Pemberi Beasiswa Yatim Terbanyak 2011 Certificate No: 10071
ISO 9001:2008
Majalah Donatur Y
atim Mandiri Juli 2017 / S
yawal - Dzulhijjah 1438 H
Donatur:
146.574
Menghargai Kerja Keras
Melatih Anak
Gemar Bersedekah
Agar Terhindar
dari Stroke
Hukum Pajak
1
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:
Rasulullah SAW bersabda,
“Sungguh,
seandainya salah seorang di antara kalian
mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu
itu, maka itu lebih baik, daripada ia
meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu
memberinya ataupun tidak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mata Hati
BANK INFAK SHODAKOH ZAKAT WAKAF KEMANUSIAAN
Mandiri 1400003117703 1420010313327 1420010313350 BCA 0101 358 363 0883 996 647 088 399 6621
BRI 009601001 968305 0096010001969301 Muamalat 701 0054 803 70 100 548 04
BNI Syariah 010 835 1174 02 114 97 003 Syariah Mandiri 700 1201 454 700 1241 782 Permata Syariah 0290 1445 144
BNI 2244 900 000
LAZNAS YATIM MANDIRI
SK. Menteri Agama No. 185/2016
VISI
Menjadi Lembaga Terpercaya dalam Membangun Kemandirian Yatim
MISI
1. Membangun nilai-nilai kemandirian yatim dhuafa 2. Meningkatkan pertisipasi masyarakat dan dukungan
sumberdaya untuk kemandirian yatim dan dhuafa 3. Meningkatkan Capacity Building Organisasi
Pembina
GM Regional Oice I GM Regional Oice II
Penasehat
Penasehat Hukum
H. Nur Hidayat, S.Pd, M.M Prof. Dr. Moh. Nasih. Ak Moch. Hasyim Ir. Bimo Wahyu Wardoyo Drs. H. Abdul Rokib Yusuf Zain, S.Pd, MM Drs. Sumarno
H. Mutroin, SE
Zaini Faisol
Prof. Dr. H. Imam Bawani, MA Prof. Dr. HM. Roem Rowi, MA Drs. Agustianto, MA
KH. Abdurahman Navis, Lc., MHI Drs. Sumarno Ir. H. Jamil Azzaini, MM
Dr. Muhammad Naik
H. Mahfud, SH
HEAD OFFICE
Graha Yatim Mandiri
JL. Raya Jambangan 135 - 137 Surabaya 60232 Telp. (031) 8283488 (Hunting) Fax. (031) 8291757
Website: www.yatimmandiri.org Email: [email protected]
REDAKSI MAJALAH YATIM MANDIRI
Dewan Redaksi: Sumarno, Zaini, Mutroin Pemimpin Umum: Zaini Faisol
Wakil Pemimpin Umum: Kindy M. U Pemimpin Redaksi: Bambang Prianggodo Reporter : M. Irsyad dan Grace
Layout : Hilya F. dan Fahreza Putra P. Fotografer : M. Irsyad, Sirkulasi : Bam Diterbitkan oleh : LAZNAS Yatim Mandiri Alamat Redaksi : Graha Yatim Mandiri, Jl. Raya Jambangan 135-137 Surabaya telp. (031) 8283488, fax. (031) 8291757 Email : [email protected] ISSN : 1410-542X
Para Donatur yang budiman, bila anda ingin memberikan masukan atau usulan terhadap Majalah Yatim Mandiri, silahkan kirimkan melalui: email : [email protected] SMS Center : 0856 4844 3000
Saksikan liputan berita dan tausiyah di Yatim
Mandiri TV Channel dengan subscribe di:
BALIKPAPAN Jl. Pattimura RT104 No.38 B, Batu Ampar, Balikpapan, Telp. (0542) 860 609, 081 25344932. BANDUNG Jl. Rusa No.12 Buah Batu Bandung, Telp (022) 7309138, 0877 8164 3543, BANTEN Jl. Ayip Usman No.11 Cikepuh Kebaharan Serang Banten, Telp. (0254) 219375, 0812 8744 8444. BATAM Perumahan Kurnia Djaya Alam Parkit 01, No. 02 Batam Center - Batam, Telp. (0778) 7413 149, 0813 7260 1112. BEKASI Perumahan Pondok Ungu Permai (PUP) RT 04/022, Blok KK 3 No. 16 Kaliabang Tengah, Bekasi Utara. 0851 0805 6400. BLITAR Jl. Bali No. 264 Blitar, Telp. (0342) 8171727, 0851 0376 1333. BOGOR Jl. Sempur Kaler No. 02 Bogor Tengah - Kota Bogor, Telp (0251) 8409054, 0813 3177 1830. BOJONEGORO Jl. Panglima Polim Gg. Mangga 2 Sumbang Bojonegoro, Telp. (0353) 5254809, 0857 3336 4999. DENPASAR Jl. Gunung cemara 7K Perumnas Monang Maning, Denpasar - Bali, Telp. 081 333 241 248. DEPOK Jl. Margonda No. 23B, Pancoran Mas Kota Depok, Telp. (021) 7777785, 0821 40742135, 0852 407 421 35. GRESIK Ruko Multi Sarana Plaza Blok B-11 Jl. Gubernur Suryo Gresik, Telp. (031) 399 0727, 0853 4774 2008, Fax. (031) 399 0727. JAKARTA Jl. Utan Kayu Raya No. 64 Matraman Jakarta Timur, Telp. (021) 29821197, 081 316 313 700. JAKARTA BARAT Jl. C No. 41 Kebon Jeruk Jakarta Barat, Telp. 087 77 35 333 56, (021) 2567 2565. JAKARTA SELATAN Jl. Gedung Hijau Raya SV.07 No. 74 Pondok Indah Jakarta Selatan, Telp 0812 8016 5001, 081 613 307 01. JEMBER Pandora Square Jl. Mastrip No. 8 Ruko 8 E, Jember, Telp. 0817 9393 412, 0851 0264 0333. JOMBANG Perum Widya Graha Permai 14B RT 31/RW 06 Jl. Pattimura Gang III Jombang, Telp. (0321) 865879, 0851 0015 0808.
Aan Khunaei
Selalu ada untuk yatim dhuafa Indonesia!
Iswatun Nur Hasanah
Lembaga yang mulia
Ida Panda
Lembaga yayasan yatim mandiri ,, mampu memandirikan anak yatim sehingga mereka mampu hidup lebih layak tanpa mengharapkan bantuan orang lain ...
Abdul Hadi Al Fatih
Lembaga yayasan yatim mandiri surabaya dengan mengutamakan memandirikan anak yatim se indonesia dan memberdayakan anak” yatim di seluruh wilayah indonesia. semoga berkah dan bermanfaat bagi masyarakat luas
3
`
KEDIRI Jl. Dr. Saharjo No. 119 Campurejo Mojoroto Kediri, Telp. (0354) 3782141, 0812 3389 7975. KUDUS Jl. Ganesha 2 No. 4 Purwosari Kudus 59316, Telp.(0291) 2912735, 0851 0275 4279. KEPANJEN Jl. Panglima Sudirman 209 A Kepanjen, Telp. (0341) 392199, 081 332 900 639. LAMPUNG Jl. ZA Pagar Alam No. 11, Rajabasa Nunyai, Rajabasa, Bandar Lampung, Lampung, Telp. (0721) 5613878, 0852 7566 9977. LAMONGAN Jl. Nangka No.3 Perum Deket Permai, Lamongan, Telp. (0322) 324025, 0821 3993 9427. LUMAJANG JL. Suwandak No. 42, Lumajang, Telp. (0334) 890300, 081 2491 424 53. MADIUN Jl. MT Haryono No. 105 Mojorejo, Taman, Kota Madiun Telp. (0351) 2811317, 082 229 359 992. MAKASSAR JL. Andi Tonro No.11 Kec. Tamalate, Kota Makassar, Telp. 0813 3000 3450, 0853 9561 5116. MALANG Jl. Titan 2 BB.12 Purwantoro-Blimbing, Kota Malang, Telp. (0341) 4371011, 0857 4567 8974. MAROS Jl. Ibrahim (HM kasim DM) NO. 19 Turikale, MAROS, Telp. (0411) 371635, 0823 4343 0681. MOJOKERTO Perum Kranggan Permai C-14 Jl. Pahlawan, Mojokerto, Telp. (0321) 322964, 3869898, 0851 0786 9898. PALEMBANG Jl. R. Sukamto Lorong Pancasila No.73, Telp. (0711) 362598, 0852 6734 8612. PASURUAN Perum Pondok Sejati Indah Blok 8 No. 11b Pasuruan, Telp. (0343) 4742 017, 0888 0550 8832, 0852 3499 3585. PEKALONGAN Jalan Bina Griya blok B-IV No. 191 Medono, Pekalongan, Telp (0285) 421082, 081 833 4995. PONOROGO Jl. Urip Sumoharjo Gg. I No. 20 Mangkujayan, Ponorogo 63413, Telp (0352) 488223, 0812 5951 5665. PROBOLINGGO Jl. Mawar No.50 Kota Probolinggo, Telp. (0335) 894623, 085 1036 44 849. PURWOKERTO Jl. Patriot No. 073 RT/RW 03/03 Kel. Karangpucung Kec. Purwokerto Selatan, Telp 0281-639042, 0851 0092 6664. SEMARANG Jl. Nangka Timur No. 35 Semarang, Telp. (024) 8416166, 0812 2715 3899, 0857 5154 3068. SIDOARJO Perum Taman Tiara Regency Blok A No. 2 Sidoarjo, Telp. (031) 9970 2587, 0851 0049 0045 Fax. (031) 8921021. SOLO Jl. Nakula no 38 Protojayan, Serengan, Surakarta, Telp. (0271) 656218, 0851 0301 2224. SRAGEN Jl. Raya Sukowati No. 514 Sragen Wetan, Sragen, Telp. (0271) 894 811, 0823 0013 4410. SURABAYA Jl. Bendul Merisi Selatan I/2A Surabaya, Telp. (031) 8494100, 0813 3503 3503. TANGERANG Jl. Cibodas Raya No. 7 Perumnas 1 Karawaci Baru Tangerang, Telp. (021) 2917 0263, 0851 0168 4004. TUBAN Jl. Soekarno - Hatta No. 29 Tuban, Telp. (0356) 327118, 0813 3388 3360. TULUNGAGUNG. Pahlawan III No. 5A, Kedungwaru Tulungagung, Telp. (0355) 332 306, 0851 0577 0187. YOGYAKARTA Jl. Jazuli Karangkajen MG III/892. RT/RW 043/011 Yogyakarta, Telp. (0274) 2871601, 0822 4359 0007. GRAHA YATIM MANDIRI Jl. Raya Jambangan 135-137 Surabaya, Telp. (031) 8283488, Fax. (031) 8291757. MEC Jl. Jambangan No. 70 Surabaya, Telp. (031) 8299970, 0857 4888 8170, Fax : 031-8297654. KAMPUS STAI AN NAJAH INDONESIA MANDIRI Jl. Raya Sarirogo No. 1 Sidoarjo, Telp. (031) 99700528, 082 333 2727 04. ICMBS Jl. Raya Sarirogo No. 1 Sidoarjo. Telp. (031) 8076436, 0822 3224 7576, 0857 0491 9337.
