• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUTAH DI IRAN APA SIAPA DAN BAGAIMANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MUTAH DI IRAN APA SIAPA DAN BAGAIMANA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MUT’AH DI IRAN: APA, SIAPA DAN BAGAIMANA

Nikah mut’ah lebih sering diterjemahkan sebagai nikah kontrak atau, sering juga, kawin kontrak. Sebagian penulis memilih untuk mengartikan mut’ah secara sopan sebagai nikah kondisional, nikah temporer dan juga nikah dalam jangka waktu tertentu.

Meski demikian, tetap tak-bisa ditolak bahwa pada asalnya nikah mut’ah itu justru memiliki arti perkawinan untuk senang-senang. Mut’ah sendiri, secara bahasa, dapat berarti kenikmatan, kesenangan (bahasa Jawa: klangenan). Kadang-kadang, mut’ah dibahasakan sebagai ihwal “untuk memiliki status dari hukum tertentu.”

Ada banyak sumber yang berbicara khusus tentang nikah mut’ah. Tahrim Nikah Al-Mut’ah karya Abul Fath Nasr bin Ibrahim bin Nasr Al-Maqdisi An-Nabilisi (377 – 490 H) adalah salah satu karya tertua yang berbicara tentang nikah mut’ah.

Ada juga karya-karya tentang mut’ah yang ditulis oleh orang-orang belakangan. Asy-Syi’ah wa Al-Mut’ah karya Muhammad Malullah termasuk di antaranya. Kemudian, Al-Kafi Al-Mumti’ Al-Mufid wa Ar-Radd Al-Mufhim Al-Muljim As-Sadid karya Ya’qub Badr Abdil Wahhab Al-Qithami termasuk juga. Yang termasuk tidak boleh dilupakan di sini adalah Nikah Al-Mut’ah: Haram fil Islam karya Muhammad Al-Hamid.

Dalam akidah ahlus sunnah wal jama’ah, meski sempat dibolehkan, syariat nikah mut’ah telah diharamkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa hidup beliau. Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keharaman mut’ah sangat jelas, baik itu dalil yang bersifat umum maupun dalil yang bersifat khusus.

Berbeda dengan Syiah. Bagi para penganut Syiah, syariat nikah mut’ah masih tetap berlaku sampai hari kiamat nanti. Mereka justru percaya, larangan mut’ah dalam sejarah Islam itu berdasarkan kebijakan Khalifah Umar bin Al-Khaththab pada masa pemerintahannya saja dan karena itu tidak bersifat mengikat. Terlebih lagi, ketika Umar ditenggarai mereka sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang merebut hak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu sepeninggal Rasulullah.

(2)

Dari sisi hukum, berdasarkan fikih Syiah, nikah mut’ah adalah sebuah kontrak atau akad antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang tidak bersuami) yang akhir dari masa kontrak itu (al-ajl) dan jumlah uang mas kawin (al-ajr) harus ditentukan sebelumnya. Jika tidak, maka kontrak atau akad itu menjadi tidak sah.

Demikian pula dalam hal cara. Biasanya, dalam pernikahan yang bersifat permanen, para saksi akan didatangkan ketika akad terjadi. Sebaliknya, dalam sebuah penikahan mut’ah, para saksi tidak diperlukan. Akad pernikahan mut’ah pun tidak perlu dicatat.

Dalam masalah kontrak, kontrak atau akad nikah mut’ah bersifat personal. Kontrak dapat dilakukan hanya berdasarkan persetujuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan calon istrinya. Pihak keluarga perempuan, biasanya, tidak ikut-campur dalam proses itu.

Masa kontrak mut’ah tergantung laki-laki dan calon istri. Kontrak itu bisa saja hanya untuk satu jam atau bahkan selama 99 tahun. Ketika habis kontrak pun, kedua pasangan dapat berpisah begitu saja tanpa sebuah acara atau upacara tanda perceraian (baca: habis kontrak).

Yang tidak boleh dilupakan, seorang laki-laki penganut Syiah dapat saja melakukan kontrak atau akad mut’ah dengan sebanyak perempuan yang ia inginkan pada satu waktu sekaligus. Akan tetapi, dan inilah yang mesti dicatat, jumlah sebanyak itu dihitung di luar istri dari pernikahan permanennya.

