SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL DAN KULTURAL DI TENGAH MASYARAKAT MODERN
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen dan Akreditasi Sistem Persekolahan Yang dibina oleh:
Prof. AH. Shonhaji K.H, M.A. PhD
Oleh:
Dewi Setyowati NIM. 170132844032
Universitas Negeri Malang Pascasarjana
SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL DAN KULTURAL DI TENGAH MASYARAKAT MODERN
Dewi Setyowati Universitas Negeri Malang
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia atau proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Pada era global, pendidikan berperan strategis dalam menentukan posisi bangsa. Pendidikan yang berkualitas menjadi kunci peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Salah satu perspektif yang perlu diperhatikan di Indonesia adalah pendidikan yang ideal sesuai dengan karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
berkembang secara kualitatif tinggi yakni (1) hidup religius; (2) hidup kekerabatan dan kegotongroyongan, hubungan-hubungan sosial berkembang baik; (3) hidup keilmuan dan teknologi yang maju; (4) hidup seni budaya indah dan luhur; (5) hidup sosial ekonomis terjamin; (6) hidup kebahasaannya mantap; (7) hidup tata pemerintahan dan politik yang demokratis dan stabil dan; (8) membuka diri dari lingkungan luar.
Pendidikan dapat dijalankan melalui lembaga formal, non-formal maupun informal. Salah satu bentuk lembaga formal adalah sekolah. Sekolah sebagai suatu lembaga harus bersifat terbuka yang mampu menyesuaikan diri untuk merubah kondisi eksternal menjadi efektif dan bertahan, terutama di masyarakat modern saat ini, dimana sekolah harus mampu menjadi sistem sosial dan kultural. Melalui pendidikan yang tepat, aspek individu dan aspek sosial mampu berkembang secara selaras sesuai dengan negara Indonesia yang berBhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu jua. Ciri-ciri masyarakat modern adalah bersifat rasional, berpikir untuk masa depan, menghargai waktu, bersikap terbuka, berpikir objektif. Sekolah Sebagai Sistem
Sekolah adalah lembaga yang di rancang untuk pengajaran peserta didik di bawah pengawasan guru. Menurut Hoy and Mischell, sistem adalah serangkaian atau seperangkat elemen terbatas dan aktivitas-aktivitas yang berinteraksi dan menunjukkan suatu kesatuan fungsional tunggal. Berdasarkan makna tersebut disimpulkan bahwa sekolah sebagai sistem merupakan suatu lembaga yang terorganisir yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Lembaga sekolah selaku lembaga sosial bertugas menyiapkan generasi muda memasuki tugas generasi dewasanya melalui pewarisan dan penerusan kebudayaan masyarakat.
mental dan rasionalitas harus diutamakan bagi peserta didik, agar dengan daya nalarnya meraka dapat membuat keputusan secara tepat; (3) pendidikan pada dasarnya berlangsung seumur hidup dan peserta ddiik harus dibekali bagimana cara belajar; (4) pendidikan harus diarahkan pada pembentukan watak yang mulia, disamping pada penguasaan IPTEK, agar manusia yang dihasilkan nanti adalah manusia yang mampu mengendalikan teknologi bukan manusia yang dikendalikan oleh teknologi; (5) selain melalui lembaga pendidikan formal, pendidikan keluarga dan masyarakat harus seimbang dan simultan.
Sekolah Sebagai Sistem Sosial
Sekolah merupakan sistem interaksi sosial yang ditandai dengan adanya saling ketergantungan antar bagian, jaringan relasi yang kompleks dan budayanya yang khas dengan populasi yang terbatas. Sekolah sebagai lembaga sosial memiliki tujuan institutional yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional, yakni harus mampu menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, tidak hanya sebagai mata pelajaran yang harus dibelajarkan kepada peserta didik, melainkan sebagai aktivitas pendidikan yang direncanakan untuk dialami dan diwujudkan dalam perilaku peserta didik.
pengarahan, membimbing dan bahkan mensosialisasikan bahwa peran orang tua dan teman dekat adalah penting.
Para ahli sosiologi berpendapat bahwa sekolah dapat menjadi inisiasi dan sosialisasi anak-anak karena terjadi interkasi sosial yang dapat saling mempengaruhi. Melalui sekolah anak-anak belajar hidup kemasyarakatan, sehingga dapat mengembangkan kepribadiannya, terutama kepribadian sosialnya sehingga dapat terbentuk pola-pola tingkah laku sosial. Melalui sekolah, pendidik mengajarkan dan membimbing anak agar menjadi manusia yang mencerminkan adanya sikap dan perilaku harmonis yang meliputi rukun, tepo sliro, akrab, saling menghormati, kesetiaan dan keseimbangan, tanggung jawab, saling kebergantungan fungsional, tidak terjadi dominasi eksploitasi, pertukaran yang saling menguntungkan, saling pengertian, dan adanya kesamaan pandangan. Lebih lanjut menurut Durkheim, pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu (1) memperkuat solidaritas sosial; (2) mempertahankan peranan sosial dan; (3) mempertahankan pembagian kerja.
Sekolah Sebagai Sistem Kultural
Kebudayaan adalah sistem yang terorganisasi dari pengetahuan dan kepercayaan dari struktur penduduk berdasarkan pengalaman dan pemahaman mereka sendiri. Kebudayaan merupakan cikal bakal dan landasan dari peradaban. Peradaban sendiri adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin; hal-hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan kebudayaan suatu bangsa. Saat ini budaya lokal sering terkalahkan dengan budaya modern karena kekuatan kelompok dominan yang berlandaskan kapitalisme menguasai ekonomi, politik bahkan kekuatan yang telah menghegemoni kekuatan minoritas yang menyebabkan budaya lokal menjadi subordinate. Peradaban selalu hadir ditengah masyarakat pendukungnya, bisa punah tetapi bisa juga menoreh masa depan. Peradaban dapat lahir dan lantas runtuh juga seperti yang dapat diamati pada peradaban Mesir, Romawi, Inca.
disadari maupun tidak disadari. Pola perilaku yang mencakup aspek psikologis, sosial dan transdental dan menghasilkan kebudayaan sebagian besar tidak diteruskan secara naluriah, melainkan diajarkan dan dipelajari baik melalui proses yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Sekolah di samping mempunyai tugas untuk mempersatu budaya-budaya etnik yang beraneka ragam juga harus melestanikan nilai-nilai budaya daerah yang masih layak dipertahankan seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya. Fungsi sekolah berkaitan dengan konservasi nilai-nilai budaya daerah ini ada dua fungsi sekolah yaitu pertama sekolah digunakan sebagai salah satu lembaga masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional masyarakat dari suatu masyarakat pada suatu daerah tertentu umpama sekolah di Jawa Tengah, digunakan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Jawa Tengah, sekolah di Jawa Barat untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Sunda, sekolah di Sumatera Barat untuk mempertahankan nilai-nilai budaya Minangkabau dan sebagainya dan kedua sekolah mempunyai tugas untuk mempertahankan nilai-nilai budaya bangsa dengan mempersatukan nilai-nilai yang ada yang beragam demi kepentingan nasional.
sosok yang bisa dimanusiakan agar mereka selanjutnya dapat mencapai peradaban yang lebih baik kedepannya, sehingga mampu membuktikan pada dunia bahwa mereka adalah yang terbaik dalam berbuat. Beberapa negara sudah mulai menggalakkan pentingnya budaya lokal menjadi ilmu yang sejajar dan setingkat dengan ilmu yang lain. Hal inipun sudah dilakukan oleh Indonesia, melalui pendidikan dengan melakukan pembaharuan kurikulum menjadi Kurikulum 2013 yang berlandaskan Pancasila.