BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 1.1 Latar belakang Di setiap NegaraDi setiap Negara tidak dapat lepas dartidak dapat lepas dari tindakan-tindakan melanggar hukum i tindakan-tindakan melanggar hukum baik secarabaik secara pidan
pidana a maupun perdata. Namun maupun perdata. Namun yang menjadi keresahan masyarakayang menjadi keresahan masyarakat t adalah maraknyadalah maraknya a tindatindakankan pidana.Tindakan yang dapat mengganggu kepentingan orang lain ini dapat terjadi kapan saja dan pidana.Tindakan yang dapat mengganggu kepentingan orang lain ini dapat terjadi kapan saja dan
dim
dimana saja. Bahkaana saja. Bahkan n tintindakdakan an ini dapat ini dapat menmenghighilanlangkagkan n nyanyawa orang lain dan wa orang lain dan menmengangancamcam stabilitas Negara.
stabilitas Negara.
Beberapa tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan maraknya kasus bom yang terjadi Beberapa tahun terakhir, Indonesia dikejutkan dengan maraknya kasus bom yang terjadi di restoran, hotel, bahkan kedutaan besar pun tak luput dari serangan bom. Hal ini dikategorikan di restoran, hotel, bahkan kedutaan besar pun tak luput dari serangan bom. Hal ini dikategorikan sebagai kasus pidana terorisme dan mulai menjadi trademark bagi Indonesia sebagai Negara sebagai kasus pidana terorisme dan mulai menjadi trademark bagi Indonesia sebagai Negara teroris. Dengan dalih menjalankan syariat Islam, terror demi terror dilakukan.
teroris. Dengan dalih menjalankan syariat Islam, terror demi terror dilakukan.
Tragedi bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di kecamatan Kuta, Bali. Telah Tragedi bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 di kecamatan Kuta, Bali. Telah menewaskan 220 orang dan mencederakan 209 orang lainnya yang kebanyakan merupakan menewaskan 220 orang dan mencederakan 209 orang lainnya yang kebanyakan merupakan orang asing. Peristiwa i
orang asing. Peristiwa ini dianggap sebagai ni dianggap sebagai kasus pidana terorisme terbesar kasus pidana terorisme terbesar yang pernah terjadiyang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa warganegara asing yang tengah berlibur di Bali menjadi korban dari aksi di Indonesia. Beberapa warganegara asing yang tengah berlibur di Bali menjadi korban dari aksi ini, antara lain Australia,Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda, Perancis, ini, antara lain Australia,Britania Raya, Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belanda, Perancis, Denmark, Selandia Baru,Swiss, Brasil, Kanada, serta beberapa Negara lainnya.
Denmark, Selandia Baru,Swiss, Brasil, Kanada, serta beberapa Negara lainnya.
Tindakan cepat segera diambil oleh kepolisian guna mengungkap sindikat yang ada di Tindakan cepat segera diambil oleh kepolisian guna mengungkap sindikat yang ada di balik tragedi berdarah ini. Ditetapkan 3 pelaku utama, yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Ali balik tragedi berdarah ini. Ditetapkan 3 pelaku utama, yakni Imam Samudra, Amrozi, dan Ali
Gufron diikuti oleh anak buah mereka. Gufron diikuti oleh anak buah mereka.
Deng
Dengan an adaadanya nya kejkejadiadian an iniini, , IndIndonesonesia ia dirdirunduundung ng masmasalaalah h yanyang g berberat at terterkaikait t dendengangan masalah keamanan. Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara- negara lainnya masalah keamanan. Sebagai dampaknya kecaman terus berdatangan dari negara- negara lainnya dengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya untuk datang ke dengan mengeluarkan travel warning dan secara tegas melarang warganya untuk datang ke Indonesia.
Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dianalisa mengenai Tragedi Bom Bali secara Oleh sebab itu, dalam makalah ini akan dianalisa mengenai Tragedi Bom Bali secara men
menyelyeluruuruh, h, dengdengan an menmenitiitikberkberatkatkan an pada pada pelpelaku aku bom bom BalBali i yakyakni ni TriTrio o Bom Bom BalBali, i, dengdenganan keputusan-keputusan akhir yang membawa mereka pada hukuman mati. Namun setelah divonis keputusan-keputusan akhir yang membawa mereka pada hukuman mati. Namun setelah divonis hukuma
hukuman mati masih terdapan mati masih terdapat permintt permintaan terdakwa triaan terdakwa trio bom Bali untuk o bom Bali untuk peninjpeninjauan kembalauan kembalii terhadap eksekusi hukuman mati yang akan dijalankan terpidana.
terhadap eksekusi hukuman mati yang akan dijalankan terpidana.
1.2 Rumusan Masalah 1.2 Rumusan Masalah
Mengapa MK menerima PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan tim kuasa hukum Trio Mengapa MK menerima PK (Peninjauan Kembali) yang diajukan tim kuasa hukum Trio Bom Bali
Bom Bali sehisehingga berpengarungga berpengaruh h pada jangka waktu pada jangka waktu eksekuseksekusi mati i mati yang harus dilaksanayang harus dilaksanakan dankan dan bagaimana pula keputusan akhirnya?
bagaimana pula keputusan akhirnya?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3 Tujuan Penelitian
Seperti yang telah dibahas pada latar belakang , bahwa tindakan pemboman yang terjadi Seperti yang telah dibahas pada latar belakang , bahwa tindakan pemboman yang terjadi di
di InIndondonesesia ia khukhusususnsnya ya di di BaBali li papada da tatangnggal gal 12 12 OkOktotobeber r 2002002 2 yayang ng tetelalah h memenenewaswaskankan masyarakat pribumi maupun wisatawan asing merupakan salah satu tindakan pidana , yang para masyarakat pribumi maupun wisatawan asing merupakan salah satu tindakan pidana , yang para ter
terpidpidana ana terterdirdiri i dardari i : : ImaImam m SamSamudeudera ra , , AmrAmrozi , ozi , dan dan Ali GufroAli Gufron n yanyang g teltelah ah dijdijatuatuhkanhkan hukuman mati. Kemudian timbul fenomena baru mengenai PK (Peninjauan Kembali ) yang hukuman mati. Kemudian timbul fenomena baru mengenai PK (Peninjauan Kembali ) yang diajukan tim kuasa hukum terpidana Trio Bom Bali karena dianggap eksekusi mati yang berlaku diajukan tim kuasa hukum terpidana Trio Bom Bali karena dianggap eksekusi mati yang berlaku di Indonesia bertentangan dengan UU pasal 28 I ayat 1 UUD 1945.
di Indonesia bertentangan dengan UU pasal 28 I ayat 1 UUD 1945. Adapun tujuan dari kami dalam memilih topik ini , karena : Adapun tujuan dari kami dalam memilih topik ini , karena :
-- Untuk meninjau lebih lanjut apa alasan MK menerima peninjauan kembali (PK) yangUntuk meninjau lebih lanjut apa alasan MK menerima peninjauan kembali (PK) yang diajukan oleh tim kuasa hukum trio Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu diajukan oleh tim kuasa hukum trio Bom Bali sehingga berpengaruh pada jangka waktu eksekusi yang harus dilaksanakan?
eksekusi yang harus dilaksanakan?
-- Untuk mengetahui keputusan akhir dari MK mengenai PK yang diajukan oleh tim kuasaUntuk mengetahui keputusan akhir dari MK mengenai PK yang diajukan oleh tim kuasa trio Bom Bali.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Akademik 1.4.1 Akademik
Untuk memperkaya pengetahuan mengenai kasus hukum dalam hal ini mengenai Untuk memperkaya pengetahuan mengenai kasus hukum dalam hal ini mengenai kasus pidana Bom
kasus pidana Bom Bali I Bali I dimandimana a menitmenitikberaikberatkan pada tkan pada peninjpeninjauan kembali (PK)auan kembali (PK) oleh MK mengenai tata cara eksekusi mati terpidana.
oleh MK mengenai tata cara eksekusi mati terpidana. 1.4.2 Praktis
1.4.2 Praktis
Untuk memberitahukan kepada masyarakat mengenai prosesi peninjauan kembali Untuk memberitahukan kepada masyarakat mengenai prosesi peninjauan kembali oleh MK mengenai tata cara eksekusi terpidana mati.
oleh MK mengenai tata cara eksekusi terpidana mati.
1.5 Sistematika Penulisan 1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab pendahuluan ini, tim penulis akan membahas latar belakang Dalam bab pendahuluan ini, tim penulis akan membahas latar belakang dar
dari i kakasusus s pipidadana na BoBom m BaBali li I I dendengagan n susududut t panpandadang ng “P“Penieninjnjauaauan n KemKembabalili Mahkamah Konstitusi terhadap Eksekusi Mati Bom Bali I ”. Selain itu dijelaskan Mahkamah Konstitusi terhadap Eksekusi Mati Bom Bali I ”. Selain itu dijelaskan pul
pula a alaalasan san dardari i titim m penpenuliulis s memmemiliilih h toptopik ik ini ini dan dan manmanfaafaat t serserta ta sissistemtematiatikaka penulisan dari makalah ini,
penulisan dari makalah ini, BAB II KERANGKA TEORITIS BAB II KERANGKA TEORITIS
Dalam Bab II ini akan dijabarkan teori hukum pidana beserta UU yang Dalam Bab II ini akan dijabarkan teori hukum pidana beserta UU yang berkaitan dengan kasus pidana Bom Bali ini dengan teori-teori terkait lainnya. berkaitan dengan kasus pidana Bom Bali ini dengan teori-teori terkait lainnya. BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam Bab III ini
Dalam Bab III ini akan dianalisakan dianalisa a dan dibahas secara mendalam mengenadan dibahas secara mendalam mengenaii hal-hal berkaitan yang dapat menjawab daripada rumusan masalah yang telah hal-hal berkaitan yang dapat menjawab daripada rumusan masalah yang telah dib
dibententuk uk oleoleh h tim tim penupenulis lis berberdasdasarkarkan an teoteori ri hukuhukum m pidpidana ana dan dan teoteori ri terterkaikaitt lainnya.
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
Pada Bab ke- IV ini akan diulas kesimpulan dan saran di mana diharapkan Pada Bab ke- IV ini akan diulas kesimpulan dan saran di mana diharapkan dapat memberikan informasi dan manfaat bagi
dapat memberikan informasi dan manfaat bagi masyarakat.masyarakat. DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
BAB II
BAB II
KERANGKA TEORITIS
KERANGKA TEORITIS
2.
2.11 HUHUKUKUM PIM PIDADANANA
2.1.1 Pengertian Hukum Pidana 2.1.1 Pengertian Hukum Pidana
Huku
Hukum m pidpidana adalah hukum ana adalah hukum yanyang g menmengatgatur ur tententantang g pelpelangganggaraaran-pen-pelanlanggaggaran ran dandan kejaha
kejahatan-kejtan-kejahatan ahatan terhadterhadapap kepentingkepentingan an umumumum, per, perbuabuatan tan manmana a diadiancam ncam dengdenganan hukuman yang
hukuman yang merupamerupakan kan suatusuatu penderitaanpenderitaan atauatau siksaan (siksaan (keistimewaan dan unsur keistimewaan dan unsur yang terpenting dalam hukum pidana).
yang terpenting dalam hukum pidana).
Adapun yang termasuk dalam pengertian kepentingan umum ialah : Adapun yang termasuk dalam pengertian kepentingan umum ialah : 1.
1. BaBadadan n dadan n peperaratuturaran n peperurundndanangagan n NeNegagarara, , sesepepertrti i NeNegagarara, , lelembmbagaga-a-lelembmbagagaa Negara,pejabat Negara, pegawai negeri, UU peraturan pemerintah dan sebagainya. Negara,pejabat Negara, pegawai negeri, UU peraturan pemerintah dan sebagainya. 2.
2. Kepentingan hukum tiap manusia yaitu : jiwa, raga/tubuh, kemerdekaan, kehormatanKepentingan hukum tiap manusia yaitu : jiwa, raga/tubuh, kemerdekaan, kehormatan dan hak milik/harta benda.
dan hak milik/harta benda.
Perbedaan antara pelanggaran dan kejahatan : Perbedaan antara pelanggaran dan kejahatan :
--
Pelanggaran adalah mengenai hal-hal kecil atau ringan yang diancam hukumanPelanggaran adalah mengenai hal-hal kecil atau ringan yang diancam hukumandenda denda
--
Kejahatan ialah mengenai soal-soal yang besar Kejahatan ialah mengenai soal-soal yang besarMenurut KUHP pasal 10 hukuman atau pidana terdiri atas : Menurut KUHP pasal 10 hukuman atau pidana terdiri atas :
1.
1. PiPidadana na pokpokok ok (u(utatamama) :) : aa.. PPiiddaanna a mmaattii b
b.. PPiiddaanna a ppeennjjaarraa
Pidana seumur hidupPidana seumur hidup
Pidana penjara selama waktu tertentu(setinggi-tingginya 20Pidana penjara selama waktu tertentu(setinggi-tingginya 20 tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun )
tahun dan sekurang-kurangnya 1 tahun ) c.
c. PiPidadana na kurkurunungan gan sesekukurarangng-k-kururangangnynya a 1 1 hahari ri dadan n sesetitingnggigi-t-tininggggininyaya 1 tahun.
1 tahun. d
d.. PPiiddaanna a ddeennddaa ee.. PPiiddaanna a ttuuttuuppaann 2.
2. PiPidadana na tatambmbahahanan a.
a. PePencncabuabutatan hakn hak-h-hak tak terertetentntuu b.
b. PeramPerampasan pasan (peny(penyitaan itaan barang-barang-barang barang terttertentu)entu) c.
c. PePengungumumumaman kepn kepututususan haan hakikim.m.
2.1.2
2.1.2 Pembagian Pembagian Hukum Hukum PidanaPidana
Hukum pidana dapat dibagi sebagai berikut : Hukum pidana dapat dibagi sebagai berikut : 1.
1. Hukum PiHukum Pidana Obyedana Obyektif (Juktif (Jus Punale ), yas Punale ), yang dapat dibang dapat dibagi ke dalam :gi ke dalam : a.
a. HuHukukum Pm Piidadana na MaMattereriialal
Adalah peraturan-peraturan yang menegaskan : Adalah peraturan-peraturan yang menegaskan : Perbuatan-perbuatan apa yang dapat dihukum
Perbuatan-perbuatan apa yang dapat dihukum Siapa yang dapat dihukum
Dengan hukuman apa menghukum seseorang. Dengan hukuman apa menghukum seseorang.
