• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK USAHA PT. INTER DELTA Tbk. LAPORAN POSISI KEUANGAN ( NERACA ) PER 30 JUNI 2012 (Belum diaudit) dan 31 DESEMBER 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KELOMPOK USAHA PT. INTER DELTA Tbk. LAPORAN POSISI KEUANGAN ( NERACA ) PER 30 JUNI 2012 (Belum diaudit) dan 31 DESEMBER 2011"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Dana yang Dibatasi Penggunaannya - - Utang Bank jangka pendek 10 6,138,892,360 12,851,680,654

Piutang Usaha : Utang Lain - Lain 0 0

(Setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu Utang Pajak 12 989,803,162 1,034,985,827

sebesar Rp 493.043.542 pada tahun 2012 dan Biaya yang masih harus dibayar 76,100,841 193,147,418

Rp 493.043.542,- tahun 2011 ) 5 12,988,395,400 17,229,427,139 Utang Jangka Panjang Bagian yang Jatuh Tempo Piutang Lain-lain 18,385,722 24,091,321 dalam Waktu Satu Tahun :

Persediaan 6 31,577,750,994 28,835,942,853 - Utang pembiayaan konsumen 14 323,519,434 434,137,205

- Pendapatan sewa diterima dimuka 95,625,000 67,500,000 Pajak dibayar dimuka 7 - 888,865,912 Kewajiban Pajak Tangguhan - 0 Uang Muka dan Biaya Dibayar di Muka 2,026,396,860 823,104,435 Kewajiban Lancar Lain-lain 13 63,190,694 78,202,480 Total Liabilitas Jangka Pendek 24,060,394,505 30,499,389,716 Jumlah Aset Lancar 49,187,163,212 51,875,836,888

Liabilitas Jangka Panjang

Aset Tidak Lancar Utang Jangka Panjang Setelah dikurangi Bagian yang jatuh tempo dalam Waktu Satu Tahun :

Aset Pajak Tangguhan 21 2,199,170,602 2,186,958,683 - Pendapatan diterima di muka 202,500,000 264,375,000 Pinjaman karyawan - - - Utang pembiayaan konsumen 592,653,772 701,227,766 Estimasi Kewajiban Manfaat Karyawan 10,426,766,750 10,473,322,750 Aset Tetap - Setelah dikurangi Akumulasi penyusutan Total liabilitas Jangka Panjang 11,221,920,522 11,438,925,516 sebesar Rp 17.667.536.412,- pada tahun 2012

dan Rp 18.106.584.069,- pada tahun 2011) 8 2,727,568,061 2,495,795,409 EKUITAS

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Biaya Dibayar di Muka 701,888,888 0 Modal saham - nilai nominal Rp. 500 per saham

Modal dasar 120.710.400 saham

Ditempatkan dan disetor penuh - 118.365.600 saham 15 59,182,800,000 59,182,800,000

Pajak Hak Guna Bangunan 191,357,648 772,473,915 Saldo laba (41,224,451,691) (45,556,535,007)

Komponen ekuitas lainnya 1,769,666,000 1,769,666,000

19,728,014,309 15,395,930,993 Total Aset Tidak Lancar 5,819,985,198 5,455,228,007 Kepentingan nonpengendalian (3,180,926) (3,181,330)

Total Ekuitas 19,724,833,383 15,392,749,663

Total Aset 55,007,148,410 57,331,064,895 Total Liabilitas dan Ekuitas 55,007,148,410 57,331,064,895 Jakarta, 27 Juli 2012

Direksi

(2)

Pendapatan 17 49,879,777,260 48,333,008,634

Beban pokok penjualan 18 38,071,351,893 39,604,650,914

Laba bruto 11,808,425,367 8,728,357,720 Pendapatan Lainnya 2,940,915,786 2,236,476,001 Biaya distribusi 19 (5,097,266,701) (4,042,732,424) Biaya Administrasi 19 (3,506,622,429) (3,205,610,584) Beban lain-lain (541,208,423) (237,622,481) Biaya pendanaan - -Bagian laba entitas asosiasi

Laba sebelum pajak 5,604,243,601 3,478,868,232 Kini 20 (1,284,371,800) (774,068,853) Tangguhan 20 12,211,919 21,565,424 Laba tahun berjalan dari operasional yang dilanjutkan 4,332,083,720 2,726,364,803 Kerugian tahun berjalan dari operasi yang dihentikan -

-Laba tahun berjalan 4,332,083,720 2,726,364,803

Pendapatan komprehensif lain - -Laba komprehensif tahun berjalan 4,332,083,720 2,726,364,803 Jumlah laba rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada :

Pemilik entitas induk 4,332,083,316 2,726,364,803 Kepentingan nonpengendali 404

-4,332,083,720

2,726,364,803

LABA (RUGI) PER SAHAM 37 23

Jakarta, 27 Juli 2012 Direksi

(3)

Pembayaran kas kepada pemasok dan pelanggan (56,836,250,102) (54,662,780,649)

Kas yang dihasilkan operasi 3,970,817,793 (12,282,134,510) Penerimaan hasil restitusi PPh - -Pembayaran Pajak Penghasilan (16,183,588) 461,437,333

Arus kas sebelum pos luar biasa 3,954,634,205 (11,820,697,177) Hasil dari asuransi kebakaran -

-Arus kas bersih dari aktivitas operas 3,954,634,205 (11,820,697,177)

Arus Kas dari Aktivitas Investasi :

Kenaikan (penurunan) deposito / dana yg dibatasi penggunaannya 1,000,000,000 -Penjualan aktiva tetap 63,636,364250,000,000 Pembelian aktiva tetap (71,291,766)(470,725,000) Penerimaan bunga 27,055,8615,736,075 Penurunan efek - -Kenaikan efek - -Kenaikan (penurunan) beban ditangguhkan -

-Kas bersih digunakan untuk aktivitas investasi 785,011,075 19,400,459

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan :

Kenaikan (penurunan) hutang jangka panjang - -Penurunan modal disetor - -Kenaikan modal disetor - -Pembayaran deviden kas - -Penambahan (pengurangan) piutang afiliasi - -Pengurangan (penambahan) hutang dan cerukan (6,712,788,294) 9,684,224,671 Pembayaran hutang jangka panjang - -Pembayaran bunga (237,552,278)(322,502,880) Pembayaran kewajiban pembiayaan konsumen (52,568,250)(202,525,098) Kenaikan (penurunan) obligasi konversi -

-Kas bersih diperoleh dari aktivitas pendanaan (7,237,816,272) 9,394,104,143

KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS (2,498,170,992) (2,407,192,575)

KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 3,574,405,228 5,517,412,414

KAS DAN SETARA KAS AKHIR PERIODE 1,076,234,236 3,110,219,839

AKTIVITAS YANG TIDAK MEMPENGARUHI ARUS KAS - -Kapitalisasi biaya pinjaman selama masa pembangunan:

Rugi Kurs - Bunga - -Tambahan modal disetor yang berasal dari :

Perubahan ekuitas dalam aktiva bersih perusahaan - asosiasi-setelah dikurangi pajak. -

(4)

disetor penuh

Saldo 31 Desember 2010/ 1 Januari 2011 59,182,800,000 1,769,666,000 - (51,837,151,701) 9,115,314,299 Laba komprehensif Januari - Juni 2011 - - - 2,726,364,803 2,726,364,803 Saldo Laba 30 Juni 2011 59,182,800,000 1,769,666,000 - (49,110,786,898) 11,841,679,102

Saldo 31 Desember 2011 59,182,800,000 1,769,666,000 (3,181,330) (45,556,535,008) 15,392,749,662 Laba konprehensif tahun Januari - Juni 20 - - 404 4,332,083,317 4,332,083,721 Saldo per 30 Juni 2012 59,182,800,000 1,769,666,000 (3,180,926) (41,224,451,691) 19,724,833,383

(5)

5

Pendirian dan Kegiatan Usaha Perusahaan

PT. Inter Delta Tbk (Perusahaan) didirikan berdasarkan Akta Notaris Kartini Muljadi, SH No. 119

tanggal 15 Nopember 1976 dengan nama PT Inter Delta. Akta Pendirian perusahaan disahkan oleh

Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. Y.A.5/17/1 tanggal 10

Januari 1977 serta diumumkan dalam Berita Negara No. 40 tanggal 20 Mei 1977. Pada tanggal 2

Desember 1996, perusahaan melakukan perubahan nama menjadi PT Inter Delta Tbk. Perubahan

nama perusahaan memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam

Surat Keputusan No. C2-1213.HT.01.14.Th.97 tanggal 21 Pebruari 1997.

Anggaran Dasar perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan Akta

Notaris Buntario Tigris, SH SE, MH No. 38 tanggal 12 Juli 2010, sehubungan dengan peningkatan

modal disetor Perusahaan melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu.

Akta perubahan tersebut telah dilaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia dengan Surat Penerimaan Pemberitahuan No. AHU-AH.01.10-20211 Tanggal

9 Agustus 2010.

Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar perusahaan, ruang lingkup perusahaan terutama menjalani

industri yang erat hubungannya dengan perfilman termasuk pemrosesan film foto, industri

pembuatan alat-alat percetakan dan menjalankan perdagangan umum dalam bidang alat-alat

perfilman, micro film, bahan-bahan kimia untuk foto dan film serta alat-alat elektronik..

Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1976..

Perusahaan berdomisili di Jakarta dan berkantor di Gaya Motor Barat, Sunter II, Jakarta 14330

dengan kantor-kantor perwakilan di Surabaya, Semarang, Makasar, Medan, Bandung, Denpasar,

Palembang, Padang dan Pekan baru.

Penawaran Umum Efek Perusahaan.

Pada tanggal 20 Oktober 1989 perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan

Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dalam suratnya No. SI-063/SHM/MK.10/1989 untuk

melakukan penawaran saham perdana sebayak 1.250.000 saham dengan harga Rp 1.000 per saham

dengan harga penawaran Rp 7.200 per saham. Saham-saham tersebut tercatat di Bursa Efek Jakarta

(sekarang Bursa Efek Indonesia) sejak tanggal 18 Desember 1989.

Kronologis pencatatatan saham Perusahaan di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut:

Tanggal K e t e r a n g a n S a h a m

18 Desember 1989 Penawaran Umum 1.250.000

29 Nopember 1990 Partial Listing 1.250.000

10 Juni 1992 Company Listing 3.787.000

15 Juli 1993 Kapitalisasi Agio Saham 6.287.000

14 Juli 1994 Kapitalisasi Dividen Saham 2.514.800 1 April 1997 Pemecahan Nilai Nominal Saham 15.088.800 28 Juni 2010 Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek

Terlebih Dahulu 88.188.000

(6)

6

1.

UMUM (Lanjutan)

Informasi mengenai Entitas Anak

Pada tahun 1979, Perusahaan mendirikan PT. Fotomatic Jaya Industries (Entitas Anak), yang

berkedudukan di Jakarta dan bergerak dalam bidang penjualan kamera dan film melalui gerai-gerai

(Counter) serta jasa pemprosesan film. Jumlah Investasi dalam Entitas Anak pada tanggal 30 Juni

2012 dan 2011 adalah Rp 1.449.000.000,- dengan persentasi kepemilikan sebesar 99,93%.

Entitas Anak mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1980. Jumlah aset Entitas Anak sebelum

eliminasi per 30 Juni 2012 dan 2011 masing-masing sebesar Rp 308.276.053,- dan Rp 351.595.554,-

Entitas Induk dan Entitas Induk Terakhir

Peak Aim Development Ltd. Dan Karna Brata Lesmana, pada tanggal 30 Juni 2012 adalah entitas

Induk terakhir dari Perusahaan.

Karyawan, Dewan Komisaris dan Dewan Direksi

Susunan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2012 adalah sebagai

berikut :

Dewan komisaris

Presiden Komisaris : Drs. Fachrul Abdul Rachman

Komisaris Independen : Chris Jauri

Komisaris :

Jessica

Lesmana

Dewan direksi

Presiden Direktur

: Hasan Efendi Liem

D i r e k t u r

: Kevin Wong.

D i r e k t u r

: Satriani Ligatsyah

Jumlah karyawan tetap perusahaan dan anak perusahaan per 30 Juni 2012 sebanyak 231 orang (tidak

diaudit).

2.IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

Dasar Pengukuran dan Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi

Laporan Keuangan Konsolidasi telah disusun sesuai dengan menggunakan Standar Akuntansi

Keuangan (PSAK), yang mencakup Pernyataan dan Interprestasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar

Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. Seperti diungkapkan dalam catatan-catatan terkait

berikut di bawah ini, beberapa standar akuntansi yang telah direvisi dan diterbitkan , diterapkan efektif

taanggal 1 Januari 2011.

Laporan Keuangan Konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2012 disusun sesuai

dengan PSAK No.1 (Revisi 2009), mengenai “Penyajian Laporan Keuangan”

(7)

7

PSAK No.1 (Revisi 2009) mengatur penyajian laporan keuangan, yaitu antara lain, tujuan pelaporan,

komponen laporan keuangan, penyajian secara wajar, materialitas dan agregasi. Saling hapus,

perbedaan antara aset lancar dan tidak lancar dan liabilitas jangka pendek dan jangka panjang,

informasi komparatif, konsistensi penyajian dan memperkenalkan pengungkapan baru, antara lain,

sumber estimasi ketidakpastian dan pertimbangan, pengelolaan permodalan, pendapatan komprehensif

lainnya, penyimpangan dari standar akuntansi keuangan dan pernyataan kepatuhan.

Penerapan PSAK No. 1 (Revisi 2009) tersebut memberikan pengaruh yang signifikan bagi

pengungkapan dalam laporan keuangan konsolidasi.

Laporan keuangan konsolidasi telah disusun dengan dasar harga perolehan, kecuali dinyatakan lain, dan

menggunakan dasar akrual, kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi.

Laporan arus kas konsolidasi disusun menggunakan metode langsung dengan mengklasifikasikan arus

kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan adalah Indonesia Rupiah

yang merupakan mata uang Fungsional Perusahan.

Prinsip-prinsip Konsolidasi

Laporan Keuangan Konsolidasi terdiri dari Laporan Keuangan Perusahaan dan Entitas Anak yaitu PT

Fotomatic Jaya Industries yang dimiliki sebesar 99,93 %.

Efektif tanggal 1 Januari 2011 Perusahaan dan Entitas Anak menerapkan secara restrospektif PSAK

No.4 Revisi 2009) Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Terdiri kecuali beberapa

hal berikut yang diterapkan secara prospektif: (i) rugi entitas anak yang menyebabkan saldo defisit bagi

kepentingan non pengendali (ii) kehilangan pengendalian pada entitas anak (iii) perubahan kepemilikan

pada entitas anak yang tidak mengakibatkan hilangnya pengendalian (iv) hak suara potensial dalam

menentukan keberadaan pengendaliaan (v) konsolidasi atas entitas anak yang memiliki pembatasan

jangka panjang PSAK No.4 (Revisi 2009) mengatur penyusunan dan penyajian laporan keuangan

konsolidasi untuk sekelompok entitas unduk dan akuntansi untuk investasi pada entitas-entitas anak,

pengendalian bersama entitas dan entitas asosiasi ketika laporan keuangan terdiri disajikan sebagai

informasi tambahan Seperti diuraikan pada bagian ini, penerapan PSAK no.4 (Rvisi 2009) tersebut

memberikan pengaruh yang berarti terhadap laporan keuangan berikut pengungkapan terkait dalam

laporan keuangan konsolidasi.

Seluruh transaksi dan saldo akun antar perusahaan yang signifikan (termasuk laba rugi yang belum

direalisasi) telah dieliminasi. Entitas anak yang dikonsolidasikan secara penuh sejak tanggal akuasisi,

yaitu tanggal Perusahaan memperoleh pengendalian, sampai dengan tanggal entitas induk kehilangan

pengendalian. Pengendalian dianggap ada ketika Perusahaan memiliki secara langsung atau tidak

langsung melalui entitas anak. Lebih dari setengah kekuasaan suara entitas.

Rugi entitas anak yang tidak dimiliki secara penuh di distribusikan pada kepentingan non pengendali

bahkan jika hal ini mengakibatkan kepentingan non pengendali mempunyai saldo defisit.

Jika kehilangan pengendalian atas suatu entitas anak, maka Perusahaan dan entitas Anak:

Menghentikan pengakuan aset (termasuk setiap goodwill) dan liabilitas entitas anak;

(8)

8

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI.

Menghentikan pengakuan akumulasi selisih penjabaran, yang dicatat di ekuitas,bila ada;

Mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima;

Mengakui setiap sisa investasi pada nilai wajarnya;

Mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan

laba rugi; dan

Mereklasifiasi bagian induk atas komponen yang sebelumnya diakui sebagai pendapatan

komprehensif ke laporan laba rugi, atau mengalihkan secara lengsung ke saldo laba.

Kepentingan non pengendali mencerminkan bagian atas laba atau rugi dan aset neto

dari entitas anak yang tidak dapat diatribusikan secara langsung maupun tidak

langsung oleh Perusahaan, yang masing-masing disajikan dalam laporan laba rugi

komprehensif konsolidasian dan dalam ekuitas pada laporan posisi keuangan

konsolidasian, terpisah dari bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas

induk.

Sebelum tanggal 1 Januari 2011, kerugian yang menjadi bagian dari kepentingan non

pengendali pada entitas anak tertentu yang tidak dimiliki secara penuh yang sudah

melebihi bagiannya dalam modal disetor anak-anak tersebut dibebankan sementara

kepada pemegang saham pengendali, kecuali terdapat kewajiban yang mengikat

kepentingan non pengendali untuk menutupi kerugian tersebut. Laba entitas anak

tersebut pada periode berikutnya terlebih dahulu akan dialokasikan kepada

pemegang saham pengendali sampai seluruh bagian kerugian kepentingan non

pengendali yang dibebankan kepada pemegang saham pengendali dapat ditutup.

Penjabaran Mata Uang Asing

Transaksi dalam mata uang asing dicatat berdasarkan kurs yang berlaku pada saat

transaksi dilakukan.

Pada tanggal posisi keuangan, aset dan liabilitas dalam mata uang asing disesuaikan

untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut dan laba atau rugi kurs

yang terjadi dikredit atau dibebankan pada usaha tahun berjalan.

Kurs yang digunakan untuk menjabarkan aset dan liabilitas dalam mata uang asing

adalah kurs tengah terakhir yang diumumkan oleh Bank Indonesia untuk tahun

berjalan. Kurs pada tanggal posisi keuangan adalah sebagai berikut:

2012 2011

US$ 9.391 8.709

(9)

9

Transaksi dengan pihak berelasi

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan dan entitas anak menerapkan PSAK No.7 (Revisi 2010) mengenai ”Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”. PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen. Tidak terdapat dampak signifikan dari penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.

Suatu pihak dianggap berelasi dengan Perusahaan jika:

a. Langsung atau tidak langsung melalui satu atau lebih perantara, suatu pihak (i) mengandalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada dibawah pengendalian bersama dengan perusahaan; (ii) memiliki kepentingan dalam Perusahaan yang memberikan pengaruh signifikan atas Perusahaan; atau (iii) memiliki pengendalian bersama atas perusahaan;

b. Suatu pihak yang berelasi dengan Perusahaan

c. Suatu pihak adalah ventura bersama dimana Perusahaan sebagai venturer; d. Suatu pihak adalah anggota dari personil manajemen kunci Perusahaan atau induk;

e.

Suatu pihak adalah anggota keluarga dekat dari individu yang diuraikan dalam butir (a)

f.

Suatu pihak adalah entitas yang dikendalikan, dikendalikan bersama atau dipengaruhi

signifikan oleh atau untuk dimana hak suara signifikan pada beberapa entitas, langsung

maupun tidak langsung, individu seperti diuraikan dalam butir (d) atau (e); atau

g. Suatu pihak adalah suatu program imbalan paska kerja untuk imbalan kerja dari perusahaan atau entitas yang terkait dengan Perusahaan.

Sebelum tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No.7 mengenai ”Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”. Pengertian Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sesuai PSAK no.7 adalah sebagai berikut:

a. Perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada dibawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk perusahaan Induk, Entitas anak dan perusahaan rekanan);

b. Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut;

c. Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajemen, serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut. d. Perusahaan di mana suatu kepentingan substansi dalam hak suara dimiliki baik secara langsung e. maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam (c) atau (d), atau setiap orang

tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencangkup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.

Semua transaksi penting dengan pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Instrumen Keuangan

Perusahaan menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, yang menggantikan PSAK No. 50, “Akuntansi Investasi Efek Tertentu” dan PSAK No. 55 (Revisi 1999), “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai”.

(10)

10

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

PSAK No. 50 (Revisi 2006) berisi syarat-syarat untuk penyajian instrumen keuangan dan mengidentifikasi informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan penyajian berlaku untuk klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit menjadi aset keuangan, liabilitas keuangan dan instrumen modal; klasifikasi suku bunga terkait, dividen, rugi dan laba; kondisi-kondisi dimana aset dan liabilitas keuangan dapat saling hapus.

PSAK ini mengharuskan pengungkapan, antara lain informasi mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah, waktu dan kepastian dari arus kas entitas di masa mendatang yang berhubungan dengan instrumen keuangan dan kebijakan akuntansi yang berlaku bagi instrumen-instrumen tersebut.

PSAK No. 55 (Revisi 2006) mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan, dan kontrak pembelian dan penjualan item non keuangan. Pernyataan ini, antara lain, memberikan definisi dan karakteristik terhadap derivatif, kategori instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penetapan hubungan lindung nilai.

i.

Aset Keuangan

Pengakuan awal

Aset keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang dinilai

pada nilai wajar melalui laba atau rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi yang dimiliki

hingga jatuh tempo, dan aset keuangan tersedia untuk dijual. Perusahaan menentukan klasifikasi aset

keuangan pada saat pengakuan awal dan, jika diperbolehkan dan sesuai, akan dievaluasi kembali setiap

akhir tahun keuangan.

Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai wajar. Dalam hal investasi tidak diukur

pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah dengan biaya transaksi yang

dapat diatribusikan secara langsung.

Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan penyerahan aset dalam kurun waktu yang

telah ditetapkan oleh peraturan dan kebiasan yang berlaku di pasar (pembelian secara reguler) diakui

pada tanggal perdagangan, seperti tanggal perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset.

Pengukuran setelah pengakuan awal

Pengukuran setelah pengakuan awal dari aset keuangan tergantung pada klasifikasi sebagai berikut:

-

Aset keuangan yang nilai wajarnya diakui melalui laporan laba rugi

Aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi meliputi aset keuangan yang

diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan aset keuangan yang pada saat pengakuan

awalnya telah ditetapkan untuk dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi.

Aset keuangan diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki untuk

tujuan dijual dalam waktu dekat. Aset derivatif juga diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan

kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai. Aset keuangan yang dinilai pada nilai

wajar melalui laba atau rugi dicatat dalam laporan posisi keuangan pada nilai wajar dengan laba atau

rugi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.

(11)

11

Derivatif melekat dalam kontrak utama dihitung sebagai derivatif terpisah ketika risiko dan

karakteristiknya tidak berkaitan dengan kontrak utama dan kontrak utama tidak dicatat pada nilai wajar.

Derivatif melekat diukur berdasarkan nilai wajar dengan laba atau rugi yang timbul dari perubahan nilai

wajar tersebut diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Penilaian kembali hanya timbul jika

terdapat perubahan kontrak yang secara signifikan mengubah arus kas yang dipersyaratkan oleh

kontrak.

-

Pinjaman yang diberikan dan piutang

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau

telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut dicatat pada biaya

perolehan yang diamortisasi menggunakan metode tingkat bunga efektif. Laba atau rugi diakui dalam

laporan laba rugi komprehensif pada saat pinjaman dan piutang dihentikan pengakuannya atau

mengalami penurunan nilai, serta melalui proses amortisasi.

-

Investasi dimiliki hingga jatuh tempo

Aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah

ditetapkan diklasifikasi sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo jika Perusahaan mempunyai

maksud dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Setelah

pengukuran awal, investasi dalam kelompok dimiliki hingga jatuh

tempo diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

Metode ini menggunakan suku bunga efektif untuk mendiskonto penerimaan kas di masa yang akan

datang selama perkiraan umur aset keuangan menjadi nilai tercatat bersihnya. Laba atau rugi diakui

pada laporan laba rugi komprehensive ketika investasi dihentikan pengakuannya atau mengalami

penurunan nilai, serta melalui proses amortisasi.

- Aset keuangan tersedia untuk dijual

Aset keuangan tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia

untuk dijual atau yang tidak diklasifikasikan ke dalam tiga kategori sebelumnya. Setelah pengukuran

awal, aset keuangan tersedia untuk dijual diukur pada nilai wajar dengan laba atau rugi yang belum

direalisasi diakui dalam ekuitas sampai investasi tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat itu, laba

atau rugi kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi ke dalam laba atau rugi

sebagai penyesuaian reklasifikasi.

Investasi yang diklasifikasi sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual adalah sebagai berikut:

-

Investasi pada saham yang tidak tersedia nilai wajarnya dengan kepemilikan kurang dari 20%

dan investasi jangka panjang lainnya dicatat pada biaya perolehannya.

-

Investasi dalam modal saham yang tersedia nilai wajarnya dengan kepemilikan kurang dari

20% dicatat pada nilai wajar.

(12)

12

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTASI

ii.Liabilitas Keuangan

Pengakuan awal

Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang

diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, utang dan pinjaman atau derivatif yang telah ditetapkan

untuk tujuan lindung nilai yang efektif, jika sesuai. Perusahaan menentukan klasifikasi liabilitas keuangan

pada saat pengakuan awal.

Saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar dan, dalam hal utang dan pinjaman,

termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

Pengukuran setelah pengakuan awal

Pengukuran liabilitas keuangan bergantung pada klasifikasi sebagai berikut:

-

Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi

Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi mencakup liabilitas keuangan

yang diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan dan liabilitas keuangan yang pada saat pengakuan

awalnya, telah ditetapkan, diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi.

Liabilitas keuangan diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan jika diperoleh atau dimiliki untuk

tujuan dijual dalam waktu dekat. Liabilitas derivatif juga diklasifikasikan dalam

kelompok diperdagangkan kecuali derivatif yang ditetapkan sebagai instrumen lindung nilai yang efektif.

Laba atau rugi atas liabilitas dalam kelompok diperdagangkan harus diakui dalam laporan laba rugi

komprehensif.

-

Utang dan pinjaman

Setelah pengakuan awal, utang dan pinjaman yang dikenakan bunga diukur pada biaya perolehan

diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.

Laba atau rugi harus diakui dalam laporan laba rugi ketika liabilitas tersebut dihentikan pengakuannya

serta melalui proses amortisasinya.

iii. Saling hapus instrumen keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi

keuangan jika, dan hanya jika, terdapat hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas

jumlah yang telah diakui dari aset keuangan dan liabilitas keuangan tersebut dan terdapat intensi untuk

menyelesaikan dengan menggunakan dasar neto, atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan

liabilitasnya secara bersamaan.

(13)

13

iv.Nilai wajar instrumen keuangan

Nilai wajar instrumen keuangan yang secara aktif diperdagangkan di pasar keuangan ditentukan dengan

mengacu pada kuotasi harga pasar yang berlaku pada penutupan pasar pada akhir periode pelaporan.

Untuk instrumen keuangan yang tidak diperdagangkan di pasar aktif, nilai wajar

ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian tersebut meliputi penggunaan

transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar (arm’s-length market transactions), referensi atas nilai

wajar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama, analisis arus kas yang didiskonto, atau

model penilaian lainnya.

Penyesuaian risiko kredit

Perusahaan menyesuaikan harga di pasar yang lebih menguntungkan untuk mencerminkan adanya

perbedaan risiko kredit pihak yang bertransaksi antara instrumen yang diperdagangkan di pasar tersebut

dengan instrumen yang dinilai untuk posisi aset keuangan. Dalam penentuan nilai wajar posisi liabilitas

keuangan, risiko kredit Perusahaan terkait dengan instrumen keuangan tersebut ikut diperhitungkan.

v.Biaya perolehan yang diamortisasi dari instrumen keuangan

Biaya perolehan yang diamortisasi diukur dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi

penyisihan penurunan nilai dan pembayaran atau pengurangan pokok. Perhitungan ini mencakup seluruh

premi atau diskonto pada saat akuisisi dan mencakup biaya transaksi serta komisi yang merupakan bagian

tak terpisahkan dari suku bunga efektif.

vi.Penurunan nilai aset keuangan

Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Perusahaan mengevaluasi apakah terdapat bukti yang

obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai.

-Aset keuangan dicatat sebesar biaya perolehan yang diamortisasi

Untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Perusahaan

terlebih dahulu menentukan bahwa terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai secara individual

atas aset keuangan yang signifikan secara individual, atau secara kolektif untuk aset keuangan yang tidak

signifikan secara individual. Jika Perusahaan menentukan tidak terdapat bukti obyektif mengenai

penurunan nilai atas aset keuangan yang dinilai secara individual, terlepas aset keuangan tersebut

signifikan atau tidak, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan yang memiliki

karakteristik risiko kredit yang sejenis dan menilai penurunan nilai kelompok tersebut secara kolektif.

Aset yang penurunan nilainya dinilai secara individual dan untuk itu kerugian penurunan nilai diakui atau

tetap diakui, tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif.

Jika terdapat bukti obyektif bahwa kerugian penurunan nilai telah terjadi, jumlah kerugian tersebut diukur

sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa datang (tidak termasuk

kerugian kredit di masa mendatang yang belum terjadi). Nilai kini estimasi arus kas masa datang

didiskonto dengan menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut.

(14)

14

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

Jika pinjaman yang diberikan memiliki suku bunga variabel, maka tingkat diskonto yang digunakan untuk

mengukur setiap kerugian penurunan nilai adalah suku bunga efektif yang berlaku.

Nilai tercatat atas aset keuangan dikurangi melalui penggunaan pos cadangan penurunan nilai dan jumlah

kerugian yang terjadi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Pendapatan bunga selanjutnya diakui

sebesar nilai tercatat yang diturunkan nilainya berdasarkan tingkat suku bunga efektif awal dari aset

keuangan. Pinjaman yang diberikan dan piutang beserta dengan cadangan terkait dihapuskan jika tidak

terdapat kemungkinan yang realistis atas pemulihan di masa mendatang dan seluruh agunan telah

terealisasi atau dialihkan kepada Perusahaan. Jika, pada tahun berikutnya, nilai estimasi kerugian

penurunan nilai aset keuangan bertambah atau berkurang karena peristiwa yang terjadi setelah penurunan

nilai diakui, maka kerugian penurunan nilai yang diakui sebelumnya bertambah atau berkurang dengan

menyesuaikan pos cadangan penurunan nilai.

Jika di masa mendatang penghapusan tersebut dapat dipulihkan, jumlah pemulihan tersebut diakui pada

laba atau rugi.

-

Aset keuangan yang tersedia untuk dijual

Dalam hal investasi ekuitas diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang tersedia untuk dijual, bukti

obyektif akan termasuk penurunan nilai wajar yang signifikan dan berkepanjangan di bawah nilai

perolehan investasi tersebut.

Ketika terdapat bukti penurunan nilai, kerugian kumulatif - yang diukur sebagai selisih antara biaya

perolehan dan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai investasi yang sebelumnya diakui pada

laba atau rugi direklasifikasikan dari ekuitas ke dalam laba atau rugi. Kerugian penurunan nilai atas

investasi ekuitas tidak dihapuskan melalui laba atau rugi; sedangkan peningkatan nilai wajar setelah

penurunan nilai diakui dalam ekuitas.

Dalam hal instrumen utang diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang tersedia untuk dijual, indikasi

penurunan nilai dievaluasi berdasarkan kriteria yang sama dengan aset keuangan yang dicatat sebesar

biaya perolehan diamortisasi. Penghasilan bunga di masa mendatang didasarkan pada nilai tercatat yang

diturunkan nilainya dan diakui berdasarkan suku bunga

yang digunakan untuk mendiskonto arus kas masa datang dalam pengukuran kerugian penurunan nilai.

Penghasilan bunga yang masih harus dibayar tersebut dicatat sebagai bagian dari akun “Pendapatan

Keuangan” dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika pada tahun berikutnya, nilai wajar atas instrumen

utang meningkat dan peningkatan tersebut secara obyektif dapat dikaitkan dengan peristiwa yang timbul

setelah pengakuan kerugian penurunan nilai melalui laba atau rugi, kerugian penurunan nilai tersebut

harus dipulihkan melalui laba atau rugi.

vii.Penghentian pengakuan aset dan liabilitas keuangan

Aset Keuangan

Penghentian pengakuan atas suatu aset keuangan (atau, apabila dapat diterapkan untuk bagian dari aset

keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan sejenis) terjadi bila: (1) hak kontraktual atas arus kas

yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; atau (2) Perusahaan memindahkan hak untuk menerima

arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut atau menanggung liabilitas untuk membayar arus kas

yang diterima tersebut tanpa penundaan yang signifikan kepada pihak ketiga melalui suatu kesepakatan

(15)

15

penyerahan dan salah satu diantara (a) Perusahaan secara substansial memindahkan seluruh risiko dan

manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut, atau(b) Perusahaan secara substansial tidak

memindahkan dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut,

namun telah memindahkan pengendalian atas aset tersebut.

