Profesi Advokat di Singapura
Dilihat dari perannya, Profesi advokat di Singapura sebenarnya hampir sama dengan profesi advokat di Indonesia. Seorang advokat di Singapura, dapat bertindak baik sebagai advokat maupun sebagai solicitor.1 Maksudnya, Seorang advokat di Singapura dapat beracara dipengadilan maupun hanya memberikan nasihat – nasihat hukum saja, seperti layaknya di Indonesia. Namun, meskipun memiliki peran yang sama, kedua istilah ini, advocates maupun solicitor tetap dibedakan, seperti misalnya dalam Legal Profession Act, istilah yang digunakan terhadap seorang advokat adalah “advocates and solicitors”. Dalam Legal Profession Act, “advocates and solicitors” didefinisikan sebagai “an advocate and solicitor of the Supreme Court..”.2 Maksudnya, setiap advocates maupun solicitor di Singapura merupakan bagian dari Supreme Court (di Indonesia di kenal sebagai Mahkamah Agung), sehingga berhak untuk menghadap atau beracara di setiap Pengadilan – pengadilan Singapura.3 Hal ini juga karena advocates maupun solicitor tersebut dilantik oleh Chief Justice (Di Indonesia disebut Ketua Mahkamah Agung) dari Supreme Court tersebut.
Istilah lainnya yang terdapat dalam profesi advokat di Singapura adalah consultant. Seorang advokat di Singapura baru dapat menggunakan titel consultant apabila ia telah menjadi solicitor, pejabat dibidang hukum yang relean, anggota tetap staf pengajar di Fakultas Hukum National University of Singapore (NUS) atau di Singapore Management University (SMU), atau kombinasi dari hal hal itu, selama tidak kurang dari 10 tahun. Bagi solicitors yang menggunakan title consultant melanggar dari ketentuan itu akan dikenakan gugatan dengan denda tidak lebih dari $10,000.4 Karena banyaknya istilah – istilah untuk advokat ini, untuk laporan ini akan dipakai istilah advokat saja, karena istilah advokat merupakan istilah yang baku digunakan dalam peraturan perundang – undangan di Indonesia.
Dalam profesi advokat di Singapura terdapat sebuah jabatan advokat (dalam hal ini, solicitor) yang dianggap memiliki ranking tertinggi dalam litigasi yang disebut sebagai Senior Counsel. Hal ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996. Sebelum adanya jabatan ini, apabila terdapat perkara – perkara litigasi yang sulit, berdasarkan Legal Profession Act, dapat dibentuk suatu kerja sama ad-hoc dengan Queen’s Counsel di Inggris. Adanya Senior Counsel ini adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Queen’s Counsel tersebut. Senior
1 < http://www.singaporelaw.sg/sglaw/laws-of-singapore/overview/chapter-1> diakses pada tanggal 11 Maret 2016
Counsel ditunjuk berdasarkan section 30 Legal Profession Act oleh komite yang beranggotakan Hakim Agung, Jaksa Agung, dan Judge of Appeal. Kriterianya adalah memiliki pengalaman minimal selama 10 tahun berprofesi sebagai advocates dan solicitors ataupun pejabat hukum atau keduanya. Senior Counsel ini akan diranking setelah Attrney-General dan Solicitor-General, berdasarkan tanggal ia diangkat menjadi senior counsel.5
Untuk dapat menjadi advokat di Singapura (baik Advocates maupun Solicitor) seseorang harus dianggap sebagai “qualified person” sebagaimana ditentukan dalam Section 2 Legal Profession Act, serta diterima oleh Singapore Bar (dapat berpraktek). Untuk memenuhi persyaratan sebagai “qualified person”, dapat dilakukan dengan cara mendapatkan gelar sarjana hukum dari National University of Singapore (NUS) atau Singapore Management University (SMU) atau dari universitas luar negeri dari United Kingdom (UK), United States. Australia, Kanada dan Selandia Baru.6 Selain itu, berdasarkan section 7 Legal Profession