• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institusi-Oktober 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Institusi-Oktober 2008"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME VI OKTOBER 2008

(2)

Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.

Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.

(3)

D a ft a r I si

KPU Tetapkan Maksimal --- 1

Masyarakat Diminta Laporkan Caleg yang Bermasalah --- 2

Mencontreng ataukah Mencoblos? --- 3

Sulit Revisi UU No 10/2008 dalam Waktu Dekat --- 6

Belum Ada Kesatuan Pandangan dalam Draf RUU Keistimewaan --- 7

Pilkada Biak Terancam Batal --- 9

Partai Politik Diimbau Ikut Sosialisasikan Manfaat Pemilu --- 10

Perihal Perpu --- 11

RUU MA Belum Jadi Disetujui --- 13

RUU MA Perlu Dikaji Lagi--- 14

15 Calon Kepala Daerah Deklarasikan Pilkada Damai --- 15

Caleg Ganda Tunggu Klarifikasi Parpol --- 16

Di Sumsel, Tiga Caleg Dilaporkan Pakai Ijazah Palsu --- 17

Syarat 81 Caleg DPRD DKI Bermasalah --- 18

Kesiapan Logistik KPU Jatim Disorot --- 20

Panwaslu Padang Temukan Pelanggaran Kampanye --- 21

Pilkada Jayawijaya Berjalan Aman --- 23

Pemprov Kaltim Tolak Biaya Pengamanan Pilkada Rp 49 Miliar --- 25

Tiga Pasang Kandidat Mulai Berkampanye --- 26

Peluit Kampanye Pilkada Ciamis Ditiup --- 27

Pemerintah Ajukan Perpu Krisis --- 28

Coret Caleg yang Bermasalah --- 29

Koalisi Ornop Jabar Tolak RUU Pornografi --- 30

Perdebatan Berlarut, Sekadar Tawar-menawar Parpol--- 31

Pilkada Lebak Tunggu Keputusan KPU--- 32

Perpu, Masih Proses Administratif? --- 34

Revisi UU No 10/2008, Merevisi Kepentingan --- 36

Christian Unggul di Pilkada Rote--- 38

Pilkada Lebak Tunggu Keputusan KPU--- 39

(4)

RUU Pornografi Jadi Komoditas Politik --- 46

RUU Pilpres --- 47

Dampak Krisis Global --- 49

Payung Hukum JPSK Seharusnya UU --- 50

Parpol Besar Jangan Egois--- 51

RUU Pornografi Abaikan Suara Perempuan --- 53

Dua Kandidat dari Jalur Independen Unggul --- 54

Sahkan UU Tipikor --- 55

(I)rasionalitas Threshold Capres --- 56

Data Pemilih Pilkada Padang Masih Kacau --- 58

RUU MA Harus Ditunda --- 59

Seribu Orang Tolak RUU Pornografi --- 61

Politik Uang di Pilkada Kota Serang --- 62

Otsus Papua Tidak Membawa Perubahan --- 63

Pilkada Rote Ndao ke Putaran Kedua --- 65

Pilkada Langkat Ketat --- 66

RUU Pilpres Harus Disetujui Besok --- 67

Angka Partisipasi Pilbup Lebih Rendah --- 69

Nasib Tragis di Balik Otonomi --- 70

Bali Tetap Menolak UU Pornografi --- 71

Tak Ada Pilkada Ulang di Taput --- 72

(5)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

Jumlah Caleg

KPU Te t a p k a n M a k sim a l

Jumat, 3 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Komisi Pemilihan Umum telah mengumumkan jumlah calon anggota legislatif atau caleg per partai, pekan lalu. Dari 38 partai politik peserta Pemilu 2009, Partai Demokrat mempunyai caleg DPR terbanyak, yaitu 673 orang. Jumlah ini membuat tanda tanya beberapa pihak yang berpendapat jumlah caleg paling banyak 120 persen dari jumlah kursi DPR (550), yaitu 672 caleg.

Anggota KPU, Endang Sulastri, Selasa (30/9), mengatakan, pengajuan caleg setiap parpol peserta Pemilu 2009 maksimal 675 orang. KPU berpedoman pada Pasal 54 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, yang menyatakan daftar bakal calon memuat paling banyak 120 persen dari jumlah kursi dari setiap daerah pemilihan (dapil).

”Untuk itu, kami sudah mendaftar dan menghitung jumlah 120 persen dari jumlah kursi setiap dapil sehingga hasilnya 675 caleg, bukan menghitung 120 persen dari 550 kursi DPR,” kata Endang.

Untuk itu, lanjut Endang, Partai Demokrat tidak menyalahi ketentuan jumlah caleg maksimal. Dalam pengumuman KPU, Partai Demokrat menjadi partai yang paling banyak mengajukan caleg, sementara partai yang paling sedikit mengajukan caleg adalah Partai Penegak Demokrasi Indonesia mengajukan 50 caleg.

Dalam kesempatan itu, Endang juga mengungkapkan beberapa data menarik mengenai profil daftar caleg yang sudah disampaikan 38 parpol ke KPU. Misalnya, ada parpol yang mempunyai 100 persen caleg perempuan, parpol yang tidak mempunyai banyak perbaikan data caleg.

Mengenai keterwakilan caleg perempuan, Endang mengatakan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) mempunyai data yang cukup baik, yaitu daerah pemilihan DKI Jakarta II memasang tujuh caleg dan semuanya perempuan.

”Hanya PDP satu-satunya yang mempunyai 100 persen caleg perempuan di salah satu dapilnya. Memang ada parpol lain juga yang 100 persen perempuan, tetapi dalam satu dapil itu hanya ada satu atau dua caleg,” ujarnya.

(6)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

Caleg

M a sy a r a k a t D im in t a La p or k a n Ca le g y a n g

Be r m a sa la h

Jumat, 3 Oktober 2008 | 02:05 WIB

Kupang, Kompas - Masyarakat Nusa Tenggara Timur diminta masukannya terhadap daftar calon sementara calon anggota legislatif atau caleg provinsi periode 2009-2014 yang dinilai bermasalah. KPU NTT menetapkan 1.088 daftar caleg periode 2009-2014, sementara 122 caleg dinyatakan gugur karena tidak memenuhi sejumlah persyaratan, seperti akurasi nama di dalam ijazah dan ijazah yang tidak dilegalisasi.

”Mereka yang gugur antara lain karena penulisan nama di dalam ijazah tidak akurat, ijazah tidak dilegalisir, calon dari pegawai negeri sipil tidak mengajukan surat pernyataan pengunduran diri, tidak ada surat pernyataan dari pimpinan setempat bahwa surat pengunduran diri yang bersangkutan disetujui, tidak memiliki kartu tanda anggota partai, dan seterusnya,” kata anggota KPU NTT, Joseph Dasi Djawa, di Kupang, Selasa (30/9).

Caleg yang didaftarkan oleh 38 partai politik sebanyak 2.508 orang. Pada masa perbaikan, yang mengembalikan berkas 1.210 caleg. Dari jumlah ini, yang memenuhi syarat sebanyak 1.088 orang, dengan rincian 750 laki-laki (68,53 persen) dan 338 perempuan (31,07 persen). Sebanyak 122 orang dinyatakan gugur.

Pengumuman nama daftar calon sementara (DCS) telah dipajang di Kantor KPU NTT tanpa disertai foto caleg. Penetapan DCS tanggal 25 September 2008 sementara masa uji publik berlangsung 26 September-9 Oktober 2008.

Jika ada keberatan, masukan, dan informasi dari masyarakat terkait nama-nama yang diumumkan, akan dihimpun KPU NTT, selanjutnya diserahkan ke KPU pusat untuk dipertimbangkan. Misalnya, caleg bersangkutan terlibat dalam kasus pidana/ perdata, korupsi, dan seterusnya.

(7)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

Surat Suara

M e n con t r e n g a t a u k a h M e n cob los?

Jumat, 3 Oktober 2008 | 02:04 WIB

Komisi Pemilihan Umum belum juga menentukan tanda apa yang akan digunakan dalam Pemilihan Umum 2009. Meski sudah yakin dengan tanda centang atau contreng (V), KPU masih saja tak kunjung membuat aturannya. Perdebatan masih berkutat di seputar apakah tanda selain tanda contreng, seperti mencoblos, bisa dikatakan sebagai suara sah.

Sejak awal, pada Mei lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah sangat yakin dengan tanda contreng. Itu terlihat pada Pencanangan Sosialisasi Pemilu 2009 yang dilaksanakan di Istana Presiden. Bahkan, di situ sudah dikenalkan logo Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, Si Pena, boneka dengan bentuk pena yang besar dan berwarna oranye. Selain itu, juga ada poster yang bergambar tanda contreng. Dengan demikian, KPU mau tidak mau harus mengesahkan tanda contreng itu.

Tanda contreng itu merupakan terjemahan KPU terhadap bunyi Pasal 153 Ayat 1 Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2008 yang menyatakan pemberian suara untuk pemilu dilakukan dengan memberi tanda satu kali pada surat suara. Kemudian, ayat berikutnya, memberikan tanda satu kali dilakukan berdasarkan prinsip memudahkan pemilih, akurasi dalam penghitungan suara dan efisien dalam penyelenggaraan pemilu.

Perdebatan muncul ketika KPU memaparkan desain surat suara di depan anggota Komisi II DPR. Tentu saja tanda contreng tidak terlepas dari bagaimana desain surat suara Pemilu 2009. Sebagian anggota DPR meragukan tanda contreng bisa dimengerti oleh ratusan juta pemilih Pemilu 2009. Alasannya, sudah bertahun-tahun masyarakat Indonesia terbiasa dengan mencoblos.

Anggota Komisi II, Andi Yuliani Paris (Fraksi Partai Amanat Nasional, Sulawesi Selatan II), mengatakan, KPU perlu memikirkan nama yang cocok untuk tanda contreng karena tidak semua orang di dalam masyarakat mengetahui arti tanda contreng. ”Bagaimana kalau masyarakat mengilustrasikan tanda contreng itu seperti tanda silang atau titik? Apakah suaranya sah? Kata ’contreng’ tidak dikenal seluruh masyarakat, termasuk konstituen kami di Sulsel,” kata Andi.

Bila KPU memutuskan menggunakan tanda contreng dalam surat suara, lanjutnya, sebaiknya dicari cara yang tepat bagaimana mengubah kebiasaan pemilih dari mencoblos menjadi memberi tanda contreng. ”Banyak yang bertanya kepada kami, termasuk dari kaum tunanetra. Bagaimana memastikan kaum tunanetra memilih pada tempat yang tepat? Ini penting supaya mereka juga bisa berpartisipasi dalam pemilu,” ujarnya.

Anggota Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, juga mengungkapkan hal senada. Ia mendorong agar cara mencoblos tetap digunakan pada Pemilu 2009. ”Tanda mencoblos atau mencontreng sudah melalui perdebatan yang panjang. Pada prinsipnya, bagaimana tanda itu mudah dan efisien. Jangan dipukul rata semuanya, harus mencontreng. Saya kira tanda titik pun bisa lebih mudah dan efisien,” kata Jazuli.

(8)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

Sejak UU No 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD dibahas oleh pemerintah dan DPR, perdebatan soal tanda mencontreng atau mencoblos sudah muncul. Saat itu ada dua pilihan yang mengerucut, yaitu memberi tanda (contreng) atau mencoblos. Dengan adanya dua pilihan itu, DPR menganggap mencoblos bukanlah termasuk memberi tanda.

Saat pembahasan RUU Pemilu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar mengusulkan agar pemberian suara dalam Pemilu 2009 tidak dengan cara mencoblos kertas suara, tetapi dengan menulis nama partai dan nama calon. Usulan ini pun memunculkan pro dan kontra.

Di sisi lain, perdebatan di antara lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membidangi pemilu tak kalah seru. Centre for Electoral Reform (Cetro) mendukung tanda contreng pada surat suara. Direktur Eksekutif Cetro Hadar N Gumay mengungkapkan, tanda contreng sudah banyak digunakan di negara lain, hanya Indonesia dan Kamerun yang masih menggunakan tanda mencoblos. Selain itu, tanda contreng diharapkan bisa menghilangkan kemungkinan kecurangan yang bisa dilakukan dengan metode mencoblos.

Sementara itu, Kelompok Kerja (Pokja) Pemantau Penyelenggara Pemilu yang merupakan gabungan dari beberapa LSM, seperti Formappi, Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat, KRHN, Yappika, LBH Jakarta, serta Sindikasi Pemilu dan Demokrasi, beranggapan tanda contreng akan menyebabkan suara tidak sah meningkat. Sekjen Formappi Sebastian Salang mengatakan, tanda yang dipilih harus memberikan kemudahan kepada pemilih dan menjamin akurasi penghitungan suara. ”Dengan alasan-alasan itu, kami merekomendasikan kepada KPU untuk memilih tanda mencoblos. Apalagi sebagian besar masyarakat belum terbiasa dengan tanda contreng. KPU harus tegas,” ujarnya.

Meski perdebatan di luar KPU sudah sangat seru, hampir setiap hari ada pro dan kontra tanda contreng, KPU masih saja bersantai-santai. Keputusan tanda contreng akan diambil bersamaan dengan penentuan desain surat suara. Simulasi pemungutan suara dilakukan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Dua pekan lalu KPU melakukan simulasi pemungutan suara di dua tempat, yaitu Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dan Kabupaten Keerom, Papua. Dalam dua simulasi itu ada dua pengesahan tanda memberi suara yang sah. Di Sidoarjo, KPU mengesahkan tanda selain tanda contreng, yaitu tanda coblos, tanda garis, dan tanda silang.

Di Keerom, KPU hanya mengesahkan tanda contreng. Hasilnya, KPU menjadi semakin mantap dengan pilihannya, Alasannya, sebagian besar masyarakat yang datang untuk simulasi tidak mengalami kesulitan dalam mencontreng. Permasalahan yang muncul hanya mengenai desain surat suara yang terlalu besar. Simulasi juga mengungkapkan, 10 orang mencoblos surat suara.

Untuk kedua simulasi itu, KPU sudah berkonsultasi dengan pemerintah dan DPR, tetapi keputusan belum bisa diambil KPU. Saat ini, KPU masih menunggu satu simulasi lagi, di Aceh. Setelah itu, mudah-mudahan saja KPU semakin tegas melangkah mengambil keputusan tanda apa yang sah. Hanya saja, jangan sampai KPU kemudian mengesahkan banyak tanda pemberian suara yang tentu akan membingungkan masyarakat.

(9)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

”Kalau tandanya masih di dalam kolom, itu tetap sah. Ini nanti akan diatur dalam peraturan KPU tentang pemungutan suara,” kata Andi yang juga Ketua Pokja Pemungutan Suara KPU.

(10)

Kompas Jumat, 03 Oktober 2008

Tiga Alternatif Revisi UU

Su lit Re v isi UU N o 1 0 / 2 0 0 8 d a la m W a k t u D e k a t

Jumat, 3 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Tersedia tiga pilihan atas usul revisi terbatas terhadap Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 mengenai Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD terkait dengan klausul penetapan calon terpilih.

Pertama, usul perubahan mentah. Kedua, usul diakomodasi sehingga penetapan calon terpilih bisa mengacu ke nomor urut sekaligus dimungkinkan bagi partai politik menerapkan prinsip suara terbanyak. Ketiga, mesti diputuskan adanya ketentuan yang tunggal demi kepastian publik, yaitu antara penetapan calon terpilih berdasarkan suara terbanyak seperti UU No 10/2008 atau sepenuhnya berdasarkan suara terbanyak.

Seperti diberitakan, sejumlah anggota DPR telah mengusulkan revisi terbatas atas UU No 10/2008, yaitu agar dimungkinkan cara penetapan calon terpilih dengan menggunakan sistem suara terbanyak. Sebanyak 60 anggota dari lima fraksi mengusulkan revisi terbatas atas UU yang baru diundangkan pada 31 Maret 2008 itu. Usul perubahan tersebut kini masih dalam tahap harmonisasi di Badan Legislasi DPR. Namun, di sisi lain, ada kelompok anggota DPR yang secara resmi juga meminta agar ketentuan dalam UU No 10/2008 tetap dipertahankan.

Menurut Wakil Ketua Badan Legislasi DPR Al Muzzammil Yusuf (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Lampung I) di Jakarta, Rabu (1/10), ketiga kemungkinan itu muncul dalam proses harmonisasi materi usul perubahan UU No 10/2008. Al Muzzammil mengakui, pembahasan usul revisi itu mesti dilakukan komprehensif. Realitas politiknya, ada kelompok yang ingin revisi terbatas dengan menyelipkan pemberlakuan prinsip suara terbanyak. Namun, juga ada kelompok yang ingin UU No 10/2008 dijalankan tanpa perubahan.

Diharapkan sebelum masa persidangan berakhir pada 24 Oktober, sudah selesai di tingkat DPR, untuk kemudian disampaikan kepada Presiden agar segera diagendakan pembahasannya. Jika hanya terkait dengan penetapan calon terpilih, tahapan persiapan Pemilu 2009 tidak akan terhambat.

Secara terpisah, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Jeirry Sumampow menyebutkan, kemungkinan perubahan atas UU No 10/2008 yang paling cepat bisa dicoba dengan meminta pengujian ke Mahkamah Konstitusi (MK). Jika nanti keluar putusan MK, mau tidak mau akhirnya DPR bersama pemerintah akan ”menyesuaikan” ketentuan dalam UU bersangkutan. Problemnya sekarang, belum jelas siapa yang akan mengajukan permohonan pengujian itu. ”Kalau dilakukan oleh parpol, tentu akan menjadi sangat lucu, aneh, dan memalukan,” kata Jeirry.

Prediksi Jeirry, masih agak sulit bagi DPR menetapkan usul revisi atas UU No 10/2008 dalam waktu dekat. Bahkan, bisa jadi kepastian revisi tersebut tidak akan tersepakati sampai pemilu anggota legislatif berlangsung. Sekalipun fraksi pendukung revisi semakin banyak dan bahkan cenderung mayoritas, kekuatan yang menentangnya pun masih cukup besar. Dibutuhkan waktu lama untuk memproses penyamaan kepentingan partai politik terhadap revisi tersebut.

Jeirry juga menyebutkan agenda DPR masih sangat padat. Salah satunya, RUU Pemilu Presiden yang mesti segera diselesaikan DPR, tetapi prosesnya masih alot. Selain itu, konsentrasi DPR pasti juga akan tersita oleh kontroversi menyangkut RUU Pornografi.

(11)

Kompas Sabtu, 04 Oktober 2008

KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA

Be lu m Ad a Ke sa t u a n Pa n d a n g a n d a la m D r a f RUU

Ke ist im e w a a n

Sabtu, 4 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Yogyakarta, Kompas - Hingga saat ini setidaknya ada sembilan draf Rancangan Undang-Undang tentang Keistimewaan DI Yogyakarta atau RUUK yang dibuat oleh berbagai elemen masyarakat. Setiap draf RUUK tersebut masih belum memiliki kesatuan pandangan terkait substansi keistimewaan. Belum adanya pemahaman tunggal tentang makna keistimewaan dinilai menjadi salah satu faktor lambannya pengaturan keistimewaan bagi DIY.

Sejak 16 Juli 2007, misalnya, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) telah merampungkan materi keistimewaan melalui mekanisme amandemen Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DI Yogyakarta. Melalui mekanisme amandemen, terbukti RUUK bisa masuk ke daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2008 di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah sebelumnya sempat terkatung-katung.

RUUK versi DPD tersebut dibuat sesaat setelah Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak lagi bersedia menjabat pada 7 April 2007.

”Seiring berjalannya waktu, konsep yang tercantum dalam RUUK versi DPD tentang kepemimpinan DIY melalui pemilihan sudah tidak tepat lagi. DPD akan mencoba menggali lagi aspirasi dari masyarakat,” ujar anggota DPD dari DIY, Subardi, yang sebelumnya menjabat Ketua Tim Kerja RUUK DPD, Selasa (30/9).

Keistimewaan DIY dalam RUUK versi DPD meliputi bidang kebudayaan, pendidikan, pariwisata, struktur kepemimpinan, pertanahan, serta tata ruang. RUUK menempatkan Sultan dan Paku Alam sebagai dwitunggal yang berkedudukan sebagai pemangku, pengayom, dan pelindung DIY dalam kelembagaan Hamengkoni Agung. Dwitunggal memiliki hak prerogatif memberikan persetujuan terhadap calon gubernur dan wakil gubernur yang dipilih langsung melalui pemilu.

”Keistimewaan Yogyakarta melekat pada kedudukan Sultan sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur. Kala itu, Sultan tidak bersedia menjadi gubernur lagi sehingga harus dicari solusinya. Draf RUUK versi DPD hanya sebagai pembuka pintu dibahasnya RUUK di DPR, sebenarnya tidak perlu direvisi karena tidak mungkin jadi acuan,” lanjut Subardi.

