• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Effect of Work to Family Conflict an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "The Effect of Work to Family Conflict an"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

HALAMAN JUDUL

SKRIPSI

PENGARUH KONFLIK PEKERJAAN-KELUARGA DAN KONFLIK KELUARGA-PEKERJAAN PADA KEPUASAN KERJA DENGAN DUKUNGAN

SOSIAL DARI REKAN KERJA SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI: Studi pada Personel TNI-AD di Akademi Militer Magelang

Dosen Pembimbing: T. Hani Handoko, Dr., M.B.A.

Disusun oleh: Amifa Nindyasari 11/315666/EK/18476

Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

(2)
(3)
(4)
(5)

LEMBAR BEBAS P LAG IARISM E

KATA PENGANTAR

Ucapan syukur tanpa batas penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas setiap

keberkahan-Nya, yang telah memberikan segala kekuatan, kemampuan, kesabaran,

dan kelancaran kepada penulis untuk melakukan penelitian sehingga dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja dengan Dukungan Sosial dari Rekan Kerja sebagai Variabel Pemoderasi: Studi pada Personel TNI-AD di Akademi Militer Magelang”.

Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Dengan segala

kerendahan hati dan penuh rasa hormat, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Sahid Susilo Nugroho, Dr., M.Sc., Ketua Jurusan Manajemen FEB

UGM sekaligus dosen pembimbing akademik saya, yang telah memberikan

banyak masukan berharga.

2. Bapak T. Hani Handoko, Dr., M.B.A., yang selalu sabar dalam membimbing

saya menyelesaikan karya ini, mengoreksi setiap detail kesalahan yang saya

lakukan, mengajarkan saya arti bekerja keras, pantang menyerah, objektivitas,

integritas, dan profesionalitas.

3. Mayjen TNI Hartomo, Gubernur Akademi Militer, atas kebaikan hati serta

(6)

4. Bapak Teguh Budiarto, Drs., M.I.M. dan Ibu Widya Paramita, S.E., M.Sc.,

selaku dewan penguji, atas kritik dan saran yang membangun.

5. Bapak Irfan Nursasmito, Drs., Ak., M.Si., yang mengajarkan kepada saya

tentang kepedulian dan mengingat Tuhan dimanapun seorang manusia berada.

Kepada keluargaku, Ayah dan Ibu, terimakasih atas cinta dan doa tulus

yang tak pernah putus; Adik-adikku, yang selalu memberikan motivasi untuk

menyelesaikan karya ini dan membuatku berusaha yang terbaik agar dapat

menjadi teladan bagi kalian; Nenekku, yang selalu mengajariku mengambil

hikmah dari setiap kejadian dan mengingatkanku untuk terus bersyukur.

Kepada rekan-rekan FEB UGM 2011, khususnya rekan-rekan di kelas

seminar Manajemen Sumberdaya Manusia dan Stratejik, terimakasih atas

tahun-tahun terbaik, diskusi bermakna, kemauan saling berbagi, dan canda

tawa yang membekas di hati.

Kepada keluarga besar BEM KM UGM dan Tim KKN PPM UGM

Unit NTB-01, terima kasih telah menjadi keluarga kedua bagiku, mewadahi

dan membinaku dalam tempat terbaik, mewarnai hidupku dan senantiasa

menghibur di saat penat.

Kepada para sahabat terbaik dan orang terkasih, terima kasih atas

setiap tepukan pundak, waktu yang sangat berharga, pesan singkat

(7)

waktu, senyum yang sangat berarti, dan kebersamaan disaat senang maupun

susah.

Kepada orang-orang yang berada di balik layar, seluruh karyawan

perpustakaan dan akademik FEB UGM, karyawan Perpustakaan Pusat UGM,

dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah

membantu penulis dalam mewujudkan karya ini, terima kasih atas setiap

bantuan tulus yang diberikan, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan

kalian.

Keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang penulis miliki membuat penulis

menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna.

Untuk itu, saran dan kritik yang membangun akan penulis terima dengan senang hati

demi penyempurnaan ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang.

Penulis berharap karya sederhana ini dapat memberikan sumbangan yang

cukup berarti bagi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Manajemen Sumberdaya

Manusia, dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya kelak.

Yogyakarta, Desember 2015

(8)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini aku persembahkan untuk:

Ayah, Ibu, dan orang-orang terkasih disekelilingku,

untuk selalu ada di setiap aku berproses.

Serta untuk pihak-pihak yang membutuhkan,

(9)

Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja dengan Dukungan Sosial dari Rekan Kerja sebagai Variabel

Pemoderasi: Studi pada Personel TNI-AD di Akademi Militer Magelang

Amifa Nindyasari 11/315666/EK/18476 Program Studi S1 Manajemen

Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada

Dosen Pembimbing: T. Hani Handoko, Dr., M.B.A.

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan pada kepuasan kerja personel TNI-AD. Selain itu, penelitian ini juga berfokus pada efek pemoderasian dukungan sosial dari rekan kerja terhadap pengaruh konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan pada kepuasan kerja.

Penelitian ini bersifat kuantitatif dan dirancang untuk menguji hipotesis. Data penelitian ini merupakan data primer cross-sectional yang diambil dari 75 personel TNI-AD di Akademi Militer Magelang dan diuji dengan analisis regresi moderasian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan berpengaruh negatif signifikan pada kepuasan kerja. Selain itu, dukungan sosial dari rekan kerja terbukti dapat memoderasi hubungan antara konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan pada kepuasan kerja.

(10)

The Effect of Work-to-Family Conflict and Family-to-Work Conflict on Job Satisfaction with Co-workers Support as a Moderating Variable: Study on Indonesian

Army Personnel in Military Academy Magelang

Amifa Nindyasari 11/315666/EK/18476

Management Undergraduate Program

Faculty of Economics and Business, Gadjah Mada University

Bachelor Thesis Supervisor: T. Hani Handoko, Dr., M.B.A.

ABSTRACT

This study aims to examine and analyze the effect of work-to-family conflict and family-to-work conflict among Indonesian Army personnel’s job satisfaction. Moreover, this study focuses on exploring the moderating effect of co-workers support on the relationship of work-to-family conflict and family-to-work conflict with job satisfaction.

This study is quantitative in nature and designed to test the hypothesis. The data for the present study were primary cross-sectional data collected from a total of 75 Indonesian Army personnel in Military Academy Magelang and tested with moderated regression analysis.

The result of the study show that work-to-family conflict and family-to-work conflict turns out to have a significant negative effect on job satisfaction. Moreover, co-workers support is observed to significantly moderate the effect of work-to-family conflict and family-to-work conflict on job satisfaction.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR BEBAS PLAGIARISME ... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

INTISARI ... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ……….. xi

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ………... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ………. xvii

I. PENDAHULUAN ………... 1

A. Latar Belakang ………... 1

B. Rumusan Masalah ………... 6

C. Tujuan Penelitian ………... 6

(12)

II. LANDASAN TEORI ……….. 9

A. Tinjauan Literatur………... 9

1. Konflik-Pekerjaan-Keluarga………... 9

2. Kepuasan Kerja ……….………... 13

3. Dukungan Sosial………...……….... 20

B. Pengaruh Antar-Variabel dan Hipotesis ……….... 24

1. Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluaga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja…………. . 24

2. Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja dengan Dukungan Sosial dari Rekan Kerja sebagai Variabel Pemoderasi……….... 26

C. Kerangka Teoritis………... 29

III. METODE PENELITIAN ……….. 30

A. Desain Penelitian ………... 30

B. Populasi dan Sampel ……….. 30

C. Metode Pengumpulan Data ………... 32

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ….…………. .. 32

(13)

2. Variabel Dependen: Kepuasan Kerja (Job

Satisfaction)... 34

3. Variabel Pemoderasi: Dukungan Sosial (Social Support) ... 35

4. Variabel Kontrol... 36

E. Metode Analisis Data ………... 38

1. Uji Instrumen Penelitian... 38

2. Uji Hipotesis: Moderated Regression Analysis (MRA) ... 40

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……… 42

A. Gambaran Umum Organisasi ……….... 42

1. Sejarah Akmil ... 42

2. Akmil Saat Ini ... 44

B. Hasil Pengumpulan Data ………... 48

C. Karakteristik Responden ………... 49

D. Hasil Uji Validitas ………. 50

E. Hasil Uji Reliabilitas ……….. 52

F. Statistik Deskriptif ..……….. 53

G. Hasil Uji Multikolinearitas ... 55

H. Hasil Pengujian Hipotesis ……….. 56

(14)

