Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
PF-199
PENGEMBANGAN PBK-BA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
PROBLEM-SOLVING
CALON GURU FISIKA
Joni Rokhmat1, Agus Setiawan, Dadi Rusdiana2
1
Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Mataram Email:[email protected](HP. 081805738694) 2
Program Studi Pendidikan IPA, SPs Universitas Pendidikan Indonesia Email:[email protected];[email protected]
Abstract:
Telah dikembangkan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik (PBK-BA) untuk pembelajaran fisika dasar, pokok bahasan hukum Newton. Pengembangan ini dimaksudkan menjadi sebuah strategi alternatif dalam pembelajaran fisika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekplorasi pola berpikir mahasiswa dan menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kemampuanproblem-solvingmahasiswa calon guru fisika. Penelitian ini melibatkan 45 mahasiswa pendidikan fisika yang sedang mengambil matakuliah fisika dasar I. Metode yang digunakan adalah metode campur (mix method), berjenisembedded design one-phaseyang menekankan alanlisis kualitatif, Creswell & Clark (2007, p. 67-71). PBK-BA memberi peluang bagi mahasiswa untuk menyelesaikan setiap persoalan secara terbuka dan memfasilitasi mahasiswa untuk memahami konsepnya secara menyeluruh. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji beda rata-rata dan skor gain ternormalisasi. Hasil analisis menunjukkan kenaikan kemampuan problem-solving mahasiswa. Selain itu, hasil analisis angket menunjukkan adanya respon yang sangat positip dari mahasiswa terhadap penggunaan strategi ini.
Kata kunci:PBK-BA,Fisika Dasar,KemampuanProblem-Solving..
PENDAHULUAN
Latar belakang. Proses penyiapan calon guru fisika secara kontinyu perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Proses peningkatan kualitas ini antara lain perlu dilakukan melalui penelitian pendidikan yang berfokus pada pengembangan strategi pembelajarannya. Di lapangan, salah satu kendala yang dihadapi dunia pendidikan fisika adalah kualitas para gurunya. Mahasiswa calon guru perlu memiliki pemahaman konsep-konsep fisika secara utuh. Atas dasar uraian di atas, dalam membekali para calon guru, perlu difasilitasi kegiatan perkuliahan yang dapat memberi peluang sebesar-besarnya bagi mahasiswa untuk menguasai konsep-konsep fisika secara menyeluruh. Dalam makalah ini, akan dibahas PBK-BA yang dirancang dengan basis persoalan-persoalan yang bersifat terbuka dan terbukti mampu meningkatkan kemampuan problem-solvingcalon guru fisika.
Permasalahan penelitian. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pola
berpikir kausalitas dan berpikir analitik yang perlu dikembangkan serta dampaknya terhadap peningkatan kemampuan problem-solving mahasiswa calon guru fisika?” Berdasarkan permasalahan tersebut, maka
penelitian ini dilakukan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian berikut: (1) Bagaimana pola berpikir kausalitas dan berpikir analitik yang perlu dikembangkan mahasiswa calon guru fisika? (2) Bagaimana dampak kemampuan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik tarhadap peningkatan kemampuan problem-solving mahasiswa calon guru fisika? (3) Bagaimana respon mahasiswa calon guru fisika terhadap penggunaan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik dalam perkuliahan? (4) Bagaimana respon dosen fisika terhadap penggunaan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik dalam perkuliahan?
Joni Rokhmat/ PBK-BA FISIKA DASAR,
PF-200
meliputi kemampuan proses berpikir kreatif, berpikir sistem, berpikir kritis, dan berpikir sintesis; dan (5) Mengetahui keunggulan dan keterbatasan penggunaan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik dalam pembelajaran fisika.
Metode penelitian.
Penelitian dilakukan dengan metoda campuran (mixed method) yaitu menggunakan model
Embedded Design, Creswell & Clark (2007, p. 67-71). Jenis yang dipilih adalahembedded design one-phase
dengan penekanan kualitatif. Metode ini terdiri atas dua proses pokok yang terdiri atas: (1) Proses Kualitatif disertai dengan proses kuantitatif yang embedded di dalamnya, dan (2) Proses interpretasi kualitatif didasarkan pada hasil proses (1).
Subjek dan instrument penelitian. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester I yang mengambil mata kuliah fisika dasar I. Instrument yang digunakan meliputi: (1) Seperangkat alat tes (Soal Ujian Nasional untuk Mata Pelajaran Fisika tahun 2011); (2) Seperangkat soal kinerjaproblem-solvinguntuk
pre-test,post-test; (3) Silabi Fisika Dasar 1; (4) Rencana Pelaksanaan Perkuliahan (RPP); (5) Model BK-BA; (6) Lembar Kerja Mahasiswa (LKM); (7) Lembar Observasi PBK-BA; (8) Rubrik penilaian soal kinerja
problem-solving dan PBK-BA; (9) Angket untuk mahasiswa; (10) Angket untuk dosen; (11) Pedoman wawancara (open-ended question) untuk mahasiswa; dan (12) alat perekam wawancara.
Anailsis Instrumen dan teknik analisis data.Analisis instrumen meliputi: Validasi ahli untuk pola BK-BA dan soal kinerja problem-solving beserta rubrik penilaiannya; serta Validasi angket, pedoman observasi, dan pedoman wawancara. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik campuran dengan studi tunggal. Dalam proses eksplorasi, data kualitatif dikumpulkan. Bersamaan dengan itu, data kuantitatif juga dikumpulkan yang difungsikan sebagai data pelengkap. Selanjutnya dilakukan analisis dan interpretasi secara kualitatif dengan didukung hasil analisis kuantitatif.
Mengingat terbatasnya ruang dan waktu, pada makalah ini akan dibahas sebagian dari persoalan di atas, yaitu akan diuraikan kemampuan kinerjaproblem-solvingpada pokok bahasan hukum Newton sebelum dan sesudah proses PBK-BA. Pembahasan pokok bahasan itu sendiri dibagi menjadi sub-persoalan, yaitu yang mencakup: (1) Konsep pasangan gaya aksi-reaksi; (2) Sistem dua massa dan tali dengan salah satu massa berada di atas bidang miring tanpa gesekan; (3) Sistem 2 dan 3 massa dengan tali yang berada di atas bidang horizontal dengan gesekan; dan (4) Sistem dua massa yang dihubungkan dengan tali dengan salah satu massa berada di atas bidang miring dengan gesekan.
PEMBAHASAN
Setidaknya terdapat tiga hal yang perlu dibahas dalam makalah ini, yaitu: (1) Pengertian problem-solving, (2) Pengertian berpikir kausalitas, dan (3) Pengertian berpikir analitik. Selanjutnya dibahas bagaimana cara mengembangkan proses berpikir kausalitas dan berpikir analitik dalam suatu pembelajaran serta hasil peningkatan kemampuan kinerjaproblem-solving mahasiswa, khususnya dalam pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak.
Pengertianproblem-solving
Problem-solvingmerupakan proses mental dan sebagai bagian dari prosesproblemyang lebih besar yang meliputiproblem finding danproblem shaping.Problem findingberarti penemuanproblemsedangkan
problem shaping berarti peninjauan ulang suatu pertanyaan sedemikian rupa sehingga proses solusi dapat dimulai atau dilanjutkan.Problem findingmelibatkan aplikasi kreativitas sedangkan problem shapingsering melibatkan aplikasi berpikir kritis, (Wikipedia, 2009).
Dalam kinerjaproblem-solving, siswa perlu menggunakanknowledgeyang sedang dipelajari untuk membangkitkan dan mempertahankan solusi atau situasi yang melibatkan konteks yang tidak biasa. Sebelum dilibatkan dalam tugasproblem-solvingsiswa diminta memprediksi bagaimana konteks yang tidak biasa itu berpengaruh terhadap situasi tersebut. Pada simpulan tugas problem-solving, siswa harus menyatakan kembali prediksi awal mereka dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu konteks yang khusus. Mereka juga harus mendeskripsikan simpulannya dengan dukungan yang terstruktur, (Marzano & Brown, 2009, p. 134).
