Wajah Muram Pendidikan Nasional Reiza Patters
Sudah 67 tahun Indonesia merdeka dan sejak itu pula pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud), melakukan 11 kali pergantian kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum tahun 1947, yang disebut dengan Rencana Pelajaran Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai, terimplementasi selama 17 tahun dan mengalami perubahan pada tahun 1964, dengan kurikulum yang disebut dengan Rencana Pendidikan Dasar yang hanya terimplementasi selama 4 tahun. Lalu, tahun 1968, dengan Kurikulum Sekolah Dasar yang diubah pada tahun 1974, dengan Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan dan hanya 1 tahun kemudian, yaitu tahun 1975, diubah kembali menjadi Kurikulum Sekolah Dasar.
Lalu, pada tahun 1984, Kurikulum Sekolah Dasar, diubah menjadi Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (K-CBSA). Setelah terimplementasi selama 10 tahun, CBSA diubah menjadi Kurikulum 1994, dan kurikulum ini direvisi pada tahun 199. Pada tahun 2004, Kurikulum CBSA mengalami perubahan yang cukup signifikan menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), lalu berusaha disempurnakan pada tahun 2006 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTPS). Dan, tahun 2013 ini pemerintah kembali menerapkan kurikulum baru yang saat ini sudah terimplementasi.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Mohammad Nuh, mengklaim Kurikulum 2013 memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kurikulum KTSP tahun 2006 (kompas.com 11 Maret 2013). Keunggulan itu, antara lain, pertama, jika menurut Kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka Kurikulum 2013 pola pikir itu dibalik. Kedua, kurikulum baru 2013 memiliki pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Kurikulum baru memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketiga, kurikulum baru tersebut didisain agar terdapat hubungan yang berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.
Jika melihat penjelasan dari Menteri di atas, kita agak sedikit mengerutkan dahi untuk bisa mencerna dan memahami letak perbedaan-perbedaan yang signifikan antar kurikulum tersebut. Kebanyakan, letak perbedaannya bukanlah pada hakikat dari konsep kurikulum, namun pada sisi praktis dan teknis. Seperti misalnya, pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), yang sebetulnya cukup ideal untuk bisa diterapkan karena secara prinsip menyentuh pada tiga aspek pendidikan yang menyentuh siswa secara psikologis dan intelektual, yaitu sisi kognitif, afektif dan motorik.
Ketiga sisi tersebut sebetulnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan apa yang dimaksud dengan tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (motorik). Namun yang membedakan menurut Menteri Pendidikan adalah kesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA. Ini berarti, seharusnya setiap kegiatan belajar mengajar, di setiap level, haruslah mempersiapkan siswa didik agar mampu menguasai kompetensi pada level pendidikan yang lebih tinggi.
administrasi kegiatan belajar-mengajar, tidak menyentuh hingga level implementasi pada guru di sekolah.
Itupun pada akhirnya hanya menambah beban guru dan menghabiskan waktunya berkutat dengan laporan dan sistem komputerisasi. Ini bisa dilihat pada DKI Jakarta, misalnya. Sistem pelaporan komputerisasi yang diterapkan, hanya menambah beban dan waktu guru dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik, sehingga mengurangi waktu yang seharusnya bisa dipergunakan untuk melakukan pendekatan yang lebih dalam dan intens dengan siswa didik, kalau perlu hingga level individual.
Yang lebih mengherankan lagi bagaimana Kurikulum itu diterjemahkan misalnya ada peraturan tidak formal pada sekolah-sekolah dasar di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan, di mana seorang calon siswa sekolah dasar diwajibkan untuk menguasai kemampuan membaca, menulis dan berhitung sebelum dia diterima di sekolah dasar negeri. Ini cukup mengejutkan sebetulnya, seolah dunia pendidikan Indonesia, khususnya sekolah-sekolah usia dini dan sekolah dasar, tidak mengerti esensi dari tugas perkembangan anak, dari mulai 2 tahun hingga 7 tahun. Dengan mewajibkan calon siswa Sekolah Dasar sudah menguasai kemampuan membaca, menulis dan berhitung, itu artinya akan ada pemaksaan pada anak-anak yang notabene masih berada dalam tugas perkembangannya dengan esensi kegiatan bermain dan bisa diisi sambil belajar, bukan belajar sambil bermain.