2. Hasil Pengujian Hipotesis 1b……… 60

3. Hasil Pengujian Hipotesis 2a ……… 60

4. Hasil Pengujian Hipotesis 2b……… 61

I. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis ……… 62

J. Pembahasan……… 63

V. PENUTUP ….………... 66

A. Simpulan ……… 66

B. Implikasi Penelitian ………... 68

C. Keterbatasan dan Saran Penelitian Mendatang ... 70

REFERENSI ………... 73

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Penyebaran Kuesioner ... 48

Tabel 4.2 Karakteristik Responden ... 49

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Kaiser-Meyer Olkin and Barlett’s ... 50

Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas Component Matrix ... 51

Tabel 4.5 Hasil Uji Reliabilitas Cronbach’s Alpha ... 53

Tabel 4.6 Mean, Deviasi Standar, dan Korelasi Antar-Variabel ... 54

Tabel 4.7 Hasil Uji Multikolinearitas ... 55

Tabel 4.8 Hasil Analisis Regresi Moderasian KPK*DS ... 56

Tabel 4.9 Hasil Analisis Regresi Moderasian KKP*DS ... 57

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Penelitian ... 29

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Kuesioner Penelitian ... 77

Surat Izin Penelitian ... 82

Data Penelitian ... 83

Karakteristik Responden ... 92

Hasil Uji Validitas... 94

Hasil Uji Reliabilitas ... 98

Statistik Deskriptif dan Korelasi Antar-Variabel ... 102

Hasil Uji Multikolinearitas ... 103

Hasil Uji Moderated Regression Analysis (MRA) ... 105

Moderasi KPK*DS ... 105

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pekerjaan dan keluarga merupakan dua unsur yang paling signifikan

dalam kehidupan individu. Untuk menjalankan tanggung jawab dari

masing-masing domain, baik pekerjaan maupun keluarga, individu membutuhkan jumlah

dan kualitas waktu dan energi yang banyak. Namun, seringkali dalam usahanya

untuk menyeimbangkan berbagai peran di kedua domain tersebut justru dapat

meningkatkan konflik interpersonal dan konflik intrapersonal di dalam diri

individu, yang pada akhirnya menyebabkan konflik-pekerjaan-keluarga (Rathi &

Barath, 2013). Konflik-pekerjaan-keluarga merupakan sebuah bentuk konflik

antar-peran (inter-role conflict), yang disebabkan oleh tuntutan peran dari satu

domain (pekerjaan atau keluarga) yang bertentangan dengan tuntutan peran dari

domain lainnya (keluarga atau pekerjaan) (Greenhaus & Beutell, 1985).

Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Beutell (2010);

Kinnunen, Feldt, Mauno, dan Rantanen (2010); serta Kosek dan Ozeki (1998),

menunjukkan bahwa konflik-pekerjaan-keluarga adalah konflik dua dimensi.

Dimensi pertama mengindikasikan sumber munculnya konflik berasal dari peran

dalam pekerjaan yang mengganggu peran dalam keluarga (konflik

(19)

berasal dari peran dalam keluarga yang mengganggu peran dalam pekerjaan

(konflik keluarga-pekerjaan). Untuk selanjutnya, frasa “konflik

-pekerjaan-keluarga” atau “work-family conflict” akan mengacu pada dua hal sekaligus,

yaitu konflik pekerjaan-keluarga (work-to-family conflict) dan konflik

keluarga-pekerjaan (family-to-work conflict).

Hasil penelitian lintas negara dan lintas budaya yang dilakukan oleh

Beutell (2010); Kinnunen et al. (2010); Lu, Cooper, Kao, Chang, Allen, Lapeirre,

O‟Driscoll, Poelmans, Sanchez, dan Spector (2010); Karatepe dan Kilic (2007);

Spector, Allen, Poelmans, Lapierre, Cooper, O‟Driscoll, Sanchez, Abarca,

Alexandrova, Beham, Brough, Perreiro, Fraile, Lu, Lu, Moreno-Vela´zuez,

Pagon, Pitariu, Salamatov, Shima, Simoni, Siu, dan Widerszal-Bazyl, (2007);

serta Kosek dan Ozeki (1998) menemukan bahwa, tingginya level

konflik-pekerjaan-keluarga dapat mengganggu dan merugikan karyawan dan juga

organisasi. Secara spesifik, penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa

konflik-pekerjaan-keluarga berakibat pada meningkatnya turnover intention dan

parental distress, serta dapat menurunkan tingkat kepuasan kerja, komitmen

organisasional, dan kepuasan keluarga.

Hubungan antara konflik-pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja serta

variabel-variabel terkait lainnya secara luas telah diteliti pada karyawan di

berbagai jenis pekerjaan, seperti pada karyawan di perusahaan pembuat software

(Scholarios & Marks, 2004), pada karyawan hotel (Grandey, Cordeiro, &

(20)

pada profesor (Namasivayam & Zhao, 2007), dan pada personel polisi (Rathi &

Barath, 2013). Namun, belum ada penelitian serupa yang dilakukan pada

personel tentara, khususnya personel Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Menjadi seorang personel TNI bukanlah hal yang mudah. Tuntutan kerja

yang begitu besar dan kewajiban untuk mengabdikan diri pada negara secara

penuh menjadikan mereka sulit untuk mengalokasikan waktu bersama keluarga.

TNI juga terikat dengan norma dan aturan yang lebih ketat dibandingkan dengan

kehidupan warga sipil biasa. Dalam pidatonya yang dikutip oleh situs berita

online www.antaramaluku.com, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Wiyarto

menyatakan bahwa tugas TNI ke depan akan semakin berat dan rumit sesuai

dengan tuntutan perkembangan zaman. Prajurit TNI harus benar-benar

memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta teknologi

yang berkembang saat ini. Selain itu, prajurit TNI dituntut untuk selalu disiplin,

memiliki semangat pengabdian dan jiwa juang yang tinggi, memiliki etos kerja

yang tinggi, memiliki moral dan etika yang baik, dan selalu mengedepankan

kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, termasuk keluarga.

Kondisi kerja TNI yang menekankan pada rantai komando, membuat

sebagian besar personel TNI merasa tertekan karena harus mematuhi seluruh

perintah atasannya tanpa terkecuali, termasuk bersedia untuk ditugaskan

kapanpun dan dimanapun, walaupun harus meninggalkan keluarga. Padahal,

Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai budaya kolektivisme, yaitu

(21)

untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan tanggung jawab keluarga (Hofstede,

2010), karena hal tersebut menduduki posisi sentral dalam hidupnya. Apabila hal

tersebut tidak dapat terpenuhi, maka akan menyebabkan timbulnya sikap negatif

terhadap pekerjaan (Parasuraman & Simmers, 2001) dan menurunnya kepuasan

pada kehidupan keluarga (Rathi & Barath, 2013).

Pada personel TNI, tuntutan tugas yang tinggi, jam kerja yang tidak

fleksibel, serta atasan yang otoriter, membuat mereka tidak mempunyai cukup

waktu untuk dihabiskan bersama anggota keluarga mereka. Sehingga, mereka

tidak mendapatkan dukungan sosial yang cukup, baik dari keluarga maupun dari

atasannya. Hampir sepanjang waktu mereka habiskan di kantor bersama dengan

rekan kerjanya untuk menyelesaikan tugas. Rekan kerja menjadi partner utama

untuk bergantung satu sama lain, untuk saling memberikan dukungan baik

dukungan sosial maupun dukungan emosional, dan untuk mendiskusikan

berbagai masalah yang dihadapi. Jadi, dukungan sosial dari rekan kerja

mempunyai peranan yang sangat signifikan pada kehidupan personal dan

kehidupan profesional personel TNI.

