Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319
MENDIDIK ANAK MELALUI ANALISIS PERILAKU TERAPAN
Sumardjono Padmomartono
Progdi Bimbingan Dan Konseling
–
FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
Penerapan Prosedur Mendidik yang berkualitas pedagogik masih merupakan kontroversi di kalangan psikologi behavioristik dan psikologi humanistik. Dalam praktik kependidikan di keluarga dan di sekolah sukar dihindarkan penerapan prinsip hukuman dan ganjaran, padahal prosedur ini perlu telaah dengan seksama agar dapat diminimalkan potensi kesalahan penerapannya. Artikel ini membahas analisis perilaku terapan sebagai sarana mensosialisasikan perilaku baku yang perlu dikuasai anak. Bahasan mencakup hakekat anak, hakekat perilaku bermasalah dan pengubahannya, potensi penerapan analisis perilaku terapan melalui Metode Resep Masakan dan Metode Analisis Fungsional. Di akhir bahasan diilustrasikan penerapan penguatan positif melalui Prinsip Premack
dan Belajar Observasi dan Meniru tayangan film anak di TV.
PENDAHULUAN
Pendidikan anak adalah tanggungjawab keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidik dan orang tua dihadapkan pada problematika pemilihan prosedur mendidik atau menso-sialisasikan anak yang berkualitas mendidik. Melalui pendidikan kalangan pendidik, orang tua dan orang dewasa yang bertanggungjawab pada pendidikan berupaya memastikan anak mengkinerjakan perilaku, sikap, keterampilan dan motivasi baku dan sesuai dengan tolok-ukur yang berlaku pada masyarakat ideal. Namun tidak setiap prosedur mendidik anak bernilai pedagogik. Meskipun dalam pedagogi dikenal pendekatan
behavior management/
pengelolaan perilaku yaitu penerapan prinsip belajar ke dalam prosedur pengubahan peri-laku anak; akan tetapi ada sejumlah prosedur yang menuntut kehati-hatian dan pertim-bangan matang sebelum ditempuh oleh orang tua dan pendidik. Dengan makin disadarinya hak asasi anak dalam pendidikan, serta ada potensi kesalahan dalam pendidikan anak, maka orang tua dan pendidik dituntut makin selektif dalam penerapan prosedur mendidik. Pendekatan behavior management adalah pro-sedur pengubahan perilaku yang diseleng-garakan secara langsung, seketika dan siste-matik terutama dalam konteks manajemen belajar dan pengelolaan perilaku anak. JustruWidya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 HAKEKAT ANAK
Asumsi mengenai anak yang berperilaku adalah titik tolak diselenggarakannya prosedur pengubahan perilaku. Terkait hal ini, Dustin & George (1990) mengemukakan gagasan sebagai berikut:
1.
Anak adalah organisme aktif yang berpo-tensi mengkinerjakan segala jenis perilaku.2.
Anak dapat mengkonseptualisasi danme-ngendalikan sendiri perilakunya.
3.
Anak mampu mempelajari perilaku-perilaku yang baru.4.
Anak dapat mempengaruhi perilaku orang lain sekaligus dipengaruhi orang lain yang terungkap dari perilaku anak itu sendiri.5.
Asumsi yang telah dikemukakan tersebutbelum/tidak mempersoalkan benar salah-nya perilaku yang dikinerjakan anak. Sisi benar dan salah dalam hal ini lebih dipandang dari segi adaptif/berpenye-suaian diri atau maladaptif/salah suai sesuai kondisi lingkungan anak.
