muka | daftar isi
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam terbitan (KDT)
Shalat Qashar Jama’
Penulis : Ahmad Sarwat, Lc.,MA
80 hlm
Judul Buku
Shalat Qashar Jama’
Penulis
Ahmad Sarwat, Lc. MA
Editor
Fatih
Setting & Lay out
Fayyad & Fawwaz
Desain Cover
Faqih
Penerbit
Rumah Fiqih Publishing Jalan Karet Pedurenan no. 53 Kuningan
Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Cetakan Pertama
muka | daftar isi
Daftar Isi
Daftar Isi ... 4
Bab 1. Mengqashar Shalat ... 8
A. Pengertian ... 9 1. Bahasa ... 9 2. Istilah ... 9 B. Masyru'iyah ... 10 1. Al-Quran ... 10 2. As-Sunnah ... 11
C. Qashr dan Itmam... 13
1. Jumhur Ulama ... 13 2. Mazhab Al-Hanafiyah ... 14 D. Hukum ... 14 1. Wajib ... 15 2. Sunnah ... 16 3. Pilihan ... 16
E. Kriteria Safar Yang Membolehkan Qashar ... 18
1. Niat ... 18
2. Jarak ... 19
a. Jumhur Ulama : 4 Burud ... 19
b. Jarak 3 Hari Perjalanan ... 24
c. Tanpa Batas Minimal ... 26
3. Mubah ... 28
4. Melewati Batas Tempat Tinggal ... 28
5. Punya Tujuan Pasti ... 29
F. Penyebab Bolehnya Qashar & Berakhirnya ... 30
muka | daftar isi
2. Penyebab Habisnya Kebolehan Qashar ... 31
a. Tiba di Rumah... 32
b. Niat Bermukim ... 32
c. Niat Tinggal Sementara Tapi Melewati Batas Waktu ... 32
Bab 2 : Menjama' Shalat ... 34
A. Pengertian ... 34
1. Bahasa ... 34
2. Istilah ... 34
B. Dalil Masyru'iyah ... 35
C. Pembagian Shalat Jama’ ... 37
1. Berdasarkan Shalat Yang Boleh Dijama’ ... 37
a. Shalat Zhuhur Dijama’ Dengan Ashar ... 37
b. Shalat Maghrib Dijama’ Dengan Isya’ ... 37
2. Berdasarkan Waktu Pengerjaannya ... 37
a. Jama’ Taqdim ... 37
b. Jama’ Ta’khir ... 38
D. Sebab-sebab Dibolehkannya Jama' ... 38
E. Haji ... 39
F. Safar ... 40
1. Niat Safar ... 40
2. Memenuhi Jarak Minimal ... 41
3. Keluar dari Tempat Tinggalnya ... 41
4. Bukan Safar Maksiat ... 42
5. Punya Tujuan Pasti ... 43
G. Sakit ... 43 1. Boleh ... 44 2. Tidak Boleh ... 45 H. Hujan ... 46 1. Dalil ... 47 a. Dalil Pertama ... 47
muka | daftar isi
b. Dalil Kedua ... 48
c. Dalil Ketiga ... 48
2. Mazhab Al-Hanafiyah ... 48
3. Mazhab Al-Malikiyah ... 49
a. Masyaqqah : Maghrib dan Isya ... 49
b. Hanya Jama' Taqdim ... 50
3. Mazhab Asy-Syafi'iyah ... 50
a. Termasuk Dzhuhur dan Ashar Juga ... 50
b. Jama' Taqdim ... 50
c. Shalat Berjamaah ... 51
d. Masjid ... 51
e. Masyaqqah ... 51
4. Mazhab Al-Hanabilah ... 53
a. Termasuk Dzhuhur dan Ashar Juga ... 53
b. Jama' Ta'khir Juga Boleh ... 53
5. Tabel Perbedaan Mazhab ... 54
I. Kejadian Yang Tidak Memungkinkan ... 55
1. Terjadi Secara Insidental ... 55
2. Kejadiannya Bersifat Memaksa ... 56
J. Ketentuan Jama’ Taqdim ... 57
1. Niat Sejak Shalat Yang Pertama ... 57
2. Berurutan ... 58
3. Al-Muwalat ... 58
4. Masih Berlangsungnya Safar ... 59
K. Ketentuan Jama’ Ta'khir ... 59
1. Niat ... 59
2. Safar Harus Masih Berlangsung ... 59
L. Menjama' Jumat dengan Ashar ... 60
1. Boleh ... 61
a. Tidak Adanya Nash Yang Melarang ... 62
muka | daftar isi
c. Kesamaan 'Illat ... 63
d. Kebolehan Qiyas ... 64
e. Prinsip Keringanan ... 64
f. Prinsip Shalat Jama' ... 64
2. Tidak Boleh ... 65
a. Tidak Adanya Nash Yang Membolehkan. ... 66
b. Tidak Ada Qiyas Dalam Ritual Ibadah ... 66
c. Shalat Jumat Beda Dengan Shalat Dzuhur . 66 M. Jama’ Shuri ... 67
1. Khas Mazhab Hanafi ... 67
2. Cocok Untuk Kebutuhan Mendesak ... 69
a. Orang Sakit ... 69
b. Wanita Istihadhah ... 70
c. Pengantin ... 70
N. Kedudukan Sunnah Qabliyah dan Bakdiyah Dalam Jama’ ... 70 1. An-Nawawi ... 71 2. Zakariya Al-Anshari ... 72 3. Ibnu Qudamah ... 73 4. Al-Mardawi ... 74 5. Syeikh Utsaimin ... 74 Penutup ... 76 Profil Penulis ... 78
muka | daftar isi
Pendahuluan
muka | daftar isi
Bab 1. Mengqashar Shalat
A. Pengertian 1. Bahasa
Makna kata qashr (رصق) secara bahasa adalah mengurangi atau meringkas. Disebutkan di dalam Al-Quran bahwa Rasulullah SAW bermimpi pergi haji, lalu sebagian shahabat ada yang mencukur botak kepalanya (muhalliqin) dan ada yang mencukur sebagian (muqashshirin)
َقَدَص ْدَقَل
هَللّا
َداجْسَمْلا َنهلهخْدَتَل ا قَْلْابِ َيَْؤُّرلا ههَلوهسَر
ناإ َماَرَْلْا
ْمهكَسوهؤهر َيناقا لَهمُ َينانامآ هَللّا ءاَش
َنيارا صَقهمَو
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. (QS. Al-Fath : 27)
2. Istilah
Sedangkan secara istilah, definisi qashr shalat adalah mengurangi bilangan rakaat pada shalat
muka | daftar isi
fardhu, dari empat rakaat menjadi dua rakaat.
Shalat Shubuh yang jumlahnya dua rakaat, tidak ada ketentuan untuk mengqasharnya. Demikian juga Shalat Maghrib yang tiga rakaat, juga tidak ada ketentuan untuk mengqasharnya. Dan shalat sunnah pun tidak ada ketentuan qasharnya.
B. Masyru'iyah
Pengurangan jumlah rakaat dari empat menjadi tinggal dua adalah pensyariatan yang didasarkan pada nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah, serta dikuatkan dengan ijma' para ulama.
1. Al-Quran
Asal kebolehan melakukan dalam melakukan pengurangan jumlah rakaat dari empat menjadi dua adalah firman Allah SWT. Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran al-Kariem tentang keringanan bagi orang yang sedang dalam perjalanan untuk mengurangi jumlah bilangan rakaat shalat.
َنام ْاوهرهصْقَ ت نَأ ٌحاَنهج ْمهكْيَلَع َسْيَلَ ف اضْرَلأا افِ ْمهتْ بَرَض اَذاإَو
ْاوهناَك َنيارافاَكْلا َناإ ْاوهرَفَك َنياذَلا همهكَناتْفَ ي نَأ ْمهتْفاخ ْناإ اةَلاَصلا
اًنيابُّم اًّوهدَع ْمهكَل
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. An-Nisa : 110)
muka | daftar isi
Di dalam ayat ini sebenarnya pensyariatan qashr shalat masih sangat terkait dengan syarat keadaan takut. Hal itu nampak jelas ketika ayat ini menyebutkan : in khiftum an yaftinakumulladzina kafaru.
Ketika ayat ini turun di masa Nabi SAW, nyaris hampir seluruh perjalanan Nabi SAW berada di bahwa ancaman orang-orang kafir, yaitu dalam keadaan perang.