DAFTAR ISI
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, serta shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Islam adalah agama yang sangat menghargai kerja keras. Dengan bekerja keras, banyak manfaat yang dapat dipetik. Selain pikiran menjadi positif dan membentuk pribadi yang selalu bersemangat serta pantang menyerah, kerja keras dapat membuat badan menjadi lebih aktif dan sehat.
Syahdan ketika seorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah mencium
tangan pemuda itu sambil mengatakan, “Inilah kedua
tangan yang dicintai Allah SWT.” (HR. Jamaah)
Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata sosok Muslim pekerja keras inilah yang dicintai dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, bahkan dengan dirinya sendiri. Karena, hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia ini maupun di akhirat nanti.
“Dan Katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105).
Itulah tema bahasan utama pada rubrik Bekal Hidup Majalah Yatim Mandiri Edisi Juli 2017. Serta kami juga menyajikan tema bahasan menarik di rubrik-rubrik lainnya. Semoga di edisi kali ini semakin informatif, menarik dan dapat menambah wawasan bagi para donatur. Aamiin.
Bekal Hidup
S
yahdan ketika seorang pemudaberjabatan tangan dengan Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah mencium
tangan pemuda itu sambil mengatakan, “Inilah
kedua tangan yang dicintai Allah SWT.” (HR. Jamaah)
Kedua tangan pemuda itu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan isiknya. Ternyata sosok Muslim pekerja keras inilah yang dicintai dan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.
Memang, Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, bahkan dengan dirinya sendiri.
Karena, hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia ini maupun di akhirat nanti.
“Dan Katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka
Menghargai
Kerja Keras
Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. at-Taubah: 105).
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebahagiaan dari rezekiNya. Dan hanya kepadaNya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)
Rasulullah SAW sangat memuji orang yang berusaha dan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya.
“Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas
pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau tidak.” (HR. Imam Bukhari No 1.470)
“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Imam Bukhari No 2.072)
Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan
5
Bekal Hidup
karena mencari rezeki yang halal maka tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR. Imam Tabrani).
Sebaliknya, Rasulullah SAW sangat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan, beliau selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas.
“Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika min
itnatil mahya wal mamat wa a’udzu mika min
‘adzabil qabri” (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan
dan aku berlindung kepadaMu dari itnah
kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur).” (HR. Bukhari).
Karena itu, kita harus bersyukur dan
memberikan apresiasi (penghargaan) yang tinggi kepada generasi muda. Seperti pelajar SMK yang telah berhasil membuat mobil dan merakit sebuah pesawat dengan kerja keras sendiri, di bawah bimbingan para gurunya dalam team work yang solid.
Kita yakin masih banyak generasi muda harapan bangsa yang cinta kerja untuk membangun masa depannya dan masa depan bangsa dan masyarakatnya.
Semoga kita dianugerahi kecintaan kepada kerja keras dan dijauhkan dari sifat lemah dan malas. Wallahu a’lam.(*)
Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada
hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari
hasil usahanya sendiri.
(HR. Imam Bukhari No 2.072)
“
Bekal Hidup
A
l-Quran menanamkan kesadaran, bahwadengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridhaNya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain.
Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyannya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’ Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.
Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati:
1. Ash Sholah (baik dan bermanfaat)
Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok.
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. al-An’am: 132)
2. Al Itqan (Kemantapan atau perfectness)
Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan
sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (QS. an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan. Untuk
itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill
yang optimal. Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa.
3. Al Ihsan (Melakukan yang terbaik)
Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut: Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan. Kedua, ihsan
Kualitas
Dalam Bekerja
mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain.
4. Al Mujahadah (Kerja keras dan optimal)
Dalam banyak ayatnya, Al-Quran meletakkan kualitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (QS. Ali Imran: 142, Maidah: 35, al-Hajj: 77, al-Furqan: 25, dan al-Ankabut: 69).
5. Tanafus dan Ta’awun (Kompetisi dan tolong menolong)
Al-Quran dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal saleh. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau
perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat”
(maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (QS. al-Baqarah: 108). Begitu pula
perintah “wasari’u ilaa magirain min Rabbikum
wajannah” `bersegeralah kamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (QS. Ali Imran 133-135).
6. Mencermati Nilai Waktu
7
Bekal Hidup
P
erang masih berkecamuk saat datangsurat perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk memberhentikan Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.
Setelah perang usai, dengan kemenangan di pihak Islam, Abu Ubaidah menyerahkan surat pemberhentian itu kepada Khalid. “Kenapa baru sekarang diserahkan,” tanya Khalid. Abu Ubaidah menjawab, “Bukan kerajaan dunia yang kami mau, dan bukan untuk dunia kami berbuat.” (Rijal haula al-Rasul, 262).
Khalid bin Walid dikenal sebagai jenderal perang yang sangat masyhur dan tak terkalahkan. Ia selalu memperoleh kemenangan dalam 100 kali pertempuran yang diikuti, baik sebelum maupun setelah ia memeluk Islam.
Ia pantas menerima gelar Pedang Allah (Sayfullah). Dalam Perang Yarmuk, ia membabat begitu banyak musuh, hingga pedangnya sembilan kali patah. Dikatakan, pedang Khalid
Berjuang
dengan Ikhlas
Seperti diketahui, Khalid bin Walid adalah jenderal yang memimpin pasukan Islam
melawan tentara Romawi di Yarmuk, Suriah. Dalam sejarah, perang ini dikenal
dengan nama Perang Yarmuk.
boleh patah, tetapi pedang Allah (Khalid) tidak boleh patah.
Meskipun dipecat saat di puncak kariennya sebagai militer, Khalid tidak sakit hati, tidak pula galau. Ia tidak berhenti, dan tetap berjuang. Kepada teman-temannya, ia menyatakan bekerja dan berjuang bukan untuk Umar, tetapi untuk Allah.
Ia berjuang secara tulus dan ikhlas. Kini bendera kepemimpinan berada di tangan Abu Ubaidah, sahabatnya. Seperti Khalid, sahabat Nabi yang satu ini, Abu Ubaidah adalah pejuang sejati.
Saat itu, ia tak buru-buru menyerahkan surat penunjukan dirinya sebagai panglima perang kepada Khalid. Alasannya satu dan sama, ia berperang bukan untuk mencari kemuliaan sendiri, melainkan untuk Islam dan kaum Muslimin.
Melebihi kedua orang jenderal di atas, Umar dikenal sebagai khalifah yang arif dan bijaksana. Seperti diketahui, ia sangat jujur, pemberani, bersikap tegas dan adil, sehingga gelar al-Faruq yakni pemisah yang hak dan batil dilekatkan kepadanya.
Banyak orang bertanya, mengapa Khalifah Umar memberhentikan Jenderal Khalid? Padahal Khalid brilian dan berprestasi. Khalifah Umar, tentu memiliki alasan-alasannya sendiri. Paling tidak, tiga pelajaran yang ingin beliau tunjukkan.
Pertama, mengingatkan kepada Khalid dan juga kepada setiap Muslim, pangkat dan jabatan bukanlah tujuan. Ia hanyalah amanat perjuangan dan pengabdian. Kedua, meski selalu meraih kemenangan, jangan sampai Khalid dipuji berlebihan.
Jangan sampai pula kekuatan dan
kemenangan Islam bergantung hanya pada Khalid seorang. Ketiga, menunjukkan kepada dunia, Islam memiliki SDM yang kaya dan kuat, dan kaderisasi kepemimpinan yang dilakukan Umar berjalan baik.