Liabilitas keuangan

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas yang ditetapkan dalam kontrak dihentikan

atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang

sama dengan ketentuan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial atas liabilitas

keuangan yang saat ini ada, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dicatat sebagai penghapusan

liabilitas keuangan awal dan pengakuan liabilitas keuangan baru dan selisih antara nilai tercatat liabilitas

keuangan tersebut diakui dalam laba atau rugi.

Piutang Usaha

Piutang usaha adalah jumlah piutang pelanggan sehubungan dengan kegiatan usaha. Bila pembayaran

diharapkan akan diterima dalam jangka waktu satu tahun atau kurang, maka diklasifikasikan sebagai aset

lancar. Bila tidak, disajikan sebagai aset tidak lancar.

Piutang usaha pada awalnya diakui pada nilai wajar dan kemudian diukur dengan menggunakan biaya

perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif, dikurangi dengan penyisihan

penurunan nilai. Penyisihan penurunan nilai piutang usaha dibentuk apabila ada bukti nyata bahwa

Perusahaan tidak mampu menagih jumlah piutang sesuai dengan jangka waktu asal. Nilai tercatat

dikurangi dengan satu akun penyisihan, berdasarkan telaah dari manajemen terhadap status

masing-masing saldo piutang pada akhir periode keuangan. Apabila suatu piutang usaha tidak dapat ditagih,

piutang tersebut dihapusbukukan terhadap akun penyisihan tersebut. Pemulihan kemudian dari jumlah

yang dihapusbukukan sebelumnya dikreditkan terhadap laporan laba rugi komprehensif.

Sebelum adopsi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ("PSAK") No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No.

55 (Revisi 2006) di tahun 2010, piutang usaha diakui pada nilai perolehan dan disajikan pada nilai

estimasi kolektibilitas saldo piutang berdasarkan telaah manajemen terhadap status masing-masing saldo

piutang pada akhir periode.

Persediaan

Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih

(the lower of cost or net realizable value). Harga perolehan ditentukan dengan metode masuk pertama

keluar pertama di Perusahaan. Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga jual yang wajar setelah

dikurangi dengan taksiran biaya untuk memperoleh atau menjual persediaan tersebut.

Penyisihan untuk persediaan usang dan persediaan yang perputarannya lambat ditentukan berdasarkan

hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir tahun.

(16)

16

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

Biaya Dibayar di Muka

Biaya dibayar di muka (disajikan sebagai bagian dari “Aset Lancar Lainnya” dan “Aset Tidak Lancar

Lainnya”) yang masih mempunyai masa manfaat diamortisasi selama manfaat masing-masing biaya

dengan menggunakan metode garis lurus.

Aset Tetap - Pemilikan Langsung

Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2007) mengenai “Aset Tetap”, dimana Perusahaan telah

memilih model biaya.

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai.

Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi

kriteria pengakuan. Selanjutnya pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke

dalam jumlah tercatat (carrying amount) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria

pengakuan. Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan. Semua

biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba

rugi komprehensif pada saat terjadinya.

Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat

ekonomis aset tetap yang bersangkutan sebagai berikut:

Tahun

Bangunan dan prasarana

5 – 30

Mesin dan peralatan

3 – 5

Kendaraan

4 – 5

Peralatan

3 – 5

Perabotan

5

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat

tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau

pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung

sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset)

dimasukkan dalam laporan laba rugi pada tahun aset tersebut dihentikan

pengakuannya.

Pada setiap akhir tahun buku, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan

direview dan jika tidak sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

(17)

17

Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan

Pada tanggal laporan posisi keuangan, Perusahaan dan Entitas Anak melakukan telah

untuk menentukan ada tidaknya indikasi penurunan nilai aset.

Aset non keuangan ditelaah untuk mengetahui apakah telah terjadi kerugian akibat

penurunan nilai apabila terjadi kondisi atau perubahan yang mengindikasikan bahwa

nilai tercatat aset tersebut tidak dapat diperoleh kembali. Kerugian akibat penurunan

nilai diakui sebesar selisih antara nilai tercatat aset yang melebihi nilai yang dapat

diperoleh kembali dari aset tersebut. Nilai yang dapat diperoleh kembali adalah nilai

yang lebih tinggi antara harga jual neto atau nilai pakai aset. Dalam rangka menguji

penurunan nilai, aset-aset dikelompokkan hingga unit terkecil yang menghasilkan arus

kas terpisah.

Pemulihan penyisihan penurunan nilai diakui sebagai pendapatan dalam periode

dimana pemulihan tersebut terjadi.

Beban Tangguhan

Beban-beban yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun ditangguhkan. Beban

tangguhan tersebut diamortisasi dengan mengunakan metode garis lurus (straight-line

method)

Pinjaman

Pada saat pengakuan awal, pinjaman diakui sebesar nilai wajar, dikurangi dengan

biaya-biaya transaksi yang terjadi. Pinjaman selanjutnya dicatat pada biaya perolehan

diamortisasi. Selisih antara jumlah uang yang diterima (dikurangi biaya transaksi) dan

nilai penyelesaian utang diakui di dalam laporan laba rugi dengan menggunakan

metode suku bunga efektif.

Biaya-biaya yang dibayarkan untuk mendapatkan fasilitas pinjaman diakui sebagai

biaya transaksi pinjaman sepanjang besar kemungkinan sebagian atau seluruh fasilitas

akan digunakan. Dalam hal ini, biaya tersebut ditangguhkan sampai penggunaan

terjadi. Sepanjang tidak ada bukti bahwa besar kemungkinan sebagian atau seluruh

fasilitas akan digunakan, biaya tersebut dikapitalisasi sebagai biaya jasa likuiditas

dibayar di muka dan diamortisasi selama periode fasilitas.

Sebelum adopsi PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006) di tahun 2010,

pinjaman diakui pada nilai perolehan.

(18)

18

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

Utang Usaha

Utang usaha pada awalnya diakui sebesar nilai wajar dan kemudian diukur pada biaya

perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode bunga efektif.

Sebelum adopsi PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) di tahun

2010, utang usaha diakui pada nilai perolehan.

Liabilitas Imbalan Paska-Kerja

Program pensiun imbalan pasti adalah program pensiun yang menentukan jumlah

imbalan pensiun yang akan diberikan, biasanya berdasarkan pada satu faktor atau lebih

seperti usia, masa kerja, atau kompensasi.

Perusahaan harus menyediakan imbalan pensiun dengan jumlah minimal sesuai

dengan UU Ketenagakerjaan No. 13/2003. Karena UU Ketenagakerjaan menentukan

rumus tertentu untuk menghitung jumlah minimal imbalan pensiun, pada dasarnya

program pensiun berdasarkan UU Ketenagakerjaan tersebut adalah program imbalan

pasti.

Liabilitas program pensiun imbalan pasti yang diakui di laporan posisi keuangan adalah

nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal laporan posisi keuangan, serta

disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuarial dan biaya jasa lalu yang belum

diakui. Tidak terdapat pendanaan yang disisihkan Perusahaan sehubungan dengan

program imbalan pasti ini. Liabilitas imbalan pasti dihitung setiap tahun oleh aktuaris

independen menggunakan metode projected unit credit. Nilai kini liabilitas imbalan pasti

ditentukan dengan mendiskonto estimasi arus kas keluar masa depan menggunakan

tingkat bunga obligasi pemerintah (dengan pertimbangan saat ini tidak ada pasar aktif

untuk obligasi korporat berkualitas tinggi) dalam mata uang yang sama dengan mata

uang imbalan yang akan dibayarkan dan waktu jatuh tempo yang kurang lebih sama

dengan waktu jatuh tempo imbalan yang bersangkutan.

Beban yang diakui di laporan laba rugi komprehensif termasuk biaya jasa kini, biaya

bunga, amortisasi biaya jasa lalu, dan keuntungan dan kerugian aktuaria. Liabilitas jasa

lalu diamortisasi menggunakan metode garis lurus selama estimasi rata-rata periode

servis sampai imbalan menjadi vested.

