• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGUNAAN ASAS DISKRESI DALAM PELAKSANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGGUNAAN ASAS DISKRESI DALAM PELAKSANA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH HAN LANJUT

PENGGUNAAN ASAS DISKRESI DALAM PELAKSANAAN FUNGSI

PEMERINTAHAN YANG DEMOKRATIS DAN BERBASIS GOOD

GOVERNANCE

(

implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Sektor swasta, BUMN dan

BUMD) Oleh:

INUGRAHA AL AZIZ PURYASANDRA

8111412180

ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Terbentuknya suatu Negara atau pemerintahan (aparat penyelenggara), secara filosofis, antara lain memang ditujukan untuk mencegah dan menghindari, setidak-tidaknya mengurangi kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di dalam masyarakat. Beberapa teori menyebutkan bahwa Negara bertujuan untuk memelihara dan menjamin hak-hak alamiah manusia, yaitu hak hidup, hak merdeka dan hak atas harta sendiri (John Locke), untuk mencapai the greatest happiness of the greatest number (John Stuart Mill), menciptakan perdamaian dunia dengan jalan menciptakan undang-undang bagi seluruh umat manusia (Dante). Sedangkan James Wilford membagi tujuan Negara menjadi 3 (tiga), yaitu tujuan asli ialah pemeliharaan perdamaian, ketertiban, keamanan dan keadilan, tujuan sekunder ialah kesejahteraan warga negara, dan tujuan memajukan peradaban.

Pakar lain menyebutkan bahwa fungsi negara adalah melaksanakan penertiban, menghendaki kesejahteraan dan kemakmuran, fungsi pertahanan, dan menegakkan keadilan. Ini berarti pula bahwa fungsi negara dan pemerintah adalah memberikan perlindungan bagi warganya, baik dibidang politik maupun sosial ekonomi. Oleh karenanya tugas pemerintah diperluas dengan maksud untuk menjamin kepentingan umum sehingga lapangan tugasnya mencakup berbagai aspek seperti kesehatan rakyat, pendidikan, perumahan, distribusi tanah, dan sebagainya1 Dilihat dari pekerjaan yang

dikerjakan oleh aparatur pemerintah, fungsi pemerintahan memiliki cakupan yang sangat luas, terlebih lagi dalam konsep Negara kesejahteraan (welfare state).2 Akan tetapi secara

keseluruhan fungsi pemerintahan terdiri dari berbagai macam tindakan-tindakan pemerintah : keputusan-keputusan, ketetapan-ketetapan yang bersifat umum, tindakan-tindakan hukum perdata dan tindakan-tindakan-tindakan-tindakan nyata. Hanya perundang-undangan dari

1 Tri Widodo W. Utomo, Etika dan Hukum Administrasi Publik, Lembaga Administrasi Negara Perwakilan Jawa Barat, 2000, hlm 34

(3)

penguasa politik dan peradilan oleh para hakim tidak termasuk di dalamnya3. Di dalam Negara kesejahteraan (welfare state) konsep dasar penyelenggaraan pemerintahan tertuju pada terwujudnya kesejahteraan umum, karena fungsi pemerintahan dapat dipetakan meliputi:4

1. Fungsi perencanaan (planing)

2. Fungsi pengaturan (regeling)

3. Fungsi tata pemerintahan (bestuur)

4. Fungsi kepolisian (police)

5. Fungsi penyelesaian perselisihan secara administrative (administratieve rechtspleging)

6. Fungsi tata-usaha yang dilakukan oleh kantor pemerintahan dan sebagainya

7. Fungsi pelayanan (public service)

8. Fungsi pemberdayaan dan pembangunan

9. Fungsi penyelenggaraan usaha-usaha Negara yang dilakukan oleh dinas-dinas,

lembaga-lembaga dan perusahaan Negara 10. Fungsi keuangan

11. Fungsi hubungan luar negeri

12. Fungsi pertahanan dan keamanan

13. Fungsi menyelenggarakan kesejahteraan umum

14. Fungsi kewarganegaraan.

Wewenang merupakan bagian yang sangat penting dan bagian awal dari hukum administrasi, karena pemerintahan (administrasi) baru dapat menjalankan fungsinya atas dasar wewenang yang diperolehnya, artinya keabsahan tindak pemerintahan atas dasar wewenang yang diatur dalam peraturan perundang-undangan (legalitiet beginselen). Menurut S.F. Marbun, wewenang mengandung arti kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik, atau secara yuridis adalah kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan-hubungan hukum. Dengan demikian, wewenang pemerintahan memiliki sifat-sifat, antara lain:5

3 Philipus M. Hadjon et al, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Cetakan Kesepuluh, 2008, hlm 8

4 Sadjijono, Ibid

(4)

1. Express implied

2. Jelas maksud dan tujuannya

3. Terikat pada waktu tertentu

4. Tunduk pada batasan-batasan hukum tertulis dan tidak tertulis ; dan

5. Isi wewenang dapat bersifat umum (abstrak) dan konkrit.

Di dalam kepustakaan hukum publik terutama dalam hukum administrasi, wewenang pemerintah berdasarkan sifatnya dapat dilakukan pembagian, sebagai berikut 1. Wewenang yang bersifat terikat : yakni wewenang yang harus sesuai dengan aturan dasar yang menentukan waktu dan keadaan wewenang tersebut dapat dilaksanakan, termasuk rumusan dasar isi dan keputusan yang diambil.

2. Wewenang bersifat fakultatif : yakni wewenang yang dimiliki oleh badan atau pejabat administrasi, namun demikian tidak ada kewajiban atau keharusan untuk menggunakan wewenang tersebut dan sedikit banyak masih ada pilihan lain walaupun pilihan tersebut hanya dapat dilakukan dalam hal dan keadaan tertentu berdasarkan aturan dasarnya.

3. Wewenang bersifat bebas : yakni wewenang badan atau pejabat pemerintahan (administrasi) dapat menggunakan wewenangnya secara bebas untuk menentukan sendiri mengenai isi dari keputusan yang akan dikeluarkan, karena peraturan dasarnya memberi kebebasan kepada penerima wewenang tersebut.

Walaupun melekat adanya wewenang bebas, namun demikian pemerintahan dalam melaksanakan fungsinya tidak dapat menggunakan wewenang bebas tersebut sebesar-besarnya, karena di dalam Negara hukum tidak ada wewenang dalam arti sebebas-bebasnya atau kebebasan tanpa batas. Wewenang selalu dijalankan dengan batasan-batasan hukum, mengingat wewenang hanya diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu legitimasi penyelenggaraan pemerintahan adalah wewenang yang diberikan oleh undang-undang (norma wewenang), dan substansi dari asas legalitas (legalitiet beginselen) dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah wewenang.6

(5)

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian asas diskresi dan Penggunaan Asas Diskresi Dalam Pelaksanaan Fungsi Pemerintahan

2. Apa sajakah prinsip-prinsip pokok dalam mewujudkan good governance untuk mencapai pemerintahan yang Demokratis (implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Sektor swasta, BUMN dan BUMD

1.2Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan pengertian Diskresi dan Penggunaan Asas Diskresi Dalam Pelaksanaan Fungsi Pemerintahan

2. Menguraikan apa sajakah prinsip-prinsip pokok dalam mewujudkan good governance untuk mencapai pemerintahan yang Demokratis ( implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Sektor swasta, BUMN dan BUMD)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diskresi dan Penggunaan Asas Diskresi Dalam Pelaksanaan Fungsi Pemerintahan

Sebelum membahas lebih jauh mengenai diskresi, terlebih dahulu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan diskresi itu sendiri. Banyak pakar hukum yang memberikan definisi asas diskresi, menurut Saut P. Panjaitan, diskresi (pouvoir discretionnaire, Perancis) ataupun Freies Ermessen (Jerman) merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadap asas legalitas dalam pengertian wet matigheid van bestuur, jadi merupakan

”kekecualian” dari asas legalitas. Menurut Prof. Benyamin7, diskresi didefinisikan

sebagai kebebasan pejabat mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Dengan demikian, menurutnya setiap pejabat publik memiliki kewenangan diskresi. Selanjutnya Gayus T. Lumbuun8 mendefinisikan diskresi sebagai berikut: “Diskresi

adalah kebijakan dari pejabat negara dari pusat sampai daerah yang intinya membolehkan pejabat publik melakukan sebuah kebijakan yang melanggar dengan undang-undang, dengan tiga syarat. Yakni, demi kepentingan umum, masih dalam batas wilayah

(6)

kewenangannya, dan tidak melanggar Azas-azas Umum Pemerintahan yang Baik

(AUPB).” Mengenai definisi tersebut diatas, selanjutnya Gayus T. Lumbuun

menjelaskan bahwa secara hukum mungkin orang yang menggunakan asas diskresi tersebut melanggar, tetapi secara azas ia tidak melanggar kepentingan umum dan itu merupkan instant decision (tanpa rencana) dan itu bukan pelanggaran tindak pidana. Sedangkan definisi diskresi menurut Sjachran Basah seperti dikutip oleh Patuan Sinaga, adalah: ”…, tujuan kehidupan bernegara yang harus dicapai…, melibatkan administrasi negara di dalam melaksanakan tugas-tugas servis publiknya yang sangat kompleks, luas lingkupnya, dan memasuki semua sektor kehidupan. Dalam hal administrasi negara memiliki keleluasaan dalam menentukan kebijakan-kebijakan walaupun demikian sikap

tindaknya itu haruslah dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun hukum”.

Berdasarkan Pengertian tersebut di atas menurut para ahli , tersimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu diskresi adalah:

 Ada karena adanya tugas-tugas public service yang diemban oleh administratur negara;

 Dalam menjalankan tugas tersebut, para administratur negara diberikan keleluasaan dalam menentukan kebijakan-kebijakan;

 Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun hukum.

(7)

administrasi negara (pemerintah) suatu kebebasan bertindak yang seringkali disebut fries ermessen (Jerman) ataupun pouvoir discretionnaire (Perancis).

Dalam Negara modern dewasa ini yang dikenal dengan istilah “ Welfare State

“atau Negara kesejahteraan, mempunyai kewajiban untuk menyelenggarakan

kesejahteraan rakyatnya. Dengan demikian pemerintah dituntut untuk bertindak menyelesaikan segala aspek/ persoalan yang menyangkut kehidupan warga negaranya, walaupun belum ada dasar aturan yang mengaturnya. Atas dasar ini maka pemerintah ddiberikan kebebasan untuk dapat melakukan/ bertindak dengan suatu inisiatif sendiri untuk menyelesaikan segala persoalan atau permasalahan guna kepentingan umum. Kebebasan untuk dapat bertindak sendiri atas inisiatif sendiri itu disebut dengan istilah Freies Ermessen”9

Apabila dibandingkan dengan Negara kita, Indonesia, freies Ermessen muncul bersamaan dengan pemberian tugas kepada pemerintah untuk merealisir tujuan Negara seperti yang tercantum dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena tugas utama pemerintah dalam konsep welfare state itu memberikan

pelayanan bagi warga Negara, maka muncul prinsip “Pemerintah tidak boleh menolak

untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan alasan tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya”10 Memaknai istilah freies Ermessen tidak dapat dipisahkan dengan konsep kekuasaan atau wewenang pemerintahan yang melekat untuk bertindak, yakni bertindak secara bebas dengan pertimbangannya sendiri dan tanggungjawab atas tindakan tersebut. Secara etimologis, istilah freies Ermerssen berasal dari bahasa Jerman, frei artinya bebas, lepas, tidak terikat, merdeka. Freies artinya orang yang bebas, tidak terikat, dan merdeka. Sedangkan Ermessen berarti mempertimbangkan, menilai, menduga, memperkirakan. Freies Ermessen berarti orang yang memiliki kebebasan untuk menilai, menduga, dan mempertimbangkan sesuatu.11 Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “discretion” atau “discretion power”, di Indonesia lebih popular dikenal dengan istilah diskresi yang diterjemahkan “kebebasan bertindak” atau keputusan yang diambil atas dasar penilaian sendiri. Istilah freies Ermessen menurut

9 Bega Ragawino, Hukum Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjajaran, Bandung, 2006, hlm 37

(8)

Laica Marzuki adalah suatu kebebasan yang diberikan kepada badan atau pejabat administrasi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, diemban dalam kaitan menjalankan bestuurzorg. Di dalam Black Law Dictionary “discretion” mengantung arti “A public official’s power or right to act in certain circumstances according to personal judgment and conscience”. Penekanan dalam arti tersebut pada kekuasaan pejabat publik untuk bertindak menurut keputusan dan hati nurani sendiri. Tindakan tersebut dilakukan atas dasar kekuasaan atau wewenang yang melekat pada pejabat publik selaku pengambil keputusan.

Pengertian lain seperti dikemukakan oleh Prajudi Admosudirjo, diskresi adalah suatu kebebasan bertindak atau mengambil keputusan menurut pendapat sendiri, dan Nata Saputra memaknai freies Ermessen, adalah suatu kebebasan yang diberikan kepada alat administrasi Negara mengutamakan keefektifan tercapainya suatu tujuan (doelmatigheid) daripada berpegang teguh kepada ketentuan hukum.12 Pemberian wewenang kepada pemerintah untuk bertindak bebas tersebut didasari pertimbangan, bahwa wewenang pemerintahan yang berdasarkan pada peraturan perundang-undangan tidak cukup untuk dapat berperan secara maksimal dalam melayani kepentingan masyarakat yang berkembang begitu pesat, dan dalam konsep Negara kesejahteraan (walfarestate), pemerintah lebih banyak menggunakan freies Ermessen dalam mewujudkan kesejahteraan umum. Berkaitan dengan latar belakang pemberian wewenang freies Ermessen kepada pemerintahan tersebut, Laica Marzuki mengatakan, bahwa freies Ermessen merupakan kebebasan yang diberikan kepada tata usaha Negara dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan sejalan dengan meningkatnya tuntutan pelayanan publik yang harus diberikan tata usaha Negara terhadap kehidupan social ekonomi para warga yang kian komplek. Di sisi lain, Bachsan Mustafa mengemukakan, bahwa freies Ermessen diberikan kepada pemerintah mengingat fungsi pemerintah atau administrasi Negara yaitu menyelenggarakan kesejahteraan umum yang berbeda dengan fungsi kehakiman untuk menyelesaikan sengketa antara penduduk.

Di lihat dari beberapa pengertian dan latar belakang pemberian wewenang freies Ermessen di atas, dapat disimpulkan secara khusus, bahwa freies Ermessen atau diskresi

(9)

(discretion), adalah suatu wewenang untuk bertindak atau tidak bertindak atas dasar penilaiannya sendiri dalam menjalankan kewajiban hukum. Oleh karena tindakan yang dilakukan atas dasar penilaian dan pertimbangannya sendiri, maka tepat dan tidaknya penilaian sangat dipengaruhi oleh moralitas pengambil tindakan.

Philipus M. Hadjon13, lebih lanjut menyimpulkan, bahwa kekuasaan bebas atau

kekuasaan diskresi meliputi dua kewenangan, yakni :

 Kewenangan untuk memutuskan secara mandiri

 Kewenangan interpretasi terhadap norma-norma tersamar (vage norm)

Secara praktis, kewenangan freies Ermessen pemerintahan yang kemudian melahirkan bentuk-bentuk kebijaksanaan memiliki dua aspek penting dan sebagai aspek pokok, yakni

 Kebebasan untuk menafsirkan yang berkaitan dengan ruang lingkup dan batas-batas wewenang yang dirumuskan dalam peraturan dasar pemberian wewenang, dimana kebebasan tersebut disebut dengan kebebasan untuk menilai berdasarkan sifat yang obyektif, jujur, benar dan adil

 Kebebasan untuk menentukan sikap tindak, artinya bertindak atau tidak berdasarkan penilaian sendiri dengan cara bagaimana dan kapan wewenang yang dimiliki tersebut dilaksanakan, penilaian ini memiliki sifat subyektif, yakni berdasarkan nuraninya sendiri dalam mengambil keputusan.

Timbulnya penilaian yang diyakini untuk bertindak bagi setiap pejabat pemerintahan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang konkrit yang mengharuskan untuk bertindak. Namun demikian penilaian yang diyakini setiap individu sangatlah berbeda-beda tergantung dari pengalaman, pengetahuan, kecerdasan dan moralitas masing-masing. Berkait dengan hal tersebut setiap pejabat pemerintahan dalam menggunakan wewenang freies Ermessen tidak boleh digunakan secara sembarangan tanpa alasan yang rasional dan logis, akan tetapi selektif dan proporsional dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Wewenang untuk bertindak berdasarkan penilaiannya sendiri tersebut dalam rangka menjalankan kewajiban hukum dan kewajiban tugas, maka di dalam melakukan tindakan hukum wajib berpegang pada norma hukum maupun moral. Norma moral berkaitan dengan tindakan tersebut berdasarkan hati

(10)

nuraninya, sedangkan norma hukum karena wewenang tersebut dijalankan atas dasar undang-undang (rechtmatigheid), sehingga dalam menilai suatu situasi konkrit diperlukan persyaratan-persyaratan bagi setiap aparat pemerintahan.

Meskipun pemberian wewenang freies Ermessen kepada pemerintah merupakan konsekuensi logis dari konsepsi Negara kesejahteraan (walfare state), namun demikian dalam Negara hukum wewenang bebas bertindak tersebut tidak dapat digunakan tanpa batas dan tidak bisa hanya pendekatan kekuasaan saja, akan tetapi harus ada pembatasan-pembatasan tertentu. Pembatasan-pembatasan-pembatasan yang dimaksud adalah sebagai berikut :14

 Tidak boleh bertentangan dengan system hukum yang berlaku (kaidah hukum positif)

 Hanya ditujukan untuk kepentingan umum.

Sementara Sjachran Basah15 secara tersirat berpendapat bahwa pelaksanaan freies Ermessen tersebut harus dapat dipertanggung jawabkan “secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan, demi kepentingan

bersama.”Di dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan, freies Ermessen dilakukan

oleh aparat pemerintah atau administrasi Negara dalam hal-hal, sebagai berikut :

 Belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penyelesaian secara konkrit terhadap suatu masalah tertentu, sedangkan masalah tersebut menuntut penyelesaian dengan segera. Misalnya dalam menghadapi suatu bencana alam ataupun wabah penyakit menular, maka aparat pemerintah harus segera mengambil tindakan yang menguntungkan bagi Negara maupun bagi rakyat, tindakan mana semata-mata atas prakarsa sendiri.

 Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar berbuat aparat pemerintah memberikan kebebasan sepenuhnya. Misalnya dalam pemberian izin berdasarkan Pasal 1 HO, setiap pemberi izin bebas untuk menafsirkan pengertian

“menimbulkan keadaan bahaya” sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing

-masing

14 Muchsan, Beberapa Catatan tentang Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi di Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1981, hlm 27-28

(11)

 Adanya delegasi perundang-undangan, maksudnya aparat pemerintah diberi kesempatan untuk mengatur sendiri, yang sebenarnya kekuasaan itu merupakan kekuasaan aparat yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah. Pemerintah daerah bebas untuk mengelolanya asalkan sumber-sumber itu merupakan sumber yang sah

 Tindakan dilakukan dalam hal-hal tertentu yang mengharuskan untuk bertindak. Freies Ermessen ini diberikan hanya kepada pemerintah dalam arti sempit atau administrasi Negara baik untuk melakukan tindakan-tindakan biasa maupun tindakan hukum, dan ketika freies Ermessen ini diwujudkan dalam instrument yuridis yang tertulis, jadilah ia sebagai peraturan kebijaksanaan. Sebagai sesuatu yang lahir dari freies Ermessen dan yang hanya diberikan kepada pemerintah, maka kewenangan pembuatan peraturan kebijaksanaan itu inheren pada pemerintahan (inherent aan het bestuur)

2.2 prinsip-prinsip pokok dalam mewujudkan good governance untuk mencapai pemerintahan yang Demokratis ( implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Sektor swasta, BUMN dan BUMD)

Undang-Undang Nomor 28 tahun 199916, maka asas-asas umum pemerintahan yang baik di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan prinsip-prinsip Dalam Mewujudkan Good Goverment diidentifikasikan dalam Pasal 3 dan Penjelasanya yang dirumuskan sebagai asas umum penyelenggaraan negara. Asas ini terdiri dari:

 Asas Kepastian Hukum;

 Adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara.

 Asas Tertib Penyelenggaraan Negara;

 Adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara.

 Asas Kepentingan Umum;

(12)

 Adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

 Asas Keterbukaan;

 Adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.

 Asas Proporsionalitas;

 Adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.

 Asas Profesionalitas;

 Adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 Asas Akuntabilitas.

Adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Suatu ukuran yang menunjukan seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki para stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut. Akuntabilitas meliputi: keuangan (financial), administartif (administrative), dan kebijakan publik (policy decision), hukum, dan politik.

(13)

dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung17. Dari asas-asa diatas dapat diketahui bahwa untuk mencapai pemerintahan yang demokratis seperti yang dicita-citakan Indonesia yaitu Demokrasi yang bersih haruslah berpedoman dengan asas-asas AUPB dan menerapkanya secara baik

Setelah menguraikan diatas tentang AUPB atau sering kita sebut prinsip-prinsip Good Governance maka di bawah akan saya berikan contoh kasus dan implementasi Good Governance yang lebih di terapkan di korporasi sebagai modal awal dan kemudia bisa di terapkan dalam instansi pemerintah.lalu kemudianDi dalam berbagai analisis dikemukakan, ada keterkaitan antara krisis ekonomi, krisis finansial dan krisis yang berkepanjangan di berbagai negara dengan lemahya corporate governance. Corporate governance adalah seperangkat tata hubungan diantara manajemen, direksi, dewan komisaris, pemegang saham dan para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya yang mengatur dan mengarahkan kegiatan perusahaan (OECD, 2004).Good Corporate Governance (GCG) diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan. Di tahun 2007 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan PT Multi Utama Indojasa melaksanakan kegiatan studi Implementasi Good Corporate Governance (GCG) di Sektor swasta, BUMN dan BUMD. Studi ini ditujukan untuk memperoleh gambaran awal (baseline) yang komprehensif tentang pelaksanaan prinsip-prinsip GCG di Sektor swasta, BUMN dan BUMD di Indonesia yang dari waktu ke waktu bisa digunakan sebagai data pembanding dengan kondisi di masa depan.

Studi ini dilakukan dengan 3 (tiga) metode, yaitu (1) penyebaran kuesioner kepada responden, (2) wawancara mendalam dengan pimpinan perusahaan yang menangani implementasi GCG, dan (3) penelusuran dokumen perusahaan. Perusahaan yang terlibat dalam studi ini adalah 66 perusahaan, yang terdiri dari 37 perusahaan swasta yang sudah go public, 17 perusahaan BUMN (12 diantaranya sudah go public), dan 12 perusahaan BUMD. Dari setiap perusahaan, diambil sekitar 27 responden, mulai dari Preskom hingga karyawan non-manajerial, serta pihak-pihak eksternal dari perusahaan seperti pelanggan,

(14)

pemasok, perusahaan asuransi, auditor eksternal, investor institusi, lembaga pembiayaan dan perusahaan afiliasi. Data dari kuesioner diolah dan dianalisis secara kuantitatif, sedangkan hasil wawancara mendalam dan penelusuran dokumen diolah dan dianalisis secara kualitatif. Analisis implementasi GCG dilakukan dengan mengukur implementasi berdasarkan prinsip-prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness, serta berdasarkan kerangka kerja GCG yaitu compliance, conformance, dan performance. Selain itu, secara khusus dilihat aspek code of conduct, pencegahan korupsi dan disclosure. Dari hasil studi diketahui bahwa secara umum implementasi GCG pada perusahaan-perusahaan yang menjadi responden sudah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari Indeks GCG yang didapat, baik berdasarkan prinsip-prinsip GCG yang mencapai angka 88,89 maupun berdasarkan kerangka kerja implementasi GCG (compliance, conformance dan performance) yang mencapai 90,41. Demikian juga untuk aspek code of conduct, pencegahan korupsi, dan disclosure. Hal ini berarti secara rata-rata, hampir 90% dari prinsip-prinsip GCG sudah dilaksanakan oleh perusahaan responden. Dari prinsip-prinsip GCG, ada satu prinsip yang relatif lemah yaitu responsibilitas. Lemahnya implementasi prinsip ini berkenaan dengan masih lemahnya implementasi dalam pembentukan komite-komite fungsional di bawah Komisaris. Sebagian perusahaan responden hanya memiliki Komite Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi serta Komite Manajemen Resiko, sedangkan komite-komite lainnya seperti Komite Asuransi, Komite Kepatuhan, Komite Eksekutif, dan Komite GCG, masih banyak yang belum memilikinya. Adapun prinsip yang sudah relatif kuat adalah prinsip transparansi dan fairness.

(15)

GCG. Namun yang masih perlu diperbaiki dalam code of conduct ini adalah sosialisasi kepada pihak eksternal seperti pelanggan, pemasok dan perusahaan asuransi. Indeks pencegahan korupsi adalah 89,39, yang berarti sudah cukup baik. Namun beberapa hal yang perlu didorong adalah pengawasan terhadap pelaksanaan dari tindakan yang berpotensi terhadap terjadinya benturan kepentingan. Selain itu, masih belum adanya kerjasama antara perusahaan dengan lembaga penegak hukum dalam mengembangkan sistem pencegahan korupsi. Indeks untuk disclosure ini adalah 92,42. Aspek ini termasuk yang menonjol dan menjadi perhatian utama dari responden, terutama bagi perusahaan yang sudah go public. Aspek ini menjadi sangat diprioritaskan oleh perusahaan karena kinerja pada aspek ini dapat dinilai dan dirasakan oleh pihak luar. Untuk analisis, perusahaan responden dibagi dalam 4 (empat) kelompok, yaitu BUMN/BUMD Lembaga Keuangan, BUMN/BUMD Non Lembaga Keuangan, Swasta Lembaga Keuangan, dan Swasta Non Lembaga Keuangan. Pembagian ini untuk memudahkan analisis serta agar perbandingan antar perusahaan dapat dilakukan lebih fair. Hasil studi menunjukkan bahwa swasta lembaga keuangan memiliki indeks yang paling tinggi dibanding kelompok yang lain, baik berdasarkan prinsip-prinsip GCG maupun berdasarkan compliance, conformance, dan performance. Selain itu, kelompok ini juga memiliki indeks yang paling tinggi untuk code of conduct dan pencegahan korupsi.

(16)

perlu didorong untuk lebih patuh dalam membentuk berbagai komite fungsional yang diperlukan dalam penerapan GCG. Lembaga-lembaga yang berfungsi mengawasi dan membina seperti Bank Indonesia, Menneg BUMN dan Bapepam LK agar lebih proaktif dalam mengawasi implementasi GCG terutama berkaitan dengan potensi terjadinya benturan kepentingan. Selain itu, perlu diterbitkan peraturan yang dapat memaksa perusahaan sawsta yang belum terbuka dan BUMD untuk menerapkan GCG. Implementasi Good Goverment dan Clean Goverment pada institusi pemerintah terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik seperti Ditjen Pajak, Bea Cukai, Imigrasi, BPN, Institusi yang mengeluarkan perizinan, dan institusi penegak hukum. Hal ini untuk mendorong badan usaha lebih konsisten dalam menerapkan GCG serta untuk menciptakan iklam usaha yang lebih sehat, kondusif dan kompetitif. Dalam rangka meningkatkan kerjasama perusahaan dengan lembaga penegak hukum dalam upaya pencegahan korupsi, diperlukan rumusan bentuk dan metode kerjasama yang dapat dilakukan dan mendorong perusahaan untuk melakukan kerjasama dengan lembaga penegak hukum. Perlu adanya sosialisasi yang intensif tentang pedoman umum GCG, penyusunan code of conduct, kaitan GCG dengan pencegahan korupsi, dan best practises dalam penerapan GCG melalui berbagai media.

BAB III

PENUTUP 3.1 Simpulan

unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh suatu diskresi adalah:

 Ada karena adanya tugas-tugas public service yang diemban oleh administratur negara;

 Dalam menjalankan tugas tersebut, para administratur negara diberikan keleluasaan dalam menentukan kebijakan-kebijakan;

 Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun hukum.

(17)

diidentifikasikan dalam Pasal 3 dan Penjelasanya yang dirumuskan sebagai asas umum penyelenggaraan negara. Asas ini terdiri dari:

 Asas Kepastian Hukum;

 Adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara.

 Asas Tertib Penyelenggaraan Negara;

 Adalah asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara.

 Asas Kepentingan Umum;

 Adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

 Asas Keterbukaan;

 Adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.

 Asas Proporsionalitas;

 Adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara.

 Asas Profesionalitas;

 Adalah asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 Asas Akuntabilitas.

(18)

tersebut. Akuntabilitas meliputi: keuangan (financial), administartif (administrative), dan kebijakan publik (policy decision), hukum, dan politik

3.2 Saran

1. Saran untuk pemerintah

Untuk pemerintah agar apa yang telah menjadi konsep tentang penyelenggaraan Good Governance yaitu telah tertuang dalam UU no 28 Tahun 1999 maka seharusnya prinsip-prinsip tersebut harus benar-benar dijalankan untuk mencapai pemerintahan yang baik dan demokratis.

2.Saran untuk Masyarakat

(19)

DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU

Bega Ragawino, Hukum Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjajaran, Bandung, 2006,

Benyamin, SF. ed, Pokok-pokok Pemikiran Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta, 2001

Gayus T. Lumbuun, Pro Kontra Rencana Pembuatan Peraturan untuk Melindungi Pejabat Publik

Miftah Thoha. Birokrasi dan Politik di Indonesia. 2003. Penerbit Raja Grafindo Persada. Jakarta hal 33

Muchsan, Beberapa Catatan tentang Hukum Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi di Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1981, hlm 27-28

Philipus M. Hadjon et al, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Cetakan Kesepuluh, 2008

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta, 2003, hlm 133

Tri Widodo W. Utomo, Etika dan Hukum Administrasi Publik, Lembaga Administrasi Negara Perwakilan Jawa Barat, 2000, hlm 34

Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi, LaksBang Pressindo, Yogyakarta, 2008, hlm 48

PERATURAN PERUNDANGAN

Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 pasal 3 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN

INTERNET

TUGAS KULIAH/SMT 4/HAN LANJUT/HAN TGS/My Inspiration Makalah PKN Good Governance .htm

TUGAS KULIAH/SMT 4/HAN LANJUT/HAN TGS/PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE DI INDONESIA.htm#.U61Xqc7QzHo

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peraturan perundang-undangan yang menjamin bagi tindakan diskresi kepolisian dalam sistem peradilan pidana, untuk mengetahui pelaksanaan

Peran masyarakat dalam implementasi kebijakan dan peraturan perundang- undangan, khususnya Peraturan Pemerintah Nomor 63 tahun 2002 tentang Hutan Kota yaitu

menyelenggarakan pemerintahan, tugas melaksanakan peraturan perundang-undangan, dalam artian wajib mengusahakan agar setiap peraturan perundang-undangan ditaati

Pemberian ukuran atau parameter yang jelas dalam peraturan perundang-undangan apa yang dimaksud dengan “Untuk kepentingan penerimaan negara” agar dapat diperkirakan

NSPK berupa ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat sebagai pedoman dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren yang

Sebagai bagian dari reformasi birokrasi, dan untuk menghindari penggunaan diskresi yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan asas- asas umum pemerintahan yang

Kegiatan unjuk rasa yang dilakukan dengan cara melanggar peraturan perundang-undangan, maka kepolisian dapat melakukan tindakan sebagai berikut: 1 melakukan upaya persuasif, agar

Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang memiliki hak untuk mengeluarkan diskresi dalam pemberian status kewarganegaraan kepada Archandra Tahar adalah Presiden sebagai