Artinya, jika jumlah istri dalam pernikahan permanen dibatasi hanya sebanyak empat orang, maka dalam mut’ah tidak ada batasan. Seorang Syiah dapat saja terikat kontrak mut’ah dengan empat orang perempuan atau lebih dalam satu waktu. Bahkan, meskipun sudah memiliki empat orang istri lewat pernihakan permanen, ia pun dapat memiliki empat orang atau lebih istri mut’ah pada waktu itu.

Hukum fikih seperti itu berdasarkan salah satu pendapat, yang menurut orang-orang Syiah diyakini berasal dari, salah seorang-orang imam mereka. Dalam riwayat yang dimaksud, salah seorang Syiah pernah bertanya kepada sang imam, “Apakah istri dari mut’ah termasuk dari keempat orang istri?”. Sang imam pun menjawab tegas, “Nikahilah di antara mereka seribu orang! Sebab, mereka itu akan menerima imbalan (ajir).”

(3)

Untuk mengetahui hasil hubungan dari sebuah kontrak mut’ah, selesai masa kontrak seorang perempuan akan menunggu selama beberapa waktu. Artinya, sebelum membuat kontrak baru, ia harus memastikan dulu: hamilkah ia atau tidak. Dengan begitu, ia dapat mengetahui garis geneologis (baca: ayah sah) anak yang dihasilkan dari proses mut’ahnya.

Dalam terminologi ahlus sunnah wal jama’ah, proses seperti itu mirip dengan masa ‘iddah. Meski demikian, sebagian orang lebih condong untuk mengiaskannya dengan proses istibra’, sebuah masa penantian bagi seorang perempuan yang telah berzina untuk memastikan ada atau tidak kandungan dalam rahimnya sebelum melakukan sebuah pernikahan yang syar’i.

Sesuatu yang banyak tidak diketahui orang tentang mut’ah di tengah kalangan Syiah adalah kaitan-erat mut’ah dengan perjalanan-perjalanan jarak jauh dan proses perziarahan. Terkait yang terakhir ini, bagaimana pun, para penganut Syiah adalah orang-orang yang tidak bisa lepas dari pemakaman-pemakaman.

Mereka dikenal sebagai orang-orang yang gemar melakukan ibadah di depan dan/atau di atas kuburan. Mereka biasa berdoa, berzikir, mengerjakan shalat (khas Syiah), mencari berkah, meminta perlindungan untuk kehidupan akhirat nanti (baca: mencari syafaat) atau bahkan membangun masjid-masjid megah di atas kuburan orang-orang yang mereka yakini sebagai orang-orang suci dan tak-berdosa.

(4)

Gambar 1. Suasana Masjid di Pemakaman Fatimah Ma'shumah, Qum, Iran

(Gambar yang dicoret hitam adalah beberapa peziarah yang sedang melakukan shalat khusus ketika berziarah. Sebelum dicoret hitam, terlihat bahwa arah shalat mereka menyerong ke kanan kiblat. Tepatnya, ke arah kuburan Fatimah Ma'shumah yang mereka yakini berada di situ. Coretan hitam

(5)
(6)

Gambar 3. Komplek Pemakaman Fatimah Ma'shumah, Qum, Iran

PASANGAN-PASANGAN MUT’AH

Membahas kaitan antara mut’ah dan ziarah serta perjalanan jauh di tengah orang-orang Syiah, ada baiknya kita pahami istilah shigheh. Istilah ini adalah sebuah istilah yang sering dipakai di tengah orang-orang Syiah di Iran. Dalam praktek sekarang, kata shigheh sering diartikan sebagai perempuan pasangan mut’ah.

Akan tetapi, pada asalnya, kata shigheh itu memiliki arti metode, cara atau formula untuk melakukan sesuatu. Dalam praktek mut’ah, kata itu disandingkan dengan kata mut’ah, jadi shigheh-i mut’ah. Bertahun-tahun mempraktekkan mut’ah, akhirnya, kata shigheh itu lama-lama disematkan kepada seorang perempuan yang melakukan mut’ah.

