MITIGASI RISIKO DALAM PEMBIAYAAN
MUR<ABAH}AH
(Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep)
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam Program Studi
Ekonomi Syari’ah
Oleh: Romaiki Hafni NIM: F04214058
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
ABSTRAK
Judul Tesis : Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan Mura>bah}ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep
Penyusun : Romaiki Hafni NIM : F04214058
Tesis yang berjudul “Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan Mura>bah}ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep) ini adalah hasil penelitian lapangan yang tujuannya untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah dan Bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah serta Bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan dalam menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
Penelitian ini merupakan field research dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan datanya menggunakan interview, observasi dan dokumentasi tentang mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Data yang telah terhimpun kemudian diolah dan dianalisis dengan pola pikir deskriptif-induktif.
Hasil penelitian ini adalah bahwa Implementasi manajemen risiko pada pembiayaan Mura>ba}hah di PT BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep hanya dilakukan oleh 3 Unit, yaitu Pemasaran (Marketing), Pemproses/AO (Processing), dan yang terakhir Pemimpin (Leader). Ketiga unit ini melakukan program kerja dengan mengidentifikasi risiko, memonitoring risiko serta melakukan penyelamatan terhadap pembiayaan. Sedangkan teknik mitigasi yang digunakan dalam pembiayaan Mura>bah}ah meliputi: Memverifikasi Data Pembiayaan, Melakukan Analisis Pembiayaan dengan Metode 5C, Melakukan Surve Pembiayaan terhadap Usaha Nasabah dan Jaminan, Melakukan Manajemen Portofolio Pembiayaan, Melakukan Pengawasan terhadap Arus Kas terkait Usaha Nasabah, Men-cover Pembiayaan dengan Asuransi, Meminta Agunan, dan Memonitoring Usaha Nasabah Secara Intensif.
Adapun langkah dan solusi yang dilakukan untuk mengatasi pembiayaan Mura>ba}hah bermasalah di PT, BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep antara lain: Melakukan call kepada nasabah pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah, Melakukan kunjungan dan penagihan secara persuasif, Mencari win win solution kepada nasabah pembiayaan bermasalah, Memberikan SP (Surat Peringatan) kepada nasabah pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah, Melakukan Restrukturisasi Pembiayaan dari kolektibilitas kurang lancar meliputi: Rescheduling, Reconditioning, dan Restructuring, Bekerja sama dengan pihak Kejaksaan Negeri Sumenep melakukan pemanggilan nasabah, dan Mengekskusi jaminan dengan prosedur yang telah ditetapkan.
DAFTAR TRANSLITERASI ……….………. xv
BAB I PENDAHULUAN ………... 1
I. Sistematika Pembahasan ………,,,……… 26
BAB II MANAJEMEN RISIKO DAN PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH 27 A.Manajemen Risiko ………... 27
1. Definisi Risiko ………...…… 27
2. Definisi Manajemen Risiko ………...…… 28
3. Manajemen Risiko Perspektif Islam ………...…….. 29
4. Tujuan Manajemen Risiko ……… 33
5. Macam-macam Risiko dalam Perbankan Syari’ah …………..……. 34
6. Risiko Pembiayaan Perbankan Syari’ah ………. 38
7. Proses Manajemen Risiko ……… 40
B.Mitigasi Risiko Pembiayaan ………. 43
1. Melakukan Analisis Pembiayaan ……….……...……….. 43
2. Model Peningkatan untuk Pembiayaan Perorangan ………. 45
3. Manajemen Portofolio Pembiayaan ………... 46
4. Agunan ……….…. 47
5. Pengawasan Arus Kas ………..……... 48
6. Manajemen Pemulihan ……….….... 49
7. Asuransi ……….. 50
9. Meningkatkan Margin Pembiayaan ………... 53
C.Pembiayaan Mura>bah}ah………..…… 54
1. Konsep Dasar Pembiayaan ………...……. 54
2. Macam-Macam Pembiayaan Perbankan Syari’ah ……….. 56
3. Definisi Mura>bah}ah ……… 56
4. Landasan Hukum Mura>bah}ah ……….….…. 58
5. Rukun dan Syarat Mura>bah}ah ………...………… 61
6. Karakteristik Mura>bah}ah ……… 63
7. Mekanisme Pembiayaan Mura>bah}ah ……… 65
8. Risiko Pembiayaan Mura>bah}ah ………...……….. 66
BAB III MEKANISME PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP ………. 68
A.Profil BPRS Bhakti Sumekar………... 68
B.Mekanisme Pembiayaan Mura>bah{ah………... 79
1. Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar ………... 79
2. Syarat Penyaluran Dana ……….... 80
3. Prosedur Pembiayaan Mura>bah{ah ……… 81
4. Simulasi Pembiayaan Mura>bah{ah ……….. 87
BAB VI MITIGASI RISIKO PEMBIAYAAN MURA<BAH{AH DI PT. BPRS BHAKTI SUMEKAR KANTOR PUSAT SUMENEP………... 88
A.Implementasi Manajemen Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep ………. 88
B.Teknik Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep ………. 94
C.Langkah dan Solusi Menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep…. 108 BAB V PENUTUP ……… 114
A.Kesimpulan ……….……….. 114
B.Saran ………...………… 115
DAFTAR PUSTAKA ……….…… 116
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1.1 : Penelitian Terdahulu……….………... 17
Tabel 2.1 : Pembiayaan dan Risikonya …………..………... 39
Tabel 2.2 : Pembiayaan dan Penyebab Macet …….………. 40
Tabel 2.3 : Opsi Restrukturisasi Pembiayaan …….……….. 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 2.1 : Mekanisme Pembiayaan Mura>bah}ah ……… 65
1 BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Bank merupakan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan,
artinya usaha perbankan selalu berkaitan dengan masalah bidang keuangan.
Usaha perbankan meliputi tiga kegiatan utama yaitu menghimpun dana,
menyalurkan dana dan memberikan jasa bank lainnya.1
Jenis-jenis bank sendiri dengan jelas diatur dalam UU Nomor 10
Tahun 1998 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, dimana terdapat dua jenis bank yaitu Bank Umum dan Bank
Pengkreditan Rakyat. Terdapat dua klasifikasi bagi kedua jenis bank tersebut
dalam menjalankan kegiatan usahanya yaitu beroperasi secara konvensional
dan beroperasi sesuai dengan prinsip syari’ah. Bank konvensial merupakan
bank yang dalam penentuan harganya menggunakan bunga sebagai balas jasa.2
Beda halnya dengan Bank Syari’ah yang tidak menerapkan sistem bunga
dalam operasionalnya.
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syari’ah, bank syari’ah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya
berdasarkan prinsip syari’ah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum
Syari’ah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah. Bank Umum Syari’ah
adalah Bank Syari’ah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran, sedangkan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah adalah Bank
2
Syari’ah yang kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.3
Dalam perjalanannya sampai saat ini, Perbankan Syari’ah mengalami
perkembangan yang sangat pesat. Di Indonesia sendiri Perbankan Syari’ah
terus mengalami perkembangan. Menurut Statistik Bank Indonesia, sampai
bulan Desember 2015, jumlah bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syari’ah menjadi 12 Bank Umum Syari’ah, 22 Unit Usaha
Syari’ah dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah.4
Bisnis adalah suatu aktivitas yang selalu berhadapan dengan risiko.
Dengan memperhatikan tingkat persaingan industri perbankan yang semakin
ketat, institusi yang terlibat dalam industri itu harus mampu menunjukkan
daya saing yang tinggi. Tingkat risiko bisnis dan pengelolaan risiko akan
menjadi faktor yang menentukan dalam perkembangan perbankan syari’ah
dalam menghadapi persaingan secara global.5
Manajemen risiko perbankan di Indonesia pada mulanya kurang
mendapat perhatian yang serius dan proporsional hingga akhir terjadinya
krisis moneter di Indonesia. Hal ini terindikasi dari kurangnya perhatian bank
untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko sebagai bagian dari
manajemen perbankan, sedikit bank yang membentuk komite manajemen
risiko dan menempatkannya pada posisi strategis bank.
3 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah. 4 Statistik Perbankan Syari’ah (SPS) Desember 2015.
5 Viethzal Rivai dan Rifki Ismal, Islamic Risk Management for Islamic Bank (Jakarta: PT
3
Belajar dari krisis perbankan di Indonesia pada tahun 1998, maka
memasuki tahun 2003 manajemen risiko menjadi perhatian yang sangat serius
di Indonesia. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.5/8/PBI/2003
tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, merupakan wujud
keseriusan Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan.
Keseriusan tersebut lebih dipertegas lagi dengan dikeluarkannya
Peraturan Bank Indonesia No.7/25/PBI/2005 pada Agustus 2005 tentang
Sertifikasi Manajemen Risiko bagi Pengurus dan Pejabat Bank Umum, yang
mengharuskan seluruh pejabat bank dari tingkat terendah hingga tertinggi
memiliki sertifikasi manajemen risiko sesuai dengan tingkat jabatannya.
Kedua peraturan tersebut dilengkapi dengan Peraturan Bank
Indonesia No.8/4/PBI/2006 yang disempurnakan dengan Peraturan Bank
Indonesia No.8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
Governance bagi Bank Umum, yang menunjukkan keseriusan Bank Indonesia
dalam meminta pengurus perbankan agar taat menerapkan manajemen risiko
guna melindungi kepentingan stakeholder.6
Selanjutnya Bank Indonesia secara eksplisit mengeluarkan peraturan
tentang manajemen risiko Bank Umum Syari’ah dan Unit Usaha Syari’ah
pada tahun 2011 yaitu dengan diterbitkanya Peraturan Bank Indonesia Nomor
13/23/PBI/2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum
Syari’ah dan Unit Usaha Syari’ah.
6 Ferry N. Idrous, Manajemen Risiko Perbankan: Pemahaman Pendekatan Pilar Kesepakatan
4
Manajemen risiko sendiri didefinisikan sebagai suatu metode logis
dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap,
menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang
berlangsung pada setiap aktivitas atau proses.7
Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2013, jenis risiko
yang dihadapi perbankan meliputi Risiko Pembiayaan/Kredit, Risiko Pasar,
Risiko Likuiditas, Risiko Operasional, Risiko Reputasi, Risiko Hukum,
Risiko Stategik, dan Risiko Kepatuhan.
Dari berbagai risiko tersebut, risiko pembiayaan merupakan risiko
yang paling mendominasi di perbankan, tak terkecuali di perbankan syari’ah.
Risiko Pembiayaan adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain
dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang
disepakati.
Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi bank syari’ah
untuk mengembangkan serangkaian prosedur dan metodologi untuk
mengidentifikasi risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank serta mengambil
sebuah teknik dan kebijakan dalam mengelola risiko pembiayaan untuk
meminimalisir kemungkinan terjadinya kerugian, yang dikenal dengan istilah
mitigasi risiko pembiayaan.
Salah satu fungsi utama bank syari’ah adalah menyalurkan dana.
Penyaluran dana yang dilakukan oleh bank syari’ah adalah pemberian
pembiayaan kepada debitur yang membutuhkan, baik untuk modal usaha
5
maupun untuk konsumsi. Produk pembiayaan syari’ah terbagi dalam empat
kategori yang dibedakan berdasarkan tujuan pengunaannya. Produk
pembiayaan tersebut antara lain adalah pembiayaan dengan prinsip bagi hasil
(Mud}a>rabah atau Mus}a>rakah), pembiayaan dengan prinsip jual (Mura>bah{ah),
pembiayaan dengan prinsip sewa, dan pembiayaan dengan akad pelengkap.8
Mura>bah{ah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga
perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual (bank
syari’ah) dan pembeli (nasabah).9
Mura>bah{ah ini merupakan produk pembiayaan yang lebih cenderung
digunakan untuk jenis pembiayaan konsumtif dengan waktu yang relatif
pendek, namun ada juga yang digunakan untuk pembiayaan produktif seperti
pembiayaan modal kerja dan lain sebagainya. Mura>bah{ah adalah model
pembiayaan yang sangat populer di dunia perbankan di Indonesia. Hal ini
dikarenakan produk Mura>bah{ah dianggap sebagai produk yang mudah
diaplikasikan dan mempunyai tingkat risiko yang relatif kecil. Namun pada
kenyataannya, produk Mura>bah{ah tidak semudah apa yang kita pikirkan
maupun yang kebanyakan orang pikirkan. Produk Mura>bah{ah ternyata tidak
sepenuhnya bebas risiko. Risiko pembiayaan bukan hanya bergantung pada
jenis produk yang ditawarkan akan tetapi juga sangat bergantung dari nilai
nominal, waktu pembiayaan, terkonsentrasi pada satu bidang bisnis saja dan
variabel-variabel lainnya. Selain itu, tidak adanya perubahan margin ketika
8 Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Graha
Persada, 2011), 97.
9 M. Sulhan dan Ely Siswanto, Manajemen Bank Konvensional dan Syari’ah (Malang: UIN
6
cuaca ekonomi tidak bagus, juga menciptakan risiko tersendiri pada bank
syari’ah.
PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep merupakan salah
satu bank yang menggunakan akad Mura>bah{ah dalam produk pembiayaannya
yang dikemas dengan produk pembiayaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan
Menengah) dan Pembiayaan Konsumtif. Pembiayaan UMKM ini dalam
operasionalnya bisa menggunakan akad Mura>bah{ah atau Mud{a>rabah. Akan
tetapi, pembiayaan ini didominasi oleh akad Mura>bah{ah yang mana
perbandingannya sampai 60 % daripada akad Mud}arabah.10 Lain lagi halnya
dengan pembiayaan konsumtif yang notabene seluruh akadnya menggunakan
akad Mura>bah{ah.
PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep yang dulunya bernama PT. BPR
DANA MERAPI didirikan berdasarkan akta notaris Yanita Poerbo SH No 64
tanggal 30 Juli 1992. Dalam perkembangannya PT. BPR Dana Merapi telah
mengalami perubahan nama menjadi PT. BPR Bhakti Sumekar dengan Akte
Nomor 24 tanggal 16 September 2002 oleh Notaris Karuniawan Surjanto, SH
notaris di Sidoarjo dan Persetujuan dari Bank Indonesia
no.04/8/KEP/PBI/sb/2002 tanggal 11 Nopember 2003.11
Sebagai industri perbankan, BPRS memiliki risiko yang lebih tinggi
daripada lembaga keuangan lainnya. Karena itu, industri perbankan pada
hakikatnya adalah industri yang paling banyak diatur dan diawasi (highly
10 Anton, Wawancara, Sumenep, 16 Maret 2016.
11 Status dan Riwayat Hukum, dalam
7
regulated and upervised industy). Pengawasan ketat ini tentu saja dapat
dipahami karena dana-dana yang dihimpun dari masyarakat dan
dikembangkan lewat berbagai bentuk pembiayaan dan investasi harus
dipertanggungjawabkan kepada pemiliknya dalam bentuk return yang positif.
Jika return ini tidak dapat dicapai, maka nasabah sebagai pemilik dana dan
bank sebagai pengelola dana akan mengalami kerugian.
Berdasarkan publikasi Statistik Bank Indonesia pada Desember 2015,
rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perbankan
syari’ah adalah 4,84 %. Sedangkan pada Oktober dan November 2015
mencapai 5,16 dan 5,13 %, melebihi ketentuan BI yang mematok NPF
maksimal adalah 5 %. Hal ini juga terjadi pada BPRS, NPF BPRS pada
Desember 2015 adalah 8,20 %, pada November 2015 mencapai 9,69 % dan
pada Oktober 2015 bahkan mencapai 10, 01 %.12
Sampai saat ini, PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep telah memiliki
SOM (Standar Operasional Manajemen), termasuk tentang menajemen risiko
pembiayaan. Berdasarkan laporan keuangannya, NPF di BPRS Bhakti
Sumekar Sumenep pada Maret 2015 dan Maret 2016 adalah 1,71 % dan 2,34
%.13 Sedangkan NPF pada Desember 2014 dan Desember 2015 adalah 1,24 %
dan 1,36 %.14
Kerugian akibat risiko pembiayaan harus ditutupi oleh bank syari’ah,
termasuk BPRS, dengan pencadangan/penyediaan modal (capital charger).
12 Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Desember 2015.
8
Semakin besar kerugian yang diakibatkan oleh risiko pembiayaan, maka
semakin besar pula modal yang harus dicadangkan. Jika modal yang
dicadangkan habis untuk menutupi kerugian tersebut, maka bank akan
menghadapi kesulitan dan ketidakpercayaan masyarakat.
Oleh karena itu, bank syari’ah harus mengelola dan memanaj risiko
pembiayaan dengan baik dan memiliki teknik mitigasi risiko pembiayaan yang
tepat. Arah penelitian ini adalah untuk mengalisis secara mendalam dan
mengevaluasi bagaimana implementasi manajemen dan teknik mitigasi risiko
pembiayaan di PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep dalam meminimalisir
risiko pembiayaan Mura>bah{ah, serta bagaimana langkah dan solusi yang akan
dilakukan untuk menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk
mengadakan penelitian yang berjudul: “Mitigasi Risiko dalam Pembiayaan
Mura>bah{ah (Studi di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep)”.
B.Identifikasi dan Batasan Masalah
Permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam latar belakang
masih bersifat global sehingga tentunya dalam penelitian ini perlu melakukan
identifikasi masalah, yaitu:
1. Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah
2. Mura>bah{ah merupakan akad yang paling banyak digunakan dalam produk
9
3. Implementasi dan Implikasi Mitigasi Risiko Pembiayaan Mura>bah{ah di PT.
BPRS Bhakti Sumekar Sumenep
4. Langkah dan solusi menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah
5. Mura>bah{ah adalah salah satu produk dengan tingkat risiko NPF yang cukup
tinggi, padahal ia dianggap sebagai akad yang minim risiko
6. Secara regulasi, Mura>bah{ah tidak memiliki landasan hukum yang jelas dan
khusus dalam al-Quran maupun hadit}h
Dari beberapa masalah yang diidentifikasi, penelitian ini dibatasi
pada:
1. Implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS
Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
2. Teknik mitigasi yang digunakan oleh PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor
Pusat Sumenep dalam meminimalisir risiko pembiayaan Mura>bah{ah.
3. Langkah dan Solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor
Pusat Sumenep untuk menanggulangi pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah.
C.Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT.
BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep?
2. Bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS
10
3. Bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS Bhakti
Sumekar Kantor Pusat Sumenep dalam menanggulangi pembiayaan
Mura>bah{ah bermasalah?
D.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menganalisis bagaimana implementasi manajemen risiko pembiayaan
Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
2. Menganalisis bagaimana teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di
PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
3. Menganalisis bagaimana langkah dan solusi yang dilakukan oleh PT. BPRS
Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep dalam menanggulangi pembiayaan
Mura>bah{ah bermasalah.
E.Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Menambah wawasan keilmuan tentang teknik mitigasi risiko
pembiayaan Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat
Sumenep.
2. Secara Praktis
a. Bagi Pihak PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep
Penelitian ini berguna untuk mengetahui seberapa efektif mitigasi
11
Sumenep dan memberikan informasi, masukan dan evaluasi yang
bermanfaat terkait dengan mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah.
b. Bagi Akademisi
Penelitian ini juga diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi
Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya,
terutama program studi Ekonomi Syari’ah sebagai pengembangan
wawasan keilmuan serta mampu memberikan motivasi kepada
peneliti-peneliti selanjutnya agar mampu melakukan peneliti-penelitian mengenai
mitigasi risiko pembiayaan di perbankan syari’ah yang lebih
komperehensif, menarik dan aktual.
c. Bagi Pembaca
Penelitian ini semoga dapat berguna dan dapat dijadikan rujukan
atau referensi sumber informasi bagi para penulis atau peneliti lain yang
ingin membahas lebih lanjut mengenai mitigasi risiko pembiayaan di
perbankan syari’ah.
F. Kerangka Teoritik
1. Manajemen Risiko
Menurut Badan Sertifikasi Manajemen Risiko, risiko didefinisikan
sebagai kemungkinan akan terjadinya hasil yang tidak diinginkan yang
dapat menimbulkan kerugian apabila tidak diantisipasi serta tidak dikelola
semestinya.15
15 Sri Indah Nikensari, Perbankan Syari’ah (Prinsip, Sejarah dan Aplikasinya) (Semarang: PT.
12
Manajemen Risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang
bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai
permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan
menajemen secara komprehensif dan sistematis.16 Dalam proses manajemen
risikonya, Perbankan Syari’ah melakukan identifikasi, pengukuran,
pemantauan dan pengendalian terhadap risiko yang ada.
2. Mitigasi Risiko Pembiayaan
Bambang Rianto Rustam dalam bukunya “Manajemen Risiko
Perbankan Syari’ah di Indonesia” menulis bahwa Lembaga Industri
keuangan seperti halnya perbankan syari’ah sarat akan berbagai macam
risiko dalam segala aspek operasionalnya. Dalam hal ini diperlukan adanya
manajemen risiko yang baik dan komperehensif. Salah satunya adalah
kebijakan mitigasi risiko pembiayaan dalam meminimalisir risiko
peembiayaan.
Mitigasi risiko pembiayaan adalah sejumlah teknik dan kebijakan
dalam mengelola risiko pembiayaan untuk meminimalisir kemungkinan
terjadinya atau dampak dari kerugian pembiayaan. Teknik yang dapat
digunakan adalah sebagai berikut:17
1. Model peningkatan untuk pembiayaan perorangan
2. Manajemen portofolio pembiayaan
3. Agunan
16 Irham Fahmi, Manajemen Risiko (Teori, Kasus, dan Solusi) (Bandung: ALFABETA, cv, 2014),
2-3.
17 Bambang Rianto Rustam, Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah di Indonesia (Jakarta:
13
4. Pengawasan arus kas
5. Manajemen pemulihan
6. Asuransi
G.Penelitian Terdahulu
Kajian pustaka adalah deskripsi singkat tentang kajian atau penelitian
yang sudah pernah dilakukan seputar masalah yang diteliti sehingga terlihat
jelas bahwa kajian yang dilakukan ini bukanlah pengulangan atau duplikasi
dari kajian atau penelitian tersebut.
Berikut adalah penelitian sebelumnya dengan tema manajemen risiko
perbankan:
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Mukhsinun (2015) dengan
judul: “Evaluasi Manajemen Risiko Produk Mud}a>rabah dan Musha>rakah
Dalam Meminimalisir Risiko Pembiayaan Bagi Hasil (Studi Kasus pada BPD
DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta).” Jenis
penelitian ini adalah penelitian lapangan (Field Research). Hasil penelitiannya
adalah pembiayaan Mud}a>rabah pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank
Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta disalurkan dengan menerapkan linkage
program. Penerapan linkage program ini bertujuan untuk mengurangi
tingginya risiko dari pembiayaan berbasis bagi hasil. Pola pembiayaan
musyarakah pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri
Cabang Yogyakarta dapat menjadi solusi alternative atas masalah over
14
dengan menyalurkannya pada sektor rill. Proses penanganan pembiayaan
bermasalah dilakukan dengan kolektabilitas pembiayaan, yaitu dengan
pembiayaan lancar, pembiayaan potensial bermasalah atau pembiayaan yang
kurang lancar, pembiayaan diragukan atau macet.18
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Dian Rosalia Pradini (2011)
dengan judul “Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan dan Pengaruhnya
Terhadap Laba.” Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode
analisis deskriptif, analisis korelasi, dan analisis linier berganda. Data yang
diperoleh dari data primer (sumber utama) dan data sekunder (studi literartur,
buku yang relevan). Kesimpulan yang diperoleh adalah factor-faktor yang
mempengaruhi risiko pembiayaan diantaranya adalah factor internal (SDM,
teknologi indormasi) dan faktor eksternal (kebijakan pemerintah, peminjam).
Kemudian manajemen risiko pembiayaan yang dilakukan untuk
mengendalikan risiko adalah dengan cara preventive control of finance seperti
penetapan prosedu, kebijakan pembiayaan, asuransi, dan repressive control of
finance seperti proses revitalisasi dan penyelesaian melalui jaminan.19
Ketiga, Penelitian yang dilakukan oleh Muslimah Mattjik (2011)
dengan judul: “Analisis Pengukuran risiko Pembiayaan dengan Model Standar
dan Internal Pada BPRS Harta Insan Karimah.” Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data seluruh jenis pembiayaan pada BPRS Harta Insan
18 Mukhsinun, “Evaluasi Manajemen Risiko Produk Mud}a>rabah dan Musha>rakah Dalam
Meminimalisir Risiko Pembiayaan Bagi Hasil (Studi Kasus pada BPD DIY Cabang Syari’ah dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta)” (Tesis—UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2015), vi.
19 Dian Rosalia Pradini, “Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan dan Pengaruhnya Terhadap
15
Karimah pada tahun 2008, 2009 dan 2010. Model internal dilakukan dengan
metode CreditRisk+, sedangkan model standar dilakukan dengan menghitung
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) berdasarkan PBI 8/22/PBI/2006
tentang kewajiban penyediaan Modal Minimum BPRS Berdasarkan Prinsip
Syari’ah. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa modal yang harus
dicadangkan untuk menutup kerugian akibat risiko pembiayaan dengan model
internal lebih kecil daipada dengan model standar. Dibandingkan dengan
actual loss yang terjadi, model internal lebih akurat dibandingkan dengan
model standar. Maka BPRS Harta Insan Karimah dapat menghemat modal
yang harus dicadangkan sebesar 72,5% pada tahun 2008, 75,3% pada tahun
2009, dan 83,8% pada tahun 2010.20
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Eka Jati Rahayu Firmansyah
(2015) dengan judul “Manajemen Resiko Pada Produk Pembiayaan Kepemilikan Rumah (KPR) iB (Studi Pada PT. Bank BRI Syari’ah Kantor
Cabang Yogyakarta Yos Sudarso)”. Penelitian ini termasuk dalam jenis
penelitian kualitatif-deskriktif dan teknik pengambilan samplenya
menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukan PT. Bank
BRI Syari’ah Kantor Cabang Yogyakarta melakukan analisa terhadap produk
Pembiayaan Kepemilikan Rumah dengan menanalisa calon nasabah melalui
character, Capital, Capacity, Collateral dan Condition of Economic.
Manajemen risiko pembiayaan Kepemilikan Rumah di PT. Bank BRI Syari’ah
Kantor Cabang Yogyakarta diwujudkan dengan cara: (1). Melakukan mitigasi
20 Muslimah Mattjik, “Analisis Pengukuran risiko Pembiayaan dengan Model Standar dan
16
risiko pada akad perseorangan produk pembiayaan dengan menentukan target
market, scoring, penentuan repayment capacity (RPC), penentuan Batas
Wewenang Persetujuan Pembiayaan (BWPP) (2). Akad mura>bah}ah
menjadikan angsuran nasabah tetap sampai akhir periode sehingga jika terjadi
kenaikan rate pada produk Dana Pihak Ketiga (DPK) akan menimbulkan miss
match. Keaadaan tersebut dimitigasi oleh PT. Bank BRI Syari’ah dengan cara
Menentukan margin pembiayaan lebih tinggi dengan competitor dan
Melakukan perubahan tarif margin untuk nasabah baru. (3). Pengelolaan risiko
dilakukan dengan menghindari risiko, penahanan risiko, penyebaran risiko,
pengalihan risiko, pengendalian risiko dan pendanaan risiko.21
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Rahmani Timorita Yulianti
(2009) dengan judul “Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah”. Penelitian ini
membahas tentang pentingnya penerapan manajemen risiko di perbankan
syari’ah yang berkesimpulan bahwa kapasitas manajemen risiko yang efisien
adalah bagaimana bank Syari’ah mampu menempatkan posisi secara strategis
dalam pasar global dengan mereduksi semua risiko. Tidak adanya sistem
manajemen risiko yang sehat dan kuat dapat menghilangkan bank Syari’ah
dari kemampuannya dalam mengatasi risiko, dan dapat mengurangi kontribusi
potensialnya. Sumber daya yang memadai juga perlu dicurahkan untuk
pengukuran dan identifikasi risiko serta pengembangan teknik-teknik
21
Eka Jati Rahayu Firmansyah, “Manajemen Resiko Pada Produk Pembiayaan Kepemilikan
Rumah (KPR) iB (Studi Pada PT. Bank BRI Syari’ah Kantor Cabang Yogyakarta Yos Sudarso)”
17
manajemen risiko. Selain itu, peran DPS di bank Syari’ah harus benar-benar
dioptimalkan.22
Dari hasil penelitian terdahulu, tampak membahas tentang
manajemen risiko perbankan syari’ah utamanya risiko pembiayaan, akan
tetapi pebedaan mendasar antara penelitian terdahulu dengan penelitian
sekarang terletak pada variable dan objek penelitiannya. Dimana penelitian ini
secara spesifik akan membahas tentang teknik mitigasi risiko pembiayaan
Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep untuk
kemudian dianalisis dengan harapan menjadi bahan informasi dan evaluasi
menuju kearah yang lebih baik.
Untuk lebih jelasnya terkait perbedaan penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya, bisa lihat Tabel berikut:
Tabel 1.1: Penelitian Terdahulu
Pembiayaan Mud}a>rabah pada BPD DIY Cabang Syari’ah
dan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Yogyakarta disalurkan dengan menerapkan linkage program. Penerapan linkage program ini bertujuan untuk mengurangi tingginya risiko dari pembiayaan berbasis bagi hasil.
Pola pembiayaan musyarakah pada BPD DIY Cabang
Syari’ah dan Bank Syari’ah
Mandiri Cabang Yogyakarta
dapat menjadi solusi
alternative atas masalah over
22Rahmani Timorita, “Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah”, La_Riba Jurnal Ekonomi Islam,
18
Cabang Yogyakarta)
likuiditas yang saat ini terjadi. Kondisi over likuiditas ini
dapat disiasati dengan
menyalurkannya pada sektor rill.
Proses penanganan
pembiayaan bermasalah
dilakukan dengan
kolektabilitas pembiayaan, yaitu dengan pembiayaan lancar, pembiayaan potensial bermasalah atau pembiayaan
yang kurang lancar,
tahun 2009, dan 83,8% pada tahun 2010.
Capacity, Collateral dan
ConditionofEconomic.
Manajemen risiko pembiayaan menentukan target market,
scoring, penentuan repayment capacity (RPC), penentuan Batas Wewenang Persetujuan Pembiayaan (BWPP) (2). Akad mura>bah}ah menjadikan angsuran nasabah tetap sampai akhir periode sehingga jika terjadi kenaikan rate pada produk Dana Pihak Ketiga dengan competitor dan Melakukan perubahan tarif
margin untuk nasabah baru. (3). Pengelolaan risiko
perbankan syari’ah yang berkesimpulan bahwa
peran DPS di bank Syari’ah
harus benar-benar dioptimalkan
H.Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach), dengan
menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor
Pusat Sumenep yang beralamat di jalan Trunojoyo no. 137, Sumenep Jawa
21
3. Data yang dikumpulkan
Data yang dihimpun dalam penelitian ini adalah:
a. Data Primer
1) Hasil wawamcara data lapangan dan obeservasi tentang penerapan
manajemen risiko, teknik mitigasi yang digunakan dalam pembiayaan
Mura>bah{ah, serta langkah dan solusi menanggulangi pembiayaan
Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
2) Profil PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep dan
dokumen-dokumen terkait mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah di
PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
b. Data Sekunder berupa hasil penelitian, buku dan jurnal tentang risk
management dan mitigasi risiko pembiayaan serta pembiayaan
Mura>bah{ah di perbankan syari’ah.
4. Sumber Data
Untuk menggali kelengkapan data tersebut, maka diperlukan
sumber-sumber data sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data tempat diperolehnya
secara langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat
pengukur atau alat pengambil data langsung pada subjek sebagai sumber
informasi yang dicari. Sumber utama penelitian ini adalah dari pihak PT.
BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Peneliti akan menggali
22
Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep. Sumber data primer di sini
berupa dokumen-dokumen yang terkait dengan mitigasi mitigasi risiko
dalam pembiayaan Mura>bah{ah.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data kedua sesudah sumber
data primer.23
Sumber data sekunder merupakan data pendukung yang berasal
dari seminar, buku-buku maupun literatur lain meliputi:
1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syari’ah.
2) Statistik Perbankan Syari’ah Desember 2015
3) Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Adiwarman A. Karim.
4) Manajemen Risiko (Teori, Kasus, dan Solusi), Irham Fahmi.
5) Perbankan Syari’ah (prinsip, sejarah dan aplikasinya), Sri Indah
Nikensari.
6) Manajemen Risiko Perbankan Syari’ah di Indonesia, Bambang Rianto
Rustam.
7) Islamic Risk Management For Islamic Bank, Veithzal Rivai dan Rifki
Ismal.
8) Manajemen Bank Konvensional dan Syari’ah, Sulhan dan Ely
Siswanto. Dll.
23 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif
23
5. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pengumpulan
data sebagai berikut:
a. Observasi\
Yang dimaksud dengan observasi adalah peneliti akan melakukan
kunjungan atau melakukan pengamatan langsung ke lokasi penelitian.
Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data secara langsung
karena dapat memperoleh data yang secara utuh dan akurat.
b. Interview
Yaitu melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan
sehubungan kaitannya dengan permasalahan dalam penelitian ini.
c. Dokumentasi
Yaitu pengambilan data tentang pembiayaan Mura>bah{ah dan
murdharabah dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah ,
sehingga data tersebut dapat dijadikan sebagai masukan yang
berhubungan dengan pokok pembahasan.24
6. Teknik Pengolahan Data
Setelah data berhasil dihimpun dari lapangan atau penulisan, maka
peneliti menggunakan teknik pengolahan data dengan tahapan sebagai
berikut:
24
a. Editing, yaitu pemeriksaan kembali dari semua data yang diperoleh
terutama dari segi kelengkapannya, kejelasan makna, keselarasan
antara data yang ada dan relevansi dengan penelitian.25 Dalam hal ini
penulis akan mengambil data yang akan dianalisis dengan rumusan
masalah saja.
b. Organizing, yaitu menyusun kembali data yang telah didapat dalam
penelitian yang diperlukan dalam kerangka paparan yang sudah
direncanakan dengan rumusan masalah secara sistematis.26 Penulis
melakukan pengelompokan data yang dibutuhkan untuk dianalisis
dan menyusun data tersebut dengan sistematis untuk memudahkan
penulis dalam menganalisa data.
c. Penemuan Hasil, yaitu dengan menganalisis data yang telah diperoleh
dari penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai kebenaran
fakta yang ditemukan, yang akhirnya merupakan sebuah jawaban dari
rumusan masalah.27
7. Teknik Analisis Data
Data yang telah berhasil dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis
secara deskriptif kualitatif, yaitu analisis yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati dengan metode yang telah ditentukan.28 Tujuan dari
25 Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif Kuantitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta,
2010. 243.
26 Ibid., 245. 27 Ibid., 246.
25
metode ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran mengenai objek
penelitian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.29
Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan pola pikir
induktif yang berarti pola pikir yang berpijak pada fakta-fakta yang bersifat
khusus kemudian diteliti, dianalisis dan disimpulkan sehingga pemecahan
persoalan atau solusi tersebut dapat berlaku secara umum. Fakta-fakta yang
dikumpulkan adalah kebijakan mitigasi risiko pembiayaan mura>bahah.
Peneliti mulai memberikan pemecahan persoalan yang bersifat umum,
melalui penentuan rumusan masalah sementara dari observasi awal yang
telah dilakukan. Dalam hal ini penelitian dilakukan di PT. BPRS Bhakti
Sumekar Kantor Pusat Sumenep, sehingga ditemukan pemahaman terhadap
pemecahan persoalan dari rumusan masalah yang telah ditentukan.
Selain itu, peneliti juga melakukan analisis-evaluatif dan analisis
teknik dan kebijakan terhadap data yang terkumpul berupa teknik mitigasi
risiko pembiayaan dalam meminimalisir resiko pembiayaan mura>bahah dan
menanggulangi pembiayaan mura>bah}ah bermasalah, kemudian kebijakan
tersebut dimanfaatkan dalam rangka memecahkan masalah risiko
pembiayaan dan praktiknya di lapangan.
26
I. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pemahaman mengenai penelitian ini, peneliti
membagi ke dalam lima bab yang saling berhubungan dan berurutan secara
sistematis.
Bab pertama: menguraikan latar belakang permasalahan yang
menjadi pijakan peneliti untuk melakukan penelitian, dilanjutkan dengan
identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian,
kegunaan penelitian, kerangka teoritik, penelitian terdahulu, metode
penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua: menguraikan landasan teori yang berisikan tentang
konsep manajemen risiko, mitigasi risiko pembiayaan dan pembiayaan
Mura>bah{ah di perbankan syari’ah.
Bab ketiga: mendeskripsikan profil dan mekanisme pembiayaan
Mura>bah{ah di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep
Bab keempat: membahas tentang analisis penerapan menajemen
risiko pembiayaan Mura>bah{ah, teknik mitigasi risiko pembiayaan Mura>bah{ah,
langkah dan solusi menanggulangi risiko pembiayaan Mura>bah{ah bermasalah
di PT. BPRS Bhakti Sumekar Kantor Pusat Sumenep.
27 BAB II
MANAJEMEN RISIKO DAN PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH
A.Manejemen Risiko 1. Definisi Risiko
Secara umum, risiko didefinisikan sebagai bentuk-bentuk peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap kemampuan seseorang atau sebuah institusi untuk mencapai tujuannya. Bank Indonesia mendefinisikan risiko sebagai potensi terjadinya peristiwa (events) yang dapat
menimbulkan kerugian.1
Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Dengan redaksi lain
“Kemungkinan” itu sudah menunjukan adanya ketidakpastian.
Ketidakpastian itu merupakan kondisi yang menyebabkan timbulnya risiko. Kondisi yang tidak pasti itu timbul karena berbagai sebab, antara lain:2
a. Jarak waktu dimulai perencanaan atas kegiatan sampai kegiatan itu berakhir. Makin panjang jarak waktu makin besar ketidakpastiannya. b. Keterbatasan informasi yang diperlukan.
c. Keterbatasan pengetahuan, keterampilan, atau teknik mengambil keputusan.
d. Dan lain sebagainya
1 Robert Tampubolon, Risk Management (Manajemen Risiko): Pendekatan Kualitatif Untuk Bank Komersial (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2004), 19.
28
Risiko dalam lembaga keuangan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unanticipated) yang berdampak negatif terhadap
pendapatan dan permodalan lembaga keuangan. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dihindari tetapi dapat dikelola dan dikendalikan, oleh karena itu diperlukan serangkaian prosedur dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul.3
2. Definisi Manajemen Risiko
Manajemen risiko merupakan suatu cara, metode, atau ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai jenis risiko, bagaimana risiko itu terjadi dan mengelola risiko tersebut dengan tujuan agar terhindar dari kerugian.4 Idroes menjelaskan manajemen risiko dapat didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses.5
Menurut Darmawi, manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegagalan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan
3 Adiwarman A. Karim, Bank Islam, Analis Fiqih dan Keuangan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 255.
4 Hasbullah dan Yudistira, Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko Kredit di Perbankan dalam angka Good Corporate Governance, t.t.: t.p. 2004, 29.
29
efisiensi yang lebih tinggi.6 Menurut Smith, manajemen risiko
didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari suatu perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut.7
Sedangkan menurut COSO (Commite of Sponsoring Organization of the Treadway Commision), manajemen risiko (risk management) dapat diartikan sebagai “a process, effect by an entity’s board of directors,
management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that nay effect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance
regarding the achievement of entity objectives.”8 (manajemen risiko adalah
bagian penting dari bagian strategi manajemen semua perusahaan. Proses di mana suatu organisasi yang sesuai metodenya dapat menunjukkan risiko yang terjadi pada suatu aktifitas menuju keberhasilan didalam masing-masing aktifitas dari senua aktifitas. Fokus dari manajemen yang baik adalah indentifikasi dan cara mengatasi risiko).
3. Manajemen Risiko Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, manajemen risiko merupakan usaha untuk
menjaga amanah Allah akan harta kekayaan demi untuk kemaslahatan manusia. Berbagai sumber ayat al-Qur’an telah memberikan kepada
6 Herman Darmawi, Manajemen Risiko (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1999), 17.
7 Ismail Nawawi, Manajemen Risiko Teori dan Pengantar Praktik Bisnis, Perbankan Islam dan Konvensional (Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 39.
30
manusia akan pentingnya pengelolaan risiko ini. Keberhasilan manusia
dalam mengelola risiko, bisa mendatangkan maslahat yang lebih baik. Dengan timbulnya kemaslahatan ini maka bisa dimaknai sebagai keberhasilan manusia dalam menjaga amanah Allah.
Perspektif Islam dalam pengelolaan risiko dapat dikaji dari kisah Nabi Yusuf dalam mentakwilkan mimpi sang raja pada masa itu. Kisah mimpi sang raja termaktub dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 43 sebagai
berikut:9
ٍرْضُخ ٍتاُبُْس َعْبَسَو ٌفاَجِع ٌعْبَس نُهُلُكْأَي ٍناَِِ ٍتاَرَقَ ب َعْبَس ىَرَأ يِّإ ُكِلَمْلا َلاَقَو
َنوُرُ بْعَ ت اَيْؤرلِل ْمُتُْك ْنِإ َياَيْؤُر ِِ ِّوُتْ فَأ أَمْلا اَه يَأ اَي ٍتاَسِباَي َرَخُأَو
“Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yanggemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu
jika kamu dapat mena'birkan mimpi."
Sedangkan kisah Nabi Yusuf mentakwilkan mimpi sang raja dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 46-47 sebagai berikut:10
9 Al-Qur’an, 12: 43.
orang yang Amat dipercaya, Terangkanlah kepada Kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka
mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”
Dalam tafsir al-Mis}bah, M. Quraish Shihab menafsirkan bahwa Nabi Yusuf memahami tujuh ekor sapi sebagai tujuh tahun masa pertanian. Boleh jadi karena sapi digunakan membajak, kegemukan sapi adalah
lambang kesuburan, sedang sapi kurus adalah masa sulit dibidang pertanian, yakni masa paceklik. Bulir-bulir gandum lambang pangan yang tersedia. Setiap bulir sama dengan setahun. Demikian juga sebaliknya.11
Dari kisah tersebut, bisa dikatakan bahwa pada tujuh tahun kedua akan timbul kekeringan yang dahsyat. Ini merupakan suatu risiko yang menimpa negeri Yusuf tersebut. Namun dengan adanya mimpi sang raja yang kemudian ditakwilkan oleh Yusuf, maka kemudian Yusuf telah
32
melakukan pengukuran dan pengendalian atas risiko yang akan terjadi pada
tujuh tahun kedua tersebut. Hal ini dilakukan Yusuf dengan cara menyarankan kepada rakyat seluruh negeri untuk menyimpan sebagian hasil panennya pada panenan tujuh tahun pertama demi menghadapi paceklik pada tujuh tahun berikutnya. Dengan demikian maka terhindarlah bahaya kelaparan yang mengancam negeri Yusuf tersebut. Sungguh suatu pengelolaan risiko yang sempurna. Proses manajemen risiko diterapkan Yusuf melalui tahapan pemahaman risiko, evaluasi dan pengukuran, dan pengelolaan risiko.
Secara filosofi, demi melihat kisah Yusuf atas negerinya itu maka sejatinya manusia itu akan selalu menginginkan suatu kepastian, bukan suatu kemungkinan. Manusia akan selalu menginginkan kestabilan, bukan fluktuatif. Dan hanya ada satu dzat yang maha pasti dan maha stabil, yaitu Allah SWT. Ketika manusia berusaha untuk memperoleh kepastian sejatinya dia sedang menuju Allah SWT. Ketika manusia berusaha untuk menjaga kestabilan, sesungguhnya dia sedang menuju Allah SWT. Hanya Allah SWT yang stabil, tetap, abadi dan pasti, mutlak. Oleh karena itu, ketika manusia berusaha memenuhi segala hal dalam manajemen risiko, mengatur semua hal yang terkait dengan risiko, sejatinya manusia itu
sedang memenuhi panggilan Allah SWT.
33
kita untuk melakukan aktivitas dengan perhitungan yang sangat matang
dalam menghadapi risiko. 4. Tujuan Manajemen Risiko
Tujuan yang hendak dicapai dengan manajemen risiko adalah untuk menghindari perusahaan dari kegagalan, mengurangi pengeluaran, menaikkan keuntungan, menekan biaya produksi, dan sebagainya.12
Namun secara umum tujuan dari manajemen risiko ada dua, yaitu untuk menghindari risiko sebelum terjadinya kerugian (preloss objectives) dan mengatasi risiko setelah terjadinya kerugian (postloss objectives).13
Tujuan manajemen risiko bagi lembaga keuangan syari’ah antara
lain adalah:14
a. Menyediakan informasi tentang risiko kepada pihak regulator.
b. Memastikan bank tidak mengalami kerugian yang bersifat unaccepetable.
c. Meminimalisasi kerugian dari berbagai risiko yang bersifat uncontrolled.
d. Mengukur eksposur dan pemusatan risiko. e. Mengalokasi modal dan membatasi risiko.
12 A. Abbas Salim, Asuransi & Manajemen Risiko (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 201.
13 Hinsa Siahaan, Manajemen Risiko: Konsep, Kasus & Implementasi (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2007), 315.
34
5. Macam-Macam Risiko dalam Perbankan Syari’ah
Mengacu pada ketentuan Bank Indonesia PBI Nomor 13/23/PBI/2011 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syari’ah
dan Unit Usaha Syari’ah, terdapat 10 (sepuluh) risiko yang harus dikelola
bank.15 Kesepuluh jenis risiko tersebut adalah: a. Risiko Kredit
Risiko kredit merupakan bentuk risiko pembayaran yang muncul pada saat satu pihak bersepakat untuk membayar sejumlah
uang (misalnya, dalam akad Salam dan Istishna’) atau mengirimkan
barang (misalnya, dalam akad Mura>bah}ah) sebelum menerima aset atau uang cash-nya sendiri, sehingga menyebabkan terjadinya kerugian.16 Dalam kasus pembiayaan berbasis bagi hasil (Mud{{a>rabah
dan
Mus}a>rakah), risiko kredit adalah tidak terbayarnya kembali
bagian bank oleh pihak pengusaha ketika jatuh tempo.Masalah ini bisa muncul bagi bank akibat adanya kesenjangan
informasi (assimatric information), di mana mereka tidak mendapatkan informasi yang memadai tentang profit perusahaan yang sesungguhnya. Sementara akad Mura>bah}ah merupakan akad jual
beli atau perdagangan, di mana risiko kredit dapat muncul dari risiko pihak ketiga (counterparty risk), yaitu akibat buruknya kinerja
15PBI Nomor 13/23/PBI/2011 Tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syari’ah
dan Unit Usaha Syari’ah.
35
partner bisnis. Buruknya kinerja ini bisa disebabkan oleh
sumber-sumber sistematik eksternal. b. Risiko Pasar
Risiko pasar timbul karena pergerakan harga yang diharapkan seperti hasil (yield) risiko tingkat pengambilan. Peringkat benchmark
(risiko nilai bunga), nilai tukar mata uang (risiko RX), harga komoditas dan ekuitas (risiko harga) yang memiliki potensi risiko finansial sebuah asset panjang masa kontrak.17 Bank Islam lebih terbuka terhadap risiko pasar berkaitan dengan ketidakpastian dalam nilai aset yang diperdagangkan di pasar atau disewakan. Risiko berkaitan dengan ketidakpastian nilai pasar saat ini dan saat yang akan datang aset tertentu dikarenakan beberapa faktor risiko yang berbeda.
c. Risiko Operasional
Risiko operasional berkaitan dengan sistem tata kelola sebagai akibat ketidakmampuan atau kegagalan proses internal berhubungan dengan orang atau sistem atau dari eksternal.18 Risiko internal juga mencakup kegagalan teknologi, sistem dan model analisis. Risiko operasional cenderung menjadi signifikan dalam kasus bank Islam
berkaitan dengan fitur kontrafaktual bersama mereka dan lingkungan legal umum.
17 Ismail Nawawi, Perbankan Syari’ah Issu-issu Manajemen Fiqh Mu’amalah Pengkayaan Teori Menuju Praktik, (Jakarta: CV. Dwiputra Pustaka Jaya, 2012), 647-648.
36
d. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas dapat muncul karena sulitnya mendapat dana cash yang wajar, baik melalui pinjaman maupun melalui penjualan aset. Likuiditas penting bagi bank untuk menjalankan transaksi sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, memuaskan permintaan nasabah terhadap peminjaman, dan memberikan fleksibelitas dalam meraih kesempatan investasi yang menarik dan menguntungkan.
e. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan, adalah risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang undangan dan ketentuan lain yang berlaku.
f. Risiko Hukum
Risiko Hukum adalah sebuah risiko karena adanya sebuah perbedaan karakteristik akad atau kontrak keuangan, bank syari’ah
menghadapi risiko yang berhubungan dengan proses dokumentasi dan pelaksanaan hukum.19 Akibat tidak adanya kontrak bagi instrumen-instrumen keuangan yang ada, bank syari’ah harus menyiapkan hal ini berdasarkan pemahamannya terhadap bank syari’ah,
undang-undang yang berlaku, dan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.
37
g. Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko rasa percaya kepada bank Islam di mana klien karena tindakan atau manajemen yang tak tanggung jawab.20 Walaupun risiko fidusia dan syari’ah juga bersumber dari kelalaian dan ketidakpatuhan, risiko reputasi juga merupakan risiko karena perilaku tak tanggung jawab sebuah institusi dapat menodai reputasi bank Islam lain dalam industri tersebut.
h. Risiko Strategi
Risiko strategi adalah risiko ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategis serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.21
i. Risiko Imbal Hasil (Rate of Return Risk)
Risiko Imbal Hasil adalah Risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan Bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima Bank dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga Bank.
j. Risiko Investasi (Equity Investment Risk)
Risiko Investasi adalah Risiko akibat Bank ikut menanggung
kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis profit and loss sharing
20 Ismail Nawawi, Perbankan Syari’ah…, 646.
38
6. Risiko Pembiayaan dalam Perbankan Syari’ah
Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dalam Peraturan Bank Indonesia, manajemen risiko untuk perbankan syari’ah yang berlaku, manajemen risiko membedakan antara dua jenis gagal bayar dalam pembiayaan, yaitu sebagai berikut:
a. Yang mampu (gagal bayar sengaja)
b. Gagal bayar karena bangkrut, yaitu tidak mampu membayar kembali utangnya karena alasan-alasan yang diakui syari’ah.22
Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas bisnis bank. Pada sebagian besar bank, pemberian pembiayaan merupakan sumber risiko kredit yang terbesar. Selain pembiayaan, bank menghadapi risiko kredit dari berbagai instrumen keuangan seperti surat berharga, transaksi antar bank, transaksi pembiayaan perdagangan, transaksi nilai tukar dan derivatif, serta kewajiban komitmen dan kontingensi.
Risiko kredit dapat meningkat karena terkonsentrasinya penyediaan dana, antara lain pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Untuk itu, tujuan utama adanya Manajemen Risiko Kredit (MRK) adalah untuk memastikan bahwa
aktivitas penyediaan dana bank tidak terekspos pada risiko kredit yang dapat menimbulkan kerugian pada bank.
39
Secara umum risiko kredit dalam bank syari’ah merupakan
eksposur risiko utama dalam kegiatan operasional bank syari’ah. Sehingga kegiatan manajemen risiko sangatlah diperhatikan agar bank dapat melakukan kegiatan yang mendalam terhadap risiko-risiko yang ditimbulkan dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko tersebut.
Gambaran pembiayaan beserta risiko pembiayaan dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1:
Pembiayaan dan Risikonya
Pembiayaan Risiko
Mura>bah}ah Pembiayaan dalam jangka panjang menimbulkan risiko tidak dapat bersaing bagi hasil kepada dana pihak ketiga.
Ija>rah 1. Bila barang yang disewakan adalah milik bank, risikonya adalah tidak produktifnya aset ija>rah. 2. Bila barang yang disewakan bukan milik bank
risikonya adalah rusaknya barang oleh nasabah luar pemakaian normal. Oleh karena itu, diperlukan kovenan ganti rugi kerusakan barang yang tidak disebabkan oleh pemakaian normal. 3. Bila diberikan dalam bentuk jasa risikonya
adalah tidak perform-nya pemberi jasa. Oleh karena itu, diperlukan kovenan risiko itu merupakan tanggung jawab nasabah karena pemberi jasa dipilih oleh nasabah sendiri.
Ija>rah Muntahiyya bi al-tamlik
Bila pembayaran dengan menggunakan balloon payment, yakni pembayaran angsuran besar pada akhir periode risikonya adalah risiko ketidakmampuan nasabah untuk membayarnya. Risiko ini dapat diatasi dengan memperpanjang jangka waktu sewa.
Salam dan
Istis}na’ 1.2. Risiko gagal serah barang Risiko jatuhnya harga barang
40
Dalam risiko kredit dikenal pula moral hazard. Moral hazard
adalah ketidakhati-hatian petugas dalam menyalurkan pembiayaan. Pada risiko kredit moral hazard terjadi pada pembiayaan Mud{{a>rabah dan pembiayaan Mura>bah}ah. Dalam pembiayaan Mud{{a>rabah biasa terjadi moral hazard karena ketidaksempurnaan informasi petugas melihat level usaha
nasabah dan terbatasnya informasi produktivitas usaha. Sedangkan dalam pembiayaan Mura>bah}ah tingginya NPF (Non-Performing Financing) terjadi
karena kesalahan bank melakukan assessment debitur dan kurangnya monitoring nasabah. Sebagaimana hasil penelitian Edwin dan Williasih (2007) yang menemukan beberapa penyebab terjadinya pembiayaan macet di perbankan syari’ah. (Lihat Tabel 3)
Tabel 2.2:
Pembiayaan dan Penyebab Macet Pembiayaan Penyebab Macet
Mura>bah}ah 1. Kesalahan bank melakukan assessment terhadap calon debitur.
2. Kurangnya monitoring bank.
Mud{{a>rabah Informasi tidak tepat dari debitur. Ketidaktransparan kondisi debitur. Sulitnya melihat level usaha dan terbatasnya informasi tentang produktivitas usaha.
Sumber : Mustafa Edwin, Ranti Williasih, ‚ Profit Sharing dan Moral Hazard dalam
Penyaluran Dana Pihak Ketiga di Indonesia‛, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol. VIII, 2007.
7. Proses Manajemen Risiko
41
organisasi meliputi identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap,
menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko.23 a. Identifikasi dan Pemetaan Risiko
1) Menetapkan kerangka kerja untuk implementasi strategi risiko secara keseluruhan.
2) Menentukan definisi kerugian
3) Menyusun dan melakukan implementasi mekanisme pengumpulan data.
4) Membuat pemetaan kerugian ke dalam kategori risiko yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
b. Kuantifikasi/Menilai/Melakukan Peringkat Risiko 1) Aplikasi teknis permodalan dalam mengukur risiko.
2) Perluasan dengan memanfaatkan tolok ukur (benchmarking), permodelan (modeling), dan peramalan (forecasting) yang berasal dari luar organisasi/eksternal. Sumber eksternal yang dimaksud berasal dari praktik-praktik terbaik yang telah dilakukan di dalam industri (best practice).
c. Menegaskan Profil Risiko dan Rencana Manajemen Risiko
1) Identifikasi selera risiko organisasi (risk appetite), apakah
manajemen secara umum terdiri dari penghindar risiko (risk aveter), penerima risiko sewajarnya (risk natural), dan pencari
risiko (risk seeker).
42
2) Identifikasi visi strategik (Strategic vision) dari organisasi.
d. Solusi Risiko/Implementasi Tindakan Terhadap Risiko
1) Hindari (Avoidance), yaitu keputusan yang diambil adalah tidak melakukan aktivitas yang dimaksud.
2) Alihkan (Transfer), membagi risiko dengan pihak lain. Konsekuensinya terdapat biaya yang harus dikeluarkan atau berbagi keuntungan yang diperoleh.
3) Mitigasi Risiko (Mitige Risk), menerima risiko pada tingkat tertentu dengan melakukan tindakan untuk mitigasi risiko melalui peningkatan kontrol, kualitas proses, serta aturan yang jelas terhadap pelaksanaan aktivitas dan risikonya.
4) Menahan Risiko Residual (Retention of Residual Risk), menerima risiko yang mungkin timbul dari aktivitas yang dilakukan. Kesediaan menerima risiko dikaitkan dengan ketersediaan penyangga jika kerugian atas risiko terjadi.
e. Pemantauan dan Pengkinian/Kaji Ulang Risiko dan Kontrol
1) Seluruh entitas organisasi harus yakin bahwa strategi manajemen risiko telah diimplementasikan dan berjalan dengan baik.
2) Lakukan pengkinian dengan mengevaluasi dan menindaklanjuti
43
B.Mitigasi Risiko Pembiayaan
Mitigasi risko pembiayaan (kredit) adalah sejumlah teknik dan kebijakan dalam mengelola risiko kredit untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya atau dampak dari kerugian pembiayaan.24 Teknik yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1. Melakukan Analisis Pembiayaan
Melakukan analisis pembiayaan merupakan salah satu mitigasi risiko pembiayaan yang wajib hukumnya dilakukan guna meminimalisir terjadinya risiko pembiayaan.
Menurut Rivai, analisa pembiayaan atau analisa kredit adalah penelitian yang dilakukan oleh bagian Account officer (AO) terhadap kelayakan perusahaan, kelayakan usaha nasabah, kebutuhan pembiayaan, kemampuan menghasilkan laba, sumber pelunasan pembiayaan serta jaminan yang tersedia untuk meng-cover permohonan pembiayaan.25
Tujuan dari analisa pembiayaan adalah untuk memperoleh keyakinan apakah usaha nasabah layak, nasabah mempunyai kemauan dan kemampuan memenuhi kewajibannya kepada bank secara baik.
Dalam melakukan analisa pembiayaan, pihak bank menggunakan metode 5C, yaitu :
a. Character (Karakter)
24 Bambang Rianto Rustam. Manajemen Risiko… 109.
44
Analisa ini merupakan analisa kualitatif yang tidak dapat
dideteksi secara numerik. Kesalahan dalam menilai karakter calon nasabah dapat berakibat fatal pada kemungkinan pembiayaan terhadap orang yang beritikad buruk seperti penipu, dan lain-lain. b. Capacity (Kemampuan)
Kapasitas calon nasabah sangat penting diketahui untuk memahami kemampuan seseorang untuk berbisnis. Untuk perusahaan, hal ini dapat terlihat dari laporan keuangan dan past performance usaha. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan
perusahaan memenuhi semua kewajibannya termasuk pembayaran pelunasan pembiayaan.
c. Capital (Modal)
Analisa modal diarahkan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keyakinan calon nasabah terhadap usahanya sendiri.
d. Condition (Kondisi)
Analisa diarahkan pada kondisi sekitar yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap usaha calon nasabah. e. Collateral (Jaminan)
45
yang tidak berwujud seperti jaminan pribadi (borgtocht), letter of guarantee, letter of comfort, rekomendasi dan avalis (penjamin).
2. Model Pemeringkatan Untuk Pembiayaan Perorangan
Pembiayaan yang diberikan bank syari’ah dapat menjadi bermasalah, kecuali bank syari’ah mengimplementasikan kebijakan pemberian pembiayaan yang sehat. Sebagai langkah awal, perlu dikreasikan model pemeringkatan pembiayaan sebagai sarana untuk menetapkan kemungkinan terjadi default. Modek pemeringkatan pembiayaan diharapkan memberikan gambaran terjadinya probability of default (PD= peluang suatu pembiayaan menjadi macet). Model pemeringkatan ini akan memberikan keyakinan kepada bank syari’ah untuk tidak mengkonsentrasikan portofolionya pada pembiayaan yang berkualitas rendah. Selain itu, model pemeringkatan ini merupakasn sebuah upaya untuk menanggulangi pembiayaan macet.
Pemeringkatan pembiayaan ini adalah seuatu kategori yang sistematis umumnya berbentuk rangkaian alphabet (seperti AAA, AA dll.) yang diberikan kepada debitur berdasarkan pada tingkat kemungkinan kegagalan debitur tersebut dalam memenuhi kewajiban yang timbul atas fasilitas pembiayaan yang ia terima. Tujuan pemeringkatan ini adalah
menfasilitasi keputusan pembiayaan yang lebih baik dan objektif.
Metodologi pemeringkatan dapat memakai pendekatan judgement,