Seiring dengan mulai dibahasnya draf RUUK versi pemerintah, yang sudah mulai masuk ke DPR dalam bentuk amanat presiden, kerabat Keraton Yogyakarta juga mulai merancang draf RUUK versi Keraton. Kerabat Keraton, Gusti Bendara Pangeran Haryo Joyokusumo, menyatakan RUUK versi Keraton telah rampung dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi DIY. Draf RUUK tersebut sudah didistribusikan kepada beberapa anggota DPR.

Melalui draf RUUK, Keraton meminta pemerintah pusat menetapkan Sultan Hamengku Buwono sebagai kepala daerah, sedangkan Paku Alam menjabat sebagai wakilnya, kecuali jika mereka berhalangan tetap.

(12)

Kompas Sabtu, 04 Oktober 2008

(13)

Jurnal Nasional Senin, 06 Oktober 2008

Nusantara | Biak | Senin, 06 Okt 2008 17:49:07 WIB

Pilk a d a Bia k Te r a n ca m Ba t a l

PELAKSANAAN Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Biak-Papua yang akan berlangsung 29 Oktober mendatang terancam batal terkait dana hibah sebesar Rp. 15 miliar yang dijanjikan pemerintah daerah belum terealisasi. Padahal jadwal pelaksanaan kampanye bagi kandidat calon bupati dan wakil bupati telah dimulai 5 Oktober lalu.

Terkait itu, Senin (6/10), puluhan ketua dan anggota Panitia Pemilihan tingkat Distrik (PPD), Panitia Pengawas (Panwas) pilkada, mendatangi kantor KPU kabupaten Biak karena sudah tiga bulan sejak dilantik dan bekerja belum mendapatkan dana operasional serta honor. " Kami sudah mulai bekerja, tapi hingga kini belum ada kejelasan dana ", ujar Jaqline, salah ketua panwas distrik Samofa, Senin (6/10).

Kata Jaqline, selama tiga bulan mereka bekerja belum pernah mendapatkan dana operasional maupun honor, sehingga untuk menutup dana operasional pihaknya lebih banyak mengeluarkan dana dari kantong sendiri.

Sementara itu, menurut ketua KPU Biak, Decky Daniel Iwanggin, dana hibah yang pernah dijanjikan pemerintah daerah sebesar Rp.15 miliar tidak ada dasar hukumnya atau tidak jelas karena selama ini belum ada surat kesepakatan yang ditandatangani oleh pihak pemerintah dan KPU.

"Memang pernah telah dijanjikan oleh mantan bupati Maryen mewakili pemerintah daerah, namun belum pernah ada surat kesepakatannya, cuma disampaikan secara lisan kepada kita," kata Decky kepada Jurnal Nasional di Biak, Senin (6/10).

Dari Rp.15 miliar yang dijanjikan itu, pemerintah daerah telah merealisasinya Rp..5 miliar yang telah digunakan untuk persiapan dan operasional pelaksanaan tahapan yang sudah berlangsung kurang lebih 5 bulan ini. Tahapan itu antara lain, sosialisasi, rapat, pendaftaran, verifikasi kandidat, dll.

Sedangkan perencanaan dana terkait operasional dan honor PPD, PPS, KPPS telah diajukan KPU ke pemerintah daerah lewat Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) sebesar Rp.6 miliar lebih namun belum mendapatkan kepastian pembayaran.

"Kita sudah berulangkali datangi dan menanyakan BPKAD, namun tidak ada kejelasan kepastian pembayaran ", ujar Decky, Senin (6/10).

Pihak KPU telah menjelaskan berulang kali juga kepada PPD, PPS yang datang ke kantor KPU namun dari hasil pertemuan dengan KPU, pihak PPD, PPS dan Panwas Distrik bersikeras tidak akan bekerja sampai ada realisasi dana yang jelas.

Sedangkan menurut ketua Panwas Pilkada Biak, Rumbrapuk, sejak dilantik tiga bulan lalu pihaknya pernah mendapatkan dan operasional Rp.600 juta.

Namun dana itu hanya digunakan untuk menopang tugas operasional di Panwas tingkat kabupaten. Dan untuk Panwas tingkat distrik, diakuinya hingga kini belum mendapatkan dana operasional maupun honor.

(14)

Kompas Selasa, 7 Oktober 2008

Demokratisasi

Pa r t a i Polit ik D iim b a u I k u t Sosia lisa sik a n M a n fa a t

Pe m ilu

Selasa, 7 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono mengimbau partai politik menyosialisasikan cara baru dan proses pemilihan kepada masyarakat. Ia mengkhawatirkan Komisi Pemilihan Umum atau KPU tak cukup optimal melakukannya karena keterbatasan dana dan sumber daya yang dimiliki.

”Sebagai bagian pendidikan politik, parpol diharapkan mengajak masyarakat untuk memilih. Jangan sampai terjadi penurunan jumlah pemilih,” kata Agung Laksono, Senin (6/10) malam, pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) VI Partai Barisan Nasional (Barnas) di Jakarta. Rakornas VI Partai Barnas digelar juga untuk memperingati satu tahun usia partai itu.

Dalam kesempatan itu, Agung juga mengajak semua partai menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Ia mengajak parpol agar menghindari saling jegal dan saling menjelekkan, baik antarpartai maupun antarcalon anggota legislatif.

Selain itu, ia juga mengimbau agar parpol menyosialisasikan manfaat pemilu bagi masyarakat. ”Bahwa kekuasaan yang diraih adalah untuk menyejahterakan rakyat,” ucapnya.

Menurut Agung, sosialisasi itu diperlukan agar angka salah atau suara rusak semakin kecil. Ia menyebutkan, pada Pemilu 2004 sebanyak 12 juta suara dinyatakan tidak sah.

Ketua Umum Partai Barnas Vence Rumangkang mendukung imbauan Agung Laksono itu. ”Sekaligus kami memperkenalkan partai kami,” katanya.

Ditanya tentang target perolehan suara dalam pemilu mendatang, Vence mengatakan, Partai Barnas menargetkan untuk lolos ambang batas perolehan suara (electoral threshold). ”Tentu untuk itu dibutuhkan kerja keras dari semua kader partai,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, kata Vence, partai yang baru berusia satu tahun itu akan memusatkan perhatian untuk merebut suara di Jawa. Salah satu alasannya adalah jumlah penduduk di Jawa yang besar.

(15)

Kompas Selasa, 07 Oktober 2008

Pe r ih a l Pe r p u

Selasa, 7 Oktober 2008 | 00:45 WIB

Oleh A AHSIN THOHARI

Saat Sultan Hamengku Buwono X meletakkan jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada 9 Oktober 2008, kekosongan kekuasaan mengancam karena RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta belum rampung.

Dalam keadaan seperti itu, peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) sempat dilirik sebagai solusi. Seperti rencana penerbitan perpu sebelumnya, ruang perdebatan terbentang apakah perpu diperlukan, apakah ada kegentingan sehingga diperlukan perpu, apakah tidak sebaiknya ditetapkan produk hukum lain sederajat, tetapi kontroversinya lebih rendah?

Benar, kegentingan memaksa selalu menghadirkan konflik penafsiran. Bahkan, menurut Satya Arinanto, tak ada definisi yang jelas soal kegentingan memaksa (state of emergency). (”Pertaruhan Politik Presiden”, Kompas, 7/9/2007)

Tiga hal penting

Istilah perpu yang diatur Pasal 22 Ayat 1 UUD 1945 merupakan istilah baru yang tak dikenal dalam doktrin ketatanegaraan warisan Belanda. Yang lebih lazim adalah undang-undang darurat (noodverorderingsrecht). Karena itu, Pasal 139 Ayat 1 Konstitusi RIS menyatakan, ”Pemerintah berhak atas kuasa dan tanggung jawab sendiri menetapkan undang-undang darurat untuk mengatur hal-hal penyelenggaraan pemerintah federal yang karena keadaan-keadaan yang mendesak perlu diatur dengan segera.”

Dengan rumusan agak berbeda, Pasal 96 Ayat 1 UUD Sementara 1950 menyatakan, ”Pemerintah berhak atas kuasa dan tanggung jawab sendiri menetapkan undang-undang darurat untuk mengatur hal-hal penyelenggaraan pemerintahan yang karena keadaan-keadaan yang mendesak perlu diatur dengan segera.”

Dari sudut hukum tata negara, setidaknya ada tiga hal penting terkait perpu atau undang-undang darurat.

Pertama, perpu merupakan kewenangan melekat (inherent power) jabatan presiden dan bersifat luar biasa (formidabele bevoegheid) yang dapat dikeluarkan dengan maksud utama terjaminnya keselamatan penyelenggaraan kehidupan bernegara oleh pemerintah saat keadaan genting mengancam. Diperlukan tindakan cepat dan tepat untuk keluar dari keadaan itu. Karena itu, tidak diperlukan dukungan institusi lain guna menetapkannya.

(16)

Kompas Selasa, 07 Oktober 2008

Undang-undang bersyarat

Kedua, sebagai produk kewenangan presiden, perpu dikategorikan UU bersyarat (voorwardelijke wetten), karena itu bersifat sementara yang harus diuji Dewan Perwakilan Rakyat (legislative review) dalam persidangan berikut. Jika klaim presiden atas terjadinya ”hal ihwal kegentingan yang memaksa” tidak disetujui DPR, presiden harus mencabut perpu dan segala akibat hukum yang muncul dari pemberlakuan perpu, baik yang bisa dipulihkan maupun tidak, diselesaikan dengan UU reguler. Namun, jika disetujui, perpu akan menjadi UU definitif yang berlaku secara permanen sampai dicabut UU lain.

Keharusan adanya persetujuan DPR di persidangan berikut ini berguna untuk membatasi, mengawasi, dan mengimbangi agar inherent power presiden tak menjadi liar dan mudah disalahgunakan.

Ketiga, harus ada syarat keseimbangan (evenwijdigheidspostulaat) antara keadaan luar biasa dan upaya luar biasa yang ditempuh. Dengan demikian, tidak boleh, misalnya, masalah yang sebenarnya bisa ditangani dengan UU reguler tanpa dikhawatirkan munculnya keadaan genting yang mengancam atau terkendalanya salah satu atau lebih dari tujuh hal itu, tetapi dijawab dengan menerbitkan perpu. Tidak boleh membunuh tikus dengan meriam.

Dalam kasus kemungkinan kekosongan kekuasaan di DIY, perpu layak diterbitkan karena termasuk dalam keadaan yang dikhawatirkan dapat mengancam atau setidaknya membuat terkendalanya pelaksanaan atau penegakan kekuasaan negara.

(17)

Kompas Selasa, 07 Oktober 2008

RUU M A Be lu m Ja d i D ise t u j u i

Selasa, 7 Oktober 2008 | 00:42 WIB

Jakarta, Kompas - Agenda Rapat Paripurna DPR, Senin (6/10), untuk menyetujui Rancangan Undang-Undang Mahkamah Agung atau RUU MA menjadi UU batal. Alasannya, pimpinan Komisi III DPR telah mengirim surat kepada pimpinan DPR mengenai belum rampungnya pembahasan RUU itu.

Menurut Ketua DPR Agung Laksono di Jakarta, Senin, pimpinan Komisi III DPR menyatakan pembahasan RUU itu belum selesai. Materi RUU MA masih perlu disinkronisasikan. Karena itu, agenda rapat paripurna tidak bisa dilaksanakan. Penjadwalan berikutnya akan dilakukan Badan Musyawarah DPR.

Agung juga membantah ada pemaksaan terkait pembahasan RUU itu. ”Kalau Komisi III DPR belum selesai, tidak ada paripurna,” ucapnya.

Agung juga menyebutkan, soal substansi diserahkan pembahasannya kepada Komisi III. Ia juga menyambut baik jika memang RUU MA hendak dibarengkan dengan RUU Komisi Yudisial. Kalau bisa, memang kedua rancangan undang-undang itu disahkan bersamaan, atau setidaknya dibahas secara simultan.

Menurut Agung, dari segi legislasi, lebih cepat RUU dibahas akan lebih baik tanpa harus mengurangi kualitas substansinya. Perdebatan yang terjadi sekitar pembahasan RUU MA dinilainya sebagai dinamika fraksi saja. ”Ada yang ingin dilambat-lambatkan, ada pula yang ingin cepat-cepat,” ujarnya.

Secara terpisah, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Senin di Jakarta, menegaskan, dari awal pemerintah beranggapan pembahasan RUU MA dilaksanakan saja secara normal dan wajar. Jangan, misalnya, karena ada yang mau pensiun, pembahasannya harus diburu-buru. ”Bukan itu dasarnya. Tetapi, kalau bisa dipercepat, mengapa diperlambat,” ujarnya.

Hatta juga menegaskan, usia pensiun hakim agung hingga 70 tahun cukup baik kalau dilihat jangka panjang. Usulan usia pensiun itu tidak perlu dikaitkan dengan delapan hakim agung yang akan memasuki usia pensiun tahun 2008.

(18)

Suara Pembaruan Selasa, 07 Oktober 2008

RUU M A Pe r lu D ik a j i La g i

[JAKARTA] Batalnya pengesahan RUU Mahkamah Agung (MA) yang sedianya disahkan pada Senin (6/10) ini, telah membuka kesempatan dilakukan pengkajian lebih mendalam lagi atas pasal-pasal krusial di RUU tersebut yang dinilai rawan konflik dan bertentangan.

Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) menginginkan klausul tentang lingkup pengawasan serta penetapan usia pensiun hakim agung 70 tahun harus dikaji secara cermat, transparan dan objektif sehingga sistem kekuasaan kehakiman serta supremasi hukum Indonesia akan benar-benar menjadi lebih lebih baik.

Kedua fraksi yang menolak keras pengesahan RUU MA pada 6 Oktober itu, menginginkan RUU MA disahkan satu paket dengan RUU Komisi Yudisial (KY) dan RUU Mahkamah Konstitusi (MK).

FPDI-P dalam konferensi pers Senin siang menyambut baik batalnya pengesahan RUU MA yang semula direncanakan 6 Oktober melalui rapat paripurna DPR.

"Penyelesaian RUU MA memang tak perlu tergesa-gesa mengingat terdapat isu-isu krusial yang harus disinkronkan terutama dengan RUU KY," kata Anggota Panja RUU MA, Eva Kusuma Sundari didampingi Ketua DPP PDI-P Sutradara Ginting.

Untuk itu, PDIP menginginkan pasal tentang lingkup pengawasan, komposisi dewan kehormatan termasuk penetapan usia pensiun hakim agung 70 tahun harus dikaji secara cermat, transparan dan obyektif. Tentang usia pensiun hakim agung 70 tahun, FPDI-P meminta tak dikaitkan pada orang per orang di MA. Apalagi memberi argumentasi yang mentoleransi perpanjangan usia hakim agung sampai seumur hidup.

"Kalau argumentasinya seperti itu maka sudah jelas kita akan terjebak pada kepentingan orang per orang, apalagi 12 hakim agung di MA pada November memasuki masa pensiun semuanya. Ini menjadi tak objektif, tapi biarlah perdebatan lebih pada bagaimana membangun sistem kekuasaan kehakiman akan benar-benar menjadi lebih baik," kata Sutradara.

Tentang komposisi dewan kehormatan dan lingkup pengawasan hakim agung, menurut Eva, penting untuk disinkronkan dengan RUU KY.

Senada dengan itu Ketua Fraksi PPP Lukman Hakim Syaifudin mengatakan, komposisi dewan kehormatan dan ling- kup pengawasan hakim agung harus benar-benar dikaji secara cermat jangan sampai terjadi duplikasi dan tumpang tindih dengan RUU KY.

"Jadi, tertundanya pengesahan RUU MA memberi kita kesempatan untuk benar-benar secara serius merumuskan klausul-klausul pasal dalam RUU tersebut sehingga lembaga kekuasaan kehakiman Indonesia benar-benar menjadi lembaga berwibawa dan dipercaya masyarakat," kata Lukman.

Secara terpisah, Ketua DPR Agung Laksono setuju pembahasan RUU MA harus simultan dengan RUU KY dan MK termasuk pengesahannya harus satu paket.

(19)

Jurnal Nasional Rabu, 08 Oktober 2008

Nusantara Pontianak | Rabu, 08 Okt 2008

1 5 Ca lon Ke p a la D a e r a h D e k la r a sik a n Pilk a d a D a m a i

SEBANYAK lima belas calon kepala daerah, masing-masing tujuh pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Pontianak, serta delapan pasangan calon bupati dan wakil bupati Kubu Raya menandatangani kesepakatan Pilkada damai di depan Taman Alun Kapuas Pontianak, Selasa (7/10). Mereka sepakat untuk tidak menodai jalannya proses demokrasi langsung oleh rakyat.

Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Pontianak, Kombes Mochamad Son Ani meminta kepada seluruh calon wali kota Pontianak dan bupati Kubu Raya untuk melaksanakan tahapan Pilkada tanpa mengembuskan isu yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

"Untuk apa kita berseteru jika hanya akan melahirkan sebuah kesia-siaan. Tidak ada gunanya semua itu. Saling menjatuhkan, apalagi adu fisik antarsesama. Tindakan tersebut hanya akan menimbulkan kerugian harta benda, korban waktu dan tenaga, korban uang, bahkan dapat menimbulkan korban jiwa," ujar Kapoltabes Pontianak.

Son Ani juga memerintahkan segenap jajaran Poltabes Pontianak untuk bertindak netral dalam mengawal jalannnya tahapan Pilkada baik di Kota Pontianak maupun di KKR. "Jika ada anggota saya yang coba-coba bersikap tak netral, maka saya tidak akan segan-segan memberikan sanksi sesuai aturan internal Polri," katanya.

Operasi pengamanan Pilkada, baik di Kota Pontianak maupun di KKR akan dikawal 1.500 personel gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP. Mereka akan bertugas mengawal jalannya tahapan Pilkada. Dari proses masa kampanye hingga pengawalan yang ketat seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Son Ani berjanji akan memegang teguh komitmen penegakan hukum tanpa pandang bulu. "Polri siap menegakkan hukum dan menindak siapa saja yang melakukan tindak pidana dalam pilkada di dua daerah ini. Termasuk aparat keamanan yang tidak menjalankan fungsi dan tugasnya secara profesional," tukasnya.

(20)

Kompas Rabu, 08 Oktober 2008

Daftar Calon Sementara

Ca le g Ga n d a Tu n g g u Kla r ifik a si Pa r p ol

Rabu, 8 Oktober 2008 | 01:08 WIB

Jakarta, Kompas - Dalam Daftar Calon Sementara yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum pada Selasa (7/10) ditemukan beberapa nama caleg yang dicalonkan di dua daerah pemilihan atau dua parpol berbeda. Saat ini KPU masih meminta klarifikasi dari parpol untuk dua nama caleg ganda tersebut.

Anggota KPU, Endang Sulastri, Selasa, mengatakan, sebelum Daftar Calon Sementara (DCS) keluar, sudah ada beberapa caleg yang mengundurkan diri di salah satu daerah pemilihan (dapil), tetapi KPU belum memprosesnya karena masih akan diklarifikasi kepada parpol yang bersangkutan. ”Kami tidak mencoretnya, nanti parpol sendiri yang akan menarik calegnya. Jadi nanti yang dicoret hanya nama di satu dapil,” kata Endang.

Nama caleg ganda itu seperti Indra Sahnun Lubis yang dicalonkan Partai Hanura di daerah pemilihan Jatim IV nomor urut 2 serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (Riau I nomor 1); Eggi Sudjana yang dicalonkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP, DKI Jakarta II nomor 3) dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Jawa Barat; Misnan Siregar yang dicalonkan PPNUI (Sumut II nomor 1) dan Asep Ahmad Maoshul dicalonkan PKB (Jawa Barat X nomor 1) dan PPP (Jabar XI nomor 1).

Namun, menurut Endang, apabila parpol tidak menarik nama caleg yang ganda, KPU akan mencoret nama caleg di kedua dapil. ”Saya sudah serahkan surat pengunduran diri beberapa caleg kepada Pokja Pencalonan Setjen KPU untuk segera diproses,” katanya.

(21)

Kompas Rabu, 08 Oktober 2008

KPU Terima Pengaduan

D i Su m se l, Tig a Ca le g D ila p or k a n Pa k a i I j a z a h Pa lsu

Rabu, 8 Oktober 2008 | 01:10 WIB

Palembang, Kompas - Komisi Pemilihan Umum atau KPU Provinsi Sumatera Selatan menerima laporan ijazah palsu yang digunakan tiga calon anggota DPRD Sumsel. Jumlah calon anggota legislatif atau caleg untuk DPRD Sumsel yang sudah menyerahkan berkas ke KPU Sumsel sebanyak 1.271 orang.

KPU Sumsel juga belum melakukan rapat pleno untuk menentukan Daftar Calon Sementara (DCS) Sumsel. Rencana rapat pleno, Selasa (7/10), batal sehingga pengumuman DCS belum terlaksana.

Anggota KPU Sumsel, Alfian Toni, Selasa, menuturkan, laporan ijazah palsu itu berasal dari masyarakat. Namun, ia menolak menjelaskan identitas orang yang memberikan laporan mengenai dugaan pemakaian ijazah palsu tersebut.

Menurut Alfian, anggota KPU Sumsel belum bisa memutuskan terkait laporan penggunaan ijazah palsu itu. KPU Sumsel harus melakukan sidang pleno terlebih dahulu, lalu melakukan verifikasi lapangan.

”Selain penggunaan ijazah palsu, penyebab lain yang bisa menyebabkan caleg tidak lolos adalah tak adanya legalisir dari sekolah atau perguruan tinggi dalam berkas caleg. Selain itu, karena berkas tidak dilengkapi surat keterangan catatan kepolisian dan persyaratan administrasi lainnya,” katanya.

Dari Kalimantan Tengah, KPU Kabupaten Seruyan mengecek tiga caleg untuk DPRD Seruyan yang diduga tidak memiliki ijazah SMA dan terlibat penggelapan mobil dinas. Di tingkat KPU Kalteng belum ada laporan terkait pengumuman DCS.

Anggota KPU Kalteng, Awongganda W Linjar di Palangkaraya, Selasa, menuturkan, ia mendapat surat tembusan adanya pengaduan warga terhadap tiga caleg di Seruyan. Namun, belum ada pengaduan terkait caleg untuk DPRD Kalteng.

Menurut Awongganda, minimnya masukan masyarakat terhadap DCS mungkin diakibatkan tidak meratanya sebaran media massa yang memuat DCS hingga ke pedalaman.

Kuota perempuan

Dari Samarinda, Kalimantan Timur, dilaporkan, sembilan dari 38 partai politik di kota itu tak bisa memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan sebagai calon anggota DPRD Kota Samarinda. ”Meski melanggar aturan, tetapi tak ada sanksinya, mungkin sekadar sanksi sosial,” kata anggota KPU Samarinda, Andi Sunandar, Selasa.

Kondisi yang sama terjadi pada sejumlah partai di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Menurut Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Magelang Mujadin Putu Murja, Selasa, minat kader perempuan untuk menjadi caleg rendah.

(22)

Kompas Rabu, 08 Oktober 2008

Sy a r a t 8 1 Ca le g D PRD D KI Be r m a sa la h

Rabu, 8 Oktober 2008 | 01:52 WIB

Jakarta, Kompas - Lingkar Madani untuk Indonesia Jakarta Raya mengadukan 81 nama calon anggota legislatif atau caleg DPRD DKI Jakarta ke Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta.

Ke-81 caleg dari 2.283 caleg untuk DPRD DKI Jakarta tersebut diindikasikan memiliki persyaratan administrasi yang tidak lengkap, tidak benar, dan tidak sah.

Pengaduan tersebut disampaikan Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Jakarta Raya Said Salahudin kepada Ketua Panwaslu DKI Jakarta Ramdansyah di Jakarta, Selasa (7/10). Panwaslu dan KPU DKI Jakarta diminta untuk meneliti ulang dokumen para caleg bermasalah itu saat mencalonkan.

Ke-81 caleg bermasalah itu terdiri dari empat caleg yang diduga tidak menggunakan nama sesuai dengan identitas diri yang sah, enam caleg diindikasikan menggunakan ijazah palsu, dan empat caleg pernah menjadi narapidana dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun.

Sisanya, sebanyak 67 caleg memiliki masalah dalam status pencalonannya karena terdaftar lebih dari satu partai politik, lebih dari satu daerah pemilihan, maupun mendaftar untuk lebih dari satu lembaga perwakilan. KPU dan Panwaslu harus segera mengklarifikasi apakah nama-nama yang sama tersebut memang orang yang berbeda atau orang yang sama.

Said menambahkan, pengumuman daftar caleg sementara (DCS) oleh KPU DKI Jakarta di salah satu media cetak lokal, yang hanya mencantumkan nama dan jenis kelamin caleg, menyulitkan masyarakat untuk memberikan tanggapan. Meskipun tidak mencantumkan foto diri caleg, KPU seharusnya menyertakan data umur, pendidikan, dan pekerjaan caleg.

”Dengan pencantuman data identitas diri, publik menjadi lebih mudah menelusuri jejak rekam caleg. Terlebih lagi, banyak caleg memiliki nama sama,” tambahnya.

Ramdansyah mengatakan, Panwaslu akan menelusuri caleg-caleg bermasalah pada Pemilu 2004 yang kini mencalonkan kembali sebagai caleg dari partai politik berbeda atau untuk lembaga perwakilan berbeda.

Sementara itu, caleg yang tidak bermasalah akan diuji dengan menggunakan sampel. Jika ditemukan caleg bermasalah lebih dari 25 persen sampel, dipastikan sebagian besar caleg untuk DPRD DKI Jakarta bermasalah.

Sulitnya masyarakat mengecek para caleg, dikhawatirkan Ramdansyah akan semakin menambah jumlah pemilih yang memilih untuk tidak menggunakan haknya atau menjadi golongan putih.

Enggan mengecek

Selain DCS yang diumumkan hanya memuat nama dan jenis kelamin, DCS juga hanya diumumkan di satu media cetak lokal selama satu hari. Selebihnya, DCS dipasang di kantor-kantor KPU kabupaten/kota di Jakarta.

(23)

Kompas Rabu, 08 Oktober 2008

Anggota Panwaslu DKI Jakarta, Prayogo Bekti Utomo, menambahkan sejak DCS diumumkan 26 September, Panwaslu sudah meminta KPU memberikan salinan dokumen empat caleg yang diduga bermasalah, baik karena ijazah palsu maupun pernah menjadi narapidana dengan ancaman hukuman lebih dari lima tahun. Namun karena alasan administrasi, data caleg itu tidak bisa diberikan.

(24)

Jurnal Nasional Kamis, 09 Oktober 2008

Politik - Hukum - Keamanan Surabaya | Kamis, 09 Okt 2008

Ke sia p a n Log ist ik KPU Ja t im D isor ot

Pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur putaran kedua tinggal 27 hari lagi. Namun demikian, persiapannya masih kacau. Seperti, pengadaan logistik pilgub putaran kedua belum selesai. Hal ini menyebabkan rencana tender pengadaan logistik terancam molor. Belum siapnya pengadaan logistik pilgub putaran ke dua ini disebabkan karena dana belum dicairkan.

Logistik yang belum selesai oleh KPU Jatim yakni formulir A dan kartu pemilih, formulir C, D, DA dan DB, surat suara, sampul, segel, stiker dan template tuna netra, serta tinta sidik jari. Bahkan sampai sekarang KPU juga belum memverifikasi ulang daftar pemilih.

Anggota KPU Jatim, Arief Budiman saat dikonfirmasi, Rabu (8/10) mengatakan pihaknya saat ini berupaya maksimal untuk menyelesaikannya. Hanya saja, persiapan putaran kedua itu memang terbentur masalah waktu.

"Anggota kami kan baru memenuhi kuorum dengan dilantiknya Pak Najib Hamid. Apalagi, terbentur dengan libur Lebaran. Jadi memang kendala terbesar ada pada keterbatasan waktu," kata Arief saat ditemui di kantornya Jalan Tanggulangin Surabaya.

Ditambahkan Arief, KPU Jatim akan menambah personel panitia pengadaan menjadi dua tim dan memampatkan waktu pengadaan, sehingga H-10 pengadaan barang dan jasa selesai.

"H-3 logistik sudah berada di kecamatan-kecamatan," kata Arief.

Sementara itu menanggapi belum cairnya dana pilgub putaran kedua, Sekretaris Desk Pilkada Jatim Sukardo, kepada wartawan usai upacara Hari Kesaktian Pancasila, Rabu (8/10) di Gedung Negara Grahadi Jl Pemuda Surabaya mengatakan dana pemilihan Gubernur Jawa Timur putaran kedua baru akan dicairkan setelah peraturan gubernur turun.

"Sampai saat ini peraturan gubernur itu masih dalam proses digodok. Mungkin seminggu lagi baru bisa dicairkan," katanya.

Kata Sukardo, saat ini Pergub tentang pencairan dana tersebut masih dalam proses penyelesian di biro hukum, sedangkan perjanjian hibah drafnya juga masih dalam proses pembuatan di sekretariat Desk Pilkada. Pemerintah dan DPRD Jawa Timur telah menyepakati dana pemilihan untuk putaran kedua sebesar Rp270 miliar. Dana itu akan dibagi Rp222 miliar untuk keperluan KPU, Rp15 miliar untuk Panitia Pengawas, Rp15 miliar untuk Polda Jatim, Rp3 miliar untuk Kodam V Brawijaya, serta Rp760 juta dibagi kepada seluruh Desk Pilkada Kabupaten/Kota se-Jatim masing-masing mendapatkan Rp20 juta serta sisanya untuk keperluan lainnya.

Meski baru cair minggu depan, Sukardo optimistis tidak akan mengganggu rangkaian jadwal pilgub yang akan digelar pada 4 November mendatang.

(25)

Jurnal Nasional Kamis, 09 Oktober 2008

Nusantara Padang | Kamis, 09 Okt 2008

Pa n w a slu Pa d a n g Te m u k a n Pe la n g g a r a n Ka m p a n y e

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Kota Padang telah gudangkan 562.500 lembar surat suara untuk Pemilihan Umuma Kepala Daerah (pilkada) Padang yang akan dihelat 23 Oktober mendatang.

"Cetak surat suara telah dilaksanakan, sekarang 562.500 surat suara itu digudangkan di gudang KPU Padang di bawah pengawalan ketat petugas dari Poltabes Padang," ujar Ketua Pokja Logistik Pilkada Yuliwan Rajo Ameh, Rabu (8/10).

Menurut dia, surat suara itu saat ini tahap pelipatan, direncanakan kata Yuliwan, surat suara itu akan didistribusikan pada 20 Oktober nanti bertepatan pada masa tenang.

"Saat ini surat suara sedang dilipat dengan melibatkan 11 PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan), masing-masing menyediakan 10 tenaga," ujarnya.

Yuliwan mengatakan, jumlah surat suara itu sendiri sesuai aturan pemilu telah dilebihkan cetaknya sebanyak 2,5 persen dari jumlah total pemilih ini untuk mengantisipasi adanya surat suara yang rusak.

"Sampai tadi ada beberapa kertas suara yang rusak karena salah cetak tapi jumlahnya masih kecil," katanya.

Pendistribusian menurut Yuliwan juga dikawal ketat pihak kepolisian, ini sebagai antisipasi tak ada surat suara yang tak sampai ke TPS.

"Rencananya surat suara ini didistribusikan tiga hari menjelang pencoblosan oleh PPK ke 1.487 TPS serta 5 TPS khusus yakni satu di LP Muaro dan empat di rumah sakit," ujarnya.

Sementara di tempat terpisah terkait tiga hari pelaksanaan kampanye Pilkada Padang, Panwaslu Kota Padang menemukan beberapa indikasi pelanggaran pilkada yang dilakukan tim kampanye.

"Temuan kita masih dugaan dan dalam proses, seperti terlibatnya PNS sebagai juru kampanye saat pasangan calon Fauzi Bahar-Mahyeldi berkampanye di Perumnas Belimbing kemarin," ujarnya.

Selain itu, kata Maulid juga didapatkan bukti kuat pelanggaran administrasi yang dilakukan pasangan calon Yusman Kasim-Yulakhiari Sastra yakni berkampanye di Masjid.

"Itu semua kita proses, jika ada dugaan pelanggaran pidana, sesuai aturannya kita akan meneruskan ke kepolisian dan pelanggaran administrasi kita teruskan ke KPU," ujarnya.

Selain itu, ada juga temuan dan laporan masyarakat terhadap perobekan tanda gambar, memasang atribut tanpa seizin pemilik lokasi dan penggunaan ajudan berstatus PNS oleh pasangan calon incumbent.

(26)

Jurnal Nasional Kamis, 09 Oktober 2008

(27)

Jurnal Nasional Kamis, 09 oktober 2008

Nusantara Wamena | Kamis, 09 Okt 2008

Pilk a d a Ja y a w ij a y a Be r j a la n Am a n

MASYARAKAT Jayawijaya, Papua, Rabu (8/10), melakukan pencoblosan di 273 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di 11 distrik. Pencoblosan dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) itu, dilakukan oleh 128.333 warga masyarakat yang mempunyai hak pilih.

Pilkada diikuti 6 pasangan: Bartolemus Parayage-Daud Wanma, Musa Mabel-Panggabean, Budiman Koyoga-Yustus Metlama, Wempi Wetipo-John R Banua, Saul Elopere-Bobyrius Jikwa, dan Nikolas Jigibalom-Ribka Haluk.

Menurut penjabat Bupati Jayawijaya, Washinton Turnip, pelaksanaan pilkada di daerah itu merupakan yang pertama kali dan menjadi sejarah baru di kabupaten itu. "Saya meminta dan berharap masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya sebaik-baiknya, dan tidak terpancing dengan isu-isu provokasi," kata penjabat Bupati Jayawijaya, Rabu (8/10).

Menurut Sekretaris KPUD Jayawijaya, Effendi Pakpahan, 128.333 surat suara yang didistribusi ke seluruh PPD dan PPS hanya memakan waktu selama sehari, karena semua distrik di Kabupaten Jayawijaya bisa ditempuh melalui jalan darat. Selain surat suara, logistik lainnya daftar pemilih, tinta, spidol dan berita acara, serta keperluan lainnya juga disertakan.

Sementara itu, Ketua KPUD Jayawijaya, Andreas Duwiri mengatakan, pada prinsipnya pihak KPUD hanya berpedoman pada daftar pemilih yang dikeluarkan oleh Pemkab Jayawijaya, selain itu tak berlaku.

Pemilih yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap tak bisa melakukan pencoblosan meski menunjukkan bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli. Apalagi disinyalir akan terjadi mobilisasi massa dari kabupaten terdekat lainnya ke sejumlah TPS.

"Kalau kita terima hal itu bisa menimbulkan masalah di kemudian hari karena pada saat pencoblosan nanti disinyalir akan terjadi mobilisasi massa dari beberapa kabupaten terdekat ke sejumlah TPS yang ada, dan kami tidak mau hal itu terjadi," kata, Andreas Duwiri di Wamena, Rabu (8/10).

Sedangkan menurut Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Jayawijaya, AKBP Drs Abdul Azis Djamaludin SH, untuk mendukung penyelenggaraan Pilkada Jayawijaya yang aman dan kondusif pihaknya telah menurunkan tim gabungan pengamanan pilkada yang terdiri dari Polri, TNI (Kodim, Batalyon 756), dan Polisi Militer (POM).

Sebelumnya, sudah dilakukan operasi selama 2 hari (6-7/10) yang dipimpin langsung Kapolres Jayawijaya, Abdul Azis Djamaludin, didampingi Dandim Letkol Inf Grendy Mangiwa, serta Dan Yon 756 WMS Letkol Inf Boni Christian Pardede.

Dari operasi gabungan selama 2 hari itu, pihak keamanan berhasil mengamankan 29 para tersangka dan sejumlah barang bukti di Mapolres Jayawijaya. Barang bukti yang disita petugas keamanan yaitu 9 senjata tajam, 70 botol alkohol kemasan 250 ml berkadar 70 persen dan dan 3.500 liter minuman lokal (milo) serta 3 orang tersangka pelaku judi berdiri (juber) dengan uang sebesar Rp16 ribu diamankan petugas.

(28)

Jurnal Nasional Kamis, 09 oktober 2008

Personel keamanan yang diturunkan sebanyak 100 orang dari TNI Polri, tersebar di sejumlah tempat yang dianggap rawan dan tempat-tempat keramaian umum meliputi Sinagma, Wouma, Hom-Hom, Pasar Jibama, Putikelek, dan tempat lainnya.

(29)

Kompas Kamis, 09 Oktober 2008

Pe m p r ov Ka lt im Tola k Bia y a Pe n g a m a n a n Pilk a d a

Rp 4 9 M ilia r

Kamis, 9 Oktober 2008 | 02:44 WIB

Samarinda, Kompas - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menolak usul biaya pengamanan pemilihan kepala daerah atau pilkada putaran kedua yang diajukan pihak kepolisian dan TNI sebesar Rp 49 miliar. Pemerintah hanya menyanggupi Rp 16 miliar.

Menurut usulan yang diajukan kedua instansi itu, polisi membutuhkan anggaran Rp 33 miliar, sedangkan TNI Rp 16 miliar. Rabu kemarin, usul biaya pengamanan pilkada putaran kedua itu dibahas dalam rapat panitia anggaran eksekutif di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepala Biro Humas Sekretariat Provinsi Kalimantan Timur Mochammad Jauhar Effendy yang dikonfirmasi tentang adanya rapat tersebut hanya mengatakan, ”Memang benar rapat tersebut ada.”

Ditanya, apakah pemerintah hanya menyanggupi Rp 16 miliar, Jauhar berujar, ”Benar. Hal itu disampaikan Kepala Biro Keuangan (Hazairin Adha).”

Menurut informasi, anggaran yang disanggupi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim adalah Rp 13 miliar untuk polisi dan Rp 3 miliar untuk TNI.

Namun, Hazairin Adha yang juga sekretaris panitia anggaran eksekutif kemarin tidak bisa dihubungi.

Pengerahan 5.550 personel

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim Komisaris Besar I Wayan Tjatra mengakui bahwa polisi mengajukan anggaran pengamanan Pilkada Kaltim putaran kedua sebesar Rp 33 miliar. Sebab, katanya, polisi memprediksi pilkada akhir bulan ini rawan konflik.

”Biaya tersebut untuk pengerahan 5.550 personel selama 76 hari sejak 20 Oktober 2008,” ujarnya.

Menurut jadwal, pemungutan suara dalam Pilkada Kaltim putaran kedua berlangsung pada 23 Oktober mendatang.

Pilkada putaran kedua akan diikuti dua kandidat gubernur- wakil gubernur Kaltim yang pada pilkada putaran pertama berada di posisi pertama dan kedua. Mereka adalah Awang Faroek Ishak-Farid Wadjdy (yang pada pilkada putaran pertama memperoleh 28,9 persen suara) dan Achmad Amins-Hadi Mulyadi (26,9 persen suara).

Dua kandidat lainnya yang tersingkir—dalam pilkada putaran kedua—adalah Jusuf Serang Kasim-Luther Kombong dan Nusyirwan Ismail-Heru Bambang.

”Masing-masing kandidat akan berusaha lebih giat untuk saling memengaruhi pemilih,” kata Wayan menambahkan, mengapa polisi memprediksi pilkada rawan konflik.

(30)

Kompas Kamis 09 Oktober 2008

Pilkada Lebak

Tig a Pa sa n g Ka n d id a t M u la i Be r k a m p a n y e

Kamis, 9 Oktober 2008 | 02:47 WIB

Rangkasbitung, Kompas - Tiga pasang calon bupati-wakil bupati Lebak periode 2008-2013 mulai berkampanye, sebelum mengikuti pemilihan pada 16 Oktober. Namun, hanya satu dari tiga pasang kandidat yang menyampaikan visi-misi di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lebak.

Menurut anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lebak, Agus Sutisna, Rabu (8/10), kandidat yang memaparkan visi-misi hanyalah pasangan nomor urut 1, Mulyadi Jayabaya-Amir Hamzah.

Kandidat yang diusung koalisi Partai Golkar, PDI-P, Partai Demokrat, PKB, PKS, PBR, dan PPD itu menyampaikan visi-misi di Gedung DPRD Lebak pada 4 Oktober.

Sementara itu, dua kandidat lain, yakni pasangan Mardini-Wijaya Ganda Sungkawa (nomor urut 2) dan Yas’a Mulyadi-M Sudirman (nomor urut 3), tidak menyampaikan visi-misi.

Padahal Pasal 76 Ayat 2 Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan, pasangan calon wajib menyampaikan visi, misi, dan program secara lisan dan tertulis.

Bahkan dalam Pasal 63 Ayat 3 diatur, jika salah satu calon berhalangan tetap pada saat dimulainya kampanye sampai hari pemungutan suara, sehingga jumlah calon kurang dari dua calon, tahapan pelaksanaan pilkada ditunda paling lambat 30 hari.

Namun menurut Agus, ketidakhadiran dua pasang kandidat dalam penyampaian visi-misi tidak akan mengganggu pelaksanaan tahapan pilkada.

Menurut pemantauan KPU Lebak, keduanya tetap menggelar kampanye terbuka di beberapa tempat. ”Menyampaikan visi-misi itu memang wajib, tapi undang-undang tidak mengatur sanksi bagi calon yang tak melaksanakan tahapan tersebut. Selain itu, kami melihat kedua pasangan calon tetap berkampanye meski bentuknya tidak sampai ada konsentrasi massa,” ujarnya.

Pasangan Mardini-Ganda juga menggelar kampanye di daerah selatan Lebak. Kampanye Selasa lalu diwarnai konvoi kendaraan ribuan orang.

Kampanye dijadwalkan selesai tanggal 12 Oktober. Pemungutan suara digelar 16 Oktober, dengan jumlah pemilih 820.771 jiwa.

Petugas pilkada

Sekretaris KPU Lebak Maman Budiman menjelaskan, 70 persen dari total 17.123 petugas pelaksana pilkada berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Hal itu sempat dipersoalkan, hingga akhirnya disepakati warga berstatus PNS diizinkan menjadi petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), maupun Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Pasalnya, tidak ada peraturan yang melarang PNS untuk menjadi petugas pelaksana pilkada.

(31)

Pikiran Rakyat Kamis, 09 Oktober 2008

Pe lu it Ka m p a n y e Pilk a d a Cia m is D it iu p

Kamis, 09 Oktober 2008 , 10:40:00

CIAMIS, (PRLM).-Hari pertama kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Ciamis, Kamis (9/10), diisi penyampaian visi, misi, dan program yang dilakukan dalam sidang paripurna istimewa DPRD. Sidang itu dipimpin wakil Ketua DPRD Ciamis, Dida Yudhanegara didampingi M. Taufik dan dihadiri Wakil Bupati Ciamis Dedi Sobandi.

Setiap pasangan calon (paslon) diberi kesempatan selama 30 menit. Penyampaian kampanye sesuai dengan nomor urut. Pasangan Hatte (Teddy Herdiana-Tarso Dawaminatal), Addin (Affandi Permana-Koko Komarudin) , Hebring (Engkon Komara-Iing Syam Arifien), Yoi (Yoyo Cuhaya-Irmand B. Kusumah), dan Jembar (Jeje Wiradinata-Husin M. Al Banjari).

Di luar ruangan sidang dipasang televisi layar lebar, sehingga puluhan pendukung masing -masing paslon menyaksikan kampanye paslon dari layar televisi tersebut.

(32)

Kompas Jumat, 10 Oktober 2008

Pe m e r in t a h Aj u k a n Pe r p u Kr isis

Jumat, 10 Oktober 2008 | 01:58 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah akan menyampaikan usulan peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perpu kepada DPR yang bisa membuat otoritas fiskal, moneter, lembaga penjamin simpanan, dan Forum Stabilitas Sektor Keuangan bereaksi cepat mengatasi krisis keuangan.

”Yang akan diatur dalam perpu itu antara lain jumlah penjaminan simpanan, dukungan BI ke perbankan, dan jaring pengaman sektor keuangan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamis (9/10) di Jakarta.

Terkait jumlah penjaminan simpanan, banyak kalangan yang mengusulkan agar nilainya ditingkatkan dari saat ini yang sebesar Rp 100 juta. Artinya, jika bank tempat menaruh dana kolaps, simpanan maksimal Rp 100 juta tidak hilang dan akan dibayar oleh lembaga penjamin simpanan (LPS).

”Penjaminan LPS perlu dinaikkan menjadi Rp 1 miliar khusus untuk nasabah perorangan. Ini diperlukan agar nasabah tetap tenang dan aman menyimpan dananya di perbankan,” katanya.

Untuk mencegah terjadi penarikan dana besar-besaran (rush), negara-negara di Eropa ramai-ramai telah menaikkan dana penjaminannya. Nasabah menarik dananya karena khawatir bank tempat menyimpan dana bangkrut akibat krisis keuangan global.

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani mengatakan, karena belum masuk dalam situasi darurat, perubahan nilai penjaminan LPS memang harus dilakukan melalui amandemen atau perpu.

Mengenai berapa besar peningkatan penjaminan LPS yang wajar, Firdaus mengatakan sekitar dua kali lipat. Kalau kenaikannya terlalu besar, justru tidak rasional mengingat penentuan besaran penjaminan terkait dengan pendapatan per kapita.

Pada kondisi normal, besaran nilai penjaminan berkisar 3-5 kali pendapatan per kapita. Rata-rata pendapatan per kapita per tahun Indonesia kini sekitar Rp 20 juta sehingga penjaminan ditetapkan Rp 100 juta.

Wakil Presiden Direktur Bank Danamon Jos Luhukay mendukung jika pemerintah menaikkan nilai penjaminan simpanan.

GWM

Kemarin Bank Indonesia juga mulai mengefektifkan aturan giro wajib minimum (GWM) yang tidak lagi dikaitkan dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR). Menurut Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom, langkah ini bertujuan untuk memperlonggar likuiditas perbankan yang ketat belakangan ini.

Dengan langkah ini, rata-rata GWM perbankan pun turun dari 9,08 persen menjadi 7,5 persen. Ini berarti perbankan mendapat tambahan likuiditas sekitar Rp 23 triliun.

(33)

Suara Pembaruan Sabtu, 11 Oktober 2008

Cor e t Ca le g y a n g Be r m a sa la h

Caleg bermasalah adalah bentuk pengabaian parpol.

[JAKARTA] Komisi Pemilihan Umum (KPU) seharusnya tidak hanya menyeleksi secara administrasi calon sementara anggota legislatif. Selain partai politik terkait, KPU juga bertanggung jawab atas kualitas calon. Jajaran KPU dari pusat hingga daerah harus membuat kebijakan yang seragam. Desakan yang semakin menguat tersebut juga menjadi salah satu rekomendasi Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) yang akan diserahkan ke KPU awal pekan depan.

Demikian disampaikan Anggota Bawaslu, Wirdyaningsih, kepada SP di Jakarta, Sabtu (11/10).

Sebelumnya, penegasan yang sama juga disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Jeirry Sumampow.

"Walau parpol bisa mencoret, tetapi KPU juga berwenang untuk mengatakan tidak bisa," kata Wirdyaningsih.

Menurut Wirdyaningsih, laporan masyarakat maupun Pengawas Pemilu (Panwaslu) di tingkat provinsi di antaranya banyak terkait pelecehan seksual, penggunaan narkoba dan tindakan tidak menyenangkan lainnya.

Bawaslu juga meminta agar KPU mengeluarkan surat edaran agar keputusan KPUD seragam. Pasalnya, untuk kasus hukum caleg, kebijakan KPUD beragam. Ada pandangan bahwa jika caleg sudah mendapat keputusan hukum tetap dan dihukum 1,5 tahun penjara, dapat mengajukan diri sebagai caleg karena tidak mencapai lima tahun. Sedangkan, KPUD lain mempunyai pandangan yang berbeda.

"Dari tuntutan yang lebih dari lima tahun, KPU berhak menolak berkas caleg itu dan bukan dari hukumannya," kata Wirydaningsih.

Lapor Bawaslu

Ketua KPU, Abdul Hafiz Anshary pada kesempatan yang berbeda mengatakan, KPU akan melapor ke Bawaslu terkait laporan caleg bermasalah yang diterima KPU.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Indonesia Arbi Sanit menyatakan, munculnya indikasi caleg bermasalah dinilai sebagai bentuk pengabaian parpol dan dianggap tidak bersikap responsif. Parpol seharusnya bertindak tegas dengan mencoret nama-nama caleg yang diduga bermasalah.

Selain JPPR, Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) juga melakukan rekam jejak atas sejumlah nama caleg bermasalah.

(34)

Kompas Senin, 13 Oktober 2008

RUU Pornografi

Koa lisi Or n op Ja b a r Tola k RUU Por n og r a fi

Senin, 13 Oktober 2008 | 01:06 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Koalisi Organisasi Nonpemerintah Jawa Barat yang terdiri dari berbagai lembaga kemasyarakatan menolak rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang Pornografi. Isi RUU itu dinilai tidak menyentuh substansi karena mengabaikan pengaturan industri seks yang mendorong maraknya pornografi.

Hal itu dikatakan perwakilan Koalisi Ornop Jabar, Dadang Sudarja, Minggu (12/10) di Bandung. Mereka berencana beraudiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jabar dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pada Senin ini.

Agnes Dewi Rosiyati dari Gerakan Aksi Tanpa Kekerasan mengatakan, pertemuan itu dilakukan untuk mengetahui sikap pimpinan Provinsi Jabar terhadap RUU Pornografi. ”Apa pun hasilnya, kami upayakan agar bisa menjadi rekomendasi bagi DPR Pusat,” ujarnya.

Dadang mengatakan, RUU itu cenderung memerhatikan hal-hal definitif mengenai pornografi, tetapi justru tidak menyinggung industri seks yang menumbuhkan pornografi. Di sisi lain, definisi pornografi dalam RUU itu tidak jelas batasannya.

Industri seks yang dimaksud Dadang antara lain mengenai buku, majalah seks, dan alat bantu seks yang beredar luas tanpa ada pengawasan dari pemerintah. Sebagian dari hal itu telah diatur dalam peraturan lain, misalnya UU Pers, UU Penyiaran, UU Perlindungan Anak, dan UU Perfilman. Namun, UU yang ada belum dijalankan sebagaimana mestinya.

Rohaniwan Franz Magnis-Suseno mengatakan hal senada saat ditemui Sabtu (11/10) di Bandung. Menurut dia, persoalan Indonesia bukan karena kekurangan peraturan mengenai pornografi, melainkan kurangnya menerapkan aturan yang sudah ada.

Ia juga mengatakan, pornografi lebih marak di Indonesia dibandingkan dengan negara barat, misalnya Jerman. ”Untuk memperoleh buku dan alat-alat bantu seks di Jerman, seseorang harus berusia dewasa. Selain itu, ia harus membeli di toko khusus. Pengaturan seperti ini tidak ada di Indonesia,” katanya.

(35)

Kompas Senin, 13 Oktober 2008

RUU Pilpres "Disandera"

Pe r d e b a t a n Be r la r u t , Se k a d a r Ta w a r - m e n a w a r

Pa r p ol

Senin, 13 Oktober 2008 | 00:24 WIB

Jakarta, Kompas - Partai politik dinilai ”menyandera” Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Tidak ada lagi alasan rasional dan substantif untuk mengulur-ulur penyelesaian RUU tersebut.

Perdebatan yang berlarut-larut seperti saat ini tidak lebih sekadar ”tawar-menawar” antarparpol demi kepentingan masing-masing pada Pemilu 2009.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lili Romli, dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia Ahmad Fauzi Ray Rangkuti secara terpisah, Minggu (12/10), menyebutkan, pembahasan RUU Pemilu Presiden saat-saat akhir ini tidak jauh berbeda dengan saat pembahasan RUU Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Yang terjadi dalam pembahasan RUU itu adalah upaya saling ”mencocokkan” kepentingan, serangkaian lobi mesti digelar karena titik kompromi-kepentingan itu belum dicapai. ”Kalau sudah begini, lebih untuk kepentingan pragmatis, bukan untuk membangun pemerintahan yang efektif,” ujar Lili.

Lobi antara pimpinan partai politik dan pemerintah pada Jumat lalu tidak menghasilkan kesepakatan atas dua materi krusial tersisa, yaitu soal syarat pengajuan pasangan calon presiden-wakil presiden dan keharusan calon terpilih mundur dari pimpinan parpol.

Rencananya, lobi berikutnya akan diteruskan pada Rabu (15/10) malam. Tak ada perubahan rencana, pansus tetap menargetkan RUU Pemilu Presiden bisa dirampungkan pada masa persidangan sekarang yang akan berakhir 24 Oktober mendatang. Masih terdapat perbedaan tajam, terutama yang menginginkan parpol atau gabungan parpol cukup mendapatkan 15 persen jumlah kursi atau 20 persen perolehan suara sah nasional pemilu DPR dengan kelompok fraksi yang ingin syarat minimal 30 persen jumlah kursi DPR.

Ray Rangkuti mengingatkan pengalaman Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemilu anggota legislatif. Belum lama disahkan, sudah ada upaya untuk mengubahnya. Hal serupa jangan sampai terjadi pada RUU Pemilu Presiden hanya karena ketidakcocokan antara ide dan realitas lapangan.

(36)

Suara Pembaruan Selasa, 14 Oktober 2008

Pilk a d a Le b a k Tu n g g u Ke p u t u sa n KPU

[SERANG] Untuk mengetahui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lebak, Banten, tetap dilaksanakan 16 Oktober 2008 atau diundur, masih menunggu hasil rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Jakarta, Selasa (14/10). Rapat dilakukan untuk membahas pengunduran diri dua pasangan calon Pilkada Lebak, yakni Mardini- Wijaya Ganda Sungkawa dan Yas'a Mulyadi- HM Sudirman.

Anggota KPU Banten Didih M Sudi kepada SP, di Serang, Senin (13/10) mengungkapkan, pihaknya bersama anggota KPU Lebak telah melakukan konsultasi dengan KPU.

"KPU meminta KPU Lebak tetap melaksanakan tahapan pilkada dan melanjutkan pendistribusian logistik pilkada yang telah disiapkan. Kasus pengunduran diri pasangan calon yang terjadi di Lebak merupakan peristiwa pertama dalam pelaksanaan pilkada di Indonesia. Hal ini bisa menjadi yurisprudensi untuk pilkada selanjutnya di daerah lain di Indonesia," katanya.

Kedua pasangan calon yang mengundurkan diri itu telah secara resmi menandatangani surat pernyataan pada saat pencalonan, untuk tidak mengundurkan diri dari pencalonan. Selain itu, tiga pasangan calon dalam Pilkada Lebak juga telah menandatangani penetapan pasangan calon di KPU Lebak.

"Ketika mereka (dua pasangan calon-Red) mengundurkan diri, mereka telah melanggar pernyataan yang telah mereka tanda tangani. Tidak ada aturan hukum, pasangan calon mundur karena alasan yang sangat politis, kecuali karena meninggal dunia atau sakit permanen," katanya.

Dengan pengunduran diri kedua calon, kini dalam Pilkada Lebak hanya memiliki satu pasangan calon, yakni Mulyadi Jayabaya-Amir Hamzah.

Tidak Sah

KPU Lebak menilai, pengunduran diri dua pasangan calon dinyatakan tidak sah, karena bertentangan dengan bunyi huruf c dan e ayat 5 pasal 59 UU No 12/2008, mengenai surat pernyataan tidak akan mengundurkan diri. Yang menjadi acuan lain ayat 1 pasal 62 UU No 12/2008, pasal 12 ayat 2 huruf b dan d, pasal 39 ayat 1dan pasal 40 ayat 1 Peraturan KPU No 15/2008.

"Peraturan dan undang-undang sudah jelas mengatur surat penyataan tidak akan menarik pencalonan, larangan menarik pencalonan, dan larangan mengundurkan diri sejak ditetapkan sebagai pasangan calon," kata Ketua Panitian Pengawas (Panwas) Pilkada Lebak, Ahmad Taufik.

Berdasarkan pantuan, tahapan Pilkada Lebak tetap berjalan. Panwas Pilkada Lebak, sejak Senin (13/10) menertibkan ribuan atribut kampanye pasangan calon yang terpasang, karena sudah masuk masa tenang. Kegiatan Panwas tidak terpengaruh dengan pengunduran diri dua pasangan calon bupati dan wakil bupati tersebut. KPU Lebak, sampai saat ini belum memutuskan dilanjut atau ditundanaya Pilkada Lebak.

(37)

Suara Pembaruan Selasa, 14 Oktober 2008

(38)

Kompas Selasa, 14 Oktober 2008

Penanganan Krisis

Pe r p u , M a sih Pr ose s Ad m in ist r a t if?

Selasa, 14 Oktober 2008 | 00:30 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Senin (13/10), mengumumkan terbitnya dua peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perpu. Penerbitan perpu itu untuk mengantisipasi dampak krisis keuangan global dan menjaga stabilitas sistem keuangan dan perbankan nasional.

Dari tiga perpu yang diajukan, baru dua perpu yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin. Perpu pertama tentang perubahan kedua atas Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia (BI). Perpu kedua mengenai perubahan atas UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. Satu rancangan perpu tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan hingga Senin malam masih dimatangkan pemerintah.

Sri Mulyani, yang didampingi Gubernur BI Boediono, mengatakan, ”Presiden menandatangani dua perpu itu pada 13 Oktober 2008. Dua perpu itu berlaku efektif mulai pada saat perpu ditandatangani.”

Bahkan, Sri Mulyani juga menyebutkan, ”Presiden juga telah menandatangani peraturan pemerintah terkait dengan jumlah maksimum simpanan yang dijamin LPS yang mulai berlaku 13 Oktober 2008.”

Selanjutnya, Sri Mulyani mengaku mengonsultasikan perpu dengan DPR. ”Pada prinsipnya, DPR memahami dan menyetujui pengaturan khusus. Karena itu, kita akan memfinalkan dengan DPR,” ujarnya.

Namun, hingga Senin sore, saat Kompas mengonfirmasikan di Sekretariat Negara (Setneg) atas salinan perpu itu ternyata belum juga diketahui jelas ”Kami belum tahu dan belum menerima perpu itu karena masih ditangani Menteri Sekretaris Negara,” ujar Wakil Sekretaris Kabinet Lambock V Nahattand.

Menseneg Hatta Rajasa yang dihubungi berkali-kali juga tidak memberikan konfirmasi hingga pukul 20.00. Pesan layanan singkat (SMS) yang dikirim untuk mendapat kepastian perpu itu sama sekali tak dijawab. Informasi lain menyebutkan, perpu belum diteken Presiden. Namun, ada juga yang menyatakan perpu masih diproses secara administratif di Setneg.

Sri Mulyani, ketika ditanya, mengaku tak tahu nomor berapa perpu itu. ”Itu ditangani oleh Mensesneg sendiri. Tanyakan kepada beliau,” katanya.

Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana menyatakan hal yang sama dan menganjurkan mencari informasi ke Mensesneg. Padahal, Denny yang mengaku hadir pada pertemuan Presiden Yudhoyono ketika menerima Sri Mulyani dan Boediono di kediaman pribadi Presiden di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, saat ini masih mengikuti Presiden di Jawa Timur.

Denny malah memberi komentar, dengan pengajuan perpu, DPR memiliki kesempatan diajak berpartisipasi oleh pemerintah menangani krisis keuangan itu.

(39)

Kompas Selasa, 14 Oktober 2008

Wakil Presiden M Jusuf Kalla, yang biasanya mudah menjawab, kali ini tidak menjawab saat ditanya latar belakang dan apa benar perpu sudah diteken Presiden. Wapres tak hadir dalam pertemuan di Cikeas, Minggu (12/10) malam.

Namun, Wapres Kalla secara mendadak memanggil Sri Mulyani dan Boediono ke kediaman dinasnya, Senin pagi. Tak diketahui isi pertemuan tertutup itu. Ada yang menyebut Kalla belum diajak bicara tentang pepru itu.

Presiden Yudhoyono berangkat ke Jawa Timur pukul 08.00 untuk kunjungan kerja. Jadi, kira-kira jam berapa Presiden Yudhoyono menandatangani perpu itu dan butuh berapa lama proses administrasinya?

Logikanya, jika dua perpu itu diteken sebelum Presiden berangkat, tentu seharusnya sudah langsung diproses sehingga kepastian terbitnya dan juga nomor perpu sudah dapat diberikan menteri dan mereka yang ada di sekitar Presiden.

(40)

Kompas Selasa, 14 Oktober 2008

Pemilu 2009

Re v isi UU N o 1 0 / 2 0 0 8 , M e r e v isi Ke p e n t in g a n

Selasa, 14 Oktober 2008 | 00:35 WIB

Perubahan undang-undang politik berlangsung lima tahun sekali. Jika UU yang belum lama disahkan dan belum sempat dilaksanakan sudah diusulkan untuk direvisi, tentu banyak pihak berpikir, pastilah ”ada apa-apa” di balik usul itu.

Seperti diberitakan, pada pertengahan Agustus lalu, sejumlah anggota DPR mengusulkan revisi terbatas atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 mengenai Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, yaitu klausul soal penetapan c

Referensi

Dokumen terkait

Begitu pula dengan digital pillbox reminder yang diaturkan oleh farmasis dapat meningkatkan kepatuhan minum obat. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan

CONTRIBUTION OF ENGLISH AS AN INTEREST-BASED SUBJECT TO STUDENTS’ ACHIEVEMENT IN ENGLISH AS A COMPULSORY SUBJECT OF 2013 CURRICULUM: A Survey Study at Grade X Students.. of SMAN

waktu yang dibutuhkan oleh Badan Usaha dalam menyelesaikan proyek kerjasama, Semakin tinggi nilai investasi maka semakin lama durasi waktu perjanjian kerjasama.,

INSTRUKSI KEPADA PESERTA (IKP) Peserta yang memasukkan penawaran dapat menyampaikan sanggahan secara elektronik melalui aplikasi SPSE atas penetapan pemenang kepada

Pendaftaran dan Pengambilan Dokumen Lelang dilakukan oleh Direktur utama/Pimpinan perusahaan/kepala cabang atau Penerima Kuasa dengan melampirkan surat tugas dari

[r]

Daerah irigasi dapat diberi nama sesuai dengan nama daerah setempat, atau desa penting di daerah itu, yang biasanya terletak dekat dengan jaringan bangunan utama

Jawab: Dalam mendidik anak memakai strategi belajar dan bermain yang menyenangkan agar anak tidak cepat bosan.. Jawab: Sangat senang, apalagi disini kan banyak temannya, mereka