• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. TUJUAN PERCOBAAN - Khromatometri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "I. TUJUAN PERCOBAAN - Khromatometri"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Khromatometri

I. TUJUAN PERCOBAAN

Adapun yang menjadi tujuan dari percobaan ini adalah 1. Untuk membuat larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N.

2. Untuk membuat larutan garam ferro (FeSO4 . 7H2O ) 0,1 N.

3. Menetapkan kadar garam ferro.

II. DASAR TEORI Khromatometri

Khromatometri adalah titrasi redoks yang menggunakan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai larutan standar. Garam dari K2Cr2O7 memeiliki beberapa

kelebihan yaitu, dapat diperoleh dalam keadaan murni dan cukup stabil sampai titik leburnya, sehingga dapat digunakan sebagai standar primer. Proses oksidasi oleh K2Cr2O7 hanya dapat berlangsung dalam suasana asam, dimana garam tersebut akan

tereduksi menjadi garam kromi (Cr3+) yang berwarna hijau, menurut persamaan reaksi :

Cr2O7 2- + 14 H+ + 6e  2 Cr3+ + 7 H2O

Titrasi ini umumnya digunakan untuk menetapkan kadar besi dalam bijihnya atau penetapan ion Fe2+, dan oleh karena K

2Cr2O7 merupakan zat standar primer, maka

untuk membuatnya sebagai larutan standar cukup menimbang zat-nya dengan tepat dan kemudian dilarutkan dalam volume tertentu. Misalnya untuk membuat larutan 1 N, maka dilarutkan zat padatnya yang mengandung berat = 1/6 mol K2Cr2O7 dalam setiap

liternya.

Pada proses titrasi ini, untuk mengetahui saat tercapainya titik ekivalen dapat digunakan 3 cara, yaitu : dengan indikator internal, eksternal dan secara potensiometri. Cara yang paling sederhana dan banyak digunakan adalah dengan indikator internal. Indikator internal yang dapat digunakan adalah difenilamin (1% dalam H2SO4 pekat),

difenilbenzidin (1% dalam H2SO4 pekat) dan natrium difenilaminsulfonat

(0,2% dalam air).

Dalam penetapan Fe2+, indikator eksternal yang biasa digunakan adalah

K3{Fe(CN)6}, yang ditambahkan diluar larutan yang dititrasi. Caranya ketika titrasi

(2)

larutan yang dititrasi ke dalam larutan indikator akan menghasilkan warna coklat yang stabil/permanen dari garam Fe{Fe(CN)6}, sedangkan jika titik ekivalen belumtercapai

akan diperoleh warna coklat kebiruan campuran dari warna larutan garam ferro dan ferrisianida.

Penetapan secara potensiometri didasarkan pada kurva titrasinya. Dalam cara ini diperlukan alat pengukur potensial larutan (potensiometer). pH-meter saat ini umumnya dilengkapi juga dengan alat pengukur potensial.

III. ALAT DAN BAHAN

- Untuk membuat larutan standart (K2Cr2O7) 0,1 N

Alat Ukuran Jumlah

Labu takar Neraca analitik Corong

Batang pengaduk Gelas kimia Botol kosong

500 mL -250 mL

-1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Ukuran Jumlah

Kristal K2Cr2O7

Aquades

-2,45 gram secukupnya

- Untuk membuat larutan standart garam ferro (FeSO4.7H2O)

Alat Ukuran Jumlah

Labu takar Gelas ukur Neraca analitik Corong

Batang pengaduk Gelas kimia Botol kosong

500 mL 25 mL

-250 mL

-1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Ukuran Jumlah

Kristal FeSO4.7H2O

Larutan H2SO4 10%

(3)

Aquades - secukupnya

- Untuk membuat standarisasi FeSO4.7H2O dengan K2Cr2O7 0,1 N

3 buah-Alat

1 buah Lengkap

1 buah -10 mL

Ukuran Jumlah

Labu Erlenmeyer

Bahan Ukuran Jumlah

Larutan FeSO4.7H2O

Larutan K2Cr2O7

Aquades

-10 mL 50 mL secukupnya

- Untuk menetapkan kadar garam ferro

Alat Ukuran Jumlah

Pipet Tetes Plat Tetes

-1buah 1 buah

Bahan Ukuran Jumlah

Larutan hasil titrasi K2Cr2O7 dan

FeSO4.7H2O

Larutan K3{Fe(CN)6}

-Secukupnya

secukupnya

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

- Untuk membuat larutan standart kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N

1. Menimbang dengan tepat kristal K2Cr2O7 sebanyak 2,45 gram di dalam gelas kimia

(4)

2. Menambahkan aquades secukupnya ke dalam gelas kimia untuk mengencerkan kristal K2Cr2O7, dan mengaduknya dengan menggunakan pengaduk agar dapat

larut sampai homogen.

3. Memasukkan larutan K2Cr2O7 tersebut ke dalam labu takar 500 mL, kemudian

larutan tersebut diencerkan dengan menambahkan aquades ke dalamnya sampai tanda batas.

4. Mengocok larutan K2Cr2O7 dalam labu takar sampai bercampur dengan aquades.

5. Memindahkan larutan K2Cr2O7 encer tersebut ke dalam suatu botol bersih.

- Untuk membuat larutan standart garam ferro (FeSO4.7H2O)

1. Menimbang dengan tepat FeSO4.7H2O sebanyak 13,9 gram di dalam gelas kimia

dengan menggunakan neraca analisis.

2. Menambahkan aquades secukupnya ke dalam gelas kimia untuk mengencerkan FeSO4.7H2O, dan mengaduknya dengan menggunakan pengaduk agar dapat larut

sampai homogen.

3. Memasukkan larutan FeSO4.7H2O tersebut ke dalam labu takar 500 mL, kemudian

larutan tersebut diencerkan dengan menambahkan aquades ke dalamnya sampai tanda batas.

4. Mengocok larutan FeSO4.7H2O tersebut sampai bercampur dengan aquades.

5. Memindahkan larutan FeSO4.7H2O tersebut ke dalam suatu botol bersih.

- Untuk membuat standarisasi larutan FeSO4.7H2O dengan K2Cr2O7 0,1 N

1. Mengisi buret dengan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N sampai penuh.

2. Mengukur 10 mL larutan garam ferro (FeSO4.7H2O)dan memasukkannya ke dalam

labu erlenmeyer.

3. Menambahkan larutan H2SO4 10% sebanyak 6 mL ke dalam labu erlenmeyer,

kemudian mengocoknya agar dapat bercampur.

4. Kemudian barulah menitrasi larutan dalam labu erlenmeyer tersebut dengan menggunakan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N setetes demi setetes melalui

buret sampai terjadi perubahan warna larutan dari bening menjadi berwarna coklat kehijau-hijauan.

5. Melakukan kegiatan percobaan 2 – 6 sebanyak 3 kali pengulangan, dan mencatat volume natrium tiosulfat (Na2S2O3) yang diperlukan dari buret.

- Untuk menetapkan kadar garam ferro

1. Meneteskan sebanyak 3 tetes indikator larutan K3{Fe(CN)6} ke dalam

(5)

2. Mengambil larutan dari percobaan standarisasi larutan standart garam ferro (FeSO4.7H2O) dengan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N dalam erlenmeyer dengan

menggunakan pipet tetes dan meneteskannya ke dalam plat tetes yang berisi larutan indikator sampai tercapai titik ekivalen dan terjadi perubahan warna menjadi berwarna coklat. (apabila masih belum tercapai titik ekivalen akan diperoleh warna coklat kebiruan).

V. DATA PERCOBAAN

HASIL PENGAMATAN

Tbg Perlakuan SebelumPenambahan IndikatorSetelah

I 10 mL larutan garam ferro (FeSO4.7H2O) + 6 mL larutan H2SO4

Berwarna hijau Berwarna coklat V K2Cr2O7 = 10,10 mL

II 10 mL larutan garam ferro (FeSO4.7H2O) + 6 mL larutan H2SO4

Berwarna hijau Berwarna coklat V K2Cr2O7 = 9,82 mL

III 10 mL larutan garam ferro (FeSO4.7H2O) + 6 mL larutan H2SO4

Berwarna hijau Berwarna coklat V K2Cr2O7 = 9,80 mL

VI. ANALISIS DATA

Berdasarkan data hasil percobaan yang telah dilakukan, maka diperoleh bahwa :

1. Standarisasi larutan larutan standart garam ferro (FeSO4.7H2O) dengan kalium

bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N. Sebelum larutan garam ferro (FeSO4.7H2O) dititrasi

dengan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N, mulanya berwarna bening (tidak

berwarna). Setelah dititrasi dengan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N akan

menghasilkan larutan yang berwarna coklat kehijau-hijauan pada penambahan volume larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N yang berbeda-beda untuk 3 kali

pengulangan.

Reaksi keseluruhan yang terjadi dalam titrasi ini adalah : 6Fe2+ + Cr

2O72- + 14H+  6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O

1 mol FeSO4.7H2O = 1 ekivalen FeSO4.7H2O

Diketahui : Volume titrasi = 10,10 mL ; 9,82 mL ; 9,80 mL BE FeSO4.7H2O = Mr = 278 g/ek

(6)

Jadi, yang perlu dicari adalah normalitas dari larutan kalium bikromat bikromat (K2Cr2O7) dari standarisasi dengan larutan FeSO4.7H2O.

(7)

Dari perhitungan normalitas larutan kalium bikromat (K2Cr2O7)-nya dapat dicari

rerata normalitas larutan kalium bikromat (K2Cr2O7)-nya dan standar deviasinya,

yaitu :

 Rerata Normalitas larutan kalium bikromat (K2Cr2O7)

N 0,10 3 0,30 3

0,10 0,10 0,10 3

N N N

N 1 2 3

 

 

 

 

 Standar Deviasi

0

2 0 2

0 0 0

1

-3

0,10) -(0,10 0,10) -(0,10 0,10) -(0,10

1 -n

) N -(N

S

2 2

2 2 i

   

 

 

2. Menetapkan kadar garam ferro (FeSO4.7H2O). Mula-mula garam ferro

(FeSO4.7H2O) yang sudah dititrasi dengan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N

berwarna coklat kehijau-hijauan dan setelah sampel dari larutan tersebut sebanyak 2 tetes ditambahkan ke dalam larutan indikator Larutan K3{Fe(CN)6} yang berwarna

kuning yang ada di plat tetes akan menghasilkan larutan yang berwana coklat pada penambahan volume larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N yang berbeda-beda

untuk pengulangan sebanyak 3 kali. (Apabila titik ekivalen telah tercapai pada penambahan 2 tetes larutan yang dititrasi ke dalam larutan indikator akan menghasilkan warna coklat yang permanen dari garam Fe{Fe(CN)6}, sedangkan

jika titik ekivalen belum tercapai akan diperoleh warna coklat kebiruan campuran dari warna larutan garam ferro dan ferrisianida).

Reaksi yang terjadi adalah :

Fe2+

 Fe3+ 1 ek Fe2+ = 1 mol

Diketahui : Volume titrasi = 10,10 mL ; 9,82 mL ; 9,80 mL

BE Fe2+ = Mr = 1 mol/ek . 56 g/mol

= 56 g/ek Berat cuplikan = 13,9 gram Normalitas K2Cr2O7 = 0,10 N

(8)

 mek analit =  mek titran

(9)

Dari perhitungan dapat dicari rerata kemurnian Fe2+ dalam FeSO

4 . 7H2O, yaitu :  Rerata kemurnian Fe2+

19,95% Berat cuplikan = 13,9 gram Normalitas K2Cr2O7 = 0,10 N

Jadi, yang perlu dicari adalah kadar dari garam ferro. Persamaan yang digunakan adalah :

 mek analit =  mek titran

Oleh sebab itu,berikut ini adalah perhitungan kemurniaan garam ferro adalah

a. Volume titrasi 10,10 mL = 0,0101 L

(10)
(11)

53,60%

100% x gram 9 , 13

gram 7,45

100% x O .7H FeSO berat

FeSO berat

FeSO (k) kemurnian

2 4

4 4

 

Dari perhitungan didapatkan rerata kemurnian FeSO4 dalam FeSO4 . 7H2O,

yaitu :

 Rerata kemurnian FeSO4

54,17%

3 162,52%

3

53,60%

% 53,67 55,25%

3

k k k

k 1 2 3

 

 

   

VII. KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Standarisasi larutan larutan standart garam ferro (FeSO4.7H2O) dengan kalium

bikromat (K2Cr2O7) 0,1 N didapatkan harga normalitas yang sama dari setiap

percobaan sampai dihasilkan warna larutannya coklat kehijau-hijauan, yaitu :

 Volume titrasi 10,10 mL, memiliki harga N = 0,10 N

 Volume titrasi 9,82 mL, memiliki harga N = 0,10 N

 Volume titrasi 9,80 mL, memiliki harga N = 0,10 N

 Rerata harga normalitasnya = 0,10 N

 Standar deviasinya = 0

2. Kemurnian/kadar Fe2+ dalam FeSO

4 . 7H2O yang berbeda dalam cuplikan dari

setiap percobaan sampai tercapainya titik ekivalen yang ditandai dengan perubahan warna indikator dari yang berwarna kuning menjadi berwarna coklat yang bersifat permanen dari garam Fe{Fe(CN)6}, yaitu :

 Volume titrasi 10,10 mL, memiliki harga kemurnian (k) = 20,36%

 Volume titrasi 9,82 mL, memiliki harga kemurnian (k) = 19,78%

 Volume titrasi 9,80 mL, memiliki harga kemurnian (k) = 19,71%

 Rerata harga kemurniannya = 19,95%

3. Kemurnian/kadar FeSO4 dalam FeSO4 . 7H2O yang berbeda dalam cuplikan dari

setiap percobaan sampai tercapainya titik ekivalen yang ditandai dengan perubahan warna indikator dari yang berwarna kuning menjadi berwarna coklat yang bersifat permanen dari garam Fe{Fe(CN)6}, yaitu :

 Volume titrasi 10,10 mL, memiliki harga kemurnian (k) = 55,25%

(12)

 Volume titrasi 9,80 mL, memiliki harga kemurnian (k) = 53,60%

 Rerata harga kemurniannya = 54,17%

VIII. LAMPIRAN

- Laporan sementara praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Abudarin. 2002. Buku Ajar Kimia Analisis II. Palangkaraya : FKIP, Jurusan PMIPA, Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Palangkaraya.

Anonim. Tanpa tahun. PenuntunPraktikum Kimia Analisis.

Rival, Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta : Universitas Indonesia.

(13)

c. Volume titrasi 9,80 mL = 0,0098 L

Dari perhitungan dapat dicari rerata kemurnian Fe2+ dalam FeSO

4 . 7H2O, yaitu :  Rerata kemurnian Fe2+

19,95%

Referensi

Dokumen terkait

(1996), bahwa gejala serangan yang diakibatkan oleh Steinernema spp. ditandai dengan terjadinya perubahan warna pada kutikula serangga inang, semula kutikula berwarna coklat

Di alam, berlian ditemukan dengan beragam warna – dari tidak berwarna, pingsan kuning atau bahkan coklat, pink untuk langka, biru, hijau dan warna lainnya yang dikenal sebagai

Warna bulu dominan coklat merah dan kuning keemasan, pola bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam), warna kulit, paruh, ceker ( shank ) putih

ditandai dengan warna menjadi merah pekat hal ini dikarenakan larutan KI tak berwarna dan warna Fe(N0 3 ) 3 orange,.. Pada percobaan keempat secara teorinya reaksi antara

Warna bulu dominan coklat merah dan kuning keemasan, pola bulu columbian (warna bagian ujung sayap dan ekor berwarna hitam), warna kulit, paruh, ceker (shank) putih

Permukaan dorsal tubuh tampak dengan warna dasar putih dengan corak spot coklat tua pada garis longitudinal tubuh dan papila berwarna kuning.. Permukaan ventral warna

Cake perlakuan 0% berwarna kuning, dikarenakan tepung terigu yang digunakan dalam pembuatan cake berwarna putih sehingga tidak membuat warna cake menjadi coklat muda

latar belakang berwarna merah dengan bordir tepi warna kuning, di dalamnya terdapat gambar pohon beringin berwarna hijau dengan corak lengkung warna kuning, batang pohon