BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANGPembangunan bidang sanitasi di Kabupaten Majalengka dilakukan oleh SKPD sesuai dengan tupoksinya melalui serangkaian program dan kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat dibidang layanan sanitasi. Namun hingga saat ini, permasalahan sanitasi masih belum sepenuhnya dapat diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Majalengka.
Sektor Sanitasi merupakan sektor yang termasuk tertinggal jika dibandingkan dengan sektor lain. Berdasarkan data yang dirilis oleh UNDP dan ASIA Pacific MDGs Report 2010, disampaikan bahwa akses sanitasi layak indonesia menempati angka ke 8 dari 10 Negara Asia Tenggara dan termasuk dalam kategori terlambat. Kondisi ini merupakan salah satu alasan bagi pemerintah untuk secara nasional melaksanakan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).
Program PPSP merupakan prograrm yang bertujuan untuk memprioritaskan pembangunan sanitasi melalui pendekatan penyusunan dokumen perencanaan sanitasi sebelum pelaksanaan tahap implementasi. Adapaun tahapan pelaksanaan PPSP adalah sebagai berikut:
1) Sosialisasi, Advokasi dan Kampanye. 2) Penguatan Kelembagaan.
3) Penyususnan dokumen Perencanaan Saniatsi ; Buku Putih Sanitasi (BPS) dan Strategi Sanitasi Kota (SSK).
4) Penyususnan Memorandum Program Sektor Sanitasi (MPS) 5) Implementasi Pembangunan Sanitasi.
6) Monitoring dan Evaluasi
Kabupaten Majalengka melalui Pokja Sanitasi telah menyusun beberapa dokumen sanitasi antara lain :
1. Buku Putih Sanitasi yang disusun pada tahun 2012, dokumen ini memuat profil sanitasi yang terdiri dari kondisi eksisting sanitasi, dasar hukum untuk pemenuhan layanan sanitasi serta kelembagaan pengelola sanitasi yang ada di Kabupaten Majalengka.
2. Strategi sanitasi Kabupaten yang disusun pada tahun 2012, dokumen ini memuat potensi dan masalah terkait pembangunan sanitasi sehingga didapatkan strategi pembangunan
3. Memorandum Program Sektor Sanitasi yang disusun pada tahun 2013, dokumen ini memuat program dan kegiatan pembangunan sanitasi serta sharing pendanaan baik dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten selama 5 (lima) tahun yaitu tahun 2013 – 2017.
Dokumen sanitasi yang telah disusun tersebut sangat relevan untuk dijadikan acuan dalam perencanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten Majalengka. Hal ini dikarenakan, dokumen sanitasi tersebut mampu memetakan kondisi nyata di lapangan melalui beberapa kajian atau studi, diantaranya studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) sehingga didapatkan area-area beresiko sanitasi rendah maupun tinggi. Strategi Sanitasi Kabupaten Majalengka merupakan dokumen perencanaan strategis yang memuat rencana pembangunan sanitasi secara berkelanjutan baik dari aspek air limbah, persampahan dan drainase lingkungan. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) teknis yang menangani sanitasi melaksanakan tupoksi dalam pembangunan sanitasi mengacu pada area beresiko yang membutuhkan penanganan prioritas dengan strategi, program dan kegiatan yang telah direncanakan dalam SSK dan MPSS.
Ketiga dokumen sanitasi yang telah disusun memiliki masa berlaku selama 5 (lima) tahun dan target capaian pelayanan sanitasi berdasarkan MDG’s (Millenium Development Goals) yang berakhir pada tahun 2015. Sehingga dokumen sanitasi Kabupaten Majalengka memerlukan pemutakhiran mengingat pembangunan sanitasi yang telah dilaksanakan selama kurun waktu 2011 – 2015 tentunya profil sanitasi di Kabupaten Majalengka telah mengalami perubahan. Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) saat ini lebih mengutamakan kepada aksi nyata dalam peningkatan pelayanan sanitasi melalui pembangunan sanitasi untuk memenuhi universal access yakni 85% SPM air minum dan sanitasi serta 15% kebutuhan dasar. Selain itu target capaian dalam RPJM Nasional Tahun 2015 – 2019 cakupan akses 100% untuk air minum dan sanitasi (air limbah, persampahan dan drainase). Pemutakhiran dokumen sanitasi yang dilakukan saat ini mencakup Buku Putih Sanitasi, studi EHRA, Strategi Sanitasi Kabupaten dan Memorandum Program Sanitasi yang dimuat dalam satu dokumen sanitasi yaitu Strategi Sanitasi Kabupaten Majalengka Tahun 2016 – 2020.