Keuntungan dan kerugian aktuarial yang timbul dari penyesuaian yang dibuat

berdasarkan pengalaman, perubahan asumsi-asumsi aktuarial dan perubahan pada

program pensiun, apabila melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti pada tanggal

laporan posisi keuangan, maka kelebihannya dibebankan atau dikreditkan pada laporan

laba rugi komprehensif selama sisa masa kerja rata-rata para karyawan yang

bersangkutan.

(19)

19

Pengakuan Pendapatan dan Beban

Pendapatan terdiri dari nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima untuk

penjualan barang sehubungan dengan kegiatan usaha Perusahaan. Pendapatan

disajikan bersih dari pajak pertambahan nilai, retur, rabat dan diskon

Perusahaan mengakui pendapatan ketika jumlah pendapatan dapat diukur dengan

andal, besar kemungkinan manfaat ekonomis sehubungan dengan transaksi tersebut

akan diperoleh, tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal posisi keuangan

dapat diukur dengan andal, dan biaya yang terjadi untuk transaksi dan untuk

menyelesaikan transaksi tersebut dapat diukur dengan andal.

Beban diakui pada saat terjadinya dengan basis akrual.

Perpajakan

Beban pajak kini ditetapkan berdasarkan taksiran laba kena pajak tahun berjalan yang

dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui

atas perbedaan waktu antara aset dan liabilitas untuk tujuan komersial dan untuk tujuan

perpajakan setiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak dimasa mendatang, seperti saldo

rugi fiskal yang belum digunakan, diakui sejauh besar kemungkinan realisasi atas

manfaat pajak tersebut.

Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur pada tarif pajak yang diharapkan akan

digunakan pada periode ketika aset direalisasi atau ketika liabilitas dilunasi berdasarkan

tarif pajak (dan peraturan perpajakan) yang berlaku atau secara subtansial telah

diberlakukan pada tanggal laporan posisi keuangan. Perubahan nilai tercatat aset dan

liabilitas pajak tangguhan yang disebabkan oleh perbedaan tarif pajak dibukukan pada

tahun berjalan, kecuali untuk transaksi-transaksi yang sebelumnya telah langsung

dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.

Perubahan terhadap liabilitas perpajakan diakui pada saat Surat Ketetapan Pajak (SKP)

diterima atau, jika Perusahaan mengajukan keberatan, pada saat keputusan atas

keberatan tersebut telah ditetapkan.

Penerapan Standar Akuntansi Revisi Lain

Selain standar akuntasi revisi yang telah disebutkan sebelumnya, Perusahaan juga

telah menerapkan standar akuntansi berikut pada tanggal 1 Januari 2011 yang

dianggap relevan terhadap laporan keuangan namun tidak menimbulkan dampak yang

signifikan:

- PSAK No.2 (Revisi 2009): Laporan arus kas

- PSAK No.8 (Revisi 2009): Peristiwa setelah periode pelaporan

(20)

20

3.

SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN

Pertimbangan

Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di

Indonesia mewajibkan manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang

mempengaruhi jumlah-jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Sehubungan

dengan adanya ketidakpastian yang melekat dalam membuat estimasi, hasil

sebenarnya yang dilaporkan di masa mendatang berbeda dengan jumlah estimasi

yang dibuat.

Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan

akuntansi Perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang

diakui dalam laporan keuangan.

Klasifikasi Aset dan Liabilitas Keuangan

Perusahaan menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset

keuangan dan liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan apakah definisi yang

ditetapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) di penuhi. Dengan demikian, aset keuangan

dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan.

Estimasi dan Asumsi

Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada

tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material

terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun/periode berikutnya, diungkapkan

di bawah ini. Perusahaan mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang

tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan situasi mengenai

perkembangan masa depan, mungkin berubah akibat perubahan pasar

atau situasi diluar kendali Perusahaan. Perubahan tersebut dicerminkan dalam

asumsi terkait pada saat terjadinya.

Liabilitas imbalan paska – kerja

Penentuan liabilitas imbalan paska kerja Perusahaan bergantung pada pemilihan

asumsi yang digunakan dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut

termasuk antara lain, tingkat diskonto, tingkat kenaikan gaji tahunan dan umur

pensiun. Hasil actual yang berbeda dari asumsi yang ditetapkan Perusahaan yang

memiliki pengaruh lebih dari 10% liabilitas imbalan pasti, ditangguhkan dan

diamortisasi secara garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja karyawan.

Sementara Perusahaan berkeyakinan bahwa asumsi tersebut adalah wajar dan

sesuai, perbedaan signifikan pada hasil aktual atau perubahan signifikan dalam

asumsi yang ditetapkan Perusahaan dapat mempengaruhi secara material liabilitas

diestimasi imbalan kerja dan beban imbalan kerja bersih. Nilai tercatat atas estimasi

(21)

21

liabilitas imbalan paska kerja Perusahaan 31 Desember 2011 adalah Rp

9.270.714.550. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 20.

Penyusutan Aset Tetap

Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus

berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomisnya. Manajemen mengestimasi masa

manfaat ekonomis aset tetap antara 5 sampai dengan 30 tahun. Ini adalah umur yang

secara umum diharapkan dalam industri dimana Perusahaan menjalankan bisnisnya.

Perubahan tingkat pemakaian dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi

masa manfaat ekonomis dan nilai sisa aset, dan karenanya biaya penyusutan masa

depan mungkin direvisi. Nilai tercatat bersih atas aset tetap Perusahaan pada tanggal

31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing sebesar Rp 2.436.665.123 dan Rp

856.402.077. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 8.

Instrumen Keuangan

Perusahaan mencatat aset dan liabilitas keuangan tertentu pada nilai wajar, yang mengharuskan penggunaan estimasi akuntansi. Sementara komponen signifikan atas pengukuran nilai wajar ditentukan menggunakan bukti obyektif yang dapat diverifikasi, jumlah perubahan nilai wajar dapat berbeda bila Perusahaan menggunakan metodologi penilaian yang berbeda. Perubahan nilai wajar aset dan liabilitas keuangan tersebut dapat mempengaruhi secara langsung laba atau rugi Perusahaan. Nilai tercatat dari aset keuangan pada nilai wajar dalam laporan perubahan posisi keuangan pada tanggal 31 Maret 2012 adalah sebesar Rp14.408.026.730 (31 Desember 2011: Rp20.827.923.688), sedangkan nilai tercatat liabilitas keuangan dalam laporan perubahan posisi keuangan pada tanggal 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp21.731.871.044,- (31 Desember 2011:Rp30.098.131.655) (lihat Catatan 25).

Pajak Penghasilan

Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan provisi atas pajak penghasilan badan.

Terdapat transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirny adalah tidak pasti

sepanjang kegiatan usaha normal. Perusahaan mengakui liabilitas atas pajak penghasilan badan

berdasarkan estimasi apakah akan terdapat tamb

Kronologis pencatatan saham

(22)

22

4.

KAS DAN SETARA KAS

Akun ini terdiri dari :

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 Kas Rp 45.895.778 Rp 462.391.254 Bank Rp 1.030.338.458 Rp 3.112.013.974 1.076.234.236 Rp Rp 3.574.405.228

5.

PIUTANG USAHA

Akun ini merupakan piutang usaha dari penjualan barang dagangan, mesin minilab, jasa pemrosesan

film dan jasa perbaikan mesin minilab dari pihak ketiga dengan rincian berdasarkan wilayah pemasaran

sebagai berikut :

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 Pihak yang mempunyai hubungan istimewa :

PT. Fotomatic Jaya Industries Rp 3.236.418.004 Rp 3.405.383.738 Pihak ketiga Rp 10.245.020.938 Rp 17.722.470.681 Penyisihan piutang ragu-ragu Rp (493.043.542) Rp (493.043.542) Jumlah Rp 12.988.395.400 Rp 20.634.810.877

Rincian piutang usaha berdasarkan umur piutang yang dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 1 s.d 90 hari Rp 12.454.131.332 Rp 16.454.087.057 91 s.d 180 hari Rp 1.027.307.610 Rp 735.444.131 > 180 hari Rp - Rp 532.939.493 13.481.438.942 Rp Rp 17.722.470.681 Penyisihan piutang ragu-ragu Rp (493.043.542) Rp (493.043.542) Piutang usaha bersih Rp 12.988.395.400 Rp 17.229.427.139

Manajemen berkeyakinan bahwa penyisihan penurunan nilai adalah cukup untuk menutup kerugian yang

mungkin timbul dari tidak tertagihnya piutang tersebut. Manajemen juga berpendapat bahwa tidak terdapat

risiko yang terkonsentrasi secara signifikan atas piutang usaha.

(23)

23

Persediaan terdiri dari :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Barang dagangan Rp 25.850.964.425 Rp 22.972.784.186 Suku cadang dan peralatan Rp 5.726.786.569 Rp 5.863.158.657

Jumlah Rp 31.577.750.994 Rp 28.835.942.843

Persediaan telah diasuransikan terhadap risiko akibat kebakaran dan risiko lainnya dengan nilai

pertanggungan sebesar Rp 40.700.000.000. dan Rp 40.700.000.000,- masing-masing pada tahun 2012 dan

2011, yang menurut pendapatan manajemen jumlah pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi

kemungkinan kerugian yang timbul.

Pada tanggal 31 Desember 2011, seluruh persediaan dijadikan jaminan atas utang bank jangka pendek yang

diterima (lihat Catatan 10)

Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir tahun, menajemen Perusahaan

berkeyakinan bahwa tidak ada penyisihan persediaan usang yang perlu dibentuk .

7.

ASET LANCAR LAINNYA

Akun ini terdiri dari

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Tagihan pajak

Tahun 2012 Rp 905.049.500 Rp Tahun 2010 Rp - Rp 888.865.912 Tahun 2009 Rp - Rp -Biaya dibayar di muka Rp 1.932.763.660 Rp 676.280.122

Uang muka Rp 93.633.200 Rp 146.824.313

2.931.446.360

(24)

24

8.

ASET TETAP

Rincian aset tetap adalah sebagai berikut :

Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

Rp Rp Rp Rp

Biaya Perolehan

Bangunan dan Prasarana 4.389.907.327 2.750.000 - 4.392.657.327 Mesin dan Peralatan 4.632.683.579 - - 4.632.683.579 Kendaraan Bermotor 6.814.702.447 420.000.000 678.000.000 6.556.702.447 Peralatan Kantor 4.233.690.242 47.975.000 - 4.281.665.242 P e r a b o t a n 531.395.877 - - 531.395.877 J u m l a h 20.602.379.472 470.725.000 678.000.000 20.395.104.472

Akumulasi Penyusutan

Bangunan dan Prasarana 4.057.844.510 16.627.046 - 4.074.471.556 Mesin dan Peralatan 4.581.183.589 40.166.662 - 4.621.350.251 Kendaraan Bermotor 4.833.913.960 155.677.626 678.000.000 4.311.591.586 Peralatan Kantor 4.102.942.143 26.101.014 - 4.129.043.157 P e r a b o t a n 530.699.862 380.000 - 531.079.862 J u m l a h 18.106.584.064 238.952.348 678.000.000 17.667.536.412 Jumlah Tercatat 2.495.795.408 2.727.568.061 31 JUNI 2012

Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

Biaya Perolehan

Bangunan dan Prasarana Rp 4.370.427.327 Rp 19.480.000 Rp - Rp 4.389.907.327 Mesin dan Peralatan 4.632.683.581 - - 4.632.683.581 Kendaraan Bermotor 5.629.282.449 1.658.020.000 472.600.000 6.814.702.449 Peralatan Kantor 4.143.638.478 90.051.767 - 4.233.690.245 P e r a b o t a n 531.395.876 - - 531.395.876 J u m l a h 19.307.427.711 1.767.551.767 472.600.000 20.602.379.478

Akumulasi Penyusutan

Bangunan dan Prasarana Rp 4.028.658.769 Rp 29.185.744 Rp - Rp 4.057.844.513 Mesin dan Peralatan 4.439.183.606 141.999.983 - 4.581.183.589 Kendaraan Bermotor 5.185.140.793 121.373.168 472.600.000 4.833.913.961 Peralatan Kantor 4.061.932.764 41.009.379 - 4.102.942.143 P e r a b o t a n 529.782.362 917.501 - 530.699.863 J u m l a h 18.244.698.294 334.485.775 472.600.000 18.106.584.069 Jumlah Tercatat 1.062.729.417 2.495.795.409 31 DESEMBER 2011

(25)

25

Rincian laba penjualan aset tetap adalahsebagai berikut :

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 Harga Jual Rp 250.000.000 Rp 112.727.272 Nilai buku - -Jumlah 250.000.000 112.727.272

Pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011, kendaraan dengan jumlah nilai buku masing-masing

sebesar Rp 1.573.083.750,- dan 1.625.795.063,- dijadikan jaminan atas utang pembiayaan konsumen

yang diterima (lihat Catatan 13).

Aset tetap telah diasuransikan terhadap kerugian akibat kebakaran dan resiko lainnya dengan nilai

pertanggungan keseluruhan sebesar Rp 19.115.000.000,-dan Rp 16.596.700.000,- Masing-masing pada

tahun 2012 dan 2011, yang menurut pendapat manajemen jumlah pertanggungan tersebut cukup untuk

menutupi kemungkinan kerugian yang timbul.

Berdasarkan penelaahan manajemen, tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan

keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset tetap pada tanggal 31 Juni 2012 dan 2011

9.

DEPOSITO BANK JANGKA PENDEK

Akun ini merupakan deposito berjangka rupiah yang ditetapkan pada bank sebagai berikut:

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. Rp 1.500.000.000 Rp 500.000.000

1.500.000.000

Rp Rp 500.000.000

Deposito berjangka yang ditetapkan pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk. Dijadikan jaminan

sehubungan dengan hak distribusi produk-produk cetak dan seni grafik dari PT.Heidelberg Indonesia.

Deposito tersebut berjangka waktu 1 bulan dengan tingkat suku bunga deposito per tahun sebesar 5,75 % -

6,75 % untuk tahun 2012 dan 6,75 % untuk tahun 2011

10.

HUTANG BANK JANGKA PENDEK

30 JUNI 2012 31 DESEMBER 2011 PT. Bank CIMB Niaga Tbk. Rp 6,138,892,360 Rp 12,851,680,654 J u m l a h Rp 6,138,892,360 Rp 12,851,680,654

Perusahaan mendapatkan fasilitas kredit jangka pendek dari PT. Bank CIMB Niaga Tbk. Berupa kredit

rekening koran dengan jumlah maksimum Rp 13.000.000.000,- Pinjaman tersebut dikenakan bunga per

tahun sebesar 8 % dan akan jatuh tempo pada tanggal 17 Maret 2012 Pinjaman tersebut dijamin dengan

persediaan milik Perusahaan ( lihat Catatan 6)

(26)

26

11.

UTANG USAHA

Akun ini merupakan utang usaha kepada :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Hock Tong Ent, Pte. Ltd Rp 6.869.579.701 Rp 12.118.210.234 Kodak Pte. Ltd. 8.636.770.850 3.358.631.846 PT. Heidelberg Indonesia 29.816.210 77.104.600 Noritsu Koki Co. Ltd. 2.918.552 29.093.945 PT. Karya Kreasi Indonesia - -Lain-lain 834.177.700 256.695.507 J u m l a h Rp 16.373.263.013 Rp 15.839.736.132

Kategori utang usaha berdasarkan umur utang sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 1 s.d 90 hari Rp 9.986.953.363 Rp 7.412.251.048 91 s.d 180 hari 3.697.728.125 4.151.364.677 > 180 hari 2.688.581.525 4.276.120.407 J u m l a h Rp 16.373.263.013 Rp 15.839.736.132

11. UTANG USAHA (Lanjutan)

Kategori utang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Dolar Amerika Serikat Rp 15.621.025.460 Rp 15.564.848.342 Rupiah 749.319.001 245.793.845 Yen Jepang 2.918.552 29.093.945 J u m l a h Rp 16.373.263.013 Rp 15.839.736.132

12.

HUTANG PAJAK

Akun ini terdiri dari :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Pasal 21 Rp 68.577.114 Rp 45.705.707 Pasal 23 1.068.758 4.064.745 Pasal 29 379.322.300 2.751.254 Pasal 4 ( 2 ) - 26.666.667 Pajak Pertambahan Nilai 540.834.991 955.797.454 J u m l a h Rp 989.803.162 Rp 1.034.985.827

(27)

27

30 Juni 2012 31 Desember 2011 Deviden Rp 19.908.790 Rp 19.908.790 Jaminan perbaikan mesin - -Lain -lain 43.281.904 58.293.690 J u m l a h Rp 63.190.694 Rp 78.202.480

14.

