Dari Sentralisme Hukum menuju Pluralisme
Hukum di Indonesia
(Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum)
Oleh MUHAMMAD AULIA Y GUZASIAH, SH
PENDAHULUAN
Sudah menjadi sifat alamiah dari manusia sebagai zoon politikon atau mahkluk sosial ialah cenderung untuk selalu mengikatkan diri dengan manusia lainnya. Sebagai mahkluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lain, ada kepentingan dan kebutuhan untuk hidup bersama sampai pada akhirnya terbentuklah kelompok masyarakat. Hal ini senada dengan adagium klasik yang diungkapkan oleh seorang filsuf, ahli hukum, dan ahli politik kelahiran Roma, Mercus Tullius Cicero (106-43 SM) “Ubi Societas Ibi Ius” yang kurang lebih artinya “where there is society, there is law”, “dimana ada masyarakat disitu ada hukum”. Adagium ini bermaksud untuk mengungkapkan konsepsi filosofi Cicero yang menyatakan bahwa hukum tidak dapat di pisahkan dari masyarakat. Hal itu dikarenakan, konsekuensi dari kehidupan bersama itu menyebabkan adanya interaksi, kontak atau hubungan satu sama lain. Kontak dapat berarti hubungan yang menyenangkan atau menimbulkan pertentangan atau konflik.
Concerning Man. Dalam tulisannya, Thomas Hobbes mengambarkan bahwa demi mencapai tujuan yang diinginkan, manusia mampu melakukan kejahatan pada sesamanya dalam bersaing, bertempur memperebutkan sesuatu “Bellum Omnium Contra Omnes”. Sehingga manusia di dalam masyarakat memerlukan suatu perlindungan untuk menjamin berbagai kepentingannya dari bentrokan atau konflik kepentingan antar sesama manusia (conflict of human interest), maka terciptalah suatu perlindungan kepentingan, suatu pedoman atau peraturan hidup yang menentukan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam masyarakat agar tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Pedoman, patokan atau ukuran untuk berperilaku atau bersikap dalam kehidupan bersama ini disebut norma atau kaidah sosial, termasuk didalamnya kaidah hukum.
Kemudian untuk menerapkan dan mengoperasikan kaidah hukum dibutuhkan sistem hukum sebagai suatu kesatuan kaidah-kaidah hukum yang terdiri dari atas bagian-bagian hukum yang mempunyai kaitan (interaksi) satu sama lain, yang tersusun sedemikian rupa menurut asas-asasnya. Prof. Sudikno mertokusumo mengartikan sistem hukum merupakan suatu kesatuan yang terorganisasi, terstruktur (a structured whole) yang terdiri dari unsur-unsur atau bagian-bagian yang mengadakan interaksi satu sama lain dan mengadakan kerja sama untuk kepentingan dan tujuan kesatuan.
Kemudian setelah negara-negara di dunia ini mengalami perkembangan yang demikian pesat, wilayah negara menjadi semakin luas, urusan pemerintahannya semakin kompleks, serta warganegaranya menjadi semakin banyak dan heterogen, maka di beberapa negara telah dilaksanakan Asas Desentralisasi dan Asas Dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang dari pemerintahan pusat kepada pejabat-pejabatnya di daerah, untuk melaksanakan urusan-urusan pemerintahan pusat yang ada di daerah-daerah.
Di Indonesia sendiri, betapa sistem pemerintahan itu mempengaruhi corak sistem hukum yang digunakan, asas sentralisasi pernah diterapkan pada zaman kemerdekaan hingga orde baru. Barulah di era Reformasi setelah rezim orde baru tumbang pada tahun 1998 ditandai dengan krisis finansial yang melanda Indonesia dan bergejolaknya disintegritas nasional antar daerah, yang membuka keran demokrasi terbuka kemudian merubah haluan dari negara kesatuan berasaskan sentralisasi ke negara kesatuan yang berasaskan desentralisasi ditandai amandamen kedua UUD 1945 pada tahun 2000, yang secara eksplisit, yang tak hanya mengatur dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah (provinsi, kabupaten dan kota) untuk menjalankan pemerintahannya masing-masing pada pasal 18, tetapi juga mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa serta mengakui dan menghargai kesatuan-kesatuan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya pada pasal 18B hasil amandemen kedua Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
hukum-hukum adat lokal di beberapa daerah di indonesia yang jauh sebelum indonesia merdeka dan dalam tahap menjalankan perencanaan pembangunan nasional, hukum adat sudah mendarah daging kedalam masyarakat indonesia sehingga tak jarang berbenturan dan bermasalah dengan hukum nasional, juga kuatnya pengaruh hukum islam di beberapa daerah di indonesia yang kemudian bercampur baur dengan hukum adat setempat sehingga melahirkan daerah-daerah yang berstatuskan “istimewa” seperti Aceh yang bersyariatkan Islam, lalu ada juga dikenal juga sistem hukum civil law yang sebagian besar corak hukum nasional dan tata cara berhukum di indonesia memakai sistem hukum ini sebagai konsekuensi penjajahan yang dilakukan oleh belanda kepada bangsa indonesia yang berdasarkan asas konkordansi, kemudian melalui perkembangan globalisasi ekonomi dan pergaulan lintas negara yang di lakukan oleh indonesia seperti melakukan perdagangan internasional, perjanjian-perjanjian atau konvensi-konvensi internasional dengan negara-negara maju di dunia, pengaruh sistem hukum common law secara disadari atau tidak masuk ke indonesia.
