ASOSIASI – ILUSTRASI
P
ENGANTAR
Ilustrasi ini dimaksudkan untuk memperjelas penerapan konsep‐konsep dan ketentuan pelaporan kelompok usaha (group reporting) sebagaimana diatur di IFRS 3, IAS 27, dan IAS 28. Secara khusus, ilustrasi ini menunjukkan langkah‐langkah penyusunan ayat jurnal konsolidasi dan ayat jurnal konversi metode kos (cost
method) menjadi metode ekuitas (equity method), pengaruh penjualan ke atas (upstream sales) dan penjualan
ke bawah (downstream sales), serta analisis untuk mengecek keakuratan saldo kepentingan non‐pengendali (Non‐controlling interests) dan investasi di perusahaan asosiasi (investment in associate).i
D
ATA
Dividends declared ‐375.000 ‐50.000 ‐93.750
Profit retained for the year 802.500 98.000 198.750
Retained earnings, 1 January 20x4 1.806.875 652.000 363.750
Retained earnings, 31 December 20x4 2.609.375 750.000 562.500
Other net assets 2.984.375 1.625.000 1.875.000
I
NFORMASI TAMBAHAN(a) Data transaksi akuisisi
PT Anak PT Asosiasi
Tanggal akuisisi oleh PT Induk 1/7/20x1 1/1/20x3
Jumlah saham yang dibeli PT Induk dalam akuisisi 500.000 375.000 Jumlah total saham yang diterbitkan oleh investee 625.000 937.500 Laba ditahan pada tanggal akuisisi oleh PT Induk 450.000 375.000
Modal saham (share capital) dan cadangan (reserves) tidak mengalami perubahan sejak dilaksanakannya akuisisi. Nilai wajar kepentingan non‐pengendali PT Anak pada tanggal akuisisi $312.500.
(b) Pada tanggal akuisisi, PT Anak memiliki asset tidak berwujud yang tidak dicatat di neraca.
(dalam $)
Lisensi dan merek dagang (nilai wajar tanggal akuisisi) 50.000 Penurunan nilai wajar pada tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 20x3 18.750
Lisensi dan merek dagang itu masih dimiliki hingga kini (31 Desember 20x4). Semua asset PT Anak lainnya yang telah dicatat menurut nilai wajar.
Nilai buku asset netto PT Asosiasi yang dapat diidentifikasi pada tanggal akuisisi sudah mendekati nilai wajarnya.
1. Asumsikan PT Induk memiliki kendali (control) atas PT Anak dan memiliki pengaruh signifikan (significant
influence) atas PT Asosiasi, siapkan ayat jurnal konsolidasi dan ayat jurnal konversi metode kos – metode
ekuitas dalam rangka penyusunan laporan keuangan kelompok usaha untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 20x4.
2. Buatlah analisis untuk mengecek kecocokan saldo kepentingan non‐pengendali. 3. Buatlah analisis untuk mengecek saldo investasi di PT Asosiasi.
S
OLUSI
Cr Non‐controlling interests 312.500
Penjelasan: Ayat jurnal konsolidasi ini dimaksudkan untuk mengeliminasi akun investasi di PT Anak—yang di laporan keuangan terpisah dicatat menurut metode kos, mengeliminasi akun‐akun ekuitas PT Anak, serta mengakui selisih nilai wajar – nilai buku asset netto yang teridentifikasi, goodwill, dan kepentingan non‐ pengendali menurut IFRS 3.
Dalam ilustrasi ini, nilai buku asset‐asset yang teridentifikasi selain intangibles diasumsikan sama dengan nilai wajarnya, sehingga tidak ada pengakuan selisih nilai buku – nilai wajar terhadap asset‐asset selain intangibles.
Intabbles meliputi lisensi (licences) dan merek dagang (trademarks) yang tidak dicatat pada pembukuan PT
Anak [lihat informasi tambahan (b)], tetapi harus diakui mengacu kepada IFRS 3. Kepentingan non‐pengendali diakui menurut nilai wajarnya pada tanggal akuisisi [lihat informasi tambahan (a)].
Pajak tangguhan (deferred tax) atas selisih nilai wajar – nilai buku hanya terkait dengan pengakuan intangibles yang nilai wajarnya $50.000, sehingga dampak pajaknya sebesar $10.000 (20% × $50.000). Dampak pajak merupakan kewajiban karena secara keseluruhan asset netto PT Anak yang dapat diidentifikasi dinilai terlalu rendah (undervalued) dengan tidak dicatatnya intangibles.
Goodwill dihitung sebagai berikut:
(dalam $)
Nilai wajar konsiderasi yang diserahkan 1.250.000
Nilai wajar kepentingan non‐pengendali 312.500
1.562.500
Nilai wajar asset netto teridentifikasi:
Nilai buku asset netto PT Anak:
Share capital 625.000
Other reserves 250.000
Retained earnings 450.000
1.325.000
Selisih nilai wajar – nilai bukuPengakuan intangibles
Pengakuan intangibles 50.000
Dampak pajak (20%) ‐10.000
Goodwill $197.500 tersebut merupakan asset PT Anak yang tidak teridentifikasi (unidentifiable) dalam penggabungan usaha. IFRS 3 merekomendasikan metode nilai wajar dalam pelaporan kepentingan non‐ pengendali. Implikasinya, goodwill yang dilaporkan di neraca konsolidasi merupakan “goodwill keseluruhan,” bukan hanya terkait dengan perusahaan induk, tetapi juga mencakup bagian atau jatah kepentingan non‐ pengendali.
Goodwill tersebut bisa “dipecah” sebagai beriktu:
Yang terkait dengan perusahaan induk = $1.250.000 – (500.000/625.000 × $1.365.000)
Dr Non‐controlling interests 15.800
Cr Goodwill 79.000
Penjelasan: Perhatikan, pengakuan goodwill sebagai asset di neraca hanya dilakukan pada level pelaporan kelompok usaha (konsolidasi). Ayat jurnal konsolidasi juga sifatnya “sekali pakai”, tidak “dibukukan”, sekadar alat bantu dalam menyiapkan kertas kerja konsolidasi.
Oleh karena itu, pengakuan penurunan nilai goodwill saat ini (31 Desember 20x4) sebenarnya merupakan pengulangan pengakuan penurunan nilai goodwill yang terjadi pada tahun 20x3 [lihat informasi tambahan (c)], dan akan terus diulang sepanjang PT Induk menjadi pemegang saham pengendali di PT Anak.
Pada akhir tahun 20x3 dilakukan uji penurunan nilai goodwill dan ditemukan bahwa goodwill telah mengalami penurunan nilai $79.000. Pada tahun 20x3, periode terjadinya penurunan nilai, akun yang didebit sebesar $63.200 (80% × $79.000) adalah rugi penurunan nilai goodwill (impairment loss on goodwill). Ingat, rugi merupakan komponen laba‐rugi yang harus diakui pada periode terjadinya. Pada tahun 20x4, jumlah $63.200 tersebut didebit langsung ke laba ditahan (retained earnings), agar laba ditahan konsolidasi awal periode sama dengan laba ditahan konsolidasi akhir periode sebelumnya.
Kepentingan non‐pengendali mendapat alokasi $15.800 dari penurunan nilai goodwill ini, sesuai dengan persentase kepentingannya atas PT Anak 20% (125.000/625.000).
Berbeda dengan asset dan kewajiban lainnya yang diakuisisi dalam penggabungan usaha, pengakuan goodwill dan penurunan nilainya dalam laporan keuangan konsolidasi tidak diperhitungkan dampak pajaknya. Alasannya, goodwill merupakan sisa (residual) yang tidak teridentifikasi dalam penggabungan usaha.
4) Penyesuaian dampak pajak dari penurunan nilai asset tidak berwujud tahun 20x3
Dr Deferred tax 3.750
Cr Retained earnings 3.000
Cr Non‐controlling interests 750
Penjelasan: Perhatikan, seperti halnya goodwill, pengakuan asset tidak berwujud sebagai asset di neraca hanya dilakukan pada level pelaporan kelompok usaha (konsolidasi). IFRS umumnya memang membatasi pengkapitalisasian aktiva tidak berwujud pada level pelaporan keuangan terpisah. Akan tetapi, berbeda dengan goodwill, dampak pajak dari pengakuan dan penurunan nilai asset tidak berwujud diperhitungkan.
Karena terjadi pada tahun sebelumnya (20x3), pengakuan penurunan nilai saat ini juga merupakan pengulangan [lihat informasi tambahan (b)], dan akan terus diulang sepanjang PT Induk menjadi pemegang saham pengendali di PT Anak.
Pada tahun 20x3, periode terjadinya penurunan nilai, akun yang didebit sebesar $15.000 (80% × $18.750) adalah rugi penurunan nilai asset tidak berwujud (impairment loss on intangibles). Ingat, rugi merupakan komponen laba‐rugi yang harus diakui pada periode terjadinya. Pada tahun 20x4, jumlah $15.000 tersebut didebit langsung ke laba ditahan (retained earnings), agar laba ditahan konsolidasi awal periode sama dengan laba ditahan konsolidasi akhir periode sebelumnya.
Kepentingan non‐pengendali mendapat alokasi $3.750 dari penurunan nilai goodwill ini, sesuai dengan persentase kepentingannya atas PT Anak 20%.
5) Eliminasi dividen yang diumumkan oleh PT Anak pada periode yang sedang dilaporkan
Dr Dividend income 40.000
Dr Non‐controlling interests 10.000
Cr Dividends declared 50.000
6) Penyesuaian laba belum direalisasi dalam persediaan awal dari penjualan ke atas
Dr Retained earnings 6.000
Dr Non‐controlling interests 1.500
Cr Cost of sales 6.250
Cr Inventory 1.250
Penjelasan: Dalam penjualan ke atas (upstream sales), laba perusahaan anak dianggap belum direalisasi jika perusahaan induk belum menjual kembali persediaan—yang dibelinya dari perusahaan anak—kepada pihak ketiga.
Transaksi penjualan ke atas dalam ilustrasi ini terjadi pada tahun 20x3, dengan laba belum direalisasi sebesar $12.500 ($50.000 ‐ $37.500), sebelum disesuaikan dengan yang terjual kepada pihak ketiga [lihat informasi tambahan (d)]. PT Induk baru berhasil menjual kembali 40%, yang berarti 60% laba perusahaan anak masih belum direalisasi hingga 31 Desember 20x3.
Rekonstruksi ayat jurnal konsolidasi tahun 20x3: sudut pandang kelompok usaha, penjualan itu dianggap tidak terjadi.
Kos penjualan dikredit $42.500—yang $37.500 mengeliminasi sepenuhnya kos penjualan dari PT Anak ke PT Induk, sedangkan sisanya $5.000 (40% × $12.500) untuk menyesuaikan kos persediaan yang dijual oleh PT Induk, yang di laporan laba‐ruginya sendiri dicatat menurut harga transfer. Ingat, dari sudut pandang kelompok usaha, kos persediaan adalah kos dari pemasok pihak ketiga, bukan harga transfer.
Persediaan dikredit $7.500 (60% × $12.500) untuk mengeliminasi laba belum direalisasi dalam persediaan yang belum terjual oleh PT Induk pada akhir periode (20x3). Dengan pengkreditan ini, persediaan yang belum terjual tersebut akan kembali dicatat menurut kos awalnya dari sudut pandang PT Anak, bukan menurut harga transfer.
Kembali ke ayat jurnal konsolidasi (6), laba belum direalisasi periode sebelumnya sebesar $7.500 dialokasikan kembali (didebit) ke laba ditahan konsolidasi (80%) dan kepentingan non‐pengendali (20). Kos penjualan
Penjelasan: Seperti halnya dalam penjualan ke atas (upstream sales), dalam penjualan ke bawah (upstream
sales) pun, laba perusahaan induk dianggap belum direalisasi jika perusahaan anak belum menjual kembali
persediaan—yang dibelinya dari perusahaan induk—kepada pihak ketiga.
Transaksi penjualan ke bawah dalam ilustrasi ini terjadi pada tahun sekarang (20x4), dengan laba belum direalisasi sebesar $31.250 ($93.750 ‐ $62.500), sebelum disesuaikan dengan yang terjual kepada pihak ketiga [lihat informasi tambahan (d)]. PT Anak telah berhasil menjual kembali 70%, yang berarti 30% laba perusahaan induk masih belum direalisasi hingga akhir periode.
$31.250) untuk menyesuaikan kos persediaan yang dijual oleh PT Anak, yang di laporan laba‐ruginya sendiri dicatat menurut harga transfer. Ingat, dari sudut pandang kelompok usaha, kos persediaan adalah kos dari pemasok pihak ketiga, bukan harga transfer.
Persediaan dikredit $9.375 (30% × $31.250) untuk mengeliminasi laba belum direalisasi dalam persediaan yang belum terjual oleh PT Anak pada akhir periode. Dengan pengkreditan ini, persediaan yang belum terjual
10) Alokasi perubahan laba ditahan sejak tanggal akuisisi hingga awal periode yang dilaporkan
Cr Retained earnings 40.400
Cr Non‐controlling interests 40.400
Penjelasan: Ayat jurnal ini diperlukan agar laba ditahan konsolidasi awal periode (opening retained earnings) sama dengan laba ditahan akhir periode sebelumnya. Ingat, ayat jurnal konsolidasi tidak dibukukan secara permanen, tetapi bersifat sekali pakai. Angka $40.400 diperoleh dari selisih laba ditahan 1 Januari 20x4 dengan laba ditahan per tanggal akuisisi dikalikan persentase kepentingan non‐pengendali [20% × ($652.000 ‐ $450.000)].
11) Alokasi bagian kepentingan non‐pengendali atas laba setelah pajak periode yang dilaporkan
Cr Income to non‐controlling interests 30.600
Cr Non‐controlling interests 30.600
Penjelasan: Ayat jurnal ini dimaksudkan untuk mengalokasikan jatah laba setelah pajak PT Anak periode sekarang kepada kepentingan non‐pengendali. Implikasi dari jurnal ini adalah, laba bersih dan laba ditahan konsolidasi hanya terkait dengan kelompok usaha, tidak termasuk kepentingan non‐pengendali.
Sebelum dialokasikan, laba setelah pajak PT Anak harus disesuaikan terlebih dahulu dengan ayat‐ayat konsolidasi sebelumnya yang mempengaruhi laba‐ruginya. Dalam ilustrasi ini, penyesuaian hanya terkait dengan realisasi laba periode sekarang dari penjualan ke atas yang terjadi pada periode sebelumnya.
(dalam $))
Laba setelah pajak PT Anak 148.000
(+) Realisasi laba penjualan antar‐perusahaan periode sebelumnya 6.250
(−) Pajak atas laba yang direalisasi ‐1.250
Laba setelah pajak disesuaikan 153.000
Bagian kepentingan non‐pengendali (20%) 30.600
Ayat jurnal konversi metode kos ke metode ekuitas (AJME)
1) Pengakuan bagian PT Induk atas laba PT Asosiasi
Dr Investment in PT Asosiasi 117.000
Dr Share of PT Asosiasi’s tax expense 29.250
Cr Share of PT Asosiasi’s profit before tax 146.250
Penjelasan: Perhatikan, dengan kepemilikan saham PT Asosiasi sebanyak 375.000 lembar, kepentingan PT Induk di PT Asosiasi sebesar 40% (375.000/937.500) [lihat informasi tambahan (a)]. Ayat jurnal ini dimaksudkan untuk mengakui bagian PT Induk atas laba sebelum pajak dan beban pajak PT Asosiasi. Perhatikan, pengakuan ini berdampak kepada peningkatan investasi di PT Asosiasi yang dilaporkan dengan metode ekuitas.
2) Pengakuan dividen sebagai pembayaran laba
Dr Dividend income 37.500
Cr Investment in PT Asosiasi 37.500
Penjelasan: Ayat jurnal dimaksudkan untuk mengeliminasi pendapatan dividen yang diakui di laporan laba‐rugi PT Induk menurut metode kos dan mengurangi investasi di PT Asosiasi. Angka $37.500 diperoleh dari jumlah dividen yang diumumkan PT Asosiasi dikalikan kepentingan PT Induk (40%).
Dari jurnal konversi (1) dan (2) di atas terlihat, metode ekuitas sebenarnya merupakan pengakuan berbasis akrual (acrual basis) atas laba yang diperoleh oleh perusahaan asosiasi. Di sisi lain, metode kos, yang mengakui pendapatan pada saat investee mengumumkan dividen, merupakan pengakuan berbasis kas (cash basis).
3) Alokasi perubahan laba ditahan sejak tanggal akuisisi hingga awal periode yang dilaporkan
Cr Retained earnings 4.500
Cr Investment in PT Asosiasi 4.500
Penjelasan: Ayat jurnal konversi ini dimaksudkan memperhitungkan dampak kumulatif laba PT Asosiasi periode‐periode sebelumnya terhadap investasi di PT Asosiasi yang di laporan keuangan terpisah PT Induk dicatat menurut metode kos. Angka $4.500 diperoleh dari selisih laba ditahan 1 Januari 20x4 dengan laba ditahan per tanggal akuisisi dikalikan persentase kepentingan PT Induk di PT Asosiasi [40% × ($363.750‐ $375.000)].
2. Analisis kepentingan non‐pengendali per 31 Desember 20x4
(dalam $)
Kepentingan non‐pengendali per tanggal akuisisi – AJK (1) 312.500 (−) Bagian NCI atas penurunan nilai goodwill tahun 20x3 – AJK (2) ‐15.800 bagian atau porsi kepentingan non‐pengendali atas:
(a) Nilai buku asset netto perusahaan anak pada akhir tahun −/+ laba/rugi belum direalisasi pada akhir tahun;
(b) Saldo selisih nilai wajar – nilai buku asset netto perusahaan anak yang teridentifikasi yang belum diamortisasi pada akhir tahun; dan
(c) Saldo goodwill pada akhir tahun setelah dikurangi dengan penurunan nilai yang telah terjadi.
Dalam ilustrasi ini, penghitungan saldo kepentingan non‐pengendali per 31 Desember 20x4 menurut formula di atas adalah sebagai berikut:
(dalam $)
Asset netto PT Anak per 31 Desember 20x4 1.625.000
Laba belum direalisasi setelah pajak dalam persediaan dari penjualan ke atas
[80% × 10% × $12.500]* ‐1.000
Saldo selisih nilai wajar – nilai buku yang belum diamortisasi setelah pajak
[80% × ($50.000 ‐ $18.750]* 25.000
Asset netto PT Anak disesuaikan per 31 Desember 20x4 1.649.000
Bagian kepentingan non‐pengendali atas asset netto disesuaikan (20%) 329.800 Bagian kepentingan non‐pengendali atas saldo goodwill [$39.500‐$15.800] 23.700
Kepentingan non‐pengendali per 31 Desember 20x4 353.500
*Persentase 80% dimaksudkan untuk menghitung jumlah setelah pajak (100% ‐ 20%). Angka 10% adalah persentase persediaan yang belum terjual kepada pihak ketiga dari penjualan ke atas.
3. Analisis investasi di perusahaan asosiasi
(dalam $)
Kos akuisisi 875.000
Rekonsiliasi
Dengan metode ekuitas, investasi di perusahaan asosiasi pada akhir tahun, yang dalam ilustrasi ini bersaldo $950.000, harus sama dengan bagian atau porsi investor (PT Induk) atas:
Ilustrasi ini diadaptasi dari Tan & Lee (2009), Advanced Financial Accounting: An IAS and IFRS Approach. Untuk memahaman sepenuhnya konsep dan ketentuan yang mendasari ilustrasi ini, kita perlu membaca buku teks tersebut, IAS 27, IAS 28, dan IFRS 3.
ii
Meskipun menggunakan mata uang dolar, penulisan angka tetap menggunakan konvensi Indonesia; tanda koma (,) sebagai pemisah desimal, dan tanda titik (.) sebagai pemisah ribuan.
iii