• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKENARIO PROYEKSI KONSUMSI IKAN PER KAPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SKENARIO PROYEKSI KONSUMSI IKAN PER KAPI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SKENARIO PROYEKSI KONSUMSI IKAN PER KAPITA DI INDONESIA

Oleh

Fitria Virgantari Universitas Pakuan Email: [email protected]

ABSTRAK

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis proyeksi konsumsi ikan di Indonesia beberapa tahun yang akan datang berdasarkan nilai elastisitas yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Konsumsi awal yang digunakan adalah konsumsi tahun 2008 sebesar 28 kg/kapita/tahun. Pertumbuhan harga dan pertumbuhan pendapatan yang digunakan pada model proyeksi didasarkan pada angka indeks BPS dengan melihat beberapa kombinasi nilai. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa nilai proyeksi permintaan berdasarkan kondisi riil dengan laju pertumbuhan pendapatan 5 persen dan laju pertumbuhan harga 3 persen merupakan skenario terbaik karena menghasilkan persentase kesalahan relatif (MAPE), akar kuadrat tengah galat (RMSE) dan persentase akar kuadrat tengah galat (RMSPE) yang paling kecil. Pada skenario ini terlihat tingkat konsumsi ikan per kapita penduduk Indonesia akan mengalami kenaikan dengan laju rata-rata sekitar 4.3 persen per tahun dengan tingkat konsumsi per kapita pada tahun 2014 sebesar 36 kilogram. Jika hasil proyeksi ini dikaitkan dikaitkan dengan program pemerintah yang mentargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 tampaknya hal tersebut belum dapat dicapai. Masih diperlukan upaya lebih dari pemerintah untuk meningkatkan konsumsi ikan tersebut. Dengan asumsi elastisitas harga dan elastisitas pendapatan tetap, maka target tingkat konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 dapat dicapai dengan upaya menekan laju pertumbuhan harga. Mengingat bahwa sebagian besar golongan penduduk berpendapatan rendah memiliki respon yang kuat terhadap perubahan pendapatan maupun harga komoditas ikan, maka prioritas strategi dan kebijakan peningkatan konsumsi ikan perlu lebih difokuskan pada kelompok tersebut namun dibarengi dengan strategi dan kebijakan sosialisasi dan peningkatan pengetahuan tentang pentingnya mengkonsumsi ikan melalui penyuluhan, pendidikan, dan iklan layanan masyarakat. Selain itu, distribusi konsumsi dan produksi ikan yang tidak merata mengindikasikan bahwa intervensi kebijakan yang berhubungan dengan pemasaran juga diperlukan.

Kata kunci : konsumsi ikan per kapita, proyeksi konsumsi, strategi dan kebijakan

Pendahuluan

Ikan merupakan salah satu produk pangan hewani yang mempunyai kontribusi cukup besar

dalam konsumsi protein penduduk di Indonesia. Dari tahun ke tahun tingkat konsumsi ikan terus

meningkat. Berdasarkan data Susenas, tahun 1997 tingkat konsumsi ikan adalah 18 kg per kapita per

tahun. Tahun 2000 meningkat menjadi 22 kg per kapita per tahun, dan tahun 2006 tingkat konsumsi

tersebut baru mencapai 24 kg per kapita per tahun, belum mencapai target pemerintah sebesar 26 kg.

Pada tahun 2010 tingkat konsumsi ikan penduduk Indonesia sudah mulai memenuhi standar FAO,

yaitu 30.48 kg/kapita per tahun, namun tingkat konsumsi ikan tersebut masih tergolong rendah

diantara beberapa negara di dunia. Sebagai perbandingan, konsumsi ikan per kapita di Jepang pada

tahun 2006 menurut catatan FAO adalah 110 kg, Korea Selatan 85 kg, Amerika Serikat 80 kg,

(2)

Rendahnya konsumsi ikan masyarakat Indonesia dapat dikaitkan dengan berbagai faktor yaitu

:1) pengetahuan mengenai gizi dan teknik pengolahan ikan yang masih terbatas, 2) kendala

mendapatkan ikan yang bervariasi, 3) harga ikan (misalnya udang, cumi, kakap merah) yang dinilai

cukup mahal dibandingkan daya beli masyarakat pada umumnya, 4) tingkat preferensi/kesukaan ikan

belum berkembang, 5) citra/image/gengsi ikan sebagai makanan acara khusus belum berkembang, 6)

masih terdapatnya nilai budaya, tabu, mitos, dan pantangan sekelompok masyarakat mengenai

dampak negatif konsumsi ikan, dan 7) promosi konsumsi ikan yang belum optimal (Sulistyo et al.,

2004). Selain itu, konsumsi ikan banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar gizi dan kesehatan.

