• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Risiko Kerentanan Tanah Akibat Soil Liquefaction Karena Gempa Bumi Di Wilayah Pesisir Kota Pacitan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Studi Risiko Kerentanan Tanah Akibat Soil Liquefaction Karena Gempa Bumi Di Wilayah Pesisir Kota Pacitan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak—Wilayah pesisir kota Pacitan merupakan

daerah rawan gempa karena dilalui oleh Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Berdasarkan hasil boring test di 5 titik yang telah dilakukan, bahwa kondisi tanah di lokasi studi sebagian besar adalah tanah berpasir yang berpotensi terjadi soil liquefaction. Potensi soil liquefaction dievaluasi berdasarkan nilai SF (Safety Factor) yang merupakan perbandingan antara CSR (Cyclic Stress Ratio) dengan CRR (Cyclic

Resistance Ratio). Untuk penilaian risiko dilakukan

dengan menggunakan metode probabilitas likuifaksi dan nilai LPI (Liquefaction Potential Index). Hasil analisis yang didapatkan bahwa lokasi yang memungkinkan terjadi fenomena soil liquefaction di wilayah pesisir kota Pacitan yaitu di daerah sisi barat daya Bagak, daerah sisi tenggara Bagak, daerah Sidorejo, daerah sisi barat laut Sidorejo, daerah sisi barat Kali Muso, daerah sisi timur Kali Muso, daerah sisi barat daya Kali Teleng, daerah Sidoharjo, daerah sisi barat laut Pleren, daerah Ngampel, daerah sisi utara Kali Muso, daerah Selare, daerah sisi timur Sidosari, daerah Plosomakmur, daerah sisi barat Plosorejo, daerah sisi timur Plosorejo, daerah sisi barat laut Selare, daerah Kradenan, daerah sisi timur Sidorukun, daerah sisi timur Baleharjo, daerah Sundeng, daerah Betulo, daerah Purwoharjo, dan daerah sisi timur laut Kuwarasan. Untuk tingkat risiko yang dihadapi akibat terjadinya soil liquefaction yaitu daerah dengan kategori risiko “Sangat Tinggi” terjadi di daerah sisi barat Kali Muso, daerah sisi barat daya Kali Teleng, daerah Sidoharjo, daerah sisi barat laut Pleren, daerah Ngampel, daerah Selare, daerah Plosomakmur, daerah sisi barat Plosorejo, daerah sisi barat laut Selare, dan daerah Sundeng. Sedangkan daerah dengan kategori risiko “Rendah” terjadi di daerah sisi tenggara Bagak, daerah Sidorejo, daerah sisi barat laut Sidorejo, dan daerah sisi timur Sidorukun.

Kata kunci: Soil liquefaction, Gempa bumi, Risiko, Probabilitas likuifaksi, LPI (Liquefaction Potential

Index).

I.PENDAHULUAN

ndonesia berada pada jalur 3 lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Akibat pergerakan lempeng-lempeng tersebut menyebabkan Indonesia rawan terjadi gempa bumi.

Untuk memperjelas gambaran peta tektonik Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1:

Gambar 1. Tektonik Indonesia, Pertemuan Lempeng

Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia di Indonesia [1]

Salah satu dampak dari terjadinya gempa bumi adalah fenomena soil liquefaction. Para ahli menyebutkan bahwa

soil liquefaction menjadi penyebab utama kerusakan parah

yang terjadi di wilayah Kobe, Jepang pada tahun 1996 dan di wilayah Alaska, Amerika pada tahun 1964 setelah terjadinya gempa bumi [2].

Salah satu wilayah di Indonesia yang berisiko mendapat ancaman gempa bumi adalah Pacitan. Untuk memperjelas gambaran wilayah kota Pacitan dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2. Pesisir kota Pacitan [3]

Permasalahan yang dibahas pada Tugas Akhir ini adalah:

1. Di lokasi mana yang memungkinkan terjadi fenomena

soil liquefaction di wilayah pesisir kota Pacitan?

2. Berapa tingkat risiko yang dihadapi akibat terjadinya

soil liquefaction karena gempa bumi?

II.URAIANPENELITIAN

A. Soil Liquefaction

Seed et al (1982) mendefinisikan soil liquefaction merupakan proses perubahan kondisi tanah pasir yang jenuh air menjadi cair, akibat meningkatnya tekanan air pori yang nilainya menjadi sama dengan tegangan total oleh sebab terjadinya beban siklik, sehingga tegangan efektif tanah menjadi nol.