Yang kemudian menjadi masalah : apakah kebolehan mengqashar shalat ini hanya berlaku pada saat perang saja? Ataukah juga tetap berlaku meski tidak ada perang?
Kalau hanya mengandalkan ayat ini saja, secara logika akal sehat, shalat qashar hanya berlaku pada saat perjalanan ke medan perang saja. Namun ternyata kita mendapatkan penjelasan dari hadits Nabi SAW berikut ini :
2. As-Sunnah
Penjelasan dari As-Sunnah menegaskan bahwa shalat qashr itu bukan hanya terbatas pada keadaan perang saja, meski pun ayatnya memang menyebutkan demikian.
Ya'la bin Umayyah bertanya kepada Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu,"Kenapa kita tetap mengqashar shalat, padahal kita sudah berada dalam suasana aman?". Umar menjawab,"Aku juga pernah menanyakan hal yang serupa kepada Nabi SAW, dan beliau menjawab :
muka | daftar isi
َص
َد َق
ٌة َت
َص
َد
َق
هالل
َاب
َع ا
َل ْي
هك
ْم َف
ْ قا َ ب
هل
َص او
َد َ ق
َت هه
"Itu adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian, maka terima lah sedekah itu". (HR. Muslim) Hadits shahih ini menepis berbagai penafsiran dan spekulasi bahwa shalat qashar terbatas hanya pada situasi perang saja. Dan bahwa dalam keadaan damai pun shalat qashar tetap berlaku.
Sebenarnya hadits-hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu menqashar shalatnya di dalam setiap perjalanan yang beliau lakukan sudah mencapai hadits yang mutawatir, karena jumlahnya sangat banyak.
Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW dari riwayat istri beliau ummul mukminin :
َأ َو
هل
َما
هف
ار
َض
ات
َصلا
َلا
هة
َر ْك
َع َت
اْين
َف
َأ َ ق َ
ر
ْت
َص
َلا
هة
َسلا
َف ار
َو َأ
ََت
ْت
َص
َلا
هة
َلْا
َض
ار
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:” Awal mula diwajibkan shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan (4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar) (HR Bukhari Muslim)
هف ار
َض
ات
َصلا
َلا
هة
َر ْك
َع َت
اْين
اإ
َل
َ
لا
ْغ ار
َب
َف اإ
َن هه
او ْ ت
هر
َ نلا
َه
ارا
َهث
از ْي َد
ْت
افِ
َلْا
َض
ار
َو َأ َ ق
َر
ْت
افِ
َسلا
َف ار
َع
َىل
َما
َك
َنا
ْت
َع
َل ْي اه
muka | daftar isi
“Diwajibkan shalat dua rakaat kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah shalat witir di siang hari, kemudian disempurnakan (4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar) dan ditetapkan bagi shalat safar” (HR. Ahmad)
Dalam riwayat Al-Bukhari ada penambahan :
َهث
َه
َجا
َر َ ف
هف ار
َض
ْت
َأ ْر َب
ًاع
َو َأ َ ق
َر
ْت
َص
َلا َة
َسلا
َف ار
َع
َىل
َلأا
َو ال
Kemudian beliau SAW hijrah maka diwajibkan shalat itu 4 rakaat dan ditetapkan bagi shalat safar atas yang perama (2 rakaat) (HR. Bukhari)
َص
اح
ْب
هت
َنلا
َاب
َف
َك
َنا
َل
هي از ْي
هد
افِ
َسلا
َف ار
َع
َىل
َر ْك
َع َت
اْين
َو َأ
هب و
َب ْك
ار
َو هع
َم هر
َو
هع ْث
َم
هنا
َك
َذ ال
َك
Abdullah bin Umar berkata,"Aku menemani Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari 2 rakaat dalam safar, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman." (HR. Bukhari Muslim)
C. Qashr dan Itmam
Para ulama berbeda pendapat tentang yang manakah shalat yang asli, apakah aslinya dua rakaat lalu kemudian ditambah menjadi tiga dan empat rakaat? Ataukah aslinya empat rakaat, lalu kemudian Allah memberikan keringanan.
1. Jumhur Ulama
muka | daftar isi
Asy-Syafi’yah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa yang merupakan asal adalah shalat itu empat rakaat, lalu Allah SWT memberikan keringanan pada shalat yang empat rakaat untuk diqashar menjadi dua rakaat.
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW, yang secara tegas menyebutkan bahwa qashr itu merupakan sedekahdari Allah SWT.
َص
َد َق
ٌة َت
َص
َد
َق
هالل
َاب
َع ا
َل ْي
هك
ْم َف
ْ قا َ ب
هل
َص او
َد َ ق
َت هه
"Itu adalah sedekah yang Allah berikan kepada kalian, maka terima lah sedekah itu". (HR. Muslim) 2. Mazhab Al-Hanafiyah
Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah sepakat
menyebutkan bahwa yang merupakan justru shalat qashar yang dua rakaat, sedangkan itmam yang empat rakaat merupakan tambahan.
Dasarnya adalah hadits Rasulullah SAW ;
َأ َو
هل
َما
هف
ار
َض
ات
َصلا
َلا
هة
َر ْك
َع َت
اْين
َف
َأ َ ق َ
ر
ْت
َص
َلا
هة
َسلا
َف ار
َو َأ
ََت
ْت
َص
َلا
هة
َلْا
َض
ار
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:” Awal mula diwajibkan shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar) (HR Bukhari Muslim)
D. Hukum
muka | daftar isi
apakah mengqashar shalat dalam safat itu wajib, sunnah atau pilihan.
1. Wajib
Mazhab Abu hanifah mewajibkan qashar bagi orang yang melakukan perjalanan yang telah terpenuhi syaratnya. Istilah lain yang sering digunakan adalah azimah.
Dan tidak boleh shalat dengan itmam, yaitu menyempurnakan dengan 4 rakaat dalam keadaan tersebut. Bila dilakukan hukumnya dosa.
Dalil yang mereka gunakan adalah salah satu hadits di atas, dimana mereka menarik kesimpulan hukum menjadi wajib, bukan sunnah atau pilihan.
َأ َو
هل
َما
هف
ار
َض
ات
َصلا
َلا
هة
َر ْك
َع َت
اْين
َف
َأ َ ق َ
ر
ْت
َص
َلا
هة
َسلا
َف ار
َو َأ
ََت
ْت
َص
َلا
هة
َلْا
َض
ار
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:” Awal mula diwajibkan shalat itu 2 rakaat kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar). (HR Bukhari Muslim)
َ ف َر
َض
هالل
َصلا
َلا َة
َع
َىل
ال
َس
انا
َن اب
اي هك
ْم
افِ
َلْا
َض
ار
َأ ْر َب
َع
َر َك
َع
تا
َو افِ
َسلا
َف ار
َر ْك
َع َت
اْين
َو
افِ
َلا
ْو
اف
َر ْك
َع ًة
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu‘anhu berkata:”Alah SWT telah mewajibkan di atas lidah Nabi kalian bahwa shalat dalam hadhar (tidak safar)
muka | daftar isi
sebanyak4 rakaat, dalam safar 2 rakaat dan dalam keadaan kahuf (takut) satu rakaat (HR. Muslim)
Dua hadits di atas memang tegas menyebut istilah 'mewajibkan', sehingga barangkali inilah adalan mazhab Hanafi untuk mewajibkan qashar shalat dalam perjalanan.
2. Sunnah
Yang masyhur berpendapat bahwa mengqashar shalat hukumnya sunnah adalah mazhab Malikiyah.
Dasarnya adalah tindakan Rasulullah SAW yang secara umum selalu mengqashar shalat dalam hampir semua perjalanan beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu
َص
اح
ْب
هت
َنلا
َاب
َف
َك
َنا
َل
هي از ْي
هد
افِ
َسلا
َف ار
َع
َىل
َر ْك
َع َت
اْين
َو َأ
هب و
َب ْك
ار
َو هع
َم هر
َو
هع ْث
َم
هنا
َك
َذ ال
َك
Abdullah bin Umar berkata,"Aku menemani Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menambah shalat lebih dari 2 rakaat dalam safar, demikian pula Abu Bakar, Umar dan Utsman." (HR. Bukhari Muslim)
3. Pilihan
Yang berpendapat bahwa mengqashar shalat atau tidak itu merupakan pilihan adalah mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah.
