HUKUM INTERNASIONAL (3) id. docx

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

HUKUM INTERNASIONAL

KEDAULATAN DAN JENIS-JENIS DARI KEDAULATAN SECARA UMUM

Disusun Oleh: Kelompok I

1. Farin Alma Septiana NIM.16.02.51.0007 2. Ria Agustianti NIM.16.02.51.0024 3. Rezma Darmaningrum NIM.16.02.51.0055

4. Nafisah NIM.16.02.51.0060

FAKULTAS HUKUM

(2)
(3)
(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

(5)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kedaulatan Atas Wilayah Daratan

Pengertian daratan termasuk berupa daratan termasuk sungai, perairan daratan dan danau. Penentuan batas wilayah antar negara dilakukan dengan penentuan perbatasan, dapat ditentukan melalui garis imajiner atau melalui penentuan perbatasan secara alamiah, yang berupa gunung, sungai atau hutan.

Apabila perbatasan itu berupa sungai dan sungai tersebut daoat dilayari maka batas wilayah antar negara tersebut pada sepanjang garis tengah sungai yang paling dalam yang dapat dilayari (Thalweg). Namun jika tidak dapat dilayari, maka penentuan batas wilayahnya dapat

menggunakan cara (a) garis tengah sungai (median line) atau (b) garis tengah sepanjang cabang utama.

Apabila perbatasan itu berupa hutan, biasanya disediakan zona perbatasan, sebagai zona bebas pabean ‘customs free zone’, bagi penduduk lokal di sekitarnya dispensasi untuk saling

berhubungan. Dan di zona bebas tersebut biasanya dibentuk Komisi “Bipartite Permanen”. 2.2 Kedaulatan Atas Wilayah Perairan

Wilayah laut adalah bagian negara yang berupa perairan. Negara yang memiliki atau berbatasan dengan laut disebut negara pantai atau ada sebutan negara kepulauan. Terhadap bagian wilayah laut tertentu negara memiliki kedaulatan, dan terhadap bagian wilayah laut tertentu negara mempunyai hak berdaulat. Ketentuan hukum internasional yang berlaku bagi wilayah laut antara lain hukuk internasional kebiasaan, Konvensi Jenewa 1958, Konvensi Hukum Laut 1982 (United Nations on The Law of the Sea 1982).

Bagian laut yang berada dalam kedaulatan negara adalah 1). Laut pedalaman (internal waters),

2). Laut teritorial (territorial sea), dan

3). Bagi negara kepulauan yang memiliki kedaulatan atas peraian kepulauan (archipelagic rights).

(6)

Landas kontinen (continental shelf).

Deskripsi singkat mengenai laut.

Wilayah laut dapat dibedakan atas laut pedalaman, laut teritorial, jalur tambahan, zona ekonomi eksklusif, landas kontinen, laut bebas, peraian kepulauan bagi negara kepulauan.

Peraian pedalaman

Adalah wilayah perairan yang berada disisi dalam garis pangkal, termasuk pelabuhan, pangkalan laut, teluk. Negara mempunyai kedaulatan penuh. Negara dapat menolak masuknya kapal, kecuali kapal tersebut dalam bahaya, berdasarkan pejanjian, dan karena perubahan penarikan garis pangkal yang tadinya merupakan laut bebas berubah menjadi perairan pedalaman.

Garis pangkal atau baselinnes adalah garis yang ditetapkan sebagai dasar pengukuran batas terluar laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen. Garis

pangkal juga mempresentasikan batas peraian pedalaman yang berada di sisi dalam garis pangkal ke arah daratan (landward).

Ada 3 macam garis pangkal, yaitu :

1. Normal baselines, atau garis pangkal biasa, yang ditetapkan berdasarkan air pasang surut. 2. Straight baselines, atau garis pangkal lurus, yang ditetapkan dengan cara

menghubungkan antara titik-titik pada ujung pulau dengan suatu garis lurus.