Faktor-faktor produksi, pemasaran, teknologi dan perhubungan sangat mempengaruhi konsumsi ikan

secara makro (tingkat nasional dan regional), sedangkan faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya

mempengaruhi secara mikro (tingkat keluarga dan individu).

Di sisi lain, pertumbuhan total produksi perikanan periode 2002-2009 terus mengalami

peningkatan, dari 5.5 juta ton pada tahun 2005 menjadi 9.5 juta ton pada tahun 2009. Pada periode

2002-2005 pertumbuhannya sekitar 6% per tahun, namun periode 2005-2009 pertumbuhannya

mencapai sekitar 10% per tahun. Produksi ikan hasil penangkapan di laut sektor ini merupakan

penyumbang terbesar produksi perikanan Indonesia dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir,

yaitu mencapai 75.89% dari total produksi, jauh di atas kontribusi perairan umum (7.36%) dan

budidaya (16.75%) per tahun. Kecenderungan tersebut menggambarkan bahwa pasokan ikan yang

dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri (selain untuk kebutuhan

ekspor) sesungguhnya tersedia dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa potensi

sumberdaya perikanan dapat diharapkan untuk membangun kemandirian pangan di sektor perikanan,

yakni kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional. Untuk melihat sejauh mana

prospek produk perikanan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi penduduknya, perlu dilakukan

analisis proyeksi konsumsi penduduk Indonesia terhadap produk perikanan.

Dalam jangka panjang, perubahan tingkat konsumsi dipengaruhi oleh banyak faktor, antara

lain perubahan harga, pendapatan, perubahan selera, dan lain-lain. Dalam jangka pendek dapat

dianggap bahwa faktor-faktor sosial ekonomi selain harga dan pendapatan tidak berubah (Kuntjoro,

1984). Beberapa peneliti pernah melakukan proyeksi permintaan ikan, dan semua menyadari banyak

asumsi yang harus dipenuhi. Delgado dan McKenna (1997) melakukan peramalan pertumbuhan

permintaan ikan di Afrika, namun karena faktor-faktor yang berpengaruh terhadap permintaan seperti

elastisitas pendapatan dan harga tidak tersedia, maka proyeksi dilakukan dengan cara regresi

berdasarkan data konsumsi ikan dari FAO sejak tahun 1960. Ye (1999) mengungkapkan bahwa

dalam perhitungan permintaan ikan di masa yang akan datang variabel pendapatan dan harga

merupakan determinan penting.

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis menganalisis proyeksi konsumsi ikan di Indonesia

(3)

sebelumnya. Diharapkan dari hasil analisis ini dapat digunakan sebagai basis informasi bagi pihak

terkait untuk menentukan kebijakan yang diambil.

Metodologi

Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Susenas tahun 2008 yang telah diolah

dan menghasilkan parameter elastisitas harga dan elastisitas pendapatan berdasarkan penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Virgantari dkk (2011). Selain itu, juga digunakan data indikator

sosial/ekonomi yang telah dipublikasi.

Metode Analisis

Dalam tulisan ini, model proyeksi permintaan produk perikanan yang digunakan adalah

sebagai berikut:

Qt+n = Qt {1 + (y x Ey) + (p x Ep) } n

...(1)

dimana : Qt+n = Konsumsi per kapita pada n tahun yang akan datang Qt = Konsumsi per kapita pada tahun sekarang

y = persentase pertumbuhan pendapatan

Ey = elastisitas pendapatan p = persentase perubahan harga

Ep = elastisitas harga

Konsumsi awal yang digunakan adalah konsumsi tahun 2008 sebesar 28 kg/kap/tahun. Pertumbuhan

harga (p) dan pertumbuhan pendapatan (y) yang digunakan pada proyeksi didasarkan pada angka

indeks BPS dengan melihat beberapa alternatif kombinasi p sebesar 2 dan 3 persen serta y sebesar 5

dan 6 persen, yaitu:

1. p=2 persen dan y=5 persen

2. p=2 persen dan y=6 persen

3. p=3 persen dan y=5 persen

4. p=3 persen dan y=6 persen

Kriteria kelayakan peramalan dilakukan dengan melihat:

(4)

MAPE= x100%

Y : nilai aktual (nilai pengamatan)

Hasil dan Pembahasan

Proyeksi Konsumsi/Permintaan

Analisis permintaan sering didasarkan pada data konsumsi dan fungsi permintaan diturunkan

dari konsumsi yang teramati. Pendekatan ini penting karena data permintaan tidak tersedia meskipun

sebenarnya konsumsi dan permintaan tersebut berbeda karena konsumsi merupakan fungsi dari

permintaan dan penawaran. Beberapa literatur menyatakan bahwa model dan analisis permintaan dan

penawaran produk ikan masih sangat terbatas. Pada umumnya analisis sistem permintaan lengkap

didasarkan pada asumsi bahwa penawaran bersifat elastis sempurna.

Hasil penelitian Virgantari dkk (2011) menunjukkan bahwa nilai elastisitas

pengeluaran ikan terhadap total pengeluaran pangan untuk semua kelompok pendapatan lebih

besar dari dari satu (elastis) dengan kisaran 1.7 sampai 3.9; nilainya semakin kecil dengan

semakin meningkatnya pendapatan. Elastisitas pengeluaran semua kelompok ikan terhadap

total pengeluaran ikan bernilai positif, menunjukkan bahwa keempat kelompok ikan tersebut

merupakan barang normal. Elastisitas pengeluaran kelompok ikan segar bernilai 0.4 sampai

0.5 menunjukkan bahwa ikan segar merupakan barang kebutuhan bagi rumahtangga di

Indonesia. Pada

uncompensated own-price elasticity

, kelompok ikan segar mempunyai

elastisitas yang lebih kecil dari satu dengan nilai berkisar dari -0.3 sampai -0.9; menunjukkan

(5)

diawetkan nilai elastisitasnya adalah -1 yang artinya bahwa perubahan harga dalam

persentase tertentu akan diikuti oleh perubahan jumlah yang diminta dalam persentase yang

sama dengan arah yang berlawanan. Pada

compensated own-price elasticity

, kelompok ikan

awetan mempunyai nilai elastisitas yang kurang dari satu, yang menunjukkan bahwa ikan

awetan tidak responsif terhadap perubahan harga. Berdasarkan nilai elastisitas harga dan

pendapatan tersebut, dilakukan proyeksi permintaan ikan per kapita di Indonesia berdasarkan

persamaan (1) dengan berbagai skenario. Angka proyeksi konsumsi ikan tahun 2009 sampai

tahun 2014 berdasarkan skenario seperti tersebut di atas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Proyeksi Rata-rata Konsumsi Ikan Tahun 2009-2014 pada Berbagai Laju Pertumbuhan Pendapatan (y) dan Laju Pertumbuhan Harga (p)

Tahun

Dengan membandingkan nilai hasil proyeksi dengan nilai aktual, terlihat bahwa skenario ke-3

dengan laju pertumbuhan pendapatan y=5 persen dan laju pertumbuhan harga p=3 persen (yang riil

terjadi pada saat ini) merupakan skenario terbaik karena menghasilkan persentase kesalahan relatif

(MAPE), akar kuadrat tengah galat (RMSE) maupun persentase akar kuadrat tengah galat (RMSPE)

yang paling kecil, yaitu berturut-turut sebesar 2.5 persen, 0.50, dan 1.82 persen. Pada skenario ini

terlihat tingkat konsumsi ikan per kapita penduduk Indonesia akan mengalami kenaikan dengan laju

rata-rata sekitar 4.3 persen per tahun. Jika hasil proyeksi ini dikaitkan dikaitkan dengan program

pemerintah yang mentargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014

tampaknya hal tersebut belum dapat dicapai atau masih di bawah target, karena nilai proyeksi

(6)

sebesar 1.7 kg/kapita. Bila diasumsikan jumlah penduduk Indonesia adalah 240 juta jiwa, maka KKP

perlu menyediakan kekurangan produksi minimal sebesar 4 juta ton ikan pada tahun 2014 nanti. Bila

laju pertumbuhan harga tetap 3 persen namun dengan laju pertumbuhan pendapatan naik menjadi 6

persen (skenario 4), terlihat bahwa MAPE meningkat menjadi 1.87 persen, RMSPE menjadi 4.65

persen, dan RMSE menjadi 0.62. Pada skenario ini diperkirakan tingkat konsumsi ikan akan naik

dengan laju sekitar 5.7 persen per tahun, dan pada tahun 2014 tingkat konsumsinya adalah sebesar

39.6 kg/kapita, artinya bahwa target pemerintah dapat terlampui.

