• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN - BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN - BAB III"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode, Jenis, dan Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai dengan pendekatan kuantitatif (positivisme). Penelitian dengan pendekatan kuantitatif ini mendasarkan kajian pada prinsip rasional empirik. Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif bertujuan menguji hipotesis penelitian menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini lazim dikenal dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist).

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan rancangan korelasional asosiatif yang bertujuan mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi. Dengan kata lain, penelitian korelasional asosiatif bertujuan menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi atau peramalan.

(2)

masa yang akan datang (6) penelitian oprasional, dan (7) pengembangan indikator-indikator.1 Penelitian yang dilakukan ini lebih bersifat penjelasan

(eksplanatory atau confirmatory), yakni menjelaskan hubungan kausal dan menguji teori melalui pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif. untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara acak atau random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.2 Variabel yang digunakan pada penelitian ini

yaitu Motivasi Belajar (X1), dan Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran (X2)

sebagai variabel bebas serta Prestasi Belajar Siswa merupakan variabel terikat (Y).

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari pengumpulan data sampai dengan pengolahan data. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi berbeda yakni di MAN Model 1 Manado yang bertempat di Jln. Hasanudin 14, Kelurahan Islam, Kecamatan Tuminting, MA Darul Istiqomah yang bertempat di Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken, dan MA PKP yang bertempat di kelurahan Kombos Barat kecamatan singkil. Tiga Madrasah tersebut sama-sama terletak di Kota Manado Propinsi Sulawesi Utara.

1 Singarimbun, dan Effendi, Metode Penelitian Survey, Cetakan Kedua, (Jakarta: Penerbit PT. Pustaka LP3ES Indonesia, 2003), h.21.

(3)

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MAN Model 1 Manado yang mengikuti kegiatan sanggar Alquran, MA Darul Istiqomah Manado, MA PKP Manado, tahun pelajaran 2016/2017 yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran sejumlah 300 orang terdiri atas 213 orang siswa MAN Model 1 Manado, 49 orang siswa MA Assalam Manado, dan 38 orang siswa MA PKP Manado.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Prosedur pengambilan sampel yaitu probability sampling dengan teknik pengambilan sampel yaitu area sampling. Penyampelan probabilitas

(probability sampling) merupakan prosedur pengambilan sampel dari suatu populasi yang telah diketahui informasinya, sementara penyampelan daerah atau wilayah (area sampling) merupakan teknik pengambilan sampel dengan mempertimbangkan perwakilan dari setiap area geografis yang ada.3

Untuk menentukan sampel penelitian, peneliti menggunakan tabel yang dikembangkan dari rumus Isaac dan Michael, dimana berdasarkan tabel tersebut untuk populasi yang berjumlah 380 orang maka sampelnya berjumlah 161 orang dengan taraf kesalahan 5%.4

3 Arikunto, Suharsimi, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta. 2010), h.57.

(4)

Dengan demikian, dalam penelitian ini dipilih sebanyak 161 Siswa sebagai sampel yang tersebar pada 3 (tiga) sekolah Madrasah Aliyah yang ada di Kota Manado. Penentuan jumlah sampel pada setiap sekolah ditentukan secara proporsional yang disesuaikan dengan jumlah siswa pada setiap sekolah. Untuk jelasnya dapat dijabarkan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.1

Jumlah Sampel dan Penyebarannya No. Kecamatan UkuranPopulasi (N)

1. MAN Model 1 Manado 213300 x 161 = 114,31 (dibulatkan 114) 2. MA PKP Manado 30049 x 161 = 26,29 (dibulatkan 26) 3. MA Istiqomah Manado 30038 x 161 = 20,39 (dibulatkan 21)

Total Sampel 161

D. Instrumen Penelitian

Untuk mengukur variabel dalam penelitian ini digunakan instrumen berupa angket (kuesioner) dan tes. Instrumen untuk menggali data responden disusun dan dijabarkan dalam bentuk indikator dan pertanyaan dengan kategori-kategori menggunakan skala Likert yaitu : sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), ragu-ragu (RR), setuju (S), sangat setuju (SS). Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang prestasi belajar Alquran hadis siswa Madrasah Aliyah di Kota Manado.

