BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak tersamar ganda (double blinded-randomized controlled trial), untuk menilai efektivitas suplemen ikan gabus metode freeze dryer terhadap peningkatan kadar albumin dan prealbumin pada pasien sepsis.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat
Pengumpulan data penelitian dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan.
3.2.2 Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan juni 2016 atau setelah melewati
ethical clearance dari komisi etik penelitian bidang kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan komisi etik penelitian Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan, sampai dengan jumlah sampel terpenuhi.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi yang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah pasien dewasa dengan sepsis yang dirawat di RSUP H. Adam Malik.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian diambil dari seluruh pasien dewasa dengan sepsis yang dirawat di RSUP H. Adam Malik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian sampai jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi.
3.3.3 Perhitungan Besar Sampel
Perhitungan besar sampel minimal dengan menggunakan rumus besar sampel untuk uji hipotesis terhadap rata-rata dua populasi dalam dua kelompok independent. :
n = besar sampel
Z = 1,96 (adalah deviat baku pada 0,05)
Z = 0,842 (adalah deviat baku 0,02)
S = simpang baku, diambil dari kepustakaan sebesar 0,36 α = derajat kemaknaan = 0,05 (95%)
= power penelitian = 0,2 (80%)
X1-X2 = Perbedaan klinis yang dianggap bermakna (clinical judgment) = 1.26-0.86 = 0.4
Dari perhitungan dengan rumus diatas, maka diperoleh besar sampel: n1=17 n2=17 Dengan mempertimbangkan kriteria putus uji 10 % maka n1=19 n2=19 ,sehingga keseluruhan sampel berjumlah 38 orang.
3.3.4 Teknik Pengambilan Sampel
a. Sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi secara random menjadi 2 kelompok intervensi (perlakuan),
b. Randomisasi dilakukan dengan cara randomisasi blok oleh relawan yang telah dilatih, selanjutnya disebut relawan pertama. Kelompok perlakuan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A dan kelompok B.. Jumlah kombinasi sekuens adalah 2 dapat dilihat di lembar lampiran . Dengan mata tertutup jatuhkan pena di atas tabel random. Ambil angka dua digit, angka yang ditunjuk oleh pena tadi merupakan nomor awal untuk menentukan sekuens. Kemudian pilihlah angka ke bawah dari angka pertama tadi sampai diperoleh jumlah sekuens yang sesuai dengan besarnya sampel. Kemudian sekuens yang diperoleh disusun secara berurutan sesuai dengan nomor amplop. Selain itu relawan pertama bertugas melakukan pengemasan ulang obat kedalam plastik klip obat yang telah disediakan.
c. Kemudian relawan kedua yang sudah dilatih mengenai prosedur penelitian akan mengambil amplop untuk menentukan intervensi apa yang akan dilakukan dan menyiapkan obat.
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.4.1 Kriteria Inklusi
a. Pasien dewasa sepsis dengan skor C SOFA < 6 b. Kadar albumin dibawah 3,5 g/dl.
3.4.2 Kriteria Eksklusi
a. Pasien / keluarga pasien tidak bersedia
b. Pasien dengan kontra indikasi diet oral dan enteral, seperti perdarahan saluran cerna, obtruksi usus, ruptur esofagus, gastroparesis, kolitis iskemik, pankreatitis akut
c. Pasien dengan penyakit hati d. Pasien dengan penyakit ginjal
e. Pasien dengan luka bakar
f. Pasien telah mendapatkan terapi human albumin g. Kehamilan
3.4.3 Kriteria drop out
a. Pasien tidak dapat dinilai
Pasien meninggal dunia selama intervensi dan observasi. Pasien dalam masa intervensi dan observasi menyatakan
mundur dari penelitian/penarikan informed consent
Pasien pindah ke rumah sakit luar. Pasien tidak patuh terhadap protokol
b. Pasien mengalami reaksi alergi terhadap bahan perlakuan.
3.5 Informed Consent
Setelah mendapat persetujuan dari komite etik penelitian bidang kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan RSUP H. Adam Malik Medan, keluarga pasien mendapatkan penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan secara tertulis kesediaannya pada lembar informed consent.
3.6 Cara Kerja
1. Penelitian ini dilakukan setelah mendapat informed consent dan disetujui oleh komisi etik penelitian bidang kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data pasien sepsis yang dirawat di RSHAM sejak mei 2016 dan diamati secara prospektif.