Permasalahan disektor sanitasi saat ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Majalengka yang tentu saja memerlukan dukungan semua staheholder dengan pendanaan yang cukup besar. Oleh karena itu dibutuhkan suatu dokumen perencanaan untuk menentukan strategi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan sanitasi yang layak bagi masyarakat, berfungsi secara berkelanjutan, dan memenuhi standar teknis sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan yang dikenal dengan Buku Strategi Sanitasi
Dalam penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) terdapat 4 (empat ) kriteria penting yang harus dipenuhi untuk kualifikasi yaitu:
1. Disusun oleh dari, dan untuk kota dan Kabupaten 2. Komprehensif, Multisektor & terintegrasi
3. Berdasarkan data empiris (aktual)
4. Gabungan pendekatan top down dan bottom up
Rencana jangka menengah yang juga disebut Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) itu memang dibutuhkan mengingat memerlukan waktu bertahun-tahun (multi years) untuk memiliki layanan sanitasi yang memenuhi prinsip layanan Sanitasi menyeluruh. Pada tahun 2012 Kabupaten Majalengka telah menyusun Buku Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).
Program PPSP telah dilaksanakan mulai tahun 2010 - 2014 dan telah diikuti oleh 446 kabupaten/kota. Memasuki Tahun 2015 Pemerintah Indonesia akan memasuki periode RPJMN baru 2015 – 2019 yang menetapkan target baru yaitu 100% (universal access) akses sanitasi layak di akhir tahun 2019.
Namun pada tahun 2015 beberapa dokumen perencanaan sanitasi kab/kota sudah habis masa berlakunya. Dalam rangka mendukung pencapaian universal access tersebut, maka Program PPSP akan dilanjutkan kembali pada periode RPJMN selanjutnya melalui Program PPSP Tahap II 2015 – 2019. Melalui Program PPSP Tahap II, Kab/kota yang dokumen BPS, SSK dan MPS sudah habis masa berlakunya akan dilakukan updating/review kembali agar dapat segera diimplementasikan. Adapun dokumen perencanaan yang telah direview tersebut dinamai pemutakhiran SSK dan disusun dalam 1 (satu) tahun anggaran saja
pemutakhiran SSK pada dasarnya adalah proses pemutakhiran data terkait profil sanitasi serta mengidentifikasi sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan sanitasi dari rencana yang telah disusun di dalam SSK sebelumnya. Proses ini akan menghasilkan informasi terhadap kemajuan yang dicapai Kabupaten/Kota dalam pembangunan sanitasi berdasarkan rencana yang telah disusun sebelumnya. Strategi pembangunan sanitasi selanjutnya akan sepenuhnya tergantung dari informasi yang dihasilkan dari proses ini dengan tentu saja mempertimbangkan perkembangan atas kebijakan-kebijakan baru yang ada terkait sanitasi, terutama kebijakan di tingkat Pusat dan juga Provinsi.
Pemutakhiran ini perlu dilakukan mengingat beberapa kondisi di bawah ini:
Periode pelaksanaan yang tercantum dalam dokumen SSK telah melampaui masa berlaku atau telah kadaluarsa, yaitu lebih dari 5 tahun.
Peningkatan kualitas dokumen dari SSK sebelumnya yang disebabkan oleh ketidaklengkapan data maupun akibat adanya keraguan atas validitas data yang digunakan.
Adanya kebutuhan untuk mempercepat implementasi terutama terkait dengan pencapaian target Universal Access di tahun 2019.
Apabila ada penyesuaian/perubahan RPJMD yang menjadi acuan dari SSK. Perubahan RPJMD terjadi akibat adanya perubahan Kepala Daerah.