HAKEKAT MODIFIKASI PERILAKU BERMASALAH Kebanyakan prinsip modifikasi perilaku berasal dari karya dan perluasan
operant conditioning
Skinner. Sebagai sain terapan, manajemen/ modifikasi perilaku sesungguhnya merupakan koleksi metode-metode behavioristik yang sebagian diantaranya strategik digunakan di lapangan bimbingan konseling, psikologi pendidikan dan pendidikan/pembelajaran. Modifikasi perilaku kini tidak hanya membatasi problematika pengubahan pada perilaku saja, tetapi diperluas dengan menekankan proses-proses yang lebih berhakikat kognitif melalui pengakuan adanya elemen kognitif dalam perubahan perilaku. Karena proses berubah-nya perilaku merupakan konsekuensi dari proses-proses kognitif dalam diri anak.Kaum behavioristik memandang anak adalah hasil dari pengalaman-pengalaman. Perilaku bermasalah itu perilaku yang dipelajari. Perilaku bermasalah diartikan sebagai perbu-atan yang mengganggu belajar dan
meng-hambat kinerja anak di kelas pembelajaran maupun dalam situasi pergaulan. Pakar psikologi dan pedagogi memilah perilaku ber-masalah menjadi ber-masalah kelakuan/conduct
problems dan masalah kepribadian/personality
problems. Masalah kelakuan terdiri atas
peri-laku yang mengganggu dan diarahkan pada anak lain dalam bentuk kelakuan agresif, memusuhi, merusak atau membangkang. Kadang masalah kelakuan terkait dengan kenakalan/delinquency dan psikopatologi anak.Masalah kepribadian tidaklah sehebat dampak-nya dibandingkan dengan masalah kelakuan. Masalah kepribadian berwujud-nyata dalam kecenderungan menarik diri, yaitu perilaku yang mengesankan takut-takut pada anak lain, cemas dan menghindari situasi yang dapat menyebabkannya dicela, dikritik, diejek dan ditolak. Ada kemungkinan pula anak meng-alami sikap memusuhi. Dalam situasi wajar ia mengarahkan sikap itu pada diri sendiri dalam wujud rasa bersalah atau kritik diri berlebihan. Dalam situasi stres
akut, anak tak mampu lagi
menahannya sehingga ia dapat meledak dan mengarahkannya pada anak lain dalam wujud yang lebih hebat katimbang sikap permusuhan yang ditunjukkan anak yang tidak bermasalah serupa.Hakekat perkembangan dan kelangsungan perilaku bermasalah itu sama saja dengan jenis perilaku lainnya. Implikasi pandangan ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
Pertama, perilaku dipandang bermasalah karena orang lain memandangnya memang bermasalah pada konteks situasinya, sebagai contoh perilaku dapat dianggap bermasalah di sekolah akan tetapi tidak sedemikian di rumah.
Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 Jadi pandangan ini berasumsi karena perilaku
bermasalah itu hasil belajar, dapat diralat kembali proses dipelajarinya (unlearned). Da-lam menangani situasi ini, paradigma stimulus-respons dijadikan pola dasar semua proses belajar. Tiap orang bereaksi pada sesuatu stimuli dalam pola yang secara teoritik dapat diramalkan tergantung pada pengalaman belajar awal dan penguatan. Hanya saja pada
manusia respons atas stimuli lebih kompleks dan berlangsung dalam taraf organisasi dan konseptualisasi yang lebih tinggi.