Namun bagi mereka, mengqashar itu tetap lebih afdhal, karena merupakan sedekah dari Allah SWT.
muka | daftar isi
َص
َد َق
ٌة َت
َص
َد
َق
هالل
َابا
َع
َل ْي
هك
ْم َف
ا ْ ق َ ب
هلاو
َص
َد َ ق
َت هه
Umar radhiyallahuanhu berkata,"(Qashar) adalah sedekah yang Allah berikan padamu, maka terimalah sedekah-Nya." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Allah SWT menyukai bila kita menerima sedekah-Nya
اإ َن
َالل
اهي
ُّب
َأ
ْن
ه ت ْؤ َت
ى
هر
ْخ
هص
هه َك
َما
اهي
َب
َأ
ْن
ه ت ْؤ َت
ى
َع
َز ائا
هم هه
Ibnu Mas'ud berkata,"Sesungguhnya Allah suka bila sedekahnya diterima sebagaimana Dia suka bila kewajibannya dijalankan." (HR. Ahmad).
Mereka juga berdalil dari tindakan para shahabat Nabi SAW dalam banyak perjalanan, kadang mereka mengqashar tapi kadang juga tidak mengqasharnya. Sehingga mengqashar atau tidak merupakan pilihan. Mereka tidak saling memandang aib atas apa yang dilakukan teman mereka.
Selain itu Aisyah dan Rasulullah SAW pernah mengadakan perjalanan, dimana mereka saling berbeda dalam shalat, yang satu mengqashar yang lain tidak mengqashar.
َخ َر
ْج
هت
َم
َع
َنلا
ااب
افِ
َرْمهع
ة
افِ
َر َم
َض
َنا
َف َأ
ْف َط
َر َ
و
ْمهص
هت
َو َق
َص
َر
َو َأ َْت
ْم
هت
.
َ ف هق ْل
هت
:
َاب
اب
َو هأ ام
ي
َأ
ْف َط
ْر
َت
َو هص
ْم
هت
َو َق
َص
ْر
َت
َو َأ َْت
ْم
هت
.
َ ف َق
َلا
:
َأ ْح
َس ْن
ات
َيَ
َع
ائا
َش ة
muka | daftar isi
Aku pernah melakukan umrah bersama Rasullah SAW di bulan Ramadhan, beliau SAW berbuka dan aku tetap berpuasa, beliau mengqashar shalat dan aku tidak. Maka Aku berkata,"Dengan ibu dan ayahku, Anda berbuka dan aku berpuasa, Anda mengqashar dan Aku tidak". Beliau menjawab,"Kamu baik, wahai Aisyah". (HR. Ad-Daruquthuny)
E. Kriteria Safar Yang Membolehkan Qashar Tidak semua safar membolehkan kita untuk mengqashar shalat. Hanya safar dengan kriteria
tertentu saja yang membolehkan kita
mengqasharnya.
1. Niat
Agar berstatus musafir, maka seseorang harus berniat dan menyengaja untuk melakukan safar. Syarat ini disepakati oleh semua ulama.
Maka seorang yang diculik dengan paksa ke tempat yang jauh atau diasingkan ke negeri lain, padahal dalam dirinya tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan safar, secara hukum syar’i bukan termasuk musafir.
Niat untuk melakukan safar akan hilang ketika seseorang berhenti dalam perjalanannya dan mengubah niatnya dari musafir menjadi ingin tinggal dan menetap untuk seterusnya.
Maka orang yang pergi merantau dari kampung ke Jakarta dengan tujuan untuk menetap di Jakarta,
muka | daftar isi
juga dianggap sudah bukan lagi musafir. Dia menjadi musafir hanya selama di kendaraan saja. Begitu sudah sampai di Jakarta, maka dia bukan musafir lagi.
2. Jarak
Kriteria kedua dari safar yang membolehkan qashar adalah masalah jarak minimal dari keseluruhan safar itu. Sehingga tidak mentang-mentang orang keluar kota, lantas bisa disebut musafir. Minimal harus ada jarak tertentu agar safar itu membolehkan shalat qashar.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menjama' shalat dilihat dari segi batas minimal jarak perjalanan.
a. Jumhur Ulama : 4 Burud
Jumhur ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah umumnya sepakat bahwa minimal berjarak empat burud.
Dasar ketentuan minimal empat burud ini ada banyak, di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW
muka | daftar isi berikut ini :
َيَ َأ
ْه َل
َم
َك
َة
َل
َ ت
ْق
هص ه
راو
افِ
َأ
َق ال
ام
ْن
َأ ْر َ ب
َع اة
َ ب ْر
د
ام
ْن
َم َك
َة اإ
َل
َفْسهع
نا
muka | daftar isi
Rasulullah SAW bersabda,"Wahai penduduk Mekkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud, dari Mekkah ke Usfan". (HR. Ad-Daruquthuny)
Selain dalil hadits di atas, dasar dari jarak minimal 4 burud adalah apa yang selalu dilakukan oleh dua
muka | daftar isi
ulama besar dari kalangan shahabat, yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma. Mereka berdua tidak pernah mengqashar shalat kecuali bila perjalanan itu berjarak minimal 4 burud. Dan tidak ada yang menentang hal itu dari para shahabat yang lain.
Dalil lainnya adalah apa yang disebutkan oleh Al-Atsram, bahwa Abu Abdillah ditanya,
"Dalam jarak berapa Anda mengqashar shalat?". Beliau menjawab,"Empat burud". Ditanya lagi,"Apakah itu sama dengan jarak perjalanan sehari penuh?". Beliau menjawab,"Tidak, tapi empat burud atau 16 farsakh, yaitu sejauh perjalanan dua hari".
Para ulama sepakat menyatakan bahwa jarak 1 farsakh itu sama dengan 4 mil. Dalam tahkik kitab Bidayatul Mujtahid dituliskan bahwa 4 burud itu sama dengan 88,704 km1.
Meski jarak itu bisa ditempuh hanya dengan satu jam naik pesawat terbang, tetap dianggap telah memenuhi syarat perjalanan. Karena yang dijadikan dasar bukan lagi hari atau waktu, melainkan jarak tempuh.
Sebagai perbandingan saja, kalau kita sekarang ini tinggal di Jakarta, sampai dimanakah batas jarak qashar yang dibenarkan?
1 Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ibnu Rusyd
muka | daftar isi
Seringkali daerah puncak dianggap sudah mencapai jarak dibolehkannya Qashar. Tetapi apa benar, mari coba kita teliti lebih jauh.
Penulis menggunakan peta di hp yang bisa mengukur jarak, yaitu antara dua titik yaitu masjid Istiqlal di pusat Jakarta dengan masjid At-Ta’awun di kawasan puncak. Hasilnya sebagaimana terlihat dari gambar ini, jaraknya baru mencapai 83 km saja, belum sampai 88,704 km. Maka kalau safar kita hanya seputaran kawasan puncak, belum bisa dianggap safar yang membolehkan qashar shalat. Harus ditambah lagi kira-kira 5-6 km lagi agar bisa masuk kategori itu.
Dua Hari Perjalanan.
Dan semua ulama sepakat bahwa meski pun disebut masa perjalanan dua hari, namun yang dijadikan hitungan sama sekali bukan masa tempuh. Tetapi yang dijadikan hitungan adalah jarak yang bisa ditempuh di masa itu selama dua hari perjalanan.
Pertanyannya, kalau memang yang dimaksud dengan jarak disini bukan waktu tempuh dua hari, lalu mengapa dalilnya malah menyebutkan waktu dan bukan jarak.
Jawabnya karena di masa Rasulullah SAW dan beberapa tahun sesudahnya, orang-orang terbiasa menyebutkan jarak antar satu negeri dengan negeri lainnya dengan hitungan waktu tempuh, bukan dengan skala kilometer atau mil.
muka | daftar isi
masyarakat yang menyebut jarak antar kota dengan hitungan waktu. Salah satunya di Jepang yang sangat maju teknologi perkereta-apiannya. Disana orang-oran terbiasa menyebut jarak satu kota dengan kota lainnya dengan hitungan jam. Maksudnya tentu bukan dengan jalan kaki melainkan dengan naik kereta cepat Sinkansen.
Sedangkan perjalanan dua hari di masa Rasulullah SAW tentunya dihitung dengan berjalan kaki dengan langkah yang biasanya. Meski pun naik kuda atau unta, sebenarnya relatif masa tempuhnya kurang lebih sama. Karena kuda atau unta bila berjalan di padang pasir tentu tidak berlari, sebab tenaganya akan cepat habis.