Strategi Sanitasi Kabupaten Majalengka sebagai dokumen perencanaan sanitasi tentunya harus memiliki keterkaitan dengan dokumen perencanaan di kabupaten baik itu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Majalengka. Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional disebutkan bahwa RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJMD harus bersinergi dengan RTRW sebagai dokumen penataan ruang wilayah yang memuat program kewilayahan.
Gambar 1. Keterkaitan Strategi Sanitasi Kabupaten dengan RPJMD dan RTRW Strategi sanitasi kabupaten sebagai dokumen perencanaan sektor merupakan penjabaran dari visi misi dan program sektor sanitasi yang mendukung pencapaian visi misi di dalam RPJMD Kabupaten Majalengka. Begitu pula keterkaitan antara SSK dengan RTRW, dimana SSK merupakan penjabaran program dan kegiatan sektor sanitasi yang mampu mewujudkan struktur ruang dan jaringan infrastruktur sanitasi yang ada di RTRW.
Dalam hal ini, Pemerintah mendorong kota dan kabupaten di Indonesia untuk menyusun Strategi Sanitasi Perkotaan atau Kabupaten (SSK) yang memiliki prinsip:
Berdasarkan data aktual Berskala kota atau kabupaten
Disusun sendiri oleh kota atau kabupaten (dari, oleh, dan untuk kota atau kabupaten tersebut)
1.1. Metodologi penyusunan
Metode yang dipakai dalam penyusunan Review Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) ini disusun oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Majalengka secara partisipatif dan terintegrasi lewat diskusi, lokakarya dan pembekalan baik yang dilalukan oleh Tim Pokja sendiri maupun dengan dukungan fasilitasi dari Tim Konsultan. Metode yang digunakan dalam penyusunan Review SSK ini menggunakan beberapa pendekatan dan alat bantu yang secara bertahap untuk menghasilkan dokumen perencanaan yang lengkap. Serangkaian kegiatan dan metode yang dilakukan dengan menggunakan metode sesuai milestone /Pedoman Pemutakhiran SSK sebagai berikut :
1.2.1 Metode penyusunan Review SSK ini, terdiri dari tahapan berikut :
Untuk melakukan proses pemutakhiran SSK, terdapat lima (5) proses utama yang perlu dijalani oleh Pokja Kabupaten/Kota. Proses tersebut adalah:
Proses 1 Internalisasi dan Penyamaan Persepsi Tujuan:
1) Mendapatkan kesepahaman dan kesamaan persepsi mengenai pentingnya pembangunan sanitasi serta perlunya pemutakhiran SSK
2) Menyepakati proses penyusunan, jadwal kerja, pembagian tugas dan tanggung jawab anggota Pokja.
Output:
1) Input/masukan untuk SSK, Bab 1: Pendahuluan. 2) Kesepakatan Rencana Kerja pemutakhiran SSK
Proses 2 Pemetaan Kondisi dan Kemajuan Pembangunan Sanitasi Tujuan:
- Menyepakati wilayah kajian
- Menyusun dan menyepakati profil wilayah dan profil sanitasi Kabupaten/Kota
- Memetakan kondisi sanitasi Kabupaten/Kota terkini dan permasalahan yang dihadapi - Menyepakati are besiko sanitasi
Output:
1) Tersusunnya wilayah kajian dan profil wilayah kabupaten/kota
2) Instrumen Profil Sanitasi terisi dengan data yang sumbernya disepakati oleh Pokja 3) Tersepakatinya dan tersusunnya profil sanitasi kabupaten/kota
4) Disepakatinya permasalahan mendesak yang dihadapi Kabupate untuk Air Limbah Domestik, Persampahan dan Drainase Perkotaan
5) Kesepakatan area berisiko sanitasi
6) Dituliskannya input/masukan untuk SSK, Bab 2: Profil Wilayah dan Sanitasi saat Ini.
Proses 3 Skenario Pembangunan Sanitasi Tujuan:
- Menyusun indikasi program dan kegiatan percepatan pembangunan sanitasi untuk jangka waktu lima tahun
Output:
1) Disepakatinya Visi dan Misi Sanitasi.
