• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 12, 19, 101, 130/PUU-VII/2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 12, 19, 101, 130/PUU-VII/2009"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 12, 19, 101, 130/PUU-VII/2009

PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR

10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN, PENGUJIAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37

TAHUN 2004

TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN

HUTANG, PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003

TENTANG ADVOKAT, DAN PENGUJIAN UNDANG-UNDANG

REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG

PEMILIHAN UMUM ANGGOTA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,

DEWAN PERWAKILAN DAERAH,

DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR 1945

ACARA

PENGUCAPAN PUTUSAN

(V, IV, V, & VI)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 12, 19, 101, 130/PUU-VII/2009 PERIHAL

Pengujian Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan, Pengujian Undang-Undang-Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Pembayaran Hutang, Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat, dan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

PEMOHON:

- Philipus P. Soekirno (Pemohon Perkara Nomor 12/PUU-VII/2009)

- Tafrizal Hasan Gewang, S.H.,, M.H., dkk. (Pemohon Perkara Nomor 19/PUU-VII/2009)

- H.F. Abraham Amos, S.H., Djamhur, S.H., dan Drs. Rizki Hendra Yoserizal, S.H. (Pemohon Perkara Nomor 101/PUU-VII/2009)

- Habel Rumbiak, S.H., SpN. (Pemohon Perkara Nomor 130/PUU-VII/2009) ACARA:

Pengucapan Putusan (V, IV, V, & VI)

Rabu, 30 Desember 2009, Pukul 14.10 –15.50WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, S.H. (Ketua) 2) Prof. Abdul Mukthie Fadjar, S.H., M.S. (Anggota) 3) Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. (Anggota) 4) Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. (Anggota) 5) Maruarar Siahaan, S.H. (Anggota) 6) Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum. (Anggota) 7) Dr. Harjono, S.H., M.C.L . (Anggota) 8) Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum. (Anggota) 9) Dr. Akil Mochtar, S.H., M.H. (Anggota) Ida Ria Tambunan, S.H. Panitera Pengganti Sunardi, S.H. Panitera Pengganti Alfius Ngatrin, S.H. Panitera Pengganti Eddy Purwanto, S.H. Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

Pemohon Perkara Nomor 12/PUU-VII/2009: - Julinar (pendamping)

Kuasa Hukum Pemohon Pihak Terkait Perkara Nomor 19/PUU-VII/2009:

- Lusi Hary Mulyanti, S.H. Pihak Terkait:

- FISBI

Pemohon Perkara Nomor 101/PUU-VII/2009: - Drs. Rizki Hendra Yoserizal

- H.F. Abraham Amos - Djamhur, S.H.

Kuasa Hukum Pemohon Perkara Nomor 130/PUU-VII/2009: - Elyas, S.H.

Pemerintah:

- Anwar Suprijadi (Dirjen Bea Cukai) - Dody (Dep Hukum dan HAM) DPR:

(4)

1. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Sidang pleno Mahkamah Konstitusi untuk pengucapan Putusan Perkara Nomor 12/PUU-VII/2009, Perkara Nomor 19/PUU-VII/2009, Perkara Nomor 101/PUU-VII/2009, dan Perkara Nomor 130/PUU-VII/2009 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Untuk Perkara Nomor 12, silakan, siapa yang hadir? Perkenalkan diri dulu.

2. PENDAMPING PEMOHON PERKARA NOMOR 12/PUU-VII/2009: JULINAR

Selamat siang. Terima kasih kepada Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Perkenankanlah saya di sini atas nama Julinar, saya sebagai pendamping dari Bapak Philipus. Pekenankanlah juga saya mengajukan permohonan maaf dari beliau, dikarenakan hari ini beliau akan hadir tapi sedikit terlambat. Dikarenakan ada acara yang tidak bisa ditinggalkan. Demikian, terima kasih, Pak.

3. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Ya, Perkara Nomor 19. Silakan, Perkara Nomor 19 siapa ini? Tidak ada yang hadir? Ada, silakan.

4. KUASA HUKUM PEMOHON PIHAK TERKAIT PERKARA NOMOR 19/PUU-VII/2009: LUSI HARY MULYANTI, S.H.

Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari pihak terkait Perkara 19. Perkenalkan, saya Lusi Hary Mulyanti, dan di sebelah kanan saya, Pihak Terkait dari FISBI . terima kasih, Yang Mulia.

5. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Baik, Perkara Nomor 101?

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.10 WIB

(5)

6. PEMOHON PERKARA NOMOR 101/PUU-VII/2009: DRS. RIZKI HENDRA YOSERIZAL

Terima kasih, Yang Mulia. Kami perkenalkan, kami dari para Pemohon Perkara 101. Saya Drs. Rizki Hendra Yoserizal sebagai Pemohon 3, kemudian H.F. Abraham Amos sebagai Pemohon 1, dan Saudara Djamhur, S.H. sebagai Pemohon 2. Terima kasih Yang Mulia. 7. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Perkara 130?

8. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 130/PUU-VII/2009: ELYAS, S.H.

Yang Mulia, nama saya Elyias, pihak yang terkait dari Pemohon Habel Rumbiak, S.H. Terima kasih.

9. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Pemerintah. Tidak ada? Oh, ada. Silakan Pak Anwar. 10. PEMERINTAH: ANWAR SUPRIYADI

Assalamualaikum wr.wb. Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Konstitusi, saya Anwar Supriyadi mewakili pemerintah dalam Perkara Nomor 12. Terima kasih.

11. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. DPR? Masih Pemerintah, silakan.

12. PEMERINTAH: DODY

Terima kasih, Pak Ketua. Saya Dody mewakili Pemerintah Departemen Hukum dan HAM. Terima kasih.

13. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. Berikutnya sebelahnya. Baik, DPR.

14. DPR: DWI PRIHARTOMO (TIM BIRO HUKUM SEKRETARIAT JENDERAL DPR-RI)

Terima kasih Majelis Hakim Yang Mulia. Saya Dwi Prihartomo dari Biro Hukum Sekretariat Jenderal DPR RI

(6)

15. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H.

Baik, ini ada 4 putusan mau dibacakan secara berurutan karena juga kita tidak akan baca semua, hanya akan baca pokok-pokoknya saja untuk setiap perkara, sehingga bisa selesai tidak terlalu lama.

Putusan yang Nomor 19 dulu. BIsmillahirahmanirrahim.