Secara umum, penerimaan dukungan sosial di tempat kerja dapat

mengurangi dampak negatif konflik-pekerjaan-keluarga, khususnya pada

kepuasan kerja dan kepuasan keluarga (Rathi & Barath, 2013). Dukungan sosial

dari rekan kerja akan membuat karyawan merasa bahwa dirinya tidak sendirian,

merasa diperhatikan, dihargai, dan dicintai (Ng & Sorensen, 2008). Menurut

(22)

membantu seseorang dalam menghadapi masalah dan menyelesaikan

tantangan-tantangan dalam pekerjaan. Selain itu, dukungan sosial dari rekan kerja juga

dapat memicu timbulnya rasa percaya diri dan kompeten (O‟Driscoll, Brough, &

Kalliath; 2004), meningkatkan produktivitas, serta dapat mengurangi tingkat

stres yang dialami akibat berbagai tekanan (Johnson & Johnson, 2000). Oleh

karena itu, dukungan sosial dari rekan kerja dapat membuat suatu pekerjaan

menjadi lebih berarti, sehingga dampak negatif dari konflik-pekerjaan-keluarga

pada kepuasan kerja pun dapat dikurangi.

Untuk menganalisis lebih jauh mengenai fenomena tersebut, peneliti

bermaksud untuk merancang sebuah penelitian mengenai pengaruh

konflik-pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja dengan menjadikan personel TNI

sebagai subjek penelitian. Selain itu, rancangan penelitian ini juga bertujuan

untuk menganalisis efek pemoderasian dukungan sosial dari rekan kerja pada

hubungan antara dimensi konflik-pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja.

(23)

B. Rumusan Masalah

Penelitian ini dirancang untuk menguji pengaruh pemoderasian dukungan

sosial dari rekan kerja terhadap konflik-pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka secara lebih rinci, rumusan

permasalahan dalam penelitian ini dapat diwujudkan dalam pertanyaan penelitian

sebagai berikut:

1 a. Apakah konflik pekerjaan-keluarga berpengaruh negatif pada kepuasan

kerja?

b. Apakah konflik keluarga-pekerjaan berpengaruh negatif pada kepuasan

kerja?

2 a. Apakah dukungan sosial dari rekan kerja memoderasi hubungan antara

konflik pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja?

b. Apakah dukungan sosial dari rekan kerja memoderasi hubungan antara

konflik keluarga-pekerjaan dan kepuasan kerja?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, tujuan dilakukannya penelitian ini

adalah untuk:

1 a. Menganalisis dan menguji pengaruh negatif konflik pekerjaan-keluarga

(24)

b. Menganalisis dan menguji pengaruh negatif konflik keluarga-pekerjaan

pada kepuasan kerja.

2 a. Menganalisis dan menguji pengaruh pemoderasian dukungan sosial dari

rekan kerja terhadap pengaruh konflik pekerjaan-keluarga pada kepuasan

kerja.

b. Menganalisis dan menguji pengaruh pemoderasian dukungan sosial dari

rekan kerja terhadap pengaruh konflik keluarga-pekerjaan pada kepuasan

kerja.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi organisasi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

evaluasi, sehingga organisasi dapat meningkatkan komitmennya dalam

mengurangi dan bahkan menyelesaikan permasalahan terkait

konflik-pekerjaan-keluarga dengan cara meningkatkan dukungan sosial dari

organisasi, terutama dari rekan kerja, sehingga dapat mengurangi dampak

(25)

2. Bagi karyawan terkait

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan

dan masukan bagi karyawan dalam organisasi tentang pentingnya

pengaruh dukungan sosial, terutama dari rekan kerja, untuk mengurangi

dampak negatif konflik-pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja serta

membantu mengintegrasikan peran dalam pekerjaan dan keluarga,

sehingga dapat mengurangi konflik antar-peran.

3. Bagi akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

yang cukup berarti terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang

manajemen sumberdaya manusia, mengenai pengaruh pemediasian

dukungan sosial dari rekan kerja terhadap konflik-pekerjaan-keluarga

pada kepuasan kerja pada prajurit Tentara Nasional Indonesia yang

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Literatur

1. Konflik-Pekerjaan-Keluarga (Work-Family Conflict) a. Definisi Konflik-Pekerjaan-Keluarga

Menurut Greenhaus dan Beutell (1985), konflik-pekerjaan-keluarga

adalah salah satu bentuk konflik antar-peran yang terjadi karena tekanan atau

ketidakseimbangan peran antara peran seorang individu didalam pekerjaannya

dengan peran individu didalam keluarga. Frone, Russell, dan Cooper (1992)

mendefinisikan konflik-pekerjaan-keluarga sebagai konflik peran yang terjadi

pada karyawan, dimana disatu sisi ia harus melakukan pekerjaan di kantor dan

disisi lain ia harus memperhatikan keluarga secara utuh, sehingga sulit untuk

membedakan antara pekerjaan mengganggu keluarga dan keluarga mengganggu

pekerjaan.

Menurut Gutek et al. (dalam Ariani, 2013), pekerjaan dan keluarga

merupakan dua hal yang terkait satu sama lain dan memiliki hubungan yang

bersifat dua arah, artinya pekerjaan dapat mempengaruhi keluarga dan keluarga

dapat mempengaruhi pekerjaan. Pendapat ini memunculkan dua tipe yang

berbeda dari konflik-pekerjaan-keluarga. Menurut Williams dan Alliger, (dalam

Beutell, 2010), berdasarkan sumber munculnya konflik,

(27)

pekerjaan-keluarga (work-to-family conflict) dan konflik keluarga-pekerjaan (

family-to-work conflict).

1) Konflik pekerjaan-keluarga (work-to-family conflict)

Netemeyer, Boles, dan McMurrian (1996) menjelaskan bahwa

konflik pekerjaan-keluarga diartikan sebagai bentuk konflik antar-peran

yang disebabkan oleh tuntutan, waktu yang dihabiskan, dan ketegangan

yang diciptakan oleh pekerjaan mengganggu pelaksanaan tanggung jawab

terkait dengan keluarga. Hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya

konflik pekerjaan-keluarga diantaranya karakteristik dan stressor dari

peran di pekerjaan, seperti kurangnya dukungan dari supervisor, jam kerja

yang terlalu panjang dan beban kerja yang berat (Frone et al., 1992).

Contoh konflik pekerjaan yang bertentangan dengan kehidupan

keluarga adalah saat seorang karyawan tidak dapat menghadiri pertemuan

orang tua di sekolah anaknya karena harus melakukan perjalanan bisnis

ke luar kota, atau karyawan yang tidak bisa menunggui anaknya yang

sedang sakit karena adanya kepentingan pekerjaan.

2) Konflik keluarga-pekerjaan (family-to-work conflict)

Konflik keluarga-pekerjaan diartikan sebagai bentuk konflik

antar-peran yang disebabkan oleh tuntutan, waktu yang dihabiskan, dan

ketegangan yang diciptakan oleh kehidupan keluarga mengganggu

pelaksanaan tanggung jawab terkait dengan pekerjaan (Netemeyer et al.,

(28)

untuk menyelesaikan urusan keluarga sehingga mengganggu pekerjaan.

Hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya konflik keluarga-pekerjaan

diantaranya karakteristik dan stressor dari keluarga, seperti memiliki anak

(Frone et al., 1992).

Contoh konflik keluarga yang bertentangan dengan tanggung

jawab pekerjaan adalah saat seorang karyawan tidak dapat masuk kerja

dikarenakan anaknya sakit, atau saat karyawan terlambat datang ke kantor

karena harus mengantar anaknya pergi ke sekolah. Menurut Bragger,

Rodriguez-Srednicki, Kutcher, Indovino, dan Rosner (2005), tuntutan

keluarga terkait dengan anak membutuhkan komitmen waktu yang

fleksibel dan perhatian pada munculnya hal-hal yang tidak terduga.

Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa

konflik-pekerjaan-keluarga merupakan salah satu bentuk konflik antar-peran yang

disebabkan oleh adanya tekanan peran, yaitu peran dalam pekerjaan dan

keluarga. Kehadiran salah satu tuntutan peran yang berlebihan akan

menyebabkan kesulitan dalam memenuhi tuntutan peran yang lain.

b. Dimensi Konflik-Pekerjaan-Keluarga

Menurut Greenhaus dan Beutell (1985), konflik-pekerjaan-keluarga dapat

(29)

1) Time-based Conflict

Time-based conflict adalah konflik yang terjadi karena waktu yang

digunakan untuk menjalankan salah satu peran (dalam pekerjaan atau

keluarga) dapat mengurangi waktu untuk menjalankan peran yang

lainnya. Konflik ini biasanya terjadi pada karyawan yang memiliki jadwal

yang padat dan tidak fleksibel atau pada pekerja yang mempunyai banyak

pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, misalnya pekerja yang juga

sekaligus berperan sebagai ibu rumah tangga.

2) Strain-based Conflict

Strain-based conflict adalah konflik yang terjadi karena tekanan

dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran yang lainnya. Konflik

peran yang dialami seseorang dalam pekerjannya akan menguras energi

yang sebenarnya dibutuhkan untuk menjalankan peran dalam keluarga

dan sebaliknya. Konflik ini biasanya terjadi pada karyawan yang

memiliki ambiguitas peran kerja dan karyawan yang mempunyai

pekerjaan yang membosankan sehingga memicu timbulnya stres dan

depresi.

3) Behavior-based Conflict

Behavior-based conflict adalah konflik yang terjadi karena

ketidaksesuaian antara pola perilaku dengan yang diinginkan oleh kedua

peran (pekerjaan maupun keluarga). Di dalam pekerjaannya, seorang

(30)

dalam keluarga, seseorang diharapkan mampu berperilaku hangat dan

terbuka. Hal tersebut akan menimbulkan masalah apabila dihadapi oleh

seseorang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan dan peran baru.

2. Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)

Setiap individu memiliki sumber daya yang terbatas, sehingga keterlibatan

dalam peran pekerjaan dan keluarga sering menimbulkan konflik antar-peran.

Konsekuensi dari konflik antar-peran tersebut adalah timbulnya stres,

ketidakpuasan keluarga, burnout, menurunnya komitmen organisasional, dan

menurunnya tingkat kepuasan kerja (Kismono, 2011). Semakin meningkatnya

tuntutan dari pekerjaan maupun keluarga dapat menjadi anteseden timbulnya

konflik-pekerjaan-keluarga yang kemudian juga menjadi anteseden timbulnya

ketidakpuasan terhadap organisasi dan secara langsung berpengaruh terhadap

kepuasan kerja seseorang (Ashraf et al. dalam Ariani, 2013). Kepuasan kerja

menjadi hal yang penting karena kepuasan kerja karyawan dapat mempengaruhi

kinerja organisasi secara menyeluruh.

a. Definisi Kepuasan Kerja

Menurut Luthans (2011), kepuasan kerja merupakan hasil persepsi

karyawan tentang bagaimana pekerjaan dapat memberikan sesuatu yang berarti.

(31)

oleh seseorang dengan yang lainnya berbeda, karena hal yang dianggap penting

oleh masing-masing orang juga berbeda.

Menurut Handoko (dalam Kinanti, 2014), kepuasan kerja didefinisikan

sebagai kondisi emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan,

tergantung bagaimana para karyawan memandang pekerjaan mereka.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa karyawan akan merasa

puas dalam bekerja apabila aspek-aspek pekerjaan dan aspek-aspek dalam

dirinya sendiri mendukung. Hal ini selaras dengan pendapat Robbins dan Judge

(2013) yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi

kepuasan kerja, antara lain pekerjaan yang menantang, kondisi kerja yang

mendukung, rekan kerja yang mendukung, dan kesesuaian kepribadian dengan

pekerjaan.

Sedangkan Greenberg dan Baron (2003) mendeskripsikan kepuasan kerja

sebagai sikap positif atau negatif yang dilakukan individu terhadap pekerjaan

mereka. Strause dan Sayles (dalam Kinanti, 2014) menyatakan bahwa karyawan

yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan

psikologis dan pada akhirnya akan mengalami frustasi, yang ditandai dengan

sering melamun, mempunyai semangat kerja yang rendah, cepat lelah, emosi

tidak stabil, dan sering melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya

(32)

b. Dimensi Kepuasan Kerja

Smith et al. (dalam Luthans, 2011) membagi aspek kepuasan kerja

kedalam lima dimensi yang disebut Job Descriptive Index, yaitu:

1) Pekerjaan itu sendiri (work it-self)

Karyawan cenderung memilih pekerjaan yang memberikan

kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka,

memberikan kebebasan berekspresi, serta memberikan umpan balik

tentang seberapa baik mereka bekerja. Karakteristik inilah yang membuat

suatu pekerjaan lebih menantang, dan karyawan akan merasa puas ketika

dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang kurang

menantang akan menimbulkan kebosanan, namun pekerjaan yang terlalu

banyak tantangan akan menimbulkan stres.

2) Atasan (supervisor)

Atasan mempunyai arti yang banyak bagi bawahannya. Bagi

bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur orang tua, teman, dan

sekaligus atasan. Karyawan pada umumnya lebih memilih untuk memiliki

atasan yang adil, terbuka, bersedia bekerjasama dengan bawahan dan

menghargai bawahannya.

3) Rekan kerja (co-workers)

Bagi sebagian besar karyawan, bekerja merupakan sarana untuk

(33)

cenderung menginginkan teman kerja yang ramah dan dapat menciptakan

kondisi yang kondusif di lingkungan kerja.

4) Promosi (promotion)

Promosi adalah faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya

kesempatan bagi seseorang untuk memperoleh peningkatan karir selama

bekerja. Promosi terjadi ketika seorang karyawan berpindah dari satu

pekerjaan ke pekerjaan lain yang mempunyai kedudukan dan tanggung

jawab yang lebih tinggi. Pada saat dipromosikan, karyawan umumnya

akan menghadapi tuntutan yang lebih besar. Namun, sebagian besar

karyawan akan merasa senang dan puas ketika dipromosikan.

5) Gaji atau upah (pay)

Gaji atau upah adalah faktor pemenuhan kebutuhan hidup

karyawan yang dianggap layak atau tidak. Karyawan menginginkan

sistem upah yang adil dan sesuai dengan harapannya. Ketika upah dirasa

adil, sesuai dengan tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan

tingkat standar upah, maka karyawan akan merasa puas.

Sedangkan Weiss, Rene, George, dan Llyod (1967) membagi dimensi

kepuasan kerja ke dalam 20 aspek, yaitu

1) Aktivitas (activity), adalah keadaan untuk dapat tetap sibuk sepanjang

waktu.

(34)

3) Variasi (variety), adalah kesempatan untuk melakukan hal-hal yang

berbeda dari waktu ke waktu.

4) Status sosial (social status), adalah kesempatan untuk menjadi

“seseorang” dalam kehidupan sosial organisasi.

5) Hubungan dengan atasan (supervision human relations), adalah cara

berinteraksi antara atasan dengan bawahan.

6) Kemampuan teknikal atasan (supervision technical), adalah kemampuan

atasan dalam mengambil keputusan.

7) Nilai-nilai moral (moral values), adalah kesempatan untuk melakukan

sesuatu tanpa bertentangan dengan keyakinan.

8) Keamanan (security), adalah cara organisasi memberikan rasa aman

terkait pekerjaan kepada anggotanya.

9) Pelayanan sosial (social service), adalah kesempatan untuk melakukan

sesuatu untuk orang lain.

10) Otoritas (authority), adalah kesempatan untuk memberi tahu orang lain

mengenai apa yang harus dilakukan.

11) Pemanfaatan kemampuan (ability utilization), adalah kesempatan untuk

melakukan pekerjaan dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki.

12) Kebijakan perusahaan dan penerapannya (company policies and

practices), adalah cara organisasi menerapkan kebijakan-kebijakannya.

13) Imbalan (compensation), adalah pembayaran atas pekerjaan yang telah

(35)

14) Kemahiran (advancement), adalah kesempatan untuk mendapatkan

promosi dalam pekerjaan.

15) Tanggung jawab (responsibility), adalah kebebasan untuk menggunakan

keputusan yang telah diambil.

16) Kreativitas (creativity), adalah kesempatan untuk menggunakan metode

sendiri dalam melakukan pekerjaan.

17) Kondisi kerja (working condition), adalah keadaan lingkungan dimana

karyawan bekerja.

18) Rekan kerja (co-workers), adalah cara rekan kerja bekerjasama dengan

yang lain.

19) Pengakuan (recognition), adalah pujian yang didapatkan karena

melakukan pekerjaan dengan baik.

20) Prestasi (achievement), adalah perasaan berprestasi yang didapat dari

pekerjaan.

c. Teori Kepuasan Kerja

Menurut Wexley dan Yuki (dalam Kinanti, 2014), ada tiga macam teori

kepuasan kerja yang lazim dikenal, yaitu

1) Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)

Teori ini menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan yang

dirasakan oleh individu merupakan hasil dari selisih atau kesenjangan

(36)

atau diharapkan dari pekerjaan. Individu akan merasa semakin puas

apabila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu

dengan apa yang diperoleh dari pekerjaannya semakin kecil. Sebaliknya,

Individu akan merasa semakin tidak puas apabila perbedaan atau

kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh

dari pekerjaannya semakin besar.

2) Teori Keadilan (Equity Theory)

Menurut teori ini, seseorang akan merasa puas atau tidak puas

tergantung dari apakah ia merasakan adanya keadilan atau tidak atas suatu

situasi yang ia alami. Perasaan equity atau inequity atas suatu situasi

diperoleh seseorang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang

lain yang dinilai sederajat, misalnya seseorang yang mempunyai jabatan

yang sama dengan dirinya. Ia akan membandingkan dari aspek gaji,

insentif, fasilitas yang diterima, dan lain sebagainya.

3) Teori Dua-Faktor (Two-Faktor Theory)

Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan kerja dan

ketidakpuasan kerja adalah dua hal yang berbeda. Menurut teori ini,

karakteristik pekerjaan dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu

satisfier/motivator factors dan dissatisfier/hygiene factors.

Satisfier atau motivator factors adalah faktor-faktor atau situasi

yang dapat menjadi sumber kepuasan kerja, yang terdiri dari prestasi,

(37)

tersebut akan memunculkan motivasi kerja yang kuat yang menghasilkan

prestasi kerja yang baik. Oleh sebab itu, faktor ini disebut satisfier.

Dissatisfier atau hygiene factors adalah faktor-faktor yang

ketidakberadaannya terbukti menjadi sumber ketidakpuasan kerja, yang

terdiri dari gaji, insentif, pengawasan, hubungan pribadi, kondisi kerja,

dan status. Keberadaan kondisi-kondisi ini tidak selalu menimbulkan

kepuasan bagi karyawan, namun ketidakberadaannya dapat menyebabkan

ketidakpuasan bagi karyawan.

3. Dukungan Sosial (Social Support) a. Definisi Dukungan Sosial

Dukungan sosial merupakan suatu kumpulan proses sosial, emosional,

kognitif, dan perilaku yang terjadi dalam hubungan pribadi, dimana individu

merasa mendapat bantuan dalam melakukan penyesuaian atas masalah yang

dihadapi (Dalton, Elias, & Wardersman, 2001). Lingkungan sosial berpotensi

untuk memberikan dukungan sosial bagi individu. Parasuraman, Greenhaus, dan

Granrose (1992) mengartikan dukungan sosial sebagai tersedianya hubungan

sosial, baik yang berasal dari atasan, keluarga, maupun rekan kerja seprofesi.

Senada dengan itu, Quick dan Quick (dalam Cohen & Syme, 1985) menyatakan

bahwa, dukungan sosial dapat bersumber dari jaringan sosial yang dimiliki oleh

individu, yaitu lingkungan pekerjaan (atasan, rekan kerja, dan bawahan), dan

(38)

Dukungan sosial adalah kehadiran orang lain yang dapat membuat

individu percaya bahwa dirinya dicintai, diperhatikan, dan merupakan bagian

dari kelompok sosial dimana ia mendapatkan dukungan sosial tersebut (Sheridan

& Radmacher dalam Ng & Sorensen, 2008). Rook (dalam O‟Driscoll et al.,

2004) mendefinisikan dukungan sosial sebagai salah satu fungsi pertalian sosial

yang menggambarkan tingkat dan kualitas umum dari hubungan interpersonal

yang akan melindungi individu dari konsekuensi stres. Dukungan sosial yang

diterima dapat membuat individu merasa tenang, diperhatikan, serta timbulnya

rasa percaya diri dan kompeten.

Menurut Cassel dan Cob (dalam Norris & Kaniasty, 1996), dukungan

sosial yang dirasakan secara lebih konsisten mampu meningkatkan kesehatan

psikis dan melindungi psikis dari kondisi stres. Johnson dan Johnson (2000)

mengungkapkan bahwa dukungan sosial secara umum akan meningkatkan (1)

produktivitas, melalui peningkatan motivasi, kualitas penalaran, kepuasan kerja,

dan mengurangi dampak stres kerja; (2) kesejahteraan psikologi dan kemampuan

penyesuaian diri melalui perasaan memiliki, kejelasan identitas diri, dan harga

diri; (3) kesehatan fisik; dan (4) manajemen stres yang produktif melalui

perhatian, informasi, dan umpan balik yang diperlukan untuk melakukan

penanganan terhadap stres.

Berdasarkan pengertian di atas dukungan sosial dapat disimpulkan

sebagai hadirnya seseorang (atasan, keluarga, maupun rekan kerja) untuk

(39)

b. Dimensi Dukungan Sosial

Cohen dan Syme (1985) membagi dukungan sosial ke dalam lima

dimensi, yaitu

1) Dukungan Instrumental (Instrumental Support)

Dukungan instrumental adalah dukungan berupa bantuan dalam

bentuk nyata atau dukungan material. Dukungan ini mengacu pada

penyediaan benda-benda dan layanan untuk memecahkan masalah

praktis. Contoh dukungan instrumental antara lain seperti menyediakan

alat-alat kerja, meminjamkan buku, dan memberikan uang.

2) Dukungan Informasional (Informational Support)

Dukungan informasional adalah dukungan berupa pemberian

informasi yang dibutuhkan oleh individu. Dukungan ini dibagi dalam dua

bentuk, yaitu pemberian informasi atau pengajaran suatu keahlian yang

dapat memberi solusi pada suatu masalah dan pemberian informasi yang

dapat membantu individu dalam mengevaluasi kinerja pribadinya

(appraisal support). Contoh dukungan informasional berupa pemberian

informasi, nasehat, dan bimbingan.

3) Dukungan Penghargaan (Esteem Support)

Dukungan penghargaan adalah dukungan yang terjadi bila ada

ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. Dukungan ini dapat

berupa pemberian informasi kepada seseorang bahwa dia dihargai dan

(40)

akan meningkat dengan mengkomunikasikan kepadanya bahwa ia

bernilai dan diterima meskipun tidak luput dari kesalahan.

4) Dukungan Emosional (Emotional Support)

Dukungan emosional adalah dukungan yang berhubungan dengan

hal yang bersifat emosional atau menjaga keadaan emosi, afeksi, dan

ekspresi. Dukungan ini dapat memberikan perasaan nyaman dan

membuat individu percaya bahwa dia dikagumi, dihargai, dicintai, dan

bahwa orang lain bersedia memberi perhatian dan rasa aman. Tipe

dukungan ini lebih mengacu kepada pemberian semangat, kehangatan,

cinta, dan kasih.

5) Dukungan Jaringan Sosial (Companionship Support)

Dukungan jaringan sosial adalah perasaan individu sebagai bagian

dari suatu kelompok. Dengan memenuhi kebutuhan afiliasi dan kontak

dengan orang lain, akan membantu mengalihkan perhatian seseorang dari

masalah yang mengganggu, mengurangi stres, serta menciptakan suasana

hati yang positif. Dukungan jaringan sosial dilakukan dengan

menghabiskan waktu bersama-sama dalam suatu aktivitas yang

menimbulkan kesenangan, seperti rekreasi, membicarakan minat/hobi,

(41)

B. Pengaruh Antar-Variabel dan Hipotesis

1. Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja

Konflik-pekerjaan-keluarga secara konsisten berdampak negatif bagi

individu, keluarga, dan organisasi (Lingard & Francis, 2006). Dampak negatif

konflik-pekerjaan-keluarga tersebut dapat diindikasikan dari menurunnya

kepuasan kerja, meningkatnya stres, dan munculnya penyakit yang menyerang

fisik (Lu et al., 2010). Kesenjangan antara prioritas kehidupan keluarga dan

pekerjaan menjadikan sumber stres yang terus menerus, sehingga pada akhirnya

akan mempengaruhi hasil perilaku individu. Hal tersebut disebabkan karena

setiap individu mempunyai sumberdaya yang terbatas, sehingga keterlibatan

dalam peran pekerjaan dan keluarga sering menimbulkan konflik antar-peran

yang pada akhirnya menyebabkan stres, ketidakpuasan kerja, ketidakpuasan

organisasi dan ketidakbahagiaan (Kismono, 2011).

Adanya peran ganda yang dimainkan oleh seseorang dan keterbatasan

waktu yang dimilikinya, membuat seseorang harus dapat mengalokasikan

waktunya dengan baik. Terlalu banyak waktu yang dialokasikan pada

pekerjaannya akan menyebabkan berkurangnya waktu yang seharusnya

dihabiskan bersama keluarga, begitu pula sebaliknya. Selain itu, sulitnya

beradaptasi pada perubahan perilaku dari satu peran ke peran yang lain akan

(42)

pekerjaannya (Parasuraman & Simmers, 2001), yang akan berpengaruh terhadap

menurunnya kepuasan kerja.

Kedua jenis konflik-pekerjaan-keluarga, yaitu konflik pekerjaan-keluarga

(work-to-family conflict) dan konflik keluarga-pekerjaan (family-to-work

conflict), akan menimbulkan konsekuensi negatif. Menurut Voydanoff (2004),

konflik pekerjaan-keluarga sering diindikasikan dengan buruknya peran dalam

keluarga, ketidakhadiran dalam keluarga, serta menurunnya kepuasan dalam

keluarga. Sedangkan konflik keluarga-pekerjaan diindikasikan dengan

keterlambatan kerja, ketidakhadiran kerja, kinerja yang buruk, dan menurunnya

kepuasan kerja.

Beutell dan Berman (1999) juga menyatakan bahwa tingkat

konflik-pekerjaan-keluarga yang tinggi akan berkaitan dengan menurunnya kepuasan

kerja yang dialami karyawan. Konflik-pekerjaan-keluarga mengindikasikan

bahwa peran dalam pekerjaan mengganggu kepuasan dan sukses karyawan di

kehidupan keluarga, atau aktifitas keluarga mengganggu kepuasan dan sukses

karyawan di kehidupan pekerjaan (Greenhaus dan Beutell, 1985).

Menurut Allen, Herst, Bruck, dan Sutton, (2000), orang dengan level

konflik yang lebih tinggi cenderung kurang puas terhadap kehidupan pekerjaan

maupun kehidupan keluarganya. Hubungan antara konflik-pekerjaan-keluarga

dengan kedua jenis kepuasan tersebut menggambarkan keinginan dari karyawan

(43)

keseimbangan itu tidak dapat tercapai, maka akan menyebabkan terjadinya

ketidakpuasan.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disusun hipotesis sebagai berikut:

H1a: Konflik pekerjaan-keluarga berpengaruh negatif pada kepuasan kerja.

H1b: Konflik keluarga-pekerjaan berpengaruh negatif pada kepuasan kerja.

2. Pengaruh Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Konflik Keluarga-Pekerjaan pada Kepuasan Kerja dengan Dukungan Sosial dari Rekan Kerja sebagai Variabel Pemoderasi

Telah dikatakan sebelumnya bahwa personel TNI tidak mendapatkan

dukungan sosial yang cukup dari atasan maupun keluarga. Salah satu dukungan

sosial yang mungkin diterima adalah dukungan sosial dari rekan kerja, mengingat

hampir setiap waktu mereka habiskan bersama rekan kerjanya. Rekan kerja bagi

para personel TNI merupakan partner utama untuk saling memberikan dukungan

(baik sosial maupun emosional), dan untuk mendiskusikan berbagai masalah

yang dihadapi (baik masalah dalam kehidupan personal maupun profesional).

Untuk itu, personel TNI diasumsikan menganggap rekan kerjanya sebagai

perpanjangan dari anggota keluarganya (karena dapat saling berbagi tentang

kehidupan personal) sekaligus atasannya (karena dapat menjadi tempat untuk

saling berdiskusi tentang kehidupan profesional). Dukungan sosial dari rekan

kerja diharapkan mampu memenuhi kebutuhan akan dukungan sosial secara

(44)

Menurut Rathi dan Barath (2013), penerimaan dukungan sosial di tempat

kerja dapat mengurangi dampak negatif konflik-pekerjaan-keluarga, khususnya

pada kepuasan kerja dan kepuasan keluarga. Dukungan sosial dari rekan kerja

akan membuat karyawan merasa bahwa dirinya tidak sendirian, merasa

diperhatikan, dihargai, dan dicintai (Ng & Sorensen, 2008); dapat membantu

seseorang dalam menghadapi masalah dan menyelesaikan tantangan-tantangan

dalam pekerjaan (Lambert et al., 2010); dapat memicu timbulnya rasa percaya

diri dan kompeten (O‟Driscoll et al., 2004); dapat meningkatkan produktivitas,

serta dapat mengurangi tingkat stres yang dialami akibat berbagai tekanan

(Johnson & Johnson, 2000). Oleh karena itu, dukungan sosial dari rekan kerja

dapat membuat suatu pekerjaan menjadi lebih berarti, sehingga dampak negatif

dari konflik-pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja pun dapat dikurangi.

Beberapa penelitian telah menemukan efek pemoderasian dari dukungan

sosial pada hubungan antara konflik pekerjaan-keluarga dan konflik

keluarga-pekerjaan dengan kepuasan kerja. Sebagian besar dari penelitian tersebut

menggunakan dukungan sosial dari atasan/supervisor sebagai variabel

pemoderasi, seperti penelitian yang dilakukan oleh Hsu (2011), Karatepe dan

Kilic (2007), dan Lu et al. (2010). Hanya sedikit penelitian yang menggunakan

dukungan sosial dari rekan kerja sebagai variabel pemoderasi, yaitu penelitian

yang dilakukan oleh Ng dan Sorensen (2008) dan O‟Driscoll et al. (2004). Para

(45)

dapat menahan sekaligus mengurangi pengaruh negatif

konflik-pekerjaan-keluarga (Rathi & Barath, 2013).

Namun, penelitian mengenai efek pemoderasian dukungan sosial dari

rekan kerja pada hubungan antara konflik-pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja

menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian yang dilakukan oleh

O‟Driscoll et al., (2004) menemukan bahwa dukungan sosial dari rekan kerja

memoderasi hubungan konflik pekerjaan-keluarga dan konflik

keluarga-pekerjaan dengan kepuasan keluarga, namun tidak dengan kepuasan kerja. Disisi

lain, penelitian yang dilakukan oleh Ng dan Sorensen (2008) menemukan bahwa

penerimaan dukungan dari rekan kerja secara signifikan memoderasi hubungan

antara konflik-pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disusun hipotesis sebagai berikut:

H2a: Dukungan sosial dari rekan kerja memoderasi hubungan antara konflik

pekerjaan-keluarga dan kepuasan kerja. Secara spesifik, pengaruh

negatif konflik pekerjaan-keluarga pada kepuasan kerja menjadi lebih

lemah ketika dukungan sosial dari rekan kerja meningkat.

H2b: Dukungan sosial dari rekan kerja memoderasi hubungan antara konflik

keluarga-pekerjaan dan kepuasan kerja. Secara spesifik, pengaruh

negatif konflik keluarga-pekerjaan pada kepuasan kerja menjadi lebih

(46)

C. Kerangka Teoritis

Gambar 2.1 menyajikan model penelitian yang merupakan replikasi dari

penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rathi dan Barath (2013) dengan sedikit

perubahan, yaitu dengan menghilangkan variabel dependen kepuasan keluarga

(family satisfaction) karena dinilai tidak berpengaruh secara signifikan.

Konflik-pekerjaan-keluarga (konflik pekerjaan-keluarga dan konflik

keluarga-pekerjaan) diindikasi memiliki hubungan negatif terhadap kepuasan

kerja karyawan. Model ini juga menunjukkan adanya dukungan sosial dari rekan

kerja sebagai variabel pemoderasi antara konflik-pekerjaan-keluarga dan

kepuasan kerja. Dukungan sosial yang diterima oleh karyawan dari rekan kerja

ini diharapkan dapat memperlemah dampak negatif konflik-pekerjaan-keluarga

pada kepuasan kerja.

Gambar 2.1 Model Penelitian

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini dirancang untuk menguji hipotesis (hypothesis testing)

dengan menggunakan metode survey. Penelitian dengan desain pengujian

hipotesis umumnya menjelaskan suatu hubungan tertentu atau keterkaitan antara

dua atau lebih faktor di dalam sebuah situasi (Sekaran & Bougie, 2010).

Sedangkan survey merupakan metode pengumpulan data primer dengan

memberikan pertanyaan-pertanyaan maupun pernyataan-pernyataan kepada

responden individu (Mustakini, 2007). Jenis data yang akan dikumpulkan pada

penelitian ini adalah data primer cross-sectional, yaitu data yang diperoleh

langsung dari sumbernya dan hanya akan diambil satu kali dalam satu waktu.