Apalagi jika kita melihat soal-soal ujian, tes-tes harian pada anak kelas satu Sekolah Dasar misalnya, guru-guru seolah kehilangan fokus pembelajaran, dengan memberikan soal-soal yang menggunakan bahasa terlalu formal dan memaksa anak-anak untuk menggunakan logika formal yang normatif, yang esensial bukan konsumsi anak-anak dengan umur 5-7 tahun. Mereka seolah tidak paham bahwa yang mereka hadapi adalah anak-anak yang masih berada dalam tugas perkembangan sebagai anak, bukan remaja yang sudah mulai mampu menggunakan logika normatif formal dalam memahami persoalan dan ujian yang dihadapi.
Kurikulum Pendidikan dan Perubahannya
Sebetulnya, penggantian model kurikulum yang ingin diberlakukan itu sah-sah saja dilakukan, jika memang dibutuhkan untuk membuat dunia pendidikan Indonesia semakin berkembang. Apalagi jika program dari kurikulum itu bisa membuat guru lebih memahami apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi siswa didik sesuai tingkatan umur dan tugas perkembangannya secara profesional bisa membuat siswa didik menjadi lebih bergairah dalam belajar. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa pergantian kurikulum yang tergesa-gesa, tanpa suatu kajian mendalam yang melibatkan pelaku pendidikan seperti guru, ahli psikologi perkembangan, ahli pedagogis pendidikan dan juga tanpa adanya evaluasi terlebih dahulu terhadap kurikulum sebelumnya, maka hanya akan menjadi akan sia-sia.
akan kurikulum KTSP sudah sering dilakukan menyedot anggaran yang besar, namun pada kenyataannya belum bisa dipahami secara baik oleh guru-guru.
Dan pada akhirnya, justru diubah di tahun 2013 ini padahal evaluasi terhadapnya belum pernah dilakukan. Apakah Kurikulum 2006 itu efektif atau tidak, apa kelebihan dan kekurangannya, apa keberhasilannya apa kegagalannya, dan bagaimana kesimpulannya, menjadi pertanyaan yang seharusnya sudah terjawab sebelum melakukan pergantian kurikulum sebagai pedoman dasar penerapan proses belajar mengajar dunia pendidikan nasional. Namun Kemendikbud kini sudah membuat Kurikulum 2013 dan sudah diterapkan sejak Juli 2013 di seluruh sekolah di Indonesia, tanpa pernah ada evaluasi Kurikulum 2006.
Uraian di atas, memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa pemerintah Indonesia tidak bijaksana dalam melakukan pergantian kurikulum, seolah tidak memiliki grand design dan Blue Print pelaksanaan pendidikan nasional. Kondisi ini bisa sangat mengganggu hasil yang diharapkan dari dunia pendidikan Indonesia, di mana masa depan bangsa tentu akan menjadi taruhannya. Hal ini jelas-jelas bisa terjadi jika kurikulum diterbitkan tanpa melalui proses penyusunan yang bijak dan matang dan tanpa adanya evaluasi kurikulum sebelumnya.
Begitupula dengan kondisi objektif di lapangan, bahwa masih sangat banyak guru yang mengaku belum paham dan belum bisa menerapkan Kurikulum 2006, di mana rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) lebih banyak tematik. Dalam penyusunan dokumen 1 yang dipersyaratkan pada kurikulum 2006, penyusunannya masih copy-paste tanpa mengubah isinya. Hal ini bahkan berlangsung hingga tiga tahun kalender tidak mengalami perubahan. Guru-guru mengaku belum siap untuk menerapkan Kurikulum 2006 karena terlalu banyak administrasi yang harus dibuat dalam RPP. Harusnya Kurikulum 2006 dievaluasi dulu baru terapkan kurikulum baru 2013.
Muncul pertanyaan, apakah Kurikulum 2013 ini lahir sebagai upaya memberi jawaban untuk mengatasi keprihatinan akan kondisi moralitas generasi muda kita sekarang, atau lahir sebagai reaksi terhadap kondisi kita saat ini. Banyak ahli berpendapat bahwa seharusnya, setiap kurikulum, atau khususnya Kurikulum 2006, bisa dikaji mendalam. Kalau perlu sampai pada guru di pelosok desa agar kompetensi guru betul-betul bisa terbentuk, memiliki keterampilan dan kemampuan untuk melakukan intepretasi atas kurikulum, barulah kurikulum diubah dengan yang dianggap lebih sempurna dari yang sebelumnya.
Terkait dengan perubahan kurikulum yang seakan terburu-buru dan tidak pernah dievaluasi penerapannya, menjadikan proses pembentukan dan pemantapan kompetensi guru pun terhambat serta seperti jalan di tempat. Hingga pada akhirnya guru-guru mengalami kesulitan mendasar, yaitu tidak mampu memahami persoalan perangkat pembelajaran, sehingga belum bisa sepenuhnya melakukan implementasi kurikulum. Jika hal itu terjadi pada guru, bagaimana mereka bisa berkonsentrasi dalam membentuk karakter anak didik? Guru harus mendapatkan pelatihan agar memahami kurikulum sebelum terjun ke lapangan.
bisa atau tidak untuk menerima setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah entah itu pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat.
Evaluasi dan Sitem Penilaian
Di sisi lain, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) membeberkan tiga hal yang menjadi poin monitoring dan evaluasi (monev) dalam kurikulum 2013. Pertama mengenai buku, kedua tentang proses pelaksanaan pembelajaran dan ketiga menyangkut kemampuan guru. Evaluasi terhadap buku diperlukan agar terdapat perbaikan di periode berikutnya. Sebab buku dalam kurikulum bersifat model yang harus diidealkan dengan tujuan kurikulum. Sementara untuk guru, kementerian berharap memiliki rapor penilaian seluruh guru. Penilaian dapat diperoleh melalui pelatihan-pelatihan yang sudah dilakukan. Evaluasi juga akan mempersiapkan pendampingan terhadap para guru. Sedangkan tahap ketiga untuk kompetensi, para guru akan diukur rasionalitasnya terhadap kurikulum.
Ketiga poin monitoring dan evaluasi tersebut justru yang menjadi titik lemah dari Kementrian Pendidikan selama ini yang seperti tidak pernah peduli dengan situasi yang dialami oleh guru-guru di lapangan. Misalnya persoalan tentang penilaian. Selama ini, sistem evaluasi pendidikan kita adalah evaluasi yang sifatnya formatif. Evaluasi formatif menganggap penilaian pendidikan itu bagian dari pembelajaran itu sendiri, sehingga hasil evaluasi dapat digunakan untuk menentukan kemajuan, kekuatan, dan kelemahan pengalaman belajar siswa. Model evaluasi seperti ini hanya dapat dilakukan guru di dalam kelas dan hal itu dikarenakan guru yang berinteraksi secara langsung dengan siswa, sehingga mereka yang mengetahui bagaimana membantu siswa maju dalam proses belajar. Evaluasi formatif membandingkan kemajuan siswa dengan tingkat kompetensi sebelumnya, tidak memperbandingkan kemajuan antar-peserta didik yang justru selama ini dipraktekkan, seperti penerapan Ujian Nasional (UN), misalnya.
Sistem evaluasi yang diterapkan dalam UN adalah bersifat sumatif, di mana model ini hanya menilai sejauh mana kualitas pembelajaran peserta didik setelah mengalami proses belajar dalam kurun waktu tertentu. Fokus model ini adalah pada sejauh mana peserta didik menguasai materi, lantas diperbandingkan dengan peserta lain. Karena itu, muncullah berbagai macam pemeringkatan, seperti pemeringkatan antar siswa, antar sekolah, antar kabupaten dan antar provinsi.
Padahal, meskipun dapat digunakan untuk pemeringkatan, model ini tidak memberikan informasi apa-apa tentang yang terjadi di kelas, bagaimana kualitas guru mengajar, ketersediaan dan akses siswa terhadap materi pembelajaran serta kualitas pendidikan. Karena itu, seandainya saja seorang siswa dapat mengerjakan soal matematika dalam UN dan memperoleh nilai 10, kita tidak dapat otomatis mengatakan bahwa guru yang mengajar di sekolah tersebut memang memiliki kompetensi tinggi, sarana dan prasarana lengkap, serta kualitas pendidikan yang sudah baik.
Kerancuan pengertian antara tes formatif dan sumatif serta membabi buta menerapkannya secara bersamaan sebagai paket tujuan evaluasi pendidikan berbeda akan melahirkan manipulasi dan pretensi tanpa dasar kenyataan. Bahaya dari distorsi pemikiran seperti ini adalah seolah-olah, angka-angka statistik hasil UN adalah realitas nyata dunia pendidikan kita. Selama 10 tahun pelaksanaan UN, kita tahu rata-rata kelulusan siswa kita hampir 98 persen.
tahu dari mana mereka memperoleh jawaban benar tersebut dan bagaimana keterkaitan hasil UN itu dengan kompetensi guru, kecukupan sarana prasarana sekolah serta kualitas proses belajar mengajar yang terjadi sebenarnya.
Apakah ini berarti bahwa dunia pendidikan kita baik-baik saja? Padahal, berdasarkan fakta, pada saat hasil UN menjadi parameter untuk mengukur keberhasilan proses pendidikan, kita sebenarnya sedang melanggengkan sebuah kebijakan pendidikan yang penuh kepura-puraan dan kemunafikan. Apalagi jika kita hanya menggunakan hasil UN untuk melihat indeks kompetensi sekolah, padahal UN tidak mampu memberikan informasi tentang proses belajar-mengajar di sebuah unit pendidikan, maka kita sudah terjebak dalam kesesatan berpikir.
Situasi Kekinian dan Gagasan Perbaikan
Pada tahun 2012, Programme for International Study Assessment (PISA)pernah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah dalam pencapaian mutu pendidikan. Pemeringkatan tersebut dapat dilihat dari skor yang dicapai pelajar usia 15 tahun dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains.
Dalam studi ini, mutu pendidikan Indonesia yang rendah dikonfirmasikan dengan anggaran dan biaya pendidikan yang langsung dibayar masyarakat, naik signifikan dari tahun ke tahun. Mutu pendidikan Indonesia yang rendah, sebagaimana tercermin dari hasil studi PISA, memperlihatkan ada sesuatu yang salah dalam sistem persekolahan dan kebijakan pendidikan Indonesia.
Hal ini seharusnya menjadi fokus Pemerintah, bagaimana untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional yang menekankan pada kemampuan siswa secara berkelanjutan dalam pengembangan kompetensinya pada setiap mata ajar, perkembangan psikologisnya dan kemampuan kreatifnya dalam memahami persoalan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. Selayaknya, Kementerian Pendidikan mengembangkan sistem assessment bersifat nasional dan mencerminkan keberagaman anak dari sisi komptensi individual, bukan hanya fokus pada klasikal.
Dalam sebuah seminar di UNY Oktober silam, Prof. Dr. H.A.R. Tilaar dan Drs. Sumarno, M.A., Ph.D. memaparkan dan menyoroti persoalan globalisasi yang semakin booming di setiap negara, termasuk Indonesia. Prof Tilaar menyebut bahwa Indonesia adalah salah satu negeri yang terseret arus globalisasi namun banyak melupakan kekayaan budaya sendiri. Menurut Prof. H.A.R. Tilaar, Indonesia kini miskin secara ekonomi dan miskin secara intelektual, padahal Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah.
Kemiskinan intelektual yang dimaksud oleh Prof. H.A.R. Tilaar adalah masih sangat minimnya penelitian mengenai anak Indonesia. Kebanyakan bahan kajian pustaka di Indonesia merupakan hasil penelitian orang Barat dengan subjek yang menarik bagi mereka sendiri. Hal tersebut membuat pendidikan Indonesia tidak cocok jika mengikuti pola pendidikan mereka.
Menurut Tracey Yani Harjatanaya, Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (Kompas.com, 2 Mei 2012), sekurang-kurangnya ada empat hal yang bisa diperbaiki guna meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Pertama, berhubungan dengan akses dan infrastruktur. Infrastruktur yang dimaksud di sini tidak hanya mencakup sarana dan prasarana yang ada di lingkungan sekolah. Dalam kaitan ini pemerintah harus dapat menyediakan infrastruktur jalan dan transportasi yang memadai agar anak dapat bersekolah dengan nyaman. Hal tersebut dapat terlihat pada kasus anak-anak di Banten yang harus menantang maut menyeberangi jembatan yang runtuh di atas arus Sungai Ciberang yang deras agar bisa sekolah, tak boleh lagi terjadi. UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan yang layak dan negara dalam hal ini berkewajiban memenuhi hak itu.
Kedua, program pendidikan dasar gratis memang dari segi kuantitas dapat dikatakan berhasil karena angka partisipasi siswa SD hampir mencapai 100 persen, tetapi tidak dari segi kualitas. Badan Pusat Statistik (2010) mencatat, 13 persen siswa SD tidak menyelesaikan pendidikan. UNESCO, dalam Global Monitoring Report 2011 juga melaporkan, 80 persen dari murid kelas IV SD di Indonesia masih memiliki kemampuan membaca di bawah standar internasional.
Ketiga, privatisasi dalam bidang pendidikan -walau diperlukan untuk menunjang kinerja pemerintah-telah memperlebar jurang pencapaian prestasi antara anak dari keluarga berkecukupan dan anak dari keluarga tak mampu.
Salah satu contoh dapat dilihat dari dominasi siswa/siswi dari sekolah swasta yang meraih prestasi di ajang olimpiade ataupun kompetisi bergengsi lain. Ketimpangan ini dapat terjadi karena sekolah swasta dengan uang sekolah yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah negeri, mempunyai anggaran lebih besar untuk terus memperbaharui infrastruktur dan fasilitasnya. Sekolah swasta juga memiliki daya tarik lebih kuat bagi calon guru dengan kompetensi yang tinggi. Selain gaji yang lebih tinggi, lingkungan kerja pun lebih baik.
Keempat, mengacu pada ketiga hal di atas, dapat dipastikan kesetaraan akan kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa/siswi di seluruh pelosok Indonesia sulit tercapai. Padahal, pendidikan seyogianya mempersiapkan siapa saja, baik yang terlahir di keluarga kaya maupun miskin, untuk bisa mendapatkan kesejahteraan hidup.
Uraian dari Prof. Tilaar dan Tracey Yani di atas, cukup bisa menggambarkan bahwa dalam menghadapi proses globalisasi dan efeknya dalam perkembangan peradaban dunia, kita wajib mempersiapkan masyarakat kita untuk mampu menghadapi situasi tersebut di saat sudah benar-benar menerpa bangsa kita. Caranya adalah dengan membangun pola pendidikan yang ideal berdasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap struktur, pola dan teknis pada kurikulum pendidikan nasional yang ada, kemudian membangun yang baru, yang memang realistis untuk diterapkan dan bertujuan membangun kompetensi rakyat Indonesia melalui pola pendidikan yang berkualitas dalam rangka mencerdaskan bangsa ini agar mampu dan siap dalam menghadapi proses globalisasi di segala bidang sambil tetap mempertahankan kebudayaan asli bangsa ini.
sekolah menjadi gratis untuk setiap siswa, tanpa melihat latar belakang status sosial ekonomi keluarga siswa, padahal biaya yang digunakan adalah anggaran Negara yang sudah seharusnya digunakan secara tepat, yaitu subsidi hanya bagi yang membutuhkan.
Penerapan sekolah gratis ini, selain hanya membebani anggaran biaya pendidikan, yang sebetulnya bisa digunakan untuk membiayai kegiatan yang lain, seperti membuat pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru misalnya, juga memuat sekolah akhirnya memiliki ketergantungan yang tinggi pada anggaran Negara dan tidak mampu menarik iuran dari masyarakat untuk memnerapkan program-program mandiri yang dianggap perlu, guna meningkatkan kualitas sekolahnya sendiri.
Kemudian lagi, banyak terjadi praktek-praktek yang tidak sehat dalam memilih sekolah, khususnya pada siswa yang memiliki latar belakang keluarga yang kaya ataupun orang tua yang pejabat, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memasuki sekolah-sekolah yang favorit yang sudah dikenal memiliki kualitas pola pendidikan yang bagus. Dan pada akhirnya, menutup kesempatan bagi siswa yang sebetulnya memiliki tingkat kompetensi yang tinggi serta bakat minat yang memadai untuk bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang baik di sekolah-sekolah favorit.
Ada pula dogma yang terlanjur mengakar pada masyarakat Indonesia, yaitu akan menjadi apa setelah sekolah, yang juga pada akhirnya mempengaruhi pola kurikulum. Tren masyarakat dan dunia kerja yang menekankan pencapaian akademis, membuat persekolahan yang bertumpu pada ekonomi pasar secara tidak langsung berperan memperuncing ketidaksetaraan ekonomi-sosial yang ada. Meminjam rumusan Pierre Bourdieu, anak dari keluarga kaya punya tendensi untuk bertahan di piramida sosial atas, karena mereka ditunjang budaya keluarga yang sejalan dengan budaya dominan, yaitu materi dan jaringan yang tidak dimiliki anak yang terlahir di keluarga miskin.
Namun begitu, walaupun masih banyak kendala dan tantangan besar dalam dunia pendidikan Indonesia, bukan berarti tidak dapat dibenahi. Bantuan pendidikan, seperti bantuan operasional sekolah dan anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen dari total APBN/APBD, serta klaim bahwa kurikulum 2013 adalah merupakan hasil evaluasi dari kurikulum 2006, bisa menjadi awal yang baik. Namun, tanpa arah yang jelas, komitmen dan konsistensi dalam penerapannya dari semua pihak, masalah yang dipaparkan di atas tak akan pernah terselesaikan.
Pola kurikulum pendidikan nasional yang menjadikan siswa didik menjadi obyek sekaligus subyek pendidikan, yang menekankan pada penilaian dan assessment menyeluruh di tingkat individual, sebagai hasil dari evaluasi kompetensi siswa didik dan peningkatan kompetensi guru dalam melakukan implementasi kurikulum, serta penekanan pada aspek psikologis dan tugas perkembangan siswa sebagai pendukung utama pencapaian akademis, menjadikan kurikulum pendidikan nasional menjadi lebih fokus dan tajam dalam menghasilkan pendidikan bermutu bagi setiap anak. Dan hal itu haruslah terimplementasi tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi, harus berlandaskan pada nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan sehingga bisa menjadi solusi yang tepat bagi perbaikan dan masa depan bangsa yang lebih baik.***