Studi Risiko Kerentanan Tanah Akibat Soil Liquefaction Karena

Gempa Bumi Di Wilayah Pesisir Kota Pacitan

Dicky Nanda Warriessandy, Wahyudi, dan Kriyo Sambodho

Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia

e-mail: [email protected]

(2)

2 Untuk mempermudah gambaran terjadinya fenomena

soil liquefaction dapat dilihat pada Gambar 3:

Gambar 3. Kondisi tanah sebelum dan setelah terjadi

gempa [4]

B. Pengaruh Ukuran Butir Tanah Terhadap Soil Liquefaction

Berikut adalah grafik liquefable soil pada Gambar 4 yang menunjukkan pengaruh dari ukuran butiran tanah terhadap liquefaction. Soil liquefaction hanya terjadi pada butiran tanah berpasir. Ukuran butiran tanah yang seragam dengan 0,2 mm ≤ D50 ≤ 0,4 mm sensitif terhadap

liquefaction.

Gambar 4. Potensi soil liquefaction berdasarkan diameter

butiran tanah [5]

C. Metode Untuk Mengevaluasi Terjadinya Soil

Liquefaction Akibat Gempa Bumi Berdasarkan Data CPT (Cone Penetration Test)

Pada dasarnya analisis potensi soil liquefaction dilakukan dengan mencari dua parameter utama yaitu CSR (Cyclic Stress Ratio) yang merupakan tegangan geser siklik yang terjadi akibat gempa dibagi dengan tegangan efektif lain, dan CRR (Cyclic Ressistance Ratio) yang merupakan ketahanan tanah untuk menahan soil liquefaction.

Nilai CSR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut [6]

:

CSR = 𝜏𝑐𝑦𝑐𝜎′ = 0.65 𝜎′𝜎 𝛼𝑚𝑎𝑥𝑔 𝑟𝑑 (1) dengan,

σ = tegangan vertikal total (kN/m²) σ’ = tegangan vertikal efektif (kN/m²)

αmax = percepatan gempa maksimum di permukaan tanah (m/s2)

g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)

rd = faktor reduksi terhadap tegangan

Rasio antara tegangan total dengan tegangan efektif dihitung dengan persamaan-persamaan yang ada di dalam teori Mekanika Tanah [7]:

𝜎 = 𝐻𝛾𝑤 + 𝐻𝐴 + 𝐻 𝛾𝑠𝑎𝑡 (2)

dengan,

σ = tegangan vertikal total (kN/m2) γw = berat volume air (9,8 kN/m3) γsat = berat volume tanah jenuh air (kN/m3)

H = tinggi muka air diukur dari permukaan tanah (m)

HA = jarak titik yang ditinjau dengan muka air (m)

Berat volume tanah jenuh air dihitung dengan persamaan:

γsat = Gs +e γw

1 +e (3)

dengan,

Gs = berat spesifik butiran e = void ratio (angka pori) γw = berat volume air (9,8 kN/m3)

Tegangan efektif tanah dihitung menggunakan persamaan:

𝜎′ = 𝜎 – 𝑢 (4)

dengan,

u = tekanan air pori tanah yang dihitung dengan persamaan:

𝑢 = 𝐻𝐴 𝛾𝑤 (5)

dengan,

HA = jarak titik yang ditinjau dengan muka air (m)

Nilai percepatan gempa maksimum di permukaan tanah (amax) dihitung dengan menggunakan persamaan [8]: 𝐿𝑜𝑔 𝑃𝐺𝐴 = −1.02 + 0.249𝑀𝑤 − log 𝑟 − 0.00255𝑟 (6) dengan,

r = jarak episentrum (km) Mw = magnitude gempa (SR)

Koefisien reduksi kedalaman (rd) dihitung berdasarkan persamaan [6]: rd = 1 – 0,00765z, untuk z ≤ 9,15 m (7) rd = 1,174 – 0,0267z, untuk 9,15 m < z ≤ 23 m (8) rd = 0,744 – 0,008z, untuk 23 m < z < 30 m (9) rd = 0,5 untuk z > 30 m (10) dengan,

rd = faktor reduksi terhadap tegangan z = kedalaman tanah (m)

Pada dasarnya rumus CSR tersebut berlaku untuk gempa dengan magnitude sama dengan 7,5. Sedangkan untuk gempa dengan magnitude tidak sama dengan 7,5 menggunakan faktor koreksi MSF (Magnitude Scalling

Factor) terhadap persamaan CSR menjadi sebagai berikut

[9] :

CSR = 0,65 𝜎′𝜎 𝛼𝑚𝑎𝑥𝑔 𝑀𝑆𝐹𝑟𝑑 (11) Untuk gempa dengan magnitude lebih besar dari 7,5, NCEER merekomendasikan menggunakan persamaan MSF sebagai berikut [10]:

MSF = 𝑀102,24

𝑤2,56 (12)

Dan untuk gempa dengan magnitude lebih kecil dari 7,5, menggunakan persamaan MSF sebagai berikut [10]:

(3)

MSF = (𝑀7,5𝑊)−3,3 (13) Dengan Mw adalah magnitude gempa.