Hikmah
N
anda, sebut saja begitu, galau. Proyeksenilai Rp 47 Juta yang sudah di depan mata akhirnya batal (lebih tepatnya), dia batalkan. Pasalnya, dia tak mau diajak kong-kalikong. Sebab, dari pagu sebesar itu, dia hanya “diberi harga” Rp 25 Juta. Artinya, ada senilai Rp 22 juta yang harus disisihkan untuk bagi-bagi orang dalam.
Sedangkan marjin keuntungan yang bakal ia ambil, tentu saja, tak segede itu. Artinya, dia yang akan mengerjakan proyek secara real di lapangan, yang bersusah payah berproduksi dengan cucu-ran keringat, hanya memperoleh hasil nan jauh di bawah sang ‘peminta-minta’ itu. Sementara, mere-ka juga sudah digaji oleh instansinya.
Baginya, itu sesuatu yang musykil. Tak masuk akal. “Masak, mereka mau meraup limpahan uang
Oleh: Mohammad Nurfatoni
tanpa keringat. Apalagi ada unsur korupsi di situ,” ungkapnya. Walaupun awalnya galau, tapi Nanda akhirnya bersyukur dan bangga karena dia mampu mempertahankan sebuah nilai.
Kisah nyata yang disamarkan di atas, hanya bagian kecil (baik dari sisi uangnya, maupun ka-susnya) dari banyak kisah yang meluas pada mas-yarakat kita. Kisah tentang orang-orang yang suka
bypass: mendapatkan sesuatu dengan cara potong kompas. Tanpa proses. Tanpa keringat. Tanpa kerja keras. Bahkan menghalalkan segala cara.
Seringkali masyarakat lebih mengejar hasil dibanding proses. Lulus dengan nilai sempurna itu tujuan. Sedangkan proses, tidak dilihat. Tak lagi
peduli dengan cara-cara tidak sportif. Akhirnya,
kejujuran dikorbankan demi sesuatu yang dibang-gakan: kebanggaan semu.
Padahal kejujuran itu lebih tinggi nilainya dibanding kesempurnaan. Apalah artinya nilai 10, jika diperoleh dengan curang. Saya jadi ingat kisah yang disampaikan seorang trainer parenting Mifta-hul Jinan. Dalam sebuah pengajian, dia berkisah tentang seorang mahasiswa yang sedang mengi-kuti ujian. Soal ke-1 sampai dengan ke-8 bisa dikerjakan dengan mudah. Giliran soal ke-9 dan ke-10, sang mahasiswa mengalami kesulitan. Maka dia jeda, diam mengingat-ingat rumus-rumus yang terlupakan.
Dalam diam itu, dia mendapatkan “wangsit”, karena teman sebelah tiba-tiba mengangkat tan-gan sambil memetan-gang kertas jawaban. Maka ter-lihatlah jawaban soal nomer 9 dan 10. Mendapat “wangsit” itu, segeralah sang mahasiswa menulis jawaban soal ke-9 dan ke-10.
Dalam bayangannya, sempurnalah nilai yang akan didapatkannya. Maka ia setorkan lembar jawaban pada pengawas. Tapi beberapa detik kemudian, lembar jawaban dia minta kembali dan dicoretlah jawaban soal ke-9 dan ke-10. Ia berpikir, untuk apa nilai sempurna tetapi tidak didapat-kan dari hasil keringat sendiri. Tentu, lebih baik mendapat nilai 80 tetapi hasil dari usaha sendiri. Menggarisbawahi kisah ini, Jinan mengatakan, “Tidak apa kita tidak sempurna, tetapi kita menjun-jung tinggi kejujuran.”
Seperti Nanda, mahasiswa dalam cerita di atas sadar bahwa kerja keras hasil keringat sendiri itu merupakan kebanggaan, meskipun hasilnya tidak sempurna. Sebab, dalam Islam, proses itulah yang dilihat. Hasilnya: serahkan pada Allah.
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah
dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikemba-likan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Attau-bah: 105). (Penulis adalah Direktur Cakrawala Print, Sidoarjo)
Dibanding Hasil Sempurna
Proses
9
Oase
Oleh:
Drs. Usman Daud, M. A.
Konsultan Hukum Islam dan Keluarga
D
ua karya agung terungkap dalam satukalam mulia dari Sang Maha Perkasa yaitu konsep membangun diri sendiri dan membangun komunitas masyarakat yang pada akhirnya menuju pada konsep sosial yang berkesinambungan. Dua karya itu dalam bahasa komunitas agama disebut dengan kesholehan spiritual dan kesholehan sosial.
Kerja merupakan kodrat hidup manusia sekaligus cara memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Kerja juga menjadi jalan utama mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedudukannya tinggi yakni menempati peringkat kedua setelah iman. Kerja juga dapat menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan. Jadi setiap kerja yang mendapat ridla Allah, mestinya diposisikan sebagai ibadah dan menjadi bagian dari sikap hidup setiap muslim. Bekerja dan meningkatkan penghasilan adalah ibadah, bahkan termasuk ibadah yang mempunyai nilai tambah diantara beberapa jenis ibadah lainnya.
Kasus yang sangat menakjubkan kita semua bahwa kerja adalah sebuah karya yang perlu diapresiasi terjadi pada zaman Nabi kita Muhammad SAW, bahwa beliau mencium tangan seorang pemuda yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga. Sebuah etos kerja yang dilandasi oleh keelokan hati dan keramahan perasaan untuk mengangkat harkat dan harga diri.
Ucapan Rasul kepada pemuda itu, “Inilah kedua
tangan yang dicintai Allah” (HR. Jamaah), karya yang layak untuk dihargai.
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu
Karya Yang Layak
Dihargai
urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (QS. al-Insyirah: 7). Inilah suatu seruan untuk memberikan motivasi kepada orang-orang beriman agar tidak merasa puas dengan apa yang telah diusahakan, tetapi tetap memiliki spirit untuk bekerja dan bekerja, karena makna tersirat dari perintah ini adalah agar kita tidak menjadi orang yang selalu dengan tangan dibawah, tetapi konsisten untuk menjadi orang yang tangan selalu di atas, memberi dan memberi.
Rasul SAW sangat memuji orang yang berusaha dan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Bahkan, jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT (HR. Imam Tabrani).
Sebaliknya, Rasulullah SAW sangat membenci orang yang bermalas-malasan, tidak mau bekerja, menyandarkan hidup kepada orang lain. Al-Quran tidak memberikan peluang untuk menganggur sepanjang masih ada masa yakni memenuhi waktu dengan kerja keras.
Surat Al Ashr secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengandalkan iman saja, melainkan juga amal shalihnya. Bahkan amal shalih dengan iman pun belum cukup, karena masih membutuhkan ilmu. Demikian amal shalih dan ilmu saja masih belum memadai, kalau tidak ada iman. Islam sangat menjunjung tinggi kerja keras dan produktivitas. Islam tidak menyukai pengangguran dan kemalasan, karena kedua sifat itu merupakan kriteria orang yang tidak sungguh-sungguh dan serius.
Waktu merupakan rasa tanggungjawab yang sangat besar untuk kemuliaan hidupnya sebagai wadah produktivitas. Karena itu seorang muslim tidak boleh untuk menyia-nyiakannya. Rasulullah SAW selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat
malas, lemah; (Ya Allah aku berlindung kepada Mu
dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan
aku berlindung kepadaMu dari itnah kehidupan dan
kematian dan aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur).” (HR. Bukari)
Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Al-Quran mempergunakan empat istilah, yakni Amal Shalih, amal yang ihsan, amal yang Itqan dan amal Al Birr. Al-Quran sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih memandang kerja sebagai kodrat hidup.
Semarak Tarhib Ramadhan di 42 Kota
U
ntuk menyambut bulan suci Ramadhan 1438H,Yatim Mandiri menggelar kegiatan Tarhib yang dilakukan serentak di 42 kota di Indonesia, pada Sabtu dan Ahad (20-21/5).
Dalam kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut, masing-masing kota menampilkan kreatiitas yang berbeda-beda untuk menarik perhatian para pengguna jalan dan masyarakat luas. Tujuannya, yakni untuk mengingatkan masyarakat tantang datangnya bulan Ramadhan.
Seperti di Surabaya, Tarhib Ramadhan digelar dengan acara pawai di Jalan Raya Darmo dengan mengenakan pakaian adat, pada Ahad (21/5), bersamaan dengan acara Car Free Day (CFD). Dan di kota Bojonegoro, Yatim Mandiri membagikan setangkai bunga mawar untuk menarik para pengguna jalan, pada Ahad (21/5).
Sementara itu di Solo, Yatim Mandiri mengadakan pawai di CFD Alun-alun Solo. Dan di Yogyakarta, dilaksanakan pada Sabtu (20/5), menampilkan sosok Gatotkaca yang sedang melakukan orasi untuk mengajak masyarakat meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan. Kegiatan ini bertempat di Tugu Yogya.