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
PF-201
Dalam penelitian ini, disesuaikan pada karakteristik dari PBK-BA yang dikembangkan mahasiswa, kinerja problem-solving diartikan sebagai kemampuan mahasiswa calon guru fisika untuk menggunakan
knowledgeyang dimilikinya dalam memilih dan/atau memprediksi, secara deduktif, berbagai kemungkinan akibat ketika suatu persoalan awal, yang memuat sebuah atau beberapa penyebab, diberikan, serta mampu mengidentifikasi bagaimana sebuah atau beberapa penyebab tersebut dapat menghasilkan suatu akibat yang terpilih atau terprediksi. Untuk menganalisis kemampuan tersebut di atas, digunakan indikator berikut: (1) Kemampuan memilih dan/atau memprediksi berbagai kemungkinan akibat yang dapat terjadi berkenaan dengan kondisi komponen penyebab dalam soal; ditambah 6 indikator pada indikator lainnya, yaitu: (2)
Understanding,memahami ide atau gagasan dalam setiap soal atau persoalan; (3)Analyzing, menganalisis komponen-komponen yang terdapat dalam setiap soal atau persoalan; (4)Differrentiating, membedakan dan memilih penyebab-penyebab yang dapat menghasilkan suatu akibat tertentu; (5) Determining, dapat menentukan konsep, prinsip, teori, dan/atau hukum yang dapat digunakan untuk mendukung dalam mengidentifikasi sebuah atau beberapa penyebab sehingga menghasilkan suatu akibat tertentu; (6)
Applicating, menggunakan konsep, prinsip, teori, dan/atau hukum yang diperlukan dalam mengidentifikasi penyebab-penyebab sehingga menghasilkan suatu akibat tertentu; dan (7) Identifying, mengidentifikasi kondisi penyebab-penyebab sehingga dapat menghasilkan suatu akibat tertentu.
Berpikir Kausalitas dan Berpikir Analitik (PBK-BA) Pengertian kausalitas
Terdapat dua pendekatan filosofi tentang teori penyebab (causation), yaitu: teoridifference-making
dan teori proses causal. Teori difference-making memandu ide bahwa cause (sebab) menciptakan suatu perbedaan terhadap akibatnya. Teori ini dapat diterapkan dalam teori peluang dan teoricounterfactual.Teori peluang mendefinisikan penyebab dalam suku peluang kondisional. Dickinson & Shanks (1995) menyatakan bahwa teori ini melakukan perbedaan dalam suku-suku ketaksamaan di antara peluang kondisional. Cause
harus menghasilkan atau minimal mengubah peluang terjadinya akibat, dan memiliki ikatan yang jelas dengan teori pembelajaran kausal dan dengan pemakaian informasi kontingensi (Gopnik & Schulz, 2007, p. 19).
Prinsip-prinsip Kausalitas.Terdapat tiga prinsil kausalitas sebagaimana dirangkum dari pendapat Lenzen (1954, p. 20-21) dan Hill )2011, p. 343-345), yaitu:Prinsip kausalitas 1:Bahwa kausalitas adalah
reproducibleterhadap ruang dan waktu. Prinsip ini menyatakan bahwa ruang dan waktu bukan penyebab yang efisien terhadap fenomena. Contoh, jika sebuah percobaan fisika dilakukan di sebuah laboratorium, maka akan diperoleh kesimpulan yang sama ketika percobaan tersebut dilakukan pada waktu atau di laboratorium berbeda itu, atau dilakukan pada waktu dan laboratorium yang keduanya berbeda, (Lenzen, 1954, p. 20-21). Prinsip kausalitas 2: Prinsip umum sains, yaitu bahwa kondisi awal yang sama akan dihasilkan oleh rangkaian/urutan fenomana yang sama, (Lenzen, 1954, p. 21).Prinsip kausalitas 3:Bahwa sebuah peristiwacauseadalah diperlukan oleh peristiwaeffect, dan jika peristiwa-peristiwa tersebut terpisah oleh ruang maka juga harus terpisah oleh waktu yang cukup bagi informasi yang diperlukan untuk bergerak dari lokasicauseke lokasieffect, (Hill, 2011, p. 343-345).
Kognisi Kausalitas
Intisari kausalitas adalah koneksi atara dua fenomena: fenomena pertama, penyebab; fenomena lainnya, akibat. Dalam kausalitas dinamika penyebab yang sama digantikan oleh akibat yang sama sedangkan dalam kausalitas statistika penyebab yang sama diikuti oleh sebuah akibat yang terdistribusi. Secara histori, istilah kausalitas telah diartikan sebagai kausalitas dinamika, atau regularitas, (Lenzen, 1954, p. 27).
Model Berpikir Kausalitas
Joni Rokhmat/ PBK-BA FISIKA DASAR,
PF-202
Gambar 1 memperlihatkan bagan empat model kausal dasar, dengan lingkaran-lingkaran menyatakan variabel peristiwa dan anak panah menandakan arah pengaruh kausal: (a) model kausal sederhna (MKS), penyebab tungalX mempengaruhi akibat tungal Y, (b) model kausal divergen (MKD), penyebab tunggalXmempengaruhi dua akibatY, danZatau lebih, (c) model kausal konvergen (MKK), dua penyebabX
danY atau lebih secara terpisah berpengaruh pada akibat bersamaZ, dan (d) model kausal rantai (MKR), penyebab awalXmempengaruhi peristiwa-antaraYyang mempengaruhi akibat akhirZ. Model kelima adalah model kausal gabungan (MKG). Bagan MKG dapat merupakan kombinasi dari bagan keempat model kausal, MKS, MKD, MKK, dan model kausal MKR.
Indikator berpikir kausalitas: Mahasiswa calon guru fisika mampu menguraikan suatu persoalan atau situasi kedalam sebuah atau sejumlah komponen penyebab dan akibat pendukungnya kedalam salah satu dari kelima model berpikir kausalitas di atas. Untuk mendukung kamampuan di atas, berikut ini indikator yang perlu dimiliki oleh mahasiswa: (1) Membedakan komponen penyebab tetap dan penyebab terkondisi; dan (2) Memprediksi secara deduktif akibat-akibat yang berpeluang terjadi.
Pengertian Analitik
Semua berpikir didefinisikan oleh delapan elemen pembangunnya. Kapanpun orang berpikir, berpikir untuk sebuah tujuan dalam sebuah titik pandang yang didasarkan pada asumsi yang mendorong pada pemikiran dan konsekuensi. Konsep, ide dan teori digunakan untuk interpretasi data, fakta, dan pengalaman agar dapat menjawab pertanyaan, menyelesaikan persoalan, dan menguraikan isu. Maka berpikir berarti: (1) Membangkitkan tujuan; (2) Mengajukan pertanyaan, (3) Menggunakan informasi, (4) Memerlukan konsep, (5) Membuat simpulan, (6) Membuat asumsi, (7) Membangkitkan pengertian, dan (8) Mewujudkan titik pandang.
Kemampuan berpikir analitik dalam taksonomi Bloom termasuk pada proses berpikir tingkat tinggi, yaitu berada pada kategori C-4, Marzano dan Kendall (2008, p. 3). Menurut Amer (2005, p. 5-6), berpikir analitik termasuk komponen dari berpikir sistemik dan berpikir kritis. Beliau juga menyatakan bahwa berpikir analitik terkait erat dengan berpikir kreatif, yaitu bahwa kedua proses berpikir tersebut bersifat saling melengkapi, (Amer, 2005, p. 14).
Ide dasar dalam teknik berpikir analitik adalah mendaftar sejumlah elemen, membandingkannya, meranking, dan memilih yang paling bernilai, membuang sisanya. Lihat gambar 2 berikut:
Indikator berpikir analitik: Jika gagasan berpikir analitik dari Paul & Elder (2003, p. 15), Zschunke (2000, p. 2), Amer (2005, p. 1, 5-6, 9, & 14), Cohen (200, p. vii), dan Hamilton (2001, p. 36-44) dirangkum serta dikaitkan dengan upaya meningkatkan kemampuan berpikir kausalitas dan berpikir analitik dalam mendukung kemampuan kinerjaproblem-solving, maka secara kualitatif ditentukan 6 indikator bagi mahasiswa sedang mengembangkan berpikir analitik dan indikator-indikator tersebut menjadi indikator dari kemampuanproblem-solvingseperti sebagaimana sudah disebutkan di atas.
Gambar 2Analytical Thinking, (Amer, 2005, p. 9)
Analytical Thinking
elements
List a
handful
Select one
best
Gambar 1 Empat model kausal dasar, (didasarkan pada Gopnik & Schulz, (2007, p 88), Meder (2006 p. 31) setelah ditambah model kausal sederhana (MKS)).
(a) (d)
X
Y Z
Model Kausal Rantai (MKR)
X Y
Model Kusal Sederhana (MKS)
(b) Z Model Kusal Divergen (MKD)
X
Y
…
(c) Model Kausal Konvergen (MKK)
X
… Z
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 2 Juni 2012
PF-203
Hasil Implementasi PBK-BA
Pembahasan hasil kemampuanproblem-solving(KPS)
Berdasarkan hasil analisis kinerjaproblem-solving mahasiswa calon guru pada awal (pre-test) dan akhir pengembangan PBK-BA (post-test), pada umumnya terdapat peningkatan skor rata-rata dan memiliki gain yang positip dan bertaraf sedang. Tabel 1 berikut memperihatkan hasilpre&post-testdari kemampuan
problem-solving(KPS) beserta nilaigain-nya untuk pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak.
Nilai rata-rata KPS
Pre-Test 0.21
Post-Test 0.53
Gain 0.40
Tabel 1. Deskripsi Nilai Rata-rata KPS dangain-nya
Pada tabel 1 terlihat adanya peningkatan rata-rata KPS dari hasil pre-test dan post-test, serta memiliki gain yang berkategori sedang. Meskipun demikian, rata-rata KPS pada hasil pre-test masih tergolong rendah. Jika ditinjau lebih ke dalam, kemampuan KPS sebenarnya merupakan rata-rata dari kemampuan memilih dan/atau memprediksi akibat-akibat (KM) dan kemampuan mengidentifikasi (kemampuan analitik) bagaimana penyebab-penyebab dalam soal tersebut dapat menghasilkan suatu akibat tertentu (KA). Sebenarnya rendahnya KPS lebih diakibatkan kemampuan KA mahasiswa yang rendah. Rata-rata kemampuan KM itu sendiri, pada akhir PBK-BA menunjukkan kategori sedang. Deskripsi tersebut diperlihatkan dalam tabel 2 berikut:
KM KA KPS
Pre-Test 0.28 0.15 0.21
Post-Test 0.63 0.42 0.53
Gain 0.49 0.32 0.40
Tabel 2. Deskripsi Nilai Rata-rata hasilpre&post-testKM, KA, & KPS, sertagain-nya
Kemampuan KPS pada pokok bahasan di atas, jika ditinjau dari jenis soal yang dijadikan sebagai alat ukur, maka dapat dibagi menjadi empat jenis KPS, yaitu: (1) KPS-1, merupakan KPS sub pokok bahasan hukum Newton yang terkait dengan konsep pasangan gaya aksi dan reaksi; (2) KPS-2, merupakan KPS sub pokok bahasan hukum Newton yang terkait dengan konsep gerak sistem 2 massa yang dihubungkan dengan tali ringan melalui katrol yang juga ringan, serta salah satu massanya berada di atas bidang miring tanpa gesekan; (1) KPS-3, merupakan KPS sub pokok bahasan hukum Newton yang terkait dengan konsep gerak sistem 2 dan 3 massa yang dihubungkan dengan tali ringan melalui katrol yang juga ringan, serta salah satu massanya berada di atas bidang horizontal dengan gesekan; dan (1) KPS-4, merupakan KPS sub pokok bahasan hukum Newton yang terkait dengan konsep gerak sistem 2 massa yang dihubungkan dengan tali ringan melalui katrol yang juga ringan, serta salah satu massanya berada di atas bidang miring dengan gesekan.
Hasil analisis untuk kemampuan KPS-1, 2, 3, dan KPS-4 dari hasilpre&post-test, serta nilaigain -nya dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
KPS-1 KPS-2 KPS-3 KPS-4
Pre-Test 0.26 0.25 0.21 0.13
Post-Test 0.53 0.66 0.38 0.54
Gain 0.37 0.54 0.21 0.47
Tabel 3. Deskripsi Nilai Rata-rata hasilpre&post-testKPS-1, 2, 3, & KPS-4, sertagain-nya.
Dalam tabel 3 di atas, terlihat bahwa untuk semua KPS terjadi peningkatan nilai rata-rata dari hasilpre-test
PF-204
mengerjakan soal-soal yang terkait mengerjakan soal tersebut karena bag Dalam bentuk diagram, nilai rata-rata berikut:
Dalam tabel 4 dan gambar nya untuk kelompok atas dan kelom dalam tabel tersebut diperlihatkan p pula kemampuan memilih dan/atau (KM) dan kemampuan memberi alas
Kemampuan Rata-rata Kel Atas & Bawah,Hk Newton, Skor Skala 100
KPS-1 KPS-2 KPS-3 KPS-4
ait dengan KPS lainnya. Kedua, kemungkinan mahasisw bagi mahasiswa soal tersebut termasuk sangat sulit.
rata terkait dengan tabel 1, 2, dan 3 dapat dilihat dalam gam
ar 6 & 7, diperlihatkan kemampuanproblem-solving(KP ompok bawah sebelum dan sesudah pengembangan PBK-B
pula KPS untuk setiap persoalan, yaitu KPS-1 s.d. KPS-4 tau memprediksi pernyataan benar yang menjadi akibat d
lasan terhadap keputusan KM di atas (KA).
Kemampuan Rata-rata Kel Atas & Bawah,Hk Newton, Skor Skala 100
KPS-1 KPS-2 KPS-3 KPS-4
PS-1, 2, 3, dan KPS-4 pokok bahasan hukum Newton beserta
Pre-Test Post-Test Gain
KPS
m KPS pokok bahasan hukum Newton besertagain-nya
KM KA KPS
Pre-Test
Post-Test
Gain
M, KA,dan KPS pokok bahasan hukum Newton besertagai
FISIKA DASAR,
Kemampuan Rata-rata Kel Atas & Bawah,Hk Newton, Skor Skala 100
Pr
Berdasarkan analisis data ha kausalitas dan berpikir analitik (PB meningkatkan kemampuanProblem
untuk bagian kemampuan analitik (K yang lebih efektif bagi mahasiswa d berurutan, dari besar ke kecil, nilai diikuti KPS pokok bahasan keempa yaitu masing-masing bernilai 0,55, mahasiswa sangat setuju dan mem perkuliahan fisika. Hal ini ditunjukan 4,00 untuk tanggapan sangat setuju.
DAFTAR PUSTAKA
Amer, A., (2005).Analytical Thinki
in Engineering Sciences, Ca Barak, M. & Shakhman, L., (2008).
Conceptio, Eurasia Journa
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Pe Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyaka
PF-205
Gain
Kel Atas 0.5 0.4 0.5 0.7 0.7 0.7 0.1 0.0 0.1 0.6 0.5 0.5
Kel Bwh 0.4 0.3 0.4 0.4 0.3 0.4 0.3 0.2 0.2 0.4 0.3 0.3
Rata-rata Kel Atas & Bawah
,
Hk Newton, Skor Ska
hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi PBK-BA) pada perkuliahan hukum-hukum Newton tenta
lem-solving(KPS) mahasiswa calon guru fisika. Namun de (KA) nilaigain-nya berkategori rendah sehingga perlu diti a dalam member argument terhadap keputusan yang merek ilaigain tertinggi diperoleh pada KPS sub pokok bahasan pat (KPS-4), pertama (KPS-1), dan yang terendah yang k 5, 0,39, 0,31, dan 0,21. Dari analisis angket dapat disim ember tanggapan sangat positip jika PBK-BA diimpleme kan oleh skor rata-rata angket secara keseluruhan 3.36 dari s ju.
nking. Cairo: Center of Advancenent of Postgraduate Studie Cairo University (CAPSCU), (p. 1-14).
8).Reform-Based Science Teaching: Teachers’ Instructiona rnal of Mathematics, Science & Technology Education, 4
rsity of the Negev, Beer Sheva.
Conceptual Change by Cognitive Conflict Based of Heat and Temperature Concepts; Eurasia Journal o Education, Vol. 2 Number 2, Juli, (96-108).
(2007).Mixed Methods Research.USA: Sage Publications,
K
gram KM, KA, & KPS besertagainnya untuk Kelompok Ba
K
ram KM, KA, & KPS besertagainnya untuk Kelompok Ata
Joni Rokhmat/ PBK-BA FISIKA DASAR,
PF-206
Dykstra, D. I. & Sweet, D. R., (2009).Conceptual Development about Motion and Force in Elementary and Middle School Students,American Association of Physics Teachers,Am. J. Phys. 77(5),Mey, (p. 468-476).
Elder, L. & Paul, R., 2007. Analytic Thinking:The Elements of Thinking and The Standards They Must Meet.www.criticalthinking.org, (p. 5-7).
Escudero, C., Moreira, A. M., & Caballero, C., (2009). A research on undergraduate students’conceptualizations of physics notions related to non-sliding rotational motion,Lat. Am. I Phys. Educ.Volum 3(1), Januari, (p. 1-7).
Gopnik, A. & Schulz, L., (2007).Causal Learning; Psychology, Philosophy, and Computation. New York: Oxford University Press, Inc., (p. 86-94).
Hake, R., (2007).Six Lessons From The Physics Education Reform Effort,Latin American Journal of Physics Educationvolum 1(1), September, (p. 24-27).
Hill, S. E., (2011).Reanalyzing the Ampere-Maxwell Law, AAPT Physics Education, The Physics Teacher. Redlands, CA: University of Redlands, Volum 49, September, (p. 343-345).
Kuçtikozer, H. & Demirci, N., (2008). Pre-Service and In-Service Physics Teachers’ Ideas about Simple Electric Circuits, Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 4(3), (p. 303-308). Turkiye: Balikesir Universitesi, Balikesir.
Lenzen, V. F., (1954).Causality In Natural Science. USA: Charles C Thomas Publisher Springfield Illinois, (p. 2-27).
Marzano, R. J. & Brown, J. L., (2009).A Handbook For The Art and Science of Teaching. USA: ASCD, (p. 134-135).
Marazano, R. J. & Kendall, J. S., (2008).Designing & Assessing Educational Objectives: Applying the New Taxonomy. USA: Corwin Press, (p. 3).
Paul, R. & Elder, L., (2003).The Foundations of Analytic Thinking:The Elements of Thinking and The Standards They Must Meet, second edition.www.criticalthinking.org, (p. 3-15 & 42).
Paul, R. & Elder, L., (2006). The Foundation for Critical Thinking: The Miniature Guide to Critical Thinking, Concepts and Tools,www.criticalthinking.org, (p. 4-22).
Sloman, S., (2005).Causal Models: How People Think about The World and its Alternatives. New York: Oxford University Press, Inc., (p. 39-45).
Wikipedia (2009). Problem Solving. http://en.wikipedia.org/wiki/problem-solving, diakses tanggal 11 Agustus 2011.
Yürük, N. (2007). A Case Study of One Student’s Metaconceptual Processes and the Changes in Her Alternative Conceptions of Force and Motion, Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 3(4), (p. 305-325). Turkey: Gaɀi Universitesi.