Perjalanan antar negeri di masa itu yang dihitung hanya perjalanan siang saja, sedangkan malam hari tidak dihitung, karena biasanya malam hari para khafilah yang melintasi padang pasir beristirahat.
Masa tempuh seperti ini kalau dikonversikan dengan jarak tempuh sebanding dengan jarak 24 mil. Dan sebanding pula dengan jarak 4 burud, juga sebanding dengan 16 farsakh. Jarak ini juga sama dengan 48 mil hasyimi.
b. Jarak 3 Hari Perjalanan
Abu Hanifah dan para ulama Kufah mengatakan minimal jarak safar yang membolehkan qashar itu adalah bila jaraknya minimal sejauh perjalanan tiga hari, baik perjalanan itu ditempuh dengan menunggang unta atau berjalan kaki, keduanya
muka | daftar isi
relatif sama. Dan tidak disyaratkan perjalanan itu siang dan malam, tetapi cukup sejak pagi hingga zawal di siang hari.
Safar selama tiga hari ini kira-kira sebanding dengan safar sejauh 3 marhalah. Karena kebiasaannya seseorang melakukan safar sehari menempuh satu marhalah.
Dasar dari penggunaan masa waktu tiga hari ini adalah hadits Nabi SAW, dimana dalam beberapa hadits beliau selalu menyebut perjalanan dengan masa waktu tempuh tiga hari. Seperti hadits tentang mengusap sepatu, disana dikatakan bahwa seorang boleh mengusap sepatu selama perjalanan 3 hari.
َْي
َس
هح
لا ه اق
ْي هم
َك
َم
َلا
َ ي ْو
ام
َو َل ْ ي
َل ة
َو
لا ه
َس
افا
هر َث
َلا َث
َة َأ
َيَ م
َو َل
َي الا
ْ ي َه ا
Orang yang muqim mengusap sepatu dalam jangka waktu sehari semalam, sedangkan orang yang safar mengusap sepatu dalam jangka waktu tiga hari tiga malam. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Demikian juga ketika Rasulullah SAW
menyebutkan tentang larangan wanita bepergian tanpa mahram yang menyertainya, beliau menyebut perjalanan selama 3 hari.
َل
لاَي
ةَأَرْمال
هنامْؤه ت
اَللَّابِ
امْوَ يْلاَو
اراخْلآا
ْنَأ
َرافاَسهت
َةَيراسَم
اثَلاَث
لاَيَل
َلاإ
اَهَعَمَو
ٌمَرَْمُ
Dari Ibnu Umar radhiyallhuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidak halal bagi wanita yang
muka | daftar isi
beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian sejauh 3 malam kecuali bersama mahram". (HR. Muslim)
Menurut mazhab Al-Hanafiyah, penyebutan 3 hari perjalanan itu pasti ada maksudnya, yaitu untuk menyebutkan bahwa minimal jarak perjalanan yang membolehkan qashar adalah sejauh perjalanan 3 hari.
Kalau kita konversikan jarak perjalanan tiga hari, maka hitungannya adalah sekitar 135 Km.
c. Tanpa Batas Minimal
Sedangkan pendapat mazhab Zhahiri mengatakan tidak ada batas minimal seperti yang telah kami sebutkan di atas. Jadi mutlak safar, artinya berapa pun jaraknya yang penting sudah masuk dalam kriteria safar atau perjalanan. Di antara ulama yang mewakili kalangan ini salah satunya adalah Ibnu Taimiyah.1
Menurut pandangan mazhab ini, seseorang sudah disebut sebagai musafir meski jarak yang ditempuhnya hanya berjarak 3 farsakh atau 3 mil saja.
Dasar pendapat ini adalah hadits berikut ini.
اإ َن
َر
هس
َلو
الل
َك
َنا
اإ
َذا
َخ َر
َج
َم اس
َْير َة
َث
َلا َث
اة َأ
ْم َي
لا
َأ
ْو َث
َلا َث
اة
َ ف َر
اسا
اخ
َص
َىل
َر ْك
َع َت
اْين
muka | daftar isi
Anas berkata bahwa Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat” (HR Muslim)
Namun meski hadits ini shahih dari segi
periwayatannya, namun cara menarik
kesimpulannya yang tidak disepakati. Umumya para fuqaha mengartikan hadits ini bukan sebagai jarak safar yang membolehkan qashar, namun kapan shalat qashar sudah boleh mulai dikerjakan. Sementara safarnya itu sendiri tetap minimal berjarak empat burud atau enambelas farsakh.
Ketika Rasulullah SAW mengadakan perjalanan dari Madinah ke Mekkah, beliau sudah mulai mengqashar sejak masih di Dzil-Hulaifah, atau yang sekarang disebut dengan Bi’r Ali. Kalau diukur jaraknya hanya beberapa kilmometer saja dari Madinah.
هتْيَلَص
َرْهُّظلا
َعَم
لوهسَر
اَللّا
اةَنيادَمْلابِ
اًعَ بْرَأ
هتْيَلَصَو
ههَعَم
ْلا
َرْصَع
ياذاب
اةَفْ يَلهْلْا
اْينَتَعْكَر
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Dzuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah 4 rakaat, dan shalat Ashar bersama beliau di Dzil Hulaifah 2 rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Tetapi sebagaimana kita ketahui, tujuan safar beliau SAW bukan semata-mata mau pergi ke Dzil-hulaifah. Beliau SAW punya tujuan yang jauh, yaitu melakukan haji atau umrah ke Mekkah.
muka | daftar isi
3. Mubah
Safar yang dibolehkan buat kita untuk mengqashar shalat haruslah sebuah safar yang sejak awal memang diniatkan untuk hal-hal yang mubah atau dibolehkam.
Sedangkan safar yang sejak awalnya sudah diniatkan untuk hal-hal yang haram dan tidak diridhai Allah SWT, tidak diberikan keringanan untuk mengqashar shalat.
Syarat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama kecuali Al-Hanafiyah yang mengatakan apapun tujuan safar, semua membolehkan qashar.
Bahkan Mazhab As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melakukan safar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, bukan saja tidak boleh mengqashar shalatnya, tetapi juga tidak sah shalatnya. Alasannya, karena seperti orang yang tahu bahwa dirinya dalam keadaan hadats (tidak punya wudhu') tetapi tetap shalat juga.
Sedangkan dalam pandangan Mazhab Al-Malikiyah, shalat orang itu tetap sah, tetapi kalau dia mengqashar shalatnya maka dia berdosa.
Sedangkan safar yang hukumnya makruh, Mazhab Al-Hanabilah tetap tidak memperbolehkan, tetapi
Mazhab Al-Malikiyah dan As-syafi'iyah
memperbolehkan.
4. Melewati Batas Tempat Tinggal
muka | daftar isi
dilakukan meski belum mencapai jarak yang telah ditetapkan. Asalkan sejak awal niatnya memang akan menempuh jarak sejauh itu.
Shalat qashar sudah bisa dimulai ketika musafir itu sudah keluar dari kota atau wilayah tempat tinggal, tetapi belum boleh dilakukan ketika masih di rumahnya.
Rasulullah SAW tidak mulai mengqashar shalatnya kecuali setelah beliau meninggalkan Madinah.
هتْيَلَص
َرْهُّظلا
َعَم
لوهسَر
اَللّا
اةَنيادَمْلابِ
اًعَ بْرَأ
هتْيَلَصَو
ههَعَم
َرْصَعْلا
ياذاب
اةَفْ يَلهْلْا
اْينَتَعْكَر
Dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata,"Aku shalat Dzuhur bersama Rasulullah SAW di Madinah 4 rakaat, dan shalat Ashar bersama beliau di Dzil Hulaifah 2 rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Punya Tujuan Pasti
Safar itu harus punya tujuan pasti, bukan sekedar berjalan tak tentu arah dan tujuan.
Misalnya, orang yang melakukan perburuan hewan atau mengejar hewan yang lepas, dimana dia tidak tahu mau pergi kemana tujuan perjalanannya.
Kalau ada orang masuk tol dalam kota Jakarta, lalu memutari Jakarta dua putaran, maka dia sudah menempuh jarak kurang lebih 90 Km. Namun orang ini tidak disebut sebagai musafir. Alasannya karena apa yang dilakukannya itu tidak punya tujuan yang
muka | daftar isi
pasti.
Demikian juga dengan pembalap di sirkuit. Meski jarak yang ditempuhnya ratusan kilmometer, tetapi kalau lokasi hanya berputar-putar di sirkuit itu saja, juga bukan termasuk musafir. Alasannya, karena tidak ada tujuannya kecuali hanya berputar-putar belaka.