UTANG PEMBIAYAAN KONSUMEN

Akun ini merupakan utang atas pembiayaan kendaraan kepada lembaga pembiayaan konsumen sebagai

berikut :

30 Juni 2012 31 Desember 2011 PT. Finance Indonesia Rp 887.187.206 Rp 1.042.853.979 PT. Kencana Internusa Artha Finance 28.986.000 92.510.992

Jumlah 916.173.206 1.135.364.971

Dikurangi bagian yang jatuh tempo

dalam waktu satu tahun 323.519.434 434.137.205 Bagian yang akan jatuh tempo lebih

dari satu tahun Rp 592.653.772 Rp 701.227.766

Utang pembiayaan konsumen ini dijamin dengan kendaraan yang diperoleh (lihat Catatan 8) Perjanjian

utang lembaga pembiayaan ini membatasi untuk, antara lain, menjual dan mengalihkan kepemilikan aset.

15.

MODAL SAHAM

Rincian pemegang saham Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 berdasarkan

catatan yang dibuat oleh PT. Adimitra Transferindo, Biro Adminiistrasi Efek , adalah sebagai berikut :

Jumlah Saham Persentasi

Pemegang Saham Ditempatkan dan Disetor Pemilikan Jumlah

Peak Aim Development Ltd. Rp 88.188.000 74,50% Rp 44.094.000.000 Karna Brata Lesmana 10.079.344 8,52 5.039.672.000 Masyarakat 20.098.256 16,98 10.049.128.000 Jumlah Rp 118.365.600 100,00% 59.182.800.000

Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perusahaan tanggal 28 Juni 2010 yang dinyatakan

dalam akta notaris Buntario Tigris, SH,SE,MH, No. 198 pada tanggal yang sama, pemegang saham

Perusahaan menyetujui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu mkonversi utang

pokok Perusahaan kepada Peak Aim Development Ltd. Sebesar Rp 44.090.000.000 menjadi 88.188.000

saham perusahaan dimiliki oleh Peak Aim Development Ltd.

(28)

28

16.

TAMBAHAN MODAL DISETOR

Akun ini merupakan selisih antara nilai nominal dan harga jual saham sejumlah Rp 8.056.666.000,- pada

tahun 1993, agio saham sebesar Rp 6.287.000.000 dikapitalisasi menjadi modal saham, yang dibagikan

dalam bentuk saham bonus kepada pemegang saham, sehingga saldo agio saham menjadi sebesar Rp

1.769.666.000,-

17.

PENJUALAN BERSIH

Rincian penjualan bersih berdasarkan kelompok produk utama Perusahaan adalah sebagai berikut:

30 Juni 2012 30 Juni 2011 Kertas cetak foto Rp 33.561.614.452 Rp 27.893.839.221 Film dan kamera 5.172.907.513 10.858.951.721 Bahan kimia pemrosesan foto dan kertas 4.734.314.586 4.943.029.822 Peralatan cetak foto 1.660.204.045 845.944.543 Jasa cetak foto dan studio 1.408.828.112 1.490.084.856 Lain - lain 3.341.908.552 2.301.158.471

Jumlah 49.879.777.260 48.333.008.634

18.

BEBAN POKOK PENJUALAN

Rincian beban pokok penjualan adalah sebagai berikut:

30 Juni 2012 30 Juni 2011 Persediaan awal barang dagangan Rp 27.776.958.871 Rp 21.651.174.887 Pembelian bersih 39.629.509.367 47.254.372.049 Barang dagangan tersedia untuk dijual 67.406.468.239 68.905.546.937 Persediaan akhir barang dagangan (31.577.750.994) (30.417.813.741) Beban pokok dan pemakaian persediaan 35.828.717.245 38.487.733.196 Beban poko tidak langsung 2.242.634.648 1.116.917.719 Beban pokok penjualan Rp 38.071.351.893 Rp 39.604.650.914

(29)

29

Akun ini terdiri dari :

30 Juni 2012 30 Juni 2011 Gaji dan tunjangan Rp 4.568.218.772 Rp 3.986.384.868 Iklan dan promosi 591.313.255 173.417.571 Gudang dan distribusi 410.400.408 508.310.965 Pos dan telekomunikasi 318.705.574 371.310.771 Transportasi dan perjalanan dinas 383.104.794 260.141.032 Listrik dan air 299.566.313 395.466.655 Pemeliharaan dan perbaikan 120.755.053 158.022.792 Asuransi dan pajak kendaraan 355.505.393 287.291.147 Perlengkapan kantor 194.059.672 355.203.288 Penyusutan 247.401.947 167.908.042 Sewa 2.800.000 2.100.000 Jasa profesional 38.265.571 44.727.273 Lain - lain 1.073.792.378 538.058.603 Jumlah Rp 8.603.889.130 Rp 7.248.343.008

20.

TAKSIRAN PAJAK PENGHASILAN

Taksiran beban ( manfaat ) pajak penghasilan terdiri dari :

30 Juni 2012 30 Juni 2011

Kini 1.284.371.892 623.568.000

Tangguhan 12.211.919 21.565.424 1.296.583.811

(30)

30

Rekonsiliasi antara laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan, seperti yang disajikan dalam laporan

laba rugi komprehensif dengan laba kena pajak untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2012 dan

2011 adalah sebagai berikut :

30 Juni 2012 30 Juni 2011

Rp Rp

Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan menurut

laporan laba rugi komprehensif konsolidasian 5.626.443.426 2.726.364.803 Laba ( Rugi ) Entitas Anak sebelum Taksiran Pajak (9.987.905) (458.596.937) Laba Perusahaan sebelum taksiran Pajak Penghasilan 5.636.431.331 3.184.961.740

Beda Waktu

Imbalan paska - kerja - Pemulihan penyisihan penurunan nilai piutang - Penyusutan Aset Tetap 61.059.597 (107.827.121)

Beda Tetap

Representasi 135.411.106 83.762.083 Beban Pajak 672.223.087 Penghasilan yang telah dikenakan pajak final (83.265.662) (43.055.863)

Laba fiskal 6.421.859.459 3.117.840.839

Akumulasi Kerugian Fiskal, Awal Tahun - -Penyesuaian rugi fiskal yang tidak dapat digunakan - -Penghasilan kena pajak 6.421.859.459 3.117.840.839

Penghitungan taksiran Pajak Penghasilan dan utang /tagihan Pajak Penghasilan adalah sebagai berikut :

30 Juni 2012 30 Juni 2011 Penghasilan kena pajak ( dibulatkan ) Rp 6.421.859.000 Rp 3.117.840.000 Taksiran Pajak Penghasilan 1.284.371.800 623.568.000 Pajak Penghasilan dibayar di muka

Pasal 22 905.049.500 284.486.293

Pasal 23 - -Utang ( tagihan ) Pajak Penghasilan 379.322.300 339.081.707

Berdasarkan peraturan perpajakan Indonesia, Perusahaan menghitung, menetapkan dan membayar sendiri

jumlah pajak yang terutang.diretorat Jendral Pajak (DJP) dapat menetapkan atau mengubah kewajiban pajak

dalam batas waktu maksimal 10 tahun sejak tanggal terhutangnya pajak atau sampai dengan tahun 2013,

mana yang lebih dahulu (berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku sejak 2008, DJP dapat menetapkan

atau mengubah kewajiban pajak dalam batas waktu 5 tahun sejak tanggal terhutangnya pajak ).

Gambar

Tabel di bawah ini merupakan jadwal jatuh tempo liabilitas keuangan Perusahaan berdasarkan  pembayaran kontraktual yang tidak didiskontokan

Referensi

Dokumen terkait

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan ketentuan yang berbeda secara substansial atas

Ketika sebuah liabilitas keuangan digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama atas persyaratan yang secara substansial berbeda, atau

Ketika liabilitas keuangan saat ini digantikan dengan yang lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi

Ketika liabilitas keuangan saat ini digantikan dengan yang lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan ketentuan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi

Ketika suatu liabilitas keuangan yang ada digantikan oleh liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan persyaratan yang berbeda secara substansial, atau

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan ketentuan yang berbeda secara substantial, atau