• Tidak ada hasil yang ditemukan

MITIGASI RISIKO DALAM PEMBIAYAAN MURABAHAH : STUDI DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MITIGASI RISIKO DALAM PEMBIAYAAN MURABAHAH : STUDI DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP."

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

MITIGASI RISIKO DALAM PEMBIAYAAN

MUR<ABAH}AH

(Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi

Ekonomi Syari’ah

Oleh: Romaiki Hafni NIM: F04214058

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Judul Tesis : Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan Mura>bah}ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep

Penyusun : Romaiki Hafni NIM : F04214058

Tesis yang berjudul “Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan Mura>bah}ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep) ini adalah hasil penelitian lapangan yang tujuannya untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah dan Bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah serta Bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan dalam menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

Penelitian ini merupakan field research dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan datanya menggunakan interview, observasi dan dokumentasi tentang mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Data yang telah terhimpun kemudian diolah dan dianalisis dengan pola pikir deskriptif-induktif.

Hasil penelitian ini adalah bahwa Implementasi manajemen risiko pada pembiayaan Mura>ba}hah di PT BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep hanya dilakukan oleh 3 Unit, yaitu Pemasaran (Marketing), Pemproses/AO (Processing), dan yang terakhir Pemimpin (Leader). Ketiga unit ini melakukan program kerja dengan mengidentifikasi risiko, memonitoring risiko serta melakukan penyelamatan terhadap pembiayaan. Sedangkan teknik mitigasi yang digunakan dalam pembiayaan Mura>bah}ah meliputi: Memverifikasi Data Pembiayaan, Melakukan Analisis Pembiayaan dengan Metode 5C, Melakukan Surve Pembiayaan terhadap Usaha Nasabah dan Jaminan, Melakukan Manajemen Portofolio Pembiayaan, Melakukan Pengawasan terhadap Arus Kas terkait Usaha Nasabah, Men-cover Pembiayaan dengan Asuransi, Meminta Agunan, dan Memonitoring Usaha Nasabah Secara Intensif.

Adapun langkah dan solusi yang dilakukan untuk mengatasi pembiayaan Mura>ba}hah bermasalah di PT, BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep antara lain: Melakukan call kepada nasabah pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah, Melakukan kunjungan dan penagihan secara persuasif, Mencari win win solution kepada nasabah pembiayaan bermasalah, Memberikan SP (Surat Peringatan) kepada nasabah pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah, Melakukan Restrukturisasi Pembiayaan dari kolektibilitas kurang lancar meliputi: Rescheduling, Reconditioning, dan Restructuring, Bekerja sama dengan pihak Kejaksaan Negeri Sumenep melakukan pemanggilan nasabah, dan Mengekskusi jaminan dengan prosedur yang telah ditetapkan.

(7)

DAFTAR TRANSLITERASI ……….………. xv

BAB I PENDAHULUAN ………... 1

I. Sistematika Pembahasan ………,,,……… 26

BAB II MANAJEMEN RISIKO DAN PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH 27 A.Manajemen Risiko ………... 27

1. Definisi Risiko ………...…… 27

2. Definisi Manajemen Risiko ………...…… 28

3. Manajemen Risiko Perspektif Islam ………...…….. 29

4. Tujuan Manajemen Risiko ……… 33

5. Macam-macam Risiko dalam Perbankan Syari’ah …………..……. 34

6. Risiko Pembiayaan Perbankan Syari’ah ………. 38

7. Proses Manajemen Risiko ……… 40

B.Mitigasi Risiko Pembiayaan ………. 43

1. Melakukan Analisis Pembiayaan ……….……...……….. 43

2. Model Peningkatan untuk Pembiayaan Perorangan ………. 45

3. Manajemen Portofolio Pembiayaan ………... 46

4. Agunan ……….…. 47

5. Pengawasan Arus Kas ………..……... 48

6. Manajemen Pemulihan ……….….... 49

7. Asuransi ……….. 50

(8)

9. Meningkatkan Margin Pembiayaan ………... 53

C.Pembiayaan Mura>bah}ah………..…… 54

1. Konsep Dasar Pembiayaan ………...……. 54

2. Macam-Macam Pembiayaan Perbankan Syari’ah ……….. 56

3. Definisi Mura>bah}ah ……… 56

4. Landasan Hukum Mura>bah}ah ……….….…. 58

5. Rukun dan Syarat Mura>bah}ah ………...………… 61

6. Karakteristik Mura>bah}ah ……… 63

7. Mekanisme Pembiayaan Mura>bah}ah ……… 65

8. Risiko Pembiayaan Mura>bah}ah ………...……….. 66

BAB III MEKANISME PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP ………. 68

A.Profil BPRS Bhakti Sumekar………... 68

B.Mekanisme Pembiayaan Mura>bah{ah………... 79

1. Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar ………... 79

2. Syarat Penyaluran Dana ……….... 80

3. Prosedur Pembiayaan Mura>bah{ah ……… 81

4. Simulasi Pembiayaan Mura>bah{ah ……….. 87

BAB VI MITIGASI RISIKO PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP………... 88

A.Implementasi Manajemen Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep ………. 88

B.Teknik Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep ………. 94

C.Langkah dan Solusi Menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep…. 108 BAB V PENUTUP ……… 114

A.Kesimpulan ……….……….. 114

B.Saran ………...………… 115

DAFTAR PUSTAKA ……….…… 116

(9)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1.1 : Penelitian Terdahulu……….………... 17

Tabel 2.1 : Pembiayaan dan Risikonya …………..………... 39

Tabel 2.2 : Pembiayaan dan Penyebab Macet …….………. 40

Tabel 2.3 : Opsi Restrukturisasi Pembiayaan …….……….. 52

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 : Mekanisme Pembiayaan Mura>bah}ah ……… 65

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Bank merupakan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan,

artinya usaha perbankan selalu berkaitan dengan masalah bidang keuangan.

Usaha perbankan meliputi tiga kegiatan utama yaitu menghimpun dana,

menyalurkan dana dan memberikan jasa bank lainnya.1

Jenis-jenis bank sendiri dengan jelas diatur dalam UU Nomor 10

Tahun 1998 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang

Perbankan, dimana terdapat dua jenis bank yaitu Bank Umum dan Bank

Pengkreditan Rakyat. Terdapat dua klasifikasi bagi kedua jenis bank tersebut

dalam menjalankan kegiatan usahanya yaitu beroperasi secara konvensional

dan beroperasi sesuai dengan prinsip syari’ah. Bank konvensial merupakan

bank yang dalam penentuan harganya menggunakan bunga sebagai balas jasa.2

Beda halnya dengan Bank Syari’ah yang tidak menerapkan sistem bunga

dalam operasionalnya.

Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan

Syari’ah, bank syari’ah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya

berdasarkan prinsip syari’ah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum

Syari’ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah. Bank Umum Syari’ah

adalah Bank Syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu

lintas pembayaran, sedangkan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah adalah Bank

(12)

2

Syari’ah yang kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas

pembayaran.3

Dalam perjalanannya sampai saat ini, Perbankan Syari’ah mengalami

perkembangan yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri Perbankan Syari’ah

terus mengalami perkembangan. Menurut Statistik Bank Indonesia, sampai

bulan Desember 2015, jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha

berdasarkan prinsip syari’ah menjadi 12 Bank Umum Syari’ah, 22 Unit Usaha

Syari’ah dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah.4

Bisnis adalah suatu aktivitas yang selalu berhadapan dengan risiko.

Dengan memperhatikan tingkat persaingan industri perbankan yang semakin

ketat, institusi yang terlibat dalam industri itu harus mampu menunjukkan

daya saing yang tinggi. Tingkat risiko bisnis dan pengelolaan risiko akan

menjadi faktor yang menentukan dalam perkembangan perbankan syari’ah

dalam menghadapi persaingan secara global.5

Manajemen risiko perbankan di Indonesia pada mulanya kurang

mendapat perhatian yang serius dan proporsional hingga akhir terjadinya

krisis moneter di Indonesia. Hal ini terindikasi dari kurangnya perhatian bank

untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko sebagai bagian dari

manajemen perbankan, sedikit bank yang membentuk komite manajemen

risiko dan menempatkannya pada posisi strategis bank.

3 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah. 4 Statistik Perbankan Syari’ah (SPS) Desember 2015.

5 Viethzal Rivai dan Rifki Ismal, Islamic Risk Management for Islamic Bank (Jakarta: PT

(13)

3

Belajar dari krisis perbankan di Indonesia pada tahun 1998, maka

memasuki tahun 2003 manajemen risiko menjadi perhatian yang sangat serius

di Indonesia. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003

tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, merupakan wujud

keseriusan Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan.

Keseriusan tersebut lebih dipertegas lagi dengan dikeluarkannya

Peraturan Bank Indonesia No.7/25/PBI/2005 pada Agustus 2005 tentang

Sertifikasi Manajemen Risiko bagi Pengurus dan Pejabat Bank Umum, yang

mengharuskan seluruh pejabat bank dari tingkat terendah hingga tertinggi

memiliki sertifikasi manajemen risiko sesuai dengan tingkat jabatannya.

Kedua peraturan tersebut dilengkapi dengan Peraturan Bank

Indonesia No.8/4/PBI/2006 yang disempurnakan dengan Peraturan Bank

Indonesia No.8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate

Governance bagi Bank Umum, yang menunjukkan keseriusan Bank Indonesia

dalam meminta pengurus perbankan agar taat menerapkan manajemen risiko

guna melindungi kepentingan stakeholder.6

Selanjutnya Bank Indonesia secara eksplisit mengeluarkan peraturan

tentang manajemen risiko Bank Umum Syari’ah dan Unit Usaha Syari’ah

pada tahun 2011 yaitu dengan diterbitkanya Peraturan Bank Indonesia Nomor

13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum

Syari’ah dan Unit Usaha Syari’ah.

6 Ferry N. Idrous, Manajemen Risiko Perbankan: Pemahaman Pendekatan Pilar Kesepakatan

(14)

4

Manajemen risiko sendiri didefinisikan sebagai suatu metode logis

dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap,

menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang

berlangsung pada setiap aktivitas atau proses.7

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2013, jenis risiko

yang dihadapi perbankan meliputi Risiko Pembiayaan/Kredit, Risiko Pasar,

Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Reputasi, Risiko Hukum,

Risiko Stategik, dan Risiko Kepatuhan.

Dari berbagai risiko tersebut, risiko pembiayaan merupakan risiko

yang paling mendominasi di perbankan, tak terkecuali di perbankan syari’ah.

Risiko Pembiayaan adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain

dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang

disepakati.

Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi bank syari’ah

untuk mengembangkan serangkaian prosedur dan metodologi untuk

mengidentifikasi risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank serta mengambil

sebuah teknik dan kebijakan dalam mengelola risiko pembiayaan untuk

meminimalisir kemungkinan terjadinya kerugian, yang dikenal dengan istilah

mitigasi risiko pembiayaan.

Salah satu fungsi utama bank syari’ah adalah menyalurkan dana.

Penyaluran dana yang dilakukan oleh bank syari’ah adalah pemberian

pembiayaan kepada debitur yang membutuhkan, baik untuk modal usaha

(15)

5

maupun untuk konsumsi. Produk pembiayaan syari’ah terbagi dalam empat

kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan pengunaannya. Produk

pembiayaan tersebut antara lain adalah pembiayaan dengan prinsip bagi hasil

(Mud}a>rabah atau Mus}a>rakah), pembiayaan dengan prinsip jual (Mura>bah{ah),

pembiayaan dengan prinsip sewa, dan pembiayaan dengan akad pelengkap.8

Mura>bah{ah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga

perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual (bank

syari’ah) dan pembeli (nasabah).9

Mura>bah{ah ini merupakan produk pembiayaan yang lebih cenderung

digunakan untuk jenis pembiayaan konsumtif dengan waktu yang relatif

pendek, namun ada juga yang digunakan untuk pembiayaan produktif seperti

pembiayaan modal kerja dan lain sebagainya. Mura>bah{ah adalah model

pembiayaan yang sangat populer di dunia perbankan di Indonesia. Hal ini

dikarenakan produk Mura>bah{ah dianggap sebagai produk yang mudah

diaplikasikan dan mempunyai tingkat risiko yang relatif kecil. Namun pada

kenyataannya, produk Mura>bah{ah tidak semudah apa yang kita pikirkan

maupun yang kebanyakan orang pikirkan. Produk Mura>bah{ah ternyata tidak

sepenuhnya bebas risiko. Risiko pembiayaan bukan hanya bergantung pada

jenis produk yang ditawarkan akan tetapi juga sangat bergantung dari nilai

nominal, waktu pembiayaan, terkonsentrasi pada satu bidang bisnis saja dan

variabel-variabel lainnya. Selain itu, tidak adanya perubahan margin ketika

8 Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Graha

Persada, 2011), 97.

9 M. Sulhan dan Ely Siswanto, Manajemen Bank Konvensional dan Syari’ah (Malang: UIN

(16)

6

cuaca ekonomi tidak bagus, juga menciptakan risiko tersendiri pada bank

syari’ah.

PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep merupakan salah

satu bank yang menggunakan akad Mura>bah{ah dalam produk pembiayaannya

yang dikemas dengan produk pembiayaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan

Menengah) dan Pembiayaan Konsumtif. Pembiayaan UMKM ini dalam

operasionalnya bisa menggunakan akad Mura>bah{ah atau Mud{a>rabah. Akan

tetapi, pembiayaan ini didominasi oleh akad Mura>bah{ah yang mana

perbandingannya sampai 60 % daripada akad Mud}arabah.10 Lain lagi halnya

dengan pembiayaan konsumtif yang notabene seluruh akadnya menggunakan

akad Mura>bah{ah.

PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep yang dulunya bernama PT. BPR

DANA MERAPI didirikan berdasarkan akta notaris Yanita Poerbo SH No 64

tanggal 30 Juli 1992. Dalam perkembangannya PT. BPR Dana Merapi telah

mengalami perubahan nama menjadi PT. BPR Bhakti Sumekar dengan Akte

Nomor 24 tanggal 16 September 2002 oleh Notaris Karuniawan Surjanto, SH

notaris di Sidoarjo dan Persetujuan dari Bank Indonesia

no.04/8/KEP/PBI/sb/2002 tanggal 11 Nopember 2003.11

Sebagai industri perbankan, BPRS memiliki risiko yang lebih tinggi

daripada lembaga keuangan lainnya. Karena itu, industri perbankan pada

hakikatnya adalah industri yang paling banyak diatur dan diawasi (highly

10 Anton, Wawancara, Sumenep, 16 Maret 2016.

11 Status dan Riwayat Hukum, dalam

(17)

7

regulated and upervised industy). Pengawasan ketat ini tentu saja dapat

dipahami karena dana-dana yang dihimpun dari masyarakat dan

dikembangkan lewat berbagai bentuk pembiayaan dan investasi harus

dipertanggungjawabkan kepada pemiliknya dalam bentuk return yang positif.

Jika return ini tidak dapat dicapai, maka nasabah sebagai pemilik dana dan

bank sebagai pengelola dana akan mengalami kerugian.

Berdasarkan publikasi Statistik Bank Indonesia pada Desember 2015,

rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perbankan

syari’ah adalah 4,84 %. Sedangkan pada Oktober dan November 2015

mencapai 5,16 dan 5,13 %, melebihi ketentuan BI yang mematok NPF

maksimal adalah 5 %. Hal ini juga terjadi pada BPRS, NPF BPRS pada

Desember 2015 adalah 8,20 %, pada November 2015 mencapai 9,69 % dan

pada Oktober 2015 bahkan mencapai 10, 01 %.12

Sampai saat ini, PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep telah memiliki

SOM (Standar Operasional Manajemen), termasuk tentang menajemen risiko

pembiayaan. Berdasarkan laporan keuangannya, NPF di BPRS Bhakti

Sumekar Sumenep pada Maret 2015 dan Maret 2016 adalah 1,71 % dan 2,34

%.13 Sedangkan NPF pada Desember 2014 dan Desember 2015 adalah 1,24 %

dan 1,36 %.14

Kerugian akibat risiko pembiayaan harus ditutupi oleh bank syari’ah,

termasuk BPRS, dengan pencadangan/penyediaan modal (capital charger).

12 Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Desember 2015.

(18)

8

Semakin besar kerugian yang diakibatkan oleh risiko pembiayaan, maka

semakin besar pula modal yang harus dicadangkan. Jika modal yang

dicadangkan habis untuk menutupi kerugian tersebut, maka bank akan

menghadapi kesulitan dan ketidakpercayaan masyarakat.

Oleh karena itu, bank syari’ah harus mengelola dan memanaj risiko

pembiayaan dengan baik dan memiliki teknik mitigasi risiko pembiayaan yang

tepat. Arah penelitian ini adalah untuk mengalisis secara mendalam dan

mengevaluasi bagaimana implementasi manajemen dan teknik mitigasi risiko

pembiayaan di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep dalam meminimalisir

risiko pembiayaan Mura>bah{ah, serta bagaimana langkah dan solusi yang akan

dilakukan untuk menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk

mengadakan penelitian yang berjudul: “Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan

Mura>bah{ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep)”.

B.Identifikasi dan Batasan Masalah

Permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam latar belakang

masih bersifat global sehingga tentunya dalam penelitian ini perlu melakukan

identifikasi masalah, yaitu:

1. Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah

2. Mura>bah{ah merupakan akad yang paling banyak digunakan dalam produk

(19)

9

3. Implementasi dan Implikasi Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT.

BPRS Bhakti Sumekar Sumenep

4. Langkah dan solusi menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah

5. Mura>bah{ah adalah salah satu produk dengan tingkat risiko NPF yang cukup

tinggi, padahal ia dianggap sebagai akad yang minim risiko

6. Secara regulasi, Mura>bah{ah tidak memiliki landasan hukum yang jelas dan

khusus dalam al-Quran maupun hadit}h

Dari beberapa masalah yang diidentifikasi, penelitian ini dibatasi

pada:

1. Implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS

Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

2. Teknik mitigasi yang digunakan oleh PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor

Pusat Sumenep dalam meminimalisir risiko pembiayaan Mura>bah{ah.

3. Langkah dan Solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor

Pusat Sumenep untuk menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah.

C.Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT.

BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep?

2. Bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS

(20)

10

3. Bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS Bhakti

Sumekar Kantor Pusat Sumenep dalam menanggulangi pembiayaan

Mura>bah{ah bermasalah?

D.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan

Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

2. Menganalisis bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di

PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

3. Menganalisis bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS

Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep dalam menanggulangi pembiayaan

Mura>bah{ah bermasalah.

E.Kegunaan Penelitian

1. Secara Teoritis

Menambah wawasan keilmuan tentang teknik mitigasi risiko

pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat

Sumenep.

2. Secara Praktis

a. Bagi Pihak PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep

Penelitian ini berguna untuk mengetahui seberapa efektif mitigasi

(21)

11

Sumenep dan memberikan informasi, masukan dan evaluasi yang

bermanfaat terkait dengan mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah.

b. Bagi Akademisi

Penelitian ini juga diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi

Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya,

terutama program studi Ekonomi Syari’ah sebagai pengembangan

wawasan keilmuan serta mampu memberikan motivasi kepada

peneliti-peneliti selanjutnya agar mampu melakukan peneliti-penelitian mengenai

mitigasi risiko pembiayaan di perbankan syari’ah yang lebih

komperehensif, menarik dan aktual.

c. Bagi Pembaca

Penelitian ini semoga dapat berguna dan dapat dijadikan rujukan

atau referensi sumber informasi bagi para penulis atau peneliti lain yang

ingin membahas lebih lanjut mengenai mitigasi risiko pembiayaan di

perbankan syari’ah.

F. Kerangka Teoritik

1. Manajemen Risiko

Menurut Badan Sertifikasi Manajemen Risiko, risiko didefinisikan

sebagai kemungkinan akan terjadinya hasil yang tidak diinginkan yang

dapat menimbulkan kerugian apabila tidak diantisipasi serta tidak dikelola

semestinya.15

15 Sri Indah Nikensari, Perbankan Syari’ah (Prinsip, Sejarah dan Aplikasinya) (Semarang: PT.

(22)

12

Manajemen Risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang

bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai

permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan

menajemen secara komprehensif dan sistematis.16 Dalam proses manajemen

risikonya, Perbankan Syari’ah melakukan identifikasi, pengukuran,

pemantauan dan pengendalian terhadap risiko yang ada.

2. Mitigasi Risiko Pembiayaan

Bambang Rianto Rustam dalam bukunya “Manajemen Risiko

Perbankan Syari’ah di Indonesia” menulis bahwa Lembaga Industri

keuangan seperti halnya perbankan syari’ah sarat akan berbagai macam

risiko dalam segala aspek operasionalnya. Dalam hal ini diperlukan adanya

manajemen risiko yang baik dan komperehensif. Salah satunya adalah

kebijakan mitigasi risiko pembiayaan dalam meminimalisir risiko

peembiayaan.

Mitigasi risiko pembiayaan adalah sejumlah teknik dan kebijakan

dalam mengelola risiko pembiayaan untuk meminimalisir kemungkinan

terjadinya atau dampak dari kerugian pembiayaan. Teknik yang dapat

digunakan adalah sebagai berikut:17

1. Model peningkatan untuk pembiayaan perorangan

2. Manajemen portofolio pembiayaan

3. Agunan

16 Irham Fahmi, Manajemen Risiko (Teori, Kasus, dan Solusi) (Bandung: ALFABETA, cv, 2014),

2-3.

17 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah di Indonesia (Jakarta:

(23)

13

4. Pengawasan arus kas

5. Manajemen pemulihan

6. Asuransi

G.Penelitian Terdahulu

Kajian pustaka adalah deskripsi singkat tentang kajian atau penelitian

yang sudah pernah dilakukan seputar masalah yang diteliti sehingga terlihat

jelas bahwa kajian yang dilakukan ini bukanlah pengulangan atau duplikasi

dari kajian atau penelitian tersebut.

Berikut adalah penelitian sebelumnya dengan tema manajemen risiko

perbankan:

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Mukhsinun (2015) dengan

judul: “Evaluasi Manajemen Risiko Produk Mud}a>rabah dan Musha>rakah

Dalam Meminimalisir Risiko Pembiayaan Bagi Hasil (Studi Kasus pada BPD

DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta).” Jenis

penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research). Hasil penelitiannya

adalah pembiayaan Mud}a>rabah pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank

Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta disalurkan dengan menerapkan linkage

program. Penerapan linkage program ini bertujuan untuk mengurangi

tingginya risiko dari pembiayaan berbasis bagi hasil. Pola pembiayaan

musyarakah pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri

Cabang Yogyakarta dapat menjadi solusi alternative atas masalah over

(24)

14

dengan menyalurkannya pada sektor rill. Proses penanganan pembiayaan

bermasalah dilakukan dengan kolektabilitas pembiayaan, yaitu dengan

pembiayaan lancar, pembiayaan potensial bermasalah atau pembiayaan yang

kurang lancar, pembiayaan diragukan atau macet.18

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Dian Rosalia Pradini (2011)

dengan judul “Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan dan Pengaruhnya

Terhadap Laba.” Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode

analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis linier berganda. Data yang

diperoleh dari data primer (sumber utama) dan data sekunder (studi literartur,

buku yang relevan). Kesimpulan yang diperoleh adalah factor-faktor yang

mempengaruhi risiko pembiayaan diantaranya adalah factor internal (SDM,

teknologi indormasi) dan faktor eksternal (kebijakan pemerintah, peminjam).

Kemudian manajemen risiko pembiayaan yang dilakukan untuk

mengendalikan risiko adalah dengan cara preventive control of finance seperti

penetapan prosedu, kebijakan pembiayaan, asuransi, dan repressive control of

finance seperti proses revitalisasi dan penyelesaian melalui jaminan.19

Ketiga, Penelitian yang dilakukan oleh Muslimah Mattjik (2011)

dengan judul: “Analisis Pengukuran risiko Pembiayaan dengan Model Standar

dan Internal Pada BPRS Harta Insan Karimah.” Data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah data seluruh jenis pembiayaan pada BPRS Harta Insan

18 Mukhsinun, “Evaluasi Manajemen Risiko Produk Mud}a>rabah dan Musha>rakah Dalam

Meminimalisir Risiko Pembiayaan Bagi Hasil (Studi Kasus pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta)” (Tesis—UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2015), vi.

19 Dian Rosalia Pradini, “Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan dan Pengaruhnya Terhadap

(25)

15

Karimah pada tahun 2008, 2009 dan 2010. Model internal dilakukan dengan

metode CreditRisk+, sedangkan model standar dilakukan dengan menghitung

Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) berdasarkan PBI 8/22/PBI/2006

tentang kewajiban penyediaan Modal Minimum BPRS Berdasarkan Prinsip

Syari’ah. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa modal yang harus

dicadangkan untuk menutup kerugian akibat risiko pembiayaan dengan model

internal lebih kecil daipada dengan model standar. Dibandingkan dengan

actual loss yang terjadi, model internal lebih akurat dibandingkan dengan

model standar. Maka BPRS Harta Insan Karimah dapat menghemat modal

yang harus dicadangkan sebesar 72,5% pada tahun 2008, 75,3% pada tahun

2009, dan 83,8% pada tahun 2010.20

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Eka Jati Rahayu Firmansyah

(2015) dengan judul “Manajemen Resiko Pada Produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR) iB (Studi Pada PT. Bank BRI Syari’ah Kantor

Cabang Yogyakarta Yos Sudarso)”. Penelitian ini termasuk dalam jenis

penelitian kualitatif-deskriktif dan teknik pengambilan samplenya

menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukan PT. Bank

BRI Syari’ah Kantor Cabang Yogyakarta melakukan analisa terhadap produk

Pembiayaan Kepemilikan Rumah dengan menanalisa calon nasabah melalui

character, Capital, Capacity, Collateral dan Condition of Economic.

Manajemen risiko pembiayaan Kepemilikan Rumah di PT. Bank BRI Syari’ah

Kantor Cabang Yogyakarta diwujudkan dengan cara: (1). Melakukan mitigasi

20 Muslimah Mattjik, “Analisis Pengukuran risiko Pembiayaan dengan Model Standar dan

(26)

16

risiko pada akad perseorangan produk pembiayaan dengan menentukan target

market, scoring, penentuan repayment capacity (RPC), penentuan Batas

Wewenang Persetujuan Pembiayaan (BWPP) (2). Akad mura>bah}ah

menjadikan angsuran nasabah tetap sampai akhir periode sehingga jika terjadi

kenaikan rate pada produk Dana Pihak Ketiga (DPK) akan menimbulkan miss

match. Keaadaan tersebut dimitigasi oleh PT. Bank BRI Syari’ah dengan cara

Menentukan margin pembiayaan lebih tinggi dengan competitor dan

Melakukan perubahan tarif margin untuk nasabah baru. (3). Pengelolaan risiko

dilakukan dengan menghindari risiko, penahanan risiko, penyebaran risiko,

pengalihan risiko, pengendalian risiko dan pendanaan risiko.21

Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Rahmani Timorita Yulianti

(2009) dengan judul “Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah”. Penelitian ini

membahas tentang pentingnya penerapan manajemen risiko di perbankan

syari’ah yang berkesimpulan bahwa kapasitas manajemen risiko yang efisien

adalah bagaimana bank Syari’ah mampu menempatkan posisi secara strategis

dalam pasar global dengan mereduksi semua risiko. Tidak adanya sistem

manajemen risiko yang sehat dan kuat dapat menghilangkan bank Syari’ah

dari kemampuannya dalam mengatasi risiko, dan dapat mengurangi kontribusi

potensialnya. Sumber daya yang memadai juga perlu dicurahkan untuk

pengukuran dan identifikasi risiko serta pengembangan teknik-teknik

21

Eka Jati Rahayu Firmansyah, “Manajemen Resiko Pada Produk Pembiayaan Kepemilikan

Rumah (KPR) iB (Studi Pada PT. Bank BRI Syari’ah Kantor Cabang Yogyakarta Yos Sudarso)”

(27)

17

manajemen risiko. Selain itu, peran DPS di bank Syari’ah harus benar-benar

dioptimalkan.22

Dari hasil penelitian terdahulu, tampak membahas tentang

manajemen risiko perbankan syari’ah utamanya risiko pembiayaan, akan

tetapi pebedaan mendasar antara penelitian terdahulu dengan penelitian

sekarang terletak pada variable dan objek penelitiannya. Dimana penelitian ini

secara spesifik akan membahas tentang teknik mitigasi risiko pembiayaan

Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep untuk

kemudian dianalisis dengan harapan menjadi bahan informasi dan evaluasi

menuju kearah yang lebih baik.

Untuk lebih jelasnya terkait perbedaan penelitian ini dengan

penelitian sebelumnya, bisa lihat Tabel berikut:

Tabel 1.1: Penelitian Terdahulu

Pembiayaan Mud}a>rabah pada BPD DIY Cabang Syari’ah

dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta disalurkan dengan menerapkan linkage program. Penerapan linkage program ini bertujuan untuk mengurangi tingginya risiko dari pembiayaan berbasis bagi hasil.

Pola pembiayaan musyarakah pada BPD DIY Cabang

Syari’ah dan Bank Syari’ah

Mandiri Cabang Yogyakarta

dapat menjadi solusi

alternative atas masalah over

22Rahmani Timorita, “Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah”, La_Riba Jurnal Ekonomi Islam,

(28)

18

Cabang Yogyakarta)

likuiditas yang saat ini terjadi. Kondisi over likuiditas ini

dapat disiasati dengan

menyalurkannya pada sektor rill.

Proses penanganan

pembiayaan bermasalah

dilakukan dengan

kolektabilitas pembiayaan, yaitu dengan pembiayaan lancar, pembiayaan potensial bermasalah atau pembiayaan

yang kurang lancar,

(29)

tahun 2009, dan 83,8% pada tahun 2010.

Capacity, Collateral dan

ConditionofEconomic.

Manajemen risiko pembiayaan menentukan target market,

scoring, penentuan repayment capacity (RPC), penentuan Batas Wewenang Persetujuan Pembiayaan (BWPP) (2). Akad mura>bah}ah menjadikan angsuran nasabah tetap sampai akhir periode sehingga jika terjadi kenaikan rate pada produk Dana Pihak Ketiga dengan competitor dan Melakukan perubahan tarif

margin untuk nasabah baru. (3). Pengelolaan risiko

(30)

perbankan syari’ah yang berkesimpulan bahwa

peran DPS di bank Syari’ah

harus benar-benar dioptimalkan

H.Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach), dengan

menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor

Pusat Sumenep yang beralamat di jalan Trunojoyo no. 137, Sumenep Jawa

(31)

21

3. Data yang dikumpulkan

Data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer

1) Hasil wawamcara data lapangan dan obeservasi tentang penerapan

manajemen risiko, teknik mitigasi yang digunakan dalam pembiayaan

Mura>bah{ah, serta langkah dan solusi menanggulangi pembiayaan

Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

2) Profil PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep dan

dokumen-dokumen terkait mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di

PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

b. Data Sekunder berupa hasil penelitian, buku dan jurnal tentang risk

management dan mitigasi risiko pembiayaan serta pembiayaan

Mura>bah{ah di perbankan syari’ah.

4. Sumber Data

Untuk menggali kelengkapan data tersebut, maka diperlukan

sumber-sumber data sebagai berikut:

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah sumber data tempat diperolehnya

secara langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat

pengukur atau alat pengambil data langsung pada subjek sebagai sumber

informasi yang dicari. Sumber utama penelitian ini adalah dari pihak PT.

BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Peneliti akan menggali

(32)

22

Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Sumber data primer di sini

berupa dokumen-dokumen yang terkait dengan mitigasi mitigasi risiko

dalam pembiayaan Mura>bah{ah.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data kedua sesudah sumber

data primer.23

Sumber data sekunder merupakan data pendukung yang berasal

dari seminar, buku-buku maupun literatur lain meliputi:

1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang

Perbankan Syari’ah.

2) Statistik Perbankan Syari’ah Desember 2015

3) Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Adiwarman A. Karim.

4) Manajemen Risiko (Teori, Kasus, dan Solusi), Irham Fahmi.

5) Perbankan Syari’ah (prinsip, sejarah dan aplikasinya), Sri Indah

Nikensari.

6) Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah di Indonesia, Bambang Rianto

Rustam.

7) Islamic Risk Management For Islamic Bank, Veithzal Rivai dan Rifki

Ismal.

8) Manajemen Bank Konvensional dan Syari’ah, Sulhan dan Ely

Siswanto. Dll.

23 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif

(33)

23

5. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pengumpulan

data sebagai berikut:

a. Observasi\

Yang dimaksud dengan observasi adalah peneliti akan melakukan

kunjungan atau melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian.

Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data secara langsung

karena dapat memperoleh data yang secara utuh dan akurat.

b. Interview

Yaitu melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan

sehubungan kaitannya dengan permasalahan dalam penelitian ini.

c. Dokumentasi

Yaitu pengambilan data tentang pembiayaan Mura>bah{ah dan

murdharabah dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang

berhubungan dengan mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah ,

sehingga data tersebut dapat dijadikan sebagai masukan yang

berhubungan dengan pokok pembahasan.24

6. Teknik Pengolahan Data

Setelah data berhasil dihimpun dari lapangan atau penulisan, maka

peneliti menggunakan teknik pengolahan data dengan tahapan sebagai

berikut:

(34)

24

a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali dari semua data yang diperoleh

terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, keselarasan

antara data yang ada dan relevansi dengan penelitian.25 Dalam hal ini

penulis akan mengambil data yang akan dianalisis dengan rumusan

masalah saja.

b. Organizing, yaitu menyusun kembali data yang telah didapat dalam

penelitian yang diperlukan dalam kerangka paparan yang sudah

direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis.26 Penulis

melakukan pengelompokan data yang dibutuhkan untuk dianalisis

dan menyusun data tersebut dengan sistematis untuk memudahkan

penulis dalam menganalisa data.

c. Penemuan Hasil, yaitu dengan menganalisis data yang telah diperoleh

dari penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai kebenaran

fakta yang ditemukan, yang akhirnya merupakan sebuah jawaban dari

rumusan masalah.27

7. Teknik Analisis Data

Data yang telah berhasil dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis

secara deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku

yang dapat diamati dengan metode yang telah ditentukan.28 Tujuan dari

25 Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif Kuantitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta,

2010. 243.

26 Ibid., 245. 27 Ibid., 246.

(35)

25

metode ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran mengenai objek

penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,

sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.29

Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan pola pikir

induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang bersifat

khusus kemudian diteliti, dianalisis dan disimpulkan sehingga pemecahan

persoalan atau solusi tersebut dapat berlaku secara umum. Fakta-fakta yang

dikumpulkan adalah kebijakan mitigasi risiko pembiayaan mura>bahah.

Peneliti mulai memberikan pemecahan persoalan yang bersifat umum,

melalui penentuan rumusan masalah sementara dari observasi awal yang

telah dilakukan. Dalam hal ini penelitian dilakukan di PT. BPRS Bhakti

Sumekar Kantor Pusat Sumenep, sehingga ditemukan pemahaman terhadap

pemecahan persoalan dari rumusan masalah yang telah ditentukan.

Selain itu, peneliti juga melakukan analisis-evaluatif dan analisis

teknik dan kebijakan terhadap data yang terkumpul berupa teknik mitigasi

risiko pembiayaan dalam meminimalisir resiko pembiayaan mura>bahah dan

menanggulangi pembiayaan mura>bah}ah bermasalah, kemudian kebijakan

tersebut dimanfaatkan dalam rangka memecahkan masalah risiko

pembiayaan dan praktiknya di lapangan.

(36)

26

I. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah pemahaman mengenai penelitian ini, peneliti

membagi ke dalam lima bab yang saling berhubungan dan berurutan secara

sistematis.

Bab pertama: menguraikan latar belakang permasalahan yang

menjadi pijakan peneliti untuk melakukan penelitian, dilanjutkan dengan

identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, kerangka teoritik, penelitian terdahulu, metode

penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua: menguraikan landasan teori yang berisikan tentang

konsep manajemen risiko, mitigasi risiko pembiayaan dan pembiayaan

Mura>bah{ah di perbankan syari’ah.

Bab ketiga: mendeskripsikan profil dan mekanisme pembiayaan

Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep

Bab keempat: membahas tentang analisis penerapan menajemen

risiko pembiayaan Mura>bah{ah, teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah,

langkah dan solusi menanggulangi risiko pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah

di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.

(37)

27 BAB II

MANAJEMEN RISIKO DAN PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH

A.Manejemen Risiko 1. Definisi Risiko

Secara umum, risiko didefinisikan sebagai bentuk-bentuk peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap kemampuan seseorang atau sebuah institusi untuk mencapai tujuannya. Bank Indonesia mendefinisikan risiko sebagai potensi terjadinya peristiwa (events) yang dapat

menimbulkan kerugian.1

Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Dengan redaksi lain

“Kemungkinan” itu sudah menunjukan adanya ketidakpastian.

Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan timbulnya risiko. Kondisi yang tidak pasti itu timbul karena berbagai sebab, antara lain:2

a. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya. b. Keterbatasan informasi yang diperlukan.

c. Keterbatasan pengetahuan, keterampilan, atau teknik mengambil keputusan.

d. Dan lain sebagainya

1 Robert Tampubolon, Risk Management (Manajemen Risiko): Pendekatan Kualitatif Untuk Bank Komersial (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2004), 19.

(38)

28

Risiko dalam lembaga keuangan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unanticipated) yang berdampak negatif terhadap

pendapatan dan permodalan lembaga keuangan. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dihindari tetapi dapat dikelola dan dikendalikan, oleh karena itu diperlukan serangkaian prosedur dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul.3

2. Definisi Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan suatu cara, metode, atau ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai jenis risiko, bagaimana risiko itu terjadi dan mengelola risiko tersebut dengan tujuan agar terhindar dari kerugian.4 Idroes menjelaskan manajemen risiko dapat didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses.5

Menurut Darmawi, manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegagalan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan

3 Adiwarman A. Karim, Bank Islam, Analis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 255.

4 Hasbullah dan Yudistira, Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko Kredit di Perbankan dalam angka Good Corporate Governance, t.t.: t.p. 2004, 29.

(39)

29

efisiensi yang lebih tinggi.6 Menurut Smith, manajemen risiko

didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari suatu perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut.7

Sedangkan menurut COSO (Commite of Sponsoring Organization of the Treadway Commision), manajemen risiko (risk management) dapat diartikan sebagai “a process, effect by an entity’s board of directors,

management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that nay effect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance

regarding the achievement of entity objectives.”8 (manajemen risiko adalah

bagian penting dari bagian strategi manajemen semua perusahaan. Proses di mana suatu organisasi yang sesuai metodenya dapat menunjukkan risiko yang terjadi pada suatu aktifitas menuju keberhasilan didalam masing-masing aktifitas dari senua aktifitas. Fokus dari manajemen yang baik adalah indentifikasi dan cara mengatasi risiko).

3. Manajemen Risiko Perspektif Islam

Dalam perspektif Islam, manajemen risiko merupakan usaha untuk

menjaga amanah Allah akan harta kekayaan demi untuk kemaslahatan manusia. Berbagai sumber ayat al-Qur’an telah memberikan kepada

6 Herman Darmawi, Manajemen Risiko (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1999), 17.

7 Ismail Nawawi, Manajemen Risiko Teori dan Pengantar Praktik Bisnis, Perbankan Islam dan Konvensional (Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 39.

(40)

30

manusia akan pentingnya pengelolaan risiko ini. Keberhasilan manusia

dalam mengelola risiko, bisa mendatangkan maslahat yang lebih baik. Dengan timbulnya kemaslahatan ini maka bisa dimaknai sebagai keberhasilan manusia dalam menjaga amanah Allah.

Perspektif Islam dalam pengelolaan risiko dapat dikaji dari kisah Nabi Yusuf dalam mentakwilkan mimpi sang raja pada masa itu. Kisah mimpi sang raja termaktub dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 43 sebagai

berikut:9

ٍرْضُخ ٍتاُبُْس َعْبَسَو ٌفاَجِع ٌعْبَس نُهُلُكْأَي ٍناَِِ ٍتاَرَقَ ب َعْبَس ىَرَأ يِّإ ُكِلَمْلا َلاَقَو

َنوُرُ بْعَ ت اَيْؤرلِل ْمُتُْك ْنِإ َياَيْؤُر ِِ ِّوُتْ فَأ أَمْلا اَه يَأ اَي ٍتاَسِباَي َرَخُأَو

“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang

gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu

jika kamu dapat mena'birkan mimpi."

Sedangkan kisah Nabi Yusuf mentakwilkan mimpi sang raja dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 46-47 sebagai berikut:10

9 Al-Qur’an, 12: 43.

(41)

orang yang Amat dipercaya, Terangkanlah kepada Kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka

mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Dalam tafsir al-Mis}bah, M. Quraish Shihab menafsirkan bahwa Nabi Yusuf memahami tujuh ekor sapi sebagai tujuh tahun masa pertanian. Boleh jadi karena sapi digunakan membajak, kegemukan sapi adalah

lambang kesuburan, sedang sapi kurus adalah masa sulit dibidang pertanian, yakni masa paceklik. Bulir-bulir gandum lambang pangan yang tersedia. Setiap bulir sama dengan setahun. Demikian juga sebaliknya.11

Dari kisah tersebut, bisa dikatakan bahwa pada tujuh tahun kedua akan timbul kekeringan yang dahsyat. Ini merupakan suatu risiko yang menimpa negeri Yusuf tersebut. Namun dengan adanya mimpi sang raja yang kemudian ditakwilkan oleh Yusuf, maka kemudian Yusuf telah

(42)

32

melakukan pengukuran dan pengendalian atas risiko yang akan terjadi pada

tujuh tahun kedua tersebut. Hal ini dilakukan Yusuf dengan cara menyarankan kepada rakyat seluruh negeri untuk menyimpan sebagian hasil panennya pada panenan tujuh tahun pertama demi menghadapi paceklik pada tujuh tahun berikutnya. Dengan demikian maka terhindarlah bahaya kelaparan yang mengancam negeri Yusuf tersebut. Sungguh suatu pengelolaan risiko yang sempurna. Proses manajemen risiko diterapkan Yusuf melalui tahapan pemahaman risiko, evaluasi dan pengukuran, dan pengelolaan risiko.

Secara filosofi, demi melihat kisah Yusuf atas negerinya itu maka sejatinya manusia itu akan selalu menginginkan suatu kepastian, bukan suatu kemungkinan. Manusia akan selalu menginginkan kestabilan, bukan fluktuatif. Dan hanya ada satu dzat yang maha pasti dan maha stabil, yaitu Allah SWT. Ketika manusia berusaha untuk memperoleh kepastian sejatinya dia sedang menuju Allah SWT. Ketika manusia berusaha untuk menjaga kestabilan, sesungguhnya dia sedang menuju Allah SWT. Hanya Allah SWT yang stabil, tetap, abadi dan pasti, mutlak. Oleh karena itu, ketika manusia berusaha memenuhi segala hal dalam manajemen risiko, mengatur semua hal yang terkait dengan risiko, sejatinya manusia itu

sedang memenuhi panggilan Allah SWT.

(43)

33

kita untuk melakukan aktivitas dengan perhitungan yang sangat matang

dalam menghadapi risiko. 4. Tujuan Manajemen Risiko

Tujuan yang hendak dicapai dengan manajemen risiko adalah untuk menghindari perusahaan dari kegagalan, mengurangi pengeluaran, menaikkan keuntungan, menekan biaya produksi, dan sebagainya.12

Namun secara umum tujuan dari manajemen risiko ada dua, yaitu untuk menghindari risiko sebelum terjadinya kerugian (preloss objectives) dan mengatasi risiko setelah terjadinya kerugian (postloss objectives).13

Tujuan manajemen risiko bagi lembaga keuangan syari’ah antara

lain adalah:14

a. Menyediakan informasi tentang risiko kepada pihak regulator.

b. Memastikan bank tidak mengalami kerugian yang bersifat unaccepetable.

c. Meminimalisasi kerugian dari berbagai risiko yang bersifat uncontrolled.

d. Mengukur eksposur dan pemusatan risiko. e. Mengalokasi modal dan membatasi risiko.

12 A. Abbas Salim, Asuransi & Manajemen Risiko (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 201.

13 Hinsa Siahaan, Manajemen Risiko: Konsep, Kasus & Implementasi (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2007), 315.

(44)

34

5. Macam-Macam Risiko dalam Perbankan Syari’ah

Mengacu pada ketentuan Bank Indonesia PBI Nomor 13/23/PBI/2011 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syari’ah

dan Unit Usaha Syari’ah, terdapat 10 (sepuluh) risiko yang harus dikelola

bank.15 Kesepuluh jenis risiko tersebut adalah: a. Risiko Kredit

Risiko kredit merupakan bentuk risiko pembayaran yang muncul pada saat satu pihak bersepakat untuk membayar sejumlah

uang (misalnya, dalam akad Salam dan Istishna’) atau mengirimkan

barang (misalnya, dalam akad Mura>bah}ah) sebelum menerima aset atau uang cash-nya sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya kerugian.16 Dalam kasus pembiayaan berbasis bagi hasil (Mud{{a>rabah

dan

Mus}a>rakah), risiko kredit adalah tidak terbayarnya kembali

bagian bank oleh pihak pengusaha ketika jatuh tempo.

Masalah ini bisa muncul bagi bank akibat adanya kesenjangan

informasi (assimatric information), di mana mereka tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang profit perusahaan yang sesungguhnya. Sementara akad Mura>bah}ah merupakan akad jual

beli atau perdagangan, di mana risiko kredit dapat muncul dari risiko pihak ketiga (counterparty risk), yaitu akibat buruknya kinerja

15PBI Nomor 13/23/PBI/2011 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syari’ah

dan Unit Usaha Syari’ah.

(45)

35

partner bisnis. Buruknya kinerja ini bisa disebabkan oleh

sumber-sumber sistematik eksternal. b. Risiko Pasar

Risiko pasar timbul karena pergerakan harga yang diharapkan seperti hasil (yield) risiko tingkat pengambilan. Peringkat benchmark

(risiko nilai bunga), nilai tukar mata uang (risiko RX), harga komoditas dan ekuitas (risiko harga) yang memiliki potensi risiko finansial sebuah asset panjang masa kontrak.17 Bank Islam lebih terbuka terhadap risiko pasar berkaitan dengan ketidakpastian dalam nilai aset yang diperdagangkan di pasar atau disewakan. Risiko berkaitan dengan ketidakpastian nilai pasar saat ini dan saat yang akan datang aset tertentu dikarenakan beberapa faktor risiko yang berbeda.

c. Risiko Operasional

Risiko operasional berkaitan dengan sistem tata kelola sebagai akibat ketidakmampuan atau kegagalan proses internal berhubungan dengan orang atau sistem atau dari eksternal.18 Risiko internal juga mencakup kegagalan teknologi, sistem dan model analisis. Risiko operasional cenderung menjadi signifikan dalam kasus bank Islam

berkaitan dengan fitur kontrafaktual bersama mereka dan lingkungan legal umum.

17 Ismail Nawawi, Perbankan Syari’ah Issu-issu Manajemen Fiqh Mu’amalah Pengkayaan Teori Menuju Praktik, (Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 647-648.

(46)

36

d. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas dapat muncul karena sulitnya mendapat dana cash yang wajar, baik melalui pinjaman maupun melalui penjualan aset. Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksi sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah terhadap peminjaman, dan memberikan fleksibelitas dalam meraih kesempatan investasi yang menarik dan menguntungkan.

e. Risiko Kepatuhan

Risiko kepatuhan, adalah risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang undangan dan ketentuan lain yang berlaku.

f. Risiko Hukum

Risiko Hukum adalah sebuah risiko karena adanya sebuah perbedaan karakteristik akad atau kontrak keuangan, bank syari’ah

menghadapi risiko yang berhubungan dengan proses dokumentasi dan pelaksanaan hukum.19 Akibat tidak adanya kontrak bagi instrumen-instrumen keuangan yang ada, bank syari’ah harus menyiapkan hal ini berdasarkan pemahamannya terhadap bank syari’ah,

undang-undang yang berlaku, dan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.

(47)

37

g. Risiko Reputasi

Risiko reputasi adalah risiko rasa percaya kepada bank Islam di mana klien karena tindakan atau manajemen yang tak tanggung jawab.20 Walaupun risiko fidusia dan syari’ah juga bersumber dari kelalaian dan ketidakpatuhan, risiko reputasi juga merupakan risiko karena perilaku tak tanggung jawab sebuah institusi dapat menodai reputasi bank Islam lain dalam industri tersebut.

h. Risiko Strategi

Risiko strategi adalah risiko ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategis serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.21

i. Risiko Imbal Hasil (Rate of Return Risk)

Risiko Imbal Hasil adalah Risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan Bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima Bank dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga Bank.

j. Risiko Investasi (Equity Investment Risk)

Risiko Investasi adalah Risiko akibat Bank ikut menanggung

kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis profit and loss sharing

20 Ismail Nawawi, Perbankan Syari’ah…, 646.

(48)

38

6. Risiko Pembiayaan dalam Perbankan Syari’ah

Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dalam Peraturan Bank Indonesia, manajemen risiko untuk perbankan syari’ah yang berlaku, manajemen risiko membedakan antara dua jenis gagal bayar dalam pembiayaan, yaitu sebagai berikut:

a. Yang mampu (gagal bayar sengaja)

b. Gagal bayar karena bangkrut, yaitu tidak mampu membayar kembali utangnya karena alasan-alasan yang diakui syari’ah.22

Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas bisnis bank. Pada sebagian besar bank, pemberian pembiayaan merupakan sumber risiko kredit yang terbesar. Selain pembiayaan, bank menghadapi risiko kredit dari berbagai instrumen keuangan seperti surat berharga, transaksi antar bank, transaksi pembiayaan perdagangan, transaksi nilai tukar dan derivatif, serta kewajiban komitmen dan kontingensi.

Risiko kredit dapat meningkat karena terkonsentrasinya penyediaan dana, antara lain pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Untuk itu, tujuan utama adanya Manajemen Risiko Kredit (MRK) adalah untuk memastikan bahwa

aktivitas penyediaan dana bank tidak terekspos pada risiko kredit yang dapat menimbulkan kerugian pada bank.

(49)

39

Secara umum risiko kredit dalam bank syari’ah merupakan

eksposur risiko utama dalam kegiatan operasional bank syari’ah. Sehingga kegiatan manajemen risiko sangatlah diperhatikan agar bank dapat melakukan kegiatan yang mendalam terhadap risiko-risiko yang ditimbulkan dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko tersebut.

Gambaran pembiayaan beserta risiko pembiayaan dijelaskan pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1:

Pembiayaan dan Risikonya

Pembiayaan Risiko

Mura>bah}ah Pembiayaan dalam jangka panjang menimbulkan risiko tidak dapat bersaing bagi hasil kepada dana pihak ketiga.

Ija>rah 1. Bila barang yang disewakan adalah milik bank, risikonya adalah tidak produktifnya aset ija>rah. 2. Bila barang yang disewakan bukan milik bank

risikonya adalah rusaknya barang oleh nasabah luar pemakaian normal. Oleh karena itu, diperlukan kovenan ganti rugi kerusakan barang yang tidak disebabkan oleh pemakaian normal. 3. Bila diberikan dalam bentuk jasa risikonya

adalah tidak perform-nya pemberi jasa. Oleh karena itu, diperlukan kovenan risiko itu merupakan tanggung jawab nasabah karena pemberi jasa dipilih oleh nasabah sendiri.

Ija>rah Muntahiyya bi al-tamlik

Bila pembayaran dengan menggunakan balloon payment, yakni pembayaran angsuran besar pada akhir periode risikonya adalah risiko ketidakmampuan nasabah untuk membayarnya. Risiko ini dapat diatasi dengan memperpanjang jangka waktu sewa.

Salam dan

Istis}na’ 1.2. Risiko gagal serah barang Risiko jatuhnya harga barang

(50)

40

Dalam risiko kredit dikenal pula moral hazard. Moral hazard

adalah ketidakhati-hatian petugas dalam menyalurkan pembiayaan. Pada risiko kredit moral hazard terjadi pada pembiayaan Mud{{a>rabah dan pembiayaan Mura>bah}ah. Dalam pembiayaan Mud{{a>rabah biasa terjadi moral hazard karena ketidaksempurnaan informasi petugas melihat level usaha

nasabah dan terbatasnya informasi produktivitas usaha. Sedangkan dalam pembiayaan Mura>bah}ah tingginya NPF (Non-Performing Financing) terjadi

karena kesalahan bank melakukan assessment debitur dan kurangnya monitoring nasabah. Sebagaimana hasil penelitian Edwin dan Williasih (2007) yang menemukan beberapa penyebab terjadinya pembiayaan macet di perbankan syari’ah. (Lihat Tabel 3)

Tabel 2.2:

Pembiayaan dan Penyebab Macet Pembiayaan Penyebab Macet

Mura>bah}ah 1. Kesalahan bank melakukan assessment terhadap calon debitur.

2. Kurangnya monitoring bank.

Mud{{a>rabah Informasi tidak tepat dari debitur. Ketidaktransparan kondisi debitur. Sulitnya melihat level usaha dan terbatasnya informasi tentang produktivitas usaha.

Sumber : Mustafa Edwin, Ranti Williasih, ‚ Profit Sharing dan Moral Hazard dalam

Penyaluran Dana Pihak Ketiga di Indonesia‛, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol. VIII, 2007.

7. Proses Manajemen Risiko

(51)

41

organisasi meliputi identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap,

menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko.23 a. Identifikasi dan Pemetaan Risiko

1) Menetapkan kerangka kerja untuk implementasi strategi risiko secara keseluruhan.

2) Menentukan definisi kerugian

3) Menyusun dan melakukan implementasi mekanisme pengumpulan data.

4) Membuat pemetaan kerugian ke dalam kategori risiko yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.

b. Kuantifikasi/Menilai/Melakukan Peringkat Risiko 1) Aplikasi teknis permodalan dalam mengukur risiko.

2) Perluasan dengan memanfaatkan tolok ukur (benchmarking), permodelan (modeling), dan peramalan (forecasting) yang berasal dari luar organisasi/eksternal. Sumber eksternal yang dimaksud berasal dari praktik-praktik terbaik yang telah dilakukan di dalam industri (best practice).

c. Menegaskan Profil Risiko dan Rencana Manajemen Risiko

1) Identifikasi selera risiko organisasi (risk appetite), apakah

manajemen secara umum terdiri dari penghindar risiko (risk aveter), penerima risiko sewajarnya (risk natural), dan pencari

risiko (risk seeker).

(52)

42

2) Identifikasi visi strategik (Strategic vision) dari organisasi.

d. Solusi Risiko/Implementasi Tindakan Terhadap Risiko

1) Hindari (Avoidance), yaitu keputusan yang diambil adalah tidak melakukan aktivitas yang dimaksud.

2) Alihkan (Transfer), membagi risiko dengan pihak lain. Konsekuensinya terdapat biaya yang harus dikeluarkan atau berbagi keuntungan yang diperoleh.

3) Mitigasi Risiko (Mitige Risk), menerima risiko pada tingkat tertentu dengan melakukan tindakan untuk mitigasi risiko melalui peningkatan kontrol, kualitas proses, serta aturan yang jelas terhadap pelaksanaan aktivitas dan risikonya.

4) Menahan Risiko Residual (Retention of Residual Risk), menerima risiko yang mungkin timbul dari aktivitas yang dilakukan. Kesediaan menerima risiko dikaitkan dengan ketersediaan penyangga jika kerugian atas risiko terjadi.

e. Pemantauan dan Pengkinian/Kaji Ulang Risiko dan Kontrol

1) Seluruh entitas organisasi harus yakin bahwa strategi manajemen risiko telah diimplementasikan dan berjalan dengan baik.

2) Lakukan pengkinian dengan mengevaluasi dan menindaklanjuti

(53)

43

B.Mitigasi Risiko Pembiayaan

Mitigasi risko pembiayaan (kredit) adalah sejumlah teknik dan kebijakan dalam mengelola risiko kredit untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya atau dampak dari kerugian pembiayaan.24 Teknik yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

1. Melakukan Analisis Pembiayaan

Melakukan analisis pembiayaan merupakan salah satu mitigasi risiko pembiayaan yang wajib hukumnya dilakukan guna meminimalisir terjadinya risiko pembiayaan.

Menurut Rivai, analisa pembiayaan atau analisa kredit adalah penelitian yang dilakukan oleh bagian Account officer (AO) terhadap kelayakan perusahaan, kelayakan usaha nasabah, kebutuhan pembiayaan, kemampuan menghasilkan laba, sumber pelunasan pembiayaan serta jaminan yang tersedia untuk meng-cover permohonan pembiayaan.25

Tujuan dari analisa pembiayaan adalah untuk memperoleh keyakinan apakah usaha nasabah layak, nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara baik.

Dalam melakukan analisa pembiayaan, pihak bank menggunakan metode 5C, yaitu :

a. Character (Karakter)

24 Bambang Rianto Rustam. Manajemen Risiko… 109.

(54)

44

Analisa ini merupakan analisa kualitatif yang tidak dapat

dideteksi secara numerik. Kesalahan dalam menilai karakter calon nasabah dapat berakibat fatal pada kemungkinan pembiayaan terhadap orang yang beritikad buruk seperti penipu, dan lain-lain. b. Capacity (Kemampuan)

Kapasitas calon nasabah sangat penting diketahui untuk memahami kemampuan seseorang untuk berbisnis. Untuk perusahaan, hal ini dapat terlihat dari laporan keuangan dan past performance usaha. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan

perusahaan memenuhi semua kewajibannya termasuk pembayaran pelunasan pembiayaan.

c. Capital (Modal)

Analisa modal diarahkan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keyakinan calon nasabah terhadap usahanya sendiri.

d. Condition (Kondisi)

Analisa diarahkan pada kondisi sekitar yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap usaha calon nasabah. e. Collateral (Jaminan)

(55)

45

yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis (penjamin).

2. Model Pemeringkatan Untuk Pembiayaan Perorangan

Pembiayaan yang diberikan bank syari’ah dapat menjadi bermasalah, kecuali bank syari’ah mengimplementasikan kebijakan pemberian pembiayaan yang sehat. Sebagai langkah awal, perlu dikreasikan model pemeringkatan pembiayaan sebagai sarana untuk menetapkan kemungkinan terjadi default. Modek pemeringkatan pembiayaan diharapkan memberikan gambaran terjadinya probability of default (PD= peluang suatu pembiayaan menjadi macet). Model pemeringkatan ini akan memberikan keyakinan kepada bank syari’ah untuk tidak mengkonsentrasikan portofolionya pada pembiayaan yang berkualitas rendah. Selain itu, model pemeringkatan ini merupakasn sebuah upaya untuk menanggulangi pembiayaan macet.

Pemeringkatan pembiayaan ini adalah seuatu kategori yang sistematis umumnya berbentuk rangkaian alphabet (seperti AAA, AA dll.) yang diberikan kepada debitur berdasarkan pada tingkat kemungkinan kegagalan debitur tersebut dalam memenuhi kewajiban yang timbul atas fasilitas pembiayaan yang ia terima. Tujuan pemeringkatan ini adalah

menfasilitasi keputusan pembiayaan yang lebih baik dan objektif.

Metodologi pemeringkatan dapat memakai pendekatan judgement,

Gambar

Tabel 2.3 : Opsi Restrukturisasi Pembiayaan …….……………………………….. 52
Gambar 3.2 : Alur Pengajuan Pembiayaan ………………………………………. 81
Tabel 1.1: Penelitian Terdahulu
Gambaran pembiayaan beserta risiko pembiayaan dijelaskan pada
+7

Referensi

Dokumen terkait

BPRS Bhakti Sumekar disajikan dalam beberapa jenis laporan terdiri dari laporan bulanan ke Bank Indonesia (BI) diantaranya (laporan neraca, laporan laba rugi,

 .. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep adalah produk dimana bank memberikan fasilitas pinjaman kepada nasabah dengan prinsip Qard} dengan jaminan berupa emas nasabah yang

BPRS Bhakti Sumekar disajikan dalam beberapa jenis laporan terdiri dari laporan bulanan ke Bank Indonesia (BI) diantaranya (laporan neraca, laporan laba rugi,

Bapak Novi Sujatmiko, ST selaku Direktur Utama PT Bank BPRS Bhakti Sumekar Sumenep serta para karyawannya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, dimana telah

Demikian pula halnya dengan keberadaan BPRS Bhakti Sumekar yang pada beberapa tahun yang lalu (2007-2008) pernah menempati urutan teratas untuk BPRS seluruh

Dengan demikian, lokasi yang strategis menjadi indikator yang mempengaruhi keputusan nasabah non muslim menabung di BPRS Bhakti Sumekar Sumenep.Di samping itu,

Chairil Anwar Sandy selaku Pimpinan pada BPRS Bhakti Sumekar KC Jember: Sudah dapat dibuktikan bahwasanya penerapan etika yang sesuai dengan syarat Islam tersebut sudah memberikan

Dengan data tersebut dalam perkembangan NPF di BPRS Bhakti Sumekar Kantor Cabang Jember dapat dilihat bahwa penurunan angka NPF disebabkan bisa jadi dari penerapan kebijakan relaksasi