PUTUSAN

NOMOR 19/PUU-VII/2009

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

[1.2] 1. TAFRIZAL HASAN GEWANG, S.H., M.H., pekerjaan Kurator yang terdaftar pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum berdasarkan Surat Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor C.HT. 05.15-23 tanggal 06 Januari 2006, berkantor di Ruko Sentra Menteng Blok MN Nomor 88M Sektor VII, Bintaro Jaya, selanjutnya disebut --- Pemohon I; 2. ROYANDI HAIKAL, S.H., M.H., pekerjaan Kurator yang

terdaftar pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum berdasarkan Surat Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor C.HT.05.15-64 tanggal 19 April 2006, berkantor di Ruko Sentra Menteng Blok MN Nomor 88M Sektor VII, Bintaro Jaya, selanjutnya disebut --- Pemohon II; [1.3] Membaca permohonan para Pemohon;

Mendengar keterangan para Pemohon dan Pihak Terkait Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia;

Memeriksa bukti-bukti para Pemohon dan Pihak Terkait Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia;

Mendengar keterangan Pemerintah;

Membaca keterangan tertulis Dewan Perwakilan Rakyat;

Mendengar keterangan ahli dari Pihak Terkait Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia;

Membaca kesimpulan Pihak Terkait Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia;

(7)

16. HAKIM ANGGOTA: PROF. DR. MARIA FARIDA INDRATI, S.H., M.H.

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan para Pemohon adalah mengenai pengujian materiil terhadap kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443, selanjutnya disebut UU 37/2004) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945);

[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan Pokok Permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) akan mempertimbangkan terlebih dahulu hal-hal berikut:

a. Kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

b. Kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon;

Terhadap kedua hal tersebut, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 juncto Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316, selanjutnya disebut UU MK) dan Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358), salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar;

[3.4] Menimbang bahwa permohonan para Pemohon adalah mengenai pengujian Undang-Undang in casu UU 37/2004 terhadap UUD 1945, sehingga Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

(8)

Kedudukan hukum (Legal standing) para Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK, yang dapat bertindak sebagai pemohon dalam pengujian suatu Undang-Undang terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, yaitu:

a. perorangan, termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama, warga negara Indonesia;

b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;

c. badan hukum publik atau privat; atau d. lembaga negara;

[3.6] Menimbang pula bahwa Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 bertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 bertanggal 20 September 2007 serta putusan-putusan selanjutnya telah berpendirian bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:

a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;

b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh pemohon dianggap dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

c. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut harus bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;

d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

e.adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;

[3.7] Menimbang bahwa berdasarkan uraian sebagaimana tersebut pada paragraf [3.5] dan [3.6] di atas, selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan mengenai kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon dalam permohonan a quo sebagai berikut:

(9)

[3.7.1] Bahwa para Pemohon mendalilkan sebagai perorangan warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai kurator menganggap telah dirugikan oleh berlakunya kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 yang berbunyi ”... dan tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara”. Rumusan kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 menyebabkan para Pemohon tidak mungkin dapat menangani perkara kepailitan lagi sekalipun Pemohon I sudah membuat Surat Pernyataan tentang Penanganan kasus kepailitan, hal tersebut karena para Pemohon telah menangani perkara kepailitan lebih dari tiga perkara (Bukti P-4). Menurut para Pemohon bahwa kalimat terakhir pasal a quo mengandung batasan/ larangan bagi kurator untuk menerima kasus kepailitan tidak lebih dari tiga perkara. Adapun hak konstitusional para Pemohon yang dilanggar oleh berlakunya ketentuan pasal a quo adalah diatur dalam UUD 1945 yaitu hak atas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan [Pasal 27 ayat (1)], hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian [Pasal 27 ayat (2)], hak untuk memajukan dan mengembangkan dirinya secara kolektif [Pasal 28C ayat (2)], hak untuk mendapatkan pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum [Pasal 28D ayat (1)], hak untuk bekerja serta mendapatkan imbalan yang adil dan layak dalam hubungan kerja [Pasal 28D ayat (2)], dan hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif [Pasal 28I ayat (2)];

[3.7.2] Bahwa hak konstitusional para Pemohon sebagaimana yang didalilkan tersebut, belum secara nyata dirugikan oleh berlakunya pasal dalam Undang-Undang a quo, karena berdasarkan alat bukti yang diajukan oleh para Pemohon tidak ada satupun yang dapat menunjukkan adanya penolakan dari pengadilan kepada para Pemohon untuk menangani kasus kepailitan, bahkan berdasarkan Bukti P-4, para Pemohon baru akan menangani tiga perkara kepailitan. Berdasarkan hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat bahwa kerugian konstitusional para Pemohon belumlah bersifat aktual, melainkan bersifat potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi apabila ketentuan kalimat terakhir pasal a quo diberlakukan. Dengan demikian, para Pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[3.8] Menimbang bahwa karena Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo, serta para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk

(10)

mengajukan permohonan, maka selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan pokok permohonan para Pemohon;

17. HAKIM ANGGOTA: DR. H.M. ARSYAD SANUSI, S.H., M.HUM. Pokok Permohonan

[3.9] Menimbang bahwa pokok permohonan para Pemohon adalah mengenai pengujian konstitusionalitas dalam kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 yang berbunyi, ”... dan tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara”, yang menurut para Pemohon bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (2) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945, dengan alasan-alasan sebagai berikut:

a.bahwa rumusan kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 telah membatasi hak konstitusional para Pemohon untuk memperoleh hak atas kesamaan kedudukan di depan hukum, telah melanggar hak konstitusional para Pemohon atas pekerjaan dan penghidupan yang Iayak bagi kemanusiaan;

b.bahwa pembatasan dalam kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tidak memiliki landasan konstitusional yang sah, karena pembatasan tersebut hanya dimungkinkan semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis;

c.bahwa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tidak mencerminkan nilai-nilai keadilan dalam suatu masyarakat demokratis dan merugikan kepentingan hukum warga negara yang hendak memilih atau menunjuk kurator yang menurut pendapat mereka cukup kapabel dan Iayak untuk menjadi kurator yang mewakili kepentingan hukum mereka dalam proses kepailitan atas debitor yang telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Seharusnya pembatasan dalam pasal a quo mencantumkan secara jelas, apakah hanya sebatas pengurusan budel yang tidak termasuk penjualan aset budel, dan bagaimana tolak ukur bagi kurator telah menangani lebih dari tiga perkara;

d.bahwa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 telah bersifat diskriminatif, karena pembatasan tersebut hanya diberlakukan kepada profesi kurator saja, sedangkan untuk profesi advokat, akuntan, appraisal, dan dokter tidak dikenakan pembatasan sebagaimana pembatasan yang diatur dalam pasal

(11)

a quo, bahkan di negara lain seperti Singapura dan Australia, demikian juga Balai Harta Peninggalan (BHP) tidak mengenal adanya pembatasan dalam menangani perkara kepailitan;

[3.10] Menimbang bahwa Pemerintah pada persidangan tanggal 2 September 2009 telah menyampaikan keterangan lisan yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut:

• bahwa maksud dan tujuan dibuatnya Undang-Undang tentang Kepailitan adalah untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor, untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya, dan untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor atau debitor, sehingga merugikan kreditor lainnya;

• bahwa pembatasan dalam pasal a quo dimaksudkan untuk melindungi kurator itu sendiri dari kerugian yang timbul atas pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit;

• bahwa pembatasan dalam pasal a quo merupakan pilihan kebijakan (legal policy) pembentuk Undang-Undang (DPR bersama Presiden) untuk menentukan pilihan yang dianggap paling tepat, guna memberikan kesempatan yang seimbang terhadap setiap orang yang berprofesi sebagai kurator dan memberikan kepastian bahwa pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit tersebut dapat diselesaikan dengan baik, cermat, tepat waktu dan profesional guna memberikan perlindungan yang seimbang baik terhadap debitor maupun kreditor atas harta pailit;

• bahwa pembatasan dalam pasal a quo tidaklah bersifat diskriminatif sebagaimana yang didalilkan oleh para Pemohon, karena perlakuan diskriminatif tersebut tidak menyangkut mengenai pembatasan dan pembedaan yang didasarkan atas agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa dan keyakinan politik, sebagimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Pasal 2 International Covenant on Civil and Political Rights;