Sedangkan di Jakarta, Tarhib Ramadhan dimeriahkan
dengan hadirnya kamen rider kuga dan juga kamen rider
v. Lalu di Bekasi, diramaikan dengan ondel-ondel yang
ikut membagikan selebaran untuk mengajak membantu anak-anak yatim dhuafa.(*)
Jakarta
Pasuruan
Solo
Madiun
Lampung
Surabaya
11
Naik Kelas
Nurul Fathoni
Alumni MEC
Sukses Berjualan Kacamata
S
elama 2 setengah tahun bekerjadi sebuah optik terkenal di Batam. Banyak pengetahuan tentang berbagai jenis lensa kacamata yang didapatnya. Dari situlah, alumni MEC ini menemukan sebuah peluang bisnis yang mengantarkannya menuju kesuksesan.
Itulah pengalaman Nurul Fathoni, seorang pemuda yang nekat memberanikan diri untuk berbisnis. Pemuda kelahiran Lamongan, 20 Januari 1993, ini biasa akrab dipanggil Thoni. Genap setahun sudah bisnis yang dilakoninya. Yakni pada 26 April 2016 lalu, ia membulatkan tekad untuk membuka toko optik bernama Zona Optik. Namun banyak perjuangan yang harus dilaluinya dijalani sebelum membuka tokonya tersebut.
Awalnya, Thoni bekerja di sebuah optik di Batam selama 2 setengah tahun. Lalu di tahun 2015 dirinya mengundurkan diri dan pulang ke kampung halamannya. Di Lamongan Thoni kembali bekerja di sebuah optik selama 1 tahun. Tujuannya, dia ingin belajar marketing di lapangan. Sambil menyelam minum air, itulah peribahasa yang tepat untuknya. Belajar sembari mengumpulkan modal. “Alhamdulillah dengan izin Allah, saya mendapatkan pelanggan yang banyak,” kenangnya.
Setelah modal terkumpul, lalu ia menyewa sebuah toko di Ruko Pasar Kliwon, Dukun, Kabupaten Gresik. Dengan adanya toko tersebut, ia lebih mudah untuk menjual kacamata. Selain itu banyak masyarakat setempat yang sudah mengenal Zona Optik. “Sebelum ada toko, saya harus keliling ke instansi dan rumah-rumah,” ungkapnya.
Hasil usahanya pun cukup besar. Selama 1 bulan, ia bisa mendapatkan keuntungan 40-50% dari modal. Keuntungan sebagian ditabung dan ada yang diputar lagi untuk tambahan modal. Lalu pada Juli 2016, ia menerima tawaran kerjasama dengan Klinik Muhammadiyah, Kedungadem, Bojonegoro untuk menyediakan kacamata. Kerjasama ini berlangsung selama Juli 2016 hingga Mei 2017.
Di sisi lain, Thoni adalah anak yatim. Dia juga merupakan alumni peserta didik Kampus MEC binaan Yatim Mandiri. Pertama kali
masuk di Kampus MEC tahun 2011, di Jurusan Akuntansi. Selama berada di MEC, ia mengaku bangga, karena mendapatkan ilmu yang belum didapatkan di bangku sekolah umum. “Saya diajari menjadi manusia yang mandiri dan menjadi entrepreneur sejati,” ujarnya.
Sehingga didalam diri pribadinya telah tertanam jiwa mandiri untuk menjadi seorang pengusaha. Selain itu, juga diajari menjadi manusia yang berakhlak mulia yang diajarkan Rasulullah SAW. Tidak hanya ilmunya saja, ikatan antar alumni MEC juga begitu kuat. Salah satu wujud ikatan solid alumni MEC, yakni dengan terbentuknya komunitas bernama PERPAM (Perkumpulan Pengusaha Alumni MEC).
Dengan adanya PERPAM ini, bisnis Thoni bisa terbantu. Seperti pada April lalu, Zona Optik menerima bantuan dana modal bergulir dari PERPAM sebesar Rp 15 Juta. Dana bantuan tersebut ia gunakan untuk mengembangkan bisnisnya. “Dana dari PERPAM saya gunakan untuk melunasi sewa kios dan membeli produk yang akan saya jual. Ketentuannya, setiap bulan mengangsur senilai Rp 1 Juta selama 15 bulan,” ujarnya.
Harapan kedepannya, bisnisnya mampu berkembang dengan pesat, dan bisa membuka lapangan pekerjaan. Thoni juga berkeinginan Zona Optik mampu menjadi optik terbaik di Indonesia. “Semoga dalam 5 tahun kedepan, Zona Optik bisa menjadi 10 optik terbesar di Indonesia,” harapnya.(*)
Catatan
Oleh: Yusuf Zain, S.Pd, MM
Pengawas Yatim Mandiri
Bahagianya Istighfar
...
...
A
da sebuah cerita yang sudah sangatterkenal di kalangan pesantren. Yakni suatu hari, ada seorang pedagang yang datang ke seorang kyai, dia mengeluhkan hasil perdagangannya yang terus menurun, omsetnya dari waktu ke waktu tidak mengalami peningkatan. Sehingga dia dan keluarganya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. ”Oh gitu,” ujar pak kyai setelah mendengar keluhan si pedagang tadi. “Kalau itu masalahnya, mulai besok tolong kamu baca istighfar secara rutin dan tekun, nanti masalahmu akan hilang,” ujar pak kyai. “Oh gitu pak kyai, baik kalau begitu, mulai besok saya akan mengamalkannya,” ujar si pedagang sambil pamit keluar.
Tidak begitu lama, datang lagi seorang petani ke kyai tadi. Dia mengeluhkan hasil pertaniannya yang kurang menggembirakan, dan juga hujan yang tidak turun turun, padahal mestinya sudah waktunya musim hujan. Sehingga sawah dan ladangnya kering dan tidak subur. ”Oh begitu,” kata pak kyai setelah mendengar keluhan dari si petani tadi. “Kalau itu masalahmu, sekarang pulanglah. Tapi jangan lupa mulai besok, amalkan ilmu istighfar secara rutin dan tekun, niscaya masalahmu akan cepat selesai,” ujar pak kyai. Di hari yang sama, datang lagi seorang pemuda yang kelihatannya gagah perkasa, sehat secara isik dan ganteng pula, dia mengeluhkan masalahnya. “Pak kyai, saya ini sudah berumah tangga selama lima tahun, tapi sampai saat ini belum dikarunia momongan. Padahal segala cara sudah saya coba bersama istri, tapi juga belum berhasil. Belum lagi mertua yang sering nanyakan tentang kehamilan istri, membuat saya tambah tertekan. Mohon solusinya,” kata pemuda itu.
“Oh gitu. Kalau itu masalahmu, mulai besok, kamu beserta istrimu amalkan ilmu istighfar. Baca secara rutin dan tekun sambil jangan lupa ikhtiar yang lain tetap kamu jalankan,” kata pak kyai. “Itu aja pak kyai?” tanya pemuda itu dengan nada kurang percaya. “Iya itu aja,” ujar sang kyai. Kemudian si pemuda gagah tadi pamit pulang,
meski dalam dirinya masih ragu terhadap nasehat sang kyai, tapi dia akan tetap mencobanya dulu.
Si santri, yang dari awal menemani sang kyai menemui tiga tamunya tadi, penasaran dan bertanya, “Pak kyai, tiga orang tadi, masalahnya berbeda-beda, tapi solusinya kok sama dan cuman satu, apa nggak salah pak kyai?” “Nggak, itu benar,” kata pak kyai sambil tersenyum penuh arti pada santrinya.
Selang tiga bulan kemudian, tiga tamu tersebut datang lagi ke rumah pak kyai tadi. Mereka datang dengan wajah yang sumringah, semangat, senang dan bahagia. “Terima kasih pak kyai, sekarang hasil dagang saya sangat bagus sekali, omset juga terus meningkat dan keuntungannya juga lumayan,” ujar si pedagang. “Saya juga terima kasih banyak pak kyai. Hasil tani saya juga sangat bagus sekali, dan sekarang saya sudah tidak susah menyekolahkan anak saya ke jenjang yg lebih tinggi,” ujar pak tani. “Perkenalkan ini istri saya, dan Alhamdulillah sudah hamil tiga bulan pak kyai. Terima kasih atas nasehatnya pak kyai,” ujar si pemuda gagah tadi.
Setelah tiga tamunya pulang, pak kyai melirik pada santrinya yang kelihatannya masih bingung. “Nak, apa yang saya petuahkan ke tiga tamu tadi, itu ada dasarnya, coba kamu buka Al-Quran Surat
Nuh, Ayat 10-12, yang artinya, Maka aku katakan
pada mereka, ”Mohonlah ampun kepada TuhanMu, sesungguhnya Dia maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
Para pembaca Rahimakumullah,
13
Move On
Oleh:
Jamil Azzaini
Penasehat Yatim Mandiri
B
eberapa perusahaan atau institusimemaknai inovasi secara dangkal, cukup mereka mengadakan pekan inovasi, lomba inovatif, malam kreativitas dan sejenisnya.
Dengan hanya melakukan ini, tentu Anda sudah bisa menebak hasilnya bukan? Tak ada perubahan budaya inovasi yang mendasar di perusahaan atau institusi itu. Kegiatan hanya menghabiskan anggaran tanpa hasil yang bisa dibanggakan, kegiatan semacam ini saya menyebutnya inovasi basa-basi.
Apabila inovasi ingin menjadi perilaku semua orang yang ada di perusahaan atau institusi, maka inovasi perlu menjadi bagian dari budaya organisasi, bukan hanya sekedar inovasi basa basi.