Act, orang yang memiliki kualifikasi atau kemampuan yang dapat berkontribusi untuk mengembangkan kualitas bidang hukum atau ekonomi atau teknologi di Singapura, juga dapat dianggap sebagai “qualified person” berdasarkan persetujuan dari Board of Legal Education. Kemudian, seorang yang “qualified person” tersebut harus mengikuti semacam pelatihan terlebih dahulu yang diselenggarakan oleh Singapore Institute of Legal Education, sebelum dapat menjalani ujian sertifikasi. Badan tersebut juga yang berwenang dalam penyelenggaraan ujian sertifikasi tersebut.7 Lulusan hukum dari luar negeri yang diakui harus menjalani Part A dari ujian masuk, yaitu semacam program konversi pada Hukum Singapura. Sedangkan lulusan NUS dan SMU tidak dipersyaratkan untuk menjalani Part A dari ujian tersebut. Kemudian, calon advokat harus menjalani dan lulus program persiapan (semacam pelatihan yang telah dijelaskan sebelumnya) untuk Part B dari ujian masuk. Setelah lulus, para calon advokat ini diharuskan untuk menjalani masa pelatihan praktek baik dengan kerja sebagai petugas layanan hukum atau bekerja dengan petugas hukum yang terkualifikasi. Masa praktek ini harus dijalani oleh calon advokat selama 3 tahun bagi yang bekerja di Bagian Pelayanan Hukum, dan 6 bulan masa magang bagi yang magang pada advokat yang sudah 5 tahun atau lebih berpraktek. Setelah itu barulah dapat diterima ke dalam Singapore Bar, atau dengan kata lain dapat berpraktek di Singapura, setelah dilantik oleh Chief Justice dalam panggilan massal dan mendapatkan sertifikat berpraktek dari panitera Supreme Court. 8
5 Section 31 Legal profession Act
6 < http://www.singaporelaw.sg/sglaw/laws-of-singapore/overview/chapter-1#Section8> diakses pada tanggal 13 Maret 2016
Advokat asing juga dapat berpraktek di Singapura dengan cara mendaftar ke Attorney General (Jaksa Agung) untuk mendapatkan sertifikat beracara (Foreign Practicioner Certificate). Namun praktek yang dapat dilakukan oleh advokat asing ini hanya terbatas pada bidang banking and finance, mergers and acquisitions, serta mengenai hukum kekayaan intelektual.
Seorang advokat dapat berpraktek secara perseorangan atau dengan rekan - rekannya dalam sebuah partnerships(semacam persekutuan perdata di Indonesia), limited partnerships (LLP), atau Law Corporations (LLC). Advokat yang baru diangkat tidak dapat langsung berpraktek secara perseorangan ataupun menjadi partner dalam LLP maupun LLC. Untuk dapat berpraktek, seorang advokat harus menyelesaikan Legal Practice Management Course, serta bekerja pada praktek hukum di Singapura selama 3 tahun berturut – turut atau 3 tahun dalam 5 tahun masa kerja di bidang hukum atau menjadi pejabat di bidang hukum yang relevan selama 3 tahun berturt – turut atau selama 3 tahun dalam 5 tahun masa kerja.9 Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan didenda sebesar tidak lebih dari $10,000. Bentuk prakteknya Bisa juga dengan melakukan joint ventures dan Formal Law Alliances dengan advokat asing. Advokat asing ini dapat terdaftar di Singapura sebagai kantor advokat asing (Foreign Law Practices), kantor perwakilan, atau kantor advokat asing yang terkualifikasi (Qualifying Foreign Law Practices).10 Atau dapat juga berpraktek sebagai locum solicitor. Locum solicitor dalam section 2 (1) didefinisikan sebagai "an advocate and solicitor engaged (whether concurrently or otherwise) on a temporary or freelance basis by one or more law firms, law corporations, limited liability law partnerships or solicitors practising on their own account”. Locum Solicitor ini semacam pekerja freelance yang dikontrak untuk menangani kasus tertentu saja.