Hukum Pidana Material membedakan adanya : Hukum Pidana Material membedakan adanya :
(a
(a)) HuHukukum m PiPidadana na UmUmumum (b
(b)) HuHukukum Pim Pidadana Kna Khuhusususs b
b.. HuHukukum Pm Pididanana Fa Forormamal ( Hl ( Hukukum um AcAcarara Pa Pididanana)a)
Adalah hukum yang mengatur cara-cara menghukum seseorang yang melanggar Adalah hukum yang mengatur cara-cara menghukum seseorang yang melanggar peraturan pidana merupakan pelaksanaan dari Hukum Pidana Material.
peraturan pidana merupakan pelaksanaan dari Hukum Pidana Material. 2.
2. Hukum pHukum pidana idana subyeksubyektif (tif (Jus PJus Punienduniendi)i)
Adalah hak Negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan Hukum Pidana Obyektif Adalah hak Negara atau alat-alat untuk menghukum berdasarkan Hukum Pidana Obyektif 3
3.. HHuukkuum m ppiiddaanna a uummuumm
Adalah Hukum Pidana
Adalah Hukum Pidana yang berlaku terhadap syang berlaku terhadap setiap penduduk(berlaku terhadap siapaetiap penduduk(berlaku terhadap siapa pun juga di seluruh Indonesia) kecuali anggota ketentaraan.
pun juga di seluruh Indonesia) kecuali anggota ketentaraan. 4
4.. HHuukkuum m ppiiddaanna a kkhhuussuuss,,
Adalah Hukum Pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Adalah Hukum Pidana yang berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Hukum Pidana dibagi ke dalam :
Hukum Pidana dibagi ke dalam : aa.. HHuukkuum m ppiiddaanna a mmiilliitteer r
b
b.. HuHukukum m pipidadana na papajajak (k (fifiscscalal))
2.2
Setelah reformasi, Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki satu lembaga Setelah reformasi, Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki satu lembaga tin
tinggi ggi NegNegaraara, , yaiyaitu tu MahMahkamkamah ah KonsKonstititustusi, i, tettetapi api disdisisi isi lailain n menmenghaghapuspuskan kan DewDewanan pertimbangan Agung yang dianggap tidak efektif.
pertimbangan Agung yang dianggap tidak efektif. Mahk
Mahkamaamah h KonKonstistitustusi i mermerupakupakan an salsalah ah satsatu u lemlembaga baga pempemeganegang g kekkekuasuasaanaan ke
kehakhakimiman an didisasampmpining g MaMahkhkamamah ah AguAgung ng bebesesertrta a babadadan n peperaradidilalan n yayang ng beberarada da didi bawahn
bawahnya ya dalam lingkungan peradilan umum, dalam lingkungan peradilan umum, lingklingkungan ungan peradiperadilan lan agama, lingkunganagama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan Tata Usaha Negara.
peradilan militer, lingkungan peradilan Tata Usaha Negara.
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yan
yang g putputusausannynnya a berbersifsifat at fifinal nal untuntuk uk menmengujguji i undundang-ang-undaundang ng terterhadahadap p konkonstistitustusi,i, memut
memutuskan uskan sengketsengketa a kewenankewenangan gan lembalembaga ga NegaraNegara, , yang yang kewenankewenangannya diberikangannya diberikan UUD, memutuskan pembubaran partai
UUD, memutuskan pembubaran partai politpolitik, ik, dan dan memutmemutuskan uskan perselperselisihaisihan n tentatentangng hasil pemilihan umum.
hasil pemilihan umum.
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan wakil presiden menurut UUD.
dugaan pelanggaran oleh presiden dan wakil presiden menurut UUD. Ma
Mahkahkamamah h KoKonsnstititutusi si memempmpununyayai i 9 9 ororang ang ananggggotota a hakhakim im konkonststititususi i yayangng ditet
ditetapkan apkan oleh presiden yang oleh presiden yang diajudiajukan kan masimasing-masng-masing 3 ing 3 orang yang orang yang masinmasing-masg-masinging diaju
diajukan Mahkamah Agung, 3 kan Mahkamah Agung, 3 orang diusulorang diusulkan oleh kan oleh Dewan PerwakiDewan Perwakilan Rakyat, 3 lan Rakyat, 3 orangorang diusulkan Presiden.
diusulkan Presiden.
2.3
2.3 PROSEDUR DAN PROSES PENYELESAIAN PERKARA PENINJAUAN KEMBALIPROSEDUR DAN PROSES PENYELESAIAN PERKARA PENINJAUAN KEMBALI (PK)
2.3.1 PROSEDUR 2.3.1 PROSEDUR
Langkah langkah yang harus dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (PK): Langkah langkah yang harus dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (PK):
1. Mengajukan permohonan PK kepada Mahkamah Agung secara tertulis atau lisan 1. Mengajukan permohonan PK kepada Mahkamah Agung secara tertulis atau lisan
melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah. melalui Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah.
2. Pengajuan PK dalam tenggang waktu 180 hari sesudah penetapan atau putusan 2. Pengajuan PK dalam tenggang waktu 180 hari sesudah penetapan atau putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak di ketemukan bukti adanya pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap atau sejak di ketemukan bukti adanya kebohongan atau bukti baru, dan bila alasan pemohon PK berdasarkan bukti baru kebohongan atau bukti baru, dan bila alasan pemohon PK berdasarkan bukti baru (Novum) maka bukti baru tersebut di nyatakan di bawah sumpah dan di sahkan oleh (Novum) maka bukti baru tersebut di nyatakan di bawah sumpah dan di sahkan oleh pejabat yang berwenang (Pasal 69 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah pejabat yang berwenang (Pasal 69 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah
dengan UU No. 5 tahun 2004). dengan UU No. 5 tahun 2004).
3. Membayar biaya perkara PK (Pasal 70 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah 3. Membayar biaya perkara PK (Pasal 70 UU No. 14 tahun 1985, yang telah di ubah
dengan UU No. 45 tahun 2004, pasal 89 dan 90 UU No. 7 tahun 1989). dengan UU No. 45 tahun 2004, pasal 89 dan 90 UU No. 7 tahun 1989).
4. Panitera Pengadilan tinggi tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan 4. Panitera Pengadilan tinggi tingkat pertama memberitahukan dan menyampaikan salinan memori PK kepada pihak lawan dalam tenggang waktu selambat-lambatnya salinan memori PK kepada pihak lawan dalam tenggang waktu selambat-lambatnya 14 (Empat Belas) hari.
14 (Empat Belas) hari. 5.
5. PiPihak hak lalawan wan beberhrhak ak memengngajajukukan an susurarat t jajawabwaban an teterhrhadadap ap mememomori ri PK PK daldalamam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari setelah tanggal di terima salinan permohonan tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari setelah tanggal di terima salinan permohonan PK.
PK.
6. Panitera Pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas PK ke Mahkamah Agung 6. Panitera Pengadilan tingkat pertama mengirimkan berkas PK ke Mahkamah Agung
selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari. selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (Tiga Puluh) hari.