Setidaknya ada tiga pilar besar yang harus dibangun untuk menumbuhkan budaya inovasi, yaitu: sistem, infrastruktur, dan orang. Diantara ketiga pilar itu yang memerlukan energi besar untuk membangunnya adalah orangnya.
Mengapa memerlukan energi besar? Karena tabiatnya, manusia menyukai hidup di zona yang nyaman. Budaya inovasi bisa membuat orang yang sangat nyaman hidupnya terusik atau terganggu. Namun di era sekarang, bila perusahaan tempat kita bekerja tidak inovatif, maka perusahaan kita tertinggal dan akhirnya gulung tikar alias bangkrut.
Apabila Anda pengambil keputusan (pimpinan) segera buat keputusan untuk memasukkan inovasi
ke dalam corporate culture Anda dan menjadikan
inovasi menjadi kebiasaan sehari-hari. Kita pun wajib menjadi orang yang kreatif, untuk itu setidaknya kita perlu punya beberapa paradigma agar siap berada di lingkungan yang inovatif. Yakni:
Inovasi
Basa-Basi
1. Biasakan Think Diferent.
. Selalu berpikir berbeda akan membuat
otak kita terpancing mencari ide-ide baru dan segar serta tidak terkungkung dengan
yang sudah ada. Tagline think diferent yang
diadopsi Apple dan mendarah daging dibenak dan perilaku telah melahirkan produk yang
simple dan friendly. Para pelanggannya pun terkenal sangat loyal dengan produk keluaran Apple ini.
2. Selalu Bertanya “What if”. Pertanyaan ini akan membuat hal yang sedang kita kerjakan akan memiliki perspektif dari banyak sudut pandang, tidak kaku dengan yang sudah ada. Produk dan jasa yang ada bisa terus bertambah dan berkualitas karena kita selalu
bertanya “what if”.
3. Gagal Adalah Bukti Kita Bekerja.
Banyak orang yang punya persespsi bahwa gagal adalah aib. Di dunia kreativitas, kegagalan adalah kewajiban. Orang yang gagal,adalah bukti bahwa dia bekerja. Orang yang tidak pernah gagal melakukan sesuatu karena memang dia tidak pernah melakukan sesuatu. Jadi, tak perlu takut gagal bahkan kita wajib gagal.
Inovasi sejati akan membuat kita dan perusahaan tempat kita bekerja terus berada di arena kompetisi. Sebaliknya, inovasi basa-basi membuat perusahaan kita terlempar dari arena kompetisi dan tentu membawa serta kita di dalamnya. Mau?
Salam SuksesMulia.(*)
Tausiyah
Oleh:
Ustad Muhammad Ariin Ilham
...
...
Indahnya Beribadah
H
akikat ibadah yang diterima hanya Allahyang mengetahui. Namun, hal itu bisa dinilai dengan sesuatu yang tampak dari ibadahnya. Di antaranya, “hubbul ‘ibadah”, sangat senang beribadah.
Muazin baru saja melewati rumahnya, artinya adzan belum sama sekali dikeraskan, hatinya
terliputi bahagia. Apalagi ketika adzan sudah dikumandangkan. Dia sudah memastikan berada di barisan shaf shalat terdepan dan lisannya terus menjawab setiap bait-bait adzan.
Inilah ukuran kedua yaitu “intizharul awqat”,
15
Tausiyah
ketinggalan apalagi sampai meninggalkannya. Seperti semalam dia ketiduran, karena lelah yang hebat, sehingga tahajud menjadi terlalaikan. Maka pagi hari, wajah ketidaknyamanan menyebar pada aktivitas hariannya. Sering murung dan selalu komat-kamit beristighfar. Padahal, dia sudah merangkai shalat Dhuha dengan mengqadha tahajud.
Berikutnya, berusaha maksimal untuk mempelajari kualitas ibadah yakni tercapainya kekhusyukan dan keikhlasan. Ada kesungguhan dalam menyempurnakan kekurangan ilmu dan bersegera menerapkannya berulang-ulang. Baik dalam prosesi ibadah maupun penerjemahannya dalam amaliah harian.
Dalam shalat, ia bermujahadah, tunduk, pasrah bersedekap, merendahkan bacaan, dan diam tumakninah (QS. Thaha: 108). Di luar shalat, memancar kearifan dengan menyibukkan diri dalam muhasabah (introspeksi).
Ukuran lain bisa dilihat dari kegemarannya yang tidak putus dalam berdoa. Selalu dalam setiap selesai shalat, terdengar doa-doa permohonan agar dimaafkan segala kekurangan, kesalahan, dan diterima semua ibadah.
Dia telah memutus kebiasaan selesai shalat meninggalkan tempat (kabur). Sekarang, dia terlihat sangat menikmati saat berzikir dan munajat seusai shalat. Di tangannya tasbih terus melingkar.
Di akhir doa, dia merapatkan dahinya pada alas sejadah. Tersungkur dan menangis, bahkan hingga membengkak kedua kakinya (QS. Maryam: 58). Menangis karena rasa syukur bisa menikmati ibadah sekaligus rasa takut terhadap azab Allah, baik di dunia atau di akhirat kelak.
Rumah tangga yang dijalin terlihat “sakkanun”,
sangat damai dan tidak beriak. Wajah suami-istri dan anak-anak sumringah bahagia. Santun dan penuh khidmat, baik pada keluarga maupun pada lingkungan dan tetangganya. Bahkan, sangat senang untuk berkumpul dalam lingkungan yang sama yang berbalut semangat ibadah dan dakwah.
Subhanallah. Menyenangkan dan
menenangkan. Begitulah seharusnya efek dari menikmati ibadah. Tentu kita tidak mau ibadah yang kita senangi ini akan menjadi shalat yang hanya tinggal gerak badan tanpa getar hati.
Ibadah haji dan umrah hanya menjadi salah satu di antara tujuan wisata. Baitullah hanya tampak sebagai seonggok batu dari zaman purba; tidak berbeda dengan Tembok Cina atau Menara Pisa. Zakat dikeluarkan sama beratnya dengan pajak. Dan puasa menjadi rangkaian upacara kesalehan yang lewat begitu saja setelah usai Ramadhan.
Solusi Islam
KH. Abdurrahman Navis, Lc, MHI
Ketua Bidang Dakwah MUI Jawa Timur
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustad Navis yang terhormat. Saya pria berusia 30 tahun, dan saat ini bekerja di perusahaan konsultan pajak. Dalam melaksanakan pekerjaan, saya berusaha untuk melakukannya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku berdasarkan data dan dokumen yang ada pada klien.
Saya juga berusaha menghindari tindakan manipulasi data yang terkait dengan pekerjaan saya, karena hal tersebut adalah termasuk tindakan dosa.
Yang ingin saya tanyakan:
1. Bagaimanakah hukum pajak menurut Islam? 2. Bagaimana hukum penghasilan yang saya
terima dari pekerjaan saya ini?
Atas jawaban dan bimbingan Ustad Navis, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Herman, Bekasi
Jawaban:
Walaikumusalam Wr. Wb.
Bapak Herman yang saya hormati, masalah hukum pajak menurut Islam dan pendapat para ulama, akan pengasuh jelaskan. Pajak menurut
Hukum Pajak
Menurut Islam
istilah kontemporer adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang, sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.
Dalam Islam, pajak sering diistilahkan dengan
adh-Dharibah yang jama’nya adalah adh-Dharaib.
Para ulama dahulu menyebutnya juga dengan al
Muks. Di sana ada istilah-istilah lain yang mirip
dengan pajak atau adh-dharibah diantaranya
adalah:
1. Al-Jizyah (upeti yang harus dibayarkan ahli
kitab kepada pemerintahan Islam)
2. Al-Kharaj (pajak bumi yang dimiliki oleh
Negara)
3. Al-Usyr (bea cukai bagi para pedagang non
muslim yang masuk ke Negara Islam)
Pendapat Ulama Tentang Pajak
Pajak sebenarnya diwajibkan bagi orang-orang non muslim kepada pemerintahan Islam sebagai bayaran jaminan keamanan. Maka ketika pajak tersebut diwajibkan kepada kaum muslimin, para ulama berbeda pendapat di dalam menyikapinya.
1. Menyatakan pajak tidak boleh sama sekali
17
Solusi Islam
dibebankan kepada kaum muslimin. Karena kaum muslimin sudah dibebani kewajiban zakat. Dan ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Fatimah binti Qais, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak ada kewajiban dalam harta kecuali zakat.” (HR. Ibnu Majah)
2. Menyatakan kebolehan mengambil pajak dari kaum muslimin, jika memang negara sangat membutuhkan dana. Dan untuk menerapkan kebijaksanaan inipun harus terpenuhi dahulu beberapa syarat. Diantara ulama yang membolehkan pemerintahan Islam mengambil pajak dari kaum muslimin adalah Imam Ghozali, Imam Syatibi dan Imam Ibnu Hazm. Dan ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Fatimah binti Qais juga, bahwa dia mendengar Rasulullah
SAW bersabda, “Sesungguhnya pada harta
ada kewajiban/hak (untuk dikeluarkan) selain zakat.” (HR. Tirmidzi)
Adapun syarat-syarat pemungutan pajak, ialah: Benar–benar harta itu dibutuhkan dan tak ada sumber lain. Pajak itu boleh dipungut apabila negara memang membutuhkan dana. Sedangkan sumber lain tidak diperoleh. Para ulama sangat hati-hati dalam mewajibkan pajak kepada rakyat. Karena khawatir akan membebani rakyat dengan beban yang di luar kemampuannya, dan keserakahan pengelola pajak dan penguasa dalam mencari kekayaan dengan cara melakukan korupsi hasil pajak.
