• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Padi Sawah di Kabupaten Ciamis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Potensi Padi Sawah di Kabupaten Ciamis"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Galuh 2Dosen Fakultas Pertanian Universitas Galuh 3

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Galuh Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Potensi Produksi Padi Sawah Di Kabupaten Ciamis; (2) Potensi Luas Lahan Padi Sawah Di Kabupaten Ciamis; (3) Potensi Produktivitas Padi Sawah Di Kabupaten Ciamis.

Dalam penelitian ini digunakan studi pustaka/literatur sebagai objek kajian. Menurut (subiyanto, 1987) literatur pada hakekatnya merupakan hasil olah budi manusia dalam bentuk karya tulis guna menuangkan gagasan/pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang. Penelitian terhadap literatur bukan berarti melakukan penelitian terhadap buku semata, tetapi lebih ditekankan terhadap esensi yang terkandung dalam buku tersebut. Potensi padi sawah, dapat diketahui dengan melihat data yang telah dikumpulkan oleh instansi dan lembaga-lembaga pemerintahan yang mengurusi serta mencatat jumlah padi sawah yang mampu dihasilkan oleh daerah tersebut, selanjutnya dengan memperhatikan luas lahan, produksi dan produktivitas padi sawah tersebut, kita dapat menyimpulkan seberapa besar potensi padi sawah di daerah tersebut.

Setelah melihat data, kita lakukan penelitian dengan cara time series (deret waktu) yang meliputi data jumlah produksi,produktivitas dan luas lahan yang tercatat selama 11 tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukan bahwa :

1. Potensi produksi padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah adalah sebesar 804.305, 26 Kw. Atau 80.430,52 Ton.

2. Potensi luas lahan padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah sebesar : 15.841 Hektar

3. potensi produktivitas padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah sebesar : 52,52 Kw./Hektar

Menurut Supriatna, (2000) pembangunan pada hakikatnya merupakan perubahan yang terencana dari situasional yang satu ke situasional yang lain yang dinilai lebih baik atau adanya proses perubahan menuju kehidupan lebih baik.

Kata kunci : Produksi, Produktivitas, Padi PENDAHULUAN

Untuk meningkatkan peluang dan potensi daerah dalam rangka peningkatan pertumbuhan dan semakin meratnya distribusi pendapatan, perlu dicari potensi yang spesifik masing-masing daerah. Apabila potensi tersebut sudah diketahui, maka perlu di dorong dan dikembangkan

Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang sebagian besar mata pencarian penduduknya bertani, sehingga sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) yang dominan dibandingkan sektor lainya. Kondisi ini menggambarkan bahwa sudah sepantasnya pemerintah daerah harus lebih berpihak terhadap pengembangan potensi sektor pertanian, dimana cakupanya meliputi

tanaman pangan, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Luas wilayah Kabupaten Ciamis adalah 244.369 Ha. dengan jumlah penduduk sebesar 1.774.032 orang termasuk DOB Pangandaran, mengalami laju pertumbuhan sebesar 0,84 persen pertahuan. (Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis Rencana strategis (RENSTRA)

TINJAUAN PUSTAKA

Padi (oryza sativa) adalah bahan baku pangan pokok yang vital bagi rakyat Indonesia. Menanam padi sawah sudah mendarah daging bagi sebagian besar petani di Indonesia. Mulanya kegiatan ini banyak diusahakan di pulau Jawa. Namun, saat ini hampir seluruh daerah di Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kegiatan menanam

(2)

padi di sawah. (Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Tahun 2012)

Sistem penanaman padi di sawah biasanya didahului oleh pengolahan tanah secara sempurna seraya petani melakukan persemaian. Mula-mula sawah dibajak, pembajakan dapat dilakukan dengan mesin, kerbau atau melalui pencangkulan oleh manusia.

Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 2-3 hari. Namun di beberapa tempat, tanah dapat dibiarkan sampai 15 hari. Selanjutnya tanah dilumpurkan dengan cara dibajak lagi untuk kedua kalinya atau bahkan ketiga kalinya 3-5 hari menjelang tanam. Setelah itu bibit hasil semaian ditanam dengan cara pengolahan sawah seperti di atas (yang sering disebut pengolahan tanah sempurna, intensif atau konvensional) banyak kelemahan yang timbul penggunaan air di sawah amatlah boros, Padahal ketersediaan air semakin terbatas. Selain itu pembajakan dan pelumpuran tanah yang biasa dilakukan oleh petani ternyata menyebabkan banyak butir-butir tanah halus dan unsur hara terbawa air irigasi. Hal ini kurang baik dari segi

konservasi lingkungan.