F. Penyebab Bolehnya Qashar & Berakhirnya
1. Penyebab Bolehnya Qashar
Para ulama umumnya sepakat bahwa mengqashar shalat itu hanya boleh dilakukan karena satu sebab saja, yaitu safar atau perjalanan.
Di luar perjalanan, maka tidak ada keringanan atau kebolehan untuk mengerjakan shalat dengan cara dikurangi rakaatnya dari empat menjadi tinggal dua rakaat.
Perbedaan antara qashar dengan jama' adalah bahwa safar adalah satu-satunya penyebab dibolehkannya qashar. Sedangkan jama' masih punya penyebab yang lain di luar safar, seperti sakit, hujan, dan lainnya.
هج ْمهكْيَلَع َسْيَلَ ف اضْرَلأا افِ ْمهتْ بَرَض اَذاإَو
َنام ْاوهرهصْقَ ت نَأ ٌحاَن
ْاوهناَك َنيارافاَكْلا َناإ ْاوهرَفَك َنياذَلا همهكَناتْفَ ي نَأ ْمهتْفاخ ْناإ اةَلاَصلا
اًنيابُّم اًّوهدَع ْمهكَل
muka | daftar isi
tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. An-Nisa : 110)
Meski pun ayat Al-Quran yang menjadi dasar qashar itu ketika takut musuh melakukan penyerangan, namun bukan berarti dibolehkan qashar hanya terbatas pada perang yang berlangsung.
Yang disepakati para ulama bukan perangnya, tetapi perjalanan itu sendiri, baik karena perang atau pun bukan karena perang. Yang penting perjalanan itu memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
Maka bisa kita simpulkan bahwa ketika seseorang berstatus musafir, maka dia boleh mengqashar shalat. Sebaliknya, bila statusnya sebagai musafir sudah berakhir, atau malah belum menyandang status musafr, maka qashar tidak diperkenankan.
Mazhab Asy-Syafi'iyah mengatakan bahwa
kebolehan mengqashar shalat disyaratkan harus dalam keadaan safar sepanjang shalat itu berlangsung. Berarti shalat itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan safar sejak dari awal mulai shalat hingga salam.
Maksudnya, jangan sampai safar sudah selesai ketika shalatnya sedang berlangsung. Hal ini bisa terjadi baik secara fisik atau secara niat.
muka | daftar isi
Ada beberapa hal yang menyebabkan safar yang dilakukan oleh seseorang berakhir secara sah, antara lain dengan tiba kembali di rumah atau di tempat tinggal asli, atau dengan niat bermukim, atau tinggal sementara tetapi melewati batas waktu.
a. Tiba di Rumah
Contoh secara fisik misalnya, orang yang shalat qashar di dalam kapal dan kapalnya bergerak pulang menuju negerinya. Dalam hal ini, kalau kapal sudah bersandar di dermaga, maka hukum safarnya sudah selesai. Maka mengqashar shalat tidak lagi berlaku kalau kapal terlanjur bersandar.
b. Niat Bermukim
Contoh secara niat adalah bila seseorang dalam safarnya tiba-tiba berubah niat untuk mukim di tempat tersebut. Meski secara fisik dia masih ada dalam perjalanan, tetapi kalau di hatinya ada niat bahwa dia akan menetap di tempat itu, maka status safarnya berubah. Maka kalau niatnya itu muncul saat masih shalat, dia harus menggenapkan rakaatnya.
c. Niat Tinggal Sementara Tapi Melewati Batas Waktu
Ketika seorang musafir berhenti di satu titik dalam waktu yang cukup lama, apakah masih melekat pada dirinya status musafir? Berapa lama waktu yang ditolelir buat seorang masih dianggap musafir padahal dia diam di suatu tempat?
muka | daftar isi
menjama' dan mengqashar shalatnya, ada beberapa perbedaan pendapat di antara para fuqaha.
Imam Malik dan Imam As-Syafi'i berpendapat bahwa masa berlakunya qashar bila menetap disuatu tempat selama 4 hari.
Sedangkan Imam Abu Hanifah dan At-Tsauri berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat selama 15 hari.
Dan Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud berpendapat bahwa masa berlakunya jama' dan qashar bila menetap disuatu tempat lebih dari 4 hari, maka selesailah masa jama' dan qasharnya.
Adapun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar.
Ibnul Qayyim berkata,
Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat”.
Ibnu Abbas berkata :
Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna”. (HR. Bukhari)
muka | daftar isi
Bab 2 : Menjama' Shalat
A. Pengertian 1. Bahasa
Secara bahasa, kata jama’ (عمج) berarti
menggabungkan, menyatukan atau pun
mengumpulkan.
Di dalam Al-Quran disebutkan kata jam’u (عمج) ketika mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang turun tidak beraturan.
ههَنآْره قَو ههَعَْجَ اَنْ يَلَع َناإ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. (QS. Al-Qiyamah : 17)
2. Istilah
Sedangkan secara istilah, shalat jama’ itu adalah : melakukan dua shalat fardhu, yaitu Dzhuhur dan Asar, atau Maghrib dan Isya’ secara berurutan pada salah satu waktunya.
Di luar dari yang didefinisikan di atas, maka bukan termasuk shalat jama’ yang dimaksud.
Shalat Dzhur tidak bisa dijama’ kecuali hanya dengan Ashar dan begitu juga sebaliknya. Shalat
muka | daftar isi
Marghrib tidak boleh dijama’ kecuali hanya dengan shalat Isya’.
Orang yang terlambat mengerjakan shalat karena waktunya sudah terlewat, maka dia wajib segera mengerjakan shalat yang terlewat itu. Dan setelah dia mengerjakan shalat fardhu untuk waktu berikutnya.
B. Dalil Masyru'iyah
Para ulama semuanya sepakat bahwa menjama' dua shalat itu disyariatkan dalam agama Islam. Khususnya shalat Dzhuhur dijama' dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dijama' dengan Shalat Isya'.
Dasar masyru'iyahnya memang tidak disebutkan secara khusus di dalam Al-Quran Al-Karim. Namun di dalam hadits-hadits nabawi kita menemukan banyak sekali keterangan tentang jama' shalat ini. Salah satunya adalah jama' shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika melaksanakan haji wada' di tahun kesepuluh hijriyah, sebagaimana disebutkan di dalam hadits Jabir radhiyallahuanhu berikut ini .
َذَأ َهث َساَنلا َبَطَخَف ياداَوْلا َنْطَب ىَتَأَف
َرْهُّظلا ىَلَصَف َماَقَأ َهث َن
اًئْ يَش اَمههَ نْ يَ ب لَصهي َْلََو َرْصَعْلا ىَلَصَف َماَقَأ َهث
Lalu beliau SAW mendatangi wadi dan berkhutbah di depan manusia. Kemudian Bilal beradzan, kemudian iqamah dan shalat Dhuhur, kemudian iqamah dan shalat Ashar, dan tidak shalat sunnah diantara keduanya. (HR. Muslim)
muka | daftar isi
اَللّا لوهسَر َناَك
َرَخَأ هسْمَشلا َغيازَت ْنَأ لْبَ ق لََتَْرا اَذاإ
َرْهُّظلا
اَمههَ نْ يَ ب َعَمَجَف لَزَ ن َهث ارْصَعْلا اتْقَو َلاإ
Rasulullah SAW bila bepergian sebelum matahari tinggi, beliau akhirkan Dzhuhur ke Ashar kemudian beliau turun dari unta dan menjama' keduanya.
َهث َرْصَعْلاَو َرْهُّظلا ىَلَص لاَتَْرَ ي ْنَأ لْبَ ق هسْمَشلا اتَغاَز ْناإَف
َباكَر
Bila matahari sudah di atas sebelum bepergian, beliau shalat Dzhuhur dan Ashar, kemudian naik unta.
َناَك
َرْصَعْلاَو َرْهُّظلا ىَلَص هسْمَشلا اتَلاَزَ ف رَفَس افِ َناَك اَذاإ
لََتَْرا َهث اًعياَجَ
Rasulullah dalam safar, ketika matahari tergelincir, beliau shaalt Dzhuhur dan Ashar dijama' kemudian berangkat.