Pemungutan pajak yang adil. Apabila pajak itu sangat dibutuhkan dan tidak ada sumber lain yang memadai, maka pengutipan pajak jadi wajib dengan syarat. Yakni harus dicatat, pembebanan itu harus adil dan tidak memberatkan. Jangan sampai menimbulkan keluhan dari masyarakat. Keadilan dalam pemungutan pajak didasarkan
kepada pertimbangan ekonomi, sosial dan kebutuhan yang diperlukan rakyat dan pembangunan. (Qardhawi hal. 1081-1082).
Pajak hendaknya dipergunakan untuk membiayai kepentingan umat, bukan untuk maksiat dan hawa nafsu. Hasil pajak harus digunakan untuk kepentingan umum. (Qardhawi, hal. 1083)
Persetujuan para ahli/cendikiawan yang berakhlak. Kepala negara, wakilnya, gubernur atau pemerintah daerah tidak boleh bertindak sendiri untuk mewajibkan pajak dan menentukan besarnya, kecuali setelah dimusyawtarahkan dan mendapat persetujuan dari para ahli dan cendekiawan dalam masyarakat. Karena pada dasarnya, harta seseorang itu haram diganggu dan harta itu bebas dari berbagai beban dan tanggungan. Namun bila ada kebutuhan demi untuk kemaslahatan umum, maka harus dibicarakan dengan para ahli termasuk ulama.
Bapak Herman, dari penjelasan diatas maka lebih tegas pengasuh jawab pertanyaan Anda: 1. Hukum pajak menurut Islam berbeda
pendapat para ulama, ada yang mengharamkan tapi juga ada yang memperbolehkan dengan beberapa syarat. Jika melihat Indonesia, negara masih sangat butuh dana, dan itu sebagai iuran, maka boleh memungut pajak dengan cara yang adil. Dan hendaknya seorang muslim, niatkan sedekah demi kemaslahatan negara dan bangsa
2. Jika mengambil pendapat yang membolehkan pajak sesuai persyaratan diatas, maka penghasilan Anda adalah halal asal dengan cara jujur, tidak manipulasi dan tidak meniru para koruptor dan sejenisnya. Wallahu a’lam bisshawab.(*)
Pajak hendaknya dipergunakan untuk membiayai kepentingan
umat, bukan untuk maksiat dan hawa nafsu. Hasil pajak
harus digunakan untuk kepentingan umum.
(Qardhawi, hal. 1083)
“
Smart Parenting
Melatih Anak
Agar Gemar Bersedekah
B
ersedekah merupakan pemberian dariseorang muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang muslim.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap muslim
wajib bershadaqah”; para sahabat bertanya: “Bagaimana bila ia tidak mempunyai sesuatu untuk dishadaqahkan?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia bekerja hingga dapat mencukupkan kebutuhannya sendiri dan dapat pula bershadaqah”; para
19
Smart Parenting
Bersedekah selain merupakan sarana beribadah juga bisa digunakan untuk melatih empati anak pada orang lain. Empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Rasa empati pada anak harus diasah. Banyak segi positif bila kita mengajarkan anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain.
Rasulullah SAW pun sangat menekankan pentingnya mengembangkan sikap empati ini. Sesama orang-orang beriman adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan merasakan sakit pula.
Hal-hal yang bisa diajarkan kepada anak agar gemar melakukan sedekah dari kecil antara lain adalah:
1. Beri anak motivasi melalui hadits dan ayat-ayat yang berbicara tentang sedekah. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah yang menggambarkan tentang pahala orang yang menafkahkan sebagian hartanya. Ayat-ayat dan hadis-hadis tersebut hendaknya sudah mulai dikenalkan kepada anak sejak dini. Dengan membacakanya, menghafal, dan mengkajinya akan memberikan motivasi yang luar biasa buat anak. Cara mengkajinya tentu dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
2. Bacakan cerita-cerita sahabat Rasulullah SAW yang gemar menafkahkan hartanya. Cerita tentang bagaimana Abu Bakar Ashidiq menyerahkan sebagian besar hartanya untuk dakwah, Abdurrahman Bin Auf sahabat yang sangat kaya raya yang gemar bersedekah yang menyebabkan Nabi SAW memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.
3. Keteladanan. Keteladanan merupakan cara yang sangat baik dalam pendidikan, apalagi dalam periode awal kanak-kanak. Oleh karena itu, orang tua atau pendidik harus bisa menjadi model yang baik. Bila dalam keseharian biasa memperlihatkan kepekaan serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, mampu berempati, bukan tidak mungkin anak akan menirunya. Sejalan dengan perkembangannya, akan meningkatkan kemampuan anak
untuk memahami berbagai macam hal, dan diharapkan peniruan ini akan menjadi sebuah kemampuan, kebiasaan yang melekat pada anak.
4. Pembiasaan. Pendidikan melalui pembiasaan akan menjadikan anak terlatih sejak kecil, ringan di dalam memberikan pertolongan pada orang lain. Upaya kecil yang bisa dilakukan, misalnya dengan membawakan bekal sekolah anak lebih dari satu, dengan pesan untuk dibagikan pada temannya yang tidak membawa membawa bekal ke sekolah.
5. Ajaklah anak melihat sendiri dan mengalami kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani. Ajaklah anak untuk mengunjungi tempat di mana banyak orang susah berkumpul di sana. Dengan begitu mereka akan melihat, bahwa ada sisi lain dari kehidupan manusia. Sekali waktu anak bisa diajak ke panti asuhan, tempat bencana alam atau tempat-tempat lain yang membutuhkan uluran tangan. Selain mengajak anak langsung ke tempat-tempat seperti itu, anak juga bisa diajak melihat ilm-ilm tentang kaum muslimin. (*)
Pendidikan melalui pembiasaan akan menjadikan
anak terlatih sejak kecil, ringan di dalam memberikan
pertolongan pada orang lain
”
“
Kisah Islami
Kisah Nabi Yunus
Ditelan Ikan
D
i daerah Mosul, Irak, terdapat sebuahkampung bernama Ninawa yang penduduknya berpaling dari jalan Allah yang lurus dan malah menyembah patung dan berhala. Allah SWT ingin memberikan petunjuk kepada mereka dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, maka Dia mengutus Nabi Yunus untuk mengajak mereka beriman dan meninggalkan sesembahan selain Allah SWT.
Akan tetapi mereka menolak beriman kepada Allah dan tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka lebih memilih kekairan dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk, mereka mendustakan Nabi Yunus ‘alaihissalam, mengolok-olok dan menghinanya. Maka Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya dan tidak berharap lagi terhadap keimanan mereka.
Allah SWT pun mewahyukan kepada Yunus untuk memberitahukan kaumnya, bahwa Allah akan mengadzab mereka karena sikap mereka itu setelah berlalu tiga hari. Lalu Nabi Yunus menyampaikan perihal adzab itu kepada kaumnya dan mengancam kaumnya dengan adzab Allah, kemudian ia pergi meninggalkan mereka.Ketika itu, kaum Yunus telah mengetahui, bahwa Nabi Yunus telah pergi meninggalkan mereka, sehingga mereka yakin adzab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi, maka mereka segera bertaubat kepada Allah SWT kembali kepadaNya, dan menyesali sikap mereka.
Ketika itu, kaum lelaki, wanita, dan anak-anak menangis karena takut adzab menimpa mereka, dan mereka berdoa dengan suara keras kepada Allah SWT agar adzab itu diangkat dari mereka. Saat Allah melihat jujurnya taubat mereka, maka Dia menghilangkan adzab itu dari mereka serta menjauhkannya. (QS. Yunus: 98)
Setelah peristiwa itu, Yunus tetap meninggalkan kampung kaumnya karena marah padahal Allah belum mengizinkannya, maka Yunus pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Pada saat Yunus berada di atas kapal, maka ombak laut menjadi dahsyat, angin menjadi kencang dan membuat kapal menjadi oleng hingga hampir saja tenggelam.
Oleh ketika itu, kapal yang ditumpangi membawa barang-barang yang berat, lalu sebagiannya dilempar ke laut untuk meringankan beban. Tetapi ternyata, kapal itu tetap saja oleng hampir tenggelam, maka para penumpangnya
bermusyawarah untuk meringankan beban kapal dengan melempar seseorang ke laut. Maka mereka melakukan undian dan ternyata undian itu jatuh kepada diri Yunus, tetapi mereka tidak mau jika Yunus harus terjun ke laut. Maka undian pun diulangi lagi, dan ternyata jatuh kepada Yunus lagi, hingga undian itu dilakukan sebanyak tiga kali dan hasilnya tetap sama. Maka Yunus bangkit dan melepas bajunya, kemudian melempar dirinya ke laut.
Pada saat yang bersamaan, Allah telah mengirimkan ikan besar kepadanya dan
mengilhamkan kepadanya untuk menelan Yunus dengan tidak merobek dagingnya atau mematahkan tulangnya, maka ikan itu melakukannya. Ia menelan Nabi Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek dagingnya, dan Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi lautan oleh ikan itu.
Ketika Yunus mendengar ucapan tasbih dari kerikil di bawah laut, maka di kegelapan itu Yunus
berdoa, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Yunus berada dalam tiga kegelapan; kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, dan kegelapan malam.
Kemudian Allah memerintahkan ikan itu memuntahkan Yunus ke pinggir pantai, lalu Allah tumbuhkan sebuah pohon sejenis labu yang memiliki daun yang lebat yang dapat menaungi Nabi Yunus dan menjaganya dari panas terik matahari. Allah SWT berirman, “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.– Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. ash-Shaafaat: 145-146)
Selanjutnya, Allah SWT memerintahkan Yunus agar kembali kepada kaumnya untuk memberitahukan mereka, bahwa Allah SWT telah menerima taubat mereka dan telah ridha kepada mereka. Maka Nabi Yunus melaksanakan perintah itu, ia pergi mendatangi kaumnya dan memberitahukan kepada mereka, tentang wahyu yang diterimanya dari Allah SWT.
Kaumnya pun telah beriman dan Allah memberikan berkah kepada harta dan anak-anak mereka, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam irmanNya, “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaafaat:
23
Tentunya bukan sekadar kebetulan, jika surah pertama Al-Quran yang turun (Al-‘Alaq), berkaitan dengan perintah membaca. Bukannya perintah syahadat, shalat, puasa, atau ibadah lainnya.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia. Yang Mengajar (manusia) dengan pena. Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Penyebab kemunduran peradaban Islam, salah satunya disinyalir karena rendahnya budaya membaca. Amat kontras dengan peradaban Barat, yang masyarakatnya memiliki kesadaran membaca. Budaya yang bila ditelusuri, mempunyai akar kuat dalam Islam.
Secara bahasa, kata iqra di surat Al-‘Alaq,
berasal dari akar kata qara’a, yang dimaknai
sebagai kegiatan menghimpun, menyampaikan, menelaah, meneliti, mendalami, mengetahui ciri sesuatu dan membaca. Ulama menafsirkannya untuk teks tertulis dan tidak tertulis. Kata ini diulang hingga dua kali. Yang menandakan Allah SWT telah memberikan kunci, bahwa membaca
merupakan keniscayaan bila ingin survive
(bertahan) menjalani liku kehidupan.
Secara itrah, manusia adalah makhluk Allah yang tinggi rasa ingin tahunya. Sejak masih anak-anak, manusia selalu bertanya akan apa yang dilihat, didengar atau dirasakannya. Artinya, manusia memiliki naluri untuk mencari tahu sesuatu yang belum dipahami. Dan membaca adalah solusi cerdas, perintah mulia agar manusia memperoleh ilmu yang menjadi penerang dalam membedakan hak dan batil.
Dan membaca yang dimaksud, tentunya tidak hanya tekstual. Makna membaca dapat juga berupa kebiasan berpikir mendalam, merenung atau
mentafakuri ayat-ayat alam (qauniyah). Semuanya
itu, baik membaca secara tekstual maupun dalam bentuk tafakur atas realita yang terjadi, hendaknya mengarah pada satu tujuan. Yaitu makin mendekatkan kita kepada Allah. Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk berlindung dari ilmu dan amal yang menjauhkan dari ridha dan cinta Allah.
Manfaat Membaca
Membaca membuat manusia makin
mengenal siapa dirinya. Ingatkah ungkapan yang menyebutkan bahwa barangsiapa mengenal dirinya, ia akan pula mengenal Tuhannya? Disinilah budaya membaca menemukan konteks atas ungkapan tersebut. Karena sungguh merugi bila seseorang merasa tahu akan sesuatu padahal sebenarnya ia tidak tahu apa-apa. Dengan membaca, hal itu bisa dihindarkan.
Dari pemikiran ini, lahir tokoh-tokoh besar seperti al-Ghazali, Sayyid Quthb, Yusuf al-Qardhawi, atau di Indonesia kita kenal Quraish Shihab, Buya Hamka dan lain-lain. Dari pena mereka, beragam jenis kitab-kitab tafsir, ikih, hadits, telah ditulis. Hingga sekarang kita tetap dapat menikmati keluasan ilmu mereka. Tentu dengan membaca dan mempelajarinya. Meneruskan tradisi mereka yang kental dengan budaya membaca.
Membaca juga dapat memperkaya wawasan. Berjenis buku yang dilahap mengajak kita melanglang buana ke seluruh dunia, ke semua peradaban, kembali ke masa lalu atau berkelana ke masa depan. Kita pun bisa menelusuri jejak Rasulullah SAW, bersua dengan tokoh-tokoh inspiratif yang mengubah dunia, atau bermain dengan sosok rekaan di alam yang juga imajiner. Membaca menghadirkan dunia kecil, bisa dikunjungi setiap saat, tanpa batas dan tanpa syarat!
Membaca dan Menulis
Agar efektif dan optimal, proses membaca harus disertai kegiatan menulis. Imam Ali bin Abi Thalib ra, pernah berkata agar mengikat ilmu dengan menuliskannya. Boleh jadi, upaya menulis inilah yang kerap terlupakan oleh kita. Dan karena menulis adalah keterampilan, ia harus dibiasakan dan diasah setiap saat. Modalnya, tentu dengan banyak membaca.
Maka, jika ingin hidup ‘lebih bermakna’ dengan ilmu, biasakan membaca. Setiap hari, sisihkan waktu yang dikaruniakan Allah untuk mencerdaskan pikiran. Jangan hanya menonton tv atau kegiatan sejenis yang jauh dari manfaat. Bagi yang telah berkeluarga (anak-anak), tanamkan kepada mereka untuk senang membaca. Ada banyak metode yang dapat diajarkan agar mereka gemar membaca. Seperti mengalokasikan waktu untuk berkunjung ke perpustakaan, toko buku, atau rumah buku yang keberadaannya sekarang makin menjamur.
Kuncinya adalah mau atau tidak
melaksanakannya. Karena dengan cara apa kita memilih jalan yang lurus bila untuk membaca dan diikat dengan menulis, kita merasa enggan? Hidupkan budaya membaca agar peradaban Islam kembali jaya. Wallahu a’lam.(*)
Mari Budayakan
Membaca
Dapur
Honeydew
Squash
With Nata Decoco
Cara Membuat:
• Siapkan gelas, kemudian tuang sirup secukupnya
• Potong bulat semangka dan honeydew lalu masukkan kedalam gelas,tambahkan nata de coco, biji selasih dan es batu secukupnya lalu siram dengan air soda • Tambahkan buah cherry dan
honeydew squash with nata de coco siap di nikmati
Bahan:
• Honeydew potong bulat • Semangka potong bulat • Buah cherry
• Biji selasih secukupnya • Nata de coco potong dadu • Sirup kental manis secukupnya • Air soda secukupnya
25
Muslimah
Adab Keluar Rumah
Bagi Wanita
I
slam sebagai agama rahmatan lil‘alamin, telah mengatur sedemikian rupa berkenaan dengan keutamaan dan batasan-batasan sesuai syari’at tentang apa yang seharusnya dikerjakan dan ditinggalkan oleh para wanita.
Adapun Islam telah mengatur mengenai adab-adab keluar bagi seorang wanita, yaitu: 1. Berhijab (memakai hijab yang syar’i) 2. Tidak memakai wewangian
3. Pelan-pelan dalam berjalan, agar tidak terdengar suara sendalnya.
Allah SWT berirman, “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An-Nuur: 31)
Dan pada masa sekarang ini, dengan adanya sepatu atau sandal yang bertumit atau berhak tinggi dan kita dapati para wanita memakainya, sehingga terdengarlah suara sandal atau sepatunya tersebut, kadang ia bertingkah genit dalam berjalan. Dan benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi
SAW, “Wanita adalah aurat, maka jika ia
keluar syaithan akan mengikutinya.”
4. Ketika berjalan bersama saudarinya dan di sana ada para pria, maka janganlah bercakap-cakap dengan saudarinya tersebut. Bukan berarti bahwa suara wanita adalah aurat, tetapi bagi sebagian pria mendengar suara wanita itu terkadang bisa menimbulkan itnah.
5. Hendaklah meminta izin kepada suaminya, jika ia telah berkeluarga.
6. Apabila jaraknya sejauh jarak safar, maka janganlah ia keluar, kecuali bersama mahram 7. Jangan berdesak-desakan dengan pria.
8. Hendaknya ia menundukan pandangannya. 9. Janganlah menanggalkan pakaiannya di selain
rumahnya, jika bermaksud untuk tampil cantik (berhias) dengan perbuatan itu. Karena Nabi
SAW bersabda, “Wanita mana saja yang
menanggalkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka penutupnya antara dia dengan Rabb-nya.” (*)
Hidup
mempersembahkan yang terbaik dalam bidang dan keahliannya. Sehingga betul-betul menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.
3. Selalu berusaha mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang membutuhkan, terutama kaum dhuafa dalam bentuk zakat, infak, dan bentuk-bentuk kedermawanan lainnya. Sikap ini akan melahirkan kekuatan etika dan moral di dalam mencari rezeki. Hanya rezeki yang halallah yang ingin ia dapatkan.