Padi merupakan tanaman yang membutuhkan air cukup banyak untuk hidupnya. Memang tanaman ini tergolong semi aquatis yang cocok ditanam di lokasi tergenang.

Metode Penelitian Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan studi pustaka/literatur sebagai objek kajian. Menurut (subiyanto, 1987) literatur pada hakekatnya merupakan hasil olah budi manusia dalam bentuk karya tulis guna menuangkan gagasan/pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang. Penelitian terhadap literatur bukan berarti melakukan penelitaian terhadap buku semata, tetapi lebih ditekankan terhadap esensi yang terkandung dalam buku tersebut.

Operasionalisasi Variabel

Untuk memperjelas pemahaman dan penafsiran dalam penelitian ini, maka variabel-variabel yang diteliti, dan dioperasionalisasikan sebagai berikut :

1) Luas lahan padi dihitung dalam hektar 2) Produktivitas padi dihitung dalam ton/Kw.

3) Produksi dihitung dalam Kw. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data data sekunder, Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari pihak-pihak lain diantaranya adalah instansi terkait (Dinas Pertanian Tanam Pangan Kabupaten Ciamis), Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis, studi kepustakaan dan sumber lain yang turut menunjang dalam penelitian ini.

Rancangan Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk selanjutnya ditabulas dan dianalis dengan menggunakan Analisis Deret Waktu (Time Series Analysis). Deret waktu adalah rangkaian data yang di ukur berdasarkan waktu dengan interval yang uniform.

Analisis deret waktu (time series analysis) merupakan metode yang mempelajari deret waktu, baik dari segi tori yang membawahinya maupun untuk membuat peramalan (predeksi). Predeksi deret waktu adalah penggunaan model untuk memprediksi nilai di waktu mendatang berdasar peristiwa yang telah terjadi ( Wikipedia, 2008). Deret waktu bisa digunakan pada penelitian yang diambil dalam jangka waktu tertentu, seperti penelitian akustik maupun oceoanografi.

Rumus yang digunakan :

a. Regresi linier sederhana deret waktu dimana metode yang digunakan yakni metode kuadrat terkecil

Y = a + bx Dimana :

Y = potensi (luas lahan + produktivitas) a = Nilai Y duga jika x bernilai 0

b = Koefisien kemiringan garis regresi terhadap perubahan x

x = Variabel bebas ( lahan )

b. Regresi linear berganda deret waktu Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada padi sawah di Kabupaten Ciamis. Adapun waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini yaitu mulai Bulan Mei sampai Bulan Agustus 2013 melalui beberapa tahap sebagai berikut :

(3)

1)

Tahapan persiapan dilaksanakan mulai minggu pertama dan kedua Bulan Mei 2013.

2)

Usulan Penelitian dilaksanakan mulai minggu ke tiga Bulan Mei 2013

3)

Pelaksanaan Penelitian dilakukan mulai minggu ke empat Bulan Mei sampai dengan minggu ke dua Bulan Juni 2013.

4)

Pengolahan Data dilaksanakan pada

minggu ke tiga Bulan Juni 2013 sampai Bulan ke empat Bulan Juli 2013.

Penulisan Skripsi, Kolokium dan Sidang dilaksanakan mulai minggu pertama Bulan Agustus 2013 sampai minggu ke empat Bulan Oktober 2013.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ciamis sebagai salah satu provinsi di Jawa Barat, secara geografis berada pada posisi strategis serta dilalui jalan Nasional lintas Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas Ciamis – Cirebon –

Jawa Tengah. Secara astronomis Kabupaten

Ciamis berada pada 108°20’ sampai dengan 108°40’ Bujur Timur dan 7°40’20” sampai

dengan 7o41’20’’ Lintang Selatan. Luas wilayah Ciamis sebesar 244,479 Ha atau 7,73 persen dari total luas daratan Propinsi Jawa Barat (Termasuk DOB Pangandaran). Dalam konteks pengembangan wilayah Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Ciamis mempunyai 2 (dua) Kawasan Andalan yaitu Kawasan Andalan Priangan Timur dan Kawasan Andalan Pangandaran. Tetapi setelah DOB pangandaran disahkan, kawasan andalan Pangandaran tidak lagi bergabung dengan kabupaten Ciamis. Secara administratif Kabupaten Ciamis berbatasan dengan wilayah

 sebelah Utara : Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat

 sebelah Barat : Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

 sebelah Timur : Kota Banjar Provinsi Jawa Barat dan Propinsi Jawa Tengah,

 sebelah Selatan : Kabupaten Pangandaran. Provinsi Jawa Barat

Dari segi topografi bentuk wilayah Kabupaten Ciamis dapat dikelompokkan sebagai berikut : - Wilayah Ciamis bagian utara merupakan

dataran tinggi berbukit, yaitu wilayah Gunung Sawal dengan kemiringan lahan antara 15%-40%. Namun demikian kemiringan pada beberapa daerah mencapai lebih dari 40%.

- Wilayah Ciamis bagian tengah dan selatan merupakan dataran rendah, sebagian kecil bergelombang dengan kemiringan lahan 15-40 % dan sebagian pesisir relatif landai dengan kemiringan antara 0%-15%.

Ketinggian lahan di Kabupaten Ciamis bervariasi antara 0-2000 m di atas permukaan laut.

Tabel 2. Kemiringan Lahan dan Satuan Morfologi

Sumber : RTRW Kab.Ciamis, 2012

Rata-rata curah hujan di Kabupaten Ciamis selama tahun 2002-2012 Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 472,2 (mm) dan terendah terjadi pada bulan Agustus sebesar 0 (mm). Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson, Kabupaten Ciamis pada umumnya mempunyai tipe iklim C. Kabupaten Ciamis dialiri oleh sungai utama yaitu sungai Citanduy yang mengalir mulai dari Gunung Cakrabuana (hulu) di Kabupaten Tasikmalaya dan bermuara di Sagara Anakan Provinsi Jawa Tengah dengan anak-anak sungainya terdiri dari sungai Cimuntur, sungai Cijolang dan sungai Ciseel. Dibagian selatan mengalir sungai Cimedang dengan anak sungainya terdiri dari sungai Cikondang, sungai Cibegal, sungai Cipaledang, sungai Cibungur, sungai Citatah I, sungai Citatah II, sungai Cigugur, sungai Ciharuman, sungai Cigembor, sungai

No . Bentuk Bentang Alam Kemiringa n Lahan (%) Satuan Morfologi

1. Datar 0–2 Dataran rendah

2. Landai 2–15 Daerah dataran (plain) 3. Sedang 15–40 Dataran perbukitan karst 4. Agak Kasar > 40 Pegunungan

(4)

Cikuya, sungai Cijengkol, sungai Cimagung dan sungai Cicondong. Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy, sedangkan sisanya termasuk ke dalam DAS Cimedang. Berikut tabel daerah aliran sungai di wilayah Kabupaten Ciamis.

Demografi

Luas wilayah Kabupaten Ciamis adalah 244.369 Ha dengan jumlah penduduk sebesar 1.774.032 orang termasuk DOB Pangandaran, menyebabkan peningkatan kepadatan penduduk dari 657 orang per km2 pada Tahun 2010 menjadi 726 orang per km2 pada Tahun 2011. Dari segi penyebarannya, 5,7 persen penduduk Kabupaten Ciamis bertempat tinggal di Kecamatan Ciamis sehingga menyebabkan kepadatan tertinggi (3.065 orang per kilometer persegi). Hal ini dapat dimengerti karena Kecamatan Ciamis merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan Perekonomian. Kepadatan cukup tinggi juga dialami oleh Kecamatan Cikoneng, Cihaurbeuti, Kawali, Sindangkasih, Baregbeg dan Lumbung. Kepadatan penduduk juga tampak dari rata-rata anggota keluarga yang mencapai 3,15 sehingga secara umum setiap keluarga memiliki 3 sampai dengan 4 orang anggota keluarga. Tabel lain menggambarkan perbandingan usia penduduk tidak produktif (usia 0-14 & 65+ tahun) dibanding usia produktif (usia 15-64 tahun) yang menunjukkan angka beban tanggungan. Angka beban tanggungan pada Tahun 2011 sebesar 46 persen ternyata lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 47.35 persen.

Komposisi penduduk menurut usia, nampaknya perlu dicermati karena penduduk kelompok usia 5-9 tahun, 10-14 tahun dan usia 15-49 tahun cukup banyak. Hal ini berkaitan dengan masalah pendidikan dasar dan fertilitas atau kesehatan reproduksi.

Tabel dibawah ini menunjukan pada tahun 2009 di kecamatan Cimerak terjadi pertumbuhan yang sangat besar yaitu 76,51% disusul dengan kecamatan Padaherang sebesar 17,39%, sedangkan untuk daerah yang tingkat pertumbuhannya lamban yaitu kecamatan Sukamantri -23,23% terjadi pada tahun 2011.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisi dalam pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa :

1. Potensi produksi padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah adalah sebesar 804.305, 26 Kw. Atau 80.430,52 Ton.