B. Populasi dan Sampel

Menurut Sekaran dan Bougie (2010), populasi adalah gabungan dari

seluruh elemen yang berbentuk peristiwa, hal, atau orang yang memiliki

karakteristik yang serupa yang menjadi pusat perhatian peneliti dan yang akan

diinvestigasi oleh peneliti. Sedangkan sampel penelitian adalah subset dari

(48)

Dalam penelitian ini, populasi penelitian adalah seluruh prajurit Tentara

Nasional Indonesia (TNI), baik personel TNI Angkatan Darat (TNI-AD), TNI

Angkatan Laut (TNI-AL), maupun TNI Angkatan Udara (TNI-AU). Sedangkan

sampelnya adalah 75 prajurit TNI-AD yang bekerja di Akademi Militer

Magelang, yang terdiri dari 25 prajurit dengan pangkat perwira, 25 prajurit

dengan pangkat bintara, dan 25 prajurit dengan pangkat tamtama. Sampel

tersebut dipilih agar dapat mewakili keseluruhan populasi mengingat terdapat

perbedaan tugas dan tanggung jawab dari masing-masing jenjang kepangkatan.

Sedangkan besarnya sampel pada penelitian ini mengacu pada pendapat Roscoe

(dalam Sekaran & Bougie, 2010), yaitu ukuran sampel adalah lebih besar dari 30

dan lebih kecil dari 500 yang merupakan jumlah yang tepat dan sudah

mencukupi untuk dijadikan sebagai sampel penelitian pada umumnya.

Metode penyampelan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

purposive sampling. Purposive sampling merupakan pengambilan sampel dengan

syarat tertentu yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (Sekaran & Bougie,

2010). Peneliti menggunakan metode pengambilan sampel ini karena sampel

yang dipilih memiliki pertimbangan dan kriteria yang telah ditentukan, yaitu

peneliti mensyaratkan sampel telah menikah, karena individu yang telah menikah

berisiko lebih tinggi mengalami konflik pekerjaan-keluarga dan konflik

keluarga-pekerjaan dibandingkan dengan individu yang belum menikah (Martins,

(49)

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode

kuesioner, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan memberikan daftar

pertanyaan atau pernyataan tertulis yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang

akan diukur (Sekaran & Bougie, 2010), dan harus dijawab oleh responden sesuai

dengan keadaan yang ia alami.

Responden diasumsikan sebagai orang yang paling memahami dirinya

sendiri, sehingga penilaian terhadap pilihan jawaban responden bukan mutlak

benar atau salah, melainkan merupakan pengetahuan responden, keyakinan

pribadi responden, dan pengalaman pribadi responden dengan maksud

mendapatkan informasi tentang suatu masalah yang sedang diteliti (Hadi dalam

Dwiningrum, 2013). Berdasarkan jawaban tersebut, peneliti dapat mengetahui

perilaku subjek yang sedang diteliti dan menggunakannya sebagai dasar dalam

mengambil kesimpulan riset.

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional adalah definisi dari suatu ide dalam istilah yang

dapat diukur dengan mengurangi tingkat abstraksinya melalui penggambaran

dimensi dan elemennya (Sekaran & Bougie, 2010).

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

(50)

yaitu konflik pekerjaan-keluarga dan konflik keluarga-pekerjaan; kepuasan kerja

sebagai variabel dependen; dan dukungan sosial dari rekan kerja sebagai variabel

pemoderasi.

1. Variabel Independen: Konflik Pekerjaan-Keluarga (Work-to-Family Conflict) dan Konflik Keluarga-Pekerjaan (Family-to-Work Conflict)

Menurut Netemeyer et al. (1996) konflik pekerjaan-keluarga

(work-to-family conflict) adalah bentuk konflik antar-peran yang disebabkan oleh tuntutan,

waktu yang dihabiskan, dan ketegangan yang diciptakan oleh pekerjaan

mengganggu pelaksanaan tanggung jawab terkait dengan keluarga. Sedangkan

konflik keluarga-pekerjaan (family-to-work conflict) adalah bentuk konflik

antar-peran yang disebabkan oleh tuntutan, waktu yang dihabiskan, dan ketegangan

yang diciptakan oleh kehidupan keluarga mengganggu pelaksanaan tanggung

jawab terkait dengan pekerjaan (Netemeyer et al., 1996).

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur konflik

pekerjaan-keluarga dan konflik pekerjaan-keluarga-pekerjaan adalah kuesioner yang dikembangkan

oleh Netemeyer et al. (1996) yang terdiri dari 5 item pernyataan untuk mengukur

konflik pekerjaan-keluarga dan 5 item pernyataan untuk mengukur konflik

keluarga-pekerjaan. Seluruh item diukur menggunakan skala Likert 5 poin

dengan bobot masing-masing item sebagai berikut.

1 = Sangat Tidak Setuju (STS),

(51)

3 = Netral (N),

4 = Setuju (S), dan

5 = Sangat Setuju (SS).

Contoh item pernyataan konflik pekerjaan-keluarga adalah “tuntutan pekerjaan

mempengaruhi rumah tangga dan kehidupan keluarga saya”. Sedangkan contoh

item pernyataan konflik keluarga-pekerjaan adalah “tuntutan keluarga atau

suami/istri mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan”.

2. Variabel Dependen: Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)

Menurut Luthans (2011), kepuasan kerja merupakan hasil persepsi

karyawan tentang bagaimana pekerjaan dapat memberikan sesuatu yang berarti.

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur kepuasan kerja

adalah Minnesota Satisfaction Questionnaire – Short Form (MSQ – Short Form)

yang disusun oleh Weiss et al. (1967). MSQ – Short Form terdiri dari 20 item

pernyataan yang masing-masing mewakili aspek (1) aktivitas/activity, (2)

kemandirian/independence, (3) variasi/variety, (4) status social/social status, (5)

hubungan dengan atasan/supervision human relations, (6) kemampuan teknikal

atasan/supervision technical, (7) nilai-nilai moral/moral values, (8)

keamanan/security, (9) pelayanan social/social service, (10) otoritas/authority,

(11) pemanfaatan kemampuan/ability utilization, (12) kebijakan perusahaan dan

penerapannya/company policies and practices, (13) imbalan/compensation, (14)

(52)

kreativitas/creativity, (17) kondisi kerja/working condition, (18) rekan kerja/

co-workers, (19) pengakuan/recognition, dan (20) prestasi/achievement.

Ke-20 aspek tersebut dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu general

satisfaction factor (aspek nomor 17,18), intrinsic satisfaction factor (aspek

nomor 1,2,3,4,7,8,9,10,11,15,16,20), dan extrinsic satisfaction factor (aspek

nomor 5,6,12,13,14,19). Seluruh item tersebut diukur menggunakan skala Likert

5 poin, dengan bobot masing-masing item sebagai berikut.

1 = Sangat Tidak Setuju (STS),

2 = Tidak Setuju (TS),

3 = Netral (N),

4 = Setuju (S), dan

5 = Sangat Setuju (SS).

Contoh item pernyataan kepuasan kerja adalah “saya mempunyai kesempatan

untuk menjadi „seseorang‟ di dalam organisasi”.

3. Variabel Pemoderasi: Dukungan Sosial (Social Support)

Dukungan sosial merupakan suatu kumpulan proses sosial, emosional,

kognitif, dan perilaku yang terjadi dalam hubungan pribadi, dimana individu

merasa mendapat bantuan dalam melakukan penyesuaian atas masalah yang

dihadapi (Dalton et al, 2001).

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur dukungan sosial

(53)

(1992) yang terdiri dari 8 item pernyataan yang mewakili dimensi dukungan

sosial, yaitu dukungan instrumental/instrumental support, dukungan

informasional/ informational support, dukungan penghargaan/esteem support,

dukungan emosional/emotional support, dan dukungan jaringan

sosial/companionship support, yang telah disesuaikan dengan aspek rekan kerja.

Seluruh item tersebut diukur menggunakan skala Likert-like 5 poin, dengan bobot

masing-masing item sebagai berikut.

1 = Tidak Pernah (TP),

2 = Jarang (J),

3 = Kadang-Kadang (KK),

4 = Sering (SR), dan

5 = Selalu (SL).

Contoh item pernyataan dukungan sosial dari rekan kerja adalah “rekan kerja

bersedia mendengarkan masalah saya”.

4. Variabel Kontrol

Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan

sehingga pengaruh variabel independen pada variabel dependen tidak

dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti (Sekaran & Bougie, 2010).