Archipelagic baselines, atau garis pangkal kepulauan ditarik untuk menghubungkan titik terluar dari pulau-pulau terluar dan karang kering terluar kepulauan, termasuk pulau-pulau utama,

Laut Teritorial

Laut teritorial adalah wilayah perairan yang berada di sisi luar garis pangkal yang lebarnya tidak lebih dari mil laut diukur dari garis pantai. Negara pantai berhak menetapkan batas luar laut teritorial, yaitu suatu garis yang jarak setiap titiknya dari titik yang terdekat dengan garis

pangkal, sama dengan lebar laut teritorial. Negara pantai mempunyai kedaulatan atas laut teritorial. Kedaulatan negara pantai meliputi ruang udara di atasnya, kolom air dan tanah di bawahnya dasar laut. Kedaulatan negara pantai dibatasi oleh adanya right of innocent

(7)

laut teritorial dengan tujuan hanya lewat tanpa memasuki perairan pedalaman atau singgah pada suatu pangkalan laut atau fasilitas pelabuhan di luar perairan pedalaman; atau meneruskan ke atau dari perairan pedalaman atau suatu persinggahan pada pangkalan laut. Suatu lintas dianggap damai apabila dilakukan dengan tidak merugikan bagi perdamaian, ketertiban atau keamanan negara pantai.

Adapun kewajiban dari negara pantai sehubungan dengan hak lintas damai tersebut antara lain tidak boleh melarang adanya lintas damai, memberitahukan adanya bahay, tidak boleh melakukan penundaan kecuali tempat tertentu demi alasan keamanan dan harus diumumkan.

Zona Tambahan (Contiguous Zone)

Adalah wilayah laut yang berbatasan dengan laut teritorial, yang lebarnya tidak boleh lebih dari 24 mil diukur dari garis pangkal. Negara pantai mempunyai hak berdaulat atas wilayah zona tambahan. Hak negara pantai melakukan pengawasan untuk kepentingannya, mencegah

pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, imigrasi, atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorial, menghukum pelaku pelanggaran peraturan perundang-undangan negara pantai.

Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone)

Adalah wilayah laut yang berada di sisi luar dan bersambungan dengan laut teritorial yang lebarnya tidak boleh lebih dari 200 mil diukur dari garis pangkal dari mana lebar laut diukur. Di wilayah zona ekonomi eksklusif ini negara pantai hanya mempunyai hak berdaulat. Negara pantai tidak berhak atas wilayah zona ekonomi eksklusif. Adapun hak negara pantai antara lain :

1. Hak eksklusif untuk melakukan eksploitasi dan eksplorasi atas sumber kekayaan alam yang ada di zona ekonomi eksklusif, serta kegiatan lain seperti produksi energi dari air, udara dan angin;

2. Menjalankan yurisdiksi berkaitan dengan pembuatan dan pemakaian pulau buatan, penelitian ilmiah, perlindungan dan pelestarian lingkungan laut;

3. Menetapkan terlebih dahulu kapasitas tangkapan sumber kekayaan hayati; 4. Melakukan hot pursuit.

(8)

1. Berhak turut serta melakukan eksploitasi atau eksplorasi atas sumber kekayaan alam hayati;

2. Menikmati kebebasan sebagaimana di laut bebas;

3. Negara yang secara geografis tidak berpantai dan atau tidak beruntung, mempunyai hak yang diutamakan atas kelebihan kemampuan negara pantai tersebut.

Landas Kontinen (Continental Shelf)

Adalah wilayah luas di lepas pantai yang merupakan kepanjangan alamiah daratan. Menurut Konvensi Jenewa 1958, landas kontinen adalah dasar dan lapisan tanah bagian bawah laut yang berbatasan dengan pantai di luar laut teritorial sampai kedalaman 200 meter atau sampai

kedalaman yang masih dapat diekploitasi atau dieksplorasi.

Sedangkan dalam KHL-82 dimasud dengan landas kontinen adalah dasar laut dan tanah bawahnya dari permukaan laut yang berada di luar laut teritorial, sepanjang kelanjutan alamiah hingga pinggiran luar tepi kontinen, atau hingga jarak 200 mil dari garis pangkal darimana lebar laut teritorial diukur, atau bila kelanjutan alamiah hingga pinggiran luar tepi kontinen tersebut lebih dari 200 mil negara dapat menetapkan sampai batas maksimal 350 mil.