َم اَنْجَرَخ
ا ابَنلا َع
َرْصَعْلاَو َرْهُّظلا يا لَصهي َناَكَف َكوهبَ ت اةَوْزَغ افِ
اًعياَجَ َءاَشاعْلاَو َبارْغَمْلاَو اًعياَجَ
Kami bepergian bersama Rasulullah SAW dalam perang Tabuk, saat itu Rasulullah SAW shalat Dzhuhur dan Ashar dijama', demikian juga Maghrib dan Isya' dijama'.
muka | daftar isi
C. Pembagian Shalat Jama’
Jama’ bisa kita bagi berdasarkan shalatnya dan kapan dikerjakannya.
1. Berdasarkan Shalat Yang Boleh Dijama’
Shalat yang disyariatkan untuk bisa dijama’ hanya ada dua, yaitu :
a. Shalat Zhuhur Dijama’ Dengan Ashar
Shalat Zhuhur hanya boleh dijama’ dengan shalat Ashar. Tidak boleh dijama’ dengan Shubuh, Maghrib atau Isya.
Sedangkan shalat Jumat, apakah boleh dijama’ dengan Ashar, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan tidak boleh, sebagian lagi boleh. Dan sebagian lagi menyebutkan bahwa kebolehannya hanya apabila seseorang berniat shalat Dzhuhur meski ikut dalam barisan shaf shalat Jumat.
b. Shalat Maghrib Dijama’ Dengan Isya’
Shalat yang juga boleh dijama’ selain Dzhuhur dengan Ashar adalah jama antara shalat Maghrib dan Isya’.
2. Berdasarkan Waktu Pengerjaannya
Selain pembagian di atas, dari segi kapan dikerjakan shalat jama’ ini juga bisa dibagi berdasarkan kapan shalat jama; ini dikerjakan.
a. Jama’ Taqdim
muka | daftar isi
pada waktu shalat yang pertama.
Bentuknya ada dua. Pertama shalat Zhuhur dilakukan langsung berurutan dengan shalat Ashar, yang dilakukan pada waktu Zhuhur. Dan kedua, shalat Maghrib dan shalat Isya' dilakukan secara berurutan pada waktu Maghrib.
b. Jama’ Ta’khir
Sedangkan jama’ ta’khir adalah kebalikan dari jama’ taqdim, yaitu melakukan dua shalat fardhu pada waktu shalat yang kedua.
Bentuknya juga ada dua. Pertama shalat Zhuhur dilakukan langsung berurutan dengan shalat Ashar, yang dilakukan pada waktu Ashar. Dan kedua, shalat Maghrib dan shalat Isya' dilakukan secara berurutan pada waktu Isya’.
D. Sebab-sebab Dibolehkannya Jama'
Seluruh ulama sepakat bahwa menjama' shalat itu memang disyariatkan dalam agama. Namun mereka berbeda pendapat tentang sebab-sebab yang membolehkan dua shalat dijama' menjadi satu.
Perbedaan pendapat ini terjadi lantaran
perbedaan cara menerima dalil. Sebagian ulama ada yang agak ketat dalam menerima dalil, sehingga bila dalil tidak benar-benar qath'i, maka dalil itu akan ditolaknya. Dan sebagian lainnya agak memudahkan, sehingga walaupun dalilnya masih bersifat asumsi, tetap diterima.
Sebut saja misalnya mazhab Asy-syafi'iyah yang terbilang agak ketat dalam menerima dalil kebolehan
muka | daftar isi
menjama' shalat. Hal itu karena dalam pandangan mazhab ini, dalill-dalil yang menyebutkan bahwa shalat harus dikerjakan pada waktunya adalah dalil yang amat kuat dan qath'i. Dan tidak bisa digeser atau dikalahkan hanya dengan dalil-dalil yang lemah. Di antara sebab-sebab yang membolehkan jama' dan disepakati ulama adalah haji dan safar. Sedangkan sebab lainnya seperti sakit, haji, hujan, takut atau tanpa sebab yang pasti, hukumnya masih menjadi diperdebatkan para ulama.
E. Haji
Seluruh ulama sepakat bahwa penyebab dibolehkannya menjama' shalat yang tidak ada khilafiyahnya adalah ketika melaksanakan ibadah haji. Bahkan sebagian ulama ada yang sampai mewajibkan, walaupun ini bukan pendapat yang disepakati.
Disebutkan bahwa Rasulullah SAW ketika melaksanakan ritual ibadah haji pada tahun
kesepuluh hijriyah, beliau menjamak dan
mengqashar shalatnya selama empat hari sejak tanggal 9 hingga 12 bulan Dzulhijjah.
Di dalam hadits terkenal yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu tentang haji Rasulullah SAW disebutkan :
َرْهُّظلا ىَلَصَف َماَقَأ َهث َنَذَأ َهث َساَنلا َبَطَخَف ياداَوْلا َنْطَب ىَتَأَف
اًئْ يَش اَمههَ نْ يَ ب لَصهي َْلََو َرْصَعْلا ىَلَصَف َماَقَأ َهث
muka | daftar isi
Lalu beliau SAW mendatangi wadi dan berkhutbah di depan manusia. Kemudian Bilal beradzan, kemudian iqamah dan shalat Dhuhur, kemudian iqamah dan shalat Ashar, dan tidak shalat sunnah diantara keduanya. (HR. Muslim)
Dari Abi Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah SAW menjama' Maghrib dan Isya' di Muzdalifah pada haji wada'. (HR. Bukhari).
Para jamaah haji disyariatkan untuk menjama' dan mengqashar shalat Zhuhur dan Ashar ketika berada di Arafah, serta menjama' shalat Maghrib dan Isya' di Muzdalifah.
Bahkan ada pendapat bahwa satu-satunya peristiwa dimana Rasulullah SAW menjama' shalat hanya pada saat haji ini saja.
ابَنلا تْيَأَر اَم
َلاإ اَاتِاَقيام اْيرَغال ًةَلاَص ىَلَص
َعََجَ اْينَتَلاَص
َةَفالَدْزهابِ ْيَأ عْمَابِ اءاَشاعْلاَو ابارْغَمْلا َْينَب
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu,"Aku tidak pernah melihat Nabi SAW shalat yang bukan pada waktunya kecuali dua shalat yang dijama' antara Maghrib dan Isya', yaitu di Muzdalifah. (HR. Bukhari dan Muslim)
F. Safar
Syarat yang harus ada dalam perjalanan itu menurut ulama fiqih antara lain :
muka | daftar isi
Yang dimaksud dengan niat safar adalah seseorang memang menyengaja untuk melakukan perjalanan, sebagaimana lazimnya orang yang mau melakukan perjalanan jauh.
Maka orang yang terbawa atau diculik ke tempat yang jauh tidak termasuk mereka yang berniat safar. Begitu juga orang yang lari dari kejaran musuh atau hewan buas sampai menempuh tempat yang jauh, pada hakikatnya tidak berniat untuk melakukan safar.
Dan termasuk yang tidak bisa dibilang sebagai safar dengan niat adalah para pemburu yang membuntuti hewan buruannya hingga menempuh jarak yang cukup jauh, bila memang tidak berniat melakukan safar sejak awal, maka safarnya itu dianggap bukan safar yang membolehkan jama'.
2. Memenuhi Jarak Minimal
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa umumnya para ulama menyebutkan bahwa jarak minimal dibolehkannya safar yaitu 4 burd atau 16 farsakh. Angka itu kalau kita konverikan di masa sekarang ini setara dengan jarak 88, 656 km. Dan ada juga yang menghitung menjadi 88,705 km.
Meski pun ada sebagian ulama berbeda dalam menentukan jarak minimal. Misalnya mazhab Al-Hanafiyah yang menyebutkan jarak 3 hari perjalanan. Maka angka itu kalau kita konversikan di masa sekarang berjarak kurang lebih 133 - 135 km.
muka | daftar isi
Tidak dinamakan safar kecuali seseorang telah keluar dari rumahnya dan berangkat meninggalkan wilayah tempat tinggalnya.
Di masa Rasulullah SAW, batas seseorang dianggap sudah menjadi musafir adalah ketika dia melewati pagar tembok batas kota Madinah.
4. Bukan Safar Maksiat
Safar yang dibolehkan buat kita untuk mengqashar shalat haruslah sebuah safar yang sejak awal memang diniatkan untuk hal-hal yang mubah atau dibolehkam. Sedangkan safaf yang sejak awalnya sudah diniatkan untuk hal-hal yang haram dan tidak diridhai Allah SWT, tidak diberikan keringanan untuk mengqashar shalat.
Syarat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama kecuali Al-Hanafiyah yang mengatakan apapun tujuan safar, semua membolehkan qashar.
