PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI WILAYAH BENCANA GEMPA MELALUI PERTANIAN TERPADU. Abstrak

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI WILAYAH BENCANA GEMPA MELALUI PERTANIAN TERPADU

Ramaiyulis, S.Pt, MP*) Abstrak

Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) telah dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pendapatan masyarakat para peternak di wilayah bencana gempa melalui pertanian terpadu. Introduksi teknologi yang diberikan adalah pengolahan jerami padi menjadi tape jerami untuk pakan ternak sapi, pengolahan kulit buah coklat menjadi pakan kaya protein sel tunggal untuk konsentrat sapi, dan pemberian permen sapi untuk memacu laju pertumbuhan sapi serta pengolahan kotoran sapi mejadi biogas dan pupuk kandang. Hasil yang didapatkan adalah terjadi peningkatan pendapatan peternak (income over feed cost) dari pertambahan bobot badan sapi (PBB) dari Rp 15.220/ kg PBB menjadi Rp 17.643/kg PBB. Peningkatan pendapatan peternak dari efisiensi penggunaan waktu penyediaan rumput untuk sapi sebesar Rp 11.500/ hari serta pendapatan tambahan diperoleh peternak dari hasil pengolahan limbah peternakan sebesar Rp 19.800/hari.

Kata kunci : tape jerami, sapi potong, biogas, pupuk kandang, Permen sapi

INCREASED INCOME COMMUNITY IN EARTHQUAKE DISASTER AREA THROUGH INTEGRATED FARMING

Ramaiyulis, S.Pt, MP*) Abstract

Science and technology program for the Community (IBM) has been implemented with the aim of increasing incomes of farmers in the earthquake affected areas through integrated farming. Introduction of a given technology is a tape processing rice straw into the hay to feed cattle, fruit brown leather processing into single cell protein-rich feed concentrates for cattle, and giving candy to spur the growth rate of beef cows and cow manure processing form the biogas and manure. The result is an increase in farmer income (income over feed cost) of cow body weight gain (DG) from Rp 15,220 / kg to Rp 17.643/kg DG. Increased farmer income from the provision of efficient use of time grass for cattle is Rp 11,500 / day and the additional revenue obtained from the breeder farm waste treatment of Rp 19.800/hari.

Key words: tape hay, beef cattle, biogas, manure, cow candy *) Staf Pengajar Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

**) Disampaikan pada Seminar Nasional Perubahan Iklim, Air dan Ketahanan Pangan tanggal 14 Desember 2011 di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Sumbar.

(2)

I. PENDAHULUAN

Dampak gempa di Sumatera Barat cukup besar terhadap perekonomian masyarakat, dengan rusaknya berbagai sarana dan prasarana perekonomian. Namun sekarang masyarakat telah mulai bangkit menggerakan kembali perekonomian sesuai dengan potensi daerah di sektor pertanian. Kecamatan Patamuan dijadikan daerah kegiatan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dengan melibatkan dua kelompok tani yaitu Keltan Usaha Bersama dan Keltan Sarumpun. Komoditi yang menonjol diusahakan masyarakat adalah tanaman padi sebagai komoditi unggulan dan perkebunan coklat ditambah dengan usaha peternakan sapi sebagai usaha tambahan dan tabungan.

Permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam usaha pertaniannya adalah ternak sapi potong yang dipelihara menghasilkan keuntungan yang relatif rendah disebabkan karena rendahnya produktivitas ternak dan sulitnya mendapatkan pakan sapi yang murah. Ditambahlagi kelangkaan pupuk urea yang membuat petani harus membeli pupuk non subsidi dengan harga mahal. Dilain pihak, banyak sumber pakan ternak yang bisa dimanfaatkan petani di lingkungannya seperti jerami padi yang belum termanfaatkan, kulit buah coklat yang dibuang dan sebaliknya kotoran sapi belum dimanfaatkan sehingga menjadi limbah yang mencemari lingkungan.

Introduksi teknologi dalam kegiatan IbM dilaksanakan dengan penerapan pertanian terpadu yaitu mengolah limbah pertanian berupa jerami padi dan kulit buah coklat menjadi pakan ternak dan sebaliknya mengolah limbah ternak menjadi biogas dan pupuk kandang untuk pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani-peternak dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi sumber daya yang ada.

II. MATERI DAN METODE

Pengujian teknologi dilakukan melalui kegiatan penerapan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dengan membuat dua plot demontrasi (demplot) yaitu plot tanpa teknologi yaitu plot usaha peternakan sapi potong tradisional dan plot dengan teknologi yaitu plot usaha peternakan sapi potong dengan penerapan teknologi. Masing-masing plot terdiri dari dua orang peternak yang memelihara 5 ekor sapi potong di sekitar areal persawahan dan kebun coklat. Teknologi yang diterapkan adalah teknologi pertanian terpadu dengan mengolah limbah pertanian jerami padi

(3)

dan kulit buah coklat menjadi pakan ternak dan mengolah limbah ternak menjadi sumber energi dan pupuk kandang.

Jerami padi diolah menjadi tape jerami sesuai teknologi yang telah dikembangkan Sujatmiko dan Ramaiyulis (2009). Jerami padi diolah di pondok fermentasi yang berada di dekat areal persawahan. Segera setelah panen padi jerami diangkat ke pondok dan dihamparkan secara bertingkat, pada masing-masing tingkat ditaburkan dedak halus sebanyak 3%, ditambah inokulan berupa jus tempe, kemudian ditutup dengan plastik dan diinkubasi selama 15 hari hingga menjadi tape jerami yang diberikan kepada sapi 5% dari bobot badannya setiap hari.

Pengolahan kulit buah coklat dilakukan sesuai teknologi yang dikembangkan Widhya dan Ramaiyulis (2009) yaitu dengan mencincang kulit buah coklat, kemudian dicampur dengan dedak halus sebanyak 5%, ditambah inokulan berupa jus tempe, kemudian disimpan di dalam kantong plastik kedap udara selama 15 hari hingga menjadi pakan kaya protein sel tunggal (PKPST) yang diberikan sebagai pakan konsentrat sapi sebanyak 2% dari bobot badannya setiap hari.

Untuk memacu laju pertumbuhan sapi diberikanlah pakan suplemen Permen sapi sebagaimana teknologi yang dikembangkan Ramaiyulis dkk (2008). Permen sapi dibuat dari bahan gula merah, dedak, bungkil kedele, tepung ikan, tapioka, urea, garam, dan ultra mineral yang dibuat menjadi suatu adonan dan dicetak berbentuk blok dengan berat 100 gram untuk satu kali pemberian setiap hari.

Limbah kotoran sapi diolah menjadi biogas dengan digester sederhana berbahan plastik dan gas yang dihasilkan dialirkan ke rumah untuk sumber energi memasak dan buangan digester diolah menjadi pupuk kandang. Digester berupa plastik PE 020 berdiameter 1,2 m sepanjang 5,5 m dipasang didalam tanah dengan kedalaman 0,6 m. Pada bagian ujungnya dijadikan inlet tempat masuk kotoran sapi dan ujung lainnya sebagai outlet tempat keluar buangan. Pada bagian tengah digester dipasang outlet gas yang disambungkan ke penampung gas berupa plastik PE 09 berdiameter 0,9 m sepanjang 5 m dan kemudian dialirkan ke rumah untuk digunakan sebagai sumber energi. Buangan digester yang diperoleh diolah menjadi pupuk organi dengan cara mengendapkan terlebih dahulu dan kemudian diaduk dengan sekam 20%, dedak halus 1% dan inokulan EM4 dan difermentasi selama 4 minggu hingga menjadi pupuk organik yang siap digunakan untuk usaha pertanian.

(4)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pendapatan dari Pertambahan Bobot Badan Sapi

Berdasarkan hasil evaluasi demplot antara plot tanpa teknologi dibanding plot dengan penggunaan teknologi yaitu pemberian hijauan tape jerami, konsentrat KPST dan pemberian Suplemen Permen Sapi didapat hasil seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan Pendapatan Peternak pada Ternak Demplot

No. Dem plot

Jenis Sapi

Plot Tanpa Teknologi Plot dengan Teknologi

PBB (kg/hr) Biaya Ransum (Rp/kg PBB) Income over feed cost (Rp/kg PBB) PBB (kg/hr) Biaya Ransum (Rp/kg PBB) Income over feed cost (Rp/kg PBB) 1 PO 0,39 10.459 15.541 0,58 6.710 19.290 2 Lokal 0,30 12.323 13.677 0,43 8.074 17.926 3 Simental 0,81 9.519 16.481 0,90 7.867 18.133 4 Simental 0,68 10.366 15.634 0,82 8.533 17.467 5 Brahman 0,41 11.232 14.768 0,48 10.598 15.402 Rata-rata 0,52 10.780 15.220 0,64 8.357 17.643

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa penerapan teknologi dapat meningkatkan laju pertambahan berat badan sapi (PBB) dari 0,52 kg/hari menjadi 0,64 kg/hari dengan menggunakan teknologi atau meningkat 24%. Peningkatan terbesar terjadi pada sapi jenis PO dan ikuti jenis Lokal seterusnya Simental dan Brahman. Peningkatan laju pertambahan bobot badan ini terjadi karena teknologi memberikan dampak peningkatan efisiensi pemanfaatan pakan (Bird, 1999; Widhya dkk, 2004; Ramaiyulis, 2007), dimana efisiensi pemanfaatan pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh imbangan protein dan energi (imbangan P/E), yaitu imbangan protein mikroba dan protein by-pass dengan energi yang diserap.

Pada plot dengan teknologi pemberian kombinasi pakan hijauan tape jerami ditambah dengan konsentrat PKPST dan suplemen permen sapi mampu memsuplai nutrisi dengan imbangan protein dan energi yang tinggi dibanding pemberian hijauan rumput lapangan pada plot tanpa teknologi. Tape jerami cukup baik digunakan

(5)

sebagai hijauan pakan ternak karena melalui pengolahan secara fermentasi jerami padi dapat ditingkatkan kualitasnya terutama kandungan protein kasar dari 3,12% pada jerami segar menjadi 7,18% pada tape jerami (Sujatmiko dan Ramaiyulis, 2009). Pemberian tape jerami memenuhi 60% total kebutuhan pakan ternak dan 40% lagi dipenuhi dari konsentrat.

Pemberian konsentrat berupa PKPST hasil pengolahan fermentasi dari kulit buah coklat dengan menggunakan inokulum ragi tempe (Rhizopus sp) yang juga meningkatkan kualitas kulit buah coklat dengan kandungan protein kasar 15,96% (Widhya dan Ramaiyulis, 2009). Sebagai pelengkap diberikan juga Permen Sapi yaitu pakan suplemen yang mengandung nutrisi essensial untuk pertumbuhan mikroba rumen yang sangat berguna bagi ternak dalam membantu proses pencernaan dan sebagai sumber protein (Ramaiyulis dkk, 2008).

Introduksi teknologi ternyata dapat mereduksi biaya ransum dari rata-rata Rp 10.780/ kg PBB menjadi Rp 8.357/ kg PBB, artinya kebutuhan biaya ransum untuk menghasilkan 1 kg pertambahan bobot badan bisa ditekan 22,50% dengan menggunakan teknologi. Pada plot tanpa teknologi biaya ransum berasal dari biaya rumput rata-rata 27 kg/ekor/hari atau seharga Rp 5.600 dan menghasilkan pertambahan bobot badan (PBB) 0,52 kg sehingga biaya ransum Rp 10.780/kg PBB. Pada plot dengan teknologi biaya ransum berasal dari biaya tape jerami sebanyak 13 kg/ekor/hari seharga Rp 2.650 ditambah PKPST 2,7 kg/ekor/hari seharga Rp 1.900 dan permen sapi 1 buah Rp 750 menjadi total Rp 5.300 dan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan 0,64 kg sehingga biaya ransum menjadi Rp 8.357/kg PBB.

Biaya ransum merupakan komponen biaya terbesar meliputi 60-70% dalam usaha peternakan sapi potong (Ramaiyulis, dkk, 2010). Penurunan biaya ransum menghasilkan peningkatan income over feed cost dari Rp 15.220/ kg PBB menjadi Rp 17.643/kg PBB atau meningkat 16% dengan menggunakan teknologi. Artinya setiap tambahan 1 kg bobot badan dari sapi yang dipelihara, peternak mendapatkan laba sebesar Rp 15.220 pada plot tanpa teknologi dan Rp 17.643 pada plot dengan teknologi.