7. Panitera Mahkamah Agung menyampaikan salinan putusan PK kepada pengadilan 7. Panitera Mahkamah Agung menyampaikan salinan putusan PK kepada pengadilan
Agama/Mahkamah Syar’iyah. Agama/Mahkamah Syar’iyah. 8.
8. PenPengadgadilailan n AgamAgama/Ma/Mahkaahkamah mah SySyar’ar’iyiyah ah menmenyamyampaipaikan kan salsalinainan n putputusausan n PK PK kepada para pihak selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari. kepada para pihak selambat-lambatnya dalam tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari. 9. Setelah putusan di sampaikan kepada para pihak maka panitera :
9. Setelah putusan di sampaikan kepada para pihak maka panitera : a. Untuk perkara cerai talak :
a. Untuk perkara cerai talak : 1.
1. MemMemberberitaitahukahukan n tententantang g penpenetaetapan pan harhari i sidsidang ang penypenyaksaksian ian ikrikrar ar taltalak ak dengan memanggil Pemohon dan Termohon
dengan memanggil Pemohon dan Termohon
2. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam 2. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam
waktu 7 (Tujuh) hari waktu 7 (Tujuh) hari b. untuk perkara cerai gugat : b. untuk perkara cerai gugat :
1. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam 1. Memberikan akta cerai sebagai surat bukti cerai selambat-lambatnya dalam
waktu 7 (Tujuh) hari. waktu 7 (Tujuh) hari.
2.3.2
2.3.2 PROSES PROSES PENYELESAIAN PENYELESAIAN PERKARA :PERKARA :
1. Permohonan PK di teliti kelengkapan berkasnya oleh Mahkamah Agung, kemudian 1. Permohonan PK di teliti kelengkapan berkasnya oleh Mahkamah Agung, kemudian
dicatat dan di beri nomor
dicatat dan di beri nomor register PK.register PK.
2. Mahkamah Agung memberitahukan kepada Pemohon dan Termohon PK bahwa 2. Mahkamah Agung memberitahukan kepada Pemohon dan Termohon PK bahwa
perkaranya telah di registerasi. perkaranya telah di registerasi.
3. Ketua Mahkamah Agung menetapkan tim dan selanjutnya Ketua tim menetapkan 3. Ketua Mahkamah Agung menetapkan tim dan selanjutnya Ketua tim menetapkan
Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa perkara PK. Majelis Hakim Agung yang akan memeriksa perkara PK. 4.
4. MenMenyeryerahkahkan an berberkas kas perperkarkara a oleoleh h asiasistesten n koorkoordindinatoator r (As(Askorkor) ) kepkepada ada PenPenititeraera Pengganti yang membantu menangani perkara tersebut.
Pengganti yang membantu menangani perkara tersebut. 5.
5. PanPanititera era PenPenggagganti nti menmendisdistrtribuibusiksikan an berberkas kas perperkarkara a ke ke MajMajelielis s HakiHakim m AguAgungng masing-masing (Pembaca 1,2 dan 3) untuk di beri pendapat.
masing-masing (Pembaca 1,2 dan 3) untuk di beri pendapat. 6. Majelis Hakim Agung memutus perkara.
6. Majelis Hakim Agung memutus perkara. 7.
7. MahMahkamkamah ah AguAgung ng menmengirgirimkimkan an salsalinainan n putputusausan n kepkepada ada parpara a pihpihak ak melmelalualuii Pengadilan tingkat pertama yang menerima permohonan PK.
BAB III BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISA PEMBAHASAN DAN ANALISA
3.1 PEMBAHASAN 3.1 PEMBAHASAN
Tragedi Bom Bali terjadi tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian, Kuta, Bali Tragedi Bom Bali terjadi tanggal 12 Oktober 2002 di jalan Legian, Kuta, Bali telah menewas
telah menewaskan 202 kan 202 orang dan orang dan mencedmencederai 209 erai 209 jiwa lainnyjiwa lainnya a yang kebanyakayang kebanyakan n adalaadalahh turis asing yang tengah berlibur di Bali. Aksi ini dikecam oleh banyak pihak sebagai aksi turis asing yang tengah berlibur di Bali. Aksi ini dikecam oleh banyak pihak sebagai aksi teroris terparah dalam sejarah Indonesia.
teroris terparah dalam sejarah Indonesia.
Kewarganegaraan para korban antara lain adalah: Kewarganegaraan para korban antara lain adalah:
•
• AustraliaAustralia(88)(88) •
• IndonesiaIndonesia (38) kebanyakan(38) kebanyakan
Bali Bali
•
• Britania RayaBritania Raya(26)(26) •
• Amerika SerikatAmerika Serikat(7)(7) • • JermanJerman(6)(6) • • SwediaSwedia(5)(5) • • BelandaBelanda(4)(4) • • PerancisPerancis(4)(4) • • Denmark Denmark ( 3)( 3) •
• Selandia BaruSelandia Baru(3)(3) • • SwissSwiss(3)(3) • • BrasilBrasil (2)(2) • • KanadaKanada( 2)( 2) • • JepangJepang(2)(2) •
• Afrika SelatanAfrika Selatan (2(2 •
• Korea SelatanKorea Selatan(2)(2) • • Ekuador Ekuador (1)(1) • • YunaniYunani (1)(1) • • ItaliaItalia(1)(1) • • PolandiaPolandia(1)(1) • • PortugalPortugal (1)(1) • • TaiwanTaiwan (1)(1)
Ditetapkan 3 tersangka utama dalam kasus ini, yaitu Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Ditetapkan 3 tersangka utama dalam kasus ini, yaitu Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron beserta sekelompok anak buah yang mengatasnamakan Syariat Islam dalam aksi Gufron beserta sekelompok anak buah yang mengatasnamakan Syariat Islam dalam aksi Bom ini.
3.
3.11..11 AAmmrroozzi i bbiin n NNuurrhhaassyyiimm Amroz
Amrozi bin i bin NurhasNurhasyim ditangkyim ditangkap ap kepolikepolisian pada sian pada tanggatanggal l 7 November 2002 7 November 2002 karenakarena did
diduga uga terterliblibat at daldalam am mermerencaencanakanakan n aksaksi i pempembomboman an BalBali i dan dan berberperperan an sebsebagaagaii pengangkut bom. Sidang
pengangkut bom. Sidang perdana Amrozi perdana Amrozi berlangsung pada 12 Mei berlangsung pada 12 Mei 2003 di Gedung2003 di Gedung Nari Graha, Denpasar yang dipimpin oleh ketua majelis hakim PN Denpasar, I Made Nari Graha, Denpasar yang dipimpin oleh ketua majelis hakim PN Denpasar, I Made
Ka
Karnrna. a. JaJaksksa a pepenununtntut ut umumum um dadalalam m dadakwkwaaaan n didibabacacakakan n UrUrip ip TrTri i GuGunanawawann mendakwa Amrozi melanggar
mendakwa Amrozi melanggar pasal 14 jo pasal 6 pasal 14 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasalPerpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 Ta
Tahun hun 2002003 3 tetentantang ng PePembmberaerantantasan san TiTindandak k PiPidadana na TeTerorrorismismee. . IIa a jjuuggaa dipersalahkan
dipersalahkan melanggar pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHPmelanggar pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP, karena dengan sengaja, karena dengan sengaja menggu
menggunakan nakan kekerakekerasan san atau atau ancamaancaman n kekerakekerasan san sehinsehingga gga menimmenimbulkan suasanabulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau menimbulkan korban secara teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas, atau menimbulkan korban secara massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain.
orang lain.
