• Tidak ada hasil yang ditemukan

UU Penanganan Konflik Sosial final

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "UU Penanganan Konflik Sosial final "

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2012

Tentang

(2)

Definisi

Konflik sosial, adalah

perseturuan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau dampak luas yang mengakibatkan ketidak amanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.

(3)

Asas Penanganan Konflik

Kemanusiaan, Hak Asasi Manusia

Kebangsaan, Kekeluargaan

Kebineka Tunggal Ikaan

Keadilan, Kesetaraan Gender,

Ketertiban dan kepastian Hukum

Keberlanjutan, Kearifan Lokal

Tanggung Jawab Negara, Partisifasi

Tidak Memihak, Tidak

(4)

Tujuan Penanganan Konflik

 Menciptakan kehidupan yang aman

 Memelihara kondisi damai

 Meningatkan tenggang rasa dan tolernasi

 Memelihara keberlangsungan pemerintah

 Melindungi jiwa, harta benda, sarana umum

 Memulihkan fisik sarana & masyarakatnya.

(5)

Ruang Lingkup Penanganan

Konflik

Pencegahan Konflik

Penghentian Konflik

(6)

Sumber Konflik

Politik

Ekonomi

Sosial Budaya

Antar Umat Beragama, Suku,

Etnis

Masyarakat dengan Pelaku Usaha

Distribusi Sumber

Daya Alam yang tidak

seimbang

(7)

Pencegahan Konflik

Penegahan dilakukan : Pememerintah,

Pemda & Masyarakat

Memelihara kondisi damai dlm masyarakat

Kembangkan sistem penyelesaian

perselisihan secara damai

(8)

Kondisi damai dlm masyarakat wajib

bagi setiap orang

Sikap toleransi dan saling menghormati

Perbedaan suku, bahasa dan adat

istiadat

Harkat dan Martabat

Mengakui persamaan derajat

Mengembangkan persatuan Indonesia

Menghargai pendapat dan kebebasan

Penyelesaian perselisihan dlm masyarakat

secara damai dan musyawarah mufakat.

(9)

Meredam Potensi Konflik

Memperhatikan aspirasi masyarakat;

Pemerintahan yang baik;

Mengintensifkan dialog;

Menegakkan hukum tanpa disriminasi;

Membangun Karakter

Nilai Pancasila dan Kearifan Lokal;

(10)

Membangun Sistem Peringatan

Dini

Membangun sistem perigatan dini untuk mencegah konflik di daerah, mencegah perluasan konflik yang sedang terjadi. Pemerintah dan Pemda melalui media

komunikasi.

 Penelitian & pemetaan wilayah Konflik;

 Penyampaian data konflik secara akurat;

 Penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan;

 Pemanfaatan modal sosial;

 Pemanfaatan fungsi intelijen.

(11)

Penghentian Konflik :

Penghentian kekerasan fisik;

Penetapan status keadaan konflik

Tindakan darurat penyelamatan

Bantuan atau pengerahan TNI

Dikoordinasian dan dikendalikan

oleh

Polri,

melibatkan

tokoh

agama, masyarakat, tokoh adat

sesuai

dengan

peraturan

(12)

Penetapan Status Keadaan

Konflik

Keadaan konflik ditetapkan apabila konflik tidak dapat dikendalikan oleh Polri dan terganggungnya fungsi pemerintahan.

Skala Kabupaten/Kota : dampak hanya

pada tingkat Kabupaten /Kota (ditetapkan oleh Bupati/Wali Kota)

Skala Provinsi : dampak hanya pada

tingkat Provinsi (ditetapkan oleh DPRD Provinsi)

Skala Nasional : dampak hanya pada

tingkat Nasional (ditetapkan oleh Presiden berkonsultasi dgn Pimpinan DPR)

(13)

Tindakan dalam Keadaan Konflik

Skala Kabupaten/Kota : Pembatasan dan

penutupan kawasan konflik, pembatasan diluar rumah dan kawasan konflik, pelarangan memasuki area konflik.

Skala Provinsi : Penutupan kawasan

konflik sementara, pembatasan orang di luar rumah, pelarangan memasuki kawasan konflik.

Skala Nasional : Penutupan kawasan

(14)

Jangka Waktu Status Keadaan

Konflik

Berdasarkan Evaluasi masing-masing

skala dapat memperpanjang jangka

waktu status keadaan konflik paling

lama 30 (tiga puluh) hari setelah

dikonsultasikan oleh masing masing

Pimpinan.

(15)

Penyelamatan dan Pelindungan

Korban

Pemerintah

dan

Pemda

melakukan

tindakan penyelamatan darurat.

Evakuasi, identifikasi secara tepat;

Pemenuhan dasar korban/pengungsi

Perlindungan

Sterilisasi tempat yang rawan

Penyelamatan sarana dan prasarana vital

Penegakan hukum

Pengaturan mobilitas

(16)

Prinsip Penegakan Hukum, dalam Penanganan Konflik Sosial :

1. Asas Legalitas  semua tindakan penegak hukum hrs bersumber dr hukum yg tertulis & menempatkan supremasi hukum.

2. Asas perlakuan yang sama di depan hukum (equality before the law)  setiap orang mempunyai kedudukan yg sama depan hukum, mendpt perlindungan yg sama oleh hukum (equal protection on the law), & perlakuan keadilan yg sama (equal justice under the law).

3. Asas praduga tdk bersalah (presumption of innosence)  bahwa setiap orang yg disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, &/ dihadapkan di muka sidang, wajib dianggap tdk bersalah sampai adanya putusan pengadilan yg menyatakan kesalahannya & memperoleh kekuatan hukum yg tetap.

4. Penangkapan, penahanan, penggeledahan, & penyitaan hanya

dilakukan berdasarkan perintah tertulis pejabat yg diberi wewenang oleh UU & hanya dlm hal serta dgn cara yg diatur dgn UU.

5. Peradilan wajib dilakukan dgn cepat, sederhana, & biaya

ringan serta bebas, jujur, & tidak memihak, serta hrs diterapkan scr konsekuen dlm seluruh tingkat peradilan.

(17)

7. Setiap orang yg tersangkut perkara, wajib diberi kesempatan bantuan hukum yg semata-mata diberikan utk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya.

8. Kepada seorang tersangka, sejak saat

dilakukan penangkapan &/ penahanan, selain wajib diberikan dakwaan & dasar hukum apa yg didakwakan kepadanya, jg wajib diberitahukan haknya termasuk hak utk menghubungi & meminta bantuan hukum dr Penasehat Hukum.

9. Prinsip pembatasan penahan.

10. Asas pemberian ganti rugi & rehabilitasi

sbg akibat tindakan penangkapan, penahanan, penggeledahan, & penyitaan yg tdk sesuai dgn hukum.

11. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka utk umum, kecuali dlm hal yg diatur dlm UU.

12. Pengawasan pelaksaaan Putusan

(18)

Penggunaan Kekuatan TNI

Bantuan konflik skala Kabupaten/Kota,

bupati/walikota meminta bantuan TNI

kepada Pemerintah.

Bantuan konflik skala Provinsi, Gubernur

dapat meminta bantuan TNI kepada

Pemerintah.

Bantuan konflik skala Nasional, Presiden

(19)

Mekanisme Penggunaan Kekuatan

TNI

Konflik Skala Kabupaten/Kota

Konflik Skala Provinsi

Konflik Skala Nasional

Bupati / Wali Kota Gubernur Presiden

TNI

Pemerintah Pimpinan DPR

(20)

Pemulihan Pascakonflik

Permerintah & Pemda wajib lakukan pemulihan

pascakonflik secara terencana, perpadu,

berkelanjutan & terukur.

Pemulihan meliputi :

Rekonsilitasi (Perundingan, pemberian restitusi,

pemaafan) oleh Pranata Adat/Sosial

Rehabilitasi (Pemulihan psikologis, kondisi sosial,

pemulihan ekonomi, budaya, keamanan, perbaikan, kesejahteraan masyarakat)

Rekonstruksi (pemulihan pelayanan, penyediaan

akses pendidikan, perbaikan sarana, fasilitas pelayanan, perbaikan tempat ibadah).

(21)

Kelembagaan & Mekanisme

selesaikan Konflik

Penyelesaian konflik terdiri atas

Pemerintah, Pemda, Pranata Adat,

Pranata Sosial serta Satuan Tugas

Penyelesaian konflik.

Mengedepankan

Pranata

Adat/Pranata Sosial

Mengakui hasil penyelesaian konflik

(22)

Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial

Lembaga Ad Hoc dibentuk oleh Pemerintah atau Pemda dalam hal :

a. Tidak ada Pranata Adat/sosial di daerah konflik

b. Tidak berfungsinya pranata Adat/sosial di daerah konflik

c. Tidak berjalannya mekanisme musyawarah d. Tidak terapainya kesepakatan

e. Telah ditetapkan status keadaan konflik

(23)

Tugas dan Fungsi Penyelesai

Konflik Sosial

Melalui musyawarah pada kelompok yang terlibat dan jika tidak tercapai dapat dilakukan melalui Pengadilan

Fungsi :

 Pencarian fakta, data atau informasi

 Koordinasi untuk memberikan perlindungan kepada korban, saksi, pelapor

 Perumusan opsi mempertimbangkan kepentingan pihak yang berkonflik.

 Perumusan kesepakatan

 Merekonstruksi, penyampaian rekomendasi kepada Pemerintah.

(24)

Satuan Penyelesaian Konflik Sosial

Kabupaten / Kota

(Pasal 47)

Unsur Pemerintah

Daerah Unsur Masyarakat

- Bupati / Wali Kota

- Ketua DPRD Kab /

Kota

- Instansi Pemerintah

- Kepala Kepolisian

Resor

- Komandan Distrik

Militer

- Kepala Kejaksaan

Negeri

- Tokoh Agama

-Tokoh Adat

-Tokoh Masyarakat

-Pegiat Perdamaian

-Wakil Pihak yang

berkonflik

(harus memperhatikan keterwakilan sekurang-kurangnya 30%)

Anggota Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial berhenti /diberhentikan karena : masa tugas berakhir, penggantian personel, meninggal dunia, mengundurkan diri, melakukan

(25)

Satuan Penyelesaian Konflik Sosial

Provinsi

(Pasal 48)

Unsur Pemerintah

Daerah Unsur Masyarakat

- Gubernur

- Ketua DPRD Provinsi

- Instansi Pemerintah

- Kepala Kepolisian

Daerah

- Panglima Daerah

Militer

- Kepala Kejaksaan

Tinggi

- Tokoh Agama

-Tokoh Adat

-Tokoh Masyarakat

-Pegiat Perdamaian

-Wakil Pihak yang

berkonflik

(harus memperhatikan keterwakilan sekurang-kurangnya 30%)

(26)

Satuan Penyelesaian Konflik Sosial

Nasional

(Pasal 49)

Unsur Pemerintah

Daerah Unsur Masyarakat

- Kementerian yang

membidangi urusan Politik, Hukum,

Keamanan, Dalam Negeri, pertahanan, Keuangan Negara, Kesehatan, Sosial, Agama.

- Polri, TNI, Kejaksaan

Agung, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, KOMNASHAM.

- Tokoh Agama

-Tokoh Adat

-Tokoh Masyarakat

-Pegiat Perdamaian

-Wakil Pihak yang

berkonflik

(27)

Peran Serta Masyarakat dan Pendanaan

(Pasal 52 s/d 58)

 Pembiayaan

 Bantuan Teknis

 Penyediaan Kebutuhan Dasar

(28)

Ketentuan Peralihan

(Pasal

59)

Semua program dan kegiatan yang

berkaitan

dengan

penanganan

konflik yang telah berlangsung

sebelum ditetapkannya

Undang-undang

ini

dapat

terus

dilaksanakan

sampai

dengan

(29)

TERLAMPIR

Kemampuan Dasar Komunikasi

Referensi

Dokumen terkait

Pemahaman akan eksistensi Tuhan mutlak dibutuhkan dalam melakukan telaah terhadap Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial

Perlu adanya politik hukum penanganan konflik perkebunan oleh pemerintah yang memberikan rasa keadilan bagi pada pihak-pihak yang berkonflik.. Kata Kunci: Politik Hukum,

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

• KEPALA DAERAH (SELAKU KETUA TIMDU PKS) DAN SEKDA (SELAKU WAKIL KETUA I TIMDU PKS) MEMBERIKAN FASILITASI TERHADAP TIM TERPADU PENANGANAN KONFLIK SOSIAL MELALUI PENINGKATAN DUKUNGAN

(1) Pendanaan Penghentian Konflik dan rekonsiliasi pascakonflik diambil dari dana siap pakai pada APBN dan/atau dana belanja tidak terduga pada APBD oleh Pemerintah dan/atau

Pemahaman akan eksistensi Tuhan mutlak dibutuhkan dalam melakukan telaah terhadap Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial

PERAN PEMERINTAH PROVINSI RIAU DALAM PENANGANAN KONFLIK TENURIAL SEBAGAI UPAYA PENYELESAIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI MASA PANDEMI Annisa Rahma Dini1, Bayu Setiawan2, Yusuf Ali3,