• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN WONOCOLO SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN WONOCOLO SURABAYA."

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN WONOCOLO SURABAYA

DISERTASI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Doktor dalam Program Pendidikan Agama Islam pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Oleh: A z h a r NIM: F05331306

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

(2)

iii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya: Nama : A z h a r

NIM : F05331306 Program : Doktor (S-3)

Institusi : Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa DISERTASI ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian atau karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Surabaya, 21 Juli 2016 Saya yang menyatakan,

(3)
(4)
(5)
(6)

ix

ABSTRAK

Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam

Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya

Oleh: Azhar NIM: F05331306 Promotor I: Prof. Dr. H. Ali Mas’ud, M.Ag., M.Pd.I

II: Dr. Hj. Hanun Asrohah, M.Ag

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya problem demoralisasi moral siswa karena proses pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan agama sebatas teks dan kurang mempersiapkan siswa untuk menyikapi dan menghadapi kehidupan yang kontradiktif. Pembelajaran PAI sejatinya mengembangkan secara bertahap perkembangan emosional siswa, faktanya pengelolaan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum menggiring kepada tujuan perkembangan afektif siswa karena hanya membidik perkembangan kognisi siswa dalam tingkat rendah. Pendidikan Agama Islam memerlukan pendekatan yang mengakomodasi secara bersama-sama seluruh tugas perkembangan; spiritual, emosional, intelektual dan sosial. Model Pembelajaran Quantum Moral Islam diduga kuat dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran PAI. Bagaimana Model Pembelajaran Quantum Moral Islam dikembangkan dan seberapa efektif model tersebut dan relevansinya terhadap penanaman nilai moral siswa sekolah dasar merupakan permasalahan yang dibidik dalam penelitian ini.

Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk Model Pembelajaran Quantum Moral Islam yang dapat memperkokoh tugas perkembangan emosional siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan. Langkah-langkahnya meliputi (a) tahap studi pendahuluan untuk mengidentifikasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran PAI, (b) hasil studi pendahuluan dijadikan dasar untuk mengembangkan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam yang dipadukan dengan kerangka teoretik-normatif yang telah ditemukan untuk kemudian diujicobakan sehingga mencapai model yang kokoh, (c) model akhir divalidasi melalui serangkaian eksperimen untuk memperoleh kebermaknaan model. Uji coba dilakukan secara terbatas dan dilanjutkan dengan uji coba luas yang melibatkan empat sekolah. Sedangkan uji validasi dilakukan dengan menggunakan metode true experimental design jenis posttest-onlycontroldesign yang melibatkan empat SD sebagai kelompok eksperimen (SD-KE) yang mengimplementasikan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam, empat buah SD sebagai kelompok kontrol (SD-KK) yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hasil uji validasi diperoleh temuan kebermaknaan model untuk meningkatkan kualitas moral siswa dengan ditunjukkan dari hasil posttest kelas perlakuan (

1=78,50) dibanding hasil posttest kelompok kontrol (

2=60,50). Temuan ini mengidikasikan bahwa Model Pembelajaran Quantum Moral
(7)

ABSTRACT

The Development Learning Model of Quantum Moral Islam

for Islamic Education Subject at Elementary Schools in Wonocolo Surabaya By: Azhar

NIM: F5331306 Supervisor I : Prof. Dr. H. Ali Mas’ud, M.Ag.,M.Pd.I

II : Dr. Hj. Hanun Asrohah, M.Ag

This research was done to respond the fact of demoralization which might occur as the result of the teaching of religion (PAI) in classroom settings which more textual yet lack of practice to prepare students to deal with a contradictive life. Learning PAI Subject is basically a gradual process to develop students’ emotional and affective aspects, in fact the management of the learning process of PAI subject focuses more on cognitive aspect. The teaching of PAI is supposed to accommodate all aspects of development, i.e.: spiritual, emotional, intellectual and social. Learning model of

Quantum Moral Islam (QMI) is strongly believed to be an alternative strategy to teach PAI subject. How the QMI learning model is developed and how effective the model and its relevance to internalize the moral value of primary school students are the problems of this study.

The purpose of this research is to produce the learning model of Quantum Moral Islam(QMI) to strengthen the task of students’ emotional development. To achieve that

(8)
(9)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman Prasyarat Disertasi. ... ii

Pernyataan Keaslian … ... iii

Persetujuan Promotor ... iv

Persetujuan Tim Verifikator ... v

Persetujuan Tim Penguji ... vi

Pernyataan Kesediaan Perbaikan Disertasi... vii

Pedoman Transliterasi ... viii

Abstrak Bahasa Indonesia ... ix

Abstrak Bahasa Inggris ... x

Abstrak Bahasa Arab ... xi

Ucapan Terimakasih ... xii

Daftar Isi ... xiv

Daftar Tabel ... xviii

Daftar Gambar ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Rumusan Masalah ... 9

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Kegunaan Penelitian ... 10

F. Penelitian Terdahulu ... 10

G. Sistematika Pembahasan ... 17

BAB II LANDASAN TEORI PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAMDI SEKOLAH DASAR ... 19

A. Penyelenggaraan kegiatan pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 19

1. Pengertian pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 19

2. Landasan pembelajaran PAI di Sekolah Dasar... 20

3. Ruang lingkup pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 22

4. Tujuan pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 24

5. Metode pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 25

6. Media pembelajaran PAI di Sekolah Dasar ... 28

(10)

xv

1. Pengertian model pembelajaran... 31

2. Model pembelajaran afektif ... 32

3. Justifiksi akademik terkait kata moral ... 34

4. Peta konsep Model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 38

C. Efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar ... 50

1. Efektivitas internalisasi dalam penanaman nilai moral ... 50

2. Pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 ... 53

3. Potensi kecerdasan emosi dalam efektivitas penanaman nilai moral ... 56

4. Komponen karakter yang baik: moral knowing, moral feeling, dan moral action sebagai dimensi pembentukan moral ... 65

5. Ekspresi emosi ... 67

6. Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan pendidikan menengah ... 69

D. Keunggulan dan keterbatasan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar ... 73

1. Keunggulan model pembelajaran afektif ... 73

2. Keterbatasan model pembelajaran afektif ... 74

BAB III METODE PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM PADA MATA PELAJARAN PAI SEKOLAH DASAR ... 75

A. Penetapan Lokasi Penelitian ... 75

B. Subjek Penelitian ... 76

C. Metode dan Desain Penelitian ... 78

D. Alur Penelitian Pengembangan ... 80

1. Tahap studi pendahuluan ... 81

2. Tahap studi pengembangan ... 81

E. Pengembangan Instrumen Penelitian... 84

1. Instrumen angket ... 84

2. Instrumen hasil belajar... 87

F. Teknik Analisis Data ... 88

G. Tahap-Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 88

1. Tahap persiapan administrasi ... 89

2. Penilaian dan uji coba instrumen ... 89

3. Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 90

4. Uji validasi Model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 90

BAB IV IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM ... 96

(11)

xvi

1. Guru PAI lebih terkonsentrasi persoalan teoritis keilmuan yang bersifat kognitif semata ... 96 2. Dalam melaksanakan penilaian, guru PAI hanya fokus mengukur aspek

kognitif siswa saja ... 98 3. Guru PAI masih terjebak dalam dualisme penggunaan KTSP dan

Kurikulum 2013 ... 99 B. Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata

Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya ... 101 1. Draft model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 101 2. Penilaian tingkat kevalidan Model Pembelajaran Quantum Moral

Islam ... 108 C. Efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran

PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya ... 114 1. Uji coba terbatas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 114 2. Uji coba luas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam ... 122 3. Penilaian tingkat keefektifan Model Pembelajaran Quantum Moral

Islam ... 122 4. Uji coba kelas perlakuan dan kelas kontrol ... 129 D. Keunggulan dan Keterbatasan Model Pembelajaran Kuantum Moral Islam

pada Mata Pelajaran PAI di Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo

Surabaya ... 132 BAB VEVALUASI CAPAIAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAM ... 134 A. Penyelenggaraan Kegiatan Pembelajaran PAI Sekolah Dasar di

Kecamatan Wonocolo Surabaya ... 134 1. Guru PAI lebih terkonsentrasi persoalan teoritis keilmuan yang bersifat

kognitif semata ... 134 2. Dalam melaksanakan penilaian, guru PAI hanya fokus mengukur aspek

kognitif siswa saja ... 137 3. Guru PAI masih terjebak dalam dualisme penggunaan KTSP dan

Kurikulum 2013 ... 139 B. Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata

Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya ... 141 C. Efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran

PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya ... 170 D. Keunggulan dan keterbatasan model Pembelajaran Quantum Moral Islam

Pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo

(12)

xvii

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan faktor penting yang memberikan pengaruh dalam pembentukan akhlak.1 Maka, dalam hal ini pendidikan agama yang selalu berupaya dalam pembentukan akhlak tidak dapat diabaikan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.Karena pendidikan agama berperan strategis dalam mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Umat beragama beserta lembaga-lembaga keagamaan di Indonesia merupakan potensi besar dan sebagai modal dasar dalam pembangunan moralbangsa.2

Komarudin Hidayat dalam Fuaduddin dan Cik Hasan Bisri, menjelaskan banyak kritikan yang diarahkan kepada pembelajaran PAI di sekolah, antara lain: (1) Proses belajar-mengajar, guru PAI lebih terkonsentrasi persoalan-persoalan teoritis keilmuan yang bersifat kognitif semata dan lebih menekankan pada pekerjaan mengajar/ transfer ilmu. (2) Metodologi pengajaran PAI selama ini secara umum tidak kunjung berubah, ia bagaikan secara konvensional-tradisional dan monoton sehingga membosankan peserta didik. (3) Pelajaran PAI seringkali dilaksanakan di sekolah bersifat menyendiri, kurang terintegrasi dengan bidang studi yang lain, sehingga mata pelajaran yang diajarkan bersifat marjinal dan periferal. (4) Kegiatan belajar mengajar PAI seringkali terkonsentrasi dalam kelas dan enggan untuk dilakukan kegiatan praktek dan penelitian di luar kelas.(5) Penggunaan media pengajaran, baik yang dilakukan guru maupun peserta didik kurang kreatif, variatif dan menyenangkan.(6)

(14)

2

Kegiatan belajar mengajar (KBM) PAI cenderung normatif, linier, tanpa ilustrasi konteks sosial budaya dimana lingkungan peserta didik tersebut berada, atau dapat dihubungkan dengan perkembangan zaman yang sangat cepat perubahannya. (7) Kurang adanya komunikasi dan kerjasama dengan orangtua dalam menangani permasalahan yang dihadapi peserta didik.3

Perhatian yang diberikan oleh dunia pendidikan nasional terhadap Pendidikan Agama Islam (akhlak, moral, dan budi pekerti) masih sangat kurang. Bahkan dapat dikatakan penanganan pembelajaran PAI dan budi pekerti masih terbengkelai akibat orientasi pendidikan nasional yang condong ke dimensi pengetahuan.4 Pandangan semacam ini sungguh merupakan kekeliruan yang cukup serius. Karena pendidikan diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan memahami berbagai informasi. Akibatnya, ketika siswa lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.5

Di sisi lain, praktik pendidikan di Indonesia cenderung mengabaikan aspek afektif sebagai unsur utama pendidikan karakter.6 Padahal Menurut Reigeluth, sebagaimana dikutip oleh Mufidah, afektif merupakan salah satu dari tiga domain yang menjadi sasaran dalam proses pembelajaran. Afektif telah menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah selama beberapa dekade. Dia muncul dalam berbagai bentuk

3Komaruddin Hidayat dalam Fuaduddin & Cik Hasan Bisri (Eds), Dinamika Pemikiran Islam di Perguruan

Tinggi, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 83.

4Suyanto, Refleksi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium Ketiga, (Yogyakarta: Adi

Cita Karya Nusa, 2000), 153.

5Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran: (Berorientasi standar proses pendidikan), (Jakarta: Kencana,

2008), 1.

6Siti Irene Astuti D, “Pendekatan Holistik Dan Kontekstual Dalam Mengatasi Krisis Karakter Di

(15)

3

yang berbeda seperti pendidikan humanis, pengembangan moral, aktualisasi diri, pendidikan nilai dan lain-lain.7

Krathwol dan Bloom, menyatakan bahwa perilaku afektif akan berkembang secepat perkembangan kognitif jika pengalaman pembelajaran afektif diberikan sama banyaknya dengan pengalaman pembelajaran kognitif.8 Namun, kategorisasi oleh para pakar pendidikan yang meliputi kemampuan kognisi, afeksi dan psikomotorik tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan secara komprehensif dan terpadu.

Kenyataannya, di lingkungan sekolah kebutuhan akan pendidikan akhlak telah diakomodasikan secara sangat terbatas dan sempit dengan cara mengintegrasikan pendidikan akhlak ke dalam pendidikan agama Islam (PAI). Sebagai realisasinya, materi pendidikan agama Islam (PAI) yang diajarkan di sekolah-sekolah mencantumkan sub pembahasan tentang nilai-nilai budi pekerti atau akhlak mulia dan berupaya menginternalisasikan nilai-nilai tersebut pada diri peserta didik secara terbatas dan minimalis.9

Soedjatmoko dalam Muhaimin, menjelaskan bahwa kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran PAI, dimana PAI tidak terintegrasi dan tersinkronisasi dengan pendidikan non agama. Pembelajaran PAI tidak dapat berjalan sendiri tetapi harus berjalan bersama dan bekerjasama dengan program-program pendidikan non agama kalau ia ingin mempunyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di

7Lihat Reigeluth dalam Luk-luk Nur Mufidah, “Pendidikan Afektif”, Tadris, Vol. 4, No. 2 (September,

2009), 262.

8Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 6.

9Pandi Kuswoyo, “Ketuntasan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI Melalui Metode Kisah”, Jurnal

(16)

4

masyarakat.10 Namun pada tataran aplikasi, Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah umum merupakan kegiatan dengan posisi yang bersifat marginal atau periferal dalam percaturan problematik pendidikan nasional.11

Adapun Strategi kontekstualisasi materi PAI dalam penyelenggaraan pendidikan nasional yang ada di masyarakat, dihadapkan pada suasana yang berbeda bahkan cenderung berlawanan dengan materi-materi PAI yang disampaikan dalam ruang kelas.12 Realitasnya, siswa kadang menjadi bingung karena

materi yang mereka peroleh dari sekolah sering berbeda dari kenyataan yang mereka lihat di masyarakat.

Masalah adab berpakaian, misalnya materi PAI membahas soal adab berpakaian dan guru PAI mendidik siswi untuk menutup aurat, tetapi mereka melihat fakta berbeda di lapangan, termasuk yang dipertontonkan televisi dimana wanita gemar mengumbar aurat. Terkait ketaatan, guru PAI mengajarkan peserta didik mentaati peraturan dalam berlalu lintas. Namun faktanya, tidak sedikit pelajar berkendara dengan melanggar peraturan lalu lintas. Terkait masalah kejujuran, siswa kelas mendapat materi mengenai kejujuran. Namun kenyataan di masyarakat, peserta didik melihat tidak sedikit pejabat yang mestinya menjadi panutan atau tokoh publik melakukan ketidakjujuran seperti melakukan pungutan liar dan korupsi.13

10Muhaimin, Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah, Madrasah, Perguruan Tinggi, (Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 2005), 24.

11Muchtar Bukhori, Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana,

1994), 244.

12A. Rifqi Amin, Sistem Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum,

(Yogyakarta: Deepublish Publisher, 2015), 161.

(17)

5

Dalam hal ini guru diharapkan mampu mengaitkan materi pembelajaran yang disampaikan di dalam ruang kelas dengan konteks sosial siswa, sehingga siswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial terhadap perkembangan fenomena sosial di masyarakat dan mampu meningkatkan nilai-nilai kedamaian. Di atas semuanya, kemampuan guru untuk menumbuhkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan konflik dan kekerasan di lingkungan sekolah lebih diutamakan.14

Untuk menangani permasalahan moral yang dihadapi siswa di sekolah, komunikasi antara orang tua dan guru merupakan keharusan yang mutlak agar penanganan masalah moral dapat dilakukan secara efektif.15 Namun, dalam hal berinteraksi dengan orang tua siswa, sering sekali guru mengeluh karena tingkat kehadiran orang tua sangat rendah apabila diundang datang ke sekolah berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi siswa. Padahal komunikasi antara orang tua murid dengan guru sangatlah penting untuk mencegah konflik siswa yang berkepanjangan.16Sebelum jatuh pada hal-hal yang negatif, ada fase dimana siswa terjebak dalam situasi konflik antara nilai yang selama ini dianut dengan nilai luar yang tersaji. Dalam konteks ini guru dan orang tua dituntut untuk sesegera mungkin mendeteksi dan mengetahui konflik yang dialami siswa.17

14Ahmad Baedowi, Calak Edu 4: Esai-esai Pendidikan 2012-2014, (Jakarta: PT. Pustaka Alvabet, 2015),

159.

15Malarry M. Collins dan Don H. Fontenelle, Mengubah Perilaku Siswa: Pendekatan Positif, terj. Ny.

Kathleen Sri Wardhani (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1992), 115.

16Joko Wahyono, Sekolah Kaya Sekolah Miskin, Guru Kaya Guru Miskin: 9 Kekuatan Komitmen yang

Harus Dimiliki Guru, Kepala Sekolah, dan Pengelola Menuju Sekolah Kaya, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2010), 101.

17Paul Suparno SJ, dkk, Reformasi Pendidikan: Sebuah Rekomendasi, cet. 9 (Yogyakarta: Kanisius, 2002),

(18)

6

Faktor yang menyebabkan timbulnya masalah konflik moral siswa adalah kurangnya kebermaknaan pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam belum secara konsisten menggiring kepada peningkatan perkembangan agama anak. Dalam konteks pendidikan agama Islam di sekolah dasar, berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan penulis di lapangan, telah ditemukan bahwa pada anak-anak SD kelas 5 di sejumlah sekolah sampel. Untuk keterampilan menjalankan agama, keterampilan berperilaku jujur, keterampilan bersikap simpati, keterampilan bersikap empati, atau keterampilan bersikap altuiris (kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain) serta kebiasaan-kebiasaan yang menyangkut nilai-nilai moral masih belum sesuai dengan harapan.

Banyak anak didik yang melakukan konflik dan tindakan kriminal seperti tawuran pelajar, terjebak dalam lingkaran narkoba, miras dan perilaku tidak bermoral lainnya. Kasus yang terjadi di Surabaya seorang siswa terkena luka bacok pada tangan kanannya pada saat tawuran antar pelajar sekolah di jalan Karang Menjangan Surabaya Rabu 27 Januari 2016 sekitar pukul 14.15 wib.18 Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak, sedikitnya 16 siswa telah meregang nyawa akibat kasus serupa sepanjang tahun 2012 yang telah lalu.19 Apa yang menyebabkan tawuran antar

pelajar? Padahal mereka adalah insan penerus bangsa yang harus menjunjung nilai-nilai kebaikan dan menentang segala praktik tidak bermoral.

Sungguh sangat disayangkan bila hal tersebut sering kali terulang, bahkan menjadi sejenis mata rantai yang tidak terputus, sekarang yang menjadi

18Edozan, “Tawuran Pelajar di Karang Menjangan, 1 Siswa SMK Kena Bacok”, dalam

www.realita.co/index.php (10 September 2016), 5.

(19)

7

pertanyaannya adalah ada apakah dengan sistem pendidikan kita? Kurangnya kebermaknaan pendidikan agama dikarenakan sistem pembelajaran PAI lebih diarahkan untuk mengejar dan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya daripada upaya mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi, sistem pendidikan bersifat tradisional sekali. Bentuk sistem pembelajaran PAI yang konvensional-tradisional mengakibatkan pendidikan menjadi tidak mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas baik dari segi intelektualitas maupun kepribadian.20

Selama ini profil dan performa pendidik dalam sistem pembelajaran PAI dianggap masih kurang untuk peningkatan kualitas pembelajaran PAI. Dimana penggunaan metode pembelajaran PAI di lembaga pendidikan umum masih banyak digunakan cara-cara pembelajaran konvensional-tradisional, yaitu ceramah monoton dan statis kontekstual.21 Pengunaan metode konvensional-tradisional dalam kegiatan

belajar mengajar (KBM) PAI yang lebih menekankan penggunaan metode ceramah, cenderung monolog dan doktrinatif. sehingga pendidikan lebih merupakan sebagai pengayaan individu pendidik saja. Padahal, siswa yang telah mempunyai potensi agama perlu dikembangkan melalui proses perenungan yang dalam dan proses dialogis yang produktif dan kritis.22

Perbaikan metode pembelajaran sangatlah diperlukan dalam inovasi Pendidikan Agama Islam, agar Pendidikan Agama Islam tidak lagi bersifat konvensional-tradisional dan monoton, sehingga pendidikan agama Islam mampu

20Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), 228. 21Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 153-154.

22Nurlena Rifa’i, “Perbedaan PAI di Kurikulum 2013 ada pada tematik integratif, penekanan nilai

(20)

8

menekankan peserta didik akan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu

moralknowing (pengetahuan tentang moral), moralfeeling (perasaan tentang moral), dan moral action (perbuatan/tindakan moral), yang diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebaikan.23

Berdasarkan latar belakang di atas, melalui penelitian disertasi ini penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya.

B. Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang di atas dapat disadari bahwa penilitian pengembangan membutuhkan etos ilmiah yang tinggi, hal ini disebabkan banyaknya lingkup bahasan yang tercakup di dalamnya. Berikut ini pengidentifikasian beberapa masalah yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam,antara lain:

1. Bagaimana inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menanggulangi krisis moral siswa?

2. Bagaimana urgensi ranah afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?

3. Bagaimana penerapan ranah afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)?

23Thomas Lickona, Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility,

(21)

9

4. Bagaimana strategi internalisasi nilai akhlak pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penyelenggaraan kegiatan pembelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

2. Bagaimana pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAISekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

3. Bagaimana efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAISekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

4. Bagaimana keunggulan dan keterbatasan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

D. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

2. Mengembangkan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAISekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

3. Mengkaji efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAISekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya?

(22)

10

E. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat baik dari segi teoretis maupun dari segi praktis.

1. Kegunaan teoretis adalah penelitian ini dapat memberikan konstribusi terhadap penemuan teori baru tentang pendidikan akhlak bagi guru dan siswa yang masih menggunakan teori klasik tentang pendidikan akhlak dalam pembelajaran PAI, 2. Kegunaan praktis adalah untuk memberikan gambaran kepada guru terkait Model

Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Pembelajaran PAI sehingga bisa menjadi salah satu alternatif model pembelajaran baru dalam dunia pendidikan. F. Penelitian Terdahulu

Adapun hasil penelitian terdahulu yang memiliki relevansi secara langsung dengan penelitian ini antara lain:

Muhammad Rois Ubaidillah, Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Perwujudan Budaya Religius di Madrasah (Studi Multi Kasus di MAN 1, MAN 2, dan

MA Bustanul Arifin di Kabupaten Gresik.24 Disertasi. Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel Surabaya. Di antara temuan disertasi ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah pertama implementasi pendidikan karakter dalam mewujudkan budaya religius dapat dilakukan melalui pengembangan diri dan kegiatan ekstrakurikuler, kedua implementasi pendidikan karakter melalui pengintegrasian mata pelajaran, strategi belajar mengajar di kelas dan peningkatan kualitas pembelajaran, ketiga peran yang

24Muhammad Rois Ubaidillah, “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Perwujudan Budaya Religius

di Madrasah (Studi Multi Kasus di MAN 1, MAN 2, dan MA Bustanul Arifin di Kabupaten Gresik”

(23)

11

disertai dukungan, tradisi dan perilaku warga madrasah secara kontinyu dan konsisten, sehingga tercipta kultur religius di lingkungan madrasah. Komitmen dan kerjasama secara sinergis di antara warga madrasah dan dukungan orang tua menjadi kunci keberhasilan penanaman nilai-nilai karakter untuk mewujudkan budaya religius dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di madrasah.

Jainudin, Pendidikan Karakter Pada Aliran Tarekat (Studi Perubahan Sosiopsikologis Para Penganut Tarekat Qa>diriyyah wa Naqshabandiyyah (TQN) di

Surabaya).25Disertasi. Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Ampel Surabaya. Di

antara temuan disertasi ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah penganut TQN memiliki kondisi sosiopsikologis yang baik misalnya sabar, tabah, ikhlas, qana>’ahdan istiqa>mahdalam

beribadah mah}d}ah maupun sosial, dibandingkan sebelum menganut TQN. Hal tersebut merupakan indikator dari seorang individu yang berkarakter baik.

Charletty Choesyana Sofat, Pengembangan Karakter Melalui Pendidikan Keluarga (Studi Komparatif Teori Al-Ghazali dan Teori Kornadt).26 Disertasi

Program Pascasarjana (PPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di antara temuan disertasi ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah fenomena kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia pada masa kini diwarnai dengan maraknya tindakan agresi, hal tersebut merupakan indikasi tengah terjadi krisis karakter atau krisis akhlak bangsa Indonesia.

25Jainudin, Pendidikan Karakter Pada Aliran Tarekat (Studi Perubahan Sosiopsikologis Para Penganut Tarekat Qa>diriyyah wa Naqshabandiyyah (TQN) di Surabaya)” (Disertasi--UIN Sunan Ampel Surabaya, 2015).

26Charletty Choesyana Sofat, Pengembangan Karakter Melalui Pendidikan Keluarga (Studi Komparatif

(24)

12

Penelitian menghasilkan teori baru dari peneliti yakni teori pendidikan akhlak tentang agresi, menggunakan pendekatan ilmu agama Islam dan psikologi. Teori tersebut memandang sistem motif agresif berkembang sejalan dengan perkembangan pendidikan akhlak (konsep tazkiyat al-nafs sebagai metode pendidikan). Praktik pengasuhan anak, pendidikan akhlak melalui orang tua, yang berkaitan dengan perkembangan motif agresi, terdiri dari lima aspek, yakni (a) orientasi nilai-nilai agama, (b) kasih sayang/kepedulian, (c) dukungan, (d) penerimaan, dan (e) pengawasan.

Aan Hasanah, Pendidikan Karakter Berbasis Islam (Studi atas Konsep dan Kontribusinya dalam Pembentukan Karakter Bangsa).27 Disertasi, Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di antara temuan disertasi ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalahpendidikan karakter berbasis islam mengembangkan keseluruhan aspek kemanusiaan manusia dalam dimensi fisik jasmani, aspek spiritual dan intelektual. Untuk menghasilkan pribadi yang memiliki karakter beriman, bertanggungjawab, peduli, jujur, berani dan menjadi warganegara yang baik. Nilai-nilai ini diimplementasikan dalam keseharian di rumah, sekolah, masyarakat akan membentuk prilaku karakter.

Muslihudin, Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Penguatan Kesadaran Moral Spiritual Murid Sekolah Dasar Pada Mata Pelajaran Pendidikan

27Aan Hasanah, “Pendidikan Karakter Berbasis Islam” (Disertasi--UIN Sunan Gunung Djati, Bandung,

(25)

13

Agama Islam.28Disertasi. Program Pengembangan Kurikulum. Program Pascasarjana (PPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Di antara temuan disertasi ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah Pendidikan Agama Islam belum sepenuhnya ditempatkan sebagai

basic learning content untuk membangun kesadaran moral-spiritual yang dapat membentuk values system dan attitudes anak. Model Pembelajaran PAI untuk Penguatan Kesadaran Moral Spiritual (PKMS) yang dikembangkan oleh Muslihudin berpijak pada dasar normatif al-Qur’an dan dasar teoretik.

Penelitian terdahulu berupa artikel yang diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus dan Thomson Reuters yang memiliki hubungan langsung dengan penelitian pengembangan Model Kuantum Moral Islam antara lain, sebagai berikut:

Terence Lovat, Islamic morality: Teaching to balance the record.29 Journal

of Moral Education. Di antara temuan artikel jurnal ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah artikel dalam jurnal tersebut dimaksudkan untuk mengusulkan bahwa ajaran moralitas Islam menyajikan realita bahwa pemeluk Islam memiliki etika dan moral yang baik terhadap non-muslim dan tindakan segelintir pemeluk Islam yang bersifat radikal tidak serta merta menuduh Islam sebagai agama teror, sehingga Islamophobia harus ditepis demi menjaga relasi hubungan muslim dan non-muslim terjaga dengan baik.

28Muslihudin, “Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Penguatan Kesadaran Moral Spiritual Murid

Sekolah Dasar Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam” (Disertasi--Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, 2014).

29Terence Lovat, Islamic morality: Teaching to balance the record”. Journal of Moral Education, Vol. 45,

(26)

14

Ataullah Siddiqui, Ethics in Islam: key concepts and contemporary challenges.30 Journal of Moral Education. Di antara temuan artikel jurnal ini yang

relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah artikel dalam jurnal tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang perkembangan etika dalam dunia Muslim kontemporer. Artikel tersebut dimulai dengan pengenalan singkat tentang istilah “etika” dan “moral”, dan menjelaskan istilah-istilah dasar yang digunakan oleh ulama Islam untuk menjelaskan terkait etika dan moral. Konsep perubahan keadaan baru dijelaskan secara singkat dan akhirnya artikel tersebut fokus pada beberapa upaya terbaru oleh para sarjana Muslim untuk mengatasi isu-isu kontemporer yang dihadapi umat Islam di Eropa dan bagian lain dunia.

C. Daryl Cameron et al., A Constructionist Review of Morality and Emotions: No Evidence for Specific Links between Moral Content and Discrete

Emotions.31 Personality and Social Psychology Review. Di antara temuan artikel jurnal ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah sesungguhnya moralitas itu memiliki keterkaitan erat dengan emosi. Lantas, apa hubungan keduanya? Dari banyaknya responden yang dimintai pendapatnya mengungkapkan bahwa hubungan konten moral dengan emosi dapat dilihat dari eksperi emosi yang menunjukan reaksi marah dan rasa jijik, itu

30Ataullah Siddiqui, “Ethics in Islam: key concepts and contemporary challenges”. Journal of Moral

Education, Vol. 26, No. 4 (Juli, 2006), 423-431.

31Cameron, C. Daryl et al.,A Constructionist Review of Morality and Emotions: No Evidence for Specific

(27)

15

berarti sesuatu perbuatan yang diekspresikan oleh seseorang melalui emosi menunjukan karakter moralnya.

Nate C. Carnes, Brian Lickel, and Ronnie Janoff-Bulman, Shared Perceptions: Morality Is Embedded in Social Contexts.32 Personality and Social Psychology Bulletin. Di antara temuan artikel jurnal ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah kenyataan bahwa apabila moralitas selalu dijunjung tinggi dalam konteks sosial maka akan membatu keberlangsungan kehidupan sosial yang harmonis dan jauh dari konflik. Carnes dkk, mengkritisi penelitian tentang moralitas pada umumnya cenderung terbatas hanya meniliti tentang implikasi moral terhadap sistem kepercayaan individu dan mengabaikan konstribusi moral terhadap keberlangsungan kehidupan sosial yang aman dan kondusif.

Elizabeth J. Horberg, Christopher Oveis, and Dacher Keltner, Emotions as Moral Amplifiers: An Appraisal Tendency Approach to the Influences of

Distinct Emotions upon Moral Judgment.33 Emotion Review. Di antara temuan artikel jurnal ini yang relevan dengan penelitian pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam adalah adanya perspektif bahwa emosi memperkuat penilaian terhadap moral berdasarkan penilaian reaksi emosi itu sendiri. Teori ini menghasilkan empat cara bagaimana emosi memberikan penilaian terhadap moral. Elizabeth dkk, menyampaikan bahwa ada dua jenis kekhususan dalam dampak emosi pada penilaian

32Nate C. Carnes, Brian Lickel, and Ronnie Janoff-Bulman, “Shared Perceptions: Morality Is Embedded in

Social Contexts”. Personality and Social Psychology Bulletin, Vol. 41, No. 3 (Maret, 2015), 351-362.

33Elizabeth J. Horberg, Christopher Oveis, and Dacher Keltner, Emotions as Moral Amplifiers: An

(28)

16

moral: pertama, domain kekhususan dan kedua, emosi spesifisitas. Elizabeth dkk, selanjutnya berpendapat bahwa aspek yang terkandung dalam emosi sangat unik, seperti: ekspresi non-verbal dan respon fisiologis, dua hal tersebut berkontribusi terhadap dampak emosi pada penilaian moral. Akhirnya, emosi memainkan peran kunci dalam menentukan masalah dalam memperoleh signifikansi moral terhadap masyarakat dari waktu ke waktu, dalam proses yang dikenal sebagai moralisasi.

Berikut ini ringkasan dari penelitian terdahulu dalam bentuk tabel:

Tabel 1.1

Resume Penelitian Terdahulu

No Nama Pendekatan Sumber

1 Muhammad Rois Ubaidillah

Field research Disertasi PPs UIN Sunan Ampel Surabaya

2 Jainudin field research Disertasi PPs UIN Sunan Ampel Surabaya

3 Charletty

Choesyana Sofat

Kajian pustaka

Disertasi PPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

4 Aan Hasanah Field research Disertasi PPs UIN Sunan Gunung Djati Bandung

5 Muslihudin Research & development (R&D)

Disertasi PPs Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

6 Terence Lovat Field research Journal of Moral Education / Jurnal Internasional terindeks Scopus dan Thomson Reuters

7 Ataullah Siddiqui Field research Journal of Moral Education / Jurnal Internasional terindeks Scopus dan Thomson Reuters

8 C. Daryl Cameron et al.,

Field research Personality and Social

Psychology Review / Jurnal Internasional terindeks Scopus dan Thomson Reuters

9 Nate C.

Carnes, Brian Lickel, and Ronnie Janoff-Bulman

(29)

17

10 Nate C.

Carnes, Brian Lickel, and Ronnie Janoff-Bulman,

Field research Emotion Review / Jurnal Internasional terindeks Scopus dan Thomson Reuters

Mengacu pada daftar penelitian terdahulu di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat dipetik, yaitu: penelitian tentang moral yang berkaitan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam tergolong penelitian lapangan dan Kajian Kepustakaan, sedangkan penelitian ini tergolong penelitian dan pengembangan. G. Sistematika Pembahasan

Hasil akhir dari penelitian ini akan dilaporkan dalam bentuk disertasi dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua adalah landasan teori pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam di Sekolah Dasar. Pada bab ini akan disajikan tentang penyelenggaraan pembelajaran PAI di sekolah dasar, pengembangan model pembelajaran Quantum Moral Islam, efektivitas model pembelajaran Quantum Moral Islam, serta keunggulan dan keterbatasan model pembelajaran afektif.

(30)

18

Bab keempat adalah Implementasi Model Pembelajaran Quantum Moral Islam pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya. Bab ini memaparkan penyelenggaraan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat sekolah dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya, pengembangan Model kuantum moral Islam, efektivitas Model kuantum moral Islam, serta keunggulan dan keterbatasan Model kuantum moral Islam.

Bab kelima adalah Efektivitas Model Pembelajaran Quantum Moral Islam pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya. Bab ini membahas tentang penyelenggaraan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat sekolah dasar di Kecamatan Wonocolo Surabaya, pengembangan Model kuantum moral Islam, efektivitas Model kuantum moral Islam, serta keunggulan dan keterbatasan Model kuantum moral Islam.

(31)

BAB II

LANDASAN TEORI PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM MORAL ISLAMDI SEKOLAH DASAR

A. Penyelenggaraan Kegiatan Pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

1. Pengertian pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

An-Nahlawi, mengartikan Pendidikan Agama Islam merupakan realisasi

penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia baik secara individu

maupun secara sosial.1 Sedangkan, Zakiyah Daradjat, dkk, mendefinisikan

Pendidikan Agama Islam sebagai suatu usaha untuk membina dan mengasuh

peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.

Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta

menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.2

Arifin, menjelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha-usaha

secara sadar untuk menanamkan cita-cita keagamaan yang mempunyai nilai-nilai

lebih tinggi daripada pendidikan lainnya karena hal tersebut menyangkut soal

iman dan keyakinan.3

Muhaimin, dkk, mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam

diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan

pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik, di samping untuk membentuk

kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial.

Dalam artian, kualitas atau kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar ke

luar dalam hubungan keseharian dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik

1Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, terj. Shihabuddin

(Jakarta: Gema Insani Pres, 1995), 117.

2Zakiyah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 87.

(32)

20

yang seagama (sesama Muslim) ataupun yang tidak seagama (hubungan dengan

non Muslim), serta dalam hidup berbangsa dan bernegara, sehingga dapat

terwujud persatuan nasional.4

2. Landasan pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

a. Dasar yuridis

Dasar yuridis pembelajaran PAI di sekolah dasar yakni Peraturan

Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2010 tentang

pengelolaan pendidikan agama pada sekolah pasal 1 ayat 1 yang berbunyi:

“Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan

membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam

mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksankan sekurang-kurangnya

melalui mata pelajaran pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan”.5

b. Dasar religius

Zuhairini, dkk, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dasar

religius adalah dasar-dasar yang bersumber dari agama Islam yang tertera

dalam ayat al-Qur’an maupun Hadits Nabi menurut ajaran Islam, bahwa

melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah dari Tuhan yang

merupakan ibadah kepada-Nya.6

Senada dengan Zuhairini, Zakiyat Daradjat, dkk, membagi landasan

pembelajaran PAI yang terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijtihad7 :

4Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), 1.

5Peraturan Menteri Agama RI Nomor 16 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Pada

Sekolah, 3.

6Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), 11.

(33)

21

1) al-Qur’an

al-Qur’an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan

oleh jibril kepada nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran

pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek

kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an itu

terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah

keimanan yang disebut aqidah dan yang berhubungan dengan amal yang

disebut syari’ah.

Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk

membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup

muamalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak

dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun

masyarakat.

2) al-Sunnah

al-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasul

Allah SWT. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah

al-Qur’an. Seperti al-Qur’an, al-Sunnah juga berisi petunjuk (pedoman)

untuk kemaslakhatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk

membina umat menjadi manusia seutuhnya atau Muslim yang bertakwa.

Untuk itu, Rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama. Beliau

sendiri mendidik, pertama dengan menggunakan rumah Al-Arqa>m ibn

abi’l Al-Arqa>m, kedua dengan memanfaatkan tawanan perang untuk

(34)

22

daerah yang baru masuk Islam. Semua itu adalah pendidikan dalam rangka

pembentukan manusia Muslim dan masyarakat Islam. Oleh karena itu

al-Sunnah/Hadits Nabi merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan

pribadi manusia muslim.

3) Ijtihad

Ijtihad adalah istilah para fuqaha>, yaitu berpikir dengan

menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki ilmuan syari’at Islam untuk

menetapkan/menentukan suatu hukum syari’at Islam dalam hal-hal yang

ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh al-Qur’an dan al-Sunnah.

c. Dasar sosial psikologis

Menurut Zuhairini, dkk, bahwa semua manusia di dalam hidupnya

di dunia ini selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut

agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan

mengakui adanya dzat yang maha kuasa, tempat mereka berlindung dan

tempat mereka memohon pertolongan. Hal semacam ini terjadi pada

masyarakat yang sudah modern. Mereka akan merasa tenang dan tenteram

hatinya kalau mereka dapat mendekat dan mengabdi kepada dzat yang maha

kuasa.8

3. Ruang lingkup pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar meliputi

keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan

Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan ketiga hubungan

(35)

23

manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan makhluk lain dan

lingkungannya.9

Adapun ruang lingkup pembelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi

aspek-aspek sebagai berikut:

a. al-Qur’an dan Hadits

Menekankan kepada kemampuan membaca, menulis, dan

menterjemahkan serta menampilkan dan mengamalkan isi kandungan

al-Qur’an dan hadits dengan baik dan benar.

b. Aqidah Akhlak

Menekankan kepada kemampuan memahami dan mempertahankan

keyakinan, menghayati, serta meneladani dan mengamalkan ajaran Islam dan

nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Serta menekankan pada

pengamalan sikap terpuji dan menghindari sikap tercela.

c. Fiqih

Menekankan kepada kemampuan memahami, meneladani dan

mengamalkan ibadah dan mu’amalah yang baik dan benar.

d. Sejarah dan Kebudayaan Islam

Menekankan kepada kemampuan mengambil pelajaran dari

peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh Muslim yang

berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena-fenomena sosial, untuk

melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

9Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD Mata pelajaran

(36)

24

4. Tujuan pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

Tujuan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar adalah sesuai dengan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang standar

kompetensi lulusan adalah: a) Menumbuh kembangkan aqidah melalui

pemberian, pemupukan, pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan,

pembiasaan, serta pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi

manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada

Allah SWT. b) Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan

berakhlaq mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas,

produktif, jujur, adil, berdisiplin, bertoleransi, serta menjaga keharmonisan secara

personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas

Sekolah.10

Sedangkan dalam GBPP Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar,

pembelajaran PAI bertujuan memberikan kemampuan dasar kepada siswa tentang

agama Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi

manusia Muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak

mulia sebagai pribadi, anggota bermasyarakat dan warga Negara.11

Tujuan pembelajaran merupakan penjabaran kompetensi yang akan

dikuasai oleh peserta didik jika mereka telah selesai dan berhasil menguasai

materi ajar tertentu.12 Sedangkan Anderson dan Krathwohl, menjelaskan bahwa

10Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan.

11Direktorat Pendidikan Dasar, Garis-Garis Besar Program Pengajaran Sekolah Dasar Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 1993/1994), 1.

12Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Disain Pembelajaran, (Jakarta: Kencana kerjasama dengan

(37)

25

tujuan pembelajaran merupakan hal yang sangat spesifik yang harus dicapai oleh

guru dalam kegiatan pembelajaran kepada siswanya dalam kurun waktu tertentu.

Sehingga untuk mencapai tujuan pendidikan yang harus dilakukan pertama kali

adalah mencapai tujuan pembelajaran. Dalam kurun waktu tertentu, dapat

dimaknai dalam satu kali tatap muka atau lebih, sesuai dengan kedalaman

kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa.13

Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar bertujuan memberikan

kemampuan dasar kepada siswa tentang agama Islam untuk mengembangkan

kehidupan beragama sehingga menjadi manusia Muslim yang beriman dan

bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia sebagai pribadi, anggota

bermasyarakat dan warga Negara.

Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu

merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah.

Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada-Nya. Seperti

dalam surat Adh-Dza>riya>t ayat 56:

قنْغُ ُ ۡ ق قِ ۡقا ق

ْ نق ۡۡٱقغ قۡۡا ُ ۡ ق قخ قمقغ

٦

“Dan aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi

kepada-Ku” (QS. Adh-Dza>riya>t: 56).14

5. Metode pembelajaran PAI di Sekolah Dasar

Arief, menyatakan bahwa metode adalah seperangkat cara, jalan dan

tehnik yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran agar siswa dapat

13Lorin W. Anderson & David R. Krathwohl, et.al. A Taxonomy for Learning and Teaching and Assessing:

A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives, (New York: Longman, 2001), 16.

14Imam Jalaluddin Al-Mahally dan Imam Jalaluddin As-suyutti, Tafsir Jalalain Berikut Asbab An-nujulnya,

(38)

26

mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang

dirumuskan dalam silabi mata pelajaran.15

Sementara Usman, menjelaskan bahwa metode pembelajaran yaitu suatu

cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan,

fungsinya adalah menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar-mengajar dan

merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran. Oleh karena itu,

metode harus sesuai dan selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi

lingkungan dimana pengajaran berlangsung. Penggunaan atau pemilihan suatu

metode mengajar disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang harus

dipertimbangkan antara lain: tujuan, karakteristik siswa, situasi, kondisi,

kemampuan pribadi guru, sarana dan prasarana.16

Adapun metode-metode pembelajaran yang dapat diadaptasikan dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan Model

Pembelajaran Quantum Moral Islam ini antara lain sebagai berikut:

a. Metode take and give

Menurut Melvin L. Silberman, take and give secara bahasa

mempunyai arti mengambil dan memberi, maksud take and give dalam proses

pembelajaran adalah dimana siswa mengambil dan memberi pelajaran pada

siswa yang lainnya.17

Suatu mata pelajaran benar-benar dikuasai apabila peserta didik

mampu mengajarkan pada peserta lain. Mengajar teman sebaya memberikan

15Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 5.

16Basrudin M. Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2004), 4.

17Melvin L. Silberman, Active Learning:101 Strategies to Teach Any Subject, (Boston:Allyn and Bacon,

(39)

27

kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari sesuatu yang baik pada

waktu yang sama saat ia menjadi narasumber bagi yang lain.

b. Metode examplesnonexamples

Menurut Roestiyah, examples non examples adalah metode

pembelajaran yang mempersiapkan dan menggunakan gambar atau diagram

maupun tabel yang telah disesuaikan dengan materi bahan ajar dan

kompetensi dasar, sajian gambar ditempel atau memakai LCD/OHP, dengan

petunjuk guru siswa dapat mencermati sajian, melakukan diskusi kelompok

tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan,

penyimpulan, evaluasi, dan refleksi.18

Sedangkan Slavin, sebagaimana dikutip Djamarah dan Zain,

mendefinisikan bahwa examples non examples adalah metode pembelajaran

[image:39.595.120.514.230.537.2]

yang menggunakan contoh. Contoh-contoh dapat diperoleh dari kasus atau

gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.19

c. Metode poster comment

Menurut A. Fatah Yasin, metode poster comment merupakan salah

satu bagian dari strategi pembelajaran aktif atau active learning. Metode ini

sering juga disebut sebagai metode mengomentari gambar, yakni suatu

strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik

untuk memunculkan ide apa yang terkandung dalam suatu gambar.20 Gambar

18Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), 73.

19Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1995),

1.

(40)

28

tersebut tentu saja harus berkaitan dengan pencapaian suatu kompetensi dalam

pembelajaran.

d. Metode talking stick

Metode pembelajaran talking stick berkembang dari

penelitian belajar kooperatif oleh Robert E. Slavin. Metode ini merupakan

suatu cara yang efektif untuk melaksanakan pembelajaran yang mampu

mengaktifkan siswa. Dalam metode pembelajaran ini siswa dituntut mandiri

sehingga tidak bergantung pada siswa yang lainnya. Sehingga siswa harus

mampu bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan siswa juga harus percaya

diri dan yakin dalam menyelesaikan masalah.21

6. Media pembelajaran PAI di sekolah dasar

a. Pengertian media pembelajaran PAI

Arsyad, menjelaskan kata media berasal dari bahasa latin medius

yang berarti tengah, perantara, pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah

perantara (لئاسو) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima

pesan.22 Pengertian ini mengacu pada perantara yang mendistribusikan pesan

dari pemberi pesan kepada penerima pesan.

b. Tujuan media pembelajaran PAI

Usman, menjelaskan bahwa tujuan media pembelajaran ialah

digunakan dalam rangka upaya peningkatan atau mempertinggi mutu proses

kegiatan belajar mengajar.23

21Robert E. Slavin, Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice, (New Jersey: Prentice Hall,

1990), 55.

22Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), 3.

(41)

29

Tujuan penggunaan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam

adalah sebagai alat bantu pembelajaran, yaitu: mempermudah proses

pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, menjaga relevansi

materi dengan tujuan pembelajaran, dan membantu konsentrasi siswa.

c. Fungsi media pembelajaran PAI

Arsyad, mengemukakan bahwa salah satu fungsi utama media

pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi

iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.24

Menurut Hamalik, sebagaimana dikutip Arsyad, mengemukakan

bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat

membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan

rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh

psikologis terhadap siswa. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa,

media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman,

menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran

data, dan memadatkan informasi.25

d. Jenis media pembelajaran PAI

Mukhtar, menjelaskan bahwa media pembelajaran pendidikan

agama Islam merupakan wadah dari pesan yang disampaikan oleh sumber atau

penyalurnya yaitu guru, kepada sasaran atau penerima pesan, yakni siswa

yang belajar pendidikan agama Islam.26

24Arsyad, Media, 15.

25Ibid., 16.

(42)

30

Media pembelajaran yang dapat diadaptasikan dalam pembelajaran

Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pengembangan Model Pembelajaran

Quantum Moral Islam ini disesuaikan dengan kompetensi dasar, kompetensi

inti, dan tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

1) Kartu kecil (flash card)

Penerapan media flash card pada pembelajaran PAI dengan

menggunakan kartu kecil yang berisi gambar, teks atau tanda simbol

menuntun siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu.

Misalnya, dalam latihan memperlancar bacaan-bacaan sholat, gambar

setiap gerakan dalam sholat dibuat di atas flash card.27

2) Poster

Penerapan media poster pada pembelajaran PAI melalui gambar

kombinasi visual dari rancangan yang kuat, dengan warna, dan pesan dapat

menanamkan gagasan yang berarti di dalam ingatan peserta didik.28

3) Stick

Penerapan media stick pada pembelajaran PAI bertujuan

terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari

satu siswa kepada siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi

pelajaran dan selanjutnya mengajukan pertanyaan. Saat guru selesai

mengajukan pertanyaan, maka siswa yang sedang memegang tongkat

itulah yang memperoleh kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

27Arsyad, Media Pembelajaran, 119.

(43)

31

Hal ini dilakukan hingga sebagian besar siswa berkesempatan mendapat

giliran menjawab pertanyaan yang diajukan guru.29

B. Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Moral Islam Pada Mata Pelajaran PAI Sekolah Dasar

1. Pengertian model pembelajaran

Model pembelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang

tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan

kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan

suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.30

Slavin, menjelaskan bahwa “model pembelajaran adalah suatu acuan

kepada suatu pendekatan pembelajaran termasuk tujuannya, sintaksnya,

lingkungannya, dan sistem pengelolaanya”.31 Sedangkan menurut Toeti

Soekamto dan Winataputra, bahwa model pembelajaran sebagai kerangka

konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan

pembelajaran dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar

mengajar.32

Joyce dan Weil, mengemukakan bahwa model pembelajaran merupakan

deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan kurikulum,

29Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka, 2009), 124.

30Kokom Komulasari, Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi, (Bandung: PT. Refika Aditama,

2010), 57.

31Slavin, Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice, 10.

32Toeti Soekamto dan Udin S. Winataputra, Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran, (Jakarta:

(44)

32

kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-buku

pelajaran, program multi-media, dan bantuan belajar melalui program komputer.33

Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil adalah membantu belajar (peserta

didik) memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan

belajar bagaimana cara belajar.

Merujuk pada tiga pendapat di atas, peneliti memaknai model

pembelajaran sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola

pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-peserta

didik di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang

menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik. Di dalam pola pembelajaran

yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan

perbuatan/kegiatan guru-peserta didik atau dikenal dengan istilah sintaks dalam

peristiwa pembelajaran. Secara implisit di balik tahapan pembelajaran tersebut

terdapat karakteristik lainnya dari sebuah model dan rasional yang membedakan

antara model pembelajaran yang satu dengan model pembelajaran yang lainnya.

2. Model pembelajaran afektif

Ada beberapa model pembelajaran afektif yang popular dan sering

digunakan antara lain, sebagai berikut:

a. Model konsiderasi Peter McPhail

Menurut Peter McPhail, sebagaimana dikutip Winecoff, model

konsiderasi bertujuan membentuk perilaku siswa menuju kematangan

berhubungan sambil mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

(45)

33

dengan cara memberikan perhatian dan mempertimbangkan orang lain. Model

ini didasarkan pada anggapan bahwa hidup untuk orang lain adalah

merupakan suatu pengalaman yang membebaskan ketegangan, dan dengan

melalui pertimbangan atas orang lainlah kita bisa benar-benar menjadi diri kita

sendiri. Guru menurut model ini mestilah orang yang sungguh-sungguh

humanis, ia bertanggungjawab mendorong perilaku moral secara sistematis

sehingga bisa menurunkan konflik dominasi dan konflik yang tidak sehat.

Model ini juga didasarkan atas keyakinan bahwa kebutuhan dasar manusia

adalah hidup selaras dengan orang lain, mencintai dan dicintai.34

b. Model pembentukan rasional James Shaver

Model pembentukan rasional yang dikembangkan oleh James

Shaver bertujuan membantu siswa mengembangkan kematangan moral

melalui analisis situasi secara kritis dikaitkan dengan konteks sosial yang

spesifik. Model ini berusaha mencoba menentukan apa itu nilai dalam

berbagai konteks sosial yang berbeda-beda dan apa itu nilai moral yang

membimbing kesatuan sosial. Model ini didasarkan atas anggapan bahwa

kematangan moral siswa akan bisa dicapai dengan cara menganalisis berbagai

situasi yang berkaitan dengan konteks sosial yang spesifik secara kritis.35

Model pembentukan rasional yang dikembangkan oleh James

Shaver sebagaimana yang diuraikan di atas, pada sintaks Model Pembelajaran

Quantum Moral Islam diaplikasikan dalam tahap apersepsi atau pengenalan

34Herbert Larry Winecoff, Concept in Values Education, (Bandung: Depdikbud Program Pascasarjana IKIP

Bandung, 1987), 6.1-6.2.

(46)

34

konteks yaitu guru selalu mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks

sosial peserta didik.

c. Model analisis nilai Jerrold Coomb, Milton Mieux dan James Chadwick

Menurut Hersh dkk, model analisis nilai bertujuan mengajari siswa

mempergunakan pendekatan saintifik dalam menghimpun dan menganalisis

data agar mereka mampu menemukan nilai pribadinya sendiri dan nilai-nilai

dari lingkungan masyarakatnya.36 Model ini didasarkan pada anggapan bahwa

keputusan membuat pertimbangan nilai akan berhasil secara efektif dengan

cara menganalisis informasi dan menentukan mana yang benar-benar fakta

dan mana isu-isu yang dianggap keputusan nilai, asumsi, atau hanya

propaganda.

Model analisis nilai sebagaimana yang diuraikan di atas, pada

sintaks Model Pembelajaran Quantum Moral Islam diaplikasikan dalam tahap

obyektivasi, internalisasi melalui kegiatan saintifik, dan eksternalisasi.

3. Justifikasi akademik terkait kata moral

a. Moral dalam Islam

Kata moral dalam Islam disepadankan dengan kata akhlaq yang

berasal dari bahasa Arab, yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah

(kelakuan), al-‘adat (kebiasaan), dan al-muru’ah (peradaban yang baik). Dari

pengertian itu, beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa kata akhlaq diartikan

(47)

35

sebagai budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, atau segala hal yang menjadi

tabiat.37

Al-Utsaimi>n menjelaskan, akhlaq merupakan sebuah tabiat

(kelakuan) atau ketetapan asli, akhlaq juga bisa diperoleh atau diupayakan

dengan jalan berusaha. Maksudnya, bahwa seorang manusia sebagaimana

telah ditetapkan padanya akhlaq yang baik dan bagus, sesungguhnya

memungkinkan juga baginya untuk berperilaku dengan akhlaq yang baik

dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya.38

Al-Mawardi menjelaskan, bahwa al-muru’ah adalah pengaplikasian

akhlak yang terpuji dalam segala aspek kehidupan serta menjauhkan akhlak

yang tercela sehingga seseorang senantiasa hidup sebagai orang terhormat dan

penuh kewibawaan.39Muru’ah dalam perspektif Al-Mawardi adalah menjaga

kepribadian atau akhlak yang paling utama sehingga tidak kelihatan pada diri

seseorang sesuatu yang buruk atau hina. Al-Mawardi memandang bahwa

sikap muru’ah merupakan perhiasan pribadi seorang Muslim: Menjadi bukti

keutamaan budi dan menjadi tanda kemuliaannya.40

Al-Ghaza>li> mengatakan, moral atau akhlak adalah suatu kemantapan

jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengamalan dengan mudah, tanpa

harus direnungkan dan disengaja. Jika kemantapan itu sudah melekat kuat,

sehingga menghasilkan amal-amal yang baik, maka ini disebut akhlak yang

37M. Abul Quasem dan Kamil. Etika Al-Ghazali: Etika Majemuk di dalam Islam, terj. J. Mahyudin.

(Bandung: Pustaka, 1988), 78-79.

38Imam Muhammad bin Sha>lih al-‘Utsaimi>n, MakarimalAkhlaq: Budi Pekerti yang Mulia, terj. Abu> Mu>sa>

al-Atsari>.(Beirut: Da>r Al-Kutb Al

Gambar

 Tabel 1.1 Resume Penelitian Terdahulu
gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar.19
Gambar 2.1 Peta Konsep Model Pembelajaran Quantum Moral Islam
Gambar 2.2 Pembelajaran kontekstual
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu penulis akan melakukan penelitian yang berjudul Penyusunan Desain Pembelajaran Bermuatan Karakter pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, simpulan penelitian ini adalah 1) p erencanaan pendidikan karakter di SD Ta’mirul Islam diwujudkan dalam perencanaan

Abdul Bashith, M.Si Kata Kunci : Pengembangan Media Pembelajaran Android, Pendidikan Agama Islam Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Android Mata Pelajaran Pendidikan Agama

Temuan penelitian menunjukkan bahwa: 1 Implementasi pendidikan karakter di SDIT Permata Ummat Trenggalek telah terlaksana, hal ini dapat dilihat dari nilai-nilai karakter yang

reduksinya moral terhadap implementasi nilai karakter bangsa di sekolah, antara lain: memperkuat penerapan agama di sekolah dan di masyarakat, memperkuat pelaksanaan

• Rumusan Masalah Dengan mengacu pada permasalahan-permasalahan di atas, maka permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: • Bagaimana prosedur pengembangan instrumen evaluasi

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang pengembangan LKPD berbasis pendidikan karakter pada mata pelajaran PKn sekolah dasar pada siswa kelas III di SD

Dokumen kurikulum MKDU Pendidikan Agama Islam Universitas Terbuka lengkap untuk pengembangan akademik dan karakter