Walaupun tidak ada aturan hukum khusus yang menegaskan entitas sistem hukum apa yang berlaku di Indonesia tetapi fakta di lapangan sosial saat ini menjelaskan memang terjadinya suatu realitas atau situasi dimana terdapat dua atau lebih sistem hukum yang berada dalam suatu kehidupan sosial, yang kemudian dinamakan Pluralisme hukum. Sehingga terhadap kemungkinan pengaruh realitas pluralisme hukum yang terjadi di indonesia ini, timbul beberapa kekhawatiran, apakah pluralisme hukum ini nantinya akan menjadi faktor yang bisa membawa akibat yang membahayakan esensi dari bentuk negara kesatuan itu sendiri, yaitu persatuan indonesia ataukah memberi kemanfaatan dan keadilan bagi kemajemukan budaya dan masyarakat di indonesia.
hukum di indonesia, ketiga, pluralisme hukum sebagai pengejewantahan pancasila dalam mengakomodir kemajemukan masyarakat indonesia.
PEMBAHASAN
Konsep Pluralisme hukum dan Sentralisme hukum
Pluralisme hukum, secara umum didefinisikan oleh Griffiths1 sebagai
suatu situasi dimana dua atau lebih sistem hukum bekerja secara berdampingan dalam suatu bidang kehidupan sosial yang sama, atau untuk menjelaskan keberadaan dua atau lebih sistem pengendalian sosial dalam satu bidang kehidupaan sosial, lalu Hooker2 menerangkannya sebagai suatu situasi dimana dua
atau lebih sistem hukum berinteraksi dalam satu kehidupan sosial, kemudian F. Von Benda-Beckmann3 menambahkannya sebagai suatu kondisi dimana lebih dari
satu sistem hukum atau institusi bekerja secara berdampingan dalam aktifitas-aktifitas dan hubungan-hubungan dalam satu kelompok masyarakat.
Konsep Pluralisme hukum (legal Pluralism) secara umum dipertentangkan dengan ideologi sentralisme hukum (legal Centralism). Ideologi sentralisme hukum diartikan sebagai suatu ideologi yang menghendaki pemberlakuan hukum negara (State Law) sebagai satu-satunya hukum bagi semua warga masyarakat, dengan mengabaikan keberadaan-keberadaan sistem-sistem hukum yang lain, seperti hukum agama (Religious Law), hukum kebiasaan (costumary law), dan juga semua bentuk mekanisme-mekanisme pengaturan lokal (inner-order mechanism) yang secara empiris hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat4. Sehingga secara jelas ideologi sentralisme hukum cenderung
mengabaikan kemajemukan sosial dan budaya dalam masyarakat, termasuk di dalamnya norma-norma hukum lokal yang secara nyata dianut dan dipatuhi warga
1I Nyoman Nurjaya, Perkembangan Pemikiran konsep Pluralisme Hukum, Makalah untuk
dipersentasekan dalam Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah dan kekayaan Alam di Indonesia yang sedang berubah: “Mempertanyakan Kembali Berbagai jawaban”, Hotel Santika jakarta, 11- 12 oktober, Hlm. 10
2 Ibid
3 Ibid
dalam kehidupan bermasyarakat, dan bahkan sering lebih ditaati dari pada hukum yang diciptakan dan diberlakukan oleh negara (State law). Karena itu, meminjam kata-kata dari Griffiths5 yang menyatakan, “Legal pluralism is the fact. Legal centralism is a myth, an ideal, a claim, an illusion. Legal pluralism is the name of social state of affairs and it is a characteristic which can be predicted of a social group”, pemberlakuan sentralisme hukum dalam suatu komunitas masyarakat yang memiliki kemajemukan sosial dan budaya hanya merupakan suatu kemustahilan.
Konsep pluralisme hukum yang dikemukakan Griffiths, membedakannya menjadi dua macam, yaitu weak legal pluralism dan strong legal pluralism.