Dalam sidang yang dihadiri Menkeh dan HAM Yusril Ihza Menhendra ini, Amrozi Dalam sidang yang dihadiri Menkeh dan HAM Yusril Ihza Menhendra ini, Amrozi di
didamdampipingngi i enenam am pepenasnasihihat at hukhukumumnynya, a, yayaknkni i MaMahenhendrdradaadatata, , MaMade de RaRahmhmanan Marasabessi, Qadar Faisal, Ahmad Mihdan, Fahmi, dan Wirawan Adnan.
Marasabessi, Qadar Faisal, Ahmad Mihdan, Fahmi, dan Wirawan Adnan. Jaksa Urip Tri
Jaksa Urip Tri GunawaGunawan, n, dalam dakwaannydalam dakwaannya a merimerinci nci secarsecara a detaidetail l bagaimbagaimana ana peranperan Amrozi dalam kasus bom Bali. Pada Februari 2002, telah mengikuti pertemuan di Amrozi dalam kasus bom Bali. Pada Februari 2002, telah mengikuti pertemuan di Bangkok Thaila
Bangkok Thailand nd bersambersama a Ali Gufron, SulkifAli Gufron, Sulkifli, Marzuki, Wan li, Marzuki, Wan Min Muhamad, danMin Muhamad, dan Dr Ashari.
Dr Ashari.
Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang operasi pengeboman terhadap kepentingan Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang operasi pengeboman terhadap kepentingan Amerika Serikat. Ali Gufron alias Muklas dalam pertemuan itu bertindak sebagai Amerika Serikat. Ali Gufron alias Muklas dalam pertemuan itu bertindak sebagai orang yang dituakan. Sel
orang yang dituakan. Selanjutnya terdakwa Amrozi anjutnya terdakwa Amrozi ikut pertemuan ikut pertemuan di Surakarta.di Surakarta. Dalam dakwaannya, JPU juga menyebutkan bahwa Amrozi ikut pertemuan di Masjid Dalam dakwaannya, JPU juga menyebutkan bahwa Amrozi ikut pertemuan di Masjid Agung Surakarta, yang membahas rencana mengeboman Konsulat AS di Denpasar Agung Surakarta, yang membahas rencana mengeboman Konsulat AS di Denpasar
dan
dan pempembagibagian an tugtugas. as. AmrAmroziozi, , lanlanjut jut UriUrip p menmendapdapat at tugtugas as menmenyiayiapkapkan n bahabahann p
pelelededakak, , sesedadangngkakan n IdIdriris s memempmperersisiapapkakan n trtrananspsporortatasi si dadan n ImImam am SaSamumudrdraa menyiapkan dana dan menentukan sasaran.
menyiapkan dana dan menentukan sasaran.
Pada tanggal 7 Agustus 2003, hakim menyatakan Amrozi terbukti bersalah
Pada tanggal 7 Agustus 2003, hakim menyatakan Amrozi terbukti bersalah karenakarena turut
turut merenmerencanakan dan berperacanakan dan berperan sebagai pengangkun sebagai pengangkut bom dalam aksi bom Bali It bom dalam aksi bom Bali I dan ia dijatuhi hukuman mati.
dan ia dijatuhi hukuman mati. 3
3..11..2 2 IImmaam m SSaammuuddrra a aalliiaas s AAbbdduul l AAzziizz
Abdul Aziz alias Imam Samudra ditangkap pada tanggal 21 November 2002 ketika Abdul Aziz alias Imam Samudra ditangkap pada tanggal 21 November 2002 ketika hendak menyebrang ke Sumatera melalui kapal feri. Polisi meyakini Imam Samudra hendak menyebrang ke Sumatera melalui kapal feri. Polisi meyakini Imam Samudra berperan sebagai “komandan lapangan” bom Bali I. Dalam persidangan pada tanggal berperan sebagai “komandan lapangan” bom Bali I. Dalam persidangan pada tanggal
2
2 Juni 2003, Juni 2003, Imam Samudra juga Imam Samudra juga dijerdijerat at pasal berlapipasal berlapis. Pasal-pass. Pasal-pasal tersebut yaknial tersebut yakni primer
primer pasal 14 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahunpasal 14 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 yo 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 yo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Sedangkan dakwaan subsider, jaksa menggunakan yakni
Sedangkan dakwaan subsider, jaksa menggunakan yaknipasal 6 Perpu No 1 Tahunpasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002, jo 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002, jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Dakwaan lebih subsidair
Dakwaan lebih subsidair yakni pasal 15 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002, joyakni pasal 15 jo pasal 6 Perpu No 1 Tahun 2002, jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU pasal 1 UU No 15 Tahun 2003, jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003.
No 16 Tahun 2003. Sedangkan dakwaan lebih subsidair Sedangkan dakwaan lebih subsidair yakni pasal 9 Perpu No 1yakni pasal 9 Perpu No 1 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 20022 Tahun 2002 jo pasal 1 UU No 15 Tahun 2003 jo pasal 1 Perpu No 2 Tahun 20022 jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP
jo pasal 1 UU No 16 Tahun 2003 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancamandengan ancaman hukuman mati.
hukuman mati.
Selain itu, Imam Samudra juga dijerat
Selain itu, Imam Samudra juga dijerat pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 tahunpasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 tahun 1951 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan pasal 187 ke 1 dan 2 jo pasal 55 ayat (1) 1951 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan pasal 187 ke 1 dan 2 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 jo pasal 63 KUHP.
Pad
Pada a tantanggal ggal 10 10 SepSeptemtember ber 20032003, , ImaImam m SamSamudrudra a dindinyatyatakaakan n berbersalsalah ah menmengatgatur ur pemboman dan dijatuhi hukuman mati.
pemboman dan dijatuhi hukuman mati.
3.
3.11..33 AAlli Gi Guuffrroon an alliiaas Ms Mukukllaass
3 Desember 2002 Ali Gufron alias Muklas alias Huda bin Abdul Haq alias Sofwan
3 Desember 2002 Ali Gufron alias Muklas alias Huda bin Abdul Haq alias Sofwan
ditangkap di Klaten, Jawa Tengah.
ditangkap di Klaten, Jawa Tengah. Muklas mulai diperiksa tim penyidik di PoldaMuklas mulai diperiksa tim penyidik di Polda
Bal
Bali, i, berbersamsama-sa-sama ama AbdAbdul ul AziAzis s alialias as ImaImam m SamSamudrudra a dan dan AmrAmroziozi.Ti.Tim m penypenyidiidik k
melimpahkan dua berkas atas tersangka Muklas ke Kejaksaan Tinggi Bali. Muklas
melimpahkan dua berkas atas tersangka Muklas ke Kejaksaan Tinggi Bali. Muklas
diduga sebagai perencana dan pelaku, termasuk koordinator pelaksana di lapangan.
diduga sebagai perencana dan pelaku, termasuk koordinator pelaksana di lapangan.
