TUGAS TERSTRUKTUR 4
STUDI KASUS Produk TARA NASIKU dari Unilever
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan produk yang diampu oleh Ibu Indria Purwatiningrum, STP, MP
Anggota Kelompok :
Febrianny Noeryatillah T : 135100107111004
Tiara Rahmania Yunisa : 135100107111006
Melaidah Afi Samara : 135100500111008
Prilia Retno Pramesti : 135100500111012
Ni’ma Ilyana : 135100501111028
Kelas : G
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
I. Pendahuluan (Bagaimana Produk Bisa Ada Di Pasaran)
Mayoritas penduduk Indonesia makanan pokoknya adalah nasi, bahkan lebih dari 150 juta penduduk jika belum makan nasi rasanya seperti belum makan meskipun mereka sudah makan roti. Dan rata-rata penduduk Indonesia sehari makan sebanyak tiga kali sehingga kebutuhan akan nasi menjadi sangat tinggi. Melihat potensi pasar yang sangat besar tersebut mendorong Unilever untuk membuat nasi instant yang diharapkan bisa memenui kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritas makanan pokoknya adalah nasi, sehingga lahirlah produk yang dinamakan TARA NASIKU. TARA NASIKU adalah produk inovasi nasi instan yang diproduksi oleh Unilever. Ini merupakan inovasi yang bagus karena nasi yang proses memasaknya begitu lama, bisa dibuat singkat dan cepat saji dalam hitungan menit. Produk nasi instan ini diluncurkan dengan harapan mampu menjadi makanan instan pengganti makanan pokok.
Awal peluncuran produk TARA NASIKU menggunakan media untuk promosi yang besar-besaran dengan bintang iklan yang dipakai yaitu Rudi Choirudin (pakar memasak tingkat nasional), dan didukung dengan marketing communication yang luar biasa besar. Pada awalnya, masyarakat cukup dibuat penasaran untuk mencoba produk baru dari Unilever ini tetapi rata-rata dari masyarakat hanya membeli sekali saja yaitu di awal (first trial), selanjutnya tidak membeli lagi.
II. Faktor-Faktor Penyebab Tidak Suksesnya Produk Tara Nasiku Di Pasaran : Tara Nasiku dari Unilever merupakan salah satu produk gagal yang menghadirkan inovasi baru di pasar Indonesia. Mulanya produk ini dibuat untuk menggebrak pasar makanan instan. Pada awal peluncuran Tara Nasiku menggunakan media promosi besar-besaran dan juga menggunakan bintang iklan terkenal (Rudi Khoirudin seorang pakas masak tingkat nasional), hal ini berhasil manarik minat konsumen untuk membeli namun selanjutnya tidak berulang lagi karena konsumen merasa produk ini kurang enak dan cara memasaknya tidak instan (harus menggunakan teflon), sehingga setelah dilakukan evaluasi Tara Nasiku ada beberapa faktor penyebab tidak suksesya produk ini pasaran antara lain :
Kurangnya edukasi pasar yang berkelanjutan. Edukasi bukan berati promosi semata namun dibutuhkan aktu yang sangat panjang untuk mengubah pola pikir dan budaya masyarakat. Pada umumnya nasi merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia sehingga untuk mengubah budaya nasi menjadi nasi instan tsb diperlukan proses yang lama dan berkelanjutan.
Unconfirmity yaitu ketidaksesuaian benefit yang ditawarkan dengan ekspektasi pasar atau permintaan laten. “Menciptakan” permintaan bukanlah hal yang mudah. Jika tidak ada latent demand yang kemudian digiring menjadi permintaan efektif, maka
bisa menimbulkan kegagalan merek.
Selain itu Perlu effort yang luar biasa untuk merubah habit dan persepsi konsumen bahwa nasi itu ya NASI = beras yang dimasak dengan kadar air dan suhu tertentu. Lebih dari itu, Nasi juga merupakan sesuatu yangsangat kental dengan kultur Indonesia sehingga dapat memberikan sugesti yangl uar biasa yang susah di gantikan dengan product substitution.
Kegagalan tersebut juga bisa disebabkan oleh jebakan dalam brand positioning, antara lain :
1. Perusahaan membangun brand awareness sebelum menetapkan positioning merek yang jelas. Perusahaan lebih gencar melakukan pemasaran dan promosi tanpa tau bagaimana produk mereka sebenarnya. Mereka terjebak dalam konsep penjualan yang mengaanggap konsumen mau membeli dalam jumlah besar jika dilakukan promosi yang gencar terutama melalui iklan.
2. Perusahaan terlalu sering mempromosikan atribut produk yang sebenarnya tidak penting dimata konsumen. Konsumen merasa hal-hal yang dijanjikan perusahaan bukan faktor yang mereka pertimbangkan dalam membeli.
3. Kesalahan dalam penempatan segmentasi pasar.
Kegagalan menganalisa pasar, Apa yang membuat merek berhasil atau tidak dalam hal komunikasi, adalah bagaimana mereka membangun komunikasi yang intim dengan konsumen. Iklan masih akan menjadi engine dalam marketing-mix, namun kekuatan baru ada dalam kegiatan bellow the line, aktivitas online, dan penciptaan media baru lewat konsumen. Di masa sekarang, kekuatan media ada di tangan konsumen dan konsumenlah yang menjadi media tersebut. Tidak bersentuhan dengan konsumen langsung dalam strategi komunikasi bisa mematikan merek dalam jangka panjang.
Kegagalan Teknologi
Bisa diterima atau tidaknya sebuah teknologi dapat dilihat dari aspek psikografis. Dalam hal ini, terbagi lagi menjadi dua kelompok, yakni aspek materialisme dan adaptasi sosial. Aspek materialisme lebih mengarah pada gaya hidup dan prestise. Sedangkan, aspek adaptasi sosial didasarkan pada fungsi dari penerapan teknologi itu digunakan, misalnya mempercepat pekerjaan atau mempermudah dalam sosialisasi dengan lingkungan. Hidup di zaman yang serba teknologi, bukannya justru membuat ruwet pikiran konsumen. Era teknologi justru harus membuat konsumen lebih mudah beradaptasi tidak saja dengan lingkungan, tapi juga dengan teknologi itu sendiri. Kesalahan elemen merek, antara lain mencakup nama, logo, simbol, slogan, kemasan,
dsb. Kesalahan memberikan nama, logo, slogan, simbol, kemasan atau bahkan warna perusahaan (corporate color) pun bisa mematikan sebuah merek. Atau membuatnya sulit berkembang jika elemen-elemen tsb tidak bersinergi.
Kegagalan Teknologi
Sedangkan, aspek adaptasi sosial didasarkan pada fungsi dari penerapan teknologi itu digunakan, misalnya mempercepat pekerjaan atau mempermudah dalam sosialisasi dengan lingkungan. Hidup di zaman yang serba teknologi, bukannya justru membuat ruwet pikiran konsumen. Era teknologi justru harus membuat konsumen lebih mudah beradaptasi tidak saja dengan lingkungan, tapi juga dengan teknologi itu sendiri. Pentingnya kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen akan berdampak terhadap
kesuksesan suatu produk karena melalui konsumen akan tercipta hubungan transaction (kepuasan atas pelayanan/produk yang diberikan), customer relationshi (berhubungan dengan kemampuan mengenal pelanggan dengan lebih baik, memahami kebutuhan pelanggan dan memberika solusi terbaik dalam bertransaksi bagi pelangga), serta yang paling penting adalah partnership ( migration barrier atau hambatan untuk berpindah ke produk lain) yang diartikan sebagai kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan atau membela produk dan terlibat sebagai promotor merk secara sukarela.
III. Nilai Pembaharuan Produk (Inovasi)
Makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia adalah nasi. Rata-rata penduduk Indonesia mengkonsumsi nasi sebanyak tiga kali sehari sehingga kebutuhan nasi menjadi sangat tinggi. Hal tersebut mendorong Unilever membuat suatu terobosan baru dengan meluncurkan produk bermerk Tara Nasiku. Produk ini merupakan inovasi nasi yang disajikan secara instan. Nasi yang proses memasaknya biasanya begitu lama, bias dibuat cepat saji dalam hitungan menit. Selain itu, produk ini dapat dilakukan dengan praktis untuk memenuhi rasa kenyang yang diinginkan konsumen. Dari sisi pemasaran produk Tara Nasiku ini memiliki keunikan, pada saat peluncurannya bersamaan dengan maraknya produk mie instan yang membanjiri pasar sehingga kategori produk instan sedang menjadi trend pada saat itu.
Tara Nasiku menggunakan promosi secara besar-besaran bahkan bintang iklannya adalah Rudy Khoirudin yang merupakan pakar masak nasional yang sangat terkenal sehingga masyarakat cukup dibuat penasaran untuk mencoba produk baru dari Unilever ini. Dari segi harga (price), Tara Nasiku tergolong produk yang harganya mahal dan tidak terpaut jauh dengan harga nasi goreng kaki lima.
REFERENSI
Agung Teja Kusuma, SE., MM. Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan, 2000
Agus.2016. Jebakan dalam Brand Positioning. http://swa.co.id/listed-articles/jebakan-dalam brand-positioning. Diakses pada 20 Mei 2016