2) Ditetapkannya zona dan sistem sanitasi serta cakupan layanannya. 3) Perumusan tujuan dan sasaran pembangunan sanitasi.
4) Disusunnya strategi pengembangan sanitasi.
5) Disepakatinya daftar Indikasi Program dan Kegiatan Pengembangan Sanitasi. 6) Disusunnya matriks monitoring dan evaluasi capaian SSK.
7) Dituliskannya input/masukan untuk SSK, khususnya “Bab 3: Kerangka Pengembangan Sanitasi; Bab 4: Strategi Pengembangan Sanitasi, draft Bab 5 Program, Kegiatan dan Indikasi Pendanaan Sanitasi dan “ Bab 6: Monitoring dan Evaluasi Capaian SSK”.
Proses 4 Konsolidasi Penganggaran dan Pemasaran Sanitasi
Tujuan:
1) Melakukan sosialisasi program dan kegiatan serta anggaran sanitasi kepada stakesholder terkait di tingkat Kab./Kota, Provinsi dan Pusat.
2) Membangun kesepahaman dan dukungan terhadap program, kegiatan dan pendanaan pembangunan sanitasi dari berbagi pemangku kepentingan baik pemerintah maupun non-pemerintah di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat, kemudian meng-alokasikan anggaranya untuk pembangunan sanitasi didaerah.
Output:
1) Teridentifikasinya program, kegiatan dan besaran pendanaan yang diperlukan untuk mencapai sasaran.
2) Terbangunnya komitmen program, kegiatan dan indikasi sumber pendanaan pembangunan sanitasi di tingkat Kabupaten/Kota.
3) Dibahasnya daftar program, kegiatan dan indikasi sumber serta besaran pendanaan pembangunan sanitasi di tingkat Provinsi dan Pusat.
4) Teridentifikasi program, kegiatan dan indikasi besaran pendanaan yang belum ada sumber pendanaan (funding gap).
5) Tersusunnya deskripsi program/kegiatan yang belum ada sumber pendanaan (funding gap).
Proses 5 Finalisasi
Tujuan:
- Tersusunnya dokumen SSK
- Disahkannya SSK oleh Kepala Daerah
Output:
1) Tersusunnya Dokumen SSK Kabupaten/Kota
2) Teranggarkannya program dan kegiatan di dalam dokumen penganggaran Kabupaten/Kota.
3) Pengesahan SSK Kabupaten/Kota oleh Kepala Daerah yaitu Bupati/Walikota
Secara umum metode di dalam penyusunan SSK review ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu :
1. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder sektor sanitasi digunakan sebagai dasar untuk membuat pemetaan kondisi sanitasi secara aktual, serta memotret kebutuhan akan layanan sanitasi yang baik, sesuai standar kebutuhan minimal pembangunan sanitasi. Tidak hanya sekedar kompilasi, tetapi juga dilakukan proses seleksi dan verifikasi data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi dimasa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada masa kini.
2. Pengumpulan Data Primer
Data primer yang dikumpulkan meliputi : Studi Kelembagaan dan Keuangan
Penilaian Sanitasi Berbasis Masyarakat (Community-based Sanitation Assessment) Studi Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Assessment/SSA)
Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk Assessment/EHRA)
Studi Komunikasi dan Pemetaan Media Kajian Sanitasi Sekolah
3. Pendalaman data yang telah diperoleh
Dari data yang telah diperoleh, maka dilakukan verifikasi lanjutan, pengecekan silang data-data yang diperoleh dan pendalaman data tersebut dengan melaksanakan:
Pertemuan secara berkala dengan anggota Pokja yang dikoordinasikan oleh Bappeda Kabupaten Majalengka selaku Ketua Bidang Perencanaan.
Melakukan tinjauan/verifikasi lapang ke tempat-tempat yang dilayani program sanitasi baik di kawasan perkotaan dan maupun perdesaan (survey dan observasi) bila diperlukan.
Diskusi yang bersifat teknis (focus group discussion) dan mendalam juga akan dilakukan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam sanitasi. Diskusi untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi yang ada serta upaya-upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat di bidang sanitasi.
direkam secara tertulis, dan terdokumentasikan dengan baik.