Dia dituntut pasal 6, 11, 13 huruf a, 14 dan 15 Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang
Dia dituntut pasal 6, 11, 13 huruf a, 14 dan 15 Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang
Pem
Pemberberantantasaasan n TinTindakdak, , junjuncto cto PasPasal al 1 1 PerPerpu pu No No 2/22/2002 002 tententantang g PemPemberberantantasaasann
Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali dengan ancaman
Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Peledakan Bom di Bali dengan ancaman
hukuman mati
hukuman mati
Pada 16 Juni 2003, Persidangan kasus Muklas mulai digelar di Aula Gedung Wanita
Pada 16 Juni 2003, Persidangan kasus Muklas mulai digelar di Aula Gedung Wanita
Nari Graha Renon,
Nari Graha Renon, Denpasar. Jaksa PDenpasar. Jaksa Penuntut Umum Penuntut Umum Putu Indriati utu Indriati menuntut menuntut dengandengan
dakwaan berlapis dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak
dakwaan berlapis dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak
pi
pidana dana terteroriorismesme, , yaiyaitu tu sebsebagaagai i perperencaencana na pelpeledaedakan kan bom bom dan dan dendengan gan sensengajgajaa
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror
dan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. Terdakwa juga terlibat pemufakatan
dan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. Terdakwa juga terlibat pemufakatan
jahat dan menyediakan dana untuk tindak pidana terorisme. Muklas juga didakwa
jahat dan menyediakan dana untuk tindak pidana terorisme. Muklas juga didakwa
melanggar Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat No 12/1951 tentang senjata api dan bahan
melanggar Pasal 1 Ayat 1 UU Darurat No 12/1951 tentang senjata api dan bahan
peledak karena terdakwa memiliki dan menyimpan senjata api tanpa izin, yaitu pistol
peledak karena terdakwa memiliki dan menyimpan senjata api tanpa izin, yaitu pistol
jenis FN US Army dan delapan butir peluru.
jenis FN US Army dan delapan butir peluru.
Muk
Mukhlahlas s ditdituntuntut ut hukhukumauman n matmati. i. JakJaksa sa PenPenuntuntut ut UmuUmum m IndIndriyriyati ati menmenyatyatakanakan
terdakwa telah secara sah dan meyakinkan terlibat dalam peledakan bom 12 Oktober
terdakwa telah secara sah dan meyakinkan terlibat dalam peledakan bom 12 Oktober
2002. Dia juga dinilai terlibat jaringan internasional Jamaah Islamiyah kawasan Asia
2002. Dia juga dinilai terlibat jaringan internasional Jamaah Islamiyah kawasan Asia
Tenggara dan melanggar Pasal 6, 14, dan 15 Perpu Antiterorisme.
Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 Undang-Undang No. 2/PNPS/1964
Berdasarkan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Berdasarkan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pid
Pidana ana MatMati i yanyang g dijdijatuatuhkan hkan oleoleh h PenPengadigadilan lan di di LinLingkugkungan ngan PerPeradiadilan lan UmuUmum m dandan Militer pidana mati dilaksanakan dengan cara
Militer pidana mati dilaksanakan dengan cara ditembak sampai mati.ditembak sampai mati. Dal
Dalam am kondkondisi ini, isi ini, tim Kuasa tim Kuasa hukhukum um menmengajgajukan ukan kepkepada ada MahMahkamkamah ah AguAgungng unt
untuk uk menmengadgadakan akan penipeninjanjauan uan kemkembalbali i terterhadhadap ap UndUndang-ang-undaundang ng No. No. 2/P2/PNPSNPS/19/196464 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati. Hal ini dianggap melanggar UUD 1945 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati. Hal ini dianggap melanggar UUD 1945 Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 1 KUHP yakni siksaan yang menimbulkan rasa sakit bagi Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 1 KUHP yakni siksaan yang menimbulkan rasa sakit bagi terpidana.
terpidana. Di
Di daldalam am UndaUndang-ng-UndUndang ang No. No. 2/P2/PNPSNPS/19/1964 64 tententantang g TatTata a CarCara a PelPelaksaksanaaanaann Pidana Mati menyatakan bahwa hukuman yang berlaku di Indonesia adalah Hukuman Pidana Mati menyatakan bahwa hukuman yang berlaku di Indonesia adalah Hukuman Tembak
Tembak. . Dengan dalih menjalankan Hukum Dengan dalih menjalankan Hukum IslaIslam, m, terpiterpidana mati dana mati meminmeminta ta dihukumdihukum sec
secara ara pancpancungung.At.Atas as dasdasar ar ituitulah lah Tim Tim PemPembelbela a MusMuslilim m (TP(TPM) M) selselaku aku kuakuasa sa hukhukumum ketig
ketiga a terpiterpidana dana mengajmengajukan ukan peninjpeninjauan auan kembalkembali i kepada Mahkamah Agung. kepada Mahkamah Agung. NamunNamun untuk PK pertama ditolak. TPM tetap bertahan dengan keputusannya mengajukan upaya untuk PK pertama ditolak. TPM tetap bertahan dengan keputusannya mengajukan upaya PK ke dua kepada Mahkamah Konstitusi (MK) dengan dasar yang sama mengajukan PK ke dua kepada Mahkamah Konstitusi (MK) dengan dasar yang sama mengajukan penin
peninjauan terhadap jauan terhadap UndangUndang-undang No. -undang No. 2/PNP2/PNPS/196S/1964.Denga4.Dengan n upaya ini upaya ini TPM jugaTPM juga be
berusrusaha aha melmelakuakukan kan penupenundandaan an terterhadahadap p wakwaktu tu pelpelaksaksanaanaan an ekseksekusekusi i matmati i ketketigaiga terpidana.
terpidana.
3.2 ANALISA
3.2 ANALISA
Habis sudah upaya hukum yang dilakukan ketiga terpidana mati Bom Bali untuk
Habis sudah upaya hukum yang dilakukan ketiga terpidana mati Bom Bali untuk
dieksekusi secara pancung. Pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak PK yang
dieksekusi secara pancung. Pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak PK yang
diaju
diajukan oleh kan oleh tim kuatim kuasa hukum sa hukum terpiterpidana.dana. Atas putusan tersebut, terpidana mati bomAtas putusan tersebut, terpidana mati bom Bal
Bali i ititu u tettetap akan ap akan diediekseksekuskusi i dendengan cara ditegan cara ditembambak. Dalam sidak. Dalam sidang putusng putusan an yanyangg dipimpin Mahfud M.D. tersebut, MK menilai hal-hal yang diajukan pemohon mengenai dipimpin Mahfud M.D. tersebut, MK menilai hal-hal yang diajukan pemohon mengenai
pengujian tidak beralasan, sehingga harus ditolak.
pengujian tidak beralasan, sehingga harus ditolak. Rasa sakit yang dialami terpidana matiRasa sakit yang dialami terpidana mati me
merurupapakakan n kokonsnsekekueuensnsi i lologigis s yayang ng memelelekakat t dadalalam m pipidadana na mamati ti sesebabagagai i akakibibatat pelaksanaan pidana mati terhadap terpidana sesuai tata cara yang berlaku.