Bila laju pertumbuhan harga (p) turun menjadi 2 persen sedangkan laju pertumbuhan

pendapatan tetap 5 persen (skenario 1), terlihat hasil proyeksi yang diperoleh lebih baik daripada

skenario 6, seperti terlihat dari nilai MAPE menjadi 1.63 persen, RMSE 0.5, dan RMSPE menjadi

3.69 persen. Pada skenario ini terlihat bahwa tingkat konsumsi ikan akan terpacu naik dengan laju

sekitar 5.2 persen per tahun, dan pada tahun 2014 tingkat konsumsinya sebesar sekitar 38.39 kg/kapita

atau target tingkat konsumsi sebesar 38 kg/kap dapat dicapai. Sedangkan bila laju pertumbuhan harga

tetap 2 persen namun dengan laju pertumbuhan pendapatan naik menjadi 6 persen (skenario 2), hasil

yang didapat terlihat overestimated dibandingkan nilai aktual dengan MAPE yang lebih besar yaitu

2.36 persen, RMSPE menjadi 6.54 persen, dan RMSE menjadi 0.98. Pada skenario ini diperkirakan

tingkat konsumsi ikan akan naik dengan laju sekitar 6.58 persen per tahun, dan pada tahun 2014

tingkat konsumsinya adalah sebesar 41.82 kg/kapita.

Berdasarkan hasil proyeksi pada enam skenario di atas dapat disimpulkan bahwa upaya

menekan laju pertumbuhan harga akan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada upaya memacu

peningkatan pertumbuhan pendapatan. Dari bab sebelumnya diketahui bahwa konsumsi ikan

penduduk Indonesia didominasi oleh konsumsi ikan segar, namun hasil perhitungan elastisitas

menunjukkan bahwa ikan segar tidak elastis terhadap perubahan harga maupun pendapatan,

sedangkan produksi ikan segar sangat melimpah. Berdasarkan teori ekonomi hal tersebut tentunya

akan menyebabkan harga ikan segar turun namun kenaikan permintaan lebih lambat, sehingga target

peningkatan konsumsi tahun 2014 tidak tercapai. Dengan asumsi elastisitas harga dan pendapatan

tetap, maka target tingkat konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 harus diikuti dengan

upaya menekan laju pertumbuhan harga menjadi sekitar 2 persen.

Potensi Produksi

Dari seluruh potensi sumberdaya ikan tersebut, jumlah tangkapan yang diperbolehkan sekitar

80 persen dari potensi lestari. Dari sisi diversitas, dari sekitar 28 000 jenis ikan yang ada di dunia,

yang sudah ditemukan di Indonesia lebih dari 25 000 jenis. Selain untuk memenuhi permintaan

ekspor dan kebutuhan bahan baku industri, produk perikanan juga ditujukan untuk menyediakan

kebutuhan pangan berupa protein hewani di mana lebih dari 50 persen kebutuhan protein hewani

penduduk Indonesia bersumber dari produk perikanan. Pasar domestik memiliki potensi yang besar

(7)

penduduk Indonesia yang pada tahun 2008 lalu sudah lebih dari 230 juta jiwa. Bila tingkat konsumsi

pada tahun 2008 tersebut 28 kilogram per kapita, maka jumlah produk perikanan yang diserap di

pasar nasional mencapai sekitar 6.4 juta ton.

Berdasarkan data Statistik Perikanan tahun 2008, kebutuhan konsumsi ikan nasional sebesar

6.4 juta ton telah dapat dipenuhi dari total produksi yang mencapai 8.5 juta ton. Potensi produksi ikan

segar, ikan awetan, udang segar dan perikanan budidaya sangat bervariasi diantara wilayah-wilayah di

Indonesia. Produksi hasil penangkapan terbesar secara keseluruhan adalah wilayah Sumatera Utara,

Jawa Timur dan Maluku dengan volume mencapai 300 sampai 400 ribu ton dalam setahun, sedangkan

produksi hasil budidaya terbesar adalah Sulawesi Selatan (lebih dari 700 ribu ton) dan Nusa Tenggara

Timur (lebih dari 500 ribu ton). Sedangkan produksi terendah adalah DIY untuk perikanan tangkap

(kurang dari 3 000 ton) serta Bangka Belitung dan Papua untuk perikanan budidaya dengan volume

kurang dari 1000 ton.

Produksi ikan segar (dari laut) yang paling besar adalah wilayah Sulawesi Selatan, Kepulauan

Riau, Sumatera Utara dan Maluku dengan produksi lebih dari 200 ribu ton. Produksi terendah adalah

DIY dengan volume hanya sekitar 2 500 ton. Produksi udang segar paling besar adalah wilayah

Sumatera Utara (lebih dari 40 ribu ton), Jawa Barat dan Kalimantan Selatan (lebih dari 20 ribu ton),

sedangkan produksi terendah adalah wilayah Gorontalo, DIY, dan Maluku Utara dengan produksi

kurang dari 100 ton. Produksi ikan awetan terbesar adalah wilayah Jawa Timur dengan produksi

lebih dari 200 ribu ton, selanjutnya adalah wilayah Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah Jawa

Barat, Maluku dan Papua dengan produksi lebih dari 100 ribu ton. Sedangkan produksi perikanan

dari hasil budidaya yang sangat besar terdapat di wilayah Sulawesi Selatan (lebih dari 700 ribu ton),

Nusa Tenggara Timur (lebih dari 500 ribu ton) serta Jawa Barat (sekitar 400 ribu ton). Di wilayah

lain produksinya berkisar puluhan sampai ratusan ribu ton, kecuali di Papua dan Bangka Belitung

yang produksinya kurang dari 1000 ton.

Bila angka produksi tersebut dikonversikan menjadi kilogram per kapita, dapat dikatakan

bahwa secara umum total produksi sektor perikanan sebesar 69.53 kilogram/kapita sangat

berkelebihan dan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi penduduknya yang hanya sebesar 28

kilogram/kapita. Dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi rumahtangga, maka kebutuhan konsumsi

ikan segar sebesar 22.8 kilogram/kapita telah dapat dipenuhi dari produksi ikan segar yaitu 50.96

kilogram/kapita. Demikian pula dengan kebutuhan konsumsi ikan awetan sebesar 2.5 kilogram/kapita

telah dapat dipenuhi dari produksi ikan awetan sebesar 14.54 kilogram/kapita serta kebutuhan

konsumsi udang segar sebesar 2.6 kilogram/kapita dapat dipenuhi dari produksi sebesar 4.03

kilogram/kapita. Hal ini menunjukkan bahwa secara nasional, potensi produksi produk perikanan

tersedia dalam jumlah yang sangat berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri,

(8)

Data menunjukkan bahwa produksi jenis ikan tersebut tidak merata diantara wilayah di

Indonesia. Produksi total ikan segar yang sangat besar tersedia di Maluku (148 kg/kapita), Kepulauan

Riau (137 kg/kapita). Beberapa wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi

Tengah, Sulawesi Tenggara serta Bangka Belitung juga mampu memenuhi kebutuhan konsumsi ikan

sampai di atas 100 kg/kapita. Di sisi lain, beberapa wilayah terlihat sangat rendah potensi

produksinya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduknya, seperti di seluruh wilayah Pulau

Jawa dan Lampung (kurang dari 10 kg/kapita). Bila dilihat selisih antara produksi dan konsumsinya

memang terlihat bahwa di seluruh wilayah Pulau Jawa bernilai negatif, artinya bahwa produksi ikan

segar yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan konsumsi penduduknya. Hal serupa terjadi di Jambi,

Lampung, Kalimantan Barat dan Papua (Gambar 1).

Produksi ikan awetan yang sangat besar terlihat di seluruh wilayah Maluku dan Papua (lebih

dari 50 kg/kapita), Sulawesi Utara (40 kg/kapita), serta Sulawesi Tenggara (lebih dari 20 kg/kapita).

Produksi ikan awetan yang rendah terlihat di sebagian besar wilayah di Indonesia, bahkan di DIY dan

Kep. Riau tidak tersedia. Bila dilihat selisih produksi dan konsumsinya, wilayah (Kep. Riau, DIY,

Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Aceh) terlihat kekurangan produksi ikan awetan dibandingkan

dengan kebutuhan konsumsinya, meskipun tidak terlalu besar.