1.3. Dasar Hukum
Penyusunan pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Majalengka didasarkan pada aturan-aturan dan produk hukum yang meliputi :
A. Undang-undang:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
4. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
B. Peraturan Pemerintah:
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 tentang Pengaturan Air. 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian
Pencemaran Air.
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Pengembangan Sistim Penyediaan Air Minum.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Standar Pelayanan Minimum.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. 12. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 185/2014 tentang Percepatan Penyediaan
Air Minum dan Sanitasi.
13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019.3. )Tambahkan Peraturan Provinsi
14. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 185/2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi.
15. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019.
C. Keputusan Presiden:
1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air.
D. Peraturan Menteri Republik Indonesia:
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416 Tahun 1992 tentang Persyaratan dan Pengawasan Kualitas Air.
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 294/PRT/M/2005 tentang Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis Mengenai Dampak Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
E. Keputusan Menteri:
1. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995 tentang Program Kali Bersih.
2. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 269/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum.
3. Keputusan Menteri Negara lingkungan Hidup No 337/1996 tentang Petunjuk Tata Laksana UKL dan UPL Departemen Pekerjaan Umum.
4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 296/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL –UPL Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
6. Keputusan Menteri Kimpraswil 534/2000 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Permukiman.
7. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL.
8. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu air Limbah Domestik.
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1205/Menkes/Per/X/2004 tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).
10. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/KPTS/M/2005 tentang Pedoman Pemberdayaan Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi Kecil.
12. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
F. Petunjuk Teknis:
1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis Penyehatan Perumahan. 2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Kompos
Rumah Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah Dengan Sistem Daur Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug Terkendali Di TPA Sampah.
3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.72 Pet B judul Petunjuk Teknis Pembuatan Sumur Resapan.
4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Penerapan Pompa Hidran Dalam Penyediaan Air Bersih.
5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan.
6. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah – pindah (Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik.
7. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan Petunjuk Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan.
8. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Pedoman Teknis Tata Cara Sistem Penyediaan Air Bersih Komersil Untuk Permukiman.
9. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis Tata Cara Pengoperasian Dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga Non Kakus.
10. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis Saluran Irigasi. 11. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCK
G. Peraturan Daerah:
1. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 12 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Majalengka Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Majalengka Tahun 2008 Nomor 12)
2. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 2 Tahun 2009 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Majalengka (Lembaran Daerah Kabupaten Majalengka Tahun 2009 Nomor 2)
3. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Majalengka Tahun 2009-2013 (Lembaran Daerah Kabupaten Majalengka Tahun 2009 Nomor 4)
4. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 10 Tahun 2009 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Majalengka (Lembaran Daerah Kabupaten Majalengka Tahun 2009 Nomor 10)
5. Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 11 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Majalengka Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kabupaten Majalengka Tahun 2011 Nomor 11).
1.4. Sistematika Penulisan
Dokumen ini terdiri dari 6 bab dengan isi sebagai berikut:
Bab 1 Berisi Pendahuluan. Terdiri dari Latar belakang, metodologi, dasar hukum dan sistematika penulisan
Bab II Berisi Profil Sanitasi saat ini yang terdiri dari Gambaran Umum wilayah, Kemajuan Pelaksanaan SSK, Profil Sanitasi saat ini, serta Area Beresiko dan Permasalahanan Mendesak Sanitasi
Bab III Berisi Kerangka Pengembangan Sanitasi yang terdiri dari Visi dan misi Sanitasi, Pentahapan Pengembangan Snitasi (Tahapan, Tujuan dan Sasaran, dan Skenario Pencapaian), serta Kemampuan Pendanaan Sanitasi Daerah
Bab IV Berisi Strategi Pengembangan Sanitasi yang akan membahas Strategi Pengembangan Air Limbah Domestik, Pengelolaan Persampahan, Drainase Perkotaan
Bab V Berisi Program, Kegiatan dan Indikasi Pendanaan Sanitasi. Terdiri dari Ringkasan, Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Dengan Sumber Pendanaan
Pemerintah, Kebutuhan Biaya Pengembangan Sanitasi Dengan Sumber Pendanaan Non Pemerintah, Serta Antisipasi Funding Gap