pelaksanaan pidana mati terhadap terpidana sesuai tata cara yang berlaku. Karena itu, eksekusi dengan
Karena itu, eksekusi dengan ditemditembak bak tidak termastidak termasuk uk kategorkategori i penyipenyiksaan terhadap diriksaan terhadap diri terpidana mati,dengan dasar tersebut, seluruh permohonan pemohon, ditolak. Selain itu, terpidana mati,dengan dasar tersebut, seluruh permohonan pemohon, ditolak. Selain itu, penggunaan hak untuk tidak disiksa dalam pasal 28 I UUD 1945 dinilai tidak tepat.
penggunaan hak untuk tidak disiksa dalam pasal 28 I UUD 1945 dinilai tidak tepat. Tid
Tidak ak ada ada satsatu u pun pun carcara a yanyang g menmenjamjamin in tiatiadanydanya a rasrasa a saksakit it daldalam am ekseksekuekusi,si, bahkan semua
bahkan semua menganmengandung dung risirisiko ko terjaterjadinya ketidaktedinya ketidaktepatan patan dalam pelaksanaadalam pelaksanaan n yangyang menimbulkan rasa sakit. Namun, hal itu bukan penyiksaan sebagaimana dimaksud pasal menimbulkan rasa sakit. Namun, hal itu bukan penyiksaan sebagaimana dimaksud pasal 28 I UUD 1945, sehingga UU Nomor 2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana 28 I UUD 1945, sehingga UU Nomor 2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mat
Mati i yanyang g dijdijatuatuhkahkan n pengpengadiadilan lan di di linlingkungkungan gan perperadiadilan lan umuumum m dan dan milmiliteiter r titidak dak bertentangan dengan UUD 1945.
bertentangan dengan UUD 1945.
Pasal 1 angka 4 UU HAM mengartikan, penyiksaan adalah setiap perbuatan yang Pasal 1 angka 4 UU HAM mengartikan, penyiksaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, b
baiaik k jajasmsmani ani mamaupupun un rorohahanini, , papada da seseseseororanang g untuntuk uk memempmpererololeh eh penpengagakuakuan n atatauau ket
keteraerangan ngan dardari i sesseseoreorang ang ataatau u dardari i oraorang ng ketketigaiga, , dengdengan an menmenghukghukumnumnya ya ataatas s suasuatutu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh seseorang atau pihak perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah dilakukan oleh seseorang atau pihak ketiga, atau mengancam atau memaksa seseorang atau orang ketiga, atau untuk suatu ketiga, atau mengancam atau memaksa seseorang atau orang ketiga, atau untuk suatu al
alasasan an yayang ng dididadasasarkrkan an padpada a sesetitiap ap bebentntuk uk didiskskririmiminanasisi, , apaapabibila la rarasa sa sasakikit t atatauau pe
pendernderitaitaan an tertersebsebut ut ditditimbimbulkulkan an oleoleh, h, ataatas s hashasutautan n dardari, i, dendengan gan perpersetsetujuujuan, an, ataatauu sepengetahuan siapa pun dan/atau pejabat publik.
sepengetahuan siapa pun dan/atau pejabat publik.
Oleh karena itu, PK yang diajukan ditolak karena dianggap tidak mempunyai Oleh karena itu, PK yang diajukan ditolak karena dianggap tidak mempunyai dasar hukum yang jelas serta dianggap tidak melanggar pasal 28 ayat 1 UUD 1945. dasar hukum yang jelas serta dianggap tidak melanggar pasal 28 ayat 1 UUD 1945. Sel
Selain ain ititu, u, EksEksekuekusi si dendengan gan temtembak bak tettetap ap dijdijalaalankankan n sessesuai uai UndaUndang-ng-undundang ang No. No. 2/2/ PNPS/1964 tentang Tata Cara Pidana Mati.
PNPS/1964 tentang Tata Cara Pidana Mati. Has
Hasililnynya a papada da tatanggnggal al 9 9 NoNovemvembeber r 2002009 9 ketketigiga a teterprpididana ana didiekseksekuekusi si didi Nusakambangan.
BAB IV
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN 4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan analisis dari kasus ini kami dapat mengambil
Berdasarkan analisis dari kasus ini kami dapat mengambil kesimpulan bahwa :kesimpulan bahwa : 1.
1. Hukum yang berlaku di Indonesia bersifat Universal yakni berlaku bagi semuaHukum yang berlaku di Indonesia bersifat Universal yakni berlaku bagi semua kalangan tanpa memandang SARA
kalangan tanpa memandang SARA 2.
2. Hukum yang berlaku luas di Indonesia adalah Hukum Negara Indonesia danHukum yang berlaku luas di Indonesia adalah Hukum Negara Indonesia dan bukan Hukum Syariat Islam.
bukan Hukum Syariat Islam. 3.
3. KedKedududukaukan n MaMahkhkamamah ah KoKonsnstititutusi si di di lelembmbaga aga hukhukum um InIndodonesnesia ia mememimililikiki pengaruh yang kuat terhadap segala keputusan Hukum sehingga apapun yang pengaruh yang kuat terhadap segala keputusan Hukum sehingga apapun yang menjadi keputusan MK tidak dapat diganggu gugat. Hal tersebut dialami oleh menjadi keputusan MK tidak dapat diganggu gugat. Hal tersebut dialami oleh Amrozi Cs beserta kuasa Hukumnya. Mereka menghormati semua keputusan MK Amrozi Cs beserta kuasa Hukumnya. Mereka menghormati semua keputusan MK walaupun tidak sepaham.
walaupun tidak sepaham. 4.
4. Tindakan pengajuan PK dianggap sebagai usaha TPM untuk mengulur waktuTindakan pengajuan PK dianggap sebagai usaha TPM untuk mengulur waktu eksekusi walaupun mereka menyatakan tidak demikian.
eksekusi walaupun mereka menyatakan tidak demikian. 5.
5. Faktor yang melatarbelakangi penundaan eksekusi pidana mati terhadap kasusFaktor yang melatarbelakangi penundaan eksekusi pidana mati terhadap kasus bom
bom BalBali i ImaImam m SamSamudrudra a dipdipicu icu dardari i proproses ses upaupaya-ya-upaupaya ya hukhukum um TerTerpidpidanaana.. Penunda
Penundaan an eksekuseksekusi i pidana mati terhadap Terpidana Imam pidana mati terhadap Terpidana Imam SamudSamudra ra alias Abdulalias Abdul Aziz tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia karena seorang Aziz tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia karena seorang Terpidana mati yang akan melaksanakan eksekusi, melalui proses upaya-upaya Terpidana mati yang akan melaksanakan eksekusi, melalui proses upaya-upaya hukum sebagai penundaan pelaksanaan putusan pengadilan yang merupakan hak hukum sebagai penundaan pelaksanaan putusan pengadilan yang merupakan hak ter
terpidpidana ana pada pada kaskasus us yanyang g menmengakgakibaibatkatkan n banbanyak yak korkorban ban ataataupun upun kejkejahaahatantan terhadap kemanusiaan,
terhadap kemanusiaan, 6.
6. Eksekusi mati tetap berjalan sesuai dengan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964Eksekusi mati tetap berjalan sesuai dengan Undang-Undang No. 2/PNPS/1964 yakni dengan tembak.
yakni dengan tembak. 7.