3. Pasien sepsis mendapat perawatan dan pengobatan yang sama, sesuai dengan pedoman praktik klinis RSUP HAM.
4. Semua sampel dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
5. Sampel dibagi secara random menjadi dua kelompok yaitu kelompok ikan gabus metode freeze dryer dan Kontrol. Kedua kelompok mendapatkan diet dengan asupan nutrisi enteral kalori non protein 30 kkal/KgBB dan protein 1 gram /KgBB dari instalasi gizi. Selain itu masing sampel akan mendapatkan prokinetik. Jenis prokinetik yang digunakan adalah Metokloramid 10 mg setiap 12 jam secara intravena. Kelompok ikan gabus metode freeze dryer sebanyak 20 pasien diberi suplemen ikan gabus 2 kali 1 bungkus per hari selama 3 hari. Sedangkan kelompok kontrol diberi plasebo 20 pasien diberi 2 kali 1 bungkus per hari selama 3 hari.
6. Pemeriksaan kadar albumin dan prealbumin terhadap kedua kelompok dilakukan setelah 6 kali pemberian suplemen ikan gabus dan kontrol. 7. Pemeriksaan meliputi vital sign penderita dan pemeriksaan
laboratorium untuk mengetahui kadar albumin serum.
8. Selama pasien menerima perlakuan dinilai toleransi terhadap nutrisi enteral dan reaksi alergi yang mungkin terjadi. Toleransi dinilai apakah pasien toleran atau intoleran. Toleran artinya saluran cerna pasien dapat menyerap nutrisi yang diberikan dengan baik. Intoleran dinilai volume residu enteral dari selang nasogastrik (NGT). Penilaian dilakukan setiap 6 jam dengan cara aspirasi selang nasogastrik dengan menggunakan spuit 50 ml dan mengukur volume residu enteral. Volume residu dicatat dilembar observasi pasien
9. Pemantauan efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian suplemen ikan gabus seperti reaksi terhadap saluran cerna, pusing, dan reaksi alergi.
3.7 Kerangka Kerja
POPULASI
SAMPEL
RANDOMISASI
INKLUSI EKSKLUSI
Diet kalori non protein 30 Kcal/kgBB + protein 1 gr/kgBB + Metoklopramid 10 mg/12 jam
Diet kalori non protein 30 Kcal/kgBB + protein 1 gr/kgBB + Metoklopramid 10 mg/12 jam KADAR ALBUMIN KADAR PREALBUMIN KADAR ALBUMIN KADAR PREALBUMIN ANALISA DATA Periksa ulang pada T 3
PLASEBO 2X1 SUPLEMEN IKAN GABUS
METODE FREEZY DRYER 2X1
T 0
Gambar 3.1 Kerangka kerja
3.8 Alat dan Bahan Penelitian
3.8.1 Alat
a. Lembar observasi pasien
b. Termometer dengan nama dagang omron®
c. Stethoscope dengan nama dagang littman®
d. Pengukur panjang badan e. Alat tulis
f. Amplop g. Spuit 50 ml h. Plastik klip Obat
3.8.2 Bahan
a. Suplemen ikan gabus metode freeze dryer
Dengan nama dagang Vipalbumin plus yang diproduksi oleh PT. Royal Medicalink Pharmalab
b. Plasebo
Terbuat dari gula laktosa c. Metoklopramid
3.9 Kerangka Konsep Penelitian
KADAR SERUM ALBUMIN KADAR SERUM PREALBUMIN
PLASEBO
SUPLEMEN IKAN GABUS METODE FREEZE DRYER
Variabel bebas
Variabel tergantung
Gambar 3.2 Kerangka konsep Penelitian
3.10 Identifikasi Variabel
3.10.1 Variabel bebas
a. Pemberian suplemen ikan gabus metode freeze dryer b. Plasebo
3.10.2 Variabel tergantung a. Kadar albumin
3.11 Definisi Operasional
a. Kadar albumin adalah jumlah albumin didalam serum darah dengan satuan gr/dl. Sampel darah diambil dari vena sebanyak 3 ml. Pengambilan sampel dilakukan dua kali, sebelum perlakuan dan setelah 3 hari perlakuan. Nilai normal albumin didalam plasma 3.5-4.5 gr/dL. Dikatakan hipoalbuminemia jika kadar albumin plasma < 3,5 gr /dL..
Alat ukur : ABX Pentra 400 metode kolorimetri Skala pengukuran : Skala rasio dan skala interval
Defisiensi albumin ringan 2.8-3.5 gr/dL, Defisiensi albumin sedang 2.1-2.7 gr/dL,
Defisiensi albumin berat < 2.1 gr/dL
b. Kadar prealbumin adalah jumlah prealbumin didalam serum darah dengan satuan mg/dl. Sampel darah diambil dari vena sebanyak 3 ml. Pengambilan sampel dilakukan dua kali, sebelum perlakuan dan setelah 3 hari perlakuan. Nilai normal prealbumin didalam plasma 15-40 mg/dL.
Alat ukur : Minineph metode nepehelometri Skala pengukuran : Skala rasio dan skala interval
Defisiensi prealbumin ringan 10-15 mg/dL Defisiensi prealbumin sedang 10-5 mg/dL Defisiensi prealbumin berat < 5 mg/dL c. Suplemen adalah zat tambahan yang digunakan untuk meningkatkan
kadar albumin dalam darah pada penderita hipoalbuminemia. Suplemen albumin yang digunakan :
Ikan gabus metode freeze dryer adalah ekstraksi ikan gabus dalam bentuk granul berukuran nano yang dibuat dengan teknologi freeze dryer. Pada studi ini preparat ekstrak ikan gabus yang digunakan diproduksi oleh PT. Royal Medicalink Pharmalab dengan nama dagang VipAlbumin plus. Sediaan dalam bentuk partikel nano berwarna putih dan dikemas dengan
sachet. 1 sachet VipAlbumin plus setara dengan 5 gr ekstrak ikan gabus. No batch : S261015907. Kadaluarsa bulan oktober 2017. Dosis yang digunakan 2x1(5gr) sachet selama 3 hari. Dikemas ulang dengan plastik klip berwarna biru. Cara pakai dilarutkan dengan 50 ml air.
Plasebo adalah zat atau obat tidak aktif yang tidak mempunyai efek dalam pengobatan. Plasebo yang digunakan adalah laktosa dalam bentuk serbuk granul berwarna putih. Dikemas dalam plastik klip berwarna biru seberat 5gr. Dosis 2x1 selama 3 hari. Cara pakai dengan dilarutkan dengan 50 ml air.
Alat ukur : Randomisasi
Skala pengukuran : Skala nominal (0: ekstrak ikan gabus , 1: Plasebo)
d. Pasien dewasa dengan sepsis adalah pasien dengan umur 18-60 tahun dengan diagnosa sepsis berdasarkan dengan kriteria qSOFA. Terdapat 2 dari 3 kriteria qSOFA, diantaranya hipotensi, penurunan kesadaran, dan peningkatan laju nafas. Dengan tujuan homogenitas sampel, ditentukan pasie sepsis dengan skor SOFA <6.
e. Berat badan pasien dihitung dengan predictive body weight (PBW). Dengan rumus pada laki-laki, 50+2.3 x (panjang badan-60 inchi) atau 50+0.91 x (panjang badan-152.4 cm). Pada wanita dengan rumus, 45.5+2.3 x (panjang badan-60 inchi) atau 45.5 + 0.91 x (panjang badan-152.4 cm)
3.12 Analisis Data
a. Setelah data yang diperlukan telah terkumpul, data tersebut diperiksa kembali tentang kelengkapannya sebelum ditabulasi dan diolah. Lalu data tersebut diolah dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 23. b. Data dikatakan berdistribusi normal jika nilai p>0,05 setelah
c. Membandingkan beda nilai rata-rata antara 2 kelompok dilakukan dengan uji statistik T-test jika data terdistribusi normal dan Mann-Whitney jika data tidak terdistribusi normal.
d. Untuk mengetahui perbedaan rerata sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan uji t-test berpasangan jika data terdistribusi normal dan menggunakan uji wilcoxon bila data tidak terdistribusi normal. e. Uji korelasi dengan menggunakan uji Pearson bila data terdistribusi
normal dan jika data tidak terdistribusi normal digunakan uji spearman.