(7)

bukan untuk tujuan dicampuri secara seksual tetapi untuk tujuan-tujuan tertentu.

Sulit diterima, jika fakta pernah bicara bahwa di kota-kota suci tempat berziarahlah orang-orang dapat melakukan mut’ah dengan mudah—meskipun mudah dalam ukuran mereka. Akan tetapi, hal itu dapat dijelaskan jika kita merunut dasar logika religiusitas.

Semakin mendekat dan mendalam seseorang dengan ajaran agamanya, maka semakin mudah baginya untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh agamanya. Karena itu, tidak mengherankan, jika seorang penganut Syiah yang religius, akan lebih cenderung untuk melakukan mut’ah.

“Saya,” ujar salah seorang mullah, “tidak senang jika seorang muslim itu meninggal dunia sebelum mempraktekkan salah satu tradisi Nabi. Salah satu tradisi Nabi yang dimaksud adalah memut’ahi perempuan.” Pernyataan ini ia berikan dalam salah satu wawancara dengan seorang peneliti dari Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Di kota-kota suci Syiah, seperti Qum dan Masyhad, mut’ah adalah sesuatu yang populer dilakukan di kalangan para mullah. Selain mereka menyetujui praktek mut’ah, mereka juga memandang mut’ah sebagai ibadah dan para pelakunya akan diberi pahala dan keutamaan di atas orang-orang yang belum melakukan mut’ah.

Yang sering menjadi laku para peziarah ke kota-kota suci itu adalah usaha mereka mendekati para mullah. Dari kalangan laki-laki, biasanya, mereka mendekati mullah-mullah yang mereka kenal untuk dicarikan shigheh selama mereka berziarah di kota-kota itu. Sebaliknya, dari kalangan perempuan, banyak dari mereka yang mendekati para mullah itu untuk menawarkan diri sebagai shigheh mereka.

(8)

rumah dan keluarga—mereka diperbolehkan, dengan tidak mempedulikan hukum eklesiastik dan petugas-petugasnya, untuk melakukan akad perkawinan temporer selama mereka tinggal di kota tersebut…dan saya menyesal mengatakan, betapa banyak para peziarah musiman yang menyeberangi lautan dan daratan untuk mencium batu nisan sang imam tidak terdorong dan tertarik terhadap perjalanan jauhnya dengan prospek liburan yang menyenangkan dan —seperti yang diungkapkan dalam ungkapan Inggris sebagai—‘good spree’ (saat-saat perkawinan yang menyenangkan).”

Meski demikian, tidak mudah pula bagi seorang mullah untuk mengakui dirinya pernah atau sedang melakukan mut’ah. Perlu diingat, praktek mut’ah di Qum dan Masyhad penuh dengan kerahasiaan dan keanoniman, terlebih lagi di tengah kalangan shigheh mereka.

Perempuan-perempuan yang melakukan mut’ah dengan para mullah adalah pribadi-pribadi yang sangat kuat menjaga kerahasiaan status shigheh mereka. Mereka betul-betul menjaga rahasia itu karena khawatir dapat membahayakan reputasi keluarga mereka masing-masing.

Bahaya yang dimaksud bukan isapan jempol. Pada awal 1980-an, seperti yang diceritakan kembali oleh Marina Nemat dalam buku Sandera Rezim Khumaini, perempuan-perempuan tahanan politik pemerintah Iran di Penjara Evin sering menunjukkan kesinisan kepada rekan-rekan sepenjara mereka yang diketahui atau dicurigai sebagai shigheh-shigheh para sipir penjara.

Khusus jati diri para shigheh, umumnya, mereka berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah. Anak-anak gadis para mullah sendiri, misalnya, jarang yang diketahui melakukan mut’ah dengan mullah-mullah rekan sejawat ayah mereka. Meskipun demikian, pernah diketahui bahwa salah seorang putri anggota keluarga kerajaan pada masa pemerintahan Dinasti Qajar melakukan mut’ah.

Dari segi umur, para shigheh seringkali adalah wanita muda yang telah bercerai atau janda. Meski demikian, kadang-kadang terdapat shigheh-shigheh yang berumur kepala empat atau lima. Mereka yang terakhir ini, biasanya, melakukan mut’ah karena alasan-alasan tertentu yang bersifat non-seksual.

Masih tentang shigheh seksual, selain karena motif ziarah dan kota ziarah, seorang perempuan Syiah dapat menjadi shigheh untuk memenuhi nazarnya. Menjadi shigheh karena ziarah dan nazar sering tidak dapat dipisahkan.

(9)

nazar adalah kewajiban, sedangkan sayyid yang dituju membantu saudaranya memenuhi nazarnya itu adalah ibadah.

Dalam shigheh bermotif nazar ini, atau diistilahkan shigheh nazri, perempuan yang dimaksud tidak mesti menerima mas kawin dari laki-laki. Sebaliknya, terkadang, pihak perempuanlah yang menyerahkan imbalan atas kontrak itu kepada pihak sayyid. Kemudian, yang berinisiatif menawarkan mut’ah itu dan, lebih jauh lagi, merundingkan jangka waktu kontrak mereka berdua adalah pihak perempuan juga.

Akan tetapi, ada kasus-kasus tertentu ketika seorang mullah yang sayyid menolak permintaan dari pihak perempuan seperti itu, meskipun untuk memenuhi nazar. Faktor umur, misalnya perempuan yang bernazar itu sudah tua, menjadi salah satu faktor yang membuat mullah tersebut menolaknya. Sebaliknya, karena umur calon pasangan yang akan dimut’ahi masih terlihat di bawah umur, seorang laki-laki menolak proses itu.

Selain dua motif itu, seseorang bisa menjadi shigheh karena sebab perjalanan yang sedang ditempuhnya. Jarak perjalanan dan jauh dari keluarga sering mendorong seorang laki-laki Syiah mengadakan nikah mut’ah dengan shigheh di salah satu kota tempat singgah.

Ironisnya, sebelum ada batas-batas negara seperti sekarang ini, dulu, kebiasaan mencari shigheh seperti itu pernah dimanfaatkan oleh para musafir muslim dari negeri-negeri Islam atau bahkan musafir-musafir non-muslim yang singgah di salah satu kota di negeri Persia. Mereka sengaja singgah untuk mendapatkan seorang shigheh, meskipun tahu bahwa itu adalah bagian dari kepercayaan Syiah.

Seorang perempuan Syiah terkadang juga bersedia menjadi shigheh untuk menemani perjalanan calon pasangannya mut’ahnya. Praktek seperti ini, bahkan, pernah dianjurkan oleh pihak penguasa Persia sebelum Dinasti Pahlevi menguasai Persia pada pertengahan 1920-an; Dinasti Pahlevi pernah mengeluarkan kebijakan agar rakyat Iran meninggalkan praktek mut’ah.

Terkait cadar, keluarga-keluarga kaya di Iran banyak yang pernah melakukan mut’ah dengan pembantu-pembantu rumah tangganya karena motif fleksibilitas. Daripada harus membuka dan menutup cadar yang harus dipakai oleh perempuan-perempuan non-mahram, banyak majikan—atas persetujuan istri-istri mereka—yang melakukan nikah mut’ah dengan para pembantu perempuan mereka, sehingga mereka dapat leluasa bekerja di dalam rumah majikan-majikan tersebut.

(10)

salah seorang putri ayatullah, “sangat senang diangkat statusnya sebagai seorang shigheh. Mereka mendapat kehormatan di mata masyarakat tempat mereka kerja, begitu pun di mata masyarakat desa ketika mereka pulang.”

Pada masa akhir pemerintahan Syah Reza Pahlevi, di Iran, terdapat sebuah agensi yang khusus menyalurkan tenaga-tenaga pembantu tetapi sekaligus juga sebagai calon-calon shigheh untuk majikan masing-masing. Meski demikian, ada kalanya istri-istrilah yang berinisiatif mencarikan pembantu-pembantu yang bersedia menjadi shigheh bagi suami-suami mereka.

Yang sudah pasti tidak dilupakan adalah praktek mut’ah dalam rangka mencari keturunan. Di tengah penganut Syiah di Iran, kemandulan istri menjadi salah satu dasar penting bagi seorang laki menceraikan istri. Akan tetapi, laki-laki tersebut boleh tidak menceraikan istrinya. Suami tersebut dibolehkan untuk menikah secara permanen dengan perempuan lain (baca: poligami) atau melakukan mut’ah dengan perempuan yang tidak mandul.

Motif seperti itu juga berlaku ketika seorang suami frustasi karena istrinya selalu melahirkan anak perempuan. Sang suami dapat melakukan mut’ah demi tujuan mendapatkan seorang putra dari shighehnya.

MUT’AH BUKAN UNTUK SEKS

Sama halnya dengan shigheh seksual, shigheh non-seksual juga muncul karena beberapa motif. Yang paling utama adalah motif kemahraman.

Sebagaimana ahlus sunnah wal jama’ah, Syiah juga mengenal konsep kemahraman dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Seorang perempuan tidak diperkenankan untuk bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram. Meski tidak serigid ahlus sunnah wal jama’ah, bagi orang-orang Syiah, seorang perempuan diharuskan untuk memakai hijab atau pakaian yang menutup sekujur tubuhnya di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya.

Ketentuan yang seperti itulah kemudian yang cukup membatasi pergaulan di tengah kalangan orang-orang Syiah. Untuk mengesahkan hubungan antara dua orang yang bukan mahram demi persahabatan atau keakraban antara mereka, muncul apa yang diistilahkan sebagai shgheh mahramiyyat.

Gambaran sederhananya, seorang laki-laki melakukan mut’ah dengan seorang anak perempuan kecil berumur lima atau enam tahun agar dapat bertemu dan berbicara di hadapan ibu anak perempuan itu tanpa hijab.

(11)

kurang. Laki-laki tersebut pun tidak melakukan satu apa pun yang bersifat seksual kepada shigheh ciliknya.

Motif seperti itu juga bisa diterapkan kepada kakek atau nenek. Seorang laki-laki Syiah dapat melakukan mut’ah dengan cucu salah seorang majikannya agar ia dapat melakukan tugas-tugas kerumahtanggaan di dalam rumah majikan. Dengan mut’ah itu, ia menjadi mahram selama-lamanya bagi kakek atau nenek, meskipun cucu yang menjadi shigheh itu baru berumur dua tahun.

Selain untuk tujuan seperti itu, shigheh mahramiyyat dapat dimunculkan karena tuntutan untuk melakukan sebuah perjalanan jauh. Misalnya, seorang janda yang ditinggal mati suaminya tidak memiliki mahram. Sementara itu, sebelum meninggal-dunia, sang suami telah berwasiat agar dimakamkan di kampung halamannya yang jauh. Untuk tujuan seperti ini, istri tersebut dapat melakukan mut’ah dengan seorang laki-laki yang bersedia menjadi suami tanpa hubungan seksual dan menemaninya untuk melakukan wasiat itu.

Motif yang unik adalah mut’ah dalam rangka memudahkan seseorang untuk mengambil keputusan. Sederhananya, seorang laki-laki ingin melakukan pernikahan permanen dengan seorang perempuan yang tidak memiliki mahram lewat perantaraan biro jodoh. Agar calon suami dapat mengenal calon istrinya dengan lebih baik, seperti lewat tatap muka dan berbincang-bincang langsung, pihak biro jodoh bersedia menugaskan salah seorang pegawai laki-lakinya untuk men-shigheh-mahramiyyat-kan perempuan itu.

Dengan demikian, calon suami dapat mengenal lebih akrab calon istrinya meski harus ditemani oleh salah satu pegawai biro jodoh. Mereka bisa meneruskan proses ta’aruf itu, jika cocok. Jika tidak, mereka bisa menghentikannya.

Bentuk seperti itu pernah dipraktekkan pada akhir masa pemerintahan Dinasti Pahlevi dulu. Setelah Revolusi Iran, praktek-praktek seperti itu mulai menimbulkan skandal-skandal tidak mengenakkan dan mendapatkan sorotan luas.

Motif seperti itu juga memiliki bentuk yang lain dan inilah yang cukup umum dipraktekkan. Bentuk yang dimaksud disebut sebagai shigheh bala sar-i atau shigheh makam suci. Bedanya, jika sebelumnya melalui perantaraan biro jodoh, maka bentuk yang ini dilakukan di depan kuburan Ali Ridho di Masyhad.

(12)

merasa cocok dalam proses saling mengenal itu, mereka berdua dapat menikah secara permanen kemudian.

MUT’AH KARYA REZIM KHOMEINI

Sejak digulingkannya Dinasti Pahlevi lewat Revolusi Iran, pemerintah Iran yang baru telah menciptakan motif-motif mut’ah yang lebih baru. Dalam bentuk-bentuk itu, muncul jenis-jenis shigheh baru pula.

Di antaranya adalah shigheh pertobatan. Perempuan-perempuan pelacur pada masa Dinasti Pahlevi banyak yang ditangkap oleh pemerintahan Iran yang baru. Mereka dipaksa bertobat dari segala dosa yang mereka lakukan sebelumnya.

Untuk memenuhi tujuan itu, pemerintah menunjuk petugas-petugas tertentu untuk melakukan mut’ah dengan beberapa mantan pelacur. Dalam kontrak yang disepakati, para petugas itu menjadi semacam tameng bagi mantan-mantan pelacur itu dari pandangan-pandangan negatif atas mereka.

Artinya, perempuan-perempuan itu, lewat mut’ah ini, akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Tidak sebagaimana para pelacur pada umumnya. Sementara itu, mendukung program pemerintah, seperti tidak melacurkan diri lagi, termasuk dari bagian agama mereka.

Ada juga yang disebut sebagai shigheh hukuman. Shigheh jenis ini terkait erat dengan kepercayaan yang hidup di tengah orang-orang Syiah. Menurut mereka, perempuan-perempuan yang masih perawan jika mati, maka mereka dipercaya akan masuk ke dalam Surga.

Karena itu, tahanan-tahanan politik perempuan yang divonis dengan hukuman mati, jika diketahui masih perawan, akan dipaksa melakukan mut’ah oleh pemerintah Iran lewat petugas-petugas di penjara. Membiarkan mereka tetap perawan akan membuat percuma eksekusi mati atas mereka.

Ada lagi yang diistilahkan dengan pernikahan percobaan atau izdivaj-i azmayishi. Dalam proses ini, sepasang muda-mudi yang akan menikah secara permanen diminta oleh pemerintah untuk melakukan mut’ah tanpa hubungan seksual.

Dalam ikatan mut’ah seperti itu, mereka akan dapat saling mengenal satu sama lain sebelum melangkah ke jenjang pernikahan permanen atau tidak sama sekali. Proses saling mengenal itu dibatasi oleh masa kontrak.

(13)

Gambar

Gambar 1. Suasana Masjid di Pemakaman Fatimah Ma'shumah, Qum, Iran
Gambar 2. Suasana Kuburan Fatimah Ma'shumah Dilihat dari Balik Celah Kecil

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan konsentrasi nitrogen dan fosfor dalam proses reduksi lumpur dengan cacing akuatik.. Penelitian

Tuturan ini termasuk ke dalam tindak tutur tidak langsung karena selain memberitahu mitra tutur bahwa murid TPA sudah banyak yang berdatangan, penutur secara tidak

Saran yang dapat diberikan terkait dengan sistem sanksi dalam hukum Islam adalah: Negara Indonesia seharusnya tidak membatasi keberlakuan hukum Islam di Indonesia

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI : Untuk Periode Sembilan Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 September 2010 (Dengan Angka Perbandingan Untuk Periode Sembilan Bulan Yang

dimasud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun atau telah menikah. 3) Bagi pasien dibawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan

Pada pasien juga tidak didapatkan gangguan suasana perasaan baik berupa afek yang meningkat, disertai peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan

Pertunjukan tayub biasanya dipandu oleh seorang pengarih, tetapi apabila pertunjukan itu melibatkan beberapa orang joged (biasanya lebih dari empat orang joged) maka

Menyiapkan #emua kelengkapan yang dibutuhkan untuk pro#e# ru"ukan8 34 Mematuhi ke#epakatan per"an"ian ker"a#ama yang telah di#epakati.. Sudah ada tempat tidur