• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Ilmiah Revisi Bank

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Karya Ilmiah Revisi Bank"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

O L E H

ARDIN DOLOK SARIBU, S.E.

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, kasih dan karunianNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Penulis telah berupaya besar untuk menyelesaikan karya ilmiah ini, namun demikian saya juga menyadari bahwa karya ilmiah ini masih belum sempurna oleh karena itu saya dengan senang hati dan menyambut baik kritik dan saran dari pembaca untuk membangun dan menyempurnakan karya ilmiah ini.

Mulai dari rencana penulisan sampai hasil akhir, penulis memperoleh dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor dan pembantu rektor Universitas HKBP Nommensen 2. Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi

3. Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Prodi Akuntansi

4. Teman-teman dosen di lingkungan Universitas HKBP Nommensen

5. Kepada kepala Perpustakaan dan pegawai perpustakaan Universitas HKBP Nommensen

(3)

Akhir kata kiranya tulisan sederhana ini ada manfaatnya, terutama untuk menambah kepustakaan yang membahas topik pengakuan dan pengukuran pendapatan sebagai bahan pelajaran untuk menambah ilmu pengetahuan yang dapat bernilai ilmiah.

Medan, Agustus 2007 Penulis,

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ………. i

DAFTAR ISI ……… iii

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

I. A. Latar Belakang ……… 1

I. B. Perumusan Masalah ……….... 4

I. C. Luas dan Tujuan Penulisan ……… 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ………. 6

II. A. Pengertian dan jenis-jenis bank ……… 6

II. B. Standar Akuntansi Keuangan atas Pendapatan ……….. 10

II. C. Laporan Laba Rugi ……… 24

BAB III. ANALISA DAN EVALUASI ………... 30

III. A. Analisa dan Evaluasi Pengakuan Pendapatan Pada Perusahaan Perbankan ………... 30

III. B. Analisis dan Evaluasi Laporan Laba Rugi Perusahaan ... 35

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 37

IV. Kesimpulan ………. 37

IV. Saran ………... 37

(5)
(6)

BAB I

PENDAHULUAN

I. A. Latar Belakang

Suatu organisasi yang didirikan oleh pemiliknya mempunyai tujuan- tujuan tertentu. Organisasi yang bersifat mencari laba (profit oriented) mempunyai tujuan utama untuk menghasilkan laba maksimum, disamping itu ada juga organisasi yang tidak bersifat mencari laba(non profit oriented) yang tujuan utamanya bukan sekedar mencari laba tetapi memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui jasa yang diberikan.

(7)

akan dapat meningkatkan laba, berupa pendapatan bunga atas pinjaman yang diberikan.

Istilah pendapatan berhubungan dengan pertumbuhan di dalam sumber penghasilan suatu satuan usaha yang berasal dari penjualan barang jasa. Pendapatan berasal dari penjualan barang dan pemberian jasa dan diukur oleh beban yang dikenakan pada pelanggan, klien atau penyewa untuk barang dan jasa yang diberikan.

Konsep pendapatan pada umumnya sulit dirumuskan, karena biasanya pendapatan dikaitkan dengan prosedur akuntansi tertentu, jenis perubahan nilai tertentu dan kaidah nilai implisit atau yang diasumsikan untuk mendapatkan kapan pendapatan merupakan masalah yang menarik dalam teori akuntansi. Masalah ini tidak boleh dibatasi oleh defenisi pendapatan yang sempit, sebaiknya pendapatan harus didefenisikan secara terpisah dari masalah penilaian dan waktu.

Permasalahan utama dalam akuntansi pendapatan adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Hal ini dapat disebabkan karena sifat dan lamanya proses perolehan pendapatan berbeda-beda antara satu pendapatan dengan pendapatan lainnya. Pengakuan merupakan proses pencatatan secara formil suatu pos kedalam rekening laporan keuangan. Jika ada kesalahan dalam menentukan saat pengakuan pendapatan dapat mengakibatkan pendapatan terlalu rendah atau terlalu tinggi dinyatakan dalam laporan laba rugi perusahaan.

(8)

keuangan memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomis. Para pemakai laporan keuangan akan menggunakannya untuk meramalkan, membandingkan dan menilai dampak keuangan yang terkandung dalam laporan keuangan sangat penting bagi para pemakai laporan keuangan, baik untuk pihak intern maupun ekstern.

Dalam praktek perbankan, pengakuan pendapatan merupakan suatu hal yang sangat fundamental dan menjadi dasar utama dalam menentukan profitabilitas suatu bank. Hal ini terjadi karena kegiatan utama bank adalah menghimpun dana yang pada umumnya berbunga (interest bearing) dan menanamkannya dalam bentuk aktiva yang produktif.

(9)

Bank yang memberikan pinjaman uang (kredit) kepada rakyat dimana rakyat terlebih dahulu harus memberikan jaminan barang-barang atau jaminann lainnya kepada bank. Perusahaan ini sangat mengharapkan pendapatan dari penjualan jasa kredit tersebut. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembelian atau pemakai aktiva tersebut. Jumlah tersebut harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan yang dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan oleh perusahaan.

Karena pendapatan ini pos yang penting maka perusahaan harus menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pendapatan tersebut, baik mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan tersebut harus sesuai dengan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU) yaitu PSAK No.31 tentang Akuntansi Perbankan. Untuk itulah, penulis tertarik untuk membuat suatu tulisan ilmiah yang berbentuk karya ilmiah dengan judul Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan pada Perusahaan Perbankan

I. B. Perumusan Masalah

(10)

Mengingat pentingnya peranan pendapatan ini pada perusahaan, dan merupakan pendapatan yang sangat erat hubungannya dengan penentuan laba maka penulis merumuskan masalah yaitu ” Pengakuan dan Pengukuran Pendapatan yang diterapkan pada Perusahaan Perbankan menyimpang dari PSAK No. 31”.

I. C. Luas dan Tujuan Penulisan

Suatu masalah sangat erat hubungannya dengan masalah lain dan masalah tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, biaya serta ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, maka luasnya penelitian hanya dibatasi pada pengakuan dan pengukuran pendapatan menurut Standar Akuntansi Keuangan pada Perusahaan Perbankan

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. A. Pengertian dan Jenis-jenis Bank

Istilah bank berasal dari Bahasa Italia, “banco” yaitu merupakan tempat

penitipan atau penyimpanan uang, pemberi atau penyalur dan juga perantara didalam lalu lintas pembayaran. G.M. Verryn Stuart dalam bukunya Bank politik menyatakan bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayarannya sendiri dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat penukaran baru berupa uang giral.

Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1998, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

(12)

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

Berdasarkan jenis usahanya, bank dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1. Bank Umum

2. Bank Perkreditan Rakyat

Pertama, Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa ke dalam lalu lintas pembayaran.

Usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh bank umum: a.Menghimpun Dana (Funding); b. Menyalurkan Dana (lending); c. Memberikan jasa- jasa Bank Lainnya (services).

(13)

deposit) merupakan simpanan yang memiliki jangka waktu tertentu (jatuh tempo).

Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut.

Dalam menyalurkan Dana (lending), bank melakukan usaha seperti: (a) Kredit Investasi, yaitu merupakan kredit yang diberikan kepada pengusaha yang melakukan investasi atau penanaman modal. Biasanya kredit jenis ini memiliki jangka waktu yang relatif panjang yaitu di atas 1(satu) tahun; (b) Kedit Modal Kerja, merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit jenis ini berjangka waktu pendek yaitu tidak lebih dari 1 (satu) tahun; (c) Kredit Perdagangan, merupakan kredit yang diberikan kepada para pedagang dalam rangka memperlancar atau memperluas atau memperbesar kegiatan perdagangannya; (d) Kredit Produktif, merupakan kredit yang dapat berupa investasi, modal kerja atau perdagangan. Dalam arti kredit ini diberikan untuk diusahakan kembali sehingga pengembalian kredit diharapkan dari hasil usaha yang dibiayai; (e) Kredit Konsumtif, merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan pribadi misalnya keperluan konsumsi, baik pangan, sandang maupun papan.

(14)

bersangkutan; (c) Inkaso (collection) merupakan penagihan warkat (surat-surat berharga seperti cek, bilyet giro) yang berasal dari luar kota atau luar negeri; (d) Bank Card (Kartu kredit) atau lebih populer dengan sebutan kartu kredit. Kartu ini dapat dibelanjakan di berbagai tempat perbelanjaan atau tempat-tempat hiburan. Kartu ini juga dapat digunakan untuk mengambil uang tunai di ATM-ATM yang tersebar diberbagai, tempat yang strategis. Kepada pemegang kartu kredit dikenakan biaya iuran tahunan yang besarnya tergantung dari bank yang mengeluarkan.

Kedua, Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Menurut Undang-Undang No.10 tahun 1998, Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

(15)

Disamping kegiatan-kegiatan yang tersebut dapat dilaksanakan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR), terdapat juga beberapa kegiatan-kegiatan yang merupakan larangan bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yaitu: (a). Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran; (b). Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing; (c). Melakukan penyertaan modal; (d). Melakukan usaha pereasuransian; (e). Melakukan usaha lain diluar kegiatan usaha sebagaimana yang dimaksud diatas.

II. B. Standar Akuntansi Keuangan Atas Pendapatan II. B. 1. Pengertian Pendapatan

Akuntansi adalah aktivitas jasa yang bertujuan untuk menyediakan informasi dan memberikan informasi yang dapat digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Salah satu informasi yang dapat dihasilkan adalah informasi tentang pendapatan yang diperlukan oleh berbagai pihak untuk kepentingan masing-masing.

(16)

Pendapatan dan penghasilan merupakan dua istilah yang sering ditafsirkan dengan arti yang sama sehingga dapat mengakibatkan salah penginterprestasian informasi akuntansi yang dihasilkan. Jika dilihat dari sudut akuntansi, istilah yang diterjemahkan dari kata revenue adalah berbeda dengan penghasilan yang diterjemahkan dari kata income.

Penghasilan (income) meliputi baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gain). Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, penghasilan jasa (fees), bunga, deviden, royalti dan sewa. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.

Defenisi ini memberikan pengertian dalam ruang lingkup yang sempit, yaitu pendapatan hanya terdiri dari arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima perusahaan dari operasi normalnya. Sedangkan penghasilan memberikan pengertian yang lebih luas karena menyangkut pendapatan dari operasi normal perusahaan maupun yang berasal dari luar operasi normalnya yang mengakibatkan adanya peningkatan kesejahteraan.

(17)

aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty dan deviden

M. Munandar mendefenisikan pendapatan sebagai berikut : Revenues adalah suatu pertambahan assets yang mengakibatkan bertambahnya Owner’s Equity, tetapi bukan karena penambahan modal baru dari para pemilik, dan bukan pula merupakan penambahsan assets yang disebabnya karena bertambahnya Liabilities.

Belkouli pada prinsipnya menspesifikasikan revenue pada: 1. Sifat komponen-komponen revenue;

2. Pengukuran revenue; 3. Waktu pengukuran revenue

Berdasarkan sifat dan komponen ini maka pendapatan dapat diinterpretasikan sebagai :

1. Aliran masuk asset bersih yang berasal dari penjualan barang dan jasa, 2. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada pelanggan; dan 3. Produk perusahaan yang dihasilkan dari penciptaan barang atau jasa oleh

perusahaan selama periode waktu tetentu.

(18)

Di dalam kepustakaan akuntansi ditemukan dua pendekatan terhadap konsep pendapatan . Satu diantaranya berfokus pada arus masuk aktiva sebagai hasil kegiatan operasi perusahaan dan yang lainnya berfokus pada penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan serta penyalurannya kepada konsumen atau produsen lainnya.

Pendekatan pendapatan yang menekankan pada dasar terciptanya pendapatan merupakan konsep pendapatan. Konsep pendapatan tersebut adalah penciptaan barang dan jasa dalam perusahaan dalam suatu periode tertentu. Pendekatan pendapatan yang menekankan pada aktiva bagi perusahaan melihat sumber atau asal dari pendapatan itu sendiri. Pendapatan yang menekankan bahwa pendapatan ini dihasilkan dari kegiatan usaha menegaskan bahwa pendapatan itu ada karena berjalannya operasi perusahaan.

Secara umum, pendapatan yang diperoleh dalam suatu kegiatan perusahaan terdiri dari :

1. Pendapatan dari hasil operasi normal perusahaan yaitu pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang atau jasa merupakan hasil usaha pokok atau usaha utama yang diharapkan selalu diperoleh selama perusahaan melakukan kegiatan.

(19)

II.B.2. Kriteria Pendapatan

Pengakuan merupakan suatu proses formal dalam mencatat pengaruh keuangan dari transaksi atau peristiwa ekonomi dan memasukkannya ke dalam laporan keuangan sebagai suatu aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, atau elemen-elemen lainnya yang meliputi penggambaran item tersebut baik dalam kata-kata maupun jumlahnya, dimana jumlahnya mencakup angka-angka ringkas yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

Sebelum suatu item dapat diakui, ada empat kriteria yang harus dipenuhi yaitu 1. Defenisi Item atau kejadian dalam pernyataan harus memenuhi defenisi salah satu

dari tujuh unsur laporan keuangan (aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan atau kerugian).

2. Dapat diukur. Item atau kejadian tesebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal, yaitu karakteristik, sifat atau aspek yang dapat dikuantitaskan dan diukur. Contohnya adalah biaya historis, biaya sekarang, nilai pasar, nilai bersih yang dapat direalisasi, dan nilai sekarang bersih.

3. Relevansi. Informasi mengenai item atau kejadian tersebut mampu membuat suatu perbedaan dalam keputusan pemakai.

4. Reliabilitas. Informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secar wajar, dapat diuji dan netral.

(20)

Donal E.Kieso, et.al., mengemukakan bahwa, prinsip pendapatan (revenue recognition principle) menetapkan bahwa pendapatan diakui pada saat (1) direalisasi

atau dapat direalisasi dan (2) dihasilkan. Pendapatan direalisasi apabila barang dan jasa ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas (piutang). Pendapatan dapat direalisasi apabila aktiva yang diterima dalam pertukaran segera dapat dikonversi menjadi kas atau klaim atas kas dengan jumlah yang diketahui. Pendapatan dihasilkan (earned) apabila entitas bersangkutan pada hakikatnya telah menyelesaikan apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan hak atas manfaat yang dimiliki oleh pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau sebenarnya telah selesai.

Pendapatan diakui setelah kriteria itu dipenuhi. Masalah akuntansinya adalah menentukan kapan kriteria-kriteria itu dipenuhi untuk berbagai jenis transaksi yang menghasilkan pendapatan. Kedua kriteria ini biasanya dipenuhi pada titik penjualan (point of sale) yang sering kali terjadi ketika barang diantar atau ketika pelayanan diberikan kepada pelanggan. Biasanya aktiva dan pendapatan diakui secara bersamaan. Dengan demikian penjualan persediaan menghasilkan peningkatan kas atau piutang dagang sekaligus peningkatan dalan pendapatan penjualan. Ketika kriteria pengakuan pendapatan sepenuhnya dipenuhi, pendapatan diakui dan hutang berkurang.

(21)

ketika pencatatan pendapatan ditunda hal ini sering kali diakibatkan oleh pertimbangan mengenai reliabilitas informasi pendapatan pada tahap-tahap sebelumnya diproses menghasilkan laba. Dasar penjualan untuk pengakuan pendapatan dibenarkan jika harga pokok diketahui dengan pasti, penukaran telah diakhiri dengan pengiriman barang sehingga diperoleh pengetahuan yang objektif tentang cost yang terjadi, dan dalam arti realisasi penjualan merupakan arti krusial.

Namun dalam arti tertentu dimungkinkan untuk melakukan penyimpangan mengenai pengakuan pendapatan dari yang telah disebabkan. Pengecualian yang diperkenankan adalah: Pendapatan diakui pada saat produksi selesai; Pendapatan diakui secara proporsional selama tahap produksi; Pendapatan diakui pada saat pembayaran diterima;dan Pendapatan dari penjualan konsinyasi.

(22)

bisa diketahui dengan cara mengurangkan pendapatan tersebut dengan biaya-biaya yang timbul selama masa suatu periode tersebut.

Demikian halnya dengan perbankan. Kegiatan utama bank adalah menghimpun dana yang pada umumnya berbunga (interest bearing) dan menanamkannya dalam bentuk aktiva produktif. Ada empat macam aktiva produktif atau aktiva yang menghasilkan (earning assets) yaitu: kredit yang diberikan, surat-surat berharga, penempatan pada bank lain dan penyertaan. Dari keempat aktiva produktif ini, sumber dana terbesar adalah berasal dari kredit yang diberikan.

Taswan mengemukakan bahwa: Kredit yang diberikan oleh bank dapat didefenisikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

(23)

kredit berdasarkan kolektibilitasnya dapat dibedakan menjadi Kredit Lancar,Tidak Lancar, Diragukan, dan Macet.

Kredit lancar, yaitu (1) suatu kredit yang tidak memiliki tunggakan angsuran

pokok, tunggakan bunga, atau cerukan karena penarikan bunga. (2) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga tersebut belum melampaui 1 bulan bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari satu bulan dan belum melampaui 3 bulan bagi kredit yang ditetapkan masa angsurannya bulanan, dan belum melampaui 6 bulan yang masa angsurannya 4 bulan.

Kredit kurang lancar, yaitu kredit yang telah mengalami tunggakan angsuran

pokok dan bunga yang telah melampaui 1 bulan dan melampaui 2 bulan bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari satu bulan, dan melampaui 3 bulan dan belum melampaui 6 bulan bagi kredit yang masa angsurannya ditetapkan bulanan, dan melampaui 6 bulan tetapi belum melampaui 12 bulan bagi kredit yang masa angsurannya 6 bulan.

Kredit diragukan, yaitu (1) kredit yang tidak memenuhi kredit lancar dan kurang lancar, (2) Kredit masih dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya 75% dari utang debitur, atau (3) kredit masih bisa diselamatkan namum agunannya masih bernilai sekurang-kurangnya 100% dari utang debitur.

(24)

permohonan ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit. Dari keadaan diatas secara umum akan dapat diketahui bagaimana keadaan nasabah atau si debitur. Hal ini sangat berpengaruh untuk kelancaran pengembalian kredit, dan perecanaan kredit yang akan disusun untuk tahun usaha yang akan datang.

II.B.3. Pengakuan, Pengukuran dan Pencatatan atas Pendapatan

Pengakuan adalah proses pencatatan secara formil atau penyatuan secara formil suatu pos kedalam rekening dan laporan keuangan suatu perusahaan. Seperti kita ketahui, sumber utama pendapatan adalah kredit yang disalurkan kepada masyarakat karena pemberian kredit oleh bank akan dapat meningkatkan laba, berupa pendapatan bunga atas pinjaman yang diberikan. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihal lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Secara umum ada dua dasar pengakuan pendapatan, yaitu : 1. Accrual Basis

2. Cash Basis

(25)

pendapatan dan beban hanya diperhitungkan berdasarkan penerimaan dan pengeluaran kas. Ini berarti dengan penggunaan dasar tunai pendapatan dari penjualan barang atau jasa hanya dapat diperhitungkan pada saat tagihan langganan diterima. Pendapatan diakui setelah kas diterima (pembayaran telah dilaksanakan).

Pendapatan bank lazimnya dicatat berdasarkan metode akrual, dimana akan dibukukan sebagai pendapatan pada saat jatuh waktu bukunya pada saat uang diterima. PSAK No. 31 mengatur mengenai pengakuan pendapatan bank. Dasar yang digunakan dalam pengakuan pendapatan bank merupakan hal yang fundamental dalam hubungannya dengan pengukuran tingkat rentabilitas (keuntungan) suatu bank. Kegiatan utama bank adalah memupuk dan yang pada umumnya adalah berbunga dan menanamkan dalam aktiva produktif. Seperti pada industri lainnya, selalu terdapat kemungkinan perolehan waktu antara perolehan pendapatan dan terjadinya beban atas penggunaan sumber daya untuk menghasilkan pendapatan tersebut. Oleh karena itu, pengkaitan (matching) antara pendapatan dan beban bank tidak mudah dilakukan, sehingga dalam pengakuan pendapatan perlu diperhatikan sifat dari keunikan usaha bank tersebut.

(26)

diragukan dan macet, penerimaan ini digunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokok kredit karena kemungkinan ketertagihan sangat rendah.

Pengakuan pendapatan pada dasarnya adalah secara akrual basis kecuali untuk aktiva produktif yang digolongkan sebagai non performing loans diakui secara cash basis. Pengakuan pendapatan secara akrual mengakibatkan pertambahan

(27)

Sedangkan untuk pengakuan pendapatan secara Cash Basis dapat digambarkan dalam gambar 2 berikut ini:

Gambar 2

Skema pengakuan pendapatan secara cash basis

Pendapatan dalam bank terdiri dari beberapa komponen seperti pendapatan bunga, pendapatan provisi kredit, pendapatan komisi, dan pendapatan lainnya sebagai akibat dari transaksi bank baik yang merupkan kegiatan utama ataupun bukan.

1. Pendapatan Bunga

Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK No.31 menyatakan bahwa: pendapatan bunga diakui secara akrual kecuali pendapatan bunga dari kredit dan aset produktif lain yang non performing. Pendapatan bunga dari kredit dan

(28)

Lapoliwa mengemukakan bahwa: pendapatan bunga dari aktiva produktif non performing, tidak diakui sebagai pendapatan periode berjalan sejak aktiva tersebut

dinyatakan non performing. Dengan demikian, bank tidak perlu melakukan penyesuaian terhadap pendapatan bunga yang telah diakui sebelum aktiva produktif tersebut dinyatakan non performing. Bunga dari aktiva non performing yang tidak diakui sebagai pendapatan akan dicatat dalam rekening administrasi karena merupakan peristiwa kontinjensi.

Hal yang perlu diperhatikan dalam terjadi pelunasan yang berkaitan dengan aktiva produktif yang non-performing, pelunasan tunggakan bunga tersebut terlebih dahulu diperlakukan sebagai pelunasan tunggakan pokoknya. Contoh, apabila pendapatan bunga debitur performing selama bulan Juli dihitung sebesar Rp. 100.000.000,- sedangkan debitur non performing sebesar Rp. 23.000.000,- akan dibukukan dengan ayat jurnal sebagai berikut:

Accrual Basis

Piutang punga 100.000.000

Pendapatan bunga 100.000.000

Pada saat menerima hasil bunga akan dibukukan dengan ayat jurnal berukut ini:

Kas 100.000.000

(29)

Cash Basis

Rekening Administrasi Rupiah-Tunggakan Bunga 23.000.000 Pada saat menerima hasil bunga akan dibukukan dengan ayat jurnal berukut ini:

Kas 23.000.000

Pendapatan bunga 23.000.000

2. Pendapatan Provisi dan Komisi

Provisi kredit merupakan sumber pendapatan bank yang akan diterima dan diakui sebagai pendapatan pada saat kredit disetujui oleh bank. Biasanya provisi kredit langsung dibayarkan oleh nasabah yang bersangkutan. Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan bahwa, pendapatan selain bunga yang berkaitan dengan jangka waktu diakui selama jangka waktu tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan komisi dan provisi diakui selama jangka waktu kredit atau komitmen kredit tersebut. Apabila kredit atau komitmen kredit diselesaikan sebelum jangka waktunya maka sisa pendapatan diakui pada saat penyelesaian kredit atau komitmen tersebut.

Indra Bastian dan Suhardjono menegaskan bahwa,...pendapatan provisi dan komisi yang diterima pada saat realisasi kredit akan dibukukan sebagai pendapatan diterima dimuka, selanjutnya setiap hari akan dilakukan amortisasi pendapatan di muka tersebut.

(30)

disajikan dalam laporan laba rugi bulanan. Contoh, Bank Omega menyetujui kredit dengan PT. CVD sebesar Rp. 200.000.000 selama jangka waktu 5 tahun. Provisi kredit ditetapkan sebesar 0,6% dari pagu kredit. Maka ayat jurnal untuk mecatat transaksi ini adalah:

Kas 1.200.000

Provisi kredit diterima dimuka 1.200.000

Transaksi ini akan dialokasikan setiap bulan selama lima tahun mendatang, dimana provisi kredit ini akan dialokasikan menjadi pendapatan dan akan disajikan dalam laporan laba-rugi bulanan. Alokasi pendapatan pada bulan pertama dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Alokasi Bulan 1 = 1/60 x Rp. 1.200.000 = Rp. 20.000 Maka ayat jurnal yang dibuat adalah:

Provisi kredit diterima dimuka 20.000

Pendapatan provisi kredit 20.000

3. Pendapatan Operasional Lainnya

(31)

4. Pendapatan Non-Operasional

Pendapatan non-operasional adalah pendapatan yang timbul dari aktivitas diluar kegiatan utama bank, seperti pendapatan dari penjualan aktiva tetap, penyewaan fasilitas gedung, pembayaran denda dan sebagainya. Pendapatan ini harus diakui sebagai pendapatan pada periode berjalan.

II.C. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi merupakan salah satu laporan keuangan yang menggambarkan posisi hasil usaha suatu perusahaan dalam jangka waktu/periode tertentu. Komponen laba rugi terdiri atas pendapatan dan beban. Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK No. 31 menyatakan bahwa, bank menyajikan laporan laba rugi dengan mengelompokkan pendapatan dan beban menurut karakteristiknya dan disusun dalam bentuk berjenjang (multiple step), yang menggambarkan pendapatan atau beban yang berasal dari kegiatan utama bank dan kegiatan lain. Dengan kata lain laporan laba rugi harus membedakan antar unsur pendapatan dan beban yang berasal dari kegiatan operasional dan non-operasional. Di dalam proses pencatatannya, bank harus menetapkan kebijakan pengakuan atas pendapatan dan beban sehingga menjadi pedoman baku bagi penerapan kebijakan akuntansi secara konsisten.

(32)

operasional. Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK No.31 menegaskan bahwa urutan penyajian laporan laba rugi adalah sebagai berikut: Pendapatan bunga, Beban bunga, Pendapatan komisi, Beban provisi dan komisi, Keuntungan atau kerugian penjialan efek, Keuntungan atau kerugian investasi efek, Keuntungan atau kerugian transaksi valuta asing, Pendapatan devidan, Pendapatan operasional lainnya, Beban penyisihan kerugian kredit dan asset produktif lainnya, Beban administrasi umum, dan Beban operasional lain.

Pada rekening pendapatan bunga, rekening ini digunakan untuk menampung semua pendapatan dari hasil bunga, provisi dan komisi kredit baik dari pinjaman yang diberikan maupun penanaman yang dilakukan seperti giro, simpanan berjangka, obligasi dan surat pengakuan hutang lainnya; Untuk rekening beban bunga yang biasanya disebut biaya bunga, menampung semua biaya bunga dan sejenisnya yang berkaitan dengan usaha bank; Pendapatan komisi digunakan untuk menampung semua pendapatan provisi dan komisi yang dipungut/diterima dari kegiatan yang berkaitan dengan perkreditan;

(33)

sehingga muncul perbedan kurs; Pendapatan Deviden yaitu pendapatan yang diperoleh suatu perusahaan dari anak perusahaan; Pendapatan operasional lainnya merupakan rekening yang digunakan untuk menampung pendapatan operasional lainnya, misalnya karena transaksi devisa dan bunga yang diterima dari bank-bank diluar negeri;

Semua beban penyisihan kerugian kredit dan asset produktif lainnya ditampung dalam rekening ini. Aktiva produktif adalah aktiva yang dikuasai bank untuk kepentingan memperoleh pendapatan utama usaha bank. Penyisihan timbul akibat kolektibilitas aktiva produktif yang semakin menurun (tidak sehat); Beban administrasi dan umum adalah rekening yang menampung semua biaya yang bersifat umum dan biaya untuk kepentingamn administrasi bank; dan Beban operasional lain merupakan rekening yang menampung semua beban operasional bank yang tidak dapat digolongkan dalam rekening sebelumnya.

(34)

Pengakuan pendapatan dalam laporan laba rugi dilakukan apabila kenaikan manfaat ekonomi dimasa depan yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan nilainya dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan saat pengakuan kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban. Sedangkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi dilakukan apabila penurunan manfaat ekonomi dimasa depan yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan nilainya dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan dengan saat pengakuan penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban.

Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungannya langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh. Dengan demikian harus dikaitkan antara pengakuan beban dengan pengakuan pendapatan secara gabungan atau bersamaan yang dihasilkan secara langsung dan bersama-sama dari transaksi atau peristiwa lain yang sama.

(35)

untuk menilai nilai ekonomi perusahaan dan kreditur untuk menentukan probabilitas dari pembayaran kembali klaimnya terhadap perusahaan.

Berikut ini adalah laporan laba rugi Bank BRI per 31 Desember 2003 yang diambil dari situs Web Bank Indonesia: ww.bi.go.id. sebagai berikut;

Laporan Keuangan Publikasi Bulanan

3.1 Pendapatan Provisi, Komisi, Fee 288.116

3.2 Pendapatan Transaksi Valuta Asing 91.845

3.3 Pendapatan Kenaikan Nilai Surat Berharga 216.950

3.4 Pendapatan Lainnya 341.625

Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya 938.539 Beban (Pendapatan) Penghapusan Aktiva Produktif 259.889 Beban Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi (154.211) Beban Operasional Lainnya

6.1 Beban Administrasi dan Umum 1.290.185

6.2 Beban Personalia 3.783.047

6.3 Beban Penurunan Nilai Surat Berharga 26.572

6.4 Beban Transaksi Valas 128.169

6.5 Beban Lainnya 401.576

(36)

LABA (RUGI) OPERASIONAL 3.230.067 PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL

Pendapatan Non Operasional 412.283

Beban Non Operasional 6.649

Pendapatan (Beban) Non Operasional 405.634

Pendapatan (Beban) Luar Biasa

LABA/RUGI SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 3.635.701

Taksiran Pajak Penghasilan (1.133.266)

(37)

BAB III

ANALISIS HASIL PENELITIAN

IV.A. Analisa dan Evaluasi Pengakuan Pendapatan Pada Perusahaan Perbankan

Dalam memberikan kreditur kepada si debitur, bahwa dalam hal ini perbankan dituntut untuk dapat mengambil suatu kebijakan. Adapun kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong meningkatnya pendapatan bunga, serta bank tidak terjebak pada banyaknya jumlah kredit yang tidak tertagih. Setiap pengambilan suatu kebijakan kredit, bank hendaknya memperhatikan siapa yang patut mendapatkan kredit, berapa jumlah kredit serta metode pembayaran kredit.

Perbankan menjalankan kebijakan tersebut, hal ini dapat dilihat bahwa bank dalam memberikan kredit harus meneliti terlebih dahulu siapa orang yang akan memperoleh kredit, apa jenis usahanya, berapa jumlah kredit serta bagaimana metode pembayaran tersebut. Selain itu perbankan juga menilai jumlah jaminan yang disediakan oleh debitur. Kebijakan ini dilakukan untuk mengantisipasi agar jumlah kredit yang diberikan tidak lebih besar dari jumlah agunan yang diterima oleh bank.

(38)

kurang lancar, diragukan dan kredit macet. Suatu kredit digolongkan lancar apabila nasabah yang bersangkutan tidak pernah melakukan penunggakan atau membayar kewajibannya dalam bentuk bunga atau pinjaman pokok tepat pada waktunya. Suatu kredit digolongkan kurang lancar apabila nasabah yang bersangkutan sudah menunggak pelunasan bunga atau pokok pinjaman selama 2 sampai 3 bulan.

Untuk kredit yang digolongkan diragukan, apabila nasabah / debitur yang bersangkutan tidak melunasi pinjaman serta bunga telah 3 bulan dan belum melampau 6 bulan. Kredit yang digolongkan macet dilakukan apabila nasabah yang bersangkutan tidak melunasi pinjamannya lebih dari 6 bulan atau tidak mampu lagi melunasi kewajibannya baik bunga atau pokok pinjaman.

Menurut Surat edaran Bank Indonesia No. 23/12/BPPP Tanggal 28 Februari 1991, kredit berdasarkan kolektibilitasnya dapat dibedakan menjadi “kredir lancar, kurang lancar, diragukan dan kredit macet”. Kredit lancar yaitu (1) suatu kredit yang

tidak memiliki tunggakan angsuran pokok, tunggakan bunga, atau cerukan karena penarikan bunga. (2) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga tersebut belum melampaui 1 bulan bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari satu bulan dan belum melampaui 3 bulan bagi kredit yang ditetapkan masa angsurannya bulanan, dan belum melampaui 6 bulan yang masa angsurannya 4 bulan.

(39)

melampaui 6 bulan tetapi belum melampaui 12 bulan bagi kredit yang masa angsurannya 4 bulan.

Kredit diragukan, yaitu (1) kredit yang tidak memenuhi kredit lancar dan kurang lancar, (2) Kredit masih dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya 75% dari utang debitur, atau (3) kredit masih bisa diselamatkan namum agunannya masih bernilai sekurang-kurangnya 100% dari utang debitur.

Kredit macet, yaitu (1) Kredit yang tidak memenuhi kredit lancar, kurang lancar dan diragukan, (2) Dalam jangka 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan kredit. (3) Kredit tersebut telah diserahkan ke pengadilan negeri atau Badan Usaha Piutang Negara (BPUN) atau telah diajukan permohonan ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.

(40)

diklasifikasikan dalam kredit lancar yaitu selama 3 bulan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan bahwa pada dasarnya pendapatan bunga kredit dari kolektibilitas lancar (performing) diakui secara accrual basis, sedangkan pendapatan bunga kredit dari dari kredit yang kurang lancar, diragukan dan macet (non performing) diakui pada saat kas diterima/penyelesaian (cash basis). Hal ini mengidentifikasi bahwa pendapatan yang terjadi dan yang diterima oleh perbankan seharusnya masih diakui secara accrual basis bukan secara cash basis. Sehingga pada saat jatuh tempo perbankan harus melakukan pencatatan dengan mendebetkan piutang bunga dan mengkreditkan pendapatan bunga sebesar jumlah bunga yang tertunggak. Dan pada saat pembayaran, piutang tersebut akan dinihilkan dengan mendebetkan kas dan mengkreditkan piutang bunga.

Seharusnya perbankan harus mencatatkan tunggakan tersebut dengan mendebetkan Rekening Administratif-Tunggakan Bunga sebesar jumlah bunga yang menunggak. Sedangkan pencatatan pada akhir periode, pencatatan yang dilakukan oleh perbankan salah, karena mengakui adanya piutang dan pendapatan bunga. Sementara tunggakan yang terjadi telah diklasifikasikan dalam kredit dengan kolektibilitas kurang lancar dan seharusnya dicatatkan secara cash basis bukan accrual basis, yakni dengan mendebetkan Rekening Administratif-Tunggakan bunga

sebesar jumlah yang menunggkak.

(41)

lancar dan seharusnya diakui secara cash basis dengan (1) mengkreditkan kembali Rekening Administratif-Tunggakan bunga dan (2) mencatatkan penerimaaan pembayaran tunggakan dengan mendebetkan Kas sebesar angsuran pokok ditambah bunga dan mengkreditkan angsuran pinjaman yang diberikan dan pendapatan bunga.

Perlakuan bunga kredit akan dilihat dari kualitas kredit yang memberikan bunga. Bila kredit tergolong lancar, maka bank bisa menerapkan accrual basis. Dengan demikian bunga yang belum jatuh tempo bisa dicatatkan sebagai piutang bunga pada saat pelaporan keuangan dilakukan. Namun bagi kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan dan macet) maka bank akan memperlakukan pendapatan bunga berdasarkan cash basis. Maka untuk mencatatkan pengakuan bunga yang belum dibayar debitur, bank akan mencatatkan dalam rekening administratif.

Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pengakuan pendapatan bunga perbankan tidak konsisten, dimana sebelumnya dinyatakan bahwa pendapatan bunga dari kolektibilitas performing dan non performing diakui secara cash basis. Namun pada saat pencatatan akhir periode perbankan mengakui adanya

(42)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

IV.A. Kesimpulan

Tujuan penulisan ini adalah untuk lebih mengetahui bagaimana pengakuan dan pengukuran pendapatan yang dilakukan perbankan. Dari hasil analisis dan evaluasi data dan dihubungkan dengan teoritis maka dapat dibuat kesimpulan bahwa: 1. Batas waktu yang dibuat perbankan dalam menggolongkan kreditnya terlalu

menurun, sehingga mengakibatkan semakin besarnya jumlah debitur yang kurang lancar dan diragukan.

2. Pada awalnya pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh perbankan adalah pengakuan secara cash basis tetapi pada akhir periodenya yakni pada saat penyesuaian perbankan mengakui pendapatan bunga tersebut secara accrual basis, sehingga hal ini mengakibatkan bertambahnya jumlah pendapatan dan

piutang bunga yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap laba dan pajak yang akan dibayarkan.

IV.B. Saran

(43)

1. Untuk menghindari semakin meningkatnya jumlah debitur yang kurang lancar, sebaiknya batas waktu yang digunakan perbankan dalam mengklasifikasikan kredit berdasarkan kolektibilitas tersebut harus sesuai dengan surat edaran Bank Indonesia No. 23/12/BPPP tanggal 21 Februari 1991 yang menyatakan bahwa batas waktu digolongkan untuk kredit lancar apabila penunggakannya masih 1-3 bulan, kredit kurang lancar apabila penunggakannya 3-6 bulan, kredit diragukan apabila penunggakannya telah melampaui 6 bulan dan kredit macet apabila sejak 21 bulan telah dikategorikan dalam kredit diragukan belum dilakukan pembayaran.

Gambar

Skema pengakuan pendapatan secara Gambar 1 accrual basis
Skema pengakuan pendapatan secara Gambar 2 cash basis

Referensi

Dokumen terkait

Plantar Pressure in Diabetic Peripheral Neuropathy Patients with Active Foot Ulceration, Previous Ulceration and No History of Ulceration: A Meta- Analysis of

91.Candi Kidal : Candi peninggalan kerajaan Singosari terletak disebelah tenggara kota Malang dan merupakan makam Anusopati 92.Catur warna : Pembagian manusia ke dalam 4 asta

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari, mengembangkan dan mengaplikasikan Simulasi Annealing dalam melihat kemampuan simulasi Annealing menghasilkan karakteristik

Menguji bahwa terdapat pengaruh diskusi pada reviu proses pengauditan dan motivasi untuk memperbaiki kinerja terhadap perbaikan kinerja auditor lebih tinggi pada auditor

Hal ini konsisten dengan pandangan bahwa manajer memiliki informasi privat yang disampaikan dalam bentuk kebijakan dividen (perusahaan akan membayar dividen lebih banyak jika

Tekan selama urutan CPR untuk melanjutkan ke prompt Analysis [Analisa], diikuti dengan urutan Shock [Kejut].. Tekan # lalu 1 untuk memulai Scenario 1

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, serta shalawat dan salam senantiasa

Setiap pegawai RSUD Bayu Asih dalam memberikan pelayanan selalu siap dan bersedia untuk bertanggung jawab secara moril kepada masyarakat. Setiap tindakan yang