Tanggung Jawab Profesi
Tanggung jawab seorang advokat di Singapura secara umum diatur dalam Legal Profession (conduct) Rules 2015 yang dibuat oleh Professional Conduct Council berdasarkan section 71 (2) Legal Profession Act. Professional Conduct Council sendiri merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan amandemen Legal Profession Act, yang baru beroperasi 18 November 2015 kemarin. Professional Conduct Council diketuai oleh Chief Justice, dan dibentuk untuk mengawasi semua peraturan yang berkaitan dengan permasalahan Professional Conduct baik untuk advokat Singapura sendiri maupun Advokat Asing yang bekerja di Singapura.11 Selain diatur dalam rules tersebut, sebenarnya mengenai tanggung
9 Section 75C Legal Profession Act
10 <http://www.lawonline.com.sg/Legal%20System.html> diakses 12 Maret 2016 Pukul 23:09
jawab advokat di Singapura juga diatur dalam Practice Directions and Guidance Notes yang dibuat oleh The Law Society of Singapore. Namun, karena adanya amandemen – amandemen baru mengenai Legal Profession, terutama dalam hal conduct rulesnya yang baru tahun 2015 kemarin diamandemen, maka Directions and Guidance Notes ini juga turut diamandemen dan belum selesai sampai sekarang. Hal ini juga menyebabkan Directions and Guidance Notes sebelumnya yang mengatur mengenai conduct tidak dapat diakses lagi dalam website The Law Society12, maupun dalam website http://statutes.agc.gov.sg/ yang berisi kumpulan peraturan
perundang-undangan di Singapura. Sehingga penulis hanya akan memaparkan tanggung jawab – tanggung jawab profesi advokat yang diatur baik dalam Legal Profession act maupun dalam Legal Profession (conduct) rules 2015 saja.
Seperti Yang dijelaskan sebelumnya yang menjadi dasar dibuatnya rules mengenai Professional (Conduct) Rules 2015 adalah berdasarkan Section 71 (2) yang merujuk kepada Section 71(1) Legal Profession Act, yang mengatur sebagai berikut,
“ 71.—(1) Without prejudice to any other power to make rules, the Council may make rules for regulating the professional practice, etiquette, conduct and discipline of advocates and solicitors, including rules empowering the Council to take such action as may be necessary to enable the Council to ascertain whether or not the rules are being complied with.”
“(2) Such rules shall not come into operation until they have been approved by the Chief Justice who may if he thinks fit consult any of the other Judges before giving his approval.”
Section 71(1) memberikan kewenangan kepada council (dalam hal ini Professional Conduct Council) untuk membuat rules yang mengatur mengenai conduct dari advokat. Kemudian rules yang dibuat tersebut haruslah mendapat persetujuan dari Chief Justice. Professional (Conduct) Rules 2015 merupakan amandemen dari Professional (Conduct) Rules R1 sebelumnya. Rules R1 sudah dinyatakan tidak berlaku lagi berdasarkan Rules 51 Professional (Conduct) Rules 2015.13
Professional (Conduct) Rules 2015 sebenarnya mengatur tata cara dan tindakan untuk semua praktisi hukum, namun dapat dianggap sebagai kumpulan kode etik untuk profesi advokat. Didalamnya dijelaskan secara detail bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh advokat dalam berbagai situasi praktek di bidang hukum. Selain itu, hal – hal teknis seperti promosi dan pengiklanan juga terdapat dalam pengaturan rules ini. Professional (conduct)
<https://www.mlaw.gov.sg/content/dam/minlaw/corp/News/Circular%20on%20the
%20Establishment%20of%20the%20LSRA.pdf> diakses tanggal 13 Maret 2015 pukul 15:27 12 <http://www.lawsociety.org.sg/forMembers/ResourceCentre/EthicsPortal.aspx> diakses tanggal 13 Maret 2015 pukul 15:00
Rules 2015 membagi pengaturan mengenai tindakan yang harus dilakukan seorang advokat dalam beberapa bagian. part pertama berisi tentang pertimbangan dan definisi – definisi. part 2 membahas mengenai rules yang berlaku secara umum bagi advokat. kemudian part 3 mengatur mengenai rules yang berlaku saat advokat menghadap di pengadilan. Kemudian part 4 mengatur mengenai manajemen serta operasional yang boleh dilakukan dalam praktek hukum. part 5 mengatur mengenai promosi dan publisitas yang dapat dilakukan oleh advokat, serta part 6 mengatur mengenai hal lain – lain seperti misalnya pencabutan peraturan lain karena adanya peraturan ini. Terdapat juga bagian – bagian yang dinamakan schedule yang mengatur mengenai bisnis yang dilarang oleh advokat, bisnis yang terkait dengan praktek hukum yang dapat dilakukan advokat, mengenai undangan institusi – institusi mana yang dapat diterima oleh advokat, serta kondisi – kondisi yang dibenarkan dalam hal advokat menghadiri pertemuan – pertemuan bisnis.