(5)

Instrumen untuk metode angket adalah blangko angket. Angket ini diberikan kepada siswa (responden) untuk dijawabnya. Angket ini digunakan untuk mendapatkan data-data mengenai motivasi belajar dan disiplin belajar berupa angka-angka yaitu dengan cara memberi skor. Penskoran untuk variabel (X1) dan (X2) menggunakan skala Likert dalam bentuk pilihan ganda dengan alternatif jawaban yang berbeda. Skala Likert yaitu di gunakan untuk mengukur sikap pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.5 Dengan skala Likert, maka variabel motivasi belajar (X1) dan kegiatan

ekstrakurikuler sanggar Alquran (X2), peneliti menggunakan lima alternatif jawaban pada pernyataan gradasi seperti tabel di bawah ini:

Tabel 3.2

Skor Item Variabel X1 dan X2

Jawaban Skor

Sangat Setuju 5

Setuju 4

Kurang Setuju 3

Tidak Setuju 2

Sangat Tidak Setuju 1

Disamping itu untuk mempermudah dalam pembuatan angket, maka peneliti membuat kisi-kisi instrumen pedoman angket sebagai berikut:

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Instrument Variabel Motivasi Belajar dan Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran

No Komponen Indikator No.Butir Pernyataan

1. Motivasi - Adanya hasrat dan keinginan berhasil

1, 2, 3, 4

(6)
(7)

No Komponen Indikator No.Butir Pernyataan

Tes ini digunakan untuk mengumpulkan data-data tentang Prestasi Belajar Alquran Hadīs Siswa Madrasah Aliyah di Kota Manado.

Tabel 3.4

Kisi-Kisi Instrument Pedoman Tes Prestasi Belajar Alquran Hadis Definisi Variabel Indikator Butir pertanyaan Skala

pengukuran

(8)

1. Definisi Konseptual

Variabel yang diteliti dalam penelitian terbagi dalam dua kategori, yaitu (1) variabel bebas atau independent variable (variabel berpengaruh) adalah motivasi belajar {X1) dan kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran (X2) yang selanjutnya disebut sebagai variabel-variabel bebas, dan kualitas pelayanan publik sebagai variabel terikat (Y). Secara konseptual, definisi variabel-variabel tersebut didasarkan pada teori atau pendapat yang dikemukakan oleh para ahli.

a. Motivasi Belajar Siswa

Secara konseptual motivasi belajar siswa dalam penelitian ini didasarkan pada pendapat dari Uno, yang mengemukakan bahwa motivasi belajar diartikan merupakan usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya, dengan ciri ciri: 1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil, 2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan dan cita-cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan 6) adanya lingkungan belajar yang kondusif .6 Keenam ciri motivasi belajar ini dijadikan

indikator variabel ini.

b. Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran

Pengertian ekstrakurikuler menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu : ”suatu kegiatan yang berada di luar program yang tertulis di dalam kurikulum

(9)

seperti latihan kepemimpinan dan pembinaan siswa”7 Sanggar Alquran adalah

tempat atau sarana untuk membelajarkan seni baca tulis alqur’an serta seni-seni yang berkaitan dengan Alquran khususnya seperti yang dilombakan dalam kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).

Secara konseptual, kegiatan ekstrakurikuler Sanggar Alquran dalam penelitian ini didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Nana Sudjana bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat dilihat dalam hal sebagai berikut: a. turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, b. terlibat dalam pemecahan masalah, c. bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya, d. berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, e. melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, f. menilai kemampuan dirinya dari hasil-hasil yang diperolehnya, g. melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis, h. kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.8 Kedelapan prinsip

keaktifan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut dijadikan indikator dalam variabel ini.

c. Prestasi Belajar Siswa

Dalam penelitian ini, secara konseptual prestasi belajar siswa mengacu pada pendapat Syamsuddin yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah kecakapan nyata (actual ability) yang menunjukkan kepada

7 Departemen Pendidikan Nasional, op.cit, h.856

(10)

aspek kecakapan yang segera dapat didemonstrasikan dan diuji sekarang juga atau dengan kata lain prestasi belajar adalah kemampuan seseorang dalam menguasai suatu masalah setelah melalui ujian tertentu.9

2. Definisi Operasional

Untuk mendapatkan persamaan persepsi atau kejelasan pemahaman terhadap makna pengertian variabel yang dimaksud dalam penelitian ini, maka peneliti menguraikannya sebagai berikut:

a. Motivasi Belajar Siswa

Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk

belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar

siswa yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi

kegiatan-kegiatannya. Indikator variabel ini adalah: 1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil, 2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, 3) adanya harapan dan cita-cita masa depan, 4) adanya penghargaan dalam belajar, 5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan 6) adanya lingkungan belajar yang kondusif.

b. Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran

Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran adalah kegiatan-kegiatan keagamaan yang diikuti oleh siswa dan sudah diprogramkan oleh Madrasah. Indikator variabel ini adalah: a. Turut serta dalam melaksanakan kegiatan

(11)

ekstrakurikuler. b. terlibat dalam pemecahan masalah, c. bertanya pada anggota lain atau Pembina apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi, d. berusaha mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah, e. melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan instruksi Pembina, f. menilai kemampuan dirinya dari hasil-hasil yang diperolehnya, g. melatih diri dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh Pembina, h. kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

c. Prestasi Belajar

Prestasi Belajar adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya pada mata pelajaran Alqur’an Hadis khususnya materi pada semester genap.

F. Uji Coba Instrument Penelitian

Instrumen angket dan tes dalam penelitian ini diujicobakan pada 30 responden yang bukan merupakan sampel penelitian untuk menguji validitas dan reliabilitasnya.

1. Uji Validitas Data

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.10 Rumus korelasi yang dapat digunakan adalah yang

(12)

dikemukakan oleh Pearson dalam Arikunto, yang dikenal dengan rumus korelasi product moment sebagai berikut:

r hitung =

n⋅(Σ XY)−(ΣX)⋅(ΣY)

{

n⋅(ΣX2)−(ΣX)2

}

{

n⋅(ΣY2)−(ΣY)2

}

Keterangan :

r hitung = Angka indeks korelasi “r” product moment

n = Jumlah responden

∑XY = Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y ∑X = Jumlah seluruh skor X

∑Y = Jumlah seluruh skor Y

Analisis indikator dilakukan dengan cara mengkorelasi jumlah skor indikator (faktor) dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan Harga-harga r untuk setiap butir pernyataan kemudian dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai - r. Cara melihat tabel korelasi nilai – r yakni dengan melihat baris N – 2. Untuk N (= 30 – 2 = 0,361). Ukuran valid butir angket dilihat dari harga korelasi, yaitu apabila harga korelasi skor butir pernyataan dengan skor total menghasilkan r hitung yang lebih kecil dari r tabel (=0,239), maka butir tersebut dinyatakan tidak valid.

Pengujian validitas butir angket dalam penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows 23. Berdasarkan hasil pengujian (Lampiran 3) diperoleh hasil bahwa untuk anget variabel motivasi belajar (variabel X1) dari 30

butir pernyataan angket semuanya dinyatakan valid.

(13)

Tabel 3.5

Ringkasan Hasil Analisis Uji Validitas Angket Variabel X1 Teknik Korelasi Pearson

1 0,645 Valid 16 0,505 Valid

2 0,518 Valid 17 0,646 Valid

3 0,377 Valid 18 0,481 Valid

4 0,579 Valid 19 0,475 Valid

5 0,467 Valid 20 0,505 Valid

6 0,475 Valid 21 0,646 Valid

7 0,518 Valid 22 0,436 Valid

8 0,520 Valid 23 0,520 Valid

9 0,518 Valid 24 0,518 Valid

10 0,645 Valid 25 0,518 Valid

11 0,646 Valid 26 0,377 Valid

12 0,388 Valid 27 0,436 Valid

13 0,455 Valid 28 0,645 Valid

14 0,517 Valid 29 0,646 Valid

15 0,646 Valid 30 0,388 Valid

Sumber : Pengolahan Data (2017)

(14)

Tabel 3.6

Ringkasan Hasil Analisis Uji Validitas Angket Variabel X2 Teknik Korelasi Pearson

Butir Angket

No.

Koefisien Validitas

Keteranga n

Butir Angke

t No.

Koefisien

Validitas Keterangan

1 0,479 Valid 17 0,479 Valid

2 0,389 Valid 18 0,410 Valid

3 0,425 Valid 19 -0,035 Tidak Valid

4 0,528 Valid 20 0,643 Valid

5 0,479 Valid 21 0,674 Valid

6 0,421 Valid 22 0,465 Valid

7 0,475 Valid 23 0,635 Valid

8 0,635 Valid 24 0,674 Valid

9 0,674 Valid 25 0,385 Valid

10 0,542 Valid 26 0,541 Valid

11 0,385 Valid 27 0,465 Valid

12 0,446 Valid 28 0,446 Valid

13 0,590 Valid 29 0,475 Valid

(15)

Butir

15 0,201 Tidak Valid 31 0,635 Valid

16 0,474 Valid 32 0,385 Valid

Sumber : Pengolahan Data (2017)

Dari hasil pengujian validitas angket tersebut, maka butir pernyataan nomor 15 dan nomor 19 dikeluarkan dari angket, sehingga total butir pernyataan angket yang dinyatakan valid untuk variabel X2 adalah sebanyak 30 butir pernyataan.

Sedangkan untuk instrumen tes variabel Y (prestasi belajar siswa), dari hasil pengujian validitas butir pertanyaan diperoleh bahwa dari 30 butir pertanyaan seluruhnya dinyatakan valid. Untuk lebih jelasnya, hasil pengujian validitas butir pertanyaan pada soal tes Mata Pelajaran Alquran Hadis dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.7

Ringkasan Hasil Analisis Uji Validitas Soal Tes Variabel Y Teknik Korelasi Pearson

1 0,514 Valid 16 0,478 Valid

2 0,521 Valid 17 0,858 Valid

3 0,483 Valid 18 0,537 Valid

4 0,740 Valid 19 0,832 Valid

(16)

Butir

6 0,611 Valid 21 0,553 Valid

7 0,598 Valid 22 0,404 Valid

8 0,779 Valid 23 0,389 Valid

9 0,623 Valid 24 0,721 Valid

10 0,658 Valid 25 0,536 Valid

11 0,452 Valid 26 0,658 Valid

12 0,764 Valid 27 0,738 Valid

13 0,370 Valid 28 0,687 Valid

14 0,773 Valid 29 0,657 Valid

15 0,523 Valid 30 0,807 Valid

Sumber : Pengolahan Data (2017)

Berdasarkan data dalam Tabel 3.6, Tabel 3.7, dan Tabel 3.8 di atas diketahui butir-butir angket yang valid dan butir-butir angket yang tidak valid untuk variabel X1, variabel X2, dan butir pertanyaan pada soal tes untuk variabel

Y. Jumlah butir angket pada setiap varaiabel penelitian yaitu, masing-masing variabel X1 sebanyak 30 butir, variabel X2 sebanyak 30 butir, dan untuk variabel Y

sebanyak 30 butir pertanyaan.

2. Uji Reliabilitas Data

(17)

yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.

Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel jika jawaban responden terhadap setiap item pernyataan di dalam kuesioner, konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut dengan nilai koefisien reliabilitas. Untuk mengukur reliabilitas angket variabel X1 dan X2, digunakan alat statistik pengujian reliabilitas

Cronbach’s alpha dengan rumus sebagai berikut:11

r 11 =

[

k

k

1

]

×

[

1

Σσ

b2

σ

t2

]

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal ∑ σ b² = Jumlah varians butir

σ ² t = Varians total 12

Kriteria untuk menentukan reliabilitas instrument didasarkan atas kriteria bahwa apabila koefisien Alpha sebesar lebih dari 0,7 maka instrument tersebut dianggap cukup andal.

Selanjutnya untuk mengukur reliabilitas tes prestasi belajar siswa, digunakan rumus Kuder – Richardson 20 (K - R 20). Pengujian tingkat kepercayaan tes dengan mempergunakan rumus K – R 20 dilakukan dengan membandingkan skor butir-butir tes. Jika butir-butir tes tersebut menunukkan tingginya tingkat kesesuaian (degree of agreement), maka dapat disimpulkan

(18)

bahwa tes tersebut akurat atau mengukur secara konsisten. Rumus K – R 20 adalah sebagai berikut:

r = nn

−1(1−

pq

S2 )

Keterangan:

r = Koefisien reliabilitas tes n = Jumlah butir soal p = Proporsi jawaban benar

q = Proporsi jawaban salah (q = 1 – p) S = Simpangan baku S2; varians13

Semakin besar koefisien yang diperoleh, menunjukkan bahwa tes yang diuji semakin tinggi tingkat kepercayaannya. Tes yang dibuat oleh guru dikatakan terpercaya jika paling tidak mempunyai koefisien sebesar 0,60, sedang untuk tes yang dipublikasikan (terstandar) minimal 0,85.14

Dari penghitungan yang dilakukan dengan menggunakan kedua rumus diatas, melalui bantuan program SPSS for Windows V.23 (Lampiran 4) diperoleh koefisien Alpha Cronbach untuk angket Variabel X1 sebesar r = 0,925, dan untuk

variabel X2 sebasar r = 0,913. Sedangkan untuk variabel Y yang menggunakan

rumus K – R 20 diperoleh koefisien reliabilitas sebesar dan untuk variabel Y sebesar r = 0,942. Untuk lebih jelasnya berikut disajikan rincian hasil pengujian reliabilitas angket:

Tabel 3.8

13 Nurgiyantoro, B., Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Yogyakarta: BPFE., 2005), h.122.

(19)

Koefisien Reliabilitas Angket Pengukuran Setiap Variabel Penelitian Teknik Alpha Cronbach

No

. Variabel

Koefisien

Reliabilitas Keterangan

1. Motivasi Belajar Siswa 0,925 Reliabel

2. Kegiatan Ekstrakurikuler 0,913 Reliabel

3. Prestasi Belajar Siswa 0,942 Reliabel

Sumber : Pengolahan Data (2017)

Tingkat koefisien reliabilitas keseluruhan (rnn) angket sebagaimana tertera

dalam Tabel 3.9 di atas menunjukkan bahwa angket yang digunakan untuk mengukur kedua variabel bebas serta tes yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa dalam penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi.

3. Analisis Butir Soal Tes

Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel Y (prestasi belajar siswa) dalam penelitian ini adalah berbentuk tes dengan soal pilihan ganda, sehingga untuk keabsahan tes yang digunakan, diperlukan uji lanjutan untuk mendapatkan instrumen penelitian yang handal.

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan mutu soal yang telah disusun. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian.15 Tujuan

penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir

(20)

soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan.16 Soal yang

bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru. Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.

a. Tingkat Kesukaran (TK)

Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00.17 Semakin besar indeks tingkat kesukaran

yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan

16 Aiken, Lewis R., Psychological Testing and Assessment, (Eight Edition), (Boston: Allyn and Bacon, 1994) h.63.

(21)

dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif. Rumusnya adalah seperti berikut ini.18

P = BJ Keterangan:

P = Tingkat Kesukaran

B = Jumlah Seluruh Siswa

J = Jumlah Siswa yang Menjawab Benar

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas menggambarkan tingkat kesukaran soal itu. Klasifikasi tingkat kesukaran soal dapat dicontohkan seperti berikut ini.

Tabel 3.9

Kategori Tingkat Kesukaran Butir Soal

Nilai P Kategori

0,00 – 0,30 Sukar

0,31 – 0,70 Sedang

0,71 – 1,00 Mudah

Sumber : Arikunto (1999)

Dengan menggunakan program Microsoft Excel (Lampiran 5), diperoleh hasil bahwa terdapat 24 butir soal yang berada pada kategori mudah, dan 6 butir soal yang berada pada kategori sedang. Untuk lebih jelasnya, rangkuman hasil analisis tingkat kesukaran butir soal dapat dilihat pada tabel berikut:

(22)

Tabel 3.10

Rangkuman Hasil Analisis Tingkat Kesukaran

Butir Soal Nomor Nilai P Kategori

1 0,73 Sedang

2 0,93 Mudah

3 0,97 Mudah

4 0,90 Mudah

5 0,97 Mudah

6 0,70 Sedang

7 0,93 Mudah

8 0,87 Mudah

9 0,87 Mudah

10 0,83 Mudah

11 0,77 Mudah

12 0,93 Mudah

13 0,87 Mudah

14 0,83 Mudah

15 0,87 Mudah

16 0,80 Mudah

17 0,83 Mudah

18 0,70 Sedang

19 0,83 Mudah

20 0,73 Sedang

21 0,87 Mudah

22 0,73 Sedang

23 0,83 Mudah

24 0,90 Mudah

25 0,83 Mudah

(23)

Butir Soal Nomor Nilai P Kategori

27 0,93 Mudah

28 0,87 Mudah

29 0,70 Sedang

30 0,87 Sedang

Sumber: Pengolahan Data (2017)

Dari hasil analisis tingkat kesukaran di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa menjawab benar butir soal itu; artinya bahwa sebagian besar siswa telah memahami materi yang ditanyakan.

b. Daya Pembeda (Discriminating Power)

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini. 1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak. 2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru.19

Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi.20 Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan

+1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu.

19 Sumarna Surapnata, Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.59.

20 Ranih Sriyani, Pengembangan Dan Analisis Soal Tes Open-Ended Problem Untuk

Mengukur Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA Kelas XI Pada Pokok Bahasan Koloid,

(24)

Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (warga belajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru). Rumus yang digunakan untuk mengetahui daya pembeda setiap butir soal adalah :

D = BJA

A

BB

JB=PAPB

Keterangan:

D = Daya pembeda butir soal

BA = Banyaknya kelompok atas yang menjawab benar

JA = Banyaknya subjek kelompok atas

BB = Banyaknya kelompok bawah yang menjawab benar

JB = Banyaknya subjek kelompok bawah21

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar siswa yang sudah memahami materi yang diujikan dengan siswa yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini.22

(25)

Tabel 3.11

Kriteria Daya Pembeda

Daya Pembeda Kriteria Keputusan

0,00 – 0,20 Jelek (poor) Tidak digunakan

0,21 – 0,40 Cukup (Satisfactory) Digunakan tetapi direvisi

0,41 – 0,70 Baik (good) Digunakan

0,71 – 1,00 Baik Sekali (Excelent) Digunakan

Dari hasil pengujian dengan menggunakan Microsoft Excel (Lampiran 5), diperoleh hasil bahwa seluruh butir soal yang berjumlah 30 butir dinyatakan dapat digunakan, dengan 10 butir soal diantaranya digunakan tetapi direvisi. Untuk lebih jelasnya, hasil pengujian daya pembeda butir soal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.12

Rangkuman Hasil Pengujian Daya Pembeda Butir Soal Butir Soal Nomor Daya Pembeda Kriteria Keputusan

1 0,53 Baik Digunakan

2 0,39 Cukup Digunakan

3 0,41 Baik Digunakan

4 0,39 Cukup Digunakan

5 0,41 Baik Digunakan

6 0,60 Baik Digunakan

7 0,43 Baik Digunakan

8 0,37 Cukup Digunakan tapi direvisi

9 0,42 Baik Digunakan

10 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

(26)

Butir Soal Nomor Daya Pembeda Kriteria Keputusan

12 0,42 Baik Digunakan

13 0,44 Baik Digunakan

14 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

15 0,42 Baik Digunakan

16 0,40 Baik Digunakan

17 0,43 Baik Digunakan

18 0,60 Baik Digunakan

19 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

20 0,53 Baik Digunakan

21 0,37 Cukup Digunakan tapi direvisi

23 0,53 Baik Digunakan

24 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

25 0,30 Cukup Digunakan tapi direvisi

26 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

27 0,33 Cukup Digunakan tapi direvisi

28 0,38 Cukup Digunakan tapi direvisi

29 0,42 Baik Digunakan

30 0,60 Baik Digunakan

Sumber: Pengolahan Data (2017)

Dari hasil pengujian daya pembeda tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh butir soal yang digunakan sebagai instrumen untuk mengukur prestasi belajar siswa dapat digunakan meskipun 10 butir diantaranya digunakan dengan catatan dilakukan revisi.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik inferensial, yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk semua populasi. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel independen : 1) Variabel X1, yaitu variabel motivasi belajar siswa,

dan 2) Variabel X2, yaitu variabel Kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran.

(27)

Alquran Hadis (variabel Y). Dengan demikian maka teknik analisis datanya menggunakan analisis Regresi Ganda. Analisis regresi merupakan analisis statistik parametrik, yang digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh perubahan nilai variabel dependen, jika nilai variabel independen dirubah-rubah atau dinaikturunkan. Untuk itu, proses analisisnya dilakukan dengan melalui tiga tahapan, yaitu (1) tahap deskripsi data, (2) tahap pengujian persyaratan analisis statistik, dan (3) tahap pegujian hipotesis.

1. Deskripsi data

Data variabel independen X1 yaitu variabel Motivasi Belajar Siswa,

disajikan dalam bentuk tabel. Data ini diperoleh dari hasil pengumpulan data pada sampel yang berupa angket (kuesioner). Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik mengenai motivasi belajar berupa jawaban atas pertanyaan/pernyataan mengenai sejauhmana tingkat motivasi siswa untuk belajar mata pelajaran Alquran Hadis.

Variabel X2 yaitu Kegiatan Ekstrakurikuler Sanggar Alquran, Data

variabel ini juga diperoleh dari hasil pengumpulan data sampel yang berupa angket (kuesioner). Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik mengenai Keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran.

Prestasi belajar siswa sebagai Variabel Y diperoleh dari hasil uji tes atas soal mata pelajaran Alquran Hadis pada materi semester genap. Datanya disajikan dalam bentuk tabel dan grafik nilai hasil tes.

(28)

variabel kemudian dibagi kedalam tiga kategori skor yaitu rendah, sedang, dan tinggi untuk melihat penyebaran dan kecenderungannya. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengkategorikan skor masing-masing variabel adalah sebagai berikut:

a. Menghitung mean hipotetik (µ) dengan rumus: µ = ½ (imax + imin) ∑k, dimana:

µ = Rerata Hipotetik imax = Skor Maksimal Item

imin = Skor Minimal Item

∑k = Jumlah Item

b. Menghitung deviasi standar hipotetik (σ), dengan rumus:

σ = 16 (Xmax - Xmin), dimana:

σ = Deviasi Standar Hipotetik imax = Skor Maksimal Subjek

imin = Skor Minimal Subjek23

Keterangan : skor maksimal adalah skor tertinggi yang bisa dicapai oleh subjek, sedangkan skor minimal adalah skor terendah yang bisa dicapai oleh subjek. Penghitungan statistik sederhana seperti harga rata-rata (mean), simpangan baku, dan median juga disajikan dalam bagian ini. Tujuannya adalah untuk membandingkan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Sekaligus memberikan deskripsi mengenai data-data dari variabel penelitian.

(29)

2. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Kalau nilai residual tidak mengikuti distribusi normal, uji statistic menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.24 Untuk menguji normalitas data akan digunakan analisis grafik probability plot dan Kolmogorov-Smirnov test. Apabila probabilitas > 0,05 maka distribusi data normal dan bila probabilitas < 0,05 maka distribusi data tidak normal. Dalam penelitian ini, analisis normalitas data dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows V.23.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual sutu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau independen. Model regresi

24

(30)

yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.25 Jika

variabel independen saling berkorelasi, maka variabel ini tidak orthogonal. Variabel-variabel yang bersifat orthogonal adalah variabel yang memiliki nilai korelasi diantaranya sama dengan nol.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya.26

e. Uji Linieritas Regresi

Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas dengan variabel terikat bersifat liner atau tidak, maka diperlukan uji linearitas regresi dengan rumus:27

a. Mencari Jumlah Kuadrat Regresi (JK Re g (a)) dengan rumus:

JK Re g (a) =

ΣY

2

n

b. Mencari Jumlah Kuadrat Regresi JK Re g (b|a) dengan rumus:

JK Re g (b|a) = b .

{

Σ XY

(

ΣX

)⋅(

ΣY

)

n

}

c. Mencari Jumlah Kuadrat Residu (JK Res) dengan rumus: JK Res = ∑Y² - JK Re g (b|a) – JK Re g (a) 25Ibid, h.91.

26 Erlina, Sri Mulyani, Metodologi Penelitian, (Medan: USU Press, 2007), h.106. 27 Riduwan dan Sunarto, Pengantar Statistika Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial,

(31)

d. Mencari rata-rata Jumlah Kuadrat Regresi RJK Re g (a) dengan rumus:

RJK Re g (a) = JK Re g (a)

e. Mencari rata-rata Jumlah Kuadrat Regresi RJK Re g (b|a) dengan rumus :

RJK Re g (b|a) = JK Re g (b|a)

f. Mencari rata-rata Jumlah Kuadrat Residu (RJK Res) dengan rumus:

RJK Res =

JK

Res

n

2

3. Uji Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah Hipotesis satu :

H0 : ρ1 = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi

belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Madrasah Aliyah di kota Manado. H1 : ρ1 ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar

terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Mardasah Aliyah di kota Manado.

Hipotesis dua :

H0 : ρ2 = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan

(32)

siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Madrasah Aliyah di kota Manado.

H1 : ρ2 ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan kegiatan ekstrakurikuler

sanggar Alquran terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Madrasah Aliyah di kota Manado.

Hipotesis tiga :

H0 : ρ12 = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi

belajar dan kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Madrasah Aliyah di kota Manado.

H1 : ρ12 ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar

dan kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Alquran Hadis siswa Madrasah Aliyah di kota Manado.

(33)

Ŷ = a0 + a1 X1 + a2 X2 + …+ ak Xk

Keterangan:

Ŷ = Prestasi belajar siswa a = Konstanta

X1 = Motivasi belajar

X2 = Kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran28

Untuk menguji keberartian regresi multiple digunakan uji F dengan rumus:

F =

JK

reg

/

k

JK

res

/ (

n

k

1

)

Keterangan:

k = banyaknya variabel bebas n = banyaknya sampel

a. Uji Parsial (uji t)

Uji parsial (uji t) digunakan untuk menguji hipotesis satu dan hipotesis dua, yaitu untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen (motivasi belajar dan kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran) terhadap variabel dependen (prestasi belajar siswa). Kaidah pengambilan keputusan dalam uji t dengan menggunakan SPSS adalah:

Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak

b. Uji Simultan

(34)

Uji simultan (uji F) ini digunakan untuk menguji hipotesis tiga, yaitu pengaruh variabel independen (motivasi belajar siswa dan kegiatan ekstrakurikuler sanggar Alquran) terhadap variabel dependen (prestasi belajar siswa) secara bersama-sama (simultan) dengan tingkat signifikan yang digunakan sebesar α = 5% dan df (k: n-k-1). Kaidah pengambilan keputusan dalam uji F dengan menggunakan SPSS adalah:

Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak

c. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Gambar

Tabel 3.1
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5 Ringkasan Hasil Analisis Uji Validitas Angket Variabel X1
+5

Referensi

Dokumen terkait

Uji F hitung dimaksudkan untuk menguji model regresi atas pengaruh seluruh variabel independen yaitu X1 , X2 , X3 dan X4 secara simultan terhadap variabel

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependen dan variabel independen mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. Kita

Uji signifikansi simultan atau sering disebut sebagai uji nilai F digunakan dalam menguji apakah dimasukkannya variabel independen ke dalam model penelitian tersebut memberikan

Uji statistik F (simultan) digunakan untuk melihat apakah semua variabel independen atau variabel bebas dalam suatu model memiliki pengaruh yang sama

Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikan dari pengaruh variabel independen secara serempak terhadap variabel dependen. Pengujian uji F dapat dilakukan

Uji F ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen (Ghozali, 2005:84) dalam Yuanita Charolina

Menurut Basuki (2015), uji f bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel-variabel independen terhadap variabel dependen. Uji f juga digunakan

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel independen, variabel dependen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak,