ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN SISTEM RESPIRASI
EMFISEMA PARU
MAKALAH
oleh Kelompok 7
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER
EMFISEMA PARU
MAKALAH
disusun sebagai pemenuhan tugas Keperawatan Klinik II B dengan dosen pengampu: Lantin Sulistyorini, S.Kep.,Ns.,M.kes
oleh
Aisatul Zulfa 142310101029
Widiyatus Sholehah 142310101056
Mega Rani Wulandari 142310101086
Annisa Clara 142310101123
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Emfisema tergabung dalam Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang merupakan salah satu kelompok penyakit yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia.Pada Survei Kesehatan Rumat Tangga (SKRT) 1986 emfisema menduduki peringkat ke-5 sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab kesakitan utama. SKRT DepKes RI menunjukkan angka kematian karena emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia. Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang menghisap rokok, dan pesatnya kemajuan industri.
Di negara-negara barat, ilmu pengetahuan dan industri telah maju dengan mencolok tetapi menimbulkan pula pencemaraan lingkungan dan polusi. Ditambah lagi dengan masalah merokok yang dapat menyebabklan penyakit bronkitis kronik dan emfisema.Di Amerika Serikat kurang lebih 2 juta orang menderita .Emfisema menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang dapat menimbulkan gangguan aktifitas. Emfisema terdapat pada 65% laki-laki dan 15% wanita.
Saat ini Indonesia menjadi salah satu produsen dan konsumen rokok tembakau serta menduduki urutan kelima setelah negara dengan konsumsi rokok terbanyak di dunia, yaitu China mengkonsumsi 1.643 miliar batang rokok per tahun, Amerika Serikat 451 miliar batang setahun, Jepang 328 miliar batang setahun, Rusia 258 miliar batang setahun, dan Indonesia 215 miliar batang rokok setahun. Kondisi ini memerlukan perhatian semua fihak khususnya yang peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.Atas dasar itulah, kami membahas lebih lanjut mengenai emfisema yang merupakan salah satu bagian dari PPOK khususnya mengenai Asuhan Keperawatan pada Klien Emfisema. Sehingga diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien emfisema.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud emfisema paru? 1.2.2 Bagaimana epidemiologi emfisema paru? 1.2.3 Bagaimana etiologi emfisema paru?
1.2.4 Bagaimana tanda dan gejala emfisema paru? 1.2.5 Apa saja komplikasi dan prognosis emfisema paru? 1.2.6 Bagaimana pengobatan emfisema paru?
1.2.7 Bagaimana pencegahan emfisema paru?
1.2.8 Bagaimana gambaran pathway emfisema paru?
1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan emfisema paru?
1.3 Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan konsep emfisema paru 1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian emfisema paru b. Mahasiswa mampu menjelaskan epidemiologiemfisema paru c. Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi emfisema paru
d. Mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala emfisema paru e. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi emfisema paru
f. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi dan prognosis emfisema paru
g. Mahasiswa mampu menjelaskan pengobatan emfisema paru h. Mahasiswa mampu menjelaskan pencegahan emfisema paru i. Mahasiswa mampu menggambarkan pathway emfisema paru
BAB. 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Emfisema Paru
Pengobatan seperti bronkoldilator dan kortikosteroid, tersedia untuk membantu mengurangi gejala. Berhenti merokok adalah satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari kondisi ini.
Terdapat tiga tipe emfisema: a. Emfisema sentriolobular
Merupakan tipe yang sering muncul dan memperlihatkan kerusakan bronkiolus, biasanya pada daerah paru-paru atas. Inflamasi merambah sampai bronkiolus tetapi biasanya kantung alveolus tetap bersisa.
b. Emfisema panlobular (panacinar)
Merusak ruang udara pada seluruh asinus dan umunya juga merusak paru-paru bagian bawah. Tipe ini sering disebut centriacinar emfisema, sering kali timbul pada perokok. Panacinar timbul pada orang tua dan pasien dengan defisiensi enzim alfa-antitripsin.
c. Emfisema paraseptal
Merusak alveoli lobus bagian bawah yang mengakibatkan isolasi blebs (udara dalam alveoli) sepanjang perifer paru-paru. Paraseptal emfisema dipercaya sebagai sebab dari pneumothorax spontan.
2.2 Epidemiologi Emfisema Paru
Di Amerika Serikat kurang lebih 2 juta orang menderita emfisema. Emfisema menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang dapat menimbulkan gangguan aktifitas. Emfisema terdapat pada 65% laki-laki dan 15% wanita.
Data epidemiologis di Indonesia sangat kurang. Nawas dkk melakukan penelitian di poliklinik paru RS Persahabatan Jakarta dan mendapatkan prevalensi PPOK sebanyak 26%, kedua terbanyak setelah tuberkulosis paru (65%). Di Indonesia belum ada data mengenai emfisema paru.
2.3 Etiologi Emfisema Paru
Merokok merupakan penyebab utama emfisema. Terdapat hubungna yang erat antara merokok dan penurunan volume ekspirasi paksa (FEV) (Nowak, 2004).
2. Keturunan
Belum diketahui jelas apakan faktor keturunan berperan atau tidak pada emfisema kecuali pada penderita dengan defisiensi enzim alfa 1 antitripsin. Kerja enzim ini menetralkan enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru, karena itu kerusakan jaringan lebih jauh dapat dicegah. Defisiensi alfa 1 antitripsin adalah satu kelainan yang diturunkan secara autosom resesif. Orang yang sering menderita emfisema paru adalah penderita yang memiliki gen S atau Z. Emfisema paru akan lebih cepat timbul bila penderita tersebut merokok.
3. Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan kerusakan paru lebih hebat sehingga gejala-gejalanya pun menjadi lebih berat. Infeksi saluran pernafasan atas pada seorang penderita bronkhitis kronis hampir selalu melipatkan infeksi paru bagian bawah, dan menyebabkan kerusakan paru bertambah. Eksaserbasi bronkhitis kronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus, yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri.
4. Hipotesis Elastase-Antielastase
5. Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. Sebagai faktor penyebab penyakit, polusi tidak begitu besar pengaruhnya tetapi bila ditambh merokok resiko akan lebih tinggi.
6. Pengaruh usia
2.4 Tanda dan Gejala Emfisema Paru
a. Sesak napas b. Batuk kronis
c. Sering merasa gelisah d. Penurunan berat badan e. Sering merasa kelelahan f. Berkurangnya nafsu makan g. Edema
h. Penurunan kemampuan untuk berolahraga 2.5 Patofisiologi Emfisema Paru
Emfisema merupakan kelainan dimana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan menyebabkan over distensi permanen ruang udara. Perjalanan udara akan terganggu akibat dari perubahan ini. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) diantara alveoli, jalan napas kolaps sebagian, dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Pada saaat alveoli dan septum kolaps, udara akan tertahan diantara ruang alveolus (disebut blebs) dan diantara parenkim paru-paru (disebut bullae). Proses ini akan menyebabkan meningkatkan ventilatori pada ‘dead space’ atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah.
tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya berhubungan dengan bronkhitis kronis dan merokok.
2.6 Komplikasi dan Prognosis Emfisema Paru
2.6.1 Komplikasi
a. Sering mengalami infeksi ulang pada saluran pernafasan b. Daya tahan tubuh kurang sempurna
c. Proses peradangan yang kronis di saluran napas d. Tingkat kerusakan paru makin parah.
e. Pneumonia f. Atelaktasis
g. Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien. 2.6.2 Prognosis
Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinis waktu berobat.
Penderita yang berumur kurang dari 50 tahun dengan :
a. Sesak ringan, 5 tahun kemudian akan terlihat ada perbaikan.
b. Sesak sedang, 5 tahun kemudian 42 % penderita akan sesak lebih berat dan meninggal.
2.7 Pengobatan Emfisema Paru
Jenis obat yang diberikan pada penderita emfisema paru adalah 1. Bronkodilaor
2. Terapi aerosol 3. Pengobatan infeksi 4. Kortikosteroid 5. oksigenisasi
2.8 Pencegahan Emfisema paru
a. Berhenti merokok.
b. Menghindari hal-hal yang membuat iritasi pada pernapasan seperti asap knalpot dan lain sebagainya.
c. Berolahraga secara teratur untuk meningkatkan kapasitas paru-paru.
d. Menghindari diri dari udara yang dingin karena mampu menghambat pernapasan.
