KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN JENIS KIMA DI PERAIRAN PULAU WAWOSUNGGU KABUPATEN KONAWE SELATAN

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

http://ojs.uho.ac.id/index.php/JSL

KEANEKARAGAMAN DAN KEPADATAN JENIS KIMA DI PERAIRAN

PULAU WAWOSUNGGU KABUPATEN KONAWE SELATAN

The diversity and density of Giant Clam in Wawosunggu Island waters,

South Konawe

Hasni

1

, Baru Sadarun

2

, Ira

3

1,2,3Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduanohu Kendari 93232

Email: hasny0981@gmail.com

Abstrak

Kima merupakan salah satu organisme yang hidup pada daerah terumbu karang dan ditemukan dalam jumlah besar pada perairan dangkal. Kima (Tridacnidae) hidup bersimbiosis dengan ganggang dinoflagellata (Symbiodinium) yang tumbuh di jaringan mantel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Tridacnidae), serta mengetahui parameter lingkungan yang mempengaruhi kehidupan kima di Perairan Pulau Wawosunggu Kecamatan Moramo. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai April 2017. Penelitian ini menggunakan metode transek sabuk (belt transect) dengan ukuran 70mx10m. Pengamatan dilakukan pada tiga stasiun berdasarkan keberadaan kima. Hasil penelitian menunjukan bahwa keanekaragaman kima tergolong rendah dengan nilai 0,28-0,47 dan hanya ditemukan tiga jenis kima, yaitu Tridacna maxima, T. crocea, dan T. squomosa. Kepadatan jenis kima di Perairan Pulau Wawosunggu yaitu pada stasiun I (bagian timur) 0,06 ind/m², stasiun II (bagian utara) 0,03 ind/m², dan stasiun III (bagian barat) 0,02 ind/m².

Kata Kunci : Keanekaragaman, Kepadatan, Kima, Pulau Wawosunggu

Abstract

Kima is one of the organisms living in the reef area and is obtained in large quantities in shallow water.. Kima (Tridacnidae) lives symbiotically with dinoflagellata algae (Symbiodinium) growing on the mantle tissue. This study aimed to determine the diversity and density of Kima species (Tridacnidae) and to identify the environmental parameters affecting the life of Kima in Wawosunggu Island Waters, Moramo District. Data collection was conducted in December 2016 until April 2017. The research used belt transect method with 70mx10m in size. Observations were made on three stations based on the presence of clams. The results showed that the diversity of kima was low with the value of 0.28-0.47 and found only three species of clams, namely Tridacna maxima, T. crocea, and T. squomosa. The density of kima species in Wawosunggu Island Waters Was at station I (eastern part) 0.06 ind/m², station II (northern part) 0.03 ind/m², and station III (western part) 0.02 ind/m²,

Keywords: Diversity, Density, Giant Clam, Wawosunggu Island

Pendahuluan

Kima merupakan anggota dari kelas bivalvia, filum moluska. Hewan ini memiliki dua genus (Tridacna dan Hippopus) yang terdiri dari sembilan spesies dimana tujuh

spesies dapat ditemukan di perairan

Indonesia, yaitu Tridacna gigas, T. derasa, T. squamosa, T. maxima, T. crocea, Hippopus

hippopus, dan H. porcellanus (Lucas, 1988;

Pasaribu, 1988; Ambariyanto, 2009). Masing-masing spesies Tridacnidae memiliki wilayah distribusi sendiri. T. maxima tersebar

paling banyak, sedangkan T. tevoroa

memiliki area distribusi yang paling terbatas (Lucas,1994).

Kima (Tridacnidae) hidup

ber-simbiosis dengan ganggang dinoflagellata

(Symbiodinium) yang tumbuh di jaringan

mantel. Cahaya menembus mantel melalui lensa kecil seperti struktur yang disebut ocelli

(Murphy, 2002). Pada siang hari, kima menerima sinar matahari yang dibutuhkan

untuk berfotosintesis. Pigmen warna

melindungi kima terhadap cahaya yang berlebihan dan radiasi ultra violet. Kima

(2)

Keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Hasni et al.) 114 mendapatkan sebagian besar (70-100%)

nutrisinya dari ganggang dan sisanya dari

“filter feeder”.

Kima termasuk dalam kategori hewan yang dilindungi. Fakta populasi kima yang sangat mengkhawatirkan membuat CITES

(Convention on International Trade in

Endangered Species) memasukkan hewan ini

kedalam status appendiks II atau golongan spesies yang tidak terancam punah tetapi

berpeluang mengalami kepunahan bila

perdagangan biota ini terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. Selain itu, di Indonesia kima masuk dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 memasukkan ketujuh jenis kima yang hidup di Indonesia menjadi hewan

yang dilindungi. Penetapan tersebut

berdasarkan kenyataan bahwa populasi kima di alam sudah sangat menurun terutama

disebabkan pemanfaatan manusia. Di

Indonesia, upaya perlindungan spesies kima belum berjalan efektif akibat lemahnya

pengawasan dan penegakkan hukum

(Ambriyanto, 2000).

Penurunan jumlah populasi kerang kima yang semakin tinggi terjadi di Perairan Kabupaten Konawe Selatan khususnya di Pulau Wawosunggu. Penurunan jumlah populasi dilihat banyaknya cangkang kima

yang berhamburan di pesisir pantai. Hal ini terjadi karena kebiasaan dari masyarakat di sekitar dimana masyarakat di tempat ini banyak mengambil dan memanfaatkan kima secara ilegal. Menurut hasil wawancara dengan nelayan atau masyarakat di Pulau Wawosunggu, pengambilan kima dilakukan setiap hari dan tidak hanya mengambil bagian dagingnya saja yang diperuntukkan sebagai kebutuhan protein sehari-hari, akan tetapi cangkangnya yang memiliki ukuran yang besar juga dijadikan sebagai bahan hiasan rumah. Pengambilan kima dilakukan secara terus-menerus ini menyebakan jumlah kima di alam semakin berkurang.

Penangkapan kima di Perairan Pulau Wawosunggu dikhawatirkan akan mengalami eksploitasi yang berlebihan, olehnya itu untuk mendapatkan informasi tentang jenis

kima, perlu adanya penelitian

keanekaragaman dan kepadatan kima di Perairan Pulau Wawosunggu.

Bahan dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Desember 2016-April 2017 yang bertempat di Pulau Wawosunggu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan. Peta penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

(3)

Keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Hasni et al.) 115 Alat dan bahan yang digunakan dalam

penelitian yaitu :

1. Parameter yang di ukur meliputi salinitas, suhu, kecepatan arus, pH perairan, kecerahan, kedalaman.

2. Bahan yang digunakan yaitu Kima , Air Tawar, Buku identifikasi (Nezon et al., 2006 pedoman penebaran kima)

Survei pendahuluan bertujuan untuk mengetahui keberadaan kima pada lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat dasar selam di daerah

reef flat. Survei ini dilakukan untuk melihat kondisi awal lokasi dan digunakan sebagai dasar penentuan titik stasiun lokasi penelitian.

Setelah melakukan survei

pendahuluan, dilakukan penandaan titik stasiun penelitian yang diamati dengan menggunakan GPS. Penentuan titik stasiun penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa lokasi yang dipilih dapat mewakili

Perairan Pulau Wawosunggu secara

keseluruhan berdasarkan titik keberadaan kima. Lokasi pengambilan sampel meliputi: Stasiun I, terletak pada bagian Timur perairan Pulau Wawosunggu. Berada pada titik koordinat 04°07’30.7”LS - 122° 43’49” BT. Stasiun ini banyak memiliki terumbu karang massive dan branching; Stasiun II, terletak pada bagian Utara perairan Pulau Wawosunggu. Berada pada titik koordinat 04°07’28.8” LS - 122° 43’26.2” BT. Stasiun ini banyak memiliki terumbu karang massive, branching dan submassive; Stasiun III, terletak pada bagian Barat perairan Pulau Wawosunggu. Berada pada titik koordinat 04°07’38.5” LS - 122° 43’18.5” BT. Stasiun ini banyak memilik kondisi terumbu karang massiv

Pengambilan data terdiri dari aspek keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Tridacnidae) yang ada diperairan tersebut.

Data utama juga ditunjang dengan

pengukuran faktor fisika kimia oseanografi berupa suhu perairan, kedalaman perairan, pH, Salinitas, Kecerahan, dan Kecepatan Arus sebagai data pendukung

Pengambilan data kima dengan luasan transek 700m² menggunakan metode belt transek. Transek garis ditarik sejajar garis pantai sepanjang 70 x10m di daerah reef

flat. Identifikasi kima yang ditemukan

berdasarkan deksripsi dan habitatnya.

Kepadatan kima didefinisikan sebagai jumlah individu kima perstasiun dalam satuan luas, biasanya dinyatakan dalam satuan meter persegi (Odum, 1993). Dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

D= 𝑛

𝐴 (1)

Keterangan:

D= kepadatan kerang kima (ind/m²) n = jumlah individu suatu spesies (ind) A= luasan area pengamatan (m²)

Tingkat keanekaragaman jenis kima yang ada dalam stasiun pengamatan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (Odum, 1998) yaitu:

𝐻′ = − ∑ 𝑃𝑖 𝑙𝑜𝑔 𝑃𝑖 (2)

Keterangan:

H’= indeks keanekaragaman Shannon-Wienner

Pi = ni/N

ni = jumlah individu dari suatu jenis ke-i log = jumlah total individu dari seluruh jenis.

Tabel 1. Kisaran stabilitas komunitas ikan berdasarkan indeks keanekaragaman Kisaran Keanekaragaman H´<1 1,<H´≤3 H´>3 Rendah Sedang Tinggi

Pengukuran kecepatan arus dihitung dengan menggunakan rumus:

V= 𝑠 𝑡 (3) Keterangan: V= kecepatan arus (m/s) s = jarak (m) t = waktu (s)

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian kima, berhasil ditemukan 76 individu pada semua stasiun. Jenis T. crocea ditemukan dengan jumlah individu yang lebih banyak, yaitu sebanyak 39 individu serta ditemukan di setiap stasiun,diikuti oleh T. maxima sebanyak 21 individu, dan T. squamosa sebanyak 6 individu.

Tingginya jumlah individu pada jenis T. crocea karena erat hubungannya dengan cara hidupnya yang menempel dengan bysusnya yang kuat dengan membenamkan seluruh tubuhnya/cangkangnya pada celah-celah batu karang (coral massive) membuat jenis ini sulit diambil. Panggabean (1991), menyatakan

(4)

Keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Hasni et al.) 116 bahwa kima lubang (T. crocea) adalah kima

yang berukuran kecil, membutuhkan substrat yang keras untuk membenamkan cangkangnya. T. maxima dan T. crocea hidup terbenam

dalam karang massive, hanya bibir

cangkangnya yang tampak dari luar. Dimana pada stasiun 1 memiliki terumbu karang massive dan branching, stasiun II memiliki terumbu karang massive, branching dan submassive sedangkan stasiun III memiliki terumbu karang massive ( berdasarkan hasil survey pendahuluan).

Selain T. crocea jenis kima yang ditemukan kedua lebih banyak yaitu T. maxima. Hal ini juga sebabkan karena T. maxima memiliki kesamaan hidup yang hampir sama dengan T. crocea yaitu hidup di atas permukaan batu karang dimana kima ini menenggelamkan cangkangnya baik seluruh maupun sebagian. Sebagaimana penjelasan Rachman (1995), mengatakan bahwa T. maxima dan T. crocea masih mudah ditemukan karena keduanya hidup menempel atau menenggelamkan tubuhnya pada substrat karang massive.

Berdasarkan hasil perhitungan kepadatan jenis kima (Tabel 3) menunjukkan bahwa tingkat kepadatan kima terendah terdapat pada stasiun III dimana nilai tingkat kepadatannya adalah yakni 0,02 individu/m2, kemudian pada stasiun I dan II yaitu 0,06 dan 0,03 individu/m2.

Rendahnya kepadatan kima pada stasiun II dan III disebabkan karena letaknya dekat

dengan pemukiman warga. Dari hasil

wawancara dengan masyarakat di Pulau

tersebut pengambilan kima dilakukan setiap hari sedangkan stasiun I lebih tinggi karena letaknya jauh dari pemukiman penduduk (±1km).

Hasil kepadatan kima yang ditemukan di Perairan Pulau Wawosunggu sedikit lebih termasuk tinggi bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rizkevina (2014), di perairan Kepulauan Seribu dengan kepadatan jenis kima berkisaran 0,01-0,05 ind/m² dan teridentifikasi sebanyak 4 jenis kima diantaranya T. squamosa, T. crocea, T. maxima, dan T. derasa . Namun nilai kepadatan jenis kima di Pulau Wawosunggu termasuk rendah bila dibandingkan dengan penelitian Marsuki dkk (2013), di Pulau Berhala dimana nilai kepadatan berkisar antara 0,06-0,02 ind/m² dan hanya terdapat 2 jenis kima.

Hasil penelitian Susiana, dkk (2014) menunjukan adanya hubungan antara kualitas perairan (biologi, fisika kimia) dengan tingkat kelimpahan kima. Parameter yang paling

berpengaruh secara langsung terhadap

kelimpahan kima adalah kedalaman, salinitas

dan kecerahan. Sementara parameter

kecepatan arus, pH, oksigen terlarut, klorofil, fosfat dan suhu tinggi. Parameter tersebut tetap memiliki pengaruh terhadap kepadatan jenis kima meskipun secara tidak langsung karena digunakan untuk proses pertekaran dan pengangkutan unzur zat hara, transpor sedimen, laju pertumbuhan kima, reprodusi, dan kesubura perairan. Disimpulkan bahwa kepadatan jenis kima dipengaruhi oleh kualitas perairan secara langsung dan tidak langsung.

Tabel 2. Kepadatan kima pada setiap stasiun penelitian

No Stasiun T. squmosa T. crocea T. maxima Total Kepadatan

(ind/m²)

1 I 2 26 12 40 0,06

2 II - 8 13 21 0,03

3 III 4 5 6 15 0,02

Jumlah 6 39 31 76 -

Tabel 3. Parameter Lingkungan

No Parameter Lingkungan Satuan Stasiun

I II III 1 Suhu perairan ºC 30 29 29 2 Kedalaman perairan M 4 5 4 3 pH - 7 8 7 4 Salinitas Ppt 32 30 30 5 Kecerahan Cm 810 746 706 6 Kecepatan arus m/s 0,19 0,18 0,17

(5)

Keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Hasni et al.) 117 Tabel 4. Indekas keanekaragaman kima pada setiap stasiun penelitian

No Stasiun H' Jumlah Individu Jumlah Jenis

1 I 0,34 40 3

II 0,28 21 2 3 III 0,47 15 3 Keterangan : H’= Rendah

Berdasarkan hasil penelitian

keanekaragaman kima yang

ditemukan di Perairan Pulau Wawosunggu

diperoleh dalam kategori rendah (H’<1). Setiap stasiun memiliki keanekaragaman kima yang berbeda. Indeks Keanekaragaman berkisar antara 0,28-0,47 (Tabel 4).

Rendahnya nilai keanekaragaman

disebabkan jenis kima yang didapatkan hanya sedikit yaitu 3 jenis. Keanekaragaman biota dalam suatu perairan sangat tergantung banyaknya spesies dalam komunitasnya. Semakin banyak jenis yang ditemukan, maka

keanekaragaman akan semakin besar

meskipun nilai ini sangat tergantung dari jumlah individu masing-masing jenis (Wilhm dan Doris, 1986). Pendapat ini juga didukung oleh Krebs (1985), yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah anggota individunya dan merata, maka indeks keanekaragaman juga akan semakin besar.

Jumlah spesies yang ditemukan di lokasi penelitian termasuk rendah bila dibandingan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prasetya (2015), di Perairan

Pulau Saponda Laut yang ditemukan

sebanyak 106 individu, diantarany T. crocea

41 individu, T. maxima 39 individu, T.

squamosa 19 individu, dan H. hippopus 7

individu, Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamil (2015), di Perairan Pulau Labengki ditemukan sebanyak 69 individu yang terdiri dari 4 jenis diantaranya

T. crocea 31 individu, T. maxima 25

individu, T. derasa 3 individu dan T.

squamosa 10 individu. Jenis T. crocea

menunjukan jumlah individu yang paling tinggi disebabkan oleh habitat atau tempat Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan:

1. Keanekaragaman kima di Perairan Pulau Wawosunggu tergolong rendah dan

ditemukan tiga jenis kima, yaitu

Tridacna squamosa, T. crocea dan

T.maxima dengan indeks

keanekaragaman 0,28-0,47

2. Kepadatan jenis kima di temukan di stasiun I yaitu 0,06 ind/m² stasiun II yaitu 0,03 ind/m², dan stasiun III 0,02 ind/m². Ucapan Terima Kasih

Terima kasih untuk Mo’amar La Salihi S.si, Irman S.Si, Farlan S.Si, Farit S.Pi, Rahmat S.Pi, Muliati S.Pi, Risko, Aan, Arman yang telah membantu penelitian di lapangan.

Daftar Pustaka

Ambariyanto, Yusup, S. Ramli, I., Hadi, S. 2000. The condition Of Giant Clams Natural population in Indonesia. Paper

dipresentasikan pada Te 9 th

International Coral Reef Symposium. Oktober 2000. Bali, Indonesia

Kamil, A.U. 2015. Studi Keanekaragaman

Keanekaragaman Dan

Kelimpahan Kima Di Perairan Pulau Labengki Konawe Utara, Skripsi. FPIK UHO. Kendari

Krebs, C. J. 1985. Ecology. The

Experimental Analysis of Distribution and Abudance. Editio, Harper and Row Publisher, New York. Pp: 395-399.

Lucas, J.S dan Copland J.W 1988, Giant

Clam, Description, Distribution and

Live History Giant Clam In Asia and The Pasific. 9 : 21-32.

Nezon, E, Lyli, M. G, Wardono, S, Sadarun, B. 2006. Pedoman Penebaran Kima Direktorat Konservasi Dan Taman Nasional Laut Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Departemen Kelautan Dan Perikanan. 38 Hal.

Marsuki. I. D, Baru, S dan Ratna, D. P 2013.

Kondisi Terum Karang Dan

Kelimpahan Kima Di Perairan Pulau

Indo. Jurnal Mina Laut Indonesia,

(6)

Keanekaragaman dan kepadatan jenis kima (Hasni et al.) 118 Murphy, dan Christopher G, 2002. Anuran

communication book review). Copeia 2002 (1) :252-254.

Odum, E. P. 1998. Dasar– dasar Ekologi. Fundamental of Ecology. Gajah Mada University Press: Yogyakarta

Pasaribu, B.P. 1988. Status of Clams in Indonesia dalam Compland, J.W. and Lucas, J.S. (esd). Giant Clam in Asia

and The Pacific. Monoggraph

9. ACIAR Monoggraph Series,

Canberra. Pp 44-46.

Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999

tentang Pengawetan Jenis

Tumbuhan dan Satwa.

Panggabean, L.,M.G. 1991. Rahasia

Kehidupan Kima: Kelangsungan

Hidup. Oseana. 16(2): 35-45.

Prasetya, M.I.2015. Studi Keanekaragaman dan Kelimpahan Kima Di Perairan

Pulau Saponda. Kendari. Skripsi. FPIK UHO. Kendari

Racman, A. 1995. Budidaya Kima Raksasa

Salah Satu Upaya Melestarikan

Terumbu Karan. Proceeding Seminar

Nasional. Pengelolaan Terumbu

Karang Jakarta

Rezkevina. Q. 2014, Keanekaragaman Jenis dan distribusi family tridacnidae (kerang kima) di Perairan Pulau karang Congkak Kepulauan Seribu. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta. Salam, N., 1999. Pengaruh Kedalaman

Terhadap Pertumbuhan Kima Sisik Di Perairan Pantai Pulau Borang Lompo. Skripsi. Fakulas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Unhas Makassar.

Wilhm, J.L., and T.C. Doris, 1986.

Biological Parameter For Water

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :