• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR - Pengaruh Pakan Dan Inang Terhadap Perkembangan Imago Parasitoid Xanthocampoplex Sp. ( Hymenoptera : Ichneumonidae) Di Laboratorium

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "KATA PENGANTAR - Pengaruh Pakan Dan Inang Terhadap Perkembangan Imago Parasitoid Xanthocampoplex Sp. ( Hymenoptera : Ichneumonidae) Di Laboratorium"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Skripsi berjudul “ Pengaruh Pakan dan Inang Terhadap Perkembangan Imago Parasitoid Xanthocampoplex sp ( Hymenoptera : Ichneumonidae) di Laboratorium ” merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Komisi Pembimbing Ir. Suzanna Fitriany Sitepu MS.selaku Ketua dan Prof.Dr. Dra.Maryani Cyccu Tobing, MS selaku Anggota yang telah memberikan saran dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini . Terimakasih juga disampaikan kepada Kepala Balai Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang beserta staf yang telah memberikan tempat dan fasilitas untuk penelitian skripsi ini sehingga dapat terlaksana hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini di masa yang akan datang. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, November 2014

(2)

DAFTAR ISI

Xanthocampoplex (Hymenoptera: Ichneumonidae) ... 5

Pragmatoecia castaneae Hubner(Lepidoptera: Cossidae) ... 7

Biologi ... 7

Gejala Serangan ... 9

Pengendalian ... 10

Chillo sacchariphagus Boyer (Lepidoptera: Crambidae) ... 10

Biologi ... 10

Gejala Serangan ... 12

Pengendalian ... 13

Pengaruh Jenis Inang terhadap Perkembangan Parasitoid ... 13

Jenis Pakan ... 14

Madu ... 14

(3)

Persiapan Penelitian ... 20

Penyediaan Imago Xanthocampoplex sp ... 20

Penyediaan Pakan Parasitoid Xanthocampoplex sp ... 20

Penyediaan Sogolan dan Gelagah ... 20

Penyediaan Larva Inang ... 20

Pelaksanaan Penelitian ... 21

Pemberian Pakan Parasitoid ... 21

Parasititasi Larva Inang ... 21

Peubah Amatan ... 22

Persentase Kokon Xanthocampoplex sp yang Terbentuk... 22

Persentase Imago Xanthocampoplex sp yang Muncul ... 22

Persentase Larva Inang Yang Menjadi Imago ... 22

Umur Imago Xanthocampoplex sp ... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Kokon Xanthocampoplex sp yang Terbentuk ... 24

Persentase Imago Xanthocampoplex sp yang Muncul ... 26

Persentase Larva Inang Yang Menjadi Imago ... 29

(4)

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Hlm

1. Pengaruh jenis pakan terhadap terhadap persentase kokon

Xanthocampoplex sp ... 24 2. Pengaruh jenis inang terhadap persentase kokon Xanthocampoplex

sp ... 25

3. Pengaruh jenis pakan terhadap terhadap persentase imago

Xanthocampoplex sp ... 26

4. Pengaruh jenis inang terhadap terhadap persentase imago

Xanthocampoplex sp ... 27

5. Pengaruh jenis inang terhadap persentase larva P. castanae dan C. saccariphagus yang menjadi imago ... 29 6. Pengaruh pakan terhadap umur imago Parasitoid Xanthocampoplex

(5)

DAFTAR GAMBAR

No. Keterangan Hlm

1. Larva Xanthocampoplex sp ... 6

2. Kokon Xanthocampoplex sp ... 6

3. Imago Xanthocampoplex sp ... 7

4. Telur P. castanae ... 7

5. Larva P. castanae ... 8

6. Pupa P. castanae ... 8

7. Imago P. castanae ... 9

8. Gejala Serangan P. castanae ... 9

9. Telur C. sacchariphagus ... 11

10. Larva C. sacchariphagus ... 11

11. Pupa C. sacchariphagus ... 11

12. Imago C. sacchariphagus... 12

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Keterangan Hlm

1. Bagan Penelitian ... 36

2. Data Persentase Kokon Xanthocampoplex sp ... 37

3. Data Persentase Imago Xanthocampoplex sp yang muncul ... 39

4. Data Persentase Larva P. castanae dan C. saccariphagus yang menjadi imago ... 41

5. Data Umur Imago Xanthocampoplex sp ... 43

8. Data Suhu dan Kelembababan Udara Laboratorium ... 45

(7)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penurunan produksi tebu di Indonesia telah terjadi dari tahun ke tahun. Salah satu faktor penting yang berpotensi mengganggu produktivitas perkebunan tebu di Indonesia adalah serangan hama tanaman. Serangan hama penggerek batang menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas tebu karena menyebabkan kerugian dan kehilangan hasil gula yang cukup tinggi yaitu sekitar 15%. Tingginya intensitas serangan hama ini pula yang menjadi salah satu faktor penyebab turunnya produktivitas rata-rata tebu giling PTPN II dari 70 ton/ha menjadi hanya 40 ton/hektar. Akibat serangan penggerek batang terjadi penurunan bobot tebu atau rendemen karena kerusakan pada ruas batang, bahkan batang tebu bisa mati dan tidak dapat digiling. Kerugian gula akibat serangan hama ini ditentukan oleh jarak waktu antara saat penyerangan dan saat tebang. Kehilangan rendemen dapat mencapai 50% jika menyerang tanaman tebu umur 4 - 5 bulan dan 4 - 15% pada tebu yang berumur 10 bulan (Diyasti, 2013).

Penggerek batang tebu bergaris Chillo sacchariphagus Boyer (Lepidoptera : Crambidae), merupakan penggerek batang yang paling penting yang hampir selalu ditemukan di semua perkebunan tebu sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar dan menyebabkan penurunan produksi (Indrawanto et al., 2010 ; Prabowo et al. 2013).

Selain itu, terdapat juga hama penggerek batang raksasa Phragmataesia

(8)

perkebunan tebu dan telah ada di Sumatera Utara sejak tahun 1977 yang ditemukan di perkebunan tebu khususnya di PTPN II (Diyasti, 2013). Karena perilaku biologi penggerek batang lebih banyak berada di dalam jaringan tanaman tebu, hama ini sulit dikendalikan secara kimiawi. Pengendalian hama dapat mencegah meluasnya serangan hama pada areal pertanaman tebu. Pencegahan meluasnya hama dapat meningkatkan produktivitas (Sudarsono, 2011).

Salah satu pengendalian hama adalah pengandalian hayati. Pengendalian hayati dalam skala luas memerlukan jumlah agens hayati yang banyak sehingga perlu usaha pembiakan massal. Pembiakan massal dilakukan untuk mengembangbiakkan agens hayati dengan menggunakan media alami maupun media buatan dalam habitat atau lingkungan yang dibentuk sesuai lingkungan aslinya sehingga diperoleh sejumlah tertentu sesuai kebutuhan (Untung, 2006).

(9)

akan meningkatkan umur, keperidian ataupun kecepatan parasitoid memarasit (Gunduz et al., 2009).

Alternatif terbaik untuk pengendalian penggerek batang tebu dalam skala luas adalah dengan menggunakan varietas tebu resisten dan menggunakan musuh alami sebagai agensia hayati (Sudarsono, 2011). Pengendalian hayati dengan memanfaatkan parasitoid untuk menekan populasi hama di lapangan saat ini mendapat perhatian yang serius terutama dalam kaitannya dengan merebaknya isu konservasi keanekaragaman hayati, kesehatan ekosistem, dan pengembangan teknologi alternatif (non-pestisida) bagi pengendalian hama (Hasriyanty, 2008).

Sejak tahun 1985 telah dilepaskan parasitoid telur Tumidiclava sp, parasitoid larva Sturmiopsis inferens dan Xanthocampoplex sp ke lapangan. Jumlah parasitoid telur yang dilepas lebih kurang 5000/ha untuk sekali pelepasan

dan Sturmiopsis inferens lebih kurang 20 pasang/ha dan Xanthocampoplex sp 15

ekor /ha. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pelepasan parasitoid menyebabkan turunnya intensitas serangan penggerek batang tebu hingga di bawah 5 % pada tanaman umur 6 bulan (Saragih et al.,1986).

Perbanyakan parasitoid Xanthocampoplex sp. di PTPN II Risbang Tebu Sei Semayang selama ini menggunakan P. castanae sebagai inang, tetapi ternyata

Xanthocampoplex sp. juga mampu memarasit C. saccharifagus. Namun, belum

(10)

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh pakan dan jenis inang terhadap perkembangan parasitoid

Xanthocampoplex sp.

Tujuan Penelitian

Untuk mendapatkan jenis pakan dan inang yang sesuai dalam perkembangan dan perbanyakan parasitoid Xanthocampoplex sp. di laboratorium. Hipotesis Penelitian

Pemberian pakan dan inang yang berbeda berpengaruh terhadap parasitisasi, kapasitas reproduksi dan lama hidup parasitoid Xanthocampoplex sp. Kegunaan Penelitian

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dan diharapkan dapat menjadi sumber informasi untuk perbanyakan parasitoid

Referensi

Dokumen terkait

(1976) dalam Purnomo (2006) yang menyatakan bahwa ukuran larva inang merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap jumlah kokon parasitoid, persentase keberhasilan kokon

Pengamatan persentase peletakkan telur dan tingkat enkapsulasi dilakukan dengan cara larva inang instar I1 dipaparkan satu per satu pada parasitoid.. Lalva yang sudah

Kepadatan Populasi Parasitoid Larva Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae) pada Dua Jenis Inang di Pertanaman Brokoli dan Tomat Petani di Daerah

Parasitasi dan Kapasitas Reproduksi Cotesia flavipes Cameron (Hymenoptera: Braconidae) pada Inang dan Instar yang Berbeda di Laboratorium.. Hama dan

banyak sehingga jumlah telur lebih banyak terdapat di dalam tubuh inangnya serta tingkat perkawinan parasitoid betina dengan jantan lebih besar sehingga jumlah

Data suhu dan kelembaban udara harian di laboratorium saat perlakuan dan pengamatan.. LAMPIRAN

( Lepidoptera : Crambidae ) Terhadap Fekunditas Cotesia flavipes Cam Di Laboratorium” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di Program