Review Buku, MenyaPu DaPur Kotor
Review Buku:
Menyapu Dapur
Kotor
Oleh:
Rizki
Affiat
Tf
agaimanakah
kita
menganalogi-K,
kan
perempuan
dan
Parlemen-LJ
dengan sebuah dapur?Dapur
adalahbagian
yang
biasanYaterletak di
bagian belakang rumah, atautidak terlihat dari
ruang tamu.
Meskiletaknya bukan
di
bagian utama rumah,ia
adalah ruangan
terPenting
bagipara
penghunirumah.
Ia
adalah ruangdimana produksi
dan
PenYimPananmakanan dilangsungkan.
Singkat
kata, dapur adalah bagian dimana kehidupanpenghuni
rumah dijaga namun
daPurjuga
adalahwilayah yang
secara sosialdikonstruksikan
sebagai
wilaYahdomestik perempuan.
Dalam konteks
domestik,
Persoalandapur
adalah
bagian yang besar
daridinamika mengatur
rumah.
Dalamkonteks
politik, wilayah
daPur
ini
diibaratkan
pabrik yang
hendakdibersihkan sebagai bagian
dari
rumahbernama negara.
Buku
ini,
denganjudulnya
yang ironis
namun
Penuhharapan, 'Menyapu Dapur
Kotor',
adalahpengantar
praktis
untuk
memaparkandan
menganalisadinamika
perjuanganperempuan
untuk
masuk
ke
dalamparlemen, khususnya
dalam
kontekskebijakan afirmasi.
Apakah
'dapur'dalam analogi
politik
kesetaraan genderkita
diartikan
sebagai ruang yang harusdiambil
alih
kembali oleh
perempuanuntuk
dibersihl<anataukah
'dapur'
itu
sendiri
menekankan
pada
pentingnya pengelolaan dan penggodokan kebijakandan pengawasan kinerja
politik
sehinggaperempuan didorong
untuk
ikutserta bersamapria
membersihkan kekotoranyang dibuat oleh Para
Pria
di
dalam parlemen?Buku
ini
dibuka
dengan
Paparanyang
proporsional
dalam
mengkajikonsep negara dan gender serta memuat
perspektif
yang
berbeda-beda
dalampro-kontra perihal kebijakan
afirmasi.Buku
ini
menelisik
tantangan, peluang,dan
evaluasi. Membahas secara padat,informatif, melalui
penjelasan
danalur yang
sederhana.Data dan
analisayang dipaparkan
di
BabI
memberikita
pengantar
faktual
tentang
kuantitascaleg
perempuan
dan
kekuatan pendorong di belakang mereka. Dari situbisa
dilihat
ada kecenderungan kuatnya'dinasti'
politik
sebagai basis rekrutmencaleg
perempuan
terpilih
(sekitar
40 persen),diikuti
dengan basis rekrutmen perempuandari
kalangankader
partai,hingga
figur
populer seperti
selebriti.Hanya sebagian
kecil
yang berasal dari aktivis LSM (hlm. 39). Dengan mengkajisebaran
data
tersebut
dan
segalakontestasi
yang
menyertainya,
bukuini
bisa menjadi
pedoman
bagi
siapapun
yang
tertarik
untuk
mempelajaridinamika
perempuan
yang
berjuangmenuju
parlemen dengan
kerangkadinamika
aturan
kebijakan afirmasi
diIndonesia.
Untuk
menyoal
lika-liku
perempuan dalam parlemen, termasukdi
Indonesia,T,
ada
tiga
problem utama
yang
menjaditantangan,
yaitu
bidang
politik,
sosialekonomi,
dan sosio-kultural
(ideologisdan
psikologis).
Dari
sudut
politik,
buku
ini
dengan
apik
memapaparkancontoh kasus dari beberapa pengalaman caleg perempuan
dari
berbagai wilayah,termasuk
strategi
dan
kemenanganataupun kekalahan mereka.
Di
sisilain, kondisi
sosial ekonomi
di
negarademokrasi
yang
sedang
berkembangsangat
mempengaruhi
perempuankarena ada korelasi antara
tiga
elemen,yaitu
rekrutmen
anggota
parlemenperempuan,
propinsi
perempuan
yangbekerja
di
luar
rumah, dan
persentasetingkat
pengangguran
memunculkanbeban ganda antara tugas domestik dan
kewajiban profesional mereka.
Buku ini
memberikan
latar
belakang yang cukup terhadap tiga persoalan tersebut.Representasi perempuan
di
parlemenyang
diperjuangkan
dibahas
dalambeberapa
contoh,
yaitu
pengalamancaleg perernpuan DPR
RI
pada
Pemilu2009 serta pengalaman caleg perempuan
di
Jawa
Timur,
Sulawesi
Selatan, danAceh.
Pemilihan
wilayah
dan
latarbelakang
para
caleg cukup
variatif, menunjukkan betapa kebijakan afirmasitelah
membuka peluang yangbaik
bagi perempuan dari berbagai kalanganuntuk
memperjuangkan upaya'menyapu dapur
kotor'.
Untuk
pembahasanterkait
hambatansosio-kultural,
buku
ini
memuat tentangpola ideologi gender dan kultur patriarkis, namun
tidak
menyinggung sama sekalitentang
peran
media dalam
kontestasiini.
Bagaimanakah
media
massamemainkan
peran
dalam
kampanyepara
caleg perempuandan
perjuangankebijakan
afirmasi kurang
dipaparkan.Padahal
media
massa
berpengaruh sangat besar dalamkonstruksi kultural
psikologis
masyarakat.
Misalnya,K o €
media
cenderung
meminimalisircakupan
peristiwa
dan
organisasidengan kepentingan perempuan
danmendomestikkan isu perempuan dengan
mensegmentasikan
kolom
khususseputar kecantikan,
rumah
tangga, danselebriti.
Segmentasi
di
media
yangsering
memisahkan
ruang
perempuandari berita
utamaini
berpengaruh padakonsepsi bahwa
dunia
politik
dan
isusosial yang
lebih
luas bukanlah
bidanguntuk perempuan, sehingga menyulitkan
akses dan pengakuan yang setara kepada
perempuan
di
dunia
politik,
khususnya parlemen.Contoh-contoh
tentang
beberapacaleg
perempuanyang
dibahas
dalam bab 2 dan 3 memberikan gambaran yangbaik
tentangkiprah
perempuan sebagai'penyapu
dapur
kotor',
sementara babterakhir
menelusuri
lebih
mendalamdan
kritis
dinamika perempuan
danparlemen. Kisah-kisah
para
calegperempuan
yang
dituangkan
dalambuku
ini
mendapat apresiasi sangat baik. Bagaimanapun juga, perjuangan merekapatut
dijadikan tonggak
bagi
gerakanperempuan
memasuki
politik
dengansegala
visi
misinya, terutama
dengansegala upaya mereka
menghadapikampanye. Sebagaimana digarisbawahi
dalam buku ini,
"perencanaanyang
matang,
penyusunan
strategi kemenangan dalam pemilu, ketrampilandalam
negosiasi
dan
berargumentasi,kemenangan
meraih
kursi,
hanyalahmenjadi etalase
dan
'deretan
teknis' tanpajiwa
jika
tidak
diimbangi
dengankeberpihakan dan perspektif perempuan
dalam
menjalankan kekuasaanpolitik"
(hlm.
66).
Pengarusutamaan
genderdalam
keran
demokrasi
menjadi agenda pentinguntuk
mengisi perlunyaJiwa'
dalam urusan
mengelola
dapurpemerintahan
asar lebih
akomodatifterhadap
keseiraai
ge::Cer.Bab
4
meruaa-i-a::::'
:€;:urilp
\-angmenjadi
inri-:
a=:-
::-;:
::-:
DenganReview Buku, Menyapu Dapur Kotor
subjudul 'Mencari Format
dan
StrategiBaru
Pemberdayaan Perempuan
diArena
Politik', bab
ini
dengan
padatdan substantif memberi gambaran
kritis
terhadap urusan 'menyapu dapur
kotor'.
Kritisisme
dan
kedalamankajian
yang dibahas dalam buku ini terasa seperti adaruang kosong diantara Bab
2
dan tsab 3 dengan Bab 4. Dalam Bab2
dan Bab 3, pembaca diberikan beberapa studi kasustentang caleg perempuan dengan sudut yang
lebih optimistik
danpositif. Di
bab4,
optimisme
di
tingkat
prosedural
ini
sepertinya
dikonfrontir
dengan
kajianyang
lebih kritis,
rnenunjukkan adanyakolaborasi
dari
penulis yang
berbeda. Salah satu yangdiurai
adalah kenyataanbagaimana para caleg perempuan yang
neaju
umumnya adalah
selebritis
atau mereka yang sudah cukup mapan secarapolitik
atau
mendapat sokongan
daripartai
besar. Denganprestasi
isu
yangdipaparkan
di
Bab
2
dan Bab
3,
Bab4
kembali
membumikannya
dengan kerendahan hati bahwa para perempuantersebut masih berrnain
di
wilayah
isudomestik,
seperti
kesehatan
ibu
dan anak, dan belum menjadi pemain dalam isu yang lebih luas seperti analisispublik
secara umum.
Dari
keseluruhan gambaran
yangdipaparkan
di
buku
ini,
pertanyaankemudian
timbul.
Apakah
menyapudapur
kotor politik kita
mernangsecara
partikular
disandarkan
kepadapara
perempuan
di
parlemen
ataukahpersoalan
ini
adalah persoalan
umumyang menjadi tugas
bagi
siapapun yang masuk di parlemen ketika Era Reformasi bergulir?Persoalan besar yang
tidak
mendapat tekanan signifikan dalam bukuini
adalahtentang
problema gerakan
perempuanitu
sendiri dalam menopang (atau tidak)para
caleg perempuan.Tujuan
pentingdari
keterlibatan perempuan
masukke
dalam
ranah
politik
adalah
jugapendekatan baru
yang
dapat mengubah paradigmapolitik,
dari
semula dianggap'cara
untuk
menguasai'menjadi
'carauntuk
memberdayakanatau
melayani'rakyat"
(hlm.l),
ataubisa
kita
katakanbahwa ada kebutuhan untuk memasukkan
perspektif dan
pengalaman perempuanyang
berbeda
denganpria
agar
dapatmengubah
wajah patriarkisme
politik.
Meski buku
ini
sudah
cukup
memberi gambaran sekilas tentang perbedaan danfragmentasi
dalam
gerakan perempuan perihal persoalan keterlibatan perempuandi
parlemen,buku
ini
sepertinyatidak
memberi
proporsi
bagi
permasalahanpatriarkisrne dalam gerakan perempuan
itu
sendiri, kecualidi
sub-Bab 4 bertajuk"Ironi Afirmatif
di
Indonesia".
Ironi
yang
sebenarnya
menjadi
persoalantersendiri. Ibarat hendak membersihkan
dapur dengan sapu, sapu yang ada
tidak
cukup
kuat dan bersih untuk
menjadialat
pembersih.Dan
pertarungan siapayang menjadi
penyapudan
siapa yangmengotori
juga
menjadi bagian
daritransaksi
politik.
Bagaimana
pun,
'Menyapu
DapurKotor'
adalah
sebuah
judul
yangmencerminkan
beratnya
tugasperempuan
dalam
politik,
namun perannya sangat diperlukan. Istilah dapurseolah memanggil
kembali
perempuanke dalam ruang dimana ia harus
terlibat
di
dalamnya. Ruang
dimana
sedlahtidak
ada perempuan yang representatifsebelumnya
dalam
memegang
sapuuntuk
membersihkannya.Malah,
bisajadi selama ini perempuan turut bersama-sama
pria
ikut
'mengotori'
dapurpolitik
kita.
Buku
ini
adalah
sebuah
seruansekaligus
refleksi.
Sebuah
optimismedan
penghargaanterhadap
pencapaianperempuan
pada
titik
sekarang hinggakeniscayaan
akan
masih
banyaknyakendala yang dihadapi.
Buku
ini
ditutup
dengan dua kalimat pamungkas,"Maka diperlukan
efisiensidan
memaksimalkan
modal
yang
adad .E € o ,l t I
I
{I
i
I
; ioptimal dengan rancangan agenda
jelas dan
pembagiankerja
yangih
transparan.Isu
strategis gerakanan
harus
dibungkus
denganbaru."
(hlm.115). Denganintisari
ut, kita juga
turut
disadari bahwai
kepemimpinan dalam
masyarakatsangat maskulin.
Persoalannyan
pada dikotomi
gender
secaradl,
yaitu
pria
dan
perempuan, antarariilai
feminin dan patriarkis.kan
perempuan seringkali terjebak patriarkismebaik ketika
ia beradaparlemen atau di.gerakan
itu
sendiri.Review Buku, Menyapu Dapur Kotor
Ini
menyebabkan suara perempuantidak
terakomodir
dalam
ranah
kekuasaan.Salah
satu
strategi
yang
membuatkebijakan afirmasi harus
dimanfaatkansecara maksimal
adalah
harus
adajumlah perempuan yang signifikan
untuk
bersaing dalam kontestasi nilai patriarkis
di
parlemen.Ini
adalah tantangan yang dielaborasi denganbaik
dalambuku
ini,dan
untuk
itu
buku ,ini tetap
menjadiacuan penting
bagi
siapa
saja
yanghendak mempelajari kiprah dan dinamika
perempuan Indonesia di parlemen paska Reformasi.