(6)

2. Pendapatan Peternak dari Efisiensi Penggunaan Waktu

Introduksi penggunaan tape jerami sebagai pakan ternak sapi, memberikan kemudahan dalam penyediaan hijauan sebagai pakan utama ternak sapi dan efisiensi penggunaan waktu untuk pemeliharaan ternak seperti ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Efisiensi waktu yang diperoleh dengan pemanfaatan tape jerami

Sumber pakan Waktu pemotongan Waktu pengangkutan Waktu pengolahan Waktu pemberian Total waktu yang digunakan Hijauan Rumput

90 menit 30 menit - 5 menit 125 menit

Tape Jerami - 10 jam untuk 4

bulan pemeliharaan = 5 menit/hari 10 jam untuk 4 bulan pemeliharaan = 5 menit/hari 5 menit 15 menit

Efisiensi waktu 110 menit Efisiensi biaya pemeliharaan Rp 11.500

Pada Tabel 2 terlihat bahwa jika peternak menggunakan hijauan rumput yang disabitkan setiap hari, maka peternak menghabiskan waktu 125 menit per hari, sedangkan dengan penggunaan tape jerami maka waktu habiskan untuk penyediaan pakan hanya 15 menit, sehingga dapat dihemat waktu sebanyak 110 menit/ hari. Efisiensi waktu yang didapat bisa digunakan oleh peternak untuk kegiatan lainnya dalam menambah pendapatannya. Sesuai dengan upah tenaga kerja yang berlaku saat ini Rp 50.000/hari, maka efisiensi waktu yang didapatkan adalah senilai Rp 11.500/ hari.

Keterbatasan kemampuan peternak dalam penyediaan rumput merupakan pembatas kemampuan peternak dalam pemeliharaan ternak sapi. Rata-rata kemampuan peternak menyabit rumput lapangan hanya 146 kg/hari, sehingga satu orang peternak hanya mampu memelihara 4-5 ekor sapi. Melalui penggunaan tape jerami satu peternak mampu memelihara 24 ekor sapi. Dengan demikian penggunaan tape jerami sebagai hijauan pakan menyebabkan pengurangan biaya tenaga kerja dalam pemeliharaan ternak sapi.

(7)

3. Pendapatan dari Hasil Pengolahan Kotoran Sapi

Pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik yang dilakukan pada plot teknologi menghasilkan data sebagai berikut :

Tabel 3. Pendapatan Peternak dari Hasil Pengolahan Kotoran Sapi menjadi Biogas dan Pupuk Organik

Uraian Jumlah

Biogas :

* Volume produksi biogas (m3/hari) * Lama nyala kompor biogas (jam/hari) * Nilai konversi biogas ke minyak tanah (liter) * Pendapatan peternak dari biogas (Rp/hari)

2,23 6,50 1,80 6.300 Pupuk Organik :

* Volume buangan digester biogas (m3/hari) * Volume pupuk organik yang dihasilkan (kg/hari) * Harga pupuk organik (Rp/kg)

* Pendapatan peternak dari pupuk organik (Rp/hari)

0,15 33 600 19.800 Total Pendapatan dari Pengolahan Kotoran Sapi (Rp/hari) 26.100

Pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik seperti pada Tabel 3 memberikan tambahan pendapatan kepada peternak sebesar Rp 26.100/ hari. Pendapatan ini merupakan nilai pendapatan yang berasal dari pemanfaatan biogas sebagai sumber energi untuk memasak senilai 6.300/ hari dan pendapatan dari pupuk organik yang dipakai sendiri dan sebagian dijual senilai Rp 19.800/ hari. Pendapatan ini merupakan pendapatan tambahan bagi peternak karena sebelumnya kotoran ternak belum dimanfaatkan, ditumpuk di belakang kandang dan bahkan menjadi sarang lalat dan mencemari lingkungan.

Digester biogas yang terbuat dari plastik PE 020 dengan volume 4 m3 mampu menghasilkan biogas 2,23 m3/hari. Biogas ini dialirkan ke dapur untuk digunakan sebagai bahan bakar kompor gas. Hasil pengujian lama nyala kompor dari biogas yang dihasilkan digester didapatkan selama 6,5 jam/hari. Jika dikonversikan ke pemakaian kompor minyak tanah, penggunaan kompor biogas ini setara dengan konsumsi 1,8 liter minyak tanah. Penggunaan kompor biogas di keluarga peternak menghasilkan saving yang dihitung sebagai pendapatan peternak sebesar Rp 6.300/ hari.

(8)

Digester biogas perlu diisi setiap hari dengan kotoran ternak baru dan bersamaan dengan itu kotoran ternak yang telah terfermentasi keluar sebagai buangan digester. Jumlah kotoran yang masuk setara dengan jumlah buangan yang keluar, setiap hari disgester diisi dengan ± 1 gerobak penuh kotoran sapi yang dicampur dengan air dengan volume 0,15 m2. Kotoran sapi ini dihasilkan dari 3 ekor sapi dengan bobot badan rata-rata 300 kg yang dipelihara rutin di dalam kandang.

Buangan digester merupakan kotoran sapi yang telah terfermentasi dan kemudian diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik. Buangan digester yang dihasilkan 0,15 m2/ hari setelah diendapkan dan diolah menjadi pupuk organik secara periodik sekali 15 hari menghasilkan pupuk organik sebanyak 495 kg atau rata-rata 33 kg/hari. Pupuk kandang ini sebagian digunakan sendiri oleh peternak dan lainnya dijual dengan harga Rp 600/kg, sehingga nilai pendapatan dari pupuk kandang adalah Rp 19.800/hari.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 1.1. Kesimpulan

Penerapan teknologi pertanian terpadu dapat meningkatkan pendapatan peternak yang berasal dari :

1. Peningkatan pendapatan peternak dari pertambahan bobot badan (PBB) sapi income over feed cost meningkat 16% dari Rp 15.220/ kg PBB menjadi Rp 17.643/kg PBB.

2. Peningkatan pendapatan peternak dari efisiensi penggunaan waktu pemeliharaan sapi sebesar Rp 11.500/ hari

3. Pendapatan tambahan peternak dari hasil pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk kandang sebanyak Rp 19.800/hari

1.2. Saran

Berdasarkan hasil kegiatan ini, terbukti bahwa teknologi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Oleh karena itu diharapkan Pemda kabupaten Padang Pariaman dapat menyebarluaskan Teknologi ini kepada seluruh kelompok tani di daerah ini.

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada DP2M DIKTI yang telah membiayai kegiatan ini, juga kepada P3M Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh yang telah menfasilitasi pelaksanaan kegiatan serta ketua dan peternak demonstrator kelompok tani Usaha Bersama dan kelompok tani Sarumpun.

DAFTAR PUSTAKA

Bird, S.H. 1991. The influence of the presence of protozoa on ruminant production: A Review. University of New England, Armidale.

Ramaiyulis, Salvia, P.S. Noor dan I.Irda. 2008. Pengembangan Permen Sapi sebagai Produk Unggulan Politani. Lap u-UJI. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

Ramaiyulis, T. Novianti, R. Zulvia. 2010. Simulasi Bisnis Usaha Peternakan Sapi Potong. Reviw Lap. PKMT Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

Ramaiyuli, P.S. Noor, Salvia. 2007. Penerapan Teknologi Defaunasi dan Suplementasi Permen Sapi® Untuk Meningkatkan Produktivitas Reproduksi Sapi Potong di Kawasan Pembibitan Sapi Simental Baso. J Lumbung VI (1).

Sujatmiko dan Ramaiyulis. 2009. Penerapan Teknologi Defaunasi dan Tape Jerami untuk Meningkatkan Produktivitas Ternak yang Dipelihara secara Tradisional. Lap. IbM. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

Widhya dan Ramaiyulis, 2009. Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao Menjadi Pakan Kaya Protein Sel Tunggal Dengan, Penel. Strategis. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

(10)

Lampiran . Foto-foto Kegiatan

Gambar 1. Introduksi Teknologi Tape Jerami, PKPST dan Permen Sapi pada Plot Sapi dengan Teknologi

(11)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :