• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI TENTANG LANDASAN ONTOLOGI EPISTEMO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEORI TENTANG LANDASAN ONTOLOGI EPISTEMO"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

FILSAFAT ILMU

TEORI TENTANG LANDASAN ONTOLOGI,

EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Disusun Oleh :

1. Ridho Fatahillah ( 4115150214 ) 2. Reza Ramadhan ( 4115153253 ) 3. Taufik Dwi Prabowo ( 4115151629 )

JURUSAN ILMU SOSIAL POLITIK

PRODI PENDIDIKAN PPKN C

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Kita semua tahu dan sadar bahwa salah satu sendi/pilar penyangga utama setiap masyarakat modern adalah ilmu pengetahuan dan Teknologi. Adapun berdirinya pilar penyangga keilmuan itu merupakan tanggung jawab moral dan social seseorang ilmuwan. Kita tidak bisa menghindarkan diri dari padanya karena hal ini merupakan bagian dari hakikat ilmu itu sendiri.

Dalam makalah ini, penulis mencoba untuk mengulas mengenai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam rangka penyusunan makalah ini baik berupa pendapat dan waktu sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik dan tepat waktu.

Akhir kata kami penulis mengucapkan terima kasih.

(3)

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB 1: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Penulisan ... 1

BAB 2 : PEMBAHASAN

A.

Landasan Teori Ontologi ... 2

B.

Landasan Teori Epistemologi... 5

(4)

BAB 3 :

PENUTUP

KESIMPULAN ...10

(5)

BAB 1 PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Cabang-cabang Ilmu filsafat banyak sekali di antaranya yang ada dalam pembahasan makalah ini adalah, aksiologi,ontologi dan epistemologi ,

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu, Didalam ontologi banyak sekali yang berpendapat tentang definisi ontologi intu sendiri.

Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas beberapa point diantaranya adalah : Pengertian Epistemologi,Metode Induktif,Metode Deduktif, Metode Positivisme, Metode Kontemplatif, Metode Dialektis

Dan untuk lebih jelasnya penulis telah memaparkan ini dan penjelasan yang sangat akurat dalam bab yang telah disediakan di bawah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

1) Apa yang dimaksud dengan landasan ontologi? 2) Apa yang dimaksud dengan landasan epistemologi? 3) Apa yang dimaksud dengan landasan aksiologi? 4) Bagaimana hubungan antara ketiga landasan tersebut?

C.TUJUAN PENULISAN

1) Untuk mengetahui makna landasan ontologi 2) Untuk mengetahui makna landasan epistemologi 3) Untuk mengetahui makna landasan aksiologi

(6)

BAB 2 PEMBAHASAN

TEORI TENTANG LANDASAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI

DAN AKSIOLOGI

A.

Ontologi

Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani yaitu : Ontos : being, dan Logos. Logis Jadi ontology adalah teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Atau bisa juga ilmu tentang yang ada. Secara istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada yang merupakan realiti baik berbentuk jasmani atau kongkrit maupun rohani atau abstrak.

Istilah ontologi pertama kali diperkenalkan oleh rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakekak yang ada bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus.

Metafisika umum adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafiska atau otologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih terbagi menjadi Kosmologi, Psikologi dan Teologi.

Aliran-Aliran Ontology

a). Aliran Monoisme

Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Plato adalah tokoh filsafat yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran Yaitu :

1) Materialisme

(7)

mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya bagi kehidupan. Anaximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan amat halus. Atom-atom itulah yang merupakan asal kejadian alam.

2) Idealisme

Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang pada kebenaran sejati. Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui dalam ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu.

b). Aliran Dualisme

Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan).

c). Aliran Pluralisme

(8)

air, api, dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M), yang mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan lepas dari akal yang mengenal.

d). Aliran Nihilisme

Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M). Dalam pandangannya dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Mata manusia tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia hidup.

e). Aliran Agnostisisme

(9)

B.

Epistemologi

Epistemologi sering disebut sebagai teori pengetahuan. Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan, dan logos yang artinya ilmu atau teori.Menurut Achmadi epistemologi disebut sebagai teori pengetahuan yang secara umum membicarakan mengenai sumber-sumber, karakteristik, dan kebenaran pengetahuan.Muzairi dalam Bakhtiar menyebutkan Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasar serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.

Pendapat lain yang bekaitan dengan epistemologi diungkapkan pula oleh Arifin dalam Susanto mendefinisikan efistemologi sebagai pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran (aliran rasionalisme), dari pengalaman panca indera (aliran empirisme), dari ide-ide (aliran ide-idealism), atau dari Tuhan (aliran teologisme), termasuk juga pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai di mana kebenaran pengetahuan kita.

Fudyartanto dalam Solihin menjelaskan bahwa epistemologi berarti ilmu filsafat tentang ilmu atau dalam istilah sederhanya adalah filsafat keilmuan. Senada dengan pendapat tersebut, Solihin mengartikan epistemiologi sebagai ilmu yang berorientasi untuk mencari hakikat dan kebenaran ilmu; secara metode, berorientasi untuk mengantar manusia dalam memperoleh ilmu; dan secara sistem berusaha menjelaskan realitas ilmu dalam sebuah hirearki yang sistematis.

Sementara itu Bramedl dalam Rakhmat mendefinisikan epistemologi artinya memberikan kepercayaan dan jaminan bagi guru bahwa ia memberikan kebenaran kepada murid-murid. Rakhmat mengartikan epistemologi dalam bidang filsafat berusaha menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat ilmu pengetahuan. Susanto mempertegas hubungan epistemologi dengan pengetahuan sebagaimana yang ia ungkapkan dalam pengertian epistemologi. Menurutnya epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal usul, susunan, metode-metode, dan status sahnya pengetahuan. Epistemologi membicarakan sumber-sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan tersebut sehingga sering disebut sebagai filsafat pengetahuan.

(10)

suatu kebenaran atau untuk mengharapkan kebenaran.Sebagai upaya menyusun pengetahuan yang benar maka dibutuhkan metode ilmiah sebagai landasan epistemologi.

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut sebagai ilmu. Tidak semua pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang proses atau cara mendapatkannya harus sesuai dengan syarat-syarat dalam metode ilmiah. Sjamsuddin menjelaskan metode sebagai cara untuk berbuat sesuatu; suatu prosedur untuk mengerjakan sesuatu; keteraturan dalam berbuat, berencana, dan lain-lain seiring dengan pendapat tersebut Suriasumantri menjelaskan metodologi secara filsafat termasuk dalam epistemologi yang pembahasannya mengenai bagaimana mendapatkan pengetahuan? Apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan, dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah manusia memungkinkan mendapatkan pengetahuan. Francis Bacon dalam Mudyahardjo menjelaskan cara memperoleh ilmu pengetahuan harus melalui syaratpelaksanaan metode ilmiah. Pada tahap dilakukan pembersihan diri dari prasangka-prasangka dan kecenderungan-kecenderungan agar kembali menjadi bersih seperti anak yang baru lahir.

Berdasarkan berbagai pengertian epistemologi menurut para ahli tersebut maka epistemologi dapat disimpulkan sebagai teori pengetahuan yang berhubungan dengan bagaimana cara memperoleh pengetahuan berdasarkan syarat-syarat metode ilmiah sehingga menjadi ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada prinsip kebenaran.

Aliran-aliran dalam Epistimologi

a. Rasionalisme

Aliran ini berpendapat semua pengetahuan bersumber dari akal pikiran atau ratio. Tokohnya antara lain: Rene Descrates, yang membedakan adanya tiga idea, yaitu: innate ideas (idea bawaan), yaitu sejak manusia lahir,adventitinous ideas, yaitu idea yang berasal dari luar manusia, dan faktitinousideas, yaitu idea yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri.

b. Empirisme

Aliran ini berpendirian bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman indera. Indera memperoleh pengalaman (kesan-kesan) dari alamempiris, selanjutnya kesan-kesan tersebut terkumpul dalam diri manusia menjadipengalaman. Tokohnya antara lain:

(11)

merupakan idea yang sederhana yang kemudian dengan proses asosiasi membentuk idea yang lebihkompleks.

2. David Hume (1711-1776), yang meneruskan tradisi empirisme. Humeberpendapat bahw ide yang sederhana adalah salinan (copy) dari sensasi-sensasi sederhana atau ide –ide yang kompleks dibentuk dari kombinasi ide-ide sederhana atau kesan–kesan yang kompleks. Aliran ini kemudian berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama pada abad 19 dan 20.

c. Realisme

Realisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa obyek-obyek yang kita serap lewat indera adalah nyata dalam diri obyek-obyek tersebut. Obyek-obyektersebut tidak tergantung pada subjek yang mengetahui atau dengan kata lain tidak tergantung pada pikiran subjek. Pikiran dan dunia luar saling berinteraksi, tetapi interaksi tersebut mempengaruhi sifat dasar dunia tersebut. Dunia telah ada sebelum pikiran menyadari serta akan tetap ada setelah pikiran berhenti menyadari. Tokoh aliran ini antara lain: Aristoteles (384-322 SM), menurut Aristoteles, realitas berada dalam benda-benda kongkrit atau dalam proses-proses perkembangannya. Dunia yang nyata adalah dunia yang kita cerap. Bentuk (form) atau idea atau prinsip keteraturan dan materi tidak dapat dipisahkan. Kemudian aliran ini terus berkembang menjadi aliran realisme baru dengan tokoh George Edward Moore, Bertrand Russell, sebagai reaksi terhadap aliran idealisme, subjektivisme dan absolutisme. Menurut realisme baru : eksistensi obyek tidak tergantung pada diketahuinya obyek tersebut.