Sedangkan As-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah
mewakili kalangan jumhur ulama mengatakan seorang yang melakukan safar dalam rangka bermaksiat kepada Allah, bila dia shalat maka tidak sah shalatnya. Alasannya, karena seperti orang yang tahu bahwa dirinya dalam keadaan hadats (tidak punya wudhu') tetapi tetap shalat juga.
Sedangkan buat Al-Malikiyah, orang itu bila mengqashar shalatnya akan berdosa, meski shalatnya tetap sah.
Sedangkan safar yang hukumnya makruh, bagi Al-Hanabilah tetap tidak memperbolehkan, sedangkan
muka | daftar isi
Al-Malikiyah dan As-syafi'iyah memperbolehkan.
5. Punya Tujuan Pasti
Safar itu harus punya tujuan pasti, bukan sekedar berjalan tak tentu arah dan tujuan.
Misalnya, orang yang melakukan perburuan hewan atau mengejar hewan yang lepas, dimana dia tidak tahu mau pergi kemana tujuan perjalanannya.
Kalau ada orang masuk tol dalam kota Jakarta, lalu memutari Jakarta dua putaran, maka dia sudah menempuh jarak kurang lebih 90 Km. Namun orang ini tidak disebut sebagai musafir. Alasannya karena apa yang dilakukannya itu tidak punya tujuan yang pasti.
Demikian juga dengan pembalap di sirkuit. Meski jarak yang ditempuhnya ratusan kilmometer, tetapi kalau lokasi hanya berputar-putar di sirkuit itu saja, juga bukan termasuk musafir. Alasannya, karena tidak ada tujuannya kecuali hanya berputar-putar belaka.
G. Sakit
Meskipun ada sebagian ulama yang menjadikan sakit sebagai salah satu penyebab dibolehkannya kita menjama' shalat, namun sebagian ulam lain ada yang berpendapat sebaliknya.
Al-Imam An-Nawawi dari mazhab Asy-Syafi'iyyah menyebutkan bahwa sebagian imam berpendapat membolehkan menjama' shalat saat mukim (tidak safar) karena keperluan tapi bukan menjadi
muka | daftar isi
kebiasaan1. 1. Boleh
Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan jama' karena disebabkan sakit. Begitu juga Imam Malik dan sebagian pengikut Asy-Syafi'iyyah.
Sedangkan dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah dari mazhab Al-Hanabilah menuliskan bahwa sakit adalah hal yang membolehkan jama' shalat. Syeikh Sayyid Sabiq menukil masalah ini dalam Fiqhussunnah-nya.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Sirin dan Asyhab dari kalangan Al-Malikiyah. Begitu juga Al-Khattabi menceritakan dari Al-Quffal dan Asysyasyi al-kabir dari kalangan Asy-Syafi'iyyah.
Begitu juga dengan Ibnul Munzir yang menguatkan pendapat dibolehkannya jama' ini dengan perkataan Ibnu Abbas ra, “beliau tidak ingin memberatkan ummatnya”.
Allah SWT berfirman :
جَرَح ْنام انيا دلا افِ ْمهكْيَلَع َلَعَج اَمَو
“Allah tidak menjadikan dalam agama ini kesulitan”. (QS. Al-Hajj : 78)
َلَع َسْيَل
لأا ى
ىَلَع لَو ٌجَرَح ىَمْع
لأا
اجَرْع
ىَلَع لَو ٌجَرَح
ٌجَرَح اضيارَمْلا
muka | daftar isi
Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak bagi orang pincang, tidak bagi orang sakit. (QS. Annur : 61)
2. Tidak Boleh
Namun mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah menolak kebolehan menjama' shalat karena sakit. Alasannya karena tidak ada riwayat yang qath'i dari Rasulullah SAW tentang hal itu.
Al-Imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Majmu'
Syarah Al-Muhadzdzab menyebutkan :1
َابَنلا َنَأ
اًيارَص اضَرَمْلابِ هههعَْجَ ْلَقْ نه ي َْلََو ًةَيراثَك اًضاَرْمَأ َضارَم
Nabi SAW mengalami beberapa kali sakit, namun tidak ada riwayat yang sharih bahwa beliau menjama' shalatnya.
Dan mazhab Asy-syafi'i termasuk mazhab yang agak ketat dalam masalah kebolehan menjama'. Maka kalau alasannya hanya sakit, angin, gelap malam, takut ataupun lumpur, tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menjama'.
اقهرهطَو ا ياعافاَشلا اصوهصهن ْنام هفوهرْعَمْلاَو ابَهْذَمْلا افِ هروههْشَمْلا
لَو اةَمْلُّظلاَو احيا رلاَو اضَرَمْلابِ هعْمَْلْا هزوهَيَ ل ههَنَأ : اباَحْصَلأا
الَحَوْلا لَو افْوَْلا
1 An-Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 4 hal.
muka | daftar isi
Pendapat yang masyhur dalam mazhab dan yang ma'ruf dalam nash-nash Asy-syafi'i serta taruq para ashab adalah tidakk boleh menjama' karena sakit, angin, gelap malam, takut ataupun lumpur.
Alasannya adalah karena keharusan mengerjakan shalat pada waktunya adalah hal yang bersifat qath'i serta didukung oleh dalil Al-Quran dan As-Sunnah. Maka kalau tidak ada dalil yang benar-benar sharih menyebutkannya kebolehan melanggar waktu-waktu shalat, hukumnya tetap tidak boleh.
Sedangkan dalil-dalil yang digunakan oleh para pendukung kebolehan jama' karena sakit adalah dalil yang tidak kuat, karena hanya bersifat asumsi. Haditsnya hanya menyebutkan bahwa beliau SAW menjama' bukan karena takut dan bukan karena safar. Itu saja yang disebutkan. Tetapi kemudian ditafsirkan menjadi : kemungkinan karena sakit.
Maka kedudukan sakit dalam hal ini cuma sebatas
asumsi dan kemungkinan. Namun pada
kenyataannya, tidak ada satu pun dalill yang dengan tegas menyebutkan bahwa baliau SAW menjama karena sakit. Maka asumsi dan anggapan tidak bisa dijadikan hujjah dalam pandangan mazhab Asy-syafi'iyah ini.
H. Hujan
Umumnya para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menjama' shalat karena hujan. Sebagian ulama memang membolehkannya, namun masing-masing mengajukan syarat yang cukup ketat, namun
muka | daftar isi
berbeda-beda.
1. Dalil
Di antara penyebab mengapa syarat yang diajukan berbeda-beda, karena dalil-dalil yang digunakan tidak secara tegas menyebutkan syarat dan batasan-batasannya.
a. Dalil Pertama
Dasarnya adalah sebuah hadits yang dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dimana hadits itu menyebutkan bahwa pernah Rasulullah SAW menjama' shalat Dzhuhur dengan Ashar, serta shalat Maghrib dengan Isya' di kota Madinah.
اَللّا لوهسَر ىَلَص
َنيادَمْلابِ
َبارْغَمْلاَو اًعياَجَ َرْصَعْلاَو َرْهُّظلا اة
رَفَس َلَو فْوَخ اْيرَغ ْنام ٌمالْسهم َداَز اًعياَجَ َءاَشاعْلاَو
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu Bahwa Rasulullah SAW di Madinah menjama' shalat Dzhuhur dan Ashar serta menjama' shlat Maghrib dan Isya'. Imam Muslim menambahkan,"Itu dilakukan bukan karena takut atau safar.” (HR. Muslim)
Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi'i
rahimahumallah, keduanya memandang riwayat tambahan dari Imam Muslim yang menegaskan bahwa jama' itu terjadi bukan karena takut dan juga bukan karena safar, padahal jama' itu dilakukan di dalam kota Madinah, maka kemungkinan hal itu dilakukan karena terjadinya hujan.
muka | daftar isi
Namun jumhur ulama tidak menerima tambahan riwayat dari Imam Muslim bahwa hal itu terjadi bukan karena takut dan safar. Sebab riwayat itu menyelisihi riwayat jumhur.
b. Dalil Kedua
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu Bahwa Rasulullah SAW shalat di Madinah tujuh atau delapan ; Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'”. Ayyub berkata,”Barangkali pada malam turun hujan?”. Jabir berkata,”Mungkin”. (HR. Bukhari dan Muslim) c. Dalil Ketiga
Dari Nafi' maula Ibnu Umar berkata,”Abdullah bin Umar bila para umaro menjama' antara maghrib dan isya' karena hujan, beliau ikut menjama' bersama mereka”. (HR. Ibnu Abi Syaibah).