Produksi udang segar yang cukup besar terdapat di Lampung (lebih dari 20 kg/kapita),

kemudian Bangka Belitung, Kalimantan Timur dan Papua Barat (lebih dari 10 kg/kapita). Produksi

yang sangat rendah (kurang dari 1 kg/kapita) terdapat di wilayah DIY, Jawa Tengah, Bali, Nusa

Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara). Sedangkan bila dilihat dari

kesenjangan antara produksi dan konsumsinya, wilayah Aceh, Pulau Jawa (kecuali DKI dan Jawa

Barat), NTT, Gorontalo, dan Maluku Utara bernilai negatif, yang berarti bahwa produksi udang segar

yang tersedia belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsinya.

Gambar 1. Kesenjangan prodiksi dan konsumsi total produk ikan tahun 2008

0.00 50.00 100.00 150.00 200.00 250.00

Produksi/kap

(9)

Besarnya peranan ikan dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani di Indonesia

dengan distribusi yang tidak merata mengindikasikan bahwa intervensi kebijakan di bidang

perikanan tetap diperlukan. Peran Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dibentuk pada

tahun 1999 menjadi semakin penting sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan.

Dalam Rencana Strategis Kementrian Kelautan Perikanan disebutkan bahwa tujuan, sasaran dan

program yang ingin dicapai salah satu direktoratnya adalah meningkatkan konsumsi ikan yang

bermutu dan aman. Secara spesifik disebutkan bahwa salah satu sasarannya adalah meningkatkan

konsumsi ikan dalam negeri dari 28 kg/kapita pada tahun 2008 menjadi 30.47 kg/kapita pada tahun

2010 dan 38 kg/kapita pada tahun 2014. Bila dibandingkan dengan angka konsumsi aktual tahun

2008, 2009 dan 2010, maka target sampai tahun 2010 tersebut telah dicapai dengan baik.

Berdasarkan hasil proyeksi pada beberapa skenario di atas dapat disimpulkan bahwa upaya

menekan laju pertumbuhan harga akan mendapatkan hasil yang lebih baik daripada upaya memacu

peningkatan pertumbuhan pendapatan. Data menunjukkan bahwa konsumsi ikan penduduk Indonesia

didominasi oleh konsumsi ikan segar, namun hasil perhitungan elastisitas menunjukkan bahwa ikan

segar tidak elastis terhadap perubahan harga maupun pendapatan, sedangkan produksi ikan segar

sangat melimpah. Berdasarkan teori ekonomi hal tersebut tentunya akan menyebabkan harga ikan

segar turun namun kenaikan permintaan lebih lambat, sehingga target peningkatan konsumsi tahun

2014 tidak tercapai. Dengan asumsi elastisitas harga dan pendapatan tetap, maka target tingkat

konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 harus diikuti dengan upaya menekan laju

pertumbuhan harga menjadi sekitar 2 persen.

Banyak kendala untuk mewujudkan hal tersebut, hal ini dikarenakan jumlah penduduk

Indonesia yang cukup besar dan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi sedangkan

kapasitas dan kualitas sumberdaya perikanan bisa menurun akibat kerusakan lingkungan dan over fishing. Kondisi tersebut dapat berakibat pada ketersediaan produk perikanan yang tidak mencukupi untuk kebutuhan domestik walaupun pasokan untuk dalam negeri dapat terpenuhi namun dalam

jangka panjang upaya tersebut kemungkinan besar sangat sulit tercapai.

Bila melihat kembali potensi produksi perikanan yang tersedia dengan sangat melimpah,

maka berdasarkan skenario ke-3 target pemerintah bisa saja tercapai. Selain kampanye Gemarikan

perlu terus dilakukan, kegiatan lain untuk memacu wilayah-wilayah dengan tingkat konsumsi ikan

yang sangat rendah dalam rangka mendukung pencapaian peningkatan konsumsi ikan antara lain yang

dilakukan adalah 1) Memfasilitasi kegiatan promosi produk perikanan di seluruh wilayah Indonesia,

2) Pengembangan jaringan dan distribusi pemasaran hasil perikanan dalam bingkai sistem logistik

nasional, 3) Inisiasi dan fasilitasi kerjasama pemasaran hasil perikanan dengan cara mempertemukan

produsen dengan konsumen besar, 4) Memfasilitasi pemasaran hasil perikanan berbasis web, 5)

Optimasi dan pengembangan sarana dan prasarana pemasaran hasil perikanan hingga ke sentra-sentra

(10)

Penguatan dan pengembangan kelembagaan pemasaran hasil perikanan di pasar dalam negeri dalam

bentuk fasilitasi pertemuan dan pembinaan serta pembimbingan melalui kunjungan kerja maupun

kunjungan lapangan, serta 7) Memperkuat data, analisa dan sistem informasi pemasaran hasil

perikanan di pasar dalam negeri melalui analisa komoditas perikanan utama, penyusunan Harga

Patokan Ikan (HPI) untuk penentuan besaran Pungutan Hasil Perikanan (PHP), pengembangan data

dan informasi melalui penerbitan Warta Pasar Ikan cetak dan elektronik, diseminasi harga ikan di

radio dan pertemuan petugas informasi pasar.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan

Nilai proyeksi permintaan dengan mengambil laju pertumbuhan pendapatan 5 persen dan laju

pertumbuhan harga 3 persen merupakan skenario terbaik karena menghasilkan persentase kesalahan

relatif paling kecil, yaitu sekitar 2.5 persen. Pada skenario ini terlihat tingkat konsumsi ikan per kapita

penduduk Indonesia akan mengalami kenaikan dengan laju rata-rata sekitar 4.3 persen per tahun. Jika

hasil proyeksi ini dikaitkan dikaitkan dengan program pemerintah yang mentargetkan tingkat

konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 tampaknya hal tersebut belum dapat dicapai,

karena nilai proyeksi berdasarkan skenario ini adalah 36.3 kg/kapita. Dengan asumsi elastisitas harga

dan pendapatan tetap, maka target tingkat konsumsi ikan sebesar 38 kg/kapita pada tahun 2014 harus

diikuti dengan upaya memacu laju pertumbuhan harga dan pendapatan, yaitu sebesar 5 persen dan 7

persen per tahun. Untuk mencapai target peningkatan konsumsi ikan pada tahun 2014 sebesar 38

kg/kapita, maka laju pertumbuhan harga dan pendapatan perlu ditingkatkan, yaitu sebesar 5 persen

dan 7 persen per tahun. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan kebijakan harga (meningkatkan

harga ikan) untuk golongan menengah ke atas dan kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan

bagi golongan menengah ke bawah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Pusat Data dan Informasi dan

Direktorat Jenderal P2HP Kementrian Kelautan dan Perikanan serta kepada Bapak Dr. Sonny

Koeshendrajana, MSc. yang telah membantu membuka akses pada data dan informasi yang

diperlukan dalam penulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

(11)

[BPS]. 2008. Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Buku I, II, dan III. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Anonim. 2003. Strategi Kebijakan Pemenuhan Protein Ikan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Pusat Riset Perikanan Tangkap. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta. Soekirman, et al. 2004. Ketahanan Pangan dan Gizi di Era Otonomi Daerah dan Globalisasi.

Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. LIPI. Jakarta.

Gambar

Tabel  1.   Proyeksi Rata-rata Konsumsi Ikan Tahun 2009-2014 pada Berbagai Laju Pertumbuhan Pendapatan (y) dan Laju Pertumbuhan Harga (p)
Gambar 1.  Kesenjangan prodiksi dan konsumsi total produk ikan tahun 2008

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai eigen positif

Berdasarkan analisis statistik (Anova), pemberian jenis pakan berbeda memberikan pengaruh tidak nyata terhadap laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS) dan laju

Berdasarkan experiman dan analisis yang telah dilakukan tentang prediksi laju pertumbuhan penduduk di kota Salatiga tahun 2014 – 2015, dapat disimpulkan bahwa metode

Tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan dan rasio konversi pakan yang terbaik diperoleh pada pakan komersial sedangkan pakan yang berbahan baku lokal

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan bahwa faktor ekonomi yaitu harga sendiri dan pendapatan, dalam

Berdasarkan perhitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung Barat tahun 2012 adalah sekitar 6,04 persen.. Sedangkan di sisi

Hasil Dan Pembahasan Pengaruh Harga JualX1 terhadap Pendapatan UsahaY Berdasarkan hasil penelitian yang menguji penengaruh Harga Jual X1 terhadap Pendapatan Usaha Y menunjukan nilai

Analisis pada penelitian ini akan menghitung emisi GRK kondisi riil dan menentukan skenario penggunaan bahan bakar yang memiliki emisi terkecil dan penurunan harga terbesar.. Skenario 1