PROSES PENGUBAHAN PERILAKU Konsep ini berpumpun pada pengubahan atau memodifikasi perilaku. Proses pengubahan perilaku dapat digambarkan sebagai berikut:
Proses Pengubahan Perilaku
Control Antecedents
▼
Behavior
▼
Increase Behavior
▼
Maintain Behavior
▼
Decrease Behavior
Positive/Negative
Reinforcement
(Intermittent -Reinforcement)
(Punishment)
Control antecedents/behavioral antecedents
adalah kejadian atau stimuli yang hadir ketika seseorang mengkinerjakan perilaku. Wujudnya dapat berupa suara, penglihatan, orang, bahan/material atau tempat dan bau-bauan.Kebanyakan perilaku muncul dikendalikan
antecedents (disebut
control antecedents)
karena pengulangan pasanganreinforcers
mengikuti perilaku yang berdampingan dengan stimuli lingkungan. Perhatikan contoh berikut:Hakekat Stimuli Pada Penguatan Dan Hukuman (Kazdin,1980)
Tindakan dilakukan setelah perilaku muncul
Menyenangkan
(positive event)
Menjengkelkan
(aversive event)
Ditambahkan pada situasi
Penguatan Positif/Hadiah (Jon diberi permen
karena patuh)
Hukuman I/Dihukum (Hidung Jon dipencet
karena bandel) Disingkirkan
dari situasi
Hukuman II/Penalti (Permen Jon disita
karena bandel)
Penguatan Negatif/Melegakan (Pencetan pada hidung Jon dilepas
karena minta maaf)
POTENSI ANALISIS PERILAKU TERAPAN Penerapan pengubahan perilaku untuk meng-ubah perilaku yang dipandang penting secara sosial di lapangan pendidikan, bisnis dan ilmu sosial disebut
applied behavior analysis/
analisis perilaku terapan. Kalangan pendidikan dan orang tua sering dihadapkan pada persoalan menggunakan penguatan saja, atau hukuman saja atau gabungan dari keduaWidya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319
Metode Resep Masakan
Prosedur yang dipilih: prosedur hukuman atau penguatan tergantung pada apa yang dikehen-daki dari perilaku yang ingin diubah. Jika ingin meningkatkan peluang dimunculkannya peri-laku positif, maka dipilih prosedur penguatan. Akan tetapi jika dikendaki agar terjadi penurunan peluang munculnya perilaku yang dilarang, maka dipilih prosedur hukuman. Bagi pemula, prosedur hukuman patut dihin-dari penggunaannya. Burden & Byrd (1999) mengartikan hukuman sebagai pemberlakukan pinalti dengan maksud menekan peluang muncul perilaku terlarang. Berikut peringatan sehubungan dengan penerapan hukuman:
1.
Hukuman memang dapat mengendalikanperilaku, akan tetapi hukuman itu sendiri tidak membelajarkan dikuasainya perilaku yang dikehendaki agar muncul, sekaligus sukar mengurangi hasrat berperilaku ter-larang. Hukuman bukan solusi tuntas peni-adaan perilaku terlarang, hanya sebagian dari pemecahan masalah.
2.
Hukuman semestinya hanya digunakan sebagai pilihan terakhir untuk meniadakan perilaku terlarang pada siswa yang sesung-guhnya tahu perilaku itu terlarang serta mampu mengendalikannya agar tidak mun-cul, akan tetapi siswa itu sendiri menolak untuk menghentikan perilakunya.3.
Pendidik mestinya mengetahui pasti kapan tepatnya menggunakan prosedur hukuman, jenis hukuman yang dapat digunakan serta cara menggunakannya.4.
Hukuman semestinya digunakan hanya sebagai bagian dari respons perilaku yang terencana terhadap perilaku bermasalah yang berulang kejadiannya.Potensi kerugian penerapan hukuman dikemu-kakan Gary R. Borich (1996) sebagai berikut:
1.
Hukuman tidak menjamin bahwa responsperilaku yang dikehendaki akan dimun-culkan anak. Hukuman yang diterapkan tanpa dipasangkan dengan ganjaran/ hadiah dari dimunculkannya perilaku
konstruktif justru mendorong munculnya perilaku terlarang lainnya. Contoh: Agar tetap mau duduk tenang di kursinya, Bu Guru Ani menghukum Jono mengerjakan lembar soal dengan jumlah soal yang lebih banyak. Bukannya Jono mengerjakan soal-soal itu, ia bahkan mengelamun, mengirim nota ke teman sekelasnya atau bahkan memainkan rambut teman putrinya. Me-mang Jono tetap duduk karena hukuman itu, tetapi justru ia munculkan perilaku mengganggu lainnya.
2.
Dampak hukuman spesifik sifatnya ter-hadap konteks kejadian dan perilaku yang berkenaan. Semestinya hukuman hanya digunakan sebagai pilihan terakhir untuk meniadakan perilaku terlarang pada anak yang sesungguhnya tahu perilaku itu terlarang serta mampu mengendalikannya agar tidak muncul. Akan tetapi anak itu sendiri menolak untuk menghentikan perilakunya. Contoh: tambahan soal bagi Jono tidak berlaku bagi Bu Guru Tri karena prosedur hukuman itu hanya terikat pada kontingensi Jono - hukuman soal tambahan dan bu Guru Ani saja, serta tidak berlaku bagi kontingensi bu Tri.3.
Hukuman berpotensi memunculkan dam-pak iringan terlarang. Jika pemberian tambahan soal di dalam kelas bermaknaaversive bagi Jono, maka prosedur ini
berkonsekuensi sangat tidak diinginkan dan menyakitkan bagi Jono. Mungkin saja Jono akhirnya takut ambil resiko meninggalkan kursinya termasuk misal untuk minta ijin ke kamar kecil sekalipun.4.
Hukuman kadang memunculkan respons bermusuhan dan agresif. Anak tidak hanya dihukum di sekolah saja, tetapi juga di rumah. Jangan heran jika ditemukan munculnya ledakan emosi berlebihan wak-tu anak dihukum ibunya yang semestinya tidak berkonsekuensi sedemikian parah.5.
Hukuman berasosiasi dengan pribadi orangWidya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 munculnya perilaku yang konstruktif, maka
pendidikan/orang tua akan kehilangan sikap bekerjasama yang dikehendaki muncul dari anak. Penting agar meniada-kan hukuman dalam persoalan yang ber-kenaan disiplin. Jika tidak maka hukuman hanya selalu diasosiasikan dengan sosok pribadi orang yang menerapkannya.
6.
Hukuman yang sebenarnya dijadikan sa-saran utama meniadakan perilaku terla-rang, tetapi yang tidak seketika dipasang-kan dengan prosedur penguatan pembe-rian hadiah/ganjaran ketika muncul peri-laku positif, tidak akan awet/berperi-laku lama dampaknya. Jadi jika perilaku positif yang dikehendaki kurang dipahami benar agar dimunculkan oleh anak ketika prosedur hukuman itu sedang diberlakukan, maka anak hanya akan melihat hukuman itu sebagai niat untuk melukai hatinya dan bukan sebagai instrumen pendorong munculnya perilaku konstruktif.Metode Analisis Fungsional
Metode ini mensyaratkan ditetapkannya dahulu perilaku spesifik yang dikehendaki agar muncul beserta konsekuensi yang memotivasi perilaku itu sebelum dipilih cara sesuai untuk meng-ubah perilaku kini. Adalah fungsi perilaku (yaitu motivasi yang melatarinya) yang akan menetapkan pilihan perilaku yang ingin diubah. Jadi tekanannya bukan hanya pada tujuan mengurangi atau meningkatkan peluang munculnya perilaku yang dibentuk.
Prosedur ini menuntut diperiksa motivasi di belakang perilaku bermasalah anak (misalnya motivasi siswa menarik perhatian teman/ pendidik, atau menghindari tugas). Juga perlu ditetapkan kondisi apa saja yang dapat dijadikan penguat atau penghukum perilaku anak karena tidak sebarang kejadian dapat berfungsi menguatkan atau menghukum perilaku seseorang.
Siswa dari berbagai latar belakang budaya dan sosial ekonomi memiliki perbedaan
peng-alaman sehingga ada yang tidak termotiva-sikan oleh tindakan penguatan atau penghu-kuman yang sama. Pengalaman belajar sebe-lumnya, budaya, minat dan kecakapan adalah dilema etik bagi pendidik dan orang tua untuk menggunakan prosedur pengubahan perilaku yang sama pada anak yang berbeda-beda latar belakangnya.