2. Mazhab Al-Hanafiyah
Sejak awal mazhab Al-Hanafiyah tidak
membolehkan jama' shalat kecuali hanya karena satu sebab saja, yaitu ketika haji di Arafah dan Mina saja. Alasannya karena yang punya dasar masyru'iyah qath'i dari Rasulullah SAW hanya sebatas pada haji saja.
Sedangkan di luar Arafah dan Mina pada saat haji itu, mazhab ini mengaku tidak menemukan dalil qath'i yang memperbolehkan shalat jama'. Dalil-dalil yang digunakan oleh mazhab lain dianggap kurang kuat untuk dijadikan alasan keboleh menjama' shalat.
muka | daftar isi
Maka dalam mazhab ini shalat jama' tidak dibenarkan kalau alasannya hanya sekedar safar, sakit, hujan, dan lainnya.
3. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah membolehkan hujan
dijadikan alasan untuk menjama' shalat, namun ada syarat yang harus dipenuhi untuk kebolehannya, yaitu :
a. Masyaqqah : Maghrib dan Isya
Shalat jama' itu hanya sebatas shalat Maghrib dan Isya' saja. Sedangkan Dzhuhur dan Ashar, meski turun hujan, tidak diperkenankan untuk dijama'. Alasannya karena dalam Shalat Dzhuhur dan Ashar tidak ada masyaqqah.
Padahal syarat kebolehannya adalah harus adanya masyaqqah yang lebih dari biasanya (ةقشملا ديزم) untuk kebolehan menjama' kedua shalat itu. Disebutkan di dalam kitab Minah Al-Jalil :
ةعامجلا عم اهراتخم يف ءاشعلا ةلاص يف ةقشملا ديزمل ًابدن صخرو دجسملا يف ظلا لا يأ ،طقف ميدقت عمج نيب ءاشعلا عمج يف مدعل نيره ةلاص يف ةقشملا ديزم ًابلاغ اهراتخم يف امهنم لك ...
Dan diberi keringanan secara nadab (sunnah) karena sebab tambahan masyaqqah dalam kaitan shalat Isya' dalam pilihannya dilakukan secara berjamaah di masjid sebatas hanya dengan menjama' taqdim saja. Artinya tidak berlaku pada Dzhuhur dan Ashar, karena ketiadaan tambahan masyaqqah dalam shalat pada keduanya dalam
muka | daftar isi
pilihannya secara umum. 1
b. Hanya Jama' Taqdim
Yang dibolehkan hanya sebatas jama' taqdim saja. Sedangkan kalau jama' ta'khir hukumnya tetap tidak dibenarkan.
3. Mazhab Asy-Syafi'iyah
Mazhab Asy-Syafi'iyah juga ikut membolehkan hujan dijadikan alasan untuk menjama' shalat, namun ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi untuk kebolehannya. Ketentuan yang diajukan oleh mazhab Asy-Syafi'iyah terkait dengan menjama' shalat karena hujan cukup banyak, antara lain :
a. Termasuk Dzhuhur dan Ashar Juga
Yang dibolehkan untuk dijama' dalam mazhab Asy-Syafi'iyah bukan hanya sebatas Maghrib dan Isya' saja, tetapi juga termasuk Dzhuhur dan Ashar juga.
Dalam hal ini mazhab Asy-Syafi'iyah tidak menganggap bahwa masyaqqahnya adalah waktu Maghrib dan Isya', melainkan masyaqqah adalah hujan itu sendiri, sehingga bila hujan terjadi di waktu Dzhuhur pun sudah bisa dijadikan alasan kebolehan menjama'nya dengan Ashar.
b. Jama' Taqdim
Namun bentuk jama' yang dibenarkan dalam mazhab Asy-syafi'iyah hanya sebatas pada jama'
muka | daftar isi
taqdim saja, sedangkan bila dikerjakan dengan cara menjama' ta'khir tidak dibenarkan.
c. Shalat Berjamaah
Selain itu shalat yang boleh dijama' itu hanya dilakukan secara berjamaah. Sedangkan bila dilakukan tidak berjamaah, alias shalat sendirian, maka hukumnya tidak dibenarkan.
d. Masjid
Shalat jama' itu hanya boleh dilakukan di dalam masjid saja, sedangkan bila dilakukan di dalam rumah sendiri, meski dilakukan dengan cara berjamaah, maka hukumnya tidak diperbolehkan untuk menjama'nya.
e. Masyaqqah
Syarat terakhir adalah harus adanya masyaqqah yang menghalangi seseorang untuk datang ke masjid. Dan untuk syarat masyaqqah ini Al-Imam An-Nawawi menjelaskan detailnya di dalam Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab.
يلصي نمل زوجي هريغو جلثلا نم هانعم يف امو رطملا رذعب عمجلاو يف هقيرط يف رطملاب ىذأتيو دعب نم هدصقي دجسم Menjama' shalat karena hujan air atau salju dan sejenisnya dibolehkan bagi yang shalatnya di masjid yang diniatkan sebelumnya dan mendapatkan halangan hujan dalam perjalanannya. 1
muka | daftar isi ًادرفنم هتيب يف يلصي نم امأف يف دجسملا ىلإ يشمي وأ ةعامج وأ ىلص وأ هراد باب يف دجسملا ناك وأ نكر وأ نهتويب يف ءاسنلا يف لاجرلا ؟ عمجلا زوجي لهف ًادارفأ ديعبلا دجسملا
Sedangkan orang yang shalatnya di rumah sendirian atau berjamaah, ataupun berjalan ke masjid padahal masjid terletak di depan pintu rumahnya, atau wanita yang shalat di rumahnya atau laki-laki tetapi masjidnya jauh tanpa berjamaah, apakah dibolehkan menjama'nya?
Dalam hal ini ada perbedaan sebagaimana disampaikan oleh jamaah dari Khuasaniyyin dengan dua wajah.
▪ Pendapat Pertama : Tidak Boleh
Perdapat pertama yang lebih shahih adalah bahwa hal itu tidak diperbolehkan. Teksnya terdapat dalam kitab Al-Umm dan juga merupaka qaul qadim. Di antara yang mendukungnya adalah Al-Imam Haramain, Baghawi, Ar-Rafi'i, Muhamili dan Al-Jurjani.
Alasannya karena jama' hanya diperbolehkan dengan alasan masyaqqah untuk bisa berjamaah. Dan kondisi di atas belum memenuhi syarat tersebut.
▪ Pendapat Kedua : Boleh
Pendapat kedua membolehkan, dengan alasan bahwa Rasulullah SAW pernah menjama' shalat itu, padahal pintu rumah istri-istri beliau tepat berada di hadapan masjid.
muka | daftar isi
pendukung pendapat yang tidak membolehkan, dengan argumentasi bahwa hanya rumah Aisyah saja yang pintunya dekat masjid, sedangkan pintu rumah istri-istri yang lainnya tidak demikian.
4. Mazhab Al-Hanabilah
Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Hanabilah tentang menjama' shalat karena hujan adalah sebagai berikut :
a. Termasuk Dzhuhur dan Ashar Juga
Yang dibolehkan untuk dijama' dalam mazhab Asy-Syafi'iyah bukan hanya sebatas Maghrib dan Isya' saja, tetapi juga termasuk Dzhuhur dan Ashar juga. Dalam hal ini pendapat Al-Hanabilah menyamai pendapat Asy-syafi'iyah dan menyelisihi pendapat Al-Hanafiyah.
b. Jama' Ta'khir Juga Boleh
Yang menarik dalam mazhab Al-Hanabilah ini adalah bahwa yang dibenarkan bukan hanya jama' taqdim saja, tetapi jama' ta'khir pun juga dibolehkan. Dengan demikian, mazhab Al-Hanabilah boleh dikatakan sebagai satu-satunya mazhab yang membolehkan jama' takhir, dalam kasus hujan sebagai penyebab.
Di dalam kitab Matan Al-Iqna' disebutkan :
زوجيو عمجلا يأ ا نيب داز ،بايثلا لبي رطمل نيرهظلا لا ءاشعل وأ عمج لظلا لا ةقشم هعم دجوتو ،ندبلا وأ لعنلا عمجلا هل حابي لاف دربو جلثلو وأ هتيب يف يلصي نمل ىتح ةدراب ةديدش حيرو لحوو طاباس تحت هقيرط دجسم يف هوحنو دجسملا يف ميقملو .