4. Mampu menjaga akhlak dan kehormatannya dalam pergaulan dengan lawan jenis, sehingga selalu terjaga kejernihan hati, pikiran, dan juga raganya. Dalam situasi apa pun tidak pernah melakukan kegiatan hura-hura yang penuh dengan kebebasan dan permisif.
5. Selalu berusaha menjaga amanah dan janjinya. Disadari betul bahwa segala potensi yang ada pada dirinya seperti ilmu pengetahuan dan harta merupakan amanah dan titipan dari Allah SWT yang kemudian akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya. Persepsi dan pandangan seperti ini akan menyebabkan seseorang tidak akan pernah menghalalkan segala macam cara untuk meraih kenikmatan dunia yang sifatnya sesaat dan sementara.
Inilah beberapa ukuran kesuksesan hidup seorang Muslim kapan dan di mana pun, yang
mudah-mudahan menjadi guideline dalam
mengaplikasikan dan mengimplementasikan. Niat yang ikhlas dan kerja keras yang dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT merupakan bingkai utamanya. Wallahu a’lam.(*)
S
ebagaimana telah sama-sama kita yakini,bahwa orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang didorong untuk selalu sukses di dalam kehidupannya (kesuksesan yang hakiki), baik di dunia maupun di akhirat nanti, apa pun posisi, kedudukan, dan profesinya.
Seruan untuk menggapai kemenangan dan kesuksesan ini dikumandangkan pada setiap adzan maupun ikamah ketika hendak
melaksanakan shalat, yaitu kalimat hayya
‘alal-falaah (mari kita raih kesuksesan dan keberhasilan).
Yang perlu kita sadari bersama bahwa ukuran kesukesan dalam pandangan ajaran Islam bukan semata-mata pada aspek materi dan bukan pula sebaliknya hanya pada aspek rohani. Bukan
pula pada aspek hablumminallah saja dengan
mengabaikan hablumminannas atau sebaliknya,
tetapi keseimbangan antara keduanya (tawazun) saling melengkapi dan saling mengisi.
Ukuran kesuksesan yang bersifat tawazun ini, antara lain, seperti diungkapkan dalam QS Al-Mukminun: 1-11 (yang sering dijadikan contoh pribadi Rasulullah SAW yang sukses), yaitu: 1. Selalu berusaha untuk menegakkan shalat
dengan penuh kekhusyukan. Dengan cara menjadikan shalat sebagai sebuah kebutuhan utama di samping kewajiban. Shalat dijadikan sebagai medium utama untuk meraih pertolongan dan ridha Allah SWT. Apalagi jika ditambah dengan shalat berjamaah yang dijadikannya untuk membangun silaturahim dan menguatkan ukhuwah Islamiyah di antara sesama orang yang rukuk dan sujud. 2. Mampu menghindarkan diri dari ucapan
dan tindakan yang tidak ada manfaatnya. Artinya, berusaha memiliki etos kerja dan produktivitas yang tinggi serta
Ukuran
Kesuksesan
27
Oleh:
dr. Irmayanti Soeratmi
Dokter Klinik Rumah Sehat Mandiri
Solusi Sehat
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Akhir-akhir ini suami saya sering merasa kesemutan. Biasanya terjadi ketika bangun tidur. Terkadang dia juga merasakan tangan kanannya kaku. Memang, suami saya jarang mengatur pola makannya. Terlebih lagi saat ia sedang berada di luar kota.
Yang ingin saya tanyakan adalah :
1. Apa benar yang dikeluhkan suami saya tersebut adalah gejala stroke ringan? 2. Bagaimana langkah untuk mengatur makan
dan pola hidup agar terhindar dari stroke? Demikian pertanyaan yang saya ajukan. Atas jawaban dan penjelasannya saya ucapkan terima kasih.
Apsari, Madiun
Jawaban:
Wa’alaikumussalaam Wr. Wb.
Bangun pagi dengan jari tangan kaku dan terasa sakit, tentu menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Penyebabnya antara lain radang sendi, gangguan saraf, cedera atau terlalu sering menggunakan jari atau kelelahan. Untuk mendapat diagnosis yang tepat, maka harus dilakukan pemeriksaan ke dokter.
Dari gejala yang ibu utarakan, sepertinya
Agar Terhindar
Dari Stroke
suami ibu menderita arthritis atau dikenal
sebagai rematik. Berbeda dengan stroke ringan atau dalam bahasa medis dikenal sebagai TIA (Transient Iskhemik Attack), kondisi ini menyebabkan munculnya gejala stroke, namun berlangsung lebih singkat dan akan mereda dalam waktu 24 jam.
Gejala-gejala umum TIA antara lain kesulitan
berbicara atau pelo, mati rasa pada sebelah
tubuh, kelemahan otot pada sebelah tubuh, gangguan keseimbangan pada salah satu sisi tubuh tergantung lokasi mana yang terkena di otak.
Langkah-langkah untuk terhindar dari stroke yakni dengan perubahan gaya hidup. Yakni rajin berolahraga, menurunkan berat badan sampai ideal, mengurangi makanan asin, lebih banyak makan sayur dan buah, mengurangi asupan makanan yang digoreng dan makanan manis.
Selain itu, upayakan cukup tidur minimal 6 jam sehari semalam, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, mengendalikan stres, mengobati atau mengontrol kondisi medis sebelumnya yang telah dimiliki. Seperti diabetes, hipertensi dan kolestrol tinggi.
Pintu Rezeki
Andri Handoko
Pemilik Bintang Fajar Mandiri
Usaha Lancar
dengan
Rajin Bersedekah
Tak memiliki modal, ternyata tidak membuat Andri Handoko menjadi patah semangat untuk membangun sebuah usaha. Yakni usaha kaca hias. Berawal saat dirinya yang sedang mengikuti kuliah kerja lapangan. Ia kesulitan mencari kaca hias untuk proyeknya. “Diseluruh Malang tidak ada. Akhirnya saya cari ke Surabaya. Adapun itu tidak memuaskan,” papar lulusan Universitas Merdeka Malang ini.
Andri mulai berikir untuk membangun usaha kaca hias sendiri. Dengan modal nekat, dirinya mengambil cuti kuliah dan belajar pada perusahaan kaca hias di Surabaya. “Karena saya tidak mau dicap mencuri ilmu, akhirnya saya jujur kalau saya ingin buka usaha seperti ini. Alhamdulillah diberi kemudahan,” cerita Andri mengenang awal perjuangannya.
Proyek pertama Andri pun hanya bermodal kepercayaan. Dirinya sama sekali tidak
punya modal, sehingga memakai uang muka pelanggan pertamanya ini. Saat itu, Andri banyak mengerjakan permintaan kaca hias dengan nilai Rp 20 Juta sampai Rp 50 Juta. Dengan modal kepercayaan, Andri mantap menekuni usaha kaca hias ini sejak tahun 1999.
29
Pintu Rezeki
rapi dan mempunyai tanggung jawab lebih ke pekerjaannya. “Karena membuat kaca hias adalah pekerjaan seni,” tegasnya.
Sekarang, Bintang Fajar Mandiri telah memiliki 25 karyawan, mulai dari tenaga pemasaran, hingga tenaga produksi. Untuk menambah pemasukan, Andri tidak hanya memproduksi kaca hias, tetapi juga kaca template dan grair. Dengan semangat dan kegigihannya dalam bekerja, usaha kaca hiasnya makin berkembang. Bahkan sudah mempunyai cabang di Yogyakarta. Omzetnya bahkan mencapai angkai milyaran rupiah tiap tahunnya. “Alhamdulillah sampai saat ini omzet bisa mencapai Rp 2,5 Milyar pertahun,” papar pria kelahiran tahun 1980 ini.
Sayangnya, ditengah persaingan yang ketat dan makin banyaknya pengrajin kaca hias, omzet penjualan kaca hias Andri sekarang tinggal 5% hingga 10% saja. Sisanya, dirinya mulai beralih untuk mengerjakan aluminium, UPVC, kaca untuk bangunan-bangunan besar. Seperti kampus, hotel sampai apartemen.
Lebih Percaya Yatim Mandiri
Tentu, ditengah usahanya, Andri tak lupa bersyukur pada Allah. Dirinya pun sering berdonasi ke banyak lembaga amil zakat. Namun, pertemuannya dengan Yatim Mandiri membuatnya merasa lebih tenang. Dirinya selama ini merasa kesulitan soal waktu untuk berzakat dan sedekah. Dengan adanya Zisco Yatim Mandiri
yang disiplin datang untuk menjemput donasi, Andri jadi lebih rajin bersedekah.
“Pertama kali tahu Yatim Mandiri malah saat saya sedang ada di dokter gigi. Lihat-lihat majalah, dan ada Majalah Yatim Mandiri disitu. Dari situ saya tergerak dan ingin berbagi dengan anak-anak yatim di Yatim Mandiri,” papar Andri.
Bagi Andri, dengan berbagi, dirinya lebih merasa barokah dalam setiap rezeki yang diberikan Allah SWT kepadanya. Tak hanya itu, dirinya juga sering membantu dalam pembangunan masjid didaerahnya. Dirinya bisa memberikan diskon hingga 50 persen untuk pembiayaan pembuatan dan pemasangan kaca hias. “Kalau masjidnya sekiranya kurang dana, akan kami danai 100% untuk kaca hiasnya. Semoga dengan ini, usaha saya jadi lebih barokah,” tambah Andri.(*)