Metode Analisis Fungsional (Borich, 1996) merekomendasikan langkah membentuk perilaku konstruktif anak sebagai berikut: 1. Identifikasi perilaku yang terlarang yang
mau diubah maupun perilaku konstruktif yang dikehendaki untuk menggantikannya. 2. Identifikasi
antecedents bagi perilaku yang
terlarang maupun yang konstruktif (seperti teman sekelas-sebaya yang berpengaruh). Ubah perubahan seperlunya pada lingkungan kelas (semisal mengubah susunan tempat duduk anak) guna mencegah munculnya perilaku terlarang serta meningkatkan peluang munculnya perilaku konstruktif.
3. Identifikasi maksud dan tujuan di sebalik perilaku terlarang, misal mencari perhatian; menghentikan tindakan teman sekelas yang diduga memuaskan/memenuhi kebutuhan terlarang tersebut.
4. Tetapkan prosedur pemberian penguatan terhadap perilaku konstruktif sebagai pengganti perilaku terlarang.
Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 gagal memenuhi harapan pendidik, terutama
ketika anak mendapati pendidik makin jarang memujinya.
PENANGANAN INDIVIDUAL PERILAKU BERMASALAH
Dreikurs, Grundwald & Pepper dalam
Maintaining Sanity in the Classroom:
Class-room Management Techniques, 2
nd.Ed. (1982)
mengembangkan pendekatan individual pena-nganan perilaku bermasalah. Diidentifikasi 4 tujuan sesat/mistaken goals perilaku bermasa-lah anak, yaitu: 1) Menarik perhatian. 2) Men-cari kekuatan pengaruh/kekuasaan. 3) Saluran membalas dendam. 4) Menunjukkan kekurang-cakapan yang nyata atau hanya khayali saja. Prosedur yang ditempuh adalah mengabaikan perilaku negatif dan hanya mengindahkan perilaku yang konstruktif saja. Hendaknya pendidik menolak berkonfrontasi dengan anak yang secara destruktif menunjukkan kekuatan pengaruhnya. Caranya melalui menyalurkan enerji pengaruh anak pada kegiatan yang konstruktif, misalnya sebagai pengurus kelas/OSIS. Jika sesekali pendidik tersinggung dengan perilaku anak, berarti anak telah membalas dendam. Pendidik sebaiknya me-nyembunyikan ketersinggungan itu dan hanya menunjukkan sikap kepedulian positif dan penghargaan pada anak. Pada orang yang perilakunya menyakiti orang lain, sesung-guhnya lebih sering menyakiti hatinya sendiri. Penggunaan ke empat tujuan perilaku sesat tersebut menunjukkan bahwa anak mengalami ketidak-berdayaan nyata atau membayangkan saja melalui saluran perilaku bermasalah. Pola perilaku ini dipandang penyimpangan parah/ serius. Seolah anak yakin tak mampu mela-kukan sesuatu yang diharapkan darinya se-hingga tidak mau berupaya sedikitpun. Saran bagi pendidik adalah tetap memberiencou-ragement
serta tidak mudah menyerah pada perilaku bermasalah anak.Pendekatan Dreikurs tersebut berdasarkan pada tiga gagasan kunci, yaitu:
1. Ada latar belakang berbeda-beda pada siswa yang berperilaku bermasalah.
2. Pendidik dapat menggunakan reaksi emosinya sendiri sebagai dasar pemahaman dalam menetapkan motivasi perilaku bermasalah siswanya.
3. Strategi pengubahan perilaku yang berbeda harus digunakan untuk mengatasi perilaku bermasalah yang disebabkan oleh motivasi yang berbeda.
ILUSTRASI PENERAPAN PENGUATAN POSITIF DALAM PENDIDIKAN
Dari antara penguatan ekstrinsik yang biasa diterapkan di sekolah yaitu memberi perhatian, memuji, memberi
token/kepingan tabungan
berbentuk anak diberi bintang dan nilai. Wujud penguatan ekstrinsik diklasifikasikan sebagai berikut:1.
Consumable/dapat dimakan, misalnya
kue-kue, gula-gula.2.
Manipulatable/dapat
dimainkan, misal mainan-gantungan kunci.3.
Auditory & visual stimuli, seperti musik
atau kartun berwarna.4.
Social stimuli berupa senyum persetujuan,
pujian atau perhatian.5.
Tokens/hadiah kepingan tabungan berupa
bintang warna-warni.Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 Perilaku Salah Penguat Perilaku (Premack Principle)
Berteriak-teriak, dorong-mendorong, berlari ke sana-sini, berlompat-lompatan dan perilaku salah lainnya digunakan untuk memberi penguatan dalam kelas. Dalam proses pemakaian sebagai penguatan, pendidik sangat mengendalikan perilaku yang diperkuat sekaligus melakukan kendali munculnya perilaku itu. Pendidik hanya perlu penerapan secara jitu
Prinsip Premack.
Landasan berpikirnya adalah bahwa prinsip perilaku tertentu dapat digunakan memperkuat perilaku lain; artinya perilaku yang dilakukan spontan pada dasarnya berkadar
penguatan
diri serta dapat dipakai memunculkan serta
mengendalikan perilaku yang kurang spontan.Contoh Kasus
Homme dkk. (Lefrancois, 1985) menghadapi masalah perilaku anak kelompok bermain yang sangat liar dan sukar ditenangkan. Sebagian besar waktu sekolah dipakai anak-anak usia 3 tahunan itu berlarian, berteriak-teriak, melom-pat-lompat, tertawa-tawa dan saling dorong di kelas. Nyaris anak-anak tidak memperhatikan guru dan tetap bising seraya mengabaikan perintah guru supaya duduk manis dan tetap tenang di bangku masing-masing.
Apa yang dilakukan Homme dkk. nampak tidak umum, yaitu menjadikan berlarian, berteriak dan perilaku salah lainnya sebagai kontingen-si/pertautan dengan perilaku yang dieksperi-menkan. Mereka menggunakan perilaku salah itu sebagai penguatan bagi munculnya perilaku yang awalnya jarang sekali dikinerjakan anak. Eksperimenter menyuruh anak duduk dan melihat ke papan tulis tiga menit saja.
Segera setelah 3 menit berlalu, eksperimenter membunyikan bel dan mengumumkan: “Siapa saja boleh teriak-teriak sekarang!” Segera pula, setelah anak-anak berteriak-teriak, bel dibunyikan lagi dan menyuruh anak kembali duduk di bangku. Setelah beberapa menit lagi, bel dibunyikan dan anak-anak boleh berlari-lari, melompat-lompat dan melonjak-lonjak. Setelah eksperimen berlangsung beberapa saat, peraturan bertahap diubah sampai anak mampu duduk tenang dan berbahagia dalam waktu yang lebih panjang serta terserap pada kegiatan yang lebih bermakna. Akhirnya, bukan perilaku anak-anak diperkuat dengan di-beri kelonggaran berlari-lari dan berteriak
sporadis
selama sehari; perilaku anak diperkuat dengan hadiah kepingan yang pada jam terakhir boleh ditukarkan dengan tam-bahan waktu bermain. Homme dkk. melapor-kan seluruh prosedur ini demikian sukses sehingga dapat membelajarkan kurikulum SD klas 1 pada anak-anak itu hanya dalam waktu sebulan!BELAJAR OBSERVASI DAN MENIRU TAYANGAN FILM ANAK DI TV
Belajar melalui observasi dan meniru mem-buktikan adanya sisi positif dan negatif pada anak. Melalui penayangan Film Anak di TV ditunjukkan dampak konstruktif belajar peng-amatan dan peniruan pada perkembangan intelektual anak yang dilibatkan dalam eksperimen. Di lain pihak ditemukan pula dampak menonton TV pada perkembangan sikap agresif dan perilaku agresif pada anak sebagaimana dilaporkan oleh Hetherington & Parke (1999) sebagai berikut:
Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 Dapatkah anak mempelajari kecakapan
intelektual yang baru melalui mengamati tayangan televisi? Film Pendidikan Anak Usia Dini
Sesame
Street
dirancang sebagai tayangan untuk mengembangkan kecakapan kognitif anak usia dini agar siap menempuh pendidikan di SD. Di Amerika Serikat, sekitar 16 juta anak usia 3 tahun 5 tahun secara teratur menonton tayangan ini selama 3 jam 4 jam seminggu. Dilaporkan film pendidikan ini menduduki peringkat atas tayangan terbanyak ditonton pada waktu itu.Film ini melakonkan wayang-wayang kecil canggih dengan pensifatan masing-masing. Tiap tokoh memainkan taktik-taktik kependi-dikan yang sanggup penyita minat anak untuk terus menonton tayangan sehingga penurut peneliti tujuan film tercapai. Pre dan post-test berjangka waktu 6 bulan masa tayang dila-kukan dengan pengukuran kecakapan identifi-kasi huruf, angka, bentuk geometrik, organ-organ tubuh dan menyortir serta mengklasifi-kasikan benda. Temuan menunjukkan pening-katan kecakapan kognitif pada anak-anak. Dilakukan kendali faktor taraf pendidikan orang tua, sikap orang tua dan jumlah anak dalam keluarga. Pembandingan pada jumlah waktu menonton anak dari kelas sosial rendah dan kelas menengah dengan sekor berbagai kecakapan menunjukkan seluruh anak mengalami peningkatan sekor. Ditemukan pula bukti, anak yang lebih sering dan lebih banyak jam menontonnya ternyata memperoleh sekor lebih tinggi pada berbagai tes.
Pada penelitian ambisius lainnya diukur kesiapan bersekolah, kecakapan mengenal huruf dan angka serta kosakata pada anak berusia 5 tahun yang ketika berusia 2 4 tahun menonton film ini. Temuannya berupa: 1. Anak yang telah menonton film ini mem-peroleh sekor tes lebih tinggi daripada anak yang jarang atau tidak pernah menonton.
2. Temuan butir 1. tersebut tetap berlaku ketika faktor kompetensi berbahasa awal, taraf pendidikan orang tua, penghasilan orang tua, bahasa ibu di rumah, serta sekor kualitas lingkungan rumahtangga dikendalikan.
3. Meskipun kecakapan membaca meningkat pada anak tersebut, ketika anak bersekolah dan mencapai usia 7 tahun, menonton film ini ternyata tidak mampu meramalkan kecakapan membaca. Hal ini menunjukkan dampak tayangan film ini menonjol pada anak pra sekolah. Kecakapan membaca adalah cerminan pengalaman mutakhir anak dengan pajanan/exposure buku dan media cetak lainnya yang dibacakan orang tua atau dibaca anak itu sendiri.
Temuan penelitian menunjukkan pokok-pokok sebagai berikut:
1. Bahkan pada anak yang berusia amat dini menonton tayangan film televisi dilakukan dengan sangat aktif dan selektif.
2. Jika tayangan berisi ceritera yang kompre-hensif dan menarik, anak menonton sede-mikian dekat dan terpaku perhatiannya. 3. Anak menonton sambil melakukan gerakan
fisik, bernyanyi, bertepuk tangan dan menunjukkan mereka mengikuti pensifatan tokoh favoritnya yang dimainkan dalam film, terutama daya tarik ini dipacu oleh tokoh filmnya yang mengajak anak aktif menggerakkan tubuh dan mulutnya.
Widya Sari Vol. 5 No. 3, September 2006:311 - 319 Tekanan orang tua terhadap pengelola
gram TV dalam menuntut penayangan pro-gram yang lebih bermutu bagi anak sangatlah penting karena ternyata pola menonton televisi anak berkaitan dengan kecenderungan dan pengaruh memilih program tayangan pada orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Telaah dampak tayangan televisi pada perkembangan anak sampai pada berbagai kesimpulan yang perlu disikapi orang tua dan guru. Hetherington & Parke (1999) menyodor-kan sejumlah pokok pikiran sebagai berikut: 1. Besar peran tayangan TV dalam
mensosi-alisasikan anak; padahal anak mulai menonton televisi pada usia yang sangat dini, jumlah jam nonton makin meningkat sampai anak mencapai pubertas.
2. Anak menonton berbagai program tayangan. Anak laki suka tayangan
action,
petu-alangan, olahraga, sedang anak perem-puan lebih memilih drama sosial kemanusiaan. Namun perlu dicermati seba-gian program tontonan anak seperti film kartun bernuansa agresi dan kejahatan. 3. Meskipun anak usia dini mengesankanmenonton televisi seolah menonton jendela sulap. Jadi perlu disadari kecakapan kog-nitif anak berkembang bertahap, sehingga anak makin memahami acara televisi; artinya mampu memahami hubungan sebab-akibat dan mampu memilah antara fantasi dan kenyataan hidup sehari-hari. 4. Tayangan tertentu televisi pendidikan
ber-dampak positif pada perkembangan kog-nitif anak seperti
Sesame Street. Manfaat
menonton acara serupa konstruktif bila anak berada di rumahtangga dan sekolah yang mendukung perkembangan anak. 5. Menonton televisi mengandung dampaknegatif. Menonton berat berkorelasi de-ngan rendahnya kemampuan memahami bacaan. Menonton televisi menyisihkan olahraga dan rekreasi lainnya serta men-jauhkan anak dari kegiatan sosial dan lingkungan. Pemajanan/exposure tindakan agresif dan jahat dalam tayangan televisi
mendorong munculnya tingkah laku agresif pada anak. Komsumen TV yang menjadi penonton berat makin kebal kepekaannya pada kejadian kekerasan dalam hidup. 6. Iklan seringkali berdampak kuat pada
kecenderungan anak memilih makanan dan mainan yang kurang sehat/kurang berfa-edah serta yang berpeluang mengandung bahan berbahaya bagi anak usia dini. Orang tua dapat mengubah dampak tontonan televisi dengan bertindak sebagai penterjemah berita/tayangan TV serta bertindak sebagai pengendali dan pengelola acara program pilihan tontonan TV di rumah tangganya.
KEPUSTAKAAN
Borich, G. D. 1996.
Effective Teaching
Methods, 3
rd. Ed. Englewood Cliffs, N.J.:
Prentice-Hall.Burden, P. R. & Byrd, D. M. 1999.
Methods for
Effective Teaching, 2
ndEd. Needham
Height, MA: Allyn & Bacon.Dreikurs, R. Grunwald, B. B. & Pepper, F. C. 1982. Maintaining sanity in the classroom: Classroom management techniques, 2nd Ed., dalam Parkay, F. R. & Stanford, B. H. 1992.
Becoming a
Teacher, Accepting the Challenge of A
Profession, 2
ndEd. Boston: Allyn & Bacon.
Dustin, R. & George, R. 1977. Action counseling for behavior change, 2nd Ed.,
dalam George, Rickey L. & Cristiani, Therese S., 1990.
Counseling, Theory and
Practice, 3
rdEd.
Englewood Cliffs, N. J.: Prentice-Hall.Hetherington, E. Mavis & Parke, Ross D. 1999.
Child
Psychology:
A
Contemporary
Viewpoint, 5
th. Ed., Revised by Ross D. P.
& Virginia O.L.. Boston: McGraw-Hill. Lefrancois, Guy R. 1985.Psychology for
Teachings, 5th. Ed. Belmont, California:
Wadsworth.