2. Potensi luas lahan padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah sebesar : 15.841 Hk.

3. Potensi produktivitas padi sawah di Kabupaten Ciamis pada tahun 2014 adalah sebesar : 52,52 Kw./Hk.

Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan:

1. Untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan padi sawah, masih perlu diupayakan intensifikasi (peningkatan produksi persatuan luas) dan ekstensifikasi (peningkatan produksi dengan perluasan tanam).

2. Adanya impor beras atau pemasukan beras masih dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang kebutuhannya yang semakin hari semakin meningkat. Swasembada yang diperkirakan terjadi, merupakan acuan yang cukup baik untuk mendukung program-program Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis dan instansi lain yang mengurusi bersama program tersebut agar selalu memberikan dorongan dan jaminan kepada petani penggarap. DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan

Pertanian. 2005. Rencana Aksi Pemantapan Ketahanan Pangan 2005-2010.Departemen Pertanian. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis. 20013. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2008. Ciamis.

_______.2009. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2009.. Ciamis.

(5)

______. 2010. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2010. Ciamis.

______. 2011. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2011.Ciamis.

_______.2012. Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2012. Ciamis.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. 2012. Jawa Barat Dalam Angka 2012. Bandung.

Kementrian Pertanian. 2011. Rencana Strategis Kementrian Pertanian Tahun 2010-2014. Jakarta

Khomsan dan Kusharto. 2004. Kaitan Pangan, Gizi dan Kependudukan. Di Dalam Baliwati YF, et al (Editor). 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Madalifa, T. 2013. Pendapatan Perkapita Negara - Negara ASEAN.

(http://blogger-ht-tiara.blogspot.com/2013/01/pendapat

an-perkapita-negara-negara-asean.html). [diakses pada 20/06/2013]

Mankiw, G, N. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro. Penerjemah; Chirswan S. Terjemahan dari: Principles of Economics. Salemba Empat. Jakarta. Implikasinya Terhadap Strategi Pencapaian

Swasembada Padi Nasional. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pahpahan, A. 2004. Mencari Jalan Keluar Dalam Kompleksitas Globalisasi. Jurnal Isu Kontemporer Kebijakan: Pembangunan Pertanian 2000-2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. BPPP 2004. Bogor.

Pemerintah Kabupaten Ciamis. 2010. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Ciamis 2010. Ciamis. _____. 2013. Animo Petani Ciamis Tanam

Padi Turun

Drastis.www.Ciamiskab.go.id [diakses pada 18/04/2013]

Presiden Republik Indonesia. 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

18 Tahun 2012Tentang

Pangan.Jakarta.

Putong, I. 2005. Teori Ekonomi Mikro. Ed Ke-1. Wacana Media. Jakarta.

Rachman. 2001. Kajian Pola Konsumsi dan Permintaan Pangan Di Kawasan Timur Indonesia. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Raharja, P dan Manurung, M. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi dan Makroekonomi). Ed. ke-3. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung. Sukirno, S. 2011. Mikro Ekonomi: Teori

Pengantar. Ed ke-3. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Suwandi. 2005. Agropolitan, Meretas Jalan Meniti Harapan. PT. Duta Karya Swasta. Jakarta.

Jonsen, B,T. 2009. Peramalan Jumlah Kebutuhan Beras dan Produksi Padi Di Kabupaten Simalungun Pada Tahun 2008-2012. Tugas Akhir. Departemen Matematika Universitas Sumatera Utara. Medan.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Data Sekunder, yaitu data pelengkap yang diperoleh dari pihak kedua guna melengkapi penelitian ini meliputi: Peraturan-peraturan mengenai pelaksanaan otonomi desa

data primer sebagai data utama disamping data sekunder (bahan umum) 3. Data primer yaitu data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan keterangan secara langsung dari

Data primer dilakukan dengan cara observasi lapangan dan wawancara dengan perajin gula aren, dengan menggunakan daftar pertanyaan (Question). Data sekunder diperoleh

dikumpulkan dengan menggunakan teknik pengambilan atau pengumpulan data berupa angket. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Hadiwarno dan pihak- pihak yang

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan cara mengumpulkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang diperoleh dari

oleh pihak lain yang umumnya disajikan dalam bentuk tabel-tabel atau diagram. Data sekunder yang digunakan diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kota Binjai. Data yang telah

Mulai Selesai Data Sekunder Data Primer Kuantitatif Deskriptif Pengggambaran kondisi luasan lahan sawah, luasan lahan irigasi, luas panen dan.. produktivitas lahan

Data yang dikumpulkan adalah data fisik dan data ekonomi. Data fisik meliputi data fisik primer dan data fisik sekunder, sementara itu data ekonomi meliputi data ekonomi primer