Menurut Graffiths, pluralisme hukum yang lemah itu adalah bentuk lain dari sentralisme hukum karena meskipun mengakui adanya pluralisme hukum, tetapi hukum negara dipandang sebagai superior, sementara hukum-hukum yang lain disatukan di bawah hukum negara dan mengakui adanya keanekaragaman sistem hukum, tetapi masih menekankan adanya pertentangan antara apa yang disebut sebagai municipal law sebagai sistem yang dominan (hukum negara), dengan
servient law yang menurut inferior seperti kebiasaan dan hukum agama.6
Sementara itu konsep Pluralisme hukum yang kuat, yang menurut Grafitths7 ialah adanya kemajemukan tatanan hukum yang terdapat di semua
(kelompok) masyarakat, semua sistem hukum yang ada dipandang sama kedudukannya dalam masyarakat sehingga tidak terdapat hirarki yang menunjukkan sistem hukum yang lebih tinggi dari yang lain. Griffiths sendiri memasukkan pandangan beberapa ahli ke dalam pluralisme hukum yang kuat anatara lain adalah teori living law dari Eugene Ehrlich, yaitu aturan-aturan hukum yang hidup dari tatanan normatif, yang dikontraskan dengan hukum negara, yang dalam hal ini Ehrlich sebenarnya tidak hanya menunjukkan bahwa ada jurang diantara law in the books dan aturan-aturan dalam kehidupan sosial,
5 Ibid, hlm. 11
6Sulistyowati Indro, Pluralisme hukum dan Masyarakat Saat Krisis dalam Hukum dan KemajemukanBudaya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2003, hlm. 67.
tetapi juga bahwa keduanya merupakan kategori yang berbeda-beda secara hakiki8.
Pandangan lain yang dikategorikan sebagai pluralisme hukum yang kuat menurut Griffiths adalah teori dari Sally F. Moore mengenai pembentukan aturan disertai kekuataan pemaksa didalam kelompok-kelompok sosial yang disebri label
the semi-autonomous social fields. Dalam hal ini Griffiths mengadopsi pengertian pluralisme hukum dari Moore9: “Legal Pluralisme refers to the normative heteregony attendant upon the fact that social action always takes place in a context of multiplee, overlapping ‘semi-autonomous social fields’”.
Kemudian berkembang konsep Pluralisme hukum yang baru, yang tidak menonjolkan dikotomi antara sistem hukum negara di satu sisi dan sistem hukum rakyat disisi lain akibat datangnya sejumlah kritikan, seperti dari Tamahana10 yang
mengatakan bahwa pandangan kaum legal pluralist cenderung menonjolkan adanya kontras antara hukum negara dan hukum rakyat.
Salah satu dari pemikir yang dapat digolongkan ke pemikir konsep Pluralisme yang baru ialah Franz Von Benda-Beckmann11 yang mengatakan
bahwa tidak cukup untuk menunjukkan dilapangan sosial tententu terdapat keanekaragaman hukum, namun yang lebih penting ialah apakah yang terkandung dalam keanekaragaman hukum tersebut, bagaimanakah sistem-sistem hukum tersebut saling berinteraksi (mempengaruhi) satu sama lain, dan bagaimakah keberadaan dari sistem hukum yang beragam itu secara bersama-sama dalam suatu lapangan kajian tertentu. Kemudian ada Gordon Woodman12 yang
memberikan variasi pandangan pluralisme hukum tersendiri yang melihatnya pada tataran individu yang menjadi subyek dari pluralisme hukum tersebut sehingga dalam rangka mengkaji pluralisme hukum saat ini, sudah saatnya memang untuk tidak didasari pada maping of the legal universe, karena semakin tidak
8 Ibid, hlm. 68. 9 Ibid.
10 Ibid.
menyederhanakan gejala hukum dalam masyarakat yang rumit. Lihatlah bahwa pluralisme hukum juga terdapat dalam sistem hukum rakyat (folk law), seperti hukum agama, adat, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang saling “bersaing”, kemudian juga harus berhadapan dengan sistem hukum negara yang juga plural sifatnya. Pluralisme dalam hukum negara tidak saja berasal dari pembagian secara formal jurisdiksi normatif seperti pengaturan pada badan-badan korporasi, lembaga-lembaga politik, badan-badan ekonomi, dan badan-badan administrasi yang berada dalam satu sistem, tetapi juga dalam banyak situasi dapat dijumpai adanya choice of law dalam situasi conflict of law yang sebagaimana pada prinsipnya dikatakan oleh Kleinhans dan MacDonald13: “state law itself typically comprises multiple bodies of law, with multiple institutional reflections and multiple sources of legitimacy”.
Perkembangan Pluraslisme hukum dalam Sistem Hukum di Indonesia
Sistem hukum di indonesia dan perkembangannya tidak terlepas dari sejarah bangsanya dan perkembangan globalisasi ekonomi dan hukum pada masa yang lampau hingga sekarang. Perdagangan dan penjajahan tidak hanya membawa komoditi indonesia kepasar dunia, tetapi juga membawa hukum baru ke negeri ini. Setidaknya, akibat dari perkembangan globalisasi ekonomi dan hukum yang terjadi di indonesia, terdapat empat sistem hukum yang berdampingan secara damai di indonesia, yaitu Hukum adat, Hukum Islam, “Civil Law”, dan “Common Law”14.
Dimulai dengan hukum adat yang merupakan hukum yang hidup pada masyarakat Indonesia yang berbeda-beda suku bangsa. Istilah adat itu sendiri berasal dari bahasa Arab, yang apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “kebiasaan”15. Hukum adat adalah kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat
yang ditaati oleh anggotanya dan kebiasaan itu mempunyai sanksi bila ia tidak diikuti. Menurut mr. J. H. P. Bellefroit16, hukum adat sebagai peraturan-peraturan
hidup yang meskipun tidak diundangkan oleh penguasa, tetapi tetap dihormati dan ditaati oleh rakyat dengan keyakinan bahwa peraturan-peraturan tersebut berlaku sebagai hukum. Adapun bidang hukum adat ini, menurut Ter Har17 dalam bukunya
“Beginsel en stelsel van het Adat-Recht” meliputi: 1. Tata masyarakat
14 Erman Rajagukguk, Ilmu Hukum Indonesia: Pluralisme, paper yang disampaikan pada Diskusi Panel dalam rangka Dies natalis ke-37 IAIN sunan Gunung djati, Bandung, 2 April 2005. Hlm. 2. 15 Bewa Ragawino, Pengantar dan Asas-Asasa Hukum Adat indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu politik Universitas Padjajaran, Bandung, 2008, hlm.1.
11. Pengaruh lampau waktu
Hukum adat yang kini hidup pada rakyat indonesia ialah hasil akulturasi antara peraturan adat-isitiadat zaman Pra-Hindu dengan peraturan-peraturan hidup yang dibawa oleh kultur hindu, kultur islam dan kultur kristen, yang hal ini bisa dilihat dari sejarahnya. Sebelum Indonesia sebagai negara modern terbentuk, di indonesia sendiri, telah terbentuk berbagai peradaban yang silih berganti telah mencapai puncak peradabannya yang kemudian membawa corak tersendiri yang nantinya sangat mempengaruhi sistem hukum indonesia saat ini. Dimulai dari peradaban zaman hindu/buddha seperti kerajaan Sriwijaya (abad VII), kerajaan Kalingga (abad VII), Sanjaya (abad VIII), Syailendra (abad VIII dan IX), kerajaan Isana (abad IX), Darmawangsa (abad X), Airlangga (abad XI), kediri (abad XII), Singgasari (abad XIII), Majapahit (abad XIII)18. Kemudian
disusul oleh peradaban islam, kerajaan samudra pasai (abad XIII), Kesultanan Demak, Kesultanan Aceh, Kesultanan Banten, Kerajaan Maluku; kerajaan jailolo, kerajaan ternate, kerajaan tidore dan bacam (abad XVI), Kerajaan Goa (XVII)19,
kemudian sampai pada pengaruh pada masa penjajahan belanda yang membawa pengaruh hukum eropa atau eropa kontinental (Civil law) yang berasal dari sejarah hukum Romawi yang sangat dipengaruhi oleh etika katolik Vatikan (kristen)20.
Dalam perkembangannya, hukum adat ini berkembang seiring dengan perkembangan masyarakatnya, sehingga Hukum adat yang sebagian besar tidak tertulis itu kemudian mendapatkan tempatnya dalam putusan-putusan pengadilan formal, sehingga lama-kelamaan perkembangan hukum adat tersebut dapat diikuti melalui putusan-putusan pengadilan. salah satu contohnya seperti pada putusan MA No. 391 K/Sip/1969 tentang keabsahan dari hibah yang dilakukan pewaris kepada ahli waris yang merugikan ahli waris yang lain.
Sampai saat ini Hukum Adat itu masih hidup di beberapa tempat dan tidak jarang menimbulkan beberapa masalah, terutama yang berkaitan dengan tanah Ulayat. Hukum adat juga yang menyebabkan tidak dapat di unifikasinya bidang
18 Hartono, Pancasila ditinjau dari segi historis, Rineka Cipta, jakarta, 1992, hlm.4. 19 Ibid, hlm. 5.
hukum keluarga di Indonesia karena ia berkaitan dengan budaya masyarakat setempat21.
Selain Hukum Adat, menyebarnya agama Islam di indonesia disertai dengan berdirinya kerajaan- kerajaan dan kesultanan islam di nusantara, juga membawa pengaruh hukum Islam. Di beberapa daerah yang penganutnya islamnya kuat, hukum islam telah meresap dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat sehingga hukum islam tak terlepas dari adat dan budaya masyarakat. Seperti misalnya di sumatera barat dan aceh, masyarakat menerapkan Hukum Islam dalam bidang perkawinan dan warisan. Sehingga dalam perbincangan sejarah hukum, hukum islam yang hidup berdampingan dengan hukum adat, melahirkan perdebatan hukum manakah yang diberlakukan bagi masyarakt setempat. Snouck Hurgronje22 memperkenalkan teori Receptie, yaitu
Hukum Islam beru berlaku kalau Hukum islam itu sudah terlebur ke dalam Hukum Adat. Dengan demikian Bagi penganut agama islam belum tentu tunduk pada Hukum Isalam. Namun teori Receptie ini begitu kontroversial sehingga mengundang banyak pemikir Hukum Islam untuk mengkritik dan membantahnya, salah satunya Hazairin23 dengan teori Receptie Exit, yang menolak teori Receptie
dari Hurgronje untuk berlakunya di Indonesia, dengan mengemukakan teori
Receptie ini adalah teori iblis. Kemudian ada Sayuti Thalib24 dengan teori Receptie a Contrario yang mengemukakan bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum islam, sedangkan hukum adat dapat di berlakukan kalau sudah beradaptasi dengan hukum islam, atau dengan kata lain Hukum adat baru berlaku jika ia tidak bertentangan dengan hukum islam. Sayuti thalib mengambil contoh peranan hukum islam di Sumatera Barat, Minangkabau: ”adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah”. Juga di aceh, dalam sebuah hadih maja
(peribahasa) yang terkenal di aceh disebutkan, islam dan adat di aceh bagaikan zat dengan sifat (agama ngen adatagee zat ngen sifet)25.
21 Erman Rajagukguk, op.cit, hlm. 4
22 Abdul Manan, Aspek-Apek Pengubah Hukum, Kencana Prenada Media, jakarta, 2006, hlm. 45 23 Ibid
24 ibid
25 Annisha Putri Andini, Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Penerapan Syariat Islam di Aceh
Dalam perkembangannya, hukum Islam kini tidak saja mengatur maslah perkawinan dan warisan, tetapi juga meluaskan pengaruhnya ke bidang hukum ekonomi seperti perbankan, asuransi dan pasar modal, Undang-undang Perbankan Indonesia, misalnya, yang telah menetapkan bahwa bank tidak saja menjalankan usahanya berdasarkan bunga tetapi juga dengan cara-cara lain seperti bagi hasil yang di jalankan oleh Bank Syariah. Dibidang Tata Negara, perkembangan politik dalam negeri yang melahirkan beberapa daerah yang mendapatkan status “isitimewa” khusus untuk memberlakukan Syariat Islam untuk daerah Aceh yang dituangkan dalam Undang-undang Otonomi Khusus Nangro Aceh Darussalam.
Lalu ketika kolonialisme Belanda menjajakan kekuasaannya ke kepulauan Nusantara dalam bentuk penjajahan, kolonialisme Belanda sekaligus juga membawa datangnya hukum Netherland yang berasal dari Code Napoleon. Hukum ini dimasukkan ke dalam sistem hukum Civil Law atau eropa kontinental yang berasal dari Prancis dan Prancis mengalinya dari hukum Romawi yang berkiblat kepada hukum-hukum yang tertuang dalam Corpus Iuris Civilis yang dbuat pada masa kasiar Justinianus26. Karakteristik khusus dari Civil Law adalah pertama, hukum merupakan produk legislatif, kedua, hukum adalah peraturan perundang-undangan, ketiga, sngat dipengaruhi oleh presepsi hukum Romawi,
keempat, semua sistem hukum Eropa kontinental atau Civil Law dikodifikasi dalam suatu peraturan perundang-undangan, kelima, keputusan pengadilan dalam sistem hukum kontinental atau Civil Law bukan sumber hukum yang pertama, tetapi hanya keterangan mengenai hukum, keenam, dalam Common Law memberi tempat yang sangat penting pada pengadilan, sedangkan pada sistem Eropa Kontinental atau Civil Law tidak demikian, hukum tidak hanya penuntutan tetapi sebagian besar mengenai fungsi umumnya, ketujuh, dualisme hukum kebiasaan dan kepatutan sebagaiman Common Law tidak dikenal dalam sistem hukum Eropa Kontinental atau Civil Law, kedelapan, semua sistem Civil Law berbeda dalam substansi dan prosedur anatara hukum perdata dan hukum administrasi.27
26 John Glissen & Frits Gorle, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Refika Aditama, Bandung, 2007, hlm. 302
Berdasarkan asas konkordansi maka hukum di Netherland, otomatis berlaku bagi penduduk di Hindia Belanda yang di mulai pada tahun 1848. Penduduk Hindia Belanda waktu itu dibagi atas tiga golongan: Eropa, Timur Asing, Bumi Putra. Golongan penduduk bukan Eropa dapat menundukkan diri pada hukum Eropa baik secara sukarela maupun diam-diam. Kodifikasi Eropa ini dari kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), Kitab Undang-Undang Dagang (KUHDagang), dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana). Dalam perkembangannya berbagai materi dalam KUHPerdata dan KUHDagang setelah Indonesia merdeka memisahkan diri dalam bentuk lahirnya undang-undang tersendiri seperti Undang-undang-undang Pokok Agraria, Undang-undang-undang Tenaga Kerja, undang Perseroan Terbatas, undang Merk, Undang-undang Rahasia Dagang. Di negara asalanya sendiri ketiga kitab Undang-undang-Undang-undang ini telah mengalami berkali-kali perubahan, di Indonesia perubahan itu terjadi dengan lahirnya berbagai undang-undang baru yang dulunya diatu dalam KUHPerdata, KUHDagang dan KUHPidana. perubahan undang-undang ini juga terjadi oleh karena adanya keputusan-keputusan pengadilan yang menetapkan penafsiran terhadap undang-undang tersebut dan akhirnya menjadi yurisprudensi28.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, kemudian dalam rangka menjalankan pembangunan nasional, pada tahun 1967, indonesia mengundang kembali datangnya modal asing dan mendorong perdagangan internasional indoensia ke pasar dunia, serta melakukan pinjaman-pinjaman luar negeri dari negara-negara maju. Kemdian pengaruh Common Law secara perlahan masuk mempengaruhi hukum indonesia melalui perjanjian-perjanjian atau konvensi-konvensi internasional dimana indonesia menjadi anggotanya, perjanjian antara para pengusaha, lahirnya institusi-institusi keuangan baru dan pengaruh sarjana hukum yang mendapat pendidikan di negara-negara Common Law seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.
Datangnya modal asing ke Indonesia menyebabkan indonesia menjadi anggota berbagai konvensi internasional dimana hukum Common Law adalah dominan. Perjanjian yang terakhir amat mempengaruhi Indonesia dalam bidang
hukum Ekonomi adalah GATT (General Agreement on Tariff and Trade) atau WTO (World Trade Organization), TRIMs (Trade Related Invesment Measures) atau peraturan di bidang investasi yang berhubugan dengan perdagangan dan TRIPs (Trade Related Intellectual Property Rights) atau peraturan yang berhubungan dengan hak milik intelektual, banyak mempengaruhi undang-undang di bidang hak milik dan investasi di Indonesia. Kemudian datangnya modal asing yang dalam implementasinya melahirkan antara lain Joint Venture Agreement, perusahaan-perusahaan waralaba negara-negara maju yang memperkenalkan Indonesia pada Franchise Agreement, berbagai perusahaan Indonesia yang memerlukan pinjamanan jangka pendek membawa mereka kepada pengenalan
Commercial Paper (CP). Kesemuanya itu datang dari Common Law sistem yang sebelumnya tidak dikenal di Indoensia.
Badan-badan internasional yang didominasi oleh Common Law secara tidak disadari juga membawa unsur-unsur sistem hukum tersebut kedalam undang-undang nasional Indonesia. “Classs Action” diperkenalkan dalam gugatan perlindungan lingkungan hidup, “Derivative Action” di perkenalakan dalam gugatan pemegang saham minoritas kepada direksi dan komisaris PT atas nama perusahaan, yang sebelumnya hal-hal tersebut tidak dikenal dalam hukum Acara Perdata Indonesia yang berasal dari Civil Law sistem. Sarjana hukum indonesia yang mendapat pendidikan master dan doktor di Negara-negara Common Law
seperti Amerika Serikat, inggris dan Australlia mendorong pula secara tidak langsung pengaruh Common Law dalam undang-undang di Indonesia.
Pluralisme hukum sebagai pengejewantahan pancasila dalam mengakomodir kemajemukan masyarakat indonesia.
Secara umum, kompleksitas entitas sistem hukum yang umum bisa kita kategorikan kedalam sistem hukum negara, yang di wakili oleh sistem hukum
civil law dan common law, dan sistem hukum rakyat, yang diwakili oleh hukum adat masing-masing daerah dan hukum islam. kompleksitas pluralisme hukum, baik dalam sistem hukum negara maupun sistem hukum rakyat dalam kehidupan sehari-hari selalu saja dapat dijumpai adanya bermacam-macam sistem hukum lain disamping hukum negara, yaitu hukum adat, agama kebiasaan-kebiasaan, kesepakatan-kesepakatan atau konvensi-konvensi sosial lainnya yang sudah di hayati sebagai “hukum” oleh masyarakat. Sangat perlu disadari, bahwa dalam hal ini hukum negara bukanlah satu-satunya acuan yang mengatur hubungan sosial warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Semua sistem hukum tersebut menjadi acuan dan sama-sama mempengaruhi dalam prilaku orang dalam berinteraksi dengan orang lain dan ketika masing- masing sisem hukum yang berbeda itu bertemu dalam suatu kasus, biasanya yang terjadi adalah konflik, meskipun bisa juga terjadi sebaliknya. Contoh kasus yang bisa kita lihat terhadap bentuk dari konflik ialah kerusuhan-kerusuhan yang terjadi diberbagai tempat di tanah air beberapa waktu silam, seperti kiris Aceh dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka/GAM (1976), krisis papua dengan Gerakan papua merdeka (1965), krisis Ambon yang memicu perpecahan antar bangsa karena keyakinan (1999/2000), krisis poso yang juga bernuansa SARA di sulawesi tengah (1998), persitiwa Dayak-Madura dari peristiwa sanggau leddo di kalimantan barat (1996) dan sampit di kalimantan tengah (2001), kerusuhan ketapang di jakarta (1998), peristiwa bom bali (2002 dan 2005), persitiwa seputar jamaah ahmadiyah di cikeustik, banten (2011), peristiwa sunni-syiah di sampang, madura (2012) dan masih beragamnya konflik-konflik yang terjadi hingga yang terbaru insiden di tolikara, papua (2015).
Apa yang dikatakan oleh von savigny, mengenai tiap bangsa mempunyai jiwanya masing-masing yang kemudian disebut dengan Volkgeist, di indonesia, bangsa mendahului adanya negara, sehingga kebangsaan indonesia merefleksiakan suatu kesatuan dalam keragaman serta kebaruan dalam kesilaman29. Dalam ungakapan Clifford Geertz30, “indonesia ibarat anggur tua
dalam botol baru, alias gugusan masyarakat lama dalam negara baru”. Hakikat indonesia adalah suatu cita-cita politk untuk mempersatukan unsur-unsur tradisi dan inovasi serta keragaman etnis, agam, budaya, dan kelas sosial ke dalam suatu “boto baru” bernama “negara-bangsa”31. Bangsa (nation) menurut Anderson32
ialah komunitas politis yang secara keseluruhan dibayangkan sebagai kerabat yang bersifat terbatas dan berdaulat. Yang dalam hal ini, pengertian dari bangsa ini bisa kita jewantahkan dengan pengertian dari komunitas etnik (suku adat). Sebagaimana yang kita ketahui di Indonesia sendiri, komunitas-komunitas etnis itu beragam banyaknya dan majemuknya yang kemudian melebur menjadi satu kesatuan bangsa, yaitu bangsa indonesia seiring proses membangun dan membentuk Negara Kesatuan republik Indonesia.
Meskipun faktor budaya memainkan peran penting dalam persatuan bangsa, kunci pokok yang mempersatuakan bangsa ini buknlah kesamaan budaya, agama, dan etnisitas, melainkan karena adanya Negara Persatuan yang menampung cita-cita politik bersama, mengatasi segala paham golongan dari perseorangan33.
Dengan arus globalisasi yang semakin luas cakupannya, dalam penetrasinya, dan instan kecepatannya, setiap negara bukan saja menghadapi potensi ledakan pluralisme dari dalam, melainkan juga teanan keragaman dari luar. Memasuki awal milenium baru, terjadi berbagai perubahan yang cepat,
29 Yudi latif, Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Gramedia, Jakarta, 2011, Ibid, hlm. 250.
30 Ibid.
31 Ibid, hlm. 356. 32 Ibid..
dinamis, dan mendasar dalam tata pergaulan dan kehidupan antar bangsa dan masyarakat34.
Pada ranah negara-bangsa (nation state), globalisasi menarik (pull away)
sebagian dari kedaulatan negara-bangsa dan komunitas lokal untuk mngikuti tuntutan global. Saat yang sama, globalisasi juga menekan (push down) negara-bagian ke bawah, melahirkan tuntutan bagi otnomi lokal dan kepentingan untuk mengepresikan perbedaan identitas35. Apa yang perlu diwaspadai dari
kecenderungan ini bukanlah dialektika yang tidak terhindarkan dari identitas/perbedaan, melainkan suatu kemungkinan munculnya keyakinan atavistik bahwa identitas hanya bisa dipertahanakan dan diamankan dengan cara menghabisi perbedaan dan keberlainan (otherness), yang dapat membawa bentrokan antaridentitas dalam rumah tangga kebangsaan36.
Sehingga dalam situasi seperti itu, untuk selalu memahami pluralitas-pluralitas dalam pliralisme hukum yang terjadi tanpa menciderai esensi dari negara kesatua kita ialah selalu melihat prinsip ketiga pancasila meletakkan dasar kebangsaan sebagai simpul persatuan indonesia sebagai suatu konsepsi kebangsaan yang mengekspresikan persatuan dalam keragaman dan keragaman dalam persatuan (unity in diversity, diversity in unity), yang dalam slogan negara dinyatakan dalam ungkapan “Bhineka Tunggal Ika”37.
PENUTUP DAN KESIMPULAN
Sebagai negara kesatuan indonesia yang mempunyai kondisi budaya dan masyarakat majemuk, mau tidak mau dalam menjalankan pemerintahannya harus mengubah haluan yang dulunya bercorak sentralisasi kekuasaan pemerintahan pusat ke arah desentralisi kekuasaan ke daerah. Sehingga dengan berubahnya haluan kekuasaan, membuka keran demokrasi mengalir di indonesia dengan deras kemudian ditambah dengan sejarah bangsa indonesia berupa komunitas etnik
34 Ibid. Hlm. 378 35 Ibid.
(suku adat) yang lebih dulu ada daripada negara itu sendiri kemudian terbentuknya negara modern ditambah dengan terjadinya globalisasi ekonomi, politik dan hukum, maka realitas yang terjadi di lapangan sosial di Indonesia saat ini ialah terjadinya Pluralisme hukum.
Realitas Pluralisme hukum diindonesia merupakan sesautu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pluralisme hukum layaknya sebuah koin memiliki dua mata sisi, di sisi lain hal ini merupakan realitas yang bisa memecah integritas kesatuan nasioanal indonesia akibat kesemrawutan atau ketidakpastian hukum yang terjadi dalam skala negara kesatuan, tetapi di sisi lain bisa menjadi manfaat dan perekat bagi perbedaan-perbedaan masyarakat indonesia yang majemuk dalam merajut persatuan indonesia jika dipahami dengan cara yang benar melalui sudut pandang sosiolog hukum dan pancasila sebagai jiwa bangsa (Volkgeist)
Indonesia. maka dari itu sebagai saran dari penulis untuk kedepannya dalam merancang dan membentuk hukum nasional indonesia ialah baiknya selalu memeperhatikan semangat, nilai-nilai atau jiwa bangsa dari indonesia yang tersebar di tiap suku adat yang ada di pelosok negeri indonesia, sehingga harapannya hukum nasional bisa menjadi sarana perekat dari kemajemukan-kemajemukan masyarakat indonesia yang mempunyai bangsa yang majemuk paripurna (par excellence) untuk selalu bisa mengokohkan semangat kebersamaan dalam persatuan bangsa dan tetap kokoh dari segala goncangan pengaruh negatif globalisasi dari luar.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul manan, 2006, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta.
E.K.M. Masinambow, 2003, Hukum Dan Kemajemukan Budaya: Sumbangan Karangan Untuk Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-70 Prof. D. T.O. Ihromi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.Hartono, pancasila ditinjau dari segi historis, rineka cipta, jakarta, 1992
John glissen & Frits gorlw, 2007, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, Refika Aditama, Bandung.
Munir fuady, 2009, Sejarah Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor.
Rezki Ramadhani, nabila desyatika putri, & Wafia desinta, 2015, Hukum Dalam Bunga Rampai Pemikiran, Genta Press, Yogyakarta.
Soehino, 1998, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta.
Sudikno Mertokusumo, 2003, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta.
Sudikno mertokusumo, 2011, Teori Hukum, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
W Friedman, 1993, Teori Dan Filsafat Hukum, PT RajaGraindo Persada, Jakarta.
Yudi latif, 2011, Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Gramedia, Jakarta.
Makalah dan Jurnal
Erman Raja gukguk, Ilmu Hukum Indonesia: Pluralisme (online),
I Nyoman Nurjaya, Perkembangan Pemikiran Konsep Pluralisme hukum (online),
http://huma.or.id/wp-content/uploads/2006/08/perkembangan-pemikiran-konsep-pluralisme-hukum_I-Nyoman-Nurjaya.pdf, diakses pada tanggal 9 november 2015
Internet
Http://www.academica.edu/2479524/Ubi_Societas_ibi_ius, diakses pada tanggal 3 november 2015
Http://m.hukumonline/berita/bacahol15089/pluralisme-hukum-harus-diakui, diakses pada tanggal 9 november 2015
Http://www.pustakaindonesia.org/memahami-fungi-dan-tujuan-pancasila/, diakses pada tanggal 12 november 2015