PENGARUH UMUR PARASITOID Xanthocampoplex sp.
(HYMENOPTERA: ICHNEUMONIDAE) DAN WAKTU INOKULASI TERHADAP JUMLAH LARVA Chilo sacchariphagus Bojer
(LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE) DI LABORATORIUM
SKRIPSI OLEH :
LUSKINO SILITONGA
090301068/AGROEKOTEKNOLOGI
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
PENGARUH UMUR PARASITOID Xanthocampoplex sp.
(HYMENOPTERA: ICHNEUMONIDAE) DAN WAKTU INOKULASI TERHADAP JUMLAH LARVA Chilo sacchariphagus Bojer
(LEPIDOPTERA: CRAMBIDAE) DI LABORATORIUM
SKRIPSI OLEH :
LUSKINO SILITONGA
090301068/AGROEKOTEKNOLOGI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi : Pengaruh Umur Parasitoid Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera : Ichneumonidae) dan Waktu Inokulasi Terhadap Jumlah Larva Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) di Laboratorium
Nama : Luskino Silitonga
NIM : 090301068
Program Studi : Agroekoteknologi
Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan
Disetujui Oleh Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS Ir. Lahmuddin Lubis, MP
Ketua Anggota
Mengetahui,
Prof. Dr. Ir. T. Sabrina, MSc Ketua Program Studi Agroekoteknologi
ABSTRACT
Luskino Silitonga. 2014. The Influence of Age Parasitoids Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) and Inoculation Time on
Number of larvae Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) in Laboratory’ under supervised by Maryani Cyccu Tobing and Lahmuddin Lubis. This research was to study the influence of age and time inoculation on number
of larvae Chilo sacchariphagus in laboratory. The research was conducted at Laboratory Sugarcane Research and Development Sei Semayang, Binjai, Medan, North Sumatra from Desember 2013 until March 2014. This method used
Randomized Complete Design Factorial with 2 factors and four replications. The first factor was time of inoculation (morning and afternoon) and the second
factor was number of larvae C. sacchariphagus 3,5, and 8 larvae).
The results showed that the percentage of parasitation depend on age of Xanthocampoplex sp. and number of C. sacchariphagus. The highest percentage of parasitation (55,00%) on 5 days Xanthocampoplex sp. in number of
host was 5 larvae C. sacchariphagus and the lowest (0,00%) on 0 and 1 days Xanthocampoplex sp. in number of host was 3, 5, and 8 larvae C. sacchariphagus. Percentage moth C. sacchariphagus is highest on 0,1,2,9,
and 10 days Xanthocampoplex sp.
Key words: Parasititation, Xanthocampoplex sp., inoculation time, Chilo sacchariphagus.
ABSTRAK
Luskino Silitonga. 2014. “Pengaruh Umur Parasitoid Xanthocampoplex
sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) dan Waktu Inokulasi Terhadap Jumlah Larva Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) yang Berbeda di
Laboratorium” dibimbing oleh Maryani Cyccu Tobing dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur parasitoid dan waktu inokulasi terhadap jumlah larva C. sacchariphagus yang berbeda di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang, Binjai, Medan, Sumatera Utara pada bulan Desember 2013 sampai
Maret 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan 2 faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah waktu inokulasi (pagi hari dan sore hari) dan faktor kedua adalah jumlah larva C. sacchariphagus
(3, 5, dan 8 larva)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase parasititasi tergantung pada umur Xanthocampoplex sp. dan jumlah C. sacchariphagus. Persentase parasititasi tertinggi (55,00%) pada Xanthocampoplex sp. umur 5 hari terdapat pada perlakuan 5 ekor larva dan terendah (0,00%) pada Xanthocampoplex sp. umur 0 dan 1 hari terdapat pada perlakuan 3, 5, dan 8 ekor larva. Persentase ngengat C. sacchariphagus tertinggi terdapat pada umur parasitoid 0, 1, 2, 9, dan 10 hari.
RIWAYAT HIDUP
Luskino Silitonga lahir di Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, pada tanggal 31 Mei 1990 dari Ayahanda Parsaoran Silitonga dan Ibunda Maslan R. Manalu. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara.
Tahun 2008 penulis lulus dari SMA N 1 Sipahutar dan pada tahun 2009 masuk Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama (UMB). Penulis memilih minat Hama dan Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi. Penulis pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan:
‐ Anggota HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi) tahun
2009-2014.
‐ Mengikuti seminar “Optimalisasi Sistem Pertanian untuk Menekan Dampak
Perubahan Iklim Guna Terwujudnya Pertanian Berkelanjutan” di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera, Medan pada 26 Mei 2012.
‐ Tahun 2011 mengikuti Seminar Pertanian “Meningkatkan Ketahanan Pangan
Nasional”.
‐ Melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN. IV Kebun Bah Birung
Ulu Kec. Sidamanik pada tahun 2012.
‐ Tahun 2014 melaksanakan penelitian di Balai Riset dan Pengembangan Tebu
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penelitian yang berjudul ‘Pengaruh Umur Parasitoid Xanthocampoplex sp.
(Hymenoptera: Ichneumonidae) dan Waktu Inokulasi Terhadap Jumlah Larva Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) di Laboratorium’
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orangtua dan keluarga yang telah membesarkan,
memelihara, dan mendidik penulis dan memberikan dukungan material dan moril
selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS. selaku Ketua dan Ir. Lahmuddin Lubis MP. selaku Anggota yang telah memberikan saran dan kritik
dalam menyelesaikan skripsi ini dan juga kepada Pimpinan Laboratorium Risbang Tanaman Tebu Sei Semayang PTPN II beserta staf yang telah memberikan tempat dan fasilitas untuk penelitian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini di masa yang akan datang. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juni 2014
DAFTAR ISI
ABSTRACT ... i
ABSTRAK ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) Biologi ... 5
Gejala Kerusakan ... 7
Pengendalian. ... 8
Parasitoid Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae). ... 9
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 14
Bahan dan Alat Penelitian ... 14
Metode Penelitian ... 14
Pelaksanaan Penelitian ... 16
Persiapan Wadah Plastik dan Sogolan ... 16
Persiapan imago Xanthocampoplex sp. ... 16
Penyediaan Larva Penggerek Batang Bergaris ... 16
Aplikasi Perlakuan ... 16
Peubah Amatan ... 17
Persentase Parasititasi. . ... 17
Persentase Imago Xanthocampoplex sp. yang Muncul ... 17
Persentase C. sacchariphagus Menjadi Ngengat ... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Parasititasi (%) ... 19
Persentase imago Xanthocampoplex sp. yang Muncul ... 22
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 28 Saran ... 28 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
No. Hlm.
1. Pengaruh waktu inokulasi Xanthocampoplex sp. terhadap persentase parasititasi C. sacchariphagus ... 19 2. Pengaruh jumlah C. sacchariphagus terhadap persentase parasititasi. ... 20 3. Pengaruh waktu inokulasi terhadap persentase munculnya imago
Xanthocampoplex sp. ... 22 4. Pengaruh jumlah larva terhadap persentase munculnya imago
Xanthocampoplex sp. ... 23 5. Pengaruh waktu inokulasi terhadap persentase C. sacchariphagus
menjadi ngengat ... 26 6. Pengaruh jumlah larva terhadap persentase C. sacchariphagus menjadi
DAFTAR GAMBAR
No. Hlm.
1. Telur C. sacchariphagus ... 5
2. Larva C. sacchariphagus ... 6
3. Pupa C. sacchariphagus. ... 6
4. a. Ngengat C. sacchariphagus betina ... 7
b. Ngengat C. sacchariphagus jantan ... 7
5. Gejala Serangan C. sacchariphagus ... 8
6. Kokon Xanthocampoplex sp. ... 9
7. Imago Xanthocampoplex sp. ... 10
8. a. Kokon Xanthocampoplex sp. berbagai ukuran ... 23
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hlm.
1. Bagan Penelitian ... 32
2. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 0 hari ... 33
3. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 1 hari ... 34
4. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 2 hari ... 35
5. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 3 hari ... 36
6. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 4 hari ... 37
7. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 5 hari ... 38
8. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 6 hari ... 39
9. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 7 hari ... 40
10. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 8 hari ... 41
11. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 9 hari ... 42
12. Persentase parasititasi Xanthocampolex sp. 10 hari ... 43
13. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 0 hari ... 44
14. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 1 hari ... 45
15. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 2 hari ... 46
16. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 3 hari ... 47
17. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 4 hari ... 48
18. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 5 hari ... 49
19. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 6 hari ... 50
20. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 7 hari ... 51
21. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 8 hari ... 52
23. Persentase imago Xanthocampolex sp. yang muncul 10 hari ... 54
24. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 0 hari ... 55
25. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 1 hari ... 56
26. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 2 hari ... 57
27. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 3 hari ... 58
28. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 4 hari ... 59
29. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 5 hari ... 60
30. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 6 hari ... 61
31. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 7 hari ... 62
32. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 8 hari ... 63
33. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 9 hari ... 64
34. Persentase larva C.sacchariphagus menjadi ngengat 10 hari ... 64
35. Surat izin pelaksanaan penelitian di PTPN II Risbang Tanaman Tebu Sei Semayang, Binjai, Medan ... 65
ABSTRACT
Luskino Silitonga. 2014. The Influence of Age Parasitoids Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) and Inoculation Time on
Number of larvae Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) in Laboratory’ under supervised by Maryani Cyccu Tobing and Lahmuddin Lubis. This research was to study the influence of age and time inoculation on number
of larvae Chilo sacchariphagus in laboratory. The research was conducted at Laboratory Sugarcane Research and Development Sei Semayang, Binjai, Medan, North Sumatra from Desember 2013 until March 2014. This method used
Randomized Complete Design Factorial with 2 factors and four replications. The first factor was time of inoculation (morning and afternoon) and the second
factor was number of larvae C. sacchariphagus 3,5, and 8 larvae).
The results showed that the percentage of parasitation depend on age of Xanthocampoplex sp. and number of C. sacchariphagus. The highest percentage of parasitation (55,00%) on 5 days Xanthocampoplex sp. in number of
host was 5 larvae C. sacchariphagus and the lowest (0,00%) on 0 and 1 days Xanthocampoplex sp. in number of host was 3, 5, and 8 larvae C. sacchariphagus. Percentage moth C. sacchariphagus is highest on 0,1,2,9,
and 10 days Xanthocampoplex sp.
Key words: Parasititation, Xanthocampoplex sp., inoculation time, Chilo sacchariphagus.
ABSTRAK
Luskino Silitonga. 2014. “Pengaruh Umur Parasitoid Xanthocampoplex
sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) dan Waktu Inokulasi Terhadap Jumlah Larva Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae) yang Berbeda di
Laboratorium” dibimbing oleh Maryani Cyccu Tobing dan Lahmuddin Lubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur parasitoid dan waktu inokulasi terhadap jumlah larva C. sacchariphagus yang berbeda di laboratorium. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang, Binjai, Medan, Sumatera Utara pada bulan Desember 2013 sampai
Maret 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan 2 faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah waktu inokulasi (pagi hari dan sore hari) dan faktor kedua adalah jumlah larva C. sacchariphagus
(3, 5, dan 8 larva)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase parasititasi tergantung pada umur Xanthocampoplex sp. dan jumlah C. sacchariphagus. Persentase parasititasi tertinggi (55,00%) pada Xanthocampoplex sp. umur 5 hari terdapat pada perlakuan 5 ekor larva dan terendah (0,00%) pada Xanthocampoplex sp. umur 0 dan 1 hari terdapat pada perlakuan 3, 5, dan 8 ekor larva. Persentase ngengat C. sacchariphagus tertinggi terdapat pada umur parasitoid 0, 1, 2, 9, dan 10 hari.
PENDAHULUAN Latar Belakang
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) termasuk golongan Graminae yang dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman utama di bidang perkebunan. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera (Ernawati dan Rejeki, 2012). Dinas Perkebunan (2004) menyebutkan tanaman tebu dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam industri gula. Pengembangan industri gula mempunyai peranan penting bukan saja dalam rangka mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah serta penambahan atau penghematan devisa, tetapi juga langsung terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dan penyediaan lapangan kerja.
Produksi gula selalu menghadapi berbagai masalah, sehingga produksinya belum mampu mengimbangi besarnya permintaan masyarakat (rumah tangga) dan industri. Program Akselerasi Peningkatan Produksi Gula Nasional sejak tahun 2003 sampai dengan 2008 telah mampu meningkatkan produksi gula
nasional dari 1,62 juta ton pada tahun 2003 menjadi sebesar 2,70 juta ton pada tahun 2008 atau naik rata-rata 13,44% per tahun. Total kebutuhan gula nasional tahun 2014 sebesar 5,7 juta ton, terdiri dari 2,96 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 2,74 juta ton untuk keperluan industri
dan produksi gula tahun 2014 diproyeksikan sebesar 5,7 juta ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014).
tebu. Penggerek batang dianggap hama paling penting yaitu Chilo infuscatellus Snellen, Chilo sacchariphagus (Bojer) dan Sesamia inferens (Walker)
menyebabkan kerusakan berat di banyak daerah perkebunan tebu (Suasa-ard, 1982). Sallam (2010) melaporkan C. saccariphagus merupakan hama
utama tanaman tebu di Asia yang ditemukan di Bangladesh, Cina, Komoro, India, Indonesia, Jepang, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Mozambik, Filipina, Reunion, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, dan Thailand.
Selanjutnya Sallam (2010) melaporkan bahwa spesies C. sacchariphagus
(Lepidoptera: Crambidae) sering dianggap sebagai tiga subspecies yaitu C. sacchariphagus sacchariphagus (Bojer), C. sacchariphagus stramineellus
(Caradja) dan C. sacchariphagus indicus (Kapur). Akan tetapi spesies tersebut diduga spesies yang berbeda. C. sacchariphagus selain hama utama tebu, dilaporkan juga menyerang jagung dan sorgum di Madagaskar, Mauritius dan Reunion.
Penggerek batang tebu bergaris C. sacchariphagus menyerang tanaman tebu sejak dari awal tanam hingga saat panen. Serangan dimulai oleh larva yang sangat aktif menggerek daun muda, kemudian turun menuju ruas-ruas batang dibawahnya sampai mencapai titik tumbuh dengan luka gerekan yang demikian dalam hingga mengakibatkan kematian tanaman tebu (Ganeshan, 2001).
hasil gula hingga 97%. Oleh karena itu, perlu diupayakan teknologi pengendalian yang dapat menekan populasi hama ini di pertanaman tebu (Maryani, 2012).
Insektisida tidak digunakan untuk mengendalikan hama ini. Parasitoid
yang dilaporkan bisa mapan yaitu parasitoid telur Trichogramma australicum (Hymenoptera: Trichogrammatidae), parasitoid larva Cotesia flavipes
(Hymenoptera: Braconidae). Kedua spesies ini merupakan parasitoid yang sudah umum. Ditemukan parasitoid larva Alabagrus stigma, Xanthopimpla
stemmator (Hymenoptera: Ichneumonidae), parasitoid pupa Tetrastichus sp.
(Hymenoptera: Eulophidae) (Ganeshan dan Rajabelee, 1997). Goebel dkk. (2001) melaporkan pengendalian penggerek batang menggunakan jamur entomopatogen Beauveria brongniarti cukup berhasil, namun ada kendala di lapangan.
Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae) merupakan
parasitoid bersifat soliter dan parthenogenesis sehingga diharapkan mempunyai daya biak yang cukup besar. Pemanfaatan Xanthocampoplex sp. sebagai agen pengendali hayati telah banyak diterapkan di PTPN II Risbang Tebu Sei Semayang untuk mengendalikan hama penggerek batang tebu raksasa Phragmatocea castaneae Saragih dkk (1986 dalam Purba 2008). Namun, hasil pengamatan di perkebunan tebu PTPN II Sei Semayang ditemukan juga
Xanthocampoplex sp. memarasit penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus).
Perbanyakan parasitoid Xanthocampoplex sp. sebagai agens hayati
dibutuhkan secara terus-menerus agar program pelepasan di lapangan dapat berkelanjutan. Pembiakan massal parasitoid ini dilakukan dengan
di PTP. Nusantara II Sei Semayang telah digunakan C. sacchariphagus sebagai inang alternatif pembiakan Xanthocampoplex sp. Dalam pengembangbiakan parasitoid ini belum diketahui secara pasti umur parasitoid dan jumlah inang yang efektif untuk perbanyakannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh umur Xanthocampoplex sp. dan waktu inokulasi terhadap jumlah larva C. sacchariphagus.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh umur parasitoid Xanthocampoplex sp. dan waktu inokulasi terhadap jumlah larva C. sacchariphagus yang berbeda.
Hipotesis Penelitian
Umur parasitoid Xanthocampoplex sp. dan waktu inokulasi yang berbeda berpengaruh terhadap jumlah larva C. sacchariphagus.