Tanggung jawab profesi advokat dapat dibedakan menjadi tanggung jawab terhadap profesinya, tanggung jawab terhadap pengguna jasa/klien, serta tanggung jawab terhadap masyarakat. Berikut akan dibahas masing – masing tanggung jawab tersebut.
Tanggung Jawab Advokat terhadap Profesinya
Tanggung jawab advokat terhadap profesinya diatur secara umum dalam rules 7 Legal Profession (conduct) Rules 2015 yang mengatur mngenai hubungan antar praktisi hukum yang bisa juga diinterpretasikan mengatur hubungan advokat dengan advokat dan praktisi hukum lainnya, serta beberapa rules lainnya seperti rules 27 sampai 31 yang mengatur mengenai hubungan advokat terhadap advokat dan praktisi hukum lainnya ketika di pengadilan, rules 37 sampai 49 yang mengatur mengenai permasalahan publikasi dan promosi, dan sebagainya yang diatur dalam rules tersebut.
Di Singapura Seorang advokat tidak boleh memperkenalkan dirinya sebagai profesi selain daripada, advocates dan solicitor; lawyer; legal consltant (jika memiliki kualifikasi).14
Seorang advokat juga tidak boleh menerima posisi – posisi dalam suatu bisnis sebagaimana diatur dalam rules 34 (1) sebagai berikut.
a. Setiap usaha yang akan mengurangi, tidak sesuai dengan, atau merendahkan martabat profesi hukum;
b. Setiap usaha yang secara langsung mengganggu (I) pekerjaan utama sebagai advokat, (II) ketersediaan advokat, dan (III) representasi untuk klien advokat.
c. Setiap usaha yang kemungkinan akan menyebabkan ketidakadilan pada usaha praktisi hukum;
d. Setiap usaha yang terlibat dalam pembagian fee advokat dengan, atau terhadap unauthorized person dala, pekerjaannya sebagai advokat;
e. Setiap usaha yang diatur dalam first schedule, yaitu usaha debt collection dan usaha agen perumahan.
f. Setiap usaha yang dilarang oleh Act (Legal Profession Act), Rules – rules yang merupakan subsidiary legislation dari Act, serta practice directions maupun guidance notes and rulings (relating to professional practice, etiquette, conduct and discipline) yang dibuat oleh Professional Conduct Council maupun oleh The Law Society.
Dijelaskan dalam paragraph (3) rules 34 bahwa advokat dapat menerima posisi posisi bisnis tersebut apabila badan usaha tersebut bergerak dibidang yang berkaitan dengan hukum, seperti yang dijelaskan dalam fourth schedule legal Profession (conduct) Rules 2015, yaitu dalam bidang – bidang, yang menyangkut pelayanan jasa dibidang kekayaan intelektual; jasa pajak termasuk jasa konsultansi; setiap trust business atau jasa trust sebagaimana dimaksud dalam Trust Company Act (Cap 336); setiap usaha yang menangani persoalan perusahaan, termasuk masalah pembentukan atau penggabungan perusahaan; setiap usaha dibidang administrasi, manajemen, property atau lainnya yang tersedia secara eksklusif dalam praktek hukum sebagaimana dimaksud dalam rules 34 (3), (4), (5); setiap usaha dibidang penyelidikan forensic, pengurusan dokumen atau jasa lainnya yang mendukung litigasi; serta layanan likuidasi.
Pada prinsipnya, Seorang advokat harus saling menghormati dengan praktisi hukum lainnya (termasuk juga advokat) sebagai anggota dari profesi yang mulia dan terhormat. Seorang advokat ketika berhubungan dengan advokat lainnya harus selalu memiliki itikad baik serta berperilaku sopan dan bermartabat, selain itu seorang advokat juga dilarang untuk berhubungan dengan advokat dan praktisi hukum lainnya dalam hubungan yang dapat mempengaruhi reputasi dan nama baik dari praktisi hukum di Singapura.15 Dalam pengadilan,
seorang advokat yang terlibat dalam urusan di pengadilan (baik sebagai advokat, saksi, dan sebagainya) harus berperilaku menghormati setiap petugas keadilan (Administration of justice, misalnya polisi atau PPNS). Dalam pengadilan setiap advokat juga bertanggung jawab kepada
advokat lawan untuk menjaga proses di pengadilan serta menghormati setiap petugas keadilan.16 Dalam hubungannya dengan staf – stafnya, seorang advokat harus, tanpa
memandang bidang hukum apa, menjaga hubungan yang layak dengan staf – stafnya.17
Terkait dengan manajemen kerja advokat, seorang advokat harus dengan jelas mengusahakan untuk memfasilitasi lingkungan kerja yang mngedepankan profesionalisme, kecakapan, serta kesadaran etika untuk setiap orang di tempat kerjanya. Selain itu, ia juga bertanggung jawab untuk menjamin bahwa setiap orang yang bekerja di tempatnya mematuhi semua peraturan – peraturan terkait dengan praktisi hukum. Seorang advokat juga harus menjamin bahwa setiap sistem manajemennya dapat bekerja dengan baik, dan dapat berjalan dengan baik terhadap semua permasalahan yang berhubungan dengan kliennya.18
Terkait dengan hal publisitas, seorang advokat tidak boleh melakukan publikasi atau mengadakan pekerjaan atau pengikutsertaan untuk dirinya, tempat ia bekerja, atau orang lainnya, yang dapat mempengaruhi martabat dari profesi hukum.19 Berdasarkan rules 39 (1)
publikasi atau promosi untuk pekerjaan tersebut tidak boleh terlihat jelas menggembor – gemborkan atau terlihat jelas bertujuan untuk promosi. Dalam hal klien datang kepada advokat karena direferensikan oleh orang lain, tanpa melihat rules 39 (1), seorang advokat harus, menjaga independensi dan integritas profesi hukum dengan tidak membiarkan si pemberi referensi untuk melemahkan kemandiran serta profesionalisme kerja dari advokat; tidak memberikan si pemberi referensi hadia berupa pembayaran komisi atau bentuk lain; tidak mempengaruhi saran yang diberikan klien karena adanya referensi tersebut; memastikan setiap keinginan untuk menghindari menyinggung si pemberi referensi tidak mempengaruhi kerja daripada advokat terhadap kliennya; memastikan bahwa si pemberi referensi tidak mempengaruhi setiap keputusan yang diambil oleh advokat; serta harus berkomunikasi secara langsung dengan klien untuk mendapatkan atau memastikan instruksi ketika memberikan saran dan tahap lainnya dalam hubungan advokat dengan klien.20 Advokat juga dapat membuat suatu
perjanjian untuk mereferensikan dirinya terhadap setiap pekerjaan yang telah diberikan kepadanya dengan tunduk kepada pengaturan – pengaturan dalam rules 40. Seorang advokat juga dapat mempublikasikan tempat kerjanya, dimana ia menjadi direktur, partner, ataupun pekerja disana, atau dapat juga menyuruh pekerjanya untuk melakukannya, dengan tetap tunduk pada conduct rules 2015 .21 Advokat juga harus mengusahakan untuk mencabut
publikasi yang dilakukannya apabila publikasi yang dilakukannya tidak pantas dilakukan oleh praktisi hukum, selain itu apabila dewan menyatakan bahwa publikasi yang dilakukan melanggar ketentuan rules, maka dewan dapat menginstruksikan untuk melepas, menghapus atau tidak lagi menggunakan publikasi tersebut. Seorang advokat juga tidak boleh menggunakan hal – hal yang berhubungan dengan lambang dari the law society. Saat advokat mempublikasikan pekerjaannya, seorang advokat harus memastikan bahwa: keahlian atau spesialisasinya dapat dipertanggungjawabkan; tidak memuat langsung atau tidak langsung mengenai kasus sebelumnya yang pernah ditangani advokat yang mana apabila dipublikasikan akan menimbulkan pelanggaran kewajiban menjaga kerahasiaan klien atau mantan kliennya atau presentase kesuksesan dari advokat tersebut; publikasi tersebut tidak menimbulkan adanya perbandingan tarif jasa dari advokat lainnya.22 Kemudian dalam paragraph (2) pasal 43
dijelaskan hal hal apa saja yang dapat dipublikasikan oleh seorang advokat terkait dengan pekerjaannya, seperti kualifikasi akademik, pengalaman, jam terbang dalam bekerja, dan lain sebagainya. Seorang advokat di Singapura juga dapat melakukan publikasi di luar Singapura dengan tetap memastikan bahwa publikasi yang dilakukan tidak melanggar ketentuan – ketentuan di negara tempat melakukan publikasi tersebut.23 Kemudian dalam rules 44 diatur
mengenai publikasi yang dilarang dilakukan oleh advokat yang dilarang dilakukan, yang dapat menimbulkan mispersepsi, berisi ketidakakuratan atau kesalahan informasi dalam publikasi tersebut.
Tanggung jawab advokat terhadap klien/pengguna jasa
Tanggung jawab advokat terhadap klien/pengguna jasa, secara umum pengaturannya diatur dalam Part 2 division 1 Legal Profession (Conduct) Rules 2015. Hubungan antara advokat dengan klien haruslah sesuai dengan prinsip kejujuran, kecakapan, dan ketekunan, serta prinsip kerahasiaan. Hubungan antara advokat dengan kliennya haruslah berdasarkan kejujuran dalam segala urusan dengan klien. Seorang advokat juga harus memiliki pengetahuan yang diperlukan, keterampilan, serta pengalaman untuk dapat memberikan saran saran yang kompeten serta dalam hal mewakili kliennya. Kemudian Seorang advokat haruslah memiliki ketekunan dalam memberikan saran serta informasi kepada kliennya maupun pada saat mewakili kliennya. Dalam membela kepentingan klien, seorang advokat juga harus bertanggung jawab dalam menjaga kerahasiaan informasi - infomasi yang diperolehnya dalam melakukan pekerjaannya sebagai advokat. Kemudian berdasarkan prinsip – prinsip tersebut,
dibuat kewajiban – kewajiban yang harus dilaksanakan advokat terkait dengan tanggung jawabnya kepada klien dalam bagian dibawah ini.24
Seorang advokat haruslah jujur terhadap kliennya dalam urusan yang menyangkut urusan hukumnya dengan klien; Memberikan semua informasi yang diketahui kepada klien, yang mungkin mempengaruhi kepentingan klien dalam permasalahan hukumnya, kecuali dalam hal: informasi yang tidak boleh diberikan oleh seorang advokat, yang berdasarkan prinsip kerahasiaan, tidak boleh diungkapkan kepada klien ; serta informasi dimana klien telah setuju secara tertulis untuk tidak perlu diinformasikan. Seorang advokat harus bertindak dalam kecakapan dan ketekunan yang wajar dalam hal penyediaan jasa kepada klien; Seorang advokat harus memastikan bahwa ia memiliki pengetahuan yang relevan, keterampilan serta hal – hal yang diperlukan dalam bertindak atas nama kliennya, dan dapat menerapkan pengetahuan, keterampilan serta hal – hal yang diperlukan tersebut dengan cara yang sesuai; Seorang advokat harus selalu memberitahu mengenai kemajuan kasus klien;
Seorang advokat harus selalu melakukan komunikasi dengan klien, bila memungkinkan; Menepati janji – janji dengan klien; Selalu menyediakan waktu untuk memberikan nasihat hukum kepada klien; Memberikan semua petunjuk yang sah, tepat dan sesuai kepada klien; Melakukan segala cara yang legal untuk membantu kepentingan klien, sampai batas wajar kemampuan advokat; Menyimpan semua catatan – catatan yang diberikan oleh dan/atau kepada klien. Apabila terdapat perintah yang mengatasnamakan klien, seorang advokat harus memastikan bahwa memang perintah tersebut merupakan perintah klien, serta apabila tidak ada bukti bahwa perintah tersebut merupakan kewenangan klien, perintah tersebut harus dikonfirmasi kepada klien saat setelah menerima perintah tersebut;25 Seorang
advokat dilarang untuk mengungkapkan rahasia dari kliennya dan informasi yang diperolehnya (baik melalui klien maupun orang lain) dalam profesinya sebagai advokat; Seorang advokat diizinkan untuk membuka informasi – informasi jika klien menyetujuinya, dibolehkan oleh hukum, perintah pengadilan atau dengan penetapan untuk keterbukaan informasinya; Seorang advokat diizinkan untuk membuka informasi sehubungan dengan kewajiban hukum advokat atau etika advokat; Seorang advokat diizinkan untuk membuka informasi kepada penyedia atau broker asuransi, dalam hal terjadi klaim atau dalam hal timbul potensi klaim, atau complain atau potensi complain, oleh seseorang terhadap advokat; Seorang advokat diizinkan untuk membuka informasi dengan tujuan untuk merespon atau mempertahankan gugatan atau complain.
Terkait dengan uang milik klien(client’s money) serta persoalan honorarium dan biaya – biaya diatur dalam rules 16 dan 17. Pada prinsipnya, mengenai uang milik klien, seorang advokat memiliki kewajiban untuk menjamin bahwa uang atau property milik klien benar – benar digunalan untuk melindungi kepentingan – kepentingan klien.26 Mengenai honorarium serta
biaya biaya pada prinsipnya seorang advokat haru bertindak untuk kepentingan kliennya serta mengenakan tariff kepada klien sesuai dengan apa yang dikerjakannya.27 Honorarium yang
didapat advokat tersebut juga berdasarkan rules 19 tidak dapat diberikan untuk membayar atau memberikan komisi kepada orang – orang yang tidak sah(unauthorized person) mengenai kualifikasi tidak sah tersebut tidak dijelaskan dalam rules ini.
Seorang advokat berdasarkan pasal 20 (2) diperbolehkan untuk menangani 2 atau lebih klien, namun dalam hal ini advokat tersebut harus bertindak secara hati – hati untuk menghindari terjadinya atau akan terjadinya suatu konflik kepentingan antara klien – klien yang ditanganinya.28
Seorang advokat juga berkewajiban untuk menghormati dan menjaga kerahasiaan klien berlanjut bahkan sampai kontrak dengannya berakhir.29 Maksudnya, meskipun kontrak
antara advokat dengan klien tersebut telah berakhir, advokat tetap berkewajiban untuk menghormati dan menjaga kerahasiaan mantan kliennya tersebut. Seorang advokat juga harus bisa menjaga hubungannya dengan klien agar tidak terjadi benturan kepentingan antara kepentingan advokat dengan kepentingan klien.30 Misalnya seorang advokat yang menangani
perkara seorang klien, namun disisi lain terdapat juga hubungan pembeli dan penjual diantara mereka. Hal ini perlu dibedakan dengan baik agar tidak terjadi benturan kepentingan.
Tanggung Jawab Profesi Advokat terhadap Masyarakat
Mengenai tanggung jawab profesi advokat di Singapura terhadap masyarakat, pengaturannya secara spesifik diatur dalam part 2 division 3 Legal Profession (conduct) Rules. Prinsip dasarnya adalah conduct in relation to other persons atau dengan kata lain bertindak dengan memperhatikan orang lain. Dalam hal ini, seorang advokat haruslah bertindak jujur dan sopan serta berkelakuan sesuai dengan advokat pada umumnya yang dipandang oleh masyarakat, tidak hanya dalam hal yang menyangkut praktek kerjanya saja.
Selain itu, seorang advokat juga harus berperilaku yang sesuai dengan kepentingan publik, dan juga harus berlaku adil terhadap setiap orang yang tidak diwakili oleh advokat lain.31
26 Rules 16 (1) Legal Profession (conduct) Rules 2015 27 Rules 17 (1) Legal Profession (conduct) Rules 2015 28 Rules 20 (1) Legal Profession (conduct) Rules 2015 29 Rules 21 (1) Legal Profession (conduct) Rules 2015 30 Pasal 22 (1) Legal Profession (conduct) Rules 2015
Seorang advokat juga ketka bertindak untuk kliennya dengan setiap orang yang tidak diwakili oleh advokat lainnya, harus Menolak untuk memberikan nasihat hukum kepada orang lain, apabila advokat mengetahui bahwa kepentingan orang tersebut akan bersinggungan dengan kepentingan kliennya, dan memastikan bahwa orang tersebut tidak beranggapan bahwa kepentingannya dilindungi.32 Seorang advokat dilarang untuk mengambil keuntungan secara
tidak adil pada setiap orang, serta dilarang bertindak terhadap setiap orang dengan cara yang curang, menipu, atau bertentangan dengan posisi advokat yang dianggap sebagai profesi yang terhormat.33 Seorang advokat yang bertindak sebagai mediator dalam suatu mediasi dilarang
untuk bertindak untuk salah satu pihak, dalam kaitasnnya dengan subjek mediasi ataupun setiap masalah yang dibahas selama mediasi.34
Seorang advokat juga dapat memberikan nasihat hukum secara gratis kepada setiap orang melalui fasilitas – fasilitas yang dipandang memang untuk memberikan bantuan hukum kepada masyarakat. Dalam memberikan nasihat hukum gratis tersebut, seorang advokat harus memastikan dengan wajar bahwa tidak ada informasi yang di publikasikan, yang berkaitan dengan pekerjaannya, kecuali nama advokat tersebut, fakta bahwa si advokat adalah advokat, dan tempat bekerja dari si advokat. Seorang advokat juga tidak boleh mendistribusikan kartu nama, brosur, atau pamphlet advokat tersebut atau tempat advokat bekerja atau bertindak atas nama orang yang diberikan nasihat hukum gratis tersebut kecuali dalam hal advokat bertindak atas namanya dalam kapasitasi pro bono.35
Apabila advokat melanggar ketentuan – ketentuan etik sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pasal 71 (3) Legal Profession Act menyatakan bahwa, “Disciplinary proceedings may be taken against any advocate and solicitor who contravenes any rules made under this section.” Dengan kata lain, advokat yang melanggar dapat terkena tindakan pendisiplinan. Mengenai tindakan pendisiplinan ini dan lembaga mana yang berwenang akan dijelaskan pada Bab berikutnya mengenai pengawasan.
32 Rules 8 (2) (a) dan (b) Legal Profession (conduct) Rules 2015 33 Rules 8 (3) (a) dan (b) Legal Profession (conduct) Rules 2015 34 Rules 8 (6) Legal Profession (conduct) Rules 2015