7. Pada waktu itu, pengajuan PK masih diterima dan diproses oleh MK karena TPMPada waktu itu, pengajuan PK masih diterima dan diproses oleh MK karena TPM mengajukan sesuai prosedur tata cara pengajuan PK yang disusun oleh MK.
mengajukan sesuai prosedur tata cara pengajuan PK yang disusun oleh MK.
4.2 SARAN
4.2 SARAN
1.
1. Mengingat kasus Bom Bali ini telah menewaskan ratusan orang, terlebih banyak orang asingMengingat kasus Bom Bali ini telah menewaskan ratusan orang, terlebih banyak orang asing yang menjadi sasaran utama dari peris
yang menjadi sasaran utama dari peristiwa naas ini. Tak luput kita tiwa naas ini. Tak luput kita sebagai makhluk sosial yangsebagai makhluk sosial yang sal
saling ing memmembutbutuhkauhkan n dan dan bisbisa a mermerasaasakan kan kehkehilailangangan n angganggota ota kelkeluaruarga ga yanyang g dicdicintintai ai untuntuk uk membe
terhadap keluarga yang ditinggal akibat tragedi 12 Oktober 2002 tersebut, tidak lain dalam wujud terhadap keluarga yang ditinggal akibat tragedi 12 Oktober 2002 tersebut, tidak lain dalam wujud konkret dengan
konkret dengan perlu dibuatnya peraturan perlu dibuatnya peraturan tentang penetapan waktu yang tegas tentang penetapan waktu yang tegas dalam hal waktudalam hal waktu menanti saatnya eksekusi mati terhadap terpidana
menanti saatnya eksekusi mati terhadap terpidana.. Walaupun tidak ada jaminan bahwa denganWalaupun tidak ada jaminan bahwa dengan terek
tereksekusisekusinya nya para terpidana kasus para terpidana kasus bom bali bom bali ini dapat ini dapat mengemmengembalikbalikan an korban, setidakkorban, setidaknyanya dengan ketepatan waktu dalam melaksanakan eksekusi mati ini dapat meringankan beban atau dengan ketepatan waktu dalam melaksanakan eksekusi mati ini dapat meringankan beban atau mengurangi perih dan duka bagi keluarga korban.
mengurangi perih dan duka bagi keluarga korban. 2.
2. Perlu adanya transparansi dan konsistensi penegak hukum di kalangan Hukum Indonesia.Perlu adanya transparansi dan konsistensi penegak hukum di kalangan Hukum Indonesia.
LAMPIRAN
LAMPIRAN
Amrozi
UU yang terkait dengan kasus terorismeUU yang terkait dengan kasus terorisme
Hukuman Mati Hukuman Mati Dalam RUU KUHP Dalam RUU KUHP
Pasal
Pasal Tindak Tindak Pidana Pidana KeteranganKeterangan
1
1 242242 Terorisme Terorisme Menggunakan Menggunakan kekerasan kekerasan atauatau ancaman kekerasan menimbulkan ancaman kekerasan menimbulkan
suasana teror atau rasa takut suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang atau menimbulkan korban yang
bersifat massal, dengan cara bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan orang lain, atau mengakibatkan
kerusakan atau kehancuran kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau
atau fasilitas umum atau fasilitasfasilitas internasional. internasional. 2 2 244 244 TerorismeTerorisme menggunakan menggunakan bahan- bahan kimia bahan kimia Menggunakan bahan-bahan Menggunakan bahan-bahan kimia, senjata biologis, radiologi, kimia, senjata biologis, radiologi, mikro-organisme, radioaktif atau mikro-organisme, radioaktif atau komponennya untuk melakukan komponennya untuk melakukan
terorisme. terorisme. 3
3 247 247 Penggerakan,Penggerakan, Pemberian Bantuan dan Pemberian Bantuan dan
kemudahan untuk kemudahan untuk Terorisme Terorisme Merencanakan dan/atau Merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk menggerakkan orang lain untuk
melakukan tindak pidana melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 sampai dengan dalam Pasal 242 sampai dengan Pasal 244, Pasal 245, dan Pasal Pasal 244, Pasal 245, dan Pasal
246. 246. 4
4 249 249 Terorisme Terorisme Setiap Setiap orang orang di di luar luar wilayahwilayah Negara Republik Indonesia yang Negara Republik Indonesia yang
memberikan bantuan, memberikan bantuan,
244, Pasal 245, dan Pasal 246. 244, Pasal 245, dan Pasal 246.
5
5 250 250 Perluasan Perluasan tindak tindak pidanapidana Terorisme
Terorisme
Dipidana karena terorisme setiap Dipidana karena terorisme setiap orang yang melaku-kan tindak orang yang melaku-kan tindak pidana sebagaimana dimaksud pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 258 dengan pidana dalam Pasal 258 dengan pidana mati. Pasal 258 adalah pasal mati. Pasal 258 adalah pasal ten-tang Perusakan Pesawat Udara tang Perusakan Pesawat Udara yang Mengakibatkan Matinya yang Mengakibatkan Matinya Orang atau Hancurnya Pesawat. Orang atau Hancurnya Pesawat. 6
6 251 251 Terorisme Terorisme Permufakatan jahat, Permufakatan jahat, persiapan,persiapan, atau percobaan dan pembantuan atau percobaan dan pembantuan
melakukan terorisme sebagai melakukan terorisme sebagai dimaksud Pasal 242, Pasal 243 dimaksud Pasal 242, Pasal 243 dan Pasal 244 dan Pasal 250 dan Pasal 244 dan Pasal 250 dipidana sesuai dengan ketentuan dipidana sesuai dengan ketentuan
pasal-pasal tersebut. pasal-pasal tersebut.
PasPasal 28 al 28 AyaAyat 1 t 1 hurhuruf I uf I berberbunbunyi yi “Ha“Hak k untuntuk hidupuk hidup,ha,hak untuk tidak untuk tidak disikk disiksa, hak sa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang be
berlarlaku ku sursurut ut adaadalah lah hak hak asaasasi si manmanusiusia a yanyang g tidtidak ak dapdapat at dikdikuraurangi ngi daldalam am keakeadaadaann apapun”
apapun”
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
2007,Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Yogyakarta : Pustaka Yustisia2007,Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Yogyakarta : Pustaka Yustisia
Tomasow, M.A. 2005, Indonesian Legal System. Jakarta : Tomasow, M.A. 2005, Indonesian Legal System. Jakarta : London School Of London School Of Public Relations
Public Relations
Syafii, Inu Kencana dan Azhari. 2005, Sistem Politik Indonesia. Bandung : RafikaSyafii, Inu Kencana dan Azhari. 2005, Sistem Politik Indonesia. Bandung : Rafika Aditama
Kansil, dan Christin Kansil, 1971 Kansil, dan Christin Kansil, 1971 cetakan 22. Pancasila dan Udang-Undang Dasar cetakan 22. Pancasila dan Udang-Undang Dasar 1945. Jakarta : Pradnya Paramita
1945. Jakarta : Pradnya Paramita
http://batampos.cohttp://batampos.co.id/Utama/Utam.id/Utama/Utama/MK_Tolak_Paa/MK_Tolak_Pancung_Amrozi_Cs.htmlncung_Amrozi_Cs.html