai untuk pengembangan peternakan sekitar 333.678 ha (84,82%) dari luas wilayah Kabupaten Pasaman (BPS
KABUPATEN. PASAMAN, 2008). Kerbau di
Sumatera Barat adalah kerbau rawa, dengan jumlah populasi tahun 2008 sebanyak 197.335 ekor, terdiri dari kerbau jantan 71.408 ekor dan kerbau betina 125.927 ekor. Populasi kerbau dari yang terbanyak berurutan terdapat di Kabupaten Padang Pariaman (40.302 ekor), Pesisir Selatan (28.920 ekor), Limapuluh Kota (21.922 ekor), Tanah Datar (20.729 ekor), Agam (17.104 ekor), Solok (11.489 ekor) dan Pasaman (2.757 ekor) (DINAS PETERNAKAN
SUMBAR, 2008). Dengan demikian Kabupaten
Pasaman termasuk sebagai salah satu sentra budidaya ternak kerbau di Provinsi Sumatera Barat.
Untuk pengembangan potensi ternak kerbau, perlu dilakukan upaya peningkatan produktivitasnya baik secara kualitas maupun kuantitas. Informasi tentang karakteristik morfologi dan potensi biologis ternak kerbau khususnya di Kabupaten Pasaman masih kurang. Informasi produktivitas kerbau sangat berguna untuk menentukan kebijakan pengembangan ternak kerbau, seperti perbaikan produktivitas, dukungan manajemen produksi, dan kebijakan lainnya. Perbedaan morfologi ternak kerbau antar daerah menjadi informasi yang sangat penting. Melalui pengamatan terhadap keragaman fenotipe dari sifat-sifat pertumbuhan diharapkan menjadi informasi berguna dalam menggali potensi kerbau di Kabupaten Pasaman.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi pola budidaya dan pengaruhnya terhadap tampilan morfologi tubuh kerbau rawa lokal di tiga kecamatan, meliputi Lubuk Sikaping, Panti, dan Rao Utara di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Hasil yang diperoleh dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam memperbaiki produktivitas ternak kerbau di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten lainnya yang memiliki pola budidaya dan agro ekosistem hampir sama.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai Agustus, 2009. Penelitian berlokasi di tiga Kecamatan meliputi Lubuk Sikaping, Panti, dan Rao Utara di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah kerbau rawa lokal dengan jumlah total sebanyak 136 ekor. Sebaran dan jumlah ternak kerbau pengamatan berdasarkan umur, jenis kelamin, dan asal tertera pada Tabel 1.
Gambar 1. Peta lokasi dari tiga kecamatan tempat dilakukan pengukuran tubuh kerbau sampel penelitian di
Kabupaten Pasaman
Keterangan: Lokasi Penelitian
Sumber: DINAS PEMERINTAH KABUPATEN PASAMAN (2008)
Tabel 1. Jumlah kerbau yang diamati berdasarkan umur, jenis kelamin dan asal
Umur (tahun) Jenis kelamin
Kecamatan
Lubuk Sikaping Panti Panti
--- (ekor) --- 3 – 4 Jantan Betina 2 14 2 20 6 20 4 – 5 Jantan Betina 5 11 5 12 8 21 > 5 Jantan Betina - 2 - 3 - 5 Jumlah 34 42 60
Kerbau yang diamati dari tiga lokasi Lubuk Sikaping (34 ekor), Panti (42 ekor) dan Rao Utara (60 ekor) telah diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok umur dan dua jenis kelamin. Umur ditetapkan berdasarkan informasi dari peternak dan pergantian gigi seri. Apabila kerbau belum memiliki gigi tetap (I0) dikatakan
berumur satu tahun, sedangkan jika memiliki sepasang gigi tetap (I1) berumur dua tahun, dua
pasang gigi tetap (I2) tiga tahun, tiga pasang
gigi tetap (I3) empat tahun, dan empat pasang
gigi tetap (I4) berumur ≥ 5 tahun (LESTARI,
1986). Data kuantitatif yang diamati meliputi sejumlah ukuran morfometrik tubuh, yaitu tinggi pundak, tinggi pinggul, panjang badan, lebar pinggul, lebar dada, dalam dada, dan lingkar dada.
Analisis data
Keragaman tubuh kerbau antara ketiga lokasi dianalisis dengan sidik ragam satu arah (one way ANOVA) dalam Rancangan Acak Kelompok, dengan umur sebagai kelompok dan lokasi sebagai perlakuan (GAZPERSZ,
1991). Data kualitatif dianalisis menggunakan frekuensi relatif, yaitu persentase dari hasil pembagian jumlah ternak dengan parameter tertentu terhadap jumlah total ternak pengamatan. Kuisioner dan hasil wawancara dengan peternak serta data dari Pemerintah Kabupaten Pasaman dijadikan sebagai data pendukung pada penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi umum lokasi penelitian Kabupaten Pasaman
Kabupaten Pasaman memiliki luas wilayah sekitar 3.947,63 km2 yang terdiri dari 12 kecamatan dan 32 nagari atau desa. Secara geografis, dilintasi khatulistiwa dan berada pada 0055’ Lintang Utara sampai dengan 00006’ Lintang Selatan dan 99045’ Bujur Timur sampai dengan 100021’ Bujur Timur. Ketinggian antara 50 – 2.240 m dpl. Lokasinya terletak paling utara dari Provinsi Sumbar. Bagian utara Kabupaten Pasaman berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal dan Padang Lawas dari Provinsi Sumatera Utara;
Rokan Hulu dari Provinsi Riau serta Kabupaten Lima Puluh Kota; bagian selatan dengan Kabupaten Agam; serta bagian barat dengan Kabupaten Pasaman Barat (DINAS
PEMERINTAH. KABUPATEN PASAMAN, 2008).
Dari 394.763 ha luas lahan di Kabupaten Pasaman, terdiri dari antara lain kawasan hutan 190.433 ha (48,24%), padang rumput 75.277 ha (19,07%), sawah 26.532,38 ha (6,72%), lahan perkebunan 41.436,79 ha (10,49%) dan kawasan industri 39 ha (0,01%) (BPS
KABUPATEN PASAMAN, 2008).
Kondisi tofografi
Lahan yang dapat dipakai sebagai sumber hijauan ruminansia di Kecamatan Lubuk Sikaping, Panti, dan Rao Utara masing-masing seluas 2.679, 4.297, dan 2.364 ha (DIN.PEM.
KABUPATEN PASAMAN, 2008). Ketiga
kecamatan berada pada dataran tinggi, dengan ketinggian ketiganya berurutan 2.340, 1.521, dan 1.886 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh langsung terhadap ternak. Menurut JOSEPH (1996) setiap ketinggian 100
m dari permukaan laut akan menurunkan suhu sebesar 10°C. Kondisi suhu rendah pada daerah dataran tinggi memberi situasi lingkungan lebih kondusif bagi pertumbuhan ternak kerbau. Pengaruh tidak langsung terjadi melalui ketersediaan hijauan pakan ternak dari segi kualitas dan kuantitasnya.
Kondisi peternak
Rumah tangga (RT) peternak di Kabupaten Pasaman mencapai sebanyak 22.050 RT (36,6%) dari total rumah tangga. Rumah tangga dengan mata pencaharian sebagai peternak terbanyak berurutan di Kecamatan Duo Koto (3.287 RT), Bonjol (2.634 RT), Lubuk Sikaping (2.510 RT), Panti (2.108 RT), Rao Utara (1.560 RT), dan lainnya (BPS
KABUPATEN PASAMAN, 2008). Tingkat
pendidikan peternak masih tergolong rendah, dengan persentase cukup besar tidak selesai SD (25,6%), namun persentase terbanyak menyelesaikan pendidikan SD (51,1%) dan SLTP (14,8%). Sebagian peternak memiliki pendidikan cukup tinggi, yang berhasil meyelesaikan SLTA (7,4%) dan PT (1,1%)
Populasi kerbau
Populasi kerbau antar ketiga lokasi bervariasi (Tabel 2). Perkembangan populasi kerbau dipengaruhi banyak faktor, diantaranya kondisi lingkungan, lahan penggembalaan, dan manajemen pemeliharaan. Populasi kerbau di Lubuk Sikaping, Rao Utara, dan Panti berurutan sejumlah 162, 505, 140 ST atau sekitar 13,7; 14,3 dan 44,5% dari total populasi ternak (dalam ST) di Kabupaten Pasaman (Tabel 2).
Luasan lahan yang bisa difungsikan sebagai sumber penanaman hijauan untuk ternak ruminansia di Lubuk Sikaping, Panti, dan Rao Utara berurutan 2.679, 4.297, dan 2.364 ha. Lahan tersebut dapat menampung sekitar 1181, 979, dan 1134 ST. Data tersebut menunjukkan bahwa kapasitas tampung di Lubuk Sikaping dan Panti lebih besar daripada di Rao Utara. Tanaman padi menjadi salah satu sumber pakan utama ternak kerbau. Peternak sudah biasa memanfaatkan jerami padi sebagai sumber hijauan untuk kerbau dan ternak ruminansia lainnya yang mereka pelihara. Panti merupakan wilayah paling produktif bagi
tanaman padi. Produktivitas padi di Panti melebihi dua lokasi lainnya, yakni sebanyak 40.306 ton untuk padi sawah dan 221 ton untuk padi ladang, sedangkan di Lubuk Sikaping dan Rao Utara produksinya masing-masing 27.364 ton dan 14.714 ton padi sawah dan 124 ton dan 225 ton padi ladang.
Sistem usaha ternak
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha ternak kerbau adalah manajemen pemeliharaan yang sesuai dengan kondisi daerah tempat ia hidup dan berkembang. Sistem pemeliharaan akan mempengaruhi produktivitas ternak, akibatnya dapat mempengaruhi pendapatan peternak.
Status kepemilikan
Terdapat perbedaan status kepemilikan kerbau antara Lubuk Sikaping, Panti dan Rao Utara (Tabel 3). Peternak di Rao Utara sebagian besar (92,0%) memelihara kerbau milik sendiri, sebaliknya peternak hanya
Tabel 2. Populasi ternak ruminansia di lokasi penelitian
Jenis ternak Kecamatan
Lubuk Sikaping Panti Rao Utara (ST) Kerbau 162 140 505 Sapi 902 676 536 Kuda 41 0 16 Kambing 76 163 77 Total 1181 979 1134
Anak kerbau/sapi/kuda : 1/4 ST Dara kerbau/sapi/kuda : 1/2 ST Dewasa kerbau/sapi/kuda : 1 ST Dewasa kambing : 1/7 ST
Sumber: BPS KABUPATEN PASAMAN (2008)
Tabel 3. Status kepemilikan kerbau
Kecamatan Jumlah responden (orang) Status kepemilikan
Milik sendiri Milik orang lain
Lubuk Sikaping 12 5 (41,6%) 7 (58,3%)
Panti 11 4 (36,3%) 7 (63,6%)
sebagai pemelihara kerbau orang lain ditemukan lebih banyak di Panti (63,6%) dan Lubuk Sikaping (58,3%).
Status kepemilikan dapat mempengaruhi perhatian yang diberikan peternak pada ternak yang dipelihara. Peternak di Panti dan Lubuk Sikaping sangat memperhatikan kerbau yang dipeliharanya, mungkin ini disebabkan oleh sistem bagi hasil yang diterapkan. Selain itu, di Panti dan Lubuk Sikaping satu orang peternak biasanya memelihara kerbau dengan skala lebih kecil (l – 3 ekor), dibandingkan di Rao Utara dimana peternak umum memiliki kerbau dengan skala lebih besar (> 5 ekor).
Sistem pemeliharaan
Peternak di Kabupaten Pasaman memiliki beberapa alasan untuk memelihara kerbau, diantaranya beternak kerbau adalah tradisi turun-temurun yang diwariskan dari orangtua, kondisi alam yang cocok, mudah memeliharanya, dan tahan terhadap penyakit. Peternak juga menggunakan kerbau untuk membajak sawah, sehingga didapatkan penghasilan tambahan dari jasa sewa tersebut. Kotoran yang dihasilkan kerbau juga dapat dijadikan pupuk untuk menyuburkan lahan pertanian. Namun dengan berkembangnya teknologi pertanian, traktornisasi menyebabkan berkurangnya pendapatan peternak. Hal ini dirasakan oleh peternak di Lubuk Sikaping dan Panti, yang merasa rugi dengan kehadiran traktor, sebaliknya hal tersebut tidak begitu terasa di Rao Utara. Peternak di Rao Utara masih memiliki kemauan kuat untuk membajak sawah dengan menggunakan kerbau, karena kotoran ini sangat bermanfaat sebagai sumber pupuk organik yang dapat mempertahankan kesuburan tanah.
Sistem pemeliharaan kerbau oleh peternak di ketiga lokasi lebih berupa pemeliharaan semi intensif, kerbau digembalakan pada siang hari kemudian dikandangkan malam hari. Kandang dibangun dengan kondisi tergolong tradisional, lantai hanya berupa tanah, dinding terbuat dari bahan kayu sederhana atau bambu, sedangkan atap terbuat dari plastik terpal atau seng. Peternak lebih suka membuat kandang secara tradisional karena biayanya murah, seperti kayu dan bambu tersedia berlimpah sehingga bisa didapat secara cuma-cuma atau dibeli dengan harga murah. Dengan demikian biaya untuk menyiapkan kandang bagi ternak kerbau dapat dijangkau peternak.
Pemberian pakan
Pakan merupakan faktor utama dalam menentukan produktivitas ternak, disamping potensi genetik dan lingkungan. Kebutuhan zat gizi disesuaikan dengan status fisiologis ternak serta tingkat produksi yang diharapkan. Hasil wawancara pada 60 responden untuk ketiga lokasi menunjukkan peternak di semua lokasi memberikan jerami padi dan rumput lapang untuk pakan ternaknya. Jerami padi diberikan jika musim panen tiba, sedangkan pada musim kemarau peternak harus membawa kerbaunya menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemukan padang penggembalaan yang masih memiliki rumput hijau.
Sebagian peternak memberikan pakan pada malam hari, sebaliknya ada juga yang tidak memberikan pakan. Pakan yang diberikan pada malam hari adalah hijauan berupa rumput-rumputan dan leguminosa. Peternak di Lubuk Sikaping lebih banyak memberikan pakan pada malam hari (73,3%) jika dibandingkan dengan peternak di Panti (63,2%) dan Rao Utara (53,8%) (Tabel 4).
Tabel 4. Sistem pemberian pakan malam hari pada kerbau
Kecamatan Jumlah Responden
(Orang)
Perlakuan Pakan
Diberi pakan Tidak diberi pakan
Lubuk Sikaping 15 11 (73,3%) 4 (26,7%)
Panti 19 12 (63,2%) 7 (36,8%)
R. Utara 26 14 (53,8%) 12 (46,2%)
Penampilan morfometrik tubuh
Tubuh hewan tumbuh dengan teratur, meskipun demikian tubuh tidak tumbuh secara satu kesatuan, karena berbagai jaringan tubuh tumbuh dengan laju berbeda sejak lahir sampai dewasa (VACCARO dan RIVERO, 1985). Pola pertumbuhan tercepat terjadi pada kehidupan awal, kemudian meningkat secara perlahan, sampai mencapai konstan saat ternak tua
(LAWRENCE dan FOWLER, 2002). Kerangka
tubuh atau tulang tulang tubuh mencapai pertumbuhan atau ukuran maksimum lebih dini dibandingkan dengan komponen tubuh lainnya seperti otot dan lemak. Pertumbuhan adalah salah satu faktor yang penting dalam menentukan produktivitas ternak. Pertumbuhan ternak secara keseluruhan diukur dengan bertambahnya berat badan sedangkan besarnya badan dapat diketahui antara lain melalui pengukuran tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada. Hasil pengukuran sejumlah ukuran tubuh kerbau di setiap lokasi telah diklasifikasikan berdasarkan tiga kelompok umur dan jenis kelamin (Tabel 5).
Sejalan dengan bertambahnya umur, ukuran tubuh juga bertambah besar (Tabel 5). Hal ini sesuai dengan konsep pertumbuhan, dimana ternak akan terus mengalami petumbuhan dengan bertambahnya umur, sampai pertumbuhan tersebut mencapai kondisi konstan ketika umur dewasa tercapai
(LAWRENCE dan FOWLER, 2002). Selain umur,
jenis kelamin juga berpengaruh terhadap ukuran tubuh ternak, dimana kerbau jantan
memiliki ukuran tubuh lebih besar dari kerbau betina. Jantan mengalami pertumbuhan lebih cepat daripada betina, dan perbedaan laju pertumbuhan antara kedua jenis kelamin menjadi semakin besar dengan bertambahnya umur GATENBY (1986). Androgen yang termasuk sebagai hormonal jantan menstimulan pertumbuhan menyebabkan pertumbuhan jantan lebih cepat dari betina, terutama setelah munculnya sifat-sifat kelamin sekunder ternak jantan (HAFEZ dan DYER,
1969).
Tinggi pundak merupakan perpaduan antara ukuran tulang kaki dan dalam dada, Tinggi pundak penting untuk diperhatikan karena hewan yang memiliki dimensi tulang kaki besar cenderung tumbuh lebih cepat dan menghasilkan daging lebih banyak dibandingkan dengan hewan berkaki kecil. Tinggi pinggul juga salah satu ukuran linier tubuh lainnya yang menunjukkan dimensi pertumbuhan kerbau. Kerbau jantan dan betina dari Panti tinggi pundak dan pinggul sedikit lebh tinggi dari kerbau di Lubuk Sikaping, tidak memperlihatkan perbedaan nyata (P > 0,05). Sebaliknya kerbau di Rao Utara kedua jenis kelamin pada umur yang sama memiliki ukuran tinggi pundak dan pinggul terendah (P < 0,05) (Tabel 5). Hal ini mengindikasikan bahwa pada umur bersesuaian, kerbau di Rao Utara memiliki tinggi badan lebih rendah dari kerbau di Panti dan Lubuk Sikaping. Tinggi pinggul kerbau betina umur 4 – 5 tahun di Panti dan Lubuk Sikaping lebih tinggi jika dibandingkan dengankerbau rawa di Cisata
Tabel 5. Sejumlah ukuran tubuh kerbau berdasarkan jenis kelamin, umur, dan lokasi
Peubah (cm) Umur (tahun) Lokasi
L. Sikaping Panti R. Utara ---(cm)--- Betina: ∑ kerbau (ekor) 3 – 4 N = 14 N = 20 N = 20 Tinggi pundak 120,8a± 2,12 122,6a± 2,4 108,8b ± 4,7 Tinggi pinggul 118,9a± 2,1 120,5a± 2,5 106,6b ± 4,8 Panjang badan 111,2a± 3,9 112,1a± 3,5 112,1a ± 4,6 Lebar pinggul 46,1a± 3,6 48,6a± 4,4 47,9a ± 5,2 Lebar dada 42,1a± 2,5 44,0a± 4,5 37,0b ± 3,6 Dalam dada 66,6a± 6,2 67,1a± 5,8 54,7b ± 3,2 Lingkar dada 162,3a± 3,9 163,0a± 4,5 142,7b ±3,1 4 – 5 N = 11 N = 12 N = 21 Tinggi pundak 122,9a± 2,1 124,9a± 2,6 110,2b ± 3,2
Lebar pinggul 52,3a± 3,4 53,1a± 5,1 49,7a 3,6 Lebar dada 47,9a± 3,8 47,7a± 3,0 41,7b ± 2,7 Dalam dada 69,8a± 3,8 70,3a± 5,3 56,1b ± 7,1 Lingkar dada 163,4a± 2,6 164,4a± 5,4 156,2b ± 3,7 > 5 N = 2 N = 3 N = 5 Tinggi pundak 125,0a± 1,4 126,3a± 2,5 115,8b ± 2,9 Tinggi pinggul 122,5a± 2,1 123,7a± 3,8 114,0b ± 3,1 Panjang badan 118,5a± 3,5 116,7a± 2,1 115,8a ± 3,7 Lebar pinggul 56,0a± 1,4 55,7a± 2,3 51,2a ± 2,4 Lebar dada 51,5a± 6,4 51,3a± 2,5 42,4b ± 2,4 Dalam dada 74,5a± 3,5 75,3a± 6,0 61,4b ± 2,3 Lingkar dada 168,0a± 1,4 168,3a± 6,0 158,8b ± 1,9 Jantan 3 – 4 N = 2 N = 2 N = 6 Tinggi pundak 127,0a± 1,4 128,0a± 4,2 120,8b ± 1,7 Tinggi pinggul 124,5a± 0,7 125,5a± 5,0 118,7b ± 1,6 Panjang badan 114,0a± 1,4 115,5a± 3,5 114,3a ± 1,8 Lebar pinggul 51,0a± 2,8 52,5a± 5,0 48,8a ± 2,6 Lebar dada 50,5a± 2,1 52,5a± 2,1 41,3b ± 1,4 Dalam dada 72,5a± 5,0 74,5a± 5,0 62,2b ± 1,9 Lingkar dada 176,0a± 4,4 177,5a±7,8 165,8b ± 2,6 4 – 5 N = 5 N = 5 N = 8 Tinggi pundak 129,6a± 2,5 130,4a± 4,6 123,9b ± 2,0 Tinggi pinggul 127,2a± 2,4 128,4a± 5,9 121,1b ± 2,0 Panjang badan 116,8a± 3,0 116,4a± 3,4 114,8a ± 1,8 Lebar pinggul 53,4a± 6,4 54,2a± 1,3 50,3a ± 1,5 Lebar dada 53,8a± 3,1 55,4a± 5,6 42,2b ± 2,1 Dalam dada 76,8a± 4,7 78,8a± 5,3 67,5b ± 2,6 Lingkar dada 178,4a± 7,6 180,6a± 6,3 166,6b ± 3,4
Superskrip berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata (P < 0,05) n = jumlah ternak
(119 cm) (SITOMPUL, 2009). Namun pada
umur dewasa (> 5 tahun) kerbau betina pengamatan dengan tinggi pinggul lebih rendah dibandingkan dengan kerbau rawa di Tapanuli Selatan (127 cm) (KAMPAS, 2008).
Tinggi pinggul kerbau jantan pengamatan umur 4 – 5 tahun lebih tinggi daripada kerbau rawa di Kabupaten Dompu, NTB (123 cm) (ERDIANSYAH, 2008).
Panjang badan kerbau baik jantan dan betina muda (4 – 5 tahun) ditemukan hampir tidak berbeda antara ketiga lokasi. Panjang badan kerbau jantan umur 4 – 5 tahun di Panti dan Lubuk Sikaping sedikit lebih panjang
perbedaan antara ketiganya nyata (P > 0,05). Hal ini mengindikasikan meskipun tinggi badan sebagai ditunjukkan oleh tinggi pundak dan pinggul kerbau di Panti dan Lubuk Sikaping lebih tinggi terhadap kerbau di Rao Utara, tetapi panjang badan ketiga kelompok kerbau hampir sama. Panjang badan kerbau betina muda (3 – 4 tahun) dari ketiga lokasi lebih rendah jika dibandingkan dengan kerbau rawa dengan umur yang sama di Sumatera Utara (117, 118 dan 118 cm) (HIDAYAT, 2007).
Lingkar dada merupakan salah satu ukuran tubuh yang dapat digunakan sebagai penduga bobot badan. Bagian dada merupakan bagian
organ tubuh dengan fungsi penting seperi paru-paru, hati dan jantung. Ternak yang memiliki lingkar, tinggi, dan dalam dada besar akan memiliki organ dada lebih luas dibandingkan dengan ternak dengan ketiga ukuran tubuh bagian dada tersebut lebih kecil. Seperi halnya pada tinggi pundak dan tinggi pinggul, baik jantan dan betina untuk ketiga umur memperlihatkan bahwa kerbau di Panti memiliki ukuran sedikit lebih besar terhadap kerbau di Lubuk Sikaping, tetapi perbedaannya tidak nyata (P > 0,05). Sedangkan pada kerbau di Rao Utara dengan ukuran paling rendah. Lingkar dada kerbau betina pada semua umur pengamatan adalah lebih kecil dibandingkan dengan kerbau rawa betina di Sumatera Utara, yaitu berurutan sebesar 168, 177 dan 186 cm
(HIDAYAT, 2007). Akan tetapi lingkar dada
kerbau kerbau jantan umur 3 – 5 tahun di Panti dan Lubuk Sikaping lebih besar terhadap kerbau rawa di Sumatera Utara, yang diperoleh sebesar 174 cm dan 177 cm (HIDAYAT, 2007).
Berdasarkan sejumlah ukuran tubuh yang diamati, dapat dinyatakan bahwa kerbau di Rao Utara memiliki tinggi badan lebih rendan, ukuran dada lebih kecil, akan tetapi dengan panjang badan hampir sama terhadap kerbau-kerbau di Panti dan Lubuk Sikaping. Performa pertumbuhan yang berbeda antara kecamatan kemungkinan karena perbedaan manajemen yang diberikan. Faktor manajemen pakan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap ukuran tubuh. Status kepemilikan yang berbeda kemungkinan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ternak yang dipelihara. Lebih besarnya kerbau-kerbau di Panti dan Lubuk Sikaping dibandingkan dengan Rao Utara disebabkan oleh perhatian lebih baik yang diberikan peternak di kedua lokasi pertama pada kerbau yang mereka pelihara. Sebagai diuraikan sebelumnya, peternak di Panti dan Lubuk Sikaping sangat memperhatikan kerbau yang dipeliharanya, karena sistem pemeliharaan yang dilakukan sebagian besar dalam bentuk sistem bagi hasil. Selain itu, di Panti dan Lubuk Sikaping satu orang peternak hanya memelihara 1 – 3 ekor kerbau saja, sedangkan di Rao Utara satu orang peternak secara rataan memiliki lebih dari 5 ekor kerbau.
Selain perbedaan secara genetik, maka lingkungan berupa perbedaan iklim, pemberian pakan dan manajemen pemeliharaan dapat pula mempengaruhi karakteristik ukuran tubuh kerbau antar lokasi.
KESIMPULAN
Kerbau rawa di Lubuk Sikaping memiliki ukuran tubuh hampir sama dengan kerbau rawa di Panti, sedangkan kerbau rawa di Rao Utara memiliki ukuran tubuh lebih kecil, kecuali untuk panjang badan dan lebar pinggul yang tidak berbeda antar ketiga lokasi. Manajemen pemeliharaan dan status kepemilikan mempengaruhi morfometrik tubuh kerbau. Pemberian pakan hijauan malam hari menampilkan pertumbuhan lebih baik terhadap tanpa pemberian pakan. Sistem pemeliharaan bagi hasil dan pemeliharaan skala kecil menampilkan pertumbuhan lebih baik pada kerbau jika dibandingkan pemeliharaan sendiri dengan skala lebih besar.
Peternak diharapkan lebih memperhatikan manajemen pemeliharaan, pemberian pakan dan reproduksi. Perbaikan produktivitas dapat dilakukan dengan memperbaiki mutu genetik melalui seleksi dan perkawinan silang.
DAFTAR PUSTAKA
BPS KABUPATEN PASAMAN. 2008. Kabupaten
Pasaman dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Lubuk Sikaping, Pasaman.
DINAS PEMERINTAH KABUPATEN PASAMAN. 2008. Pasaman Dalam Angka, Lubuk Sikaping. ERDIANSYAH, E. 2008. Studi keragaman fenotipe
dan pendugaan jarak genetik antar kerbau lokal di Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
GATENBY, R. M. 1986. Sheep Production in The
Tropics and Sub Tropics (Tropical Agriculture Series). Longman Group Ltd. London and New York.
GAZPERSZ, V. 1991. Teknik Analisis Dalam
Penelitian Percobaan. Tarsito, Bandung. HAFEZ,E.S.E. & I.A.DYER. 1969. Animal Growth
HIDAYAT,U. 2007. Karakteristik Fenotipik Kerbau
Banten dan Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. LAWRENCE,T.L.J. and V.R.FOWLER. 2002. Growth
of Farm Animals. 2nd Edition. CABI
Publishing. CABI Internasional, Wallingford, Oxon Ox10 8de, UK.
LESTARI,C.M.S. 1986. Korelasi antara umur dengan
ukuran-ukuran tubuh kerbau di pegunungan dan dataran rendah Jawa Tengah. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
SANTOSA,U. 2007. Studi Ukuran Tubuh Kerbau di
Beberapa Wilayah di Kabupaten Lebak,
Propinsi Banten. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
SITORUS,A.J. 2008. Studi keragaman fenotipe dan
pendugaan jarak genetik kerbau sungai, rawa dan silangan di Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
SUPARYANTO,A,T.PURWADARIA dan SUBANDRIYO.
1999. Pendugaan jarak genetik dan faktor peubah pembeda bangsa dan kelompok domba di Indonesia melalui pendekatan analisis morfologi. JITV 4: 80 – 87
VACCARO, R. and S. RIVERO. 1985. Growth of Holstein Friesien Females in the Venezuelan. Tropics. Anim Prod. 40: 279 – 285.