• berdasarkan alasan tersebut, Pemerintah berpendapat bahwa frasa Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tidaklah bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 28I ayat (2) UUD 1945, dan juga tidak merugikan hak dan/atau kewenangan konstitusional para Pemohon;

(12)

[3.11] Menimbang bahwa terhadap permohonan para Pemohon, DPR telah pula menyampaikan keterangan tertulis yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut:

• bahwa apa yang didalilkan para Pemohon berkaitan dengan Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 merupakan kekhawatiran yang tidak beralasan, karena sekalipun pasal a quo diberlakukan, para Pemohon tetap dapat menjadi kurator, sehingga hak konstitusional para Pemohon sebagaimana dijamin dalam Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 tidaklah menjadi hilang;

• bahwa pembatasan penanganan perkara kepailitan sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tidaklah merugikan dan mendiskriminasikan hak konstitusional para Pemohon. Pembatasan dalam pasal a quo justru dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum kepada para Pemohon dalam menjalankan profesinya sebagai kurator, dimana kurator menurut Pasal 72 dan Pasal 78 ayat (2) UU 37/2004 diberikan tugas yang sangat berat, yaitu bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit. Jika kurator dalam menjalankan tugasnya tersebut menyebabkan kerugian terhadap harta pailit, maka kurator bertanggung jawab terhadap Debitor Pailit dan Kreditor;

• bahwa keberadaan Undang-Undang Kepailitan telah sejalan dengan Pasal 28J ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 yang pada ayat (1) menyatakan, “Setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, dan ayat (2) menyatakan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghorsemata-matan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis”;

• bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, DPR berpendapat bahwa ketentuan Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (2), dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945;

[3.12] Menimbang bahwa Pihak Terkait Federasi Ikatan Serikat Buruh Indonesia pada persidangan tanggal 28 Oktober 2009 mengajukan seorang ahli bernama Dr. M. Hadi Shubhan, S.H., M.H., C.N, yang telah memberikan keterangan di bawah sumpah pada persidangan tersebut yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut:

(13)

• bahwa hubungan kurator dengan buruh adalah kurator bertugas melakukan pengelolaan dan pengurusan harta perusahaan yang pailit, sedangkan buruh merupakan pekerja dari perusahaan yang pailit tersebut, sehingga apabila perusahaan pailit, maka buruh masih berhak atas harta perusahaan yang pailit tersebut;

• bahwa pembatasan kurator sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 dilatarbelakangi adanya pemikiran, yaitu pertama, penanganan kepailitan tidak mudah dan memerlukan waktu yang panjang karena melibatkan urusan yang sangat banyak; kedua, bahwa dengan dipailitkannya perusahaan, kurator tidak apriori menghentikan usaha debitor pailit; ketiga, bahwa perkara kepailitan yang melibatkan banyak kreditor dimungkinkan dibentuk panitia kreditor, sehingga apabila kurator diberikan hak untuk menangani banyak perkara, maka dikuatirkan kurator tersebut tidak konsentrasi mengurus harta pailit;

• bahwa profesi kurator menurut hukum di Indonesia merupakan profesi tambahan, dimana profesi utamanya adalah sebagai advokat;

• bahwa pembatasan kurator adalah untuk kepentingan kurator sendiri, karena apabila dalam pelaksanaan tugasnya kurator melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian terhadap harta pailit, maka kurator dapat dimintai pertanggungjawaban secara pribadi. Pembatasan kurator tersebut, sebenarnya memberikan motivasi kepada kurator untuk segera menyelesaikan tugasnya;

Pendapat Mahkamah

[3.13] Menimbang bahwa setelah memeriksa dengan seksama uraian Pemohon dalam permohonannya dan keterangan Pemohon, bukti-bukti tertulis, keterangan Pemerintah, keterangan Dewan Perwakilan Rakyat dan keterangan Pihak Terkait serta keterangan ahli yang diajukannya, sebagaimana telah diuraikan di atas, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

[3.13.1] bahwa masalah utama yang harus dipertimbangkan dan diputuskan oleh Mahkamah dalam permohonan ini adalah menyangkut konstitusionalitas Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 khususnya frasa, “... dan tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara”, karena frasa tersebut oleh para Pemohon dianggap merugikan hak konstitusionalnya sebab mengandung batasan/larangan bagi kurator untuk menerima kasus tidak lebih dari 3 (tiga) perkara, karena dipandang bertentangan dengan

(14)

pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil sebagaimana diatur dalam UUD 1945, sehingga para Pemohon telah terdiskriminasi dan mendapat perlakuan yang tidak sama di hadapan hukum;

[3.13.2] bahwa ketentuan dalam UUD 1945 yang didalilkan telah dilanggar oleh frasa dalam kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tersebut masing-masing adalah:

1. Pasal 27 ayat (1), “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”;

2. Pasal 27 ayat (2), “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”; 3. Pasal 28C ayat (2), “Setiap orang berhak untuk memajukan

dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya”;

4. Pasal 28D ayat (1), “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”;

5. Pasal 28D ayat (2), “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”;

6. Pasal 28I ayat (2), ”Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif tersebut”;

18. HAKIM ANGGOTA: MARUARAR SIAHAAN, S.H.

[3.14] Menimbang bahwa frasa dalam kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 yang membatasi kurator untuk menangani 3 (tiga) perkara kepailitan dalam waktu yang bersamaan, menurut Mahkamah tidak melanggar asas persamaan di depan hukum dan pemerintahan, tidak diskriminatif, tidak menghalangi hak para Pemohon untuk memajukan diri dan memperjuangkan haknya secara kolektif, tidak melanggar kepastian hukum yang adil, maupun tidak melanggar hak untuk bekerja dan mendapat imbalan yang layak dan adil dalam hubungan kerja, dengan alasan-alasan sebagai berikut:

1. Diskriminasi, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, adalah “Setiap pembatasan, pelecehan atau pengucilan yang langsung ataupun tidak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis

(15)

kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek kehidupan lainnya”;

2. Bahwa pembatasan yang dimuat dalam frasa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 yang menentukan bahwa kurator yang akan diangkat untuk melakukan pemberesan budel pailit, tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara, berlaku terhadap setiap kurator tanpa kecuali, sehingga pembatasan yang dilakukan tidak didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa dan keyakinan politik yang menimbulkan penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan, baik individual maupun kolektif. Pembatasan kurator dalam menangani 3 (tiga) perkara kepailitan dalam waktu yang bersamaan, merupakan suatu hal yang rasional dan logis, mengingat bobot atau tingkat kesulitan perkara dan kepentingan kreditor-kreditor yang tidak sedikit jumlahnya yang harus dibereskan dengan penuh tanggung jawab dan dengan cara yang adil;

3. Bahwa perbandingan yang dilakukan oleh para Pemohon dengan professi lain seperti pengacara, dokter, akuntan dan appraisal yang merupakan profesi yang didasarkan pada adanya “trust” dalam hubungan dengan klien, dan yang tidak dibatasi seperti halnya kurator, menurut Mahkamah tidak tepat, karena meskipun benar pilihan terhadap kurator yang dipercayai untuk menangani perkara kepailitan yang dihadapi harus didasarkan pada kebebasan pasar/ pemakai jasa/konsumen untuk menentukan dan tidak didasarkan pada regulasi dalam Undang-Undang, terlebih-lebih dengan melakukan pembatasan, akan tetapi berbeda dengan profesi lainnya, pilihan terhadap kurator, tidak hanya digantungkan pada pilihan dan kepentingan-kepentingan kreditor yang memohon kepailitan, tetapi juga harus mempertimbangkan kepentingan hukum debitor, kreditor-kreditor lain, baik kreditor preferen maupun kreditor konkuren lain, yang tidak jarang jumlahnya banyak, yang dapat diketegorikan sebagai kepentingan umum, sehingga pembatasan tertentu dapat dilakukan dengan Undang-Undang. Oleh karenanya pasal a quo tidak bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945;

(16)

4. Bahwa pembatasan yang ditentukan dalam frasa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang a quo juga tidak relevan untuk diperhadapkan atau diuji dengan asas persamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan yang diatur dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, karena dengan pasal tersebut sama sekali tidak terganggu hak para Pemohon yang sama dengan warga negara lainnya untuk turut serta dalam pemerintahan dan diperlakukan secara sama di depan hukum, maupun hak atas pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan, serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja, sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945; 5. Bahwa frasa kalimat terakhir dalam Pasal 15 ayat (3)

Undang-Undang a quo juga tidak bertentangan dengan Pasal 28C ayat (2) karena frasa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang a quo tidak menghalangi para Pemohon untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. Begitu pula, Mahkamah menilai bahwa frasa kalimat terakhir Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang a quo tidak bertentangan dengan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 sebagaimana telah dipertimbangkan pada angka 2;

[3.15] Menimbang bahwa pembatasan hak asasi manusia -seandainya pun benar terkait dengan Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004- yang dilakukan secara rasional adalah konstitusional, sepanjang pembatasan dimaksud dilakukan dengan Undang-Undang dan dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain untuk memenuhi tuntutan yang adil [vide Pasal 28J ayat (2) UUD 1945]. Kepentingan pihak-pihak lain selain Pemohon pailit dan kurator, merupakan hak asasi yang harus dipertimbangkan secara adil dan juga berhak untuk memperoleh penghormatan, perlindungan dan penegakan secara seimbang dan adil, sehingga Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004 tersebut harus juga dilihat dari sisi hak asasi dan kepentingan hukum banyak pihak yang terkait dengan pernyataan pailit terhadap seorang debitor yang dimohonkan para Pemohon. Oleh karenanya Mahkamah berpendapat permohonan para Pemohon tidak beralasan;

19. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. 4. KONKLUSI

Berdasarkan pertimbangan fakta dan hukum di atas, Mahkamah berkesimpulan bahwa:

(17)

[4.1] Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili dan memutus pokok permohonan;

[4.2] Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan;

[4.3] Pasal 15 ayat (3) UU 37/2004, sepanjang mengenai frasa “tidak sedang menangani perkara kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara” (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443) tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

5. AMAR PUTUSAN.

Dengan mengingat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 56 ayat (5) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316);

Mengadili,

Menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi pada hari Rabu tanggal enam belas bulan Desember tahun dua ribu sembilan dan diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum pada hari Rabu tanggal tiga puluh bulan Desember tahun dua ribu sembilan, oleh kami sembilan Hakim Konstitusi, yaitu Moh. Mahfud MD, selaku Ketua merangkap Anggota, Abdul Mukthie Fadjar, Maruarar Siahaan, M. Arsyad Sanusi, Achmad Sodiki, M. Akil Mochtar, Muhammad Alim, Harjono, dan Maria Farida Indrati, masing-masing sebagai Anggota dengan dibantu oleh Sunardi sebagai Panitera Pengganti, dihadiri oleh para Pemohon, Pemerintah atau yang mewakili, Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, dan Pihak Terkait atau kuasanya.

Demikian Putusan untuk Perkara Nomor 19/PUU-VII/2009. Selanjutnya,

KETUK PALU 1X

(18)

PUTUSAN

NOMOR 12/PUU-VII/2009

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

[1.2] Nama : Philipus P. Soekirno

Pekerjaan : Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Pemakai Bahan Berbahaya dan Direktur PT. Agung Kimia Jaya Mandiri;

Alamat : Jalan Kyai Caringin Nomor 3G Jakarta Pusat 10150. Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon [1.3] Membaca permohonan dari Pemohon;

Mendengar keterangan dari Pemohon; Mendengar keterangan ahli dari Pemohon; Memeriksa bukti-bukti tertulis dari Pemohon; Membaca keterangan tertulis dari Pemerintah;

Membaca keterangan tertulis dari Dewan Perwakilan Rakyat; Membaca kesimpulan tertulis dari Pemohon;

Membaca kesimpulan tertulis dari Pemerintah.

20. HAKIM ANGGOTA: PROF. DR. MARIA FARIDA INDRATI, S.H., M.H.

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon adalah pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4661, selanjutnya disebut UU Kepabeanan) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, selanjutnya disebut UUD 1945; [3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok

permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal berikut:

(19)

a. Kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

b.Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon untuk mengajukan permohonan a quo;

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 salah satu kewenangan Mahkamah adalah menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang-Undang-Undang Dasar yang kemudian kewenangan tersebut dimuat lagi dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316, selanjutnya disebut UU MK) dan Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358);

[3.4] Menimbang bahwa permohonan a quo adalah pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang-Undang-Undang Dasar in casu UU Kepabeanan terhadap UUD 1945, sehingga Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan Pemohon; Kedudukan Hukum (legal standing) Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK beserta penjelasannya, Pemohon dalam pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, yaitu:

a.perorangan (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama) warga negara Indonesia;

b.kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;

c.badan hukum publik atau privat; atau d.lembaga negara;

[3.6] Menimbang pula bahwa mengenai kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK, Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 tanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 tanggal

(20)

20 September 2007 serta putusan-putusan selanjutnya telah berpendirian tentang adanya 5 (lima) syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a.ada hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;

b.hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

c.kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut harus bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;

d.ada hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional dimaksud dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

e.adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;

[3.7] Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan diri sebagai perorangan warga negara Indonesia, baik atas nama pribadi, selaku Direktur PT. Agung Kimia Jaya Mandiri (Bukti P-8) maupun selaku Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Pemakai Bahan Berbahaya (ASPEMBAYA, Bukti P-6) menganggap mempunyai hak konstitusional yang diberikan oleh UUD 1945, yaitu yang tercantum dalam pasal-pasal berikut:

• Pasal 17 ayat (3), “Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan”;

• Pasal 18 ayat (2), “Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”;

• Pasal 28D ayat (1), “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”;

• Pasal 28D ayat (2), “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”;

• Pasal 30 ayat (2), “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung”;

• Pasal 30 ayat (4), “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban

(21)

masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum”;

[3.8] Menimbang bahwa terhadap dalil Pemohon tentang hak-hak konstitusional yang dimilikinya yang diberikan oleh UUD 1945 sebagaimana tersebut dalam Paragraf [3.7] di atas Mahkamah berpendapat bahwa hanya ketentuan Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) yang merupakan hak konstitusional (constitutional rights) untuk seseorang atau warga negara Indonesia, sedangkan Pasal 17 ayat (3) hanya berkaitan dengan bidang tugas menteri, Pasal 18 ayat (2) hanya berkaitan dengan tugas pemerintahan daerah, Pasal 30 ayat (2) hanya berkaitan dengan sistem pertahanan dan keamanan negara, dan Pasal 30 ayat (4) hanya berkaitan dengan tugas Kepolisian, sehingga bukan merupakan hak-hak dasar yang merupakan hak konstitusional warga negara in casu hak Pemohon;

[3.9] Menimbang bahwa Pemohon menganggap hak-hak konstitusionalnya yang tercantum dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya beberapa pasal UU Kepabeanan, yaitu:

• Pasal 1 angka 3, “Kawasan pabean adalah kawasan dengan batas-batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara, atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas barang yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai”;

• Pasal 6A ayat (1), ayat (2), dan ayat (3):

(1) Orang yang akan melakukan pemenuhan kewajiban pabean wajib melakukan registrasi ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapat nomor identitas dalam rangka akses kepabeanan.

(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) orang yang melakukan pemenuhan kewajiban pabean tertentu.

(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan peraturan menteri.

• Pasal 64A ayat (1), dan ayat (2):

(1) Barang yang berdasarkan bukti permulaan diduga terkait dengan tindakan terorisme dan/atau kejahatan lintas negara dapat dilakukan penindakan oleh pejabat bea dan cukai.

(2) Ketentuan mengenai tata cara penindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan peraturan menteri.

(22)

(1) Dalam melaksanakan tugas berdasarkan Undang-Undang ini pejabat bea dan cukai dapat meminta bantuan Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan/atau instansi lainnya.

(2) Atas permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan/atau instansi lainnya berkewajiban untuk memenuhinya.

• Pasal 86 ayat (1), ayat (1a), ayat (2), dan ayat (3):

(1) Pejabat bea dan cukai berwenang melakukan audit kepabeanan terhadap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49.

(1a) Dalam melaksanakan audit kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pejabat bea dan cukai berwenang: a. meminta laporan keuangan, buku, catatan dan

dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, surat yang berkaitan dengan kegiatan usaha termasuk data elektronik, serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang kepabeanan;

b. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari orang dan pihak lain yang terkait;

c. memasuki bangunan kegiatan usaha, ruangan tempat untuk menyimpan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, dan surat-surat yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk sarana/media penyimpanan data elektronik, dan barang-barang yang dapat memberi petunjuk tentang keadaan kegiatan usaha yang berkaitan dengan kegiatan kepabeanan; dan

d. melakukan tindakan pengamanan yang dipandang perlu terhadap tempat atau ruangan penyimpanan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kepabeanan.

(2) Orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 yang menyebabkan pejabat bea dan cukai tidak dapat menjalankan kewenangan audit kepabeanan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).

(3) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan audit kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan peraturan menteri.

• Pasal 86A, “Apabila dalam pelaksanaan audit kepabeanan ditemukan adanya kekurangan pembayaran bea masuk yang disebabkan oleh kesalahan pemberitahuan jumlah dan/atau jenis barang, orang wajib membayar bea masuk yang kurang dibayar dan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (5)”.

(23)

21. HAKIM ANGGOTA: PROF. DR. ACHMAD SODIKI, S.H.

[3.10] Menimbang bahwa terhadap masalah kedudukan hukum (legal standing) Pemohon ini, Pemerintah dalam keterangan lisan dan tertulisnya di persidangan Mahkamah pada tanggal 25 Agustus 2009 menyatakan pada pokoknya sebagai berikut:

• Pemohon telah mencampuradukkan kedudukan hukumnya sebagai Pemohon antara legal standing perseorangan warga negara Indonesia dan legal standing badan hukum yakni sebagai Ketua ASPEMBAYA, dan sebagai Direktur PT. Agung Kimia Jaya Makmur Mandiri, sehingga menjadi tidak jelas adanya kerugian hak konstitusionalnya oleh berlakunya pasal-pasal UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian;

• Permohonan Pemohon tidak jelas dan tidak fokus (obscuur libel) dalam menjelaskan dan mengkonstruksikan telah timbulnya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional atas berlakunya UU Kepabeanan a quo, karena:

¾Pemohon pada intinya hanya tidak puas atau kecewa atas tidak dilaksanakannya Putusan Mahkamah Agung yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan juga kecewa bahwa UU Kepabeanan masih mencantumkan frasa “Registrasi” padahal Mahkamah Agung telah menyatakan bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi;

¾Pemohon juga hanya menguraikan tentang kewenangan penyelidikan dan penyidikan dalam bidang kepabeanan yang tidak terkoordinasi secara baik dan terpadu antara Direktorat Jenderal Bea Cukai, Kepolisian, dan Pemerintah Daerah sesuai dengan prinsip otonomi daerah;

¾Pemohon malahan mempersoalkan kewenangan para menteri sebagai pembantu Presiden sebagaimana ditentukan oleh UUD 1945;

¾Bahwa kerugian hak konstitusional yang didalilkan oleh Pemohon lebih berkaitan dengan persoalan implementasi Undang-Undang dan pelaksanaan putusan lembaga peradilan in casu putusan Mahkamah Agung, sehingga tidak ada relevansinya dengan konstitusionalitas norma UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian;

• Bahwa dengan demikian, menurut Pemerintah, Pemohon tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan, sehingga permohonan Pemohon harus dinyatakan tidak dapat diterima;

[3.11] Menimbang bahwa dalam keterangan tertulisnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bertanggal 25 Agustus 2009 juga mempersoalkan kedudukan hukum (legal standing) Pemohon sebagai berikut:

(24)

• Bahwa Pemohon tidak secara tegas dan jelas menyebutkan hak-hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945 yang telah atau setidak-tidaknya dirugikan oleh berlakunya pasal-pasal UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian;

• Bahwa Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 tidak ada kaitan dan relevansinya dengan hak konstitusional Pemohon;

• Bahwa pasal-pasal UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian tidak ada kaitannya dengan masalah konstitusionalitas norma Undang-Undang, melainkan hanya masalah penerapan hukum;

• Bahwa menurut DPR, Pemohon tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) yang dipersyaratkan oleh Pasal 51 ayat (1) UU MK dan pendirian Mahkamah selama ini mengenai lima syarat kerugian hak konstitusional sebagai akibat berlakunya suatu Undang-undang, sehingga permohonan Pemohon harus dinyatakan tidak dapat diterima;

[3.12] Menimbang bahwa setelah mempertimbangkan dalil-dalil Pemohon beserta alat-alat bukti yang diajukan, Keterangan Pemerintah, dan Keterangan DPR RI mengenai masalah kedudukan hukum (legal standing) Pemohon, Mahkamah berpendapat sebagai berikut: 1.Bahwa Pemohon memenuhi kualifikasi sebagai Pemohon, baik

dalam kapasitas sebagai perorangan warga negara Indonesia (sebagai pribadi), sebagai kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama warga negara Indonesia dalam kapasitas sebagai Ketua ASPEMBAYA, maupun dalam kapasitas sebagai Pemohon badan hukum (yakni sebagai Direktur PT. Agung Kimia Jaya Mandiri) sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK, meskipun Pemohon terkesan mencampuradukkan kapasitas kedudukannya tersebut;

2.Bahwa mengenai hak-hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945, sesuai dengan penilaian Mahkamah sebagaimana telah dikemukakan pada Paragraf [3.8] di atas, hanya Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 yang ada kaitannya dengan hak konstitusional seorang warga negara in casu Pemohon, sedangkan Pasal 17 ayat (1), Pasal 18 ayat (2), Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 tidak ada kaitan dan relevansinya dengan hak-hak konstitusional. Oleh karena itu, yang akan dipertimbangkan sebagai hak-hak konstitusional Pemohon apakah dirugikan atau tidak oleh berlakunya pasal-pasal UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian hanyalah Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945;

3.Bahwa Mahkamah sependapat dengan Pemerintah dan DPR RI yang menyatakan dalil-dalil Pemohon tidak jelas atau kabur (obscuur libel) dalam mengkonstruksikan adanya kerugian

(25)

hak-hak konstitusional Pemohon dalam korelasinya dengan pasal-pasal UU Kepabeanan yang dimohonkan pengujian;

4.Bahwa Mahkamah juga sependapat dengan Pemerintah dan DPR RI yang menilai persoalan yang dihadapi Pemohon sejatinya bukanlah persoalan konstitusionalitas norma hukum atau norma Undang-Undang yang dimohonkan pengujian, melainkan merupakan masalah penerapan norma hukum, baik norma hukum yang terkandung dalam UU Kepabeanan maupun norma hukum terkait Putusan Pengadilan yang tidak dapat dieksekusi; 5.Bahwa dengan demikian, Pemohon tidak memenuhi syarat

kedudukan hukum (legal standing) sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK dan syarat kerugian hak konstitusional sebagaimana pendirian Mahkamah sejak Putusan Nomor 06/PUU-III/2005 tanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 tanggal 20 September 2007;

[3.13] Menimbang bahwa karena Pemohon tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing), maka dalil-dalil pokok permohonan beserta alat bukti tulis dan keterangan ahli yang diajukan tidak lagi relevan untuk dipertimbangkan;

[3.14] Menimbang bahwa terlepas dari masalah tidak dipenuhinya syarat kedudukan hukum (legal standing) Pemohon dan tidak dipertimbangkannya pokok permohonan, namun terkait dengan nasib barang-barang impor milik Pemohon yang ditahan oleh pihak Bea dan Cukai dan eksekusi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Mahkamah memerintahkan agar Pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan dan Direktur Jenderal Bea dan Cukai segera memulihkan hak Pemohon dan menyelesaikannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan rasa keadilan.

22. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD, S.H. 4. KONKLUSI

Berdasarkan pertimbangan atas fakta dan hukum di atas, Mahkamah berkesimpulan:

[4.1] Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

[4.2] Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan pemohonan;

(26)

5. AMAR PUTUSAN

Dengan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan mengingat Pasal 56 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316),

Mengadili,

Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan hakim konstitusi pada hari Rabu tanggal enam belas bulan Desember tahun dua ribu sembilan dan diucapkan dalam Sidang Pleno terbuka untuk umum pada hari Rabu tanggal tiga puluh bulan Desember tahun dua ribu sembilan oleh kami Moh. Mahfud MD selaku Ketua merangkap Anggota, Abdul Mukthie Fadjar, Maria Farida Indrati, Achmad Sodiki, Maruarar Siahaan, M. Arsyad Sanusi, Harjono, M. Akil Mochtar, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti, dan dihadiri oleh Pemohon, Pemerintah/yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat/yang mewakili.

Demikian Putusan Nomor 12. Selanjutnya Putusan Nomor 101 tentang Undang-Undang Advokat.

PUTUSAN

Nomor 101/PUU-VII/2009

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

[1.1] Yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan Putusan dalam perkara Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:

[1.2] 1. H.F. Abraham Amos, S.H., warga negara Indonesia, pekerjaan Dosen/ Instuktur PKPA/Konsultan Hukum/Kandidat Advokat, alamat Jalan Kelapa Gading III Nomor 5, Cililitan Besar, Kelurahan Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur-13510;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon I; KETUK PALU 1X

(27)

2. Djamhur, S.H., warga negara Indonesia, pekerjaan Praktisi/Kandidat Advokat , alamat Jalan Pertiwi XIII/62, Sawangan, Depok;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon II; 3. Drs. Rizki Hendra Yoserizal, S.H., warga negara Indonesia,

pekerjaan Praktisi/Kandidat Advokat, alamat Jalan Papanggo Nomor 2C, RT 01 RW 06, Kelurahan Papanggo, Jakarta Utara;

Selanjutnya disebut sebagai --- Pemohon III; Selanjutnya disebut sebagai --- Para Pemohon; [1.3] Membaca permohonan dari para Pemohon;

Mendengar keterangan dari para Pemohon;

Mendengar dan membaca keterangan tertulis dari Pemerintah; Mendengar dan membaca keterangan tertulis dari Pihak Terkait; Memeriksa bukti-bukti dari para Pemohon;

Memeriksa bukti-bukti dari Pihak Terkait; Mendengar keterangan Ahli dari para Pemohon; Membaca kesimpulan tertulis dari para Pemohon; 23. HAKIM ANGGOTA: DR. HARJONO, S.H., M.C.L.

3. PERTIMBANGAN HUKUM

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan adalah pengujian Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4288, selanjutnya disebut UU Advokat) terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945);

[3.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo;

b. Kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon untuk mengajukan permohonan;

Terhadap kedua hal tersebut di atas, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

Kewenangan Mahkamah

[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945, salah satu kewenangan konstitusional Mahkamah adalah mengadili,

(28)

memutus pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Kewenangan tersebut disebutkan lagi dalam Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316, selanjutnya disebut UU MK) dan Pasal 12 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4358);

[3.4] Menimbang bahwa permohonan para Pemohon adalah pengujian Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, in casu UU Advokat terhadap UUD 1945, sehingga Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo; Kedudukan Hukum (Legal Standing) para Pemohon

[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK beserta Penjelasannya, yang dapat mengajukan permohonan pengujian suatu Undang-Undang terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya suatu Undang-Undang, yaitu:

a. perorangan (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan sama) warga negara Indonesia;

b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;

c. badan hukum publik atau privat; atau d. lembaga negara;

[3.6] Menimbang pula Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 tanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 tanggal 20 September 2007 berpendirian, bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK harus memenuhi 5 (lima) syarat, yaitu:

a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;

b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh Pemohon dianggap dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;

c. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya

(29)

potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;

d. adanya hubungan sebab-akibat (causal verband) antara kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional dimaksud dan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian; e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya

permohonan, maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi;

[3.7] Menimbang bahwa berkaitan dengan legal standing ini, para Pemohon mendalilkan hal-hal sebagai berikut:

a. Para Pemohon adalah kelompok orang warga negara Indonesia yang mempunyai kepentingan sama, yaitu sebagai para calon Advokat yang telah lulus ujian Advokat dari organisasi Advokat PERADI dan KAI (Bukti P-1 dan P-2), namun belum mengucapkan sumpah atau janji yang ditentukan oleh Pasal 4 ayat (1) UU Advokat yang berbunyi, “Sebelum menjalankan profesinya, Advokat wajib bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh-sungguh di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya” (Bukti P-7 );

b. Para Pemohon menganggap Pasal 4 ayat (1) UU Advokat tersebut merugikan hak dan/atau kewenangan konstitusional mereka yang diberikan oleh UUD 1945, yaitu:

• Pasal 27 ayat (2), “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”;

• Pasal 28D ayat (1), “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”;

Pasal 28I ayat (2), “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”;

c. Bahwa menurut para Pemohon timbulnya kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional para Pemohon oleh berlakunya Pasal 4 ayat (1) UU Advokat dikarenakan terbitnya Surat Ketua Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 bertanggal 01 Mei 2009 (Bukti P-3) yang intinya meminta kepada para Ketua Pengadilan Tinggi untuk tidak mengambil sumpah para Advokat baru dan apabila ada Advokat yang diambil sumpahnya menyimpang dari ketentuan Pasal 4 UU Advokat dianggap tidak sah, sehingga yang bersangkutan tidak dibenarkan beracara di Pengadilan;

[3.8] Menimbang bahwa Mahkamah menilai Pasal 4 ayat (1) UU Advokat prima facie dapat merugikan hak konstitusional para Pemohon,

(30)

khususnya hak untuk bekerja [Pasal 27 ayat (2) UUD 1945] apabila para Ketua Pengadilan Tinggi tidak melaksanakan perintah pasal a quo, karena para Pemohon sebagai calon Advokat nasibnya menjadi terkatung-katung, yakni di satu pihak Pengadilan Tinggi dilarang mengambil sumpah untuk para Advokat baru, sedangkan di lain pihak, pengambilan sumpah di luar ketentuan Pasal 4 ayat (1) UU Advokat dianggap tidak sah, sehingga para Pemohon terhalangi untuk bekerja sebagai Advokat. Bahwa kerugian hak konstitusional para Pemohon bersifat aktual dan spesifik, serta mempunyai hubungan kausal dengan Pasal 4 ayat (1) UU Advokat yang dimohonkan pengujian, yakni apabila permohonan dikabulkan, maka kerugian hak konstitusional seperti yang didalilkan para Pemohon tidak akan atau tidak lagi terjadi. Dengan demikian, para Pemohon prima facie memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan a quo;

[3.9] Menimbang bahwa karena Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo dan para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing), maka untuk selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan pokok permohonan;

Pokok Permohonan

[3.10] Menimbang bahwa pokok permohonan para Pemohon adalah konstitusionalitas Pasal 4 ayat (1) UU Advokat yang berbunyi, “Sebelum menjalankan profesinya, Advokat wajib bersumpah menurut agamanya atau berjanji dengan sungguh-sungguh di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya”, menurut para Pemohon ketentuan a quo bertentangan dengan UUD 1945, karena telah berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan bagi para Pemohon, sehingga para Pemohon tidak bisa bekerja untuk memperoleh kehidupan yang layak bagi kemanusiaan [Pasal 27 ayat (2) juncto Pasal 28D ayat (2) UUD 1945];

[3.11] Menimbang bahwa untuk memperkuat dalil-dalilnya para Pemohon mengajukan alat bukti tulis/surat (Bukti P-1 sampai dengan Bukti P-7) dan menghadirkan seorang ahli, yakni Prof. Dr. Jhon Pieris, S.H., MS., yang memberikan keterangan pada persidangan Mahkamah pada tanggal 21 Oktober 2009 sebagai berikut:

• Bahwa ada tiga surat Ketua Mahkamah Agung (KMA), yaitu 1) Surat KMA Nomor 052/KMA/5/2009 tanggal 1 Mei 2009 perihal Sikap Mahkamah Agung terhadap Organisasi Advokat; 2) Surat Mahkamah Agung Nomor 065 tanggal 20 Mei 2009 perihal Permohonan Klarifikasi Surat Ketua Mahkamah Agung Nomor 52

(31)

tahun 2009; dan 3) Surat KMA Nomor 064 tahun 2009 perihal Tanggapan Mahkamah Agung terhadap Pernyataan sikap DPP KAI atas Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/5/2009;

• Bahwa Surat KMA Nomor 052/KMA/5/2009 tanggal 1 Mei 2009 meskipun tidak beretntangan dengan Pasal 4 ayat (1) UU Advokat, namun melanggar Pasal 28D UUD 1945 yakni melanggar hak-hak konstitusional para Advokat yang telah diambil sumpahnya oleh suatu Organisasi Advokat untuk bekerja melakukan praktik profesi Advokat;

• Bahwa Organisasi Advokat telah mengambil sumpah para calon Advokat yang dilakukan oleh para rohaniwan, sehingga adalah tidak rasional apabila sumpah tersebut dinyatakan tidak sah. Oleh karena itu, Surat KMA tersebut telah menghalangi Advokat beracara di pengadilan, yang berarti mematikan hak Advokat untuk bekerja, sehingga bertentangan dengan HAM dan Konstitusi;

[3.12] Menimbang bahwa Pemerintah telah memberikan keterangan yang selengkapnya dimuat dalam uraian duduk perkara Putusan ini, pada pokoknya adalah sebagai berikut:

• Bahwa menurut Pemerintah, para Pemohon tidak dirugikan hak konstitusionalnya oleh Pasal 4 ayat (1) UU Advokat, karena persoalan pengangkatan sumpah oleh Pengadilan Tinggi hanya soal waktu dan pada kenyataannya para kandidat Advokat masih dapat praktik beracara di pengadilan dengan bergabung para Advokat lain yang telah memenuhi syarat sumpah dalam bentuk associates. Oleh karena itu para Pemohon tidak memenuhi syarat kedudukan hukum (legal standing) sebagaimana dimaksud Pasal 51 ayat (1) UU MK;

• Bahwa permohonan para Pemohon tidak berkaitan dengan masalah konstitusionalitas norma yang terkandung dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat, tetapi berkaitan dengan keberadaan Surat KMA Nomor 052/KMA/V/2009 tanggal 1 Mei 2009, sehingga seharusnya para Pemohon menggugat Surat KMA a quo dan bukan mempersoalkan konstitusionalitas norma yang terkandung dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat;

• Bahwa apabila Pasal 4 ayat (1) UU Advokat dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, menurut Pemerintah justru akan merugikan para advokat sendiri,yakni tidak ada kepastian hukum mengenai forum para advokat untuk mengambil sumpah sebelum menjalankan profesinya;

[3.13] Menimbang bahwa Pihak Terkait DPP Kongres Advokat Indonesia (DPP KAI) telah memberikan keterangan yang selengkapnya dimuat dalam bagian duduk perkara Putusan ini, yang pada pokoknya Pihak Terkait mendukung permohonan para Pemohon;

(32)

24. HAKIM ANGGOTA: PROF. ABDUL MUKTHIE FADJAR, S.H., M.S. Pendapat Mahkamah

[3.14] Menimbang bahwa setelah mempertimbangkan dalil-dalil para Pemohon beserta alat bukti tulis maupun ahli yang diajukan, keterangan Pemerintah, dan keterangan Pihak Terkait, serta kesimpulan tertulis para Pemohon, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

a.Bahwa isu hukum utama permohonan para Pemohon adalah apakah norma hukum yang terkandung dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat bertentangan dengan UUD 1945, dan dari isu hukum utama tersebut melahirkan dua pertanyaan hukum, yaitu 1) apakah keharusan para Advokat mengambil sumpah sebelum menjalankan profesinya konstitusional; dan 2) apakah keharusan bersumpah di depan sidang Pengadilan Tinggi konstitusional; b.Bahwa sebelum mempertimbangkan isu hukum yang kemudian

diderivasi menjadi dua pertanyaan hukum tersebut di atas, Mahkamah lebih dahulu akan mengemukakan hal-hal berikut: 2) UUD 1945 sebagai hukum tertinggi dalam Negara Kesatuan

Republik Indonesia telah memberikan jaminan dan perlindungan bagi setiap warga negara hak untuk bekerja dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan [Pasal 27 ayat (2) juncto Pasal 28D ayat (2)]; hak untuk hidup serta mempertahankan hidup dan kehidupannya (Pasal 28A); hak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya [Pasal 28C ayat (1)]; serta hak atas perlindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil [Pasal 28D ayat (1)]. Oleh karena itu, tidak boleh ada ketentuan hukum yang berada di bawah UUD 1945 yang langsung atau tidak langsung menegasi hak untuk bekerja yang dijamin oleh Konstitusi tersebut atau memuat hambatan bagi seseorang untuk bekerja, apa pun bidang pekerjaan dan/atau profesi pekerjaannya, agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak bagi kemanusiaan;

3) Pasal 1 angka 1 UU Advokat menyatakan, “Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini”. Selanjutnya Pasal 3 ayat (1) UU Advokat menentukan 9 (sembilan) persyaratan untuk dapat diangkat menjadi Advokat, sedangkan Pasal 3 ayat (2) menyatakan, “Advokat yang telah diangkat berdasarkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menjalankan praktiknya dengan mengkhususkan diri pada bidang tertentu sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh peraturan

(33)

perundang-undangan”. Pasal 5 ayat (1) UU Advokat memberikan status kepada Advokat sebagai penegak hukum yang bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan;

4) Dengan demikian, seseorang yang menjadi Advokat pada dasarnya adalah untuk memenuhi haknya sebagai warga negara untuk bekerja dan memenuhi kehidupan yang layak bagi kemanusiaan, serta yang bersangkutan sudah dapat menjalankan profesi pekerjaannya setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Pasal 3 ayat (1) UU Advokat [Pasal 3 ayat (2) UU Advokat];

5) Mengenai sumpah atau janji yang harus ducapkan dan/atau diikrarkan oleh seseorang yang akan menjalankan pekerjaan, jabatan, dan/atau suatu profesi tertentu merupakan hal yang lazim dalam suatu organisasi atau institusi yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi organisasi/institusi yang bersangkutan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku;

c.Bahwa terkait dengan dua isu hukum yang kemudian diderivasi menjadi dua pertanyaan hukum di atas, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:

1) Keharusan bagi Advokat mengambil sumpah sebelum menjalankan profesinya merupakan kelaziman dalam organisasi dan suatu jabatan/ pekerjaan profesi yang tidak ada kaitannya dengan masalah konstitusionalitas suatu norma in casu norma hukum yang dimohonkan pengujian, sehingga tidak bertentangan dengan UUD 1945;

2) Ketentuan bahwa pengambilan sumpah bagi Advokat harus di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah hukumnya merupakan pelanjutan dari ketentuan yang berlaku sebelum lahirnya UU Advokat yang memang pengangkatannya dilakukan oleh Pemerintah in casu Menteri Kehakiman/Menteri Hukum dan HAM. Setelah lahirnya UU Advokat yang menentukan bahwa pengangkatan Advokat dilakukan oleh Organisasi Advokat [vide Pasal 2 ayat (2) UU Advokat], bukan lagi oleh Pemerintah, memang seolah-olah pengambilan sumpah yang harus dilakukan di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya tidak lagi ada rasionalitasnya. Akan tetapi, mengingat bahwa profesi Advokat telah diposisikan secara formal sebagai penegak hukum (vide Pasal 5 UU Advokat) dan dalam rangka melindungi para klien dari kemungkinan penyalahgunaan profesi Advokat, maka ketentuan yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat tersebut juga konstitusional;

3) Meskipun demikian, ketentuan yang mewajibkan para Advokat sebelum menjalankan profesinya harus mengambil

(34)

sumpah sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat, tidak boleh menimbulkan hambatan bagi para advokat untuk bekerja atau menjalankan profesinya yang dijamin oleh UUD 1945. Lagi pula Pasal 3 ayat (2) UU Advokat secara expressis verbis telah menyatakan bahwa Advokat yang telah diangkat berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan oleh UU Advokat dapat menjalankan praktiknya sesuai dengan bidang-bidang yang dipilih;

d.Bahwa dengan demikian, keharusan bagi Advokat untuk mengambil sumpah sebelum menjalankan profesinya tidak ada kaitannya dengan persoalan konstitusionalitas norma, demikian juga mengenai keharusan bahwa pengambilan sumpah itu harus dilakukan di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya, sepanjang ketentuan dimaksud tidak menegasi hak warga negara in casu para calon Advokat untuk bekerja yang dijamin oleh UUD 1945;

e.Bahwa terjadinya hambatan yang dialami oleh para Pemohon untuk bekerja dalam profesi Advokat pada dasarnya bukan karena adanya norma hukum yang terkandung dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat, melainkan disebabkan oleh penerapan norma dimaksud sebagai akibat adanya Surat Mahkamah Agung yang melarang Pengadilan Tinggi mengambil sumpah para calon Advokat sebelum organisasi advokat bersatu;

f. Bahwa penyelenggaran sidang terbuka Pengadilan Tinggi untuk mengambil sumpah bagi para Advokat sebelum menjalankan profesinya sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (1) UU Advokat merupakan kewajiban atributif yang diperintahkan oleh Undang-Undang, sehingga tidak ada alasan untuk tidak

menyelenggarakannya. Namun demikian, Pasal 28 ayat (1) UU Advokat juga mengamanatkan adanya Organisasi Advokat

yang merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat, sehingga para Advokat dan organisasi-organisasi Advokat yang saat ini secara de facto ada, yaitu Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan Kongres Advokat Indonesia (KAI), harus mengupayakan terwujudnya Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud Pasal 28 ayat (1) UU Advokat;

g.Berdasarkan uraian tersebut di atas, Pasal 4 ayat (1) UU Advokat adalah konstitusional sepanjang frasa “di sidang terbuka Pengadilan Tinggi di wilayah domisili hukumnya” harus dimaknai sebagai kewajiban yang diperintahkan oleh Undang-Undang untuk dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi tanpa mengaitkannya dengan adanya dua organisasi Advokat yang secara de facto ada dan sama-sama mengklaim sebagai organisasi Advokat yang sah menurut UU Advokat;

h.Bahwa untuk mendorong terbentuknya Organisasi Advokat yang merupakan satu-satunya wadah profesi Advokat sebagaimana

Referensi

Dokumen terkait

[r]

( disini digunakan oleh seorang laki- laki kepada bawahannya yang juga berjenis kelamin laki- laki dalam situasi formal).. Oh, masaki?Masaki masih belum

menggunakan uji t-tidak berpasangan, didapatkan bahwa bentonit memiliki efek menurunkan kadar glukosa darah tikus galur Wistar diabetes akibat induksi

Pengendalian kualitas untuk mencapai tingkat kualitas jasa layanan yang distandarkan oleh Puskesmas X sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan

Dengan demikian koordinasi mata kaki, daya ledak tungkai dan kekuatan otot perut memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan tendangan jauh dalam

Artinya: Urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka. Ayat di atas merupakan teks yang jelas bahwa masalah-masalah kaum muslim terutama yang penting, dilakukan dengan jalan

Peserta yang Lulus Ujian Dnas Tingkat ldan Tingkat ll bagi PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kediri, dari 55 (lima puluh lima) orang peserta 19 (empat

Berdasarkan tabel 2, menunjukkan hasil pertumbuhan dengan pengaruh campuran media tanam dengan pupuk hayati (biofertilizer) menunjukkan bahwa penggunaan media tanam