Dalam penelitian ini, variabel kontrolnya adalah jenis kelamin, usia, jumlah anak

yang dimiliki, lamanya bekerja dalam organisasi, jenjang kepangkatan, dan

(54)

Penulis memilih variabel-variabel kontrol tersebut karena alasan berikut:

a. Menurut Glenn, Taylor, dan Wlaver (dalam Robbins & Judge, 2013),

perbedaan jenis kelamin berpengaruh terhadap tinggi rendahnya

kepuasan kerja. Kebutuhan wanita untuk merasa puas dalam bekerja

ternyata lebih rendah dibandingkan pria.

b. Usia berhubungan dengan kepuasan kerja. Usia antara 25-34 tahun dan

40-45 tahun merupakan usia yang bisa menimbulkan perasaan kurang

puas terhadap pekerjaan (Ghiselli & Brown, 1950).

c. Menurut Spector et al. (2007), semakin banyak jumlah anak yang dimiliki

seseorang, akan berpengaruh kepada semakin menurunnya tingkat

kepuasan kerja karena semakin besar beban yang harus ditanggung dan

semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

d. Masa jabatan memiliki korelasi yang positif terhadap kepuasan kerja

(Robbins & Judge, 2013). Semakin lama masa jabatan seseorang

menunjukkan bahwa orang tersebut cocok dengan organisasi tempat ia

bekerja, sehingga kepuasan kerjanya juga meningkat.

e. Menurut Ghiselli dan Brown (1950), seseorang yang memiliki

pangkat/golongan yang lebih tinggi umumnya memiliki gaji, wewenang,

dan kedudukan yang lebih dibandingkan yang lain, sehingga

menimbulkan perilaku dan perasaan yang puas terhadap pekerjaannya.

f. Pendidikan juga memiliki korelasi yang positif terhadap kepuasan kerja

(55)

seseorang membuat ia lebih baik dalam menyelesaikan permasalahan

dalam pekerjaan, sehingga lebih sering terhindar dari stres, dan dapat

meningkatkan kepuasan kerja.

E. Metode Analisis Data 1. Uji Instrumen Penelitian

a. Uji Validitas: Confirmatory Factor Analysis (CFA)

Menurut Sekaran dan Bougie (2010), validitas merupakan suatu ukuran

yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahan suatu instrumen penelitian.

Uji validitas dilakukan untuk melihat seberapa jauh ketepatan dalam penggunaan

pernyataan maupun pertanyaan di dalam kuesioner untuk memperoleh data

primer. Suatu instrumen dikatakan valid apabila dapat mengukur apa yang

seharusnya diukur.

Untuk menguji validitas dalam penelitian ini, peneliti menggunakan

metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan SPSS for windows v.17.0.

Metode ini dapat digunakan untuk menguji apakah indikator-indikator yang

digunakan dapat mengkonfirmasi sebuah faktor atau variabel yang diukur.

Analisis CFA menggunakan uji Kaiser-Meyer Olkin and Barlett’s. Bila nilai

Kaiser-Meyer Olkin Measure of Sampling Adequency(KMO MSA) lebih dari 0,5,

(56)

Proses selanjutnya adalah melihat tabel Component matrix. Item dengan

nilai Component > 0,5 dikatakan valid, sedangkan item dengan nilai Component ≤ 0,5 dikategorikan tidak valid dan harus dikeluarkan sebelum dilakukan

pengujian selanjutnya (Hair et al., 2010).

b. Uji Reliabilitas: Cronbach’s Alpha

Reliabilitas pengukuran menunjukan sejauh mana pengukuran tersebut

tanpa bias dan menjamin pengukuran tersebut konsisten lintas waktu dan lintas

ragam pertanyaan (Sekaran & Bougie, 2010).

Untuk menguji reliabilitas dalam penelitian ini digunakan metode

pengukuran Cronbach’s Alphadengan menggunakan software SPSS for windows

v.17.0. Cronbach’s Alpha merupakan koefisien reliabilitas yang mengindikasikan

seberapa jauh butir-butir dalam instrument penelitian tersebut saling

berhubungan positif. Cronbach’s Alpha yang semakin mendekati 1 menunjukkan

bahwa reliabilitasnya semakin baik, artinya item-item tersebut secara konsisten

mengukur konsep yang sama (Hair et al., 2010). Kategori hasil pengujian

Cronbach’s Alpha adalah sebagai berikut:

Cronbach’s Alpha 0,8 – 1,0 : reliabilitas baik

Cronbach’s Alpha 0,6 – 0,79 : reliabilitas diterima

(57)

2. Uji Hipotesis: Moderated Regression Analysis (MRA)

Menurut Sekaran dan Bougie (2010), variabel pemoderasi adalah variabel

yang mampu mempengaruhi hubungan variabel independen dengan variabel

dependen secara bentuk (form) atau derajat (degree). Variabel pemoderasi

dikatakan dapat mempengaruhi hubungan variabel independen dengan variabel

dependen secara bentuk, jika variabel pemoderasi mampu mengubah tipe

hubungan positif menjadi hubungan negatif, ataupun sebaliknya. Sedangkan

variabel pemoderasi dikatakan dapat memberikan pengaruh derajat, jika variabel

pemoderasi mampu memperkuat dan memperlemah pengaruh variabel

independen pada variabel dependen.

Pengujian hipotesis dan uji pengaruh pemoderasian dalam penelitian ini

menggunakan analisis regresi moderasian (moderated regression analysis) yang

dikembangkan oleh Baron dan Kenny (1986) dengan software SPSS for windows

v.17.0. Analisis regresi moderasian merupakan analisis khusus regresi linear

berganda dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi

(perkalian dua atau lebih variabel independen) dengan rumus persamaan sebagai

berikut:

KK = a1 + b1KPK + b3DS + b5 KPK*DS + e1 . . . (1)

(58)

Keterangan:

KK = kepuasan kerja a = konstanta

KPK = konflik pekerjaan-keluarga b = koefisien

KKP = konflik keluarga-pekerjaan e = nilai residu

DS = dukungan sosial dari rekan kerja

Variabel perkalian KPK*DS dan KKP*DS disebut juga variabel

moderat/interaksi, karena menggambarkan pengaruh moderating variable DS

terhadap hubungan KPK dan KKP pada KK. Sedangkan variabel KPK, KKP,

danDS merupakan pengaruh langsung dari variabelKPK, KKP, danDS terhadap

KK.

Ada empat tahap yang dilakukan dalam melakukan analisis regresi

moderasian, yaitu

1) Memasukkan variabel kontrol.

2) Memasukkan variabel kontrol dan variabel independen.

3) Memasukkan variabel kontrol, variabel independen, dan variabel

pemoderasi.

4) Memasukkan variabel kontrol, variabel independen, variabel pemoderasi,

Gambar

Gambar 2.1 Model Penelitian
Gambar 4.1 Bagan Organisasi Akademi Militer
Tabel 4.1 Hasil Penyebaran Kuesioner
Tabel 4.2 Karakteristik Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

pencahayaan, bayangan, proporsi bentuk dari desain yang dibuat Memperoleh gambar desain yang leibh representatif pada saat disampaikan secara lisan didalam konsultasi/

Yaitu rangka yang tipis ternyata tertekan penyok ke dalam selama impact dengan bola dan mengeper kembali (springs back) seperti trampolin, mengakibatkan sedikit

Dalam proses membentuk karakter anak sangatlah dipengaruhi oleh pola komunikasi dalam pengasuhaan dalam keluarga dan lingkungan,dimana anak dibesarkan

This is to be achieved by discussing, firstly, the rise of Big Data surrounding the renewable energy system, secondly, the identification of renewable energy sector as

Mari kita masuk kehalaman mesin pencari kita dengan mengetikan http://www.AltaVista.com pada Address Bar yang disediakan oleh Web Browser setelah itu tekan enter atau klik tombol

Dari tabel 5.8 dan gambar 5.8 diatas dapat dilihat bahwa seluruh industri jasa bordir memiliki mesin bordir sendiri tetapi untuk industri konveksi sebanyak 19 responden atau 32

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian maka dapat disimpulkan bahwakemampuan pemecahan masalah mahasiswa PGSD FKIP Universitas Riau pada pecahan melalui pendekatan model

Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang lebih luas dari yang hanya memfokuskan pada perumbuhan ekonomi.peningkatan pembangunan ekonomi merupakan peningkatan jumlah