BAB. 3 PATHWAY
v
BAB. 4 ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian Keperawatan pada Pasien Emfisema Paru
Rumah Sakit Jember Nursing Center
Tanggal Pengkajiam : 22 Oktober 2015
Enzim alfa-1-antitripsin, enzim protease
Inflamasi
-Elastisitas paru
-Destruksi jaringan paru
Terbentuk :
- Blebs (di distal alveoli) - Bulai (di parenkim paru) Pelebaran ruang udara di dalam
paru (bronkus terminal menggembung)
Nutrisi kurang dari kebutuhan Bersihan jalan nafas tdk efektif
Kelelahan / kelemahan Retraksi otot
bantu nafas
Pola nafas tidak efektif
Jam : 10.00 WIB
4.1.1 Identitas Klien
Nama : Tuan Andi
TTL : 17-11-1970
Jenis Kelamin : Laki Laki
Umur : 45 tahun
Pekerjaan : Buruh Bangunan
Nama ayah/ibu : Tuan Maulana (Alm)/Nyonya Reni Pekerjaan istri : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl Mastrip Gg Blora, Jember
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa Pendidikan Terakhir : SMP Pendidikan terakhir Istri : SD 4.1.2 Riwayat Sakit Sekarang
Tuan Andi tinggal bersama istri dan dua orang anaknya. Tuan Andi mengeluh sesak napas dan batuk. Banyak sekret keluar ketika batuk, berwarna hijau kental. Tuan andi tampak kebiruan pada daerah bibir dan kuku. Tuan Andi cepat merasa lelah saat melakukan aktivitas
4.1.3 Riwayat Sakit Dahulu
Tuan Andi selama 3 tahun terakhir mengalami batuk produktif dan pernah menderita pneumonia.
4.1.4 Riwayat Sakit Keluarga
Ayah dari Tuan Andi meninggal dengan riwayat sakit TBC 4.1.5 Pemeriksaan Fisik
RR : 30 x/menit
Suhu : 37,4 ºC
4.1.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar X dada : X-Ray tanggal 22 oktober 2015 dengan hiperinvlasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi; peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis).
2. PO2 : 75 mmHg 3. PCO2 : 50 mmHg 4. SaO2 : 100% 4.1.7 Pengkajian Pola Gordon
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: Keletihan, kelelahan, malaise, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi, dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda: Keletihan, gelisah, insomnia, kelemahan umum/kehilangan massa otot.
b. Sirkulasi
Gejala: Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda: Peningkatan TD, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia, distensi vena leher (penyakit berat), edema dependen, bunyi jantung redup, warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis; kuku tabuh dan sianosis perifer, pucat dapat menunjukkan anemia.
c. Integritas ego
Gejala: Peningkatan faktor resiko, perubahan pola hidup. Tanda: Ansietas, ketakutan, peka rangsang.
d. Makanan/cairan
Gejala: Mual/muntah, napsu makan buruk/anoreksia, ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan, penurunan berat badan menetap. Tanda: Turgor kulit buruk, edema dependen, berkeringat, penurunan berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan.
e. Higiene
Gejala: Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari.
f. Pernapasan
Gejala: Napas pendek khususnya pada saat aktivitas, batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun), episode batuk hilang-timbul, biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat menjadi produktif, riwayat pneumonia berulang.
Tanda: Pernapasan: biasanya cepat, dapat lambat; fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur, napas bibir, penggunaan otot bantu pernapasan; dada: dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP (bentuk-barrel), gerakan diafragma minimal; bunyi napas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi
g. Keamanan
Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan, adanya/berulangnya infeksi.
h. Interaksi sosial
Adanya ketergantungan saat melakukan aktivitas. i. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik.
4.1 Diagnosa Keperawatan pada Pasien Emfisema Paru
1. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan pertukaran gas atau darah. 2. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi lendir. 3. Pola napas tidak efektif b/d hipoventilasi.
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan akibat retraksi otot bantu napas. 5. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan perfusi oksigen
6. Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d anoreksia.
14
No Diagnosa Tujuan& Kriteria
Hasil
Intervensi
1. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan pertukaran gas atau darah.
Tujuan : dalam waktu 3x24 jam setelah diberikan intervensi klien dapat memperlihatkan
peningkatan ventilasi dan oksigenisasi.
Kriteria Hasil :
1. Mendemonstrasikan peningkatan
ventilasi dan oksigenisasi yang adekuat. bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips).
4. Tanda - tanda vital dalam batas normal.
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu. 3. Keluarkan secret dengan batuk
efektif atau suction. 4. Auskultasi suara nafas. 5. Catat adanya suara tambahan. 6. Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan napas buatan.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi lendir.
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi klien dapat memperlihatkan
kepatenan jalan napas.
Kriteria Hasil :
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, dan tidak ada dispnea.
2. Menunjukkan jalan napas yang paten. 3. Mampu
mengidentifikasi dan mencegah factor yang
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan pengeluaran secret.
2. Ajarkan pasien untuk napas dalam dan batuk efektif.
3. Keluarkan secret dengan batuk atau suction.
4. Auskultasi adanya suara napas tambahan.
4.4 Implementasi Keperawatan pada Pasien Emfisema Paru
16
No. Diagnosa Implementasi Evaluasi
1. Gangguan pertukaran gas b/d penurunan pertukaran gas atau darah.
1. Mengatur anak dengan posisi fowler.
2. Memberikan istirahat yang cukup.
3. Memberikan oksigen jika ada indikasi.
1. Klien mampu bernapas dengan mudah
2. Kebutuhan oksigen klien terpenuhi.
2. .
Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi lendir.
1. Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan pengeluaran secret.
2. Mengajarkan pasien untuk napas dalam dan batuk efektif.
3. Mengeluarkan secret dengan batuk atau suction.
4. Mengauskultasi adanya suara napas tambahan.
1. Mengatur posisi pasien dengan semi fowler. 2. Mengobservasi kecepatan
dan kedalaman pernapasan.
3. Memonitor tanda dan gejala hipoksia.
2. Tidak tampak pemakaian otot bantu pernapasan
4. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan akibat retraksi otot bantu napas
.
1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas. 2. Membantu aktivitas
sehari-hari
sebagian/seluruhnya. 3. Menginstruksikan pasien
tentang teknik penghematan energi. 4. Mengkaji keefektifan
pasien melakukan teknik penghematan energi. 5. Memberikan dorongan
untuk melakukan aktivitas diri.
Pasien tidak mengalami kelemahan dan kelelahan saat atau setelah melakukan aktivitas.
5. Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan perfusi oksigen 5. Memberikan oksigen
jika ada indikasi
BAB. 5 PENUTUP
Emfisema merupakan gangguan pengembangan paru-paru yang ditandai oleh pelebaran ruang udara di dalam paru-paru disertai destruksi jaringan. Emfisema paru adalah suatu penyakit paru obstruktif kronis yang ditandai dengan pernafasan yang pendek yang disebabkan oleh kesulitan untuk menghembuskan seluruh udara keluar dari paru-paru karena tekanan udara yang berlebihan dari kantung udara di dalam paru-paru (alveoli).Terdapat tiga tipe emfisema yaitu emfisema sentriolobular, Emfisema panlobular (panacinar), Emfisema paraseptal.
5.2 Saran
1. Diharapkan bagi masyarakat mampu menjaga kesehatan dengan mencegah timbulnya masalah kesehatan dan mampu meningkatkan status kesehatannya.
2. Pemerintah perlu mempermudah masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan dan sarana dan prasarananya perlu ditambah. 3. Seorang perawat harus bisa melakukan asuhan keperawatan secara
professional kepada kliennya, terutama anak-anak karena tumbuh kembang mereka dapat terganggu karena adanya penyakit tesebut. Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini melakukan penyuluhan mengenai pentingnya hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik.
\
Baughman,D.C& Hackley,J.C.2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35528-Kep%20Respirasi-Askep%20Emfisema.html#popup
http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/emfisema-_-9510001031114