Atas landas kontinen negara pantai tidak berhak atas wilayah landas kontinen, namun

mempunyai hak berdaulat. Hak berdaulat negara pantai tidak terpengaruh oleh keadaan wilayah di atasnya. Negara pantai mempunyai hak eksklusif atas sumber kekayaan alam non hayati di landas kontinen tanpa dipengaruhi hak negara lain. Kewajiban negara pantai bila lebar landas kontinennya hingga 350 mil adalah membayar kontribusi pada badan otorita internasional sebesar 1 % dari nilai 350 mil mulai tahun ke-6 setelah berproduksi dan naik 1% tiap tahun hingga tahun ke 13.

Wilayah Laut Lepas

Adalah wilayah laut yang tidak dikuasai oleh hukum suatu negara. Setiap negara punyai hak dan kewajiban yang sama. Kebebasan di laut lepas dilaksanakan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan dalam Konvensi Hukum Laut 1982 dan ketentuan lain hukum internasional, serta memperhatikan sebagaimana mestinya kepentingan negara lain dalam melaksanakan kebebasan di laut lepas. Kebebasan di laut lepas meliputi kegiatan-kegiatan :

(9)

3. Kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab VI (Landas Kontinen),

4. Kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional, tunduk pada Bab VI,

5. Kebebasan menangkap ikan, dengan tunduk pada bagian 2 (Konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan hayati di laut lepas),

6. Kebebasan melakukan riset ilmiah, dengan tunduk pada Bab VI dan XIII (Riset Ilmiah Kelautan).

Wilayah Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters)

Adalah wilayah perairan yang ditutupi oleh garis pangkal kepulauan. Garis pangkal

kepulauan digunakan pula sebagai dasar penetapan zona teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen bagi negara kepulauan.

Negara Kepulauan adalah negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan mencakup pulau-pulau lain. Sedangkan yang dimaksud dengan Kepulauan adalah suatu gagasan pulau, termasuk bagian pulau, perairan diantaranya dan lain-lain wujud alamiah yang

hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya, sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan satu kesatuan geografi, ekonomi, dan politik, atau yang secara historis dianggap demikian.

Untuk dapat memenuhi syarat penggunaan garis pangkal kepulauan sesuai dengan KHL 1982 ada empat persyaratan utama yang harus dipenuhi, sebagaimana diatur dalam Pasal 47 KHL 1982, yaitu :

1. Seluruh daratan utama dari negara yang bersangkutan harus menjadi bagian dari sistem garis pangkal;

2. Perbandingan antara luas perairan dan daratan di dalam sistem garis pangkal harus berkisar antara 1 : 1 dan 9 : 1.

3. Panjang satusegmen garis pangkal kepulauan tidak boleh melebihi 100 mil laut, kecuali hingga 3 persen dari keseluruhan jumlah garis pangkal yang melingkupi suatu negara kepulauan boleh melebihi 100 mil laut hingga panjang maksimum 125 mil laut; 4. Arah garis pangkal kepulauan yang ditentukan tidak boleh menjauh dari konfigurasi

(10)

Kedaulatan negara kepulauan meliputi wilayah perairan kepulauan, ruang udara di atasnya, dasar laut di bawahnya, dan sumber kekayaan yang terkandung di dalamnya. Sedikit pembatasan atas kedaulatan negara kepulauan yaitu adanya hak lintas alur laut kepulauan bagi kapal asing.

Lintas alur laut kepulauan adalah pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Hukum Laut (1982) secara normal dan semata-mata untuk melakukan transit yang terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang antara satu bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif dan bagian laut lepas atau zona ekonomi eksklusif lainnya.

Sehingga sebagai salah satu kewajiban yang tercantum dalam KHL 1982 yang harus dilaksanakan oleh negara kepulauan adalah mementukan alur laut kepulauan, sebagaimana ditentukan dalam pasal 53 KHL-1982, yaitu :

1. Bahwa negara kepulauan dapat menentukan alur laut dan rute penerbangan di atasnya yang cocok digunakan untuk lintas kapal dan pesawat udara asing;

2. Semua kapal dan pesawat udara menikmati hak lintas alur laut kepulauan dalam alur laut dan rute penerbangan demikian;

3. Lintas air laut kepulauan berarti pelaksanaan hak pelayaran dan penerbangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Konvensi ini;

4. Alur laut dan rute penerbangan yang demikian harus melintasi perairan kepulauan dan laut teritorial serta meliputi rute lintas normal yang digunakan untuk penerbangan melalui atau rangkaian garis sumbu;

5. Alur laut dan rute penerbangan demikian harus ditentukan dengan suatu rangkaian garis sumbu;

(11)

2.3 Keadulatan Atas Wilayah Ruang Udara Pengertian Ruang Udara dan Ruang Angkasa

Pembedaan ruang udara dan ruang angkasa disamping menyangkut aspek geografis juga menyangkut kegiatan manusia di atas permukaan bumi. Menyangkut aspek geografis, maka yang disebut dengan Ruang Udara (air space) adalah ruang di atas permukaan bumi atau atmosfir yang masih didapati unsur-unsur gas yang disebut udara. Sedangkan yang dimaksud dengan Ruang Angkasa (Outer Space) adalah ruang di atas permukaan bumi/atmosfer yang hampa udara dan benda-benda langit.

Pengertian Hukum Udara dan Hukum Angkasa

Beberapa sarjana memberi pengertian tentang hukum udara sebagai berikut, Menurut Nys, hukum udara adalah hukum yang mengatur ruang udara dalam pemanfaatannya untuk

(12)

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa hukum udara merupakan sekumpulan norma atau peraturan yang berlaku dan mengatur kegiatan di ruang udara dalam kaitannya dengan kegiatan penerbangan dan keberadaan pesawat udara.

Sedangkan pengertian hukum angkasa (Space Law) menurut M. Lach adalah hukum yang ditujukan untuk mengatur hubungan antar negara-negara, untuk menentukan hak-hak dan

kewajiban-kewajiban yang timbul dari segala aktivitas yang tertuju kepada ruang angkasa dan di ruang angkasa. Priyatna Abdurrasyid secara singkat memberi pengertian hukum ruang angkasa adalah hukum yang mengatur segala kegiatan manusia yang bersangk paut dengan angkasa.

Prinsip Hukum yang Berlaku (1) Di Ruang Udara antara lain :

 Prinsip utama : Pengakuan kedaulatan negara di ruang udara secara penuh dan eksklusif  Pengakuan nasionalitas pesawat udara

 Penerbangan berjadwal atau tidak berjadwal harus ada ijin  Kebebasan terbang di laut lepas

 Kerjasama antar negara dalam bidang penerbangan

(2) Di Ruang Angkasa antara lain :

 Prinsip utama : tidak berlaku kedaulatan negara

 Larangan pemilikan atas ruang angkasa/benda langit. Yang berlau atas benda-benda ruang angkasa adalah hukum internasional

 Setiap negara punya hak yang sama dalam menggunakan ruang angkasa. Setiap negara peluncur mempunyai kewajiban untuk memberitahukan benda-benda ruang angkasanya

 Kebebasan melakukan penyelidikan atau penggunaan ruang angkasa  Hak berdaulat negara dilindungi

(13)

Sumber Hukum Udara dan Hukum Angkasa

Hukum ruang udara dan hukum ruang angkasa merupakan bagian dari Hukum Internasional, sehingga sumber hukum yang berlaku bagi hukum internasional sebagaimana terdapat dalam Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional juga berlaku bagi hukum ruang udara dan hukum ruang angkasa. Dewasa ini sumber hukum utama hukum udara dan hukum angkasa adalah perjanjian. Beberapa perjanjian internasional yang berlaku di ruang udara antara lain : 1. Konvensi Paris 1919

7. Konvensi tentang Tindak Pidana Udara (Konvensi Tokyo 1963, Konvensi The Hague 1970, Konvensi Montreal 1971)

8. Konvensi Interm Montreal 1966 9. Protokol Guatemala 1971 10. UNCLOS 1982

11. Bilateral Air Transport Agreement (BATA) 12. General Agreement on Trade in Services (GATS)

Sedangkan beberapa ketentuan internasional yang menjadi sumber hukum dan berlaku di ruang angkasa antara lain :

1. Res. MU No. 1348 (XIII) 1958 2. Res. MU No. 1962 (XVIII) 1963 3. Space Treaty 1967\

(14)

5. Liability Convention 1975 6. Registration Convention 1975 7. Moon Agreement 1980

Perkembangan Kedaulatan Negara di Ruang Udara Secara Teoritis

Pada dasarnya, ruang udara tidak hanya semata-mata dapat dimanfaatkan bagi kegiatan penerbangan. Ruang udara dapat juga dimanfaatkan sebagai jalur-jalur frekuensi radio, yang sifatnya juga melintas batas antar negara. Sehingga diperlukan adanya kerjasama antar negara dalam pemanfaatan ruang udara sebagai jalur frekuensi radio. Namun, pada awal perkembangan hukum udara banyak para sarjana dan negara-negara mempersoalkan pemanfaatan ruang udara bagi kegiatan penerbangan. Persoalan yang muncul pada waktu itu adalah, bagaimana status ruang udara di atas wilayah udara suatu negara? Atau dalam kaitannya dengan kegiatan penerbangan, penerbangan melalui ruang udara di atas wilayah suatu negara bebas atau tidak?. Teori Pertama tentang ruang udara adalah “Cujus est solum, ejust est usque ad coelum” artinya, barang siapa memiliki sebidang tanah dengan demikian juga memiliki segala-galanya yang berada di atas permukaan tanah tersebut sampai ke langit dan segala apa yang berada di dalam tanah. Di pihak lain muncul teori bahwa udara merupakan “res communis”. Munculnya teori yang demikian kemudian menimbulkan berbagai tanggapan dari para ahli, institusi terkait, dan negara-negara. Tanggapan-tanggapan itu antara lain :

(a) Joseph Kroell, sesuai dengan surat uang ditujukan ke Prancis : “Jerman haru diperlakukan sama dengan orang-orang yang menyeberang garis perbatasan negara lain di darat”.

(b) Konferensi Den Haag 1899 : “Larangan pendaratan peluru dan bahan peledak dari balon atau menggunakan cara lain yang sifatnya sama”.

(c) Institut de Droit International 1902. Ada dua pandangan yang masuk tentang penggunaan ruang udara.

Pertama : bahwa udara adalah bebas semua pihak, baik bagi penerbangan atau bagi keperluan hubungan telegraf

(15)

Lembaga : Menerima kedua pandangan itu, yaitu ada kebebasan di udara, akan tetapi ada hak negara untuk membela diri demi mempertahankan keamanan negaranya

Konferensi : diterima pendapat tentang kedaulatan negara di ruang udara, dengan ketentuan harus pula diakui adanya hak lintas damai.

(d) Commite on Aviation of the Internasional Law Association, 1913 : ada dua kelompok besar pandangan tentang status kepemilikan ruang udara :

Teori udara bebas (the air freedom theory) 1. Kebebasan ruang udara tanpa batas

2. Kebebasan ruang udara dengan adanya hak khusus dari negara kolong

3. Kebebasan ruang udara, dengan penentuan zona teritorial di daerah mana hak tertentu negara kolong dapat dilaksanakan

Teori kedaulatan negara di ruang udara

1. Negara kolong berdaulat penuh dengan ketinggian tertentu

2. Negara kolong berdaulat penuh, dengan pembatasan hak lintas damai (freedom of innocent passage) bagi pesawat udara asing

3. Negara kolong berdaulat penuh tanpa batas

(e) Jerman : negara memiliki kedaulatan penuh atas ruang udara yang dapat digunakan di atas daratan dan laut teritorialnya. Jerman tidak mengakui adanya “right of innocent passage” di ruang udara. Jerman hanya mengakui bahwa bagi negara anggota konvensi dibenarkan menaikkan, menurunkan dan terbang melalui wilayah ruang udara negara anggota yang lain.

(f) Perancis : ...air navigation is free... Bahwa Perancis mengakui bahwa melintas wilayah suatu negara memang diperbolehkan, namun Negara kolong boleh melakukan pembatasan atas lintas tersebut, seperti :

1. Larangan dalam ketinggian tertentu

2. Larangan penerbangan di atas wilayah benteng pertahanan/militer

3. Larangan terbang yang sifatnya bertentangan dengan peraturan bea cukai

4. Negara kolong berhak melarang penerbangan melalui ruang udara di atas wilayahnya 5. Negara dapat menjalankan jurisdiksi atas peristiwa yang terjadi di dalam penerbangan

yang melewati wilayah negara kolong.

(16)

Secara Yuridis

Pasal 1 Konvensi Paris 1919 :

Pihak penutup perjanjian mengakui bahwa setiap negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan ekslusif (complete and exclusive) terhadap ruang udara di atas wilayahnya.

Konsekuensi pasal 1 tersebut, negara peserta konvensi dapat melakukan pembatasan

penerbangan pesawat udara negara lain yang bukan peserta konvensi, sebagaimana diatur dalam pasal 5 Konvensi Paris 1919. Jadi berlakunya kedaulatan lengkap dan ekslusif hanya bagi negara bukan peserta konvensi.

Pasal 5 Konvensi Paris 1919 :

Tiada satu negara peserta kecuali dengan izin khusus dan sementara sifatnya untuk mengijinkan penerbangan diatas wilayahnya oleh pesawat udara yang tidak memiliki kebangsaan dari suatu negara peserta.

Dipihak lain, negara peserta konvensi mempunyai hak melakukan lintas penerbangan secara damai (right of innocent passage) dalam wilayah ruang udara negara peserta konvensi lain, tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari negara yang dilalui (Pasal 2). Sehingga, berlakunya pasal 1 tersebut dibatasi oleh ketentuan pasal 2, yaitu adanya hak lintas damai bagi pesawat udara negara peserta konvensi.

Pasal 2 Konvensi Paris 1919 :

Masing-masing negara peserta melaksanakan dalam waktu damai menerima kebebasan lintas damai di atas wilayahnya bagi pesawat udara milik negara peserta lain dengan syarat

sebagaimana diatur dalam konvensi. Peraturan yang dibuat oleh negara peserta untuk

memberikan ijin masuk dalam wilayah ruang udaranya kepada pesawat udara negara peserta lain harus dilaksanakan tanpa membeda-bedakan kebangsaan.

Pasal 1 Konvensi Chicago 1944 :

The contracting States recoqnize that every State has complete and exclusive sovereignty over the airspace above its territory.

(17)

hak lintas damai di ruang udara. Bahkan pasal 1 Konvensi Chicago 1944 didukung oleh pasal 3 ayat 3, pasal 5 dan 6.

Pasal 3 ayat 3 :

Tidak ada pesawat udara negara dari negara penandatanganan dapat melintas di wilayah ruang udara lain atau di atas daratan tanpa ijin berupa persetujuan khusus atau dalam bentuk lain, sesuai dengan istilah yang dimaksud.

Pasal 5 : bagi penerbangan tidak terjadual (non-scheduled) juga diperlukan ijin (bagi pesawat udara komersial/carteran)

Pasal 6 : ijin diperlukan bagi penerbangan terjadual (scheduled = bagi pesawat udara komersial)

Konsekuensi dari kedaulatan ruang udara

1. Melarang lintas pesawat udara asing melalui wilayah ruang udara nasional, kecuali ada ijin dan merupakan suatu pelanggaran bila memasuki wilayah ruang udara suatu negara tanpa ijin lebih dahulu, akibatnya dapat diusir.

2. Menetapkan jalur-jalur udara yang dapat dilewati oleh pesawat udara asing 3. Menetapkan kawasan udara terlarang

4. Menjalankan yurisdiksi tertitorial.

(18)

Perkembangan

Pengaturan di Ruang

Udara

Pembentukan hukum ruang angkasa didasarkan terutama kepada hukum internasional dan kerjasama internasional. Oleh karena itu hukum internasional sangat berperan dalam

pembentukan hukum ruang angkasa. Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ruang angkasa

mencakup bidang yang sangat luas dan mempunyai nilai penting bagi setiap negara, oleh karena itu negara-negara berusaha untuk mengatur kegiatan tersebut dalam suatu pranata hukum.

Badan internasional yang pertama didirikan dengan tujuan menciptakan kerjasama di bidang eksplorasi dan eksploitasi ruang angkasa adalah International Astronautical Federation (IAF). Badan ini didirikan pada awal tahun 1950. Badan internasional yang berbentuk federasi ini bertujuan untuk mengarahkan perkembangan astronautika menuju ke arah perdamaian dunia, mengembangkan penelitian di bidang astronautika dan segala bidang-bidang yang berhubungan dengan itu, serta meningkatkan kerjasama internasional dalam bidang tersebut.

(19)

Dalam usaha mengantisipasi kemungkinan pertentangan antar negara-negara berteknologi maju di ruang angkasa, maka PBB pada tahun 1958 melalui sidang umumnya, telah menerbitkan sebuah Resolusi, yakni Resolusi MU No. 1348 (XIII) tertanggal 13 Desember 1958

tentang Questions of the Peaceful uses of Outer Space. Disusul kemudian dengan Resolusi MU No. 1962 (XVIII) tentang Declaration of Legal Principles Governing the Activites of States in the Exploration and use oc Outer Space. Kedua Resolusi tersebut kemudian menjadi landasan bagi sebuah perjanjian internasional di bidang ke ruang angkasaan, yaitu Treaty on Principles Concerning the Activities of States in the Exploration and use of Outer Space, including the Moon and other Celestical Bodies atau sering dikenal dengan Space Treaty 1967. Perjanjian internasional ini dikatakan sebagai ”Magna Carta” atau Piagam Utama tentang pengaturan ruang angkasa, termasuk benda-benda dan ruang angkasa, kewenangan negara dalam pemanfaatan ruang angkasa, hak dan kewajiban Negara dalam pemanfaatan ruang angkasa.

Kemudian disusul dengan perjanjian-perjanjian internasional lain yang kemudian menjadi sumber hukum ruang angkasa, yaitu :

1. Agreement on the Rescue of Astronauts, the Return of Astronauts and Return of Objects Launch Into Outer Space (Rescue Agreement) 1968. Perjanjian ini pada dasarnya mengatur kerjasama Negara atau organisasi internasional sebagai peluncur dan negara pihak untuk dapat segera menyelamatkan awak pesawat angkasa yang telah mendarat di laut bebas atau di tempat lain yang tidak berada di bawah yurisdiksi negara manapun

2. Convention on International Liability for Damage Caused by Space Objects (Liability Convention)1972. Konvensi ini mengatur tentang tanggung jawab internasional untuk kerugian-kerugian yang disebabkan oleh “space objects” dan prosedur pengajuan serta penyelesaian masalah-masalah yang berkaitan dengan formulasi sistem tanggung jawab dan prosedur kompensasi.

(20)

4. Agreement Governing the Activities of States on the Moon and other celestical Bodies (Moon Agreement) 1984. Pada dasarnya agreement ini mengatur tentang aktivitas negara di bulan dan benda-benda angkasa lainnya.

Dengan adanya beberapa perjanjian di bidang keruang angkasaan tersebut, UNCOPUOS berusaha mencari jalan yang paling sesuai agar eksplorasi dan eksploitasi ruang angkasa dilakukan dengan cara-cara dan usaha yang paling menguntungkan bukan saja bagi negara “Space Powers” akan tetapi juga memberi manfaat kepada negara-negara berkembang secara maksimal.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

(21)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...