UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2012
Tentang
Definisi
Konflik sosial, adalah
perseturuan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau dampak luas yang mengakibatkan ketidak amanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.
Asas Penanganan Konflik
Kemanusiaan, Hak Asasi Manusia
Kebangsaan, Kekeluargaan
Kebineka Tunggal Ikaan
Keadilan, Kesetaraan Gender,
Ketertiban dan kepastian Hukum
Keberlanjutan, Kearifan Lokal
Tanggung Jawab Negara, Partisifasi
Tidak Memihak, Tidak
Tujuan Penanganan Konflik
Menciptakan kehidupan yang aman
Memelihara kondisi damai
Meningatkan tenggang rasa dan tolernasi
Memelihara keberlangsungan pemerintah
Melindungi jiwa, harta benda, sarana umum
Memulihkan fisik sarana & masyarakatnya.
Ruang Lingkup Penanganan
Konflik
Pencegahan Konflik
Penghentian Konflik
Sumber Konflik
Politik
Ekonomi
Sosial Budaya
Antar Umat Beragama, Suku,
Etnis
Masyarakat dengan Pelaku Usaha
Distribusi Sumber
Daya Alam yang tidak
seimbang
Pencegahan Konflik
Penegahan dilakukan : Pememerintah,
Pemda & Masyarakat
Memelihara kondisi damai dlm masyarakat
Kembangkan sistem penyelesaian
perselisihan secara damai
Kondisi damai dlm masyarakat wajib
bagi setiap orang
Sikap toleransi dan saling menghormati
Perbedaan suku, bahasa dan adat
istiadat
Harkat dan Martabat
Mengakui persamaan derajat
Mengembangkan persatuan Indonesia
Menghargai pendapat dan kebebasan
Penyelesaian perselisihan dlm masyarakat
secara damai dan musyawarah mufakat.
Meredam Potensi Konflik
Memperhatikan aspirasi masyarakat;
Pemerintahan yang baik;
Mengintensifkan dialog;
Menegakkan hukum tanpa disriminasi;
Membangun Karakter
Nilai Pancasila dan Kearifan Lokal;
Membangun Sistem Peringatan
Dini
Membangun sistem perigatan dini untuk mencegah konflik di daerah, mencegah perluasan konflik yang sedang terjadi. Pemerintah dan Pemda melalui media
komunikasi.
Penelitian & pemetaan wilayah Konflik;
Penyampaian data konflik secara akurat;
Penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan;
Pemanfaatan modal sosial;
Pemanfaatan fungsi intelijen.
Penghentian Konflik :
Penghentian kekerasan fisik;
Penetapan status keadaan konflik
Tindakan darurat penyelamatan
Bantuan atau pengerahan TNI
Dikoordinasian dan dikendalikan
oleh
Polri,
melibatkan
tokoh
agama, masyarakat, tokoh adat
sesuai
dengan
peraturan
Penetapan Status Keadaan
Konflik
Keadaan konflik ditetapkan apabila konflik tidak dapat dikendalikan oleh Polri dan terganggungnya fungsi pemerintahan.
Skala Kabupaten/Kota : dampak hanya
pada tingkat Kabupaten /Kota (ditetapkan oleh Bupati/Wali Kota)
Skala Provinsi : dampak hanya pada
tingkat Provinsi (ditetapkan oleh DPRD Provinsi)
Skala Nasional : dampak hanya pada
tingkat Nasional (ditetapkan oleh Presiden berkonsultasi dgn Pimpinan DPR)
Tindakan dalam Keadaan Konflik
Skala Kabupaten/Kota : Pembatasan dan
penutupan kawasan konflik, pembatasan diluar rumah dan kawasan konflik, pelarangan memasuki area konflik.
Skala Provinsi : Penutupan kawasan
konflik sementara, pembatasan orang di luar rumah, pelarangan memasuki kawasan konflik.
Skala Nasional : Penutupan kawasan
Jangka Waktu Status Keadaan
Konflik
Berdasarkan Evaluasi masing-masing
skala dapat memperpanjang jangka
waktu status keadaan konflik paling
lama 30 (tiga puluh) hari setelah
dikonsultasikan oleh masing masing
Pimpinan.
Penyelamatan dan Pelindungan
Korban
Pemerintah
dan
Pemda
melakukan
tindakan penyelamatan darurat.
Evakuasi, identifikasi secara tepat;
Pemenuhan dasar korban/pengungsi
Perlindungan
Sterilisasi tempat yang rawan
Penyelamatan sarana dan prasarana vital
Penegakan hukum
Pengaturan mobilitas
Prinsip Penegakan Hukum, dalam Penanganan Konflik Sosial :
1. Asas Legalitas semua tindakan penegak hukum hrs bersumber dr hukum yg tertulis & menempatkan supremasi hukum.
2. Asas perlakuan yang sama di depan hukum (equality before the law) setiap orang mempunyai kedudukan yg sama depan hukum, mendpt perlindungan yg sama oleh hukum (equal protection on the law), & perlakuan keadilan yg sama (equal justice under the law).
3. Asas praduga tdk bersalah (presumption of innosence) bahwa setiap orang yg disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, &/ dihadapkan di muka sidang, wajib dianggap tdk bersalah sampai adanya putusan pengadilan yg menyatakan kesalahannya & memperoleh kekuatan hukum yg tetap.
4. Penangkapan, penahanan, penggeledahan, & penyitaan hanya
dilakukan berdasarkan perintah tertulis pejabat yg diberi wewenang oleh UU & hanya dlm hal serta dgn cara yg diatur dgn UU.
5. Peradilan wajib dilakukan dgn cepat, sederhana, & biaya
ringan serta bebas, jujur, & tidak memihak, serta hrs diterapkan scr konsekuen dlm seluruh tingkat peradilan.
7. Setiap orang yg tersangkut perkara, wajib diberi kesempatan bantuan hukum yg semata-mata diberikan utk melaksanakan kepentingan pembelaan atas dirinya.
8. Kepada seorang tersangka, sejak saat
dilakukan penangkapan &/ penahanan, selain wajib diberikan dakwaan & dasar hukum apa yg didakwakan kepadanya, jg wajib diberitahukan haknya termasuk hak utk menghubungi & meminta bantuan hukum dr Penasehat Hukum.
9. Prinsip pembatasan penahan.
10. Asas pemberian ganti rugi & rehabilitasi
sbg akibat tindakan penangkapan, penahanan, penggeledahan, & penyitaan yg tdk sesuai dgn hukum.
11. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka utk umum, kecuali dlm hal yg diatur dlm UU.
12. Pengawasan pelaksaaan Putusan
Penggunaan Kekuatan TNI
Bantuan konflik skala Kabupaten/Kota,
bupati/walikota meminta bantuan TNI
kepada Pemerintah.
Bantuan konflik skala Provinsi, Gubernur
dapat meminta bantuan TNI kepada
Pemerintah.
Bantuan konflik skala Nasional, Presiden
Mekanisme Penggunaan Kekuatan
TNI
Konflik Skala Kabupaten/Kota
Konflik Skala Provinsi
Konflik Skala Nasional
Bupati / Wali Kota Gubernur Presiden
TNI
Pemerintah Pimpinan DPR
Pemulihan Pascakonflik
Permerintah & Pemda wajib lakukan pemulihan
pascakonflik secara terencana, perpadu,
berkelanjutan & terukur.
Pemulihan meliputi :
Rekonsilitasi (Perundingan, pemberian restitusi,
pemaafan) oleh Pranata Adat/Sosial
Rehabilitasi (Pemulihan psikologis, kondisi sosial,
pemulihan ekonomi, budaya, keamanan, perbaikan, kesejahteraan masyarakat)
Rekonstruksi (pemulihan pelayanan, penyediaan
akses pendidikan, perbaikan sarana, fasilitas pelayanan, perbaikan tempat ibadah).
Kelembagaan & Mekanisme
selesaikan Konflik
Penyelesaian konflik terdiri atas
Pemerintah, Pemda, Pranata Adat,
Pranata Sosial serta Satuan Tugas
Penyelesaian konflik.
Mengedepankan
Pranata
Adat/Pranata Sosial
Mengakui hasil penyelesaian konflik
Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial
Lembaga Ad Hoc dibentuk oleh Pemerintah atau Pemda dalam hal :
a. Tidak ada Pranata Adat/sosial di daerah konflik
b. Tidak berfungsinya pranata Adat/sosial di daerah konflik
c. Tidak berjalannya mekanisme musyawarah d. Tidak terapainya kesepakatan
e. Telah ditetapkan status keadaan konflik
Tugas dan Fungsi Penyelesai
Konflik Sosial
Melalui musyawarah pada kelompok yang terlibat dan jika tidak tercapai dapat dilakukan melalui Pengadilan
Fungsi :
Pencarian fakta, data atau informasi
Koordinasi untuk memberikan perlindungan kepada korban, saksi, pelapor
Perumusan opsi mempertimbangkan kepentingan pihak yang berkonflik.
Perumusan kesepakatan
Merekonstruksi, penyampaian rekomendasi kepada Pemerintah.
Satuan Penyelesaian Konflik Sosial
Kabupaten / Kota
(Pasal 47)
Unsur Pemerintah
Daerah Unsur Masyarakat
- Bupati / Wali Kota
- Ketua DPRD Kab /
Kota
- Instansi Pemerintah
- Kepala Kepolisian
Resor
- Komandan Distrik
Militer
- Kepala Kejaksaan
Negeri
- Tokoh Agama
-Tokoh Adat
-Tokoh Masyarakat
-Pegiat Perdamaian
-Wakil Pihak yang
berkonflik
(harus memperhatikan keterwakilan sekurang-kurangnya 30%)
Anggota Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial berhenti /diberhentikan karena : masa tugas berakhir, penggantian personel, meninggal dunia, mengundurkan diri, melakukan
Satuan Penyelesaian Konflik Sosial
Provinsi
(Pasal 48)
Unsur Pemerintah
Daerah Unsur Masyarakat
- Gubernur
- Ketua DPRD Provinsi
- Instansi Pemerintah
- Kepala Kepolisian
Daerah
- Panglima Daerah
Militer
- Kepala Kejaksaan
Tinggi
- Tokoh Agama
-Tokoh Adat
-Tokoh Masyarakat
-Pegiat Perdamaian
-Wakil Pihak yang
berkonflik
(harus memperhatikan keterwakilan sekurang-kurangnya 30%)
Satuan Penyelesaian Konflik Sosial
Nasional
(Pasal 49)
Unsur Pemerintah
Daerah Unsur Masyarakat
- Kementerian yang
membidangi urusan Politik, Hukum,
Keamanan, Dalam Negeri, pertahanan, Keuangan Negara, Kesehatan, Sosial, Agama.
- Polri, TNI, Kejaksaan
Agung, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, KOMNASHAM.
- Tokoh Agama
-Tokoh Adat
-Tokoh Masyarakat
-Pegiat Perdamaian
-Wakil Pihak yang
berkonflik
Peran Serta Masyarakat dan Pendanaan
(Pasal 52 s/d 58)
Pembiayaan
Bantuan Teknis
Penyediaan Kebutuhan Dasar
Ketentuan Peralihan
(Pasal
59)
Semua program dan kegiatan yang
berkaitan
dengan
penanganan
konflik yang telah berlangsung
sebelum ditetapkannya
Undang-undang
ini
dapat
terus
dilaksanakan
sampai
dengan
TERLAMPIR