Nilai CRR dihitung dengan persamaan berikut [11]: CRR = 0,058 exp[0,02qc1N] (14) dengan,

qc1N = normalisasi tahanan CPT (kPa) dimana, 𝑞c1N = CQ ( 𝑞c 𝑃a) (15) dimana, CQ = ( 𝑃a 𝜎′) n (16) dengan,

CQ = faktor normalisasi tahanan CPT (kPa)

qc = tekanan konus (kPa)

Pa = 100 kPa (1 atm untuk tekanan yang sama yang digunakan oleh 𝜎’)

σ’ = tegangan vertikal efektif (kPa)

n = nilai eksponen untuk berbagai macam tipe tanah, untuk clean sand 0,5, silty sand 0,5 – 1, dan clay 1

Pada analisis soil liquefaction akibat gempa, safety factor dapat ditentukan setelah didapatkan nilai CSR dan CRR. NCEER (1996) mendefinisikan faktor keamanan terhadap bahaya likuifaksi dapat dinyatakan sebagai berikut [12]:

SF = 𝐶𝑅𝑅𝐶𝑆𝑅 , SF ≤ 1 (17) Jika SF (Safety Factor) lebih kecil atau sama dengan satu (SF ≤ 1) maka terjadi soil liquefaction dan jika SF lebih besar satu (SF > 1) maka tidak terjadi soil

liquefaction [13].

Dalam lingkup matematika, risiko dapat dihitung dengan menggunakan rumus [14]:

Risiko = Frekuensi x Konsekuensi (18) dengan,

Risiko = Kemungkinan bahaya yang dapat terjadi akibat sebuah peristiwa yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.

Frekuensi = Kemungkinan terjadinya peristiwa per satuan waktu, biasanya dalam satu tahun.

Konsekuensi = Seberapa besar tingkat kerusakan yang diakibatkan karena adanya bahaya.

Frekuensi kejadian dilakukan dengan menggunakan metode probabilitas likuifaksi, yaitu dengan cara mengaplikasikan nilai SF (Safety Factor) pada persamaan PL (The Probability of Liquefaction) [15]:

PL =

1

1+ (𝑆𝐹/0.96)4.5 (19) dengan,

SF = Safety Factor

Chen dan Juang (2000) memberikan klasifikasi kemungkinan likuifaksi yang dapat diaplikasikan dengan menggunakan nilai PL (The Probability of Liquefaction) yang dapat dilihat pada Tabel 1 [15]:

Tabel 1. Klasifikasi probabilitas likuifaksi [15] Probabilitas Deskripsi (kemungkinan likuifaksi)

0.85 ≤ PL < 1.00 Hampir pasti likuifaksi 0.65 ≤ PL < 0.85 Sangat mungkin 0.35 ≤ PL < 0.65 Mungkin 0.15 ≤ PL < 0.35 Tidak mungkin

0.00 ≤ PL < 0.15 Hampir pasti tidak likuifaksi

Konsekuensi yang mungkin terjadi bila terjadi soil

liquefaction yg disebabkan oleh gempa adalah terjadinya

kerusakan pada pondasi tanah. Persamaan yang dapat digunakan untuk mengestimasi hal tersebut adalah dengan menggunakan persamaan LPI (Liquefaction Potential

Index), yaitu suatu indeks yang digunakan untuk

mengestimasi potensi likuifaksi yang dapat menyebabkan kerusakan pondasi tanah. LPI (Liquefaction Potential

Index) diusulkan pertama kali oleh Iwasaki et al. (1982)

dan divariasi oleh Sonmez (2003) yang dirumuskan pada persamaan berikut [16]:

LPI = 𝐹 𝑖 . 𝑊 𝑖 . 𝐻𝑖𝑖=1𝑛 (20) dengan,

F(i) = SF (Safety Factor), yaitu F(i) = 1 – SF untuk SF < 1, F(i) = 0 untuk SF ≥ 1

W(i) = fungsi bobot berdasarkan kedalaman, yaitu W(i) = 10 – 0.5zi untuk 0 ≤ zi ≤ 20 m, W(i) = 0 untuk zi ≥ 20 m

zi = kedalaman titik tengah pada lapisan tanah (m) Hi = selisih ketebalan antar lapisan tanah yg

terlikuifaksi (m) n = kedalaman tanah

Untuk mengaplikasikan nilai LPI, Iwasaki (1982) mengusulkan klasifikasi risiko kerusakan dan potensi mengalami likuifaksi yang divariasi oleh Sonmez (2003) yang dapat dilihat pada Tabel 2 [16]:

Tabel 2. Klasifikasi potensi likuifaksi [16]

LPI Kategori potensi likuifaksi

0 Tidak likuifaksi

0 < LPI ≤ 2 Rendah

2 < LPI ≤ 5 Menengah 5 < LPI ≤ 15 Tinggi

15 > LPI Sangat tinggi

Untuk melakukan evaluasi risiko, diperlukan matriks risiko untuk mengkorelasikan frekuensi kejadian dan konsekuensi kejadian yang dapat dilihat pada Gambar 5:

Gambar 5. Matriks Risiko

III.HASILDANPEMBAHASAN

A. Analisis Soil Liquefaction Berdasarkan Probabilitas Magnitude Gempa dan Probabilitas Percepatan Gempa

(4)

4 Berikut adalah data percepatan gempa (αmax) dari peta

zona seismik yang dikeluarkan oleh PU (Kementerian Pekerjaan Umum) 2010 yang ditunjukkan pada Gambar 7:

Gambar 7. Peta zona seismik PU (Kementerian Pekerjaan

Umum) 2010 [17]

Pada Gambar 7 menunjukkan bahwa data percepatan gempa (αmax) tersebut untuk probabilitas terlampaui sebesar 2% dalam 50 tahun, yang artinya persentase tersebut cukup besar untuk probabilitas dalam 50 tahun ke depan. Percepatan gempa (αmax) di wilayah Pacitan dan sekitarnya adalah sebesar 0,3g.

Dari data percepatan gempa yang didapatkan dari peta zona seismik dari PU yaitu sebesar 0,3g dan probabilitas gempa yang didapatkan dari simulasi monte carlo, dari 1000 kejadian gempa diambil nilai magnitude gempa yang maksimum yaitu sebesar 0,65, maka selanjutnya dilakukan analisis soil liquefaction pada semua titik lokasi studi yang dapat dilihat pada Gambar 8 dan Gambar 9:

Gambar 8. Grafik SF yang terjadi soil liquefaction pada

titik S-11, S-12, S-13, S-17, S-19, S-20, S-21, dan S-22

Gambar 9. Grafik SF yang terjadi soil liquefaction pada

titik S-23, S-24, S-25, S-26, S-27, S-28, S-29, S-30, S-31, S-32, S-34, S-35, S-36, S-37, S-39, dan S-40

(5)

C. Peta Lokasi yang Berpotensi Terjadi Soil Liquefaction

Berikut adalah gambar pemetaan lokasi yang berpotensi terjadi soil liquefaction yang dapat dilihat pada Gambar 9:

Gambar 9. Peta Lokasi yang Berpotensi Terjadi Soil Liquefaction

Pada Gambar 9 menunjukkan bahwa lokasi yang berwarna merah adalah lokasi yang berpotensi terjadi soil liquefaction yaitu pada magnitude gempa 6,5 SR dengan percepatan gempa 0,3g. Dengan demikian, setelah dilakukan pemetaan tersebut dapat dijadikan antisipasi terhadap bahaya yang akan timbul jika terjadi soil

liquefaction pada lokasi yang ditinjau. D. Perkiraan Frekuensi

Hasil perhitungan PL (The Probability of Liquefaction) dan klasifikasi probabilitas likuifaksi dapat dilihat pada Tabel 3:

Tabel 3. Perhitungan PL (The Probability of

Liquefaction) dan klasifikasi probabilitas likuifaksi di

wilayah pesisir kota Pacitan

E. Perkiraan Konsekuensi

Hasil perhitungan nilai LPI (Liquefaction Potential

Index) dan klasifikasi risiko kerusakan tanah dapat dilihat

pada Tabel 4:

Tabel 4. Perhitungan LPI (Liquefaction Potential Index) dan klasifikasi risiko kerusakan di wilayah

pesisir kota Pacitan

F. Evaluasi Risiko

Setelah didapatkan nilai frekuensi kejadian dan konsekuensi kejadian, maka selanjutnya dapat dilakukan evaluasi risiko dengan menggunakan matriks risiko seperti pada Gambar 5. Hasil klasifikasi risiko dapat dilihat pada Tabel 5:

Tabel 5. Klasifikasi risiko kerentanan tanah akibat soil liquefaction karena gempa bumi di wilayah pesisir kota

Pacitan

G. Pemetaan Risiko (Risk Mapping)

Setelah dilakukan klasifikasi tingkat risiko, selanjutnya dapat dibuat pemetaan risiko (risk mapping) dengan

(6)

6 mana yang memiliki tingkat risiko yang paling tinggi

sampai tingkat risiko yang paling rendah dengan menambahkan data penelitian Ariantini (2011). Hasil pemetaan risiko (risk mapping) di wilayah pesisir kota Pacitan dapat dilihat pada Gambar 11:

Gambar 11 Peta Risiko wilayah pesisir kota Pacitan

IV.KESIMPULANDANSARAN

A. Kesimpulan

Setelah dilakukan analisis dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Lokasi yang memungkinkan terjadi fenomena soil

liquefaction di wilayah pesisir kota Pacitan yaitu di

daerah sisi barat daya Bagak, daerah sisi tenggara Bagak, daerah Sidorejo, daerah sisi barat laut Sidorejo, daerah sisi barat Kali Muso, daerah sisi timur Kali Muso, daerah sisi barat daya Kali Teleng, daerah Sidoharjo, daerah sisi barat laut Pleren, daerah Ngampel, daerah sisi utara Kali Muso, daerah Selare, daerah sisi timur Sidosari, daerah Plosomakmur, daerah sisi barat Plosorejo, daerah sisi timur Plosorejo, daerah sisi barat laut Selare, daerah Kradenan, daerah sisi timur Sidorukun, daerah sisi timur Baleharjo, daerah Sundeng, daerah Betulo, daerah Purwoharjo, dan daerah sisi timur laut Kuwarasan.

2. Tingkat risiko yang dihadapi akibat terjadinya soil

liquefaction karena gempa bumi di wilayah pesisir kota

Pacitan yaitu daerah dengan kategori risiko “Sangat Tinggi” terjadi di daerah sisi barat Kali Muso, daerah sisi barat daya Kali Teleng, daerah Sidoharjo, daerah sisi barat laut Pleren, daerah Ngampel, daerah Selare, daerah Plosomakmur, daerah sisi barat Plosorejo, daerah sisi barat laut Selare, dan daerah Sundeng. Untuk daerah dengan kategori risiko “Tinggi” terjadi di daerah sisi barat daya Bagak, daerah sisi utara Kali Muso, daerah sisi timur Sidosari, daerah sisi timur Plosorejo, daerah sisi timur Baleharjo, daerah Betulo, daerah Purwoharjo, dan daerah sisi timur laut Kuwarasan. Untuk daerah dengan kategori risiko “Sedang” hanya terjadi di daerah sisi timur Kali Muso dan daerah Kradenan. Untuk daerah dengan kategori risiko “Rendah” terjadi di daerah sisi tenggara Bagak, daerah Sidorejo, daerah sisi barat laut Sidorejo, dan daerah sisi timur Sidorukun. Sedangkan daerah dengan kategori risiko “Sangat Rendah” terjadi di daerah sisi timur Ploso, daerah ploso, daerah sisi barat daya

Sidoharjo, daerah sisi timur Pleren, daerah selatan Sidomakmur, dan daerah utara Sidorukun.

B. Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah dapat dilakukan penelitian tentang mitigasi atau penanggulangan bencana penyebab terjadinya fenomena soil liquefaction karena gempa bumi di wilayah pesisir kota Pacitan.

UCAPANTERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Palmadi, E., 2011, Potensi Bencana Geologi di Provinsi

Banten,

http://pertambangan- geologi.blogspot.com/2011/04/potensi-bencana-geologi-di-provinsi.html, diakses pada tanggal 4 September 2013. [2] The Japanese Geotechnical Society, 1988, Remedial Measures

Againts Soil Liquefaction, A. A. Balkema, Rotterdam, Netherlands.

[3] Google Satellite, 2013, Pesisir Pacitan, diakses pada tanggal 4 September 2013.

[4] Watkins, A., 2000, Environmental Geology, http://geology.isu.edu/wapi/envgeo/EG5_earthqks/eg_mod5.ht m, diakses pada tanggal 4 September 2013.

[5] Oka, F, 1995, Soil Mechanics Lecture, Morikita Publishing Company, Tokyo, Japan (in Japanese).

[6] Seed, H. B., and Idriss, I. M., 1971, “Simplified Procedure for Evaluating Soil Liquefaction Potential”, Journal of Soil Mechanics and Foundation Division, ASCE, Vol. 97, No. SM9, hal. 1249-1273.

[7] Das, B. M., Endah, N., dan Mochtar, I. B., 1998, Mekanika Tanah, Jilid 1, Fakultas Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

[8] Boore, D. M. and Joyner, W. B., 1981, “Peak Horizontal Acceleration And Velocity From Strongmotion Records Including Records From The 1979 Imperial Valley, California, Earthquake”, Bulletin of the Seismological Society of America, Vol. 71, No. 6, pp. 2011-2038.

[9] Seed, H. B, and Idriss, I. M., 1982, “Ground Motions and Soil Liquefaction During Earthquakes”, Earthquake Engineering Research Institute Monograph, Oakland, Calif.

[10] Crespellani, T., et al., 2003, “CPT-based liquefaction hazard maps for an Italian coastal area”, Dipartimento di Ingegneria Civile, Universita di Firenze, Firenze, Italy.

[11] Chih-Sheng Ku et al., 2004, “Evaluation of soil liquefaction in the Chi-Chi, Taiwan Earthquake using CPT”, Soil and Dynamics and Earthquake Engineering, 24 (2004) 659-673. [12] National Center for Earthquake Engineering Research, 1996,

Liquefaction Potential And Post-Liquefaction Settlement of Saturated Clean Sands and Effect of Geofiber Reinforcement, University of Alaska Fairbanks, Alaska.

[13] Jha, S. K., and Kiichi Suzuki., 2008, “Reability Analysis of Soil Liquefaction Based on Standard Penetration Test”, Computer and Geotechnics, 36 (2009), 589-596.

[14] American Bureau of Shipping, 2003, Risk Evaluations For the Classification of Marine-Related Facilities, Houston, USA. [15] Hannich, D., et al., 2007, “Liquefaction Probability In

Bucharest And Influencing Factors”, International Symposium on Strong Vrancea Earthquakes and Risk Mitigation, Bucharest, Romania.

[16] Sonmez, H., et al., 2008, “Liquefaction severity map for Aksaray city center (Central Anatolia, Turkey)”, Department of Geological Engineering, Applied Geology Division, Aksaray University, Aksaray, Turkey.

[17] Rovicky, 2010, Peta Zonasi Gempa 2010, http://rovicky.wordpress.com/2010/07/19/peta-zonasi-gempa-2010/, diakses pada tanggal 4 September 2013.

Gambar

Gambar 1. Tektonik Indonesia, Pertemuan Lempeng  Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia di Indonesia  [1]
Gambar 3. Kondisi tanah sebelum dan setelah terjadi  gempa  [4]
Tabel 1. Klasifikasi probabilitas likuifaksi  [15]
Gambar 7. Peta zona seismik PU (Kementerian Pekerjaan  Umum) 2010  [17]
+3

Referensi

Dokumen terkait

3 menafsirkan dan mengungkapkan sebuah makna yang tersembunyi dari sebuah tindakan sosial mereka dalam menerima peraturan tentang customer service pada

(i) Seluruh aktiva tetap, kecuali aktiva tetap milik CPI dan CPJF yang dijaminkan dengan nilai buku sebesar Rp399,5 miliar dari jumlah aktiva tetap sebesar Rp820,8 miliar,

Aktifitas yang diimplementasikan pada sistem SIDASI 4.0 adalah rincian tentang dokumentasi elektronik yang terdiri dari: 1) tata pamong; tata kelola dan kerjasama; 2) Mahasiswa; 3)

Ketertiban Umum merupakan manifestasi dari Hak Asasi Manusia dalam tertib kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang Dasar

¾ Voice command, yaitu suatu pengenalan input dalam bentuk suara yang memungkinkan komputer untuk dijalankan dengan perintah suara sehingga tidak memerlukan lagi input dari

Gaya autoritarian merupakan satu keadaan di mana ibu bapa mengawal anak-anak mereka terlalu ketat dan memaksa mereka akur kepada apa yang diarahkan dan tidak

Manajemen Instalasi rawat inap dan unit pelayanan lain yang terlibat dalam penggunaan asesmen pasien merupakan penyelenggaraan pengurusan bahan habis pakai