Kegunaan Penelitian
Untuk mengetahui cara perbanyakan parasitoid Xanthocampoplex sp. di laboratorium dan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
TINJAUAN PUSTAKA Chilo sacchariphagus Bojer (Lepidoptera: Crambidae)
Biologi
Ngengat meletakkan telur di atas permukaan daun dan jarang meletakkan di bawah permukaan daun. Jumlah telur yang diletakkan berkisar 7-30 butir dan diletakkan secara berkelompok dalam 2-3 baris (Gambar 1). Bentuk telur jorong
dan sangat pipih dengan ukuran 0,75-1,25 mm dengan rata-rata 0,95 mm. Telur yang baru diletakkan berwarna hijau muda atau kelabu agak kuning. Telur-telur akan menetas setelah berumur 6-8 hari (Yalawar dkk, 2010).
Gambar 1. Telur C. sacchariphagus Sumber : Foto Langsung
Larva yang baru menetas panjangnya 2,5 mm dan berwarna kelabu. Panjang maksimal 4 cm. Kepala, perisai toraks, dan ruas terakhir berwarna kuning coklat hingga hitam cokelat (Gambar 2). Warna dasar abdomen kuning muda. Semakin tua umur larva, warna badan berubah menjadi kuning coklat dan kemudian kuning putih. Larva memiliki 4 buah garis membujur pada dorsal atau permukaan abdomen sebelah atas berwarna hitam atau ungu. Periode larva berlangsung 35-54 hari (Goebel dkk, 2001).
Gambar 2. Larva C. sacchariphagus Sumber : Foto Langsung
Kepompong berwarna merah dan coklat mengkilat, panjangnya antara 3 - 4 cm. Pada bagian dorsal terdapat bintik - bintik halus seperti pasir dan garis
membujur di tengah - tengah ruas (Gambar 3). Kepompong betina biasanya lebih besar daripada jantan. Masa kepompong berkisar antara 8 - 10 hari dengan rata - rata 8,28 hari (Goebel dkk, 2001).
Gambar 3. Pupa C. sacchariphagus Sumber : Foto Langsung
Gambar 4. Ngengat C. sacchariophagus betina (a); Ngengat C. sacchariophagus jantan (b)
Sumber : Foto Langsung Gejala Kerusakan
Kerusakan akibat penggerek batang bergaris pada ruas tebu sangat nyata. Ruas – ruas yang rusak dapat mempengaruhi pertumbuhan diatasnya sehingga tidak dapat mencapai ukuran normal dan akan menyebabkan tanaman tampak kerdil. Pada serangan berat yang melingkari batang dapat mengakibatkan tanaman mudah patah (Nugroho, 1986). Serangan penggerek C. sacchariphagus menghancurkan meristem apikal tebu yang mengakibatkan tanaman mati yaitu menghambat pertumbuhan tunas aksial di daerah atas tanaman membuat gejala lebih menonjol dan kerugian hasil dan kualitas menurun (Mukunthan, 2006).
Larva yang baru menetas hidup dan menggerek jaringan dalam pupus daun yang masih menggulung. Larva ini memakan jaringan daun sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka maka akan terlihat luka – luka berupa lobang gerekan yang hilang dimakan larva dan tinggal gerekannya saja. Setelah beberapa hari hidup dalam pupus daun, larva kemudian akan keluar dan menuju ke bawah serta menggerek pelepah daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya larva hidup dalam ruas-ruas batang tebu. Pada ruas, gerekan penggerek batang bergaris berbeda dengan penggerek berkilat yaitu bentuknya
tidak teratur dan sering mencapai ke permukaan kulit atau tepi ruas. Tepung gerekan yang belum kering berwarna cokelat pada permukaan luar
menandakan bahwa penggerekan masih baru (Wirioatmodjo, 1973).
Gejala serangan pada batang tebu ditandai adanya lobang gerek pada permukaan batang. Apabila ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong-lorong gerekan yang memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik tumbuh mati, daun muda layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu larva penggerek (Deptan, 2013).
Populasi larva C. sacchariphagus mulai meningkat dari umur tanaman 3,5 bulan dan mencapai puncaknya pada saat tanaman berumur 9,5 bulan (Purnomo, 2006).
Gambar 5. Gejala serangan C. sacchariphagus Bojer Sumber: http://litbang.deptan.go.id
Pengendalian
Pengendalian hama penggerek tebu dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : 1) Kultur teknis yaitu dengan sanitasi lahan, penanaman dengan
sistem hamparan, 2) Memotong bagian tanaman yang terserang dan membakarnya 3) Secara mekanis yaitu pengutipan larva – larva di lapangan, 4) Secara hayati
yaitu dengan memanfaatkan musuh alami berupa pelepasan parasitoid telur
5) Secara kimiawi yaitu dengan pemakaian insektisida yaitu Agrothion 50 EC (3 l/ha), Azodrin 15 WSC ( 5 l/ha) (Yulianto dan Yuniarti, 2013).
Pengendalian hayati terhadap penggerek batang tebu juga telah dilakukan di PTPN II dengan menggunakan parasitoid telur (Tumidiclava sp.) dan parasitoid larva (Sturmiopsis inferens dan Xanthocampoplex sp.) (BPTTD, 1979).
Parasitoid Xanthocampoplex sp. (Hymenoptera: Ichneumonidae)
Daur hidup famili Ichneumonidae pada umumnya mulai dari telur, larva,
kokon, imago. Rata – rata periode dari telur hingga menjadi larva 20,8 hari (16 – 28 hari), kokon berbentuk larva panjang kekuningan (7,8 x 2,0 mm)
(Gambar 6). Periode kokon rata – rata 11,8 hari (11-13 hari) dan rata – rata masa
hidup imago 14,4 (10 - 24 hari) berwana cokelat bening dan gelap kuning di tengahnya (Fernandes dkk, 2010) (Gambar 7).
Gambar 6. Kokon Xanthocampoplex sp. Sumber : Foto Langsung
Gambar 7. Imago Xanthocampoplex sp. Sumber: Foto Langsung
Beberapa spesies parasitoid Hymenoptera mengalami periode praoviposisi yaitu selang waktu sejak imago betina keluar dari pupa hingga saat peletakan telur pertama (Doutt, 1973). Periode praoviposisi umumnya singkat, hanya beberapa hari. Menurut Clausen (1994) sebagian besar masa famili Ichneumonidae dapat meletakkan telurnya yaitu berkisar antara 1 - 3 hari.
Ichneumonidae merupakan serangga dari kelas Hexapoda dan ordo Hymenoptera, serangga ini sering disebut sebagai parasitoid pinggang ramping, serangga ini menggunakan ovipositornya yang panjang untuk memarasit inangnya. Serangga familli ini dapat mengetahui letak larva inangnya walaupun larva inangnya berada di dalam jaringan tumbuhan. Imago betina Ichneumonidae
biasa meletakkan telurnya dalam satu inang tunggal atau bersifat soliter (Borror dkk, 1992).
Kadang-kadang ditemukan ulat mati tersambung ke kokon yang sebesar ulat inangnya. Setelah keluar dari kokon, serangga dewasa terbang dan kawin. Betina mencari ulat inang lagi untuk meletakkan telurnya. Seekor betina dapat meletakkan telur pada 100 ulat (Borror, 1992).
Penerimaan parasitoid betina terhadap inangnya tergantung pada pengenalan secara fisik (ukuran, bentuk, tekstur) dan sifat kimia inang. Dalam pemilihan inang ukuran dan jenis inang adalah aspek yang paling penting karena besar atau kecilnya ukuran dan jenis inang akan mempengaruhi kandungan nutrisi inang yang akan digunakan parasitoid selama fase perkembangan di dalam tubuh inangnya. Perkembangan parasitoid akan lebih bagus jika berkembang pada inang yang ukurannya lebih besar. Hal ini disebabkan karena pada inang yang lebih besar sumber makanan yang tersedia lebih banyak (Utami, 2001).
Kebugaran parasitoid betina berkaitan erat dengan jumlah inang yang diparasit sedangkan kebugaran parasitoid jantan lebih ditentukan oleh jumlah kopulasi yang dilakukan. Ukuran imago betina mempengaruhi kebugaran parasitoid dalam hal efisiensi pencarian inang, lama hidup, dan suplai telur. Parasititasi pada instar inang yang berbeda dan ukuran innag yang berbeda mempengaruhi kebugaran dan jumlah parasitoid, nisbah kelamin, masa perkembangan atau ukuran parasitoid. Ukuran parasitoid juga berkolerasi positif dengan jumlah telur yang dihasilkan dan effisiensi dalam memapuan mencari dan memarasit inang (Godfray, 1994).
Kecenderungan imago betina parasitoid meningkatkan oviposisi terjadi
imago Venturia canescens (Hymenoptera: Ichneumonidae) yang diberi makanan namun tidak diberi inang tidak secara signifikan hidup lebih lama dibandingkan imago yang diberi makanan dan inang.
Reproduksi pada serangga ordo hymenoptera berlangsung secara partenogenetik. Terdapat tiga tipe reproduksi yaitu teliotoki, deuterotoki dan arenotoki. Arenotoki merupakan tipe reproduksi yang paling umum pada hymenoptera, sedangkan teliotoki dan deuterotoki hanya terjadi pada beberapa spesies (Doutt, 1973). Lee (2000) meyebutkan teliotoki adalah semua keturunannya betina diploid tanpa induk jantan, deuterotoky keturunannya sebagian besar betina diploid yang tidak mempunyai induk jantan dan jarang ditemukan jantan haploid, dan arenotoki yakitu keturunan jantan haploid tidak mempunyai induk jantan, dan keturunan betinanya berasal dari induk betina dan jantan (diploid).
Menurut Doutt (1973) terdapat empat tahap parasitoid berhasil memarasit inangnya yaitu 1) penemuan habitat inang, 2) penemuan inang, 3) penerimaan inang, dan 4) kesesuaian inang.
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu Sei Semayang PTPN II, Medan ( 50 m di atas permukaan laut)
mulai bulan Desember 2013 sampai Maret 2014. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah larva C. sacchariphagus instar tiga (± 1,5 cm), imago Xanthocampoplex sp., air, madu, sogolan tebu atau batang tebu
yang masih muda, selotip, dan kertas label.
Alat yang digunakan adalah kandang inokulasi berukuran 30 cm x 20 cm x 40 cm, wadah plastik diameter 4 cm dan tinggi 8 cm, kandang pemeliharaan
kokon 30 cm x 20 cm x 30 cm, kuas, handsprayer, petridis, pisau, kawat jaring, solder, cawan petri, dan alat tulis.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 2 faktor dengan empat ulangan.
Faktor I : Waktu Inokulasi (T) T1: Pagi ( 07.00 – 09.00 WIB) T2: Sore (16.00 – 18.00 WIB)
Faktor II : Jumlah Larva C. sacchariphagus (L) L1: 3 larva
Kombinasi perlakuan adalah sebagai berikut: T1L1 T2L1
T1L2 T2L2 T1L3 T2L3
Ulangan diperoleh dari rumus : (t - 1) (r - 1) 15
(6 - 1) ( r - 1) 15
5 (r - 1) 15
5r 20
r 4
Jumlah Ulangan : 4 ulangan Jumlah Perlakuan : 24 perlakuan
Jumlah parasitoid yang akan dinokulasikan untuk setiap perlakuan adalah 1 ekor Xanthocampoplex sp. mulai umur 0 hari sampai 10 hari.
Metode linear dari rancangan yang digunakan adalah : Yijk = + i + j + ()ij + ijk
Dimana :
Yijk = Hasil pengamatan pada perlakuan ke - i dan ulangan ke-j = efek dari nilai tengah
i= efek perlakuan waktu inokulasi pada taraf ke-i
j= Efek perlakuan jumlah larva pada taraf ke-j
()ij= Efek perlakuan pada taraf ke-i dan ulangan ke-j
Terhadap sidik ragam yang nyata, dilanjutkan analisis lanjutan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) dengan taraf 5% (Sastrosupadi, 2010).
Pelaksanaan Penelitian
Persiapan Wadah Plastik dan Sogolan
Wadah plastik ukuran diameter 4 cm dengan tinggi 8 cm diberi lubang di bagian samping wadah dengan menggunakan solder dengan lebar 3 cm x 3 cm kemudiaan ditutup dengan jaring kawat halus untuk sirkulasi udara sebagai tempat
pemeliharaan larva dan sogolan tebu diambil dari lapangan kemudian dipotong ± 5 cm dan disusun ke dalam wadah plastik.
Persiapan imago Xanthocampoplex sp.
Xanthocampoplex sp. yang digunakan berasal dari perbanyakan di laboratorium. Kokon Xanthocampoplex sp. dipelihara sampai imago keluar yang akan digunakan sebagai starter.
Penyediaan Larva Penggerek Batang Bergaris
Larva diambil dari areal perkebunan Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang. Larva yang digunakan adalah instar 3 berukuran 1,5 cm.
Aplikasi Perlakuan
sogolan tebu tersebut dibongkar dan kokon Xanthocampoplex sp. dipindahkan ke dalam cawan petri dan dimasukkan ke dalam kandang pemeliharaan. Kemudian ditunggu sampai imago keluar.
Peubah Amatan
1. Persentase Parasititasi
Pengamatan parasititasi dilakukan setelah pembongkaran sogolan tebu yang telah dibiarkan ± 20 hari di dalam wadah plastik yang ditandai dengan keluarnya kokon dari tubuh larva C. sacchariphagus. Persentase parasititasi Xanthocampoplex sp. dihitung dengan menggunakan rumus :
P= X %
Keterangan:
P = Persentase parasititasi Xanthocampoplex sp. i = Jumlah kokon yang terbentuk
N = Jumlah larva
2. Persentase Imago Xanthocampoplex sp. yang Muncul
Pengamatan imago dilakukan dengan cara memelihara kokon Xanthocampoplex sp. dalam suatu kurungan pemeliharaan dengan menjaga kelembaban dan menyemprotkan air dalam handsprayer. Persentase imago dihitung dengan menggunakan rumus:
P= X %
Keterangan:
P = Persentase jumlah imago Xanthocampoplex sp. n = Jumlah imago yang muncul
3. Persentase Larva C. sacchariphagu menjadi ngengat
HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Parasititasi (%)
[image:34.595.107.516.204.291.2]Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu inokulasi tidak berpengaruh nyata terhadap persentase parasititasi pada C. sacchariphagus (Tabel 1).
Tabel 1. Pengaruh waktu inokulasi Xanthocampoplex sp. terhadap persentase parasititasi C. sacchariphagus
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
T1: Pagi (07.00-09.00 WIB) T2: Sore (16.00-18.00 WIB)
Tabel 1 menunjukkan pada umur parasitoid Xanthocampoplex sp. 0 sampai 10 hari bahwa waktu inokulasi pada C. sacchariphagus di laboratorium
tidak berpengaruh nyata terhadap persentase parasititasi. Inokulasi dapat dilakukan pada pagi dan sore hari tetapi nilai persentase parasititasi meningkat pada umur parasitoid 3 hari.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah larva C. sacchariphagus tidak berpengaruh nyata terhadap persentase parasititasi pada
parasitoid umur 0,1,2,6,7,8,9,dan 10 hari dan sangat berbeda nyata pada parasitoid umur 3 dan 5 hari dan berpengaruh nyata pada umur parasitoid 4 hari (Tabel 2).
Tabel 2 menunjukkan bahwa pada umur parasitoid 3 sampai 5 hari jumlah larva berpengaruh nyata terhadap persentase parasititasi. Persentase tertinggi (55,00%) terdapat pada perlakuan L2 (5 ekor larva) dan persentase terendah (8,33%) terdapat pada perlakuan L1 (3 ekor larva). Hal ini membuktikan bahwa parasitoid Xanthocampoplex sp. mampu memberikan hasil parasititasi tertinggi dapat dipengaruhi oleh umur parasitoid dan jumlah inang. Dari data juga dapat
diketahui persentase parasititasi terendah 0,00% pada umur parasitoid 0 dan 1 hari. Berdasarkan pengamatan bahwa parasitoid Xanthocampoplex sp.
Perlakuan Umur Parasitoid Xanthocampoplex sp.
0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari 8 hari 9 hari 10 hari
T1 0.00 1.67 5.83 15.28 30.69 38.82 40.97 25.62 27.78 15.76 13.06
keluar dari kokon hingga berumur 2 hari tidak mampu memarasit dengan jumlah 5 sampai 8 ekor larva inang. Pada Tabel 2 juga menunjukkan hasil persentase parasititasi pada semua perlakuan L2 (5 ekor larva) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan L1 (3 ekor larva) dan L3 (8 ekor larva). Hal ini menunjukkan
bahwa kemampuan Xanthocampoplex sp. lebih baik jika jumlah inang yang diparasit sebanyak 5 ekor. Nasukhah (2009) dalam penelitiannya
menyebutkan jumlah larva Plutella xylostella berpengaruh terhadap parasitasi
Diadegma semiclausum (Hymenoptera: Ichneumonidae). Jumlah larva P. xylostella sebanyak 15 larva dengan instar 3 memberikan tingkat parasititasi
[image:35.595.107.513.546.623.2]tertinggi dan Abduchhalek (2000) menyebutkan bahwa keberhasilan hidup parasitoid melalui proses parasitasi ada dalam jumlah minimal baik secara kuantitas maupun kualitas inang, selanjutnya hasil penelitian Darwati (1999) diperoleh bahwa parasitoid Snellenius manila mempunyai kemampuan meletakkan telur pada inang Spodoptera litura sepanjang hidupnya dari hari pertama muncul sampai hari ke-9 setelah keluar dari pupa dan rata-rata persentase parasititasi S. manilae tertinggi pada umur 5 hari.
Tabel 2. Pengaruh jumlah C. sacchariphagus terhadap persentase parasititasi
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
L1: 3 ekor larva L2: 5 ekor larva L3: 8 ekor larva
Berdasarkan pengamatan parasitoid umur 9 hari dan 10 hari dapat dilihat
penurunan kemampuan parasitoid Xanthocampoplex sp. meletakkan telur pada C. sacchariphagus sehingga rataan parasititasi menurun. Hal ini menunjukkan
bahwa umur parasitoid berpengaruh untuk memarasit C. sacchariphagus.
Perlakuan Umur parasitoid Xanthocampoplex sp.
muda lebih aktif dalam mencari inang dibandingkan umur yang lebih tua. Tingkat keperidian dipengaruhi oleh umur parasitoid selain makanan imago, semakin tua umur parasitoid jumlah telur yang dihasilkan semakin menurun. Faktor pendukung yang juga mempengaruhi keberhasilan parasitasi yaitu seperti kualitas dan ukuran inang. Schmidt (1994) menyatakan parasitoid memaksimumkan keberhasilan reproduksinya pada berbagai kondisi ketersediaan dan kesesuaian inang. Jumlah peletakan telur pada inang bervariasi tergantung pada kualitas dan jumlah inang.
Parasitoid mulai umur 0 hari atau sejak keluar dari kokon sudah dibiarkan memarasit hingga parasitoid berumur 10 hari. Hougardy dkk (2005 dalam Darwati 1999) dalam penelitiannya menyebutkan Mastrus
ridibundus (Hymenoptera: Ichneumonidae) bahwa pemberian inang pada imago
betina sebelum pelepasan di lapangan memberi dampak positif terhadap potensi reproduksi di masa depan karena dapat merangsang oogenesis dan kemampuan menemukan inang. Namun, pemberian inang segera setelah imago muncul walaupun hanya untuk beberapa hari dapat menurunkan kapasitas reproduksi yang tersisa secara dramatis. Vinson dan Iwantsch (1980) menyebutkan bahwa kecenderungan imago betina parasitoid meningkatkan oviposisi terjadi bila sediaan jumlah inang tebatas dalam jangka waktu yang relatif lama.
dengan menguji kualitas inang yang dilakukan parasitoid secara eksternal dan internal. Pengujian secara eksternal yaitu dengan mengetukkan antenanya pada larva inang sedangkan pengujian internal yaitu dengan menusuk-nusukkan ovipositornya tanpa diikuti dengan peletakan telur. Menurut King dan Hopkins (1963 dalam Pratiwi 2003) parasitoid menusukkan ovipositornya tapi tidak meletakkan telur pada inangnya karena larva tersebut tidak sesuai bagi perkembangan telur yang diletakkan atau parasitoid melakukan pelukaan untuk menghisap cairan tubuh inangnya dan hasil pelukaan tersebut sebagai tambahan nutrisi bagi imago.
Persentase Imago Xanthocampoplex sp. yang Muncul
Keberhasilan munculnya imago Xanthocampoplex sp. dapat dilihat dari keberhasilan parasititasi.
[image:37.595.107.511.502.593.2] [image:37.595.113.516.536.575.2]Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa waktu inokulasi tidak berpengaruh nyata terhadap persentase imago Xanthocampoplex sp. yang muncul (Tabel 3).
Tabel 3. Pengaruh waktu inokulasi terhadap persentase munculnya imago Xanthocampoplex sp.
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
T1: Pagi (07.00-09.00 WIB) T2: Sore (16.00-18.00 WIB)
Tabel 3 menunjukkan bahwa pada umur parasitoid 5 hari diperoleh persentase munculnya imago Xanthocampoplex sp. tertinggi (66,67%) pada perlakuan T1 (pagi) dan terendah pada perlakuan T1 (pagi) yaitu 0,00% pada hasil umur parasitoid 0 hari dan 2 hari.
Perlakuan Umur parasitoid Xanthocampoplex sp.
0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari 8 hari 9 hari 10 hari
T1 0.00 8.33 12.50 50.00 54.17 66.67 51.39 45.83 50.00 32.36 20.83
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah larva C. sacchariphagus tidak berpengaruh nyata terhadap persentase imago
Xanthocampoplex sp. yang muncul pada umur parasitoid 0,1,2,4,5,6,7,8,9, dan 10
[image:38.595.109.512.202.355.2]hari dan sangat berpengaruh nyata pada parasitoid umur 3 hari (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh jumlah larva C. sacchariphagus terhadap persentase imago Xanthocampoplex sp. yang muncul
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
L1: 3 ekor larva L2: 5 ekor larva L3: 8 ekor larva
Tabel 4 menunjukkan bahwa pada umur parasitoid umur 3 hari jumlah larva sangat berpengaruh nyata terhadap persentase imago
Xanthocampoplex sp. yang muncul dengan persentase tertinggi 75,00% pada
perlakuan L3 (8 ekor larva). Namun, dari data juga dapat dilihat pada umur parasitoid 0 sampai 3 hari ditemukan nilai persentase terendah (0,00%) sementara sebelumnya parasitoid mampu memarasit inang akan tetapi terjadi kegagalan hingga imago Xanthocampoplex sp. keluar dari kokon dan ditemukan naik
turunnya persentase keberhasilan imago yang muncul pada semua perlakuan. Hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain larva parasitoid yang
berkembang pada kondisi yang lebih baik akan berkembang dan berhasil menjadi
imago. Keberhasilan munculnya imago keluar dari pupa tidak dipengaruhi oleh umur parasitoid maupun waktu inokulasi, tetapi lebih ditentukan kondisi larva parasitoid dalam larva inang atau kualitas dan kuantitas nutrisi yang diperolehnya dalam telur inang. Utami (2001) menyebutkan dalam
penelitiannya bahwa perkembangan parasitoid Eriborus argenteopilosus (Hymenoptera: Ichneumonidae) akan lebih baik jika berkembang pada inangnya
Perlakuan Pengamatan ke
0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari 8 hari 9 hari 10 hari
L1 12.50 0.00 0.00 0.00 b 43.75 43.75 50.00 43.75 43.75 31.25 12.50
L2 0.00 25.00 0.00 60.42 a 47.92 58.34 52.08 31.25 37.50 31.25 37.50
Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae) yang berukuran besar karena
sumber makanan yang tersedia lebih banyak. Anderson dan Leppla (1992 dalam Suhniahti dan Sudarjat 2004) berpendapat kekurangan nutrisi yang
penting seperti protein dan karbohidrat dapat menyebabkan kematian parasitoid atau perkembangan abnormal. Selanjutnya menurut Vinson dan Iwantch (1980) keberhasilan perkembangan parasitoid sampai menjadi imago tergantung beberapa faktor, yaitu kemampuan parasitoid menghindari atau melawan sistem pertahanan inang, adanya toksin merusak telur atau larva parasitoid, kesesuaian makanan parasitoid dan juga infeksi patogen serta kerentanan inang.
Hasil pengamatan diketahui bahwa ukuran imago Xanthocampoplex sp. tidak sama. Hal ini dapat dilihat dari pemeliharaan kokon yang berukuran lebih kecil imago yang muncul juga tidak besar dan sebaliknya kokon yang berukuran lebih besar imago yang muncul lebih besar (Gambar 8b). Ukuran kokon yang
berbeda diakibatkan inang C. sacchariphagus yang terparasit tidak sama (Gambar 8a). Telur yang diletakkan pada inang yang lebih besar mendapatkan
parasitoid kecil. Selain itu, nisbah kelaminnya juga akan condong menjadi betina. Godfray (1994) menyebutkan serangga yang berukuran besar cenderung hidup lebih lama dan memiliki potensi produksi telur yang besar tetapi keberhasilan reproduksi lebih dipengaruhi oleh ketersediaan nutrisi dan inangnya.
Gambar 8. Kokon Xanthocampoplex sp. berbagai ukuran (a); Imago betina Xanthocampoplex sp. berbagai ukuran (b)
Sumber: Foto Langsung
Xanthocampoplex sp. merupakan endoparasitoid yang bersifat koinobiont
Persentase Larva C. sacchariphagus Menjadi Ngengat
[image:41.595.103.516.227.297.2]Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa waktu inokulasi tidak berpengaruh nyata terhadap persentase larva C. sacchariphagus yang menjadi ngengat (Tabel 5).
Tabel 5. Pengaruh waktu inokulasi terhadap persentase C. sacchariphagus menjadi ngengat
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
T1: Pagi (07.00-09.00 WIB) T2: Sore (16.00-18.00 WIB)
Tabel 5 menunjukkan bahwa waktu inokulasi pagi dan sore hari tidak mempengaruhi persentase larva C. sacchariphagus yang menjadi ngengat pada umur parasitoid 0 hari hingga 10 hari. Akan tetapi persentase ngengat tertinggi ditemukan pada umur parasitoid 0 hingga 2 hari.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah larva C. sacchariphagus tidak berpengaruh nyata terhadap persentase larva C. sacchariphagus yang menjadi ngengat pada umur parasitoid 0 hari hingga
10 hari (Tabel 6).
Tabel 6. Pengaruh jumlah larva C. sacchariphagus terhadap persentase C. sacchariphagus menjadi ngengat
Keterangan: Angka yang diikuti dengan notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5%.
L1: 3 ekor larva L2: 5 ekor larva L3: 8 ekor larva
Tabel 6 menunjukkan bahwa pada semua perlakuan dapat diketahui persentase tertinggi terdapat pada umur parasitoid 0 - 2 hari. Nilai persentase pada
perlakuan L3 (8 ekor larva) dapat dilihat lebih besar dibandingkan L2 (5 ekor larva) dan L1( 3 ekor larva). Hal ini dapat disebabkan parasitoid tidak
Perlakuan Pengamatan ke
0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari 8 hari 9 hari 10 hari
T1 36.81 41.04 32.99 13.40 16.18 10.28 11.32 6.11 23.33 17.22 20.00
T2 40.56 37.36 23.06 18.89 11.32 5.83 16.81 9.31 7.50 18.96 27.22
Perlakuan Pengamatan ke
0 hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7 hari 8 hari 9 hari 10 hari
L1 41.67 29.16 25.00 12.50 12.50 4.17 12.50 12.50 12.50 20.83 33.33
L2 27.50 40.00 20.00 12.50 10.00 7.50 12.50 7.50 15.00 10.00 12.50
mampu memarasit inang hingga 8 ekor sehingga larva yang tidak terparasit masih dapat meneruskan siklus hidupnya. Pada saat parasitoid berumur 9 dan 10 hari kemampuan parasitasi menurun sehingga tidak semua inang terparasit. Seperti
yang dijelaskan sebelumnya pada pernyataan Drost dan Carde (1992 dalam Darwati, 1999) bahwa parasitoid berumur muda lebih aktif dalam
mencari inang dibandingkan umur yang lebih tua.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Persentase parasititasi tertinggi (55,00%) terdapat pada perlakuan L2 (5 ekor larva) pada umur parasitoid 5 hari dan terendah (0,00%) pada
perlakuan L1 (3 ekor larva), L2 (5 ekor larva) dan L3 (8 ekor larva) pada parasitod umur 0 dan 1 hari.
2. Waktu inokulasi dan interaksi waktu inokulasi dan jumlah larva tidak berpengaruh nyata terhadap kemampuan parasititasi Xanthocampoplex sp. 3. Persentase Xanthocampoplex sp. imago yang muncul tidak berpengaruh nyata
terhadap jumlah larva dan waktu inokulasi.
4. Persentase ngengat C. sacchariphagus paling tinggi terdapat pada umur parasitoid 0,1,2,9, dan 10 hari.
Saran
DAFTAR PUSTAKA.
Abduchhalek, B. 2000. Kepadatan Populasi Parasitoid Larva Eriborus
Argenteopilosus Cameron Pada Dua Jenis Inang di Pertanaman Brokoli
dan Tomat Petani di Daerah Cibodas Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Skripsi. FP IPB, Bogor.
Borror, D.J. Triplehon C. A dan N. F. Johnson. 1992. Pengenenalan Pelajaran
Serangga Edisi Ke-6, Terjemahan Partosoedjono, MSc. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
BPPTD. 1979. Hama dan Penyakit Tanaman Tebu. Balai Penelitian Tanaman Tebu Dan Tembakau Deli, Medan.
Corrigan, J.E. dan J.E. Laing.1994. Effect of the Rearing Host Species and Host Species Attacked on Performance by Trichogramma minutum Riley (Hymenoptera:Trichogrammatoidea). J. Environ. Entomol.23:755-760.
Clausen. 1994. Entomophagus Insects. First Edition. McGraw Hill Bookn New York.
Darwati. R. 1999. Pengaruh Umur Parasitoid Terhadap Persentase Parasititasi dan Keberhasilan Hidup Snellenius manilae Ashmead (Hymenoptera: Braconidae) Pada Inang Spodoptera litura Fabricus (Lepidoptera: Noctudae). Skripsi. IPB. Bogor.
Deptan. 2013. Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer). Hama
Penting Tanaman Tebu. Diunduh dari http://litbang.deptan.go.id (23 Desember 2013)
Dinas Perkebunan, 2004. Teknologi Peningkatan Produktivitas Tebu Rakyat dan Pengenalan Varietas Unggul Harapan di Sumatera Utara. Proyek Pengembangan Pangan Areal Perkebunan Sumatera Utara. Medan.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2014. Swasembada Gula Nasional. Bogor.
Doutt R. L. 1973. Biological Characteristic of Enthomophagus Adult. in P
Debach (Edo). Biological Control of Insect Pest and Weeds. London. Chapman and Hall Ltd.
Ernawati, F. dan T. Rejeki. 2012. Penyakit Pembuluh (Ratoon Stunting Disease) yang Merugikan Tanaman Tebu. BBP2TP Surabaya.
Ganeshan, S. dan A. Rajabelee. 1997. Parasitoids of The Sugarcane Spotted Borer C. sacchariphagus (Lepidoptera: Pyralidae) in Mauritius. Proc. S Afr Sugar Tech. Ass. 71:87-90
Ganeshan, S. 2001. A Guide to The Insect Pests of Sugar Cane in Mauritius. Entomology Department. Mauritius Sugar Industry Research Institute (MSRI).
Godfray, H.C.J. 1994. Parasitoids, Behavioral and Evolutionary Ecology. NewJersey: Princeton University Press.
Goebel, F. R., E. Roux, M. Marquier, J. Frandon, H. Do Thi Khanh dan E. Tabone. 2001. Biocontrol of Chilo Sacchariphagus (Lepidoptera:
Crambidae) a Key Pest of Sugarcane: Lessons From The Past and Future Prospects. Proc. S. Afr. Sugar Cane International 28(3):127-132.
Lee, J. 2000. Sex Ratio Manipulation of Parasitoids : Host Selection Behavior and
Sex Ratio of Solitary Hymenoptera. Artichles. Diunduh dari http: //www. msu.edu/html (11 Desember 2013)..
Maryani, Y. 2012. Trap and Kill. Teknologi Pengendalian Hama Penggerek Batang Tebu Dengan Aplikasi Perangkap Feromon. Ditjenbun. Deptan. Mukunthan. 2006. Efficacy of Inundative Release of Trichogramma chilonis in
The Management of Sugarcane Internode Borer Chilo sacchariphagus Indicus. Sugarcane Tech 8(1):36-43.
Nasukhah, M. 2009. Pengaruh Tingkat Instar dan Jumlah Larva Plutella xylostella yang Berbeda Terhadap Parasitasi Diadegma semiclausum. Skripsi, FMIPA Universitas Negeri Malang, Malang.
Purnomo. 2006. Parasititasi dan Kapasitas Reproduksi Cotesia flavipes Cameron (Hymenoptera:Braconidae) pada Inang dan Instar yang Berbeda di Laboratorium. J. Hama Penyakit Tumbuhan Tropika 6(2):87-91.
Pratiwi, D. 2003. Preferensi Parasitoid Larva Eriborus argenteopilasus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae) Pada Tiga Spesies Inang.
Skripsi. FP IPB, Bogor.
Purba, G. M. 2008. Pengaruh Bahan Makanan Terhadap Umur dan Kesuburan Parasitoid Telur Tumidiclava sp. Skripsi. FP USU, Medan.
Sallam, N. 2010. Final Report – SRDC Project Bss303 Sugarcane Biosecurity Integrated Plan. Australian Government Sugar Research and Development Corporation.
Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Kasinius, Yogyakarta.
Suasa- ard, W. 1982. Ecology of Sugarcane Moth Borers and Their Parasites in Thailand. Ph.D. Dissertation, Kasetsart University, Bangkok.
Suhniati, N. dan Sudarjat. 2004. Pengaruh Penggunaan Inang Corcyra cephalonica Stainton Terhadap Parasitasi Generasi Trichogramma australicum Gir. (Hymenoptera: Trichogrammatidae) Pada Telur Penggerek Batang Tebu di Laboratorium. Prosiding Revitalisasi Penerapan PHT Dalam Praktek Pertanian Yang Baik Menuju Sistem Pertanian Yang Berkelanjutan. Hal 89-94.
Susila, I.W. 1993. Biologi Ooencyrtus malayensis Ferr. (Hymenoptera: Encyrtidae) pada kepik pengisap polong kedelai. Tesis. IPB, Bogor
Schmidt, J.M. 1994. Host Recognition and Acceptance by Trichogramma. Dalam: Wajnberg E, Hassan SA.(Edo). Biological Control with Egg Parasitoids. Oxon, UK: CAB International. p165-194.
Utami, S. 2001. Tanaman Brokoli (Brassica oleraceae Var Indi) Pakan Larva Helicoverpa armigera (Hubner) (Lepidoptera: Noctuidae) Meningkatkan Keberhasilan Hidup Parasitoid Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae). Skripsi. IPB, Bogor.
Yalawar, S., S.Pradeep, M.A.Ajith Kumar, V. Hosamani dan S. Rampure. 2010. Biology of sugarcane internode borer, Chilo Sacchariphagus indicus (Kapur). Karnataka J. Agric.Sci,23(1):140-141.
Yulianto, Y. dan Yuniarti, F. 2013. Serangan Chilo sacchariphagus pada Tebu di Wilayah Provinsi Jawa Timur pada Bulan Agustus 2013. Diunduh dari http://litbang.deptan.go.id pada 23 Desember 2013.
Vinson S.B. dan G.F. Iwantsch. 1980. Host Suitability for Insect Parasitoid. Ann. Rev. Entomol 25:397-419.
Lampiran 1. Bagan Penelitian
I II III IV
T1L3 T1L1 T2L3 T2L2
T1L2 T2L1 T1L3 T1L3
T2L1 T2L3 T1L1 T2L1
T2L3 T1L2 T2L2 T1L2
T1L1 T2L2 T1L2 T2L3
T2L2 T1L3 T2L1 T1L1
Keterangan:
Lampiran 2
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 0 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T1L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T1L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T2L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Total 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33
Rataan 0.00 0.00 0.00 5.56 1.39
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 40.58 40.58 1.00 4.41 8.29 tn
L 2.00 81.16 40.58 1.00 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 81.16 40.58 1.00 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 730.43 40.58
Total 23.00 933.33
FK= 688.26 Ket: *=nyata
KK= 6.72% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L2 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 Total 24.33 24.33 24.33 55.54 128.52
Lampiran 3
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 1 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T1L2 0.00 0.00 0.00 20.00 20.00 5.00 T1L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T2L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T2L2 0.00 0.00 0.00 20.00 20.00 5.00 T2L3 0.00 25.00 0.00 0.00 25.00 6.25 Total 0.00 25.00 0.00 40.00 65.00
Rataan 0.00 4.17 0.00 6.67 2.71
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 28.05 28.05 0.40 4.41 8.29 tn
L 2.00 127.66 63.83 0.91 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 56.10 28.05 0.40 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 1264.93 70.27
Total 23.00 1476.74
FK= 1179.94 Ket: *=nyata
KK= 5.13% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L2 4.05 4.05 4.05 26.57 38.73 9.68 T1L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L2 4.05 4.05 4.05 26.57 38.73 9.68 T2L3 4.05 30.00 4.05 4.05 42.16 10.54 Total 24.33 50.27 24.33 69.35 168.28
Lampiran 4
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 2 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 T1L2 0.00 0.00 0.00 20.00 20.00 5.00 T1L3 25.00 25.00 0.00 0.00 50.00 12.50 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 0.00 0.00 20.00 0.00 20.00 5.00 T2L3 0.00 20.00 0.00 0.00 20.00 5.00 Total 25.00 45.00 20.00 53.33 143.33
Rataan 4.17 7.50 3.33 8.89 5.97
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 0.14 0.14 0.001 4.41 8.29 tn
L 2.00 121.65 60.83 0.43 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 229.50 114.75 0.81 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 2543.69 141.32
Total 23.00 2894.98
FK= 2561.51 Ket: *=nyata
KK= 3.48% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L2 4.05 4.05 4.05 26.57 38.73 9.68 T1L3 30.00 30.00 4.05 4.05 68.11 17.03 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 4.05 4.05 26.57 4.05 38.73 9.68 T2L3 4.05 26.57 4.05 4.05 38.73 9.68 Total 50.27 72.78 46.84 78.05 247.94
Lampiran 5
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 3 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T1L2 20.00 20.00 40.00 20.00 100.00 25.00 T1L3 12.50 12.50 12.50 12.50 50.00 12.50 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 20.00 80.00 40.00 60.00 200.00 50.00 T2L3 12.50 12.50 12.50 0.00 37.50 9.38 Total 65.00 125.00 105.00 159.16 454.16
Rataan 10.83 20.83 17.50 26.53 18.92
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 82.23 82.23 0.58 4.41 8.29 tn
L 2.00 2794.08 1397.04 9.92 3.55 6.01 **
TxL 2.00 418.67 209.34 1.49 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 2535.36 140.85
Total 23.00 5830.33
FK= 12274.91 Ket: *=nyata
KK= 1.59% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T1L2 26.57 26.57 39.23 26.57 118.93 29.73 T1L3 20.70 20.70 20.70 20.70 82.82 20.70 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 26.57 63.43 39.23 50.77 180.00 45.00 T2L3 20.70 20.70 20.70 4.05 66.17 16.54 Total 102.65 139.52 127.98 172.62 542.77
Lampiran 6
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 4 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 33.33 66.67 33.33 133.33 33.33 T1L2 40.00 40.00 40.00 40.00 160.00 40.00 T1L3 25.00 25.00 12.50 12.50 75.00 18.75 T2L1 0.00 33.33 33.33 33.33 99.99 25.00 T2L2 40.00 40.00 40.00 60.00 180.00 45.00 T2L3 37.50 12.50 12.50 0.00 62.50 15.63 Total 142.50 184.16 205.00 179.16 710.82
Rataan 23.75 30.69 34.17 29.86 29.62
Daftar Sidik Ragam
SK db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 28.44 28.44 0.18 4.41 8.29 tn
L 2.00 1259.18 629.59 4.04 3.55 6.01 *
TxL 2.00 76.96 38.48 0.25 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 2803.77 155.77
Total 23.00 4168.36
FK= 23386.20 Ket: *=nyata
KK= 1.15% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 35.26 54.74 35.26 129.32 32.33 T1L2 39.23 39.23 39.23 39.23 156.93 39.23 T1L3 30.00 30.00 20.70 20.70 101.41 25.35 T2L1 4.05 35.26 35.26 35.26 109.84 27.46 T2L2 39.23 39.23 39.23 50.77 168.46 42.12 T2L3 37.76 20.70 20.70 4.05 83.23 20.81 Total 154.33 199.69 209.87 185.28 749.18
Lampiran 7
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 5 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 66.67 33.33 33.33 133.33 33.33 T1L2 40.00 60.00 60.00 60.00 220.00 55.00 T1L3 37.50 25.00 37.50 12.50 112.50 28.13 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 60.00 60.00 60.00 40.00 220.00 55.00 T2L3 25.00 25.00 25.00 0.00 75.00 18.75 Total 162.50 236.67 215.83 179.16 794.16
Rataan 27.08 39.45 35.97 29.86 33.09
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 542.10 542.10 3.31 4.41 8.29 tn
L 2.00 2957.03 1478.52 9.02 3.55 6.01 **
TxL 2.00 425.54 212.77 1.30 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 2950.92 163.94
Total 23.00 6875.59
FK= 25356.50 Ket: *=nyata
KK= 1.11% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 54.74 35.26 35.26 129.32 32.33 T1L2 39.23 50.77 50.77 50.77 191.54 47.88 T1L3 37.76 30.00 37.76 20.70 126.23 31.56 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 50.77 50.77 50.77 39.23 191.54 47.88 T2L3 30.00 30.00 30.00 4.05 94.05 23.51 Total 165.87 220.33 208.62 185.28 780.10
Lampiran 8
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 6 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 66.67 66.67 33.33 0.00 166.67 41.67 T1L2 40.00 60.00 60.00 40.00 200.00 50.00 T1L3 50.00 37.50 25.00 12.50 125.00 31.25 T2L1 0.00 66.67 33.33 33.33 133.33 33.33 T2L2 40.00 60.00 60.00 20.00 180.00 45.00 T2L3 37.50 75.00 0.00 12.50 125.00 31.25 Total 234.17 365.84 211.66 118.33 930.00
Rataan 39.03 60.97 35.28 19.72 38.75
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 77.35 77.35 0.25 4.41 8.29 tn
L 2.00 567.73 283.87 0.91 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 5.09 2.54 0.01 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 5613.45 311.86
Total 23.00 6263.62
FK= 32371.62 Ket: *=nyata
KK= 0.98% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 54.74 54.74 35.26 4.05 148.79 37.20 T1L2 39.23 50.77 50.77 39.23 180.00 45.00 T1L3 45.00 37.76 30.00 20.70 133.47 33.37 T2L1 4.05 54.74 35.26 35.26 129.32 32.33 T2L2 39.23 50.77 50.77 26.57 167.33 41.83 T2L3 37.76 60.00 4.05 20.70 122.52 30.63 Total 220.02 308.77 206.12 146.52 881.43
Lampiran 9
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 7 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 33.33 33.33 33.33 0.00 99.99 25.00 T1L2 40.00 20.00 20.00 40.00 120.00 30.00 T1L3 25.00 12.50 25.00 25.00 87.50 21.88 T2L1 66.67 33.33 0.00 0.00 100.00 25.00 T2L2 40.00 20.00 40.00 20.00 120.00 30.00 T2L3 0.00 0.00 25.00 12.50 37.50 9.38 Total 205.00 119.16 143.33 97.50 564.99
Rataan 34.17 19.86 23.89 16.25 23.54
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 168.66 168.66 0.87 4.41 8.29 tn
L 2.00 554.23 277.11 1.43 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 185.12 92.56 0.48 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 3479.05 193.28
Total 23.00 4387.06
FK= 17101.73 Ket: *=nyata
KK= 1.35% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 35.26 35.26 35.26 4.05 109.84 27.46 T1L2 39.23 26.57 26.57 39.23 131.59 32.90 T1L3 30.00 20.70 30.00 30.00 110.70 27.68 T2L1 54.74 35.26 4.05 4.05 98.11 24.53 T2L2 39.23 26.57 39.23 26.57 131.59 32.90 T2L3 4.05 4.05 30.00 20.70 58.81 14.70 Total 202.52 148.41 165.11 124.61 640.66
Lampiran 10
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 8 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 33.33 33.33 66.67 0.00 133.33 33.33 T1L2 40.00 20.00 20.00 20.00 100.00 25.00 T1L3 0.00 25.00 37.50 37.50 100.00 25.00 T2L1 0.00 33.33 33.33 33.33 99.99 25.00 T2L2 40.00 20.00 20.00 40.00 120.00 30.00 T2L3 50.00 0.00 12.50 12.50 75.00 18.75 Total 163.33 131.66 190.00 143.33 628.32
Rataan 27.22 21.94 31.67 23.89 26.18
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 28.00 28.00 0.13 4.41 8.29 tn
L 2.00 175.30 87.65 0.40 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 85.13 42.57 0.19 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 3949.32 219.41
Total 23.00 4237.76
FK= 19821.44 Ket: *=nyata
KK= 1.25% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 35.26 35.26 54.74 4.05 129.32 32.33 T1L2 39.23 26.57 26.57 26.57 118.93 29.73 T1L3 4.05 30.00 37.76 37.76 109.58 27.39 T2L1 4.05 35.26 35.26 35.26 109.84 27.46 T2L2 39.23 26.57 26.57 39.23 131.59 32.90 T2L3 45.00 4.05 20.70 20.70 90.46 22.62 Total 166.84 157.71 201.60 163.58 689.72
Lampiran 11
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 9 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 33.33 0.00 33.33 0.00 66.66 16.67 T1L2 20.00 40.00 0.00 0.00 60.00 15.00 T1L3 0.00 0.00 37.50 25.00 62.50 15.63 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 40.00 0.00 20.00 0.00 60.00 15.00 T2L3 0.00 0.00 25.00 37.50 62.50 15.63 Total 93.33 40.00 115.83 95.83 344.99
Rataan 15.56 6.67 19.31 15.97 14.37
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 40.58 40.58 0.14 4.41 8.29 tn
L 2.00 47.84 23.92 0.08 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 81.16 40.58 0.14 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 5368.07 298.23
Total 23.00 5537.65
FK= 7547.85 Ket: *=nyata
KK= 2.03% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 35.26 4.05 35.26 4.05 78.63 19.66 T1L2 26.57 39.23 4.05 4.05 73.91 18.48 T1L3 4.05 4.05 37.76 30.00 75.87 18.97 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 39.23 4.05 26.57 4.05 73.91 18.48 T2L3 4.05 4.05 30.00 37.76 75.87 18.97 Total 113.22 59.51 137.70 115.19 425.62
Lampiran 12
PERSENTASE PARASITITASI
UMUR 10 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 33.33 33.33 66.66 16.67 T1L2 0.00 20.00 20.00 0.00 40.00 10.00 T1L3 0.00 12.50 12.50 25.00 50.00 12.50 T2L1 0.00 0.00 0.00 33.33 33.33 8.33 T2L2 20.00 20.00 20.00 40.00 100.00 25.00 T2L3 37.50 12.50 12.50 12.50 75.00 18.75 Total 57.50 65.00 98.33 144.16 364.99
Rataan 9.58 10.83 16.39 24.03 15.21
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 107.91 107.91 0.67 4.41 8.29 tn
L 2.00 224.13 112.06 0.70 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 504.29 252.14 1.57 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 2899.68 161.09
Total 23.00 3736.01
FK= 9662.81 Ket: *=nyata
KK= 1.79% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 35.26 35.26 78.63 19.66 T1L2 4.05 26.57 26.57 4.05 61.24 15.31 T1L3 4.05 20.70 20.70 30.00 75.46 18.87 T2L1 4.05 4.05 4.05 35.26 47.43 11.86 T2L2 26.57 26.57 26.57 39.23 118.93 29.73 T2L3 37.76 20.70 20.70 20.70 99.88 24.97 Total 80.55 102.65 133.86 164.52 481.57
Lampiran 13
PERSENTASE IMAGO Xanthocampoplex sp.
YANG MUNCUL UMUR 0 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T1L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T1L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L1 0.00 0.00 0.00 100.00 100.00 25.00
T2L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Total 0.00 0.00 0.00 100.00 100.00
Rataan 0.00 0.00 0.00 16.67 4.17
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 307.77 307.77 1.00 4.41 8.29 tn
L 2.00 615.55 307.77 1.00 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 615.55 307.77 1.00 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 5539.93 307.77
Total 23.00 7078.80
FK= 1399.35 Ket: *=nyata
KK= 4.71% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L2 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L1 4.05 4.05 4.05 90.00 102.16 25.54 T2L2 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 Total 24.33 24.33 24.33 110.27 183.26
Lampiran 14
PERSENTASE IMAGO Xanthocampoplex sp.
YANG MUNCUL UMUR 1 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T1L2 0.00 0.00 0.00 100.00 100.00 25.00
T1L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L2 0.00 0.00 0.00 100.00 100.00 25.00 T2L3 0.00 100.00 0.00 0.00 100.00 25.00 Total 0.00 100.00 0.00 200.00 300.00
Rataan 0.00 16.67 0.00 33.33 12.50
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 307.77 307.77 0.33 4.41 8.29 tn
L 2.00 1846.64 923.32 1.00 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 615.55 307.77 0.33 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 16619.80 923.32
Total 23.00 19389.76
FK= 5255.51 Ket: *=nyata
KK= 2.43% **=sangat nyata
tn=tidak nyata
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T1L2 4.05 4.05 4.05 90.00 102.16 25.54 T1L3 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L1 4.05 4.05 4.05 4.05 16.22 4.05 T2L2 4.05 4.05 4.05 90.00 102.16 25.54 T2L3 4.05 90.00 4.05 4.05 102.16 25.54 Total 24.33 110.27 24.33 196.22 355.15
Lampiran 15
PERSENTASE IMAGO Xanthocampoplex sp.
YANG MUNCUL UMUR 2 HARI Transformasi Arcsin X
Perlakuan Ulangan Total Rataan
I II III IV
T1L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T1L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T1L3 100.00 50.00 0.00 0.00 150.00 37.50
T2L1 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L2 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
T2L3 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Total 100.00 50.00 0.00 0.00 150.00
Rataan 16.67 8.33 0.00 0.00 6.25
Daftar Sidik Ragam
SK Db JK KT Fhit F.05 F.01 Ket
T 1.00 670.88 670.88 2.40 4.41 8.29 tn
L 2.00 1341.76 670.88 2.40 3.55 6.01 tn
TxL 2.00 1341.76 670.88 2.40 3.55 6.01 tn
Galat 18.00 5037.79 279.88
Total 23.00 8392.20
FK= 2094.51 Ket: *=nyata
KK= 3.85% **=sangat nyata
tn=tidak nyata