f. Batas kemaknaan yang diambil p<0.05 dengan interval kepercayaan 95%.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik Demografi
Karakteristik Demografi Kelompok A Kelompok B p Umur, rerata (SB), tahun 42,95 (13,93) 44,79 (13,89) 0,826a Jenis Kelamin, n (%)
Laki-laki 13 (68,4) 13 (68,4) 1,000b
Perempuan 6 (31,6) 6 (31,6)
Berat badan, rerata (SB), kg 58,63 (9,56) 57,84 (9,34) 0,798c C SOFA 1 2 (10,5) 6 (31,6) 0,167b 2 3 (15,8) 1 (5,3) 3 6 (31,6) 9 (47,4) 4 5 (26,3) 1 (5,3) 5 3 (15,8) 2 (10,5)
Penelitian diikuti oleh sebanyak 38 subyek pasien dewasa dengan sepsis yang dirawat di RSUP H. Adam Malik yang telah memenuhi kriteria inklusi, dan dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah masing-masing 19 orang. Kelompok pertama disebut sebagai kelompok A adalah kelompok subyek yang diberikan ektrak ikan gabus metode freezy dryer dan kelompok kedua merupakan kelompok subyek yang diberikan plasebo. Karakteristik demografi subyek penelitian disajikan dalam tabel 4.1. Rerata usia pada kelompok A adalah 42,95 tahun dan kelompok B adalah 44,79 tahun. Jumlah subyek laki-laki di kedua kelompok adalah masing-masing 13 orang (68,4%) dan perempuan sebanyak 6 orang (31,6%). Rerata berat badan pada kelompok A adalah 58,63 kg dan kelompok B adalah 57,84 kg.
4.2 Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin Antara Kelompok A dan B Sebelum Perlakuan
Tabel 4.2 Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Kelompok A Kelompok B p Albumin T0, rerata (SB), mg/dl 2,68 (0,38) 2,58 (0,42) 0,468a Prealbumin T0, rerata (SB), mg/dl 11,26 (2,54) 13,63 (3,42) 0,019b a
T Independent, b Mann Whitney, T0 = sebelum perlakuan
Rerata kadar albumin pada kelompok A dan B sebelum perlakuan (T0) menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05).
4.3 Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B Setelah Perlakuan
Tabel 4.3 Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B Setelah Perlakuan
Kelompok A Kelompok B p Albumin T3, rerata (SB), mg/dl 2,94 (0,39) 2,24 (0,47) <0,001a Prealbumin T3, rerata (SB), mg/dl 20,63 (6,72) 9,05 (2,59) <0,001b a T Independent, b Mann Whitney, T3=setelah 3 hari perlakuan
Sebaliknya, rerata kadar prealbumin sebelum perlakuan, dan rerata albumin dan prealbumin setelah perlakuan 3 hari tampak menunjukkan rerata yang lebih tinggi dibandingkan rerata pada kelompok B. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk rerata kadar albumin dan prealbumin antara kelompok A dan B setelah perlakuan (p<0,001).
Gambar 4.1 Grafik Boxplot Perbedaan Rerata Kadar Albumin Setelah Perlakuan Hari Ketiga pada Kelompok A dan B
Gambar 4.2 Grafik Boxplot Perbedaan Rerata Kadar Prealbumin Setelah Perlakuan Hari Ketiga pada Kelompok A dan B
4.4 Perbedaan Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Tabel 4.4 Perbedaan Rerata Kadar Albumin dan Prealbumin Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok A dan B
Kelompok A, rerata (SB), mg/dl p Kelompok B, rerata (SB), mg/dl p Albumin T0 2,68 (0,38) <0,001a 2,58 (0,42) <0,001a T3 2,94 (0,39) 2,24 (0,47) Prealbumin T0 11,26 (2,54) <0,001b 13,63 (3,42) <0,001b T3 20,63 (6,72) 9,05 (2,59) a
T Dependent, b Wilcoxon, T0 = sebelum perlakuan, T=setelah 3 hari perlakuan
Dari hasil pengamatan hasil penelitian menunjukkan bahwa baik rerata kadar albumin dan prealbumin menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kelompok A, sedangkan pada kelompok B juga menunjukkan perbedaan yang signifikan hanya terjadi penurunan untuk kedua komponen protein tersebut.
Gambar 4.3 Grafik Error Bar Perbedaan Rerata Kadar Albumin Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok A dan B
Rerata kadar albumin sebelum perlakuan pada kelompok A adalah 2,68 mg/dl dan setelah perlakuan meningkat menjadi 2,94 mg/dl. Dengan menggunakan uji T dependent menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar albumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok A (p<0,001). Sementara itu, pada kelompok B, rerata kadar albumin sebelum perlakuan adalah 2,58 mg/dl dan setelah perlakuan turun menjadi 2,24 mg/dl. Dengan menggunakan uji T dependent menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar albumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok B (p<0,001).
Gambar 4.4 Grafik Error Bar Perbedaan Rerata Kadar Prealbumin Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok A dan B
Rerata kadar prealbumin sebelum perlakuan pada kelompok A adalah 11,26 mg/dl dan setelah perlakuan meningkat menjadi 20,63 mg/dl. Dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar prealbumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok A (p<0,001). Sementara itu, pada kelompok B, rerata kadar prealbumin sebelum perlakuan adalah 13,63 mg/dl dan setelah perlakuan turun menjadi 9,05
mg/dl. Dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar prealbumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok B (p<0,001).
4.5 Perbedaan Perubahan Kadar Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Tabel 4.5 Perbedaan Perubahan Kadar Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Delta Kelompok A Kelompok B p
Albumin 0,26 (0,21) -0,32 (0,23) <0,001a
Prealbumin 9,36 (6,19) -4,58 (2,46) <0,001b a Mann Whitney, b T Independent
Hasil studi menunjukkan bahwa ditemukan rerata perubahan kadar albumin dan prealbumin yang signifikan antara dua kelompok studi (p<0,001).
4.6 Perbedaan Proporsi Defisiensi Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Tabel 4.6 Perbedaan Proporsi Defisiensi Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Defisiensi Kelompok A Kelompok B
Albumin T0, n (%) Normal Ringan 0 10 (52,6) 0 7 (36,8) Sedang 8 (42,1) 10 (52,6) Berat 1 (5,3) 2 (10,5) Albumin T3, n (%) Normal 1 (5,3) 0 Ringan 10 (52,6) 3 (15,8) Sedang 8 (42,1) 8 (42,1) Berat 0 8 (42,1) Prealbumin T0, n (%) Normal 0 4 (21,1) Ringan 16 (84,2) 14 (73,7) Sedang Berat 3 (15,8) 0 1 (5,3) 0 Prealbumin T3, n (%) Normal 17 (89,5) 1 (5,3) Ringan 1 (50) 9 (47,4) Sedang 0 9 (47,4) Berat 1 (50) 0
Tabel 4.7 Hasil Analisis Perbedaan Proporsi Defisiensi Albumin dan Prealbumin antara Kelompok A dan B
Defisiensi Kelompok A Kelompok B p
Albumin T0, n (%)
Normal dan Ringan 10 (52,6) 7 (36,8) 0,328a
Sedang dan berat 9 (47,4) 12 (63,2)
Albumin T3, n (%)
Normal dan ringan 11 (57,9) 3 (15,8) 0,007a
Sedang dan berat 8 (42,1) 16 (84,2)
Prealbumin T0, n (%)
Normal dan ringan 16 (84,2) 18 (94,7) 0,604b
Sedang dan berat 3 (15,8) 1 (5,3)
Prealbumin T3, n (%)
Normal dan ringan 18 (94,8) 10 (52,6) 0,003b
Sedang dan berat 1 (5,2) 9 (47,4)
a Chi Square, b Fisher’s Exact
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi defisiensi albumin dan prealbumin yang signifikan sesudah perlakuan hari ketiga (T3) (p<0,05). Proporsi defisiensi albumin yang normal dan ringan pada kelompok A adalah 57,9% sedangkan pada kelompok B hanya sebesar 15,8% sesudah perlakuan. Hasil analisis menggunakan uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi defisiensi albumin yang signifikan antara kelompok A dan B (p=0,007).
Gambar 4.5 Grafik Batang Perbedaan Proporsi Defisiensi Albumin Sesudah Perlakuan antara Kelompok A dan B
Selanjutnya, untuk kadar prealbumin, pada kelompok A dengan kondisi defisiensi ringan terdapat sebanyak 94,8% sedangkan pada kelompok B hanya sebesar 52,6%. Hasil analisis menggunakan uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi defisiensi prealbumin yang signifikan antara kelompok A dan B (p=0,003).
Gambar 4.6 Grafik Batang Perbedaan Proporsi Defisiensi Prealbumin Sesudah Perlakuan antara Kelompok A dan B
57.9 15.8 42.1 84.2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Kelompok A Kelompok B Pr o p o
rsi Normal dan Defisiensi
Albumin Ringan
Defisiensi Albumin Sedang dan Berat 94.8 52.6 5.2 47.4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Kelompok A Kelompok B Pr o p o
rsi Normal dan Defisiensi
Prealbumin Ringan Defisiensi Prealbumin Sedang dan Berat
4.7 Parameter kondisi subyek Selama Perlakuan
Tabel 4.8 Kondisi Subyek Selama Perlakuan
Kondisi Selama Perlakuan Kelompok A Kelompok B p Alergi
Tidak ada 19 (100) 19 (100)
Vol Residu NGT, rerata (SB), ml 341,05 (255,15) 313,16 (356,12) 0,686a Toleransi Nutrisi Enteral, n (%)
Toleran 5 (26,3) 9 (47,4) 0,179a
Intoleran 14 (73,7) 10 (52,6)
a
Mann Whitney, b Chi Square, c T Independent
Selama diberikan perlakuan 3 hari tampak bahwa tidak ditemukan alergi di dua kelompok studi. Volume residu NGT pada kelompok A adalah 341,05 ml dan pada kelompok B adalah 313,16 ml. Dengan uji Mann Whitney ditemukan tidak terdapat perbedaan rerata volume residu NGT di dua kelompok (p=0,686). Berdasarkan ada tidaknya toleransi terhadap nutrisi enteral, hasil studi menunjukkan terdapat sebanyak 14 subyek (73,7%) yang mengalami intoleransi pada kelompok A dan pada kelompok B sebanyak 10 subyek (52,6%). Tidak ditemukan perbedaan yang signifikan untuk toleransi antara kelompok A dan B (p=0,179).
Pada masing-masing kelompok terdapat residu enteral sebesar ±300 ml selama 3 hari penilaian. Dengan asumsi terdapat residu 100 ml setiap harinya atau sekitar 5% dari total volume nutrisi enteral. Dapat ditarik kesimpulkan bahwa pemberian protein sebesar 1gr/kgBB pada pasien sepsis adalah tidak mencukupi.
4.8 Korelasi Perubahan Kadar Prealbumin dan Perubahan Kadar Albumin
Tabel 4.9 Korelasi Perubahan Kadar Prealbumin dan Perubahan Kadar Albumin
p* r
Delta Prealbumin – Delta Albumin <0,001 0,749
*Spearman
Hasil analisis menunjukkan seluruh subyek tanpa memperhatikan pada kelompok studi ditemukan hubungan yang signifikan antara perubahan kadar prealbumin dan perubahan kadar albumin dengan menggunakan uji korelasi Spearman (p<0,001). Nilai r yang diperoleh adalah 0,749 yang berarti peningkatan perubahan kadar prealbumin akan diikuti peningkatan perubahan kadar albumin dan tingkat korelasi termasuk pada korelasi yang kuat.
BAB V PEMBAHASAN
Pada keadaan sepsis dapat terjadi pengurangan konsentrasi albumin plasma dapat merupakan konsekuensi dari berbagai faktor, termasuk perubahan laju sintesis, meningkatnya laju katabolik dan redistribusi albumin dari plasma ke kompartemen interstisial. Karena jumlah dan fungsinya yg sangat penting oleh tubuh, banyak penelitian yang dilakukan untuk menaikkan kadarnya (Filho, 2010).
Selama periode Mei 2016 hingga Juni 2016, diperoleh sebanyak 38 subyek penelitian, terbagi dalam 2 kelompok (19 sampel per kelompok) yaitu kelompok A yang diberikan suplemetasi ekstrak ikan gabus metode freeze dryer dan kelompok B yang diberikan plasebo. Karakteristik umur subyek Rerata usia pada kelompok A adalah 42,95 tahun dan kelompok B adalah 44,79 tahun. Jumlah subyek laki-laki di kedua kelompok adalah masing-masing 13 orang (68,4%) dan perempuan sebanyak 6 orang (31,6%). Rerata berat badan pada kelompok A adalah 58,63 kg dan kelompok B adalah 57,84 kg. Meski tampak ada perbedaan antara rerata umur dan rerata berat badan namun namun hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tersebut tidak bermakna (p>0,05). Dengan demikian, dianggap bahwa umur dan berat badan adalah homogen pada kedua kelompok sampel. Begitu juga dengan C SOFA pada kedua kelompok sampel, hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05).
Pada penelitian yang kami lakukan, kelompok A dijumpai adanya peningkatan kadar albumin serum pada hari ketiga setelah pemberian suplementasi ektrak ikan gabus metode
freezy dryer, rerata kadar albumin sebelum perlakuan 2,68 gr/dL dan setelah perlakuan meningkat menjadi 2,94 gr/dL. Dengan menggunakan uji T dependen menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar albumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok A (p<0,001). Sementara itu, pada kelompok B yang diberikan perlakuan plasebo, rerata kadar albumin sebelum perlakuan adalah 2,58 gr/dL dan setelah perlakuan turun menjadi 2,24 gr/dL. Dengan menggunakan uji T dependen menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar albumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok B (p<0,001). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati. Peningkatan albumin sebesar 1,26 gr/dL setelah 3 hari pemberian
yang digunakan adalah preparat yang sama dengan ektrak ikan gabus metode freeze dryer, hanya berbeda pada penamaan. Peningkatan kadar albumin pada penelitian kurniawati jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan albumin pada albumin pada penelitian ini. Hal ini dimungkinkan karena subyek yang diikutsertakan pada peneltian kurniawati adalah populasi hipoalbuminemia secara umum. Berbeda dengan penelitian ini yang menggunakan pasien sepsis dengan hipoalbuminemia sebagai subyek. Penelitian yang dilakukan oleh puteh dengan menggunakan sampel yang sama namun dengan menggunakan ektrak ikan gabus metode konvensional juga meningkatkan kadar albumin namun secara statistik tidak bermakna.
Begitu juga dengan kadar prealbumin, Rerata kadar prealbumin sebelum perlakuan pada kelompok A adalah 11,26 mg/dl dan setelah perlakuan meningkat menjadi 20,63 mg/dl. Dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar prealbumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok A (p<0,001). Sementara itu, pada kelompok B, rerata kadar prealbumin sebelum perlakuan adalah 13,63 mg/dl dan setelah perlakuan turun menjadi 9,05 mg/dl. Dengan menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan untuk kadar prealbumin antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok B (p<0,001). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan pattiiha dengan menilai efek pemberian suplemen antara kelompok Ektrak ikan gabus (EIG) dan kelompok plasebo pada penderita hipoalbuminemia dengan HIV/AIDS, didapatkan perbedaan kadar prealbumin bermakna (p<0,001) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-4. Kadar prealbumin kelompok EIG (20,8 g/dl) lebih tinggi dibanding plasebo (9,0 g/dl). Demikian pula kadar albumin didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok EIG dan plasebo, dimana kadar albumin kelompok EIG lebih tinggi dibanding plasebo pada hari-4 (p<0,05), hari-7 (p<0,05), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001).
Pada uji klinis yang kami lakukan didapatkan bahwa hasil rerata peningkatan albumin yang didapat pada kelompok penderita sepsis disertai dengan hipoalbuminemia yang mendapat suplementasi ekstrak ikan gabus metode freezy dryer meningkatkan kadar albumin dan kadar prealbumin dibandingkan dengan kelompok plasebo yang menunjukkan penurunan kadar prealbumin dan kadar albumin. Setelah dilakukan uji tentang perbedaan perubahan kadar albumin sebelum dan sesudah perlakuan didapatkan hasil yang bermakna secara statistik. Hasil ini dimungkinkan karena ekstrak ikan gabus diproduksi dengan metode freezy dryer tanpa melalui proses pemanasan, sehingga protein yang terkandung didalamnya akan lebih stabil. Disamping itu preparat ekstrak ikan gabus metode freezy dryer dalam bentuk
patikel dengan ukuran nanometer sehingga preparat ini diabsorpsi melalui perbedaan tekanan osmotik antara pembuluh darah kapiler dan mukosa, tidak melalui proses pencernaan.
Rerata peningkatan albumin 0,26 gr/dL lebih rendah dibandingkan rerata peningkatan prealbumin setelah 3 hari perlakuan. Hal ini akibat turn over rate albumin yang panjang, sehingga untuk penilaian pemberian nutrisi secara dini dengan marker prealbumin
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi defisiensi albumin dan prealbumin yang signifikan sesudah perlakuan hari ketiga (T3) (p<0,05). Proporsi defisiensi albumin yang normal dan ringan pada kelompok A adalah 57,9% sedangkan pada kelompok B hanya sebesar 15,8% sesudah perlakuan. Hasil analisis tersebut menunjukkan terdapat proporsi defisiensi albumin yang signifikan antara kelompok A dan B. Selanjutnya, untuk kadar prealbumin, pada kelompok A dengan kondisi defisiensi ringan terdapat sebanyak 94,8% sedangkan pada kelompok B hanya sebesar 52,6%. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proporsi defisiensi prealbumin yang signifikan antara kelompok A dan B (p=0,003).
Selama diberikan perlakuan tidak ditemukan alergi di dua kelompok studi. Berdasarkan ada tidaknya toleransi terhadap nutrisi enteral, hasil studi menunjukkan terdapat sebanyak 14 subyek (73,7%) yang mengalami intoleransi pada kelompok A dan pada kelompok B sebanyak 10 subyek (52,6%). Volume residu NGT pada kelompok A adalah 341,05 ml dan pada kelompok B adalah 313,16 ml. Dengan uji statistika ditemukan tidak terdapat perbedaan rerata volume residu NGT di dua kelompok (p=0,686). Dengan asumsi bahwa pada masing-masing kelompok terdapat residu enteral sebesar ±300 ml selama 3 hari penilaian. Dengan asumsi terdapat residu 100 ml setiap harinya atau sekitar 5% dari total volume nutrisi enteral. Dapat ditarik kesimpulkan bahwa pemberian protein sebesar 1gr/kgBB pada pasien sepsis adalah tidak mencukupi.
Hasil analisis menunjukkan seluruh subyek tanpa memperhatikan pada kelompok studi ditemukan hubungan yang signifikan antara perubahan kadar prealbumin dan perubahan kadar albumin. Berarti peningkatan perubahan kadar prealbumin akan diikuti peningkatan perubahan kadar albumin dan tingkat korelasi termasuk pada korelasi yang kuat.
Beberapa penelitian lain juga melakukan uji pengaruh pemberian ektrak ikan gabus metode konvensional pada penderita hipoalbuminemia terhadap peningkatan kadar albumin seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Chaeruddin, telah dibuktikan bahwa kasul albumin ektrak ikan gabus efektif untuk meningkatkan kadar albumin darah dan mempercepat berkurangnya pitting edema. Namun tidak mempengaruhi lama hari perawatan
Penelitian yang dilakukan hidayanti pada paska bedah dirumah sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar didapatkan pemberian kapsul ektrak ikan gabus selam 10 hari dapat meningkatkan kadar albumin pasien paska bedah sebesar 0,75 mg/dl. Pemberian kapsul konsentrat ikan gabus dapat mempercepat penyembuhan luka yang tampak pada semakin cepat berkurangnya tanda-tanda infeksi. Pemberian kapsul konsentrat ikan gabus dapat memperpendek lama rawat inap 4 hari. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang penulis lakukan. Pemberian kapsul ektrak ikan gabus dapat meningkatkan kadar albumin pasien paska bedah. Pemberian kapsul ini juga dapat meningkatkan kadar albumin penderita hipoalbuminemia yang dirawat di ICU.
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan, dan dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa ektrak ikan gabus metode freezy dryer dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan kadar albumin dan prealbumin pada pasien sepsis. Dimana hipoalbuminemia pada pasien sepsis terjadi akibat peningkatan laju katabolik, peningkatan permeabilitas, dan perubahan laju sintesa.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada pasien sepsis yang menderita hipoalbumia dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pemberian protein tambahan berupa ektrak ikan gabus metode freezy dryer dapat meningkatkan kadar albumin dan prealbumin secara efektif pada pasien sepsis.
2. Pemberian nutrisi enteral tanpa pemberian asupan protein tambahan pada pasien sepsis pada penelitian ini terjadi penurunan kadar albumin dan prealbumin, sehingga diperlukan asupan protein tambahan.
3. Perubahan kadar albumin dan prealbumin mempunyai korelasi yang kuat.
4. Pemantauan terhadap perubahan pemberian nutrisi dengan marker prealbumin lebih baik daripada kadar albumin
6.2 Saran
1. Pemberian nutrisi enteral pada pasien sepsis sebaiknya diberikan asupan protein tambahan.
2. Ekstrak ikan gabus metode freezy dryer dapat dijadikan sebagai pilihan asupan protein tambahan.
3. Sebaiknya dilakukan food recall yang lebih baik, berupa pencatatan sistematis mengenai nutrisi yang diberikan, agar dapat dipastikan bahwa perbaikan kadar prealbumin dan albumin bukan dari sebab lain seperti asupan makanan.
4. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjutnya dengan mengukur balans nitrogen untuk menilai laju katabolik yang terjadi.