d. Kritisisme

Kritisisme menyatakan bahwa akal menerima bahan-bahan pengetahuan dari empiri (yang meliputi indera dan pengalaman). Kemudian akal akan menempatkan, mengatur, dan menertibkan dalam bentuk-bentuk pengamatan yakni ruang dan waktu. Pengamatan merupakan permulaan pengetahuan sedangkan pengolahan akal merupakan pembentukannya. Tokoh aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804). Kant mensintesakan antara rasionalisme dan empirisme.

e. Positivisme

(12)

1. Tahap Theologis, yaitu manusia masih percaya pengetahuan ataupengenalan yang mutlak. Manusia pada tahap ini masih dikuasai oleh tahyul-tahyul sehingga subjek dengan obyek tidak dibedakan.

2. Tahap Metafisis, yaitu pemikiran manusia berusaha memahami danmemikirkan kenyataan akan tetapi belum mampu membuktikan denganfakta.

3. Tahap Positif, yang ditandai dengan pemikiran manusia untuk menemukanhukum-hukum dan saling hubungan lewat fakta. Maka pada tahap ini pengetahuan manusia dapat berkembang dan dibuktikan lewat fakta

f. Skeptisisme

Menyatakan bahwa pencerapan indera adalah bersifat menipu atau menyesatkan. Namun pada zaman modern berkembang menjadi skeptisisme medotis (sistematis) yang mensyaratkan adanya bukti sebelum suatu pengalamandiakui benar. Tokoh skeptisisme adalah Rene Descrates (1596-1650). g. Pragmatisme

Aliran ini tidak mempersoalkan tentang hakikat pengetahuan namun mempertanyakan tentang pengetahuan dengan manfaat atau guna dari pengetahuan tersebut. Dengan kata lain kebenaran pengetahuan hendaklah dikaitkan dengan manfaat dan sebagai sarana bagi suatu perbuatan. Tokoh aliran ini, antara lain: C.S Pierce (1839- 1914), menyatakan bahwa yang terpenting adalah manfaat apa (pengaruh apa) yang dapat dilakukan suatu pengetahuan dalam suatu rencana. Pengetahuan kita mengenai sesuatu hal tidak lain merupakan gambaranyang kita peroleh mengenai akibat yang dapat kita saksikan.

C.

Aksiologi

Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar, 2004: 162). Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. Suriasumantri, 2000: 105). Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral yang melahirkan etika; Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan, Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.

(13)

Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya, ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound.

Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam, jika ternyata putih katakan putih; tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis, ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. Suriasumantri, 2000:36).

Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. Sebuah keniscayaan, bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral, maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. Suriasumantri, 2000:36). Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan, sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern:

(1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional, orientasinya pada ilmu dan teknologi, serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru.

(2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial, manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik, menghargai profesionalisasi, menghargai prestasi, bersikap positif terhadap keluarga kecil, dan menghargai hak-hak asasi perempuan;

(3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi, manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi, efisien menghargai waktu, terorganisasikan dalam kehidupannya, dan penuh perhitungan;

(4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat, dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi;

(14)

KESIMPULAN

Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.

Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.

Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu:Sebuah Pengantar Populer.Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Surajiyo. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. 2007

http//:www.blogger.com/profile/[email protected] pada hari Rabu, 14 Oktober 2015

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan berkah- Nya serta Shalawat senantiasa tercurahkan bagi Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi

Penelitian ini memberi gambaran bahwa dari total pendapatan rumah tangga pada daerah beraksesibilitas baik, memperlihatkan adanya ketimpangan yang sangat tinggi antara rumah

Skripsi yang berjudul Korelasi Antara Bauran Pemasaran dengan Minat BerkunjungTan (Studi Pada Calon Pengunjung Agrowisata Kampung Coklat di Kab. Blitar) disusun untuk

memperoleh pengalaman berbeda dalam menggali pengetahuan dan memperkaya wawasannya. Siswa akan merasakan kedekatan dengan alam sehingga dapat meningkatkan kecintaan

Yahya

Manfaat-manfaat penelitian yang dapat peneliti raih dari kajian ini adalah tentang pengayaan pengetahuan dan pengalaman langsung tentang bagaimana pengajaran Gamelan

Visual Basic merupakan bahasa pemrograman yang sangat mudah dipelajari, dengan teknik pemrograman visual yang memungkinkan penggunanya untuk berkreasi lebih baik dalam

Sebaliknya individu yang memiliki tingkat pe- ngetahuan tentang agama yang rendah akan melakukan perilaku seks bebas tanpa berpikir panjang terlebih dahulu sehingga